Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tubuh manusia selalu terpapar dengan lingkungan di sekitar yang


mengandung berbagai macam jenis unsur mikroba patogen, misalnya bakteri,
virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia
(Darwin, 2005). Mikroba dapat hidup ekstraseluler, melepas enzim dan
menggunakan makanan yang banyak mengandung gizi yang diperlukannya.
Mikroba juga dapat menginfeksi sel pejamu dan berkembang biak intraseluler
dengan menggunakan sumber energi sel pejamu. Baik mikroba ekstraseluler
maupun intraseluler dapat menginfeksi subyek lain, menimbulkan penyakit dan
kematian, tetapi banyak juga yang tidak berbahaya bahkan berguna untuk pejamu
(Baratawidjaja et al, 2009).
Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat dan jarang
meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia
memiliki suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh terhadap
unsur-unsur patogen. Respon imun seseorang terhadap unsur patogn sangat
bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenal molekul-molukul
asing atau antigen yang terdapat pada permukaan unsur patogen dan
kemampuan dalam memberikan reaksi tepat untuk menetralkan,
memetabolisme atau menyingkirkan tanpa menimbulkan kerusakan pada
jaringan sendiri. Sistem imun ini mendeteksi berbagai macam pengaruh
biologis dari luar, melindungi tubuh dari infeksi bakteri, virus, fungus,
protozoa dan parasit serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan
mereka dari sel yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa
(Darwin, 2005).
Sistem kekebalan tubuh adalah suatu organ komplek yang memproduksi
sel-sel yang khusus yang dibedakan dengan sistem peredaran darah dari sel
darah merah (erithrocyte), tetapi bekerja sama dalam melawan infeksi penyakit
2

ataupun masuknya benda asing kedalam tubuh (sebagai antigen). Biasanya


ketika ada benda asing yang memicu respon imun masuk ke dalam tubuh
(antigen) dikenali maka terjadilah proses pertahanan diri (wahab et al, 2013).
Respon imun timbul karena adanya reaksi yang dikoordinasi sel-sel,
molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya. Sistem imun terdiri atas
sistem imun alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) dan didapat atau
spesifik (adaptive/acquired). Baik sistem imun non spesifik maupun spesifik
memiliki peran masing-masing, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan
namun sebenarnya ke dua sistem tersebut memiliki kerja sama yang erat
(Gunawan, 2013).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana mengetahui sel-sel dan karakteristiknya pada sistem imun spesifik


dan sistem imun non spesifik ?
2. Bagaimana mekanisme kerja masing-masing sistem imun spesifik dan non
spesifik ?
3. Bagaimana hubungan interaksi antar kedua sistem imun tersebut ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui sel-sel dan karakteristiknya pada sistem imun spesifik


dan sistem imun non spesifik
2. Untuk mengetahui mekanisme kerja masing-masing sistem imun spesifik
dan non spesifik
3. Untuk mengetahui hubungan interaksi antar kedua sistem imun tersebut

D. Manfaat

1. Dapat mengetahui sel-sel dan karakteristiknya pada sistem imun spesifik


dan sistem imun non spesifik.
2. Dapat mengetahui mekanisme kerja masing-masing sistem imun spesifik
dan non spesifik.
3. Dapat mengetahui hubungan interaksi antar kedua sistem imun tersebut
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Imun

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. Sementara


sistem imun itu sendiri adalah sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam
resistensi terhadap infeksi. Reaksi yang dikoordinasi sistem imun tersebut
terhadap mikroba disebut respons imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk
mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai
bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja et al, 2009) .
Sistem imun berdasarkan fungsinya terdiri dari 2 tipe, yaitu respon imun
alamiah atau non-spesifik (innate immunity) dan respon imun adaptif atau
spesifik (acquired immunity). Respon imun non-spesifik dan spesifik pada
kenyataannya tidak terjadi secara terpisah, tetapi terjadi dengan saling
melengkapi dan mempengaruhi satu sama lain (Darwin, 2005).

Sistem Imun

Non-spesifik Spesifik

Fisik Larut Selular Selular Selular


- Kulit Biokimia - Fagosit Sel B Sel T
- Selaput lendir - lisozim ~ mononuklear - Ig G - Th 1
- Silia - sekresisebaseus ~ polimorfonuklear - Ig A - Th 2
- Batuk - Asam lambung - Sel NK - Ig M - Ts/Tr/Th 3
- Bersin - laktoferin - Sel mast - Ig E - Tdth
- Asam neuraminik - Basofil - Ig D - CTL/Tc
- Eusinofil Sitokinin - NKT
- Sel Dendrik - Th17
Humoral
- Komplemen
- APP (Acute phase protein)
- Mediator asal lipid
- Sitokin

Gambar 2.1 Gambaran Umum Sistem Imun (Baratawidjaja et al, 2009)


4

Gambar 2.2 Perbedaan Fungsi Sistem Imun Nonspesifik Dan Spesifik (Baratawidjaja et
al, 2009)

Tabel 2.1 Perbedaan sifat-sifat imun nonspesifik dan spesifik (Baratawidjaja et al,
2009)
Non Spesifik Spesifik
Resistensi Tidak berubah oleh infeksi Membaik oleh infeksi
berulang (memori)
Spesifitas
Umumnya efektif terhadap Spesifik untuk mikroba
semua mikroba. Spesifik yang sudah mesensitasi
untuk molekul dan pola sebelumnya.
molekuler berhubungan Sangat spesifik mampu
dengan patogen membedakan perbedaan
minor dalam struktur
molekul, detile struktur
mikroba atau monomikroba
dikenali dengan spesifitas
tinggi.
Sel yang penting
Fagosit, sel NK, Th, Tdth, Tc, Sel B
monosit/makrofag, neutrofil,
basofil, sel mast, eusinofil,
dan sel dendrik
Molekul yang penting
Lisozim, sitokinin,
5

komplemen, APP Lisozim, Antibodi, sitokinin,


Waktu respon CPR, Kolektin mediator, molekul adhesi
menit/jam, selalu siap
Hari (lambat)
Tidak siap sampai terpajan
alergen.
Pajanan Tidak perlu
Harus ada pajanan
sebelumnya
Diversitas Jumlah respon terbatas
Respon sangat bervariasi,
jumlahnya banyak,
terbentuk oleh rekomendasi
genetik dari gen reseptor.
Respon memori Tidak ada
Memori menetap, respon
lebih cepat atau lebih besar
pada infeksi serupa
berikutnya sehingga
perlindungan lebih baik
pada pajanan ulang.
Diskriminasi self/nonself Sempurna, tidak ada pola
spesifik mikroba pada Sangat baik, adakalanya
penjamu hasil deskriminasi
self/nonself gagal (pada
penyakit autoimun)
Komponen cairan darah Banyak peptida
atau jaringan yang larut antimikrobial dan protein Antobodi

Protein darah Komplemen, dll Limfosit

Nonreaktif terhadap self Ya Ya


6

B. Sistem Imun Non Spesifik / Alamiah / innete imunity

Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam


menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat memberikan
respon langsung terhadap antigen. Sistem tersebut disebut non-spesifik karena
tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu (Baratawidjaja et al, 2009).
Sebagai elemen pertama dari sistem imun untuk menemukan agen
penyerang, respon imun non-spesifik diaktifkan lebih cepat daripada respon
imun spesifik namun dengan durasi yang lebih singkat.
Komponen-kompenen sistem imun non-spesifik terdiri atas:
1. Pertahanan fisik/mekanik
2. Pertahanan biokimiawi
3. Pertahanan humoral
4. Pertahanan selular (Baratawidjaja et al, 2009)

1. Pertahanan Fisik / mekanik

Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik ini, kulit, selaput lendir,
silia saluran napas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai
kuman patogen ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar
dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan risiko
infeksi (Baratawidjaja et al, 2009).

2. Pertahanan Biokimia

Pertahanan biokimiawi adalah seperti asam hidroklorida dalam


lambung, enzim proteolitik dalam usus, serta lisozim dalam keringat, air
mata, dan air susu. Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik,
antibodi dan empedu dalam usus halus membantu menciptakan lingkungan
yang dapat mencegah infeksi mikroba. pH yang rendah dalam vagina,
spermin dalam sperma dan jaringan lain dapat mencegah tumbuhnya bakteri
garm positif. Mukus yang kental melindungi sel epitel mukosa dapat
menangkap bakteri dan bahan lainnya yang selanjutnya dikeluarkan oleh silia
(Baratawidjaja et al, 2009).
7

Gambar 2.3 Pertahanan Eksternal Tubuh

3. Pertahanan Humoral

Sistem imun nonspesifik menggunakan berbagai molekul larut.


Molekul larut tertentu diproduksi ditempat infeksi atau cedera dan berfungsi
lokal. Faktor larut lainnya di produksi ditempat yang jauh dan di kerahkan
kejaringan sasaran melalui sirkulasi darah seperti komplemen (Darwin,
2005).

a. Komplemen

Komplemen merupakan protein serum yang diproduksi dihati dan


disusun oleh lebih dari 20 protein plasma yang larut dalam sirkulasi yang
berfungsi dalam inflamasi, opsonisasi partikel antigen dan kerusakan
(lisis) membran patogen (Darwin, 2005). Sistem ini mempunyai fungsi
8

antimikroba non-spesifik dan merupakan sistem aplikasi yang efektif


untuk memperkuat mekanisme pertahanan non-spesifik dan spesifik).
Berbagai bahan seperti antigen dan kompleks imun dapat mengaktivsi
komplemen sehingga menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai
sifat biologi yang aktif, yang menyebabkan lisis bakteri atau sel,
memproduksi mediator pro-inflamasi yang dapat memperkuat proses dan
solubilisasi kompleks antigen-antibodi (Darwin, 2005). Komplemen
berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, sebagai faktor
kemotaktik dan juga menimbulkan lisis bakteri dan parasit
(Baratawidjaja et al, 2009).
Komplemen merupakan molekul larut sistem imun nonspesifik
dalam keadaan tidak aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti
LPS (lipopolisakarida) bakteri. Aktivitas komplemen merupakan usaha
tubuh menghancurkan antigen asing, namun sering pula menimbulkan
kerusakan jaringan sehingga merugikan diri sendiri. Ada 9 komponen
dasar komplemen yaitu C1 samapai C9 yang bila diaktifkan, dipecah
menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (C3a, C4a, dan sebagaimya)
(Baratawidjaja et al, 2009). Sistem komplemen dapat diaktifkan melalui
3 jalur, yaitu jalur lektin, jalur klasik, dan jalur alternatif.

Gambar 2.4 Jalur aktivasi komplemen (Baratawidjaja et al, 2009)


9

b. Interferon
Interferon adalah sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi
makrofag yang diaktifkan, sel NK dan berbagai sel tubuh yang
mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus.
Jdi interferon merupakan pertahanan pertama pada invasi virus. IFN
mempunyai sifat antivirus dan dapat menginduksi sel-sel sekitar sel yang
terinfeksi virus menjadi resisten terhadap virus. Di samping itu, IFN juga
dapat mengaktifkan sel NK. Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas
akan menunjukkan perubahan pada permukaannya yang akan dikenal dan
dihancurkan sel NK. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah
(Darwin, 2005), (Baratawidjaja, 2009).

c. C-Reactive Protein
CRP merupakan salah satu protein fase akut, termasuk golongan
protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai
respons imunitas non-spesifik. CRP mengikat berbagai mikroorganisme
yang membentuk kompleks dam mengaktifkan komplemen jalur klasik.
Pengukuran CRP berguna untuk menilai aktivitas penyakit inflamasi. CRP
dapat meningkat 100x atau lebih dan berperan pada imunitas non-spesifik
yang dengan bantuan Ca+ dapat mengikat berbagai molekul antara lain
fosforilkolin yang ditemukan pada permukaan bakteri/jamur dan dapat
mengaktifkan komplemen (jalur klasik). CRP juga mengikat protein C dari
pneumokok dan berupa opsonin. Peningkatan sintesis CRP akan
meningkatkam viskositas plasma sehingga laju endap darah juga akan
meningkat. Adanya CRP yang tetap tinggi menunjukan infeksi yang
persisten (Darwin, 2005), (Baratawidjaja, 2009).

d. Sitokin
Sitokin adalah golongan protein/glikoprotein/polipeptida yang larut
dan diproduksi oleh sel limfosit dan sel-sel lain seperti makrofag,
eusinofil, sel mast dan sel endotel. Sitokin berfungsi sebagai sinyal
interseluler yang mengatur hampir semua proses biologis penting seperti
halnya aktivasi, pertumbuhan, poliferasi, diferensiasi, proses inflamasi
10

sel, imunitas, serta pertahanan jaringan ataupun morfogenesis. Semua


terjadi akibat rangsangan dari luar. Sitokin mempunyai nerat molekul
rendah, sekitar 8-40 KD (Soeroso, 2007).
Nama dari sitokin bermacam-macam tergantung dari tempat
produksinya dan perannya (Soeroso,S 2007).
1) Monokin, merupakan produk dari fagosit mononuklear.
2) Limfokin, merupakan produk dari limfosit.
3) Interleukin (IL), berkaitan dengan perannya antar sel leukosit.
4) Lain-lain : Interferon (IFN), growth factors (CSF), TNF-α (Tumor
Necrosis Factor-α), Khemokin.

Ciri umum sitokin (Soeroso, 2007):


1) Diproduksi oleh sel-sel yang terlibat dalam respon imun natural dan
respon imun spesifik.
2) Merupakan mediator dan regulator respon imun dan inflamatori.
3) Sekresinya singkat dan terbatas.
a) Sitokin tidak disimpan sebagai bentuk pre-molekul.
b) Sintesisnya diinisiasi oleh transkripsi gena baru yang hidupnya
singkat.
c) Produksinya dilakukan jika diperlukan.
4) Beberapa macam sitokin diproduksi oleh beberapa tipe sel dan beraksi
pada berbagai tipe sel (pleiotropik).
5) Dalam beberapa kasus, beberapa sitokin mempunyai aksi yang sama
(redundan). Redundansi ini berdasar pada : reseptor untuk sitokin
adalah heterodimer (kadang-kadang heterotrimer) yang dapat
dikelompokkan kedalam famili, dimana satu subunit untuk seluruh
anggota. Karena subunit tersebut untuk semua anggota, fungsi dalam
mengikat sitokin dan dalam signal transduksi, maka reseptor satu
sitokin seringkali dapat merespon sitokin yang lain dalam famili yang
sama.
6) Dapat meningkatkan atau menghambat sintesis sitokin lainnya.
7) Dapat meningkatkan atau menghambat aksi sitokin lainnya. Efek ini
dapat berupa: antagonis, aditif maupun sinergis.
11

8) Mengikat reseptor spesifik dengan afinitas yang tinggi.


9) Sel yang dapat merespon suatu sitokin adalah : autokrin, parakrin dan
endokrin.
10) Respon seluler terhadap sitokin, pada umumnya lambat dan
memerlukan sintesis mRNA dan protein baru (Baratawidjaja et al,
2009).
11) Sitokin dapat meningkatkan kelangsungan hidup sel dengan cara
menekan dan menghambat proses apoptosis.

Contoh sitokin dan fungsinya (Playfair dan Chain, 2009):


1) IL-12 : berperan penting dalam memungkinkan sel T berfoliferasi dan
berdiferensiasi menjadi Tc. Sitokin dengan struktur yang berhubungan
yaitu IL-15 memacu diferensiasi sel Natur Killer (NK). Anggota lain
dari kelompok yang sama IL-7 sangat dibutuhkan untuk
perkembangan limfosit
2) IL-12 dan IL-23 dihasilkan oleh dendrit dan mengarahkan sel T CD4
menuju jalur diferensisi Th dan Th17
3) IL-17 : dihasilkan oleh subset sel T helper Th17. Sitokin ini dapat
memacu respon inflamasi akaut dan berhubungan dengan penyakit
autoimun.
4) TNF-α : sitokin yang berperan penting dalam pengaturan inflamasi,
melalui efeknya pada endotel, menyebabkan leukosit berlekatan pada
dinding pembuluh darah dan bermigrasi ke jaringan. Serupa dengan
IL-1, sitokin ini bekerja secara sistemik, yang dapat menimbulkan
demam dan destruksi sendi.
5) IL-10 dan TGF-β berbeda dengan sitokin diatas, yang menghasilkan
respon imun yang berbeda. Sitokin ini berperan penting dalam
membatasi dan memperlambat respon imun selular sehingga
menghindari kerusakan berlebihan pada jaringan infeksi.
12

4. Pertahanan Seluler

a. Fagosit

Sel utama yang berperan dalam pertahanan nons-pesifik adalah sel

mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear atau

granulosit. Sel-sel ini berperan sebagai sel yang menangkap antigen,

mengolah dan selanjutnya mempresentasikannya kepada sel T, yang

dikenal sebagai sel penyaji atau APC. Monosit dan makrofag tersebut

berasal dari sel asal hemopoietik. Granulosit hidup pendek, mengandung

granul yang berisikan enzim hidrolitik. Beberapa granul berisikan pula

laktoferin yang bersifat bakterisidal (Darwin, 2005). Sistem fagosit

mononuklear terdiri atas monosit dalam sirkulasi dan maksrofak dalam

jaringan. Sel-sel fagositosis terbagi menjadi 2 yaitu granulosit dan

agranul. Sel-sel garniulosit yaitu eusinofil, monosit, basofil. Sel-sel

agranul yaitu monosit dan makrofag.

Gambar 2.5 Leukosit bagian dari sel-sel fagosit


13

Monosit adalah fagosit yang didistribusikan secara luas sekali di


organ limfoid dan organ lainnya. Monosit berperan sebagai APC,
mengenal, menyerang mikroba, dan sel kanker, serta juga memproduksi
sitokin, yang mengerahkan pertahanan sebagai respon terhadap infeksi.
IL-1, IL-6 dan TNF-α diproduksi oleh monosit dengan menginduksi
panas dan produksi protein fase akut dihati, menginduksi produk hormon
kortikotropik adrenal dalam otak dan mempengaruhi metabolisme. Sel-
sel imun nonspesifik ada didalam darah untuk 10 jam sampai 2 hari
sebelum meninggalkan sirkulasi darah. Selanjutnya monosit bermigrasi
ketempat tujuan diberbagai jaringan untuk berdiferensiasi sebagai
makrofag jaringan spesifik dengan berbagai fungsi (Baratawidjaja et al,
2009).

Gambar 2.6 Proses fagositosis dalam berbagai tahap (Subowo, 1993)


14

Tabel 2.2 lama sel imun nonspesifik dalam darah (Baratawidjaja et al, 2009)

Darah Jaringan
Neutrofil 10 jam 1-2 hari
Eosinofil 2 hari 4-10 hari
Monosit / makrofag 1 hari 4-12 hari s/d bulan

b. Makrofag

Makrofag yang seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag


residen, berbentuk khusus yang tergantung dari jaringan yang ditempati
dan dinamakan sesuai dengan lokasi jaringan sebagai berikut:
1) Usus : makrofag intestinal
2) Kulit : sel dendritik atau sel langerhans
3) Paru : makrofag alveolar, sel langerhans
4) Hati : sel kupper
5) Ginjal : sel mesangial
6) Otak : sel mikroglia
7) Tulang : osteoklas
Makrofag adalah 5-10 kali lebih besar ari monosit dan mengandung
lebih banyak organel terutama lisosom. Makrofag diaktifkan oleh
berbagai rangsangan, dapat menangkap, memakan dan mencerna seluruh
mikroorganisme. Fagositosis atau partikel antigen atau kontak dengan
reseptor merupkan awal aktivasi.aktivitas makrofag dipacu oleh sitokin
yang dilepas sel Th dan oleh mediator respon inflamasi. Makrofag dapat
hidup lama, mempunyai beberapa granul dan melepas berbagai bahan,
antara lain lisozim, komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya
memberikan kontribusi dalam pertahanan nonspesifiks dan spesifik
(Baratawidjaja et al, 2009).
15

Gambar 2.7 Fagositosis dan proses antigen eksogen oleh makrofag

Apabila ditinjau dari fungsi makrofag dalam tubuh secara


menyeluruh (Subowo, 1993) :
1) Pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme dan tumor:
- Peran serta dalam radang akut dan kronis
- Fagositosis
- Sekresi komponen komplemen
- Produksi zat pirogen endogen yang menyebabkan demam
2) Penyembuhan luka
- Pengaturan koagulasi darah dan fibrolisis
- Pembersihan sisa-sisa kerusakan jaringan
- Sekresi enzim
- Resorbsi tulang
3) Metabolisme lipida
- Pemindahan sisa-sisa kilomikron dan lipoprotein yang terubah
- Sekresi apolipoprotein E
4) Pengaturan penyediaan granulosit dan eritrosit.
16

c. Sel NK (Natural Killer)

Jumlah sel NK sekitar 5-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan 45%
dari limfosit dalam jaringan. Sel tersebut berfungsi dalam imunitas
nonspesifik terhadap virus dan sel tumor. Secara morfologis sel NK
merupakan limfosit dengan granul besar dengan glikoprotein spesifik
pada permukaanya seperti limfosit T. Ciri-cirinya yaitu memiliki banyak
sekali sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit), granul sitoplasma
azurofilik, pseudopodia dan nukleus eksentris. Sel NK mensekresikan
sitokin seperti IFN- γ dan TNFα yang mengaktifkan makrofag dan
Dendritik berfungsi dalam imunitas non spesifik terhadap virus dan sel
tumor yang (Baratawidjaja et al, 2009).
Sel NK mengekspresikan suatu kelas khusus reseptor penghambar
pembunuh (killer inhibitory receptor, KIR) polimorfik yang mengikat
mengenal MHC-1 yang di ekspresikan semua sel sehat dan tidak oleh sel
yang terinfeksi virus dan kanker. Sel NK yang memiliki aktivasi dapat
merupakan pembunuh poten sel terinfeksi virus, jamur dan tumor secara
langsung tanpa bantuan komplemen. Sel NK memproduksi IFN-γ dan
TNF-α yang merupakan dua sitokin pro inflamasi dan dapat merangsang
pematangan sel dendritik yang merupakan sel kooerdinator imunitas
nonspsifik. Sel NK bekerja sama dengan imunitas spesifik (Baratawidjaja
et al, 2009), (Playfair dan Chain, 2009).
Sel NK diaktivasi oleh sitokin IL-15 dan IL-12. IL-12 adalah
penting untuk perkembangan dan pematangan dari sel NK dan IL-12
untuk meningkatkan fungsi pembunuh pada sel NK (Abbas et al. 2016).
Pertemuan antara hospes dengan benda asing menimbulkan respon
elemen fagosit ke daerah tempat benda asing tersebut masuk. Hal ini
dapat terjadi sebagai bagian dari respon inflamatoris (Baratawidjaja et al,
2009).
17

Gambar 2.8 Fungsi sel natural killer

d. Sel Dendrik (SD)

Sel Dendrik (SD) atau APC berasal dari sum-sum tulang atau
prekursor monosit dalam darah atau dari monosit sendiri. SD berfungsi
sebagai APC yang berperan pada awal pengenalan protein asing, dapat
mempresentasikan antigen dan humoral yang mengaktifkan sel T naif,
Th, CTL, dan sel B (Darwin, 2005) (Baratawidjaja et al, 2009).
SD merupakan APC paling efektif karena terletak di tempat-tempat
makroba dan antigen asing masuk. SD ditemukan di kulit, limpa, tonsil,
epitel hampir semua organ, kelenjar limfoid sebagai sel interdigit, dan
sedikit didalam darah. SD yang merupakan APC profesional terpenting
mempresentasikan fragmen peptida dengan bantuan molekul konstimulator
B7 yang secara terus menerus diekspresikan dalam kadar tinggi dapat
mempresentasikan ke sel T. Konstimulator/koreseptor adalah protein
permukaan sel yang meningkatkan sensitivitas reseptor antigen melalui
ikatan dengan ligan yang sesuai dan memfasilitasi aktivitas sinyal. APC
mempresentasikan peptida ke sel T CD4+ melalui MHC-II atau ke sel T
18

CD8+ melalui MHC-I, sehingga dapat mengaktifkan sel CD4 dan CD8
secara langsung (Baratawidjaja et al, 2009).

Tabel 2.3 Fungsi berbagai APC

Antigen yang Presentasi antigen respon


dicerna APC
Organ limfoid SD ( Sel Presentasi ke sel T naif Sel T efektor: aktivasi
perifer Dendrit) melalui kostimulator B7 sel T naif, ekspansi dan
pada SD dengan ligannya diferensiasi klon
CD28 pada sel T naif menjadi sel T efektor
Organ limfoid Makrofag Presentasi ke sel T Mikroba dibunuh :
perifer atau efektor aktivasi sel T efektor,
jaringan aktivasi makrofag
nonlimfoid (CMI)
Organ limfoid Sel B Presentasi ke sel T Antibodi : aktivasi sel T
perifer atau efektor efektor, aktivasi sel B
jaringan dan produksi antibodi
nonlimfoid (imunitas humoral)

e. Respon Sistem Imun Bawaan

Sistem kekebalan tubuh bawaan menghilangkan mikroba terutama


dengan mendorong respons inflamasi akut dan mekanisme pertahanan
antivirus. Mikroba yang berbeda dapat menghasilkan berbagai jenis
reaksi imun bawaan, Setiap jenis efektif dalam menghilangkan jenis
mikroba tertentu. Respon imun bawaan utama memprotektif terhadap
mikroba yang berbeda adalah sebagai berikut (Abbas et al. 2016):
1) Pada saat mikroorganisme masuk kedalam tubuh, mekanisme
pertahan pertama yang dikeuarkan tubuh adalah sistem imun
bawaan (mukosa, selaput lendir, enzim, dll). Dalam perlawanan
terhadap mikroorganisme tersebut, jejas akan menimbulkan
inflamasi. Bakteri ekstraseluler dan fungi merupakan kombinasi
utama sehingga terjadi respon inflamasi akut, dimana netrofil
dan monosit dibawa ketempat infeksi dan dilisis oleh sistem
komplemen. Apabila mekanisme pertahanan sistem imun
19

bawaan ini tidak dapat mempertahankan, maka sistem imun


adaptif akan teraktivasi.
2) Bakteri intraseluler, dimana dapat bertahan didalam fagosit, yang
dimakan oleh fagosit yang diaktifkan oleh Tool lie reseptors
(TLRs) dan sitokin lainnya
3) Pertahanan melawan virus dibantu oleh interferon tipe I dan sel
NK (natural killer).

f. Pengaturan Respon Imun Bawaan

Respon imun bawaan diatur oleh bermacam dari mekanisme yang


dibentuk untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang berlebihan.
Mekanisme pengaturan ini mencakup produksi dari sitokin antiinflamasi
oleh makrofag dan sel dendrit, mencakup IL-10, yang mana menghambat
fungsi antigen dan inflamasi oleh makrofag, IL-10 merupakan reseptor
yang berlawanan menghalangi aksi IL-1. Ada banyak umpan balik
mekanisme yang menginduksi produksi sitokin proinflamasi dan juga
menginduksi ekspresi penghambat dari sinyal sitokin. Contohnya adalah
sinyal TLR menstimulasi ekspresi dari protein yang disebut menekan dari
sinyal sitokin (SOCS), yang mana menghambat respon sel dari
bermacam sitokin termasuk IFNs (Abbas et al. 2016).
20

C. Sistem Imun Spesifik

Sebanyak 20% dari semua leukosit dalam sirkulasi darah orang dewasa
adalah limfosit yang terdiri atas sel T dan sel B yang merupakan kunci
pengontrol sistem imun. Sel-sel tersebut dapat mengenal benda asing dan dapat
membedakannya dari sel jaringan sendiri. Dalam rubuh ada sekitar 1012 triliyun
limposit yang disirkulasi terus menerus dalam darah dan limfe, dapat
bermigrasi kerongga jaringan dan organ limfoid serta merupakan perantara
berbagai macam sistem imun. Sel limfosit merupakan sel yang berperan utama
dalam sistem imun spesifik, sel T pada imunitas seluler, dan sel B pada
imunitas humoral (Baratawidjaja et al, 2009).

Gambar 2.9 Limfosit yang brperan dalam respon imun spesifik

Sistem pertahanan spesifik terutama tergantung pada sel-sel limfoid. Ada


dua populasi utama sel limfoid, yaitu sel T dan sel B. Rasio sel T terhadap sel
B sekitar 3 : 1. Limfosit berkembang pada organ limfoid primer, sel T
berkembang di timus, sedangkan sel B di hepar janin atau di sumsum tulang.
Kedua jenis sel tersebut kemudian akan bermigrasi ke jaringan limfoid
sekunder, tempatnya merespon antigen (Wahab and Julia, 2013).
Sistem imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem seluler. Pada
imunitas humoral, sel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba
ekstraselular. Pada imunitas seluler, sel T mengaktifkan makrofag sebagai
21

efektor untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel Tc sebagai


efektor yang menghancurkan sel terinfeksi (Baratawidjaja et al, 2009).

Tabel 2.4 perbedaan limfosit T dan limfosit B


Limfosit B Limfosit T
Dibuat di sumsum tulang yaitu sel Dibuat di sumsum tulang dari sel
batang yang sifatnya batang yang pluripotensi(pluripotent
pluripotensi(pluripotent stem cells) dan stem cells) dan dimatangkan di Timus
dimatangkan di sumsum tulang(Bone
Marrow)
Berperan dalam imunitas humoral Berperan dalam imunitas selular
Menyerang antigen yang ada di cairan Menyerang antigen yang berada di
antar sel dalam sel
Terdapat 3 jenis sel Limfosit B yaitu : Terdapat 3 jenis Limfosit T yaitu:
1. Limfosit B plasma, memproduksi 1. Limfosit T pempantu (Helper T
antibodi cells), berfungsi mengantur sistem
2. Limfosit B pembelah, imun dan mengontrol kualitas
menghasilkan Limfosit B dalam sistem imun
jumlah banyak dan cepat 2. Limfosit T pembunuh (Killer T
3. Limfosit B memori, menyimpan cells) atau Limfosit T Sitotoksik,
mengingat antigen yang pernah menyerang sel tubuh yang terinfeksi
masuk ke dalam tubuh oleh patogen
3. Limfosit T surpressor (Surpressor T
cells), berfungsi menurunkan dan
menghentikan respon imun jika
infeksi berhasil diatasi

Sel B dan sel T yang matang mengekspresikan reseptor (BCR dan TCR)
pada permukaan sel yang berperan dalam diversitasm spesifisitas, dan memori.
Sel B menggunakan antibodi sengaai reseptor sel yang dapat mengenal antigen
bebas, sedangkan TCR hanya dapat mengenal antigen yang diikat molekul
MHC. Ada 2 jenis MHC yaitu MHC-I yang diekspresikan hampir semua sel
yang bernukleus dan MHC-II yang diekspresikan APC (Baratawidjaja, Karnen
Garna & Rengganis, 2009).
22

1. SEL B

Sel B berperan dalam sistem imun spesifik humoral. Sel B dimatangkan


pada sumsum tulang, setelah matang sel B bergerak keorgan-organ seperti
limfa, kelenjar getah bening dan tonsil. Pematangan sel B terjadi dalam
beberapa tahap. Pematangan dalam sumsum tulang tidak memerlukan antigen,
tetapi aktivasi dan diferensiasi sel B matang di kelenjar getah bening perifer
memerlukan antigen. Aktivasi sel B diawali dengan pengenalan antigen
spesifik oleh reseptor permukaan. Antigen dan perangsangan lain termasuk Th
yang merangsang proliferasi dan diferensiasi klon sel B spesifik.
Pada respon imun humoral terdapat tiga elemen yang berperan dalam
pengenalan dan pengikatan antigen yaitu (Darwin, 2005) :
a. Antibodi
b. Reseptor sel T (T cell reseptors/ TCR)
c. Molekul major hystocompatibility complex (MHC).

Gambar 2.10 perkembangan sel B


23

Gambar 2.11 perkembangan sel B

Sel B memiliki reseptor yaitu BCR. BCR yang mengikat antigen


multivalen asing, akan memacu 4 proses yaitu proliferasi, diferensiasi menjadi
sel plasma yang memproduksi antibodi, membentuk sel memori dan
mempresentasikan antigen ke sel T. Proliferasi merupakan sentergerminal
kelenjar getah bening (KGB). BCR mengawali sinyal transduksi yang efeknya
ditingkatkan oleh molekul konstimulator yang kompleks. BCR merupakan
kompleks protein transmembran yang terdiri atas Ig dan disulfida heterodimer
yang disebut Ig-α / Ig-β.
24

Gambar 2.12 Struktur BCR

Sel B yang diaktifkan, akan mensekresi antibodi, setelah pengikatan


antigen ke membran molekul imunoglobulin (Ig), yaitu reseptor sel B (BCR),
yang diekspresikan oleh sel B tersebut. sel B menerima signal untuk memulai
mensekresi bentuk imunoglobulin, yang merupakan suatu proses yang
menginisiasi respon antibodi yang optimal dengan maksud untuk
mengeliminasi antigen dari hospes. Antibodi adalah suatu fraksi protein yang
terbentuk dalam tubuh dari globulin serum terbentuk atas rangsangan
masukknya antigen yang saling bekerja sama untuk menunjukkan kemampuan
mengikat antigen spesifik. Semua globulin serum dengan aktivitas antibodi
dinamakan imunoglobulin Semua molekul immunoglobulin mempunyai
struktur umum yang memungkinkan untuk melakukan dua hal : (1) mengenal
dan mengikat secara spesifik struktur unik yang ada pada antigen, yang disebut
epitop, dan (2) menampilkan fungsi biologik setelah berkombinasi dengan
antigen (Annonim, e-Lisa UGM).
Pada prinsipnya fungsi utama imunoglobulin adalas sebagai sistem
pertahanan humoral spesifik terhadap benda asing. Imunoglobulin memiliki
beberapa kelas yaitu IgA, IgD, IgE, IgM, dan IgG (Darwin, 2005).
25

a. Imunoglobulin A (IgA)

Merupakan antibodi yang paling dominan pada cairan sekresi seperti


air ludah, cairan usus, air mata , air susu ibu, dan mukosa hidung maupun
alat kelamin wanita. Kadar IgA jauh lebih tinggi daripada IgG pada
permukaan mukosa dan sekresi, termasuk air liur dan ASI. Secara khusus,
IgA dapat menyumbang hingga 50% protein dalam kolostrum diberikan
kepada neonatus oleh ibu. Ada dua subkelas IgA, IgA1 dan IgA2, yang
memiliki struktur berbeda. IgA1 memiliki daerah rangkaian yang lebih
panjang dengan rangkaian asam amino duplikat yang kurang dalam IgA2.
Daerah rangkaian yang memanjang ini meningkatkan sensitivitas IgA1
terhadap protease bakteri meskipun sebagian dilindungi oleh glycans.
Peningkatan perlindungan terhadap pencernaan protease dapat menjelaskan
mengapa IgA2 mendominasi sekresi mukosa banyak, seperti saluran genital,
sedangkan lebih dari 90% IgA1 dalam bentuk IgA1. IgA sangat penting
untuk melindungi permukaan mukosa dari racun, virus dan bakteri dengan
menetralisir langsung atau dengan mencegah pengikatan pada permukaan
mukosa. IgA intraselular juga penting untuk mencegah infeksi bakteri dan
virus dan / atau patogenesis . Namun dalam serum hanya sebanyak 15% dari
seluruh antbodi (Schroeder et al. 2010)

b. Imunoglobulin D (IgD)

Merupakan satu-satunya antibodi sampai sekarang masil sulit


ditentukan fungsi utamanya. Hal ini disebabkan sulitnyaa mengisolasi
antibodi, karena tidak diketahui berperan dalam mekanisme efektor antibodi
utama.dan kosentrasinya dalam serum yang sangat sedikit. IgD hanya
merupakan molekul penanda bagi stadium maturasi maupun aktivasi sel B.
Sirkulasi IgD dapat bereaksi dengan protein bakteri tertentu, seperti protein
pengikat IgD dari Moraxella catarrhalis, terlepas dari daerah variabel
antibodi. Pengikatan protein bakteri ini ke daerah konstan IgD
menghasilkan stimulasi dan aktivasi sel B (Schroeder et al. 2010).
Sedangkan bentuk IgD yang terikat membran yang telah dipelajari
lebih ekstensif, bahkan fungsinya juga tetap kurang dipahami. Serupa
26

dengan IgM, IgD terikat membran dikaitkan dengan CD79a dan CD79b
untuk pensinyalan. IgD diekspresikan pada membran sel B saat
meninggalkan sumsum tulang dan mengisi organ limfoid sekunder.
Sebagian besar sel IgD + B juga mengekspresikan IgM dan keduanya
berpartisipasi dalam pensinyalan sel B receptor melalui CD79a dan CD79b.
IgD dapat menggantikan IgM dan sebaliknya pada sel IgD + IgM + B. Telah
diusulkan bahwa membran terikat IgD mengatur nasib sel B pada tahap
perkembangan spesifik melalui perubahan status aktivasi (Schroeder et al.
2010).

c. Imunoglobulin E (IgE)

Kosentrasi Ig E dalam serum rendah, ttapi level ini akan naik cepat
pada kondisi infeksi akibat parasit, jamur, mikroba dan virus maupun
kondisi alergi seperti atopik dan dermatitis. Fungsi imunoglobulin ini
berhubungan dengan penyakit alergi (Darwin, 2005).

d. Imunoglobulin G (IgG)

Merupakan antibodi paling dominan didalam serum yaitu 75% dari


seluruh imunoglobulin dan didalam menanggapi infeksi skunder ataupun
respon imunitas skunder. Salah satu kemampuan Ig G ialah mengaktivasi
komplemen baik lewat jalur alternatif maupun klasik. Fungsi biologis Ig G
adalah antibodi yang satu-satunya mampu melewati plasenta untuk
mengalirkan antibodi dari ibu ke fetus (Darwin, 2005).

e. Imunoglobulin M (IgM)

Merupakan antibodi dalm respon imun primer terhadap kebanyakan


antigen dan imunoglobulin pertama yang diekspresikan selama
pengembangan sel B. Sel naif B mengekspresikan IgM monomer di
permukaannya dan berasosiasi dengan CD79a dan CD79b, rantai
polipeptida yang berpartisipasi dalam pensinyalan sel IgM (Schroeder et al.
2010).
27

IgM banyak diproduksi semasa janin. igM dibentuk pertama kali pada
respon imun dibanding Ig G sehingga Ig M tinggi dalam darah umbilikus
merupakan petunjuk adanya infeksi dini (Darwin, 2005). Antibodi IgM
dikaitkan dengan respon imun primer dan sering digunakan untuk
mendiagnosis paparan akut terhadap imunogen atau patogen. Mengingat
bahwa IgM diekspresikan pada awal perkembangan sel B, rantai berat μ
dengan VH dan VL yang tidak mengalami banyak mutasi somatik sebagai
respons terhadap antigen. Akibatnya, antibodi IgM cenderung lebih polim-
reaktif daripada isotip lainnya, yang memungkinkan sel B IgM untuk
merespons dengan cepat berbagai antigen. Antibodi IgM yang relatif rendah
afinitas ini juga disebut antibodi alami. Beberapa antibodi alami ini tidak
hanya berperan sebagai garis pertahanan pertama, tapi juga berperan dalam
imunisasi. Antibodi alami dapat bereaksi dengan autoantigen, namun jarang
bertanggung jawab atas penyakit autoimun atau patogenesis. Autoantibodi
patogen cenderung diambil dari populasi IgG afinitas yang bermutasi secara
alami (Schroeder et al. 2010).
Sel B dapat diaktifkan sel T melalui dua cara yaitu T dependen dan T
independen (Baratawidjaja et al, 2009):

a. Aktivitas sel B yang T dependen

Setelah antigen diikat oleh Ig, sel B memakan antigen, memproses,


mengekspresikan epitop antigen dicelah MHC, dan mempresentasikannya
ke sel T. Sel T memodulasi fungsi sel B memalui sejumlah cara. Sitokin
asal sel T seperti IL-4, IL-5,IL-6, IL-2 dan IFN-γ meningkatkan proliferasi
sel B dan diferensiasi menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Sel
B naif mempresentasikan IgM dan IgD pada permukaanya dan atas
pengaruh rangsangan, sel B mengalihkan kelas Ig yang memproduksi
IgG,IgE, dan IgA. IgM dan IgD memiliki ekor yang relatif pendek
sehingga tidak dpat memproduksi sinyal. Rangsangan antigen pertama
merangsang sel B untuk memproduksi Ig M dan rangsangan ulang antigen
yang sama akan mengalihkan sel B ke produksi IgG, IgA, atau IgE. Semua
jenis sel B hanya memiliki satu jenis molekul Ig saja pada permukaanya.
28

Aktivitas sel B oleh antigen protein larut memerlukan bantuan sel


Th. Tanpa adanya reaksi dengan TCR dan sitokin, ikatan antigen dengan
Ig pada sel B sendiri tidak menginduksi proliferasi dan diferensiasi. TCR
merupakan glikoprotein yang terdapat pada limfosit T. TCR berinteraksi
bukan dengan antigen utuh secara keseluruhan, tetapi dengan segmen
pendek dari asam amino (antigen peptida) yang disebut epitop sel T.
Epitop limposit T merupakan bagian yang dikenal oleh limfosit T setelah
antigen diproses oleh APC. Ikatan TCR dengan antigen peptida bukan
merupakan ikatan langsung, tetapi melalui molekul yang disebut MHC-II
yang diekspresikan oleh APC. APC bersama-sama dengan MHC-II untuk
dikenali oleh limposit Th (CD4) melalui TCR dan akan mengirim sinyal
kepada limposit B untuk berproliferasi menjadi sel B memori dan
berdiferensiasi menjadi sel plasma yang memproduksi
antibody/imunoglibulin (Darwin, 2005).
Ikatan antigen juga mengawali sinyal melalui BCR yang
menginduksi sel B meningkatkan ekspresi sejumlah molekul membran sel
seperti MHC-II dan ligan konstimulator B. Peningkatan ekspresi kedua
protein membran tersebut meningkatkan kemampuan sel B berfungsi
sebagai APC dalam aktivasi sel Th. Oleh karena sel B mengenal dan
memakan antigen melalui ikatan dengan Ig, sel B dapat mempresentasikan
antigen ke sel T dalam kadar yang lebih rendah dibanding kadar yang
diperlukan untuk presentasi oleh makrofag atau SD. Bila kadar antigen
tinggi, makrofag dan SD merupakan APC efektif (Baratawidjaja et al,
2009).

b. Aktivasi Sel B yang T Independen

Pada keadaan tertentu sel B juga dapat memberikan respon dan


berproliferasi melalui mekanisme yang tidak memerlukan sel T. Aktivasi
sel B yang T independen terjadi pada antigen dengan epitop yang berulang
dan panjang sehingga memungkinkan terjadinya ikatan silang dengan
reseptor imunoglobulin pada permukaan sel B. Antigen yang sel T
independen dapat dibagi menjadi 2 tipe antigen. Antigen tipe I berasal dari
29

bagian luar membran bakteri negatif-Gram dan asam nukleat bakteri yang
lebih merangsang sel B memalui TLR dibanding BCR. Antigen tipe II
adalah polisakarida kapsul yang mempunyai subunit multipel berulang dan
merangsang sel B melalui ikatan silang dengan beberapa BCR
(Baratawidjaja et al, 2009).

Gambar 2.13 Respon Sel B Terhadap Antigen Yang T Dependen dan Independen
30

2. SEL T

Progenitor sel T asal sumsum tulang yang bermigrasi ketimus


berdiferensiasi menjadi sel T matur. Pematangan sel T dari pregnitornya
melibatkan serangkaian dan ekspresi gen TCR, proliferasi sel, seleksi yang
diinduksi antigen dan perolehan kemampuan untuk berfungsi. Reseptor T
ditemukan pada semua sel T yang matang, dan dapat mengenali peptida
antigen yang diikat oleh MHC dan dipresentasikan oleh APC. Fungsi utama sel
T adalah mengikat antigen melalui TCR. Pada umumnya sel CD4 berperan
sebagai sel helper dan CD8 berperan sebagai sel sitotoksik. CD4 hanya
mengenal antigen yang diikat oleh MHC-II pada APC, dan CD8 hanya
mengenal antigen yang diikat oleh MHC-I pada APC, semuanya dengan
spesifitas antigenik yang sama (Baratawidjaj et al, 2009).

Gambar 2.14 Perkembangan sel T

Subsel T terdiri atas sel T naif, Th 1, Th 2, sel T sitotoksik (Tc), sel T


NK. Sel T naif akan terpajang dengan kompleks antigen MHC dan
dipresentasikan APC, akan berkembang menjadi sub sel T berupa CD4 dan
CD8 dengan fungsi efektor yang berlainan (Baratawidjaja at al, 2009) . Sub sel
T yaitu :
31

1. Sel T naif

Merupakan sel limfosit matang yang meninggalkan timus, berumur


sangat panajng, belum berdiferensiasi, dan belum penah terpajan dengan
antigen. Sel T naif hanya dapat diaktivasi oleh sel dendrit atau makrofag
penyaji antigen didaerah sel T di jaringan limfoid, dan akan berkembang
menjadi sel Th yang selanjutnya dapat berkembang menjadi sel efektor. Sel
Th memproduksi sitokin seperti IL-2, IL-4, dan IFN (Baratawidjaja at al,
2009) (Playfair dan Chain, 2009).

2. Sel CD4 / Sel Helper (Th)

Sel Th disebut juga sel T inducer yang merupakan sub sel T yang
diperlukan dalam induksi respon imun terhadap antigen asing. Antigen yang
ditangkap, diproses, dan dipresentasikan makrofag dalam konteks MHC-II
ke sel Th (CD4). Sel Th (CD4) diaktifkan dan mengekspresikan IL-2R
disamping memproduksi IL-2 yang autokrin dan merangsang sel CD4 untuk
berproliferasi. Sel CD4 yang berproliferasi dan berdiferensiasi berkembang
menjadi subset sel Th1,Th2, Th17, Treg (sel T regulator) yang disekresi
oleh sitokin yang berbeda, yang mengaktifkan fungsi sel imun lain seperti
CD8, sel B, makrofag dan sel NK. Sel CD4 naif yang diaktifkan dan
berdiferensiasi menjadi sel efektor dan sel memori yang dapat menetap di
organ limfoid (Baratawidjaja at al, 2009) .
Subset CD4 yang berperan penting dalam fungsi respons imun dan
efektor sel. Setiap subset Th mensekresi sitokin spesifik yang dapat
memiliki fungsi pro-atau anti-inflamasi, dalam respon imun untuk
mempertahankan kelangsungan hidup, sebagai contoh Semua subset CD4 +
Th dibedakan dari Th-2 oleh IL-4, Treg oleh IL-10 dan TGF-β
(Golubovskaya and Wu, 2016).

a. Th 1

IL-12 dan IFN- (sitokin pro-inflamasi, berperan dalam peningkatan


TLR) yang dilepas makrofag dan SD menginduksi perkembangan Th1
melalui jalur STAT4 dependen, sedang IL-4 yang terutama diproduksi
32

sel T sendiri, meningkatkan induksi Th2 memlalui jalur STAT6


dependen. IFN-γ dan IL-12 yang diproduksi APC seperti makrofag dan
sel dendrit yang diaktifkan mikroba merangsang diferensiasi CD4
menjadi Th1 yang berperan dalam reaksi hipersensitivitas lambat.
Diferensiasi Th1 merupakan respon terhadap infeksi mikroba atas
pengaruh aktivasi sel NK (Baratawidjaja at al, 2009) ) (Golubovskaya
and Wu, 2016).

Gambar 2.15 Funtion of Th1 cell. Th1 cell produce the cytokin interferon-γ, which
activates macrophages to kill phagocytosed microbe (classical, pathway of macrophage
activation). In some species, interferon-γ stimulates the production of IgG antobodies, but
folicullar helper T cell may be the source of interferon-γ in this case, and a role of Th1
cytokines in isotype switching to IgG has not been estabished in humans (Abbas et al,
2016).

b. Th 2

Atas pengaruh sitokin IL-4, IL-5, IL-10, IL-13 yang dilepas sel
mast, sel jaringan dan sel T yang terpajan dengan antigen, Th0 (naive)
berkembang menjadi sel Th2 yang merangsang sel B untuk
meningkatkan produksi antibodi. Kebanyakan sel Th adalah CD4 yang
mengenal kompleks antigen MHC-II yang dipresentasikan oleh APC
(Baratawidjaja et al, 2009) (Abbas et al, 2016)
33

Gambar 2.16 Funtion of Th2 cell. Th2 cell produce the cytokines IL-4, IL-5, and IL-13
act on B cells to stimulate production mainly of IgE antibodies, which bind to mast cell.
Help for antibody production may be provided by Tfh cells that produce Th2 cytokines
and risede in lymphoid organs, and not by classical Th2. IL-5 activates eosinophils, a
response that is important in the destruction of helminthes (Abbas et al, 2016).

c. Th17

Th17 memproduksi sitokin utama IL-17 dan IL-22 (sitokin yang


berperan penting dalam pertahanan inang melawan bakteri, dan jamur)
(Golubovskaya and Wu, 2016). Perkembangan Th17 dari sel Th naive
CD4 yang di disekresikan oleh sel dendriti atau makrofag dalam
merespon bakteri dan jamur diekstraseluler. Pengenalan dari glycans
jamur, peptidoglikan bakteri dan lipopeptida oleh reseptor imun bawaan
pada sel dendritik merangsang sekresi beberapa sitokin, terutama IL-1,
IL-6, dan IL-23. Ini berperan penting untuk mengaktifkan faktor
transkripsi RORγt dan STAT3, yang menginduksi perubahan Th17.
sitokin lain, TGF-β adalah penghambat respons kekebalan yang kuat,
namun secara bersamaan dengan IL-6 atau IL-1, ini mendorong
pengembangan sel Th17 (Abbas et al, 2016).
34

Sel Th17 juga terlibat dalam berbagai penyakit inflamasi, dan


sitokin yang berlawanan IL-17 sangat efektif dalam psoriasis penyakit
kulit.antagonis yang menetralkan IL-12 dan IL-23 dan dengan demikian
menghambat perkembangan sel Th1 dan Th17, digunakan untuk
pengobatan penyakit radang usus dan (Abbas et al, 2016).

Gambar 2.17 Funtion of Th17 cell. Th17 cells produce the cytokines IL-17, which induce
production of chemokines and other cytokines from various cell, and these recruit
neutrophils (and monocytes, not shown) into the site if inflammation. Some of the
cytokines made by Th17 cell. Notably IL-22, funtion to maintain ephitelial barrier funtion
in the intestinal tract and other tissue (Abbas et al, 2016).
35

Gambar 2.18 Development of Th1, Th2, and Th17 effector cell. Dendritic cell and other
immune cell that respond to different types of microbes secrete cytokines that induce the
development of antigen-activated CD4 T cells into Th1 (A), Th2 (B), and Th17 (C)
subset. The transcription factor that are involved in T cell diffrentiation are indicated in
boxed in the antigen-activeted T cell (Abbas et al, 2016).

d. T Regulatory (Treg) / Pengatur


Diyakini berperan penting dalam pengaturan negatif sistem imun
atau menekan sel lain dalam sistem kekebalan tubuh. Beberapa sel T
mengekspresikan CD25 berasal langsung dari timus, membutuhkan
kontak sel-sel untuk menghambat sel T, dan dapat memiliki peran diduga
berperan dalam toleransi oral dan regulator imunitas mukosa,
imunoregulasi dengan menekan sejumlah respon imun seperti respon
imun terhadap self-antigen, antigen tumor dan patogen (Baratawidjaja et
al , 2009) (Playfair dan Chain. 2009).
Sel ini dapat dibedakan dari sel T helper dengan adanya ekspresi
faktor FOXP3. Jenis TREG lain dapat diinduksi selama infeksi dan bekerja
melalui pelepasan sitokin penghambat seperti IL-10 dan TGF-β yang
merupakan faktor penekanan pertumbuhan/supresif (Baratawidjaja et al ,
2009) (Playfair dan Chain, 2009) (Golubovskaya and Wu, 2016). IL-10
menekan fungsi APC dan aktivasi makrofag, sedangkan TGF-β menekan
proliferasi sel T dan aktivasi makrofag. Mekanisme ini dibantu juga oleh
36

mekanisme lainnya dan bersaing untuk mendapatkan sumber daya seperti


faktor pertumbuhan dan stimulasi MHC class II (Lima, 2006).

Gambar 2.19 aktivasi Treg

3. Sel T Sitotoksik (Tc) / CD8

Sel T sitotoksik CD8 mengenal kompleks antigen MHC-I yang


dipresentasikan APC. Molekul MHC-I ditemukan pada semua sel tubuh
yang memiliki nukleus. Fungsi utama CD8 adalah menyingkirkan sel
terinfeksi virus, menghancurkan sel ganas dan sel histoin kompatibel yang
menimbulkan penolakan pada transplantasi. Sel T sitotoksik CD8 juga
dapat menghancurkan sel yang terinfeksi bakteri intraseluler
(Baratawidjaja et al, 2009). Sel T sitotoksik membunuh sel yang
mengekspresikan antigen sasaran spesifik, ini dipicu oleh ikatan TCR pada
MHC yang terikat fragmen peptida antigen yang tepat (Playfair dan Chain,
2009). Sel Tc menimbulkan sitolisis melalui perforin, apoptosis, TNF-α
dan memacu produksi sitokin Th1 dan Th2. Sel Tc mengekspresikan
koreseptor CD8 dan menghancurkan sel terinfeksi oleh antigen spesifik
yang MHC-I dependen (Baratawidjaja et al, 2009). Sel Tc dapat
membunuh secara langsung dan melalui induksi apoptosis (Playfair dan
Chain, 2009). Induksi apoptosis sel Tc melalui 2 proses yaitu (Darwin,
2005) :
37

a. Kontak antar sel meliputi interaksi antara TCR dengan peptida MHC I.
b. Sel Tc berikatan dengan sel sasaran
c. Substansi-substansi yang merupakan isi granul atau vesikel dilepaskan
sehingga menyebabkan kerusakan sel sasaran
d. Kematian sel secara terprogram / apoptosis.

4. Sel NKT

Sel NKT terdiri dari sel NK dan sel T, yang memiliki TCR yang
tidak seperti kebanyakan sel T. TCR pada sel NKT berinteraksi dengan
molekul serupa MHC yang disebut CD1 (bukan MHC-I/MHC-II). Sel
NKT yang diaktifkan dapat dengan cepat melepaskan sejumlah besar
sitokin yang diperlukan untuk membantu produksi antibodi, inflamasi, dan
ekspansi sel Tc. Sel NKT berfungsi menekan atau mengaktifkan respon
imun spesifik atau non spesifik. Sel NKT sering ditandai dengan
pengenalan glycolipid, galaktosilceramida (a-GalCer) prototipikal, agen
yang diturunkan dari laut, yang juga berpotensi mengaktifkannya dan
memiliki aktivitas anti-tumor yang kuat. (Baratawidjaja et al, 2009).

Gambar 2.20 aktivasi sel NKT


38

5. Memori sel T

Seluruh set T yang terlibat dalam CMI dapat mencetuskan sel


memori kemudian merespon dengan lebih efektif. Perhatikan bahwa dalam
CMI jenis makrofag, memori sepenuhnya berada dalam sel Th. Sel T
memori terdapatdalam frekuensi yang lebih besar dibanding sel T naive,
tetapi juga memiliki ciri khas biokimiawi karena sel tersebut dapat
distimulasikan oleh antigen dengan dosis lebih rendah. Sel T memori dapat
timbul tanpa adanya antigen sama sekali, walaupun sel memori
memerlukan sitokin IL-15 untuk tetap membelah dalam laju lambat
(Playfair dan Chain, 2009).

3. Mekanisme Respon Imun Seluler

Apabila respon imun nonspesifik tidak dapat melawan antigen, maka


respon imun spesifik diaktifkan. Antibodi tidak dapat menjangkau
mikroorganisme yang hidup dan berkembang biak intraseluler. Untuk
menghancurkan mikroorganisme tersebut, sistem imunitas tubuh mengaktifkan
fungsi limfosit T. Sub populasi limfosit T disebut T helper (Th) yang akan
mengenali antigen mikroorganisme melalui MHC-II yang terdapat pada
permukaan makrofag. Sinyal dari Th akan menginduksi limfosit untuk
memproduksi sitokin yang disebut limfokin, seperti IFN yang membantu
makrofag untuk menghancurkan mikroorganisme (Anonim, e-Lisa UGM).
Sel Th akan mensekresi IL-4 untuk membantu sel B berdiferensiasi
menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi dan berproliferasi menjadi sel
B memori dalam pertahanan respon imun humoral. Disamping itu sel Th juga
mensekresi IL-2 untuk mengaktifkan sel Tc yang dapat menghancurkan
mikroorganisme yang terinfeksi didalam sel, dipresentasikan melalui MHC-I
dipermukaan sel. Sel Tc juga menghasilkan IFN-γ yang dapat mencegah
penyebaran mikroorganisme ke sel lain.
Mekanisme respon imun seluler lebih kompleks dibandingkan dengan
respon imun humoral. Sel Tc yang terktivasi, yaitu sel Tc yang terpapar oleh
antigen dan diprogramkan untuk berproliferasi menjadi sel Tc memori. Apabila
39

terpapar kembali dengan antigen yang sama, maka sel Tc memori akan cepat
berikatan dengan antigen untuk melakukan aktivasi. Sel Tc yang sudah aktivasi
akan membunuh sel sasaran melalui kontak langsung. Interkaksi antara sel Tc
dengan sel sasaran terjadi melalui molekul leucocyte fungtion antigen (LFA-I)
dengan molekul adhesi sel sasaran. Proses pembunuhan sel sasaran oleh sel Tc
terjadi dalam beberapa fase (Darwin, 2005):
1. Kontak antar sel meliputi interaksi antara TCR dengan peptida MHC-I
2. Sel Tc berikatan dengan sel sasaran, terjadi melalui molekul leucocyte
fungtion antigen (LFA-I) dengan molekul adhesi sel sasaran.
3. Substansu-substansi yang merupakan isi granul /vesikel (TNF, perforin,
limfotoksin) yang dilepaskan dapat menyebabkan kerusakan sel sasaran,
sehingga aktivitas ini seolah-olah merupakan proses bunuh diri dari sel
sasaran.
4. Kematian sel sasaran tanpa merusak sel disekitarnya.

4. Interaksi Sistem Imun Non-Spesifik dengan Sistem Imun Spesifik

Imunitas non-spesifik berperan sebagai pertahanan pertama terhadap


mikroorganisme yang masuk, dimana mikroorganisme patogen akan dihancurkan
sebelum berkembang biak dan sebelum menimbulkan infeksi. Apabila pertahanan
pertama tidak dapat mencegah infeksi maka akan menimbulkan penyakit, maka
sistem imun spesifik akan diaktivasi (Darwin, 2005). lymphocytes yang
teraktivasi mensekresikan produk yang merangsang dan meningkatkan efektivitas
leukosit bawaan. Interaksi antara imunitas bawaan dan adaptif dibantu oleh
sitokin dan melalui kontak antar sel langsung antara leukosit bawaan dan adaptif.
Dengan bekerja sama dengan cara ini, kekebalan bawaan dan adaptif bergabung
untuk meningkatkan pertahanan optimal melawan patogen.
Penyembuhan melalui respon imun spesifik akan meninggalkan memori
imunologi yang spesifik sehingga infeksi selanjutnya dengan mikroorganisme
yang sama akan dapat dilumpuhkan oleh memori imun spesifik dan tidak akan
menimbulkan penyakit. Sistem kekebalan tubuh non-spesifik menyediakan
sinyal, yang bersama-sama dengan proliferasi antigen spesifik dan aktivasi
40

limfosit T dan B, menyebabkan sinyal dari sistem imun non-spesifik


meningkatkan dan memodulasi respon imun spesifik. Sistem kekebalan tubuh
non-spesifik memainkan peran sebagai adjuvant pada aktivasi sistem kekebalan
tubuh spesifik (Baratawidjaja et al, 2009).

Gambar 2.21. Stimulasi yang terbentuk dari respon imun non-spesifik kepada
respon imun spesifik (Abbas et al, 2016).
41

BAB III
KESIMPULAN

Sistem imun merupakan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam
resistensi terhadap infeksi yang masuk kedalam tubuh. Sistem imun berdasarkan
fungsinya terdiri dari 2 tipe, yaitu respon imun alamiah atau non-spesifik (innate
immunity) dan respon imun adaptif atau spesifik (acquired immunity). Sistem
imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan karena dapat
memberikan respon langsung terhadap antigen. Sebagai elemen pertama dari
sistem imun, respon imun non-spesifik diaktifkan lebih cepat dari pada respon
imun spesifik namun dengan durasi yang lebih singkat.

Sel limfosit merupakan sel yang berperan utama dalam sistem imun
spesifik, sel T pada imunitas seluler, dan sel B pada imunitas humoral. Sistem
imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem seluler. Pada imunitas
humoral, sel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba pada
ekstraselular. Imunitas seluler, sel T mengaktifkan makrofag sebagai sel
efektor untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel Tc sebagai
efektor yang menghancurkan sel terinfeksi didalam sel (intrasel). Sel B dan sel T
yang teraktivasi akan mempunyai memori masing-masing sel. Jika suatu saat
mikroorganisme yang dibunuh menginfeksi tubuh, maka memori sel B dan T akan
lebih cepat merespon sel terinfeksi dari sebelumnya (Baratawidjaja et al, 2009).

Pada saat mikroorganisme masuk kedalam tubuh, mekanisme pertahan


pertama yang dikeuarkan tubuh adalah sistem imun bawaan (mukosa,
selaput lendir, enzim, dll). Dalam perlawanan terhadap mikroorganisme
tersebut, jejas akan menimbulkan inflamasi. Bakteri ekstraseluler dan fungi
merupakan kombinasi utama sehingga terjadi respon inflamasi akut, dimana
netrofil dan monosit dibawa ketempat infeksi dan dilisis oleh sistem
komplemen. Apabila mekanisme pertahanan sistem imun bawaan ini tidak
dapat mempertahankan, maka sistem imun adaptif akan teraktivasi.
lymphocytes yang teraktivasi mensekresikan produk yang merangsang dan
42

meningkatkan efektivitas leukosit bawaan. Interaksi antara imunitas bawaan dan


adaptif ditopang oleh pensinyalan sitokin dan melalui kontak antar sel langsung
antara leukosit bawaan dan adaptif. Dengan bekerja sama dengan cara ini,
kekebalan bawaan dan adaptif bergabung untuk meningkatkan pertahanan optimal
melawan patogen.
43

DAFTAR PUSTAKA

Abbas et al. 2016. Basic immunology Function and Disorder of the Immune
System. Fifth edition. Canada: Elsevier.
Anonim. Sitokin. Yogyakarta: e-Lisa UGM. Diakses http:// elisa.ugm.ac.id /user
/archive/download/24233/822e78ed3fb7f3 22 September 2017
Anonim. Imunitas Humoral dan Seluler. Yogyakarta: e-Lisa UGM. Diakses
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/24234/8c9a5cdaa848b3662aa20
cd13c141a76. 16 September 2017
Baratawidjaja & Rengganis. 2009. Imunologi dasar. Edisi ke-8. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia.
Darmono. 2006. Farmakologi Dan Toksikologi Sistem Kekebalan: Pengaruh
Penyebab Dan Akibatnya Pada Kekebalan Tubuh. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Darwin. 2005. Imunologi dan infeksi. Padang: Andalas University Press.
Golubovskaya and Wu. 2016. Different subsets of T cells, memory, effector
functions, and CAR-T immunotherap. USA: Rieview Cancers. Diakses
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26999211 4 Desember 2017
Gunawan, Josephine . 2013. Pengaruh Pemberian Gabungan Ekstrak Phaleria
macrocarpa dan Phyllanthus niruri Terhadap Persentase Limfoblas Limpa
Pada Mencit BALB/C. Semarang. Diakses http://eprints.undip.ac.id
/43998/1/Josephine_Rahma_G2A009055_Bab0KTI.pdf 20 Oktober 2017
Lima. 2006. Role of Regulatory T Cells in the Development of Skin Diseases.
Review Articel Diakses www.scielo.br/pdf/abd/v81n3/en_v81n03a10.pdf
6 Desember 2017
Moncrieffe. 2006. Regulatory T Cells . UK : University Collage London. Diakses
https://www.immunology.org/public-information/bitesized immunology/cells
/regulatory-t-cells-tregs6 Desember 2017
Playfair dan Chain. 2009. At a glance. Terjemahan Edisi ke-9. Jakarta: Penertbit
Erlangga.
44

Soeroso. 2007. Sitokin Journal of Oftalmologi Indonesia. Surabaya. Diakses


http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-04.ok-TinjPus01-dr.%20
Admadi%20S%20FK.%20UNS.pdf 27 Oktober 2017
Subowo. 1993. Imunologi. Bandung: Angkasa Bandung.
Schroeder et al. 2010. Structure and Function of Immunoglobulins. American
Academy of Allergy, Asthma & Immunology Birmingham. Diakses
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3670108/ 4 Desember 2017
Wahab et al. 2013. Sistem Imun, Imunisasi & Penyakit Imun. jakarta: Wijaya
Medika.

ReRegulatory T Cells
Halima Moncrieffe, University College London,

UK Regulatory T Cells
Halima Moncrieffe, University College London,