Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TRANSFER PRICE

DISUSUN

1. ABDINDA VIVI C 301 14 0


2. MUH ADRYAN C 301 14 074
3. ILHAM C 301 14 075
4. LEO ZULFIKAR C 301 14 080
5. MADE SUARDIKA C 301 14 114
6. MACHYAYA FUADI C 301 14 155
7. STEVENLY PERE C 301 14
8. NUGRAHA PUTRA C 301 14 231

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS TADULAKO

2017
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam Tujuan dan jenis-jenis sistem kendali Manajemen.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Penyususun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

1.1 Latar belakang ...................................................................................... 1


1.2 Rumusan masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................

2.1 Unit-unit usaha...................................................................................... 3


2.2 Pengukuran kinerja unit bisnis.............................................................. 4
2.3 Transfer price........................................................................................ 7
2.4 Penetapan harga dalam perusahaan...................................................... 9
2.5 Pengadministrasian transfer price......................................................... 11

BAB III PENUTUP.........................................................................................

3.1 Kesimpulan........................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 16

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada


perusahaan-perusahaan kecil harga biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak
bukannya oleh bagian pemasaran. Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar
penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk. Bahkan
disini manajemen puncak juga menetapkan tujuan dan kebijakan umum penetapan
harga serta memberikan persetujuan atas usulan harga dari manajemen
dibawahnya.

Harga transfer merupakan nilai yang diberikan atas suatu transfer barang dan
jasa dalam suatu transaksi dimana setidaknya salah satu dari kedua pihak yang
terlibat adalah pusat laba. Perusahaan tidak hanya akan memperoleh pendapatan
dari luar perusahaan saja, tetapi juga dari laba kontribusi divisi. Karena seolah-
olah divisi menjadi unit bisnis yang independence, namun tetap terintegrasi satu
dengan yang lainnya dalam rangka mencpai tujuan perusahaan secara
keseluruhan.

Mulyadi dalam bukunya menyatakan bahwa: Pada prinsipnya harga jual


harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual
sama dengan biaya produksi ditambah Mark-up.

Selain itu Hansen & Mowen mengemukakan bahwa Harga jual adalah
jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau
pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya
yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah
dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai
laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk

1
menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk
produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas
produk suatu barang, dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada
konsumen.

1.2 Rumusan Masalah

1 Bagaimana unit-unit usaha ?

2 Bagaimana pengukuran kinerja unit bisnis ?

3 Apa yang dimaksud dengan transfer price ?

4 Bagaimana penetapan harga dalam perusahaan ?

5 Bagaimana pengadministrasian transfer price ?

1.3 Tujuan

1 Mengetahui unit-unit usaha

2 Mengetahui pengukuran kinerja unit bisnis

3 Mengetahui yang dimaksud dengan transfer price

4 Mengetahui penetapan harga dalam perusahaan

5 Mengetahui pengadministrasian transfer price

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Unit-unit Usaha

Bentuk entitas usaha umum di indonesia adalah perusahaan


perseorangan, persekutuan, perseroan, dan koperaso yang memiliki
karakteristik utama sebagai berikut:

1. Perusahaan peseorangan (proprietorship) dimiliki oleh satu individu.


Kebanyakan entitas usaha di indonesia dandi dunia adalah perusahaan
perseorangan. Biaya pendirian dan pengelolaan rendah. Bergantung pada
sumber daya keuangan pemilik usaha. Diterapkan oleh usaha kecil.
2. Persekutuan (paetnership) mirip dengan perusahaan perseorangan, tapi
dimiliki oleh dua atau lebih individu. Di indodonesia kita mengenal firma
dan CV sebagai jenis persekutuan. Menggabungkan kemampuan dan
sumber daya lebih dari satu orang.
3. Perseroan (corporation) diatur dalam peraturan perundang-undangan
sebagai entitas hukum terpisah yang dikenakan pajak. Kepemilikan
berdasarkan jumlah saham (sero) yang dijual di pemegang saha. Dapat
memperoleh sumber dana dalam jumlah besar dengan cara mengeluarkan
saham. Deterapkan oleh usaha berskala besar.
4. Koperasi dimiliki oleh sekelompok orang (yang telah diakui sebagai
anggota). Koperasi dijalankan oleh dan untuk anggota saja. Sebagai
contoh adalah koperasi karyawan, koperasi pengrajin susu, koperasi
pengusaha batik, dan lain sebagainya Jenis usaha jasa, dangan dan
manufaktur dapat dijalankan baik sebagai perusahaan perseorangan,
persekutuan, maupun perseroan. Namun karena untuk mengelola usaha di
bidang manufaktur diperluakan sumber dana yang besar maka
kabanyakan usaha ini berbentuk perseroan terbatas. Begitu pula halnya
dengan peritel besar, seperti Matahari, Hero dan Ramayana yang
berbentuk perseraon terbatas.
2.2 Pengukuran Kinerja Unit Bisnis

3
Menurut Supriyono (2000:385) secara umum tujuan penilaian kinerjadivisi
(unit bisnis) dalam suatu organisasi adalah sebagai berikut:

Untuk menentukan besarnya kontribusi divisi di dalampencapaian tujuan


organisasi secara keseluruhan.

Untuk menilai prestasi manajer divisi sesuai dengan wewenangdan


tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya.

Untuk mengidentifikasi penyebab selisih pelaksanaan darirencana sesuai


dengan ukuran prestasi manajer divisi yang telahdilakukan.

Untuk membuat saran tindakan perbaikan atas situasi yang diluar


kendali.

Untuk memotivasi para manajer divisi dalam meningkatakanprestasi.

Untuk menentukan dasar perbandingan prestasi antardivisi didalam suatu


organisasi.

1. Mengukur Profitabilitas

Menurut Anthony dan Govindarajan dalam F. X.Kurniawan


Tjakrawala (2008:248) Ada 2 jenis pengukuran yang digunakan
dalammengevaluasi suatu pusat laba, antara lain;

Pengukuran kinerjamanajemen, yang memiliki fokus pada bagaimana


hasil kerja para manajer.Pengukuran ini digunakan untuk
perencanaan(planning) koordinasi(coordinating)dan pengendalian
(controlling).

Ukuran kinerja ekonomis, yang memiliki fokus pada bagaimana


kinerjapusat laba sebagai suatu entitas ekonomi.

4
Sedangkan menurut Supriyono (2000:397) pengukuran
kemampuan labadivisi dapat menggunakan dua macam cara yaitu:

Pengukuran Kinerja Manajemen

Pengukuran kinerja manajemen (prestasi personel)


adalahpengukuran kinerja yang menekankan pada penilaian
seberapabaik manajer suatu pusat pertanggungjawaban berkerja.

Pengukuran Kinerja Ekonomi

Pengukuran kinerja ekonomi menitikberatkan pada seberapa


baik suatu pusat laba berkerja sebagai suatu kesatuan ekonomi. Dalam
pengukuran ini,kinerja laba suatu pusat laba tidak hanyaditentukan
oleh laba yang dapat dipengaruhi atau dikendalikanoleh manajer pusat
laba yang diukur tetapi juga meliputipendapatan dan biaya dari alokasi.

2. Penilaian Kinerja Pusat Laba

Menurut Mulyadi (2001:439) pusat laba adalahpusat


pertanggungjawaban yang manajernya diberi wewenang
untuk mengendalikan pendapatan dan biaya pusat pertanggungjawaban
tersebut.Karena laba, yang merupakan selisih antara pendapatan dan biaya,
tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran kinerja pusat laba, maka
perludihubungkan dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan
labatersebut. Dengan demikian, untuk mengukur kinerja pusat laba,
umumnyadigunakan dua ukuran yang menghubungkan laba yang
diperoleh pusat labadengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan
laba: kembalianinvestasi(return on ivestment atau ROI) dan residual
income (RI).

5
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa kinerja unit bisnis
sebagai pusat laba adalah seberapa tinggi tingkat pencapaian target yang
telahdirencanakan oleh unit organisasi yang dipimpin oleh seorang
manajer yang bertanggung jawab terhadap laba yang dalam hal ini untuk
mengukur kinerja unit bisnis sebagai pusat laba, umumnya digunakan dua
ukuran yang menghubungkanlaba yang diperoleh pusat laba dengan
investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba yaitu ROI dan RI.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja unit bisnis

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja


unit bisnis menurut Yulius dan Gudono (2007:6-8) adalah sebagai berikut;

Intensitas kompetisi pasar merupakan salah satu faktorketidakpastian


lingkungan (Gul, 1991).

SAM merupakan sistem informasi yang mengumpulkan datakeuangan


dan nonkeuangan yang kemudian data tersebutdiproses, disimpan dan
dilaporkan kepada manager untuk dasarpengambilan keputusan.

Berdasarkan faktor-faktor yang dikemukakan di atas maka harga


transfer dan harga jual merupakan bagian dari informasi SAM yang
berhubunganmengenai pengambilan keputusan tentang product pricing.

Menurut Abdul Halim (2005:50), ada tiga faktor yang


mempengaruhi laba perusahaan yaitu biaya, harga jual dan volume
(penjualan dan produksi).Biaya yang timbul dari perolehan atau untuk
pengolahan suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk
yang bersangkutan. Harga jualproduk atau jasa akan mempengaruhi
besarnya volume penjualan produk atau jasa yang bersangkutan,
sedangkan besarnya volume penjualanberpengaruh terhadap volume
produksi produk atau jasa tersebut.Selanjutnya pada gilirannya volume
produksi akan mempengaruhi besarkecilnya biaya produksi. Dengan

6
demikian faktor-faktor yangmempengaruhi laba tersebut saling terkait
antara satu dengan yang lain.

2.3 Pengertian Harga Transfer


1. Harga transfer
Harga transfer dalam arti luas adalah harga barang dan jasa yang
ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi tanpa
memandang bentuk pusat pertanggungjawaban.
Dalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau jasa yang
ditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu dari pusat
pertanggungjawaban merupakan pusat laba. Untuk pembahasan lebih lanjut,
maka harga transfer ini digunakan untuk kepentingan penilaian kemampuan
laba divisi.
Menurut Supriyono (2000:416) definisi harga transfer dapat
digolongkanmenjadi dua yaitu:
Dalam arti luas, harga transfer adalah nilai barang dan jasa yang
ditransfer olehsuat pusat pertanggungjawaba kepusat pertanggungawaban
yang lain.Dalam arti sempit, harga transferadalah nilai barang dan jasa yang
ditransfer antara dua divisi (pusatlaba) atau lebih.
Sedangkan menurut Abdul Halim, Achmad Tjahjono, dan Muh.
FakhriHusein (2000:110) definisi harga transfer adalah:
Dalam arti luas harga transfer adalah harga barang atau jasa
yangditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam satu organisasitanpa
memandang bentuk pusat pertanggungjawabannya
Sedangkandalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau
jasa yangditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu daripusat
pertanggungjawaban yang terlibat merupakan pusat laba.

2. Tujuan harga transfer

Menurut Supriyono (2000:414) suatu sistem harga transfer yang


baik harus mencapai tujuan sebagai berikut:

Memberikan informasi relevan bagi para manajer.

7
Sistem harga transfer dapat memberikan informasi relevan yang
diperlukan oleh setiap divisi untuk menentukan harga transfer.

Mencapai keselarasan tujuan.

Sistem harga transfer dapat memotivasi manajer divisi


penjual,divisi pembeli dan mungkin manajer kantor pusat untuk
membuatkeputusan harga transfer yang sehat. Tindakan manajer
divisitertentu untuk meningkatkan laba divisinya jugadapatmeningkatkan
laba perusahaan secara keseluruhan, jadidiharapkan timbul kesesuaian
tujuan.

Mengukur kinerja ekonomi divisi.

Sistem harga transfer dapat menghasilkan laporan laba setiapdivisi


individual yang secara layak mengukur kinerja ekonomi(laba bersih) divisi
dan kontribusinya terhadap laba perusahaansecara keseluruhan.

Mengukur kinerja manajer divisi.

Sistem harga transfer harus mendorong peningkatan kinerja


manajer divisi karena harga transfer dapat digunakan sebagaidasar untuk
perencanaan, pembuatan keputusan, danpengendalian divisinya.

Sederhana dan mudah.Sistem harga transfer harus sederhana untuk


dipahami danmudah diadministrasikan.

3. Karaktristik harga transfer

Menurut Mulyadi (2001:382) harga transfer pada hakikatnya memilki


tiga karakteristik berikut ini:

Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkait diukur
kinerjanya berdasarkan atas laba yang diperoleh merekadan harga transfer

8
merupakan unsur yang signifikan dalammembentuk biaya penuh produk
yang diproduksi di divisipembeli.

Harga transfer selalu mengandung unsur laba didalamnya.Bagi divisi


penjual, harga transfer merupakan pendapatan yangmerupakan unsur laba
yang dipakai sebagai dasar pengukurankinerja divisi.

Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasidan


sekaligus mengintegrasikan divisi yang dibentuk.

2.4 Penentuan Harga Transfer

Tentunya dalam penentuan harga transfer manajemen tidak dapat


sembarangan menentukan harga, secara garis besar harga tersebut sebisa
mungkin tidak merugikan salah satu pihak yang terlibat, selain itu harga
transfer dalam praktiknya harus terus diperhatikan agar tujuan manajemen
sesuai dengan tujuan perusahaan.

Prinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer sebaiknya serupa dengan


harga yang akan dikenakan seandainya produk tersebut diual ke konsumen
luar atau dibeli dari pemasok luar. Namun hal tersebut dalam dunia nyata
sangat sulit diterapkan, hanya sedikit perusahaan yang menetapkan prinsip ini.

Secara umum harga transfer dapat ditentukan dengan menggunakan


metode-metode berikut:

1. Harga Transfer Berdasarkan Harga Pasar (Market-Based Transfer Prices).


Harga transfer berdasarkan harga pasar dipandang sebagai
penentuan harga transfer yang paling independen. Barang-barang yang
diproduksi unit penjual dihargai sama dengan harga yang berlaku di pasar,
pada sisi divisi penjual ada kemungkinan untuk memperoleh profit, pada
sisi pembeli harga yang dibayarkan adalah harga yang sewajarnya.
Namun yang menjadi kelemahan utama dari sistem ini adalah jika
harga suatu produk ternyata tidak tersedia di pasar. Tidak semua barang-

9
barang yang diperjual-belikan antar divisi tersedia di pasar, misalnya pada
suatu industri yang terdeferensiasi dan terintegrasi seperti industri kertas,
jika divisi penjual harus mengirim kertas yang setengah jadi ke divisi lain,
pasar tidak menyediakan harga kertas mentah atau setengah jadi.
Namun, jika harga pasar tersedia atau dapat diperkirakan maka ada
baiknya menggunakan harga pasar. Meskipun demikian, jika tidak ada cara
untuk memperkirakan harga kompetitif, pilihan lainnya adalah
mengembangkan harga transfer berdasarkan biaya(cost-based transfer
price)
2. Harga Transfer Berdasarkan Biaya (Cost-based Transfer Prices)
Perusahaan menggunakan metode penetapan harga transfer atas
dasar biaya yang ditimbulkan oleh divisi penjual dalam memproduksi
barang atau jasa, penetapan harga transfer metode ini relatif mudah
diterapkan namun memiliki beberapa kekurangan.Pertama, penggunaan
biaya sebagai harga transfer dapat mengarah pada keputusan yang buruk,
jika seandainya unit penjual tidak dapat memproduksi dengan optimal
sehingga menghasilkan biaya yang lebih tinggi daripada harga pasar, maka
dapat terjadi kecenderungan pembelian barang dari luar. Kedua, jika biaya
digunakan sebagai harga transfer, divisi penjual tidak akan pernah
menghasilkan laba dari setiap transaksi internal. Ketiga, penentuan harga
transfer yang berdasarkan biaya berarti tidak ada insentif bagi orang yang
bertanggung jawab mengendalikan biaya.
Umumnya perusahaan menetapkan harga transfer atas biaya
berdasarkan biaya variabel dan atau biaya tetap dalam bentuk: biaya penuh
(full cost), biaya penuh ditambah mark-up (full cost plus markup) dan
gabungan antara biaya variabel dan tetap (variable cost plus fixed fee).
3. Harga Transfer Negoisasi (Negotiated Transfer Prices)
Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan
divisi-divisi dalam perusahaan yang berkepentingan dengan transfer
pricing untuk menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga
transfer negoisasi memiliki beberapa kelebihan. Pertama, pendekatan ini
melindungi otonomi divisi dan konsisten dengan semangat desentralisasi.
Kedua, manajer divisi cenderung memiliki informasi yang lebih baik

10
tentang biaya dan laba potensial atas transfer dibanding pihak-pihak lain
dalam perusahaan.
Harga transfer negosiasian mencerminkan prespektif
kontrolabilitas yang inheren dalam pusat-pusat pertanggungjawaban
karena setiap divisi yang berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan
bertanggung jawab atas harga transfer yang dinegosiasikan. Namun
transfer pricing ini tidak begitu mudah untuk ditentukan karena posisinya
pada situasi sulit yang bisa menimbulkan conflict of interest diantara
kedua belah pihak yang terlibat, yaitu divisi penjual dan divisi pembeli.
Artinya, tidak akan ada satu metode transfer price yang terbaik, yang akan
diterima mutlak oleh kedua belah pihak.
2.5 Administrasi Harga Transfer
1. Negosiasi
Pada sebagian besar perusahaan, unit-unit usaha menegosiasikan
harga transfer satu sama lain; maksudnya, harga transfer yang tidak
ditentukan oleh kelompok staf sentral.
Alasan yang paling penting untuk hal ini adalah kepercayaan
bahwa dengan membuat suatu harga jual dan menentukan harga pembelian
yang paling cocok merupakan salah satu fungsi utama dari manajemen
lini.
Alasan lain bagi unit usaha untuk menegosiasikan harga mereka
adalah bahwa mereka biasanya memiliki informasi yang paling tepat
mengenai pasar-pasar dan biaya-biaya yang ada, sehingga mereka
merupakan pihak yang paling mungkin untuk memberikan harga yang
pantas.
Contoh : Unit usaha A memiliki peluang untuk memasok.produk tertentu
dalam jumlah besar ke perusahaan luar dengan harga $100 per unit. Bahan
baku untuk produk ini di pasok oleh unit usaha B. harga transfer normal
dari unit B untuk bahan baku tersebut adalah $35 per unit dimana $10 nya
merupakan biaya variabel. Biaya pemrosesan (tidak termasuk bahan baku)
ditambah laba normalnya adalah $85 dimana $50 nya merupakan biaya
variabel. Dengan demikian biaya total ditambah laba normal adalah $120
sehingga pada jumlah ini, harga jual sebesar $100 tidaklah tepat. Menolak

11
kontrak merupakan kerugian bagi perusahaan secara keseluruhan karena
kedua unit tersebut harus menegosiasikan harga yang lebih rendah untuk
bahan baku sehingga keduanya menghasilkan laba.
Jika suatau perusahaan (di luar masalah dua unit usaha dalam satu
perusahaan tunggal) mengajukan penawaran untuk menjual bahan baku ke
perusahaan lain yang memiliki prospek yang sama untuk kepentingan
bersama. Faktanya adalah 1 harga transfer yang terlibat pada contoh
pertama tidak mempengaruhi kewajaran perilaku para manajer.
2. Arbitrase dan Penyelesaian Konflik
Bagaimanapun rincinya peraturan penentuan harga (pricing rule),
mungkin tidak ada kasus dimana unit-unit usaha tidak setuju pada harga
tertentu. Untuk alasan tersebut, suatu prosedur harus dibuat untuk
menengahi pertikaian harga transfer.
Terdapat tingkat formalitas yang luas dalam arbitrase harga
transfer. Kemungkinan ekstremnya akan dibentuk suatu komite yang
memiliki tiga tanggungjawab, yaitu :
1. menyelesaikan pertikaian harga transfer,
2. meninjau alternative sourcing yang mungkin ada, dan
3. mengubah peraturan harga transfer bila perlu.
Arbitrase dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Dengan sistem yang formal, kedua pihak menyerahkan kasus


secara tertulis kepada pihak penengah / pendamai (arbitrator).Selain
tingkat formalitas arbitrase, jenis proses penyelesaian konflik yang
digunakan juga mempengaruhi keefektifan suatu system harga transfer.
Terdapat empat cara untuk menyelesaikan konflik :

- memaksa
- membujuk
- menawarkan
- pemecahan masalah
3. Klasifikasi Produk
Luas dan formalitas dari sourcing dan peraturan penentuan harga
transfer tergantung pada banyaknya jumlah transfer dalam perusahaan dan

12
ketersediaan pasar dan harga pasar. Makin besar jumlah transfer dan
ketersediaan harga pasar, makin formal dan spesifik peratutran yang ada.
Beberapa perusahaan membagi produknya kedalam dua kelas :
- Kelas I meliputi seluruh produk untuk mana manajemen senior ingin
mengendalikan perolehan sumber daya. Produk ini biasanya
merupakan produk-produk yang bervolume besar; produk-produk
yang tidak memiliki sumber dari luar; dan produk-produk yang
produksinya tetap ingin dikendalikan oleh pihak manajemen demi
alasan kualitas atau alas an tertentu.
- Kelas II meliputi seluruh produk lainya. Secara umum, ini merupakan
produk-produk yang dapat diproduksi di luar perusahaan tanpa adanya
gangguan terhadap operasi yang sedang berjalan, produk-produk yang
volumenya relative kecil, diproduksi dengan peralatan umum
(general-purpose equipment). Produk- produk kelas II ditranfer pada
harga pasar.

Perolehan sumber daya untuk produk Kelas I dapat diubah hanya


dengan izin dari manajemen pusat. Perolehan sumber daya untuk produk
Kelas II ditentukan oleh unit-unit usaha yang terlibat. Unit-unit pembelian
dan penjualan dapat dengan bebas bertransaksi dengan pihak dalam
maupun luar perusahaan.

Dengan perjanjian semacam ini, pihak manajemen dapat


berkonsentrasi pada perolehan sumber daya dan penetapan harga atas
sejumlah kecil produk-produk bervolume besar. Peraturan untuk harga
transfer (transfer pricing) akan dibuat dengan menggunakan berbagai
metode yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Harga transfer adalah nilai yang diberikan atas suatu transfer
barang atau jasa dalam suatu transaksi yang setidaknya salah satu dari dua
pihak yang bertransaksi merupakan pusat laba. Harga transfer dalam arti
luas adalah harga barang dan jasa yang ditransfer antar pusat
pertanggungjawaban dalam suatu organisasi tanpa memandang bentuk
pusat pertanggungjawaban. Dalam arti sempit, harga transfer adalah harga
barang atau jasa yang ditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya
salah satu dari pusat pertanggungjawaban merupakan pusat laba

Metode yang digunakan dalam menentukan harga transfer ada 3 yaitu:


Harga Transfer Berdasarkan Harga Pasar (Market-Based Transfer
Prices).
Harga Transfer Berdasarkan Biaya (Cost-based Transfer Prices)
Harga Transfer Negoisasi (Negotiated Transfer Prices)

14
DAFTAR PUSTAKA

https://azkhastores.wordpress.com/materi-kuliah/penentuan-harga-transfer-
transfer-pricing/

http://nolasetianung.blogspot.co.id/2015/10/penentuan-harga-transfer.html

Robert N. Anthony, Management Control System. Sistem pengendalian


manajemen (BUKU 1); Jakarta, Salemba Empat
Http://www.MyGuardianAngel.blogspot.com/HargaTransfer/bab6.html
https://azkhastores.wordpress.com/materi-kuliah/penentuan-harga-transfer-
transfer-pricing/
http://www.sunaryo-baduttumin.blogspot.com
http://www.baduttumin.wordpress.com
http://azthreenancy.blogspot.com/2010/02/pusat-pendapatan.html
http://matakuliahekonomi.wordpress.com/2010/10/21/contoh-makalah-
pusat-pertanggungjawabanunsur-spm/
http://andhy-findanovitarini.blogspot.com/2012/04/spm-perilaku-dalam-
organisasi.html
http://sukman21.blogspot.co.id/2015/06/makalah-penentuan-harga-transfer.html

15