Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

DASAR-DASAR EKOLOGI

Disusun Oleh :
Nama

: Ade Intan Christian

NIM

: 12/334973/PN/12968

Gol. / Kel.

: A1/3

Asisten

: 1. Aida Kusumastuti
2. Cerah Bintara Nurman
3. Wildan Karim

LABORATORIUM EKOLOGI TANAMAN


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

ACARA I
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I. TUJUAN
1. Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang
berbeda.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Interaksi antara organisme dan lingkungannya disebut ekologi. Ekologi mempelajari
makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan
fisik dan lingkungan biotik. Lingkungan biotik terdiri dari makhluk hidup satu dengan
makhluk hidup lainnya. Lingkungan fisik terdiri dari materi abiotik dann materi energi
(Woodburry, 1954).
Lingkungan terdiri dari dua faktor penyusun, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor
biotic adalah faktor hidup yang teridi dari organisme, seperti tumbuhan, hewan,
mikroorganisme. Faktor abiotik adalah faktor yang tidak hidup seperti air, udara,, intesitas
cahanya, salinitas, dan lain-lain (Barto et al., 2010).
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Setiap jenis
tumbuhan mempunyai kebutuhan terhadap tiap faktor yang berbeda. Kebutuhan yang
terpenuhi akan menyebabkan tumbuhan tumbuh secara optimum. Suatu jenis tumbuhan
mempunyai batas-batas yang masih dapat dostolerir untuk suatu faktor. Batas-batas ini
dinamakan batas toleransi. Toleransi bagi tumbuhan adalah batas maksimum dan minimum
suatu faktor dibutuhkan tumbuhan untuk tumbuh (Brinker et al., 2010).
Salinitas merupakan salah satu faktor ekologi. Salinitas adalah kadar garam terlarut
dalam suatu larutan tertentu. Kandungan garam berlebih di dalam air akan mengganggu
proses ekologi. Sehingga sedikit spesies yang mampu tumbuh di daerah yang memliki
salinitas tinggi ( Remmert, 1980 ).
Salinitas alami adalah sebuah fenomena yang terbesar luas di bumi dan evolusi dari
kehidupan organisme dihasilkan pada sejumlah spesies yang menunjukkan mekanisme
adaptasi spesial untuk tumbuh pada lingkungsn salin. Pada kondisi nyata hampir semua biji
tanaman tidak dapat tahan secara permanen pada kondisi tanah salin. Tanaman yang tumbuh
pada tanah salin dihadapkan pada masalah yang lebih kompleks. Pada rizophere konsistensi
garam pada kandungan tanah turun naik karena perubahan penyedian air, drainase,
penguapan dan transpirasi. Salinitas tidak hanya disebabkan oleh NaCl tetapi juga oleh

Na2CO3, NaHCO3 dan Na2SO4 dan hubungan dari garam garam tersebut dengan lainnya
sebaik pada nutrisi lain seperti K+, Ca2+ dan Mg2+ adalah penting dan ada perbedaan besar
pada tempat yang berbeda (Staples dan Toenieses, 1984).
Kondisi salinitas dalam tanah dapat mengurangi produktivitas dan nilai suatu lahan.
Pengaruh larutan garam dalam tanah terhadap tanaman adalah mengurangi ketrsediaan lengas
tanah, mengubah kondisi fisik tanah sehingga mengurangi penetrasi akar dan secara langsung
dapat menyebabkan ketersediaan air bagi tanaman berkurang (Isnawan, 1997).
Meningkatnya konsentrasi garam NaCl dalam medium pertumbuhan tanaman berakibat
pada berkurangnya panjang akar dan tunas dari bibit padi. Pertumbuhan akar lebih peka
dibandingkan pertumbuhan tunas. Hal ini disebabkan akar berhubungan langsung dengan
larutan garaam, sehingga akar lebih besar dipengarhi oleh NaCl daripada tunas (Dinata dan
Putrana, 2007).
Salinitas tanah umumnya menurunkan laju nitrifikasi yang umumnya diikuti dengan
meningkatnya potensial osmotik tanah, sehingga hanya sedikit organisme yang toleran
dengan keadaan ini. Kehadiran ion natrium pada tanah dalam jumlah tinggi dapat mempert
ahankan tanah tetap tersuspensi sehingga dapat menurunkan porositas dan menghambat
aerasi, tanaman (Sudiarso et al.,2002).
Penting disadari bahwa tanaman tidak terdapat sebagai individu atau kelompok individu
yang bersolasi. Semua tanaman berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan sejenisnya (
tanaman sama) dengan tanaman lain dan dengan lingkungan fisik tempat hidupnya. Dalam
proses ini tanaman saling berinteraksi dengan yang lainnya dan dengan lingkungan
sekitarnya. Begitu pula berbagai faktor yang mempengaruhi kegiatan hidup tanaman seperti
tanah. Tanah berkadar garam tinggi atau yang salin terlarut dalam jumlah banyak sehingga
mengganggu pertumbuhan sedangkan salinitas merupakan terakumulasinya garam-garam
terlarut dalam tanah ( Venner dan Hua Ho, 1976 cit Kurniasih, 2008).

III. METODE PELAKSAAN PRAKTIKUM


Praktikum Dasar dasar Ekologi acara I yangberjudul Salinitas sebagi Faktor Pembatas
Abiotik dilaksanakan Senin, 4 Maret 2013 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan
Budidaya Tanaman, Jurusan Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta. Alat alat yang digunakan adalah timbangan analitik, gelas ukur,
Erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam dan penggaris. Sedangkan bahan bahan yang
digunakan adalah benih padi (Oryza sativa ), benih kedelai (Glicine max) ,benih ketimun (
Cucumis sativa), polibag, NaCl, tanah, kertas label dan air.
Pertama tama disiapkan polibag yang diisi tanah sebanyak kurang lebih 3 kg. Bila ada
kerikil, sisa sisa tanaman lain dan kotoran harus dihilangkan supaya tidak mengganggu
pertumbuhan tanaman. Kemudisn dipilih biji yang sehat dari jenis tanaman yang akan
diperlakukan, selanjutnya ditanam lima biji kedalam masing masing polibag. Penyiraman
dilakukan setiap hari dengan air biasa. Setelah berumur 1 minggu, bibit dijarangkan menjadi
2 tanaman per polibag, dipilih bibit yang sehat. Selanjutnya dibuat larutan NaCl dengan
konsentrasi 2000 ppm dan 4000 ppm. Sebagai pembanding digunakan aquades dengan
masing masing perlakuan diulang tiga kali. Masing masing konsentrasi larutan garam
tersebutdituangkan pada tiap tiap polibag sesuai perlakuan sampai kapasitas lapang.
Volume masing masing larutan untuk tiap tiap polibag harus sama. Tiap polibag harus
diberi label sesuai perlakuan dan ulangan. Label yang diberikan harus mudah dibaca untuk
mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan. Diberikan larutan garam
setiap dua hari, namun selang hari diantaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air biasa
dengan volume yang sama. Percobaan ini dilakukan sampai tanaman berumur 21 hari,
kemudian dilakukan pemanenan. Usahakan akar jangan sampai rusak atau terpotong.
Kegiatan selanjutnya adalah pengamatan selama percobaan dilakukan. Langkah-langkah
pengamatan meliputi mengukur tinggi tanaman setiap 2 hari sekali, menimbang berat segar
dan berat kering pada akhir prngamatan dan mengamati abnormalitas tanaman. Pada akhir
percobaan dari seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata 3 ulangan pada setiap perlakuan.
Setelah perhitungan maka dibuat grafik tinggi tanaman pada masing-masing konsentrasi
garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman, histogram panjang akar untuk
masing-masing tanaman, histogrampanjang akar untuk masing-masing tanaman pada hari
terakhir, dan histogram berat segar, berat kering pada masing-masing konsentrasi garam.

IV.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman

PERLAKUAN

TANAMAN

0 ppm
PADI

2000 ppm

TINGGI TANAMAN (RATA-RATA) HARI KE- (cm)


1

10.36

14.37

17.13

10.07

14.60

8.18

KEDELAI MENTIMUN

19.73 21.34

22.92

24.05

26.83

17.84

20.03 22.28

24.40

24.54

26.09

13.44

16.59

18.39 20.92

22.30

22.67

24.21

9.86

13.84

17.56

21.67 24.39

29.99

37.67

45.82

8.98

13.92

19.58

24.40 30.02

34.35

43.39

50.87

10.32

16.06

20.58

27.61 30.26

38.66

49.22

55.88

6.64

8.56

9.37

11.29 11.57

14.23

16.61

19.79

6.61

8.017

8.54

11.06 13.15

14.25

18.94

20.48

7.06

9.04

10.24

12.45 14.90

16.45

19.81

21.37

4000 ppm
0 ppm
2000 ppm
4000 ppm
0 ppm
2000 ppm
4000 ppm

Tabel 2. Tabel Pengamatan Jumlah Daun

PERLAKUAN

TANAMAN

JUMLAH DAUN (RATA-RATA) HARI KE-

PADI
KEDELAI
MENTIMUN

0 ppm

2.33

2.58

3.17

3.42

3.67

3.83

2000 ppm

2.5

2.67

3.25

3.5

3.75

3.75

3.83

4000 ppm

2.5

2.75

3.25

3.5

3.8

3.92

3.92

0 ppm

1.37

2.5

3.5

4.67

4.37

5.25

5.5

5.75

2000 ppm

1.92

3.08

3.5

4.08

4.33

4.92

5.33

5.75

4000 ppm

2.75

3.5

4.33

4.33

4.83

5.45

0 ppm

1.08

1.58

1.83

2.42

2.75

2.92

3.45

3.53

2000 ppm

1.83

2.08

2.33

2.83

2.83

3.17

4.17

4000 ppm

1.83

2.25

2.58

3.08

Tabel 3. Tabel Pengamatan Berat Basah, Berat Kering, dan Panjang Akar.
TANAMAN

PERLAKUAN

BERAT
BASAH
(gr)

PADI

KEDELAI

MENTIMUN

BERAT
KERING

PANJANG AKAR
(cm)

(gr)

0 ppm

0.53

0.34

7.47

2000 ppm

0.46

0.21

6.45

4000 ppm

0.39

0.29

6.092

0 ppm

3.63

1.09

20.09

2000 ppm

3.66

1.17

21.08

4000 ppm

3.7

1.17

18.19

0 ppm

8.97

1.26

18.35

2000 ppm

7.67

1.12

15.22

4000 ppm

8.47

0.88

15.25

V. PEMBAHASAN
Pratikum Dasar-Dasar Ekologi Acara I yang berjudul Salinitas Sebagai Faktor Pembatas
Abiotik. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan mengenai perilaku adaptasi
tumbuhan terhadap beberapa kadar garam. Menurut hukum toleransi Shelford organisme
mempunyai batasan minimum dan maksimum terhadap faktor-faktor yang ada di alam
termasuk dengan kadar garam. Kutub-kutub tersebut dikenal sebagai batas toleransi. Batas
toleransi untuk tiap tanaman berbeda. Kadar garam yang berlebihan akan menganggu
pertumbuhan tanaman hingga dapat menyebabkan kematian.
Pada praktikum ini dilakukan pengecambahan tiga macam biji dengan tingkat salinitas
berbeda untuk membuktikan kebenaran hukum Shelford tentang batasan tertentu tiap spesies
terhadap salinitas yang sesuai kebutuhannya. Tiga jenis tanaman tersebut yakni padi (Oryza
sativa), kedelai (Glycine max), mentimun (Cucumis sativum). Tiap tanaman akan
mendapatkan 3 perlakuan salinitas 0 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm. Tumbuhan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan unsur-unsur hara, salah satunya adalah
garam. Garam disebut sebagai faktor pembatas karena garam dapat membatasi pertumbuhan,
perkembangan serta perkembangbiakan tanamn baik dalam jumlah yang banyak maupun
sedikit. Pemberian kadar garam yang tidak sesuai pada suatu lahan dapat mengakibatkan
lahan mati. Kadar garam yang tinggi menjadikan tanaman pada lahan tersebut menjadi sulit
untuk menyerap air dari larutan tanah, sehingga metabolisme tanaman terhambat dan
tanaman menjadi kering. Hal itu dapat terjadi karena bila tanaman diberi kadar garam yang
tidak sesuai dengan kebutuhan akan mengakibatkan keracunan pada tanaman dan
menghambat

pertumbuhan.

Konsentrasi

garam

yang

tidak

sesuai

mengakibatkan

terganggunya perbesaran sel, pembelahan sel serta metabolisme sel pada tanaman. Pada
konsentrasi yang rendah ion Na+ dan Cl- dimanfaatkan tanaman untuk pertumbuhan daun
namun pada konsentrasi tinggi akan bersifat racun dalam metabolisme tanaman.
Menurut Sunarto (2001) penyiraman larutan garam NaCl akan sangat menurunkan semua
peubah pengamatan seperti tinggi tanaman, luas daun, bobot biji, bobot kering akar, dan
tajuk. Penghambatan pertumbuhan tanaman oleh salinitas dapat terjadi melalui dua cara,
yaitu dengan merusak sel-sel yang sedang tumbuh dan pembatasan suplai hasil-hasil
metabolisme esensial . Pengaruh NaCl pada proses perkecambahan antara lain mengurangi
hidrasi dari embrio dan kotiledon, menghambat dan mengurangi pemunculan radikula dan
plumula, dan mengurangi pertumbuhan kecambah.

Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, maka hasil yang didapatkan dari
pengamatan seharusnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman terganggu. Akan tetapi,
kenyataan yang terjadi bisa berlawanan dengan teori karena toleransi tumbuhan terhadap
salinitas berbeda-beda.

GRAFIK

Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman Padi (Oryza sativa)

Dari grafik terlihat bahwa ketiga tanaman menunjukkan pertumbuhan yang pesat pada
awal pengamatan sampai pengamatan hari ke-3 dan pada pengamatan hari ke-3 ketiga grafik
hampir menyatu. Selanjutnya terjadi kenaikan yang tidak yang tidak begitu signifikan. Pada
hari ke-6 sampai hari ke-7 grafik ketiga tanaman landai. Seperti kita ketahui, salinitas yang
tinggi dapat menyebabkan menurunnya pertumbuhan tanaman dengan cepat dan dapat
meracuni mekanisme metabolik tertentu dan secara tidak langsung mengganggu serapan
berbagai unsur hara dalam metabolisme. Dari pengamatan diketahui bahwa tanaman padi
(Oryza sativa) tetap mengalami pertumbuhan baik pada perlakuan 0 ppm, 2000 ppm maupun
4000 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman padi merupakan tanaman yang toleran
terhadap salinitas atau termasuk tanaman halofit sehingga perawatan tanaman padi dapat
dilakukan dengan mudah karena pengairannya tanpa kadar garam. Hal ini menyebabkan
petani mayoritas menanam padi daripada jenis tanaman lainnya.

Grafik 2. Grafik Tinggi Tanaman Kedelai (Glycine max)


Dari grafik terlihat bahwa grafik menunjukkan juga hampir linier sampai pengamatan
hari ke-3. Pertumbuhan terjadi untuk semua kadar salinitas. Pengamatan mulai dari hari ke-1
sampai hari ke-8 terjadi kenaikan yang cukup tinggi untuk perlakuan konsentrasi 4000 ppm,
sedangkan pada perlakuan 0 ppm dan 2000 ppm mengalami pertambahn tinggi di bawahnya.
Pada hari ke-3 ketiga grafik tanaman berhimpit, selanutnya pada hari ke-5 pada perlakuan
2000 ppm dan 4000 ppm kembali berhimpit. Hal ini menunjukkan tanaman kedelai (Glycine
max) tahan terhadap salinitas dan termasuk ke dalam golongan euhalofit.

Grafik 3. Grafik Tinggi Tanaman Mentimun (Cucumis sativa)


Pada grafik pengamatan hari pertama sampai kedua ketiga grafik berhimpit. Pada hari
ke-3 sampai ke-4 urutan tinggi tanaman berubah menjadi tanaman mentimun (Cucumis
sativa) perlakuan 4000 ppm selanjutnya diikuti 0 ppm dan 2000 ppm. Kenaikan tinggi
tanaman mentimun pada perlakuan 0 ppm dan 2000 ppm terlihat fluktuatif, sedangkan pada
perlakuan 4000 ppm terlihat stabil. Pertumbuhan paling pesat terjadi pada perlakuan 4000

ppm, hal ini menunjukkan pada 4000 ppm terjadi pertumbuhan optimum. Padahal menurut
teori mentimun tergolong glikofit, sedangkan pada percobaan termasuk euhalofit. Sehingga
terjadi penyimpangan bila dibandingkan dengan teori. Perbedaan ini dapat disebabkan
perbedaan tanah yang digunakan dan banyak larutan garam yang diberikan.

Grafik 4. Grafik Jumlah Daun Tanaman Padi (Oryza sativa)


Jumlah daun pada ketiga perlakuan selalu mengalami kenaikan dan ketiganya
mengalami kenaikan yang stabil. Ketiga perlakuan seringkali berhimpit satu sama lain. Sejak
hari pertama sampai hari terakhir jumlah daun pada ketiga perlakuan sama, hal ini
menunjukkan pemberian air garam dengan berbagai konsentrasi tidak berpengaruh signifikan
pada jumlah daun padi. Berdasarkan percobaan ini menunjukkan padi termasuk toleran
terhadap salinitas.

Grafik 5. Grafik Jumlah Daun Tanaman Kedelai (Glycine max)


Dari grafik dapat diketahui jumlah daun tanaman kedelai pada semua konsentrasi
hampir selalu mengalami peningkatan, kecuali pada perlakuan 0 ppm pada hari ke-5 yang
mengalami penurunan sendiri. Secara umum terjadi kenaikan jumlah daun dalam berbagai
konsentrasi. Fluktuasi kenaikan menunjukkan bahwa jumlah daun pada tanaman kedelai
(Glycine max) sangat dipengaruhi oleh salinitas tanah selain itu kedelai juga tahan terhadap
salinitas, hal ini dibuktikan pada perlakuan 4000 ppm yang terjadi peningkatan jumlah daun
sejak hari pertama. Pada hari ke-8 diketahui rata-rata jumlah daun tertinggi pada perlakuan 0
dan 2000 ppm dengan 5,75 cm, sedangkan pada 4000 ppm sebesar 5,45 cm.

Grafik 6. Grafik Jumlah Daun Tanaman Mentimun (Cucumis sativa)


Berdasarkan grafik diketahui semua perlakuan mengalami pertambahan jumlah daun
pada setiap perlakuan, meskipun pada 2000 ppm dari hari ke-4 sampai ke-5 dan perlakuan
4000 ppm hari pertama sampai kedua tidak mengalami pertambahan. Kenaikan jumlah daun

terjadi fluktuatif, dapat diketahui pada perlakuan 2000 ppm merupakan pertumbuhan
optimum pada tanaman mentimun yakni pada hari terakhir mampu mencapai 4,17.
Sedangkan pada perlakuan 4000 ppm terjadi pertumbuhan minimum yakni 3,08. Hal ini
menunjukkan bahwa jumlah daun mentimun dipengaruhi salinitas. Sehingga mentimun
tergolong tanaman rentan terhadap salitas atau glikofit.

HISTOGRAM

Histogram 1. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 0 ppm


Tanaman dalam proses tumbuh selalu menyerap unsur hara, unsur hara yang terserap
ditunjukkan oleh berat basah suatu tanaman. Mentimun memiliki berat basah tertinggi bila
dibandingkan tanaman padi dan kedelai. Berat basah mentimun mencapai 8, 97 dan berat
keringnya 1, 26 gram. Berat basah kedelai sebesar 3, 63 gram dan berat keringnya 1,09 gram.
Paling ringan pada perlakuan 0 ppm adalah berat basah dan berat kering padi, berturut- turut
pada nilai 0, 53 dan 0, 34. Sehingga mentimun tumbuh dengan baik pada keadaan normal.

Histogram 2. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 2000 ppm
Pada perlakuan 2000 ppm terjadi penurunan pada berat basah maupun berat kering
pada mentimun dan kedelai, namun terjadi sedikit penambahan pada tanaman padi. Perlakuan
2000 ppm memberikan data yang berbeda, sehingga diketahui salinitas berpengaruh terhadap
berat suatu tanaman. Tanaman kedelai yang tergolong tahan terhadap salinitas akan
mengalami kenaikan berat basah maupun kering sedangkan terjadi penurunan pada tanaman
yang termasuk dalam golongan halofit (padi) dan golongan glikofit (mentimun).

Historam 3. Histogram Histogram Berat Basah dan Berat Kering Perlakuan 4000 ppm
Perlakuan 4000 ppm menunjukkan padi kembali penurunan, berat basah 0,39 gram
dan berat keringnya 0,29. Tanaman kedelai mengalami kenaikan berat basah, namun berat
keringnya sama dengan perlakuan 2000 ppm. Hal ini memperlihatkan bahwa kedelai

memiliki sifaf tahan terhadap berbagai kadar salinitas baik rendah maupun tinggi. Tanaman
mentimun memiliki berat basah 8,47 gram dan berat keringnya 0,88 gram, terjadi penurunan
berat basah maupun berat kering bila dikomparasikan dengan perlakuan 0 ppm. Sehingga
diketahui mentimun bersifat rentan terhadap salinitas.

Histogram 1. Panjang Akar Perlakuan 0 ppm


Pada perlakuan 0 ppm, akar paling panjang adalah tanaman kedelai 20,09 cm.
Sedangkan tanaman mentimun diposisi kedua dengan panjang 18,35 cm dan akar terpendek
pada tanaman padi ialah 7,47 cm. Sehingga diketahui kecepatan pertumbuhan akar pada
tanaman mentimun berlangsung baik bila dibandingkan dua tanamn lainnya. Hal ini bisa
disebabkan karena faktor volume tanaman dan karketeristik pertumbuhan pada mentimun.

Histogram 2. Panjang Akar Tanaman Mentimun (Cucumis sativa)


Panjang akar mentimun terpanjang pada perlakuan 0 ppm yakni 18,25 cm. Pada
perlakuan 4000 ppm panjang akar mencapai 15,25 cm dan terpendek pada perlakuan 2000

ppm yang panjangnya 15,22 cm. Histogram menunjukkan bahwa salinitas mempengaruhi
panjang akar, tepatnya berkurangnya pertumbuhan pada akar mentimun. Berdasarkan
berbagaikan perlakuan salinitas memperlihatkan mentimun memiliki sifat rentan terhadap
salinitas.

Histogram 3. Panjang Akar Tanaman Kedelai (Arachis hypogaea)


Tanaman kedelai memiliki akar terpanjang pada perlakuan 2000 ppm yakni 21,08 cm,
selanjutnya diikuti pada perlakuan 0 ppm yaitu 20,09 dan akar terpendek pada perlakuan
4000 ppm. Fluktuasi tinggi kedelai dalam berbagai perlakuan menerangkan bahwa kedelai
dipengaruhi oleh salinitas tanah. Padahal menurut teori, tanaman kedelai bersifat tahan
terhadap salinitas tanah. Sehingga disini terjadi penyimpangan, penyimpangan yang terjadi
bisa dikarenakan kesalahan proses pencabutan.

KESIMPULAN
1. Salintas menjadi salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman, Salinitas
mempengaruhi panjang akar, jumlah daun, berat basah dan kering, serta panjang akar.
2. Tanaman memiliki sifat toleransi berbeda pada berbagai kondisi salinitas.
3. padi (Oryza sativa) termasuk ke dalam tanaman yang toleran (kelompok halofit)
terhadap tingkat salinitas yang tinggi. mentimun (Cucumus sativus) termasuk ke
dalam tanaman yang rentan (kelompok glikofit) terhadap tingkat salinitas tinggi.
kedelai (Glycine max) termasuk ke dalam tanaman yang rentan (kelompok euhalofit)
terhadap tingkat salinitas tinggi.
4. Jika kebutuhan tanaman akan
kelebihan atau tepat

salinitas terpenuhi, tidak kekurangan maupun

pada keadaan optimumnya maka perkembangan,

pertumbuhan keadaan jaringan, produksi, sampai pada kualitas hasil akan menjadi
baik.

DAFTAR PUSTAKA
Barto, E.K. , A. Fabian, O.W. Wolfgang, C.R. Mathias 2010. Contribution of biotic and
abioctic factors to soil aggeregation across a land use gradient. Soil Biology and
Biochemistry 42:2316-2324.
Brinker, M., B. B. V. Mikael, A. Atef , F. Payam, J. Dennis. 2010. Linking the salt
trascriptome with physiological responses of a salt resistant Popilas Species os a
strategy to identify genes important for stress acclimation. Plant Physiology.
153:1697-1709.
Dinata, K dan Putrana. 2007. Pengaruh NaCl terhadap perkecambahan benih padi varietas
PB56 dan kruing Aceh. Agrotropika 3(1): 19-20.
Isnawan. 1997. Permasalahan salinitas pada pertumbuhan dan perkembangan tanamantanaman budidaya. Jurnal Fakultas Pertanian Muhammadiyah 6(2): 25-26.
Kurniasih, B. 2008. Hasil sifat perakaran varietas padi gogo tingkat salinitas. Ilmu Pertanian
9(1).
Remmert, H. 1980. Ecology a Text Book. Springer Herdelberg ang Sprinnger Verlag, New
York.
Sunarto. 2001. Toleransi kedelai terhadap tanah salin. Bul. Agron. 29 (1): 2730.
Staples,R.C.dan G.H.Toniesen.1984.Salinity Tolerence in Plants Stategnes for Crop
Improvement. Awiley-Inter Science Publication. New York.
Woodburry, A. M. Principles of General Ecology. Mc Graw hill Book Company.

ACARA II
KOMPETISI INTER DAN INTRASPESIFIK SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS
BIOTIK
I. TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh faktor biotik terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi intra dan inter spesifik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kompetisi adalah interaksi antara dua organisme yang berusaha untuk hal sama.
Interaksi kompetisi biasanya interspesifik berpengaruh terhadap pertumbuhan dan proses
bertahan hidup oleh dua atau lebih spesies populasi. Interaksi kompetisi biasanya melibatkan
ruang lingkup, makanan, nutrisi, cahaya matahari, dan tipe-tipe lain dari interaksi. Kompetisi
interspesifik dapat menghasilkan penyesuaian keseimbangan oleh dua spesies atau dari satu
populasi menggantikan yang lain (Odum, 1983).
Interaksi terdiri dari dua jenis, intraspesies dan interspesies.interaksi intraspesies
adalah hubungan antara organisme yang berasal dari satu spesies. Sedangkan interaksi
interspesies adalah hubungan yang terjadi antara organisme yang berasal dari spesies yang
berbeda ( Elfidasari, 2007 ).
Kompetisi antara tumbuhan dengan tumbuhan juga terjadi antara tumbuhan yang
memliki spesies yang berbeda. Kompetisi intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada
dua atau lebih tumbuhan yang berspesies sama. Persaingan ini biasanya lebih ketat karena
hal-hal yang diperlukan untuk tiap individu hampir sama. Jumlah intesitas cahaya, kebutuhan
air, nutrisi yang dibutuhkan sama dan jumlahnya juga sama untuk dapat tumbuuh maksimum.
Hal ini disebabkan karena berasal dari spesies yang sama (Ghirlanda, 2009).
Secara garis besar interaksi intraspesifik dn interspesifik dapat dikelompokkan
menjadi beberapa bentuk dasar, yaitu (i) Netralisme, hubungan makhluk hidup yang tidak
saling menguntungkan maupun menguntungkan, (ii) mutualisme yaitu hubungan antara dua
jenis makhluk hidup saling menguntungkan, (iii) parasitisme yaitu hubungan yang hanya
menguntungkan salah satu pihak, (iv) predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antar satu
jenis makhluk hidup terhadap makhluk hidup lain, (v) kooperasi adalah hubungan mahluk
hidup yang membantu keduanya, (vi) kompetisi adalah bentuk hubungan antara dua makhluk

hidup, makhluk hidup satu diuntungkan sedangkan lainnya dirugikan, (viii) antagonis adalah
hubungan dua makhluk hidup yang saln bermusuhan ( Dwidjoseputro, 1991 )
Kompetisi intraspesifik dan interspesifik terjadi selama perjalanan tumbuh dan
berkembang. Kebiasaan seperti pembajakan, pembenihan, dan pemupukan dimaksudkan
untuk mengurangi efek kompetisi, misal padi dengan rumput. Kompetisi dapat dilihat dari
bergantungnya terhadap sumber daya dan proses sumbr daya independen (Page et al., 2010 )
Kompetisi dapatmenyebabkan punahnya suatu spesies. Agar suatu spesies berhasil
dalam suatu persaingan, maka spesies itu bukan hanya harus mampu memenuhi para
pesaingnya, tetapi juga harus mampu mempertahankan jumlahnya dalam mementangkan
sayap ke tempat baru dengan mengorbankan spesies lawannya. Hal ini dapat dicapai melalui
daur kehidupan tumbuhan yaitu efektifitas penyerbukan, pemencaran biji efisien,
perkecambahan (Kersaw, 1973 ).
Kompetisi yang terjadi pada suatu wilayah tertentu adalah hal yang biasa terjadi. Interaksi
kompetisi yang terjadi dapat berubah seiring waktu yang terjadi. Oleh karena itu, bentuk
adaptasi yang dilakukan oleh makhluk hidup yang bersangkutan sangat penting. Adanya
kompetisi tidak akan hanya mempengaruhi tingkah laku, tetapi dapat juga merubah bentuk
fisik makhluk hidup ( Lisicic et al., 2011 )

III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Praktikum Dasar Dasar Ekologi acara II, yang berjudul Kompetisi Inter dan Intra
Spesifik sebagai Faktor Pembatas Biotik ini dilaksanakan pada hari 11 Maret 2013, di
Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta Pengamatan dilakukan selama 21 hari. Alat-alat yang digunakan
adalah peralatan tanam, penggaris, timbangan analitik, dan oven. Bahan bahan yang
digunakan adalah tiga jenis benih tanaman yaitu jagung (Zea mays) , kacang tanah (Arachis
hipogaea), kacang panjang (Vigna sinensis), pupuk kandang, 9 polybag, kantong
kertas,kertas label.
Cara kerja yang dilakukan, pertama awal polybag kemudian diisi tanah kurang lebih
3kg. Kerikil, sisa akar tanaman, dan juga kotoran harus dihilangkan agar tidak mengganggu
pertumbuhan tanaman. Biji ditanam dengan perlakuan monokultur kacang tanah sejumlah 2,
4, dan 6 tanaman, polikultur kedelai jagung sejumlah (1+1, 2+2, dan 3+3) tanaman, dan
polikultur kacang tanah jagung (1+1, 2+2, dan 3+3) tanaman, polikulrur kacang tanahkacang panjang (1+1, 2+2, dan 3+3) Masing-masing diperlakukan 3 kali ulangan. Polibag
diberi label sesuai perlakuan dan ulangannya sehingga sehingga mudah untuk dibaca dan
mencegah tertukarnyadenga perlakuan lain. Sedangkan penyiraman dilakukan setiap hari
sampai tanaman berumur 21 hari, selanjutnya dilakukan pemanenan. Setelah diamati,
selanjutnya tanaman dikering anginkan, dimasukkan kantong kertas dan di oven selama 80OC
2 hari sampai berat konstan.Pengamatan tinggi tanaman setiap dua hari sekali (cm), berat
segar tanaman untuk tiap polibag pada akhir pengamatan ( gram), dan berat kering setelah
dioven (gram).

IV. HASIL PENGAMATAN


A. Tabel Tinggi Tanaman
Tabel 1. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

Perlakua

TINGGI TANAMAN (RATA-RATA) HARI KE- (cm)

5.53333
3

7.95833
3

10.5666
7

13.99
5

4.96

7.56

10.25

3.98

6.14

8.16

16.9

19.12
5

22.4833
3

29.941
67

13.01

15.44

17.08

20.57

27.88

10.32

13.10

14.86

16.51

20.27

Tabel 2. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Jagung (Zea mays)

Perlakua
n

TINGGI TANAMAN (RATA-RATA) HARI KE- (cm)


1

5.05

8.16666
7

10.25

13.0833
3

15.4333
3

18.0333
3

19.85

27.5166
7

2+2

5.28333
3

8.37

10.8916
7

14.6

15.7866
7

17.9583
3

20.4683
3

22.6433
3

3+3

4.63333
3

7.64944
4

9.98944
4

13.3466
7

15.3205
6

16.8222
2

18.525

21.6411
1

1+1

Tabel 3. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Kacang Panjang (Vigna sinensis)

Perlakua

TINGGI TANAMAN (RATA-RATA) HARI KE- (cm)

1+1

4.70833
3

6.96666
7

8.76666
7

11.3333
3

13.1333
3

14.0666
7

15.6833
3

24.85

2+2

4.18333
3

6.85

9.19166
7

11.8361
1

13.65

15.2166
7

18.2305
6

22.825

3+3

5.16111
1

6.30666
7

7.545

9.21722
2

10.6783
3

11.955

13.3566
7

16.75

B. Tabel Jumlah Daun


Tabel 1. Tabel Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea)

Perlakuan

JUMLAH DAUN (RATA-RATA) HARI KE1

2.41666
7

3.08333
3

4.08333
3

2.33

3.17

2.29

3.29

5.5

6.58333
3

7.58333
3

8.5

11.0833
3

3.88

4.88

5.38

6.23

6.71

9.75

4.17

5.09

5.76

6.41

6.83

10.03

Tabel 2. Tabel Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea) - Jagung (Zea mays)

Perlakua
n

1+1

2+2

3+3

JUMLAH DAUN (RATA-RATA) HARI KE1

2.5

3.2

3.78333
3

5.36666
7

5.61666
7

6.7

7.3

8.2083
33

2.30555
6

2.88888
9

3.72222
2

4.97222
2

6.80555
6

7.77777
8

8.8333
33

2.5

3.1

3.8

4.94

5.72222
2

6.88944
4

7.43888
9

11.02

Tabel 3. Tabel Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea) - Kacang Panjang (Vigna sinensis)

Perlakuan

1+1

2+2

3+3

JUMLAH DAUN (RATA-RATA) HARI KE1

2.5

3.4

4.4

5.56666
7

6.56666
7

7.73333
3

8.1

13.7

2.25

2.97777
8

3.67222
2

4.88888
9

5.30555
6

6.13333
3

7.10555
6

9.58333
3

2.445

3.09111
1

3.71111
1

4.18888
9

4.94444
4

5.97833
3

6.72222
2

6.83333
3

C. Tabel Berat Basah dan Berat Kering


TANAMAN

PERLAKUAN

BERAT
BASAH
(gr)

Monokultur
Kacang Tanah

Polikultur
Kacang Tanah
- Jagung

Polikultur
Kacang Tanah
- Kacang
Panjang

BERAT

PANJANG

KERING

AKAR

(gr)

(cm)

7.88

1.204167

9.04

8.59

1.51

9.31

10.48

1.77

11.03

1+1

4.524083

0.641667

7.94

2+2

4.99825

0.851667

9.79

3+3

6.004917

1.116

8.94

1+1

3.5515

0.691667

7.82

2+2

4.75475

0.716667

11.91

3+3

6.122167

1.343333

9.53

V. PEMBAHASAN
Pratikum Dasar-dasar Ekologi Acara II yang berjudul Kompetisi Inter dan Intra
Spesifik Sebagai Faktor Pembatas Biotik bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor biotik
terhadap pertumbuhan tanman dan mengetahui tanggap tanaman terhadap tekanan kompetisi
inter dan intra spesifik. Peristiwa yang akan diamati pada pengamatan ini adalah peristiwa
kompetisi. Kompetisi adalah persaingan antar dua atau lebih individu yang memperebutkan
sumber daya yang tebatas dan akhirnya saling merugikan. Salah satu cara mengetahui dan
mempelajari kompetisi yaitu dengan percobaan kepadatan tanaman. Perubahan pertumbuhan
dan hasil tanaman akibat persaingan diantara individu tanaman yang sama. Pada dasarnya
tanggapan tanaman terhadap kompetisi dengan tanaman lain relatif sama namun yang
membedakan hanyalah hasil maksimum dan kepadatan optimum tanaman agar dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik
Tekanan kompetisi pada jarak tertentu relatif konstan, karena tanaman dapat
mempunyai sifat penyesuaian. Tanaman akan besar pada jarak tanam lebar dan kecil pada
jarak tanam sempit, sehingga tekanan kompetisi akan relatif konstan.
Tumbuhan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kacang tanah (Arachis hypogaea),
jagung (Zea mays), dan kacang panjang (Vigna sinensis). Pengamatan yang akan dilakukan
pada pertumbuhan tanaman dan fokusnya akan pada tanaman kacang tanah (Arachis
hypogaea).
Kompetisi pada tumbuhan ada dua, yaitu tumbuhan dengan patogen penyebab
penyakit dan tumbuhan dengan tumbuhan. Kompetisi antara tumbuhan ada 3 macam, yaitu :
1. Kompetisi intra-spesifik, yaitu persaingan yang terjadi antar 2 individu atau lebih
dalam spesies yang sama, semisal antara padi dengan padi.
2. Kompetisi inter-spesifik, yaitu persaingan yang terjadi antar 2 individu atau lebih
dalam spesies yang berbeda, misalkan padi dengan palawija.
3. Kompetisi intraplant, yaitu persaingan yang terjadi dalam tumbuhan itu sendiri.
Persaingan yang terjadi bisa antara sel-sel tumbuhan dan bisa juga antara organ
tumbuhan itu sendiri.

Efek dari persaingan bisa berpengaruh pada morfologi dan fisiologi tumbuhan.
Pengaruh pada morfologi tumbuhan yang nyata adalah pada daun yang menguning, batang
tumbuhan yang pendek, dan buah yang kecil. Pengaruh pada fisiologi tumbuhan adalah pada
proses-proses yang terjadi dalam tumbuhan itu sendiri. Tumbuhan-tumbuhan yang diamati
perlu diketahui syarat tumbuh optimum masing-masing agar bisa didapatkan penjelasan yang
lebih baik mengenai hasil pengamatan yang dilakukan.

GRAFIK

Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)


Grafik memperlihatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah untuk tiap perlakuan
tidak jauh berbeda. Monokultur 2 mempunyai tinggi tanaman yang tertinggi dibanding
dengan monokultur yang lain. Sedangkan yang paling pendek tinggi tanamannya adalah
monokultur 6. Tinggi tanaman pada monokultur 2 paling tinggi disebabkan karena pada
monokultur 2 persaingan atau kompetisi antar tanamannya tidak terlalu berat sehingga dalam
memperoleh asupan kebutuhan zat hara, air, dan mineral dalam tanah dan cahaya matahari
untuk setiap tanaman bisa dioptimalkan karena hanya ada dua pesaing. Sedangkan pada
monokultur 6 pertumbuhannya lambat dikarenakan banyaknya jumlah pesaing yang ada di
dalam satu tempat tumbuhnya, sehingga tanaman berebut untuk asupan kebutuhan zat hara,
air, dan mineral dalam tanah. Kepadatan jumlah tanaman pada suatu tempat mempengaruhi
pertumbuhan tanamn dan semakin tinggi kompetisi yang terjadi.

Grafik 2. Grafik Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Jagung
(Zea mays)
Hasil pengamatan tinggi tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) pada perlakuan
polikultur dengan tanaman jagung (Zea mays) menunjukkan data seperti pada grafik 2 .
Grafik menunjukkan bahwa pada pengamatan hari pertama sampai hari ketujuh tinggi
tanaman kacang tanah relatif sama. Penyebab dari hal ini adalah pada fase awal bji masih
menggunakan cadangan makanan yang tersimpan dalam biji. Hasil pengamatan yang
ditunjukkan sudah sesuai dengan teori, yaitu bahwa perlakuan polikultur 1 tanaman kacang
tanah dan 1 tanaman jagung menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman yang paling baik. Hal
ini disebabkan karena individu yang terlibat dalam pesaingan untuk mendapatkan nutrisi dan
unsur-unsur alam semakin sedikit. Individu yang semakin sedikit terlibat dalam persaingan
akan menyebabkan nutrisi yang diterima oleh tiap-tiap individu menjadi lebih besar.

Grafik 3. Grafik Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) - Kacang
Panjang (Vigna sinensis)
Grafik menunjukkan kenaikan pertumbuhan yang relatif sama dari hari ke-1 sampai
hari ke-2. Selanjutnya masing-masing perlakuan membentuk tren kenaikan yang berbeda.
Polikultur Kacang Tanah - Kacang Panjang (1+1) selalu mengalami pertambahan tinggi,
kenaikan tertinggi padahari ke-8. Berbeda dengan Polikultur Kacang Tanah - Kacang Panjang
(3+3) yang juga mengalami kenaikan tinggi yang lebih kecil dari pada dua perlakuan lainnya.
Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh kepadatan jumlah individu yang ada di tempat tersebut
yang mempengaruhi ketatnya persaingan mendapatkan asupan kebutuhan hara, sinar
matahari, dan air.

Grafik 4. Grafik Jumlah Daun Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Grafik menunjukkan pengamatan hari pertama sampai hari keempat menunjukkan
bahwa semua perlakuan monokultur memiliki jumlah daun relatif sama.Penyebab dari hal ini
adalah pada fase awal biji masih menggunakan cadangan makanan yang terdapat dalam biji.
Setelah pengamatan yang kelima, tumbuhan mulai menunjukkan hasil yang sesuai teori di
mana perlakuan monokultur dua biji seharusnya memiliki tingkat pertumbuhan yang paling
baik karena individu yang terlibat dalam persaingan lebih sedikit. Pada percobaan ini terjadi
kompetisi intraspesifik. Ketatnya kompetisi menyebabkan sedikitnya jumlah daun. Hal ini
dikarenakan pemenuhan bahan fotosintesis dari dalam tanah tidak maksimum.

Grafik 5. Grafik Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Jagung (Zea mays)
Grafik menunjukkan banyak daun pada ketiga perlakuan selalu mengalami
pertambahan. Semua perlakuan menunjukkan kesamaan tren dari hari ke-1 sampai ke-7, hal
ini ditunjukkan seringkali terjadi himpitan. Perbedaan mencolok terjadi padahari ke-8,
dimana polikultur kacang tanah (3+3) paling tinggi diikuti polikultur kacang tanah (2+2)
selanjutnya polikultur kacang tanah (1+1). Pada percobaan ini mengalami kerancuan
mendasar. Kerancuan ini dapat disebabkan oleh ketidaktelitian dalam pengamatan atau
rusaknya organ dalam tanaman tersebut yang berakibat pertumbuhan yang kurang maksimal.

Grafik 6. Grafik Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Kacang Panjang (Vigna sinensis)
Grafik menunjukkan hubungan kompetisi intraspesifik dan interspesifik dengan
jumlah daun. Grafik juga memperlihatkan jumlah daun yang paling sedikit adalah polikultur
Kacang Tanah (Arachis hypogaea) - Kacang Panjang (Vigna sinensis) (3+3), sedangkan
jumlah daun terbanyak pada polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) - Kacang Panjang
(Vigna sinensis) (1+1). Ketiga perlakuan menunjukkan tren kenaikan sendiri-sendiri. Tren
kenaikan tertinggi terjadi pada hari ke-8. Kedua tanaman yang masih dalam satu subdivisi
memiliki sifat pertumbuhan yang sama, hanya saja jumlah spesies pada tempat tersebut
mempengaruhi banyak daun.

Histogram 1. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Tanaman Monokultur Kacang Tanah
(Arachis hypogaea)
Berdasarkan histogram diketahui berat kering dan berat basah paling berat pada
perlakuan monokultur (3+3) ,sedangkan terendah pada (1+1). Hasil ini bertentangan dengan
teori yang ada. Seharusya berat basah dan kering tertinggi pada perlakuan monokulur (1+1).
Namun data percobaan menjunjukkan hasil lain. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan dalam
pengamatan.

Histogram 2. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Tanaman Polikultur Kacang Tanah
(Arachis hypogaea) - Jagung (Zea mays)
Histogram kembali menunjukkan berat basah dan berat kering tertinggi pada
polikultur kacang tanah jagung (3+3) dan terendah pada berat basah dan kering terjadi
pada polikultur kacang tanah jagung (1+1). Sesuai teori berat basah mau pun berat kering
terjadi pada perlakuan polikultur kacang tanah jagung (1+1), karena disitu kompetisi yang
terjadi rendah.

Histogram 3. Histogram Berat Basah dan Berat Kering Tanaman Polikultur Kacang Tanah
(Arachis hypogaea) - Kacang Panjang (Vigna sinensis)
Histogram kembali menunjukkan berat basah dan berat kering tertinggi pada
polikultur kacang tanah jagung (3+3) dan terendah pada berat basah dan kering terjadi
pada polikultur kacang tanah jagung (1+1). Sesuai teori berat basah maupun berat kering
terjadi pada perlakuan polikultur kacang tanah jagung (1+1), karena disitu kompetisi yang
terjadi rendah. Percobaan juga menunjukkan tingkat kpadatan tidak berdampak dengan
menurunnya berat kering maupun basah.

Histogram 4. Panjang Akar Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)


Histogram menunjukkan bahwa perlakuan monokultur 6 kacang tanah memiliki akar
terpanjang yaitu 11,03. Kemudian diikuti oleh monokultur 4 yang panjangnya 9,31 dan yang
terpendek adalah monokultur 2 yang panjangnya hanya 9,04. Kepadatan dalam suatu wilayah
mempengaruhi panjang akar, hal ini terjadi karena semakin ketat persaingan maka tanaman
berusaha mencari sumber zat hara dan mineral sampai titik tertentu. Maka dari itu pada
monokultur 6 memiliki rata-rata panjang akar tertinggi.

Histogram 5. Histogram Panjang Akar Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis


hypogaea) - Jagung (Zea mays)
Histogram menunjukkan polikultur kacang tanah-jagung 2+2 memiliki akar paling
panjang. Sedangkan akar terpendek pada perlakuan polikultur kacang tanah-jagung 1+1.
Terdapat penyimpangan dari kecenderungan sebelumnya, yakni perlakuan polikultur kacang
tanah-jagung 2+2 lebih tinggi dibandingkan perlakuan polikultur kacang tanah-jagung 3+3.
Sehingga dimungkinkan perlakuan polikultur kacang tanah-jagung 2+2 memiliki tingkat
kompetisi yang lebih tinggi.

Histogram 6. Histogram Panjang Akar Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis


hypogaea) - Kacang Panjang (Vigna sinensis)
Histogram diatas menunjukkan Polikultur Kacang Tanah - Kacang Panjang 1+1
memiliki panjang akar terpendek yakni 7,94 cm. Polikultur Kacang Tanah - Kacang Panjang
2+2 memiliki akar terpanjang yakni 11,91. Hasil yang didapat bisa terjadi karena ketatnya
persaingan mendapatkan zat hara dan mineral dalam tanah. Sehinngga akar berusaha
mencapai tempat tersedianya sumber pangan.

Histogram 7. Histogram Tinggi Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea) pada berbagai
perlakuan
Histogram memperlihatkan rendahnya tingkat kepadatan berakibat panjang akar yang
terbentuk menjadi lebih panjang jika dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan monokultur
2 kacang tanah memiliki panjang akar terpanjang. Sedangkan semua perlakuan dengan
tingkat kepadatan 6 selalu memiliki akar yang paling pendek. Hal ini terjadi karena
kebutuhan zat hara lebih mencukupi perlakuan denagn kepadatan rendah bila dibandingkan
dengan perlakuan dengan kepadatan tinggi.

Histogram 8. Histogram Jumlah Daun Kacang Tanah (Arachis hypogaea) pada berbagai
perlakuan
Histogram ini menunjukkan perbedaan pola tinggi tanaman yang berbeda-beda. Pada
polikultur kacang tanah-kacang panjang memiliki jumlah daun. Pada monokultur 2 dan
polikultur kacang tanah kacang panjang 1+1 memiliki jumlah daun paling banyak
dibandingkan tanaman lain dalam perlakuan yang sama. Sedangkan terjadi perbedaan pada

perlakuan kacang tanah jagung, jumlah daun paling banyak pada perlakuan kacang tanah
jagung 3+3 yakni 11,02.

KESIMPULAN
1. Kompetisi akan menurunkan kemampuan tumbuhan untuk tumbuh karena terjadi
perebutan unsur-unsur alam dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
2. Tanggapan tanaman terhadap kompetisi inter dan intra spesifik adalah pertumbuhan
yang tidak maksimal. Pertumbuhan yang tidak maksimal ditunjukkan oleh jumlah
daun yang sedikit, tinggi tanaman yang pendek, dan panjang akar utama yang juga
pendek.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro,D. 1991. Ekologi Manusia dengan Lingkungannya. Jakarta, Erlangga.
Elfidasari,D. 2007. Jenis interaksi intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat
mencari makan di sekitar cagar alam Pulau Dua Serang, Propinsi Banten.
Biodiversitas 8: 266-269.
Ghirlanda, stefano. 2009. Intrarpecific competition and coordination in the evolution of
laferalization. Journal of Biological Sciener 364:861-866.
Kersaw.1973. Quantitative and Dynamic Plant Ecologycal System. Brookhaven. Sym
Arnold. London.
Lisicic, D., D.Sanja, H.Anthony, D.Domangoi, and T.Zoron. 2011. Effect of competition on
habitat utilization in two temperate dimate gecko species. The Ecological Society
105.240-245.
Odum, E. P. 1983. Basic Ecology. CBS Collage Publising. United State of America.
Page, E.R. 2010. Time, Effect, and Recovery from Intraspesific Competition in Meize.
Swanton Agronomy Journal: 102.

ACARA III
DAMPAK HUJAN ASAM TERHADAP TANAMAN BUDIDAYA

I. TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh pH rendah terhadap perkecambahan tanaman budidaya.
2. Mengetahui perbedaan tanggapan perkecambahan beberapa tanaman budidaya pada
kondisi asam.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Mempelajari ilmu lingkungan menjadi penting ketika kita membicarakan mengenai polusi
lingkungan. Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat energy, atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya
tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia. Penambahan bahan-bahan ini terjadi secara
berlebihan sehingga menurunkan kualitas kehidupan makhluk hidup. Pencemaran sendiri ada
banyak jenisnya ada pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan lain-lain.
Pencemaran udara dapat menyebabkan terjadinya hujan asam (Plattenberg, 2006).
Hujan asam dibentuk dari kumpulan SO2 dan NOx yang terbuang dalam atsmofer,
sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil. Sumber-sumber utama adalah dari pembangkit
energi yang berbahan batu bara dan minyak, serta sumber transportasi seperti kendaraan darat
dan kapal. Polutan udara yang terbuang kedalam atmosfer kemudian di transformasi ke
dalam H2SO4 dan HNO3. Bahan-bahan ini kemuddian bahan ini dapat berpindah sejauh
ratusan kilometer ke berbagai tempat. Bahan-bahan ini adalah asam-asam kuat , ketika asamasam ini terkena air hasil siklus air sehingga pH dari air akan berubah kea rah asam. Air
hujan asam memilik Ph <5,5 (Solberg, 2006).
Hujan asam memacu proses pencucian hara dan tajuk tumbuhan dan tanah hutan dan
merubah laju mineralisasi tanah hujan baik secara fisik maupun hayati. Pengaruh lain adalah
konsentrasi proton dalam larutan tanah sampai suatu keadaan dimana ion-ion hara tidak
berada pada konsentrasi yang efektif untuk diserap akar tumbuhan.( Smith, U. H)
Hujan asam akan berdampak pada lingkungan. Pada komponen abiotik, hujan asam
dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan gangguan kesehatan karena tercemarnya air
dan kontak langsung dengan kulit. Pada komponen abiotik, hujan asam dapat menyababkan
pelapukan pada bahan dan merusak kadar pH dari sumber air (Lin, 2011).
PH dianggap sebagai faktor pembatas yang penting dan merupakan indikator yang dapt
digunakan untuk menentukan keadaan umum ekologi dari lingkungan pengairan. Elemen

yang diambil oleh tqnaman juga p[enting untuk pertumbuhannya. Perbedaan yang signifikan
dalam konsentrasi dan elemen yang diambil oleh tanaman juga penting untuk
pertumbuhannya. Perbedaan yang signifikan dalam konsentrasi dan elemen yang diambil
ditemukan antara masukan dalam pH tertentu dan antara level pH. Perubahn pH berbanding
dengan pembebasan CO2 jika alkalinitas total konstan, dapat berguna sebagai indikator
mengenai laju metabolisme komunitas total (fotosintesis dan respirasi). Tanah-tanah dengan
perairan dan pH rendah seringkali kekurangan unsur hara sehingga produktivitasnya rendah
(Trustinah dan Moedjiono, 2000).
Pengaruh pH tanah pada penyerapan unsur hara dan tumbuhan didapat dengan dua
cara: (1) pengaruh langsung dari ion hidrogen dan (2) secara tidak langsung mempengaruhi
tersedianya unsur hara dan zat racun. pH tanah sangat besar pengaruhnya terhadap
tersedianya beberapa unsur penting dan juga terhadap kelarutan unsur tertentu yang
merupakan racun bagi tumbuhan. Beberapa unsur esensial cenderung untuk menjadi kurang
tersedia jika pH naik dari 5,0 sampai 7,5 atau 8,0; misalnya besi, mangan, dan seng. Pada pH
di bawah 5,0 sampai 5,5; alumunium, besi ,dan mangan kerap kali dapat larut dalam jumlah
yang cukup besar untuk merupakan racun bagi pertumbuhan beberapa tanaman. Pada nilai
pH yang sangat tinggi, bikarbonat kadang-kadang terdapat dalam jumlah yang cukup untuk
merintangi absorpsi ion lain; jadi menghalangi pertumbuhan optimum. Pada nilai pH
ekstrem, kebanyakan tumbuhan masih dapat menerima perbedaan konsentrasi ion H yang
besar, selama keseimbangan yang cukup antara unsur hara masih dapat dipertahankan
(Buckman dan Brady, 1982).
Keasaman tanah (pH) mempengaruhi pertumbuhan akar pada pH kurang dari 6
kelarutan aluminium, mangan dan besi meningkat sehingga dapat bersifat racun yang akan
menghambat pertumbuhan akar. Akar tanaman yang tumbuh pada tanah asam dengan
kelarutan Al yang tinggi maka pertumbuhan akan berhenti, ujung akar menumpul, jika
keracunan Al terjadi pada tingkat yang tinggi, akar tanaman akan mati. Elemen tetentu yang
penting berhubungan dengan pH tanah dan informasi tentang tambahan lapisan sekunder
tanah diperlukan untuk menentukan efek pH tanah dan pertumbuhan tanaman (Lutz et al.,
1972).
Aspek terpenting dari pencemaran SO2 atau NOx pada tanaman akan mengakibatkan
kerusakan internal karena gas tersebut terbawa masuk ke dalam daun pada tumbuhan dan
mengakibatkan kerusakan pada klorofil sehingga dapat mematikan daun, kerusakan klorofil
dapat mengakibatkan tertanggunyaproses fotosintesis, sehingga distribusi fotosintesis juga
berkurang, tanaman pun akan dapat terserang hama dan penyakit secara mudah (Dix, 1982).

Kelebihan bahan apapun di dalam alam akan mengganggu keseimbangan dari alam.
Hal ini berlaku juga untuk hujan asam. Untuk mencegah dan mengurangi penyebab hujan
sama kita dapat melakukan hal-hal seperti tidak berlebihan menggunakkan kendaraan, tidak
membuang sampah sembarangan dan menanam pohon, serta menyemprotkan kapur agak
menetralkan hujan asam (Wardati, 2009).

III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Praktikum Dasar Dasar Ekologi acara III yang berjudul Dampak Hujan Asam
Terhadap Perkecambahan Tanaman Budidaya dilaksanakan pada 25

Maret 2013 di

Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas


Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain
petridist,sprayer, gelas ukur, erlenmeyer, pipet, dan pH tester. Bahan-bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah benih padi ( Oriza sativa ), benih jagung ( Zea mays ), dan benih
kacang hijau ( Vigna radiata ), H2SO4, aquadest, dan kertas filter.
Cara kerja dari praktikum ini adalah pertama dibuat larutan asam dengan menggunakan
H2SO4 sampai keasaman tertentu, yang diketahui dengan pH tester. Dengan cara tersebut
dibuat larutan keasaman yang berbeda, yaitu Ph 4, pH 5, pH 6, dan pH 7. Kemudian masingmasing larutan dengan kadar asam berbeda dimasukkan dalam sprayer. Setelah itu disiapkan
36 petridist untuk 4 perlakuan pH dan 3 jenis tanaman budidaya. Biji diatur dalam petridist
untuk 10 benih tanaman. Benih yang telah diatur disemprot dengan larutan sesuaiperlakuan
dengan jumlah semprotan sama untuk tiap petridist. Pengamatan dilakukan selama 7 hari
meliputi jumlah biji berkecambah, panjang akar, dan panjang batang. Pada hari ke-7 diamati
kecepatan berkecambah, gaya berkecambah, dan rasio akar. Kemudian dibuat grafik
berkecambah dari berbagai perlakua. Untuk mendapatkan nilai gaya berkecambah, indeks
vigor, dan ratio akar batang digunakan rumus-rumus berikut :

Gaya berkecambah dihitung dengan rumus :


GB =

biji berkecamba h sampai hari ke - n 100%


biji yang dikecambah kan

Indeks vigor dihitung dengan rumus :


IV =

biji yang diekcambah kan pada hari ke - n


hari ke - n

Rasio akar/batang
R=

Panjang akar hari ke - n


Panjang batang hari ke - n

IV. HASIL PENGAMATAN


A. Tabel Panjang Batang
Tanaman

Padi

pH

PANJANG BATANG HARI KE1

0.09

0.21

0.17

2.31

3.48

4.82

5.62

0.08

0.3

0.73

1.82

3.64

4.87

5.91

0.57

1.26

1.66

2.41

2.82

3.51

0.81

1.25

1.77

2.66

3.26

3.98

0.41

0.87

2.8

6.2

6.51

0.75

2.6

5.2

8.32

0.7

1.58

2.42

3.74

4.33

6.07

1.09

1.67

2.38

3.29

4.37

5.35

0.17

0.49

1.72

4.59

3.73

9.37

9.57

0.14

0.53

1.64

3.72

5.82

8.25

8.89

1.16

2.55

5.11

6.29

8.07

8.76

0.87

1.84

4.18

4.82

5.79

7.06

4
Kacang
Hijau

Jagung

10.0
8
11.4
5

10.81

13.15

B. Tabel Panjang Akar


Tanaman

Padi

Kacang Hijau

Jagung

pH

PANJANG AKAR HARI KE1

0.34

1.32

3.3

3.41

5.4

5.6

0.43

1.39

3.01

4.46

5.14

6.35

1.27

1.98

4.03

6.67

7.55

8.25

1.2

2.17

3.18

4.89

6.48

7.38

0.55

1.87

2.78

4.72

6.21

8.72

9.59

0.69

2.53

3.57

4.93

5.66

6.75

7.27

2.43

3.95

5.11

6.37

8.28

9.45

2.79

4.74

6.09

7.65

8.33

9.84

0.91

3.59

6.47

7.57

8.8

13.98

0.81

2.83

5.04

6.74

10.16

12.54

2.08

3.41

4.74

6.34

7.675

10.45

1.87

3.27

4.81

6.63

8.12

9.08

C. Jumlah Biji Berkecambah

Tanaman

Padi

Kacang Hijau

Jagung

pH

BIJI BERKECAMBAH HARI KE1

8.33

9.67

9.67

9.67

9.67

3.33

9.67

10

10

10

10

0.33

9.67

9.67

9.67

9.67

9.67

0.67

9.33

9.67

9.67

10

10

3.33

9.33

10

10

10

10

10

3.33

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

8.67

10

10

10

10

10

3.33

7.67

10

10

10

10

10

3.33

8.33

10

10

10

10

10

4.5

9.5

9.5

9.5

9.5

9.5

9.33

10

10

10

10

D. Tabel Gaya Berkecambah


Tanaman

Padi

Kacang

pH

GAYA BERKECAMBAH HARI KE- (%)


1

40

83.33

90

96.67

96.67

96.67

96.67

33.33

80.00

96.67

100.00

100.00

100.00

100.00

3.33

90.00

96.67

96.67

96.67

96.67

96.67

6.67

90.00

93.33

96.67

96.67

100.00

100.00

33.33

93.33

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

33.33

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

0.00

90.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

0.00

86.67

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

33.33

76.67

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

33.33

83.33

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

0.00

45.00

95.00

95.00

95.00

95.00

95.00

0.00

60.00

93.33

100.00

100.00

100.00

100.00

Hijau

Jagung

E. Tabel Indeks Vigor / Kecepatan Berkecambah

Tanaman

Padi

Kacang

pH

KECEPATAN BERKECAMBAH HARI KE1

2.17

0.22

0.167

3.33

2.33

0.83

0.17

0.33

4.33

0.33

0.67

4.17

0.17

0.17

0.17

3.33

0.22

3.33

3.33

4.5

0.5

4.33

0.67

3.33

2.17

0.78

3.33

2.5

0.83

2.25

2.5

1.67

0.33

Hijau

Jagung

F. Tabel Rasio Akar / Batang Tanaman

Tanaman

Padi

Kacang

pH

Hari Pengamatan
1

0.00

1.57

7.94

1.43

0.98

1.12

1.00

0.00

1.44

1.91

1.65

1.23

1.06

1.07

0,00

2.23

1.56

2.42

2.76

2.68

2.35

0,00

1.48

1.74

1.79

1.84

1.99

1.85

1.33

2.15

0.99

0.76

0.95

0.86

0.89

0.00

3.35

1.37

0.95

0.68

0.59

0.55

0.00

3.45

2.51

2.11

1.70

1.91

1.56

0.00

2.55

2.84

2.56

2.32

1.91

1.84

0.00

1.84

2.09

1.41

2.03

0.94

1.46

0.00

1.53

1.72

1.36

1.16

1.23

1.41

0.00

1.79

1.34

0.93

1.01

0.95

1.19

0.00

2.15

1.78

1.15

1.38

1.40

1.29

Hijau

Jagung

V. PEMBAHASAN
Pratikum Dasar-dasar Ekologi acara III yang berjudul Dampak Hujan Asam Terhadap
Perkecambahan Tanaman Budidaya bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan pH
rendah terhadap perkecambahan tanaman budidaya dan mengetahui perbedaan tanggapan
perkecambahan beberapa tanaman budidaya pada kondisi asam.
Biji dalam berkecambah memerlukan kondisi tertentu yang mendukung proses
berkecambahnya biji diantaranya kondisi lingkungan yang sesuai. Kadar keasaman tanah
sangat mempengaruhi mudah tidaknya suatu biji berkecambah. Tanaman satu dengan yang
lain berbeda dalam keperluan pH. Bahkan dalam satu tanaman untuk proses pertumbuhan
(perkecambahan, pertumbuhan panjang akar, pertumbuhan panjang akar dan lain-lain)
memiliki kebutuhan pH yang berbeda.
Pada dasarnya keadaan yang sangat asam misalnya disebabkan oleh hujan asam dapat
mencuci hara dari tanah yang subur sehingga akan terjadi penurunan produktivitas. Selain itu
keadaan sangat asam dapat melepaskan logam berat yang dapat meracuni tanaman yang
semula terikat dalam garam. Oleh karena itu meski tanaman toleran pada keadaan asam,
ketoleranan ini dalam arti tidak ekstrem asam sekali atau sangat basa sekali, tapi keadaan
yang mendekati ke asam atau mendekati ke basa.
Hujan asam dapat mempengaruhi lingkungan di sekitar dengan mematikan bagi
berbagai jenis tanaman dan binatang, menyebabkan bayi prematur dan meninggal pada iu
hamil, mempengaruhi kualitas air permukaan, merusak tanaman, air hujan asam itu bersifat
korosif sehingga merusak material dan bangunan monumen/ patung, melarutkan logamlogam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air permukaan.
Hujan asam yang larut bersama nutrisi di dalam tanah akan menyapu kandungan tersebut
sebelum tumbuhan dapat menggunakannya untuk tumbuh serta akan melepaskan zat kimia
beracun seperti aluminium yang akan bercampur dengan nutrrisi. Nutrisi yang sudah
tercampur ini jika diambil oleh tanaman, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan
mempercepat daun berguguran.
Pencemaran udara telah mengahambat fotosintesis dan immobilisasi hasil forosintesis
dengan pembentukkan metabolit sekunder yang berpotensial beracun. Akibatnya adalah akar
kekurangan energi karena hasil fotosintesi tertahan di tajuk. Selain nutrisi yang tertahan di
tajuk, tajuk juga mengakumulasi zat yang berpotensi menjadi racun. Hujan asam dapat
menyebabkan terjadi penurunan pH tanah. Penurunan pH tanah akibat deposisi asam juga
menyebabkan terlepasnya aluminium dari tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang

halus akan mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini akan
menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati.

Grafik 1. Grafik Panjang Batang Tanaman Padi (Oryza sativa)


Grafik menunjukkan panjang batang padi tumbuh maksimal pada perlakuan pH 5
yakni setinggi 5,91 cm sedangkan panjang batang padi paling minimum pada perlakuan pH 6
yaitu setinggi 3,51. Grafik memenunjukkan kecenderungan pertumbuhan pada pH 4 dan pH 5
hampir sama demikian juga dengan pH 6 dan pH 7. Pertumbuhan yang terjadi tidak sesuai
teori, menurut teori padi mamiliki batang padi terpanjang pada pH 7, karena pada posisi
tersebut embrio padi tidak mengalami pengrusakan oleh asam

Grafik 2. Grafik Panjang Akar Tanaman Padi (Oryza sativa)


Grafik diatas memperlihatkan panjang akan minimum terjadi pada perlakuan pH 4
yaitu 5,6. Hal ini terjadi karena suasana asam dapat menyebabkan terganggunya proses

pertumbuhan. Pada perlakuan pH 6 didapatkan panjang maksimum dan diikuti oleh perlakuan
pH 7. Hasil ini menunjukkan akar tanaman akan tumbuh subur pada pH mendekati normal.

Grafik 3. Grafik Panjang Batang Kacang Hijau (Vigna radiata)


Panjang batang kacang hijau berbagai perlakuan pH mengalami pertumbuhan yang
sama sampai hari ke-2. Mulai hari ke-3 terjadi pemisahan tren grafik, pH 5 dan pH 4
mengalami pertambahan tinggi yang signifikan. Berbeda dengan pH 6 dan pH 7 yang
mengalami sedikit sekali pertambahan tinggi. Dari hal itu diketahui pertumbuhan kacang
hijau berlangsung optimum pada pH 4 atau pH 5.

Grafik 4. Grafik Panjang Akar Kacang Hijau (Vigna radiata)


Hasil pengamatan panjang akar tanaman kacang tanah dapat diamati pada grafik 4.
Pengamatan hari pertama menunjukkan bahwa panjang akar paling tinggi ditunjukkan oleh
pemberian perlakuan pH 4 dan pH 5. Hal ini disebabkan karena pada tahap awal
perkecambahan, asam dapat membantu biji untuk segera berkecambah dengan membuka
jalan bagi masuknya air untuk memecah dormansi. Pada hari terakhir perlakuan pH 5
memiliki panjang akar yang paling pendek. Namun pada pH 4 memiliki panjang yang relatif
mendekati perlakuan ph 6 dan 7.

Grafik 5. Grafik Panjang batang Jagung (Zea mays)


Grafik 5 menunjukkan pertumbuhan pada hari pertama sampai keempat memiliki tren yang
sama. Perlakuan pH 4 mengalami penurunan yang signifikan, hal ini disebabkan oleh kondisi
asam yang dapat mengganggu pertumbuhan. Akan tetapi pada hari kelima sampai hari
terakhir, perlakuan pH memiliki batang yang paling tinggi yakni mencapai 9,57 cm.
Sedangkan tinggi batang paling pendek terjadi pada perlakuan pH 7 yaitu 7,06 cm.

Grafik 6. Grafik Panjang Akar Jagung (Zea mays)


Pada awal pertumbuhan kecambah, pH 6 dan 7 memiliki akar lebih panjang daripada
pH 4 dan 5. Selanjutnya terjadi kenaikan yang hampir seragam pada setiap perlakuan. Pada
akhir percobaan pH 4 memiliki akar paling panjang diikuti pH 5, 6 , dan paling pendek
adalah pH 7. Panjang akar perlakuan pH 4 bisa paling panjang dikarenakan sifat tumbuhan
untuk mencari sumber air bersih sehingga biji memanjangkan akar
memperbesar akar tersebut.

dan bukannya

Grafik 7. Grafik Gaya Berkecambah Padi (Oryza sativa)


Gaya perkecambahan pada hari pertama terjadi pada perlakuan pH 4 dan 5. Kondisi
asam membantu proses perkecambahan padi pada percobaan kali ini.Sedangkan menurut
teori asam dapat merusak embrio padi. Hari berikutnya terjadi peningkatan sangat signifikan
pada pH 6 dan 7. Akhir pengamatan gaya berkecambah padi diketahui pH 7 dan 5 mencapai
100% , perlakuan pH 4 dan 5 mencapai 96,7 %. Perlakuan dengan pH 7 atau pH netral
menunjukkan tingkat perkecambahan yang paling tinggi.

Grafik 8. Grafik Gaya Berkecambah Jagung (Zea mays)


Hasil gaya berkecambah tanaman jagung dapat dilihat pada tabel 4.5. Hasil
pengamatan hari terakhir menunjukkan bahwa perlakuan dengan pH 5 menghasilkan hasil
perkecambahan yang paling banyak, yaitu 100%. Keadaan ini tidak sesuai teori di mana
seharusnya perlakuan dengan air menghasilkan gaya berkecambah yang lebih besar daripada

perlakuan lain. Ketidaksesuai dengan teori ini dapat disebabkan oleh sifar genetis yang
dibawa oleh biji yang mudah untuk berkecambah. Penyebab lainnya adalah karena pemberian
larutan ber-pH 5 efekti untuk merusak kulit biji jagung dan menyebabkan lebih banyak biji
yang

berkecambah.

Larutan

pH

merusak

embrio

jagung

sehingga

tingkat

perkecambahannya paling rendah.

Grafik 9. Grafik Gaya Berkecambah Kacang Hijau (Vigna radiata)


Grafik menunjukkan perkecambahan pada pH 4 dan 5 berkecambah lebih cepat bila
dibandingkan pH 6 dan 7. Selain itu untuk mencapai perkecambahan 100% perlakuan pH 4
dan 5 lebih cepat satu hari dibanding pH 6 dan 7 . Perlakuan pH 6, dari hari ke-3 hingga hari
ke-7 terlihat grafiknya berada sedikit di bawah grafik perlakuan yang lain, artinya pada pH 6
benih yang dikecambahkan tidak bisa berkecambah 100 %.

Grafik 10. Grafik Indeks Vigor Padi (Oryza sativa)


Hasil pengamatan indeks vigor biji padi dapat dilihat pada grafik 10. Pengamatan
pada hari pertama menunjukkan urutan indeks vigor dari yang tertinggi adalah perlakuan pH
4 diikuti oleh pH 5, 7, dan terakhir 6. Perlakuan pH 4 dan pH 6, Indeks vigor biji mengalami
penurunan sampai hari terakhir pengamatan. Sedangkan pada perlakuan pH 6 dan 7
mengalami kenaikan pada hari kedua dan selanjutnya mengalami penurunan. Keadaan ini
disebabkan karena sebagian besar biji sudah berkecmabah pada hari dua. Biji yang tidak
berkecambah pada hari-hari itu biasanya hingga hari terakhir tidak berkecambah lagi karena
embrio di dalam biji sudah terusak oleh asam yang diberikan sebagai perlakuan. Nilai indeks
vigor yang turun juga dipengaruhi secara matematis oleh rumus yang digunakan. Biji yang
berkecambah nilainya cenderung tidak berubah dari hari keempat sampai hari pengamatan
yang terakhir, sedangkan nilai pembagi (hari ke-n) bertambah. Tentu nilai dari hasil
pembagian akan semakin kecil.

Grafik 11. Grafik Indeks Vigor Kacang Hijau (Vigna radiata)


Grafik menunjukkan pada hari pertama pertama, perlakuan pH 4 dan 5 memiliki
kecepatan berkecambah lebih cepat dibanding pada pH 6 dan 7. Pdada pH 6 dan 7 mengalami
perkecambahan optimum pada hari kedua, selanjutnya mengalami tren penurunan pada hari
berikutnya. Sedangkan penurunan kecepatan berkecambah pH 4 dan 5 mulai mengalami
penurunan pada hari kedua.

Grafik 12. Grafik Indeks Vigor Jagung (Zea mays)


Grafik diatas memperlihatkan pada keadaan asam tanaman jagung dapat lebih cepat
mengalami perkecambahan, yaitu pada pH 4 dan 5. Selanjutnya pada hari kedua mengalami
penurunan dan terjadi penghentian berkecambah saat hari ke-4. Sedangkan pada perlakuan
pH 7, pada hari kedua mengalami kenaikan yang signifikan. Lalu pada hari berikutnya
mengalami penurunan hingga pada hari ke-5 terjadi penghentian perkecambahan. Perlakuan
pH 6 mengalami kenaikan indeks vigor hingga hari ke-3, hari berikutnya tidak terjadi
perkecambahan lagi.

Grafik 13. Grafik Rasio Akar Batang Padi (Oryza sativa)


Hasil dari pengamatan ratio akar batang biji padi yang diberikan air dengan nilai pH
yang bermacam-macam menghasilkan data seperti pada tabel diatas. Ratio akar batang
menunjukkan keseimbangan antara panjang akar dan batang pada berbagai perlakuan. Ratio
yang tinggi dapat disebabkan karena panjang akar yang tinggi dan panjang batang yang
rendah. Perlakuan dengan pH 4 memiliki rasio tertinggi pada hari ke-3. Pada akhir percobaan
terjadi rasio terendah, yakni perlakuan pH 4. Berarti pada hari terkahir panjang batang lebih
panjang dibanding akarnya.

Grafik 14. Grafik Rasio Akar Batang Kacang Hijau (Vigna radiata)
Berdasarkan grafik diatas rasio tertinggi tiap perlakuan pH terjadi pada hari kedua,
kecuali pH 7 yang memiliki rasio tertinggi pada hari ke-3. Hari-hari berikutnya terjadi
sedikit fluktuasi yang cenderung ke arah penurunan untuk masing-masing pH. Hari terakhir
diketahui pH 4 dan 5 memiliki batang yang lebih panjang dibanding akarnya, sedangkan pada
pH 6 dan 7 memiliki akar yang lebih panjang dibanding batangnya.

Grafik 15. Grafik Rasio Akar Batang Jagung (Zea mays)


Grafik diatas menunjukkan kenaikan serentak semua perlakuan pada hari kedua.
Selanjutnya masing-masing perlakuan mengalami fluktuasi. Rasio terendah terjadi pada hari
pertama karena hari tersebut belum terjadi perkecambahan pada biji jagung. Sedangkan
tertinggi pada perlakuan pH 7 hari kedua,yakni 2,15.

V.

KESIMPULAN

1. Pengaruh lingkungan pH rendah terhadap perkecambahan tanamn budidaya adalah


dapat menghambat perkecambahan dan dapat juga mendukung perkecambahan. Hal
ini tergantung pada jenis tanaman apa yang dibudidayakan dan nilai pH yang
digunakan pada tanaman budidaya.
2. Bentuk tanggapan perkecambahan beberapa tanaman budidaya pada kondisi asam
adalah pemanjangan akar dan batang untuk mencari sumber air yang baik, gaya
berkecambah yang besar pada awal pengamatan, terhambatnya pertumbuhan akar
dan batang.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O. dan Brady, H.C. 1982. The Name and Properties of Soils (Ilmu Tanah, alih
bahasa: Soegiman). PT Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Dix, H. M. 1982. Environmental Pollution. John Willey and Sons, Chichester.
Lin, Cui. 2011. Effect of acid rain corrosion behavior of mild steel. Jorunal of Iran and Steek
Research 23:18-23.
Lutz, J. A., C. T. Genter, G. W. Hawkins. 1972. Sulphur accumulation in red maple
leaves exposed to SO2. Agronomy Journal 2: 24-30.
Platkenberg, R.H. 2006. Enviromental Polution : New Research. Nova Publisher, New York.
Smith, U. H. 2002. Air Polution and Forestry Interaction Between Air Contaminats and
Forest Ecosystem. Springer Verlag. Heidelberg.
Solberg,S. 2006. Acid rain ini china. Eniromental Sciene & Technology 15:419-425.
Trustinah, A. dan Moedjiono. 2000. Adaptasi tanaman terhadap pH. Penelitian Pertanian
terhadap Tanaman Pangan 19(3) : 63-64.
Wardati, Z. 2009. Upaya Pencegahan Hujan Asam. http://hujanasam.ac.id/2008/upayapencegahan.html diakses 25 Maret 2013.

ACARA IV
ADAPTASI TANAMAN FAKTOR AIR

I. TUJUAN
1. Mengetahui macam-macam adaptasi tanaman terhadap ketersediaan air.
2. Untuk mengetahui perbedaan anatomis maupun morfologis tanaman yang beradaptasi
pada kandungan air berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Air di dalam tanah merupakan salah satu hal yang penting dalam hal produksi tanaman
dan keberhasilan system penanaman akan tercapai apabila diatur pembagian airnya. Air di
dalam pertumbuhan tanaman diperlukan sebagai media transportasi hara dari dalam tanah ke
seluruh bagian tanaman dan untuk menyebarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian
tanaman. Walaupun demikian, kelebihan dan kekurangan air akan menghambat pertumbuhan
tanaman dan secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi tanaman. Misalnya saja
tanaman jagung. Pada jagung, tingkat pemberian air dan perlakuan drainase memberikan
pengaruh terhadap pertumbuhan vegetasi tanaman jagung. Pemberian air irigasi 20 % tanpa
drainase pertumbuhannya paling lambat sedangkan tanpa pemberian air irigasi yang
berdrainase menunjukkan pertumbuhan tinggi (Wirosoedarmo et al., 1997).
Masalah ketersediaan air akan mempengaruhi fotosintesis. Fotosintesis dalam
pertumbuhan sel adalah dua faktor utama yang terpengaruh oleh oleh ketersediaan air. Pada
tingkat ketersediaan air yang rendah, maka akan terjadi penutupan stomata. Penutupan ini
berguna untuk mengurai evapotranspirasi yang terjadi. Ketika jumlah air yang hilang cukup
banyak, maka jumlah enzim rubisco yang dihasilkan akan berkurang. Enzim ini berguna pada
proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat (Aranjuelo, 2011).
Penggunaan air pada tanaman sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain musim, luas kanopi, tanaman, air tersedia, energi radiasi, temperatur kelembaban
udara, kecepatan angin. Adanya air yang cukup dan optimal untuk kebanyakan tanaman
memberikan hasil-hasil yang tinggi dan memberikan ketahanan yang lebih besar terhadap
sumber cekaman lain, didaerah tropika kebutuhan ir sangat tinggi. Kelebihan air untuk
beberapa jenis tanaman juga berbahaya (Indriani, 1999).
Untuk menghadapi masalah toleransi air, tumbuhan beradaptasi sesuai dengan lingkungan
untuk menghadapi segala sesuatu yang berbeda dan berubah ini, maka adaptasi menjadi hal
yang penting. Adaptasi adalah perubahan dan suatu organisme ( bisa berupa bentuk fisik,

tingkah laku, enzim, atau gen ) yang terjadi karena perubagahn atau perbedaan keadaan alam.
Adaptasi ada bermacam-macam, yaitu adaptasi genetik, adaptasi fisik, dan adaptasi tingkah
laku (Hale, 1991).
Dalam suatu ekosistem, spesies memiliki kemampuan tertentu untuk hidup sesuai
dengan lingkungan dan variasi yang dimiliki. Pada suatu perubahan, spesies melkukn
penyesuaian dengan lingkungan yang berubah. Toleransi suatu populasi atau varietas
bermacam-macam terhadap lingkungannya. Tanaman juga memiliki daya adaptasi yang luas
pada tingkat kesuburan tanah. Varietas dengan perakaran dalam tolrran terhadap kekeringan
dengan efisiensi dalam pemanfaatan hara. Penggunaan varietas yang adaptif sangat perlu
untuk lahan marginal (Hutami et al., 2002).
Tumbuhan memiliki keanekaragaman yang sangat majemuk. Tanaman dapat tumbuh
pada kondisi daerah yang berbeda-beda. Berdasarkan adanya tipe habitat tumbuhan yang
berbeda-beda, maka tumbuhan digolongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan
ketersediaan air pada lingkungannya, yaitu tanaman hydrofit (tanaman yang hidup pada
daerah dengan ketersediaan jumlah air banyak), tanman mesofit (tanaman yang hidup pada
daerah dengan ketersediaan air cukup), dan tanaman xerofit (tanaman pada daerah
kering/gurun) (Kimball, 1991).

III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Pratikum Dasar-Dasar Ekologi acara IV yang berjudul Adaptasi Tanaman
pada Faktor Air dilaksanakan pada hari Senin, 18 Maret 2013 di Laboritum Ekologi
Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pisau/silet, mikroskop, kaca
preparat, dan pensil. Bahan-Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tanaman
mesofit, tanaman xerofit, tanaman hydrofit , dan gabus. Tanaman mesofit yang digunakan
adalah jagang ( Zea mays ), tanaman hydrofit yang digunakan ada gondok (Eichornia
crassipes), tanaman xerofit yang digunakan adalah kaktus (Opunctia sp.).
Cara kerja dalam praktikum ini yang pertama adalah tanaman yang termasuk
mesofit, xerofit, dan hidrofit disiapkan. Ambil satu tanaman dari masing-masing kelompok
tanaman diambil kemudian dilakukan pengamatan secara morfologis. Selanjutnya satu
tanaman untuk masing-masing kelompok tanaman dibuat penampang melintang dan
membujur daunnya, untuk diamati secara anatomis. Bagian-bagian yang diamati secara
morfologis yaitu habitat tanaman, bentuk batang dan cabang-cabangnya, bentuk daun,
tangkai daun, permukaan daun dan ketebalan daun serta struktur akar. Bagian-bagian yang
diamati secara anatomis yaitu penimpang melintang daun ( ketebalan kutikula, letak stomata,
banyak/sedikitnya jaringan pengangkutan, ada tidaknya tempat penimbunan air, dan
aerinkim, dsb) penampang membujur daun ( bentuk se epidermis, banyak sediktnya stomata,
dsb ). Tanaman atau bagian tanaman tersebut secara morfologis atau anatomis dibuat
skema/gambar , lengkao dengan keterangan bagian-bagiannya.

IV. HASIL PENGAMATAN


A.Pengamatan Morfologis.
1. Habitus lengkap tanaman enceng gondok (Eichornia crassipes)

Keterangan gambar:
1. Helaian daun (lamina)
2. Tangkai daun (petiole)
3. Akar dengan kantung akar
(root pocket) pada bagian
ujungnya.

Eceng gondok termasuk dalam tanaman hydrofit. Tanaman hydrofit adalah tanaman
yang hidupnya dapat beradaptasi dengan lingkungan yang kandungan airnya tinggi. Habitus
dari eceng gondok aadalah tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air
yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir
perubahan yang ektrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH,
temperatur, serta racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepar terutama
disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen,
fosfat dan potasium. Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok
sepmerti yang terjadi di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akn bertambah
sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.
Habitus perdu herbaseus dengan batang yang tereduksi ; bentuk daun bulat atau
hampir bulat, tebal, permukaan kedua sisi daun halus ; tangkai daun membengkak dan
membentuk jaringan spon yang menjadi organ pengapung tumbuhan ,percabangan dengan
stolon ; perakaran dengan serabut dan berbulu untuk menangkap unsur hara yang larut dalam
air (Shukla dan Chandel, 1985).

2. Habitus lengkap tanaman jagung (Zea mays)


Keterangan gambar:
1. Helaian daun (folium)
2. Upih daun
3. Batang
4. Akar adventif

Tumbuhan jagung termasuk dalam golongan tumbuahn mesofit. Tumbuhan jagung


biasa tumbuh di daerah-daerah yang kering dan air yang tersedia tidak terlalu melimpah.
Tumbuhan jagung (Zea mays) termasuk tumbuhan monokotil. Daun yang dimiliki oleh
tumbuhan jagung termasuk daun sempurna (semua bagiannya lengkap), bentuknya
memanjang, dan di antara pelepah (upih daun) dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun
sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat. Batang tumbuhan jagung memiliki mutan yang
batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tumbuhan membentuk roset. Bentuknya beruas-ruas.
Ruas terbungkus daun yang muncul dari buku. Batang jagung banyak mengandung lignin.
Akar jagung tergolong dalam akar serabut. Tumbuhan dewasa menghasilkan akar adventif
yang berguna untuk membantu jagung berdiri tegak.
Habitus tegak; daun berbentuk pita; permukaan atas berbulu; permukaan bawah halus;
tangkai daun kecil atau hampir tidak ada; bentuk batang bulat; tidak ada percabangan; sistem
perakaran serabut ( Eames dan MacDaniels, 1974).
3. Habitus lengkap kaktus
Keterangan gambar :
1. batang
2. daun
3. akar

Kaktus (Opunctia sp.) termasuk tumbuhan xerofit. Habitus dari tanaman kaktus
adalah daerah kering. Kaktus termasuk tumbuhan yang memiliki sifat herbaceous, yaitu suatu
sifat di mana suatu tumbuhan tidak memiliki batang yang berkayu dan pada akhir musim
tumbuh ada beberapa atau seluruh bagian tumbuhan yang mati. Kaktus termasuk dalam

golongan herbaceous perenial karena hanya sebagian dari tubuh kaktus yang mati pada akhir
musim tumbuh dan masih terdapat bagian-bagian tertentu yang bertahan hidup. Bagian yang
mati berupa bunga, sedangkan bagian yang bertahan adalah akar dan batang dari kaktus.
Kaktus memiliki batang yang tinggi dan tegak. Batang memiliki jaringan penyimpan air.
Daun yang dimiliki oleh tumbuhan kaktus berbentuk duri. Daun berbentuk duri ini
mengurangi transpirasi yang terjadi melalui daun. Akar yang dipunyai kaktus panjang dan
masuk ke bagian dalam tanah yang dalam. Hal ini berfungsi untuk mencari air yang biasanya
terletak dalam bagian tanah yang dalam.
Habitus tanaman terna, herbaseus, tegak, daun berbentuk seperti

duri ; batang menjadi

seperti daun pipih atau persegi , hijau berdaging percabangan aksiler tak terbatas ; akar
serabut,tersebar luas di tanah lapisan atas(Eames dan MacDaniels, 1974).

A.Pengamatan Anatomis.
1. Jagung (Zea mays)
A. Penampang melintang daun Jagung (Zea mays)
Keterangan gambar:
1. sel kipas
2. trikoma
3. kutikula
4. epidermis atas
5. mesofil
6. berkas pengangkut
7. epidermis bawah.
8. stoma.
Deskripsi:
Bentuk dan sebaran stoma pada irisan membujur daun jagung bagian atas (stoma lebih
banyak terdapat pada permukaan daun).

B. Penampang membujur daun Jagung (Zea mays)


Keterangan gambar :
1.

epidermis daun.

2.

sel epidermis dengan dinding


sel yang berkelok-kelok.

3.

stoma bertipe Gramineae ; sel


penutup berbentuk halter ;
membuka

dan

menutup

sejajar poros utama.


Deskripsi:
Bentuk dan sebaran stomata pada irisan membujur daun jagung bagian atas (stomata
lebih banyak terdapat pada permukaan daun).
2. Enceng gondok(Eichornia crassipes)

A. Penampang melintang daun Enceng gondok(Eichornia crassipes)


Keterangan gambar :
1. kutikula.
2. epidermis atas.
3. rongga stoma.
4. jaringan palisade.
5. sklerenkim(pita kaspari)
6. ruang udara.
7. stoma.
8. berkas pengangkut
9. epidermis bawah.
Deskripsi:
Enceng gondok memiliki jaringan pengangkut seperti pada tumbuhan tingkat tinggi
lainnya. Namun hal yang berbeda yang dimiliki oleh enceng gondok adalah adanya rongga
udara

B. Penampang membujur Enceng gondok (Eichornia crassipes)

Keterangan gambar :
1.

stomata.

2.

sel epidermis atas daun

Deskripsi:
Tanaman yang beradaptasi pada lingkungan yang banyak air tentu saja memiliki
karakteristik yang membedakannya dengan tanaman yang beradaptasi pada lingkungan yang
sedikit atau kekurangan air.
3.

Kaktus (Opunctia sp).


A. Penampang melintang batang kaktus (Opunctia sp)
Keterangan gambar :
1. kutikula tebal.
2. stomata tersembunyi.
3. epidermis.
4. jaringan palisade.
5. hipodermis.
6. jaringan penyimpan air.

B. Penampang membujur Kaktus(Eichornia crassipes )


Keterangan gambar :

1. rongga sel.
2. stomata.

V. PEMBAHASAN
Pratikum Dasar-dasar Ekologi acara IV yang berjudul Adaptasi Tanaman pada
Faktor Air bertujuan utnuk mengetahui macam-macam adaptasi tumbuhan terhadap
ketersediaan air dan mengetahui perbedaan anatomis dan morfologis tumbuhan yang
beradaptasi pada ketersediaan air yang berbeda. Air berperan penting dalam kehidupan semua
makhluk hidup termasuk tumbuhan. Air adalah pelarut yang sangat baik, juga sebagai suatu
medium yang cocok untuk transport molekul-molekul organik, ion anorganik dan gas dari
atmosfer. Adanya suplai air yang memadai tidak dengan sendirinya merupakan suatu kondisi
yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan, faktor lingkungan lain harus juga
mendukung. Banyaknya air yang tersedia untuk satu spesies terutama tergantung atas
distribusi ukuran pori tanah. Distribusi ukuran ini kemudian tergantung atas struktur tanah
dan tekstur tanah. Tanah bertekstur ringan sampai sedang cenderung menahan lebih banyak
air untuk digunakan tanaman daripada tanah-tanah bertekstur kasar. Temperatur juga
mempengaruhi ketersediaan air tanah melalui viskositas air. Selain itu jumlah air yang
tersedia tergantung dari keadaan porositas tanah, banyak intensitas cahaya matahari, keadaan
iklim, dan sebagainya. Dengan berbagai kondisi kadar air yang tidak sama di permukaan
bumi baik tumbuhan , hewan, maupun manusia harus menyesuaikann diri terhadap keadaan
tersebut agar dapat exsis atau bertahan hidup. Kemampuan makhluk hidup dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya atau beradaptasi tiap jenis makluk hidup berbeda,
meski tidak menutup kemungkinan ada yang sama. Tanaman yang beradaptasi pada
lingkungan yang banyak air tentu saja memiliki ciri atau karakteristik yang membedakannya
dengan tanaman yang berdaptasi pada lingkungan sedikit atau kekurangan air.
Fungsi air yang begitu penting memaksa tumbuhan untuk selalu mendapatkannya
sesuai kebutuhannya masing-masing. Faktanya adalah ketersediaan air di beberapa daerah
tidak selalu sama dan kebutuhan air dari berbagai tumbuhan juga tidak sama sehingga
diperlukan modifikasi khusus berbagai macam tumbuhan untuk menyesuaikan diri terhadap
lingkungan dan kebutuhan air.
Perbedaan ketersediaan kandungan air menyebabkan beberapa tumbuhan beradaptasi
dengan caranya yang berbeda. Menurut ketersediaan air dalam habitatnya, tumbuhan dapat
digolongakan menjadi :
1. Hydrofit
Tumbuhan hydrofit adalah tumbuhan yang hidup dan beradaptasi terhadap

lingkungan yang memiliki kandungan air yang tinggi. Jenis tumbuhan hydrofit
sendiri dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok lagi, yaitu :
a. Tumbuhan hydrofit tenggelam, yaitu tumbuhan jenis hydorfit yang hidupnya
di dalam air. Seluruh tubuh dari tumbuhan jenis ini tertutup oleh air. Contoh
dari tumbuhan ini adalh Hydrilla sp.
b. Tumbuhan hydorfit terapung, yaitu tumbuhan yang hidupnya terapung di atas
perairan. Kelompok ini dibedakan menjadi kelompok terapung bebas dan
terapung akar di dasar. Contoh dari tumbuhan terapung bebas adalah eceng
gondok (Eichornia crassipes), sedangkan contoh dari tumbuhan terapung
akar di dasar adalah tumbuhan teratai (Nelembium speciosum).
c. Tumbuhan hydrofit amfibi, yaitu tumbuhan yang hidup di daerah tergenang.
Pengamatan kali ini mengamati tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes).
2. Mesofit
Tumbuhan yang tergolong dalam golongan tumbuhan mesofit adalah tumbuhan
yang hidup dan beradaptasi pada daerah yang ketersediaan airnya sedang.
Pengamatan ini akan menggunakan tumbuhan jagung (Zea mays) sebagai objek
pengamatan.
3. Xerofit
Tumbuhan yang tergolong dalam golongan tumbuhan xerofit adalah tumbuhan
yang beradaptasi dan hidup di lingkungan yang ketersediaan airnya sangat rendah
atau kering. Pengamatan ini menggunakan tumbuhan kaktus (Opunctia sp.)
sebagai objek pengamatan.
Setelah mengetahui berbagai kelompok tumbuhan berdasarkan ketersediaan air di dalam
lingkungan masing-masing, akan diketahui bentuk adapatasi dari tumbuhan-tumbuhan
tertentu terhadap lingkugnan tersebut.

Eceng gondok (Eichornia crassipes)


Tumbuhan hydrofit yang diamati adalah tumbuhan eceng gondok (Eichornia
crassipes).Tumbuhan eceng gondok untuk beradaptasi terhadap lingkungannya yang berair
mempunyai beberapa bentuk adaptasi, yaitu adanya jaringan aerenchym pada tangkai daun,
lapisan kutikula yang tipis, daun yang lebar jika dibandingkan dengan ukuran tumbuhan, dan
jumlah stoma yang banyak dan tersebar. Semua ini berguna untuk mendukung tumbuhan ini
hidup di habitatnya. Keberadaan kantong-kantong udara (aerenchym) berguna utnuk
mengapung dan menstok udara. Lapisan kutikula yang tipis akan mempermudah terjadinya

pertukaran air dari lingkungan ke tumbuhan dan kembali ke lingkungan (transpirasi). Daun
yang lebar dan stoma yang banyak dan tersebar berguna untuk meningkatkan transpirasi yang
terjadi sehingga tumbuhan tidak tenggelam.
Jagung (Zea mays)
Jagung merupakan tumbuahn mesofit yang diamati dalam dalam pengamatan kali ini.
Jaugng termasuk dalam tumbuhan palawija yang biasanya ditanam pada awal musim
kemarau mengingat kebutuhan air untuk jagung tidak terlalu tinggi karena ketersediaan air
yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tongkol dan batang busuk, serta menjadikan
lingkungan di sekitar jagung lembab sehingga menjadi tempat untuk tumbuhnya jamur dan
bakteri pengganggu tanaman seperti Fusarium sp., Colletotrichum graminearum, Diplodia
maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium
apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Banyaknya
OPT yang dapat dipicu dengan ketersediaan air yang berlebih pada habitat jagung, membuat
petani menjaga ketersediaan air tidak berlebih. Di habitat aslinya, jagung sudah mempunyai
berbagai bentuk adaptasi untuk bertahan hidup di lingkugnan yang kandungan airnya tidak
terlalu banyak.
Bentuk adapatasi yang pertama adalah stoma yang rapi dan tidak tersebar seperti
tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes). Keberadaan stoma yang tidak sebanyak
eceng gondok menyebabkan luabng untuk keluarnya cairan menjadi lebih sedikit.
Bentuk dari stoma yang seperti ini menyebabkan tingkat transpirasi yang terjadi lebih kecil
karena ukuran lubang yang dipunyai (Evert, 2006)
Bentuk adaptasi yang kedua adalah adanya sel kipas dalam daun. Sel kipas berguna
sebagai sel motor yang mempengaruhi menutup dan membukanya daun. Sel kipas biasa
dimiliki oleh tumbuhan monokotil yang tingkat perkembangan daunnya sudah mencapai
tingkat dewasa. Peristiwa membuka dan menutup daun akan mempengaruhi luas permukaan
daun. Luas permukaan daun yang berubah berbanding lurus dengan transpirasi yang terjadi.
Daun akan menutup pada keadaan di mana kandungan air di sekitar tidak mendukung untuk
kehidupan tumbuhan sehingga transpirasi yang terjadi menurun.
Bentuk adaptasi yang ketiga adalah adalnya trikoma. Trikoma adalah modifikasi dari
epidermis yang terjadi pada tingkat perkembangan lanjut. Trikoma yang bentuknya
menyerupai bulu mempunyai fungsi untuk melindungi diri dari musuh seperti serangga
karena trikoma (khususnya trikoma glanduler) mengandung racun; contoh pada tumbuhan
tembakau (Nicotiana tabacum), mengurangi transpirasi dnegan menangkap titik air yang
akan keluar, dan mengurangi radiasi dari matahari sehingga mengurangi suhu pada

tumbuhan. Pengurangan panas yang diterima tumbuhan sangat penting karena perubahan
suhu akan menyebabkan pemecahan molekul air sehingga menjadi cukup kecil untuk
melewati pori-pori tumbuhan sehingga terjadi transpirasi (Taiz and Zeiger, 2006).
Kaktus (Opunctia sp.)
Tumbuhan kaktus biasa tumbuh di daerah kering atau gurun. Air yang tersedia di
gurun sangat sedikit, biasanya air dari gurun berasal dari hujan yang jarang terjadi di daerah
gurun. Air dalam tanah pun dalam letaknya. Ketersediaan air yang sangat terbatas di habitat
kaktus menyebabkan kaktus mempunyai beberapa cara untuk bereadapatasi terhadap keadaan
ekstrim ini.
Bentuk adaptasi yang dilakukan kaktus ada pada bentuk daunnya yang berdiferensiasi
menjadi duri, lapisan kutikula atau lapisan lilin yang tebal, adanya jaringan penyimpan air
dalam tumbuhan, stoma yang sedikit, tenggelam, dan berluibang sempit, serta akar kaktus
yang terdiri dari akar serabut dan akar yang mencapai bagian dalam tanah. Duri yang ada
pada kaktus merupakan diferensiasi dari epidermis dan lapisan kutikula. Bentuk daun seperti
duri menyebabkan tingkat transpirasi menurun karena luas permukaan yang bersentuhan
dengan udara dan suhu di luar semakin sempit. Lapisan lilin yang tebal membuat air sulit
untuk keluar dari tumbuhan. Adanya jaringan penyimpan air sangat penting bagi tumbuhan
kaktus untuk menjamin ketersediaan air bagi kelangsungan hidupnya. Stoma yang sedikit,
tenggelam, dan berlubang sempit mengurangi tingkat tranpsirasi yang terjadi pada tumbuhan
kaktus. Akar yang dalam berguna utnuk beradaptasi dengan lingkungan di mana air terletak
di bagian tanah yang dalam. Akar serabut juga penting untuk menangkap air yang melewati
permukaan tanah dan belum mencapai bagian tanah yang terlalu dalam.
Perbedaan tingkat ketersediaan air pada berbagai macam lingkungan menyebabkan
tumbuhan beradaptasi dengan cara-cara tertentu. Cara-cara beradaptasi tumbuhan adalah
secara morfologi dan secara anatomis. Secara morfologi tumbuhan beradaptasi dengan cara
perbedaan bentuk daun dan perbedaan bentuk akar. Secara anatomis tumbuhan beradaptasi
dengan perbedaan susunan anatomis tumbuhan seperti ketebalan lapisan kutikula, adanya
jaringan tertentu (seperti sel kipas, trikoma, jaringan penyimpan air, aerenchym), dan
perbedaan jumlah stoma.

VI. KESIMPULAN
1. Tumbuhan beradaptasi terhadap ketersediaan air ada yang secara morfologis dan
secara anatomis.
2. Tumbuhan hydrofit beradaptasi terhadap lingkungan yang berair dengan memiliki
rongga udara atau aerencym, jumlah stoma yang banyak, lapisan kutikula yang tipis,
contoh eceng gondok (Eichornia crassipes).
3. Tumbuhan mesofit beradaptasi degan lingkungan yang ketersediaan airnya cukup
dengan cara jumlah stoma yang lebih sedikit daripada tumbuhan hydrofit, adanya sel
kipas, adanya trikoma, dan bentuk stoma yang bertipe Gramineae. Contoh tumbuhan
mesofit adalah jagung (Zea mays).
4. Tumbuhan xerofit adalah tanaman yang beradaptasi pada lingkungan kering
atau kekurangan air. Ciri yang dimiliki yaitu: adanya jaringan penyimpan air;
daun tebal, berduri atau berbentuk jarum; kutikula yang tebal; dan stomata
tersembunyi. Contoh tumbuhan : Kaktus (Opunctia sp).

DAFTAR PUSTAKA
Aranguelo, I.2011. Plant Physiology and moteamic revealis the leafrespunse to drought in
alfafa ( Medilago sativa L.). Journal of Experimental Botany 62:111-123.
Eames, A. J., dan L. H. MacDaniels. 1947. An Introduction to Plant Anatomy. Edisi Kedua.
McGraw-Hill Book Company, Inc. New York.
Evert, R.F., 2006. Esaus Plant Anatomy. John Wiley & Sons, Inc, Publication, New York.
Hale, W.G.1991. The Horper Collins Dictionary Biology. Hareper Perennial, New York.
Hutami, S. 2002. Adaptasi Varietas pada Tanaman Lahan Kering Marjinal. Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan 19: 31-37.
Indriani, L. 1999. Pengaruh Pembenahan Tanah Terhadap Efisiensi Penggunaan Air Tanah
Tanaman Kedelai (Glycine max L.) pada Regosol. Agrifita 12 (2): 111-113.
Kimball, John W. 1991. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Taiz, Licoln and E.Zeiger. 2006. Plant Physiology. Sinaeur Associates, New York.
Wirosoedarmo, R., Bambang R., Edy N. Y. 1997. Mempelajari Pengaruh Pemberian
Air dengan Sistem Irigasi Alur terhadap Pertumbuhan dan Produksi serta Efisiensi
Irigasi pada Tanaman Jagung di Musim Hujan. Agrivita 20 (2) : 70-77.

ACARA V
PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN
I.

TUJUAN

1. Mempelajari macam-macam bentuk ekosistem.


2. Mempelajari struktur dan komponen pembentuk ekosistem.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem ialah satuan fungsional dasar ekologi karena terdiri dari unsur biotik dan
abiotik. Dari segi fungsional ekosistem dapat dianalisis dari sirkuit energi, rantai makanan,
pola keanekaragaman dalam ruang dan waktu, daur makanan ( biogeokimia ), perkembangan
dan evolusi serta pengendalian ( Odum, 1983 ).
Ekosistem terdiri dari organisme hidup didalam suatu area ditambah keadaan fisik yang
mana saling berinteraksi. Karena tidak ada perbedaan yang tegas antara ekosistem, maka
objek engkajian harus dibatasi atas daerah dan unsur penyusun. Kegunaan dan pemikiran
dalam ekosistem adalah saling keterkaitan antara hal satu dengan hal yang lain, saling
ketergantungan, dan hubungan sebab akibat semuanya membentuk suatu rantai kehidupan
yang berkesinambungan ( Clapharm, 1973 ).
Unsur biotik dan abiotik merupakan penysun ekoosistem. Unsur biotik dibagi menjadi
2 macam yaitu organisme autotrof dan heterotrof. Organisme autotrof adalah organisme yang
yang mampu menyintesis makana sendiri. Sedangkan organisme heterotrof adalah
organismeyang tidak mampu membuat makanannya sendiri. Unsur abiotik merupakan unsur
ptakan keadaan utama dalam ekosistem setelah unsur biotik, unsur ini bertugas untuk
menciptakan keadaan yang diperlukan pleh makhluk hidup seperti cahaya, suhu, topografi,,
dan lain sebagainya ( Wagenet, 2008 ).
Komponen abiotik ialah istilah yangdigunakan untuk menyebut komponen tidak hidup yang
terdapat pada suatu ekosistem. Tanah, suhu, intensitas cahaya, air, udara, kelembaban udara,
dan lain-lain merupakan komponen pembentuk abiotik. Komponen tersebut akan
mempengarugi jenis organisme yang mampu hidup di suatu ekosistem ( Duhson, 2005 ).
Rantai makanan terbentuk pada suatu ekosistem. Rantai makanan adalah proses
makan memakan antar tingkatan trofik yang berbeda. Proses ini sangat penting karena
didalamnya terjadi arus energi dan daur materi ( Butterfield, 2006 ).
Arus Energi adalah proses pemindahan energi antara komponen biotik. Pada arus
energiterjadi pembuanga panas yang tidak dapat digunakan lagi disebut entropi. Arus energi

tidak terjadi pengembalian energi dari pengurai ke produsen. Sedangkan daur materi adalah
perubahan dan perpindahan materi melalui komponen biotik. Dalam daur materi terjadi
perputaran energi berupa nutrisi dari pengurai ke produsen kembali ( Hale, 1996 ).
Ekosistem hutan adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi baik itu berupa
binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam lapisan dan dipermukaan tanah serta
terletak pada suatu kawasan untuk membentuk suatu ekosistem. Ekosistem berada dalam
suatu keseimbangan lingkungan antara yang satu dengan yang lainnya ( Supeksa, 2013 ).
Ekosistem hutan juga terdiri atas tumbuhan, hewan, dan organisme lainnya.
Penelitian membuktkikan bahwa ekosistem hutan menunjukkan adanya kehidupan tanaman
di komunitasnya, juga memainkan peranan penting dalam penyimpanan elemen-elemen
nutrisi. Aliran energi yang terdapat pada ekosistem hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor
fisik seperti sungai / sumber air dan faktor-faktor biologi seperti produksi serasah dari
tumbuhan yang jatuh dan dekomposisi serta semua mekanisme yang mengatur kecepatan
pemasukan, pengeluaran, dan penyimpanan material organik maupun anoranik. Secara umum
arti dari pergerakan dan perpindahan materi serta energi dalam ekosistem hutan yaitu
menggunakan materi anorganik yang masuk ke lingkungan hutan dan mengeluarkan materi
organik dalam bentuk runtuhan tumbuhan yang dapat menyokong rantai makanan. Dalam
fotosintesis tersebut, zat anorganik dirubah menjadi zat organik. Zat organik ini sangat
berguna untuk pertumbuhan dan pembesaran biomassa tumbuhan. Biomassa ini akan
diuraikan oleh mikroorganisme menjadi zat organik yang sangat berguna bagi organisme di
sekitarnya. Oleh karena itu, ekosistem hutan merupakan salah satu penyumbang zat organik
yang banyak bagi lingkungan di sekitarnya karena produktivitasnya yang tinggi. ( Soeroyo,
1987).

III.METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM


Praktikum Dasar-Dasar Ekologi acara V yang berjudul Pengenalan Ekosistem Hutan
dilaksanakan pada hari Minggu, 29 Maret 2013 di hutan KRKB Gembiraloka Yogyakarta.
Alat yang diperlukan adalah alat tulis dan kamera.
Praktikum ini dimulai dengan diamatinya seluruh komponen biotik ( tumbuhan
dan hewan ) dan abiotik yang berada pada ekosistem hutan KRKB Gembiraloka. Kemudian
masing-masing spesies diidentifikasikan. Lalu diamati pula komponen pembentuk hutan
tersebut, sehingga dapat dibuat arus energi dan daur materi dakam ekosistem yang diamati.

IV. PEMBAHASAN

Konsep ekosistem merupakan konsep yang luas, fungsi utamanya didalam pemikiran
atau pandangan ekologi merupakan penekanan hubungan wajib ketergantungan, dan sebab
musabab, yakni perangkaian komponen-komponen untuk membentuk satuan-satuan
fungsional. Akibat hal tersebut adalah bagian-bagian itu cara bekerjanya tidak dapat
dipisahkan dari keseluruhan, sehingga ekosistem merupakan tingkat organisasi biologi yang
paling baik untuk teknik-teknik analisa system
Ekosistem hutan dapat ditemukan di berbagai tempat. Salah satunya adalah hutan kota
yang terdapat di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Dalam ekosistem hutan tersebut
terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti flamboyan, sapu tangan, sambi, mahoni, beringin, dan
pepaya serta terdapat semak belukar. Hewan juga beranekaragam yaitu kijang, rusa, babi, lutung,
tupai, harimau, walang, lebah, dan lain-lain. Dan hewan yang dominan adalah semut karena sifat dari
semut itu sendiri dapat hidup dimana saja (darat) dan suatu kelompok yang sangat umum dan telah
menyebar luas. Semut barang kali yang paling sukses dari semua kelompok-kelompok serangga dan
mereka praktis terdapat dimana-mana, seperti di habitat darat dan juga jumlah individunya melebihi
kebanyakan hewan darat lainnya.

Komponen Ekosistem Hutan


Sesuai dengan komponen ekosistem secara umum, ekosistem hutan mempunyai
beberapa komponen, yaitu:
A. Menurut Struktur Trofik:
a. Komponen Autotrofik
Yaitu komponen yang terdiri dari organisme yang mampu menyediakan atau
mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan-bahan organic yang berasal dari
bahan anorganik dengan bantuan cahaya matahari dan klorofil. Misalnya : pohon
ketapang, pohon bunga sepatu.
b. Komponen Heteroterofik
Yaitu komponen yang terdiri dari organisme yang mampu memanfaatkan bahanbahan makanannya dan bahan-bahan makanannya tersebut disediakan oleh organisme
lain. Misalnya: burung perkutut, monyet, kupu-kupu, ular, burung elang.
B. Menurut Bahan Penyusun Ekosistem
Ekosistem yang dicirikan dengan berlangsungnya pertukaran materi dan transformasi
energi yang sepenuhnya berlangsung diantara berbagai komponen dalam sistem itu sendiri

atau dengan sistem lain di luarnya. Jadi, ekosistem sebenarnya terbentuk oleh 2 faktor, yaitu
faktor biotik ekosistem dan faktor abiotik ekosistem.

Faktor-Faktor Biotik Ekosistem Hutan


Faktor-faktor biotik ekosistem terdiri dari semua makhluk-makhluk hidup yang ada di
dalam suatu ekosistem seperti manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad renik. Berdasarkan
fungsinya dalam ekosistem, komponen-komponen faktor biotik dapat dikelompokkan
menjadi empat macam, yaitu:
a. Produsen
Pengertian produsen dalam biologi adalah makhluk hidup (organisme) penghasil bahan
organik dari zat-zat anorganik. Produsen memegang peranan yang penting dalam
kelangsungan ekosistem. Yang berperan sebagai produsen adalah tumbuhan berklorofil.
Organisme ini dapat menyerap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi
kimia melalui fotosintesis. Dalam ekosistem hutan ini, pohon ketapang dan pohon bunga
sepatu bertindak sebagai produsen pada ekosistem hutan yang diamati.
b. Konsumen
Pengertian konsumen dalam biologi adalah organisme yang tidak dapat mensistesis
makanannya sendiri. Sehingga makanannya tergantung pada produsen baik secara
langsung maupun tidak langsung, misalnya hewan dan manusia. Dalam ekosistem hutan
ini konsumennya adalah burung perkutut sebagai konsumen I, ular sebagai konsumen II,
dan burung elang sebagai konsumen III.
c. Pengurai
Pengurai adalah organisme yang menguraikan senyawa organik menjadi senyawa
anorganik yang lebih sederhana. Hasil penguraian ini dikembalikan ke ekosistem dan
dapat digunakan kembali oleh produsen. Pengurai terdiri dari mikroorganisme, dalam
ekosistem hutan ini pengurainya berupa jamur.
d. Detrivor
Detrivor adalah organisme heterotrof yang memakan partikel-partikel organik atau sisa
jaringan tumbuhan serta hewan yang membusuk. Dalam ekosistem hutan, detrivor bisa
cacing tanah.

Faktor-Faktor Abiotik Ekositem


Faktor-faktor abiotik ekosistem terdiri atas semua benda mati yang ada di sekitar
organisme, yaitu:
a. Tanah
Tanah adalah ekosistem yang berperan sebagai tempat hidup dari berbagai organisme.
Tanah yang subur sangat menguntungkan bagi produsen dalam hal ini rumput dan
tumbuhan hijau lainnya karena dengan tanah yang subur maka pertumbuhan tanaman
tersebut akan semakin lancar dan subur. Tanah juga merupakan sumber zat-zat hara dan
air bagi pertumbuhan tanaman.
b. Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan sumber tenaga bagi organisme di bumi. Tumbuhan hijau
akan menyerap energi matahari melalui klorofil pada daun untuk fotosintesis. Energi ini
digunakan dalam fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat dari bahan CO2 dan air.
Karbohidrat merupakan sumber energi bagi organisme lainnya seperti belalang, burung,
ular, dan manusia yang menjadi konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Air
Air merupakan zat yang mutlak diperlukan oleh berbagai organisme, karena air sangat
penting dalam proses-proses yang terjadi di dalam tubuh organisme. Dalam suatu tubuh
organisme, air digunakan dalam hal pelarutan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh
tumbuhan tersebut.
d. Udara
Udara terdiri dari berbagai gas, antara lain oksigen, yang sangat diperlukan untuk bernafas
bagi organisme, dalam hal ini belalang, burung, ular, dan manusia. Udara sangat
diperlukan organisme karena udara merupakan unsur yang penting dalam metabolisme
tubuh makhluk hidup. Karbon dioksida yang terdapat di udara merupakan zat yang
dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis.
e. Kelembaban
Umumnya sampai batas-batas tertentu bahwa tanah dan udara yang lembab berpengaruh
baik terhadap pertumbuhan tanaman. Pada golongan hewan-hewan tertentu kelembaban
udara sangat berpengaruh terhadap kehidupannya.
f. Suhu
Suhu lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan organisme dalam hal ini rumput,
belalang, burung, ular, dan manusia. Suhu optimum merupakan suhu yang paling baik

untuk pertumbuhan dan kehidupan suatu organisme. Sedangkansuhu minimum merupakan


suhu paling rendah bagi organisme untuk tetap hidup.

Daur materi Dan Arus energi ekosistem hutan

Matahari

Produsen

Pohon beringin

Konsumen I

Konsumen II

Kupu-kupu

kodok

(Graphium arycles)

(Buffo sp.)

Sampah Organik Dari Tumbuhan


& Hewan Mati

Pembusukan Oleh Mikroba


Tanah

Bahan
Mineral
Siap

Keterangan:

Mineralisasi Menjadi Bahan


Mineral

daur materi
arus energi

Arus energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk
energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, ke konsumen primer
(herbivora), ke konsumen tingkat tinggi (karnivora), sampai ke saproba, arus energi juga
dapat diartikan perpindahan energi dari satu tingkatan trofik ke tingkatan berikutnya. Pada
proses perpindahan selalu terjadi pengurangan jumlah energi setiap melalui tingkat trofik
makan-memakan.
Energi utama dari ekosistem hutan berasal dari sinar matahari yang ditangkap oleh
produsen yang diteruskan ke konsumen-konsumen berikutnya sampai ke perombak. Daur
energi tidak sesederhana ini , karena dalam ekosistem hutan tidak hanya rantai makanan saja
yang terjadi tetapi juga ada jaring jaring makanan yang akhirnya membuat semakin kompleks
daur-daur yang ada dalam ekosistem tersebut. Dalam ekosistem hutan yang diamati diketahui
bahwa beringin berperan sebagai produsen, kupu-kupu (Graphium arycles) sebagai
konsumen I, kodok (Buffo sp.) sebagai konsumen II, dan jamur sebagai pengurai.
Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui
sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Salah satu cara suatu komunitas
berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan
energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai
makanan. Organisme dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan
digolongkan dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada
rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan.Sumber asal energi adalah
matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai
energi matahari dan C02 dari udara. Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam
tingkat trofik pertama. Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk
anggota tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk
tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat trofik tiga
termasuk dalam anggota tingkat trofik keempat.

Berikut rantai makanan yang terjadi dalam ekosistem hutan adalah


Produsen
Tumbuhan
Pohon beringin

Konsumen I
Kupu-kupu
(Graphium arycles)

Konsumen II
Kodok
(Buffo sp.)

Decomposer
Jamur
Pengurai

V. KESIMPULAN
1. Ekosistem Hutan adalah interaksi antara kumpulan beberapa populasi baik itu
binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah
dan terletak pada suatu kawasan serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang
berada dalam keseimbangan yang dinamis yang mengadakan interaksi baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan lingkungannya dan antara yang satu dan
yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Komponen dari ekosistem

hutan adalah

komponen autotrofik dan komponen

heterotofik.
3. Ekosistem hutan dipengaruhi faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik terdiri dari
cahaya, suhu, air kelembaban, udara, dan tanah. Faktor biotik meliputi seluruh
organisme atau makhluk dalam ekosistem.

DAFTAR PUSTAKA
Butterfield, J. 2006. The Ecosystem. John Willey & Sons, Hoboken.
Clapharm, Jr. W. B. 1973. Natural Ecosystem. Mac Millan Publising Co. Inc. New York.
Duhson, W.A. 2005. The role abiotic factor in community organization. The American
Naturalist 138: 1067 1091.
Hale, W.G. 1996. The Harper Collins Dictionary Biology. Horper Peremial, New York.
Odum, E. P. 1983. Basic Ecology. Sounders College Publising. Florida.Soeroyo. 1987.
Aliran energi pada ekosistem mangrove. Oseana XII ( 2 ) : 52-59.
Supeksa, K. 2013. Ekosistem hutan http://www.ketutsupeksaanakbali.html diakses 12 Maret
2013.
Wagenet, R. J., RR. Rodriguez, W. F. Cambel and D. L. Turner. 2003. Fertilizer effect on
garden plants. Agronomy Journal III: 160-164.

LAMPIRAN

Batu

Kodok ( Buffo sp.)

Bekicot ( Archantia fullica )


Rumput

Pohon yang mengalami pelapukan

Sambi (Schleichera oleosa)

Flamboyan (Delonix regia)

Pepaya

Lumut (Bryophyta sp.)

Paku-pakuan (Pteridophyta sp.)

Jamur

Beringin