Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


“Organisasi Perusahaan Jasa, Jasa Keuangan dan Multinasional”

Oleh :

KELOMPOK 6

Usman (02320150 )
Aldiyanzah Lukman (02320150432)
Fausi Ramadhan (02320150371)
Hubbu Salam Muchlis (02320150 )
Rahmat Hidayat ( )

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Segala Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan
banyak nikmat, taufik dan hidayah Sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Organisasi
Perusahaan Jasa, Jasa Keuangan dan Multinasional” dengan baik tanpa ada halangan yang berarti. Tidak lupa
sholawat serta salam selalu kami haturkan kepada junjungan terbaik baginda Rosul Muhammad Shallallahu
‘Alaihu Wasasallam selaku tauladan terbaik hingga akhir zaman. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada
beliau, serta kepada keluarga, sahabat, tabi’in dan orang-orang yang selalu mengikuti sunnahnya

Makalah ini telah saya selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu saya sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara
maksimal dalam penyelesaian makalah ini.

Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam
penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala
kerendahan hati , saya selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan
memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Makassar, 21 Mei 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perekonomian Indonesia sedang mengalami masa-masa sulit akibat krisis yang terjadi
pertengahan tahun 1997 dan sampai sekarang belum mengalami pemulihan secara total.
Banyak perusahaan yang gulung tikar karena menderita kerugian dan tidak bisa bertahan
dalam perekonomian seperti ini. Maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat
meningkatkan kinerja perusahaan, baik yang menyangkut perencanaan maupun
pengendaliannya. Selain itu di zaman perdagangan bebas ini, setiap perusahaan harus siap
untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing.

Setiap perusahaan baik itu perusahaan dagang, perusahaan jasa maupun perusahaan
manufaktur selalu menjalankan aktivitas yang beragam. Setiap sektor perusahaan pasti
memiliki sistem pengendalian manajemen yang berbeda. Pada permulaan abad ke-20
lapangan kerja di sektor perusahaan jasa telah melampaui

lapangan kerja di sektor manufaktur, dan pada tahun 2003 lapangan kerja pada sektor jasa
telah tumbuh dua kali lipat dari pertumbuhan dibandingkan perusahaan manufaktur. Oleh
karena itu, dari peningkatan jumlah perusahaan pada sektor jasa, sektor jasa juga
memerlukan hadirnya sistem pengendalian manajemen dalam manajemen organisasinya.
Sebagian besar dari bab sebelumnya merujuk kepada, paling tidak secara implisit,
organisasi manufaktur, yaitu organisasi yang memproduksi dan memasarkan barang
berwujud, akan tetapi sistem pengendalian manajemen tidak hanya menyangkut aspek
manufaktur saja. Sistem pengendalian manajemen juga berfungsi pada sektor jasa. Dalam
proses pengendaliannya, sektor jasa mempunyai karakteristik yang relatif berbeda
dibanding sektor manufaktur, karena secara mendasar perusahaan jasa memiliki
karakteristik yang berbeda dengan perusahaan manufaktur, yaitu sebagai organisasi yang
memproduksi dan memasarkan produknya yang tidak berwujud.

selain dibutuhkan hadirnya sistem pengendalian manajemen dalam organisasi jasa, hal
yang pertama kali dibutuhkan adalah pengetahuan dan wawasan yang lebih mengenai
sistem pengendalian manajemen bagi organisasi jasa. Oleh karena itu, dalam makalah ini
penulis tertarik untuk membahas tentang “Organisasi Perusahaan Jasa, Jasa Keuangan
dan Multinasional”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah karakteristik organisasi jasa secara umum?
2. Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa professional?
3. Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa keuangan?
4. Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi perawatan kesehatan?
5. Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa nirlaba?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:

1. Untuk mengetahui karakteristik organisasi jasa secara umum?


2. Untuk mengetahui karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa professional?
3. Untuk mengetahui karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa keuangan?
4. Untuk mengetahui karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi perawatan kesehatan?
5. Untuk mengetahui karakteristik dan sistem pengendalian dari organisasi jasa nirlaba?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Organisasi Jasa Secara Umum


Perekonomian Indonesia sedang mengalami masa-masa sulit akibat krisis yang terjadi
pertengahan tahun 1997 dan sampai sekarang belum mengalami pemulihan secara total.
Banyak perusahaan yang gulung tikar karena menderita kerugian dan tidak bisa bertahan
dalam perekonomian seperti ini. Maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat
meningkatkan kinerja perusahaan, baik yang menyangkut perencanaan maupun
pengendaliannya. Selain itu di zaman perdagangan bebas ini, setiap perusahaan harus siap
untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing.
1. Sejarah Perkembangan Organisasi Jasa

Pada awalnya akuntansi biaya hanya ada dalam catatan perusahaan manufaktur , karena
kebutuhan untuk menilai persediaan barang dalam proses dan barang jadi adalah untuk
tujuan laporan keuangan. Sistem ini memberikan data mentah yang dapat dengan mudah
diadaptasi untuk digunakan dalam menetapkan harga jual dan untuk tujuan manajemen
lainnya. Banyak organisasi jasa tidak memiliki dorongan yang sama untuk
mengembangkan data biaya. Namun setelah perang dunia II perusahaan jasa mulai
menggunakan data biaya produk dan data akuntansi lainnya, dan perkembangan sistem
pengendalian manajemen organisasi jasa juga mulai berkembang sama pesatnya dengan
sistem pengendalian yang ada pada perusahaan manufaktur.

2. Karakteristik Organisasi Jasa Secara Umum

Sistem pengendalian manajemen tidak hanya menyangkut aspek manufaktur saja. Sistem
pengendalian manajemen juga berfungsi pada sektor jasa. Dalam proses pengendaliannya,
sektor jasa mempunyai karakteristik yang relatif berbeda dibanding sektor manufaktur.
Karakteristik tersebut antara lain:

a. Ketiadaan Persediaan Penyangga


Perbedaan karakteristik secara mendasar dalam sektor manufaktur dan jasa dapat terlihat
dalam hal ini. Perusahaan manufaktur dapat menyimpan barang dagangannya dalam bentuk
persediaan yang merupakan penyangga untuk memperkecil dampak fluktuasi dalam volume
penjualan terhadap proses produksi, sedangkan jasa tidak dapat disimpan. Perusahaan
manufaktur juga dapat memperoleh pendapatan dimasa depan dari produk yang tersedia
ditangan pada saat ini, perusahaan jasa tidak dapat melakukan apa yang dilakukan oleh
perusahaan manufaktur, sehingga perusahaan jasa harus mencoba untuk meminimalkan
kapasitasnya yang tidak terpakai. Lebih lanjut lagi, biaya dan banyak organisasi jasa pada
dasarnya bersifat tetap dalam jangka pendek. Dapat diambil contoh dari jenis usaha jasa
perhotelan, hotel tidak dapat mengurangi biaya-biayanya secara substansial dengan menutup
beberapa kamarnya. Jasa Kantor akuntan, kantor pengacara, dan organisasi profesional lainnya
enggan untuk memberhentikan karyawan profesionalnya ketika volume penjualan rendah karena
dampak moral dan biaya untuk merekrut dan melatih kembali karyawan baru.
Oleh karena itu variabel kunci hampir di semua organisasi jasa adalah sampai sejauh mana
kapasitas sekarang ini disesuaikan dengan permintaan. Organisasi jasa berusaha melakukan
penyesuaian ini dengan dua cara yaitu, pertama, organisasi jasa berusaha untuk
meningkatkan permintaan selama periode menurunnya tingkat penjualan dengan usaha-
usaha pemasaran dan konsesi harga. Kedua, jika memungkinkan organisasi jasa
menyesuaikan jumlah tenaga kerja untuk mengantisipasi permintaan dengan tindakan-
tindakan, seperti menjadwalkan aktivitas pelatihan pada periode tersebut dan
mengkompensasi jam kerja yang panjang selama periode meningkatnya volume penjualan
dengan waktu libur dikemudian hari.
a. Kesulitan Dalam Mengendalikan Kualitas

Perusahaan manufaktur dapat melakukan inspeksi atas produksnya sebelum produk


tersebut dikirimkan kepelanggan, serta kualitasnya dapat diukur secara kasat mata.
Sedangkan Perusahaan jasa tidak dapat menilai kualitas produk sampai pada saat jasanya
diserahkan, dan sering kali penilaian tersebut bersifat subjektif. Misalnya kualitas
pendidikan, kualitas pendidikan adalah hal yang sulit untuk diukur sehingga hanya
beberapa Organisasi pendidikan yang memiliki sistem pengendalian kualitas formal.
b. Padat Karya

Perusahaan manufaktur dapat menambah peralatan dan mengotomatisasi lini produksi


sehingga dengan demikian, perusahaan dapat menggantikan buruh dan meminimalisir atau
mengurangi biaya. Hampir semua perusahaan jasa bersifat padat karya dan tidak dapat
melakukan hal semacam itu. Contoh, Rumah sakit dapat menambah peralatan baru dengan
harga yang mahal, akan tetapi sarana tersebut bertujuan untuk mendukung pelayanan yang
lebih baik kepada para pasien, sarana tersebut tidak mengurangi biaya, melainkan
menambah biaya yang dikeluarkan oleh entitas tersebut.
c. Organisasi Multi Unit
Beberapa organisasi jasa mengoperasikan banyak unit di berbagai lokasi, di mana setiap
unit adalah relatif kecil. Kesamaan dari unit-unit yang terpisah memberikan dasar yang
umum untuk menganalisis anggaran dan mengevaluasi kinerja, yang tidak ada di perusahaan
manufaktur. Informasi dan setiap unit dapat dibandingkan dengan rata-rata sistem atau
regional, dan karyawan dengan kinerja tinggi dan rendah dapat diidentifikasikan.

B. Organisasi Jasa Profesional

Organisasi jasa profesional merupakan ....Adapun cotoh organisasi yang produknya


adalah jasa profesional yaitu seperti, organisasi penelitian dan pengembangan, kantor
pengacara, kantor akuntan, organisasi kesehatan, perusahaan teknik, perusahaan
arsitektur, kantor konsultan, organisasi simfoni dan organisasi kesenian lainnya, serta
organisasi olahraga.

1. Karakteristik Khusus
a. Sasaran
Organisasi profesional memiliki relatif sedikit aktiva yang berwujud. Aktiva utamanya
adalah keterampilan dari staf profesional yang tidak muncul dalam Laporan Posisi
Keuangan (Neraca) perusahaan. Tingkat pengembalian atas aktiva yang digunakan pada
hakikatnya tidak berarti dalam organisasi ini, sehingga sasaran keuangan mereka adalah
untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada para pihak profesional. Umumnya
sasaran organisasi terkait adalah meningkatkan ukuran organisasi. Hal ini mencerminkan
tendensi alamiah untuk mengaitkan keberhasilan dengan ukuran yang besar skala ekonomi
dalam menggunakan usaha dan staf karyawan serta unit sentral yang bertanggung jawab
untuk menjaga organisasi.
b. Profesional
Organisasi profesional adalah organisasi padat karya, dan karyawannya adalah orang-
orang khusus. Banyak profesional lebih menyukai bekerja secara independen daripada
sebagai bagian dan suatu tim. Profesional yang juga adalah manajer cenderung bekerja
hanya paruh waktu dalam aktivitas manajemen. Pendidikan bagi kebanyakan profesi tidak
mencakup pendidikan dalam manajemen tetapi pada umumnya menekankan kepada
keterampilan profesi di banding kepada keterampilan manajemen. Profesional cendrung
meremehkan implikasi keuangan dari keputusan mereka; mereka ingin untuk melakukan
pekerjaan terbaik yang dapat mereka lakukan, tanpa memperdulikan biayanya. Sikap ini
mempengaruhi sikap dari staf pendukung dan karyawan non profesional dalam organiasi
tersebut; hal ini mengarah pada pengendalian biaya yang tidak memadai.
c. Pengukuran Input dan Output
Output organisasi profsional tidak dapat diukur dengan ukuran fisik tertentu. Misalnya
efektifitas dari kerja seorang dokter bukanlah diukur dari berapa pasien yang ia tangani
namun diukur melalui kualitas pelayanan yang diberikan oleh dokter tersebut. Jumlah
pasien hanya berkaitan dengan kuantitas jasa yang diberikan bukan kualitas jasa yang
diberikan (meskipun kualitas yang buruk tercermin dalam pendapatan yang berkurang
dalam jangka panjang).
d. Perusahaan Kecil
Dengan beberapa perkecualian, seperti beberapa kantor pengacara dan kantor akuntan,
organisasi profesional biasanya relatif kecil dan beroperasi di satu lokasi saja. Manajemen
senior dalam organisasi semacam itu dapat secara pribadi mengamati apa yang sedang
berlangsung dan secara langsung memotivasi karyawannya. Dengan demikian, terdapat
lebih sedikit kebutuhan akan sistem pengendalian manajemen yang canggih, dengan pusat
laba dan laporan kinerja formal. Meskipun demikian, organisasi yang kecilpun tetap
membutuhkan
anggaran, perbandingan umum antara kinerja terhadap anggaran, dan suatu cara untuk
mengaitkan kompensasi dengan kinerja.
e. Pemasaran
Pada perusahaan manufaktur, pemilihannya jelas antara kegiatan produksi dan pemasaran.
Pada organisasi profesi pemilihan tersebut tidak ada. Pemasaran pada dasarnya merupakan
kegiatan inti pada semua organisasi. Dalam suatu perusahaan manufaktur terdapat garis
pemisah yang jelas antara aktivitas pemasaran dengan aktivitas produksi; hanya
manajemen senior yang menaruh perhatian pada keduanya. Pemisahan yang jelas semacam
itu tidak terdapat dalam organisasi proesional. Di beberapa organisasi profesional, kode
etik profesi membatasi jumlah dan karakter dan usaha pemasaran yang terlalu kentara oleh
para profesional. Tetapi, pemasaran adalah aktivitas yang penting di hampir semua
organisasi. Dalam situasi seperti ini, sangatlah sulit untuk memberikan penghargaan yang
sesuai kepada orang yang bertanggung jawab untuk “menjual” kepada pelanggan baru.
2. Sistem Pengendalian Manajemen

a. Penentuan Harga

Harga jual dan pekerjaan ditetapkan dengan cara tradisional di banyak perusahaan-
perusahaan profesional. Jika profesi tersebut merupakn salah satu profesi di mana para
anggotanya sudah terbiasa untuk mencatat jadwal waktu mereka, penentuan biaya
profesional yang harus dibayar biasanya dikaitkan dengan Tarif tagihan per jam biasanya
didasarkan pada kompensasi dari tingkat profesional tersebut (dan bukannya kompensasi
dari orang tertentu), ditambah dengan beban untuk biaya overhead dan laba.

b. Pusat Laba dan Penetapan Harga Transfer


organisasi nirlaba biasanya menggunakan pusat laba. Unit- unit pendukung seperti
pemeliharaan, proses informasi, transformasi, telekomunikasi, percetakan dan sejumlah
material dan jasa, membebankan layanan diberikan pada unit yang mengkonsumsi layanan
tersebut.
c. Perencanaan Strategis dan Penyusunan Anggaran
Secara umum, system perencanaan strategis formal di organisasi professional tidak
berkembang sebaik di perusahaan manufaktur dengan struktur yang sama, dan organisasi
professional tidak memiliki kebutuhan yang besar akan system semacam itu. Rencana
strategis dari suatu organisasi professional biasanya terdiri atas rencana pengisian
karyawan untuk jangka panjang, bukan rencana penuh untuk seluruh aspek operasi
perusahaan. Dalam suatu organisasi profesional, aktiva utamanya adalah manusia.
Meskipun organisasi tersebut menghindari fluktuasi jangka pendek dalam jumlah
karyawan, perubahan dalam ukuran dan komposisi karyawan lebih mudah untuk dilakukan
dan lebih mudah untuk dibalik dibandingkan dengan perubahan dalam kapasitas fisik
pabrik.
d. Pengendalian Operasi

Rasio waktu yang ditagih (billed time ratio), yang merupakan rasio dari jumlah jam yang
dapat ditagih terhadap jumlah jam yang tersedia, dipantau secara ketat. Jika ternyata
penggunaan waktu yang sebaliknya merupakan waktu menganggur atau untuk alasan
pemasaran atau pelayanan umum, beberapa penugasan dibebankan dengan tarif yang lebih
rendah dari tarif normal, maka varians harga yang ditimbulkan harus dipantau secara ketat.

Ketidakmampuan untuk menetapkan standar bagi kinerja tugas, keinginan untuk


melaksanakan pekerjaan dalam tim, masalah yang ditimbulkan karena mengelola
organisasi matriks, dan karakteristik perilaku dari profesional, semuanya memperumit
perencanaan dan pengendalian atas operasi sehari-hari dalam organisasi profesional.
Ketika pekerjaan dilaksanakan oleh tim proyek, maka pengendalian difokuskan pada
proyek. Rencana tertulis untuk setiap proyek dibutuhkan, dan laporan tepat waktu harus
dibuat, yang membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang direncanakan dalam hal
biaya, jadwal, dan kualitas.

e. Pengukuran dan Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja merupakan penilaian manusia yang dilakukan oleh atasan, rekan kerja,
diri sendiri, bawahan dan klien. Penilaian yang dibuat oleh atasan adalah penilaian yang
paling umum. Untuk itu, organisasi professional semakin banyak yang menggunakan
system formal untuk mengumpulkan penilaian kinerja sebagai dasar keputusan personalia
dan untuk diskusi dengan professional tersebut. Penilaian oleh rekan sekerja atau oleh
bawahan kadang kala merupakan bagian dari system pengendalian formal. Di beberapa
organisasi, individu dapat diminta untuk membuat penilaian atas dirinya sendiri. Ekspresi
kepuasan atau ketidakpuasan dari klien juga merupakan dasar yang penting untuk menilai
kinerja, meskipun ekspresi semacam itu mungkin tidak selalu tersedia.

C. Organisasi jasa Keuangan


Organisasi jasa keuangan meliputi bank komersial dan institusi penghematan, perusahaan
asuransi, dan perusahaan efek. Perusahaan-perusahaan ini berada dalam bisnis yang
terutama bertujuan untuk mengelola uang. Beberapa dari perusahaan tersebut bertindak
sebagai perantara yang bertindak sebagai pemindah risiko dan yang lainnya lagi adalah
pedagang. Adapun karakteristik khusus organisasi jasa keuangan antara lain sebagai
berikut:

1. Aktiva Moneter
Kebanyakan aktiva dari perusahaan jasa keuangan bersifat moneter. Nilai sekarang dari
aktiva moneter adalah jauh lebih mudah untuk diukur dibandingkan dengan nilai pabrik
dan aktiva fisik lainnya, atau paten dan aktiva tidak berwujud lainnya. Dalam industri jasa
keuangan, kualitas mengacu pada kualitas jasa yang diberikan dan pada kualitas
instrumen keuangan selain uang; tidak ada kebutuhan akan pengendalian kualitas atas
uang.Aktìva finansial dapat juga dipindahkan dari satu pemilik ke pemilik lainnya dengan
mudah dan cepat. Dalam pemindahan dana secara elektronik, uang berpidah hampir
seketika. Perusahaan yang menangani aktiva keuangan, terutama uang, harus mengambil
tindakan-tindakan yang ketat guna melindunginya. Hal ini tidak hanya melibatkan
tindakan-tindakan fisik untuk melindungi mata uang dan dokumen, melainkan juga
tindakantindakan yang dirancang untuk memelihara integritas dan sistem untuk
mentransfer uang dari satu pihak ke pihak lain.

2. Jangka Waktu Transaksi


Pengendalian memerlukan adanya suatu cara pengawasan yang berkelanjutan atas
kelayakan dari suatu transaksi selama jangka waktu tertentu, termasuk audit periodik atas
semua pinjaman yang beredar.

3. Imbalan dan Risiko


Banyak perusahaan jasa keuangan bergerak dalam bisnis yang menerima risiko sebagai
ganti atas imbalan yang diperoleh. Kebanyakan keputusan bisnis melibatkan trade-off
antara risiko dan imbalan. Semakin besar risikonya, sebaiknya semakin besar pula
imbalan yang diantisipasi. Di dalam perusahaan jasa keuangan, trade-off ini lebih
eksplisit dibandingkan dengan di dalam investasi bisnis seperti keputusan pembelian
suatu mesin atau pengenalan suatu produk baru. Tingkat bunga pinjaman dan premi polis
asuransi didasarkan pada asumsi tentang risiko, yang mungkin terbukti akurat atau tidak.

4. Teknologi
Teknologi telah merevolusi industri jasa keuangan. Perusahaan jasa keuangan telah
menggunakan teknologi informasi sebagai suatu cara untuk menawarkan layanan yang
inovatif. ATM bank merupakan salah satu contohnya. Layanan broker secara online
merupakan segmen dengan pertumbuhan yang cepat.

D. Organisasi Perawatan Kesehatan

Organisasi perawatan kesehatan terdiri atas rumah sakit, klinik, dan organisasi kedokteran
yang serupa; organisasi pemeliharaan kesehatan; panti wreda dan rumah perawatan;
organisasi pelayanan rumah; dan laboratorium medis adalah beberapa di antaranya.
Meskipun kesemuanya memiliki hampir semua karakteristik dari organisasi nirlaba,
banyak di antaranya yang merupakan perusahaan berorientasi laba.

1. Karakteristik Khusus

a. Masalah Sosial yang Sulit


Masyarakat lambat laun mulai memahami fakta bahwa sistem
pemberian pelayanan kesehatan sekarang ini tidak berjalan. Di pihak lain, biaya per
layanan tidak dapat dihindari lagi akan terus meningkat dengan pengembangan
peralatan dan obat-obatan baru; beban rumah sakit semakin meningkat. Di pihak lain,
jumlah orang yang sakit semakin bertambah karena kemajuan medis memperpanjang
usia orang-orang tua, yang kemungkinan besar memerlukan perawatan. Masyarakat
tidak dapat membayar peningkatan yang dapat diprediksikan jika tingkat kenaikan
biaya sekarang ini berlanjut lebih lama lagi. Penyedia layanan kesehatan menyadari
masalah ini, adalah jelas bahwa pemberian layanan kesehatan akan berubah secara
drastis.
Organisasi layanan kesehatan harus waspada terhadap peruahan-perubahan ini.

b. Perubahan dalam Bauran Penyedia Layanan


Dalam kenaikan keseluruhan dan biaya layanan kesehatan, perubahan yang signifikan
telah terjadi dalam cara dengan mana pelayanan kesehatan diberikan dan, akibatnya,
dalam kelayakan jenis tertentu dan penyedia layanan. Untuk tetap layak beroperasi,
rumah sakit harus memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi terhadap perubahan ini, balk
dengan memberikan lebih banyak layanan kepada pasien rawat jalan atau dengan
menghilangkan layanan pasien rawat inap yang tidak lagi menguntungkan.

c. Pembayar Pihak Ketiga


Program terbesar dan pemerintah adalah Medicare, sebuah program pemerintah federal
ÿang menyediakan dukungan bagi orang-orang berusia 65 tahun ke atas dan bagi anak-
anak muda dengan ketidakmampuan tertentu. Sampai tahun 1983, Medicare telah
mengganti biaya-biaya yang terjadi sesuai dengan “kewajaran,” yang memberikan
sedikit insentif kepada penyedia layanan kesehatan untuk mengendalikan biaya. Pada
saat ini, Medicare mengganti biaya rumah sakit berdasarkan Kelompok Diagnostik
Terkait (Diagnostic Related Groups-DRG).

Sistem DRG, dan kenaikan dalam biaya rumah sakit per pasien, telah memotivasi
rumah sakit untuk memasang sistem akuntansi biaya yang canggih.
Beberapa rumah sakit memberikan layanan pemrosesan informasi kepada rumah sakit
lain berdasarkan kontrak. Sistem ini memberikan informasi atas pasien individual dan
mereka melaporkan biaya aktual dibandingkan dengan biaya standar untuk setiap
DRG; biaya diklasifikasikan berdasarkan departemen dan bahkan berdasarkan dokter
yang merawat dalam departemen tersebut. Informasi ini merupakan tambahan atas
informasi yahg secara tradisional dikumpulkan di rumah sakit. Informasi tersebut fokus
pada output (layanan pasien), serta pada input (biaya per tes laboratorium). Oleh karena
itu, tugas yang sulit untuk mengendalikan pembayaran-pembayarannya agar tidak
melampaui iuran, yang mereka terima, tetapi dengan memastikan bahwa layanan
kesehatan yang memadai tetap disediakan.

d. Profesional
Loyalitas utama profesional adalah kepada profesi dan bukan kepada organisasi. Para
manajer departemental biasanya adalah profesional yang fungsi manajemeya hanya
bersifat paruh waktu; kepala bedah melakukan pembedahan. Secara historis, para
dokter cenderung memberikan tekanan yang relatif kecil terhadap pengendan biaya.
e. Pentìngnya Pengendalian Kualitas
Industri layanan kesehatan berurusan dengan nyawa manusia, jadi kualitas layanan
yang diberikannya merupakan hal yang paling penting. Terdapat peninjauan jaringan
dari prosedur pembedahan, peninjauan rekan sejawat atas dokter individual, dan agen
peninjau luar yang diharuskan oleh pemerintah federal.

2. Proses Pengendalian Manajemen


Karena pergeseran dalam bauran produk dan karena peningkatan kuantitas serta biaya
peralatan baru, proses perencanaan strategis di rumah sakit adalah penting. Proses
penyusunan anggaran tahunan adalah secara konvensional. Sejumlah besar informasi
tersedia dengan cepat untuk pengendalian aktivitas operasi. Kinerja keuangan dianalisis
dengan membandingkan pendapatan dan beban aktual dengan anggaran, dengan
mengidentifikasikan varians-varians penting, dan mengambil tindakan yang sesuai atas
varians-varians tersebut.

E. Organisasi Nirlaba
Suatu organisasi nirlaba, sebagaimana didefinisikan dalam hukum, adalah organisasi yang
tidak dapat mendistribusikan aktiva atau labanya kepada, atau untuk manfaat dan,
anggotanya, pejabatnya, maupun direkturnya. Definisi ini tidak menghalangi organisasi
untuk memperoleli laba; definisi tersebut hanya melarang distribusian dari laba tersebut.
Suatu organisasi nirlaba perlu memperoleh laba yang memadai, secara rata-rata, guna
menyediakan dana untuk modal kerja dan untuk berjaga-jaga terhadap “hari-hari buruk”.

1. Karakteristik Khusus

a. Ketiadaan Ukuran Laba


Sasaran dominan dan kebanyakan bisnis adalah untuk memperoleh laba yang
memuaskan. Laba bersih mengikur kinerja ke arah sasaran ini. Tidak satupun ukuran
kinerja tersebut ada di organisai nirlaba. Banyak dari organisasi nirlaba yang
mempunyai beberapa sasaran, dan efektivitas dari suatu organisasi dalam mencapai
sasarannya jarang sekali dapat diukur dengan jumlah kuantitatif. Ketiadaan ukuran
kinerja keseluruhan kuantitatif yang mémuaskan adalah masalah pengendalian
manajemen yang serius dalam organisasi nirlaba.

b. Modal Kontribusi
Terdapat dua kategori utama modal kontribusi, yaitu pabrik dan sumbangan. Pabrik
meliputi kontribusi gedung dan pcralatan, atau kontribusi dana untuk memperoleh
aktiva tersebut; pekerjaan-pekerjaan seni; dan objek museum lainnya. Sumbangan
terdiri dari pemberian yang donornva berkeinginan agar jumlah pokoknya tetap utuh
selamanya (atau setidaktidaknva untuk banyak tahun); hanya laba dari pokok
sumbangan tersebut yang akan digunakan untuk mendanai operasi sekarang ini.
Suatu organisasi nirlaba memiliki dua kelompok laporan keuangan. Satu kelompok
berkaitan dengan aktivitas operasi; kelompok tersebut meliputi laporan laba rugi,
neraca, dan laporan arus kas, sama seperti yang ditemukan di bisnis. Kelompok kedua
berkaitan dengan modal kontribusi. Kelompok tersebut memiliki laporan arus modal
kontribusi selama periode tersebut dan neraca yang melaporkan aktiva modal
kontribusi dan kewajiban serta ekuitas yang terkait. Arus masuk dan modal kontribusi
adalah modal kontribusi yang diterima dan keuntungan dari portofolio sumbangan
selama periode tersebut; arus keluar adalah laba sumbangan yang dilaporkan sebagai
pendapatan operasi, kerugian atas portofolio sumbangan, dan penghapusan pabrik.

c. Akuntansi Dana
Banyak organisasi nirlaba menggunakan sistem akuntansi yang disebut
“akuntansi dana.” Akun-akun dibuat secara terpisah untuk beberapa dana, masing-
masing saling menyeimbangkan (yaitu, jumlah saldo debit sama dengan jumlah saldo
kredit). Kebanyakan organisasi memiliki (1) dana umum atau dana operasi, yang
berkaitan erat dengan sekelompok akun operasi; 2) dana pabrik dan dana sumbangan,
yang merupakan aktiva modal kontribusi dan ekuitas; dan (3) beragam dana lain untuk
tujuan khusus. Untuk hijuan pengendalian manajemen, fokus utama adalah pada dana
umum.

d. Pengelolaan
Organisasi nirlaba dikelola oleh dewan pengawas. Dewan pengawas biasanva tidak
digaji, dan banyak dari mereka yang tidak memahami manajemen bisnis. Oleh karena
itu, mereka umumnya menjalankan lebih sedikit pengendalian dibandingkan dengan
direktur dari suatu perusahaan bisnis. Lebih lanjut lagi, karena kinerja lebih sulit untuk
diukur, dewan pengawas menjadi kurang mampu untuk mengidentifikasikan masalah-
masalah aktual atau masalah-masalah yang baru timbul. Sehingga kebutuhan akan
dewan pengelola yang kuat dalam organisasi nirlaba adalah jauh lebih besar
dibandìngkan dengan dalam organisasi bisnis.
2. Sistem Pengendalian Manajemen

a. Penetapan Harga Produk


Banyak organisasi nirlaba memberikan perhatian yang kurang memadai pada kebijakan
penetapan harganya. Penetapan harga l ayanan pada biaya penuh adalah yang
diinginkan. Harga berdasarkan biaya penuh merupakan jumlah dari biaya langsung,
biaya tidak langsung, dan mungkin penyisihan kecil untuk meningkatkan ekuitas
organisasi. Prinsip ini berlaku pada jasa yang secara langsun g berkaitan dengan tujuan
organisasi tersebut. Penetapan harga untuk aktifitas pelengkap sebaiknya didasarkan
pada pasar. Dengan demikian, suatu organisasi nirlaba menetetapkan harga atas
layanan yang diberikannya pada biaya penuh, tetapi diluar layanan ya ng wajib
diberikan menggunakan harga pasar. Secara umum, semakin kecil dan spesifik unit
pelayanan yang ditetapkan harganya, semakin baik dasar keputusan mengenai alokasi
sumber daya.
b. Perencanaan Strategis Dan Penyusunan Anggaran

Dalam organisasi nirlaba yang harus memutuskan mengenai bagaimana cara yang
terbaik untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas keaktifitasaktifitas yang
berharga, perencanaan strategis adalah proses yang lebih penting dan lebih banyak
memakan waktu dibandingkan dengan bisni s biasa. Proses penyusunan anggaran
dalam organisasi nirlaba tidak mempunyai pilihan lain untuk meningkatkan
pendapatannya jika masih ingin memberikan pelayanan yang baik.
c. Evaluasi dan operasi

Manajer pusat lebih cenderung membelanjakan apa saja yang di peroleh dalam anggaran,
meskipun jumlah yang dianggarkan tersebut lebih tinggi daripada yang ditentukan.
Sebaliknya mereka dapat membatasi pengeluaran yang memiliki pengembalian yang
sangat bagus hanya karena pengeluaran tersebut tidak termasuk dalam anggaran.

F. Perusahaan Asuransi
Pengertian Perusahaan Asuransi
Apa itu perusahaan asuransi?? Yang dimaksud perusahaan asuransi ialah lembaga
yang menyediakan berbagai polis asuransi untuk melindungi seseorang atau nasabahnya
dari berbagai macam resiko kerugian dengan cara membayar premi secara teratur,
perusahaan asuransi bekerja dengan cara menyatukan resiko dari sejumlah pemegang polis
asuransi.

Contoh perusahaan asuransi seperti:

 Allianz
 AIA Financial
 AXA Mandiri
 Manulife
 Prudential
 Sinarmas
 Dan lain-lain

Fungsi Perusahaan Asuransi


Berikut ini beberapa fungsi perusahaan asuransi yang diakui oleh berbagai badan usaha dan
institusi di seluruh dunia yaitu:
 Sebagai Pengendali Resiko
Seperti yang dijelaskan dalam undang-undang, asuransi berfungsi sebagai pengendali
resiko seperti penyedia perlindungan untuk kecelakaan, kematian, penyakit berat dan
sebagainya. Dalam hal ini , perusahaan asuransi mengubah ketidakpastian “seperti resiko
kecelakaan dan kematian” menjadi sesuatu yang pasti dan bisa ditangani yaitu tanggungan
finansial.
 Sebagai Pengumpulan Dana
Pengumpul dana dalam hal ini bukanlah penggalangan dana untuk kepentingan sosial alias
charity. Namun perusahaan asuransi mengumpulkan dana berupa premi yang dibayarkan
para pemegang polis setiap bulan atau tahun dan dana ini kemudian akan dikelola serta
dikembangkan untuk memberi perlindungan finansial terhadap kejadian tak terduga yang
menimpa pemegang polis.
 Sebagai Pengelola Premi Seimbang
Setelah pemegang polis menyetor premi perusahaan asuransi berkewajiban mengelola
dana tersebut dan mengeluarkannya sedemikian rupa sehingga jumlahnya sesuai dengan
resiko yang dihadapi pemegang polis yang melakukan klaim.

Berbagai fungsi utama perusahaan asuransi tersebut mengatur kerja berbagai perusahaan asuransi
di Indonesia walau layanan yang diberikan beragam.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari perusahaan asuransi yaitu:

- Kelebihan Perusahaan Asuransi


Bagi Perusahaan

 Keuntungan dari premi yang diberikan ke nasabah.


 Keuntungan dari hasil penyertaan modal di perusahaan lain.
 Keuntungan dari hasil bunga dari ivestasi di surat-surat berharga.

Bagi Nasabah

 Memberikan rasa aman.


 Merupakan simpanan yang pada saat jatuh tempo dapat ditarik kembali.
 Terhindar dari resiko kerugian atau kehilangan.
 Memperoleh penghasilan dimasa yang akan datang.
 Memperoleh penggantian akibat kerusakan atau kehilangan.

- Kekurangan Perusahaan Asuransi

 Lingkup penanggulangan resiko terbatas potensi kerugian yang ditanggung perusahaan


asuransi sangat terbatas pada resiko-resiko yang dapat diukur nilai ekonomisnya. Selain itu
asuransi hanya akan membayar bila kita mengalami kerugian akibat kejadian yang
tercantum pada polis. Bila kita membeli asuransi kebakaran tentunya kita tidak akan
mendapat santunan bila rumah kita rusak karena gempa bumi.
 Pada beberapa asuransi premi yang kita bayarkan akan hangus bila tidak terjadi klaim
sampai jangka waktu asuransi habis. Ini yang seringkali membuat orang enggan
berasuransi. Banyak yang mempertanyakan kemana uang nya jika ua tidak juga
mendapatkan hasi dari premi yang dibayarkan, namun tujuan utama membeli asuransi ialah
memindahkan resiko. Nasabah asuransi memindahkan resiko rugi pada perusahaan dan
mendapat imbalan berupa rasa aman. Rasa aman itulah yang dibayarkan dengan premi.
Jadi asuransi jatuh tempo,, uang yang kita bayarkan tidak akan kembali. Karena pada masa
asuransi tersebut sebenarnya kita telah membeli perlindungan.

G. Organisasi Multinasional
Pengertian Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional (multinational company/MNC) adalah perusahaan yang
menjalankan usahanya di berbagai negara dan kegiatan usahanya bersifat internesional. Sifat
usahanya yang mendunia, menyebabkan perusahaan ini memiliki pengaruh kuat dalam politik
global. Ciri-ciri perusahaan multinasional dapat diuraikan sebagai berikut :

 Pendirian cabang dari perusahaan multinasional dilakukan dengan invesatasi langsung


 Kepemilikan perusahaan multinasional tidaklah sama antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain
 Adanya motif kepentingan usaha yang berbeda-beda
 Keuntungan perusahaan sangat besar
 Dalam pemasaran produk, perusahaan multinasional dapat menggunakan modal dan kegiatan
usaha yang besar
 Untuk menjalankan usahanya, perusahaan multinasional dapat merekrut karyawan di negara
setempat

Peranan Perusahaan Multinasional


 Mendorong akses masuknya negara dalam perdagangan internasional
 Mendorong peningkatan investasi
 Mengurangi monopoli usaha
 Mengefiwsienkan kegiatan ekonomi
 Memperluas kesempatan kerja

Kelebihan Dan Kelemahan Perusahaan Multinasional


Kelebihan Perusahaan Multinasional
 Meningkatkan penghasilan masyarakat
 Mendorong terciptanya iklim investasi yang sehat
 Mendorong terciptanya transfer teknologi
 Memenuhi kebutuhan masyarakat
 Meningkatkan penerimaan negara
 Mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia

Kelemahan Perusahaan Multinasional


 Munculnya konflik perusahaan multinasional dengan negara
 Keuntungan mengalir ke luar negri
 Menimbulkan kerusakan lingkungan
 Menciptakan ketidakstabilan ekonomi
 Menghambat pertumbuhan usaha kecil dan menengah
 Faktor teknologi

Terdapat tiga masalah khusus dalam organisasi global: perbedaan kebudayaan, harga
transfer, dan perbedaan nilai tukar mata uang. Bab ini akan secara khusus membahas ketiga topic
ini. Mesipun pembahasan yang kita lakukan dinyatakan dalam kondisi AS dan anak-anak
perusahaannya di luar negeri, masalah umum yang sama dapat ditemukan pada induk perusahaan
dari Negara mana pun beserta anak perusahaannya di luar negeri.

1. Perbedaan Budaya

Salah satu variabel konteksual yang penting yang memengaruhi pengendalian manajemen di
dalam sebuah perusahaan multinasional adalah perbedaan budaya antar Negara. Menurut
defiinisinya, sebuah organisasi multinasional akan beroperasi di banyak Negara dan harus
siap menghadapi perbedaan budaya seiring dengan koodinasi dan pengendalian yang
dilakukan oleh kantor pusat terhadap anak-anak perusahaannya. Baik dalam konteks sebuah
organisasi atau suatu bangsa, kata “budaya” akan merujuk kepada nilai-nilai, asumsi dan
norma perilaku yang diakui bersama. Ketika sebuah organisasi merentangkan operasinya
melintasi berbagai Negara, perbedaan budaya yang sangat besar yang berkaitan dengan
karakter nasional dan regional yang ada, mempunyai hubungan yang penting dengan
pengendalian manajemen. Salah satu cara untuk memahami budaya diusulkan oleh Hofstede.
Hofstede membuat sebuah analisis yang sistematis atas perbedaan budaya berdasarkan
sebuah kuesioner yang dijawab oleh kurang lebih 80.000 karyawan IBM yang berlokasi di
64 negara. Menurut Hofstede, budaya dapat berbeda pada empat dimensi:

1. Jangkauan kekuasaan

Merujuk kepada sejauh mana kekuasaan didistribusikan dan dipusatkan secara tidak
seimbang. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang tinggi termasuk Filipina,
Venezuela, dan Meksiko. Budaya dengan jangkauan kekuasaan yang rendah termasuk
Israel, Denmark, dan Austria.
2. Individualisme/ koltivisme

Merujuk kepada sejauh mana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri sebagai seorang
individu atau sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Budaya individualistik
yang tinggi termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Budaya kolektiitas yang
tinggi termasuk Saudi Arabia, Venezuela, dan Peru.

3. Menghindari ketidakpastian

Merujuk sampai sejauh mana seseorang akan merasa terancam oleh situasi yang tidak
menentu budaya penghindaran ketidakpastian tertinggi termasuk Jepang, Portugal, dan
Yunani. Budaya penghindaran ketidakpastian terendah termasuk Singapura, Hongkong,
dan Denmark.

4. Maskulinitas/feminitas

Merujuk kepada sampai sejauh apakah pengaruh yang dimiliki oleh salah satu dari kedua
nilai dominant tersebut apakah pengaruh yang dimiliki oleh salah satu dari kedua nilai
dominant tersebut berupa

2. Harga Transfer

Harga transfer untuk barang, jasa, dan teknologu merupakan salah satu dari perbedaan besar
yang terjadi antara pengendalian manajemen operasi domestic dan luar negeri. Namun dalam
operasi luar negeri, dibutuhkan beberapa pertimbangan penting lainnya untuk dapat sampai
kepada suatu harga transfer. Pertibangan-pertimbangan tersebut termasuk perpajakan,
peraturan pemerintah, tarif pengendalian devisa, akumulasi dana, dan joint venture.

 Perpajakan

Tingkat pajak penghasilan efektif dapat memiliki perbedaan yang sangat jauh di masing-
masing Negara-negara asing, sistem harga transfer yang memungkinkan pengalihan
keuntungan ke Negara-negara dengan tingkat pajak yang rendah dapat mengurangu
jumlah pajak penghasilan perusahaan yang digabungkan dari seluruh dunia.

 Peraturan Pemerintah

Jika tidak diatur oleh pemerintah, perusahaan akan menetapkan harga transfer untuk
meminimalkan laba kena pajak di Negara-negara dengan tingkat pajak penghasilan yang
tinggi. Namun demikian, otoritas pajak pemerintah menyadari adanya kemungkinan ini
dan mengeluarkan peraturan yang menentukan bagaimana harga transfer dapat dihitung.
 Tarif

Tarif sering kali dipungut berdasarkan persentase tertentu dari nilai impor suatu produk.
Semakin rendah harganya senakin rendah pula tarif yang akan dikenakan. Timbulnya
tarif biasanya memiliki hubungan terbalik dengan timbulnya pajak pendapatan di dalam
harga transfer. Meskipun tariff untuk barang-barang yang dikirimkan ke suatu Negara
tertentu akan lebih rendah jika harga transfernya juga rendah, keuntungan yang dicatat
di Negara itu dan karenanya pajak penghasilan lokal atas laba akan ikut tinggi. Jadi, efek
bersih dari faktor-faktor ini harus ikut diperhitungkan dalam menentukan harga transfer
yang tepat. Karena pajak penghasilan umumnya memiiki jumlahnya yang lebih besar
daripada tarif, harga transfer internasional biasanya lebih banyak didasarkan pada pajak
penghasilan daripada tarif.

 Pengendalian Devisa

Beberapa Negara membatasi jumlah devisa yang tersedia untuk mengimpor beberapa
komoditas tertentu. Dalam kondisi ini, harga transfer yang lebih rendah memungkinkan
anak perusahaan untuk memasukkan komoditas tersebut dalam jumlah yang lebih besar.

 Akumulasi Dana

Perusahaan mungkin ingin mengakumulasikan dananya di satu Negara tertenttu daripada


di Negara lain. Harga transfer adalah salah satu cara untuk mengalihkan dana tersebut
ke dalam atau ke luar Negara tertentu.

 Joint Venture

Joint venture memberikan komplikasi tambahan dalam harga transfer. Andai kata sebuah
perusahaan AS mempunyai operasi joint venture di Jepang dengan perusahaan local
Jepang. Jika induk perusahaan AS membebankan harga lebih tinggi bagi komponen yang
dikirimkan ke Jepang, mitra joint venture Jepang kemungkinan besar akan menolak
harga tersebut karena harga itu akan memperkecil laba operasinya dan mengakibatkan
bagian keuntungan dari mitra joint venture Jepang tersebut juga semakin kecil. Ford
Motor Company, dengan sebagian maksudnya untuk menghindari perselisihan tentang
harga transfer, membeli sejumlah besar kepentingan minoritas Inggris di Ford Lid., pada
tahun 1961. Untuk alas an yang sama, General Motors tidak pernah melakukan joint
venture sampai perjanjian yang dilakukannya dengan Toyota di akhir tahun 1980-an.

 Penggunaan Metode Harga Transfer

Tampilan 1 memperlihatkan metode harga transfer yang digunakan oleh sebuah contoh
perusahaan multinasional yang memiliki kantor di Kanda, Jepang, Inggris, dan Amerika
Serikat untuk pengiriman antar perbatasan mereka.
 Pertimbangan Hukum

Hampir semua Negara melakukan beberapa pembatasan pada fleksibilitas perusahaan


dalam menetapkan harga transfer untuk transaksi dengan anak-anak perusahaan di luar
negeri. Alasannya adalah untuk mencegah perusahaan multinasional melakukan
penghindaran pajak penghasilan di Negara tuan rumah. Perhatikanlah contoh-contoh
berikut ini:

o Untuk meminimalkan pajak, perusahaan-perusahaan multinasional AS mengalihan


asset-asetnya ke Negara dengan pajak penghasilan yang rendah Misalnya, Cayman
Islanda yang memiliki 50 bank.
o Perusahaan multinasional AS memindahkan kantor perusahaan “di atas kertas”
mereka ke Bermuda, yang tidak mengenakan pajak penghasilan perusahaan.
Sebagai contoh, Ingersoll-Rand, Accenture, dan Tyco International menempatkan
kantor pusat mereka di Bermuda sedangkan seluruh bisnis mereka dilakukan di
Negara-negara lain.
o Perusahaan yang memindahkan property intelektual (paten misalnya) ke Irlandia,
sebuah Negara dengan tingkat pajak yang rendah. Kantor pusat di AS akan
membayar jumlah yang cukup besar untuk membeli hak penggunaan propert
intlektual tersebut, sehingga akan mengalihkan laba kena pajak dan sebuah Negara
dengan tingkat pajak yang tinggi ke Negara dengan tingkat pajak yang rendah.

Tampilan

Metode Harga Transfer yang Digunakan oleh Perusahaan Multinasional

Metode Penetapan Harga Kanada Jepang Inggris Amerika Serikat

Metode Berbasis Biaya:

Biaya variable – aktual/standar 5% 3% 5% 1%

Biaya penuh – aktual - - - 4

Biaya penuh – standar 26 38 28 7

Biaya variable ditambah markup - - - 1

Biaya penuh ditambah markup 2 - 5 28

Jumlah berbasis biaya 33% 41% 38% 41%


Metode Berbasis Pasar:

Harga pasar - - - 26

Harga pasar dikurangi biaya penjualan - - - 12

Lain-lain - - - 8

Jumlah bebasis pasar 37% 37% 31% 46%

Harga Negoisasi 26% 22% 20% 13%

Lain-lain 4% - 11 -

100% 100% 100% 100%

Section 482 memberikan aturan-aturan untuk menentukan harga transfer pada penjualan
antar anggota dari kelompok yang sepengendali. Metode-metode harga antar perusahaan
sepengendali yang dapat diterima, disusun menurut prioritasnya dari yang paling penting adalah
sebagai berikut :

1. Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali

Harga yang wajar dapat dipastikan dari penjualan barang atau jasa yang dapat
diperbandingkan antara perusahaan multinasional dan pelanggan yang tidak memiliki
hubungan istimewa, atau antara dua perusahaan yang masing-masing tidak saling memiliki
hubungan istimewa.

Hal – hal yang dapat memengaruhi harga adalah antara lain, kualitas produk, syarat
penjualan, tingkat pasar, dan wilayah geografis di mana jenis barang tersebut dijual, tetapi
untuk diskon jumlah, penyisihan promosi dari kerugian khusus yang disebabkan oleh
perbedaan nilai tukar mata uang dan selisih kredit tidak diperhitungkan.

Harga yang lebih rendah dan bahkan penjualan di bawah harga penuh, diizinkan dalam
hal-hal tertentu seperti selama penetrasi sebuah pasar baru atau dalam mempertahankan pasar
yang ada di suatu wilayah tertentu.
2. Metode harga jual kembali.

Bila tidak ada penjualan yang dapat dibandinkan, metode berikutnya yang diperbolehkan
adalah metode harga jual kembali. Dalam metode ini, wajib pajak bekerja mundur dari
hargapenjualan final pada saat kekayaan yang dibeli dari perusahaan afiliasi dijual kembali
dalam sebuah penjualan tidak sepengendali. Harga jual kembali ini dikurangi dengan
persentase keuntungan (markup) yang semestinya berdasarkan penjualan tidak sepengendali
oleh afiliasi yang sama atau oleh penjual lain yang menjual barang yang sama di pasar yang
dapat diperbandingkan. Persentase markup dari pesaing dan rata-rata industri juga dapat
membantu dalam kaitannya dengan hal ini.

Peraturan meminta metode ini digunakan jika (1) jika tidak tersedia penjualan tidak
sepengendali yang sebanding, (2) penjualan kembali dilakukan dalam jangka waktu yang
wajar sebelum atau sesudah pembelian antar perusahaan sepengendali, (3) penjualan kembali
tidak menambahkan nilai yang berarti kepada barang yang bersangkutan dengan mengubahnya
secara fisik, selain dari kemasan, label, dan seterusnya, atau dengan penggunaan atas
pemanfaatan kekayaan yang tak berwujud (intangible property).

3. Metode harga-plus.

Menurut metode ini, yang menjadi prioritas terendah di antara ketiga metode yang
diuraikan, titik awal untuk menentukan harga yang wajar adalah biaya untuk memproduksi
produk, dihitung menurut praktik akuntansi yang benar. Ke dalam biaya ini ditambahkan laba
kotor yang wajar yang dinyatakan dalam presentase tertentu dari biaya dan didasarkan pada
penjualan tidak sepengendali yang serupa yang dilakukan oleh pihak penjual, atau penjual lain,
atau tingkat yang berlaku untuk industri tersebut.

Gambaran skematis ketiga metode ini adalah sebagai berikut:

1. Metode perbandingan dengan harga tidak sepengendali:

Harga transfer = Harga yang digunakan dalam penjualan tidak sepengendali yang
sebanding penyesuaian

Dalam penjualan sepengendali, transaksi yang terjadi adalah antara dua anggota kelompok
sepengendali. Dalam penjualan tidak sepengendali, salah satu pihak bukan anggota
kelompok sepengendali.

2. Metode harga jual kembali:

Harga transfer = Harga jual kembali yang berlaku – Markup yang memadai Penyesuaian

Harga jual kembali yang berlaku adalah harga di mana aktiva yang dibeli melalui penjualan
sepengendali, dijual kembali oleh pembeli dalam penjualan yang tidak sepengendali.
Markup yang memadai = Harga jual kembali yang berlaku * Presentase markup yang wajar

Presentase markup yang wajar = Persentase dari laba kotor (diekspresikan dalam
persentase dari penjualan) yang didapatkan oleh pembeli (atau penjual kembali) atau piha
lain di dalam sebuah pembelian dan penjualan kembali yang tidak sepengendali yang
serupa dengan penjualan kembali sepengendali.

3. Metode biaya-plus:

Harga transfer = Biaya + Markup memadai Penyesuaian

Markup yang memadai = Biaya * Persentase laba kotor yang memadai

Persen laba kotor yang memadai = Persentase laba kotor (diekspresikan dalam persentase
dari biaya) yang diperoleh oleh penjual kembali atau
pihak lain pada enjualan tidak sepengendali yang
sama dengan penjualan sepengendali.

Implikasi dari Section 482

Dari sudut pandang pengendalian manajemen, terdapat dua implikasi penting dari section 482,
yang masing-masing dibahas di bawah ini:

1. Meskipun terdapat pembatasan hukum terhadap fleksibilitas perusahaan dalam


menentukan harga transfer, namun masih terdapat cukup ruang gera di dalam pembatasan
ini.
2. Dalam situasi tertentu, pembatasan hokum dapat mendikte jenis-jenis harga transfer yang
harus diterapkan.

Ruang Gerak dalam Harga Transfer

Ada dua kebijakan ekstrem dalam menangani masalah ini. Beberapa perusahaan
mengizinkan anak perusahaan berurusan satu sama lain sesuai dengan prinsip ekonomi yang
wajar dan membiarkan dampak akibat pajak serta tariff apa adanya. Dengan kebijakan ini, tak
ada lagi keraguan tentang legalitas harga transfer karena anak perusahaan mencoba melakukan
hal ini sesuai dengan yang diminta oleh peraturan yang berlaku – melakukan transaksi secara
wajar. Dengan kebijakan ini, kebijakan harga transfer untuk Negara asing pada pokoknya akan
sama dengan harga transfer untuk domestic. Akibatnya, system harga transfer akan
mendukung system pengendalian manajemen. Namun pada sisi yang lain, kebijakan ini dapat
menghasilkan total biaya yang lebih tinggi.
Pada sisi eksterm yang lain, harga transfer untuk Negara asing dapat hamper seluruhnya
dikontrol oleh kantor pusat perusahaan dengan maksud untuk meminimalkan biaya total
perusahaan, memaksimalkan arus kas dalam dolar atau memperoleh kombinasi yang optimum
untuk posisi mata uang. Akan tetapi, kebijakan semacam ini dapat sangat membatasi kegunaan
system pengendalian, karena dalam keadaan tertentu harga transfer tersebut tidak berhubungan
dengan harga yang berlaku jika unit-unit yang melakukan pembelian dan penjualan adalah
independent.

Banyak perusahaan yang mengggunakan harga transfer untuk meminimalkan pajak dan
tariff menggunakan harga transfer yang sama untuk persiapan anggaran keuntungan dan
pelaporan sebagaimana yang digunakan untuk tujuan akuntansi dan perpajakan. Anggaran
yang disetujui merefleksikan segala ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh harga transfer.
Sebagai ilustrasi, anak perusahaan yang menjual lebih rendah dari harga normal dapat
mengalami rugi sesuai anggaran. Jika laporan atas kinerja actual menunjukkan bahwa kerugian
anak perusahaan ternyata lebih kecil dari yang dianggarkan, maka kinerjanya dapat dianggap
memuaskan, dengan catatn hal yang lain tetap sama. Singkatnya, harga transfer akan
dipertimbangkan dalam baik penyiapan anggaran maupun analisis hasil-hasilnya.

Pembatasan Hukum dalam Sistem Harga Transfer

Di dalam situasi tertentu, pembatasan hukum dapat memint digunakannya system harga
transfer tertentu, atau sebuah system transfer yang disukai untuk tidak digunakan.

Tampilan

Nilai Tukar untuk Berbagai Mata Uang Asing pada 19 Januari 2000

Dolar per Unit atas Unit Mata Uang


Mata Uang Asing Asing per Dolarnya
Negara Unit moneter
(penawaran (penawaran tidak
langsung) langsung)

Inggis Pound 0,6128 1,6320

Jerman Mark 0,5171 1,9337

Jepang Yen 0,0095 104,85

Swiss Franc 0,6265 1,5963

Eropa Euro 0,9886 1,0115


Dalam situasi yang lain, pendekatan “full cost” yang implicit dalam Section 482 dapat
membatasi kemampuan perusahaan untuk mentransfer beberapa produk kurang dari full cost-
nya. Misalnya, departemen pemasaran mungkin inin memperkenalkan produk baru dalam
pasar pada harga yang lebih rendah dari harga normalnya, bahkan mungkin tidak cukup tinggi
untuk menutupi full cost tersebut. Ini mungkin merupakan taktik pemasaran yang jitu, tetapi
IRS tidak dapat mengakuinya sebagai dasar yang valid untuk sampai kepada harga transfer.

Kepentingan Minoritas

Ketika kepentingan minoritas ikut terlibat, fleksibilitas manajemen puncak dalam


mendistribusikan laba antara anak-anak perusahaan dapat sangat dibatasi karena pihak
minoritas mempunyai hak hokum untuk memperoleh pembagian yang adil dari laba
perusahaan. Dalam kasus ini, anak perusahaan harus sebisa mungkin melakukan transaksi
secara wajar.

3. Nilai Tukar Mata Uang

Arus kas dari sebuah perusahaan domestik dinominasikan dalam dolar, dan pada suatu waktu
tertentu, setiap dolar mempunyai nilai yang sama dengan nilai dolar lainnya. Sebaliknya,
arus kas perusahaan multinasional didenominasikan dalam beberapa mata uang di mana nilai
setiap mata uang relative kepada nilai dlar akan berbeda seiring dengan perbedaan waktu.
Variasi ini memperumit masalah pengukuran kinerja anak perusahaan dan para manajernya.
Lebih spesifik lagi, perusahaan multinasional memiliki eksposur akibat translasi, transaksi
dan ekonomi perubahan nilai tukar. Pertama-tama kita akan membahas nilai tukar secara
sinkat dan kemudian mendiskusikan tiga jenis eksposur nilai tukar dan implikasinya kepada
perancangan system pengendalian.

Nilai Tukar

Nilai tukar adalah harga dari sebuah mata uang jika dibandingkan dengan mata uang
yang lainnya. Hal ini dapat dinyatakan baik sebagai jumlah unit dari mata uang Negara induk
perusahaan yang diperlukan untuk membeli satu unit mata uang asing (kita sebut penawaran
langsung) atau sejumlah unit mata uang asing yang diperlukan sebagai contoh, jika dolar
AS($) adalah mata uang induk perusahaan dan franc Prancis (FF) adalah mata uang asing,
maka untuk menyatakan nilai tukar dengan sebagai $0,20/FF adalah bentuk penaawaran
langsung dan menyatakannya sebagai FF5/$ adalah bentuk penawaran tak langsung. Dalam
pasar devisa, kedua jenis penawaran tersebut dipergunakan, tetapi para pedagang biasanya
menggunakan salah satu jenis untuk mata uang tertentu. Tampilan 15.2 memberikan contoh
mengenai kedua nilai tukar yang berlaku pada tanggal 19 Januari 2000 untuk mata-mata
uang yang paling banyak diperdagangkan.
Nilai tukar yang biasanya ditawarkan (seperti tertera di atas) disebut nilai tukar
nominal. Nilai tukar spot adalah nilai tukar nominal yang berlaku pada satu hari tertentu.
Nilai tukar riil adalah nilai tukar spot setelah penyesuaiaan perbedaan inflasi antara dua
Negara yang dihitung. Ada juga nilai tukar forward, yaitu nilai tukar hari ini yang dapat
digunakan menjadi dasar penyelesaian suatu transaksi yang terjadi di suatu waktu di masa
depan.

Berbagai Jenis Eksposur Nilai Tukar

Eksposur translasi atas nilai tukar adalah eksposur dari neraca dan laporan laba rugi
perusahaan multinasional terhadap perubahan yang terjadi di dalam nilai tukar nominal. Hal
ini dikarenakan adanya fakta bahwa perusahaan multinasional harus mengonsolidasikan
pembukuan mereka dalam satu mata uang (biasanya mata uang Negara induk perusahaan),
meskipun arus kas mereka didenominasi dalam banyak mata uang. Memahami eksposur
translasi yang terjadi di dalam perusahaan multinasional berarti memahmi pengertian dari
jawaban atas pernyataan berikut ini: Jika arus kas perusahaan didenominasi di dalam
berbagai mata uang dan jika terjadi perubahan nominal di dalam nilai tukar mata uang selama
tahun berjalan, bagaimanakah seharusnya cara mengonsolidasikan pendapatan, pengeluaran,
aktiva, dan utang ke dalam satu jenis mata uang pada satu titik waktu?

Eksposur transaksi adalah eksposur nilai tukar yang dimiliki oleh perusahaan untuk
transaksi-transaksi antarnegaranya ketika transaksi semacam itu dicatat hari ini tetapi
penyelesaian pembayarannya dilaksanakan di kemudian hari. Selama masa di mana
pembayaran atau komitmen penerimaannya masih belum dilakukan, nilai tukar nominal
dapat berubah dan menimbulkan adanya resiko pada nilai dari transaksi. Contoh transaksi
semacam ini termasuk piutang, kewajiban dan utang atau pembayaran bunga yang belum
dilaksanakan dalam mata uang asing.

Eksposur ekonomi adalah eksposur nilai tukar atas arus kas perusahaan terhadap
perubahan nilai tukar riil. Eksposur ekonomi juga disebut eksposur operasional atau
eksposur kompetitif terhadap nilai tukar.

Pilihan Metrik dalam Evaluasi Kerja

Dalam survey di perusahaan-perusahaan multinasional, Choi dan Czechowicz


menemukan bahwa hamper semua responden memiliki system evaluasi performa kinerja
yang membandingkan aktual terhadap anggarannya dalam menilai kinerja anak perusahaan.
Pada dasarnya, terdapat tiga kemungkinan pemilihan metric dalam penetapan dan pelacakan
anggaran : nilai tukar yang berlaku pada saat anggara ditentukan (nilai tukar awal), nilai
tukar yang diproyeksikan pada saat anggaran ditentukan (nilai tukar yang diproyeksikan),
atau nilai tukar aktual yang berlaku
Tampilan Pemilihan Metrik dalam Evaluasi Kinerja

Menelusur Anggaran
Mempersiapkan Awal Proyeksi Akhir
Anggaran

Awal 1 2 3

Proyeksi 4 5 6

Akhir 7 8 9

Pada saat anggaran dilacak (nilai tukar “akhir’). Terdapat 9 kemungkinan kombinasi
metrik dalam menentukan dan melacak anggaran seperti yang terlihat dalam
tampilan

Namun demikian tidak semua 9 sel tersebut layak dipergunakan; hanya 5 sel yang
diberi garis bawah yang layak. Yang jelas-jelas layak terdiri dari 3 sel dimana anggaran
ditetapkan dan dilacak dengan menggunakan metric yang sama (awal ke awal, sel 1; proyeksi
ke proyeksi, sel 5; akhir ke akhir, sel 9). Demikian pula dengan menetapkan anggaran dengan
menggunakan nilai tukar “awal” dan melacaknya dengan menggunakan nilai tukar
“proyeksi” dan melacak pada nilai tukar “akhir” (sel 6). Namun bagaimanapun, tidaklah
logis jika menetapkan anggaran pada nilai tukar “akhir” dan melacak aktualnya dengan
menggunakan nilai tukar awal atau nilai tukar proyeksi (mengesampingkan sel 7 dan 8).
Begitu pula memproyeksikan nilai tukar dalam menetapkan anggaran dan kemudian
melacaknya dengan nilai tukar yang berlaku di awal (mengesampingkan sel 4).

Permasalahan Dalam Perancangan Sistem Pengendalian

Dari Sudut pandang evaluasi kinerja, di bawah ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting di
dalam perancangan suatu system pengendalian:

 Haruskah para manajer anak perusahaan dianggap bertanggung jawab atas


dampak fluktuasi nilai tukar terhadap hasil akhir mereka?
 Haruskah induk perusahaan menggunakan mata uang Negara induk
perusahaan, atau haruskah mereka menggunakan mata uang local dalam
evaluasi kinerja? Selanjutnya, haruskah induk perusahaan menggunakan
nilai tukar awal, nilai tukar proyeksi, atau nilai tukar akhir dalam
menetapkan anggaran?
 Haruskah induk perusahaan membedakan akibat dari perbedaan jenis
eksposur nilai tukar sembari mengevaluasi kinerja dari manajer anak
perusahaan? Jika ya, bagaimanakah caranya?
 Bagaimana seharusnya perbedan jenis eksposur nilai tukar akan
memengaruhi evaluasi kinerja ekonomi dari anak perusahaan, apakah
seperti yang membedakan dari evaluasi manajer yang bertanggung jawab
atas anak perusahaan tersebut?

Dalam contoh berikut, jika anggaran dilacak dengan menggunakan metric yang sama
sebagaimana anggaran ditetapkan (FF10/$), maka anak perusahaan akan terlihat telah
menghasilkan $1. alternatifnya, jika anggaran pada akhir ditetapkan kembali dengan nilai
tukar akhir sebesar FF11/$, anak perusahaan hanya dapat mengharapkan telah menghasilkan
laba sebesar $0,91. Jadi jika metrik yang sama dipergunakan untuk menetapkan dan melacak
anggaran, maka pilihan metrik yang diambil (apakah mata uang local/mata uang asing;
apakah nilai tukar awal, proyeksi, atau akhir) bukanlah sesuatu yang relevan; kinerja yang
dihasilkn akan merefleksikan kinerja operasi dari manajer, yang independent terhadap
dampak translasi.

Anggaran dan Aktual untuk Neraca ANak Perusahaan

(Nilai Tukar Awal:FF10/$; Nilai Tukar AKhir:FF11/$)

Anggaran Aktual

FF $ FF $

Pendapatan 100 10 100 9,09

Laba 10 1 10 0,91

Akan tetapi, induk perusahaan akan menderita kerugian “translasi” pada akhir
tahun. Induk perusahaan tidak memiliki kendali atas pergerakan nilai tukar tersebut. Jika
mereka menggunakan laba atau rugi akibat translasi di dalam mengevaluasi kinerja manajer
anak perusahaan, maka akan timbul beberapa masalah: (1) Hal ini akan membuat manajer
anak perusahaan bertanggung jawab terhadap factor-faktor yang berada diluar kendali
mereka; (2) hal ini tidak akan menghilangkan adanya laba atau rugi akibat translasi; (3) hal
ini tidak memperhitungkan jenis eksposur nilai tukar lain yang dihadapi oleh anak
perusahaan dan (4) hal ini akan mengacaukan kinerja manajer dan anak perusahaan .
Kita akan menjelaskan bagaimana ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dua
tipe generic dari anak perusahaan dari perusahaan multinasional: “importer murni” dan
“eksportir murni”.

Importir murni adalah anak perusahaan yang menjual sebaian besar produknya di
dalam negaranya sendiri, tetapi mengimpor sebagian besar barang mentahnya dari luar
negeri (baik itu dari anak perusahaan lain atau dari perusahaan luar) ; eksportir murni adalah
anak perusahaan yang menjual kebanyakan produknya keluar negeri (baik kepada anak
perusahaan lain atau dari perusahaan luar lainnya); tetapi membeli sebagian besar bahan
mentahnya di dalam Negara tersebut. Seperti yang ditunjukkan oleh contoh berikut ini,
dalam terjadi pergerakan nilai tukar, anak perusahaan tersebut tidak hanya akan menghadapi
efek translasi, tetapi juga efek “ketergantungan” yang diakibatkan oleh perubahan nilai tukar.

Eksportir murni melampaui anggaran (baik dalam $ maupun FF, baik dari segi sasaran
laba maupun marginnya), unit yang seimbang menunjukkan kinerja yang kira-kira
menyamai tingkat anggaran (mencapai sasaran laba dalam FF, tetapi sedikit rendah dalam $;
mencapai sasaran margin untuk kedua jenis mata uang tersebut), dan importer murni tidak
mencapai anggaran (baik dalam $ maupun FF, nilai laba dan margin).

Efek Transaksi

Pendekatan mendasar dalam menangani eksposur transaksi adalah dengan


menggunakan strategi lindung nilai mata uang asing yang tepat. Lindung nilai (hedging)
adalah transaksi-transaksi yang dapat menurunkan kemungkinan risiko yang berhubungan
dengan arus kas di masa depan. Dalam prosesnya, perusahaan yang membeli instrument
lindung nilai mengalihkan risiko kepada entitas yang menjual instrument tersebut biasanya
adalah bank komersial dalam kasus untuk pasar valuta. Tentunya sudah pasti jasa semacam
itu membutuhkan biaya.

Lindung nilai adalah praktik yang berlaku umum di banyak perusahaan sebagai contoh,
kapan saja perusahaan membeli asuransi, secara tidak langsung perusahaan tersebut tengah
melakukan transaksi lindung nilai internasional, dan hal itu dipergunakan sebagai cara untuk
mengatasi efek eksposur transaksi. Untung memberikan ilustrasi yang sederhana; jika
sebuah perusahaan Amerika menjual produknya kepada perusahaan Prancis dengan harga
yang dinyatakan dalam franc Prancis, ia dapat secara bersamaan membeli hak untuk membeli
franc Prancis dengan nilai tukar yang sama seperti jika terjadi pada tanggal di masa depan di
mana piutangnya akan jatuh tempo. Jika perusahaan tersebut mengalami rugi transaksi di
dalam penjualan, maka ia akan mendapatkan keuntungan pasar opsi dan menyamakan
aktiva/pasiva dan pendapatan/pengeluaran dengan mata uang yang sama. Teknik lindung
nilai yang umum, menggunakan pasar transaksi forward dan masa depan, juga pasar opsi
valuta aisng. Dari perspektif evaluasi kinerja, pertanyaan kuncinya adalah apakah para
manjer anak perusahaan bertanggung jawab atas eksposur dari transaki lindung nilai.
Kinerja Anak Perusahaan

Sejauh ini kita telah mengusulkan bahwa adalah penting untuk membedakan antara
kinerja ekonomi anak perusahaan dan kinerja para manajernya, dan pedoman-pedoman yang
dibicarakan di atas semata-mata hanya menangani pengisolasian dampak nilai tukar terhadap
kinerja manajer anak perusahaan. Adalah penting untuk menyadari bahwa kinerja ekonomi
anak perusahaan itu sendiri harus merefleksikan akibat-akibat negatif atau psositif atas
eksposur translasi, transaksi, dan ekonomi.

Jika kinerja ekonomi jangka panjang anak perusahaan (setelah memasukkan efek nilai
tukar) terus memburuk, meskipun kinerja manajernya memuaskan, maka induk perusahaan
harus mengeluarkan pertanyaan yang lebih mendasar : apakah hal itu memberikan artian
ekonomis secara berkelanjutan bagi perusahaan multinasional untuk meneruskan beroperasi
di Negara tersebut, atau apakah ia sebaiknya memindahkan bisnisnya ke tempat lain?
Jawaban atas pertanyaan ini akan kembali kepada keputusan lokasi bisnis, daripada
keputusan evaluasi kinerja; hal ini seharusnya merupakan sebuah keputusan independent.

Pertimbangan Manajemen

Dalam mendesain system evaluasi kinerja anak perusahaan multinasional, perusahaan dapat
mengunakan pedoman-pedoman berikut ini:

 Para manajer anak perusahaan seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab terhadap efek
translasi. Cara termudah untuk mencapai tujuan ini adalah membandingkan anggaran
dengan hasil actual dengan menggunakan metrik yang sama dan mengisolasi efek yang
berhubungan dengan inflasi melalui analisis varians. Tak ada gunanya bagi para manajer
untuk khawatir tentang metrik yang tepat. Perusahaan multinasional hendaknya memilih
metrik apa saja yang ia anggap lebih mudah untuk digunakan.
 Efek transaksi paling baik ditangani melalui koordinisasi terpusat dari kebutuhan lindung
nilai perusahaan multinasional secara keseluruhan. Hal ini kemungkinan besar akan jauh
lebih murah dan sederhana, dan dapat mencegah manajer anak perusahaan menjadi
peramal dan spekulan nilai tukar.
 Manajer anak perusahaan harus bertanggung jawab terhadap efek ketergantungan dari nilai
tukar yang diakibatkan oleh eksposur ekonomi.
 Evaluasi anak perusahaan sebagai basis dari pengambilan keputusan untuk menentukan
lokasi operasi di sebuah Negara atau merelokasi operasi dari sebuah Negara seharusnya
merefleksikan konsekuensi-konsekuensi dari adanya eksposur translasi, transaksi, dan
ekonomi.

Pada survey yang dilakukan pada tahun 1982, Sapy-Mazella et al, menemukan dalam
evaluasi kinerja manajer anak perusahaan, 79% respondennya menggunakan metrik yang
berbeda untuk menyiapkan anggaran dan melaporkan kinerja; 66% mempergunakan
beberapa peramalan atas nilai tukar untuk menyiapkan anggaran dan menggunakan nilai
tukar aktual pada akhir periode untuk melaporkan kinerja anak perusahaan secara relative
terhadap anggarannya; dan 13% mempergunakan nilai tukar awal untuk mempersiapkan
anggaran dan nilai tukar actual pada akhir periode untuk melaporkan kinerja. Temuan-
temuan ini tidak konsisten dengan pedoman yang telah kita kembangkan di atas.

Terdapat dua kemungkinan penjelasan untuk ketidakkonsistenan ini. Pertama,


kebanyakan dari system pengendalian ini dikembangkan pada tahun 1950-an dan 1960-an,
ketika nilai tukar adalah tetap; dimana nilai tukar fleksibel hanya baru-baru ini saja
diperkenalkan, perusahaan multinasional tidak boleh menyesuaikan system evaluasi kinerja
mereka dengan kenyataan yang baru. Kedua, banyak perusahaan tidak dapat membedakan
antara kinerja keuangan manajer dan kinerja keuangan anak perusahaan multinasional.

Apa pun alasannya, adalah penting untuk memahami perusahaan multinasional yang
memilih untuk menggunakan metrik yang berbeda untuk menyiapkan anggaran anak
perusahaan dan melaporkan kinerja aktualnya akan memiliki berbagai jenis risiko yang telah
kita bahas sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengendalian manajemen pada organisasi jasa berbeda bila dibandingkan dengan
organisasi manufaktur. Hal ini disebabkan ketiadaan persediaan penyangga pada organisasi
jasa, kesulitan mengukur kualitas, dan pada umumnya perusahaan jasa cenderung
merupakan padat karya. Sistem pengendalian manajemen pada organisasi jasa umumnya
sama dengan system pengendalian manajemen pada organisasi dagang.
Organisasi jasa secara umum memiliki beberapa karakteristik yaitu:
ketiadaan persediaan penyangga, kesulitan dalam mengendalikan kualitas, padat karya, dan
organisasi multi-unit.
Organisasi jasa professional mamiliki karakteristik khusus: sasaran, professional,
pengukuran input dan output, perusahaan kesil, dan pemasaran. Untuk sistem pengendalian
manajemen menggunakan penentuan harga, pusat laba dan penetapan harga transfer,
perencanaan strategis dan penyusunan anggaran, pengendalian operasi, serta pengukuran
dan penilaian kinerja.
Organisasi jasa keuangan memiliki karakteristik khusus: aktiva moneter, jangka
waktu transaksi, imbalan dan resiko, serta teknologi. Organisasi perawatan kesehatan
memiliki karakteristik khusus: masalah sosial yang sulit, perubahan dalam bauran penyedia
layanan, pembayar pihak ketiga, profesional, dan pentingnya pengendalian kualitas. Proses
pengendalian manajemen dilakukan dengan membandingkan kinerja keuangan dianalisis
dengan pendapatan dan beban aktual dengan anggaran, dengan mengidentifikasikan
varians-varians penting, dan mengambil tindakan yang sesuai atas varians-varians tersebut.
Organisasi nirlaba memiliki karakteristik khusus: ketiadaan ukuran laba, modal
kontribusi, akuntansi dana, dan pengelolaan. Sistem pengendalian manajemen yang
diterapkan adalah penetapan harga produk, perencanaan strategis dan penyusunan
anggaran, serta melakukan evaluasi dan operasi.
DAFTAR PUSTAKA

http://magussudrajat.blogspot.co.id/2010/02/organisasi-jasa-organisasi.html
https://www.academia.edu/36307628/MAKALAH_ORGANISASI_JASA
http://www.dosenpendidikan.com/perusahaan-asuransi-pengertian-contoh-fungsi-serta-
kelebihan-kekurangan/
https://ultimatesammy.wordpress.com/2015/06/27/perusahaan-multinasional/
Anthony, Robert N., dan Vijay Govindarajan. Manajemen Control System. Jakarta: Salemba Empat, 2009.

Anthony, Robert N., dan David W. Young. Manajemen Control In Nonprofit Organization. Edisi keenam.
Burr Ridge, IL,: Richard D. Irwin, 1999.

Prince, Thomas R. Financial Reporting and Cost Control for Health Care Entities.
Chicago: Health Administration Press, 2000.
www.google.com