Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Islam adalah agama yang universal, karena itu masalah-masalah yang
ada dalam masyarakat sudah barang tentu diatur di dalam ajaran Islam. Kajian
tentang Al Quran serta kandungan ajarannya tampaknya tidak akan pernah
selesai dan akan berlanjut sepanjang zaman. Keajaibannya akan senantiasa
muncul kepermukaan bagaikan mata air yang tidak pernah kering dan akan
selalu menjadi inspirasi kehidupan ummat Islam. Al Quran akan selalu hadir
dalam kehidupan yang sarat dengan berbagai persoalan hidup yang dialami oleh
umat Islam. Di sinilah letak salah satu keunikan Al Quran itu dan dari sini kita
dapat memahami mengapa orang yang mempercayainya tidak akan pernah
meragukan validitas ajarannya dan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak
dan final meski dipihak lain orang yang meragukan dan tidak mempercayainya
selalu berupaya untuk meruntuhkan kebenaran Al Quran baik dengan cara halus
atau kasar, dibungkus dengan metode ilmiah yang mengandung distorsi atau
bahkan hanya dengan hujatan, tanpa mengandung ilmiah yang layak dalam
kajian akademis.
Politik senantiasa diperlukan oleh masyarakat di negara manapun. Ia
merupakan upaya untuk memelihara urusan umat di dalam dan di luar negeri.
Jika memandang seseorang dalam sosoknya sebagai manusia (sifat
manusiawinya), ataupun sebagai individu yang hidup dalam komunitas
tertentu, maka sebenarnya ia bisa disebut sebagai seorang politikus. Di dalam
hidupnya manusia tidak pernah berhenti dan mengurusi urusannya sendiri,
urusan orang lain yang menjadi tanggung jawabnya, urusan bangsanya,
ideologi dan pemikiran-pemikirannya. Oleh karena itu setiap individu,
kelompok, organisasi ataupun negara yang memperhatikan urusan umat (dalam
lingkup negara dan wilayah-wilayah mereka) bisa disebut sebagai politikus.
Dapat dikenali hal ini dari tabiat aktivitasnya, kehidupan yang mereka hadapi
serta tanggung jawabnya. Islam sebagai agama yang juga dianut oleh mayoritas
umat di Indonesia selain sebagai aqidah ruhiyah (yang mengatur hubungan
manusia dengan Rabb-nya), juga merupakan aqidah siyasah (yang mengatur
hubungan antara sesama manusia dan dirinya sendiri).
Oleh karena itu Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur
urusan masyarakat dan negara. Islam bukanlah agama yang mengurusi ibadah

1
mahdloh individu saja. Berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum
muslimin. Di dalam negeri, kaum muslimin harus memperhatikan, apakah
urusan umat dapat terpelihara dengan baik oleh negara. Mulai dari penerapan
hukum pemerintahan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan, aturan
interaksi antar individu pria dan wanita serta seluruh kepentingan umat lainnya.
Berpolitik juga dpat membererat tali pesaudaraan antar manusia serta menjalin
persatuan dan kesatuan bangsa.
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sudah representatif untuk
mewujudkan pendidikan multicultural (beragam budaya). Budaya merupakan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Dalam makalah ini, penulis akan membahas lebih jauh tentang Budaya
Akademik menurut Islam, Budaya Etos Kerja menurut Islam, Budaya Sikap
Terbuka dan Adil menurut Islam.

1.2. RUMUSAN MASALAH


a) Apa makna budaya akademik dalam sudut pandang Islam ?
b) Apa yang dimaksud etos kerja, sikap terbuka dan keadilan menurut
pandangan Islam?
c) Apa sajakah nilai-nilai dasar politik dalam ajaran agama Islam ?
d) Bagaimanakah sikap berpolitik untuk agar dapat mempererat persatuan dan
kestuan bangsa ?

1.3. TUJUAN
a) Memahami makna budaya akademik dalam pandangan islam
b) Memahami maksud dengan etos kerja, sikap terbuka dan keadilan dalam
pandangan agama islam
c) Menjelaskan tentang nilai-nilai dasar politik dalam ajaran agama Islam.
d) Mengetahui sikap berpolitik yang baik agar tercipta persatuan dan kesatuan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 BUDAYA AKADEMIK DALAM PANDANGAN AGAMA ISLAM


2.1.1 Pengertian Budaya Akademik
Budaya akademik dalam pandangan Islam adalah suatu tradisi atau
kebiasaan yang berkembang dalam dunia Islam menyangkut persoalan keilmuan.
Atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah tradisi ilmiah yang dikembangkan
Islam. Di antara poin-poin pentingnya adalah pertama, tentang penghargaan Al-
quran terhadap orang-orang yang berilmu, di antaranya adalah :
1. Wahyu Al-quran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk
memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun
Al-'Alaq 96: l-5 tergambar dengan jelas betapa kitab suci Al-quran memberi
perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan.
Sehingga Allah SW'T menurunkan petunjuk pertama kali adalah terkait
dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam
redaksi ayat tersebut menggunakan redaksi "iqra" . Makna perintah tersebut
bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna
iqra' adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman dan
itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah
kemanusiaan. Dalam kontek modern sekarang makna iqra' dekat dengan
makna reading with understanding (membaca disertai dengan
pemahaman).
2. Tugas Manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki
ilmu pengetahuan. Penggalan ayat 3l dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi
"Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya",
juga mengandung arti bahwa salah satu keistimewaan manusia adalah
kemampuannya mengekspresikam apa yang terlintas dalam benaknya serta
kemampuannya menangkap bahasa sehingga ini mengantarnya mengetahui.
Di sisi lain kemampuan manusia merumuskan ide dan memberikan nama
bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia yang
berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.
3. Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Etos untuk
terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa yang disebut
belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada musim tertentu atau dalam

3
formalitas satuan pendidikan tertentu, melainkan sepanjang hayat masih
dikandung badan maka kewajiban untuk terus menuntut ilmu tetap melekat
dalam diri setiap muslim. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kehidupan
terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju kemajuan, maka
kalau seorang muslim tidak terus menambah pengetahuannya jelas akan
tertinggal oleh perkembangan zaman yang pada gilirannya tidak dapat
memberikan kontribusi bagi kehidupan. Al-quran jelas membedakan antara
orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan.
4. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah SWT. Secara garis besar
manusia dapat dibedakan ke dalam dua kelompok besar; pertama, orang
yang sekedar beriman dan beramal, dan yang kedua adalah orang yang
beriman dan beramal shalih serta memiliki pengetahuan. Posisi atau derajat
kelompok kedua ini lebih tinggi bukan saja karena nilai ilmu yang dimiliki,
tetapi juga amal dan usahanya untuk mengajarkan ilmu yang dimiliki
tersebut, baik melalui lisan, tulisan atau bahkan tindakan. Ilmu yang
dimaksud tentu saja bukan hanya ilmu agama tetapi ilmu apapun yang
rnembawa maslahat bagi kehidupan manusia.
Di samping memberikan apresiasi terhadap orang yang berilmu poin
penting lain yang dijelaskan Al-quran adalah bahwa :
1. Iman seorang muslim tidak akan kokoh kalau tidak ditopang dengan ilmu,
demikian juga dengan amal shalih.
2. Tugas kekhalifahan manusia tidak akan dapat sukses kalau tidak dilandasi
dengan ilmu.
3. Karakter seorang muslim yang berbudaya akademik adalah; orang yang
selalu mengingat Allah yang disertai dengan ikhtiar untuk selalu
menggunakan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah SWT. Serta selalu
berusaha menambah ilmu dengan membuka diri terhadap setiap informasi
yang baik dan kemudian memilih yang terbaik untuk dijadikan pegangan
dan diikutinya.

2.1.2 Pembahasan Tentang Budaya Akademik


Dari berbagai Forum terbuka tentang pembahasan Budaya Akademik
yang berkembang d Indonesia, menegaskan berbagai macam pendapat di
antaranya :

4
1. Konsep dan Ciri-Ciri Perkembangan Budaya Akademik
Dalam situasi yang sarat idealisme, rumusan konsep dan pengertian
tentang Budaya Akademik yang disepakati oleh sebagian besar
(167/76,2%) responden adalah “Budaya atau sikap hidup yang selalu
mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik dalam
masyarakat akademik, yang mengembangkan kebebasan berpikir,
keterbukaan, pikiran kritis-analitis; rasional dan obyektif oleh warga
masyarakat akademik” Konsep dan pengertian tentang Budaya
Akademik tersebut didukung perumusan karakteristik
perkembangannya yang disebut “Ciri-ciri Perkembangan Budaya
Akademik” yang meliputi berkembangnya :
1) Penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif.
2) Pemikiran rasional dan kritis-analitis dengan tanggungjawab moral.
3) Kebiasaan membaca.
4) Penambahan ilmu dan wawasan.
5) Kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada masyarakat.
6) Penulisan artikel, makalah, buku.
7) Diskusi ilmiah.
8) Proses belajar-mengajar.
9) Manajemen perguruan tinggi yang baik.

2. Tradisi Akademik
Pemahaman mayoritas responden (163/74,4%) mengenai Tradisi
Akademik adalah, “tradisi yang menjadi ciri khas kehidupan
masyarakat akademik dengan menjalankan proses belajar-mengajar
antara dosen dan mahasiswa seperti menyelenggarakan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, serta mengembangkan cara-cara
berpikir kritis-analitis, rasional dan inovatif di lingkungan akademik”
Tradisi menyelenggarakan proses belajar-mengajar antara guru dan
murid, antara pandito dan cantrik, antara kiai dan santri sudah mengakar
sejak ratusan tahun yang lalu, melalui lembaga-lembaga pendidikan
seperti padepokan dan pesantren. Akan tetapi tradisi-tradisi lain seperti

5
menyelenggarakan penelitian adalah tradisi baru. Demikian pula, tradisi
berpikir kritis-analitis, rasional dan inovatif adalah kemewahan yang
tidak terjangkau tanpa terjadinya perubahan dan pembaharuan sikap
mental dan tingkah laku yang harus terus-menerus diinternalisasikan
dan disosialisasikan dengan menggerus sikap mental paternalistik dan
ewuh-pakewuh yang berlebih-lebihan pada sebagian masyarakat
akademik yang mengidap tradisi lapuk, terutama dalam paradigma
patron-client relationship yang mendarah-daging.
3. Kebebasan Akademik
Pengertian tentang “Kebebasan Akademik” yang dipilih oleh 144
orang (65,7%) responden adalah kebebasan yang dimiliki oleh pribadi-
pribadi anggota sivitas akademika (mahasiswa dan dosen) untuk
bertanggung jawab dan mandiri yang berkaitan dengan upaya
penguasaan dan pengembangan Iptek dan seni yang mendukung
pembangunan nasional. Kebebasan akademik meliputi kebebasan
menulis, meneliti, menghasilkan karya keilmuan, menyampaikan
pendapat, pikiran, gagasan sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni,
dalam kerangka akademis (Kistanto, et. al., 2000: 86).
“Kebebasan Akademik” berurat-berakar mengiringi tradisi
intelektual masyarakat akademik – tetapi kehidupan dan kebijakan
politik acapkali mempengaruhi dinamika dan perkembangannya.
Dalam rezim pemerintahan yang otoriter, kiranya kebebasan akademik
akan sulit berkembang. Dalam kepustakaan internasional kebebasan
akademik dipandang sebagai inti dari budaya akademik dan berkaitan
dengan kebebasan berpendapat (lihat CODESRIA 1996, Forum 1994,
Daedalus Winter 1997, Poch 1993, Watch 1998, Worgul 1992).
Dalam masyarakat akademik di Indonesia, kebebasan akademik
yang berkaitan dengan kebebasan berpendapat telah mengalami
penderitaan yang panjang, selama puluhan tahun diwarnai oleh
pelarangan dan pembatasan kegiatan akademik di era pemerintahan
Suharto (lihat Watch 1998). Kini kebebasan akademik telah
berkembang seiring terjadinya pergeseran pemerintahan dari Suharto
kepada Habibie, dan makin berkembang begitu bebas pada
pemerintahan Abdurrahman Wahid, bahkan hampir tak terbatas dan
“tak bertanggungjawab,” sampai pada pemerintahan Megawati, yang
makin sulit mengendalikan perkembangan kebebasan berpendapat.

6
Selain itu, kebebasan akademik kadangkala juga berkaitan dengan
sikap-sikap dalam kehidupan beragama yang pada era dan pandangan
keagamaan tertentu menimbulkan hambatan dalam perkembangan
kebebasan akademik, khususnya kebebasan berpendapat.
Dapat dikatakan bahwa kebebasan akademik suatu masyarakat-
bangsa sangat tergantung dan berkaitan dengan situasi politik dan
pemerintahan yang dikembangkan oleh para penguasa. Pelarangan dan
pembatasan kehidupan dan kegiatan akademik yang menghambat
perkembangan kebebasan akademik pada lazimnya meliputi :
1. Penerbitan buku tertentu.
2. Pengembangan studi tentang ideologi tertentu.
3. Pengembangan kegiatan kampus, terutama demonstrasi dan diskusi
yang bertentangan dengan ideologi dan kebijakan pemerintah atau
negara.

2.2 ETOS KERJA, SIKAP TERBUKA DAN KEADILAN DALAM


PANDANGAN AGAMA ISLAM
2.2.1 Etos Kerja
Telah disebutkan terdahulu hakikat manusia terletak pada eksistensinya.
“Eksistensinya” berarti berpikir untuk mencipta yang menghasilkan produk
atau ciptaan. Dengan kata lain hakikat manusia adalah kerja. Konsekuensi
logisnya adalah berhenti bekerja hilang hakikatnya sebagai manusia. Telah
disebutkan pula bahwa Islam lebih mementingkan amal dari pada gagasan
atau terminal terakhir adalah amal. Amal identik dengan kerja dan sekali
lagi hakikat manusia adalah kerja.
Alquran sendiri memandang amal itu begitu penting. Kata amal dan
berbagai kata yang seakar kata dengannya seperti ya’malun, ta’malun,
‘amila, i’malu dan yang sejenisnya disebut dalam Al-Quran sebanyak 192
kali. Kata amal shalih yang dirangkai dengan kata iman sebanyak 46 kali.
Ini berarti hakikat manusia atas dasar pendekatan kebudayaan maupun
agama adalah sama yaitu terletak pada kerja atau amal. Kesimpulan ini
didukung oleh pepatah :
‫( ا لعلم بال عمل كا لنخل بال عسل‬ilmu tanpa amal bagaikan lebah tanpa madu)
atau

7
‫( ا لعلم بال عمل كا لشجر بال ثمر‬ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah).
Dengan demikian manusia yang tidak beramal atau tidak bekerja
hakikat kemanusiaannya tidak utuh, atau bahkan hilang hakikat
kemanusiaannya. Supaya manusia tidak hilang hakikat kemanusiaannya,
Rasulullah mengajarkan kepada umatnya supaya terjauh dari sifat pemalas.
Demikian doa Rasul :
)‫للهم ا نى اعو ذ بك من الكسل والعجز والبخل (روا ه التر مذى عن زيد بن ارقم‬
(ya Allah sesungguhnya aku mohon perlindungan Engakau dari kemalasan,
kelemahan, dan kebakhilan. H.R at-Turmuzi dari ibn Arqam (at-Turmuzi,
V:226)).
Malas, lemah kepribadian dan bakhil adalah penghalang utama dalam
menumbuhkan etos apapun termasuk etos kerja. Sebaliknya Islam
memotifasi demikian bersemangat supaya setiap pemeluknya rajin beramal
atau bekerja. Allah berfirman :

Artinya :
“ Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala)
sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan
jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan
kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) “.( QS
Al An’am : 160 ).
Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa siapa yang beramal baik
pahalanya dilipatgandakan 10 kali lipat. Sebelas kali Allah berfirman
bahwa orang yang beramal baik itu berakhir dengan keberuntungan (Abd
al-Baqi, [t.th.]:668). Satu diantara :

Artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah
Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan “.
( QS Al Hajj : 77 ).
Kata kemenangan dalam ayat itu sama dengan keberuntungan, dapat
diperhatikan dalam ayat berikut:

8
Artinya :
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman “. (QS. Al
Mu’minun: 1)
Keberuntungan atau kemenangan dalam ayat tersebut dan ke 11 yang
lain dalam Al-Quran selalu berarti sebagai akibat dari amal baik.
Keberuntungan sebagai amal atau kerja bisa berupa pahala yang dinikmati
besok di hari akhirat kelak, bisa di kehidupan dunia sekarang. Bahkan
sesungguhnya, karena Islam tidak mengenal paham sekularisme, yaitu
pemisahan urusan dunia dan urusan akhirat (agama), justru setiap urusan
apapun dalam Islam selalu mengandung dimensi dunia dan akhirat. Karena
itu di dalam Islam dianjurkan mencari kebahagiaan dunia dan kehidupan
akhirat sekaligus. Allah berfirman:
Artinya :
“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah
Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari
siksa neraka“. ( QS. Al Baqarah : 201 ).
Kebahagiaan (hasanah) tidak pernah datang begitu saja kepada
seseorang yang berpangku tangan. Hanya kerja keras kebahagiaan juga
takkan didapat. Tetapi kebahagiaan selalu merupakan perpaduan antara
kerja keras dan anugerah Allah. Karena itu Allah juga memerintahkan
supaya di dalam mencari kehidupan itu tidak setengah-setengah, dunia saja
atau akhirat saja, melainkan keduannya.
Artinya :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan “. ( QS. Al Qashash : 77 ).
Kemudian, di dalam kerja keras mencari kebahagiaan baik dunia
maupun akhirat itu ada kode etiknya, yaitu tidak boleh berbuat kerusakan,

9
kerusakan apapun (diri sendiri, hubungannya dengan orang lain, terhadap
tetumbuhan, binatang, maupun alam semesta).

2.2.2 Sikap Terbuka


Inti sikap terbuka adalah jujur, dan ini merupakan ajaran akhlak
yang penting di dalam Islam. Lawan dari jujur adalah tidak jujur. Bentuk-
bentuk tidak jujur antara lain adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Sebagai bangsa, kita amat prihatin, di satu sisi, kita (bangsa Indonesia)
merupakan pemeluk Islam terbesar di dunia, dan di sisi lain sebagai bangsa
amat korup. Dengan demikian terjadi fenomena antiklimak. Mestinya yang
haq itu menghancurkan yang bathil, justru dalam tataran praktis seolah-olah
yang haq bercampur dengan yang bathil. Tampilan praktisnya, salat ya,
korupsi ya. Ini adalah cara beragama yang salah.
Cara beragama yang benar harus ada koherensi antara ajaran,
keimanan terhadap ajaran, dan pelaksanaan atas ajaran. Dapat dicontohkan
di sini, ajaran berbunyi :
Artinya :
“ ….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji
dan mungkar…..” ( QS. Al ‘Ankabut : 45 ).
Manusia merespon terhadap ajaran (wahyu) itu dengan iman. Setelah
itu ia mewujudkan keimanannya dengan melakukan salat dan di luar
pelaksanaan salat mencegah diri untuk berbuat keji dan munkar.
Termasuk koherensi antara ajaran, iman, dan pelaksanaan ajaran adalah
jika terlanjur berbuat salah segera mengakui kesalahan dan memohon
ampunan kepada siapa ia bersalah (Allah atau sesama manusia). Jika
berbuat salah kepada Allah segera ingat kepada Allah dan bertaubat kepada-
Nya.

Artinya :
“ dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka…. “ ( QS. Ali Imron : 135 ).

10
Jika berbuat salah kepada manusia segera meminta maaf kepadanya
tidak usah menunggu lebaran tiba. Pengakuan kesalahan baik terhadap
Allah maupun kepada selain-Nya ini merupakan sikap jujur dan terbuka.
Menurut Islam sikap jujur dan terbuka termasuk baik. Nabi bersabda:
‫ا ن ا لصد ق يهدى ا لى ا لبر وا ن ا لبر يهدى ا لى ا لجنة وا ن ا لرجل يصد ق حتى يكتب عند هللا‬
‫ وا ن الرجل ليكذ ب حتى يكتب‬.‫ وا ن ا لفجور يهدى ا لنا ر‬.‫ وا ن ا لكذ ب يهد ا لى ا لفجور‬.‫صد يقا‬
)‫عند هلل كذا با( متفق عليه‬
(Sesungguhnya jujur itu menggiring ke arah kebajikan dan kebajikan itu
mengarah ke surga. Sesungguhnya lelaki yang senantiasa jujur, ia
ditetapkan sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya bohong itu menggiring
ke arah dusta. Dusta itu menggiring ke neraka. sesungguhnya lelaki yang
senantiasa berbuat bohong itu akan ditetapkan sebagai pembohong.
Muttafaq ‘alaih (an-Nawawi, [t.th.]:42)).
2.2.3 Bersikap Adil
Secara leksikal adil dapat diaritikan tidak berat sebelah, tidak
memihak, berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-
wenang (Kamus Besar, l990 :6-7) Dari masing-masing arti dapat
dicontohkan sebagai berikut: (1) Cinta kasih seorang ibu terhadap putra-
putrinya tidak berat sebelah. (2) Dalam memutuskan perkara, seorang
hakim tidak memihak kepada salah satu yang bersengketa.(3) Di dalam
menjalankan tugasnya sebagai hakim, Hamid selalu berpegang kepada
kebenaran. (4) Sudah sepatutnya jika akhlaqul-karimah guru diteladani
oleh murid.(5) Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak berbuat
sewenang-wenang terhadap yang dipimpin. Dari masing-masing contoh ini
dapat disimpulkan bahwa sikap adil amat positif secara moral.
Karena sifat yang positif, tentu sikap adil didambakan oleh banyak
orang. Dalam contoh-contoh di atas, sikap adil bersikap positif atau
menguntungkan orang lain. Adil juga dapat dartikan tingkah laku dan
kekuatan jiwa yang mendorong seseorang untuk mengendalikan amarah
dan syahwat dan menyalurkannya ke tujuan yang baik (al-Hufiy, 2000: 24).
Dalam definisi ini dapat dipahami bahwa adil adalah kondisi batiniah
seseorang yang berbentuk energi. Energi ini mendesak keluar untuk
mengendalikan amarah dan kemauan-kemauan hawa nafsu sehingga
perbuatan yang keluar menjadi baik. Yang mestinya orang itu menuruti
hawa nafsu, karena kendali sikaprbuatannya menjadi terarah, tidak
merugikan diri sendiri dan orng lain.

11
Adil dapat diartikan menempatkan berbagai kekuatan batiniah
secara tertib dan seimbang (al-Hufiy, 2000 :26). Kekuatan yang dimaksud
adalah al-hikmah, asy-syaja’ah, dan al-‘iffa.al-Hikmah berarti kecerdasan.
Orang cerdas dapat membedakan antara yang benar dan salah, baik dan
buruk, haq dan batal secara tepat, tetapi belum tentu ia selalu memilih yang
benar, yang baik, dan yang haq. Asy-syaja’ah berarti berani tanpa rasa takut.
Al-‘ffah berarti suci. Ketiga sifat utma ini jika tidak seimbang menjadi tidak
baik. Orang amat cerdas atau genius tetapi kecerdasannya dapat dijadikan
alat untuk mengelabuhi orang lain karena tidak ada ‘iffah di dalam dirinya.
Orang selalu berani menangani setiap masalah yang dihadapi, tentu
akan menampakkan profil preman karena tidak ada al-hikmah dan ‘iffah di
dalam dirinya. Orang cerdas dan berani lalu digunakan untuk mengeruk
kekayaan negara secara tidak syah adalah tidak baik karena tidak ‘iffah di
dalam dirinya. Orang selalu hanya memilih kesucian dalam semua suasana
secara terang-terangan tentu dapat membahayakan diri sendiri.
Jika antara al-hikmah, asy-syaja’ah, dan al-‘iffah berpadu secara
seimbang dalam diri seseorang, maka orang itu akan bersikap adil. Orang
berani melakukan sesuatu setelah ditimbang-timbang bahwa sesuatu itu
baik menurut akal dan menurut pertimbangan syariat juga baik . inilah
gambaran perbuatan adil. Berarti, ia berani berbuat karena benar. Orang
tidak berani berbuat juga karena benar, adalah bersikap adil, bukan karena
takut. Dengan dimikian adil adalah puncak dari ketiga sifat utama tersebut.
Islam memandang sikap adil amat fundamental dalam struktur
ajaran. Kata adil dan berbagai turunannya seperti : ya’dilun, i’dilu, ‘adlun,
dan ta’dili diulang sebanyak 28 kali di dalam Alquran. Karena itu Allah
memerintah kepada kita supaya berlaku adil dalam semua hal. Allah
berfirman:
Artinya :
“...Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...” (QS. Al
Maidah: 8).
Kata adil sinonim dengan al-qish. Kata ini dan berbagai derivasinya,
umpama: iqshitu, al-muqshitun, dan al-qashitun terulaqng sebanyak 25 kali
dalam Alquran (‘Abd al-Baqiy, [t.th.] :P690). Kadang-kadang kata adil dan
kata al-qisht disebut secara besama-sama dan satu sama lain berarti sama.
Contohnya adalah:
Artinya :

12
“ dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar
perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu
kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah
surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil
“. ( QS. Al Hujurat : 9 ).

Karena baik secara rasional maupun syariah bahwa sikap adil itu
adalah baik dan positif, tetapi di sisi lain kita merupakan pemeluk agama
Islam terbesar dunia dan di saat yang sama dikenal sebagai bangsa dengan
aneka predikat yang tidak baik seperti KKN (korupsi, kolusi, dan
nepotisme), maka untuk merubah citra buruk itu salah satu cara strategis
adalah membudayakan sikap adil dalam semua lapangan kehidupan.
Untuk mewujudkan sikap adil harus dilatih terus menerus secara
berkesinambungan, yang bererti pembiasaan berlaku adil. “Mulai sekarang,
mulai yang sederhana, dan mulai dari diri sendiri”,Inilah komitmen untuk
mulai pembiasaan berlaku adil. Jika langkah awal ini dapat dilalui dengan
baik, tentu mudah menjalar kepada orang lain, apalagi kalau yang memulai
komitmen itu adalah orang yang memiliki pengaruh di masyarakat di mana
ia berada karena salah satu naluri manusia adalah meniru idola. Jika idola
tidak bersikap adil, tentu para fansnya akan meniru tidak adil pula.
Dalam Islam orang yang paling pantas untuk di dudukkan sebagai
idola untuk ditiru dan diteladani adalah Rasulullah SAW. Allah berfirman
yang artinya :
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah “. ( QS. Al Ahzab
: 21 ).
Selain itu ‘Aisyah, istri Rasulullah, menyebutkan bahwa akhlak beliau
adalah Al-Quran “kana khuluqulm Al-Quran” (H.R Muslim dari ‘Aisyah).
Kiranya terlalu pantas jika idola pertama seluruh umat Islam adalah
Rasulullah. Hingga sekarang Rasulullah adalah orang yang paling
berpengaruh di dunia (rangking pertama) dari seratus orang yang paling
berpengaruh di dunia (Hart, 1982:4). Cukup banyak contoh-contoh sikap
adil yang ditampakkan oleh Rasulullah, antara lain :

13
An-Nu’man bin Basyir mengatakan, “Ayahku memberi sesuatu
pemberian kepadaku. Lalu ibuku Amrah bin Rawahah berkata, “Aku tidak
rela sebelum engkau persaksikan hadiah itu di hadapan Rasulullah SAW”.
Ayahku lalu menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah,
sesungguhnya aku telah membarikan suatu pemberian kepada anakku dari
Amrah bin Rawahah. Kemudian aku diperintahkannya supaya bersaksi
kepada Tuan!”
Rasulullah SAW lalu berkata, “Apakah engkau juga telah memberi
kepada semua anakmu pemberian seperti ini?”
An-Nu’man menjawab, “Tidak”.
Beliau lalu bersabda, “bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah
terhadap anak-anakmu!”
Kemudian ayahku pulang dan menarik kembali pemberiannya.
Dan ada orang perempuan Makhdzumiyyah mencuri. Mereka berkata,
“Siapakah yang akan membicarakan hal ini kepada Rasulullah SAW?”
Tidak ada seorangpun yang berani kecuali (kekasih wanita itu) Usman
bin Zaid r.a. Lalu ia membicarakan hal tersebut dengan Rasulullah SAW.
Beliau berkata, “Apakah kamu akan bertindak sebagai pembela dalam
pelanggarana hukum Allah?” Kemudian Rasulullah SAW berdiri serta
berkhotbah. Di antara isi khotbahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya yang
membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah apabila ada seorang
dari golongan bangsawan mencuri, mereka biarkan saja, tetapi bila yang
mencuri itu dari golongan bawah (lemah), dia dijatuhi hukuman. Demi
Allah andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti akan kupotong
tangannya.” (Al-hufiy, 2000:189)
2.2.4 Etos Kerja, Sikap Terbuka, dan Keadilan dalam Islam
Budaya akademik akan dapat terwujud dengan syarat sikap-sikap
positif juga dimiliki. Di antara sikap positif yang harus dimiliki adalah etos
kerja yang tinggi,sikap terbuka dan berlaku adil. Arti penting dari ketiga
sikap tersebut dapat diringkas sebagai berikut :
Untuk dapat meningkatkan etos kerja seorang muslim harus terlebih
dahulu memahami tugasnya sebagai manusia yaitu sebagai khalifah Allah
SWT di muka bumi dan sebagai hamba yang berkewajiban untuk beribadah

14
kepad aAllah SWT. Beberapa petunjuk Al-Qur’an agar dapat meningkatkan
etos kerja antara lain;
1. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.
2. Bekerja harus sesuai dengan bidangnya dan ini harus diberi catatan
bahwa etos kerja yang tinggi tidak boleh menjadikan orang tersebut lupa
kepada Allah SWT.
Sikap positif selanjutnya adalah sikap terbuka dan jujur, seseorang
tidak mungkin meraih keberhasilan dengan cara mempunyai etos kerja yang
tinggi kalu tidak memiliki sikap terbuka dan jujur. Karenaorang yang tidak
terbuka maka akan cenderung menutup diri sehingga tidak dapat
bekerjasama dengan orang lain. Apalagi kalu tidak jujur maka energinya
akan tersita untuk menutupi ketidakjujuran yang dilakukan. Maka Al-
qur’an dan Hadis memberi apresiasi yang tinggi tehadap orang yang terbuka
dan jujur.
Buah dari keterbukaan seseorang maka akan melahirkan sikap adil.
Makna yang diperkenalkan Al-qur’an buka hanya dalam aspek hukum
melainkan dalam spektrum yang luas. Dari segi kepada siapa sikap adil itu
harus ditujukan Al-qur’an memberi petunjuk bahwa sikap adil dissamping
kepada Allah SWT dan orang lain atau sesama makhluk juga kepada diri
sendiri.

2.3 KEHIDUPAN BERPOLITIK SERTA PERSATUAN DAN KESATUAN


BANGSA
2.3.1 Pengertian Politik dalam Islam
Sistem politik dalam pandangan islam adalah hukum atau pandangan
yang berkenaan dengan cara bagaimana urusan masyarakat diurus dan
diatur dengan hukum Islam. Sebab, politik itu sendiri dalam pandangan
islam adalah mengurus urusan umat dengan menerapkan hukum islam baik
di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pandangan beberapa orang mengenai politik dalam islam, salah satunya
yaitu yang dikemukakan oleh Saudara Abshar-Abdalla dalam kajian di
Jawa Pos, 1 Juni 2003 diantaranya :

15
1. Sistem poltik dalam islam adalah system khalifah (pemimpin) yaitu
sistem politik yang telah dilaksanakan Nabi Muhammad SAW dan para
Khulafaur rasyidin yang dijadikan sebagai teladan bagi umat islam.
2. Sistem poltik dalam islam sejatinya tidak ada. Karena Nabi Muhammad
hanyalah seorang rasul yang misinya mensyiarkan agama islam bukan
sebagai pemimpin dan pengatur agama.
3. Sistem politik atau system ketatanegaraan dalam islam tidak ada, tapi
terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara
Lepas dari pendapat-pendapat diatas, dalam kenyataannya, pada masa
Nabi Muhammad SAW, dimana dalam masa itu beliau tidak hanya sebagai
rasul tetapi juga sebagai pemimpin Negara, sebagai buktinya yaitu aturan
dasar Negara yang berupa Piagam Madinah, yang oleh Hamidullah disebut
sebagai konstitusi tertulis pertama dalam sejarah pada awal decade ketiga
abad VIIM (622) atau tahun 1 H. Dan kepemimpinan ini terus berlanjut
sampai dibawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Di dalam Al-Qur’an sendiri tidak disebutkan secara tegas mengenai
wujud dari suatu system politik dalam islam, hanya dalam beberapa ayat
disebutkan bahwa islam terkait dalam dua faktor yaitu kekuasaan politik
hanya akan dijanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh. Tidak hanya itu, system politik dalam islam juga berkaitan dengan
ruang dan waktu, dengan kata lain dihubungkan dengan peristiwa
bersejarah, yang salah satu bentuknya yaitu Piagam Madinah tersebut.
2.3.2. Prinsip Dasar Politik dalam Islam
Prinsip dasarnya dan yg menjadi obyek pembahasan system politik
dalam islam diantaranya :
1. Fikih modern (siyasah dusturiyah)
Dengan kata lain yaitu hukum tata Negara yang membahas hubungan
pemimpin dengan rakyatnya serta institusi yang ada di Negara itu sesuai
dengan kebutuhan rakyat untuk kemaslahatan dan pemenuhan
kebutuhan rakyat itu sendiri.
2. Hukum internasional dalam islam (siyasah dauliyah), diantaranya yaitu:
a. Kesatuan islam
Yang dimaksudkan disini adalah kesatuan seluruh umat islam di
dunia yang satu jiwa dan berpegang teguh pada hukum islam yang
sudah tertuang dalam al-qur’an dan al-hadist.

16
b. Keadilan (al adalah)
Ini adalah menyangkut dengan keadilan sosial yang dijamin oleh
system social dan system ekomomi islam. Keadilan didalam bidang
sosioekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa wujudnya kuasa
politik yang melindungi dan mengembangkannya.
Didalam pelaksanaannya yang luas, prinsip keadilan yang
terkandung dalam system politik islam meliputi dan menguasai
segala jenis perhubungan yang berlaku didalam kehidupan manusia,
termasuk keadilan diantara rakyat dan pemerintah, diantara dua
pihak yang bersengketa dihadapan pihak pengadilan, diantara
pasangan suami istri dan diantara ibu bapak dan anaknya.
Dikarenakan kewajiban berlaku adil dan menjauhi perbuatan dzalim
merupakan diantara asas utama dalam system sosial islam, maka
menjadi peranan utama system politik islam untuk memelihara asas
tersebut. Pemeliharaan terhadap keadilan merupakan prinsip nilai
sosial yang utama Karen a dengannya dapat dikukuhkan kehidupan
manusia dalam segaa aspeknya.
c. Persamaan (al musawah)
Persamaan disini terdiri daripada persamaan dalam mendapat
dan menuntut hak persamaan dalam memikul tanggung jawab
menurut peringkat yang ditetapkan oleh undang-undang
perlembagaan dan persamaan berda di bawah taklukan kekuasaan
undang-undang.
d. Kehormatan manusia (karomah insaniyah)
e. Toleransi (al tasamuh)
f. Kerjasama kemanusiaan
Yang dimaksudkan adalah kerjasama yang dilakukan oleh antar
umat seagama dan kerjasama antar umat beragama.
g. Kebebasan, kemerdekaan (al akhlak al karomah)
Kebebasan yang dipelihara oleh system politik islam ialah
kebebasan yang berterskan kepada ma’ruf dan kebajikan.
Menegakkan prinsip kebebasan yang sebenarnya adalah diantara
tujuan terpenting bagi system politik dan pemerintahan islam serta
asas bagi undang-undang perlembagaan Negara islam.

17
h. Musyawarah
Asas musyawarah diantaranya :
Ø Berkenaan dengan pemilihan ketua Negara dan orang-orang yang
akan menjawati tugas-tugas utama dalam pentadbiran ummah.
Ø Berkenaan dengan penentuan jalan dan cara pelaksanaan undang-
undang yang telah dimaktubkan di al-qur’an dan as-sunnah
Ø Berkenaan dengan jalan menentukan perkara baru yang timbul di
kalangan ummah melalui proses ijtihad.
i. Hak Menghisab Pihak Pemerintah
Prinsip ini berdasarkan kepada kewajiban pihak pemerintah
untuk melakukan musyawarah dalam hal-hal yang berkaitan
dengan urusan dan pentadbiran Negara dan ummah.Hak rakyat
untuk disyurakan adalah bererti kewajipan setiap anggota di dalam
masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan
kemungkaran. Hak ini dalam pengertian yang luas juga bererti hak
untuk mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan
keputusankeputusan pihak pemerintah.
Prinsip ini berdasarkan kepada firman Allah yang mafhumnya:
"Dan apabila ia berpaling (daripada kamu), ia berjalan di bumi
untuk mengadakan kerosakan padanya, dan merosak tanaman
tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai
kebinasaan."
(Al-Baqarah:205)
"..maka berilah keputusan di antara manusia dengan 'adil dan
janganlah kamu mengikut hawa nafsu, kerana ia akan
menyesatkan kamu daripada jalan Allah. Sesungguhnya orang
orang yang sesat daripada jalan Allah akan mendapat 'azab yang
berat, kerana mereka melupakan hari perhitungan."
(Sad: 26)
3. Siyasah Maliyah
a. Prinsip-prinsip kepemilikan harta
b. Tanggung jawab sosial yang kokoh tanggung jawab terhadap diri
sendiri, keluarga, masyarakat dan sebaliknya

18
c. Zakat, hasil bumi, emas perak, ternak dan zakat fitrah
d. Khoroj
e. Harta peninggalan dari orang yang tidak meninggalkan ahli waris
f. Jizyah (harta temuan)
g. Ghoniyah (harta rampasan perang)
h. Bea cukai barang impor
i. Eksploitasi sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.

2.3.3 Kehidupan Berolitik Serta Persatuan Dan Kesatuan Bangsa


 Kontribusi Agama dalam Kehidupan Berpolitik
Politik dalam arti yang sesungguhnya adalah cara atau
strategi mencapai kekuasaaan untuk kesejahteraan bersama (bonum
communae). Lembaga agama dan negara menjalin hubungan dalam
pelayanan pada manusia yang sama. Semua mempunyai interese (tujuan
dan kepentingan) bahwa dalam struktur negara setiap orang mendapat
kelonggaran untuk menjalankan keterlibatan politiknya, agar relasi
manusia dengan Allah sebenarnya terwujud. Negara mempunyai
interese, supaya relasi dengan Allah yang diungkapkan dalam setiap
agama itu tidak mengasingkan orang dari tugasnya yang politik, tidak
membuat orang menjadi pion dari kuasa politik mana pun melainkan
mendorong orang untuk memikul tanggung jawabnya dalam hidup
kenegaraan.
Agama secara kelembagaan tidak berpolitik, akan tetapi
menyuarakan dan membangun poltik yang bermartabat. Para uskup dan
para imam tidak berpolitik. Tanggung-jawab politik praktis ada pada
kaum awam. Indonesia merupakan satu masyarakat majemuk
(pluralistis). Ada keanekaan suku, budaya dan agama, akan tetapi, ada
kesatuan dan persatuan berdasarkan filsafat hidup dan ideologi bangsa.
Keanekaan bukan berarti sengketa, Sebaliknya keanekaan merupakan
kekayaan kepribadian bangsa. Demi kesatuan dan persatuan kita harus
membina keterbukaan, komunikasi dan kerja sama. Dengan demikian,
akan ada iklim persaudaraan dan kekeluargaan. Di dalam suasana
persaudaraan dan kekeluargaan kita berusaha saling melayani dan

19
bersama-sama bergotong royong dalam melayani kepentingan umum.
Dengan turut membina dan meningkatkan persaudaraan kita menjadi
tanda keselamatan.

 Peranan Agama dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan


Bangsa
Semua umat agama di Indonesia adalah bagian integral bangsa
Indonesia. Kita mengambil bagian dan turut aktif dalam kehidupan dan
perkembangan bangsa. Keterlibatan kita menjadi bukti sebagai warga
bangsa Indonesia. Bersama seluruh masyarakat umat beragama
hendaknya berikhtiar agar bumi Indonesia berkembang menjadi bumi
yang lebih manusiawi untuk dihuni. Banyak tokoh-tokoh agama yang
berperan/berjasa dalam perjuangan dan pembangunan bangsa.
Lebih dari itu semua kita mempunyai perjuangan yang sama dalam
menghayati ajaran iman kita, dan dalam hal ini kita dapat saling belajar,
saling meneguhkan dan saling memperkaya. Sebagai umat beragama,
kita dapat memberikan kesaksian iman kita tentang bagaimana kita
menghayati nilai-nilai agama, seperti cinta kasih, solidaritas,
pengampunan, permaafan, kebenaran, kejujuran dan perdamaian.
Dalam memantapkan kerukunan hidup umat beragama perlu
dilakukan suatu upaya-upaya yang mendorong terjadinya kerukunan
hidup umat beragama secara mantap dalam bentuk :
1. Memperkuat dasar-dasar kerukunan internal dan antar umat
beragama, serta antar umat beragama dengan pemerintah.
2. Membangun harmoni sosial dan persatuan nasional dalam bentuk
upaya mendorong dan mengarahkan seluruh umat beragama untuk
hidup rukun dalam bingkai teologi dan implementasi dalam
menciptakan kebersamaan dan sikap toleransi.
3. Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif dalam
rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama serta
pengamalan agama yang mendukung bagi pembinaan kerukunan
hidup intern dan antar umat beragama.
4. Melakukan eksplorasi secara luas tentang pentingnya nilai-nilai
kemanusiaan dari seluruh keyakinan plural umat manusia yang
fungsinya dijadikan sebagai pedoman bersama dalam melaksanakan
prinsip-prinsip berpolitik dan berinteraksi sosial satu sama lainnya
dengan memperlihatkan adanya sikap keteladanan.

20
Dari sisi ini maka kita dapat mengambil hikmahnya bahwa nilai-
nilai kemanusiaan itu selalu tidak formal akan mengantarkan nilai
pluralitas kearah upaya selektifitas kualitas moral seseorang dalam
komunitas masyarakat mulya (Makromah), yakni komunitas warganya
memiliki kualitas ketaqwaan dan nilai-nilai solidaritas sosial.
5. Melakukan pendalaman nilai-nilai spiritual yang implementatif bagi
kemanusiaan yang mengarahkan kepada nilai-nilai Ketuhanan, agar
tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan nilai-nilai sosial
kemasyarakatan maupun sosial keagamaan.
6. Menempatkan cinta dan kasih dalam kehidupan umat beragama
dengan cara menghilangkan rasa saling curiga terhadap pemeluk
agama lain, sehingga akan tercipta suasana kerukunan yang
manusiawi tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.
7. Menyadari bahwa perbedaan adalah suatu realita dalam kehidupan
bermasyarakat, oleh sebab itu hendaknya hal ini dijadikan mozaik
yang dapat memperindah fenomena kehidupan beragama.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Budaya akademik dalam pandangan Islam adalah suatu tradisi atau
kebiasaan yang berkembang dalam dunia Islam menyangkut persoalan keilmuan.
Atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah tradisi ilmiah yang dikembangkan
Islam. Di antara poin-poin pentingnya adalah pertama, tentang penghargaan Al-
quran terhadap orang-orang yang berilmu, di antaranya adalah :
1. Wahyu Al-quran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk
memperoleh ilmu pengetahuan.
2. Tugas Manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki
ilmu pengetahuan.
3. Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu.
4. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah SWT.
Di samping memberikan apresiasi terhadap orang yang berilmu poin
penting lain yang dijelaskan Al-quran adalah bahwa :
1. Iman seorang muslim tidak akan kokoh kalau tidak ditopang dengan ilmu,
demikian juga dengan amal shalih.
2. Tugas kekhalifahan manusia tidak akan dapat sukses kalau tidak dilandasi
dengan ilmu.
3. Karakter seorang muslim yang berbudaya akademik adalah; orang yang selalu
mengingat Allah yang disertai dengan ikhtiar untuk selalu menggunakan
akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah SWT. Serta selalu berusaha
menambah ilmu dengan membuka diri terhadap setiap informasi yang baik dan
kemudian memilih yang terbaik untuk dijadikan pegangan dan diikutinya.
Budaya akademik akan dapat terwujud dengan syarat sikap-sikap positif
juga dimiliki. Di antara sikap positif yang harus dimiliki adalah etos kerja yang
tinggi, sikap terbuka dan berlaku adil. Arti penting dari ketiga sikap tersebut dapat
diringkas sebagai berikut :
Untuk dapat meningkatkan etos kerja seorang muslim harus terlebih dahulu
memahami tugasnya sebagai manusia yaitu sebagai khalifah Allah SWT di muka

22
dan juga sebagai hamba yang berkewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.
Beberapa petunjuk Al-quran agar dapat meningkatkan etos kerja antara lain :
1. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.
2. Bekerja harus sesuai dengan bidangnya dan ini harus diberi catatan bahwa etos
kerja yang tinggi tidak boleh menjadikan orang tersebut lupa kepada Allah
SWT.
Sikap positif selanjutnya adalah sikap terbuka atau jujur; Seseorang tidak
mungkin akan dapat meraih keberhasilan dengan cara mempunyai etos kerja yang
tinggi kalau tidak memiliki sikap terbuka dan jujur. Karena orang yang tidak
terbuka maka akan cenderung menutup diri sehingga tidak dapat bekerja sama
dengan yang lain. Apalagi kalau tidak jujur maka energinya akan tersita untuk
menutupi ketidakjujuran yang dilakukan. Maka Al-quran dan Hadis memberi
apresiasi yang tinggi terhadap orang yang terbuka dan jujur.
Buah dari keterbukaan seseorang maka akan melahirkan sikap adil. Makna
adil yang diperkenalkan Al-quran bukan hanya dalam aspek hukum melainkan
dalam spektrum yang luas. Dari segi kepada siapa sikap adil itu harus ditujukan Al-
quran memberi petunjuk bahwa sikap adil di samping kepada Allah SWT dan orang
lain atau sesama makhluk juga kepada diri sendiri.
Politik dalam arti yang sesungguhnya adalah cara atau strategi
mencapai kekuasaaan untuk kesejahteraan bersama (bonum communae). Lembaga
agama dan negara menjalin hubungan dalam pelayanan pada manusia yang sama.
Semua mempunyai interese (tujuan dan kepentingan) bahwa dalam struktur negara
setiap orang mendapat kelonggaran untuk menjalankan keterlibatan politiknya,
agar relasi manusia dengan Allah sebenarnya terwujud. Agama secara
kelembagaan tidak berpolitik, akan tetapi menyuarakan dan membangun poltik
yang bermartabat. Indonesia merupakan satu masyarakat majemuk (pluralistis).
Keanekaan bukan berarti sengketa, Sebaliknya keanekaan merupakan
kekayaan kepribadian bangsa. Demi kesatuan dan persatuan kita harus membina
keterbukaan, komunikasi dan kerja sama. Dengan demikian, akan ada iklim
persaudaraan dan kekeluargaan.

23
3.2 SARAN
Untuk menuntut dan mengamalkan budaya akademis, sikap etos kerja,
sikap terbuka, dan keadilan harus kita dasar dengan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah swt agar dapat memberikan jaminan kemaslahatan bagi
kehidupan serta lingkungan sekitar kita.

24
DAFTAR PUSTAKA

http://fenni-octafiyani.blogspot.co.id/2014/06/makalah-penerapan-wawasan-
nusantara.html
2009. “Implementasi Wawasan Nusantara”. diakses tanggal 15 Desember 2011 dari
www.wikipedia.com

Ayano, Suci. 2011. “Wawasan Nusantara”. diakses tanggal 16 Maret 2013 dari :
http://www.Hubungan Antara Wawasan Nusantara dengan Ketahanan Nasional «
STUDI TUR.htm,

Cristine, dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :


PT Prandnya Paramita

Sartini,dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta


: Paradigma.

Santoso Budi, dkk. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia.


https://id-mg61.mail.yahoo.com/neo/launch?.rand=d01isdofqsjik#5091676060
http://dheanandika.blogspot.co.id/2012/01/contoh-makalah-pendidikan-agama-
islam.html
Buku Catatan Dhea Nandika, Buku catatan Peni Nurmalasari,
http://www.google.com
http://solikhaton.blogspot.co.id/2014/03/makalah-dasar-politik-dalam-islam.html
http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=499

25