Anda di halaman 1dari 15

KULTUR LARVA NYAMUK (Culex sp.

)
(Laporan Praktikum Teknologi Budidaya Pakan Hidup)

Oleh

Arico Riyoma
1514111060
Kelompok 9

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Arico Riyoma

NPM : 1514111060

Judul Praktikum : Kultur Larva Nyamuk (Culex sp.)

Tanggal Praktikum : 28 September-12 Oktober 2017

Tempat Praktikum : Laboratorium Perikanan dan Kelautan

Program Studi : Budidaya Perairan

Jurusan : Perikanan dan Kelautan

Fakultas : Pertanian

Universitas : Univeristas Lampung

Kelompok : 9 (Sembilan)

Bandar Lampung, 19 Oktober 2017


Mengetahui
Asisten,

Shinta Riyana
NPM. 1314111023
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pakan alami adalah organisme hidup baik tumbuhan ataupun hewan yang dapat
dikonsumsi oleh ikan.. Pakan alami bisa didapat dengan jalan budidaya maupun
mengangkap di alam. Hasil tangkapan pakan alami dari alam sangat bergantung
dengan musim dan kualitasnya sangat beragam. Karena itulah pakan alami perlu di
Budidayakan. Pakan alami sangat diperlukan dalam budidaya ikan dan
pembenihan, karena akan menunjang kelangsungan hidup benih ikan. Pada saat
telur ikan baru menetas dan kondisi cadangan makanan habis, benih ikan
membutuhkan pakan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Pakan alami pada ikan sebagian besar adalah plankton yang terbagi menjadi 2,
yaitu fitoplankton dan zooplankton. Pakan alami untuk larva atau benih ikan
mempunyai beberapa kelebihan yaitu ukurannya relatif kecil serta sesuai dengan
bukaan mulut larva dan benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan,
gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembang biak
dengan cepat sehingga ketersediaanya dapat terjamin serta biaya
pembudidayaannya relatif murah. Pemberian pakan yang berlebihan atau tidak
sesuai dengan kondisi ikan berakibat kualitas air media sangat rendah. Disamping
air media cepat kotor dan berbau amis, berakibat pula kematian benih ikan sangat
tinggi sampai sekitar 60- 70%.

1.2 Tujuan
Tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui siklus hidup,
perkembangan, dan pertumbuhan larva nyamuk Culex sp. dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan larva nyamuk Culex sp.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Culex sp.


Klasifikasi Culex menurut Ganda (1988) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Culicidae
Genus : Culex
Spesies : Culex sp

2.2 Morfologi Culex sp.


Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vector penyakit yang
penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis
encephalitis. Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 – 10 mm (0,16 – 0,4 inci), dalam
morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum yaitu kepala, dada, dan
perut. Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis Culex
quinquefasciatus (Bougias, 2002).
Selain itu culex memiliki cirri secara umum, yaitu :
a. Telur: lonjong seperti peluru
b. Larva: sifon panjang dan bulunya lebih dari satu pasang
c. Fase dewasa: abdomen bagian ujung tumpul, warna cokelat muda.
d. Sayap: sisik sempit panjang dengan ujung runcing
e. Peran medis: sebagai vektor filariasis dan penyakit Japanese B. Encephalitis
f. Perilaku: mengisap darah pada malam hari
g. Habitat: air jernih dan air keruh (Pennak, R.W, 1989).
2.3 Siklus Hidup Culex sp.
Berikut dibawah ini adalah siklus hidup dari Culex sp diantaranya adalaha sebagai
berikut :
1. Telur
Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100- 400 butir telur. Setiap spesies
nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan
telurnya diatas permukaan air secara bergerombolan dan bersatu membentuk rakit
sehingga mampu untuk mengapung (Sumarmo dkk.,1988).
2. Larva
Salah satu ciri dari larva nyamuk Culex adalah memiliki siphon. Siphon dengan
beberapa kumpulan rambut membentuk sudut dengan permukaan air. Nyamuk
Culex mempunyai 4 tingkatan atau instar sesuai dengan pertumbuhan larva
tersebut, yaitu :
1. Larva instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 – 2 mm atau 1 – 2 hari setelah
menetas. Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada
siphon belum jelas.
2. Larva instar II, berukuran 2,5 – 3,5 mm atau 2 – 3 hari setelah telur menetas.
Duri-duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3. Larva instar III, berukuran 4 – 5 mm atau 3 – 4 hari setelah telur menetas.
Duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
4. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 – 6 mm atau 4 – 6 hari setelah telur
menetas, dengan warna kepala (Matsumura, 1985).
3. Pupa (kepompong)
Tubuh pupa berbentuk bengkok dan kepalanya besar. Pupa membutuhkan waktu
2-5 hari. Pupa tidak makan apapun. Sebagian kecil tubuh pupa kontak dengan
permukaan air, berbentuk terompet panjang dan ramping, setelah 1 – 2 hari akan
menjadi nyamuk Culex (Kardinan, 2003).
4. Nyamuk Dewasa
Ciri-ciri nyamuk Culex dewasa adalah berwarna hitam belang-belang putih, kepala
berwarna hitam dengan putih pada ujungnya. Pada bagian thorak terdapat 2 garis
putih berbentuk kurva (Matsumura, 1985).
2.4 Reproduksi Culex sp.
Culex sp. betina bereproduksi dengan bertelur dan dapat menghasilkan telur telur
hingga 100 butir setiap musim bertelurnya. Telur-telur tersebut diletakkan di atas
permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding vertikal bagian dalam
tempat-tempat penampungan air. Nyamuk Culex sp. betina lebih menyukai tempat
penampungan air yang tertutup longgar untuk meletakkan telurnya dibandingkan
dengan tempat penampungan air yang terbuka, karena tempat penampungan air
yang tertutup longgar tutupnya jarang dipasang dengan baik sehingga
mengakibatkan ruang di dalamnya lebih gelap (Soemirat, 2009). Pada Sistem
reproduksi bagian dalam nyamuk betina juga terdiri dari sepasang ovari, satu
sistem saluran yang berperan sebagai tempat keluarnya telur-telur, dan kelenjar-
kelenjar yang terkait. Masing-masing ovari tersebut terdiri dari sekelompok
ovariol. Sedangkan sistem reproduksi yang dimiliki oleh jantan terdiri dari
sepasang kelenjar kelamin, testis, dan kelenjar tambahan. Testes ditutupi oleh
lemak tubuh dan terletak di segmen 5 dan 6 dorsolatelal dari abdomen. Testes
berjumlah dua buah dan masing-masing terdiri dari sekelompok buluh-buluh
sperma (Brown, 1979).

2.5 Habitat Culex sp.


Habitat dari Culex sp. Umumnya adalah tempat-tempat yang memiliki air kotor
seperi genangan air, limbah pembuangan mandi, selokan dan sungai yang penuh
sampah. Culex sp. mampu berkembang biak disegala musim. Hanya saja
jumlahnya menurun saat musim hujan karena jentik-jentiknya terbawa arus. Culex
sp. melakukan kegiatannya dimalam hari (Irawan, 2012).

2.6 Kandungan Kimia dari Media


a. Batang Pepaya (Carica papaya L.)
Kandungan kimia yang terdapat dalam batang pepaya adalah: 25% atau lebih
lemak campuran, 26,2% lemak, 24,3% protein, 17% serat, 15,5% karbohidrat,
8,8% abu dan 8,2% air. Selain itu batang dan daun pada tumbuhan pepaya
mengandung banyak getah putih seperti susu (white milky latex), yang berpeluang
dikembangkan sebagai antikanker. Manfaat getah pepaya untuk kesehatan
dibuktikan Bouchut secara ilmiah, seperti dikutip Journol Society of Biology,
yang menyatakan papain bersifat antitumor atau kanker.Peran itu dimungkinkan
oleh kandungan senyawa karpain, alkaloid bercincin laktonat dengan tujuh
kelompok rantai metilen. Dengan konfigurasi itu, tak hanya tumor dan penyakit
kulit yang disembuhkan, karpain ternyata juga ampuh menghambat kinerja
beberapa mikroorganisme yang menggangu fungsi pencernaan, sehingga efektif
untuk menekan penyebab tifus.batang pepaya mengandungpapain, papayotin,
papayachin, protein, glukosida karposit, tanin, enzim proteolitik, serta vitamin A
dan C. Kandungan kimia yang ditemui adalah alkaloida (Kalie, 2008).

b. Batang Pisang (Musa paradisiaca L.)


Pada batang pisang terdapat banyak terkandungan glukosa dan selulosa namun
rendah kadar ligninnya. Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu
karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan
tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi
respirasi. Sementara itu, lignin adalah suatu bentuk serat yang dalam jumlah kecil
dibutuhkan ternak untuk membantu pencernaan. Kandungan lignin pada pakan
ternak sangat berpengaruh pada kemudahan pakan itu untuk dicerna. Pakan yang
rendah kandungan ligninnya mudah dicerna oleh binatang (Purnama, 2012).

c. Air Cucian Beras


Air cucian beras merupakan limbah yang berasal dari proses pembersihan beras
yang akan dimasak. Limbah cair ini biasanya dibuang percuma, padahal
kandungan senyawa organik dan mineral yang dimiliki sangat beragam.
Kandungannya yang masih dimiliki oleh air cucian beras antara lain karbohidrat,
nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, sulfur, besi, Vitamin B1 (G.M dkk, 2012).

d. Kol (Brassica oleracea)


Kandungan pada kol atau kubis segar biasanya terkandung zat seperti air, protein,
lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium, vitamin A,
vitamin C, vitamin E, tiamin, riboflavin, nicotinamide, kalsium dan beta karoten.
Air hasil rendaman sayur kol rebus dapat digunakana sebagai media penumbuh
jenti nyamuk, karena air hasil rendaman sayur kol mengandung bakteri/plankton
yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan bagi jentik nyamuk (Mudjiman, 2004).
III. METODOLOGI KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum Culex sp. ini, yaitu pada tanggal 28
September sampai dengan 12 Oktober 2017 yang bertempat di Laboratorium
Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Unviersitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum adalah ember 10 liter, kain kassa, dan
saringan. sedangkan bahan yang dgunakan dalam praktikum ini adalah air bersih
sebanyak 6 liter, batang pisang, air batang pepaya, air bersih, air rebusan dan kol
rebus.

3.3 Cara Kerja


Cara kerja yang dilakukan pada praktikum Culex sp. ini adalah sebagai berikut :
a. Media dibersihkan
b. Media dipotong-potong (batang pisang, batang pepaya) dan di rebus (kol)
c. Media dibungkus menggunakan kain kassa
d. Wadah (ember) diletakkan di tempat sejuk kemudian media yang sudah
dibungkus dimasukkan ke dalam ember.
e. Pengamatan dilakukan selama 10 hari dan diamati 2 hari sekali tentang
kepadatan culex dengan cara menggunakan saringan teh lalu dihitung berapa
banyak culex yang terambil. Pengamatan dilakukan dengan 3 kali ulangan
kemudian dicatat.
f. Jika terjadi penyusutan air maka ditambahkan air dan media sehingga tetap 6
liter.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum ini sebagai berikut :

Grafik Pertumbuhan Culex sp


4.5
4
3.5
Jumlah Culex sp

3
2.5
U1
2
U2
1.5
1 U3
0.5
0

4.2 Pembahasan
Dari data grafik pertumbuhan Culex sp. diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan
Culex sp. yang paling baik terdapat pada 3 hari terakhir sedangkan pada hari-hari
sebelumnya terdapat kenaikan dan penuruan serta tidak didapatkannya sama sekali
Culex sp, Hal yang dapat menjadi factor akibat tersebut kurang ketelitian saat
mengamati larva dari Culex sp.. Hal tersebut dapat dikarenakan sulitnya dalam
melihat dan menentukan larva dari Culex sp. Selain itu kandungan zat yang
terdapat dari media yang digunakan dapat mempengaruhi banyak perkembangan
dan keragam larva Culex sp. dari masing-masing kelompok.

Terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari Culex sp.,
diantaranya adalah suhu, karena sangat mempengaruhi pertumbuhan Culex sp.
Pada keadaan suhu yang tinggi akan mengakibatkan aktivitas nyamuk dan
perkembangannya bisa menjadi lebih cepat, akan tetapi apabila suhu di atas 350C
akan membatasi populasi nyamuk. Suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk
berkisar antara 200C – 300C. Selanjutnya kelembaban udara dapat mempengaruhi
banyaknya uap air yang terkandung dalam udara. Jika udara kekurangan uap air
yang besar maka daya penguapannya juga besar. Sistem pernafasan nyamuk
menggunakan pipa udara atau trakea dengan lubang-lubang pada dinding tubuh
nyamuk (spiracle). Pada saat kelembaban rendah menyebabkan penguapan air
dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan keringnya cairan tubuh. Selain itu
factor penyahaan juga dapat mempengaruhi, dikarenakan nyamuk menyukai
tempat yang lembab dan sedikit terturup, maka pencahaan yang tinggi dapat
mempengaruhi suhu dan kelembapan tempat bagi Culex sp.

Menurut Matsumura (1985) Culex sp. membutuhkan waktu sekitar 4-6 hari setelah
menetas untuk menjadi larva yang memiliki ukuran cukup besar (Stadium 3 dan 4)
dan kemudian berubah menjadi pupa (kepompong), hal ini sesuai dengan apa yang
didapat dari hasil praktikum dimana mulai didapatkan larva pada gravik yaitu pada
hari ke empat. Hal ini dapat dikarenakan oleh pada larva stadium 1-2 sangat sulit
untuk melihat nya dikarenakan ukurannya yang sangat kecil.

Menurut Mudjiman (2004), kandungan pada kol atau kubis segar biasanya
terkandung zat seperti air, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi,
natrium, kalium, vitamin A, vitamin C, vitamin E, tiamin, riboflavin,
nicotinamide, kalsium dan beta karoten. Air hasil rendaman sayur kol rebus dapat
digunakana sebagai media penumbuh jenti nyamuk, karena air hasil rendaman
sayur kol mengandung bakteri/plankton yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan
bagi jentik nyamuk. Akan tetapi jumlah Culex sp. yang ditemukan pada kelompok
ini yang menggunakan media rebusan kol sedikit. Hal tersebut dapat disebabkan
karena proses perebusan kol yang bertujuan untuk membantuk pembusukan daun
kol kurang baik, sehingga proses pembusukannya tidak sempurna.
V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat setelah dilakukannya praktikum tentang Culex sp. ini
adalah
1. Siklus hidup dari Culex sp terbagi menjadi 4 yaitu, fase telur, fase larva,
fase pupa (kepompong), dan fase nyamuk dewasa.
2. Pertumbuhan larva nyamuk dimulai dari fase 1 yaitu pada 1-2 hari setelah
menetas sampai fase 4 yaitu 4-6 hari setelah menetas.
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari Culex sp.
diantaranya adalah suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya.

5.2 Saran
Saran yang akan diberikan yaitu diharapkan praktikum dapat berjalan lebih baik
lagi kedepannya dan waktu harus dipergunakan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA

Bougias, 2002 . culex sp. INFIS Manual Seri No.12. Direktorat Jendral Perikanan
dan International Development Research Centre. Jakarta.
Brown, H W. 1979. Impact of Obesity and Body Fat Distribution on Pulmonary
Function of Egyptian Children. Egyptian Journal of Bronchology: 3(1)49-
58.
Ganda, Husada, S., Herry D.I., Wita P. 1988. Parasitologi Kedokteran. Balai
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Nomor:
77/SP2H/PP/DP2M/V/2009.
Irawan. 2012. Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Kalie, 2008. Studies on Malayan Filariasis in Bengkulu (Sumatera), in Indonesia
With Special reference to vector Confirmation. Southeast.Asian. J.Trop
Med.Pub.Hlth.
Kardinan, A. 2003. Tanaman Pengusir dan Pembasmi Nyamuk Vol I. Jakarta:
Agro Media Pustaka, pp: 2-5, 22-23, 28-29.
Matsumura, F. 1985. Toxicology of Insecticides. 2nd Edition. Plenum Press:
London.
Mudjiman, A. 2007. Media yang digunakan dalam perkembang biakan nyamuk.
Dinas Perikanan Daerah Propinsi Jatim. Semarang.
Pennak, R.W. 1989. Coelenterata Freshwater Invertebrates of the United Sates:
Protozoa to Molusca.3rd edition. John Wiley and Sons, Inc, New York.
Purnama, Didin. 2012. Manfaat dari Batang Pisang. Bogor : IPB Press.
Sumarmo dkk. 1988. Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak. UI-Press. Jakarta.
Wasel, G.M, El-Hawary, S.S., El-Menshawi, B.S., Ibrahim, N.A., Mahmoud, K.,
& Ayoub, M.M. 2012. Antitumor and Antioxidant Activity of Ficus elastica
Roxb and Ficus benghalensis Linn. Family Moraceae, World Applied
Sciences Journal, 19(11), 1532-1539.
LAMPIRAN
Dokumentasi
NO Gambar Keterangan
1. Mengambil air bersih menggunakan gelas
ukur

2. Masukan air bersih kedalam ember ukuran 10


L sebanyak 6 liter

3. Ember yang sudah berisi air sebanyak 6 liter

4. Ember yang sudah berisi air diberi waring


atau penutup dan diberi celah untuk nyamuk
bisa masuk dan bertelur pada media air bersih

5. Kemudian culex diamati selama 12 hari


dengan 3 kali pengulangan kemudian hasil
dicatat