Anda di halaman 1dari 49

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA NY. K DENGAN OSTEOARTHRITIS DI RT 01/04 DESA MERSI


KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMAS

Di Susun Oleh :
RIZKI RESTIYANYI (P1337420216002)
KARTIKA DWI ANANDA (P1337420216008)
YASINTA PRATIWI NUGRAHENI (P1337420216015)
SEBASTIAN ALFARIZI (P1337420216022)
ERNA DWI RIYANTI (P1337420216023)
IFTINAN HIKMAT MUMTAHANAH (P1337420216031)
ATIKA NUR KHAFIFAH (P1337420216037)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
2018
LAPORAN PENDAHULUAN OSTEOARTRITIS

1. Definisi
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degenaeratif atau
osteoartritis (sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang
paling sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan
(disabilitas) (Nanda NicNoc, 2012).
Osteoartritis adalaha kondisi dimana sendi terasa nyeri akibat
inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung- ujung tulang penyusun
sendi ( Soenarwo, 2011)
Osteoartritis adalah kondisi dimana sendi terasa nyeri akibat
inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung- ujung tulang penyusun
sendi.
Jadi osteoartritis merupakan kelainan yang bersifat progresif lambat
yang mengenai rawan sendi.
2. Epidemiologi
Angka kejadian OA sering dijumpai pada orang dengan usia 45 thn
keatas dengan angka kejadian pada wanita lebh banyak daripada pria.
Diseluruh dunia, diperkirakan 9,6% pria dan 18% wanita berumur 60 thn
keatas, terkena OA. Insiden OA pada umur kurang dari 20 tahun sekitar
10% dan meningkat lebh dari 80% pada umur lebih dari 55 tahun
(Susanto,2011).
3. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor pencetus dari Osteoartritis yang banyak
meyebabkan gejala, meliputi:
1) Umur
Perubahan fisik dan biokimia yang terjadi sejalan dengan
bertambahnya usia dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar
air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2) Pengausan
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat
merusak rawan sendi melalui 2 mekanisme yaitu pengikisan dan
proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
3) Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi
penopang berat badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang
disebabkan oleh osteoartritis mengakibatkan seseorang menjadi
tidak aktif dan dapat menambah kegemukan
4) Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis
adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas
struktur dan biomekanik sendi tersebut.
5) Keturunan
Herbeden node merupakan salah satu bentuk osteortritis
yang biasa ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena
osteoartritis sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya
yang terkena.
6) Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematoid, infeksi akut, infeksi kronis)
menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak
matrik rawan sendi oleh membran synovial dan sel- sel radang.
7) Joint mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormone pertumbuhan,
maka rawan sendi akan menebal dan menyebabkan sendi menjadi
tidak stabil/ seimbang sehingga memperceat proses degenerasi
8) Penyakit Endokrin
Pada hipertiroidisme terjadi produksi air dan garam-
garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan
penyokong sehinggga merusak sifat fisik rawan sendi, ligament.
Tendon, synovial, dan kulit pada diabetes melitus, glukosa akan
menyebabkan produksi proteaglandin menurun.
9) Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis,penyakit wilson, akronotis, kalsium
pirofosfat dapat mengendapkan homosiderin, tembaga polimer,
asam hemogentisis, kristal monosodium urat/ pirofosfat dalam
rawan sendi.
b. Faktor Presipitasi
1) Demografi
Mereka yang terdiagnosis osteoartritis, sangatlah diperlukan
adanya perhatian lebih mengenai keadaan lingkungan. Ketika
lingkungan sekitarnya yang tidak mendukung. Maka kemungkinan
besar klien akan merasakan gejala penyakit ini. Banyak diantaranya
ketika keadaan suhu lingkungan sekitar klien yang cukup dingin,
maka klien akan merasa ngilu, kekakuan sendi pada area- area yang
biasa terpapar, sulit untuk mobilisasi dan bahkan kelumpuhan.
4. Manifestasi Klinis
a. Nyeri sendi, keluhan utama
b. Hambatan gerak sendi, gangguan ini biasanya semakin berat dengan
pelan- pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.
c. Kaku pagi
d. Krepitasi, rasa gemeretak (kadang- kadang dapat terdengar) pada sendi
yang sakit.
e. Pembesaran sendi (deformitas)
f. Perubahan gaya berjalan
g. Tanda- tanda peradangan, tanda- tanda peradangan pada sendi ( nyeri
ekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan)
5. Patofisiologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak
meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses
penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai
dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi. Proses degenerasi
ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur
penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress
biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya
polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit
sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering
terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul
lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan
terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami
atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi
tersebut. Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena
peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas
congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan
trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga
menyebabkan fraktur ada ligamen atau adanya perubahan metabolisme
sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan
kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan rongga sendi
yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya hipertropi atau
nodulus.
6. Pathway

7. Klasifikasi
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi:
a. Tipe primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya
yang berhubungan dengan osteoartritis.
b. Tipe skunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah mengalami
fraktur.
8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi bila osteoartritis tidak ditangani yaitu
terjadi deformitas atau kerusakan struktur penunjang sendi dengan
perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau jari, subluksasi sendi
metakarpofalangeal, deformitas bautonmere dan leher angsa pada kaki
terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari
subluksasi metatarsal.
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis
dan ulkus peptikum yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat
anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit
(disease modifying antirhematoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor
penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga
sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya
berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan
neuropati iskemik akibat vaskulitis.
9. Pemeriksaan diagnostik (Penunjang)
a. Foto sinar X pada sendi- sendi yang terkena. Perubahan-perubahan yang
dapat ditemukan adalah
1) Pembengkakan jaringan lunak
2) Penyempitan rongga sendi
3) Erosi sendi
4) Osteoporosis juksta artikuler
b. Tes Serologi
1) BSE Positif
2) Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
c. Pemeriksaan radiologi
1) Periarticular osteopororsis, permulaan persendian erosi
2) Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan
ankilosis
d. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya kekurangan serta proses
radang aseptik, cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara
makroskopik.
10. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum yang lengkap perlu dilakukan. Disamping
menilai adanya sinovasi pada setiap sendi, perhatikan juga hal- hal berikut
ini:
a. Keadaan umum: komplikasi steroid, berat badan.
b. Tangan: meliputi vaskulitasi dan fungsi tangan
c. Lengan: Siku dan sendi bahu, nodul rematoid dan pembesaran
kelenjar limfe aksila.
d. Wajah: periksa mata untuk sindroma sjorgen, skleritis, episkelritis,
skleromalasia perforans, katarak anemia dan tanda- tanda
hiperviskositas pada fundus. Kelenjar parotis membesar
e. Mulut: (Kring, karies dentis, ulkus) catatan: artritis rematoid tidak
menyeababkan iritasi.
f. Leher: adanya tanda- tanda terkenanya tulang servikal.
g. Toraks: Jantung (adanya perikarditis, defek konduksi, inkompetensi
katup aorta dan mitral).Paru- paru (aadanya efusi pleura, fibrosis,
nodul infark, sindroma caplan)
h. Abdomen: andanya splenomegali dan nyeri tekan epigastrik
i. Panggu dan lutut: tungkai bawah danya ulkus, pembengkakan betis
(kista baker yang ruptur) neuropati, mononeuritis multipleks dan
tanda- tanda kompresi medula spinalis.
j. Kaki: efusi lutut, maka cairan akan mengisi cekungan medial dan
kantong suprapatelar mengakibatkan pembengkakan diatas dan
sekitar patela yang berbentuk seperti ladam kuda dan efusi sendi
pergelangan kaki akan terjadi pembengkakan pada sisi anterior.
k. Urinalisis: untuk protein dan darah, serta pemeriksaan rektum untuk
menentukan adanya darah.
11. Terapi/ Tindakan Penanganan
Prinsip utama pengobatan penyakit osteoartritis adalah dengan
mengistirahatkan sendi yang terserang. Karena jika sendi yang terserang
terus digunakan akan memperparah peradangan. Dengan mengistiratakan
sendi secara rutin dapat mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan.
Embidaian bisa digunakan untuk imobilisasi dan mengistiratkan satu atau
beberapa sendi. Tetapi untuk mencegah kekakuan dapat dilakukan beberapa
gerakkan yang sistematis. Obat- obat yang digunakan untuk mengobati
penyakit ini adalah:
1. Obat anti peradangan non steroid, yang paling sering digunakan
adalah aspirin dan ibuprofen. Obat ini mengurangi pembengkakan
sendi dan mengurangi nyeri.
2. Obat slow-acting. Obat ini ditambahkan jika terbukti obat anti
peradangan non steroid tidak efektif setelah diberikan selama 2-3
bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang cepat.
3. Kortikosteroid, misalnya prednison merupakan obat paling efektif
untuk mengurangi peradangan dibagian tubuh manapun.
Kortikosteroid efektif digunakan pada pemakaian jangka pendek,
dan kurang efektif bila digunakan dalam jangka panjang. Obat ini
tidak memperlambat perjalanan pnyakit ini dan pemakaian jangka
panjang mengakibatkan berbagai efek samping., yang melibatkan
hampir setiap orang.
4. Obat Imunosupresif (contoh metotreksat,azatioprin, dan
cyclophosphamide) efektif unuk mengatasi artritis yang berat. Obat
ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa
dihindari atau diberikan dengan dosis rendah.

Ada sejumlah cara penatalaksanaan yang sengaja dirancang


untuk mencapai tujuan- tujuan ini. Pendidikan, istirahat, latihan fisik
dan termoterapi, gizi dan obat- obatan.
a. Langkah pertama dari program penatalaksanaan ini adalah
memberikan pendidikan yang cukup tentang penyakit kepada
pasien, keluarganya dan siapa saja yang berhubungan dengan
pasien. Pendidikan yang di berikan meliputi pengertian tentang
patofisiologis, penyebab, dan prognosis penyakit ini, semua
kompnen program penatalaksanaan termasuk regimen obat yang
kompleks, sumber- sumber bantuan untuk mengatasi penyakit
ini, dan metode-metode efektif tentang penatalaksanaan yang
diberikan oleh tim kesehatan. Proses pendidikan ini harus
dilakukan secara terus menerus. Bantuan dapat diperoleh
melalui club penderita. Badan- badan kemasyarakatan dan dari
orang- orang lain yang juga pendeita artritis reumatoid serta
keluarga mereka.
b. Istirahat penting karena osteartiritis biasanya disertai rasa lelah
yang hebat. Walaupun rasa lelah dan kekakuan sendi itu bisa
timbul setiap hari, tetapi ada masa- masa ketika pasien merasa
lebih baik atau lebih berat. Kekakuan dan rasa tidak nyaman
dapat meningkat apabila beristirahat, hal ini berarti bahwa pasien
dapat mudah terbangun dari tidurnya pada malam hari karena
nyeri.
c. Latihan- latihan spesifik dapat bermanfaat dalam
mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencakup gerakan
aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali
sehari. Kompres panas pada sendi- sendi yang sakit dan bengkak
mungkin dapat mengurangi nyeri. Mandi parafin dengan suhu
yang bisa diatur dan mandi dengan suhu panas dan dingin dapat
dilakukan di rumah.
d. Tindakan operatif dapat dilakukan apabila tindakan diatas sudah
tidak dapat menolong pasien lagi. Penggantian engsel
(artoplasti) dilakukan dengan mengganti engsel yang rusak dan
diganti dengan alat lain yang terbuat dari plastik atau metal yang
disebut prostesis. Pembersihan sambungan (debridemen) dapat
dilakukan dengan mengangkat serpihan tulang rawan yang rusak
yang mengganggu pergerakan dan menyebabkan nyeri saat
pergerakan tulang. Penataan tulang dapat dipilih jika artroplasti
tidak dipilih pada kondisi tertentu, seperti osteoartritis pada anak
dan remaja. Penataan ini dilakukan agar sambungan/ engsel
tidakmenerima beban saat melakukan pergerakan
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Pengkajian fisik
1) Identitas
2) Keluhan utama
Klien mengeluh nyeri pada persendian, bengkak, dan terasa
kaku.
3) Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan sakit pada persendian,
bengkak, dan terasa kaku.
4) Pola fungsi Gordon
a) Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya, saat klien
sakit tindakan yang dilakukan klien untuk menunjang
kesehatannya.
b) Nutrisi/metabolic
Kaji makanan yang dikonsumsi oleh klien, porsi sehari,
jenis makanan, dan volume minuman perhari, makanan
kesukaan.
c) Pola eliminasi
Kaji frekuensi BAB dan BAK, ada nyeri atau tidak saat
BAB/BAK dan warna
d) Pola aktivitas dan latihan
Kaji kemampuan klien saat beraktivitas dan dapat
melakukan mandiri, dibantu atau menggunakan alat
e) Pola tidur dan istirahat
Kaji pola istirahat, kualitas dan kuantitas tidur, kalau
terganggu kaji penyebabnya
f) Pola kognitif-perseptual
Status mental klien, kaji nyeri dengan Provokasi
(penyebab), Qualitas 9nyerinya seperti apa), Reqion (di daerah
mana yang nyeri), Scala (skala nyeri 1-10), Time (kapan nyeri
terasa bertambah berat).
g) Pola persepsi diri
Pola persepsi diri perlu dikaji, meliputi; harga diri, ideal
diri, identitas diri, gambaran diri.
h) Pola seksual dan reproduksi
kaji manupouse, kaji aktivitas seksual
i) Pola peran dan hubungan
Kaji status perkawinan, pekerjaan
j) Pola manajemen koping stress
k) Sistem nilai dan keyakinan
b. Fungsional klien
1) Indeks Barthel yang dimodifikasi
Penilaian didasarkan pada tingkat bantuan orang lain dalam
meningkatkan aktivitas fungsional. Penilaian meliputi makan,
berpindah tempat, kebersihan diri, aktivitas di toilet, mandi, berjalan
di jalan datar, naik turun tangga, berpakaian, mengontrol defikasi
dan berkemih. Cara penilaian:
NO KRITERIA BANTUAN MANDIRI

1 Makan 5 10

2 Minum 5 10

3 Berpindah dari kursi roda 5-10 15


ketempat tidur/sebaliknya
4 Personal toilet (cuci muka, 0 5
menyisir rambut, menggosok gigi)
5 Keluar masuk toilet (mencuci 5 10
pakaian, menyeka tubuh, menyiram)
6 Mandi 5 15

7 Jalan di permukaan datar 0 5

8 Naik turun tangga 5 10

9 Menggunakan pakaian 5 10

10 Kontrol bowel (BAB) 5 10

11 Kontrol Bladder (BAK) 5 10

Total skor

Cara penilaian:
< 60 : ketergantungan penuh/total
110-105 : ketergantungan sebagian
110 : mandiri

2) Indeks Katz
Pengkajian menggunakan indeks kemandirian katz untuk
aktivitas kehidupan sehari-hari yang berdasarkan pada evaluasi
fungsi mandiri atau bergantung dari klien dalam hal: makan,
kontinen (BAB/BAK), berpindah, ke kamar mandi, mandi dan
berpakaian. Indeks Katz adalah pemeriksaan disimpulkan dengan
system penilaian yang didasarkan pada tingkat bantuan orang lain
dalam melakukan aktivitas fungsionalnya. Salah satukeuntungan
dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi
aktivitas dan latihan setiap waktu, yang diakhiri evaluasi dan
aktivitas rehabilitasi. Pengukuran pada kondisi ini meliputi:
Termasuk kategori manakah klien?
a. Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB/BAK), menggunakan
pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi
b. Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas
c. Mandiri kecuali mandi dan salah satu fungsi lain
d. Mandiri kecuali mandi, berpakaian dan salah satu fungsi diatas
e. Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet dan salah satu
fungsi yang lain
f. Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan
satu fungsi yang lain
g. Ketergantungan untuk semua fungsi diatas
Keterangan :
Mandiri berarti tanpa pengawasan, pengarahan atau
bantuan efektif dari orang lain, seseorang yang menolak untuk
melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi,
meskipun ia dianggap mampu.
c. Status mental dan kognitif gerontik
1) Short Portable Mental Status Questioner (SPMSQ)
Digunakan untuk mendeteksi adanya tingkat kerusakan
intelektual. Pengujian terdiri atas 10 pertanyaan yang berkenan
dengan orientasi, riwayat pribadi, memori dalam hubungannya
dengan kemampuan perawatan diri, memori jangka panjang dan
kemampuan matematis atau perhitungan (Pfeiffer, 2002).

NO PERTANYAAN BENAR SALAH

1 Tanggal berapa hari ini

2 Hari apa sekarang

3 Apa nama tempat ini

4 Alamat anda?

5 Berapa umur anda?

6 Kapan anda lahir (minimal tahun


lahir)
7 Siapa presiden indonesia
sekarang?

8 Siapa presiden indonesia


sebelumnya?
9 Siapa nama ibu anda?

Kurangi 3 dari 20 dan tetap


10 pengurangan 3 dari setiap angka
baru, semua secara menurun
Jumlah

Interpretasi hasil :
1) Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
2) Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
3) Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
4) Salah 9-10 : kerusakan intelektual berat

2) MiniMental Status Exam (MMSE)


Mini mental status exam (MMSE) menguji aspek kognitif
dari fungsi mental: orientasi, registrasi, perhatian dan kalkulasi,
mengingat kembali dan bahasa. Nilai kemungkinan ada 30, dengan
nilai 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan kognitif
yang memerlukan penyelidikan lanjut. Pemeriksaan memerlukan
hanya beberapa menit untuk melengkapi dan dengan mudah dinilai,
tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk tujuan diagnostic. karena
pemeriksaan MMSE mengukur beratnya kerusakan kognitif dan
mendemonstrasikan perubahan kognitif pada waktu dan dengan
tindakan. Ini merupakan suatu alat yang berguna untuk mengkaji
kemajuan klien yang berhubungan dengan intervensi. Alat pengukur
status afektif bdigunakan untuk membedakan jenis depresi serius
yang mempengaruhi fungsi-fungsi dari suasana hati. Depresi adalah
umum pada lansia dan sering dihubungkan dengan kacau mental dan
disorientasi, sehingga seorang lansia depresi sering disalah artikan
dengan dimensia. Pemeriksaan status mental tidak dengan jelas
membedakan antara depresi dengan demensia, sehingga pengkajian
afektif adalah alat tambahan yang penting.

2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan agen cedera biologis, distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.
b. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan deformitas skeletal,
nyeri, ketidaknyamanan, penurunan kekuatan otot
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan perubahan dan
ketergantungan fisik serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau
terapi
d. Resiko trauma berhubungan dengan keterbatasan ketahanan fisik,
perubahan fungsi sendi
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit, prognosis
dan kebutuhan perawatan dan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya pemahaman/mengingat kesalahan interpretasi informasi.
f. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas sendi, perubahan
bentuk tubuh pada sendi dan tulang.
3. Perencanaan

No Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan


Tujuan Intervensi
1. Nyeri b.d agen cedera Setelah diberikan Pain Management
biologis, distensi asuhan keperawatan  Lakukan
jaringan oleh akumulasi selama 1x24 jam pengkajian
cairan, destruksi sendi diharapkan nyeri nyeri secara
komprehensif
berkurang/terkontrol termasuk
dengan kriteria hasil : lokasi,
karakteristik,
 Mampu
durasi,
mengontrol
frekuensi,
nyeri (tahu
kualitas dan
penyebab nyeri,
faktor
mampu
presipitasi
menggunakan
 Observasi
tehnik
reaksi
nonfarmakologi
nonverbal dari
untuk
ketidaknyama
mengurangi
nan
nyeri, mencari
 Evaluasi
bantuan)
pengalaman
 Melaporkan
nyeri masa
bahwa nyeri
lampau
berkurang
 Kurangi
dengan
faktor
menggunakan
presipitasi
manajemen
nyeri
nyeri
 Pilih dan
 Mampu
lakukan
mengenali
penanganan
nyeri (skala,
nyeri
intensitas,
(farmakologi,
frekuensi dan
non
tanda nyeri)
farmakologi
 Menyatakan
dan inter
rasa nyaman
personal)
setelah nyeri  Kaji tipe dan
berkurang sumber nyeri
 Tanda vital untuk
dalam rentang menentukan
normal intervensi
 Ajarkan
tentang teknik
non
farmakologi
 Berikan
analgetik
untuk
mengurangi
nyeri
 Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
 Tingkatkan
istirahat
 Kolaborasika
n dengan
dokter jika
ada keluhan
dan tindakan
nyeri tidak
berhasil
 Monitor
penerimaan
pasien tentang
manajemen
nyeri
 Analgesic
Administratio
n
 Tentukan
lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian
obat
 Cek instruksi
dokter tentang
jenis obat,
dosis, dan
frekuensi
 Cek riwayat
alergi
 Pilih
analgesik
yang
diperlukan
atau
kombinasi
dari analgesik
ketika
pemberian
lebih dari satu
 Tentukan
analgesik
pilihan, rute
pemberian,
dan dosis
optimal
 Evaluasi
efektivitas
analgesik,
tanda dan
gejala (efek
samping)

2. Gangguan/kerusakan Setelah diberikan Exercise therapy :


mobilitas fisik b/d asuhan keperawatan ambulation
deformitas skeletal, selama 3x24 jam,  Monitoring
nyeri, diharapkanhambatan vital sign
ketidaknyamanan, mobilisasi fisik dapat sebelm/sesud
penurunan .kekuatan diatasi dengan kriteria ah latihan dan
otot : lihat respon

 Klien meningkat pasien saat

dalam aktivitas latihan

fisik  Kaji

 Mengerti tujuan kemampuan

dari peningkatan pasien dalam

mobilitas mobilisasi

 Memverbalisasika  Latih pasien

n perasaan dalam dalam

meningkatkan pemenuhan

kekuatan dan kebutuhan

kemampuan ADLs secara

berpindah mandiri sesuai


kemampuan
 Memperagakan  Dampingi dan
penggunaan alat Bantu pasien
Bantu untuk saat
mobilisasi mobilisasi dan
(walker) bantu penuhi
kebutuhan
ADLs ps.
 Berikan alat
Bantu jika
klien
memerlukan
 Bantu klien
melakukan
latihan ROM
 Ajarkan
pasien
bagaimana
merubah
posisi dan
berikan
bantuan jika
diperlukan
3 Defisit perawatan diri Setelah
Self Care
b/d kelemahan, diberikan
assistance : ADLs
kerusakan persepsi dan asuhan
 Monitor
kognitif keperawatan
kemampuan
selama 3x24
klien untuk
jam, klien
perawatan diri
mampu
yang mandiri.
merawat diri
dengan kriteria  Monitor
hasil : kebutuhan
klien untuk
 Klien terbebas
alat-alat bantu
dari bau badan
untuk
 Menyatakan
kebersihan
kenyamanan
diri,
terhadap
berpakaian,
kemampuan
berhias,
untuk
toileting dan
melakukan
makan.
ADLs
 Sediakan
 Dapat
bantuan
melakukan
sampai klien
ADLS dengan
mampu secara
bantuan
utuh untuk
melakukan
self-care.
 Dorong klien
untuk
melakukan
aktivitas
sehari-hari
yang normal
sesuai
kemampuan
yang dimiliki.
 Dorong untuk
melakukan
secara
mandiri, tapi
beri bantuan
ketika klien
tidak mampu
melakukanny
a.
 Berikan
aktivitas rutin
sehari- hari
sesuai
kemampuan.
.
4. Resiko trauma b/d Setelah diberikan
Environmental
penurunan fungsi sendi, asuhan keperawatan
Management
keterbatasan ketahanan selama 3x24 jam,
safety
fisik diharapkan klien
 Sediakan
tidak/terhindar dari
lingkungan
resiko trauma dengan
yang aman
criteria:
untuk pasien
 Klien terbebas  Identifikasi
dari cedera kebutuhan
 Klien mampu keamanan
menjelaskan pasien, sesuai
faktor resiko dengan
dari kondisi fisik
lingkungan/peri dan fungsi
laku personal kognitif
 Mampu pasien dan
memodifikasi riwayat
gaya hidup penyakit
untuk terdahulu
mencegah injuri pasien
 Menghindark
an lingkungan
yang
berbahaya
(misalnya
memindahkan
perabotan)
 Memasang
side rail
tempat tidur
 Menyediakan
tempat tidur
yang nyaman
dan bersih
 Menempatkan
saklar lampu
ditempat yang
mudah
dijangkau
pasien.
 Memberikan
penerangan
yang cukup
 Mengontrol
lingkungan
dari
kebisingan
 Memindahka
n barang-
barang yang
dapat
membahayak
an
 Berikan
penjelasan
pada pasien
dan keluarga
atau
pengunjung
adanya
perubahan
status
kesehatan dan
penyebab
penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Aby, Ahmad. 2014. Osteoarthritis OA atau Pengapuran


Sendi. http://ahmadaby.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Agustus 2018,
18:15 WIB

Anonim. 2012. Osteoarthritis


KneePain. http://www.singhealth.com.sg/Patientcare/Overseas-
Referral/bh/Conditions/Pages/Osteoarthritis-Knee-Pain.aspx. Diakses
tanggal 13 Agustus 2018, 18:15 WIB

Cania, Murni. 2014. Askep


Osteoarthritis. http://murnicania.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Agustus
2018, 18:15 WIB

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku edisi 3. Jakarta


: EGC

Idrus, Alwi, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi V, jilid
III. Jakarta : Internal Publishing

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal :


Aplikasi Pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta : EGC

Nurma, Ningsih lukman. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien


Dengan Gangguan Sistem Musculoskeletal. Jakarta: Salemba Medika

Zairin, Noor Helmi. 2014. Buku Ajar Gangguan


Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
PADA NY. K DENGAN OSTEOARTHRITIS DI RT 07/02 DESA MERSI
KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMAS

I. PENGKAJIAN
Nama Pengkaji : Erna Dwi Riyanti
Hari, Tanggal Pengkajian : Jumat, 10 Agustus 2018
Pukul : 10.00 WIB
A. Identitas Umum Keluarga
1. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn E
Umur : 37 Tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh Karyawan
Alamat : Desa Mersi Rt 01/Rw 04 Purwokerto Timur
Komposisi Keluarga :
No Nama L/P Umur Hubungan Pekerjaan Pendidi
Keluarga kan
1. Tn E L 37 th Kepala Pedagang SMP
Keluarga
2. Ny. A P 35 th Istri IRT SMP
3 An D L 15 th Anak Pelajar SD
4 An F P 11 th Anak Pelajar -
5 An L P 7 th Anak Pelajar -
6 Ny. K P 73 th Nenek Mengurus SD
RT
2. Genogram

Keterangan :
: Laki – laki

: Perempuan

/ : Meninggal

: Garis Pernikahan

: Garis Keturunan

: Garis Perceraian

: Tinggal serumah

: Klien

Ny. K tinggal bersama anak laki-laki ke-5 nya, istri dari


anaknya dan 3 orang cucu, satu laki-laki dan dua perempuan.
Keluarga Ny. K mempunyai penyakit keturunan yaitu hipertensi.
3. Tipe Keluarga
Keluarga Ny. K adalah keluarga besar yaitu yang terdiri dari bapak,
ibu, anak dan nenek.
4. Suku Bangsa
a. Asal suku bangsa : Jawa
b. Budaya yang berhubungan dengan kesehatan : tidak ada budaya
yang mengikat dan berpantang terhadap kesehatannya.
5. Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan : tidak ada
budaya yang mengikat dan berpantang terhadap kesehatannya.
6. Status Sosial Ekonomi Keluarga
a. Anggota keluarga yang mencari nafkah : anaknya yaitu Tn E
bekerja sebagai pedagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari.
b. Penghasilan : kurang lebih penghasilan keluarga Ny. K yaitu Rp.
3.000.000-/bln,
c. Upaya Lain : terkadang Ny. K mendapatkan kiriman dari
anaknya yang lain
d. Harta benda yang di miliki (perabot, transportasi, dan lain-lain)
: keluarga Ny. K menempati rumah dengan perabot seperti
lemari kayu, kipas angin, tv, lemari es, mesin cuci dll.
e. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : untuk memenuhi
kebutuhan primer Ny. K merasa cukup.
7. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Rekreasi keluarga Ny. K biasanya hanya dilakukan dengan
menonton televisi bersama dan pergi ke pasar di waktu luang.

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini pada tahap keluarga lanjut
usia.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tidak ada tahapan perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
Tidak ada penyakit/keluhan yang kronis, hanya sakit ringan seperti
batuk, pilek dan demam.
4. Riwayat kesehatan saat ini
Nutrisi : Ny.K makan tiga kali sehari tetapi porsi
makannya berkurang dari biasanya
Cairan dan elektrolit : Minum ± 7 gelas sehari
Aktivitas : Ny. K mengatakan bahwa dia masih
sanggup untuk melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, karena sakit
yang dia rasakan tidak begitu berat.
5. Riwayat penyakit keturunan
Ny. K mengatakan tidak ada riwayat osteoarthritis dalam
keluarganya.
6. Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan
Puskesmas dan posyandu lansia
7. Riwayat kesehatan sebelumnya
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lain sebelumnya
C. Pengkajian Lingkungan
1. Karakteristik Rumah
a. Luas rumah kira-kira 10 ubin, dengan 4 kamar tidur, 1 ruang
tamu, 1 dapur, dan kamar mandi.
b. Sumber air menggunakan sumur, WC bentuk leher angsa,
saluran air dialirkan ke septictank, ventilasi di rumah cukup
terpapar sinar matahari. Untuk malam hari menggunakan listrik
dan penerangan yang cukup.
c. Type rumah : permanen.
1) Kepemilikan sendiri.
2) Ventilasi/jendela cukup dari luas rumah.
3) Pemanfaatan ruangan baik, sesuai pembagian dan
penggunaan ruangan oleh Ny. K.
4) Septicteng : ada.
5) Sumber air minum : TUK
6) Kamar mandi/WC : bentuk leher angsa.
7) Sampah dibuang dan dikumpulkan ke tempat pengumpulan
sampah akhir yang dekat dari rumah.
8) Kebersihan lingkungan cukup
Denah rumah :

Keterangan :
C D A : Ruang tamu
B : Kamar tidur
C : Dapur
B B D : WC
1

3 U

A B B

S
Keterangan :

Rumah Ny. K menghadap ke arah barat


= Sumber air : Sumur gali

= Septictank
1
A = Ruang tamu
1
B = Kamar tidur
C3 = Dapur
D = WC
Jarak dari sumber air ke septictank sekitar 10 m, dan septictank
tertutup.
d. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
1) Kebiasaan masyarakat di sekitar : tidak ada kesepakatan
masyarakat yang bertentangan dengan kesehatan.
2) Aturan/kesepakatan : tidak ada yang bertentangan dengan
kesehatan.
3) Budaya jawa yang dianut turun temurun : tidak ada yang
bertentangan dengan kesehatan.
e. Mobilitas geografis keluarga : Ny. K sebelum dan setelah
menikah tinggal di Desa Mersi Rt 01/Rw 04 Purwokerto Timur
f. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat :
Perkumpulan keluarga dilakukan sebulan sekali, arisan keluarga
dan jika ada anggota keluarga yang memiliki acara tertentu, Ny.
K selalu diajak keluarganya untuk mengikuti perkumpulan
tersebut. Kegiatan dimasyarakat ada pengajian setiap hari jumat
sore. Ny. K terkadang tidak mengikuti
g. System pendukung : Ny. K memiliki 5 anak. Tiga anak
perempuan dan 2 anak laki-laki. Namun yang bertempat tinggal
dalam satu rumah 1 keluarga anak laki-lakinya, yaitu anaknya,
istri anaknya dan 3 cucu serta anak Ny. K yang lain juga sering
berkunjung ke rumah untuk menjenguk keadaan Ny. K. Tidak
ada masalah yang berarti mengenai hubungan dengan anak dan
menantu serta cucunya.
h. Struktur keluarga :
1) Pola/cara komunikasi keluarga dengan system terbuka. Jika
ada masalah dibicarakan bersama.
2) Struktur kekuatan keluarga : Ny. K dan keluarga
mengambil keputusan dengan bermusyawarah bersama.
3) Struktur peran : Ny. K sebagai orang tua sekaligus sebagai
nenek untuk cucunya.
4) Nilai dan norma keluarga sesuai dengan nilai dan norma
masyarakat setempat, tidak ada norma yang bertentangan.
2. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
Ny. K mengatakan bahwa anggota keluarganya saling
menyayangi dan menghormati. Apabila ada anggota yang
kesulitan maka akan saling membantu.
b. Fungsi sosial
1) Kerukunan hidup dalam keluarga baik
2) Interaksi dan hubungan dalam keluarga baik, terkadang ada
percekcokan tetapi dapat terselesaikan dengan baik.
3) Kegiatan keluarga senggang : menonton TV.
4) Keluarga Ny. K cukup berpartisipasi dalam kegiatan sosial
di lingkungan tempat tinggalnya.
c. Fungsi perawatan keluarga
1) Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan
anggota keluarga serta Ny. K mengatakan mengetahui sakit
sejak 2 tahun yang lalu setelah Ny. N melakukan aktifitas
sedikit terganggu karena merasa nyeri pada badannya.
2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai
tindakan kesehatan yang tepat.
Keluarga Ny. K dalam mengambil keputusan untuk
melakukan perawatan atau melakukan pemeriksaan masih
kurang. Keluarga akan pergi ke pelayanan kesehatan
terdekat hanya kalau sakit yang dirasakan sudah parah.
3) Kemampuan keluarga merawat anggota yang sakit
Keluarga Ny. K belum maksimal dalam merawat anggota
keluarga yang sakit. Hal ini dibuktikan dengan Ny. K
tidak pernah melakukan latihan gerak sendi untuk
mengatasi nyeri/pegal pada kakinya.. Dalam merawat Ny.
K, keluarga sudah mengontrol makanan yang dikonsumsi
Ny. K.
4) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan yang sehat.
Keluarga Ny. K mengatakan bahwa mereka tahu lingkungan
dapat mempengaruhi kesehatan orang disekelilingnya. Hal
ini dibuktikan dengan barang – barang yang ada di rumah
Ny. K terlihat rapih dan lantai tampak bersih, selain itu
lingkungan rumah terhindar dari hal-hal yang
membahayakan Ny. K seperti lantai licin, perabotan kayu
rapuh, dll. Keluarga selalu berusaha menjaga kerapihan dan
kebersihan, bila rumah nampak berantakan langsung
dirapihkan.
5) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di
masyarakat.
Keluarga Ny. K mengatakan bahwa mempunyai kartu
jaminan kesehatan. Keluarga Ny. N menggunakan kartu
tersebut untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan.
Jika ada anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke
Puskesmas atau pelayanan kesehatan terdekat.
d. Fungsi ekonomi
1) Upaya pemenuhan sandang pangan dipenuhi dengan Tn E
bekerja sebagai pedagang.
2) Pemanfaatan sumber di masyarakat : tidak ada.
3. Stress dan Koping keluarga
a. Stressor jangka pendek : berharap ingin cepat sembuh dan
selalu diberikan kesehatan untuk kedepannya.
b. Stressor jangka panjang : ingin selalu bisa memenuhi
kebutuhan hidupnya, sehat dan tidak merepotkan orang lain.
c. Respon keluarga dengan stressor: bila ada masalah, Ny. K dan
keluarga selalu berdoa.
d. Strategi koping : memandang sakitnya karena usia.
4. Strategi adaptasi disfungsional : Ny. K lebih memfokuskan
kepada kegiatan sehari-hari dengan banyak berdoa
5. Keadaan gizi keluarga
Pemenuhan gizi : cukup
Upaya lain : tidak ada
6. Harapan keluarga
a. Terhadap masalah kesehatannya : berharap ingin cepat
sembuh dan selalu diberikan kesehatan untuk kedepannya.
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada : minta diberi informasi
tentang penyakit yang dideritanya.
7. Pemeriksaan fisik Ny. K
No Variable
1. Riwayat Ny. K mengatakan bahwa dia masih sanggup
penyakit untuk melaksanakan aktivitasnya seperti biasa,
saat ini karena sakit yang dia rasakan tidak begitu
berat.
2. Keluhan Ny. K mengatakan sering merasa kesemutan dan
yang linu pada kakinya. Ny. K mengatakan.sakit lutut
dirasakan sebelah kanan dan kiri. Ny. K mengatakan tidak
kuat untuk berjalan lama
3. Tanda dan Kadang kaki untuk berjalan terasa sakit.
gejala
4. Riwayat Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lain
penyakit sebelumnya
sebelumnya
5. Tanda tanda TD = 160/90 mmHg, N = 86 x/mnt, RR =
vital 24x/mnt, S = 36,6 ºC
6. System Jantung berdebar debar
kardiovaskul
er
7 Kepala = mesochepal, tidak ada pembesaran, dan tidak
teraba pembengkakan.
Mata = penglihatan sudah agak samar-samar.
Hidung = simetris, bersih, tidak terdapat pembesaran
polip, tidak beringus. Tidak ada pembengkakan.
Rangsang terhadap stimulus bau masih baik.
Telinga = bersih, tidak ada peradangan, bersih, respons
terhadap bunyi dan ambang dengar kurang baik.
Mulut = mukosa bibir tidak pucat, tidak kering, tidak
pecah – pecah, kelenjar air liur tidak ada masalah,
tidak ada pembengkakan, maupun rasa nyeri.
Gigi sudah ompong, gusi tidak bengkak, lidah
tidak kotor, rasa terhadap pengecapan masih
baik.
Leher = kadang terasa sakit, saat pusing dan tekanan
darah naik, tidak ada pembesaran tiroid.
Dada = tidak terdapat nyeri dada, auskultasi tidak
terdapat bunyi nafas yang abnormal.
Abdomen = datar, supel, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
pembesaran.
Ekstremitas = tidak ada sianosis, tidak bengkak, dan rentang
atas dan gerak sendi sedikit bermasalah, tidak terdapat
bawah baal, dan berjalan masih baik. Pegal pegal kadang
terasa pada seluruh tubuhnya.
Kulit = tidak ada masalah.

8. Sistem kardiovaskuler : irama jantung terdengar regular.


9. Sistem perkemihan : Ny.K BAK 5-6 kali sehari, tidak sakit saat
BAK dan lancar
10. Sistem muskuloskeletal : Kedua kaki dan tangan Ny. K tampak
sejajar dan sama besar dan panjang. Kemampuan mengubah posisi
baik, pergerakan kedua tangan dan kaki baik, kekuatan otot baik.
11. Sistem Persyarafan : Tidak ada cedera kepala, tidak ada
peningkatan TIK, tidak memiliki riwayat kejang
12. Sistem endokrin : Tidak mempunyai penyakit diabetes dan
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
13. Sistem reproduksi : Sudah memasuki masa manopause
14. Pengkajian fungsional, mental dan spiritual :
a. Hasil pemeriksaan screening ADL
Indeks KATZ = B yaitu kemandirian dalam semua aktifitas
hidup sehari-hari, kecuali satu dari fungsi tersebut.
b. Pemeriksaan status kognitif dan afektif, didapatkan hasil fungsi
intelektual utuh. MMSE (Mini Mental State Exam) didapatkan
30 jadi tidak ada gangguan memori dan Short Portable Mental
Status Quistionare (SPMSQ) didapatkan skor kesalahan 4, jadi
kerusakan intelektual klien ringan
c. Pemeriksaan social APGAR keluarga = 8 (tidak terdapat
disfungsi keluarga).
d. Pemeriksaan spiritual = melaksanakan sholat 5 waktu dan
diwaktu luang berdzikir.

II. ANALISA DATA


NO DATA FOKUS PROBLEM
1 DS : Nyeri b.d
Ny. K mengatakan sering merasa Penurunan fungsi
kesemutan dan linu pada kakinya tulang
Ny. K mengatakan.sakit lutut sebelah
kanan dan kiri, skala nyeri 6
DO :
TD : 160/120 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Suhu : 36 C
Respirasi : 24 x/menit
Ny. K tampak memegangi lututnya
2 DS : Intoleransi aktivitas
Ny. K mengatakan tidak kuat untuk b.d Perubahan otot
berjalan lama
DO :
- Klien terlihat lebih banyak duduk
- Klien berjalan lambat

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri b.d Penurunan fungsi tulang

2. Intoleransi aktivitas b.d Perubahan otot

Skoring dan Prioritas Masalah :


1. Nyeri akut b.d Penurunan fungsi tulang
No Kriteria Skor Pembenaran
1. Sifat masalah 3/3x Masalah aktual, Ny. K tidak
= aktual 1=1 nyaman jika nyeri itu datang, perlu
dilakukan tindakan keperawatan.
2. Kemungkinan 2/2x Kemungkinan masalah dapat
masalah 2=2 diatasi, karena Ny. K ada kemauan
dapat diubah dan dekat dengan akses puskesmas
= mudah keliling serta pelayanan kesehatan
yang lain.
3. Potensial 2/3x Ny. K menganggap pegal-pegal
masalah 1= terasa jika sudah kecapean.
dapat dicegah 2/3
= cukup/
sedang
4. Menonjolnya 2/2 x Ny. K menganggap masalah ini
masalah = 1=1 dapat mengganggu aktivitasnya dan
segera akan terjadi komplikasi.
ditangani
Jumlah 4 2/3

2. Intoleransi aktivitas b.d Perubahan otot

No Kriteria Skor Pembenaran


1. Sifat masalah 3/3 x Masalah adalah actual sudah terjadi
= actual 1=1 dan perlu ditangani
2. Kemungkinan 1/2 x Kemungkinan masalah dapat diatasi
masalah 2= 1 sebagian, karena Ny K pada saat
dapat diubah pengkajian mengungkapkan
= sebagian keinginannya cepet sembuh
3. Potensial 3/3 x Ny K menganggap ia sakit karena
untuk dicegah 1=1 faktor usia
= tinggi
4. Menonjolnya 2/2 x Ny K menganggap masalah ini
masalah = 1=1 sangat mengganggu aktivitasnya
segera dan akan berakibat pada masalah
ditangani lain dikemudian hari
Jumlah 4
IV. INTERVENSI

No Diagnosa Keperawatan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional


1 Nyeri b.d Penurunan Setelah dilakukan intervensi - Kaji keluhan nyeri, catat - Membantu dalam
fungsi tulang hasil yang diharapkan : menentukan kebutuhan
lokasi dan intensitas (skala
- Klien mengatakan nyeri managemen nyeri dan
1-10). Catat factor-faktor
DS : berkurang keefektifan program.
Ny. K mengatakan sering yang mempercepat dan
- Klien terlihat rileks, dapat
merasa kesemutan dan
tidur atau istirahat dan tanda-tanda sakit non
linu pada kakinya
berpartisipasi dalam aktivitas verbal.
Ny. K mengatakan sakit
sesuai kemampuan.
lutut sebelah kanan
- Berikan terapi kompres -Panas meningkatkan letak
sisi otak dan mobilitas,
DO : jahe
menurunkan rasa sakit.
TD :120/80 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Suhu : 36,0 C
Respirasi : 24 x/menit
Ny.K tampak memegangi
kakinya
2 Intoleransi aktivitas b.d Setelah dilakukan intervensi 1.Pertahankan istirahat 1.untuk mencegah kelelahan
diharapkan : dan mempertahankan
Perubahan otot tirah baring atau duduk jika
Klien mampu berpartisipasi kekuatan
diperlukan.
DS : pada aktivitas yang diinginkan.
Ny. K mengatakan tidak
2.Bantu bergerak dengan
Mempertahankan posisi 2.menaikkan fungsi sendi,
kuat untuk berjalan lama
bantuan seminimal kekuatan otot dan stamina
fungsional.
mungkin. umum
Ny. K mengatakan kaku

pada tengkuk lehernya


3.Berikan lingkungan yang 3.menghindari cedera akibat
kecelakaan
DO : aman
Klien terlihat lebih
4.Awasi TD, nadi, 4.manifestasi kardiopulmunal
banyak duduk dari upaya jantung dan paru
pernafasan selama dan
untuk membawa jumlah
Klien berjalan lambat sesudah aktivitas. oksigen adekuat ke jaringan
meningkatkan secara bertahap
tradisional untuk rematik
tingkat aktifitas dan
Catat respon terhadap memperbaiki tonus otot atau
stamina tanpa kelemahan.
tingkat aktivitas.

5.Rencanakan kemajuan 5.Meningkatkan harga diri


dan rasa terkontrol.
aktivitas dengan pasien,
latihan theraband dapat
termasuk aktivitas yang
menurunkan nyeri
pasien pandang perlu.

Tingkatkan tingkat

aktivitas sesuai toleransi

misal latihan theraband


V. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Tanggal No. Implementasi Evaluasi


Sabtu, 11 Agustus Diagnosa 1 : Nyeri b.d Penurunan S :
2018
fungsi tulang 1. Klien mengatakan merasakan nyeri pada
1. Mengkaji keluhan nyeri pada daerah lutut
1 lutut 2. Klien mengatakan lututnya tidak begitu nyeri
2. mencatat lokasi dan intensitas bila diberi kompres jahe, klien mengatakan
nyeri nyeri dengan skala 4
3. Memberikan terapi kompres 3. Klien mengatakan merasa sedikit nyaman
jahe ketika diberi terapi kompres jahe

O : Klien memijat-mijatkan kakinya


A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
2 Diagnosa 2 : S:
Intoleransi aktivitas b.d Perubahan 1. Klien mengatakan tidak sanggup berjalan
otot lama
2. Klien mengatakan lelah ketika berjalan jauh
1. Mempertahankan istirahat tirah
baring /duduk jika diperlukan O:
2. Membantu bergerak dengan 1. Klien tampak lemah
bantuan seminimal mungkin 2. Klien berjalan lambat
3. Memberikan lingkungan yang 3. Klien mau melakukan latihan ringan
aman dan menganjurkan untuk
menggunakan alat Bantu A : Masalah belum teratasi
4. Mengawasi TD, Nadi, P : lanjutkan intervensi
pernapasan selama dan sesudah
aktivitas. mencatat respon terhadap
tingkat aktivitas
5. Merencanakan kemajuan
aktivitas dengan pasien termasuk
aktivitas yang pasien bisa lakukan

Minggu, 12 Agustus 1 Diagnosa 1 : Nyeri b.d Penurunan S :


2018
fungsi tulang 1. Klien mengatakan masih merasakan sedikit
nyeri pada daerah lutut
1.Mengkaji keluhan nyeri pada 2. Klien mengatakan lututnya tidak begitu nyeri
lutut bila diberi kompres jahe, klien mengatakan
2.Mencatat lokasi dan intensitas nyeri dengan skala 2, nyeri kadang masih terasa
nyeri 3. Klien mengatakan merasa sedikit nyaman
3.Memberikan terapi kompres jahe ketika diberi terapi kompres jahe

O:
1. Klien memijat-mijatkan kakinya

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi
2 Diagnosa 2 : S:
Intoleransi aktivitas b.d Perubahan 1. Klien mengatakan bisa berjalan tetapi masih
otot terasa sedikit sakit pada lutut
1. Mempertahankan istirahat tirah 2. Klien mengatakan lelah ketika berjalan jauh
baring /duduk jika diperlukan
2. Membantu bergerak dengan O :
bantuan seminimal mungkin 1. Klien tampak lemah
3. Memberikan lingkungan yang 2. Klien berjalan lambat
aman dan menganjurkan untuk 3. Klien mau melakukan latihan ringan
menggunakan alat Bantu
4. Mengawasi TD, Nadi, A : Masalah belum teratasi
pernapasan selama dan sesudah P : lanjutkan intervensi
aktivitas. mencatat respon terhadap
tingkat aktivitas
5. Merencanakan kemajuan
aktivitas dengan pasien termasuk
aktivitas yang pasien bisa lakukan

Senin, 13 Agustus 1 Diagnosa 1 : Nyeri b.d Penurunan S :


2018
fungsi tulang 1. Klien mengatakan masih merasakan sedikit
1.Mengkaji keluhan nyeri pada nyeri pada daerah lutut, tetapi sudah tidak begitu
lutut sakit seperti biasanya
2.Mencatat lokasi dan intensitas 2. Klien mengatakan lututnya tidak begitu nyeri
nyeri bila diberi kompres jahe, klien mengatakan
3.Memberikan terapi kompres jahe nyeri dengan skala 2, nyeri kadang masih terasa
3. Klien mengatakan merasa nyaman ketika
diberi terapi kompres jahe

O : Klien memijat dan memegangi lutut


A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
2 Diagnosa 2 : S:
Intoleransi aktivitas b.d Perubahan 1. Klien mengatakan bisa berjalan walaupun
otot kadang masih terasa sakit
1. Mempertahankan istirahat tirah 2. Klien mengatakan lelah ketika berjalan terlalu
baring /duduk jika diperlukan lama
2. Membantu bergerak dengan
bantuan seminimal mungkin O:
3. Memberikan lingkungan yang 1. Klien tampak lemah
aman dan menganjurkan untuk 2. Klien terlihat kesakitan
menggunakan alat Bantu 3. Klien mau melakukan latihan ringan
4. Mengawasi TD, Nadi,
pernapasan selama dan sesudah A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
aktivitas. mencatat respon terhadap
tingkat aktivitas
5. Merencanakan kemajuan
aktivitas dengan pasien termasuk
aktivitas yang pasien bisa lakukan