Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH AGAMA

BUDAYA AKADEMIK, ETOS KERJA, SIKAP TERBUKA DAN ADIL

Dosen Pembimbing : Dra. Julinah, M.PdI

OLEH KELOMPOK 10 :

1. NENY WAHYUNI : NIM.P07224315022


2. NUR AZURA : NIM.P07224315024
3. ROSYIDA ELYA : NIM.P07224315031

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALTIM

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan limpahan Rahmat, Karunia, Taufiq dan Hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Budaya Akademik, Etos Kerja, Sikap Terbuka
dan Adil dengan baik. Dan juga kami berterimakasih kepada Ibu Dra. Julinah,
M.PdI selaku dosen mata kuliah Agama yang telah memberikan arahan dan
dukungan demi kesempurnaan makalah ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan pembaca mengenai Budaya Akademik,
Etos Kerja, Sikap Terbuka dan Adil. Oleh sebab itu, kami berharap adanya saran
dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa
yang akan datang. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya.

Kami mohon maaf apabila dalam penulisan maupun penyampaian materi


terdapat kekeliruan. Kami mengucapkan terima kasih.

Samarinda, 16 November 2015

Penyusun

2
DAFTAR ISI

MAKALAH..............................................................................................................i

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I.......................................................................................................................1

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah................................................................................1

B. Rumusan Masalah.........................................................................................2

C. Tujuan...........................................................................................................2

BAB II......................................................................................................................3

PEMBAHASAN......................................................................................................3

A. Pengertian Budaya Akademik Dalam Pandangan Berbagai Agama.............3

B. Pengertian Etos Kerja Dalam Pandangan Berbagai Agama..........................6

C. Pengertian Sikap Terbuka Dan Adil Dalam Pandangan Berbagai Agama....7

BAB III..................................................................................................................12

PENUTUP..............................................................................................................12

A. Kesimpulan.................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang universal, karena itu masalah-masalah yang ada
dalam masyarakat sudah barang tentu diatur di dalam ajaran Islam. Kajian tentang
Al-Quran serta kandungan ajarannya tampaknya tidak akan pernah selesai dan
akan berlanjut sepanjang zaman. Keajaibannya akan senantiasa muncul
kepermukaan bagaikan mata air yang tidak pernah kering dan akan selalu menjadi
inspirasi kehidupan ummat Islam. Al-Quran akan selalu hadir dalam kehidupan
yang sarat dengan berbagai persoalan hidup yang dialami oleh umat Islam. Di
sinilah letak salah satu keunikan Al-Quran itu dan dari sini kita dapat memahami
mengapa orang yang mempercayainya tidak akan pernah meragukan validitas
ajarannya dan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak dan final meski dipihak
lain orang yang meragukan dan tidak mempercayainya selalu berupaya untuk
meruntuhkan kebenaran Al-Quran baik dengan cara halus atau kasar, dibungkus
dengan metode ilmiah yang mengandung distorsi atau bahkan hanya dengan
hujatan, tanpa mengandung ilmiah yang layak dalam kajian akademis.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sudah representatif untuk


mewujudkan pendidikan multikultural (beragam budaya). Budaya merupakan
kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.

Budaya Akademik (Academic Culture) dapat dipahami sebagai suatu


totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan
diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di lembaga pendidikan tinggi dan
lembaga penelitian. Kehidupan dan kegiatan akademik diharapkan selalu
berkembang, bergerak maju bersama dinamika perubahan dan pembaharuan
sesuai tuntutan zaman. Perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan dan

1
kegiatan akademik menuju kondisi yang ideal senantiasa menjadi harapan dan
dambaan setiap insan yang mengabdikan dan mengaktualisasikan diri melalui
dunia pendidikan tinggi dan penelitian, terutama mereka yang menggenggam
idealisme dan gagasan tentang kemajuan.
B. Rumusan Masalah

A. Apa makna budaya akademik dalam sudut pandang berbagai agama?

B. Apa yang dimaksud etos kerja, sikap terbuka dan keadilan menurut
pandangan berbagai agama?

C. Tujuan

1. Memahami makna budaya akademik dalam pandang berbagai agama.

2. Memahami maksud dengan etos kerja, sikap terbuka dan keadilan


menurut pandangan berbagai agama.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Budaya Akademik Dalam Pandangan Berbagai Agama


1. Dalam Sudut Pandang Agama Islam

Budaya akademik dalam pandangan Islam adalah suatu tradisi atau


kebiasaan yang berkembang dalam dunia Islam menyangkut persoalan
keilmuan atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah tradisi ilmiah
yang dikembangkan Islam. Diantara poin-poin pentingnya adalah pertama,
tentang penghargaan Al-Quran terhadap orang-orang yang berilmu, di
antaranya adalah:

1. Wahyu Al-Qur’an yang turun pada masa awal mendorong manusia


untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama
kali turun Al-'Alaq 96: l-5 tergambar dengan jelas betapa kitab suci
Al-Qur’an memberi perhatian yang sangat serius kepada
perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah SW'T menurunkan
petunjuk pertama kali adalah terkait dengan salah satu cara untuk
memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut
menggunakan redaksi iqra’ . Makna perintah tersebut bukanlah hanya

3
sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra' adalah
membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman dan itulah
kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah
kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang makna iqra' dekat
dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan
pemahaman).

2. Tugas manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau


memiliki ilmu pengetahuan. Penggalan ayat 3l dari Surat Al-Baqarah
yang berbunyi "Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-
benda) seluruhnya", juga mengandung arti bahwa salah satu
keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikam apa
yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap
bahasa sehingga ini mengantarnya untuk mengetahui. Di sisi lain
kemampuan manusia merumuskan ide dan memberikan nama bagi
segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia yang
berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.

3. Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Etos
untuk terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa
yang disebut belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada musim
tertentu atau dalam formalitas satuan pendidikan tertentu, melainkan
sepanjang hayat masih dikandung badan maka kewajiban untuk terus
menuntut ilmu tetap melekat dalam diri setiap muslim. Salah satu
hikmahnya adalah bahwa kehidupan terus mengalami perubahan dan
perkembangan menuju kemajuan, maka kalau seorang muslim tidak
terus menambah pengetahuannya jelas akan tertinggal oleh
perkembangan zaman yang pada gilirannya tidak dapat memberikan
kontribusi bagi kehidupan. Al-Qur’an jelas membedakan antara orang
yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan.

4
4. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah SWT. Secara garis
besar manusia dapat dibedakan ke dalam dua kelompok besar;
pertama, orang yang sekedar beriman dan beramal, dan yang kedua
adalah orang yang beriman dan beramal shalih serta memiliki
pengetahuan. Posisi atau derajat kelompok kedua ini lebih tinggi
bukan saja karena nilai ilmu yang dimiliki, tetapi juga amal dan
usahanya untuk mengajarkan ilmu yang dimiliki tersebut, baik melalui
lisan, tulisan atau bahkan tindakan. Ilmu yang dimaksud tentu saja
bukan hanya ilmu agama tetapi ilmu apapun yang rnembawa maslahat
bagi kehidupan manusia. Disamping memberikan apresiasi terhadap
orang yang berilmu poin penting lain yang dijelaskan Al-Qur’an
adalah bahwa iman seorang muslim tidak akan kokoh kalau tidak
ditopang dengan ilmu, demikian juga dengan amal shaleh. Tugas
kekhalifahan manusia tidak akan sukses kalau tidak dilandasi dengan
ilmu. Karakter seorang muslim yang berbudaya akademik adalah
orang yang selalu mengingat Allah yang disertai dengan ikhtiar untuk
selalu menggunakan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah SWT.
Serta selalu berusaha menambah ilmu dengan membuka diri terhadap
setiap informasi yang baik dan kemudian memilih yang terbaik untuk
dijadikan pegangan dan diikutinya.

2. Dalam Sudut Pandang Umum


Budaya akademik sebenarnya adalah budaya universal. Artinya,
dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas
akademik. Membangun budaya akademik bukan perkara yang mudah.
Diperlukan upaya sosialisasi terhadap kegiatan akademik, sehingga terjadi
kebiasaan di kalangan akademisi untuk melakukan norma-norma kegiatan
akademik tersebut. Kepemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi
idola semua insan akademisi perguruaan tinggi, yakni dosen dan
mahasiswa. Derajat akademik tertinggi bagi seorang dosen adalah

5
dicapainya kemampuan akademik pada tingkat guru besar (profesor).
Sedangkan bagi mahasiswa adalah apabila ia mampu mencapai prestasi
akademik yang setinggi-tingginya. Berarti budaya akademik adalah
mahasiswa yang terlibat dalam berbagai bidang studi dan keahlian (disiplin
ilmu), bernaung di bawah Perguruan Tinggi yaitu akdemi, universitas,
sekolah tinggi, institute, dan lain-lain, memfokuskan diri pada kajian ilmu
Penelitian Penemuan dan sebagainya secara ilmiah, untuk pengembangan
ilmu baru dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat atau perguruan tinggi
yang mendorong mahasiswa melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi
(Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).

B. Pengertian Etos Kerja Dalam Pandangan Berbagai Agama


1. Dalam Sudut Pandang Islam

Telah disebutkan terdahulu hakikat manusia terletak pada


eksistensinya. “Eksistensinya” berarti berpikir untuk mencipta yang
menghasilkan produk atau ciptaan. Dengan kata lain hakikat manusia
adalah kerja. Konsekuensi logisnya adalah berhenti bekerja hilang
hakikatnya sebagai manusia. Telah disebutkan pula bahwa Islam lebih
mementingkan amal daripada gagasan atau terminal terakhir adalah amal.
Amal identik dengan kerja dan sekali lagi hakikat manusia adalah kerja.
Al-Qur’an sendiri memandang amal itu begitu penting. Kata amal dan
berbagai kata yang seakar kata dengannya seperti ya’malun, ta’malun,
‘amila, i’malu dan yang sejenisnya disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 192
kali. Kata amal shalih yang dirangkai dengan kata iman sebanyak 46 kali.
Ini berarti hakikat manusia atas dasar pendekatan kebudayaan maupun
agama adalah sama yaitu terletak pada kerja atau amal.

6
2. Dalam Sudut Pandang Umum

Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap,
kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak
saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat


kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu
kelompok. Secara terminologis kata etos adalah yang mengalami
perubahan makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian yang
berbeda yaitu:

a. Suatu aturan umum atau cara hidup

b. Suatu tatanan aturan perilaku

c. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah


laku

Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang


berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam
rangka mencapai cita-cita yang positif. Dan etos adalah sikap yang tetap
dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam
pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya. Maka,
Etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia
yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang
tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita.

7
C. Pengertian Sikap Terbuka Dan Adil Dalam Pandangan Berbagai
Agama

Inti sikap terbuka adalah jujur, dan ini merupakan ajaran akhlak yang
penting di dalam Islam. Lawan dari jujur adalah tidak jujur. Bentuk-bentuk tidak
jujur antara lain adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sebagai bangsa,
kita amat prihatin, di satu sisi, kita (bangsa Indonesia) merupakan pemeluk Islam
terbesar di dunia, dan di sisi lain sebagai bangsa amat korup. Dengan demikian
terjadi fenomena antiklimaks. Mestinya yang haq itu menghancurkan yang bathil,
justru dalam tataran praktis seolah-olah yang haq bercampur dengan yang bathil.
Tampilan praktisnya, salat ya, korupsi ya. Ini adalah cara beragama yang salah.
Cara beragama yang benar harus ada koherensi antara ajaran, keimanan terhadap
ajaran, dan pelaksanaan atas ajaran. Dapat dicontohkan di sini, ajaran berbunyi:

Artinya :

“….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan


mungkar…..” ( QS. Al ‘Ankabut : 45 )

Manusia merespon terhadap ajaran (wahyu) itu dengan iman. Setelah itu ia
mewujudkan keimanannya dengan melakukan salat dan di luar pelaksanaan salat
mencegah diri untuk berbuat keji dan munkar. Termasuk koherensi antara ajaran,
iman, dan pelaksanaan ajaran adalah jika terlanjur berbuat salah segera mengakui
kesalahan dan memohon ampunan kepada siapa ia bersalah (Allah atau sesama
manusia). Jika berbuat salah kepada Allah segera ingat kepada Allah dan bertaubat
kepada-Nya.

Artinya :

8
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka…. “ ( QS. Ali ‘Imron : 135 ).

Jika berbuat salah kepada manusia segera meminta maaf kepadanya tidak
usah menunggu lebaran tiba. Pengakuan kesalahan baik terhadap Allah maupun
kepada selain-Nya ini merupakan sikap jujur dan terbuka. Menurut Islam sikap
jujur dan terbuka termasuk baik. Nabi bersabda, “Sesungguhnya jujur itu
menggiring ke arah kebajikan dan kebajikan itu mengarah ke surga.
Sesungguhnya lelaki yang senantiasa jujur, ia ditetapkan sebagai orang yang
jujur. Sesungguhnya dusta itu menggiring ke arah dusta. Dusta itu menggiring ke
neraka. sesungguhnya lelaki yang senantiasa berbuat dusta itu akan ditetapkan
sebagai pendusta.” Muttafaq ‘alaih (an-Nawawi, [t.th.]:42))

Islam memandang sikap adil amat fundamental dalam struktur ajaran. Kata
adil dan berbagai turunannya seperti : ya’dilun, i’dilu, ‘adlun, dan ta’dili diulang
sebanyak 28 kali di dalam Al-Qur’an. Karena itu Allah memerintah kepada kita
supaya berlaku adil dalam semua hal. Allah berfirman:

Artinya :

“...Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...” (QS. Al-Maidah:
8).

Kata adil sinonim dengan al-qisht. Kata ini dan berbagai derivasinya,
umpama: iqshitu, al-muqshitun, dan al-qashitun terulang sebanyak 25 kali dalam
Al-Qur’an (‘Abd al-Baqiy, [t.th.] :P690). Kadang-kadang kata adil dan kata al-
qisht disebut secara besama-sama dan satu sama lain berarti sama. Contohnya
adalah:

9
Artinya :

“ Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar
perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu
perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau Dia telah surut,
damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku
adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al-
Hujuurat : 9).

Karena baik secara rasional maupun syari’ah bahwa sikap adil itu adalah
baik dan positif, tetapi di sisi lain kita merupakan pemeluk agama Islam terbesar di
dunia dan disaat yang sama dikenal sebagai bangsa dengan aneka predikat yang
tidak baik seperti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), maka untuk merubah
citra buruk itu salah satu cara strategis adalah membudayakan sikap adil dalam
semua segi kehidupan. Untuk mewujudkan sikap adil harus dilatih terus menerus
secara berkesinambungan, yang berarti pembiasaan berlaku adil. “Mulai sekarang,
mulai yang sederhana, dan mulai dari diri sendiri”, Inilah komitmen untuk mulai
pembiasaan berlaku adil. Jika langkah awal ini dapat dilalui dengan baik, tentu
mudah menjalar kepada orang lain, apalagi kalau yang memulai komitmen itu
adalah orang yang memiliki pengaruh di masyarakat dimana ia berada karena
salah satu naluri manusia adalah meniru idola. Jika idola tidak bersikap adil, tentu
para fansnya akan meniru tidak adil pula. Dalam Islam orang yang paling pantas
untuk di dudukkan sebagai idola untuk ditiru dan diteladani adalah Rasulullah
SAW. Allah berfirman yang artinya :

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah “. ( QS. Al-Ahzab : 21 ).

10
Selain itu ‘Aisyah, istri Rasulullah SAW, menyebutkan bahwa akhlak
beliau adalah Al-Qur’an “kana khuluqulm Al-Qur’an” (HR. Muslim dari
‘Aisyah).

Kiranya sangat pantas jika idola pertama seluruh umat Islam adalah
Rasulullah. Hingga sekarang Rasulullah adalah orang yang paling berpengaruh di
dunia (rangking pertama) dari seratus orang yang paling berpengaruh di dunia
(Hart, 1982:4). Cukup banyak contoh-contoh sikap adil yang ditampakkan oleh
Rasulullah, antara lain: An-Nu’man bin Basyir mengatakan, “Ayahku memberi
sesuatu pemberian kepadaku. Lalu ibuku Amrah bin Rawahah berkata, “Aku tidak
rela sebelum engkau persaksikan hadiah itu di hadapan Rasulullah SAW”.
Ayahku lalu menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah,
sesungguhnya aku telah memberikan suatu pemberian kepada anakku dari Amrah
bin Rawahah. Kemudian aku diperintahkannya untuk bersaksi kepada engkau!”

Rasulullah SAW lalu berkata, “Apakah engkau juga telah memberi kepada
semua anakmu pemberian seperti ini?” An-Nu’man menjawab, “Tidak”. Beliau
lalu bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-
anakmu!” Kemudian ayahku pulang dan menarik kembali pemberiannya. Dan ada
seorang perempuan Makhdzumiyyah mencuri. Mereka berkata, “Siapakah yang
akan membicarakan hal ini kepada Rasulullah SAW?” Tidak ada seorangpun
yang berani kecuali (kekasih wanita itu) Usman bin Zaid r.a. Lalu ia
membicarakan hal tersebut dengan Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Apakah
kamu akan bertindak sebagai pembela dalam pelanggaran hukum Allah?”.
Kemudian Rasulullah SAW berdiri serta berkhotbah. Diantara isi khotbahnya
beliau bersabda, “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu
adalah apabila ada seorang dari golongan bangsawan mencuri, mereka biarkan
saja, tetapi bila yang mencuri itu dari golongan bawah (lemah), dia dijatuhi
hukuman. Demi Allah andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti akan
kupotong tangannya.” (Al-Hufiy, 2000:189). Dan masih banyak contoh lain
tentang keadilan Rasulullah.

11
Budaya akademik akan dapat terwujud dengan syarat sikap-sikap positif
juga dimiliki. Di antara sikap positif yang harus dimiliki adalah etos kerja yang
tinggi,sikap terbuka dan berlaku adil. Arti penting dari ketiga sikap tersebut dapat
diringkas sebagai berikut: Untuk dapat meningkatkan etos kerja seorang muslim
harus terlebih dahulu memahami tugasnya sebagai manusia yaitu sebagai khalifah
Allah SWT di muka bumi dan sebagai hamba yang berkewajiban untuk beribadah
kepada Allah SWT. Beberapa petunjuk Al-Qur’an agar dapat meningkatkan etos
kerja antara lain:

1. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.

2. Bekerja harus sesuai dengan bidangnya dan ini harus diberi catatan bahwa
etos kerja yang tinggi tidak boleh menjadikan orang tersebut lupa kepada
Allah SWT.

Sikap positif selanjutnya adalah sikap terbuka dan jujur, seseorang tidak
mungkin meraih keberhasilan dengan cara mempunyai etos kerja yang tinggi kalu
tidak memiliki sikap terbuka dan jujur. Karena orang yang tidak terbuka maka
akan cenderung menutup diri sehingga tidak dapat bekerjasama dengan orang lain.
Apalagi kalau tidak jujur maka energinya akan tersita untuk menutupi
ketidakjujuran yang dilakukan. Maka Al-Qur’an dan Hadits memberi apresiasi
yang tinggi terhadap orang yang terbuka dan jujur. Buah dari keterbukaan
seseorang maka akan melahirkan sikap adil. Makna yang diperkenalkan Al-
Qur’an bukan hanya dalam aspek hukum melainkan dalam spektrum yang luas.
Dari segi kepada siapa sikap adil itu harus ditujukan Al-Qur’an memberi petunjuk
bahwa sikap adil disamping kepada Allah SWT dan orang lain atau sesama
makhluk juga kepada diri sendiri.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Budaya akademik dalam pandangan Islam adalah suatu tradisi atau


kebiasaan yang berkembang dalam dunia Islam menyangkut persoalan keilmuan
atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah tradisi ilmiah yang dikembangkan
Islam.

Diantara poin-poin pentingnya adalah pertama, tentang penghargaan Al-


Qur’an terhadap orang-orang yang berilmu, di antaranya adalah wahyu Al-quran
yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu
pengetahuan, tugas Manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau

13
memiliki ilmu pengetahuan, muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk
menambah ilmu, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah SWT.

Disamping memberikan apresiasi terhadap orang yang berilmu poin


penting lain yang dijelaskan Al-Qur’an adalah bahwa iman seorang muslim tidak
akan kokoh kalau tidak ditopang dengan ilmu, demikian juga dengan amal shalih,
tugas kekhalifahan manusia tidak akan dapat sukses kalau tidak dilandasi dengan
ilmu karakter seorang muslim yang berbudaya akademik adalah orang yang selalu
mengingat Allah yang disertai dengan ikhtiar untuk selalu menggunakan akalnya
untuk memikirkan ciptaan Allah SWT. Serta selalu berusaha menambah ilmu
dengan membuka diri terhadap setiap informasi yang baik dan kemudian memilih
yang terbaik untuk dijadikan pegangan dan diikutinya. Budaya akademik akan
dapat terwujud dengan syarat sikap-sikap positif juga dimiliki. Diantara sikap
positif yang harus dimiliki adalah etos kerja yang tinggi, sikap terbuka dan
berlaku adil. Arti penting dari ketiga sikap tersebut dapat diringkas sebagai berikut
untuk dapat meningkatkan etos kerja seorang muslim harus terlebih dahulu
memahami tugasnya sebagai manusia yaitu sebagai khalifah Allah SWT di muka
dan juga sebagai hamba yang berkewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.

Beberapa petunjuk Al-Qur’an agar dapat meningkatkan etos kerja antara


lain, mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, bekerja harus sesuai dengan
bidangnya dan ini harus diberi catatan bahwa etos kerja yang tinggi tidak boleh
menjadikan orang tersebut lupa kepada Allah SWT. Sikap positif selanjutnya
adalah sikap terbuka atau jujur. Seseorang tidak mungkin akan dapat meraih
keberhasilan dengan cara mempunyai etos kerja yang tinggi kalau tidak memiliki
sikap terbuka dan jujur. Karena orang yang tidak terbuka, maka akan cenderung
menutup diri sehingga tidak dapat bekerja sama dengan yang lain. Apalagi kalau
tidak jujur maka energinya akan tersita untuk menutupi ketidakjujuran yang
dilakukan. Maka Al-Qur’an dan Hadis memberi apresiasi yang tinggi terhadap
orang yang terbuka dan jujur. Buah dari keterbukaan seseorang maka akan
melahirkan sikap adil. Makna adil yang diperkenalkan Al-Qur’an bukan hanya

14
dalam aspek hukum melainkan dalam spektrum yang luas. Dari segi kepada siapa
sikap adil itu harus ditujukan Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa sikap adil di
samping kepada Allah SWT dan orang lain atau sesama makhluk juga kepada diri
sendiri.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://alifviarahma.blogspot.co.id/2015/06/budaya-akademik-etos-kerja-
sikap.html?m=1

http://fisikaituunique.blogspot.co.id/2014/10/contoh-masalah-budaya-akademik-
etos.html?m=1

14