Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Seiring bejalannya waktu, perkembangan penyakit degeneratif
dari tahun ke tahun semakin meningkat, salah satunya adalah penyakit
diabetes melitus. Penyakit ini dipengaruhi beberapa faktor, yakni faktor
usia, faktor keturunan, pola hidup dan pola makan yang tidak sehat
dan teratur.
Diabetes melitus (penyakit kencing manis) adalah suatu
gangguan

kronis

yang

khususnya

menyangkut

metabolisme

hidratarang (glukosa) di dalam tubuh. Tetapi, metabolisme protein dan


lemak juga terganggu ( Lat. Diabetes = penerusan, melitus= manis
madu).
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030
prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta
orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian
akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan
menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM
menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit dimana tubuh
penderitanya tidak bisa mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam
darahnya. Penyebabnya adalah kekurangan hormon insulin, yang
berfungsi memungkinkan glukosa masuk ke dalam sel untuk
dimetabolisir (dibakar) dan demikian dimanfaatkan sebagai sumber
energi.

Akibatnya

(hiperglikemia) dan

ialah

glukosa

akhirnya

bertumpuk

diekskresikan

di

lewat

dalam

darah

kemih

tanpa

digunakan (glycosuria). Karena itu, produksi kemih sangat meningkat


dan sering berkemih (sering kencing), merasa amat haus, berat badan
menurun dan merasa lelah. Penyebab lain adalah menurunnya
kepekaan reseptor sel bagi insulin (resistensi insulin) yang diakibatkan
oleh makan terlalu banyak dan kegemukan. Biasanya disertai
peningkatan kadar glukosa darah yaitu glukosa puasa 126 mg/dl,
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 1

postprandial 200mg/dl atau glukosa sewaktu 200mg/dl. Rata- rata


1,5-2% dari seluruh penduduk dunia menderita diabetes yang bersifat
menurun. Di Indonesia, penderita diabetes melitus diperkirakan 3 juta
orang atau 1,5% dari 200 juta penduduk, sedangkan di Eropa
mencapai 3-5%.
Bertambahnya prevalensi

tersebut dipengaruhi oleh faktor-

faktor meningkatnya status sosial dan pola hidup kurang sehat antara
lain kurangnya kegiatan fisik, stres yang meningkat, makanan
berlebihan dan obesitas serta bergesernya perubahan pola makan
tradisional (karbohidrat dan sayur-sayuran) menjadi pola makan yang
banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan sedikit serat.
Diabetes
melitus
merupakan
penyakit
kronis
yang
membutuhkan intervensi obat- obatan seumur hidup terutama untuk
mengelola paenyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Adapun
obat- obat antidiuretik oral antara lain Tolbutamid, Glibenklamid,
Metformin, Troglizaton, Repaglinida, Akarbose, dll. Dalam praktikum uji
aktivitas dan mekanisme karja anti diabetik oral ini digunakan obat
Glibenklamid. Dipilihnya Glibenklamid dalam praktikum ini

karena

Glibenklamid merupakan salah satu obat golongan sufonilurea yang


sering kali ampuh dimana obat-obat lain tidak efektif lagi, selain itu
farmakokinetiknya juga lebih baik.

Oleh karena itu, diadakan

percobaan praktikum untuk menguji efektifitas antidiabetik oral pada


Glibenklamid dengan metode Uji Toleransi Glukosa terhadap mencit
jantan putih DDY.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apakah Glibenklamid dapat menurunkan kadar gula darah secara
efektif atau tidak ?
2. Bagaimana proses mekanisme kerja Glibenklamid dengan metode
uji toleransi glukosa terhadap hewan coba ?
3. Bagaimana perbandingan efek Glibenklamid 10 dan Glibenklamid
20 dengan metode uji toleransi glukosa terhadap hewan coba ?

1.3

Tujuan Praktikum

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 2

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan umum dari percobaan ini adalah untuk membuktikan
mekanisme kerja dan efek dari obat antidiabetik oral.
1.3.2 Tujuan Khusus
1

Mengukur kadar gula darah dengan Accu Check.

Mengetahui pengaruh Glibenklamid terhadap penurunan


kadar gula darah dibanding kadar gula normal.

Membuktikan mekanisme kerja dan efek Glibenklamid


dengan metode uji toleransi glukosa terhadap mencit
jantan putih DDY.

Membandingkan efek Glibenklamid 10 dan Glibenklamid


20 dengan metode uji toleransi glukosa terhadap mencit
jantan putih DDY.

5
1.4

Terampil bekerja dengan hewan coba

Manfaat Praktikum
1. Mengetahui dan dapat membandingkan efek dan mekanisme kerja
dari ADO Glibenklamid 10 dan Glibenklamid 20
2. Dapat membuat dan menyajikan data hasil percobaan mengenai
obat antidiabetik oral
3. Mengetahui cara penggunaan alat pengukur kadar gula darah
(Accu Check)
4. Mampu memberikan obat secara oral kepada hewan coba mencit
dengan menggunakan sonde.
5. Memberikan

masukan-masukan

untuk

perkembangan

obat

antidiabetik.
6. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi praktikan dan
pembaca tentang mekanisme kerja dan efek ADO Glibenklamid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
.1

Diabetes Melitus

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 3

Diabetes melitus (DM) adalah suatu sindroma klinik yang ditandai


oleh poluri, polidipsi, dan polifagi, disertai peningkatan kadar glukosa
darah atau hiperglikemia (glukosa puasa 126 mg/dl, post prandial
200mg/dl, glukosa sewaktu 200mg/dl. Bila DM tidak segera diatasi
akan terjadi gangguan metabolisme lemak dan protein, dan resiko
timbulnya gangguan mikrovaskular atau makrovaskular meningkat.
Diabetes Mellitus merupakan adanya gangguan metabolisme yang
kronis dalam tubuh yang berkaitan dengan glukosa. Insulin diperlukan
untuk melakukan penyerapan glukosa ke dalam sel-sel tubuh yang
kemudian diubah atau ditimbun sebagai cadangan energi. Karena
adanya gangguan metabolisme, maka proses tersebut terganggu pada
penderita Diabetes melitus.
Pada orang sehat, tubuh dapat mengatur keseimbangan kadar gula
darah setelah makan sebab insulin berfungsi sebagai penurun kadar
gula darah. Selain naiknya kadar gula darah, Diabetes melitus juga
memperlihatkan ciri-ciri glicosuria yang menyebabkan penderita
banyak berkemih karena glukosa yang diekskresikan mengikat banyak
air sehingga timbul rasa yang sangat haus.
Kadar gula darah normal yaitu GDP (Gula Darah Puasa) <110mg/dl,
1 jam setelah makan <180 mg/dl dan <140 mg/dl 2 jam setelah makan
dengan cara mengatur pola makan, diet, dan berolahraga. Pada
penderita Diabetes melitus kadar gula darahnya meningkat, hal itu
disebabkan

tubuh

tidak

dapat

memproduksi

dan

tak

mampu

menggunakan insulin secara efektif. Akibat dari hal tersebut, terjadi


penumpukan gula dalam darah atau disebut dengan hiperglikemia
yang kemudian akan diekskresikan melalui kemih.
Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa kedalam sel
terhambat serta metabolismenya terganggu. Dalam keadaan normal,
kira-kira

50%

glukosa

yang

dimakan

mengalami

metabolisme

sempurna menjadi CO2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kirakira 30-40% diubah menjai lemak. Pada penderita diabetes mellitus
semua proses tersebut terganggu.
Pengobatan Diabetes melitus seringkali menghadapi kendala
karena terkadang timbul tanpa gejala dan berlangsung lama sehinga
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 4

perubahan kurang diperhatikan. Gejala


bervariasi

Diabetes melitus yang

dapat timbul perlahan-lahan sehingga pasien tidak

menyadari adanya perubahan, seperti minum menjadi lebih sering,


sering merasa lapar, buang air kecil lebih sering, berat badan menurun,
lemah badan, kesemutan, mudah mengantuk, dan gatal pada
kemaluan. Pada keadaan yang berat, gejalanya antara lain poliuria
atau rasa lemah yang hebat, anoreksia, mual serta muntah.
Diagnosa Diabetes melitus ditentukan berdasarkan kadar gula
darah puasa dan dua jam setelah makan, sedangkan penatalaksanaan
Diabetes melitus untuk mengendalikan kadar gula darah dan
menghindarkan

serangan

hipoglikemia

maupun

hiperglikemia.

Penentuan diagnosis Diabetes melitus pada lanjut usia dipandang


cukup penting artinya bagi kelangsungan hidup penderita, karena
Diabetes melitus merupakan penyakit sepanjang hidup (tidak dapat
disembuhkan).
2.1.1Ciri-Ciri Diabetes Melitus
1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak
(Polyphagia)
4. Kerap kencing (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/kebas/mati rasa pada ujung syaraf
ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila
luka/tergores
(korengan)
penyembuhannya
10. Mudah terkena jangkitan terutama pada kulit.
2.1.2Faktor Penyebab Diabetes Melitus
Penyebab terjadinya Diabetes melitus yaitu:
a. Gaya hidup
b. Kebiasaan minim gerak
c. Obesitas
d. Stres
Faktor Lain :
a. Faktor keturunan
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 5

lambat

b. Kegemukan / obesitas biasanya terjadi pada usia 40


tahun
c. Tekanan darah tinggi
d. Angka Triglycerid (salah satu jenis molekul lemak)
yang tinggi
e. Level kolesterol yang tinggi
f. Gaya hidup modern yang cenderung mengkonsumsi
makanan instan
g. Merokok dan Stress
h. Terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat
i. Kerusakan pada sel pancreas
.1.3 Klasifikasi Diabetes Melitus
Melihat etiloginya DM dapat dibedakan menjadi 3 tipe
yaitu, tipe1 (IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
atau DM tipe I), tipe 2 (NIDDM (Non-Insulin Dependent
Diabetes Mellitus) atau DM

tipe II), dan diabetes

gestasional (terjadi selama kehamilan).


1. IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) atau DM
tipe I
DM tipe ini sering disebut DM yang tergantung
dengan insulin. Tipe ini terjadi apabila rusaknya sel-sel
beta

dari

pulau

Langerhans

sehingga

pankreas

berhenti memproduksi insulin. Pada tipe ini, penderita


sangat

rentan

terhadap

komplikasi

yang

berhubungan dengan kadar gula darah, yaitu dapat


menyebabkan hiperglikemia dan hipoglikemia. Selain
itu, dapat pula terjadi keracunan senyawa keton
sebagai hasil metabolisme tubuh yang menumpuk
(ketoasidosis).
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 6

Penyebab dari DM tipe ini belum begitu


jelas, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa jenis ini
disebabkan oleh suatu infeksi virus yang menimbulkan
reaksi auto-imun berlebihan untuk menanggulangi
virus. Akibatnya sel-sel pertahanan tubuh tidak hanya
membasmi virus, melainkan juga turut merusak atau
memusnahkan sel-sel Langerhans.
Diabetes Mellitus tipe I sangat lazim terjadi
pada anak dan remaja tetapi kadang juga terjadi pada
orang dewasa, khususnya yang non-obesitas dan
mereka yang berusia lanjut ketika hanya hiperglikemia
tampak pertama kali. Pada tipe ini biasanya yang
diperlukan

adalah

terapi

dengan

insulin

untuk

mengontrol metabolismenya dalam tubuh.


Gejala DM tipe I muncul secara tiba-tiba, yaitu
sering berkemih, sering merasa lapar dan haus ,berat
badan menurun, kelelahan, meningkatnya kadar gula
dalam darah dan urin, penglihatan kabur, cenderung
terjadi pada usia di bawah 20 tahun.
2. NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
atau DM tipe II
DM tipe II disebut juga DM yang tidak tergantung
insulin. DM tipe II terjadi pada usia di atas 40 tahun
dengan insidensi lebih besar pada orang yang
tergolong obesitas dan usia lanjut. Tipe ini terjadi
apabila insulin yang dihasilkan dari pankreas tidak
cukup sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke
sel tubuh. Sirkulasi insulin
mencegah

terjadinya

endogen

ketoasidosis

cukup untuk
tetapi

insulin

tersebut sering dalam kadar yang kurang dari normal


atau secara relatif tidak mencukupi.
Faktor penyebab DM tipe II antara lain pola
makan yang salah, proses penuaan, dan stres yang
mengakibatkan resistensi insulin. DM tipe II umumnya
memperlihatkan gejala yang muncul secara perlahanUji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 7

lahan seperti cepat lelah, sering berkemih, merasa


haus dan lapar, mudah sakit yang berkepanjangan,
dan terjadi pada usia di atas 40 tahun.
Akibat proses menua, banyak penderita
jenis ini mengamlami penyusutan sel-sel beta yang
progresif serta penumpukan amiloid di sekitarnya.
Pada tahun 2006 telah ditemukan enzim yang
bertanggungjawab untuk perombakan amiloid ini dan
insulin. Sel-sel beta yang tersisa pada umumnya masih
aktif, tetapi sekresi insulinnya semakin berkurang.
Selain itu, kepekaan reseptornya juga menurun.
Hipofungsi sel-beta ini bersama resistensi insulin yang
meningkat

mengakibatkan

gula

darah

meningkat

(hiperglikemia).
Pengobatan DM tipe II dapat dilakukan dengan
pemberian antidiabetik oral untuk menurunkan kadar
gula dalam darah
3. Gestational Diabetes Melitus
DM jenis ini timbul hanya pada saat kehamilan
saja, akan tetapi tidak menutup kemungkinan akan
mengalami DM dikemudian hari. Ibu hamil yang
menderita DM lebih rentan mengalami toksemia, yaitu
suatu keadaan dimana racun menyebar dalam aliran
darah yang dapat membahayakan jiwa ibu dan anak.
Gestational Diabetes Mellitus (GDM)
melibatkan kombinasi dan kemampuan reaksi dan
pengeluaran
menirukan

hormon
jenis

insulin

yang

tidak

kencing

manis

di

cukup,

beberapa

pengakuan. Terjadi selama kehamilan dan dapat


sembuh setelah melahirkan. GDM mungkin dapat
merusak kesehatan janin atau ibu. . Ibu hamil yang
menderita DM lebih rentan mengalami toksemia, yaitu
suatu keadaan dimana racun menyebar dalam aliran
darah yang dapat membahayakan jiwa ibu dan anak.
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 8

GDM terjadi sekitar 2-5% dari semua


kehamilan. GDM bersifat temporer dan secara penuh
bisa

perlakuan

menyebabkan

terapi,

tidak

permasalahan

diperlakukan,
dengan

boleh

kehamilan,

termasuk macrosomia, janin mengalami kecacatan dan


menderita penyakit jantung sejak lahir. Penderita
memerlukan pengawasan secara medis sepanjang
kehamilan.
.2

Obat-Obat Anti Diabetika Oral


Salah

satu

penanganan

penyakit

DM

adalah

penggunaan

antidiabetik oral. Antidiabetika oral adalah suatu obat atau senyawa


kimia yang dapat menurunkan kadar gula darah yang pemberiannya
diberikan secara oral. Obat ini disebut juga dengan Hipoglikemik. ADO
hanya dapat digunakan untuk jenis penyakit DM tipe II karena sel-sel
pulau Langerhansnya masih berfungsi walaupun menghasilkan sedikit
insulin.
Obat antidiabetika oral dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
1. Golongan Sulfonilurea
Pada umumnya golongan ini dapat digunakan sebagai sabagai
penunjang diet untuk menurunkan kadar gula pada penderita
dengan Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus(NIDDM).
Mekanisme kerja menurunkan kadar gula dalam darah dari
Sulfonilurea dilakukan dengan cara :
a. Merangsang sekresi insulin di pankreas atau menstimulasi selsel beta dari pulau Langerhans, sehingga sekresi insulin dapat
ditingkatkan
b. Memperbesar kepekaan sel-sel beta bagi glukosa darah
c. Memperbaiki kepekaan organ tujuan bagi insulin
d. Menurunkan absorpsi insulin dari hati
Contoh

golongan

sulfonilurea

adalah

tolbutamida,

klorpropamida, tolazamida, glibenklamida, gliklazida, glipizida


dan glikidon.empat obat terakhir dinamakan obat-obat generasi
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 9

ke_2,yang daya kerjanya atas dasar bobot 10-100x lebih kuat


daripada ketiga obat pertama yang termasuk obat-obat generasi
ke-1.
2. Golongan Biguanida
Berbeda dengan Sulfonilurea, obat ini tidak menstimulasi
pelepasan insulin dan tidak menurunkan gula darah pada orang
sehat. Zat ini juga menekan nafsu makan atau efek anoreksan
hingga berat badan tidak meningkat, maka layak diberikan pada
penderita yang kegemukan. Penderita ini biasanya mengalami
resistensi insulin, sehingga Sulfonilurea kurang efektif. Mekanisme
kerjanya hingga kini belum diketahui dengan pasti. Contoh :
metformin
Metformin ini menghambat glukoneogenesis dan pelepasan
glukosa oleh hati dan menurunkan kolesterol (LDL) dan trigliserida.
3. Golongan Glukosidase Inhibitor (Akarbose)
Obat ini termasuk kelompok obat baru yang berdasarkan
persaingan inhibisi enzim alfa-glukosidase di mukosa duodenum,
sehingga reaksi penguraian di/polisakarida menjadi monosakarida
dihambat. Dengan demikian, glukosa dilepaskan lebih lambat dan
absorpsinya ke dalam darah juga kurang cepat, lebih rendah dan
merata sehingga memuncaknya kadar gula darah dihindarkan. Kerja
ini mirip dengan efek dari makanan yang kaya serat gizi. Tidak ada
kemungkinan hipoglikemia dan terutama berguna pada penderita
gemuk, apabila tindakan diet tidak menghasilkan efek. Kombinasi
dengan obat-obat lain memperkuat efeknya.
4. Golongan Thiazolidindion (Troglizaton)
Obat dari kelas ini (1996) dengan kerja farmakologi istimewa
disebut insulin sensitizers. Berdaya mengurangi resistensi insulin
dan meningkatkan sensitivitas jaringan perifer untuk insulin. Oleh
karena itu, penyerapan glukosa ke dalam jaringan lemak dan otot
menigkat, juga kapasitas penimbunannya di jaringan ini. Efeknya
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 10

ialah kadar insulin, glukosa, dan asam lemak bebas dalam darah
menurun, begitu pula gluconeogenesis dalam hati.
5. Golongan Miglitinida (Repaglinida)
Mekanisme kerjanya

mencetuskan

pelepasan insulin dari

pankreas segera sesudah makan. Diminum tepat sebelum makan


(reabsorbsi

cepat,

kadar

darah

memuncak

dalam

jam).

Ekskresinya cepat, dalam 1 jam sudah dikeluarkan dari tubuh.


6. Penghambat Enzim -Glikosidase
Obat golongan penghambat enzim -Glikosidase ini dapat
memperlambat absorpsi polisakarida (starch), dekrin, dan disakarida
di intestin. Dengan mengambat kerja enzim -Glikosidase di brush
border intestin, dapat mencegah peningkatan glukosa plasma pada
orang normal dan pasien DM.
Karena kerjanya tidak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak
akan menyebabkan efek samping hipoglikemia.
.3

Glibenklamid
Glibenklamid

adalah

obat

antidiabetika

dari

golongan

sulfonilurea. derivat-klormetoksi ini (1969) adalah obat pertama dari


obat antidiabetika oral generasi ke-2 dengan khasiat hipoglikemiknya
yang kira-kira 100 kali lebih kuat daripada tolbutamida. Pola kerjanya
berlainan dengan sulfonilurea lain, yaitu dengan single-dose pagi hari
mampu

menstimulasi

sekresi

insulin

pada

setiap

pemasukan

glukosa(selama makan). Dengan demikian selama 24 jam tercapai


regulasi gula darah optimal yang mirip pola normal.
.3.1
Mekanisme Kerja
Golongan obat ini sering disebut

sebagai

insulin

secretagogues, kerjanya merangsang sekresi insulin dari


granul sel-sel yang menimbulkan depolarisasi membran dan
keadaan ini akan membuka kanal Ca. dengan terbukanya
kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel-, merangsang
granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 11

dengan jumlah yang ekuivalen dengan peptida-C. kecuali itu


sulfonilurea dapat mengurangi klirens insulin di hepar.
Pada penggunaan jangka panjang atau dosis yang besar
.3.2

dapat menyebabkan hipoglikemia.


Sifat Farmakokinetik
Sulfonilurea
generasi
II,

umumnya

potensi

hipoglikemiknya hampir 100x lebih besar dari generasi I.


meski masa-paruhnya pendek, hanya sekitar 3-5 jam, efek
hipoglikemiknya

berlangsung

12-24

jam,

sering

cukup

diberikan 1x sehari. Alasan mengapa masa-paruh yang


pendek ini, memberikan efek hipoglikemik panjang, belum
diketahui.
Gliburid (glibenklamid), potensinya 200x lebih kuat dari
tolbutamid, masa paruhnya sekitar 4 jam. Metabolismenya di
hepar,

pada

pemberian

dosis

tunggal

hanya

25%

metabolitnya diekskresi melalui urin, sisanya melalui empedu.


Pada penggunaan dapat terjadi kegagalan primer dan
sekunder, dengan seluruh kegagalan kira-kira 21% selama
1 tahun.
Karena

sulfonilurea

dimetabolisme

di

hepar

dan

diekskresi melalui ginjal, sediaan ini tidak boleh diberikan


.3.3

pada pasien gangguan fungsi hepar atau ginjal yang berat.


Interaksi Obat
Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia
sewaktu penggunaan sulfonilurea ialah insulin, alkohol,
fenformin, sulfonamid, salisilat dosis besar, fenilbutazon,
oksifenbutazon,

probenezid,

dikumarol,

kloramfenikol,

penghambat MAO, guanetidin, anabolic steroid, fenfluramin


dan klofibrat.
Propranolol dan penghambat adrenoseptor lainnya
menghambat reaksi takikardia, berkeringat dan termor pada
hipoglikemia oleh berbagai sebab termasuk oleh ADO,
sehingga keadaan hipoglikemia menjadi lebih hebat anpa
.3.4

diketahui.
Efek Samping
Hipoglikemia dapat terjadi pada pasien yang tidak
mendapat dosis tepat, tidak makan cukup atau dengan

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 12

gangguan fungsi hepar dan/atau ginjal. Kecenderungan


hipoglikemia pada orang tua disebabkan oleh mekanisme
kompensasi berkurang dan asupan makanan yang cenderung
kurang. Selain itu, hipoglikemia tidak mudah dikenali pada
orang tua karena timbul perlahan tanpa tanda akut (akibat
tidak ada refleks simpatis) dan dapat menimbulkan disfungsi
.3.5

otak sampai koma.


Dosis
Permulaan 1 dd 2,5-5 mg, bila perlu dinaikan setiap
minggu sampai maksimal 2 dd 10 mg.

.4

Tragakan
Tragakan adalah eksudat kering gom dari Astragalus gummifer
Labillardiere atau spesies Asiatic lain dari Astragalus (Familia
Leguminosae).
Pemerian

: Tidak berbau; mempunyai rasa tawar; seperti

Kelarutan

lender.
: Dalam air agak sukar larut dalam air, tetapi
mengembang

menjadi masa homogen, lengket

dan seperti gelatin.


Karakteristik botani : Tragakan Fragmen, datar, lamella, kadangkadang melengkung atau helaian lurus atau
spiral melengkung dengan ketebalan dari 0,5
mm sampai 2,5 mm; warna putih hingga kuning
muda, bening dan susunannya bertonjolan,
patahannya pendek. Lebih mudah diserbukkan
apabila dipanaskan pada suhu hingga 50 o: tidak
berbau, rasa tawar seperti lender.
Jaringan Helaian tragakan menjadi lunak dalam
air dan menjadi lengket dalam air atau gliserin P,
terbentuk banyak lamella dan sedikit butiranbutiran tepung.
Serbuk tragakan Putih hingga putih kekuningan.
Bila diamati di dalam tetesan air, menunjukkan
sejumlah fragmen angular dari musilago dengan
lamella melingkar atau tidak beraturan, kadangUji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 13

kadang butiran tepung berdiameter sampai 25


m sebagaian besar sederhana, sferis hingga
elip, kadang-kadangberkumpul 2 butir sampai 4
butir,

beberapa

beberapa

butir

diantaranya

mengembang
berubah.

dan

Serbuk

menunjukkan beberapa atau tidak ada fragmen


jaringan tanaman berlignin (Gom India).
: Sebagai vehikulum, bahan penstabil emulsi

Khasiat

dan suspensi (dalam bidang farmasi).


.5

Sukrosa (Sakarosa)
Adalah gula yang diperoleh dari Saccharum officinarum Linne
(Familia Gramineae), Beta vulgaris Linne (Familia Chenopodiaceae)
dan sumber-sumber lain. Tidak mengandung bahan tambahan,
Pemerian
: Hablur putih atau tidak berwarna; massa hablur atau
berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih; tidak berbau;
rasa manis, stabil di udara. Larutannya netrak terhadap
Kelarutan

lakmus
: Sangat mudah larut dalam air; lebih mudah larut dalam
air mendidih; sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam
kloroform dan dalam eter (FI IV hal 762). Larut dalam
0,5 bagian air dan dalam 370 bagian etanol 95% (FI III

Khasiat
.6

hal 725).
: Kalorigenikum

Hewan Percobaan
Pada percobaan ini digunakan mencit jantan putih galur DDY.
Mencit digunakan sebagai hewan coba antara lain karena mencit
memiliki respons fisiologis yang hampir sama dengan manusia, selain
itu mencit memiliki karakteristik mudah ditangani.
Kingdom
: Mamalia
Filum
: Chordata
Clasis
: Mamalia
Ordo
: Rodentia
Familia
: Muridae
Sub familia
: Murinae
Genus
: Mus
Spesies
: Mus musculus
Hewan coba memiliki sifat seperti berikut : mudah ditangani,
bersifat

penakut,

fotofobik,

cenderung

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 14

berkumpul

sesamanya,

kecenderungan untuk bersembunyi, lebih aktif pada malam hari dan


kehadiran manusia akan menghambat mencit.
Adapun cara memperlakukan mencit adalah Mencit diangkat
dengan memegangnya pada ujung ekornya dengan tangan kanan lalu
biarkan mencit menjangkau kawat kandang dengan kaki depannya.
Dengan tangan kiri, kulit tengkuknya dijepit diantara telunjuk dan ibu
jari lalu pindahkan ekornya dari tangan kanan keantara jari manis dan
jari kelinking tangan kiri, sehingga mencit cukup erat dipegang.
Pemberian obat kini dapat dimulai.
Adapun cara pemberian per-oral, bentuk sediaannya harus
dalam bentuk suspensi, larutan atau emulsi. Cara pemberian ini
membutuhkan pertolongan jarum suntik yang ujungnya tumpul (bentuk
bola atau kanulla). Kanulla ini dimasukan kedalam mulut, kemudian
perlahan-lahan dimasukan melalui tepi langit-langit kebalakang sampai
esofagus.
Karakteristik Hewan Coba
Karakteristik
1. Pubersitas
2. Masa beranak
3. Hamil
4. Jumlah sekali lahir
5. Lama hidup
6. Masa laktasi
7. Frekuensi kelahiran/tahun
8. Suhu tubuh
9. Kecepatan respirasi
10. Tekanan darah
11. Volume darah

Mencit (Mus musculus)


35 hari
Sepanjang tahun
19-20 hari
4-12 (biasanya 6-8)
2-3 tahun
21 hari
4
37,9-39,2C
136-216/mencit
147/106 S?D
7,5%BB

.7
.7
.7
.7
.7
.7
.7
.7

Accu Check
Swamonitor

(memonitor

sendiri)

gula

darah

merupakan

komponen dasar untuk memahami diabetes dan mengelolanya dengan


baik. Saat ini ada perangkat yang memudahkan penderita kencing
manis untuk memantau kadar gula dalam darahnya. Alat ini dinamai
Accu-check.
Alat ini dilengkapi dengan alarm pengingat yang memberi
peringatan jika hasil tes tidak normal dan tombol ejector strip. Strip tes
accu-check Go memiliki sistem pengisian kapiler. Sampel darah dalam

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 15

ukuran sangat sedikit(kurang dari 1,5 mikroliter) dimasukkan kedalam


meter (alat pengukur) melalui strip kapiler.
Caranya, tes strip dimasukkan ke dalam meter. Ini akan secara
otomatis menyalakan meter. Darah yang dikeluarkan akan diserap
sendiri oleh strip tadi (cara kerja secara kapiler). Dalam waktu 5 detik
kemudian hasilnya akan ditayangkan oleh monitor kepada meter.
Setiap strip tes terdapat tanggal kadaluarsa.

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1

Prosedur Kerja
1. Puasakan mencit selama 10-12 jam sebelum perlakuan, yaitu
mulai jam 21 :00 untuk perlakuan jam 09.00 (ket: dilakukan oleh
Lab. Farmakologi)
2. Ambil 6 mencit untuk tiap meja (meja 1 : 1-6 ; meja 2 : 7-12)
3. Timbang masing-masing mencit, beri nomor dengan spidol merah
4. Hitung dosis setiap sediaan untuk masing-masing perlakuan
5. Ambil darah darah ke-1 yaitu darah puasa dari ekor mencit dan
ukur dengan Accu-Check Active.
6. Ukur gula darah seluruh mencit dengan cara:
Mencit dimasukkan ke dalam tabung, tutup dengan posisi ekor di
luar dan tetap dipegang. Beri alkohol pada bagian ekor, sayat
ekornya lalu diurut-urut sampai keluar tetesan darah. Kemudian
tempelkan darah tersebut ke strip pada Accu Check Active,
tunggu sampai muncul angka pada layar, catat angka tersebut.
7. Beri perlakuan Normal pada mencit no 1, 2 dan 7 dengan
memberi tragakan 0,2ml/20g BB, lalu pada mencit no 4, 10, 11
dengan memberi Glibenklamid 10 , lalu pada mencit no 5, 6, 12
dengan memberi Glibenklamid 20 dengan cara menyonde larutan
tersebut ke dalam lambung mencit, catat waktu (perlakuan I).
8. Setelah 30 menit ukur kembali kadar gula darah pada seluruh
mencit dengan Accu Check Active.
9. Setelah itu beri larutan sakarosa pada seluruh mencit. (perlakuan
II)

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 16

10. Kemudian ukur kembali gula darah pada menit ke-30, dan 120
menit, catat waktunya.
11. Rata-ratakan data tiap perlakuan dan buatlah grafik kadar gula
darah vs waktu untuk setiap perlakuan
12. Buatlah laporan dan serahkan maksimum pagi hari sebelum
praktikum berikutnya.
3.2

Alat, Bahan dan Hewan Percobaan


Alat

Timbangan mencit

Alat suntik 1 ml dan sonde oral mencit

Kandang metabolisme individual

Kandang pengambilan darah

Alat gelas sesuai kebutuhan

Gunting

Accu Check

Bahan :

Larutan Sukrosa 20%

Tablet Glibenklamid 5 mg

Tragakan 0,5%

Etanol dan kapas

Strip Accu Check (6x4x1.25=30)

Hewan Percobaan :

3.3

Mencit jantan putih DDY 6 ekor/kelompok


Perhitungan
A. Normal (tragakan) 0,5%
Meja 1 Mencit nomor 1
Berat mencit
= 17,75 gram
17,75
Volume yang dioralkan =
x 0,26 ml = 0,230 ml
20
0,2 ml
Meja 1 mencit nomor 2

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 17

Berat mencit

= 19,51 gram
19,51
20

Volume yang dioralkan =

0,26 ml = 0,253 ml

0,25 ml
Meja 2 mencit nomor 7
Berat mencit

= 22,80 gram

Volume yang dioralkan =

22,80
20

0,26 ml = 0,296 ml

0,3 ml
B. Glibenklamid 10
Meja 1 mencit nomor 4
Berat Mencit
= 19,85 gram
Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 10 mg = 0,026 mg
19,85
Untuk mencit 19,85 gram =
x 0,026 mg = 0,0258
20
mg
Sediaan
Volume yang dioralkan

= 0,1 mg/1 ml
0,0258
=
x 1 ml = 0,258 ml 0,3
0,1

ml
Meja 2 mencit nomor 10
Berat Mencit

= 21,70 gram

Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 10 mg = 0,026 mg


Untuk mencit 21,70 gram =

21,70
20

x 0,026 mg = 0,028 mg

Sediaan

= 0,1 mg/1 ml

Volume yang dioralkan

0,028
0,1

x 1 ml = 0,28 ml

Meja 2 mencit nomor 11


Berat Mencit

= 20,05 gram

Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 10 mg = 0,026 mg


Untuk mencit 20,05 gram =
Sediaan

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 18

20,05
20

x 0,026 mg = 0,026 mg

= 0,1 mg/1 ml

Volume yang dioralkan

0,026
0,1

x 1 ml = 0,26 ml

C. Glibenklamid 20
Meja 1 mencit nomor 5
Berat Mencit

= 23,14 gram

Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 20 mg = 0,052 mg


Untuk mencit 23,14 gram =

23,14
20

x 0,052 mg = 0,0601

mg
Sediaan

= 0,2 mg/1 ml
0,0601
0,2

Volume yang dioralkan =

x 1 ml = 0,3008 ml 0,3

ml
Meja 1 mencit nomor 6
Berat Mencit

= 23,76 gram

Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 20 mg = 0,052 mg


Untuk mencit 23,76 gram =

23,76
20

x 0,052 mg = 0,0617

mg
Sediaan

= 0,2 mg/1 ml
0,0617
0,2

Volume yang dioralkan =

x 1 ml = 0,3088 ml 0,3

ml
Meja 2 mencit nomor 12
Berat Mencit

= 24,89 gram

Konversi mencit 20 gram = 0,0026 x 20 mg = 0,052 mg


Untuk mencit 24,89 gram =
Sediaan

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 19

x 0,052 mg = 0,064 mg

= 0,2 mg/1 ml

Volume yang dioralkan =

C. Sakarosa 20%

24,89
20
0,064
0,2

x 1 ml = 0,32 ml

Rumus =
=

bobot mencit
1000 gram
Hasil
20

x 2 gram = hasil

x 100 =.......

Meja 1 mencit nomor 1


Berat Mencit
= 17,75 gram
17,75 gram
=
x 2 gram = 0,0355 gram
1000 gram
0,0355 gram
=
x 100 = 0,1775 0,18 ml
20
Meja 1 mencit nomor 2
Berat Mencit
=

19,51 gram
1000 gram

0,0390 gram
20

= 19,51 gram

x 2 gram = 0,0390 gram


x 100 = 0,195 0,2 ml

Meja 2 mencit nomor 7


Berat Mencit
=

22,80 gram
1000 gra m

0,0456 gram
20

= 22,80 gram

x 2 gram = 0,0456 gram


x 100 = 0,228 0,23 ml

Meja 1 mencit nomor 4


Berat Mencit
=

19,85 gram
1000 gram

0,0397 gram
20

= 19,85 gram

x 2 gram = 0,0397 gram


x 100 = 0,1985 0,2 ml

Meja 2 mencit nomor 10


Berat Mencit
=

21,70 gram
1000 gram

0,0434 gram
20

= 21,70 gram

x 2 gram = 0,0434 gram


x 100 = 0,217 0,22 ml

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 20

Meja 2 mencit nomor 11


Berat Mencit
=

20,05 gram
1000 gram

0,0401 gram
20

= 20,05 gram

x 2 gram = 0,0401 gram


x 100 = 0,2005 0,2 ml

Meja 1 mencit nomor 5


Berat Mencit
=

23,14 gram
1000 gram

0,04628 gram
20

= 23,14 gram

x 2 gram = 0,04628 gram


x 100 = 0,2314 0,23 ml

Meja 1 mencit nomor 6


Berat Mencit
=

23,76 gram
1000 gram

0,04752 gram
20

= 23,76 gram

x 2 gram = 0,04752 gram


x 100 = 0,2376 0,24 ml

Meja 2 mencit nomor 12


Berat Mencit

3.4

24,89 gram
1000 gram

0,04978 gram
20

= 24,89 gram

x 2 gram = 0,04978 gram


x 100 = 0,248 0,25 ml

Pembuatan Sediaan
A. Tragakan
Timbang 500 mg tragakan, gerus dalam lumpang, tambahkan
aqua dest sedikit demi sedikit ad 100 ml. tuang ke dalam beaker
glass lalu beri etiket tragakan 0,5%.
B. Glibenklamid
Gerus 4 tablet glibenklamid 5 mg, tambahkan tragakan 0,5%
sedikit demi sedikit ad 10 ml, sehingga diperoleh konsentrasi 20
mg/10 ml
Untuk glibenklamid 20 sediaan 0,2 mg/ml

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 21

Ambil 1 ml sediaan (2 mg), lalu tambahkan tragakan 0,5% ad


10 ml sehingga diperoleh sediaan 0,2 mg/ml
Untuk glibenklamid 10 sediaan 0,1 mg/ml
Ambil 1 ml dari sediaan glibenklamid 20, tambahkan tragakan
0,5% ad 2 ml sehingga diperoleh sediaan 0,1 mg/ml.
C. Sakarosa
=

20 gram
100 ml

x gram
20 ml

= 4 gram

Ambil 4 gram sakarosa, masukan dalam vial lalu tambahkan aqua


dest ad 20 ml, kocok vial, bagi sediaan untuk 2 vial masingmasing 10 ml.
3.5

Definisi Operasional
Definisi Operasional
Zat ber-Efek hipoglikemik jika memenuhi salah satu kriteria :
GD 2 h pc < GD puasa
% peningkatan GD setiap waktu < normal
% penurunan GD setiap waktu > normal
Zat ber-Khasiat hipoglikemik jika
GD 2 h pc < GD puasa 20%
Kandang metabolisme individual adalah kandang berbentuk
silinder yang dikelilingi kawat dengan diameter 20 cm yang
dibawahnya terdapat corong dan alas untuk menampung urin

atau feses mencit.


Kelompok normal adalah kelompok mencit yang diberikan
perlakuan menggunakan tragakan

Menurut WHO
Normal
Glukosa Darah (GD) puasa = 70 mg/dl-100 mg/dl = 85

(15/85*100%) mg/dl = 85 18%


GD 2 h pc mendekati kadar GD puasa.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 22

4.1 Tabel Pengamatan


No
Mencit
1
2
7
4
10
11
5
6
12

Perlakua
n
N
N
N
Aver
G10
G10
G10
Aver
G20
G20
G20
Aver

Berat
(g)

0
mg/dl

Uji
(ml)

17,75
19,51
22,80

155
102
139
132
155
139
172
155,33
135
130
175
146,67

0,23
0,25
0,3

Obat
09:50
09:55
09:53

0,26
0,28
0,26

10:00
09:43
09:53

0,3
0,3
0,32

09:57
09:59
09:57

19,85
21,70
20,05
23,14
23,76
24,89

Jam

30
mg/dl
180
150
182
170,67
127
116
197
146,67
113
97
104
104,67

Sakarosa
Jam
ml
10:39
10:29
10:35

0,18
0,2
0,23

10:37
10:17
10:28

0,2
0,22
0,2

10:33
10:41
10:34

0,23
0,24
0,25

30
mg/dl

120
mg/dl

123
158
232
171
85
90
143
106
84
76
96
85,33

127
116
152
131,67
91
99
89
93
84
78
102
88

4.2 Grafik
180
160
140
120
100
80
Kadar Gula Darah (mg/dl)

60

0'

40

30'

20
0

Diagram 1

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 23

180
160
140
120
100
80
Kadar Gula Darah (mg/dl)

60

0'

40

30'

20
0

Diagram 2
Standar Glukosa Darah :
Glukosa Darah Puasa = <110 mg/dl
Glukosa Darah 1 h pc = <180 mg/dl
Glukosa darah 2 h pc = <140 mg/dl
4.3 Pembahasan
Dalam table data di atas, rata rata kadar gula darah mencit
dari 3 kelompok perlakuan berbeda-beda dan ketiga rata-rata kadar
gula darah mencit tidak memenuhi standar, pada kelompok perlakuan
Normal rata-rata gula darah puasanya 170,67 mg/dl, glibenklamid 10,
rata rata kadar gula darah puasanya adalah 146,67 mg/dl dan pada
glibenklamid 20 rata-rata gula darah puasanya 104,67 mg/dl. Ini
terjadi karena berat badan mencitnya sangat bervariasi, sehingga
hasilnya pun berbeda tergantung kondisi mencit. Keadaan mencit itu
sendiri seperti stress atau keadaan hormonal pun berpengaruh. Ini
terlihat ketika di oral terdapat mencit yg kencing. Selain itu, dapat
disebabkan oleh kurang tepatnya waktu pengambilan darah mencit
(terlau cepat atau terlalu lama).
Pada perlakuan normal tidak menimbulkan efek turunnya
glukosa darah tetapi perlakuan ini menyebabkan efek naiknya
glukosa darah, mungkin salah satu faktornya adalah mencit yang
stress saat dioralkan atau sesudah dioralkan dan juga tragakan yang
tidak mempunyai efek menurunkan glukosa darah. Pada perlakuan
Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 24

glibenklamid 10 bisa dilihat di tabel bahwa pada perlakuan ini bisa


menurunkan glukosa darah pada mencit kecuali pada mencit nomor
11 dengan glukosa darah 197 mg/dl karena terjadi efek naiknya
glukosa darah pada mencit tersebut, yang mungkin disebabkan oleh
mencit yang stress saat dioralkan. Pada perlakuan glibenklamid 20
mampu menurunkan glukosa darah pada ketiga mencit.
Dapat dibandingkan dari tiga perlakuan diatas glibenklamid
dengan dosis manusia 20 mg dapat menurunkan glukosa darah pada
mencit dibanding dengan perlakuan glibenklamid dosis manusia 10
mg dan perlakuan normal.
Pada pemberian sakarosa dapat dilihat pada tabel di perlakuan
normal, pada mencit nomor 1 di menit ke 30 terjadi penurunan
glukosa darah yaitu menjadi 123 mg/dl dan kenaikan pada menit ke
120 yaitu 127 mg/dl dibandingkan dengan mencit nomor 2 terjadi
sebaliknya yaitu di menit 30 terjadi kenaikan dan dimenit 120 terjadi
penurunan glukosa darah begitu pula dengan menit nomor 7. Pada
perlakuan glibenklamid 10 sakarosa menurunkan glukosa darah pada
mencit 4, 10 dan 11 di menit ke 30 setelah pemberian sakarosa dan
kenaikan glukosa darah terjadi pada menit nomor 4 dan 10 di menit
ke 120, sedangkan pada mencit nomor 11 di menit 120 setelah
pemberian sakarosa, kadar glukosa darah mencit semakin menurun.
Pada perlakuan glibenklamid 20 peningkatan kadar glukosa darah
hanya terjadi pada mencir nomor 6 dan 12 di menit 120 setelah
pemberian sakarosa.
Ketidak seragaman turun dan naiknya kadar glukosa darah
pada pebahasan diatas disebabkan oleh mencit yang stress akibat
dioral, dapat juga karena dosis obat yang kurang dan juga karena
mencit yang terlalu aktif sehingga kadar glukosa darah semakin
menurun pada pemberian sakarosa tidak seragam karena efek dari
pemberian obat, dosis sakarosa yang kurang dan juga mencit yang
stress dan juga aktif.

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 25

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
1. Pada mencit kelompok perlakuan normal, rata-rata kadar gula
darah puasa(pada menit ke-0) dan menit ke 30 setelah diberi
perlakuan adalah 132 mg/dl ; 170,67 mg/dl
2. Pada mencit kelompok perlakuan glibenklamid 10, rata-rata kadar
gula darah puasa(pada menit ke-0) dan menit ke 30 setelah diberi
perlakuan adalah 155,33 mg/dl ; 146,67 mg/dl
3. Pada mencit kelompok perlakuan glibenklamid 20, rata-rata kadar
gula darah puasa(pada menit ke-0) dan menit ke 30 setelah diberi
perlakuan adalah 146,67 mg/dl ; 104,67 mg/dl
4. Perlakuan glibenklamid 20 lebih efektif menurunkan kadar glukosa
darah pada mencit dibanding dengan perlakuan glibenklamid 10
5. Perlakuan normal tidak menimbulkan efek menurunkan kadar

5.2

glukosa darah pada mencit


Saran

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 26

1. Sebaiknya mencit yang di gunakan berat badannya sesuai standar,


yaitu 20 25 g supaya meminimalkan variasi biologis.
2. Sebaiknya waktu pengambilan sampel darah mencit harus tepat
pada waktunya dan penggunaan accu check harus benar, dimana
darah harus mengenai seluruh permukaan yang telah disediakan
pada strip accu check, agar data yang di dapat akurat dan tidak
boros strip accu check.
3. Ketika ingin mengambil darah mencit dari ekornya,
mengusapkan alkohol

Sebaiknya

ke ekor mencit secukupnya dan jangan

terlalu banyak agar cepat kering dan mempercepat kerja saat


praktikum.
4. Naikkan dosis sakarosa untuk praktikum selanjutnya karen dosis
dipraktikum sekarang kurang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Farmakologi dan Terapi edisi V. 2007. Jakarta : Bag Farmakologi FKUI
Jakarta
2. Farmakope Indonesia edisi III. 1979. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
3. Farmakope Indonesia edisi IV. 1995. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
4. Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja.Obat Obat Penting edisi VI.
2007. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
5. Vitahealth, 2004, Diabetes, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
6. Ganiswarna, S.1995.Farmakologi dan Terapi. FK-UI : Jakarta
7. Hardcopy PPT Responsi Praktikum Farmakologi Uji Aktifitas dan
Mekanisme Kerja Anti Diabetika Oral. 2015. Jakarta : Dra. Sujati Woro
Indijah, M.Si,. Apt

Uji Aktivitas dan Mekanisme Kerja ADO 27