Anda di halaman 1dari 6

Pesawat Sinar - X

Pesawat sinar-X atau pesawat Rontgen adalah suatu alat yang digunakan untuk melakukan
diagnosa medis dengan menggunakan sinar-X. Sinar-X yang dipancarkan dari tabung diarahkan
pada bagian tubuh yang akan didiagnose. Berkas sinar-X tersebut akan menembus bagian tubuh
dan akan ditangkap oleh film, sehingga akan terbentuk gambar dari bagian tubuh yang disinari.
Sebelum pengoperasian pesawat sinar-X perlu dilakukan seting parameter untuk mendapatkan
sinar-X yang dikehendaki. Parameter parameter tersebut adalah tegangan (kV), arus tabung (mA)
dan waktu paparan.

Pesawat sinar-X terdiri dari sistem dan subsistem sinar-X atau komponen. Sistem sinar-X adalah
seperangkat komponen untuk menghasilkan radiasi dengan cara terkendali. Sedangkan subsistem
berarti setiap kombinasi dari dua atau lebih komponen sistem sinar-X. Pesawat sinar-X diagnostik
yang lengkap terdiri dari sekurang-kurangnya generator tegangan tinggi, panel kontrol, tabung
sinar-X, alat pembatas berkas, dan peralatan penunjang lainnya.
Pesawat sinar-X adalah pesawat yang dipakai untuk memproduksi sinar-X. Untuk dapat
menghasilkan suatu pencitraan sinar-X diperlukan beberapa instrumetasi yang baku sebagai
berikut
1.Tabung sinar-X

Tabung sinar-X berisi filament yang juga sebagai katoda dan berisi anoda. Filamen terbuat dari
tungsten, sedangkan anoda terbuat dari logam anoda (Cu, Fe atau Ni). Anoda biasanya dibuat
berputar supaya permukaannya tidak lekas rusak yang disebabkan tumbukan elektron.
2. Trafo Tegangan Tinggi

Trafo tegangan tinggi berfungsi pelipat tegangan rendah dari sumber menjadi tegangan tinggi
antara 30 kV sampai 100 kV. Pada trafo tegangan tinggi diberi minyak sebagai media pendingin.
Trafo tegangan tinggi berfungsi untuk mempercepat elektron di dalam tabung.

3. Instrumentasi kontrol
Sistem kontrol berfungsi sebagai pengatur parameter pada pengoperasian pesawat sinar-X.
Instrumentasi kontrol terbagi menjadi 5 modul yaitu :
a. modul Power supplay (Catu daya DC )
b. modul pengatur tegangan (kV)
c. modul pengatur arus (mA)
d. modul pengatur waktu pencitraan (S)
e. modul Kendali sistem
f. catu daya AC dari sumber PLN.

Terbentuk Sinar X

Pada peristiwa terjadinya tumbukan tak kenyal sempurna antara electron dengan atom anoda (
target_ akan terjadi dua hal

1. Terjadi radiasi yang dikenal dengan “ bremstrahlung” yaitu elektron yang mendekati atom
targed (anoda) akan berinteraksi dengan atom bahan anoda, tepatnya dengan elektron luar atom
tersebut. Ia mengalami perlambatan sehingga mengeluarkan radiasi. Radiasi ini memiliki aneka
ragam panjang gelombang, oleh karena itu proses bremstrahlung dapat dialami elektron berulang
kali, sehingga spektrum radiasi ini bersifat kontinyu
Elektron yang mendekati atom didalam anoda berinteraksi dengan elektron dalam atom
tersebut, berupa tumbukan tak kenyal sempurna, akibatnya elektron anoda terlepas dari kulitnya.
Atom tertinggal dalam keadaan bereksitasi yang dalam keadaan tidak stabil. Maka terjadilah
(dalam waktu 10-8 detik) pengisian kekosongan itu oleh elektron-elektron yang lebih luar.
Perpindahan kulit yang luar ke kulit yang dalam disertai pancaran radiasi dengan panjang
gelombang tertentu, maka radiasi ini bersifat diskrit[4]. Interaksi elektron dengan atom anoda

berkas sinar-X dalam penyebaranya dari sumber melalui suatu garis yang menyebar ke segala arah
kecuali dihentikan oleh bahan penyerap sinar-X[1]. Oleh karena itu, tabung sinar-X ditutup dalam
suatu rumah tabung logam yang mampu menghentikan sebagian besar radiasi sinar-X, hanya sinar-
X yang berguna dibiarkan keluar dari tabung melalui sebuah jendela/window. Sinar-X adalah
fotonfoton yang mempunyai energi tinggi, karena elektron memancarkan energi maka energy
kinetik elektron akan berkurang dan akhirnya akan kehilangan seluruh energi kinetiknya. Energi
foton maksimum atau panjang gelombang minimum dapat ditulis dengan persamaan

Jadi dalam proses ini akan terjadi spectrum kontinyu, spektrum tersebut mempunyai frekuensi cut
off (batasan) atau panjang gelombang cut off yang tergantung pada potensial percepatan. Elektron-
elektron yang ditembakan akan mengeksitasi electron dalam atom target[1]. Jika elektron yang
ditembakkan cukup besar energinya maka akan mampu melepaskan elektron target dari kulitnya.
Kemudian kekosongan kulit yang ditinggalkan elektron akan diisi oleh electron yang lebih luar
dengan memancarkan radiasi. Transisi ini akan menyebabkan sederet baris(garis-garis) spectrum
yang dalam notasi sinarX disebut garis-garis Kα, Kβ, Kγ dan seterusnya[2]. Pada sistem pencitraan
sinar-X diperlukan tegangan tinggi, dengan tujuan agar dapat dihasilkan berkas sinar-X. Untuk itu
rangkaian listriknya dirancang sedemikian rupa sehingga tegangan tingginya dapat diatur dengan
rentang yang besar yaitu antara 30 kV sampai 100 kV. Jika kVnya rendah maka sinarX memiliki
gelombang yang panjang sehingga akan mudah diserap oleh atom dari targed (anoda), kemudian
disebutsebagaisoftx-ray[1]. Radiasi yang dihasilkan dengan pengaturan tegangan yang cukup
tinggi maka akan dihasilkan sinar-X dengan daya tembus yang besar dan panjang gelombang yang
pendek[1]. Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik yang dapat menembus suatu bahan,
tetapi hanya sinar-X yang mempunyai energi yang tinggi yang dapat menembus bahan yang
dilaluinya, selain itu akan diserap oleh bahan tersebut. Sinar-X yang mampu menembus bahan
itulah yang akan membentuk gambar atau bayangan
Sifat – sifat sinar X
1. Memiliki Daya Tembus

Sinar-X dapat menembus bahan, dengan daya tembus sangat besar dan digunakan dalam
radiografi. Makin tinggi tegangan tabung (besarnya kV) yang digunakan, makin besar daya
tembusnya. Makin rendah berat atom atau kepadatan suatu benda, makin besar daya tembus
sinarnya.

2. Pertebaran

Apabila berkas sinar-X melalui suatu bahan atau suatu zat, maka berkas tersebut akan bertebaran
ke segala arah, menimbulkan radiasi sekunder (radiasi hambur) pada bahan/zat yang dilaluinya.

3. Penyerapan

Sinar-X dalam radiografi diserap oleh bahan atau zat sesuai dengan berat atom atau kepadatan
bahan/zat tersebut. Makin tinggi kepadatan atau berat atomnya, makin besar penyerapannya.

4. Efek Fotografik

Sinar – X dapat menghitamkan emulsi film (emulsi perakbromida) setelah diproses secara kimiawi
(dibangkitkan) dikamar yang gelap

5. Pendar Flour (Fluoresensi)

Sinar-X menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsiumtungstat atau zink-sulfid


memendarkan cahaya (luminisensi), bila bahan tersebut dikenai radiasi sinar-X.
6. Ionisasi

Efek primer sinar-X apabila mengenai suatu bahan atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel
behan atau zat tersebut

7. Efek Biologis

Sinar-X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologic pada jaringan.


Bahaya Sinar X

sinar-X tersebut bila mengenai tubuh manusia akan menyebabkan jaringan kulit menjadi
mengering, jaringan tulang akan keropos dan sel telor perempuan akan mati, sehingga
menyebabkan mandul. Menurutnya, radiasi dari sinar-X ini bukanlah penyakit, akan tetapi dampak
radiasi ini akan menurunkan tingkat stamina dan kekebalan tubuh seseorang. Oleh karenanya bila
seseorang terkena radiasi sinar-X disarankan segera mengkonsumsi makanan bergizi, minum susu
dan kacang hijau agar sel-sel tubuh yang mati segera tergantikan oleh sel-sel yang baru. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa untuk memonitor besaran radiasi tersebut terdapat tiga alat ukur radiasi
yaitu Survey Meter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu lokasi dalam
keadaan aman dari radiasi atau belum. Kedua, Film Badge salah satu alat untuk memonitor
seberapa banyak radiasi yang mengenai tubuh manusia atau operator. Ketiga Pocket Docimeter
salah satu alat untuk mengetahui seberapa besar radiasi yang ada dalam suatu lokasi sehingga
sebelum alat ini dipakai harus dinetralkan.

Bayi dalam perut ibu adalah sensitif terhadap sinar X karena bayi tersebut sedang mengalami
pembelahan sel-sel secara cepat untuk menjadi jaringan dan organ yang bermacammacam.
Tergantung pada tingkat paparannya, sinar X yang dipaparkan kepada wanita hamil dapat
berpotensi menimbulkan keguguran, atau cacat janin, termasuk malformasi, pertumbuhan
terlambat, terbentuk kanker pada usia dewasanya, atau kelainan lainnya. Komisi pengaturan nuklir
memberikan gambaran radiasi 2-6 pada janin akan meningkatkan resiko terbentuknya sel kanker.
Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
paparan 5 – 10 rad pada wanita hamil dan cacat bawaan. Berikut adalah table yang merangkum
efek sinar-X terhadap janin dalam rahim. Sebuah penelitian di Inggris memperkirakan jumlah
paparan sinar X pada janin setelah ibunya mengalami pemeriksaan rontgen sebelum menyadari
bahwa mereka dalam keadaan hamil. Hasil pemeriksaannya cukup menggembirakan, bahwa janin
hanya terpapar 0.5 – 1.5 rad setelah pemeriksaan rontgen perut atau punggung bawah ibu,
sementara bagian tubuh ibu yang jauh menerima paparan 10-100x lebih rendah. Komisi
pengaturan nuklir membatasi satuan 2 rads sebagai ambang radiasi yang mungkin menyebabkan
kerusakan janin