Anda di halaman 1dari 6

Kini Giliran IKEA Terjerat Kasus

Penghindaran Pajak
Doni Agus Setiawan | Senin, 18 Desember 2017 | 14:14 WIB

BRUSSELS, DDTCNews – Uni Eropa tengah bersiap untuk melakukan penyelidikan terhadap
IKEA. Perusahaan asal Swedia itu terjerat kasus penghindaran pajak yang dilakukan dalam
empat tahun ke belakang.

Komisioner Kompetisi Uni Eropa Margrethe Vestager mengatakan akan mengumumkan


penyelidikan resmi atas IKEA dalam kasus pengaturan pajak atas penjualan ritelnya di Belanda.
Dari kasus ini, Uni Eropa menduga raksasa furnitur rumah tangga dan kantor itu menghindari
pajak hampir €1 miliar atau sekitar Rp15,9 triliun selama tahun 2009 sampai 2014.

“Sebagian besar kesepakatan yang diperoleh perusahaan tidak memberikan ‘manfaat khusus’.
Namun beberapa negara memberikan perlakuan pajak yang lebih baik kepada perusahaan
terpilih,” katanya, Minggu (17/12).

Dalam laporan yang diterima oleh Uni Eropa tahun lalu diketahui IKEA membentuk dua entitas
bisnis yang terpisah di Belanda, Luksemburg dan Liechtenstein. Entitas bisnis
tersebut memanfatkan skema pajak khusus untuk memindahkan uang dan keuntungan.

Oleh karena itu, pejabat Uni Eropa perlu melakukan penyelidikan atas apa yang dilakukan oleh
IKEA tersebut. Hal ini untuk menentukan apakah skema pajak khusus yang didapatkan IKEA di
Belanda melanggar aturan main di Uni Eropa.

“Pekerjaan kita belum berakhir. Kami akan membuka penyelidikan kapan pun ada indikasi bahwa
bantuan negara telah diberikan,” tambah Vestager.

Lebih lanjut, dilansir ft.com, dia menyebut penyelidikan terhadap IKEA ini merupakan kasus
terbaru di mana perusahaan multinasional dapat memotong kewajiban pajak mereka. Aksi ini
dianggap ilegal karena perusahaan domestik dan lokal tidak dapat melakukan hal serupa,
sehingga Komisi Kompetisi Uni Eropa menganggapnya sebagai keuntungan ilegal.

IKEA disebut membayar pajak sebesar €825 miliar hingga bulan Agustus 2017 atas keuntungan
mereka sebesar €3,31 triliun. Kasus terbaru ini melengkapi kasus penghindaran pajak
memanfaatkan kebijakan negara, sebelumnya telah diputus oleh Uni Eropa, raksasa teknologi
Apple yang harus membayar pajak sebesar €13 miliar atas aktivitas bisnisnya di benua biru
tersebut. (Amu)

https://news.ddtc.co.id/kini-giliran-ikea-terjerat-kasus-penghindaran-pajak-11556

Lika Liku Transfer Pricing


Direktorat Jenderal Pajak mengerahkan belasan petugas untuk memeriksa
laporan keuangan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Ditemukan
jumlah laba anjlok pasca restrukturisasi perusahaan itu. Padahal volume
penjualan meningkat. Kemana keuntungan Toyota?

SKANDAL transfer pricing Toyota di Indonesia terendus setelah Direktorat Jenderal Pajak secara
simultan memeriksa surat pemberitahuan pajak tahunan (SPT) Toyota Motor Manufacturing pada
2005. Belakangan, pajak Toyota pada 2007 dan 2008 juga ikut diperiksa. Pemeriksaan dilakukan
karena Toyota mengklaim kelebihan membayar pajak pada tahun-tahun itu, dan meminta negara
mengembalikannya (restitusi).

Dari pemeriksaan SPT Toyota pada 2005 itu, petugas pajak menemukan sejumlah kejanggalan.
Pada 2004 misalnya, laba bruto Toyota anjlok lebih dari 30 persen, dari Rp 1,5 triliun (2003)
menjadi Rp 950 miliar. Selain itu, rasio gross margin –atau perimbangan antara laba kotor
dengan tingkat penjualan-- juga menyusut. Dari sebelumnya 14,59 persen (2003) menjadi hanya
6,58 persen setahun kemudian.

Apa yang memicu penurunan pendapatan perusahaan multinasional ini? Rupanya pada tahun
itu, Toyota melakukan restrukturisasi mendasar. Sebelumnya, semua lini bisnis produksi dan
distribusi mereka dilakukan di bawah satu bendera: PT Toyota Astra Motor. Pemilik sahamnya
ada dua: PT Astra International Tbk (51 persen) dan Toyota Motor Corporation Jepang (49
persen).

Pada pertengahan 2003, Astra menjual sebagian besar sahamnya di Toyota Astra Motor kepada
Toyota Motor Corporation Jepang. Alasannya, Astra punya utang jatuh tempo yang tak bisa
ditangguhkan lagi. Walhasil, Toyota Jepang kini menguasai 95 persen saham Toyota Astra
Motor. Nama perusahaan berubah menjadi Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Untuk menjalankan fungsi distribusi di pasar domestik, Astra dan Toyota Motor Corporation
Jepang kemudian mendirikan perusahaan agen tunggal pemegang merek dengan nama lama:
Toyota Astra Motor (TAM). Pada perusahaan ini, Astra menjadi pemegang saham mayoritas
dengan menguasai 51 persen saham. Sisanya milik Toyota Motor Corporation Jepang.

Setelah restrukturisasi itulah, laba gabungan kedua perusahaan Toyota anjlok. Melorotnya
keuntungan Toyota membuat setoran pajaknya pada pemerintah juga berkurang. Sebelumnya,
perusahaan ini bisa membayar pajak sampai setengah triliun rupiah. Pada 2004, pasca-
restrukturisasi, dua perusahaan Toyota (TMMIN dan TAM) hanya membayar pajak Rp 168 miliar.

Yang janggal, meski laba turun, omzet produksi dan penjualan mereka pada tahun itu justru naik
40 persen. Jadi kemana keuntungan Toyota menguap?

Pemeriksa pajak menemukan jawabannya ketika memeriksa struktur harga penjualan dan biaya
Toyota dengan lebih seksama. Di sinilah jejak transfer pricing perseroan ini mulai tercium. Toyota
diduga ‘memainkan’ harga transaksi dengan pihak terafiliasi dan menambah beban biaya lewat
pembayaran royalti secara tidak wajar.

Sayangnya, semua pejabat pajak dan pimpinan Toyota yang diwawancarai Tempo untuk artikel
ini hanya bersedia memberi keterangan latar belakang. Meski kasus ini sudah diadili di
pengadilan pajak, semua menolak berbicara terbuka dengan alasan masih menanti vonis majelis
hakim. Walhasil, sebagian besar informasi yang menjadi bahan tulisan ini diperoleh dari dokumen
pemeriksaan di pengadilan pajak.
MARI kembali ke Pelabuhan Tanjung Priok. Tempo memperoleh selembar dokumen manifes
Kapal MV Trans Future 3 pada akhir Januari lalu, yang bisa mengungkap salahsatu indikasi
‘permainan’ transaksi Toyota.

Dalam manifes itu disebutkan bahwa pada pekan keempat Januari lalu, Toyota Motor
Manufacturing mengirim 307 unit mobil Fortuner dari dermaga Tanjung Priok ke pelabuhan
Batangas, Luzon, Filipina. Pembelinya adalah Toyota Motor Philippines Corporation –unit bisnis
Toyota di negara itu. Sisanya, sekitar 700 unit mobil Innova, dikirim ke pelabuhan Laem
Chabang, Thailand, untuk Toyota Motor Thailand Co., Ltd –unit korporasi Toyota di negeri Gajah
Putih.

Dari dokumen manifes itu terungkap bahwa seribu mobil buatan Toyota Motor Manufacturing
Indonesia harus dikirim dulu ke kantor Toyota Asia Pasifik di Singapura, sebelum berangkat ke
Filipina dan Thailand. Dengan kata lain, Toyota di Indonesia hanya bertindak “atas nama” Toyota
Motor Asia Pacific Pte., Ltd –nama unit bisnis Toyota yang berkantor di Singapura.

Skema jual-beli via negara perantara semacam itu sebenarnya lazim saja dalam perdagangan
internasional. Apalagi penjual dan pembelinya adalah bagian dari korporasi perusahaan
multinasional yang sama. Tapi Justinus Prastowo, Direktur Eksekutif Center for Indonesia
Taxation Analysis, mengingatkan, ada persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu transfer
pricing --atau transaksi antar-pihak terafiliasi-- tidak dituding sebagai modus penghindaran pajak
(tax avoidance). “Syaratnya, nilai transaksi mereka harus memenuhi standar kewajaran,”
katanya, Februari lalu.

Di sinilah masalahnya. Merujuk pada dokumen persidangan sengketa pajak ini, ada sejumlah
temuan yang mengindikasikan bahwa Toyota Indonesia menjual mobil-mobil produksi mereka ke
Singapura dengan harga tidak wajar.

Misalnya, pada dokumen laporan pajak Toyota pada tahun 2007. Sepanjang tahun itu, Toyota
Motor Manufacturing di Indonesia tercatat mengekspor 17.181 unit Fortuner ke Singapura. Dari
pemeriksaan atas laporan keuangan Toyota sendiri, petugas pajak menemukan bahwa harga
pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS) Fortuner itu adalah Rp 161 juta per unit.
Anehnya, dokumen internal Toyota menunjukkan bahwa semua Fortuner itu dijual 3,49 persen
lebih murah dibandingkan nilai tersebut. Artinya, Toyota Indonesia menanggung kerugian dari
penjualan mobil-mobil itu ke Singapura.

Temuan yang sama juga terlacak pada penjualan mobil Innova diesel dan Innova bensin, yang
masing-masing dijual lebih murah 1,73 persen dan 5,14 persen dari ongkos produksinya per unit.
Pada ekspor Rush dan Terios, Toyota Motor Manufacturing memang meraup untung, tapi tipis
sekali yakni hanya 1,15 persen dan 2,69 persen dari ongkos produksi per unit.

Temuan ini jadi menyolok karena Toyota Manufacturing menjual produk-produk serupa kepada
pembeli lokal di Indonesia dengan harga berbeda. Ketika dijual di dalam negeri, mobil yang
persis sama dilepas ke pasar dengan nilai keuntungan bruto sebesar 3,43 - 7,67 persen.
Tapi temuan itu saja belum cukup untuk menyimpulkan Toyota melakukan penghindaran pajak.
Untuk itu, petugas pajak harus memeriksa nilai kewajaran dari semua transaksi Toyota
Manufacturing ke Singapura.

Caranya? Sesuai aturan penanganan transaksi hubungan istimewa yang diterbitkan Direktorat
Jenderal Pajak, otoritas pajak berhak menentukan kewajaran harga penjualan suatu perusahaan
dengan cara membandingkan harga itu dengan traksaksi perusahaan sejenis di luar negeri.
Aturan ini merujuk pada Transfer Pricing Guideline yang disusun Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD).

Dokumen pemeriksaan di pengadilan pajak yang diperoleh Tempo menunjukkan bahwa petugas
pajak kemudian menggunakan lima perusahaan otomotif yang dianggap memiliki karakteristik
serupa sebagai pembanding untuk Toyota. Kelima perusahaan itu adalah Hindustan Motors
(India), Yulon Motor (Taiwan), Force Motor Limited (India), Shenyang Jinbei, dan Dongan Heibao
(Cina).

Dari penelaahan atas transaksi afiliasi kelima perusahaan itu, pemeriksa menetapkan bahwa
kisaran keuntungan bruto yang dapat dinilai wajar (arm’s length range) untuk perusahaan
otomotif yang melakukan ekspor adalah 3,22 - 13,58 persen.

Berdasarkan itu, pemeriksa pajak lalu mengkoreksi harga pada transaksi Toyota Motor
Manufacturing Indonesia kepada Toyota Motor Asia Pacific di Singapura. Hasilnya fantastis:
omzet penjualan Toyota Motor Manufacturing pada 2007 jadi melonjak hampir setengah triliun
dari laporan awal perusahaan itu. Nilainya sekarang menjadi Rp 27,5 triliun.

Petugas pajak kemudian memeriksa laporan keuangan Toyota Manufacturing pada 2008. Modus
ekspor dengan nilai tak wajar juga berulang pada tahun itu. Koreksi serupa dilakukan dan sim
salabim: nilai omzet Toyota tahun itu melonjak 1,7 triliun menjadi Rp 34,5 triliun.

***

DENGAN kombinasi ‘permainan’ harga dalam transaksi terafiliasi dan pembayaran royalti yang
dinilai tak wajar, Toyota Motor Manufacturing Indonesia melaporkan penghasilan kena pajak
sebesar Rp 426,9 miliar (2007) dan Rp 60,6 miliar (2008). Karena merasa sudah membayar lebih
dari nilai itu, lima tahun lalu Toyota menuntut negara mengembalikan kelebihan pajak sebesar Rp
412 miliar.

Direktorat Jenderal Pajak tidak terima. Mereka bersikukuh kalau penghasilan Toyota yang harus
dikenai pajak adalah Rp 975 miliar (2007) dan Rp 2,45 triliun (2008). Alih-alih lebih bayar,
pemerintah malah minta Toyota membayar kekurangan pajaknya senilai Rp 1,22 triliun.

Perbedaan penghitungan inilah yang kemudian menjadi sengketa di pengadilan pajak. Yang
mencurigakan, sejak diadili pada 2007 sampai sekarang, kasus ini tak kunjung diputus.
Umumnya persidangan sengketa pajak hanya butuh waktu 1,5 tahun.

“Seharusnya Ketua Pengadilan Pajak membuat aturan batas waktu maksimal untuk pembacaan
putusan,” kata mantan Wakil Ketua Pengadilan Pajak, Tjip Ismail, akhir Februari lalu. Dia tak
mengerti kenapa kasus Toyota ini bisa terkatung-katung begitu lama.

Dirjen Pajak Fuad Rahmany hanya bisa mengangkat bahu ketika ditanya soal ini. Sementara
Ketua Pengadilan Pajak IGN Mayun Winangun tak merespons permintaan konfirmasi dari
majalah ini. Yang jelas sampai sekarang, Direktorat Pajak dan Toyota masih sama-sama
menunggu babak akhir dari sengketa ini. (*)
https://investigasi.tempo.co/toyota/

Starbucks, Amazon dikritik karena


pajak
3 Desember 2012

Parlemen Inggris mengkritik sejumlah perusahaan global, termasuk Starbucks


dan Amazon, karena hanya membayar pajak sedikit.

Ketua Komisi Anggaran Umum Parlemen, Margaret Hodge, mengatakan badan


pajak dan cukai, HRMC, perlu melakukan "langkah yang lebih agresif dan tegas
untuk menghadapi penghindaran pajak."

Perusahaan multinasional dikecam karena hanya membayar pajak sedikit atau tidak
sama sekali.

Perusahaan-perusahaan internasional itu meraup hasil penjualan ratusan juta


poundsterling setiap tahun.

Starbucks, misalnya, mendapatkan hasil penjualan £400 juta di Inggris tahun lalu,
namun tidak membayar pajak perusahaan sama sekali karena sebagian besar
keuntungan yang didapat dikirimkan ke perusahaan cabang di Belanda dalam bentuk
royalti.

HMRC mengatakan telah meminta perusahaan internasional itu untuk membayar


pajak "berdasarkan hukum di Inggris."

'Harus bayar pajak'

Perusahaan-perusahaan global ini mendapat keuntungan di Inggris. Yang kami tekankan


adalah, bila ada aktivitas ekonomi di Inggris, dan ada keuntungan maka harus bayar
pajak.Margaret Hodge
Perusahaan-perusahaan yang berkantor di Inggris disyaratkan membayar pajak
perusahaan dari keuntungan tempat perusahaan itu beroperasi.

Laporan komite parlemen itu diterbitkan setelah mendengar bukti dari para eksekutif
Starbucks, Google dan Amazon tentang jumlah pajak perusahaan yang dibayar di
Inggris.

Margaret Hodge mengatakan kepada BBC pihaknya khawatir pembayaran pajak


perusahaan ini menjadi seolah "langkah sukarela" dan hal ini harus dicegah.

"Perusahaan-perusahaan global ini mendapat keuntungan di Inggris. Yang kami


tekankan adalah, bila ada aktivitas ekonomi di Inggris, dan ada keuntungan maka
harus bayar pajak," kata Hodge.

Starbucks saat ini tengah mengadakan pembicaraan dengan HMRC terkait jumlah
pajak yang mereka bayar selama ini.

Menteri Keuangan Inggris George Osborne akan mengumumkan dana sebesar £154
juta untuk melacak perusahaan besar dan orang-orang kaya yang menghindari
pajak.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/12/121203_bisnis_pajakinggris