Anda di halaman 1dari 8

PENGENALAN TIPE GEJALA : NEKROSIS, HIPERPLASIA,

DAN HIPOPLASIA SERTA PENGENALAN TANDA


PENYAKIT
BAGIAN II

Muhammad Ikhsan
A353180011

Dosen Praktikum:
1. Dr. Ir. Kikin Hamzah Mutakin, M.Si
2. Dr. Ir. Supramana, M. Si

PROGRAM STUDI PENGENDALIAN HAMA TERPADU


SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman dapat menunjukkan gejala perubahan bentuk, dan kelayuan pada


tanaman, tanaman dapat menunjukkan kelompok gejala yang membentuk penyakit
sindrom penyakit disebabkan oleh faktor abiotik dan biotik. Suatu tanaman dapat
dikatakan sehat atau normal, jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi
fisiologis dengan seperti perkembangan dan pembelahan sel (Setiadi 2000).
Penyebab penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu biotik atau parasite
dan abiotik non parasit. Biotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya menular atau
infeksius, misalnya jamur, bakteri, nematoda, mikoplasma, dan tanaman tinggi
parasitik. Abiotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya tidak menular atau non
infeksius. Penyakit-penyakit kaena penyebab abiotic sering disebut penyakit
fisiologis atau fisiogenis, sedangkan patogennya disebut fisiopath. Fisiopath
tersebut antara lain kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, kondisi tanah yang
kurang baik, kerusakan mekanik, dan zat-zat kimia (Semangun 1994).
Tumbuhan sakit umumnya menunjukkan gejala yang khusus gejala
(sympton) adalah perubahan perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan sebagai
akibat adanya penyakit tertentu, tidak hanya menyebabkan timbulnya suatu gejala
tetapi juga menimbulkan sindroma, selain itu beberapa penyakit berbeda
menunjukkan gejala yang sama sehingga dengan memperhatikan gejala saja sulit
untuk mendiagnosis dengan pasti maka selain memperhatikan gejala harus
diperhatikan (SIGN) dari penyakit. Tanda adalah semua pengenal dari suatu
penyakit (Wijaya 2001)
Gejala morfologi ada tiga macam yaitu nekrosa, hypoplasia dan hyperplasia.
Nekrosa adalah gejala penyakit yang disebabkan oleh protoplas yang diikuti oleh
kematian sel jaringan, organ dan seluruh tanaman. Gejala nekrotik yang timbul
sebelum kematian protoplas disebut plesionekrotik. Ada tiga gejala yang termasuk
dalam plesionekrotik yaitu menguning (Yellowing), layu (Wilting), dan hidrosis (
adanya jaringan yang tampak bening). Gejala nekrotik setelah kematian protoplas
disebut holonekrotik (Jackson 2009).
Hipoplasia merupakan kegagalan tanaman atau organ untuk berkembang
secara penuh seperti kerdin (Dwafing), kegagalan membentuk warna hijau dan
hanya menghasilkan warna kuning (klorosis), daun berwarna hijau dan kuning
(mosaic). Hiperplasia merupakan hasil dari perkembangan yang berlebihan, baik
ukuran dan warna atau juga perkembangan bagian organ yang terlalu dini secara
tidak wajar seperti pertumbuhan yang berlebihan (gigantisme), perkembangan
warna yang berlebihan (hiperkronik), perubahan dari jaringan dari satu bentuk
menjadi bentuk lain (metaplastic), perkembangan pucuk yang premature dan mati
pucuk (proleptic) (Agrios 1996).

Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui berbagai macam gejala penyakit
tumbuhan seperti Nekrotik, Hiperplasia, dan Hipoplasia serta mengetahui struktur
berbagai bentuk cendawan.
BAHAN DAN METODE

Waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 28 September 2018 yang
berlokasi di Laboratorium Pendidikan 1 Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum yaitu buku, alat tulis, mikroskop, pinset,
silet, jarum dan pipet tetes. Bahan yang digunakan yaitu spesimen daun terong
penyakit bercak daun terong, spesimen busuk buah terong, spesimen busuk buah
kakao, spesimen marasmius kelapa sawit, spesimen karat puru pada sengon,
spesimen kuning fitoplasma pada bambu, spesimen benalu pada jambu bol.

Metode

Pengamatan mikroskopis
Metode ini dilakukan dengan cara meneteskan aquades pada kaca preparat
kemudian spesimen daun yang bergejala digerus menggunakan silat atau jarum lalu
diletakkan ke kaca preparat yang telah ditetesi aquades kemudian ditutup dengan
cover glass dan diamati dibawah mikroskop.
Pembahasan

Penyakit bercak daun terong


Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Alternaria sp. Daun bawah jatuh
sebelum tua, muncul bercak-bercak coklat hitam pada daun, bercak menutupi
hampir seluruh daun, muncul cincin-cincin gelap terang pada daun, kemudian daun
menguning dan mengering, serta muncul tekstur gelap pada pangkal buah. Penyakit
akan menyebar dengan cepat ketika tanaman terong mulai berbuah.
Cendawan Alternaria sp. memiliki miselium berwarna coklat muda,
konidiofor tegak, bersekat, dengan ukuran 50-90 μm. Konidium berbentuk gada
terbalik, berwarna coklat, berukuran 145-370 x 16-18 μm, mempunyai sekat
melintang 5-10 buah dan 1 atau lebih sekat membujur. Konidium memiliki paruh
(beak) pada ujungnya, paruh bersekat. Panjang paruh kurang lebih setengah dari
panjang konidium atau lebih (Gambar 14c). Cendawan dapat mempertahankan diri
pada sisa-sisa tanaman sakit dan tumbuhan lain seperti tomat, kentang, dan
kecubung (Semangun 1989).

Penyakit busuk buah terong


Penyakit busuk buah terong disebabkan oleh cendawan Colletotrichum sp.
Gejala yang ditimbulkan yaitu pada buah yang terinfeksi terdapat bercak konsentris
berwarna kuning kecoklatan di tengahnya terdapat konidia cendawan yang
berwarna hitam. Konidia cendawan Colletotrichum sp. Berbentuk seperti bulan
sabit. Konidia dibentuk di struktur aservulus yang khas disertai seta berwarna gelap.
Konidia berukuran sekitar 18.6-25 x 3.5-5.3 μm. Cendawan Colletotrichum sp.
merupakan stadia anamorfik dari cendawan Glomerella sp. yang termasuk ke dalam
kelas Pyrenomycetes, ordo Phyllacorales (Weber 1973). Penyakit ini termasuk
penyakit yang ditakuti oleh petani. Seluruh tanaman contoh pada tanaman terung
fase generatif yang diamati terinfeksi oleh penyakit ini. Intensitas penyakit
antraknosa juga hampir sama dengan penyakit busuk buah yaitu relatif tinggi. Pada
buah yang terinfeksi umumnya hampir semua bagian busuk (Rizky 2013).

Busuk buah kakao


Phythoptora palmivora dapat menyerang semua organ atau bagian tanaman,
seperti akar, daun, batang, ranting, bantalan bunga, dan buah pada semua tingkatan
umur. Pada bagian batang patogen ini menyebabkan penyakit kanker batang.
Penyakit mudah dikenali dengan gejala menggelembungnya bagian batang atau
cabang dan berwarna kehitam-hitaman atau gelap, bagian ini akan membusuk dan
basah, serta mengeluarkan cairan kemerahan seperti lapisan karat. Bila lapisan yang
membusuk ini dikerok atau dibersihkan, akan tampak lapisan berwarna merah ungu
(Matiaputty 2014). Serangan P. palmivora paling merugikan terjadi pada bagian
buah. Buah yang telah terinfeksi patogen akan berwarna cokelat kehitaman pada
permukaannya, menjadi busuk basah, dan selanjutnya gejala menyebar menutupi
seluruh permukaan buah. Pada bagian yang menghitam akan muncul lapisan
berwarna putih bertepung yang merupakan spora jamur sekunder dan terdapat juga
sporangium Phytophthora (Semangun, 2000).
Marasmius kelapa sawit
Gejala yang disebabkan oleh patogen ini adalah busuknya tandan yang
ditandai dengan adanya miselium cendawan yang berwarna putih mengkilat meluas
dipermukaan tandan buah. Tubuh buah cendawan ini membentuk seperti payung,
bila miselium memenuhi seluruh tandan. Pada tingkat serangan berat, cendawan
masuk ke daging buah yang menyebabkan buah membusuk, warna 2 buah menjadi
coklat muda. Pembusukan ke dalam buah ini dapat meningkatkan kadar asam lemak
bebas karena mengalami lipolisis yang disebabkan oleh enzim yang diproduksi
pathogen. Banyak laporan menyatakan pada periode musim hujan, dengan kondisi
basah yang berkepanjangan sangat mendukung perkembangan penyakit busuk
tandan.
Perkembangan miselium terjadi pada bagian dalam belakang tandan, dibagian
bawah pelepah daun, dimana kondisi tersebut sangat lembab. Pada tahap
perkembangan selanjutnya, miselium cendawan tumbuh menutupi permukaan buah
dan menembus mesocarp sehingga menghasilkan penyakit busuk awal yang
berwarna coklat cerah yang dengan jelas berasal dari jaringan yang sehat. Buah
yang terinfeksi yang masih tertinggal di tandan pada akhirnya akan kering,
meninggalkan hanya jaringan berserat dari mesocarp. Pada awalnya buah diserang
oleh Marasmius palmivorus diikuti oleh serangan sekunder oleh mikroorganisme
lain (Sitompul 2013).

Karat puru pada sengon


Gejala penyakit karat puru dapat ditandai dengan adanya hiperplasia
(pertumbuhan lebih) pada bagian tumbuhan yang terserang. Gejala penyakit diawali
dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian pohon yang terserang
(daun, cabang, dan batang). Lama kelamaan pembengkakan berubah menjadi
benjolan-benjolan yang kemudian menjadi bintil – bintil kecil atau disebut puru
(gall). Jika serangan penyakit ini dibiarkan dan semakin parah maka seluruh bagian
pohon akan dipenuhi oleh puru sehingga pohon menjadi mati. Gejala penyakit karat
puru dapat diketahui dengan kerontokan pada daun semai yang berwarna kuning,
keriting dan melengkung (2-3 minggu). Pada semai yang berusia 6 minggu, gejala
karat puru dapat terlihat dengan garis putih yang memanjang pada batang semai,
gejala ini akan semakin terlihat jelas saat semai ditanam di lapangan, garis-garis
putih pada batang tersebut akan membentuk gall di sepanjang batang. Gejala lain
yang ditunjukan akibat terinfeksinya semai oleh jamur karat puru yaitu pucuk
melengkung dan kaku, serta pembengkokan batang disertai bercak warna coklat
(Rahayu 2008).

Kuning fitoplasma pada bambu


Tanaman bambu yang terinfeksi fitoplasma memiliki daun yang berwarna
kuning, jumlah daun dan ranting banyak, serta terjadi pemendekan ruas-ruas
sehingga daun terlihat menggerombol. Mutaqin (2000) pernah melaporkan adanya
tanaman bambu yang terinfeksi fitoplasma dengan gejala daun bambu menguning
dan menggerombol, selain penyakit daun putih pada rumput Bermuda; sapu pada
kacang tanah, kedelai dan kacang panjang; daun kecil pada ubi jalar; serta mosaik
sapu pada kaktus. Menurut Musetti (2008) fitoplasma dapat ditularkan dari satu
tanaman ketanaman lain melalui tiga cara yaitu melalui perbanyakan vegetatif
seperti penyambungan, pembuluh yang menyambungkan tanaman sakit dengan
tanaman sehat seperti tali putri (Cuscuta sp.), serta yang paling umum terjadi di
lapangan adalah melalui serangga vektor. Serangga dapat menjadi vektor ketika
melakukan aktivitas makan dengan cara menusuk menghisap pada daun muda yang
terinfeksi fitoplasma dibandingkan pada daun yang sudah tua. Fitoplasma
ditularkan oleh serangga vektor secara persisten, sirkulatif, dan propagatif.

Tanaman parasitic tingkat tinggi


Gejala kerusakan yang ditunjukan pada tanaman inang yang ditempeli oleh
Loranthus sp tidak nampak secara nyata, hanya saja terdapat beberapa cabang yang
mempunyai sedikit perbedaan morfologi dari cabang lainnya (cabang dari
Loranthus sp yang menempel). Kecepatan tumbuh tanaman melambat,
perkembangan sel, jaringan terganggu yang di ekspresikan oleh tanaman dengan
kurus atau tumbuh dengan kerdilnya tanaman tersebut. Dalam keadaan tertentu
tumbuhan benalu dapat lebih subur di bandingkan dengan tumbuhan inangnya ini.
SIMPULAN

Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diperoleh maka dapat


disimpulkan bahwa berbagai gejala penyakit pada tumbuhan dapat dibedakan
berdasarkan bentuknya (Gejala morfologi dan Histologi), serta mengetahui
berbagai bentuk dari cendawan-cendawan penyebab penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Agrios G. 1999. Ilmu penyakit tumbuhan. Jakarta (ID). Bayu Media.


Jackson RW. 2009. Plant pathogenic bacteria: Genomics and molecular biology.
New York. Caister Academic Press.
Matiaputty, Anderson, Amanupunyo, H.R.D, Rumahlewang, Wihelmina. 2014.
Kerusakan Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) Akibat penyakit Penting di
Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Budidaya
Pertanian 10(1) : 6-9.
Mutaqin KH. 2000. Deteksi dan pembandingan fitoplasma asal rumput bermuda
(Cynodon dactylon (L.) Pers.) dan inang lainnya menggunakan teknik
PCRRFLP serta penularannya dengan wereng daun [tesis]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Musetti R. 2008. Integrated Management of Diseases Caused by Fungi,
Phytoplasma, and Bacteria. Ciancio A, Mukerji KG, editor. Jerman (DE):
Springer Science and Business Media
Rahayu, S. 2008. Penyakit karat tumor pada sengon (Falcataria moluccana (Miq.)
Barneby & J.W. Grimes). Makalah Workshop Penanggulangan Serangan
Karat Puru pada Tanaman Sengon 19 Nop 2008. Jakarta (ID). Balai Besar
Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Badan Litbang
Kehutanan. Jakarta.
Rizky MS. 2013. Hama dan penyakit tanaman terung (Solanum melongena L.) di
Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Semangun H. 2000. Pengantar ilmu penyakit tumbuhan.Yogyakarta (ID). Gadjah
Mada University.
Setiadi. 2000. Dasar-dasar perlindungan tanaman umum. Padang (ID): Bumi
Aksara
Sitompul SK. 2013. Evaluasi keefektifan penghambatan beberapa agens biocontrol
terhadap pertumbuhan Marasmius palmivora Sharples [skripsi]. Bogor (ID):
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Weber GF. 1973. Bacterial and Fungal Diseases of Plant in the Tropics.
Gainesville (US): Florida University Press.
Wijaya. 2001. Hama dan penyakit tanaman hortikultura. Kediri. Universitas Kediri
Press