Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh manusia sebenarnya telah mempunyai sistem kekebalan sebagai
mekanisme pertahanan dalam mencegah masuk dan menyebarnya agen infeksi.
Mekanisme pertahanan ini terdiri dari dua kelompok fungsional, yaitu pertahanan non
spesifik dan spesifik yang saling bekerja sama. Pertahanan non spesifik diantaranya
adalah kulit dan membran mukosa, sel-sel fagosit, komplemen, lisozim, interferon,
dan berbagai faktor humoral lain. Pertahanan non spesifik berperan sebagai garis
pertahanan pertama.
Semua pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut
secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara instriksik oleh kontak dengan
agen infeksi sebelumnya. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem produksi
antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T.
Antigen adalah zat-zat asing yang pada umumnya merupakan protein yang
berkaitan dengan bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh. Antibodi merupakan
protein-protein yang terbentuk sebagai respon terhadap antigen yang masuk ke tubuh,
yang bereaksi secara spesifik dengan antigen tersebut. Konfigurasi molekul antigen-
antibodi sedemikian rupa sehingga hanya antibodi yang timbul sebagai respon
terhadap suatu antigen tertentu saja yang cocok dengan permukaan antigen itu
sekaligus bereaksi dengannya.
Inflamasi merupakan reaksi yang kompleks terhadap agen penyebab
penyakit,seperti mikroba dan kerusakan sel. Respon inflamasi berhubungan erat
denganproses penyembuhan, karena inflamasi menghancurkan agen penyebab
penyakit dan menyebabkan rangkaian kejadian yang bertujuan untuk menyembuhkan
atau memperbaiki jaringan yang rusak (Kumaret al., 2005).
2

Interferon merupakan sitokin yang mengatur aktivitas semua komponen
system imun, merupakan bagian dari sistem imun non-spesifik yang timbul pada
tahap awal infeksi virus sebelum timbulnya reaksi dari sistem imun
spesifik.Interferon gamma(IFN-) dihasilkan oleh sel T yang telah teraktivasi dan sel
NK, sebagai reaksi terhadap antigen (termasuk antigen virus dalam derajat rendah)
atau sebagai akibat stimulasi limfosit oleh mitogen. IFN- meningkatkan ekspresi
molekul MHC-II pada Antigen Presenting Cell (APC) yang kemudian akan
meningkatkan presentasi antigen pada sel T helper. IFN- juga dapat mengaktifkan
kemampuan makrofag untuk melawan infeksi virus (aktivitas virus intrinsik) dan
membunuh sel lain yang telah terinfeksi (aktivitas virus ekstrinsik) (Hunt,2006).
Listeria monocytogenes merupakan food-borne pathogen yang menyebabkan
reaksi inflamasi. Infeksi oleh Listeria monocytogenes pada penderita imunokompeten
memberikan gejala seperti flu, namun pada penderita imunosupresi dapat
menyebabkan kematian. Selain itu bila terjadi pada ibu hamil akan meningkatkan
kematian fetus (Garifulin and Boyartchuk, 2005).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana respon system imun pada tubuh terhadap penyakit inflamasi







3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Inflamasi
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan
yang di sebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat
mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak
organisme yang menyerang, menghilankan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan
jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun
kadang-kadang inflamasi tidak bisa di cetuskan oleh suatu zat yang tidak berbahaya
seperti asma. Pada kasus ini reaksi pertahanan diri sendiri mungkin menyebabkan
luka progresif, dan obat-obat anti inflamasi atau imunosupresi mungkin mungkin di
perlukan untuk memodulasi proses peradangan. Inflamasi dicetuskan oleh pelepasan
mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel.
Mediator kimiawi spesifik bervariasi dengan tipe proses peradangan dan
meliputi amin seperti: histamin dan 5-hidroksitriptamin, lipid seperti prostaglandin,
peptida kecil seperti bradikinin dan peptida besar seperti interleukin. Penemuan
variasi yang luas diantara mediator kimiawi yang tampak untuk obat anti inflamasi
dapat mempengaruhi kerja mediator utama yang tidak melibatkan mediator target
obat. Glukokortikoid, digunakan untuk menekan inflamasi, alergi, dan respon imun.
Terapi antiinflamasi digunakan banyak penyakit seperti asma bronkial, artritis
reumatoid, inflamasi berat pada mata dan kulit. Supresi sistem imun bermanfaat
dalam mencegah penolakan setelah transplantasi jaringan. Steroid digunakan untuk
menekan limfopoiesis. Mekanisme kerjanya kortison berdifusi ke dalam sel target dan
terikat pada reseptor glukokortikoid sitoplasma yang termasuk dalam reseptor steroid.
Kompleks reseptor glukokortikoid yang teraktifasi memasuki nukleus dan terikat
pada elemen respon steroid pada molekul DNA target dan ikatan ini menginduksi
4

sintesis mRNA sprsifik dengan menghambat faktor transkripsi. Untuk sebagian besar
glukokortikoid mempunyai afinitas yang lebih tinggi untuk reseptor, kurang cepat
diinaktifasi, dan mempunyai sedikit ataupunn tidak mempunyai sifat menahan garam.
Efek metabolik glukokortikoid adalah memfasilitasi perubahan protein menjadi
glikogen.
Glukokortikoid menghambat sintesis protein dan menstimulasi katabolisme
protein menjadi asam amino. Glukogeno genesis, deposisi glikogen, dan pelepasan
glukosa dari hati distimulasi, tetapi glukosa perifer dihambat. Kortikosteroid
mempunyai efek yang nyata dan banyak digunakan untuk antiinflamasi dan
imunosupresif, dengan menekan semua fase respon inflamasi, termasuk
pembengkakan dini, kemerahan, dan nyeri. Sel-sel imunokompeten dan mkrofag
dalam sirkulasi dikurangi dan pembentukan mediator proinflamasi, seperti
prostaglandin, leukotrien, dihambat. Steroid menghasilkan efek yang terakhir ini
dengan menstimulasinsintesis protein dalm leukosit yang menghambat fosfolipase
A2. Enzim ini, terletak dalam membran sel, diaktivasi dalam sel-sel yang rusak dan
bertanggungjawab dalam pembentukan asam arachidonat yang merupakan prekurson
mediator inflamasi.
2.2 Sel Sel Yang Berperan Pada Proses Inflamasi
1. Makrofag
Merupakan monosit yang lama hidupnya kurang lebih 1 hari, akan pergi ke daerah
peradangan dikarenakan molekul adhesi dan faktor kemoatraktan dalam jaringan,
monosit akan berubah menjadi makrofag yang jika bersatu membentuk endotelium.
Sinyal-sinual yang berpengaruk saat pengaktifan makrofag adalah IFM-y . sitokin,
endotoksin, mediator lain yang diprosuksi saat terjasi radang akut, dan matrix
extraceluler, seperti fibronectin. Makrofag aktif mampu mengaktifkan zat-zat yang
membuat suatu jaringan menjadi nekrosis atau fibrosis. Contohnya adalah asam dan
5

basa protease, komponen komplemen dan faktor-faktor pembekuan, oksigen reaktif
NO, metabolit asam arakhidonat, sitokin IL-1, TNF san berbagai growth factor

2. Limfosit
Limfosit sikerahkan di kedua reaksi imun humoral dan seluler dan bahkan dalam
peradangan non imun. Antigen distimulasi (efektor dan memori) dan berbagai jenis
limfosit (T, B) menggunakan berbagai molekul adhesi pasangan (terutama yang
integrins dan ligan) dan kemokin untuk bermigrasi ke situs peradangan. Sitokin dari
makrofag diaktifkan, terutama TNF, IL-1, da kemokin. Sel ini mempersiapkan proses
peradangan
Limfosit dan makrofag berinteraksi dakan cara dua arah, dan reaksi-reaksi ini
memainkan peran penting dalam peradangan kronis. Limfosit T aktif akan
mengaktifkan makrofag serta mengeluarkan mediator radang untuk mempengaruhi
sel lain, saat makrofag aktif, dia akan mengaktifkan limfosit T dan tak lupa
mengeluarkan mediator radang untuk mempengaruhi sel disekitarnya.
3. Eusinofil
Eusinofil berlimpah dalam reaksi kekebalan yang diperantarai oleh IgE dan infeksi
parasit. Salah satu kemokin yang terutama penting bagi perekrutan eusinofil adalah
eotaxin, Eusinofil memiliki granula yang mengandung protein dasar utama, yang
sangat kationik protein yang beracun bagi parasit tetapi juga menyebabkan lisis sel
epitel mamalis. Itulah sebabnya ia sangat berperan dalam memerangi infeksi parasit
tetapi juga berkontribusi pada kerusakan jaringan dalam reaksi kekebalan.
4. Sel Mast
Sel ini didistribusikan secara luas di jaringan ikat dan berpartisipasi dalam reaksi
peradangan akut dan kronis. Pada reaksi akut, antibodi IgE yang terikat pada Fc
6

reseptor khusus mengenali antigen, dan sel-sel degranulate dan melepaskan mediator
seperti histamin dan produksi oksidasi AA, Jenis respon terjadi selama reaksi
anafilaksis makanan, racun serangga atau obat-obatanm sering dengan hasil becana.
Bila diatur dengan benar, respon ini dapat bermanfaat bagi tuan rumah. Sel mast juga
hadir dalam reaksi peradangan kronis, dan mungkin menghasilkan sitokin yang
berkontribusi terhadap fibrosis.
2.3 Jenis Jenis Inflamasi
Inflamasi Akut
Inflamasi Kronik

a. Inflamasi Akut
Respon inflamasi merupakan upaya oleh tubuh untuk memulihkan dan
mempertahankan homeostasis setelah cidera. Sebagian besar elemen pertahanan
tubuh berada dalam darah dan inflamasi merupakan sarana sel-sel pertahanan tubuh
dan molekul pertahanan meninggalkan darah dan memasuki jaringan di sekitar
tempat luka (atau yang terinfeksi). Inflamasi pada dasarnya menguntungkan, namun
inflamasi berlebihan atau berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan.
Pada dasarnya, mekanisme inflamasi terdiri dari empat kejadian:
Otot-otot polos sekitar pembuluh darah menjadi besar, aliran darah menjadi
lambat di daerah infeksi tersebut. Hal ini memberikan peluang lebih besar
bagi leukosit untuk menempel pada dinding kapiler dan keluar ke jaringan
sekitarnya.
Sel endotel (yaitu sel penyusun dinding pembuluh darah) menjadi kecil. Hal
ini menjadikan ruang antara sel-sel endotel meningkat dan mengakibatkan
peningkatan permeabilitas kapiler. Hal ini dinamakan vasodilatasi.
7

Molekul adhesi diaktifkan pada permukaan sel-sel endotel pada dinding
bagian dalam kapiler (inner wall). Molekul terkait pada pada permukaan
leukosit yang disebut integrin melekat pada molekul-molekul adhesi dan
memungkinkan leukosit untuk rata (flatten) dan masuk melalui ruang antara
sel-sel endotel. Proses ini disebut diapedesis atau ekstravasasi.
Aktivasi jalur koagulasi menyebabkan fibrin clot secara fisik menjebak
mikroba infeksius dan mencegah mereka masuk ke dalam aliran darah. Hal ini
juga memicu pembekuan darah dalam pembuluh darah kecil di sekitarnya
untuk menghentikan perdarahan dan selanjutnya mencegah mikroorganisme
masuk ke aliran darah.



8

o Inflamasi awal dan Diapedesis

1. Selama tahap awal inflamasi, rangsangan seperti cidera atau infeksi memicu
pelepasan berbagai mediator inflamasi seperti leukotrien, prostaglandin, dan
histamin. Pengikatan mediator ini pada reseptornya pada sel endotel
menyebabkan vasodilatasi, kontraksi sel endotel, dan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah. Selain itu, membran basal sekitar kapiler
menjadi penataaan-ulang sehingga mempromosikan migrasi leukosit dan
pergerakan makromolekul plasma dari kapiler ke jaringan sekitarnya.

Sel mast dalam jaringan ikat, juga basofil, neutrofil, dan trombosit
meninggalkan darah dari kapiler yang cidera, melepaskan atau merangsang
sintesis vasodilator seperti histamin, leukotrien, kinin, dan prostaglandin.
Produk tertentu dari jalur komplemen (C5a dan C3a) dapat mengikat sel-sel
mast dan memicu rilis agen vasoaktifnya. Selain itu, kerusakan jaringan
mengaktifkan kaskade koagulasi dan produksi mediator inflamasi seperti
bradikinin.
9

2. Pengikatan histamin pada reseptor histamin pada sel endotel memicu
upregulasi molekul P-selectin dan platelet-activating factor (PAF) pada sel
endotel yang melapisi venula.

3. P-selectin kemudian dapat reversibel mengikat P-selectin glycoprotein ligand-
1 (PSGL-1) pada leukosit. Ikatan reversibel ini memungkinkan leukosit
sekarang bergulir sepanjang dinding bagian venule.


4. Pengikatan PAF ke reseptor PAF-R yang sesuai pada leukosit meng-
upregulasi ekspresi integrin disebut leukocyte function-associated molecule-1
(LFA-1) pada permukaan leukosit.
10



5. Molekul LFA-1 molekul pada guliran leukosit sekarang dapat mengikat kuat
ke suatu molekul adhesi disebut intacellular adhesion molecul-1 (ICAM-1)
yang ditemukan pada permukaan sel-sel endotel membentuk dinding bagian
dalam di pembuluh darah.

6. Leukosit rata (flatten out), menerobos (squeeze) antara sel-sel endotel, dan
bergerak melintasi membran basement karena mereka tertarik terhadap agen
kemotaktik seperti protein komplemen C5a dan leukotrien B4 yang dihasilkan
oleh sel-sel di lokasi infeksi atau cidera.
11


o Inflamasi akhir dan Diapedesis

1. Biasanya dalam waktu dua sampai empat jam dari tahap awal inflamasi,
makrofag diaktifkan dan sel endotel vaskular melepaskan sitokin inflamasi
seperti TNF dan IL-1 ketika TLR mengikat PAMP. Hal ini memungkinkan
sel-sel endotel vaskular terdekat venula untuk meningkatkan ekspresi molekul
adhesi seperti P-selectins, E-selectins, ICAM, dan kemokin.

12

2. Pengikatan TNF dan IL-1 dengan reseptornya pada sel endotel memicu suatu
penjagaan respon inflamasi oleh upregulasi produksi molekul adhesi E-
selectin dan penjagaan ekspresi P-selectin pada sel-sel endotel yang melapisi
venula.

3. E-selectin pada permukaan bagian dalam dari sel-sel endotel sekarang dapat
mengikat kuat integrin terkait, E-selectin ligand-1 (ESL-1) pada leukosit.

4. Leukosit flatten out, squeeze antara sel-sel endotel, dan bergerak melintasi
membran basement karena mereka tertarik terhadap kemokin seperti IL-8 dan
monocyte chemotactic protein-1 (MCP-1) yang dihasilkan oleh sel pada
tempat infeksi atau cidera. Kebocoran fibrinogen dan fibronektin plasma
13

kemudian membentuk sebuah molekular scaffold yang meningkatkan migrasi
dan retensi leukosit di situs yang terinfeksi.
Manfaat Inflamasi
Sebagai hasil dari peningkatan permeabilitas, molekul plasma dan leukosit dari darah
masuk ke dalam jaringan. Manfaat molekul dalam plasma meliputi:
1 Faktor pembekuan. Kerusakan jaringan mengaktifkan kaskade koagulasi
menyebabkan fibrin clot untuk melokalisasi infeksi, menghentikan
pendarahan, dan secara kemotaktik menarik fagosit;
2 Antibodi. Bantuan ini menghilangkan atau memblokir aksi mikroba melalui
berbagai metode yang sudah dijelaskan.
3 Protein dari jalur komplemen. Hal ini pada gilirannya: 1) merangsang
inflamasi lebih (C5a, C3a, dan C4a), 2) menempelkan mikroorganisme fagosit
(C3b dan C4b), 3) secara kemotaktik fagosit (C5a), dan 4) melisiskan sel
terikat-membran antigen asing (MAC);
4 Nutrisi. Memberi makan pada sel-sel di jaringan inflamasi;
5 Lisozim, cathelicidins, dan defensin. Lisozim memecah peptidoglikan.
Cathelicidins dipecah menjadi dua peptida yang beracun untuk mikroba dan
dapat menetralisir LPS dari dinding sel bakteri gram negatif. Defensin
menempatkan pori-pori di membran sitoplasma bakteri. Defensin juga
mengaktifkan sel-sel yang terlibat dalam respon inflamasi.
6 Transferin. Transferin menghilangkan zat besi yang dibutuhkan mikroba.
Leukosit masuk ke dalam jaringan melalui proses yang disebut diapedesis atau
ekstravasasi, dibahas di atas, inflamasi awal dan inflamasi akhir.

14

Manfaat diapedesis:
1 Peningkatan fagositosis. Neutrofil, monosit berdiferensiasi menjadi makrofag
ketika mereka memasuki jaringan, dan eosinofil merupakan leukosit fagositik.
2 Vasodilatasi lebih. Basofil, eosinofil, neutrofil, dan platelet masuk ke dalam
jaringan dan melepaskan atau merangsang produksi agen vasoaktif yang
mempromosikan inflamasi.
3 Sitotoksik T-limfosit (Tc), sel efektor T4, dan sel NK masuk ke dalam
jaringan untuk membunuh sel-sel seperti sel yang terinfeksi dan sel-sel kanker
yang menampilkan antigen asing pada permukaan sel.
Sitokin yang disebut kemokin sangat penting dalam hal ini bagian dari respon
inflamasi. Mereka memainkan peran kunci dalam diapedesis-memungkinkan sel
darah putih untuk menempel pada permukaan dalam pembuluh darah, bermigrasi
keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan, dan secara kemotaktik tertarik ke
tempat cidera atau terinfeksi. Sitokin juga memicu pembunuhan ekstraseluler oleh
neutrofil.
Akhirnya, dalam waktu 1 sampai 3 hari makrofag melepaskan sitokin IL-1
dan TNF-. Sitokin ini merangsang sel-sel NK dan limfosit T untuk menghasilkan
sitokin IFN-. Sitokin ini kemudian berikatan dengan reseptor pada makrofag
menyebabkan produksi fibroblast growth factor (FGF) dan faktor angiogenik untuk
renovasi jaringan. Dengan proliferasi sel endotel dan fibroblas, sel endotel
membentuk jaringan kapiler baru ke daerah luka untuk memasok darah, oksigen, dan
nutrisi ke jaringan inflamasi. Fibroblast mendeposit protein kolagen di daerah terluka
dan membentuk jembatan jaringan penghubung untuk menutup daerah yang terbuka.
Proses ini disebut fibrosis atau scarred, dan merupakan tahap akhir proses
penyembuhan.

15

Inflamasi biasanya diatur secara ketat oleh sitokin. Sitokin inflamasi seperti
IFN- dan IL-12 meningkatkan respon inflamasi, sedangkan inflamasi IL-10
menghambat dengan mengurangi ekspresi sitokin inflamasi. Sehingga dapat dilihat,
inflamasi akut sangat penting untuk pertahanan tubuh.

b. Inflamasi Kronis

Inflamasi kronis bagaimanapun dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang
cukup dan scarring. Dengan peningkatan permeabilitas kapiler berkepanjangan,
neutrofil terus keluar dari darah dan terakumulasi dalam jaringan di situs yang
terinfeksi atau terluka. Ketika neutrofil melepaskan isi lisosomal dan spesies oksigen
reaktif atau ROS, jaringan di sekitarnya hancur dan akhirnya diganti dengan jaringan
scar. Agen anti-inflamasi seperti antihistamin atau kortikosteroid mungkin harus
diberikan untuk meredakan gejala atau mengurangi kerusakan jaringan. Inflamasi
kronis juga berkontribusi terhadap penyakit jantung, penyakit Alzheimer, diabetes,
dan kanker.
Pada kasus kanker, diusulkan bahwa ketika makrofag menghasilkan sitokin
inflamasi, seperti TNF-, sitokin mengaktifkan gen yang berubah pada sel kanker,
berikutnya sintesis protein yang mempromosikan replikasi sel dan inflamasi dan
mengeblok apoptosis dari sel kanker.
Pada penyakit jantung, diperkirakan bahwa makrofag mencerna lipoprotein
densitas rendah atau LDL, suatu kolesterol jahat, dan kemudian terbungkus dalam
fibrous cap yang membentuk plak arteri.
Pada diabetes, diperkirakan bahwa stres metabolik pada obesitas memicu sel
imun bawaan dan sel-sel lemak untuk memproduksi sitokin seperti TNF- yang dapat
mengganggu fungsi normal insulin.
16

Pada kasus penyakit Alzheimer, sel mikroglial, suatu sel seperti makrofag
yang ada sel-sel di otak, berinteraksi dengan protein -amyloid yang terkumpul di
neuron dan kemudian menghasilkan sitokin inflamasi dan radikal bebas yang
merusak neuron.
Mekanisme terjadinya Inflamasi dapat dibagi menjadi 2 fase yaitu:
Perubahan vascular
Respon vaskular pada tempat terjadinya cedera merupakan suatu yang
mendasar untuk reaksi inflamasi akut. Perubahan ini meliputi perubahan
aliran darah dan permeabilitas pembuluh darah. Perubahan aliran darah karena
terjadi dilatasi arteri lokal sehingga terjadi pertambahan aliran darah
(hypermia) yang disusul dengan perlambatan aliran darah. Akibatnya bagian
tersebut menjadi merah dan panas. Sel darah putih akan berkumpul di
sepanjang dinding pembuluh darah dengan cara menempel. Dinding
pembuluh menjadi longgar susunannya sehingga memungkinkan sel darah
putih keluar melalui dinding pembuluh. Sel darah putih bertindak sebagai
sistem pertahanan untuk menghadapi serangan benda-benda asing.
Pembentukan cairan inflamasi
Peningkatan permeabilitas pembuluh darah disertai dengan keluarnya sel
darah putih dan protein plasma ke dalam jaringan disebut eksudasi. Cairan
inilah yang menjadi dasar terjadinya pembengkakan. Pembengkakan
menyebabkan terjadinya tegangan dan tekanan pada sel syaraf sehingga
menimbulkan rasa sakit (Mansjoer, 1999).

17

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Inflamasi merupakan respons protektif sebagai media pertahanan tubuh
terhadap jejas. Inflamasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu inflamasi akut dan
kronis. Inflamasi akut sifatnya singkat, hanya berkisar beberapa menit hingga
beberapa hari, memberikan tanda-tanda umum berupa rubor (redness), calor (heat),
tumor (swelling), Dolor (pain), Functio laesa (lose of function). Perubahan yang
terjadi meliputi hyperemia, exudating, emigrasi leukosit, kemotaksis dan fagositosis.
Pada inflamasi akut, sel-sel radang yang berperan hanya neutrofil dan makrofag yang
sifatnya tidak spesifik pada proses fagositosis.
Inflamasi kronis terjadi dalam kurun waktu berkepanjangan, berkisar dari dua
minggu hingga beberapa tahun, terjadi sebagai sebagai kelanjutan radang akut,
infeksi persisten oleh berbagai mikroorganisme, terpapar toksik terus menerus dan
gangguan autoimun. Pada inflamasi kronik, telah ditemukan adanya angiogenesis,
peradangan granulomatosa (terdiri dari akumulasi makrofag yang telah
berdiferensiasi menjadi epiteloid, keling limfosit, fibroblas dan jaringan ikat yang
dibentuknya)