Anda di halaman 1dari 11

EKONOMI POLITIK

PARADIGMA DAN TEORI PILIHAN PUBLIK


Untuk Memenuhi Tugas Reading Course Mata Kuliah Seminar Isu-Isu Publik

Disusun Oleh :
Sandytya Hariyadi D0105129
Satria Tunggul W. D0105131

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2008

IDENTITAS BUKU YANG DIREVIEW DAN DIKRITIK

Judul : EKONOMI POLITIK – Paradigma dan Teori Pilihan Publik


Pengarang : Prof. Dr. Didik J. Rachbini
Penerbit : Ghalia Indonesia
Tahun Terbit : 2002
Tebal Buku : 207 halaman

IDENTITAS BUKU SEBAGAI ACUAN PEMBERIAN KRITIK

1. Judul : Demasifikasi Pemerintahan : Perspektif Marzuki Usman


Penyusun : Tim Kanata
Penerbit : Jendela, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2004
Tebal Buku : 327 halaman

2. Judul : Politik Lokal dan Pembangunan


Pengarang : DR Hilmy Mochtar, MS.
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2005
Tebal Buku : 116 halaman

3. Judul : Ekonomi, Politik Internasional dan Pembangunan


Pengarang : Dr. Mohtar Mas’oed
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2003
Teval Buku : 242 halaman

REVIEW BUKU
“EKONOMI POLITIK – PARADIGMA DAN TEORI PILIHAN PUBLIK”

Ilmu ekonomi politik mengalami transformasi dari waktu ke waktu dengan arah
kajian, instrumen, dan objek yang berubah-ubah. Pada masa tertentu, kajian Ilmu
Ekonomi Politik lebih tertuju pada aspek-aspek politik dan kebijakan pemerintah, tapi
pada masa lain bergulir kembali ke arah kajian ekonomi dan kebijakan pemerintah
atas bidang ini.

A. Paradigma dan Sistem Ekonomi Politik

Ilmu Ekonomi Politik secara konvensional mempelajari bagaimana sistem kekuasaan


dan pemerintahan dipakai sebagai instrumen atau alat untuk mengatur kehidupan
sosial atau sistem ekonomi. Sehingga sistem kekuasaan menjadi fokus paling utama
dalam ilmu ekonomi politik.
Ada 4 bentuk sistem ekonomi politik yang dominan saat ini, yaitu kapitalisme,
sosialisme, komunisme, dan sistem ekonomi campuran (mixed economic system).
Sistem kapitalisme mengakomodasi sifat-sifat eksistensi mekanisme pasar, insentif
pendirian badan usaha, motif mencari keuntungan sehingga peranan institusi pasar
dan swasta dominan. Di dalam sistem kapitalisme, pemilikan (ownership) terletak di
tangan individu. Dalam aktivitas ekonomi berlaku hukum pasar, yakni mekanisme
pembentukan harga ditentukan oleh bekerjanya faktor permintaan dan penawaran.
Peranan pemerintah terbatas untuk melakukan kontrol dan mengikuti
perkembangannya agar tidak terjadi kegagalan pasar.
Sebaliknya, sistem sosialisme lebih mementingkan peran negara, tetapi memberikan
ruang gerak yang sedikit terhadap institusi pasar, motif mencari keuntungan, dan
peranan swasta. Di dalam sistem ekonomi sosialisme, kelompok industri dasar dan
sumber daya yang menyangkut kepentingan rakyat, dikuasai oleh negara. Aktivitas
produksi bermotifkan faktor ekonomi dan nonekonomi. Di sinilah peranan pemerintah
cukup besar, terutama pada sektor-sektor produksi strategis yang merupakan tumpuan
masyarakat banyak. Pemikiran sosialis membangun fondasi komunis. Sehingga
kapitalisme banyak mengambil pemikiran dasar sosialisme untuk mengeliminir
kelemahan internalnya.
Sistem ekonomi campuran (mixed economy) merupakan paduan dari dua bentuk
sistem ekonomi sosialisme dan kapitalisme. Sebenarnya sistem ekonomi ini dapat saja
mneghilangkan konotasi perpaduan antara dua sistem ekonomi tersebut karena sistem
ekonomi campuran dapat signifikan dalam khasnya tersendiri. Sistem ekonomi
campuran tetap berbasis pada prinsip pasar untuk mencari keuntungan, yang
terkendali oleh aturan pemerintah.
Dalam beberapa abad terakhir ini analisis ekonomi politik lebih ditandai oleh dua
kubu pemikiran, yaitu versi liberalisme dan komunitas (kelompok). Kapitalisme
liberal dikembangkan dengan penekanan kajian terhadap bekerjanya mekanisme pasar
dan alasan logika ekonomi yang rasional. Sementara, kelompok Marxis lebih
menekankan pada telaah terhadap kekuasaan yang banyak mempengaruhi hasil proses
politik yang berkaitan dengan ekonomi.
B. Teori Ekonomi Politik Baru

Perkembangan ilmu ekonomi politik menunjukkan semangat dan gairah baru setelah
lahir dan tumbuh perspektif teori Ekonomi Politik Baru (EPB) atau ”The New
Political Economy” atau lebih dikenal dengan ”Rational Choice (RC)” dan ”Public
Choice (PC)”. Teori ini berusaha untuk menjembatani ilmu ekonomi dengan
menelaah fenomena ekonomi dalam perspektif mekanisme pasar, dan dengan
fenomena dan kelembagaan non-pasar pada bidang di luar ekonomi. Pendekatan EPB
juga berusaha untuk memahami realitas politik dan bentuk-bentuk sikap sosial lainnya
dalam kerangka analisis, yang dianalogikan pada faktor individual, yang rasional.
Dengan demikian, pendekatan EPB lebih bersifat liberal-individual tetapi tidak
berkembang tanpa memperhatikan realitas sosial sebagai basisnya.
Dalam perspektif EPB, ilmu ekonomi politik terbuka untuk memahami masalah,
fenomena dan kelembagaan nonpasar, termasuk melihat peran negara di dalam
kegiatan dan transaksi ekonomi. Dengan demikian, pendekatan EPB merupakan
transformasi pendalaman teoritis untuk menjelaskan berbagai aspek manusia dengan
institusinya.
Pendekatan EPB dalam tiga dekade terakhir semakin terlihat jelas dengan ditandai
oleh tiga karya penting yaitu :
a. Petani Rasional
Dikemukakan oleh Samuel Popkin. Analisis EPB ini sangat aplikatif untuk melihat
fenomena-fenomena ekonomi dan politik yang terjadi di negara berkembang. Dalam
teori ini Popkin melakukan analisis ekonomi politik yang didasarkan pada fakta dan
eksistensi alasan rasional, yang sesungguhnya ada pada sikap dan tindakan petani.
b. Pasar dan Negara
Dikemukakan oleh Robert Bates. Merupakan proses perkembangan pendekatan EPB
dalam menganalisis hubungan rasional antara petani dengan politik, negara atau
pemerintah. Dalam perspektif EPB ini, interaksi kolektif melibatkan masyarakat luas
dengan pemerintah sebagai pihak yang mengeluarkan kebijakan melalui pasar. Pasar
dimanfaatkan oleh petani sebagai instrumen politik dan pasar dimanfaatkan politisi
sebagai instrumen kontrol atas masyarakat.
c. Kebijakan Publik : Kelangkaan dan Pilihan
Dikemukakan oleh Donald Rotchild dan Robert Curry. Menjelaskan hubungan
kepentingan individu dengan kepentingan publik. Cara pandang ini memperlakukan
individu (yang terikat dalam kelembagaan) sebagai pengambil sikap yang rasional.
Kajian ini dipakai untuk mengklarifikasi pilihan-pilihan terbuka untuk pengambilan
keputusan, membantu menganalisis biaya dan manfaat suatu kebijakan tertentu.
Dengan dasar rasional tersebut, maka pengambi keputusan sampai pada pilihan
kebijakan yang paling baik.

C. Barang Publik, Teori Organisasi dan Tindakan Kolektif

1. Barang Publik
Barang publik berdimensi kolektif karena pemanfaatan atau tindakan yang dikenai
atas barang publik tersebut akan berdampak positif atau negatif terhadap individu
lainnya. Konsumsi atau pemanfaatan atas barang tersebut oleh individu atau
sekelompok individu akan berimplikasi terhadap individu atau kelompok individu
lainnya. Dengan demikian, barang publik adalah barang (atau jasa) yang tidak bisa
dikonsumsi secara individu tetapi tanpa mempunyai pengaruh apapun terhadap
individu-individu lain di dalam suatu kelompok. Jika seseorang mengkonsumsi
barang publik, maka pengaruhnya akan dirasakan oleh individu lainnya.
Barang publik murni mempunyai dua karakteristik utama, yaitu penggunaannya tidak
dimediasi oleh transaksi yang bersaing (non-rivalry) sebagaimana barang privat; dan
tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (non-excludability). Untuk itu biasanya
pemerintah terlibat secara langsung dalam penyediaan barang publik murni sebagai
pelengkap dalam sistem ekonomi.
2. Teori Organisasi dan Teori Kelompok
Meskipun organisasi bisa dipahami secara umum, tetapi dalam realitas sosial ekonomi
masyarakat terdapat banyak perbedaan tipe, bentuk, dan ukuran organisasi. Perbedaan
tersebut menimbulkan implikasi yang berbeda jika dipakai sebagai alat kelembagaan
oleh pelaku individu atau kelompok. Dengan demikian, setiap organisasi lahir dengan
tujuan tertentu dan untuk kepentingan bersama dari individu-individu yang terlibat di
dalamnya.
Negara sebagai sebuah organisasi juga mempunyai tujuan mewujudkan cita-cita suatu
bangsa. Dalam sistem keuangan, negara mempunyai kekuatan memaksa atas dasar
hukum dan perundang-undangan yang dibuat untuk mewajibkan warganya membayar
pajak. Warga negara wajib membayar pajak karena negara pun menyediakan layanan-
layanan publik yang bersifat mutlak seperti pertahanan keamanan, layanan birokrasi,
dan sebagainya.
Dari dasar berpikir seperti ini, analisis selanjutnya sampai pada konsep dasar yang
disebut barang publik, yaitu manfaat bersama yang disediakan oleh negara. Konsep
ini menjadi dasar pemikiran bagaimana seharusnya negara mengalokasikan sumber
keuangannya secara efektif (study of public finance). Negara mempunyai kewajiban
menyediakan barang publik, setelah masyarakat membayar pajak.

D. Teori Pilihan Publik (Public Choice)

James Buchanan mempelopori lahirnya perspektif atau teori pilihan publik (public
choice). Pandangan ini menjanjikan untuk dapat menjelaskan lebih tepat tentang
fenomena sosial dan politik. Pilihan publik bukan sekedar metode dalam arti sempit
dan juga bukan alat analisis biasa yang dipakai untuk menjelaskan kejadian atau
fenomena sederhana.
Pilihan publik adalah sebuah perspektif untuk bidang sosial dan politik yang muncul
dari pengembangan dan penerapan perangkat dan metode ilmu ekonomi. Teori pilihan
publik ini berguna untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan kolektif dan
berbagai fenomena nonpasar. Selanjutnya Buchanan mengulasnya dari dua aspek
yang merupakan dua elemen pokok dari perspektif public choice yaitu pendekatan
”catallactics” dan aspek ”homo economicus”.
Pendekatan ”catallactics” dipakai sebagai suatu pendekatan ekonomi dan sebagai
subjek pencarian dan gambaran perhatian langsung dari proses pertukaran (process of
exchange). Dari pemahaman ini, institusi pertukaran dapat menjadi paradigma dasar
yang dapat memberikan landasan teoritis bagi ilmu ekonomi dan politik. Dengan cara
pandang baru ini, maka ilmu politik bisa mendapat pencerahan sehingga institusi
politik menjadi lebih egaliter dan demokratis.
Sedangkan konsep homo economicus dipakai untuk menjelaskan prespektif public
choice yang bersifat inklusif. Arti sebenarnya dari konsep ini adalah bahwa manusia
cenderung memaksimalkan manfaat utilitas untuk dirinya karena dihadapkan pada
kenyataan akan keterbatasan sumber daya yang dimilikinya.
E. Teori Birokrasi dan Peran Negara

Di dalam ekonomi ada nuansa sosial, budaya, kelembagaan dan politik masyarakat.
Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap mekanisme pasar yang terbentuk
dan transaksi ekonomi yang terjadi. Negara atau birokrasi adalah sebuah entitas
kelembagaan yang paling dominan dan sangat berpengaruh dalam kehidupan
ekonomi. Dengan demikian, tugas birokrasi tidak hanya menyangkut urusan sosial
dan politik, tetapi juga menyangkut masalah-masalah ekonomi. Tugas-tugas dalam
bidang ekonomi harus mempertimbangkan perspektif teori-teori ekonomi yang
mengarah pada pasar, efisiensi, pencapaian keuntungan yang optimal dan
kesejahteraan anggota masyarakat secara umum.
Mazhab public choice dapat menjelaskan perspektif birokrasi dari sisi ekonomi
dengan melihat penawaran dan permintaan barang dan jasa yang disediakan.
Permintaan untuk komoditi birokrasi (bureau product) datang dari pemerintah. Di
dalam demokrasi, pemerintah dipilih melalui pemilihan umum. Barang publik, seperti
transportasi, kesehatan dan listrik biasanya disediakan oleh pemerintah dari parpol
pemenang pemilu. Barang publik tersebut kemudian didistribusikan oleh birokrat.
Dalam analogi ini, maka pemerintah merupakan produsen barang publik sedangkan
birokrat adalah distributornya.
Fenomena ekonomi, kesejahteraan individu dan kemajuan ekonomi tidak hanya
sekedar produk dari transaksi pasar tanpa melibatkan negara, kelembagaan, dan
faktor-faktor nonekonomi lainnya. Dalam kenyataannya, ternyata hukum, peraturan,
pendidikan dan aspek lainnya ikut menentukan perkembangan ekonomi. Usaha
menempatkan peran negara tetap dalam rangka tujuan untuk kesejahteraan ekonomi
masyarakat dalam wujud ”welfare economics”. Peran negara tidak bisa dilepaskan
dari kerangka teori ini karena misi normatifnya adalah terus meningkatkan
kesejahteraan individu di dalam lingkup negara dimana kegiatan ekonomi dan
pembangunan dilaksanakan.
Sedangkan pentingnya peranan pemerintah di dalam sistem ekonomi pasar adalah
sebagai berikut. Pertama, adanya kegagalan pasar membuka kemungkinan masuknya
peranan negara untuk mendorong ke arah terwujudnya mekanisme pasar yang efektif.
Tujuannya adalah untuk menciptakan kesejahteraan yang optimal bagi pelaku
ekonomi yang ikut di dalamnya.
Kedua, kegagalan publik untuk menumbuhkan sistem ekonomi menyebabkan pasar
yang efektif dan efisien tidak terwujud sehingga menunda kesejahteraan pelakunya.
Namun untuk memasukkan peran pemerintah perlu basis teori tentang pemerintah
untuk mengetahui bagaimana seharusnya pemerintah bersikap dan bertindak di dalam
sistem ekonomi pasar.
Ketiga, kenyataan kegagalan distribusi pendapatan dan ketimpangan kesejahteraan
masyarakat. Pasar yang tidak bekerja sempurna dan informasi yang pincang
menyebabkan alokasi sumber-sumber ekonomi tidak terjadi secara adil dan
proporsional. Peranan pemerintah lebih tertuju untuk melalukan redistribusi atau
pengalokasian kembali sumber-sumber ekonomi.

CRITICAL REVIEW BUKU


“EKONOMI POLITIK – PARADIGMA DAN TEORI PILIHAN PUBLIK”

Dalam buku Ekonomi Politik – Paradigma dan Teori Pilihan Publik masih terdapat
beberapa kelemahan-kelemahan yang perlu untuk diperbaiki. Di antaranya masih
terdapat permasalahan dan topik yang belum atau tidak dimuat. Untuk itu, beberapa
buku digunakan sebagai pelengkap dan acuan dalam pemberian kritik dari buku
Ekonomi Politik – Paradigma dan Teori Pilihan Publik tersebut.
Kelemahan yang pertama adalah di dalam buku Ekonomi Politik – Paradigma dan
Teori Pilihan Publik tidak disebutkan model pendekatan ekonomi politik yang
digunakan. Model pendekatan ekonomi politik tersebut antara lain adalah model
normatif, model neo – klasik dan model ”political development issues”. Model
pendekatan ekonomi politik ini dikemukakan oleh DR Hilmy Mochtar, MS dalam
bukunya Politik Lokal dan Pembangunan.
Kelemahan yang kedua adalah dalam buku Ekonomi Politik – Paradigma dan Teori
Pilihan Publik tidak dipaparkan sejarah lahir dan perkembangan ekonomi politik yang
terjadi saat ini. Selain itu, buku tersebut tidak mempunyai pengagendaan
implementasi ekonomi politik di Indonesia. Untuk melengkapinya, digunakan buku
Ekonomi, Politik Internasional dan Pembangunan karangan DR Mohtar Mas’oed yang
menyebutkan aspek historikal dari perkembangan ekonomi politik. Di dalam buku ini
juga memfokuskan pada bagaimana implementasi ekonomi politik diterapkan dalam
agenda kebijakan pembangunan di Indonesia.
Kelemahan yang ketiga adalah buku Ekonomi Politik – Paradigma dan Teori Pilihan
Publik tidak memaparkan kemungkinan penerapan ekonomi politik dari segi politik
dan segi ekonomi secara terpisah serta tidak memaparkan dampak-dampak dari
demasifikasi ekonomi politik. Topik tersebut dapat ditemukan dalam buku
Demasifikasi Pemerintahan : Perspektif Marzuki Usman. Di dalam buku tersebut
dipaparkan tentang pemisahan penerapan ekonomi politik dalam segi politik dan segi
ekonomi. Buku ini juga memaparkan tentang kecenderungan negatif dari demasifikasi
ekonomi politik dimana pengelolaan politik yang semestinya berperan sebagai
prakondisi lahirnya daya saing perekonomian masyarakat, justru akan membentuk
perkembangan perekonomian yang berlandaskan KKN.
birokrasi dan demokratisasi
Critical Review Pembangunan Politik

Martin Albrow, Birokrasi, Bab IV Birokrasi dan Teoretisi Demokrasi, (

Yogyakarta

: PT. Tiara Wacana Yogya)

Birokrasi dan Demokratisasi

Sebuah Critical Review

oleh Ahkdi Kumaeni

Pendahuluan

Konon gagasan tentang birokrasi lahir dari keprihatian terhadap tempat yang
sepatutnya bagi pejabat dalam pemerintahan modern. Menurut Catatan Martin Albrow
Secara khusus, kita telah menyaksikan bagaimana pada penulis abad ke-19
mempertentangkan birokrasi dengan demokrasi. Mereka menjelaskan aneka cara yang
dengannya manfaat dan kegunaan pejabat negara dianggap merusak nilai-nilai
demokrasi. Dengan kata lain, gejala yang diangap menentukan birokrasi dinyatakan
sebagai topik yang signifikan bagi analisis-analisis karena hubungannya dengan nilai-
nilai demokrasi, dan karena bertentangannya dengan nilai-nilai itu dianggap
merupakan masalah-masalah yang memerlukan pecahan. Menjelaskan hakekat
penyakit itu. Kemudian sebagai nilai-nilai demokrasi dirumuskan kembali, begitu
pula konsep birokrasi disusun kembali.[1]

Analisis model demikian ini Martin menilai bisa didapati pada argumen lama tentang
hubungan demokrasi dan birokrasi yang sisa-sisa diubah melalui penyajian yang
mencakup dua perangkat masalah: spesifikasi nilai-nilai demokrasi, dan pengumpulan
data-data tentang pejabat negara dalam pemerintahan modern.[2]

Setidaknya dapat diangkat dari mereka terdapat dua ciri konsepsi, yakni baik empirik
maupun normatif yang harus dijelaskan. Untuk menunjukkan eksitensi birokrasi
tersebut tidak cukup hanya dengan cara menunjukkan mode tingkah laku pada pejabat
negara. Haruslah ditunjukkan bahwa tingkah laku ini tidak terkait dengan tugas
mereka. “Suatu fungsi yang karenanya mereka diangkat”. Tetapi fungsi inilah yang 
selalu diperselisihkan. Karenanyalah ini merupakan inti pokok perdebatan yang tidak
kunjung selesai tentang sifat birokrasi yang sesungguhnya.[3]

Mendiagnosa Birokrasi Sebagai upaya Demokratisasi ala Martin Albrow

Didalam permulaan pembahasan ini, sebenarnya Martin Albrow akan menjelaskan


dengan singkat bahwa konsep yang sedang diamatinya secara saksama  adalah tentang
pejabat-pejabat negara yang menjalankan tujuan-tujuan demokrasi. Akibat
penerapannya yang relatif terhadap gejala empirik. Dengan memulai asumsinya kira-
kira  “apakah tindakan pejabat-pejabat negara dianggap sebagai birokrasi
tergantung pada bagaimana nilai-nilai demokrasi itu ditafsirkan dan yang mana
diantara penafsiran itu yang dipandang salah. Karena, didalam masing-masing tafsir
demokrasi terdapat suatu gagasan yang berkaitan dengan birokrasi”.[4]

Sebagian besar teori konstitusional di abad ke-19 dipersembahkan untuk


mengelaborasi pembagian fungsi-fungsi antara orang-orang legislatif, eksekutif dan
yudikatif negara demokrasi. Sedikit perhatian diberikan untuk memerinci tempat
pejabat negara didalamnya. Posisinya yang semata-mata bersifat pelengkap ini
diterima secara luas. Tetapi sebagai administrasi yang makin lama makin besar yang
kemudian menjadi inti pemerintahan modern, kriterianya sebagai pelengkap semakin
tampak tidak sesuai sebagai alat yang mencirikan sifat administrasi demokrasi.
Kriteria yang berbeda seperti akuntabilitas, tanggung jawab, kepekaan atau
perwakilan, dipandang merupakan standar-standar yang sesuai untuk
mengartikulasikan nilai-nilai demokrasi, yang harus dipedomani para pegawai negara
jika mereka tidak mau menjadi birokrasi. Sebab demikian Martin sepertinya hendak
mengajak kita (pembaca) untuk  melihat bagaimana masing–masing kriteria ini
digunakan dalam usaha untuk mendiagdosis dan menyembuhkan masalah birokrasi,
dan kita akan melihat bahwa masing-masing tindakan itu melibatkan interpretasi yang
berbeda tehadap apa yang mendasar bagi konsep demokrasi.[5]

Diagonasi Birokrasi; Fungsi Pejabat dan


Administrasi Demokratik
Martin berupaya membedakan tiga posisi dasar tentang fungsi-fungsi pejabat di
negara demokrasi yakni:

Pertama, bahwa pejabat menuntut kekuasan terlalu besar dan  perlu dikembalikan
pada fungsinya yang semula.

Kedua, bahwa pejabat benar-benar memiliki kekuasaan dan tugas semakin besar dan
jabatan harus dijalankan secara bijaksana.

Ketiga, bahwa kekuasan itu diperlukan oleh para pejabat dan yang harus dicari adalah
metode-metode yang dengannya pelayanan mereka dapat disalurkan bersama-sama.    

Dari posisi tersebut, yang ketiga jelas paling radikal tetapi jelas juga kurang
terartikulasi; yang kedua paling ortodoks, dan yang pertama lebih dekat dengan
keperihatinan abad ke-19. Ia merupakan yang paling dekat dan populer di hadapan
kaum yuris (para ahli hukum)..

Dalam konteks iinilah Martin berupaya memberi penekanan yang berbeda pada
fungsi-fungsi pejabat negara yang  mencakup interpretasi yang berbeda tentang apa
yang dipahami oleh admistrasi yang demokratik dan begitu juga mencakup perspektif
yang berbeda terhadap masalah birokrasi. Dengan meminjan konsep dari Herman
Finer[6]  tentang kriteria tanggung jawab menurut akuntabilitas metode diganti
dengan keprihatinan terhadap kepekaan pejabat pada kebutuhan-kebutuhan umum.
Cara lain untuk mengemukakan ini, melalui pertimbangan terhadap penekanan yang
berbeda pada konsep demokrasi yang dicakupnya. Mereka yang menganggap pejabat
dikhawatirkan terlalu diperluas tentang berkaitan dengan gagasan kekuasaan
berdasarkan hukum dan pengawasan pemerintahan oleh wakil yang dipilih. Mereka
yang percaya bahwa fungsi-fungsi dalam pembuatan kebijakan kurang dapat diterima,
lebih cenderung mengembangkan gagasan-gagasan pemerintahan yang
mengekspresikan keinginan dasar rakyat dan gagasan tentang arus informasi yang
bebas antara yang memerintah dan yang diperintah. Menurut pendirian ini masalah
birokrasi timbul manakala pejabat gagal memahami atau mengangapi kebutuhan
umum. Hal ini dapat terjadi bahkan ketika prosedur kontrol formal ditutup secara
rapat sekali.[7] 

Setidaknya para penentang penekanan pada kontrol formal di dalam administrasi


negara, mempertahankan bahwa jika kontrol formal itu diperlukan bagi individu agar
memiliki otonomi personal dan kebebasan dalam mengambil keputusan dan perilaku
bagi masyarakat agar individu memiliki keterikatan yang mendalam terhadap nilai-
nilai demokrasi, karenanya, maka tanpa kecuali syarat-syarat itu diperlukan bagi
pejabat negara dan pegawai negeri.[8]

Pada titik inilah didapati kesimpulan oleh Martin bahwa komitmen pejabat terhadap
nilai-nilai demokrasi adalah suatu benteng pengaman yang lebih penting bagi
demokrasi dari pada sistem kontrol. Metode-metode mancapai hasil ini mencakup
suatu penekanan yang keras pada kompetensi profesional dan suatu kebijakan
rekrutmen yang memliki orang-orang yang berkaliber baik serta menjamin bahwa
latar belakan sosial mereka adalah begitu rupa sehingga mereka disenangi oleh semua
golongan masyarakat.(perlu ditekankan bahwa kebanyakan sistem sosial menilai dua
aspek rekrutmen ini tidak cocok). Profesionalisme dan pewakilan diharapkan
menambah kepercayaan politik,dan sebagai akibatnya adalah menurunnya permintaan
kontrol formal.tetapi efek yang menggunakan tidak behenti di sini.penurunan kontrol
fomal yang berasal dari luar mengakibatkan pengurangan kontrol formal dalam
hiearki jabatan. Pejabat merasa kurang terancam sedangkan kepercayaan antar pejabat
meningkat. Sebagaimana juga mengutip kesimpulan B.H. Baum bahwa desentralisasi
tergantung pada kepercayaan timbal balik. Tetapi desentralialisasi berkaitan dengan
kecepatan keputusan. Pada gilirannya hal ini mengurangi friksi dengan umum dan
memperkuat keyakinan umum. Lingkaran setan birokrasi telah melemah.[9]

Demikian ini, pejabat negara modern tampak seperti aristokrat paternalistik. tetapi 
ditegaskan oleh Martin bahwa publik itu bersuara, walaupun pejabat orang yang
dipilih, suara siapakah yang didengar, dan dengan tingkat perhatian yang bagaimana.
Mengutip pendapat John Stuart Mill melihat adanya konflik tajam antara birokrasi
dan demokrasi perwakilan. Ia melihat pada terakhir mempunyai ciri yang jelas
memperkuat kemanpuan tindakan politik dan menjamin kekuasaan tindakan
terorganisir tersebut didalam masyarakat. Keyakinan pandangan ini ialah bahwa
menurut gagasan demokrasi,kekuasam memutuskan tidak diperuntungkan kepada
orang sedikit yang mempertahangkan posisi ketiga pada masalah birokrasi yang kita
kenali. Itulah dasar tuntutan bagi warga negara, pemerintah kaum baru atau kekuasaan
mahasiswa. Ia telah diterima tanpa pejelasan yang sah.[10]
Penutup: Ideologi Barat versus Birokrasi
Modern
Martin kemudian mengakhiri catatan bab ini,  bahwa perlu diingat pula dari segi
perbincangan ideologis, bahwa tema yang sama akan tampak: gambaran munculnya
pembahasan radikal tentang struktur pembuatan keputusan dalam suatu negara dan
organisasi-organisasi yang mendominasi masyarakat modern.[11] Bahwa terdapat
asumsi-asumsi yang tidak teruji dibalik argumen mereka yang menyatakan bahwa
asumsi itu merupakan ekspresi ideologi masyarakat Barat yang canggih. Biasanya
diasumsikan bahwa disamping semua manusia adalah anggota kelompok kepentingan,
hanya sejumlah kecil manusia yang dapat melihat kepentingan semua manusia.
Demokrasi yang dianggap merupakan kepentingan bersama ini, hanya sedikit yuang
dapat ditampatkan dalam tindakan politik. Menurut Martin hal yang demikian itu pasti
benar bahwa aspek tindakan itu akan terus tumbuh, dan pula  bahwa pejabat negara
akan meningkat jumlahnya,  kaliber mereka harus selalu ditingkatkan karena
keputusan yang mereka buat menjadi lebih kompleks.[12]

Dengan demikian bagi kalangan radikal, justru pengakuan teoretisi demokrasi Barat
tehadap kerangka konseptual yang telah ada ini yang cocok dengan problem birokrasi
modern. Pada akhirnya, kehidupan sosial tergantung pada konsep-konsep bersama
dan itupun  mungkin dirasakan bahwa ada batas konsensus yang memadai tentang
pengertian birokrasi yang populer untuk membenarkan penerimaan konsep ini oleh
para ilmuawan sosialisasi. Demikian ini simpulan Martin.[13]

[1] Lihat dalam Martin Albrow, Birokrasi, Bab IV Birokrasi dan Teoretisi Demokrasi, (Yogyakarta: PT.
Tiara Wacana Yogya), hlm. 105.

[2] Ibid, hlm. 106.

[3] Ibid.

[4] Ibid, lihat pada hlm. 108.

[5] Dikutip langsung dari ibid, hlm. 109.

[6] Herman Finer

[7] Lihat, ibid, hlm. 111-112

[8] Ibid, hlm. 117.

[9] Ibid.

[10] Ibid, hlm. 119


[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.