Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

BAHAN ALAM FARMASI

KARAKTERISTIK SIMPLISIA DAUN JATI (Tectona grandis


L.)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah bahan alam farmasi pada

program studi S1 Farmasi STIKes Bakti Tunas Husada

Kelompok 6;

Deden Kurniawan 31114120 Nafa Farihah 31114144


Elan Ahmad J 31114126 Siti Nurlida 31114160
Elia Sunarti H 31114128 Ranti Janatul A 31114152
Ine Yuliana Galuh 31114136

STIKES BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

TASIKMALAYA

2017
A. Tanggal Praktikum : 18 September 2017
B. Tujuan Praktikum : Melakukan penetapan nilai-nilai parameter

Simplisia.

C. Dasar teori

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan

obat kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.

Simplisia terdiri dari simplisia nabati, hewani dan pelikan (mineral).

Bahan alam yang digunakan sebagai obat, tetapi belum mengalami

pengolahan apapun atau telah diolah secara sederhana (Dalimartha, 2013).

Simplisia merupakan bentuk sajian tanaman obat yang belum tercampur

dan belum diolah. Namun wujudnya sudah dalam keadaan bersih dan telah

dikeringkan (Utami, 2015).

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,

bagian tanaman atau eksudat tanaman, isi sel yang secara spontan keluar

dari tanaman atau dengan cara tertentu dipisahkan dari tanaman. Simplisia

hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, atau bagian hewan atau

zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia

murni. Simplisia pelikan (mineral) adalah simplisia yang berupa bahan

pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara

sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

Setiap jenis simplisia mempunyai karakteristik yang berbeda,

tergantung dari jenis senyawa kimia yang dikandungnya. Karakteristik

yang dimaksud adalah karakteristik fisika dan kimia. Karakteristik fisika


meliputi sifat-sifat fisika simplisia, antara lain bobot jenis, pola

dinamolisis pola kromatografi dan lain-lain. Karakteristik fisika ini dapat

digunakan sebagai runutan dalam evaluasi kendali mutu suatu simplisia.

D. Alat dan Bahan

Alat bahan

1. Alat
a. Corong
b. Gelas kimia
c. Erlenmayer
d. Neraca analitik
e. Gelas ukur
f. Mikroskop
2. Bahan
a. Aquadest
b. Etanol
c. Simplisia
E. Prosedur

1. Karakteristik fisika
a. Organoleptic

Siapkan simplisia

Lakukan pengujian mengenai bau, rasa, warna dan rasa dari


simplisia atau sampel tersebut
b. Mikroskopik

Letakan sedikit simplisia diatas kaca objek

Tetesi dengan larutan kloralhidrat 70 % atau pakau aquadest

Amati dengan mikroskop dengan pembesaran 100x dan 400x

Gambar hasil penglihatan tersebut atau di cetak hasilnya.

c. Makroskopik

Dilakukan dengan menggunkan kaca pembesar/ atau tanpa


mengguanakan alt, simplisia yang diuji yaitu mengenai bentuk,
permukan, warna, bau dan rasa.

2. Pengujian kadar sari


a. Pengujian kadar sari larut air

5 gram ekstrak dimaserasi dengan 100 ml air selama 24 jam

Sekali-kali dikocok selama sejam pertama

Diakan selama 18 jam, kemudian disaring

Filtrate air sebanyak 20 ml diuapkan, sedangkan residu


dipanaskan pada suhu 105 derajat celcius hingga bobot tetap

Hitung % kadar sari tersebut


b. Pengujian kadar sari larut etanol

5 gram ekstrak dimaserasi dengan 100 ml etanol 95% selama 24


jam

Sekali-kali dikocok selama sejam pertama

Diakan selama 18 jam, kemudian disaring

Filtrate etanol sebanyak 20 ml diuapkan, sedangkan residu


dipanaskan pada suhu 105 derajat celcius hingga bobot tetap

Hitung % kadar sari tersebut

F. Data Hasil Pengamatan

 Hasil pengamatan dan perhitungan

No Pengujian Hasil pengamatan Gambar


1. Uji Makroskopik
a. Organoleptik a. Organnoleptik :
b. Makroskopik - Warna : hijau kecoklatan
sampai coklat muda
- Bau : Tidak berbau
- Rasa : Tidak Berasa
b. Makroskopik
- Bentuk : bulat telur
sampai lanset
- Permukaan : kasar, daun
bagian atas berambut
jarang, permukaan bagian
bawah berambut rapat.
- Warna : hijau kecoklatan
sampai coklat muda
- Bau : tidak berbau
- Rasa : tidak berasa

2. Uji Mikroskopik Rambut penutup dan berambut


kelenjar

Epidermis pembesaran 10x

Hablur Ca Oksalat

Butir pati Pembesaran 100 x


 Perhitungan kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol :

Bobot simplisia Bobot cawan konstan Bobot filtrat + cawan (g)


(g) kosong (g)
Kadar sari larut air 5 35,07 35,1894
Kadar sari larut etanol 5 31,95 31,9877

Kadar Sari A𝑖𝑟


(𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑓𝑖𝑙𝑡𝑟𝑎𝑡 + 𝑘𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 − 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
= 𝑋 100% 𝑥 𝐹𝑝
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎
(35,1894 − 35,07)
= 𝑋 100% 𝑥 5
5
= 11,94 %

Kadar sari Etanol


(𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑓𝑖𝑙𝑡𝑟𝑎𝑡 + 𝑘𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔 − 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
= 𝑋 100% 𝑥 𝐹𝑝
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎
(31,9877− 31,95)
= 𝑋 100% 𝑥 5
5

= 3,77 %

G. Pembahasan

Praktikum kali ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari

simplisia daun jati dengan melakukan beberapa uji yaitu, organoleptik,

makroskopik dan mikroskopik, pengujian kadar sari larut air serta

pengujian kadar sari larut etanol.

Pengujian yang pertama dilakukan adalah uji organoleptik yang

meliputi bau, warna dan rasa. Uji organoleptik dilakukan dengan melihat

simplisia secara langsung dengan mata telanjang serta memperhatikan

bentuk dari simplisia. Uji ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik


dari simplisia daun jati secara kasat mata. Dari hasil pengamatan dapat

dilihat bahwa daun jati ini memiliki warna hijau kecoklatan sampai coklat

muda, tidak berbau dan tidak berasa.

Kemudian dilakukan uji makroskopik, Makroskopik merupakan

pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang atau dengan bantuan

kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan (Depkes,

1995). Berdasarkan pengamatan dapat diketahui bahwa daun jati memilik

bentuk bulat telur sampai lanset dengan permukaan kasar, daun bagian atas

berambut jarang, permukaan bagian bawah berambut rapat. Warna hijau

kecoklatan sampai coklat muda, tidak berbau, tidak berasa.

Selanjutnya dilakukan uji mikroskopik, pada umumnya uji ini

meliputi pemeriksaan irisan bahan atau serbuk dan pemeriksaan anatomi

jaringan itu sendiri. Kandungan sel dapat langsung dilihat di bawah

mikroskop atau dilakukan pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan

anatomi jaringan dapat dilakukan setelah penetesan pelarut tertentu, seperti

kloralhidrat yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan sel seperti

amilum dan protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah mikroskop

(Djauhari, 2012). Pengujian mikroskopik ini dilakukan dengan

menggunakan pembesaran 100 dan 400 kali. Dari hasil pengamatan yang

telah dilakukan dapat diketahui bahwa daun jati ini memiliki beberapa

fragemen seperti rambut penutup dan berambut kelenjar, epidermis, hablur

Ca oksalat dan butir pati.


Selanjutnyan dilakukan penetapan kadar sari dari ekstrak daun jati,

penetapan kadar sari yang dilakukan yaitu kadar sari larut air dan kadar

sari larut etanol. Tujuan dilakukannya penetapan kadar sari yaitu untuk

megetahui jumlah kandungan senyawa dalam simplisia yang dapat tersari

dalam pelarut, penetapan kadar sari ini di tetapkan pada kelarutan senyawa

yang terkandungn di dalam simplisia. Kadar sari larut air dan etanol

merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan senyawa yang

dapat terlarut dalam air (kadar sari larut air) dan kandungan senyawa yang

dapat terlarut dalam etanol (kadar sari larut etanol) (Ditjen POM, 2000).

Metode penentuan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah

senyawa aktif yang terekstraksi dalam pelarut dari sejumlah simplisia.

Penentuan kadar sari juga dilakukan untuk melihat hasil dari ekstraksi,

sehingga dapat terlihat pelarut yang cocok untuk dapat mengekstraksi

senyawa tertentu. Prinsip dari ekstraksi didasarkan pada distribusi zat

terarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling

campur (Ibrahim,2009).

Untuk mengetahui kadar sari dari suatu simplisia harus dilakukan

ekstraksi terlebih dahulu. Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan

pembuatan serbuk simplisia kering (penyerbukan). Dari simplisia dibuat

serbuk simplisia dengan cara di blender. Proses ini dapat mempengaruhi

mutu ekstrak dengan dasar semakin halus serbuk simplisia proses ekstraksi

makin efektif efisien namun semakin halus serbuk , maka akan semakin

rumit secara teknologi peralatan untuk tahap filtrasi.


Pada penetapan kadar sari, pertama yang dilakukan yaitu

memaserasi simplisia sebanyak 5 gram dengan menggunakan pelarut

sebanyak 100 ml selama 24 jam, tujuan dilakukannya maserasi yaitu agar

simplisia dapat terekstraksi dan tertarik oleh pelarut. Pada kadar sari larut

air pelarut yang digunakan yaitu air-kloroform sedangkan pada kadar sari

larut etanol pelarut yang digunakan yaitu etanol. Ketika simplisia di

rendam dalam pelarut (maserasi) cairan penyari akan menembus dinding

sel dan masuk ke dalam sel yang kaya akan zat aktif, karena adanya

pertemuan antara zat aktif dan penyari, maka terjadi proses pelarutan (zat

aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk kedalam sel

tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif. Akibat adanya perbedaan

konsentrasi zat aktif didalam dan diluar sel ini akan muncul gaya difusi,

larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha mencapai

keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan diluar sel. Proses

keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi

(jenuh). Dalam kondisi ini, proses ekstrasi dinyatakan selesai, akan zat

aktif didalam dan diluar sel akan memiliki konsentrasi yang sama, yaitu

masing-masing 50%. Adanya waktu penyimpanan untuk tahap maserasi

ini yaitu untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan serta tidak

ikut terlarut dalam cairan penyari.

Pada penetapan kadar sari larut air pelarut ditambahkan kloroform,

tujuan ditambahkan kloroform yaitu sebagai zat antimikroba atau sebagai

pengawet karena apabila menggunakan air saja mungkin ekstraknya akan


rusak karena air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba

atau dikhawatirkan terjadi proses hidrolisis yang akan merusak eksatrak

sehingga menurunkan mutu dan kualitas dari ekstrak tersebut. Sedangkan

pada kadar sari larut etanol ini tidak ditambahkan adanya kloroform

karena etanol 95% sudah merupakan antiseptik yang kuat. Alkohol

membunuh mikroba dengan cara menggumpalkan protein dan sel nya.

Alkohol bereaksi dengan mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi

dan melarutkan lemak sehingga membran sel rusak dan enzim-enzim akan

diinaktifkan oleh alkohol. (Putranto, 2014).

Setelah proses maserasi selesai kemudian dilakukan penyaringan

dengan menggunakan kertas saring untuk di ambil filtrat dalam campuran

simplisia tersebut. Kemudian di masukkan kedalam cawan untuk di

uapkan di atas penangas (waterbath). Penguapan di atas waterbath dapat

menciptakan suhu yang konstan, karena pada dasarnya waterbath

merupakan wadah yang berisis air yang bisa mempertahankan suhu air

pada kondisi tertentu selama selang waktu yang dibutuhkan. Pada

penguapan, terbentuknya uap berjalan sangat lambat, sehingga cairan

tersebut mendidih. Selama mendidih uap tersebut terlepas melalui

gelembung-gelembung udara yang terlepas dari cairan.

Setelah proses penguapan selesai, kemudian ekstrak pekat

di oven pada suhu 1050C sampai bobot tetap. Fungsi dari peng-oven an ini

adalah untuk proses pengeringan ekstrak yang telah dipekatkan dan untuk

menghilangkan/ menguapkan air yang terdapat dalam ekstrak .


Berdasarkan data hasil pengamatan didapat kadar sari larut air

sebesar 11,94 % sedangkan kadar sari larut etanol sebesar 3,77 % angka

tersebut apabila dibandingkan dengan parameter kualitas simplisia yang

baik berdasarkan materian medika tidak sesuai dengan parameter kualitas

simplisia, karena berdasarkan material medika kadar sari larut air yang

baik yaitu ≥ 18,00. Sedangkan kadar sari larut etanol ≥ 6,3.

H. Kesimpulan

1. Perendaman simplisia dalam pelarut (maserasi) akan mengakibatkan

cairan penyari menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang

kaya akan zat aktif, karena adanya pertemuan antara zat aktif dan

penyari, maka terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam

penyari) sehingga penyari yang masuk kedalam sel tersebut akhirnya

akan mengandung zat aktif.

2. Pada kadar sari larut etanol ini tidak ditambahkan adanya kloroform

karena etanol 95% sudah merupakan antiseptik yang kuat.

3. Kadar sari larut air dari ekstrak daun jati yaitu sebesar 11,94 %

sedangkan kadar sari larut etanol yaitu sebesar 3,77 %


DAFTAR PUSTAKA

Utami, Prapti dan Tim Lentera. 2015. Tanaman Obat Untuk Mengatasi Diabetes

Melitus. Jakarta: Argomedia Pustaka.

Dalimartha, Setiawan dan Felix Adrian. 2013. Ramuan Herbal Tumpas Penyakit.

Jakarta: Penebar Swadaya.

Depkes. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Departemen Kesehatan RI:

Jakarta.

Djauhari. (2012). Daftar Obat Esensial Nasional. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia: Jakarta.

Putranto, Rudi Hendro. (2014). Corynebacterium diphtheriae. Diagnosis

Labolatorium. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI.

Ibrahim. 2009. Ekstraksi. Bandung: Sekolah Farmasi ITB