Anda di halaman 1dari 34

AQIDATUL AWAM

‫ميحرلا نمحرلا هللا مسب‬


‫َاِئ ْاإل ْح َس ِان‬ ِ ِ ‫هللا َو َّالر ْْح ِن َو ِِب َّلر ِح ْ ِْي د‬ ِ ‫َأبْدَ ُأ ب ِْسـ ِم‬
ِ ْ
ِ‫فَالْ َح ْمدُ ِهلل الْ َق ِد ْ ِْي ْا َأل َّولِ َاألآ ِخ ِر ال َب ِـاِق ِب َال ََت ُّول‬
َ
Saya memuji dengan menyebut Nama Allah SWT, Nama al-Rahman dan al-Rahim yang selalu berbuat
kebaikan. Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Qadim (tidak ada permulaannya), dan Maha Awal
Yang Maha Akhir, dan kekal tanpa ada perubahan.

‫َس َمدَ ا عَ ََل النَّ ِ ِ ِّب خ ْ َِْي َم ْن قَ ْد َو َّحدَ ا‬


ْ َ ‫الس َال ُم‬ َّ ‫ُ َُّث‬
َّ ‫الص َال ُة َو‬
Kemudian shalawat dan salam sejahtera semoga selamanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW sebagai orang terbaik yang mengesakan Allah SWT

Syarh:
Muncul pertanyaan, apa perlunya mengucapkan salawat kepada Nabi Muhammad SAW padahal
beliau adalah orang yang mulia dan terpilih, dengan jaminan surga dari Allah SWT?
Jawaban dari pertanyaan ini adalah, di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa mengucapkan
shalawat adalah teladan dari Allah SWT dan para malaikat yang mengucapkan shalawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Sekaligus perintah Allah SWT kepada seluruh umat Islam untuk membaca
shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT:

)65 ،‫ون عَ ََل النَّ ِ ِ ِّب ََي َأُّيُّ َا َّ ِاَّل َين َءا َمنُوا َصلُّوا عَلَ ْي ِه َو َس ِل ِّ ُموا ت َ ْس ِلي ما (ا أألحزاب‬
َ ُّ ‫هللا َو َم َالئِ َكتَ ُه يُ َصل‬
َ ‫ا َّن‬.
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang
ِ
yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
(QS. Al-Ahzab : 56).
Sebagian ulama menyatakan bahwa shalawat adalah mendoakan Nabi Muhammad SAW, agar
selalu mendapatkan shalawat dan salam Allah SWT. Mendoakan Nabi Muhammad SAW agar pada
masa yang akan datang, rahmat dan salam Allah SWT itu akan terus diberikan kepada Nabi
Muhammad SAW.
Sebagian lain mengatakan bahwa walaupun shalawat adalah mendo’akan Nabi Muhammad
SAW namun pada hakikatnya ketika seorang membaca shalawat ia sedang bertawassul dan
mengharapkan barokah Allah SWT turun kepada dirinya dengan perantara shalawat tersebut. Oleh
karena itulah ketika seseorang membaca shalawat, niatnya tidak untuk mendoa’kan Nabi Muhammad
SAW, tetapi mengharap kepada Allah SWT agar semua keinginannya bisa terkabulkan dengan
barokah shalawat yang dibaca.

‫َوأ ِ ِِل َو َصـ ْح ِب ِه َو َم ْن تَ ِب ْع َس ِب ْي َل ِد ْي ِن الْ َح ِّ ِق غَ ْ َْي ُم ْب َت ِد ْع‬


Begitu pula shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada keluarga serta para sahabatnya dan
siapa pun yang mengikuti jalan agama yang benar tanpa berbuat bid’ah.

Syarh:
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW kemudian diiringi dengan shalawat kepada
keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksud sahabat Nabi adalah orang-orang
yang pernah melihat Nabi dalam keadaan Islam dan meninggalkan dunia tetap pada keislamannya.
Sahabat adalah orang-orang yang mulia, dan selalu dalam petunjuk Allah SWT, walaupun bukan
berarti mereka tidak pernah berbuat salah dan dosa. Di antara mereka ada yang telah dijamin masuk
surga. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta
bahka nyawa demi kejayaan agama Allah SWT. Taat beribadah kepada Allah SWT dengan sepenuh
hati, bersujud demi mengabdi kepada Allah SWT. Firman Allah SWT:

ِ ‫ُون فَضْ مال ِم َن‬


‫هللا َو ِرضْ َواًنم‬ ْ ُ ‫هللا َو َّ ِاَّل َين َم َع ُه َأ ِشدَّا ُء عَ ََل الْ ُكفَّ ِار ُر َ َْحا ُء بَيَْنَ ُ ْم تَ َر‬
َ ‫اُه ُركَّ معا ُُسَّدم ا ي َ ْبتَغ‬ ِ ‫ُم َح َّم ٌد َر ُسو ُل‬
)92 ،‫ (الفتح‬.‫الس ُجو ِد‬ ُّ ‫اُه ِِف ُو ُجو ِههِ ْم ِم ْن َأثَ ِر‬ ْ ُ َ ‫ ِس ي‬.
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan
sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
bekas sujud." (QS. Al-Fath : 29).
Atas jasanya yang besar pada perjuangan menegakkan agama Allah SWT, Allah SWT
memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga yang siap menanti kedatangan
mereka di akhirat. Firman Allah SWT:

‫هللا َعَنْ ُ ْم َو َرضُ وا َع ْن ُه َو َأعَ َّد لَه ُْم‬


ُ ‫ِض‬ ْ ُ ‫ون ِم َن الْ ُمه َِاج ِر َين َو ْا َألن َْص ِار َو َّ ِاَّل َين ات َّ َب ُع‬
َ ِ ‫وُه ِِب ْح َس ٍان َر‬ َ ُ‫ون ْا َأل َّول‬
َ ‫السا ِب ُق‬
َّ ‫َو‬
ِ
)011 ،‫ (التوبة‬.‫َاِل َين ِفهيَا َأبَدما َذ ِ َِل الْ َف ْو ُز الْ َع ِظ ُْي‬ ِ ِ ‫ات َ َْت ِري َ َْتَتَ َا ْا َألْنْ َ ُار خ‬
ٍ َّ ‫ َجن‬.
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan
yang besar." (QS. al-Taubah : 100).
Ketika Allah SWT telah memberikan ridha-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya
kita sebagai umat Islam wajib mengakui serta menghormati dan mendo’akan sahabat Nabi Muhammad
SAW. Tidak menyalahkan apalagi mengkafirkan mereka. Sabda Nabi Muhammad SAW:

ِ ‫ َع ْن َأ ِ ِْب ه َُرْي َر َة قَا َل قَا َل َر ُس ْو ُل‬J ‫ِس ِب َي ِد ِه لَ ْو َأ َّن َأ َحدَ ُ ُْك َأنْ َف َق‬
‫هللا‬ ْ ِ ‫اِب فَ َو َّ ِاَّل ْي ن َ ْف‬ َ ْ ‫اِب َإل ت َ ُس ُّب ْوا َأ‬
ْ ِ ‫ْص‬ َ ْ ‫َإل ت َ ُس ُّب ْوا َأ‬
ْ ِ ‫ْص‬
)4501 :‫ رمق‬،‫ (ْصيح مسمل‬.‫ ِمثْ َل ُأ ُح ٍد َذ َه مبا َما َأد َْركَ ُم َّد َأ َح ِد ِ ُْه َو َإل ن َِص ْي َف ُه‬.
“Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para
sahabat, janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku!. Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata
salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak
akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka”. (Shahih Muslim [4610]).
Para sahabat tidak melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama, termasuk pula tidak akan
berbuat bid’ah yang terlarang dalam agama. Apa yang mereka kerjakan, walaupun tidak dicontohkan
secara langsung oleh Rasulullah SAW, bukanlah sebuah bid’ah yang buruk (sayyi’ah), tetapi bid’ah
yang baik (hasanah) yang dianjurkan dalam agama. Karena Rasulullah SAW menganjurkan umat
Islam untuk mengikuti apa yang beliau teladankan serta apa yang diteladankan oleh para sahabatnya.
Sabda Rasulullah SAW:
ِ ‫ول‬
‫هللا‬ ُ ‫السلَ ِم ِّ ِي َأن َّ ُه َ َِس َع الْ ِع ْر َِب َض ْب َن َس ِاري َ َة قَا َل َو َع َظنَا َر ُس‬
ُّ ‫ َع ْن َع ْب ِد َّالر ْ َْح ِن ْب ِن َ َْع ٍرو‬J: ‫فَ َعلَ ْي ُ ُْك ِب َما َع َرفْ ُ ُْت ِم ْن‬
)05602 ،‫ (مس ند اْحد بن حنبل‬.‫ ُسن َّ ِِت َو ُس نَّ ِة الْ ُخلَ َفا ِء َّالر ِاش ِد َين الْ َمهْ ِد ِي ِّ ْ َي‬.
"Dari Abdurrahman bin Amr as-Sulamy, sesungguhnya ia mendengar Irbadh bin Sariyah
berkata, Rasulullah SAW memberikan wejangan kepada kami, “Maka kalian wajib berpegang teguh
pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin (sahabat yang empat yang
terpilih) yang mendapatkan petunjuk dari Allah.” (Musnad Ahmad Ibn Hanbal, 16519).

ِ ْ ‫َوب َ ْعدُ فَاعْ َ ْمل ب ُِو ُج ْو ِب الْ َم ْع ِرفَ ْة ِم ْن َو ِاج ٍب ِ ِهلل ِع‬
‫ْشْي َن ِص َف ْة‬
Setelah apa yang dikemukakan tadi, ketahuilah tentang kewajiban mengetahui ada dua puluh
sifat yang wajib bagi Allah SWT.

Syarh:
Aqoid lima puluh adalah 50 hal yang wajib ketahui dan diyakini oleh seorang yang beriman
kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

‫ك َع ِق ْيدَ ٍة ََي ُِب عَلَ ْي َه َأ ْن ي َ ْع ِر َف لَهَا َد ِل ْي مال ِا ْ َْجا ِل ِّيا َأ ْو‬ ِِّ ُ ‫ِاعْ َ ْمل َأن َّ ُه ََي ُِب عَ ََل‬
ُّ ُ ‫ك ُم ْس ِ ٍمل َأ ْن ي َ ْع ِر َف َ َْخ ِس ْ َي َع ِق ْيدَ مة َو‬
)3 ،‫تَ ْف ِص ْي ِل ًّيا (كفاية العوام‬.
"Ketahuilah bahwa setiap muslim (laki-laki atau perempuan) wajib mengetahui lima puluh
akidah beserta dalil-dalilnya yang bersifat global atau terperinci." (Kifayatul 'Awam, 3).

Lima puluh keyakinan itu terdiri dari:


1. Keimanan kepada Allah SWT:
a. Sifat wajib bagi Allah SWT = 20
b. Sifat mustahil bagi Allah SWT = 20
c. Sifat jaiz bagi Allah SWT = 1
2. Keimanan kepada para rasul:
a. Sifat wajib bagi rasul = 4
b. Sifat mustahil bagi rasul = 4
c. Sifat jaiz bagi rasul = 1
Jumlah = 50
Yang dimaksud sifat wajib di sini adalah sesuatu yang pasti ada atau dimiliki Allah SWT atau
rasul-Nya, di mana akal tidak akan membenarkan jika sifat-sifat itu tidak ada pada Allah SWT dan
rasul-Nya.
Mustahil merupakan perkara yang tidak mungkin ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Kebalikan
dari sifat wajib, yaitu akal tidak akan terima jika sifat-sifat tersebut ada pada Allah SWT dan para
rasul-Nya.
Sedangkan jaiz adalah sifat yang tidak harus ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Dengan
pengertian bahwa ada dan tidak adanya sifat ini pada Allah SWT dan rasul-Nya bisa diterima oleh
akal.

‫اهلل َم ْو ُج ْو ٌد قَ ِد ْ ٌْي َِب ِ ِْق ُمخَا ِل ٌف لِلْ َخلْ ِق ِ ِْبإل ْط َال ِق‬
ُ َ‫ف‬
ِ
Maka Allah SWT adalah Dzat yang bersifat Wujud (Ada), Qadim (tidak ada permulaan-Nya),
Kekal, dan berbeda dengan makhluk secara mutlak.
Syarh:
Sifat Allah SWT yang dua puluh tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wujud (Ada)
Allah SWT adalah Tuhan yang wajib kita sembah itu pasti ada. Allah SWT, ada tanpa ada
perantara sesuatu dan tanpa ada yang mewujudkan. Firman Allah SWT:

)04،‫الص َال َة ِ َِّل ْك ِري (طه‬


َّ ‫هللا َإل ا َ َِل اإلَّ َأًنَ فَا ْع ُب ْد ِِن َو َأ ِق ِم‬
ُ َ‫ان َِِّن َأًن‬.
ِ ِ ِ
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku
dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha : 14).

Kalau sekarang manusia tidak bisa melihat Allah SWT, itu karena memang ada hijab
sehingga manusia tidak mampu melihat Allah SWT, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa AS
(QS. Al-A'raf : 143). Kelak di surga, ketika hijab itu diangkat, manusia akan mampu melihat jelas
Dzat Allah SWT dan dengan mata telanjang. Sabda Nabi SAW:

ِ ‫ َع ْن َج ِري ِر ْب ِن َع ْب ِد‬J ‫فَنَ َظ َر ا ََل الْ َق َم ِر لَ ْي َ ََل الْ َب ْد ِر فَ َقا َل ان َّ ُ ُْك َس َ ََت ْو َن َ بر َّ ُ ُْك َ َمَك تَ َر ْو َن ه ََذا‬
‫هللا قَا َل ُكنَّا ِع ْندَ النَّ ِ ِ ِّب‬
ِ ِ
)‫ون ِِف ُر ْؤيَته (رواه البخاري ومسمل‬ ِ ِ َ ‫الْ َق َم َر إل تُضَ ا ُّم‬.
َ
"Dari Jarir bin Abdillah RA ia berkata, "Suatu malam kami berkumpul bersama Nabi SAW.
Kemudian Nabi SAW melihat bulan purnama, lalu bersabda, "Sesungguhnya kelak kalian akan
melihat Tuhan kalian (sama jelasnya ) seperti kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak silau
ketika melihatnya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Adanya alam semesta beserta isinya merupakan tanda bahwa Allah SWT ada. Dialah yang
menciptakan alam raya yang menakjubkan ini.
Kebalikan sifat ini adalah sifat adam (‫م‬ ‫)العد‬, yakni Allah SWT mustahil tidak ada.
2. Qidam (Dahulu)
Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah SWT pasti lebih dahulu sebelum
makhluk. Firman Allah SWT:

)3،‫َش ٍء عَ ِل ٌْي (احلديد‬ ِِّ ُ ِ‫الظا ِه ُر َوالْ َبا ِط ُن َوه َُو ب‬


َْ ‫ك‬ َّ ‫ه َُو ْا َأل َّو ُل َو ْاأل آ ِخ ُر َو‬.
“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui
segala sesuatu." (QS. al-Hadid : 3).

Dahulu bagi Allah SWT tanpa awal. Tidak berasal dari tidak ada kemudian menjadi Ada.
Sabda Nabi SAW:

ِ ‫ قَا َل َر ُس ْو ُل‬،‫ َع ْن ِ َْع َر َان ْب ِن ُح َص ْ ٍي‬J)‫َش ٌء غَ ْ ُْي ُه (رواه البخاري والبهيقي‬


‫هللا‬ ْ َ ‫هللا َولَ ْم يَ ُك ْن‬
ُ ‫ ََك َن‬،.
"Dari Imron bin Hushain RA, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT ada (dengan
keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya." (HR. al-Bukhari dan al-
Baihaqi).
Kebalikannya adalah huduts (‫)حدوث‬, yakni mustahil Allah SWT itu baru dan memiliki
permulaan.
3. Baqa’ (Kekal)
Arti baqa' adalah bahwa Allah SWT senantiasa ada, tidak akan mengalami kebinasaan atau
rusak. Dalam al-Qur’an disebutkan:

)92-95 ،‫ك َم ْن عَلَهيْ َا فَ ٍان َوي َ ْب َقى َو ْج ُه َ ِرب ِّ َك ُذو الْ َج َاللِ َو ْاإل ْك َرا ِم (الرْحن‬
ُّ ُ .
ِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan." (QS. ar-Rahman : 26-27).

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta. Dia selalu ada selama-lamanya
dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya kepada-Nya seluruh kehidupan ini
akan kembali. Firman Allah SWT:
َ ‫َاِل اإلَّ َو ْ َْج ُه َ ُِل الْ ُح ْ ُُك َوالَ ْي ِه تُ ْر َج ُع‬
)88 ،‫ون (القصص‬ ٌ ِ ‫َش ٍء ه‬
ْ ُّ ُ .
َ ‫ك‬
ِ ِ
"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya
kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. al-Qashash : 88).
Kebalikannya adalah sifat Fana ( ‫)فناء‬, yang berarti mustahil Allah SWT tidak kekal.
4. Mukhalafatu Lilhawaditsi, (Berbeda dengan makhluk)
Allah SWT pasti berbeda dengan segala yang baru (makhluk). Perbedaan Allah SWT dengan
makhluk itu mencakup segala hal, baik dalam sifat, dzat dan perbuatannya. Firman Allah SWT:

)00 ،‫ (الشورى‬.‫الس ِمي ُع الْ َب ِص ُْي‬ ْ َ ‫لَيْ َس َ َِكث ِ ِِْل‬.


َّ ‫َش ٌء َوه َُو‬
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat." (QS. as-Syura : 11).
Apapun yang terlintas di dalam benak dan pikiran seseorang, maka Allah SWT tidak seperti
yang dipikirkan itu. Imam Ahmad mengatakan:

)91 ،‫ (الفرق بي الفرق‬.‫اهلل ِ ِِب َال ِف َذ ِ َِل‬ َ ِ ‫ َمهْ َما ت ََص َّو ْر َت ِب َب‬.
ُ َ‫اِل ف‬
"Apapun yang terlintas di benakmu (tentang Allah SWT) maka Allah SWT tidak seperti yang
dibayangkan itu." (Al-Farqu Bainal Firoq, 20).
Karena itulah seorang mukmin tidak diperkenankan membahas Dzat Allah SWT karena ia
tidak akan mampu untuk melakukannya. Justru ketika ia menyadari akan kelemahannya itu, maka
pada saat itu sebenarnya ia telah mengenal Allah SWT. Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq
mengatakan:

َ ْ ‫َالْ َع ْج ُز َع ْن د َْر ِك ْاإلد َْر ِاك ِاد َْر ٌاك َوالْ َب ْح ُث َع ْن َذاتِ ِه ُك ْف ٌر َوا‬
‫ْش ٌاك‬
ِ
Ketidak-mampuan untuk mengetahui Allah SWT adalah sebuah kemampuan. Sedangkan
membahas Dzat Allah SWT adalah kufur dan syirik.
Kebalikannya adalah mumatsalatuhu lilhawaditsi ( ‫)مماثلته للحوادث‬, yakni mustahil Allah

SWT sama dengan makhluk-Nya.


ِِّ ُ ‫َح قَا ِد ْر ُم ِريْ ٌد عَا ِل ٌم ِب‬
َْ ‫ك‬
‫َش‬ ٌ ِ َ‫َوق‬
ْ َ ‫اِئ غَ ِِن َو َوا ِح ٌد َو‬
Allah SWT adalah Dzat Yang berdiri sendiri, Tunggal, Hidup, Berkuasa, Berkehendak dan
Mengetahui segala sesuatu.

Syarh:
5. Qiyamuhu binafsih (berdiri sendiri)
Berbeda dengan makhluk yang masih membutuhkan sesuatu yang lain diluar dirinya, Allah
SWT tidak butuh terhadap sesuatu apapun. Allah SWT tidak membutuhkan tempat dan dzat yang
menciptakan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
)5 ،‫هللا لَغ ِ ٌَِّن َع ِن الْ َعالَ ِم َي (العنكبوت‬
َ ‫ا َّن‬.
ِ
"Sesungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta
alam." (QS. al-Ankabut : 6).

Allah SWT Maha Kuasa untuk mewujudkan sesuatu tanpa membutuhkan bantuan makhluk-Nya.
Tetapi merekalah yang membutuhkan Allah SWT. Firman Allah SWT:

)06 ،‫هللا ه َُو الْغ ِ َُِّن الْ َح ِميدُ (فاطر‬ ِ ‫ ََي َأُّيُّ َا النَّ ُاس َأن ُ ُُْت الْ ُف َق َرا ُء ا ََل‬.
ُ ‫هللا َو‬
"Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya
ِ
(tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (QS. Fathir : 15).

Allah SWT tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Bahkan terhadap ibadah yang
dilakukan seorang hamba, Allah SWT tidak membutuhkannya. Ketika Allah SWT mensyariatkan
shalat, puasa, zakat, haji, sedekah dan lain sebagainya, maka itu bukan karena Allah SWT
membutuhkannya. Tetapi karena di dalamnya ada manfaat besar yang akan dirasakan oleh orang-
orang yang melaksanakan-Nya. Jadi ibadah itu bukan untuk kepentingan Allah SWT, tetapi itu
adalah kebutuhan kita sebagai hamba.
Kebalikan dari sifat ini adalah ihtiyajuhu li ghairihi ( ‫ )احتياجه لغْيه‬artinya mustahil Allah
SWT butuh kepada makhluk.

6. Wahdaniyat (Esa/satu)
Allah SWT satu/esa, tidak ada tuhan selain Diri-Nya. Allah SWT Maha Esa dalam Dzat, Sifat
dan perbuatan-Nya. Firman Allah SWT:

َ ‫وَح ا َ ََّل َأن َّ َما الَه ُ ُُْك ا ٌِل َوا ِح ٌد فَه َْل َأن ُ ُْْت ُم ْس ِل ُم‬
)018 ،‫ون (ا أألنبياء‬ َ ُ‫قُ ْل ان َّ َما ي‬.
ِ ِ ِ ِ
"Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu
adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". (QS. al-Anbiya' :
108).
Satu dalam Dzat Artinya, bahwa Dzat Allah SWT satu, tidak tersusun dari beberapa unsur
atau anggota badan dan tidak ada satupun dzat yang menyamai Dzat Allah SWT.
Satu dalam sifat artinya bahwa sifat Allah SWT tidak terdiri dari dua sifat yang sama, dan
tidak ada sesuatupun yang menyamai sifat Allah SWT.
Dan satu dalam perbuatan adalah bahwa hanya Allah SWT yang memiliki perbuatan. Dan
tidak satupun yang dapat menyamai perbuatan Allah SWT.
Sifat yang mustahil bagi-Nya yaitu “ta’addud" ( ‫ )تعدد‬berbilangan, bahwa mustahil Allah lebih
dari satu. Firman Allah SWT:
َ ‫هللا َر ِ ِّب الْ َع ْر ِش َ ََّعا ي َ ِص ُف‬
)99 ،‫ون (ا أألنبياء‬ ِ ‫هللا لَ َف َسدَ َتَ فَ ُس ْب َح َان‬
ُ َّ‫لَ ْو ََك َن ِف ِهي َما َءا ِلهَ ٌة اإل‬.
ِ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah
rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
(QS. al-Anbiya’: 22).

7. Qudrat (Kuasa)
Allah SWT Maha Kuasa dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Kekuasaan Allah SWT
meliputi terhadap segala sesuatu. Kuasa untuk mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu yang
dikehendaki-Nya. Allah SWT berfirman:

)5 ،‫َش ٍء قَ ِد ٌير (احلْش‬ ِِّ ُ ‫هللا عَ ََل‬


َْ ‫ك‬ ُ ‫ َو‬.
“Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. al-Hasyr : 6).
Kalau Allah SWT tidak kuasa, tentu Ia tidak akan mampu meciptakan alam raya yang sangat
menakjubkan ini. Karena itu, mustahil bagi Allah SWT memiliki sifat al-'Ajzu (‫ )العجز‬yang berarti
lemah.

8. Iradah (Berkehendak)
Allah SWT Maha berkehendak, dan tidak seorangpun yang mampu menahan kehendak Allah
SWT. Dan segala yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan kehendak Allah SWT. Allah SWT
berfirman:

ُ ‫َضا َأ ْو َأ َرا َد ِب ُ ُْك ن َ ْف معا ب َ ْل ََك َن‬


َ ُ‫هللا ِب َما تَ ْع َمل‬
)00 ،‫ (الفتح‬.‫ون َخ ِبْيام‬ ِ ‫ِل لَ ُ ُْك ِم َن‬
ًّ َ ‫هللا َشيْئما ا ْن َأ َرا َد ِب ُ ُْك‬ ُ ِ ‫قُ ْل فَ َم ْن ي َ ْم‬.
ِ
"Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah
jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfa`at bagimu.
Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Fath : 11).
Allah SWT juga berfirman:

ُ ‫ان َّ َما َأ ْم ُر ُه ا َذا َأ َرا َد َشيْئما َأ ْن ي َ ُقو َل َ ُِل ُك ْن فَ َي ُك‬.


)89 ،‫ون (يس‬
ِ ِ
"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (QS. Yasin : 82).
Lawan dari sifat ini adalah (‫ )الكراهة‬yang mempunyai makna “terpaksa", yakni mustahil Allah
berbuat sesuatu karena terpaksa, atau tidak dengan kehendak-Nya sendiri.

9. Ilmu (Mengetahui)
Allah SWT adalah Dzat yang Maha Menciptakan, maka Ia pasti mengetahui segala sesuatu
diciptakan-Nya. Allah SWT mengetahui dengan jelas akan semua perkara yang jelas tampak
ataupun yang samar, tanpa ada perbedaan antara keduanya. Allah SWT berfirman:

)2 ،‫ (ا أألعَل‬.‫ان َّ ُه ي َ ْع َ ُمل الْ َجه َْر َو َما َ َْي َفى‬.


ِ
“Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS. al-A’la : 7).

Kebalikan sifat ini adalah al-jahlu (‫)اجلهل‬, yang berarti bodoh. Bahwa mustahil Allah SWT
bodoh atau tidak mengetahui pada apa yang diciptakan.
10. Hayat (Hidup)
Allah SWT Maha Hidup, dan hidup Allah SWT adalah kehidupan abadi, tidak pernah dan
tidak akan mati.

)68 : ‫ (الفرقان‬.‫ُوب ِع َبا ِد ِه َخبِْيام‬ ُ ‫ك عَ ََل ألْ َح ِّ ِي أ َّ َِّلي َإل ي َ ُم‬


ِ ‫وت َو َس ِ ِّب ْح ِ َِب ْم ِد ِه َو َك َف ٰى ِب ِه ب ُِذن‬ ْ َّ ‫ َوت ََو‬.
"Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah
dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya." (QS. al-
Furqan : 58).

Kebalikan dari sifat ini adalah al-mautu (‫)الموت‬, yang berarti mati. Yakni mustahil Allah SWT
mati.

ٌ ‫َ َِسـ ْي ٌع الْ َب ِص ْ ُْي َوالْ ُم َت َ ِ ِّك ُم َ ُِل ِص َف‬


‫ـات َس ْب َع ٌة تَنْتَ ِظ ُم‬
‫لَك ٌم ْاس َت َم ْر‬ َ َ ‫َص َح َيا ٌة الْ ِع ْ ُمل‬
ْ َ َ ‫فَ ُق ْـد َر ٌة ا َرا َد ٌة َ َْس ٌع ب‬
ِ
Allah SWT juga Maha Mendengar, Melihat, dan Berbicara
Dia mempunyai tujuh sifat yang teratur, Yaitu sifat Qudrat, Iradat, Sama', Bashar Hayat, Ilmi dan
Kalam yang berlangsung terus.

Syarh:
11. Sama’ (Mendengar)
Allah SWT Maha Mendengar. Namun pendengaran Allah SWT tidak sama dengan
pendengaran manusia yang bisa dibatasi ruang dan waktu. Allah SWT mendengar dengan jelas
semua yang diucapkan hamba-Nya. Pendengaran Allah SWT tidak berbeda pada perkara yang
dhahir atau yang bathin. Firman Allah SWT:

)5 : ‫ (اِلخان‬.‫ان َّ ُه ه َُو أ َّلس ِمي ُع ألْ َع ِل ُْي‬.


ِ
"Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. ad-Dukhan : 6).
Kebalikan dari sifat ini adalah al-shamamu (‫ )الصمم‬yang berarti tuli. Yakni bahwa mustahil
Allah SWT itu tuli.

12. Bashor (Melihat)


Allah SWT Maha melihat segala sesuatu. Baik yang nampak ataupun yang samar. Bahkan
andaikata ada semut yang sangat hitam berjalan di tengah malam yang gelap gulita, Allah SWT
dapat melihatnya dengan jelas.

ْ َ ‫فَا ِط ُر أ َّلس َم َاو ِات َوأ َأل ْر ِض َج َع َل لَ ُُك ِِّم ْن َأن ُف ِس ُ ُْك َأ ْز َواج ما َو ِم َن أ َألنْ َعا ِم َأ ْزواج ما ي َ ْذ َر ُؤ ُ ُْك ِفي ِه لَيْ َس َ َِكث ِ ِِْل‬
‫َش ٌء َوه َُو‬
)00 : ‫ (الشورى‬.‫أ َّلس ِمي ُع ألْ َب ِص ُْي‬.
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya
kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-
lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. as-Syura : 11).
Kebalikan sifat ini adalah al-'ama (‫ )العمى‬yang berarti buta, yakni bahwa mustahil Allah SWT
itu buta.
13. Kalam (Berfirman)
Allah SWT Maha berfirman, namun firman Allah SWt tidak sama seperti perkataan manusia
yang terdiri dari suara dan susunan kata-kata. Firman Allah SWT, tanpa suara dan kata-kata.

ٰ َ ‫اُه عَلَ ْي َك ِمن قَ ْب ُل َو ُر ُس مال ل َّ ْم ن َ ْق ُص ْصه ُْم عَلَ ْي َك َو ََكَّ َم أ ُهلل ُم‬
)054 : ‫ (النساء‬.‫وَس تَ ْ ِكميم‬ ْ ُ َ‫ َو ُر ُس مال قَ ْد قَ َص ْصن‬.
"Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah
telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS. an-Nisa’ :164).
Kebalikan sifat ini adalah al-bakamu (‫)البُك‬, yang berarti bisu. Yakni bahwa mustahil Allah
SWT itu bisu.

Tujuh sifat ini adalah tergolong sifat Ma’ani. Sedangkan tujuh sifat setelahnya adalah sifat
Ma’nawiyyah. Yakni, 14) Qodiron (Allah Maha Berkuasa ), 15) Muridan (Allah Maha Berkehendak),
16) Aliman (Allah Maha Mengetahui), 17) Hayyan (Allah Maha Hidup), 18) Sami’an (Allah Maha
Mendengar), 19) Bashiron (Allah Maha Melihat), dan 20) Mutakalliman (Allah Maha Berbicara).

Jika diperinci, maka dua puluh sifat wajib bagi Allah SWT terbagi menjadi empat kriteria,
1. Sifat Nafsiyyah, yakni sifat untuk menegaskan adanya Allah SWT, di mana Allah SWT menjadi
tidak ada tanpa adanya sifat tersebut. Yang tergolong sifat ini hanya satu, yakni sifat wujud.
2. Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah
SWT. Sifat Salbiyah ini ada lima sifat yakni, 1) Qidam, 2) Baqo', 3) Mukhalafatu lil hawaditsi, 4)
Qiyamuhu binafsihi, dan 5) Wahdaniyyah.
3. Sifat Ma’ani, adalah sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT. Terdiri dari tujuh sifat, 1) Qudrat,
2) Iradah, 3) Ilmu, 4) Hayat, 5) Sama’, 6) Bashar dan 7) Kalam.
4. Sifat Ma’nawiyyah, adalah sifat yang mulazimah (menjadi akibat) dari sifat ma’ani, yakni 1)
Qadiran, 2) Muridan, 3) Aliman, 4) Hayyan, 5) Sami’an, 6) Bashiran, 7) Mutakalliman.

ِِّ ُ ‫َو َجائِ ٌز ِب َفض ْـ ِ ِِل َوعَ ْد ِ ِِل تَ ْر ٌك ِل‬


‫ك ُم ْم ِك ٍن َك ِف ْع ِ ِِل‬
Dan adalah boleh dengan anugerah Allah SWT dan keadilannya, ialah meninggalkan segala yang
mungkin seperti halnya Dia melakukannya.

Syarh:
Sifat jaiz Allah SWT ada satu, yakni:

‫ك ُم ْم ِك ٍن َأ ْو تَ ْر ُك ُه‬
ِِّ ُ ‫ِف ْع ُل‬
"Allah berhak untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan (tidak mengerjakan)-nya."

Tidak ada satu pun kekuatan yang dapat memaksa-Nya. Allah SWT memiliki hak penuh untuk
mengerjakan atau mewujudkan suatu perkara. Sebagaimana juga Allah SWT mempunyai pilihan bebas
untuk tidak menjadikannya. Firman Allah SWT:

ُ ‫َش ٍء ا َذأ آ َأ َردًْنَ ُه َأن ن َّ ُقو َل َ ُِل ُك ْن فَ َي ُك‬


)41: ‫ (النحل‬.‫ون‬ ْ َ ‫ان َّ َما قَ ْولُنَا ِل‬.
ِ ِ
"Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya
mengatakan kepadanya: "Kun (jadilah)", maka jadilah ia." (QS. an-Nahl : 40).
Tidak seorangpun dari makhluk Allah SWT yang berhak untuk memaksa Allah SWT untuk
melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Karena Allah SWT adalah Dzat yang Maha Memaksa dan
Maha Kuasa, tidak bisa dipaksa atau dikuasai. Sedangkan usaha dan doa manusia hanya sekedar
perantara untuk mengharap belas kasih Allah SWT dalam mengabulkan apa yang diinginkan.
Keputusan akhir adalah mutlak ada pada kekuasaa Allah SWT. Firman Allah SWT:

َ ‫ُْش ُك‬
)58 : ‫ (القصص‬.‫ون‬ ِ ‫ َو َرب ُّ َك َ َْيلُ ُق َما يَشَ ا ُء َو َ َْي َت ُار َما ََك َن لَ ُه ُم الْ ِخ َ َْي ُة ُس ْب َح َان‬.
ِ ْ ‫هللا َوتَ َع َاَل َ ََّعا ي‬
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan
bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)."
(QS. al-Qashash : 68).

‫َأ ْر َس َل َأنْ ِب َيا َذ ِو ْي فَ َطان َ ْة ِِب ِّ ِلص ْد ِق َوالتَّ ْب ِل ْيغ ِ َو ْا َأل َمان َْة‬
Allah SWT mengutus beberapa nabi yang memiliki kecerdasan, dengan perkataan yang benar,
menyampaikan perintah Allah SWT dan amanah.

Syarh:
Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan serta menyebarkan ajaran Islam
ke muka bumi. Nabi adalah seorang manusia yang menerima wahyu dari Allah SWT, namun tidak ada
perintah untuk disampaikan kepada kaumnya.
Sedangkan rasul, selain menerima wahyu ia juga diperintahkan untuk menyampaikannya kepada
kaum. Maka bisa dikatakan bahwa setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.
Sebagai utusan Allah SWT, mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dibekali Allah SWT
dengan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk Allah SWT yang lain. Begitu pula
mereka diberikan sifat-sifat kesempurnaan sebagai penguat atas risalah yang dibawa.
Khusus bagi Rasul, sebagai kesempurnaan dari risalah yang disampaikan, Allah SWT
menganugerahkan empat sifat kesempurnaan, yang pasti dimiliki oleh seorang rasul Allah SWT.
Yakni:
1. Shidiq (jujur)
Setiap rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Pujian Allah SWT kepada Nabi
Ibrahim:

)40: ‫ (مرْي‬.‫ َو ْاذ ُك ْر ِِف الْ ِكتَ ِاب ا ْب َرا ِه َْي ان َّ ُه ََك َن ِص ِِّديْ مقا ن َ ِبيًّا‬.
ِ ِ
"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi." (QS. Maryam :
41).
Setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan apa yang disampaikan pasti
benar adanya, karena memang bersumber dari Allah SWT. Firman Allah SAW:

)4-3 : ‫ (النجم‬,‫وَح‬ ٌ ْ ‫ ِا ْن ه َُو ِاإلَّ َو‬،‫ َو َما ي َ ِنط ُق َع ِن ألْه ََو ٰى‬.
ٰ َ ُ‫َح ي‬
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada
lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. an-Najm : 3-4).
2. Tabligh (menyampaikan)
Setiap rasul pasti menyampaikan apa yang diterima dari Allah SWT. Jika Allah SWT,
memerintahkan rasul untuk menyampaikan wahyu, seorang rasul pasti menyampaikan wahyu
tersebut kepada kaumnya. Dalam al-Qur’an disebutkan:
ِ ‫ ُأب َ ِل ِّغ ُ ُُْك ِر َسا َإل ِت َر ِ ِّ ِْب َو َأن َْص ُح لَ ُ ُْك َو َأ ْع َ ُمل ِم َن‬.
َ ‫هللا َما َإل تَ ْعلَ ُم‬
)59 : ‫ (ا أألعراف‬.‫ون‬
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu,
dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-A’raf : 62).

3. Amanah (bisa dipercaya)


Secara bahasa amanah berarti bisa dipercaya. Sedangkan yang dimaksud di sini bahwa setiap
rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya, karena rasul tidak mungkin
melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika. Setiap
rasul tidak mungkin terperosok ke dalam perzinahan, pencurian, menkonsumsi minuman keras,
berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya’, sombong,
dusta dan sebagainya.

4. Fathonah (cerdas)
Dalam menyampaikan risalah Allah SWT, tentu dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus
agar risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Karena itu, seorang rasul pastilah orang
yang cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang
membangkang dan menolak ajaran Islam. Dalam al-Qur’an disebutkan:

َّ ‫قَالُوا ََين ُُوح قَ ْد َجا َدلْ َتنَا فَأَ ْك َ َْث َت ِجدَ الَنَا فَأْتِنَا ِب َما تَ ِعدُ ًنَ ا ْن ُك ْن َت ِم َن‬.
)39 : ‫ (هود‬.‫الصا ِد ِق َي‬
ِ
"Mereka berkata: "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu
telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang
kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. Hud : 32).

‫َو َجائِ ٌز ِِف َح ِقِّهِ ْم ِم ْن َع َر ِض ِبغ ْ َِْي ن َ ْق ٍص َك َخ ِف ْي ِف الْ َم َر ِض‬


Adalah boleh bagi para Rasul mengalami kejadian yang dialami manusia. Tanpa mengurangi
derajat mereka seperti sakit yang ringan.

Syarh:
Walaupun sebagai seorang utusan Allah SWT yang memiliki sifat kesempurnaan melebihi
makhluk Allah SWT yang lain, namun hal itu tidak akan melepaskan mereka dari fitrah kemanusian
yang ada dalam dirinya. Seorang rasul tetaplah sebagai seorang manusia biasa yang berprilaku
sebagaimana manusia yang lain.
Para rasul Allah SWT memiliki sifat serta melakukan aktifitas sebagaimana manusia
kebanyakan. Sudah tentu yang dimaksud adalah prilaku dan sifat-sifat yang tidak mengurangi derajat
kenabian mereka di mata manusia. Seperti makan, minum, tidur, sakit dan semacamnya. Sedangkan
prilaku yang dapat merendahkan derajat kerasulannya, mereka tidak pernah melakukannya. Dan inilah
yang membedakan mereka dengan manusia yang lain.

‫ِع ْص َمَتُ ُ ْم َك َسائِ ِر الْ َم َالئِ َك ْة َو ِاج َب ٌة َوفَاضَ لُ ْوا املَـ َالئِ َك ْة‬
Mereka wajib terpelihara dari perbuatan dosa (ma'shum) seperti halnya Malaikat dan keutamaan
mereka melebihi para Malaikat.
Syarh:
Sebagaimana para malaikat, yang selalu patuh kepada perintah Allah SWT, dan tidak pernah
sekalipun melanggar larangan Allah SWT, maka para nabi dan rasul Allah SWT juga demikian.
Mereka adalah orang-orang yang dijaga Allah SWT dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa.
Para nabi dan Rasul adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi
larangannya.
Allah SWT telah menjaga para nabi dan rasul dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sejak
mereka masih kecil, sebelum mereka mengemban risalah Allah SWT, begitu pula setelah diangkat
menjadi nabi dan rasul Allah SWT.
Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengaku sebagai nabi Allah SWT, namun diantara
perbuatannya ada yang melanggar perintah Allah SWT, atau mempermainkan dan mempermudah
ajaran agama yang dibawa, maka pengakuannya sebagai nabi harus ditolak.

ِِّ ُ ‫َوالْ ُم ْس َت ِح ْي ُل ِض ُّد‬


‫ك َو ِاج ِب فَ ْاح َفظْ ِل َخ ْم ِس ْ َي ِ ُِب ْ ٍُك َو ِاج ِب‬
Sifat mustahil adalah kebalikan dari setiap sifat yang wajib, maka hafalkanlah aqaid lima puluh untuk
melaksanakan hukum yang wajib.

Syarh:
Sedangkan sifat mustahil bagi rasul adalah kebalikan dari sifat wajib yang empat di atas.
Perincian sifat mustahil bagi para rasul tersebut adalah sebagai berikut.:
1. Shidiq (jujur) = Kidzib (dusta)
2. Amanah (dapat dipercaya) = Khiyanat (tidak dapat dipercaya)
3. Tabligh (menyampaikan wahyu) = Kitman (menyembunyikan wahyu)
4. Fathonah (cerdas) = Baladah (bodoh)

Dengan demikian maka genaplah aqoid lima puluh yang wajib diketahui oleh umat Islam.

‫ك ُم َكَّ ٍف فَ َح ِقِّ ْق َوا ْغ َت ِ ْن‬ ِ ْ ‫تَ ْف ِص ْي ُل َ َْخ َس ٍة َو ِع‬


َّ ُ ‫ْشْي َن لَ ِز ْم‬
Rincian 25 rasul wajib diketahui oleh setiap orang mukallaf, maka pastikan dan raihlah jumlahnya.

Syarh:
Para rasul Allah SWT sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul.
Sedangkan nabi Allah SWT mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib untuk diketahui dan
ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah SWT yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka
yang disebutkan di dalam al-Qur’an. Dengan perincian sebagai berikut:

‫ك ُمتَّ َب ْع‬ ٌّ ُ ‫ُ ُْه أ آ َد ٌم اد ِْري ُْس ن ُْو ٌح ه ُْو ُد َم ْع َصـا ِل ْح َوا ْب َرا ِه ْ ُْي‬
ِ ِ
‫لُ ْو ٌط َوا ْسـ َماع ْي ُل اْس َُاق ك َذا ي َ ْع ُق ْو ُب يُ ْو ُس ُف َو َأيُ ْو ُب ا ْحتَ َذا‬
َ ْ ِ
ِ ِ
‫ُش َع ْي ُب ه َُار ْو ُن َو ُم ْو ََس َوالْيَ َس ْع ُذ ْو الْ ِك ْف ِل د َُاو ُد ُسلَ ْي َم ُان ات َّ َب ْع‬
‫َاِت َد ْع غَ َّيا‬ ٌ ِ ‫ِالْ َيــا ُس يُ ْون ُ ُس َز َك ِر ََّي َ َْي َي ِعيْ ََس َو َطـ َه خ‬
‫الـس َال ُم َوأ ِلـهِ ْم َمـا دَا َم ِت ْا َأل ََّي ُم‬
َّ ‫الصـ َال ُة َو‬ َّ ‫عَلَهيْ ِ ُم‬
Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih dan Ibrahim semuanya diikuti, Luth, Isma’il,
Ishaq, ya’qub, Yusuf, Ayyub yang mengikuti Syu’aib, Harun, Musa, Ilyasa’, Dzulkifli, Dawud dan
Sulaiman yang mengikuti Ilyas, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, dan Thaha (Nabi Muhammad) sebagai
nabi yang terakhir, maka tinggalkanlah jalan yang sesat. Shalawat dan salam sejahtera semoga selalu
terlimpahkan kepada mereka dan keluarganya, selama hari-hari masih berjalan.

Syarh:
Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah SWT yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi
Adam AS sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad SAW, nabi dan rasul Allah SWT
yang terakhir. Penegasan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul Allah SWT yang
terakhir ditegaskan langsung oleh Allah SWT dan Rasul-Nya di dalam al-Qur’an dan hadits. Di
antaranya adalah firman Allah SWT:

)41: ‫َش ٍء عَ ِل ْي مما (ا أألحزاب‬ ِِّ ُ ‫هللا ِب‬


َْ ‫ك‬ ُ ‫ـي َو ََك َن‬ ِ ‫ َما ََك َن َم َح َّم ٌد َأ َِب َأ َح ٍد ِم ْن ِر َجا ِل ُ ُْك َولَ ِك ْن َر ُس ْو َل‬.
َ َ ‫هللا َوخ‬
َ ْ ِّ‫َاِت النَّبِـ ِي‬
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasûlullâh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-
Ahzâb : 40).

Nabi SAW juga bersabda:

‫ (سنن‬.‫هللا ا َّن ال ِّ ِر َس َ َاَل َوالنُّ ُب َّو َة قَ ْد انْ َق َط َع ْت فَ َال َر ُسو َل ب َ ْع ِدي َو َإل ن ِ ََّب‬
ِ ‫ قَا َل َر ُسو ُل‬،‫اِل قَا َل‬
ٍ ِ ‫َع ْن َأن َ ِس ْب ِن َم‬
ِ
)9028 ،‫الَتمذي‬.
“Dari Anas bin Mâlik ia berkata, bahwa Rasûlullâh SAW bersabda, “Sesungguhnya misi kerasulan
dan kenabian telah selesai. Karena itu tidak ada rasul dan nabi setelah aku.” (Sunan al-Tirmidzî,
2198).

Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda:

‫ (مس ند اْحد‬.‫هللا َأًنَ ُم َح َّم ٌد النَّ ِ ُّب ْا ُأل ِِّم ُّي قَ َ ُاِل ثَ َال َث َم َّر ٍات َو َإل ن ِ ََّب ب َ ْع ِدي‬
ِ ‫هللا ْب َن َ َْع ٍرو قَا َل َر ُس ْو ُل‬
ِ ‫عن َع ْبد‬
)5308 ،
"Dari Abdullah bin Amar, Rasulullah SAW bersabda, "Saya adalah Muhammad, seorang nabi yang
ummi (beliau mengucapkannya tiga kali), dan tidak ada nabi setelah saya." (Musnad Ahmad, 6318).

Dalam hadits lain, Nabi SAW juga bersabda tentang Bani Israil:

َ ْ ‫َع ْن فُ َر ٍات الْ َق َّزا ِز قَا َل النَّ ِ ُّب ََكن َْت بَنُو ِا‬
َ َ ‫َسائِي َل ت َ ُس ُوسهُ ْم ْا َألنْ ِب َيا ُء َُكَّ َما ه‬
‫َِل ن ِ ٌَّب َخلَ َف ُه ن ِ ٌَّب َوان َّ ُه َإل ن ِ ََّب ب َ ْع ِدي‬
ِ
)3022 ، ‫(ْصيح البخاري‬.
"Dari Furat al-Qazzaz, Nabi SAW bersabda, " Bani Isra'il dulu dipimpin oleh para nabi. Setiap
seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi yang lain. Namun (berbeda dengan umatku,
karena) setelah aku tidak akan ada nabi lagi." (Shahih al-Bukhari, 3198).

Sabda Nabi Muhammad SAW tentang wafatnya putra beliau yang bernama Ibrahim:

َ ‫ِض َأ ْن يَ ُك‬
‫ون ب َ ْعدَ ُم َح َّم ٍد ن ِ ٌَّب‬ َ ‫َع ْن ا ْ ََسا ِعي َل قُلْ ُت ِإل ْب ِن َأ ِِب َأ ْو ََف َر َأيْ َت ا ْب َرا ِه َْي ا ْب َن النَّ ِ ِ ِّب قَا َل َم‬
َ ِ ُ‫ات َص ِغ مْيا َولَ ْو ق‬
ِ َ ِ
)6295 ، ‫ (ْصيح البخاري‬.‫عَ َاش ا ْنُ ُه َولك ْن إل ن ِ ََّب ب َ ْعدَ ُه‬. َ ِ ‫ب‬
“Dari Ismail, saya berkata kepada Ibnu Abi Awfa, “Engkau telah melihat Ibrahim putra Nabi SAW?"
Dia menjawab, "(Ya, saya melihatnya) meninggal ketika masih kecil (dalam usia delapan belas
bulan). Andaikan Allah SWT telah menetapkan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW,
niscaya Ibrahim akan hidup (tidak meninggal dunia). Tetapi (Allah SWT telah menentukan bahwa)
tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.” (Shahih al-Bukhari, 5726).

Rasul SAW juga bersabda:

ُ َ ‫ون َُكُّه ُْم يَ ْز ُ ُُع َأن َّ ُه ن ِ ٌَّب َو َأًنَ خ‬


‫َاِت النَّبِـ ِ ِّي َي َإل‬ َ ُ‫ون َك َّذاب‬ ُ ‫اَّلل َوان َّ ُه َس َي ُك‬
َ ُ‫ون ِِف ُأ َّم ِِت ثَ َالث‬ ِ َّ ‫َع ْن ثَ ْو َِب َن قَا َل قَا َل َر ُسو ُل‬
ِ
)9046 ،‫ (سنن الَتمذي‬.‫ن ِ ََّب ب َ ْع ِدي‬.
“Dari Tsaubân ia berkata, Rasûlullâh SAW bersabda, “Sesungguhnya kelak pada umatku ada tiga
puluh orang pendusta. Mereka semua mengaku dirinya sebagai nabi. (Maka janganlah percaya
karena sesungguhnya) akulah akhir para nabi dan tidak ada nabi setelahku.” (Sunan al-Tirmidzî,
2145).

Ini merupakan nubuwat Rasulullah SAW tentang adanya orang-orang yang mengaku sebagai
nabi setelah beliau. Dan dengan tegas Nabi SAW mengatakan agar umat Islam tidak mempercayai
mereka, karena beliau adalah akhir dan penutup para nabi.
Keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para
sahabat Nabi SAW, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, serta merta mereka menolaknya,
sekaligus menyatakan perang kepada mereka.

Terkait dengan meninggalnya putra beliau Ibrahim, Ibn Abbas mengatakan:

“Allah SWT bermaksud apabila aku tidak menjadikan dia (Muhammad SAW) penutup para nabi,
niscaya pasti aku ciptakan seorang anak untuknya yang akan menjadi nabi sesudahnya.” (Al-Shabuni,
Shafwah al-Tafâsir, juz II hal 529).

‫ْش َب َو َإلن َْو َم لَهُ ْم‬ َ ْ ‫ِل َّ ِاَّلي ِب َال َا ٍب َو ُأ ِّم َإل َأ‬
ْ َ ‫ك َإل‬ ُ َ ‫َوالْ َم‬
Dan Malaikat yang tanpa ayah dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur.

Syarh:
Umat Islam wajib percaya kepada adanya malaikat sebab hal itu sudah ditegaskan dalam al-
Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT:

‫ك َءا َم َن ِِب ِهلل َو َم َالئِ َك ِت ِه َو ُك ُت ِب ِه َو ُر ُس ِ ِِل َإل ن ُ َف ِّ ِر ُق ب َ ْ َي َأ َح ٍد ِم ْن‬ َ ُ‫َءا َم َن َّالر ُسو ُل ِب َما ُأ ْن ِز َل الَ ْي ِه ِم ْن َ ِرب ِّ ِه َوالْ ُم ْؤ ِمن‬
ٌّ ُ ‫ون‬
ِ
ْ َ َ
)986 ،‫ (البقرة‬.‫ ُر ُس ِ ِِل َوقَالُوا َ َِس ْعنَا َو َأ َط ْعنَا غف َران َك َربَّنَا َوال ْيك ال َمص ُْي‬.
ِ َ ْ ُ
ِ
“Rasul Telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya
dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat."
(Mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS. al-
Baqarah: 285).
Iman kepada malaikat artinya adalah meyakini bahwa Allah SWT telah menciptakan makhluk
yang terbuat dari cahaya, dan tidak pernah durhaka kepada Allah SWT.
Malaikat adalah makhluk yang sangat mengagumkan. Mereka tidak makan, tidak minum, tidak
tidur, tidak berkeluarga. Mereka dapat merubah bentuk dirinya menjadi manusia, sebagaimana terjadi
pada malaikat Jibril ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak jarang ia
menampakkan dirinya dalam bentuk manusia.
Masing-masing malaikat diberi tugas oleh Allah SWT. Di antara mereka ada yang ditugaskan
untuk menyampaikan wahyu, mencatat amal manusia, menjaga surga, mengikuti dan menghadiri
majlis dzikir. Di antara mereka ada yang ditugaskan hanya untk menyembah dan bertasbih kepada
Allah SWT. Ada pula yang ditugaskan untuk menjaga badan manusia dan sebagainya.
Para malaikat hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT kepadanya. Mereka tidak
melanggar larangan Allah SWT ataupun sesuatu yang tidak diperintahkan kepadanya. Dalam al-
Qur’an disebutkan:

‫هللا‬
َ ‫ون‬ ْ ُ ‫ََي َأُّيُّ َا َّ ِاَّل َين َءا َمنُوا قُوا َأنْ ُف َس ُ ُْك َو َأ ْه ِل‬
َ ‫يُك ًنَ مرا َوقُو ُدهَا النَّ ُاس َوالْ ِح َج َار ُة عَلَهيْ َا َم َالئِ َك ٌة ِغ َال ٌظ ِشدَ ا ٌد َإل ي َ ْع ُص‬
)5 ،‫ (التحرْي‬.‫ون‬ َ ‫ون َما يُ ْؤ َم ُر‬ َ ُ‫ َما َأ َم َر ُ ُْه َوي َ ْف َعل‬.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.” (QS. al-Tahrim : 6).

‫َْش ِمَنْ ُ ُم ِج ْ ِْبيْ ُل ِم ْي َـَك ُل ِا ْس َـرا ِف ْي ُل ِع ْز َرائِ ْي ُل‬


ٍ ْ ‫تَ ْف ِص ْي ُل ع‬
‫اِل َو ِرضْ َو ُان ا ْحتَ َذى‬ ٌ ِ ‫ُمنْ َك ْر نَ ِك ْ ٌْي َو َر ِق ْي ٌب َو َك َذا َعتِ ْي ٌد َم‬
Rincian sepuluh dari Malaikat adalah Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Mungkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik
dan Ridhwan yang mengikuti.

Syarh:
Malaikat-malaikat Allah SWT banyak sekali, namun yang wajib diketahui hanya sepuluh Yakni,

1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT.


2. Malaikat Mika’il bertugas memberikan rizki.
3. Malaikat Izra’il bertugas mencabut arwah.
4. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet pertanda hari kiamat.
5. dan 6. Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir, bertugas menjaga kuburan.
7. dan 8. Malaikat Raqib dan Malaikat Atid, bertugas mencatat amal baik dan buruk manusia.
9. Malaikat Ridwan, bertugas menjaga surga.
10. Malaikat Malik, bertugas menjaga neraka.

‫َأ ْربَـ َع ٌة ِم ْن ُك ُت ٍب تَ ْف ِص ْيلُهَا ت َْو َرا ُة ُم ْـو ََس ِِبلْهُدَ ى ت ْ َِْنيْلُهَا‬


‫َزبُ ْو ُر د َُاو َد َوا ْْنـِ ْي ُل عَ ََل ِعيْ ََس َوفُ ْرقَا ٌن عَ ََل خ ْ َِْي الْ َم َال‬
ِ
Rincian empat kitab (yang wajib diketahui) adalah Taurat(nya Nabi) Musa yang diturunkan membawa
petunjuk, Zabur(nya Nabi) Dawud, Injil yang diturunkan atas Isa dan Furqan (al-Qur'an) yang
diturunkan kepada sebaik-baik nabi.
‫َو ُصـ ُح ُف الْ َخ ِل ْي ِل َوالْ َ ِك ْ ِْي ِفهيْ َا َكـ َال ُم الْ َح َ ُِك الْ َع ِل ْ ِْي‬
Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, di dalamnya terdapat firman Tuhan Yang Maka Bijaksana lagi
Maha Mengetahui.

Syarh:
Iman kepada kitab Allah SWT adalah percaya dan meyakini bahwa Allah SWT telah
menurunkan beberapa kitab kepada para rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup manusia. Dalam
hal ini, beriman kepada kitab Allah SWT mencakup tiga perkara:
1. Percaya bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan oleh Allah SWT.
2. Beriman bahwa Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab yang wajib diketahui. Yakni, al-
Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, Taurat kepada Nabi Musa as, Injil kepada Nabi Isa as dan
Zabur kepada Nabi Dawud as.
3. Mempercayai kepada berita-berita yang dibawa oleh kitab-kitab tersebut.

Kenapa Allah SWT menurunkan kitab kepada para rasul-Nya. Tidak cukupkah manusia dengan
akalnya dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat menentukan baik dan buruk untuk mencari
kebahagiaan dunia dan akhirat? Jawabannya dari pertanyaan ini bisa dilihat dari tiga sisi:
1. Akal manusia itu sangat terbatas. Begitu pula dengan ilmu yang diberikan Allah SWT kepada
manusia hanya sedikit sekali. Ibarat setetesair yang berada di samudera yang luas membentang,
itulah gambaran ilmu yang dimiliki manusia dibandingkan dengan ilmu Allah SWT.
2. Kalau manusia diberikan kebebasan sepenuhnya, maka yang terjadi adalah manusia akan berbeda
dalam mendefinisikan perkara baik yang dapat mengantarkannya menuju kebahagiaan dunia
akhirat, serta perbuatan buruk yang menjadikan hidup manusia menjadi sengsara.
Contoh kecil tentang pergaulan bebas atau seks pra nikah. Bisa saja di suatu daerah, misalnya di
Barat dianggap baik dan tidak akan menimbulkan kerusakan, tapi dalam budaya timur hal itu
merupakan perbuatan asusila yang mendatangkan kesengsaraan dunia dan akhirat. Di sinilah
fungsi kitab Allah SWT yang menjelaskan berbagai hukum Allah SWT.
3. Tidak semua perbuatan dapat diketahui dengan akal manusia. Ada banyak hal yang membutuhkan
petunjuk dari Allah SWT agar perbuatan itu dapat dikerjakan dengan cara yang benar.

Misalnya tentang tata cara beribadah kepada Allah SWT seperti shalat, puasa dan haji. Untuk
mengetahui cara tersebut harus menunggu penjelasan dari Allah SWT melalui kitab dan rasul-Nya.
Tanpa penjelasan itu maka manusia tidak akan mengetahui tatacara beribadah yang benar kepada Allah
SWT.
Inilah diantara beberasa alasan kepada Allah SWT menurunkan kitab kepada para rasul-Nya.

‫َو ُكـ ُّل َما َأ ََت بِـ ِه َّالر ُس ْو ُل فَـ َحقُّ ُه الت َّ ْس ِل ْ ُْي و َالْ َق ُب ْو ُل‬
Segala sesuatu yang disampaikan oleh rasul, maka kewajibannya adalah dibenarkan dan diterima.

Syarh:
Umat Islam wajib meyakini dan melaksanakan semua yang dibawa dan disampaikan oleh
Rasulullah SAW, baik berupa perintah, larangan atau hal yang terkait dengan kabar tentang hal-hal
gaib. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

)2 ،‫ (احلْش‬.‫هللا َش ِديدُ الْ ِع َق ِاب‬ َ ‫ول فَخ ُُذو ُه َو َما ْنَ َ ُ ْاُك َع ْن ُه فَا ْنَتَ ُوا َوات َّ ُقوا‬
َ ‫هللا ا َّن‬ ُ ‫ َو َما َءاَتَ ُُكُ َّالر ُس‬.
ِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS.
al-Hasyr : 7).
Apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah perkara yang wajib diyakini kebenarannya.
Termaktub semuanya di dalam al-Qur’an dan hadits. Ketika Allah SWT dan Rasulullah SAW
menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, maka hal tersebut wajib diyakini
kebenarannya. Begitu pula pengakuan Allah SWT dan rasul-Nya kepada sahabat nabi, maka wajib
bagi umat Islam untuk meyakininya.
Meyakini apa yang dibawa oleh Nabi SAW bisa berarti bahwa umat Islam wajib melaksanakan
semua perintah dan menjauhi larangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Melaksanakan shalat, puasa, zakat,
haji, berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT, kemudian tidak melakukan pencurian,
perzinahan, perusakan lingkungan, aniaya, penipuan dan semacamnya, adalah bentuk dari upaya untuk
melaksanakan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dan inilah yang disebut Islam yang sempurna
(kaffah) sebagaimana difirmankan Allah SWT:

)918 : ‫ (البقرة‬.‫الش ْي َط ِان ان َّ ُه لَ ُ ُْك عَدُ ٌّو ُمب ٌِي‬


َّ ‫الس ْ ِمل ََكف َّ مة َو َإل تَت َّ ِب ُعوا خ ُُط َو ِات‬
ِّ ِ ‫ ََي َأُّيُّ َا َّ ِاَّل َين َءا َمنُوا ا ْد ُخلُوا ِِف‬.
ِ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. al-Baqarah : 208).

‫ك َما ََك َن ِب ِه ِم َن الْ َع َج ْب‬


ِِّ ُ ‫ايْـ َمانُنَا ِب َي ْو ٍم أ آ َخ ٍر َو َج ْب َو‬
ِ
Kita wajib percaya akan adanya hari akhir, dan segala keajaiban yang terjadi pada hari itu.

Syarh:
Maksud dari beriman kepada hari akhir adalah keyakinan yang pasti akan datangnya hari akhir
dan sesuatu yang berhubungan dengannya. Dalam masalah iman kepada hari akhir, ada beberapa hal
yang harus diyakini oleh seorang mukmin yakni, siksa dan nikmat kubur, hari mahsyar, hisab, surga,
neraka dan semacamnya.

1. Nikmat dan Siksa Kubur


Kita yakin bahwa kematian itu pasti akan menjemput setiap manusia. Dan apabila kematian
telah datang kepada seseorang, maka tidak akan bisa dimajukan atau ditunda. Allah SWT
berfirman:

َ ‫ك ُأ َّم ٍة َأ َج ٌل فَا َذا َجا َء َأ َجلُ ُه ْم َإل ي َْس َتأْ ِخ ُر‬


َ ‫ون َساعَ مة َو َإل ي َْس َت ْق ِد ُم‬
)34 : ‫ (ا أألعراف‬.‫ون‬ ِِّ ُ ‫ َو ِل‬.
ِ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka (ajal) tidak
dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. al-A’raf :
34).

Dan setelah seseorang dikuburkan, Allah SWT mengembalikan ruh orang tersebut, kemudian
datang dua malaikat yang akan menanyakan beberapa hal kepadanya. Malaikat itu bertanya
kepadanya tentang Tuhan, nabi, agama, kiblat dan saudaranya.
Orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah mereka
yang selama hidupnya selalu berbuat kebaikan, banyak beribadah kepada Allah SWT, serta
menolong sesama manusia. Allah SWT berfirman:

ُ ِ ‫هللا ُ َُّث ْاس َت َقا ُموا تَ َت َ َّْن ُل عَلَهيْ ِ ُم الْ َم َالئِ َك ُة َأإلَّ َ ََتافُوا َو َإل َ َْت َ نزُوا َو َأب‬
‫ْْشوا ِِبلْ َجنَّ ِة ال َّ ِِت ُك ْن ُ ُْت‬ ُ ‫ا َّن َّ ِاَّل َين قَالُوا َربُّنَا‬
ِ
)31 ،‫ (فصلت‬.‫ون‬ َ ُ‫تُوعَد‬.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah
yang Telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fusshilat : 30).

Sedangkan orang-orang yang selama hidupnya selalu diisi dengan kedurhakaan dan tindakan
yang menyengsarakan sesama, akan mendapat siksa dalam kuburnya. Dalam hal ini, siksa kubur
dibagi menjadi dua.
Pertama, Adzab kubur yang berlangsung terus sampai hari kiamat. Yaitu untuk orang tidak
beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang selalu berbuat dosa besar.
Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an tentang keluarga Fir’aun:

)45 : ‫ (املؤمن‬.‫الساعَ ُة َأ ْد ِخلُوا َءا َل ِف ْر َع ْو َن َأ َش َّد الْ َع َذاب‬


َّ ‫ون عَلَهيْ َا غُدُ ًّوا َوع َِش ًّيا َوي َ ْو َم تَ ُقو ُم‬
َ ُ‫النَّ ُار يُ ْع َرض‬.
"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat.
(Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat
keras". (QS al-Mukmin : 46).

Kedua, Adzab kubur yang berlaku sementara. Yakni siksa kubur yang diterima oleh orang
mukmin yang melakukan kemaksiatan. Ia disiksa sesuai dosa yang dilakukan di dunia. Siksa ini
bisa diringankan atau bahkan dihentikan jika apa yang dia diterima sudah dianggap cukup untuk
menebus dosa yang pernah dilakukan. Atau ada do’a dan permohonan ampunan (istighfar) atau
kiriman pahala sodakoh, bacaan al-Qur’an dan lainnya, yang dipanjatkan oleh sanak keluarga,
famili, dan teman-teman yang masih hidup.
Dari sinilah, bagi segenap kaum muslim yang masih hidup, sebaiknya senantiasa mendo’akan
keluarga, terutama kedua orang tua, sahabat atau seluruh kaum muslimin yang telah meninggal
dunia. Hal itu merupakan salah satu bentuk kepedulian kepada mereka, sehingga dapat menjalani
kehidupan alam kubur dengan tenang dan bahagia.
Dalam hal inilah, tradisi tahlilan yang sudah berlaku umum di masyarakat Indonesai perlu
terus dilakukan dan dilestarikan, karena apa yang dibaca dalam acara tersebut merupakan sesuatu
yang memang sangat dibutuhkan oleh orang yang telah meninggal dunia.
Begitu pula, setiap selesai shalat lima waktu agar tidak henti-hentinya mendo’akan kedua
orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia, atau dengan mengirimkan pahala bacaan surat
al-Fatihah untuk mereka.

2. Hari Kiamat
Hari kiamat adalah hancurnya seluruh alam semesta. Bumi dan seluruh alam raya serta
makhluk yang ada di dalamnya akan binasa. Semua makhluk bernyawa akan menemui kematian.
Bumi hancur, langit runtuh dan air laut tumpah. Semua orang bertanya-tanya apa yang sedang
terjadi. Firman Allah SWT:

ُ ‫) َوقَا َل ْاإلن ْ َس‬9( ‫) َو َأخ َْر َج ِت ْا َأل ْر ُض َأثْ َقالَهَا‬0( ‫ا َذا ُزلْ ِزلَ ِت ْا َأل ْر ُض ِزلْ َزالَهَا‬
(4).‫) ي َ ْو َمئِ ٍذ ُ ََت ِِّد ُث َأ ْخ َب َارهَا‬3( ‫ان َما لَهَا‬
ِ
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan
ِ
beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini)?",
pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. al-Zalzalah : 1-4).

Hari kiamat pasti akan terjadi, namun tidak seorangpun yang mengetahui waktu terjadinya
kiamat. Manusia dengan segala perangkat ilmu dan teknologi yang dimilikinya tidak akan dapat
memprediksikan kapan terjadinya hari tersebut. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya.
Sebagaimana firman-Nya SWT:
َّ ‫الساعَ ِة َأ ََّي َن ُم ْر َساهَا قُ ْل ِان َّ َما ِعلْ ُمهَا ِع ْندَ َر ِ ِّ ِْب َإل ُ ََي ِلِّهيْ َا ِل َو ْقَتِ َا ِاإلَّ ه َُو ثَ ُقلَ ْت ِِف‬
‫الس َم َو ِات َو ْا َأل ْر ِض‬ َّ ‫ي َْسأَلُون ََك َع ِن‬
: ‫ (املائدة‬.‫ون‬ َ ‫هللا َولَ ِك َّن َأ ْك َ ََث النَّ ِاس َإل يَ ْعلَ ُم‬
ِ َ‫يُك اإلَّ ب َ ْغ َت مة ي َْسأَلُون ََك َ ََكن ََّك َح ِف ٌّي َعَنْ َا قُ ْل ان َّ َما ِعلْ ُمهَا ِع ْند‬
ْ ُ ِ‫َإل تَأْت‬
ِ ِ
)082.
"Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah:
"Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang
dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi
makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan
tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya.
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. al-A’raf : 187).

Manusia hanya diberi pengetahuan tentang tanda-tanda terjadinya kiamat tersebut, agar kita
selalu waspada dan terus meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Umumnya tanda kiamat
dibagi menjadi dua bagian.
Pertama, tanda-tanda kecil, yakni sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits.
Diantaranya adalah ketika Nabi Muhammad ditanya oleh malaikat Jibril tentang hari kiamat. Nabi
SAW menjawab:

‫ْشا ِطهَا ا َذا َو َ َِل ْت ْا َأل َم ُة َرَّبَّ َا‬


َ ْ ‫ َسأُخ ِ ُْْبكَ َع ْن َأ‬،‫السائِ ِل‬
َّ ‫هللا َما الْ َم ْس ئُ ْو ُل ِبأَعْ َ َمل ِم َن‬
ِ ‫ قَا َل َر ُس ْو ُل‬،َ‫َع ْن َأ ِِب ه َُرْي َرة‬
ِ
)48 ،‫ (ْصيح البخاري‬.‫ َوا َذا ت ََط َاو َل ُرعَا ُة ْاإلب ِِل الُْبُ ْ ُم ِِف الْ ُبن ْ َي ِان‬.
ِ ِ
“Dari Abi Huroiroh, Nabi SAW bersabda kepada orang yang bertanya tentang hari kiamat,
"Orang yang ditanya ditanya tentang hari kiamat tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tetapi saya
akan memberitahukanmu tentang tanda-tandanya. Yakni jika budak wanita telah melahirkan
tuannya, jika pengembala onta berlomba-lomba meninggikan bangunan." (Shahih al-Bukhari
[48]).

Tanda-tanda yang lain misalnya pendeknya waktu, berkurangnya amal, munculnya berbagai
fitnah, banyaknya pembunuhan, pelacuran, kefasikan dan lain sebagainya.
Kedua, tanda-tanda besar, yakni keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS, munculnya matahari
dari Barat, munculnya al-Mahdi, dabbah (binatang ajaib) dan lain sebagainya.
Hari kiamat berlansung sangat cepat, ditandai dengan tiupan sangkakala dari malaikat Isrofil
dan matinya seluruh makhluk hidup. Mereka tetap dalam keadaan seperti untuk masa tertentu
sebelum akhirnya dibangkitkan dari alam kubur.

3. Hari Kebangkitan, Padang Mahsyar dan Siroth


Yang dimaksud beriman kepada hari kebangkitan adalah kita berkeyakinan bahwa Allah SWT
akan membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kuburan mereka kemudian di kumpulkan pada
satu tempat untuk melakukan penghitungan amal. Allah SWT berfirman:

َ ‫) ُ َُّث ان َّ ُ ُْك ي َ ْو َم الْ ِق َيا َم ِة تُ ْب َعث‬06( ‫ون‬


)05-06 ،‫ (املؤمنون‬.‫ُون‬ َ ‫ ُ َُّث ان َّ ُ ُْك ب َ ْعدَ َذ ِ َِل لَ َم ِ ِّي ُت‬.
ِ ِ
"Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian,
Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (QS. al-Mukminun
: 15-16).
Kebangkitan manusia dari alam kubur ditandai dengan tiupan sangkakala yang kedua. Setelah
itu, seluruh manusia dikumpulkan di suatu tempat (Mahsyar) untuk ditimbang amal baik dan buruk
yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

)44 ،‫ (ق‬. ٌ‫ْش عَلَ ْينَا ي َِسْي‬ َ ِ ‫ي َ ْو َم تَشَ قَّ ُق ْا َأل ْر ُض َعَنْ ُ ْم‬.
ٌ ْ ‫َساعما َذ ِ َِل َح‬
"(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat.
Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami." (QS. Qaf: 44).

Firman Allah SWT:

َ ‫هللا َم ْو َإل ُ ُُه الْ َح ِّ ِق َوضَ َّل َعَنْ ُ ْم َما ََكنُوا ي َ ْف َ َُت‬
)31 ،‫ (يونس‬.‫ون‬ ُّ ُ ‫اِل تَ ْبلُو‬
ِ ‫ك ن َ ْف ٍس َما َأ ْسلَ َف ْت َو ُر ُّدوا ا ََل‬ َ ِ َ‫ ُهن‬.
ِ
"Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah
dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya
dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." (Yunus 30).

Di tengah penantian di padang mahsyar itu, masing-masing orang hanya memikirkan dirinya
sendiri. Tidak ada waktu bagi seseorang untuk memikirkan orang lain. Firman Allah SWT dalam
ayat lain:

‫َش ٍء‬
ْ َ ‫هللا ِم ْن‬ َ ُ‫َوبَ َر ُزوا ِهلل َ ِْجي معا فَ َقا َل الضُّ َع َفا ُء لِ َّ َِّل َين ْاس َت ْك َ ُْبوا اًنَّ ُكنَّا لَ ُ ُْك تَ َب معا فَه َْل َأن ُ ُْْت ُم ْغن‬
ِ ‫ون َعنَّا ِم ْن عَ َذ ِاب‬
ِ
)90 ،‫ (ابراهْي‬.‫هللا لَهَدَ يْ َن ُ ْاُك َس َوا ٌء عَلَ ْينَا َأ َج ِز ْعنَا َأ ْم َص َ ْْبًنَ َما لنَا م ْن َمح ٍيص‬
ِ ِ َ ُ َ‫قَالُوا ل َ ْو هَدَ اًن‬.
"Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu
berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, "Sesungguhnya kami
dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab
Allah (walaupun) sedikit saja?" Mereka menjawab, "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada
kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh
ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (QS. Ibrahim :
21).

Kecuali nabi Muhammad SAW, yang dengan keagungan dan kemuliaan yang diberikan Allah
SWT kepadanya, mampu memberikan syafa’at (pertolongan) kepada seluruh umat manusia. Dalam
sebuah hadits diceritakan bahwa pada saat umat manusia kebingungan karena suasana hirup pikuk
yang terjadi, manusia mendatangi Nabi Adam as, meminta bantuan agar padang mahsyar bisa
selesai. Namun nabi Adam as tidak menyanggupinya. Begitu pula dengan para nabi yang lain.
Akhirnya umat manusia mendatangi nabi Muhammad SAW untuk meminta syafaat, dan nabi
Muhammad SAW pun memberikan syafaatnya.

Setelah itu, masing masing orang diadili di hadapan Allah SWT. Mereka tidak akan berdusta
di hadapan Allah SWT.

َ ‫الْ َي ْو َم َ َْن ِ ُُت عَ ََل َأفْ َوا ِهه ِْم َوتُ َ ِكِّ ُمنَا َأيْ ِد ُِّي ْم َوت َ ْشهَدُ َأ ْر ُجلُهُ ْم ِب َما ََكنُوا يَ ْك ِس ُب‬.
)56 ،‫ (يس‬.‫ون‬
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan
memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)
Diberikan kitab yang berisi catatan amal perbuatannya selama di dunia. Orang yang menerima
kitab tersebut dengan tangan kanan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan
mereka yang menerima kitab itu dengan tangan kiri atau dari balik punggung, akan menyesal dan
susah akan siksa yang diterima.

ُ ْ ‫) َوي َ ْنقَ ِل ُب ا ََل َأه ِ ِِْل َم‬8( ‫) فَ َس ْو َف ُ ََي َاس ُب ِح َس ماِب ي َِس مْيا‬2( ‫وِت ِك َتاب َ ُه ِب َي ِمينِ ِه‬
َ ِ ‫) َو َأ َّما َم ْن ُأ‬2( ‫ْس مورا‬
‫وِت‬ َ ِ ‫فَأَ َّما َم ْن ُأ‬
ِ
‫) َوي َ ْص ََل َس ِع مْيا‬00( ‫) فَ َس ْو َف ي َ ْد ُعو ثُ ُب مورا‬01( ‫( ِك َتاب َ ُه َو َرا َء َظهْ ِر ِه‬09).
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan
pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman)
dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak:
"Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-
Insyiqaq : 7-12).

Amal baik dan buruk manusia ditimbang, sebagai vonis akhir untuk menentukan apakah
seseorang akan masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka.

ُ ِ ‫) َو َم ْن َخفَّ ْت َم َوا ِزينُ ُه فَأُولَئِ َك َّ ِاَّل َين خ‬8( ‫ون‬


‫َْسوا‬ َ ‫َوالْ َو ْز ُن ي َ ْو َمئِ ٍذ الْ َح ُّق فَ َم ْن ثَ ُقلَ ْت َم َوا ِزينُ ُه فَأُولَئِ َك ُ ُُه الْ ُم ْف ِل ُح‬
)2-8 ،‫ (ا أألعراف‬.‫ون‬ َ ‫ َأنْ ُف َسه ُْم ِب َما ََكنُوا ِبأ آ ََيتِنَا ي َ ْظ ِل ُم‬.
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan
kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf : 8-9).

Di sini, setiap manusia yang ketika hidup di dunia selalu menjalankan perintah Allah SWT
dan Rasul-Nya, beramal sholeh untuk kebaikan seluruh manusia, akan merasakan air dari telaga
nabi Muhammad SAW (haudhun nabi).
Dalam beberapa hadits diceritakan bahwa luas dan panjang telaga itu sama. Setiap sisi
panjangnya satu bulan perjalanan. Airnya berasal dari telaga al-Kautsar, di tengahnya terdapat dua
pancuran dari surga. Airnya lebih putih dari susu dan lebih dingin dari es, lebih manis daripada
madu, dan lebih wangi dari minyak kasturi. Cangkir-cangkirnya sebanyak bintang di langit. Orang
yang meminum airnya, tidak akan haus selama-lamanya.
Setelah melalui proses padang mahsyar, umat manusia akan melewati siroth. Yakni jembatan
yang membentang di atas neraka sebagai satu-satunya jalan menuju ke surga. Karena itu, setiap
orang pasti akan melewatinya. Dan setiap orang yang akan masuk surga pasti akan melewatinya.
Firman Allah SWT:

)20 ،‫ (مرْي‬.‫ َوا ْن ِمنْ ُ ُْك اإلَّ َوا ِر ُدهَا ََك َن عَ ََل َرب ِّ َِك َح ْت مما َم ْق ِضيًّا‬.
ِ ِ
Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu
adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam : 71).

Kemampuan menyeberang juga sangat tergantung dari amal perbuatan selama di dunia. Siapa
saja yang istiqomah di atas jalan yang diridhai Allah SWT, ia akan dapat menyeberangi sirath
tersebut kemudian masuk surga Allah dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Namun bila
kehidupan dunia selalu diisi dengan keburukan dan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, akan
tergelincir ke dalam neraka, dan siksa yang amat pedih akan mengisi hari-harinya.

4. Surga dan Neraka


Setelah berada di padang mahsyar dan berjalan di atas siroth, tahap terakhir adalah pilihan
antara surga dan neraka. Di akhirat Allah SWT hanya menyediakan dua tempat sebagai akhir dari
perjalanan manusia. Tidak ada pilihan ketiga, juga tidak ada ada suatu tempat di antara surga dan
neraka (al-Manzilah bainal manzilataini).
Surga adalah rumah kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang
beriman. Diperuntukkan bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi
segala larangan-Nya. Firman Allah SWT:

‫) َج َزا ُؤ ُ ُْه ِع ْندَ َر ِ ِّ َِّب ْم َجن َّ ُات عَ ْد ٍن َ َْت ِري ِم ْن ََتَْتِ َا‬2( ‫ات ُأولَئِ َك ُ ُْه خ ْ َُْي الْ َ ِْبي َّ ِة‬ َّ ‫ا َّن َّ ِاَّل َين َءا َمنُوا َو َ َِعلُوا‬
ِ ‫الصا ِل َح‬
ِ
)8-2 ،‫ (البينة‬.‫ََش َرب َّ ُه‬ َِ ‫هللا َعَنْ ُ ْم َو َرضُ وا َع ْن ُه َذ ِ َِل ِل َم ْن خ‬ ‫ِض‬ ِ
ُ َ َ َ َ َ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫دم‬ ‫ب‬ َ
‫أ‬ ‫ا‬‫هي‬‫ف‬ِ ‫ين‬ ِ ِ
‫َاِل‬ ‫خ‬ ‫ار‬
َُ ْ‫ْن‬ َ
‫أل‬ ْ
‫ا‬ .
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-
baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada
Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah: 7-8).

Di dalamnya terdapat segala kenikmatan dan keindahan, yang tidak pernah terbayangkan di
dalam angan dan perasaan manusia di dunia. Tentang nikmat surga ini, al-Qur’an
menggambarkannya:

َ ‫َمث َ ُل الْ َجنَّ ِة ال َّ ِِت ُو ِعدَ الْ ُمتَّ ُق‬


‫ون ِفهيَا َأْنْ َ ٌار ِم ْن َما ٍء غَ ْ ِْي َء ِاس ٍن َو َأْنْ َ ٌار ِم ْن لَ َ ٍَب لَ ْم ي َ َت َغ َّ ْْي َط ْع ُم ُه َو َأْنْ َ ٌار ِم ْن َ َْخ ٍر َ ََّّل ٍة‬
‫َاِل ِِف النَّ ِار َو ُس ُقوا‬ ٌ ِ ‫ك الث َّ َم َر ِات َو َم ْغ ِف َر ٌة ِم ْن َر ِ ِّ َِّب ْم ََكَ ْن ُه َو خ‬
ِِّ ُ ‫لِ َّلش ِارب َِي َو َأْنْ َ ٌار ِم ْن ع ََس ٍل ُم َصفًّى َولَهُ ْم ِفهيَا ِم ْن‬
)06 ،‫ (دمحم‬.‫ َما مء َ ِْحيما فَ َق َّط َع َأ ْم َعا َء ُ ُْه‬.
(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa
yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai
dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya
bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di
dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang
kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong
ususnya? (QS. Muhammad : 15).

Sedangkan nikmat teragung bagi penduduk surga adalah tatkala mereka melihat Allah SWT
secara langsung. Dzat yang Maha Rahasia, yang tidak dapat dibayangkan dan dilihat selama hidup
di dunia, akan dapat dilihat secara jelas. Lama atau sebentarnya seseorang melihat Allah SWT
tergantung seberapa banyak amal kebajikan yang dilakukan di dunia. Dalam al-Qur’an Allah SWT
berfirman:
) 93-99 ‫ (القيامة‬.‫َض ٌة ا ََل َر ِ ِّ ََّبا ًنَ ِظ َر ٌة‬
َ ِ َ‫ ُو ُج ْو ٌه ي َ ْو َمئِ ٍذ ًن‬.
ِ
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari (akhirat) itu berseri-seri. Kepada Tuhan-Nyalah
mereka melihat”. (QS. al-Qiyamah : 22-23).
Hadits Nabi Muhammad SAW. :

ِ ‫هللا ه َْل نَ َرى َربَّنَا ي َ ْو َم الْ ِقيَا َم ِة ؟ فَ َقا َل َر ُس ْو ُل‬


‫هللا‬ ِ ‫هللا َع ْن ُه َأ َّن النَّ َاس قَالُ ْوا ََي َر ُس ْو َل‬
ُ ‫ِض‬ َ ِ ‫ َع ْن َأ ِ ِْب ه َُريْ َر َة َر‬J
ٌ ‫الش ْم ِس لَيْ َس د ُْوْنَ َا َْس‬
‫َاب؟‬ ِ ‫ه َْل تُضَ ُّار ْو َن ِ ِْف الْ َق َم ِر لَ ْي َ ََل الْ َب ْد ِر؟ قَالُ ْوا َإل ََي َر ُس ْو َل‬
َّ ‫هللا ق َا َل فَه َْل تُضَ ُّار ْو َن ِ ِْف‬
) 5886 ‫ رمق‬، ‫ (ْصيح البخاري‬. ‫ قَا َل فَان َّ ُ ُْك تَ َر ْون َ ُه َك َذ ِ َِل‬,‫هللا‬ ِ ‫قَالُ ْوا َإل ََي َر ُس ْو َل‬.
ِ
“Dari Abû Hurairah RA bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah,
apakah kami bisa melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah SAW bertanya, ‘apakah mata
kalian rusak ketika melihat bulan purnama? Mereka menjawab, ‘Tidak, Rasul’. Rasul bertanya,
‘”Apakah berbahaya pada mata kalian ketika melihat mentari yang tak terhalang awan? Mereka
menjawab, ‘Tidak Rasul’. Rasul bersabda, ‘Ya begitulah, kalian akan melihat Tuhan kalian.”
(Shahih al-Bukhari [2885]).

Dengan redaksi yang lebih jelas Nabi SAW bersabda :

)5883 ‫ رمق‬، ‫ (ْصيح البخاري‬. ‫هللا قَا َل قَا َل النَّ ِ ُّب ان َّ ُ ُْك َس َ ََت ْو َن َ بر َّ ُ ُْك ِع َياًنم‬
ِ ‫ َع ْن َج ِرْي ٍر ْب ِن َع ْب ِد‬.
ِ
“Dari Jarir bin Abdullah RA, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, ‘sesungguhnya kalian akan
melihat Tuhan kalian secara nyata.” (Shahih al-Bukhari [2883]).

Selain menyediakan surga bagi hamba yang taat dan patuh, Allah SWT juga menciptakan
neraka sebagai balasan bagi orang-orang yang senantiasa menghiasi kehidupan dunianya dengan
perbuatan durhaka kepada Allah SWT. Mereka menjadi bahan bakar api neraka yang menyala-
nyala. Firman Allah SWT:

‫هللا‬
َ ‫ون‬ ْ ُ ‫ََي َأُّيُّ َا َّ ِاَّل َين َءا َمنُوا قُوا َأنْ ُف َس ُ ُْك َو َأ ْه ِل‬
َ ‫يُك ًنَ مرا َوقُو ُدهَا النَّ ُاس َوالْ ِح َج َار ُة عَلَهيْ َا َم َالئِ َك ٌة ِغ َال ٌظ ِشدَ ا ٌد َإل ي َ ْع ُص‬
)5 ،‫ (التحرمب‬.‫ون‬ َ ‫ون َما يُ ْؤ َم ُر‬ َ ُ‫ َما َأ َم َر ُ ُْه َوي َ ْف َعل‬.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim: 6).

Setiap orang yang masuk neraka, akan mendapatkan siksa yang sangat pedih akibat dari
perbuatannya di dunia. Mengenai pedihnya siksa neraka al-Qur’an menceritakan:

ْ ُ َ‫ا َّن َّ ِاَّل َين َك َف ُروا ِبأ آ ََيتِنَا َس ْو َف ن ُْص ِل ِهي ْم ًنَ مرا َُكَّ َما ن َِض َج ْت ُجلُود ُ ُُْه ب َ َّدلْن‬
َ َّ ‫اُه ُجلُودما غَ ْ َْي َها ِل َي ُذوقُوا الْ َع َذ َاب ا َّن‬
‫اَّلل‬
ِ ِ
)65 ،‫ (النساء‬.‫ ََك َن َع ِز ميزا َح ِكيما‬.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka
ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain,
supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
An-Nisa’ : 56).
‫خَاتِ َم ٌة ِِف ِذ ْك ِر َِب ِِق الْ َو ِاج ِب ِم َّما عَ ََل ُم َكَّ ٍف ِم ْن َو ِاج ٍب‬
Bagian berikut ini adalah penutup, dalam menerangkan kewajiban yang tersisa yang wajib diyakini
oleh setiap mukallaf.

‫نَبِـ ُّينَا ُمـ َح َّم ٌد قَ ْد ُأ ْر ِس َال لِلْـ َعالَ ِم ْ َي َر ْ َْح مة َوفُ ِِّض َال‬
Nabi kita, Nabi Muhammad, sungguh telah diutus oleh Allah SWT atas seluruh alam, sebagai rahmat
dan diutamakan (atas semua rasul).

Syarh:
Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai nabi terakhir yang membawa rahmat
untuk seluruh alam. Tidak hanya untuk manusia tetapi untuk seluruh makhluk Allah SWT yang ada di
jagat raya ini. Dalam al-Qur’an ditegaskan:

)012 ،‫ (ا أألنبياء‬.‫ َو َما َأ ْر َسلْنَاكَ اإلَّ َر ْ َْح مة لِلْ َعالَ ِم َي‬.


ِ
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-
Anbiya’ : 107).

Syariat Nabi Muhammad SAW tidak hanya berlaku bagi orang Arab saja, tetapi untuk seluruh
umat manusia. Beda halnya dengan syariat nabi sebelumnya yang hanya berlaku pada waktu dan untuk
umat tertentu. Ajaran Islam juga rahmat bagi seluruh alam, dengan adanya kepedulian dari agama
untuk menjaga lingkungan hidup, tidak boleh merusak dan mengganggu semua makhluk Allah yang
ada di muka bumi.
Salah satu bentuk rahmat Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah
ditangguhkannya siksa bagi orang-orang yang melanggar aturan Allah SWT, hingga nanti di akhirat.
Tidak seperti yang dialami umat nabi sebelumnya, yang langsung menerima adzab di dunia atas
pelanggaran yang mereka lakukan. Seperti yang menimpa kaum nabi Luth AS, nabi Musa AS, Nuh AS
dan lainnya.
Selain itu, umat Islam wajib meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk Allah
SWT yang paling mulia. Para ulama menegaskan bahwa di antara dua puluh lima rasul Allah SWT
yang wajib diketahui, ada lima yang paling utama, yang mendapat gelar ulul azmi. Dan Nabi
Muhammad SAW ada di urutan pertama dari kelima nama tersebut.
Kemuliaan Nabi Muhammad SAW dikarenakan keistimewaan syariat yang beliau bawa. Agama
Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya.
Sesuai dengan fitrah manusia, dan tidak membebani manusia dengan sesuatu di luar kemampuan
manusia untuk melaksanakannya. Atas dasar inilah, tidak ada ajaran lain yang melebihi keutamaan
ajaran Islam.
‫َاإل ْس َال ُم ي َ ْعلُ ْو َو َإليُ ْع ََل عَلَ ْي ِه‬
ِ
"Islam adalah agama yang luhur dan tidak ada yang dapat menandingi keluhurannya."

Akhlak dan kepribadian yang beliau miliki juga menjadi salah satu penyebab keutamaan nabi
Muhammad SAW. Keluhuran akhlak nabi Muhammad SAW ditegaskan langsung dalam al-Qur’an
pada surat al-Qalam ayat 4.
)4 ،‫ َوان ََّك لَ َعَل ُخلُ ٍق َع ِظ ٍْي (القمل‬.
ِ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. al-Qalam: 4).

Dalam sebuah hadits:

)3831 ،‫ (سنن الَتمذي‬.‫هللا خ ْ َُْيُ ُْك خ ْ َُْيُ ُْك َأله ِ ِِْل َو َأًنَ خ ْ َُْيُ ُْك َأله ِْل‬
ِ ‫ َع ْن عَائِشَ َة قَالَ ْت قَا َل َر ُسو ُل‬.
“Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik di
antara kamu adalah yang paling baik kepada keluarga (istrinya). Dan saya adalah orang yang paling
baik di antara kamu dalam memperlakukan istriku.” (Sunan al-Tirmidzi, 3830).

ٌ ِ ‫هللا َع ْبدُ الْ ُم َّط ِل ْب َوه‬


‫َاِش َع ْبدُ َمنَ ٍاف ي َ ْنت َ ِس ْب‬ ِ ُ‫َأبُ ْو ُه َع ْبد‬
َّ ‫َو ُأ ُّمــ ُه أ آ ِمـنَ ُة ُّالز ْه ِري َّ ْة َأ ْرضَ ـ َع ْت ُه َح ِلـ ْي َم ُة‬
‫الس ْع ِدي َّ ُة‬
Ayahnya Nabi SAW ialah Abdullah bin Abdul Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf yang nasabnya
bersambung. Ibunya ialah Siti Aminah az-Zuhriyyah dan yang menyusuinya adalah Halimatus
Sa’diyah.

Syarh:
Garis keturunan Nabi Muhammad SAW adalah dari golongan suku Quraisy. Yakni suatu
kelompok yang sangat disegani di tanah Makkah. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdulmuththalib
bin Hasyim bin Abdimanaf.
Dalam hal ini, terdapat pertalian darah antara Nabi Muhammad SAW dan Khulafur Râsyidin,
terlebih Sayyidina ‘Utsmân RA yang merupakan putra dari sepupu Nabi SAW yakni Arwa, sebagai
putri dari bibi Nabi Muhammad SAW yang bernama al-Baidha’ binti Abdul Muththalib. Sedangkan
Sayyidina ‘Alî RA adalah sepupu Nabi Muhammad SAW.
Di samping itu, keduanya merupakan menantu Nabi Muhammad SAW. Sayyidina ‘Utsmân
menikah dengan dua putri Rasul SAW secara bergantian, yakni Sayyidatuna Ruqayyah RA dan
Sayyidatuna Ummu Kultsûm RA. Sedangkan sayyidina ‘Alî RA menikah dengan Sayyidatuna
Fâthimah RA.
Begitu pula dengan Sayyidina Abû Bakr RA dan Sayyidina ‘Umar RA yang merupakan mertua
Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW menikah dengan Aisyah binta Abû Bakr RA dan
Hafshah binta ‘Umar RA.
Inilah salah satu alasan mengapa Nabi Muhammad sangat mencintai para sahabatnya. Nabi
Muhammad SAW tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebagai generasi
terbaik Islam.

‫ (ْصيح‬.‫هللا َعَنْ ُ َما قَا َل قَا َل النَّ ِ ُّب خ ْ َُْيُ ُْك قَ ْر ِِن ُ َُّث َّ ِاَّل َين يَلُوْنَ ُ ْم ُ َُّث َّ ِاَّل َين يَلُوْنَ ُ ْم‬
ُ ‫ِض‬َ ِ ‫َع ْن ِ َْع َر َان ْب َن ُح َص ْ ٍي َر‬
)9462 ‫البخاري رمق‬.
“Dari sahabat 'Imron bin Hushain ra ia berkata. Nabi SAW bersabda, “Sebaik-sebaik generasi
adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi sesudahnya”. (Shahih al-Bukhari,
[2457]).

Kecintaan itu juga ditunjukkan oleh ahlul bait atau keluarga Nabi SAW kepada para sahabat,
begitu pula para sahabat yang sangat mencintai dan menghormati keluarga nabi. Bahkan musibah
perselisihan yang terjadi pada sebagian sahabat tidak dapat dijadikan tanda kalau di antara para sahabat
tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat. Justru sebaliknya, jalinan kemesraan yang bertaut di hati
mereka ibarat cinta bersambut, kasih berjawab. Indahnya pergaulan antara keluarga dan sahabat Nabi
SAW harus diteladani oleh umat Islam. Hal ini terungkap dari tutur kata dan perbuatan mereka mereka
yang menunjukkan hal tersebut.

1. Sayyidina Alî berkata tentang sahabat Abû Bakr RA dan Umar RA:

)51/‫ (الش يعة مَنم علهيم ص‬.‫هللا َعَنْ ُ َما‬


ُ ‫ِض‬َ ِ ‫ا َّن خ ْ ََْي َه ِذ ِه ْا ُأل َّم ِة ب َ ْعدَ ن َ ِب ِ ِّهيَا َابُ ْو بَ ْك ٍر َو ُ ََع ُر َر‬.
ِ
“Sesungguhnya umat yang paling baik setelah Nabinya adalah Abû Bakar RA dan Umar RA.” (Al-
Syî`ah Minhum `Alaihim, 60).

2. Sayyidina Alî juga berkata tentang Sayidina Umar RA sebagai berikut:

‫هللا ب َِص ِح ْي َف ِت ِه‬


َ ‫ َما عَ ََل ْا َأل ْر ِض َأ َح ٌد َأ َح ُّب ا َ ََّل َا ْن َألْ َقى‬:‫الس َال ُم‬
َّ ‫لَ َّما غُ ِس َل ُ ََع ُر َو ُك ِف َن َد َخ َل عَ ِ ٌّل َوقَا َل عَلَ ْي ِه‬
ِ
)63/‫ (الش يعة مَنم علهيم ص‬.‫ ِم ْن َه ِذ الْ ُم َس َّجى ب َ ْ َي َأ ْظهُ ِرُ ُْك‬.
"Ketika sahabat ‘Umar dimandikan dan dikafani, Sayyidina Alî RA masuk, lalu berkata, “Tidak
ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa
buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina
Umar).” (Al-Syî`ah Minhum `Alaihim, 53).

Sikap Sayyidina Alî RA ini merupakan ekspresi spontan dari lubuk hati terdalam bahwa di
dalam hati beliau benar-benar tertanam jalinan kasih dan tambatan sayang kepada Sayyidina Umar
RA. Sebab mustahil beliau melakukannya sekedar taqiyah (pura-pura) karena takut pada Sayyidina
Umar RA, sebab pada waktu itu Sayyidina Umar RA telah meninggal dunia.

3. Ucapan Sayyidina Abû Bakar RA, tentang keluarga Rasulullah SAW:

ِ ِ‫ لَ َق َراب َ ُة َر ُس ْول‬،ُ‫هللا َع ْنه‬


.‫هللا َأ َح ُّب ا َ ََّل َأ ْن َأ ِص َل ِم ْن قَ َراب َ ِ ِْت‬ ُ ‫ِض‬َ ِ ‫هللا َعَنْ َا قَا َل َأبُ ْو بَ ْك ٍر َر‬
ُ ‫ِض‬َ ِ ‫َع ْن عَائِشَ َة َر‬
ِ
)3231 :‫(ْصيح البخاري رمق‬.
“Dari Aisyah RA, sesungguhnya Abû Bakar RA berkata, “Sungguh kerabat Rasûlullâh SAW lebih aku
cintai daripada keluargaku sendiri.” (Shahîh Bukhârî, [3730]).

4. Pada kesempatan yang lain, Abû Bakar RA juga berkata,

)3435 ‫ (ْصيح البخاري‬.‫ ُا ْرقُ ُب ْوا ُم َح َّمدما ِ ِْف َأه ِْل بَيْ ِت ِه‬.
“Perhatikan Nabi Muhammad SAW terhadap ahli baitnya.” (Shahîh al-Bukhârî [3436]).

5. Dari 33 putra Sayyidina Ali RA tiga di antaranya diberi nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Dari 14 putra Sayyidina Hasan RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di
antara 9 putra Sayyidina Husain RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian
nama ini tentu saja dipilih dari nama orang-orang yang menjadi idolanya, dan tidak mungkin
diambil dari nama musuhnya. (Lihat, Al-Hujaj al-Qath’iyyah, hal. 195).

Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali RA adalah hamba Allah yang mulia dan harus dijadikan
panutan. Sayyidina Ali RA adalah seorang pemberani dan sekali-kali bukanlah seorang pengecut.
Sebagai pemimpin pasukan, di antara sekian banyak peperangan yang dilakukan pada zaman Rasul,
beliau selalu menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau melakukan
sikap pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya.
Di samping itu, Sayyidina Ali adalah sosok yang bersih hatinya dan jauh dari sifat balas dendam.
Sikap dan prilaku beliau telah membuktikan bahwa beliau bukan jenis manusia yang di dalam hatinya
penuh dengan dendam kesumat, karena itu tidak mungkin beliau mengajarkan raj’ah yang identik
dengan balas dendam.
Bahkan lebih jauh, kecintaan antara para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW
berlangsung hingga keturunan mereka bahkan, berlanjut sampai tingkatan perbesanan. Misalnya
Sayyidina Umar RA menikah dengan Ummi Kultsûm RA putri Sayyidina Ali RA, Zaid bin Amr bin
Utsmân bin Affân RA menikah dengan Sukainah binti al-Husain bin Ali bin Abî Thâlib. Fathimah
binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan lalu
mempunyai anak Muhammad. (Nasabu Quraisy li al-Zubairi, juz 4, hal 120 dan 114)
Begitu pula sikap yang dicontohkan oleh Imam Ja'far al-Shâdiq ketika beliau ditanya tentang
sikapnya kepada sahabat Abu Bakar dan Umar. Beliau menjawab, “Keduanya adalah pemimpin yang
adil dan bijaksana. Keduanya berada di jalan yang benar dan mati dengan membawa kebenaran.
Mudah-mudahan rahmat Allah SWT selalu dilimpahkan kepada keduanya hingga hari kiamat.” (Ihqâq
al-Haq li al-Syusyturî, juz 1, hal 16).
Dalam konteks ini pula Imam Ja‘far al-Shâdiq RA berkata:

)‫ (رواه اِلارقطِن‬.‫ َو َ َِل ِ ِْن َأبُ ْو بَ ْك ٍر َم َّرت ْ َِي‬.


“Aku telah dilahirkan oleh Abû Bakr dua kali." (Riwayat al-Dâraquthni).

Silsilah yang pertama dari ibunya, yang bernama Ummu Farwah binti al-Qâsim bin Muhammad
bin Abû Bakar al-Shiddîq. Dan kedua dari neneknya yakni istri al-Qâsim yang bernama Asmâ’ binti
Abdurrahmân bin Abû Bakar al-Shiddîq. (Fâthimah al-Thâhirah, RA, 113).
Dengan demikian, kita harus memberikan penghormatan yang proporsional terhadap keluarga
Nabi saw dan semua sahabatnya. Kita tidak boleh mencela seorang di antara mereka. Dalam konteks
ini, Imam Abdul Ghani al-Nabulusi berkata:

‫ـب ِب َال ا ْعتِدَ ا‬ ٌ َّ ‫ْص ُب ُه َ ِْج ْي ُعهُ ْم عَ ََل هُدَ ى تَ ْف ِـض ْيلُهُ ْم ُم َرت‬ ْ َ ‫َو‬
‫فَـه ُْم َأبُوبَ ْك ٍر َوب َ ْعـدَ ُه ُ ََع ْر َوب َ ْعدَ ُه ُعثْ َم ُان ُذو الْ َو ْج ِه ا َأل غَ ْر‬
َ َ ‫ُ َُّث عَ ِ ٌّل ُ َُّث ب َ ِـاِق الْ َع‬
َ َّ َ‫ْش ْة َو ِه َـي ال َّ ِ ِْت ِ َْف َجـنَّ ٍة ُمب‬
‫ْش ْة‬
Semua sahabat Nabi SAW selalu mengikuti jalan petunjuk. Keutaman mereka dijelaskan dalam urutan
berikut tanpa melampauinya. Mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman yang
memiliki wajah yang cerah. Kemudian Ali, kemudian sisa sepuluh orang sahabat yang dikabarkan
oleh Nabi SAW akan masuk surga.

Syarh:
Semua shabat Nabi SAW, secara umum selalu mengikuti jalan kebenaran yakni petunjuk Nabi
SAW, sehingga kita tidak boleh membicarakan mereka kecuali dengan baik.
Sedangkan sahabat yang paling utama menurut Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah sesuai urutan
berikut ini, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, kemudian sisa sepuluh orang sahabat yang dikabarkan
akan masuk surga oleh Nabi SAW, yaitu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi
Waqqash, Sa'id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Di sini mungkin ada yang bertanya, mengapa kita harus menghormati dan mencintai keluarga
dan sahabat Nabi SAW tercinta? Untuk menjawab pertanyaan ini, Almarhum Syaikh Hasanain
Muhammad Makhluf –mantan mufti Mesir-, berkata: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya iman itu tidak
akan menjadi kenyataan tanpa dibarengi dengan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dalam hadits
dijelaskan:

‫ َإل يُ ْؤ ِم ُن َأ َحدُ ُ ُْك َح ََّّت َأ ُك ْو َن َأ َح َّب الَ ْي ِه ِم ْن َو َ ِِل ِه َو َو ِ ِاِل ِه َوالنَّ ِاس َأ ْ َْج ِع ْ َي‬.
ِ
"Tidak akan menjadi kenyataan iman salah seorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintai oleh
kamu melebihi anak, orang tua dan seluruh manusia."

Sedangkan kecintaan kepada Nabi SAW tidak akan sempurna kecuali disertai dengan mencintai
orang-orang yang dicintai Nabi SAW. Demikian itu menuntut kita untuk mencintai keluarga Nabi
SAW, mencintai kerabat-kerabat Nabi SAW yang dicintainya dan mencintai para sahabatnya." (Al-
Durar al-Naqiyyah hal. 35).

‫َم ْـو ِ ُِل ُه ِب َمكَّ َة ْا َأل ِم ْينَ ْة َوفَـاتُ ُه ب َِط ْي َب َة الْ َمـ ِديْنَ َة‬
‫َح َأ ْرب َ ِع ْينَا َو ُ َْع ُر ُه قَ ْد َج َاو َز ا ِ ِّلس ِّتِيْنَا‬ ِ ْ ‫َأ َ َِّت قَ ْب َل الْ َو‬
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah yang aman dan meninggal dunia di Thaibah yaitu Madinah.
Umur Nabi SAW genap 40 tahun sebelum menerima wahyu, sedangkan usia Nabi SAW (pada saat
wafatnya) melebihi 60 tahun (yakni 63 tahun)

‫َو َس ْبـ َع ُة َأ ْو َإل ُد ُه فَ ِمـَنْ ُ ْم ثَ َالثَ ٌة ِم َـن ُّاَّل ُك ْو ِر تُ ْفهَ ُم‬


‫الط ِّي ُِب َو َطـا ِه ٌر ِب َذ ْي ٍن َذا يُلَقَّ ُب‬ َّ ‫هللا َوه َُو‬ ِ ُ‫اِس َو َع ْبد‬ ْ ِ َ‫ق‬
‫َأتَـا ُه ا ْب َرا ِه ْ ُْي ِم ْن َسـ ِري َّ ْة فَـأُ ُّم ُه َمـا ِري َ ُة الْ ِقـ ْب ِط َّي ْة‬
ِ
Nabi Muhammad mempunyai 7 anak, di antara mereka adalah tiga anak laki-laki yang harus
dimengerti, yaitu Qasim dan Abdullah yang menyandang gelar al-Thayyib dan al-Thahir lalu Ibrahim
yang lahir dari budak perempuan (Nabi SAW), yaitu ibunya yang bernama Mariyah al-Qibthiyyah.

‫َوغَ ْ ُْي ا ْب َرا ِه ْ َْي ِم ْن َخ ِد ْ ََي ْة ُ ُْه ِس تَّ ٌة فَخ ُْذ َّبِ ِ ْم َو ِل ْي َج ْة‬
ِ
Selain Sayyid Ibrahim, putra-putri Nabi SAW lahir dari Sayyidah Khadijah, mereka semuanya ada
enam Khadijah adalah 6 dan kenalilah mereka dengan penuh kecintaan.

‫َو َأ ْربَـ ٌع ِم َن ْاإلًنَ ِث ت ُْذ َك ُر ِرضْ َو ُان َر ِ ِِّب لِلْ َج ِم ْيع ِ ي ُ ْذ َك ُر‬
ِ
4 Putri Nabi SAW akan disebutkan berikut ini, semoga ridha Tuhanku kepada semuanya selalu
disebut.
‫اُها ِس ْب َط ِان فَضْ لُه ُْم َج ِل‬ َ ُ َ‫فَا ِط َم ُة َّالزه َْرا ُء ب َ ْعلُهَا عَ ِل َوابْن‬
‫فَ َزيْـنَ ٌب َوب َ ْعـدَ هَا ُرقَيَّ ْة َو ُأ ُّم ُ َْكثُ ْـو ٍم َز َك ْت َر ِضـ َّي ْة‬
Keempat putri Nabi SAW tersebut adalah 1) Sayidah Fatimah az-Zahra' yang bersuami Sayidina Ali
dan memiliki dua putra (yaitu Hasan dan Husain), yaitu dua cucu Nabi yang tampak keutamaannya;
2) Sayidah Zainab; 3) Sayidah Ruqayyah dan 4) Sayidah Ummi Kulsum yang suci dan diridhoi.

‫َع ْن تِ ْسع ِ ِن ْس َو ٍة َوفَا ُة الْ ُم ْص َط َفى خ ِ ِّ ُْْي َن فَاخ َ َْْت َن النَّ ِ َّب الْ ُم ْقتَ َفى‬
‫َعـائِشَ ٌة َو َح ْف َـص ٌة َو َس ْـو َد ْة َصـ ِفيَّ ٌة َم ْيـ ُم ْون َ ٌة َو َر ْم َ ْـَل‬
‫َات َم ْر ِض َّي ْة‬ ٌ ‫ـب َك َذا ُج َو ْي ِري َّ ْة لِلْـ ُم ْؤ ِم ِن ْ َي ُأ َّمه‬
ٌ َ‫ِه ْنـ ٌد َو َزيْن‬
Al-Mushthafa (Nabi Muhammad SAW) wafat dengan meninggalkan 9 istri, mereka disuruh memilih,
lalu mereka memilih Nabi SAW yang dapat diikuti (mereka adalah) Aisyah, Hafshoh, Saudah,
Shofiyah, Maimunah, Romlah, Hindun, Zainab dan Juwairiyah. Bagi orang-orang mukmin mereka
adalah ibu-ibu yang diridhoi.

Syarh:
Nabi Muhammad SAW meninggal dunia meninggalkan sembilan istri. Mereka adalah
perempuan-perempuan yang mulia. Kesetiaan mereka telah terbukti dengan menjadi pendamping Nabi
Muhammad SAW dalam suka dan duka. Mereka lebih memilih menjadi istri Nabi Muhammad SAW
dari pada gelimang harta dan kemewahan dunia. Di dalam al-Qur’an kisah mereka diabadikan:

ِ ِّ َ ‫ََي َأُّيُّ َا النَّ ِ ُّب قُ ْل ِ َأل ْز َو ِاج َك ا ْن ُك ْن ُ َُّت تُ ِرد َْن الْ َح َيا َة اِلُّ نْ َيا َو ِزينََتَ َا فَتَ َعالَ ْ َي ُأ َم ِتِّ ْع ُك َّن َو ُأ‬
َ َ ‫َس ْح ُك َّن‬
)98( ‫َسا محا َ ِْجي مال‬
ِ ِ
‫ظ‬ ‫ع‬
َ َ ُ ِ
(92).‫هللا أعَد ُ ْ نَات منْك َّن أ ْج مرا يما‬ ِ ‫س‬ ِ ‫ح‬ ‫م‬ ْ ‫ل‬ ِ ‫ل‬ َّ َ َ ِ ‫آ‬ ْ
َ ‫وِل َواِلَّ َار األخ َر َة فا َّن‬ َ َ ‫ َوا ْن ُك ْن ُ َُّت تُ ِرد َْن‬.
ُ ‫هللا َو َر ُس‬
ِ ِ
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan
perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara
yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan)
di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu
pahala yang besar." (QS. al-Ahzab : 28-29).

Mereka adalah adalah keluarga Nabi. Perempuan-perempuan terbaik yang menjadi ibu dari
seluruh umat Islam (ummahatul mukminin). Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

)5 ،‫ (ا أألحزاب‬.‫النَّ ِ ُّب َأ ْو ََل ِِبلْ ُم ْؤ ِمنِ َي ِم ْن َأنْ ُف ِسهِ ْم َو َأ ْز َوا ُج ُه ُأ َّمهَاُتُ ُ ْم‬.
“Nabi itu lebih utama dari orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah
ibu mereka.” (QS. al-Ahzab : 6).

Oleh karena itulah, umat Islam wajib menghormati mereka, mendo’akan dan membacakan
shalawat kepada mereka.
‫هللا قُولُوا اللَّهُ َّم‬
ِ ‫هللا َك ْي َف ن َُص ِ ِّل عَلَ ْي َك فَ َقا َل َر ُسو ُل‬ ِ ‫هللا َع ْن ُه قَالُوا ََي َر ُسو َل‬ ُ ‫ِض‬ َ ِ ‫السا ِع ِد ِِّي َر‬ َّ ‫َع ْن َأ ِِب ُ َْح ْي ٍد‬
‫ (ْصيح‬.‫َص ِِّل عَ ََل ُم َح َّم ٍد َو َأ ْز َو ِاج ِه َو ُذ ِّ ِريَّتِ ِه َ َمَك َصل َّ ْي َت عَ ََل ألِ ا ْب َرا ِه َْي َو َِب ِركْ عَ ََل ُم َح َّم ٍد َو َأ ْز َوا ِج ِه َو ُذ ِّ ِريَّتِ ِه‬
ِ
)9008 ،‫البخاري‬.
“Dari Abu Humaid al-Sa’idi, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, "Bagaimana cara kami
membaca shalawat kepadamu?" Rasulullah SAW menjawab, "Bacalah, “Ya Allah mudah-mudahan
engkau selalu mencurahkan shalawat kepada Muhammad, istri dan anak cucunya.” (HR. al-Bukhari
[2118]).

‫ـاس َك َذا َ ََّعـ ُت ُه َص ِفيَّ ٌة َذ ُات ا ْح ِت َذا‬


ٌ َّ‫َ ْْح َـز ُة َ َُّع ُه َو َعب‬
Adapun Hamzah adalah paman Nabi dan Abbas juga paman Nabi, sedangkan bibinya adalah
Shofiyah yang selalu taat kepada Allah SWT.

‫َسا ِم ْـن َمكَّ ٍة لَ ْي مال ِل ُق ْـد ٍس يُ ْد َرى‬ َ ْ ‫َوقَ ْبــ َل ِِه َْـر ِة النَّ ِ ِ ِّب ْاإل‬
ِ
َّ َ
‫ـب َر ًِّب َكـ َما‬ ‫ال‬ َ َّ ِ
ُّ ِ َّ ‫َوب َ ْعـدَ ِا ْس َـرا ٍء ُع ُر ْو ٌج َّلس َما َحَّت َرأى ن‬
‫ل‬
‫ِم ْن غَ ْ ِْي َك ْي ٍف َو ْ ِاْن َصا ٍر َوافْ َ ََت ْض عَلَ ْي ِه َ َْخ مسا ب َ ْعدَ َ َْخ ِس ْ َي فَ َر ْض‬
Dan sebelum hijrah, Nabi melakukan isra' (perjalanan di malam hari) dari Mekah ke Baitul Makdis.
Dan setelah Isra’ Nabi naik ke langit sampai Nabi melihat Tuhan (Allah) yang berbicara tanpa
diketahui caranya dan tanpa batas. Dan difardhukan atasnya lima shalat setelah mewajibkan 50
shalat.

Syarh:
Isra’ mi’raj merupakan perjalanan yang istimewa sekaligus kejadian luarbiasa yang dialami oleh
Nabi Muhammad SAW. Terjadi pada malam Senin tanggal 27 Rajab tahun 621 M. Satu tahun sebelum
Nabi SAW hijrah ke Madinah.
Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari dari Masjid al-Haram (Makkah) ke
Masjid al-Aqsha (Palestina). Sedangkan mi’raj adalah naik ke langit, sampai ke langit yang ketujuh
bahkan ke tempat yang paling tinggi yaitu Sidrah al-Muntaha.
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

‫َسى ِب َع ْب ِد ِه لَ ْي مال ِم َن الْ َم ْسجِ ِد الْ َح َرا ِم ا ََل الْ َم ْسجِ ِد ْا َأل ْق ََص َّ ِاَّلي َِب َر ْكنَا َح ْو َ ُِل ِل ُ ُِني َ ُه ِم ْن َء َاَيتِنَا‬
َ ْ ‫ُس ْب َح َان َّ ِاَّلي َأ‬
ِ
)0 ،‫(اإلَساء‬. ‫الس ِمي ُع الْ َب ِص ُْي‬ َّ ‫ ِان َّه ه َُو‬.
“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW) pada suatu malam dari
Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-‘Aqsha (Palestina) yang Kami berkati sekelilingnya untuk
Kami perlihatkan ayat-ayat Kami kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. al-Isra’ : 1).

Kejadian Isra’ dan Mi’raj di latarbelakangi oleh meninggalnya dua orang yang selalu membantu
dakwah islamiyyah, yakni paman dan istri beliau, yakni Abu Thalib dan Sayyidatuna Khadijah.
Sekaligus sebagai wisata hati bagi Rasulullah SAW, karena selama dalam perjalanan, Rasulullah SAW
banyak menyaksikan bahkan mengalami kejadian-kejadian luar biasa, pelajaran yang sangat berguna
untuk menempa hati beliau sebagai seorang nabi dan rasul Allah SWT.
Isra’ Mi’raj terjadi di luar kemampuan akal manusia. Secara gamblang, ayat (QS. al-Isra’ : 1),
tersebut menyatakan bahwa Allah SWT telah memberangkatkan hamba-Nya untuk melakukan safari
suci dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad SAW, yaitu isra’ dan mi’raj. Berdasarkan ayat ini
mayorits ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ mi’raj dengan ruh dan
jasadnya. Imam Nashiruddin Abu al-Khair ‘Abdullah bin ‘Umar al-Baidhawi mengatakan:

“Dan diperselisihkan apakah isrâ’ dan mi’raj terjadi pada waktu tidur (sekedar mimpi belaka)
ataukah dalam keadaan sadar? Dengan ruh (saja) atau sekaligus ruh dan jasadnya? Mayoritas ulama
berpendapat bahwa Allah SWT meng-isrâ’-kan Nabi SAW dengan jasadnya (dari Masjid al-Haram) ke
Bait al-Maqdis kemudian menaikkan beliau ke beberapa langit sampai berhenti di Sidrah al-
Muntahâ.” (Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, juz I, hal 576).

‫َوبَلَّـ َغ ْا ُأل َّم َة ِ ِْبإل ْس َـرا ِء َوفَ ْر ِض َ َْخ َس ٍة ِب َالا ْم ِ ََتا ِء‬
ِ
Nabi menyampaikan kepada umatnya tentang Isra’ dan mewajibkan salat 5 waktu kepada semua umat
tanpa keraguan.

Syarh:
Kewajiban shalat lima waktu disampaikan oleh Allah kepada Nabi SAW pada saat isra'. Dari sini
dapat dipahami tentang keutamaan shalat dari ibadah yang lain. Perintah shalat disampaikan langsung
oleh Allah SWT, secara pribadi tanpa perantara siapapun. Tidak seperti ibadah lain yang diwajibkan
melalui perantara Malaikat Jibril.
Jika seorang pimpinan menyampaikan perintah yang secara langsung kepada bawahannya, maka
kualitas perintah itu akan lebih tinggi dari pada sesuatu yang disampaikan melalui tangan kedua, oleh
staf dan bawahannya. Perbuatan itu sangat penting, sehingga harus disampaikan sendiri.
Dari sisi ini, kita bisa melihat posisi shalat dalam agama Islam. Shalat memiliki kedudukan yang
sangat tinggi dalam agama Islam, sehingga menjadi ruh agama Islam. Karena itu sangat wajar, jika
Rasulullah SAW mengatakan bahwa shalat adalah unsur terpenting dalam agama Islam dan amal
pertama yang dihitung kelak di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

.‫َا َّو ُل َما ُ ََي َاس ُب ِب ِه الْ َع ْبدُ ي َ ْو َم الْ ِقيَا َم ِة َص َالتُ ُه فَ ِا ْن قُ ِبلَ ْت تُ ُق ِبِّ َل َع ْن ُه َسائِ ُر َ ََع ِ ِِل َوا ِْن ُرد َّْت ُر َّد َع ْن ُه َسائِ ُر َ ََع ِ ِِل‬
) ‫(رواه الطْباِن‬.
“Amal pertama kali dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya
diterima, maka diterimalah semua amalnya, namun bila shalatnya ditolak, maka ditolak pula seluruh
amalnya.” (HR. Thabrani).

Berawal dari shalatlah semua perilaku yang baik dan terpuji akan bersemi. Shalat yang sempurna
dan khusyu’ serta dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah SWT, akan menjadikan seseorang untuk
selalu mengingat Allah SWT, karena itulah tujuan dari shalat tersebut. Firman Allah SWT:

)04 ،‫ (طه‬.‫الص َال َة ِ َِّل ْك ِري‬


َّ ‫هللا َإل ا َ َِل اإلَّ َأًنَ فَا ْع ُب ْد ِِن َو َأ ِق ِم‬
ُ َ‫ان َِِّن َأًن‬.
ِ ِ ِ
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku
dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha : 14).
Ketika Allah SWT telah hadir dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas, maka dari sanalah akan
tersemai segala perbuatan baik dan terpuji. Dan dengan sendirinya semua prilaku buruk dan tercela
akan menjauh. Inilah yang dimaksud oleh Firman Allah SWT:

)46 : ‫الص َال َة تََنْ َىى َع ِن الْ َف ْحشَ ا ِء َوالْ ُم ْن َك ِر (العنكبوت‬


َّ ‫ا َّن‬.
ِ
"Sesungguhnya shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar." (QS. al-Ankabut : 45).

ِ ِّ ِ‫قَ ْد فَ َاز ِص ِِّديْقٌ ِب َت ْص ِديْ ٍق َ ُِل َو ِِبلْ ُع ْر ِوج‬


‫الص ْد ُق َو َاَف َأه َ ُِْل‬
Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq telah beruntung dengan mempercayai isra' dan mi'raj, dan kebenaran
tentang mi'raj datang kepada pengikutnya.

Syarh:
Setelah melakukan isra’ mi’raj, Nabi Muhammad SAW kemudian menceritakan kejadian
tersebut kepada kaum Quraisy Mekkah, namun tidak seorangpun yang mempercayainya dan
menganggap Nabi mengada-ada dan membuat berita palsu. Kecuali satu orang sahabat yang langsung
mempercayainya, yakni sahabat Abu Bakar RA. Bahkan beliau berkata, “Jangankan peristiwa itu,
lebih aneh dari itupun aku percaya, kalau Nabi Muhammad SAW yang mengatakannya”. Itulah
sebabnya beliau diberi gelar as-Shiddiq (seorang yang selalu membenarkan Nabi Muhammad SAW).
Sebelum peristiwa isra’ mi’raj tersebut, Nabi Muhammad SAW diberi gelar oleh penduduk
Makkah dengan sebutan al-Amin. Yakni orang yang dapat dipercaya. Semua masyarakat Makkah
percaya bahwa perkataan Nabi pasti benar, selalu jujur serta tidak pernah menipu. Namun ketika Nabi
Muhammad SAW menyampaikan cerita isra’ mi’raj, kebanyakan masyarakat langsung tidak
mempercayainya. Hal ini menunjukkan bahwa isra’ mi’raj adalah kejadian yang sangat luar biasa
sehingga mampu menimbulkan keraguan mayoritas masyarakat Arab kepada Nabi Muhammad SAW.
Namun bagi orang beriman yang mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha
Kuasa, kejadian tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Sangat mungkin sekali, sebab beliau tidak
berangkat dengan kemauan sendiri, tapi Allah SWT-lah yang berkehendak. Tak ada sesuatu yang
mustahil bagi Allah SWT jika Dia menghendaki, walaupun itu di luar kemampuan manusia.
Ibarat seekor semut yang “menumpang” naik pesawat terbang dari Jakarta menuju Surabaya,
kemudian kembali lagi ke Jakarta. Yang pasti, kaum semut tidak akan percaya akan cerita si semut
yang telah melakukan perjalanan dalam waktu sesingkat itu. Tapi hal itu sangat mungkin terjadi, sebab
dia memakai kendaraan yang kecepatannya tidak pernah terbayangkan oleh kaum semut. (Fiqh
Tradisionalis, 250).
Begitu pula dengan isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu tidak akan terbayangkan
oleh akal manusia, sebab yang digunakan Nabi SAW adalah kendaraan yang kecepatannya di luar
jangkauan serta tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia, yakni Buraq.

َ َّ َ‫َص ْة َولِلْ َع َـوا ِم َسه َ ٌَْل ُمي‬


‫ْس ْة‬ َ َ ‫َوهَـ ِذ ِه َع ِق ْيدَ ٌة ُم ْخ َت‬
Inilah Aqidatul yang ringkas, yang mudah untuk dipelajari dan dipermudah untuk orang awam.

‫ِل َأ ْْحَدُ الْ َم ْر ُز ْو ِِق َم ْن يَنْتَ ِمى ِِب َّلصا ِد ِق الْ َم ْصدُ ْو ِق‬
َ ْ ِ‫ًنَ ِظ ُم ت‬
Sedangkan yang menazhamkan Aqidh tersebut adalah Ahmad al-Marzuqi, seorang yang nasabnya
bersambung kepada Nabi SAW yang berkata benar dan dipercaya.
Syarh:
Inilah akidah yang wajib diyakini oleh seluruh umat Islam. Akidah yang mudah untuk dipahami,
diyakini kemudian diamalkan oleh seluruh umat Islam. Yakni akidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah yang
merupakan tuntunan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya kemudian diteruskan oleh ulama
salafus shalih dan akhirnya sampai kepada kita.

‫َالْ َحـ ْمدُ ِ ِهلل َو َص ََّل َسل َّ َما عَ ََل النَّ ِ ِ ِّب خ ْ َِْي َم ْن قَ ْد عَل َّ َما‬
Segala puji bagi Allah, dan mudah-mudahan Allah memberi shalawat dan salam sejahtera kepada
Nabi Muhammad, yaitu orang yang paling baik dalam mengajar manusia.

‫ك َم ْن ِ َِب ْ ِْي ه َْد ٍي ي َ ْقتَ ِدي‬


ِِّ ُ ‫ك ُم ْر ِش ٍد َو‬ َّ ‫َو ْاأللِ َو‬
ِِّ ُ ‫الص ْح ِب َو‬
Begitu juga kepada keluarga dan para sahabatnya serta setiap orang yang menunjukkan kebenaran
dan orang yang mengikuti jalan yang benar.

Syarh:
Setelah dibuka dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan
sahabatnya, pada akhir bait dari pelajaran ini juga ditutup dengan hal yang sama. Selain dimaksudkan
sebagai upaya mengharapkan pertolongan Allah SWT serta barokah dari Rasul, keluarga dan
sahabatnya, hal ini sekaligus merupakan pengakuan akan kebesaran Allah SWT, serta puji syukur atas
nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada penulis.
Pengakuan bahwa tanpa ada belas kasih dan pertolongan Allah SWT penulis tidak akan mampu
untuk menyusun nadham yang ringkas dan dengan bahasa yang gampang untuk dipahami. Puji syukur
kepada Allah SWT yang telah memberikan anugerah akal fikiran kepada manusia, sebagai salah satu
nikmat yang sangat berharga yang dimiliki manusia. karena dengan akallah manusia dapat dibedakan
dari makhluk Allah SWT yang lain.

ِِّ ُ ‫َو َأ ْسأَ ُل الْ َك ِر ْ َْي ا ْخ َال َص الْ َع َم ْل َون َ ْف َع‬


‫ك َم ْن َّبِ َا قَ ِد ْاش َتغ َْل‬
ِ
Dan saya (Sayyid Ahmad al-Marzuqi) memohon kepada Dzat Yang Maha pemurah, agar dikarunia
ketulusan dalam beramal, dan kemanfaatan bagi semua orang yang mempelajari akidah ini.

Syarh:
Ikhlas merupakan kunci dari semua amal agar diterima oleh Allah SWT. Merupakan perintah
Allah SWT kepada semua kaum muslim yang beribadah dan beramal shalih agar selalu ikhlas dalam
perbuatannya agar amalannya dapat dicatat oleh Allah SWT sebagai amal baik yang mendapat
ganjaran pahala. Firman Allah SWT:

)56 ،‫ (املؤمن‬.‫ه َُو الْ َح ُّي َإل ا َ َِل اإلَّ ه َُو فَا ْد ُعو ُه ُم ْخ ِل ِص َي َ ُِل ا ِّ ِِل َين الْ َح ْمد ِهلل َر ِ ِّب الْ َعالَ ِم َي‬.
ِ ِ
"Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia
dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam." (QS. al-
Mukmin : 65).
ُّ َ ‫َأبْي َاُتُ َا َم ْ ٌْي ِب َعـ ِِّد الْ ُج َم ْل َتَ ِر ْ َُيهَا َِل‬
‫َح غُ ِّ ٍر ُ َْج ِل‬
Adapun bait-bait akidah ini adalah berjumlah 57 dengan hitungan Abajadun, sedangkan waktu
selesainya adalah tahun 1258.

‫َ ََّسـ ْيَتُ َا َع ِقـ ْيدَ َة الْ َع َوا ِم ِم ْن َو ِاج ٍب ِِف ا ِّ ِِل ْي ِن ِِبلتَّ َما ِم‬
Kami menamakan akidah ini dengan judul Aqidatul Awam yang menerangkan masalah wajib di dalam
agama secara sempurna. Wallohu a’lam bis showab

Sumber Aswaja NU