Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang populer digunakan dalam
penelitian untuk mengkaji tingkat ploidi. Hal ini disebabkan peristiwa poliploidi
secara alami umum terjadi pada tumbuhan paku. Poliploidi merupakan fenomena
penggandaan kromosom pada tumbuhan tinggi yang merupakan akibat dari
berbagai proses baik secara meiosis maupun mitosis. Individu yang tergolong
diploid dapat muncul turunan yang triploid maupun tetraploid. Selain itu‚ poliploidi
juga dapat menghasilkan individu yang pentaploid, heksaploid, dan sebagainya
(Ayala, 1984) dalam (Corebima 2000). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
tumbuhan paku atau pakis sejenis yang hidup pada daerah dengan ketinggian
rendah, sedang dan tinggi menunjukkan adanya perbedaan jumlah kromosom.
Faktor ketinggian berpengaruh pada tanaman paku karena adanya kecenderungan
sitologi tumbuhan paku yang memiliki tingkat ploidi diploid yang tersebar di daerah
yang hangat, sedangkan yang triploid tersebar di daerah yang lebih dingin
(Zubaidah, 1998).

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2018) rentangan


temperatur di Kota Malang adalah 22°C – 30°C, dan rentangan suhu di Kota Batu
antara 15 - 30° C. Semakin tinggi ketinggian tempat maka potensi poliploidi
semakin tinggi. Jika suatu daerah semakin tinggi maka suhu daerah tersebut
menjadi menurun (dingin) sehingga memacu terjadinya poliploidi. Berdasarkan
data dari Dinas Komunikasi dan Informatika (2018), Kota Malang merupakan
daerah dengan rata-rata ketinggian tempat termasuk dataran sedang antara 440
hingga 667 m dpl. Sedangkan Kota Batu merupakan daerah dataran tinggi dengan
rentangan ketinggian tempat 600 hingga lebih dari 3000 mdpl (Badan Pusat
Statistik Kota Batu, 2018). Karena keadaan topografi yang demikian maka ketiga
wilayah tersebut sangat mungkin untuk dijadikan tempat pengambilan sampel. Kota
Batu mewakili dataran tinggi dan dataran sedang, Kota Malang mewakili dataran
rendah.
2

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian yang berjudul


“Pengaruh jenis Pteris dan Ketinggian tempat terhadap tingkat ploidi tumbuhan
paku di daerah Malang”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah disusun, masalah yang dirumuskan
dalam laporan proyek ini sebagai berikut ;
1. Apakah ada pengaruh jenis tumbuhan paku (Pteris vittata, Dryopteris sparsa
dan Adiantum pedattum ) terhadap tingkat ploidi di Kota Malang?
2. Apakah ada pengaruh ketinggian tempat terhadap tingkat ploidi tumbuhan paku
jenis (Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum pedattum ) yang berada
di Kota Malang?
3. Apakah ada interaksi antara ketinggian dan jenis paku terhadap tingkat ploidi
tumbuhan paku di Kota Malang?

1.3 Tujuan penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ;
1. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis Pteris vitata, Dryopteris sparsa,
Adiantum pedatum terhadap sebaran individu ploidi tumbuhan paku dari jenis
Pteris yang diambil dari tiga ketinggian berbeda.
2. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan ketinggian terhadap sebaran individu
ploidi tumbuhan paku dari jenis Pteris vitata,Dryopteris sparsa, Adiantum
pedatum yang diambil dari tiga ketinggian berbeda.
3. Untuk mengetahui interaksi antara jenis paku (Pteris vittata, Dryopteris
sparsa dan Adiantum pedattum) dengan tempat yang berbeda di daerah
Malang.
1.4 Manfaat penelitian
Bagi pembaca
1. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai pengaruh jenis Pteris
terhadap tingkat ploidi tumbuhan paku di daerah Malang.
2. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai pengaruh ketinggian
tempat terhadap tingkat ploidi tumbuhan paku di daerah Malang.
3

3. Memberikan informasi mengenai pengaruh interaksi antara jenis Pteris dan


ketinggian tempat terhadap tingkat ploidi tumbuhan paku di daerah Malang.
Bagi Mahasiswa
1. Membantu mahasiswa dalam memahami konsep poliploidi dalam kaitannya
dengan mata kuliah genetika I.
Bagi Peneliti
1. Menambah wawasan bagi peneliti mengenai tingkat ploidi pada Pteris
vitata, Dryopteris sparsa, Adiantum pedatum pada tiga ketinggian yang
berbeda di daerah Malang.
2. Untuk memotivasi mahasiswa mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap
tingkat ploidi Pteropsida.
1.5 Batasan masalah
Batasan masalah pada penelitian ini sebagai berikut ;
1. Penilitian ini dibatasi pada pengamatan sel tudung akar Pteris vittata,
Dryopteris sparsa dan Adiantum pedattum pada ketinggian dataran rendah
483 mdpl, dataran sedang 950 mdpl ,dan dataran tinggi 1807 mdpl yang
diambil di daerah Klojen Kota Malang , Coban talun desa Bumiaji, dan
Cangar Kota Batu
2. Penelitian ini hanya dilakukan pada jenis tumbuhan paku tertentu yaitu dari
jenis Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum pedattum pada
ketinggian berbeda yaitu 483 mdpl, 950 mdpl, dan 1807 mdpl
3. Data yang diambil adalah jumlah kromosom sel pada tahap metafase dan
anafase
1.6 Asumsi penelitian
1. Umur semua tumbuhan paku yang digunakan dianggap sama.
2. Keadaan Lingkungan disekitar tumbuhan paku selama penanaman dianggap
sama
3. Daerah yang memiliki ketinggian berbeda, akan memiliki suhu dan
kelembapan yang berbeda pula
4

1.7 Definisi Operasional


Definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Ploidi adalah variasi dalam hal jumlah set kromosom (Elrod dan Stanfield,
2007).
2. Poliploidi merupakan fenomena dimana individu memiliki lebih dari dua
genom, dengan kata lain merupakan penggandaan perangkat kromosom secara
keseluruhan (Corebima, 2000).
3. Diploid adalah kendala yang ditandai dengan adanya dua perangkat kromosom
(Crowder, L. V., 1990).
4. Triploid adalah keadaan yang ditandai dengan adanya tiga perangkat
kromosom (Crowder, L. V., 1990).
5. Daerah dataran rendah merupakan daerah yang berada di atas permukaan laut
dengan ketinggian 0-<700 mdpl.
6. Daerah dataran sedang merupakan daerah yang berada di atas permukaan laut
dengan ketinggian 700-1000 mdpl.
7. Daerah dataran tinggi merupakan daerah yang berada di atas permukaan laut
dengan ketinggian >1000 mdpl
8. Tingkat ploidi ditentukan dari penghitungan jumlah kromosom yang teramati
pada tahap pembelahan sel anafase dan metafase pada sel tudung akar
tumbuhan paku.
5

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tumbuhan Paku Pteris


Tumbuhan paku merupakan tumbuhan dari Divisi Pteridophyta atau dapat
juga disebut sebagai berpembuluh. Tumbuhan ini sangat beragam habitatnya, ada
beberapa yang epifit namun kebanyakan terestial. Umumnya tumbuhan paku
mudah ditemukan di tempat lembab. Tumbuhan ini dapat ditemukan di daerah yang
lebih luas, misalnya di lingkungan air tawar, pasang surut, atau lingkungan batu-
batuan. Tumbuhan paku merupakan peralihan antara tumbuhan bertalus dengan
tumbuhan bercormus,karena tumbuhan paku memiliki campuran sifat dan bentuk
antara lumut dengan tumbuhan tingkat tinggi (Moertolo,2004)

Tidak seperti angiospermae yaitu organisme yang berkembang biak dengan


biji, tumbuhan paku berkembangbiak dengan menghasilkan banyak spora yang
masing-masing haploid kecil (n) akan berkembang menjadi gametofit. Gametofit
menghasilkan gamet jantan dan betina yang membentuk sporofit (2n) atau
tumbuhan paku. Bentuk tumbuhan paku kebanyakan lebih akrab disebut sporofit
atau tumbuhan penghasil spora. Memiliki gametofit haploid dan sporofit diploid
memungkinkan untuk banyak variasi dalam jumlah kromosom tumbuhan paku.
Beberapa ploidi (variasi dalam jumlah kromosom) kadang-kadang terjadi dalam
spesies yang disebut sebagai cytotype). (Moertolo,2004)

2.1.1 Tinjauan umum paku Pteris Vitata


Menurut Moertolo (2004), sistem klasifikasi Pteris vitata sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Pterodophyta
Class : Fillicopsida
Ordo : Polypodiales
Family : Pteridaceae
Genus : Pteris
Species : Pteris vitata
6

Sumber : Dokumen Pribadi


Ciri Morfologi Pteris vitata
Paku ini merupakan satu marga dari Pteris biaurita dan Pteris ensiformis.Adapun
ciri-ciri dari tumbuhan paku ini memiliki perakaran serabut, dan perawakan dari
tanaman paku ini adalah herba, akar berwarna coklat dan memiliki ciri pada saat
masih muda kuncup daunnya menggulung dan ini merupakan ciri khusus dari
tumbuhan paku dari marga ini (Moertolo, 2004).

2.1.2 Tinjauan umum paku Dryopteris sparsa


Berikut merupakan pendiskripsian genus dryopteris lebih detail Klasifikasi
(Sulisetjono, 2010)
Kingdom : Plantae
Devisio : Pteridophyta
Class : Filicopsida
Ordo : Polypodiales
Family : Dryopteridaceae
Genus : Dryopteris
Spesies : Dryopteris sparsa

Sumber : Dokumen Pribadi


Deskripsi morfologi organ :
1) Akar : berbentuk serabut bercabang – cabang dikotom berwarna coklat
7

2) Batang : berupa rimpang yang tegak panjang dan ramping, permukaannya


halus dan berwarna coklat, batangnya tidak bercabang
3) Daun : Bentuk/bangun daun dari Dryopteris adalah bentuk delta dengan tepi
bersirip-sirip (pinna), daunnya sporofil yakni terdapat spora di bagian ventral.
Ujungnya meruncing, tepi bercangap, ukuran daun terdiri dari 2 ukuran yaitu satu
lebih besar dan yang satu lebih kecil (anisofil). Warna daun Hijau kecoklatan,
tekstur daun berbentuk helaian, permukaan ventral daun ditutupi spora, bagian
dorsalnya halus. Termasuk daun majemuk menyirip, daun dimorfisme yakni dalam
1 tangkai ada daun tropofil dan sporofil, di bagian ventral sporofil dan dorsal
tropofil.
2.1.3 Tinjauan Umum Addiantum Pedatum
Klasifikasi
Divisi :Pteridophyta
Kelas :Filicopsida
Bangsa :Polypodiales
Suku :Pteridaceae
Marga :Adiantum
Spesies :Adiantum pedatum L

Sumber : Dokumen Pribadi


Morfologi
Pada umumnya hidup di atas tanah dengan cara bergerombol dan
mempunyai akar serabut yang ujung akarnya dilindungi kaliptra. Kebanyakan
hidup di tempat-tempat yang terlindung. Paku tanah atau suplir telah memiliki
organ tubuh yang sesungguhnya seperti akar, batang dan daun (Daryanti, 2008).
Ukurannya lebih besar menyirip ganda sampai beberapa kali dengan urat-urat yang
8

bebas, rapat, dan pendek. Daun yang makrofil (berdaun besar) dengan posisi yang
berseling serta daun yang menyerupai kipas. Bentuk daunnya bulat telur
(membulat), persegi panjang,delta,jajar genjang,dan belah ketupat. Susunan daun
tumpang tindih,bersirip tunggal, bersirip ganda, ada juga susunan daunnya pada
bagian bawah besar sedang pada bagian ujungnya mengecil sehingga mirip ekor.
Tekstur daun biasanya lembut dan tipis,tetapi ada juga yang keras dan kaku,dan
umumnya berwarna hijau mengkilap. Pada bagian daun terdapat tulang daun dan
telah mempunyai mesofil (daging daun). Tangkai daun gundul sekitar 10-20 cm.
Anak daun penempatannya bersaing sepanjang poros sirip. Daun memiliki mesofil
(daging buah),jaringan bunga karang, jaringan tiang dan jaringan daun
(Sulisetijono.2010).

2.1.4 Poliploidi Pada Tumbuhan Paku


Genus Pteris (Pteridaceae) adalah anggota dari Pteridophyta yang sering
dijumpai mengalami poliploidiasi pada perangkat kromosomnya, jumlah
kromosom dasar dari Pteris adalah 29. Poliploiodi pada tanaman ini meliputi
triploid, tetraploid, pentaploid, heksaploid dan oktoploid. Menurut (Gibby dalam
Zubaidah ,1998) jumlah kromosom dasar genus Dryopteris adalah 41, sedangkan
berdasarkan hasil pengamatan (Wagner 1963) dalam (Perwati 2009) yang
menyatakan bahwa jumlah bilangan dasar kromosom (x) pada marga Adiantum
adalah 29 dan 30, dan yang paling umum terdapat dalam
marga ini adalah x = 30.
Gardner (1991) mengungkapakan bahwa ketidak teraturan proses pada
tumbuhan diploid akan menyebabkan poliploidi. Proses ketidak teraturan tersebut
adalah penggandan somatik dan ketidak teraturan selama pembentukan gamet pada
fase anafase.
Dinyatakan lebih lanjut bahwa poliploidi sering terjadi sebagai akibat
rusaknya aparatus spindel selama satu atau lebih pembelahan mitosis. Informasi
lain menyebutkan bahwa piloploidi terjadi akibat penyimpangan selama meiosis
yang menghasilkan gamet-gamet yang tidak mengalami reduksi (Ayala, 1984)
dalam (Corebima, 2000). Hal ini dikemukakan bahwa jika suatu gamet tidak
mengalami reduksi itu (misalnya pada individu diploid) bergabung dengan suatu
9

gamet normal (haploid) maka zigot yang terbentuk tergolong triploid (Corebima,
2000).
Faktor ketinggian tempat berpengaruh pada tumbuhan paku karena adanya
kecenderungan sitologi tumbuhan paku yang memiliki tingkat ploidi diploid yang
tersebar di daerah yang hangat, sedangkan yang tetraploid tersebar di daerah yang
lebih dingin (Nakato dalam Setyawati, 2000). Faktor lingkungan utama yang
berpengaruh adalah suhu dan kelembapan yang mempengaruhi tumbuhan paku
pada perkembangan siklus hidup sejak germinasi spora sampai maturasi sporofit
(Masahiro dan Iwatsuki dalam Setyawati, 2000).
2.1.5 Pembelahan Mitosis
Mitosis adalah pembelahan sel somatik, dimana terdapat beberapa tahap
didalamnya, yaitu: profase, metafase, anafase, dan telofase (Sastrosumarjo,2006).
Pembelahan mitosis ini terjadi pada jaringan meristematik atau jaringan yang aktif
membelah seperti tunas dan ujung akar. Pembelahan sel bekerja di bawah kontrol
gen, dimana gen adalah pengatur proses pembelahan tersebut. Mitosis pada
tanaman terjadi selama 30 menit sampai beberapa jam. Ini merupakan bagian dari
suatu proses yang berputar dan terus-menerus (Crowder, 1990).
Mitosis hanya terjadi pada sel eukariot, dimana sel somatik mengalami
mitosis, sedangkan sel kelamin (sperma atau sel telur) membelah diri melalui proses
yang berbeda yaitu meiosis. Sedangkan sel prokariot yang tidak memiliki nukleus
menjalani pembelahan yang disebut pembelahan biner (Suryo, 2010). Menurut
Suryo (2010) secara garis besar pembelahan mitosis terjadi melalui tahap-tahap
berikut:
1. Interfase
Interfase atau stadium istirahat dalam siklus sel termasuk fase yang
berlangsung lama karena pada tahap ini berlangsung fungsi metabolisme
dan pembentukan dan sintesis DNA.
2. Profase
Pada profase, terjadi pemadatan (kondensasi) dan penebalan kromosom.
Kromosom memendek dan menebal, bentuknya memanjang dan
letaknya acak di bagian tengah sel, terlihat menjadi dua untai kromatid
yang yang letaknya sangat berdekatan dan dihubungkan oleh sebuah
10

sentromer. Mendekati akhir profase, nukleolus dan membran nukleus


menghilang dan terbentuk benang – benang spindel.
3. Metafase
Setiap individu kromosom yang telah menjadi dua kromatid bergerak
menuju bidang equator. Benang – benang gelendong melekat pada
sentromer setiap kromosom. Kemudian terjadi kondensasi dan penebalan
yang maksimal sehingga kromosom terlihat lebih pendek dan tebal
dibandingkan pada fase lainnya. Pada fase ini, kromosom terlihat sejajar
di tengah – tengah equator. Pada saat inilah sangat tepat dilakukan
analisis kariotipe. Analisis kariotipe dapat dimanfaatkan untuk analisis
taksonomi yang berhubungan dengan klasifikasi mahluk hidup, analisis
galur substitusi dari monosomik atau polisomik, serta untuk studi
reorganisasi kromosomal.
4. Anafase
Fase ini dimulai pada saat setiap pasang kromatid dari tiap pasang
kromosom berpisah, kromatid bergerak menuju ke kutub yang
berlawanan. Pemisahan ini dimulai dari membelahnya sentromer.
Sentromer yang telah membelah kemudian ditarik oleh benang
gelendong ke kutub yang berlawanan bersama dengan kromatidnya.
Pergerakan kromosom ke kutub diikuti pula oleh pergerakan organel –
organel dan bahan sel lainnya. Pada saat ini, jumlah kromosom menjadi
dua kali lipat lebih banyak.
5. Telofase
Pada telofase, membran nukleus terbentuk kembali, kromosom mulai
mengendur dan nukleolus terlihat kembali. Sel membelah menjadi dua
yang diikuti oleh terbentuknya dinding sel baru yang berasal dari bahan
dinding sel yang lama, retikulum endoplasma, atau bahan baru yang
lainnya. Pembelahan ini juga membagi sitoplasma menjadi dua. Pada
akhir telofase, terbentuk dua sel anakan yang identik dan memiliki
jumlah kromosom yang sama dengan induknya.
11

Waktu terjadinya mitosis pada masing-masing sel tumbuhan berbeda dan setiap
harinya pun belum tentu tepat sama. Lamanya proses mitosis juga berbeda-beda,
hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi lingkungan seperti suhu dan nutrisi
(Yadav, 2007). Sehingga untuk memperoleh waktu yang tepat dalam pemotongan
sehingga didapat preparat dengan fase mitosis, maka diperlukan pengamatan yang
berulang-ulang dan pada waktu yang berbeda-beda (Jurcak, 1999)
2.1.6 Poliplodi
Poliploidi terjadi karena adanya penggandaan perangkat kromosom secara
keseluruhan. Crowder (1988) menyatakan bahwa poliploidi adalah perubahan
jumlah yang terjadi dengan penambahan atau pengurangan kromosom-kromosom
utuh atau satu set kromosom lengkap. Dalam hal ini dari individu yang tergolong
diploid dapat muncul turunan triploid maupun tetraploid. Poliploidi juga dapat
menghasilkan individu-individu yang pentaploid, heksaploid dan sebagainya
(Ayala dkk, 1984) dalam (Corebima, 2000).
Fenomena poliploidi lebih sering dijumpai pada tumbuhan dibanding
hewan. Berkenaan dengan poliploidi pada spesies tumbuhan, informasi lain
menyebutkan bahwa spesies-spesies poliploidi dijumpai pada seluruh kelompok
besar tumbuhan (Ayala dkk, 1984) dalam (Corebima, 2000). Fenomena poliploidi
umum dijumpai pada paku-pakuan tetapi jarang dijumpai pada Gymnospermae
(Ayala dkk, 1984) dalam (Corebima, 2000).
Poliploidi dapat terjadi secara spontan maupun sebagai akibat adanya
perlakuan (Russel, 1992) dalam (Corebima 2000). Dinyatakan lebih lanjut bahwa
poliploidi sering terjadi sebagai akibat rusaknya apparatus spindle selama satu atau
lebih pembelahan meiosis, ataupun selama pembelahan mitosis (Corebima, 2000).
Pada keadaan normal jumlah kromosom yang dimiliki oleh suatu individu stabil
tidak mudah berubah, namun karena adanya kelainan seperti non-disjunction atau
karena induksi yang disengaja seperti perlakuan dengan menggunakan zat tertentu
maka jumlah kromosom dalam satu spesies berubah.
Poliploidi yang terjadi pada tanaman secara spontan disebabkan oleh adanya
dua proses yang tak teratur sehingga poliploidi dapat terjadi dari tanaman diploid.
Dua proses yang tak teratur tersebut menurut Zubaidah (1998) disebabkan oleh :
12

1. penggandaan somatik, kadang-kadang melalui ketidakteraturan mitosis


suatu sel, dapat menghasilkan sel-sel meristematik yang menyebabkan
kelipatan jumlah kromosomnya berubah pada generasi baru dari tanaman
itu,
2. sel-sel reproduktif dapat mereduksi secara tak teratur atau mengalami
pembelahan bagian sel sehingga perangkat kromosom tidak memisah secara
pasti ke kutub-kutub sel sewaktu anafase.
Biasanya tumbuhan poliploidi mempunyai sifat tampak lebih kekar dibandingkan
diploid, ukuran tanaman lebih besar, seperti batang, daun, bunga, berkas
pengangkut, stomata, dan inti sel. Kandungan vitamin, protein, dan zat tepung
meningkat, pembelahan sel terhambat, masa vegetatif lebih panjang, dan kurang
tahan terhadap perubahan lingkungan. (Suryo, 2010)
Berdasarkan sumber kromosomnya, tanaman poliploidi dapat dibedakan menjadi
dua yaitu autopoliploid dan allapoliploid. Tanaman autopoliploid mempunyai
kelipatan genom yang sama, dan berdasarkan kelipatan tersebut dapat dibedakan
tanaman yang triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), dan seterusnya. Dalam
beberapa spesies ada peningkatan mandiri dalam jumlah kromosomnya (ploidi)
yaitu peningkatan jumlah set kromosom homolog. Menurut (Suryo, 2010)
autoploidi dapat timbul karena:
1. kegagalan mitosis selama megasporogenesis
2. non-disjunction, yaitu kegagalan kromosom untuk memisah pada
anafase sehingga gamet fungsional menerima 2 set kromosom (sama
seperti sel somatik)
3. mutasi somatik, yaitu penggandaan kromosom diikuti dengan
pembelahan mitosis dan pembentukan jaringan poliploid yang dapat
berkembang menjadi batang atau cabang poliploid.
13

2.2 Kerangka Konseptual

Poliploid adalah fenomena penggandaan perangkat kromosom secara


keseluruhan Faktor ketinggian berpengaruh pada tanaman paku karena adanya
kecenderungan sitologi tumbuhan paku yang memiliki tingkat ploidi diploid
yang tersebar di daerah yang hangat, sedangkan yang triploid tersebar di
daerah yang lebih dingin.

Fenomena poliploidi sering ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi. Salah


satunya adalah Pteridophyta.

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan kosmopolit dan jenisnya beragam

Berdasarkan ketinggian terbagi Berdasarkan jenisnya terbagi atas


atas dataran tinggi, rendah, dan berbagai jenis diantaranya Pteris
sedang di daerah Malang vitata, Dryopteris sparsa, dan
Adiantum pedatum.

Daerah Malang memiliki


topografi wilayah yang cukup
beragam oleh karen
amemungkinkan adanya
keanegaraman ploidi pada
tumbuhan.

Ketinggian yang berbeda


menyebabkan perbedaan suhu dan
kelembapan udara

Jika semakin rendah maka tingkat


ploidinya semakin tinggi
14

Tingkat ploidi dapat dilihat dengan


cara menghitung jumlah kromosom
dan dibandingkan dengan jumlah
kromosom dasar

2.3 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kajian teori yang telah disusun, diperoleh hipotesis penelitian
untuk laporan ini. Hipotesis penelitian yang dapat dibuat sebagai berikut.
1. Ada pengaruh jenis paku (Pteris vitata, Dryopteris sparsa, dan Adiantum
pedatum) terhadap tingkat ploidinya
2. Ada pengaruh ketinggian tempat terhdap tingkat ploidi tumbuhan paku
3. Ada interaksi antara ketinggian tempat dan jenis tumbuhan paku terhadap
tingkat pliodi tumbuhan paku.
15

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif karena tidak
memberikan perlakuan khusus terhadap obyek penelitian dan digunakan prosedur
analisis diskriptif. Penelitian dilakukan terhadap 3 jenis Pteris yaitu Pteris vitata,
Dryopteris sparsa, dan Adiantum pedatum. Masing-masing spesies diambil dari 3
ketinggian yang berbeda yaitu daerah dataran rendah (483 mdpl), dataran sedang (950
mdpl), dan dataran tinggi (1807 mdpl) di daerah Malang. Setiap ketinggian diambil 3
tanaman yang diambil tudung akarnya dan setiap tudung akar tanaman dibuat satu
preparat, pada setiap preparat tersebut diamati 5 sel yang sedang mengalami fase
metafase atau anafase dan dilakukan perhitungan jumlah kromosom sebanyak 3 kali
dengan 3 kali ulangan.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari sampai bulan Mei 2018.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika ruang 310 gedung Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Tempat
pemeliharaan tanaman paku yang digunakan dilakukan di kos Jln Sumbersari gang VII.
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi variabel bebas,
variabel terikat, dan variabel kontrol. Varibel tersebut sebagai berikut.
 Variabel bebas : Jenis tumbuhan paku dan ketinggian tempat.
 Variabel terikat : Tingkat ploidi.
 Variabel kontrol : Waktu pemotongan akar tumbuhan paku, kualitas
dan kuantitas air penyiraman, dan kondisi tanah.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh paku genus Pteris di daerah Malang
16

2. Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah Pteris vitata, Dryopteris sparsa, dan
Adiantum pedatum yang masing-masing diambil 3 tanaman dari ketinggian yang
berbeda yaitu ketinggian rendah (483 mdpl) diambil di Kec.Klojen Kota Malang ,
sedang (950 mdpl) diambil di Coban talun desa Bumiaji , dan tinggi (1807 mdpl)
diambil di Cangar Kota Batu.

3.4 Instrumen Penelitian


Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam proyek ini adalah:
- mikroskop binokuler - pinset
- waterbath - silet
- altimeter - kaca preparat
- botol vial - kamera
- pipet
Bahan yang digunakan adalah:
- HCl 1 N - Larutan FAA
- Acetocarmin - Minyak emercy
- Kertas hisap/tissue
- Tudung akar Pteris vittata, tudung akar Dryopteris sparsa, tudung akar
Adiantum pedatum
3.5 Prosedur Kerja
A. Diambil tumbuhan paku jenis Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum
pedatum pada daerah Malang dengan ketinggian yang berbeda, yaitu :
a. Dataran rendah dengan ketinggian 483 m dpl.
b. Dataran sedang dengan ketinggian 950 m dpl.
c. Dataran tinggi dengan ketinggian 1807 m dpl.
B. Ditanam kembali tanaman yang telah diambil dari lokasi dalam polibag untuk
mendapatkan tudung akar yang sehat.
17

C. Dicari literatur mengenai kromosom dasar pada ketiga jenis tumbuhan paku
dan waktu mitosis maksimum pada masing-masing jenis paku.
D. Pembuatan Preparat
3.5.1 Pengambilan sampel tumbuhan paku
1) Diambil tumbuhan paku spesies Pteris vittata, Addiantum Pedatum, dan
Dryopteris sparsa yang diambil dari daerah Malang dengan tiga ketinggian
yang berbeda, yaitu 483 mdpl (daerah rendah), 950 mdpl (daerah sedang), dan
1807 mdpl (daerah tinggi).
2) Ditanam di dalam wadah sesudah diambil dari tempat tumbuhnya.
3.5.2 Perhitungan jumlah sel yang mengalami metafase atau anafase pada bagian ujung
akar yang berwarna hijau
1) Dipotong akar yang berwarna hijau pada masing-masing tumbuhan paku
sepanjang ± 1,5 cm sampai 2 cm pada pukul 09.00 WIB.
2) Dimasukkan ke dalam botol vial yang telah berisi larutan FAA.
3) Dicuci sebanyak 8 kali pencucian.
4) Dimasukkan HCl 1 N ke dalam botol vial kemudian ditutup dengan plastik
yang diberi karet.
5) Dipanaskan selama 15 menit dengan suhu 60C menggunakan alat
waterbath.
6) Setelah 15 menit, akar dibersihkan dari HCl 1 N dengan cara dicuci.
7) Diletakkan akar tumbuhan paku di atas kaca benda.
8) Diberi larutan asetokarmin pada bagian akar yang berwarna putih.
9) Ditutup dengan kaca benda dan digilas menggunakan pulpen berdiameter
bundar.
10) Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000 x.
11) Dihitung kromosom pada sel-sel yang mengalami tahap metafase atau
anafase dengan tiga kali perhitungsn dan kemudian dirata-rata.
12) Dilakukan sebanyak tiga kali ulangan.
18

E. Penghitungan jumlah kromosom


1. Dihitung kromosom pada sel yang mengalami fase mitosis yang meliputi
fase metafase atau anafase kromosomnya sebanyak 3 kali hitungan dan 3
kali ulangan
2. Dicatat hasil perhitungan pada tabel dan merekam semua kegiatan
penelitian dalam jurnal
3.6 Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan menghitung
jumlah kromosom sel yang sedang mengalami mitosis yaitu pada fase metafase atau
anafase. Penghitungan jumlah kromosom dilakukan terhadap 5 sel tudung akar yang
mengalami mitosis fase metafase atau anafase. Setiap satu sel tanaman dilakukan
penghitungan jumlah kromosom sebanyak tiga kali hitungan. Penelitian ini
menggunakan 3 tanaman Dryopteris sparsa, 3 Pteris vitatta, dan 3 Adiantum pedatum.
Data yang diperloleh kemudian dimasukkan dalam tabel pengamatan seperti berikut :

Ketinggian Hitungan ke-


(mdpl)
Ulang- Rata-rata X/kromosom Tipe
Sel Fase ∑
an 1 2 3 (X) dasar Ploidi

1 3

2 3

3 1
19

4
5

3.7 Teknik Analisis data


Data yang diperoleh dari hasil penghitungan jumlah kromosom tiap sel pada
tiap fase mitosis meliputi metafase dan anafase pada Pteris vitatta, Dryopteris sparasa,
dan Addiantum peddatum. Data kemudian dianalisis secara secara deskriptif yaitu
menentukan tipe ploidi terlebih dahulu dengan cara setiap sel dihitung sebanyak tiga
kali, dan kemudian hasil perhitungan ini dirata-rata. Rerata dari masing-masing sel
kemudian dijumlahkan dan kemudian dibagi lima untuk mendapatkan rata-rata total
jumlah kromosom dari paku itu. Selanjutnya, rerata jumlah total kromosom dibagi
dengan jumlah dasar kromosom paku untuk menentukan tingkat ploidi. Penentuan
tingkat ploidi dengan membagi jumlah kromosom yang diamati dengan jumlah
kromosom dasar dari mereka pakis sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
mempelajari tingkat ploidi pada tumbuhan paku, seperti dalam Jurnal The Utilization
of Ferns as a Model Organism for Studying Natural Polyploidization Concept in
Genetics Course).
Kisaran yang digunakan untuk menentukan tingkat ploidi adalah sebagai
berikut:
X
n = 0,5-2,4 (bertipe diploid)

X
n = 2,5-3,4 (bertipe triploid)

X
n = 3,5-4,4 (bertipe tetraploid)

Keterangan:  X = Rata-rata jumlah kromosom


20

n = jumlah kromosom dasar pada setiap jenis tumbuhan


paku
(Sumber : Skripsi Setyawati, Titim Yudha. 2000)

Selanjutnya data ditransformasikan menggunakan tranformasi akar terlebih


dahulu sebelum dilakukan analisis varian ganda. Transformasi akar digunakan karena
data yang diperoleh memiliki nilai yang tidak berbeda jauh. Data yang
ditransformasikan adalah data yang telah dirata-rata jumlah kromosomnya.
Data yang telah diperoleh setelah transformasi kuadrat selanjutnya dianalisis
menggunakan analisis varian ganda. Analisis varian ganda digunakan sebagai metode
analisis karena penelitian ini menggunakan dua variabel bebas yaitu jenis tumbuhan
paku dan ketinggian tempat.
21

BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA

4.1 Data Hasil Pengamtan


Tabel 4.1.2 Hasil penghitungan kromosom Pteris vitata di dataran rendah
(483 mdpl), dataran sedang 950 mdpl, dan dataran tinggi (1807 mdpl)

Ketinggian Hitungan ke-


(mdpl) ∑ rata-
Ulang- Rata-
Sel Fase ∑ rata/5 X/29 Ploidi
an 1 2 3 rata
(X)

483 1 A 54 56 57 167 55,667

2 A 54 55 58 167 55,667
262,301/ 5
1 3 A 55 58 51 164 51 1,80 2n
= 52,4602
4 A 57 53 55 165 50,667

5 A 56 54 58 168 49,3

1 M 60 56 57 173 57,6667

2 M 53 55 51 159 53,0000
272,3335/5
2 3 M 49 55 52 156 52,0000 = 1,87816092 2n
4 M 56 56 54 166 55,3333 54,4667

5 M 52 57 54 163 54,3333

1 M 56 58 57 171 57,0000

2 M 55 58 54 167 55,6667
278,335 /5
3 3 M 57 57 53 167 55,6667 1,898850575 2n
= 55,0667
4 M 54 55 58 167 55,6667

5 M 54 49 51 154 51,3333

950 1 M 56 58 57 171 53,0000


279,68/5 =
1 2 M 55 58 54 167 56,6667 1,92 2n
55,936
3 M 57 57 53 167 51,3333
22

4 M 54 55 58 167 55,0000

5 M 54 49 51 167 50,6667

1 M 49 52 51 152 50,6667

2 A 53 53 55 161 53,6667
267,6665/ 5
2 3 M 55 57 54 166 55,3333 = 1,845977011 2n
4 M 58 57 55 170 56,6667 53,5333

5 M 51 52 51 154 51,3333

1 M 58 55 55 168 56,0000

2 M 48 51 52 151 50,3333
272,3335 / 5
3. 3 A 57 54 56 167 55,6667 = 1,87816092 2n
4 A 58 57 57 172 57,3333 54,4667

5 M 55 53 51 159 53,0000

1807 1 1 A 80 78 81 239 79,6

2 A 87 90 88 265 88,3
408,1 /5 = 3n
3 A 83 85 87 255 85 2,81
81,62
4 A 86 85 83 254 84,6

5 A 69 71 72 212 70,6

2 1 A 87 86 89 255 85,00

2 A 90 85 86 261 87,00
3n
3 A 87 81 89 257 85,667 84,2000 2,8667
4 A 88 85 87 260 86,667

5 A 79 81 86 246 82,000

3 1 A 83 86 82 251 83,6667

2 M 78 83 84 245 81,6667
3n
3 A 78 79 82 239 79,667 83,1333 2,86667
4 A 85 87 86 258 86,000

5 A 85 83 86 254 84,667
23

Tabel 4.1.2 Hasil penghitungan kromosom Addiantum Peddatum di dataran


rendah (483 mdpl), dataran sedang 950 mdpl, dan dataran tinggi (1807
mdpl)
Ketinggian Ulang- Hitungan ke- ∑ rata-rata/5
Sel Fase ∑ Rata-rata X/30 Ploidi
(mdpl) an 1 2 3 (X)
483 1 A 56 55 51 162 54
2 A 50 52 53 155 55,667
1 3 A 50 49 51 150 50 50,886 1,69 2n
4 A 46 45 48 165 46,333
5 A 51 52 54 157 52,333
1 A 60 56 57 173 57,6667
2 M 53 55 51 159 53,0000
2 3 A 49 45 52 156 52,0000 52,667 1,75 2n
4 M 55 53 54 166 55,3333
5 A 52 52 54 160 54,3333
1 A 56 58 57 171 57,0000
2 M 52 54 54 167 53,6667
277,335 /5 =
3 3 A 57 59 51 167 55,6667 1,84 2n
55, 467
4 A 53 55 58 167 54,6667
5 M 47 49 51 154 49,3333
1 A 53 49 51 171 53,0000
2 A 52 54 52 167 56,6667
255,2/ 5=
1 3 A 53 50 48 167 51,3333 1,70 2n
51,04
4 A 49 47 51 167 55,0000
5 A 53 52 52 167 50,6667
950 1 A 48 49 51 158 52,6667
2 A 47 50 55 162 54
268/ 5 =
2 3 A 54 58 54 168 56 1,78 2n
53,6
4 A 58 54 55 162 54
5 A 51 52 51 154 51,3333
1 A 50 56 55 161 53,667
2 A 48 50 52 150 50 267,3 / 5 =
3. 1,78 2n
3 A 57 52 57 166 55,3 53,4
4 A 57 50 57 164 54,67
24

5 A 55 53 53 161 53,667
1807 1 1 A 83 86 82 238 79,3
2 A 78 83 84 265 88,3
415,598 /5 =
3 A 78 79 82 246 82 2,7 3n
83,1196
4 A 85 87 86 244 81,3
5 A 85 83 86 221 74
2 1 A 87 86 89 255 85,00
2 A 90 85 86 261 87,00
3 A 87 81 89 257 85,667 83,03 2,76 3n
4 A 88 85 87 260 86,667
5 A 79 81 86 246 82,000
3 1 A 81 87 82 250 83,3
2 A 80 86 84 250 83,3
3 A 80 79 82 239 80,3 84 2,78 3n
4 A 85 87 84 256 85,33
5 A 85 86 86 257 85,667

Tabel 4.1.3 Hasil penghitungan kromosom Dryopteris sparasa di dataran


rendah (483 mdpl), dataran sedang 950 mdpl, dan dataran tinggi (1807 mdp

Ketinggian Ulang- Hitungan ke- ∑ rata-rata/5


Sel Fase ∑ Rata-rata X/41 Ploidi
(mdpl) an 1 2 3 (X)
483 1 A 40 42 50 132 44
2 A 41 44 45 130 43,3
1 3 A 51 50 47 134 44,667 36,2534 0,88 2n
4 A 51 50 47 148 49,3
5 A 41 43 46 130 43,3
1 A 42 43 44 129 49,67
2 A 46 46 50 142 47,3
2 3 A 50 51 51 152 51 42,927 1,04 2n
4 A 51 52 53 156 52
5 A 50 49 45 134 44,6
1 A 42 45 49 136 45,33
3 2 A 50 50 50 150 50 41 1,05 2n
3 A 51 51 52 154 51,33
25

4 A 53 47 48 148 49,33
5 A 48 48 48 144 48
950 1 A 56 58 57 171 57,00
2 A 55 58 54 167 55,67
1 3 A 57 57 53 167 55,67 55,0667 1,89885 2n
4 A 54 55 58 167 55,67
5 A 54 49 51 154 51,33
1 A 53 55 51 159 53,00
2 A 58 57 55 170 56,67
2 3 A 49 54 51 154 51,33 53,33 1,83908 2n
4 A 58 53 54 165 55,00
5 A 53 49 50 152 50,67
1 A 49 52 51 152 50,67
2 A 53 53 55 161 53,67
3 3 A 55 57 54 166 55,33 53,33 1,84597 2n
4 A 58 57 55 170 56,67
5 A 51 52 51 154 51,3
1807 1 1 A 70 73 74 217 72,3
2 A 82 83 84 249 83
415,598 /5 =
3 A 83 83 84 246 82 2,6 3n
77,12
4 A 60 61 63 184 61,3
5 A 90 89 87 266 87
2 1 A 87 90 88 265 88,333
2 A 83 85 87 255 85 3n
3 A 83 89 87 255 85 81,667 2,81
4 A 86 85 83 254 84,667
5 A 69 71 72 212 70,67
3 1 A 87 85 84 256 85,3
2 A 84 89 85 258 86,00
3 A 79 82 84 245 81,667 84,600 2,91 3n
4 A 80 83 87 250 83,333
5 A 85 87 88 260 86,667

4.2 Analisis data


26

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis
deskriptif untuk menentukan tingkat ploidi dengan cara penentuan tingkat ploidi yaitu
lima sel ditahap metafase atau anafase dari masing-masing objek di masing-masing
paku diamati. Setiap sel dihitung sebanyak tiga kali, dan kemudian hasil perhitungan
ini dirata-rata. Rerata dari masing-masing sel kemudian dijumlahkan dan kemudian
dibagi lima untuk mendapatkan rata-rata total jumlah kromosom dari paku itu.
Selanjutnya, rerata jumlah total kromosom dibagi dengan jumlah dasar kromosom paku
untuk menentukan tingkat ploidi. Penentuan tingkat ploidi dengan membagi jumlah
kromosom yang diamati dengan jumlah kromosom dasar dari mereka pakis sesuai
dengan penelitian sebelumnya yang mempelajari tingkat ploidi pada tumbuhan paku,
seperti dalam Jurnal The Utilization of Ferns as a Model Organism for Studying
Natural Polyploidization Concept in Genetics Course
Kisaran yang digunakan untuk menentukan tingkat ploidi adalah sebagai berikut:

X
= 0,5-2,4 (bertipe diploid)
n

X
= 2,5-3,4 (bertipe triploid)
n

X
= 3,5-4,4 (bertipe tetraploid)
n

Keterangan:  X = Rata-rata jumlah kromosom

n = jumlah kromosom dasar pada setiap jenis tumbuhan paku

(Sumber :Skripsi Setyawati, Titim Yudha. 2000)

Data tersebut ditransformasikan terlebih dahulu menggunakan rumus √(x+0,5)


kemudian menggunakan analisis varian ganda dalam RAK, yaitu untuk mengetahui
pengaruh ketinggian tempat dan jenis tumbuhan paku terhadap tingkat ploidi
tumbuhan paku Pteris vittata,Addiantum peddatum, dan Dryopteris sparsa terhadap
27

tingkat ploidinya. Cara mengetahui banyaknya persebaran tingkat ploidi berdasarkan


ketinggian tempat dapat dilakukan uji lanjut yaitu uji BNT.

4.2 .1 Tabel data sebaran ploidi Pteris vittata

Ketinggian (mdpl)

Ulangan Tinggi Sedang Rendah

(1807) (950) (483 )

1 3n 2n 2n

2 3n 2n 2n

3 3n 2n 2n

4.2.2 Tabel sebaran ploidi Adiantum pedatum

Ketinggian (mdpl)
Ulangan Tinggi Sedang Rendah
(1807) (950) (483)
1 3n 2n 2n
2 3n 2n 2n
3 3n 2n 2n

4.2.3 Tabel data sebaran ploidi Dryopteris sparsa


Ketinggian (mdpl)
Ulangan Tinggi Sedang Rendah
(1807) (950) (483)
1 3n 2n 2n
2 3n 2n 2n
3 3n 2n 2n
28

4.2.4 Grafik Data tingkat Ploidi

3.5

3
Tipe ploidi (n)

2.5
Addiantum
2

1.5

1 Pteris vitata

0.5

0
483 950 1807 Dryopteris sparsa

Ketinggian daerah (m)

Dari grafik tentang sebaran ploidi Adiantum pedatum, Pteris vitata, dan Dryopteris
sparsa dapat dilihat bahwa pada dataran tinggi memiliki tipe ploidi triploid sedangkan
pada dataran sedang dan rendah tipe ploidi yang ditemukan adalah diploid.
4.3 Analisis Statistik
- Analisis Variasi Ganda
Pengujian data dengan menggunakan analisis variasi ganda dimaksudkan untuk
mengetahui adanya pengaruh perbedaan ketinggian, jenis Pteris dan interaksi antara
ketinggian dan jenis tanaman paku yaitu Pteris vitata, Dryopteris sparsa dan Adiantum
pedatum terhadap tingkatan ploidi. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis
deskriptif kuantitatif yaitu dengan menghitung modus jumlah kromosom dari masing-
masing ketinggian dan menggunakan analisis varian ganda dengan transformasi akar,
yaitu menggunakan rumus √(x+0,5)
29

4.3.1 tabel pengamatan tipe diploid


Ketinggian Ulangan
Jenis
(mdpl) 1 2 3
Pterris Vittata 0 0 0
1807 Dryopteris sparsa 0 0 0
Adiantum pedattum 0 0 0
Pterris Vittata 1 1 1
950 Dryopteris sparsa 1 1 1
Adiantum pedattum 1 1 1
Pterris Vittata 1 1 1
483 Dryopteris sparsa 1 1 1
Adiantum pedattum 1 1 1

4.3.2 tabel pengamatan tipe triploid


Ulangan
Ketinggian Jenis
1 2 3
Pterris Vittata 1 1 1
1807 Dryopteris sparsa 1 1 1
Adiantum pedattum 1 1 1
Pterris Vittata 0 0 0
950 Dryopteris sparsa 0 0 0
Adiantum pedattum 0 0 0
Pterris Vittata 0 0 0
483 Dryopteris sparsa 0 0 0
Adiantum pedattum 0 0 0

4.4 Transformasi data


Pada analisis data dilakukan transformasi akar bertujuan untuk membuatragam
perlakuan menjadi homogen. Transformasi akar digunakan untuk data yang kecil
(small whole number), yakni data yang berupa bilangan bulat kurang dari 10
(Sastrosupadi, 2000). Rumus yang digunakan untuk transformasi akar adalah sebagai

berikut: x`= x  0,5


30

4.4.1 Tabel transformasi akar (x`= x  0,5 ) diploid


31

4.4.1 Tabel data hasil transformasi akar (x`= x  0,5 ) tipe diploid
Ketinggian Jenis Ulanagan Jumlah Rerata
1 2 3
1807 Pterris Vittata 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,12132 0,707106781
Dryopteris sparsa 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,12132 0,707106781
Adiantum pedatum 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,12132 0,707106781
950 Pterris Vittata 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
Dryopteris sparsa 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
Adiantum pedatum 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
483 Pterris Vittata 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
Dryopteris sparsa 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
Adiantum pedatum 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674235 1,224744871
Total 28,40937
9,469789569 9,469789569 9,469789569 9,469789569
32

( x) 2 28,40937 2
FK = 
N 27
= 29,8923
JK total = x 2
 FK
= (0,707106781)2 + (0,707106781)2 + (0,707106781)2+...........+ (1,224744871)2
= 31,5 - 29,8923
= 1,687695155
(6,123724355)2 + {3,535533905)2+⋯…………+(6,123724355) 2
JK perlakuan kombinasi = 5
– - FK
= 1,65795155
(9,469789569) 2  (9,469789569) 2  ...  (9,469789569) 2
JK ulangan =  FK =
9
= 0,008038655
4.4.2 Tabel Dua Arah Diploid
Ketinggian(mdpl)
Jenis Pteris Jumlah
1807 950 483
Pterris Vittata 2,1213 3,6742 3,6742 9,4697
Dryopteris sparsa 2,1213 3,6742 3,6742 9,4697
Adiantum radianum 2,1213 3,6742 3,6742 9,4697
Total 6,3639 11,0226 11,0226 28,4091

 2,1213  3,6742  3,67422 


 
  2,1213  3,6742  3,6742
2

 
 2,1213  3,6742  3,6742
2

JK jenis =   FK 
 9 
 
 
 
 
= 0,002695
33

 2,1213  2,1213  2,12132 


 
  3,6742  3,6742  3,6742
2

 
 3,6742  3,6742  3,6742
2

JK tinggi =   FK 
 9 
 
 
 
 
= 31,4994 – 29,8923 = 1,6071
JK interaksi = JK perl. komb. - JK tinggi - JK jenis
= 1,65795155- 1,6071- 0,002695
= 0,048156
JK galat = JK total - JK ulangan - JK perl. komb.
= 1,687695155–0,0080385655-1,65795155
= 0,021705
4.4.3 Tabel Anava Diploid
Ftab
SK Db JK KT Fhit
0,05 0,01
Ulangan 2 1,65795155
Perlakuan 8 0,008038655
0,80355 666,5392
Ketinggian 2 1,6071 2,51 3,71
Jenis 2 0,0027 0,00135 1,119816 2,51 3,71
Interaksi 2 0,0482 0,0241 19,99078 2,51 3,71
Galat 18 0,0217 0,001205556
Total 50 3,345690205

F hit jenis < F tab (0,05), H1 ditolak, tidak ada pengaruh perbedaan jenis 3 jenis paku terhadap
tingkat ploidi.
F hit tinggi > F tab (0,05), H1 diterima, ada pengaruh tingkat ploidi pada 3 daerah dengan
ketinggian yang berbeda.
F hit interaksi > F tab (0,05), H1 diterima, ada interaksi antara 3 jenis paku dan ketinggian terhadap
tingkat ploidi.
34

Uji BNT untuk ketinggian


2 𝑥 𝐾𝑡 𝑔𝑎𝑙𝑎𝑡
BNT = 𝑡∝ (db galat) x √ 𝑟

2 𝑥 0,001205556
=𝑡(0,05) 18 𝑥 √ 3

= 0,081602

Tabel Notasi BNT


Ketinggian Rata-rata Notasi
1807 m dpl a
2,1213
950 m dpl b
3,674333
483 m dpl 3,674333 b

 Selisih rerata (950 mdpl - 1807 m dpl)= 3,674333- 2,1213= 1,553033. Nilai
1,553033>0,081602diberi notasi a.
 Selisih rerata (483 mdpl -950 m dpl)= 3,674333- 3,674333=0. Nilai 0 <0,081602diberi notasi
b.
Berdasarkan uji BNT, dapat diketahui bahwa ketinggian 483m dpl dan 950 memiliki pengaruh
yang sama terhadap tingkat ploidi diploid pada Pterris vittata, Dryopteris sparsa, Adiantum
radianum.

4.4.4 Tabel transformasi akar (x`= x  0,5 ) triploid

Ketinggian Jenis Ulangan Jumlah Rerata


Pteris vitata 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674234614 13,5
Dryopteris
sparsa 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674234614 13,5
Adiantum
483 pedatum 1,224744871 1,224744871 1,224744871 3,674234614 13,5
Pteris vitata 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5
Dryopteris
sparsa 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5
Adiantum
950 pedatum 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5
35

Pteris vitata 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5

Dryopteris
sparsa 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5
Adiantum
1807 pedatum 0,707106781 0,707106781 0,707106781 2,121320344 4,5
Total 7,916875301 7,916875301 7,916875301 23,7506259 67,5

( x ) 2 23,75062592
FK = 
N 27
= 20,89230485

JK total = x 2
 FK
= {(13,5)2+(13,5)2+...+(4,52)} – FK
= - 20,89230485
= 1,99977
(7,916875301) 2  (7,916875301) 2  .(7,916875301) 2
JK ulangan =  FK
9
=0
(3,6742343) 2  (3,6742343) 2  ...  (2,121320344) 2
JK perl. komb. =  FK
3
= 1,607695
Tabel dua arah triploid
Ketinggian
Jenis paku Rendah Sedang Tinggi Jumlah
Pteris vitata 2,12132 2,12132 4 7,9168746
Dryopteris
sparsa 2,12132 2,12132 4 7,9168746
36

Adiantum
pedatum 2,12132 2,12132 4 7,9168746
total 6,36396 6,36396 11 23,7506238

 2,12132  2,12132  42 


 
  2,12132  2,12132  4
2

 
  2,12132  2,12132  4  FK 
2
Jk Jenis =
 9 
 
 
 
 

= 0,333329631

 2,12132  2,12132  2,121322 


 
  2,12132  2,12132  2,12132
2

 
 4  4  4
2

JK tinggi =   FK 
 9 
 
 
 
 
= 1,607692135

JK interaksi = JK perl. komb. - JK tinggi - JK jenis


= 1,607695 - 1,607692135 - 0,333329631
= 0,058747734
JK galat = JK total - JK ulangan - JK perl. komb.
= 1,99977 –0- 1,607695
= 0,392074345
37

Tabel Anava Triploid

SK db JK KT Fhit Ftabel
Ulangan 2 0
perlakuan 8 1,9997695
ketinggian 2 1,6071 0,80355 36,89070755 2,51 3,71
jenis 2 0,333329631 0,166664816 7,651525067
interaksi 2 0,058747734 0,029373867 1,348544256
galat 18 0,392074345 0,021781908

F hit jenis > F tab (0,05), H1diterima ada pengaruh perbedaan jenis 3 paku terhadap tingkat ploidi.
F hit tinggi > F tab (0,05), H1 diterima, ada pengaruh perbedaan tingkat ploidi pada 3 daerah
dengan ketinggian yang berbeda.
F hit interaksi < F tab (0,05), H1 ditolak, tidak ada interaksi antara jenis 3 paku dan ketinggian
terhadap tingkat ploidi
Uji BNT untuk ketinggian
2 𝑥 𝐾𝑡 𝑔𝑎𝑙𝑎𝑡
BNT = 𝑡∝ (db galat) x √ 𝑟

2 𝑥 0,021781908
=𝑡(0,05) 24 𝑥 √ 3
= 2,0639𝑥 √0,014521272

= 2,0639 x 0,120504241= 0,346859407


5.4.7 Tabel Notasi BNT
Ketinggian Rata-rata Notasi
483 mdpl 2,12132 A
950 mdpl 2,12132 B
1807 mdpl 4 B

 Selisih rerata (950 mdpl-483 m dpl)= 2,12132- 2,12132= 0. Nilai 0 <0,346859407 diberi notasi
a.
 Selisih rerata (1807 mdpl-483 m dpl)= 4 - 2,12132 = 1,87868 . Nilai 1,87868 >0,346859407
diberi notasi b.
 Selisih rerata (1807 mdpl-950 m dpl)= 4 - 2,12132 = 1,87868 . Nilai 1,87868 >0,346859407
diberi notasi b.
38

Berdasarkan uji BNT, dapat diketahui bahwa ketinggia 1807 mdpl memiliki pengaruh yang paling
tinggi terhadap tingkat ploidi triploid pada Pteris vittata, Adiantum Peddatum, dan Dryopteris
sparsa. .
39

BAB V

PEMBAHASAN

Pada penelitian proyek ini diteliti pengaruh ketinggian tempat (dataran rendah, dataran
sedang dan dataran tinggi) terhadap tingkat ploidi tumbuhan paku di daerah Malang . tumbuhan
paku yang diteliti tingkat ploidinya adalah jenis Pteris vittata, Adiantum Pedatum dan Dryopteris
sparsa. Tumbuhan paku tersebut diperoleh dari tiga daerah dengan ketinggian yang berbeda yaitu
Kota Malang (UB) kecamatan klojen dengan ketinggian tempat 483 mdpl yang mewakili dataran
rendah‚ Kota Batu (Coban talun, Desa bumiaji) dengan ketinggian tempat 950 mdpl yang
mewakili dataran sedang dan Kota Batu (daerah Cangar ) dengan ketinggian 1807 mdpl yang
mewakili dataran tinggi.
Pemotongan akar dilakukan pada pukul 09.00 WIB atau siang karena pada waktu inilah
fase pembelahan sel pada tudung akar tumbuhan paku aktif membelah. Akar yang telah dipotong
sepanjang kurang lebih 1 cm‚ kemudian dimasukkan ke dalam larutan FAA yang berfungsi untuk
menghentikan aktivitas pembelahan, sehingga kondisi akar saat pemotongan (fase mitosis) masih
dapat dipertahankan hingga tahap penelitian selanjutnya yaitu pengamatan di bawah mikroskop.
Selanjutnya, potongan akar pada botol vial berisi FAA dicuci sebanyak delapan kali dan
dimasukkan dalam botol vial berisi HCl 1 N dan dilanjutkan dimasukkan dalam waterbath yang
bertujuan untuk melunakkan dinding sel atau jaringan. Setelah dari waterbath, batas antara tudung
akar dengan sel-sel diatasnya akan tampak jelas. Tudung akar akan berwarna lebih putih dibanding
bagian di atasnya dan lebih lunak sehingga mudah dipotong. Dengan lunaknya dinding ini
sehingga zat pewarna (acetocarmin) akan mudah terserap. Dalam penelitian ini dilakukan dengan
perhitungan kromosom pada tahap anafase atau metafase saja. Pemilihan sel dalam pada tahap
metafase atau anafase saja hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam perhitungan jumlah
kromosom. Hal ini dikarenakan bahwa kromosom akan tampak jelas diamati pada fase tersebut.
Menurut Suryo (2010) pada metafase terjadi kondensasi dan penebalan yang maksimal sehingga
kromosom terlihat lebih pendek dan tebal dibandingkan pada fase lainnya serta posisi kromosom
berjajar pada equator, sehingga sangat jelas saat diamati. Sedangkan pada anafase setiap kromatid
dari tiap pasang kromosom berpisah, kemudian bergerak menuju ke kutub yang berlawanan
(Suryo, 2010).
40

Pada penelitian ketiga jenis paku mengalami poliploidi dikarenakan proses penggandaan
kromosom sehingga kromosom meningkat dari jumlah kromosom dasarnya masing – masing yaitu
Pteris vittata sebanyak 29 kromosom Adiantum pedatum sebanyak 30 kromosom dan Dryopteris
sparsa sebanyak 41 kromosom. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diketahui bahwa
tingkat ploidi pada paku jenis Pteris vittata, Adiantum pedatum, dan Dryopteris sparsa
dipengaruhi oleh ketinggian.. Pada tanaman yang berada di daerah dataran rendah dan sedang,
tingkat ploidinya adalah diploid, sedangkan pada daerah dataran tinggi tingkat ploidinya adalah
triploid . Nakato dalam Setyawati (2000) menjelaskan bahwa faktor ketinggian tempat
berpengaruh pada tumbuhan paku karena adanya kecenderungan sitologi pada tumbuhan paku
yang memiliki tingkat ploidi diploid yang tersebar di daerah yang hangat, sedangkan yang triploid
tersebar di daerah yang lebih dingin.
Ketinggian merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi suhu lingkungan. Hal ini
disebabkan adanya suhu rendah pada daerah yang lebih tinggi mampu menghambat pembentukan
benang-benang spindel sehingga kromosom gagal memisah pada saat anafase. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan, tipe poliploidi yang dijumpai pada daerah yang memiliki dataran tinggi
adalah triploid. Hal ini sesuai dengan pendapat Perwati (2009), meningkatnya peristiwa poliploidi
dan teradaptasinya tumbuhan berderajat ploidi tinggi pada daerah yang berelevasi tinggi diduga
karena turunnya temperatur. Temperatur dan faktor lingkungan lain yang terkait dengan ketinggian
tempat berperan dalam poliploidisasi tumbuhan .
Menurut Albert, et all dalam Khotimah 2002 proses terjadinya poliploidi diawali dengan
tidak terbentuknya spindel mitotik. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak terjadinya
pembentukan benang spindel terkait dengan perubahan molekul tubulin menjadi mikrotubula yaitu
suhu rendah. Pada akhir pembelahan dihasilkan sel dengan jumlah kromosom yang banyak. Hal
ini sesuai dengan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tumbuhan paku yang berada
didataran rendah dan sedang memiliki tingkat ploidi diploid sedangkan pada dataran tinggi
memiliki tingkat ploidi triploid
Menurut Yadav (2007) terjadinya poliploidi diawali dengan tidak terbentuknya benang
spindel. Mikrotubul yang terdiri dari unit monomer tubulin alfa dan tubulin beta yang akan
berikatan dengan GTP membentuk dimer. Dimer alfa tubulin tidak dapat berikatan dengan GTP
mengalami hidrolisis ,sedangkan dimer beta tubulin dapat berikatan dengan GTP karena setelah
terhidrolisis membentuk GDP dibantu oleh GTP -ase, GDP akan membntuk protofilamen,
41

kumpulan protfilamen ini akan membentuk benang spindel. Tubulin ini akan mengalami
polimerisasi untuk membentuk benang spindel, namun hal itu tidak terjadi karena enzim yang
mengkatalis polimerisasi menjadi tidak aktif. Hal ini terjadi karena seperti yang diketahui bahwa
enzim bekerja pada suhu optimum dan menjadi inaktif pada suhu yang terlalu rendah dan
mengalami denaturasi pada suhu tinggi. Pengaruh suhu pada reaksi enzimatis merupakan suatu
fenomena yang kompleks. Bertambahnya suhu sampai dengan suhu tertentu akan menyebabkan
kenaikan kecepatan reaksi enzim karena bertambahnya energi kinetik yang mempercepat gerak
vibrasi, translasi dan rotasi enzim serta substrat, sehingga memperbesar peluang keduanya untuk
bereaksi. Suhu yang lebih besar dari suhu maksimum akan menyebabkan protein enzim mengalami
perubahanpada substrat juga dapat sehingga gugus reaktifnya mengalami hambatan dalam
memasuki sisi aktif enzim (Suhartono, 1989). Dengan tidak terbentuknya gelendong pembelahan
maka jumlah kromosom mengganda sehingga terjadi poliploidi.

(Sumber : Yadav ,2007)


Berkenaan dengan kejadian poliploidi yang terkait dengan mitosis, poliploidi dapat terjadi
akibat penyimpangan selama meiosis yang menghasilkan gamet-gamet yang tidak mengamami
reduksi. Gamet yang tidak mengalami reduksi bergabung dengan suatu gamat normal (haploid)
maka zigot yang terbentuk tergolong triploid. Jika gamet yang bergabung sama-sama tidak
42

mengalami reduksi (pada individu diploid) maka zigot yang terbentuk tergolong tetraploid (Ayala,
et.al., 1984 dalam Corebima, 2000).
Poliploidi dapat juga terjadi akibat penggandaan jumlah perangkat kromosom di dalam sel-
sel somatik secara spontan. Dalam hal ini replikasi kromosom berlangsung tanpa diikuti oleh
pembelahan sel. Pada individu diploid, kondisi ini dapat menyebabkan terbentuknya kelompok sel
(jaringan) tetraploid yang pada akhirnya akan menghasilkan zigot tetraploid. Tetapi apabila terjadi
pembuahan yang melibatkan suatu gamet haploid, maka akan terbentuk zigot triploid (Ayala,
et.al., 1984 dalam Corebima, 2000).
43

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Tidak ada pengaruh perbedaan jenis Pteris vitata, Dryopteris sparsa, Adiantum pedatum
terhadap sebaran individu ploidi tumbuhan paku dari jenis Pteris yang diambil dari tiga
ketinggian berbeda.
2. Ada pengaruh perbedaan ketinggian terhadap sebaran individu ploidi tumbuhan paku dari
jenis Pteris vitata,Dryopteris sparsa, Adiantum pedatum yang diambil dari tiga ketinggian
berbeda.
3. Ada interaksi antara jenis paku (Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum pedattum)
dengan tempat yang berbeda di daerah Malang.
B. Saran
1. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor – faktor lain yang mungkin
dapat mempengaruhi tingkat ploidi Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum
pedattum
2. Sebaiknya dilakukan penelitian tentang perbedaan ketinggian tempat terhadap variasi
jenis dari Pteris.
3. Untuk menambah pengetahuan tentang tipe kromosom pada tumbuhan paku, maka
perlu dilakukan penelitian yang lebih luas lagi yaitu dengan menggunakan tumbuhan
paku lain selain Pteris vittata, Dryopteris sparsa dan Adiantum pedattum.
4. Untuk menganalisis, sebaiknya lebih teliti karena akan sangat berpengaruh terhadap
hasil yang diperoleh.
44

Daftar Rujukan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2018. Cuaca Provinsi Daerah Jawa Timur.
(Online) (http://meteo.bmkg.go.id/prakiraan/propinsi/16), diakses tanggal 15 April
2018.
Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi dan Rekombinasi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Corebima , A.D. Fauzi Ahmad.Zubaidah Siti.2016. The Utilization of Ferns as a Model Organism
for Studying Natural Polyploidization Concept in Genetics Course. (Online),
(https://www.researchgate.net/publication/316919646_The_Utilization_of_Ferns_as_a_
Model_Organism_for_Studying_Natural_Polyploidization_Concept_in_Genetics_Cours
e), diakses pada 10 April 2018

Crowder, L.V. 1990. Genetika Tumbuhan. Terjemahan oleh Lilik Kusdiarti. 1988. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Darnaedi. 1995. Survai Kromosom Tumbuhan Paku Liar Di Kebun Raya Bogor. (Online),
(http://Fkatalog.pdii.lipi.go.id/), diakses pada 16 April 2018
Dinas Komunikasi dan Informatika. 2018. Sekilas Malang: Geografis. (Online),
(http://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/), diakses tanggal 28 April 2018.
Gardner, dkk. 1991. Principle of Genetic. New York : John Wiley and Sons.
Jurcak, J. 1999. A Modification to the Acetocarmin Methode of Chromosome Colouring in the
School Practice. Journal of Biologica, 37(2): 7-14
Khotimah, Husnol. 2002. Studi Tipe Sitologi pada Pteris Tripartita di Daerah Dataran Rendah.
Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Moertolo, A. 2004. Keanekaragaman tumbuhan Berpembuluh Tumbuhan Paku. Malang: UGM
Press.
Perwati, L.K. 2009. Analisis Derajat Ploidi dan Pengaruhnya Terhadap Variasi Ukuran Stomata
dan Spora pada Adiantum raddianum. BIOMA, Vol. 11, No. 2, Hal. 39-44
Ritonga. 2010. Analisis Mitosis. (Online) (http://jurnalitb.analisis.mitosis/ritonga.
wordpress.html), diakses tanggal 10 April 2018.
Sastrosumarjo, S. 2006. Panduan Laboratorium. Bogor: IPB Press.
Setyawati, Titim Yudha. 2000. Study Tentang Sebaran Ploidi Pteris Tripartita di Daerah Dataran
Rendah dan Dataran Tinggi. Skripsi tidak diterbitkan. malang : Universitas Negeri
Malang.
45

Suhartono, M.T. 1989. Enzim dan bioteknologi. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Antar Universitas Bioteknologi, Institut
Pertanian Bogor.
Sulisetjono. 2010. Taksonomi Tumbuhan. Malang: UM Press.
Suryo. 2010. Genetika Strata I. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Widiyono, dkk. 2004. Kajian Pemanfaatan Lahan DAS Ciliwung dan Cisadane. (Online)
(http://jurnal.kajianpemanfaatan.lahan.das.ciliwung.dancisa dane/widiyono.html),
diakses tanggal 17 April 2018.
Yadav, P.R. 2007. A Text Book of Genetics. New Delhi: Campus Book International.
Zubaidah, S. 1998. Kajian Sitologi Tipe Reproduksi dan Ciri-ciri Morfologi Pteris biaurita Di
Daerah Berketinggian Berbeda. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
46

LAMPIRAN

Tahap Mitosis

Fase Anafase

Dengan Perbesaran
40x10

Dokumen Pribadi

Fase Metafase

Dengan Perbesaran
40x10

Dokumen Pribadi
47