Anda di halaman 1dari 42

PRAKTIKUM FISIKA DASAR

LABORATORIUM FISIKA DASAR


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya
gesekan antara molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair
tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang menghambat aliran zat cair.
Hukum viskositas Newton menyatakan bahwa untuk laju perubahan bentuk
sudut fluida yang tertentu maka tegangan geser berbanding lurus dengan
viskositas.
Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang
dimasukkan kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibtkan peristiwa
gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh
: apabila kita memasukkan sebuah batu kecil kedalam zat cair, terlihatlah
batu tersebut mengalami sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus
beraturan. Gerak batu kecil ini menjelaskan bahwa adanya suatu
kemampuan yang dimiliki suatu zat cair sehingga kecepatan bola berubah.
Mula-mula akan mengalami percepatan yang dikarenakan gaya beratnya
tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besarnya percepatannya akan
semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada saat tersebut kecepatan bola
tetap dan disebut kecepatan terminal.
Viskositas adalah gesekan interval, gaya viskos melawan gerakan
sebagai fluida relatif terhadap yang lain. viskositas adalah alasan
diperlukannya usaha untuk mendayung perahu melalui air yang tenang
tetpai juga merupakan suatu alasan mengapa dayung bisa bekerja. viskositas
adalah alasan diperlukannya usaha untuk mendayung perahu melalui air
yang tenang tetpai juga merupakan suatu alasan mengapa dayung bisa
bekerja. Efek viskos merupakan hasil yang penting dalam pipa aliran darah.
Pelumasan bagian dalam mesin fluida viskos cenderung melekat pada
permukaan zat yang bersentuhan dengannya. Dalam kehidupan sehari-hari
penggunaan fluida kita jumpai pada sepeda motor, aki dan lain sebagainya.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Instruksi Umum ( TIU )


1. Kami dapat memahami konsep fisika/mekanika mengenai
viskositas (kekentalan)
2. Kami dapat memahami bahwa gesekan yang dialami oleh suatu
benda yang bergerak dalam fluida dalah disebabkan oleh
kekentalan fluida tersebut
1.2.2 Tujuan Instruksi Khusus ( TIK )
1. Kami dapat memahami prinsip keseimbangan gaya stokes, gaya
apung dan gaya berat pada suatu benda dalam fluida.
2. Kami dapat mrngamati pengaruh gesekan yang dialami suatu benda
dalam fluida.
3. Kami dapat menerapkan faktor koreksi pada laju bola yang jatuh.
4. Kami dapat menentukan viskositas fluida..

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Viskositas Fluida

Viskositas merupakan ukuran kekentalan yang menyatakan besar


kecilnya gesekan dalam fluida dan semakin sulit suatu benda bergerak
dalam fluida dan semakin sulit suatu benda bergerak dalam fluida itu. Di
dalam zat cair, viskositas dihasilkan oleh gaya kohesi antara molekul zat
cair. Sedangkan dalam gas, viskositas timbul sebagai akibat tumbukan
antara molekul gas.
Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas fluida disebut
viscometer.setidaknya terdapat 2 prinsip dasar sistem metode pengukuran
viskositas ,pertama metode pengukuran berdasarkan laju aliran fluida dalam
pipa kapiler vertical saat menempuh jarak tertentu.alat yang digunakan
dalam metode ini adalah viscometer Ostwald.

Gambar 5.2.1 viskometer

Suatu jenis cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki


viskositas yang rendah,dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. Pada hukum aliran viskositas


newton menyatakan hubungan antara gaya-gaya mekanika dari suatu aliran
viskos sebagai geseran dalam viskositas fluida juga termasuk konstan
sehubungan dengan gesekannya.hubungan tersebut berlaku untuk fluida
Newtonian.
Aliran viskos dapat digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang
dilapisi fluida tipis diantara kedua bidang tersebut.apabila zat cair tidak
kental maka koefisien sama dengan nol sedangkan pada zat cair kental
bagian yang menempel didinding memiliki kecepatan yang sama dengan
dinding
Dalam menganalisa fluida, sering diperlukan konsep penyederhanaan.
Salah satu konsep demikian adalah konsep fluida ideal, yaitu fluida yang tak
viskous.
Viskositas dipengaruhi oleh beberapa factor-faktor diantaranya adalah :
a) temperatur atau suhu
Koefisien viskositas akan berubah sejalan dengan temperature.
b) gaya tarik antar molekul
Perbedaan kuat gaya kohesi menjadi factor penentu kekentalan
suatu fluida
c) jumlah molekul terlarut
Jumlah molekul terlarut memberikan komposisi yang lebih padat
terhadap suatu fluida.
d) Tekanan
Pada saat tekanan meningkat,viskositas fluida pun akan naik
e) kekuatan antar molekul
Viskositas naik dengan adanya ikatan hidrogen.
2.2 Fluida
Definisi yang lebih tepat untuk membedakan zat padat dengan fluida
adalah dari karskteristik deformasi bahan-bahan tersebut. Zat padat
dianggap sebagai bahan yang Menunjukkan reaksi deformasi yang terbatas
ketika menerima atau mengalami suatu gaya geser (shear). Sedangkan fluida
,memperlihatkan penomena sebagai zat yang terus Menerus berubah bentuk
YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN
09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

apabila mengalami tekanan geser, dengan kata lain yang dikategorikan


sebagai fluida adaiah suatu zat yang tidak mampu mcnahan tekanan geser
tanpa berubah bentuk.
Fluida dibagi dalam dua bagian, yaitu cairan dan gas. Cairan tak dapat
dimampatkan dan bila terdapat di dalam suatu tempat maka cairan itu akan
mengambil tempat yang sesuai dengan bentuk tempatnya dan permukaan
akan terbentuk suatu batas dengan udara terbuka. Gas dapat mudah
dimampatkan dan dapat mengembang mengisi seluruh ruangan tempat
tinggalnya dan tidak membentuk batas tertentu seperti cairan. Perbedaan
antara benda padat dan cairan ialah:
a) Pada batas elastisitas tertentu, perubahan benda padat sedemikian rupa
sehingga regangan (strain) berbanding lurus dengan tegangan (stress).
b) Regangan pada benda padat tidak tergantung dari waktu lamanya gaya
bekerja dan apabila batas elastis dari benda padat itu tidak dilampaui,
maka bila gaya itu tidak bekerja lagi, perubahaan bentuk pun
menghilang dan kembali ke bentuk semula, sedangkan pada zat cair
akan terus berlangsung perubahan bentuknya selama gaya bekerja dan
tidak kembali ke keadaan bentuk semula bila gaya tersebut tidak
bekeria lagi.
Viskositas suatu fluida merupakan ukuran tekanan suatu fluida terhadap
deformasi atau perubahan bentuk. Viskositas dinyatakan sebagai aliran
fluida yang merupakan gesekan antar molekul molekul cairan yang mudah
mengalir ,dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah dan sebaliknya
bahan-bahan yang sulit mengalir dikatan viskositas yang tinggi.
Suatu jenis cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki
viskositas yang rendah,dan sebliknya bahan-bahn yang sulit mengalir
dikatakan memiliki viskositas yang tinggi.pada hokum aliran viskositas
newton menyatakan hubungan antara gaya-gaya mekanika dari suatu aliran
viskos sebagai geseran dalam viskositas fluida juga termasuk konstan
sehubungan dengan gesekannya.hubungan tersebut berlaku untuk fluida
Newtonian. Aliran viskos dapat digambarkan dengan dua buah bidang
sejajar yang dilapisi fluida tipis diantara kedua bidang tersebut.apabila zat

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

cair tidak kental maka koefisien sama dengan nol sedangkan pada zat cair
kental bagian yang menempel didinding memiliki kecepatan yang sama
dengan dinding.
2.3 Macam-Macam Fluida
Fluida secara umum dibagi menjadi dua macam, yaitu fluida tak
bergerak (statis) dan fluida bergerak (dinamis).
a) Fluida Statis adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak (diam)
atau fluida dalam keadaan bergerak tetapi tak ada perbedaan kecepatan
antar partikel fluida tersebut atau bisa dikatakan bahwa partikel-partikel
fluida tersebut bergerak dengan kecepatan seragam sehingga tidak
memiliki gaya .
b) Fluida dinamis adalah fluida (bisa berupa zat cair, gas) yang bergerak.
Untuk memudahkan dalam mempelajari, fluida disini dianggap steady
(mempunyai kecepatan yang konstan terhadap waktu), tak
termampatkan (tidak mengalami perubahan volume), tidak kental, tidak
turbulen (tidak mengalami putaran-putaran.Untuk memudahkan dalam
mempelajari, fluida disini dianggap :
1) Tidak kompresibel artinya bahwa dengan adanya perubhana tekanan
,volume fluida tidak berubah.
2) Tidak memngalami gesekan, artinya bahwa pada saat fluida
mengalir,gesekan antara fluida dengan dinding tempat mengalir dapat
diabaikan.
3) Aliran stasioner, artinya tiap partikel fluida mempunyai garis alir
tertentu dan untuk luas penampang yang sama mempunyai laju aliran
yang sama.
Ada beberapa jenis aliran fluida. Lintasan yang ditempuh suatu
fluida yang sedang bergerak disebut garis alir. Berikut ini beberapa jenis
aliran fluida.
1) Aliran lurus atau laminer yaitu aliran fluida mulus. Lapisan-lapisan
yang bersebelahan meluncur satu sama laindengan mulus. Pada aliran
partikel fluida mengikuti lintasan yang mulus dan lintasan ini tidak
saling bersilangan. Aliran laminer dijumpai pada air yang dialirkan

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

melalui pipa atau selang.


2) Aliran turbulen yaitu aliran yang ditandai dengan adamnya
lingkaran-lingkaran tak menentu dan menyerupai pusaran. Aliran
turbulen sering dijumpai disungai-sungai dan selokan-selokan.
Berdasarkan kerapatannya maka fluida dapat dibedakan sebagai
berikut :
a) Fluida tidak dapat mampat (incompresible)
b) Fluida dapat mampat (compresible)
2.4 Sifat-sifat Fluida
a. Massa Jenis
Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa
setiap volumenya. Secara matematis, massa jenis dituliskan sebagai
berikut.

𝑚
.................................................................................................(5.2.1)
𝜌=
𝑣

Keterangan :
m = massa (kg atau g),
v = volume (m3 atau cm3), dan
ρ = massa jenis (kg/m3 atau g/cm3)
Satuan Sistem Internasional untuk massa jenis adalah kilogram per
meter kubik (kg/m3). Untuk satuan CGS alias centimeter, gram dan
sekon, satuan Massa jenis dinyatakan dalam gr/cm.
b. Tegangan permukaan
Tegangan permukaan adalah kecenderungan permukaan zat cair
untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu
lapisan elastis.Tegangan permukaan disebabkan oleh interaksi molekul-
molekul zat cair dipermukaan zat cair.
c. Kapilaritas
Kapilaritas merupakan Kenaikan atau penurunan zat cair pada
suatu benda disebabkan oleh adanya tegangan permukaan yang bekerja
pada keliling persentuhan zat cair dengan pipa.
YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN
09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

d. Viskositas
Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang
diubah baik dengan tekanan maupun tegangan. Seluruh fluida (kecuali
superfluida) memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut
kental, tetapi fluida yang tidak memiliki ketahanan tekanan dan
tegangan disebut fluide ideal.
2.5 Hukum pascal

Prinsip Pascal menyatakan bahwa “tekanan yang diberikan pada


cairan dalam suatu tempat tertutup akan diteruskan sama besar ke setiap
bagian fluida dan dinding wadah”
Penerapan Prinsip Pascal
Berpedoman pada prinsip Pascal ini, manusia telah menghasilkan
beberapa alat, baik yang sederhana maupun canggih untuk membantu
mempermudah kehidupan. Beberapa di antaranya adalah Dongkrak
Hidrolik, Lift Hidrolik, Rem Hidrolik , dan lain lain.
2.6 Hukum Archimedes

Hukum Archimedes menyatakan bahwa “gaya ke atas pada suatu


benda yang dicelupkan dalam sebuah fluida sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda tersebut”.
Secara matematis, dapat ditulis sebagai berikut:

𝑭𝑨 = 𝝆𝑪 𝒈 𝑽𝑪 ............................................................ (5.2.2)

keterangan :
FA = gaya angkat ke atas (N)
VC = volume benda yang tercelup (L)
g = percepatan gravitasi bumi (10 m/s2 atau 9,8 m/s2)
ρC = massa jenis zat cair (kg/m3)
Prinsip hukum archimedes yaitu ketika kita menimbang batu di dalam
air, berat batu yang terukur pada timbangan pegas menjadi lebih kecil
dibandingkan dengan ketika kita menimbang batu di udara (tidak di dalam
air). Massa batu yang terukur pada timbangan lebih kecil karena ada gaya

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

apung yang menekan batu ke atas. Efek yang sama akan dirasakan ketika
kita mengangkat benda apapun dalam air. Batu atau benda apapun akan
terasa lebih ringan jika diangkat dalam air. Hal ini bukan berarti bahwa
sebagian batu atau benda yang diangkat hilang sehingga berat batu menjadi
lebih kecil, tetapi karena adanya gaya apung. Arah gaya apung ke atas, alias
searah dengan gaya angkat yang kita berikan pada batu tersebut sehingga
batu atau benda apapun yang diangkat di dalam airterasa lebih ringan.
Benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tengggelam, melayang, dan
terapung tergantung massa jenisnya.

Gambar 5.2.2 mengapung, melayang, dan tenggelam

2.7 Rumus Viskositas Fluida

2.7.1 Rumus Viskositas fisika


Defisien viskositas di lambangkan dengan η. Viskositas sendiri
merupakan fungsi dari besaran turunan dari percepatan (V) dan
tekanan (P) dan panjang diameter (D). Selain itu agar hubungan
fungsi dan variabelnya nampak jelas maka haruslah terdapat
Konstanta (k). Jadi rumus viskositas yaitu:
.....................................................................................(5.2.3)
η=k×p×D/V
Keterangan:

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

η = Koefisien Viskositas (Pa s)


k = Konstanta (N/m)
P = Tekanan (Pa)
D = Diameter (m)
V = Kecepatan (m/s)
2.7.1 Rumus Fluida Viskositas
F = η A ×.........................................................................(5.2.4)
v/L
Keterangan:
F = Gaya (N)
A = Luas Keping yang bersentuhan dengan Fluida (m²)
v = Kelajuan Fluida (m/s)
L = Jarak antar Keping (m)
η = Koefisien Viskositas (Kg)
Besarnya gaya (F) yang dibutuhkan untuk dapat menggerakan
suatu lapisan fluida ditentukan oleh kelajuan tetap (v) untuk luas
kepingyang telah bersentuhan dengan fluida (A) dan berjarak (L)
dari keping yang diam. Selain itu, nilai koefisien viskositas bisa
berubah sesuai dengan perubahan temperatur dan apabila temperatur
atau suhu naik maka viskositas dalam zat cair akan turun dan di
dalam gas akan naik dan begitu sebaliknya.
Penentuan viskositas dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode
Ostwald dan metode bola jatuh.
a) Metode Ostwald
Metode ini ditentukan berdasarkan Hukum Poiseuille
menggunakan alat viskometer Ostwald. Penetapannya dilakukan
dengan cara mengukur waktu yang diperlukan untuk mengalirnya
cairan dalam pipa kapiler dari a ke b.
Sejumlah cairan yang akan diukur viskositasnya dimasukkan
kedalam viskometer. Cairan kemudian diisap dengan pompa sampai
dibatas a. Cairan di biarkan mengalir ke bawah dan waktu diperlukan
dari a ke b dicatat menggunakan stopwatch.
b) Metode Bola Jatuh

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

Gambar 5.2.3 Viskositas Bola Jatuh

Penentuan ini berdasarkan hukum Stokes. Bola dengan rapatan d


dan jari-jari r dijatuhkan kedalam tabung berisi cairan yang akan
ditentukan viskositasnya. Waktu yang diperlukan bola untuk jatuh
melalui cairan dengan tinggi tertentu kemudian dicatat dengan
stopwatch. Gaya berat yang menyebabkan bola turun kebawah Pada
keadaan setimbang.
2.8 Hukum pascal

Prinsip Pascal menyatakan bahwa “tekanan yang diberikan pada


cairan dalam suatu tempat tertutup akan diteruskan sama besar ke setiap
bagian fluida dan dinding wadah”.
Berpedoman pada prinsip Pascal ini, manusia telah menghasilkan
beberapa alat, baik yang sederhana maupun canggih untuk membantu
mempermudah kehidupan. Contohnya adalah Dongkrak Hidrolik.
2.9 Peranan Viskositas Fluida pada Pertambangan dan Perminyakan

Pada industri minyak bumi, sebagian besar pompa yang digunakan


dalam fasilitas gathering station, suatu unit pengumpul fluida dari sumur
produksi sebelum diolah dan dipasarkan, ialah pompa bertipe sentrifugal.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

Gaya sentrifugal ialah sebuah gaya yang timbul akibat adanya gerakan
sebuah benda atau partikel melalui lintasan lengkung (melingkar).
Prinsip-prinsip dasar pompa sentrifugal ialah sebagai berikut:
a) gaya sentrifugal bekerja pada impeller untuk mendorong fluida ke sisi
luar sehingga kecepatan fluida meningkat
b) kecepatan fluida yang tinggi diubah oleh casing pompa (volute
atau diffuser) menjadi tekanan atau head
Selain pompa sentrifugal, industri juga menggunakan pompa tipe
positive displacement. Perbedaan dasar antara pompa sentrifugal dan
pompapositive displacement terletak pada laju alir discharge yang
dihasilkan oleh pompa.
Laju alir discharge sebuah pompa sentrifugal bervariasi bergantung
pada besarnya head atau tekanan sedangkan laju alirdischarge pompa
positive displacement adalah tetap dan tidak bergantung pada head-nya.
Pada Viskometer Redwood, pengukuran viskositas minyak merupakan
waktu (dalam detik) bagi 50 ml minyak untuk mengalir melalui celah atau
lubang standar yang diberikan dibawah beberapa kondisi.
Terdiri atas tiga bagian utama, antara lain tabung minyak, jet atau
lubang, dan labu penampung. Digambarkan sebagai berikut:
Bagian-bagian Viskometer Redwood :
a) Tabung minyak, merupakan silinder perak yang memiliki tinggi 90 mm
dan diameter 46.5 mm.
b) Bak pemanas, tabung minyak dilingkupi oleh bak tembaga berbentuk
silinder untuk menjaga suhu.
c) Stirrer atau pengaduk, memiliki 4 helai pedang yang disediakan oleh bak
pemanas untuk menjaga suhu air dalam bak maupun minyak dalam tabung
tetap rata.
d) Labu kohlrausch/ gelas penampung (Dina Risantiana Rosalina, 2017).
Berpedoman pada prinsip Pascal ini, manusia telah menghasilkan
beberapa alat, baik yang sederhana maupun canggih untuk membantu
mempermudah kehidupan. Contohnya adalah Dongkrak Hidrolik.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

1. Tabung gelas besar

2. Bola-bola kecil

3. Jangka sorong

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

4. Mikrometer sekrup

5. Termometer

6. Rol meter

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

7. Stopwatch

8. Neraca analitis (timbangan)

9. Gelas ukur

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

3.2 Prosedur Kerja

Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan, mengukur masing-masing


bola yang akan digunakan menggunakan micrometer secrup, mengukur
diameter gelas besar yang berisi fluida menggunakan varnier caliper,
mengukur tinggi gelas besar dan membaginya menjadi tiga bagian,
mengukur suhu cairan, mencatat semua hasil pengukuran, menjatuhkan bola
pertama atau bola besar, menghitung waktu bola sampai ke titik satu, dua,
dan tiga, mencatat waktu yang diperoleh, melakukan cara ini hingga didapat
waktu data yang bagus, mengganti bola dengan bola kecil, dan melakuka
cara seperti yang di atas hingga diperoleh data yang bagus, kemudian
menimbang massa bola, dan gelas ukur.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB IV
TABEL PENGAMATAN

m Waktu (Sekon)
D Bola Jarak
No Bola Bola Keterangan
(m) (m) t1 t2 t3
(kg)

1 0,251 0,1 0,16 0,17 0,16


t awal = 32℃
2 I 0,021 0,2525 0,2 0,27 0,26 0,28 t akhir = 33℃
D tabung =6,42
3 0,2516 0,3 0,4 0,39 0,4 cm
m1 = 161 gr
1 0,1522 0,1 0,2 0,18 0,2 m0 = 124 gr
𝜌𝑓 =740 kg/m3
2 II 0,005 0,153 0,2 0,31 0,3 0,32

3 0,1533 0,3 0,62 0,62 0,61

Fakultas/jurusan : FTI / Teknik Pertambangan


Kelompok/frekuensi : 5A/IV
Anggota kelompok :
1. Muh. Ajun Ramadhan
2. Laode Muh. Fajrin Maulana
3. Dewi Maharani Solissa
4. Bayu Friyanto Syam
5. Muammar Fadilla Maulana

Makassar, 14 /12 /2018


Asisten

(Yevi Ikram Karim)

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB V
PENGOLAHAN DATA

5.1 Menghitung hubungan t terhadap L

a. Untuk bola I
L1 = 0,1 m
𝑡1 = 𝑡1+ 𝑡2+𝑡3
𝑛
0,16+0,17+0,16
= 3
0,49
= 3

= 0,1633

L2 = 0,2 m
𝑡1 + 𝑡2 +𝑡3
𝑡2 = 𝑛
0,27+0,26+0,28
= 3
0,81
= 3

= 0,27

L3 = 0,3
𝑡1 + 𝑡2 + 𝑡3
𝑡3 =
n
0,4 + 0,39 + 0,4
=
3
1,19
=
3
= 0,3966

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

Table 5.5.1 Hubungan t terhadap L


NO X Y x.y x2
1. 0,1 0,1633 0,01633 0,01
2. 0,2 0,27 0,054 0,04
3. 0,3 0,3966 0,11898 0,09
Σ 0,6 0,8299 0,1866 0,14

𝑛 (Ʃ𝑥𝑦)−(Ʃ𝑥) (Ʃ𝑦)
a= n (Ʃ𝑥 2 )−(Ʃ𝑥)2

3 (0,1866)−(0,6) (0,8299)
= 3 (0,14)−(0,6)2

0,5598−0,498
= 0,42−0,36

0,0618
= 0,06

= 1,03

𝑦𝑛 = 𝛼. 𝑥𝑛

𝑦1 = 𝛼 . 𝑥1 = 1,03 × 0,1 = 0,103

𝑦2 = 𝛼 . 𝑥2 = 1,03 × 0,2 = 0,206

𝑦3 = 𝛼 . 𝑥3 = 1,03 × 0,3 = 0,309

Tabel 5.5.2 Hubungan x dan y


No X Y
1 0,1 0,103
2 0,2 0,206
3 0,3 0,309

𝑋max −𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1


Skala x = = = 0,067
𝑛 3

𝑋1 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,1−0,1
𝑋1 = 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥
= 0,067
=0

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

𝑋2− 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,2−0,1 0,1


𝑋2 = = = = 1,5
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,067 0,067
𝑋3 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1 0,2
𝑋3 = = = =3
skala x 0,067 0,067

𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,309 − 0,103 0,206


Skala y = = = = 0,0686
n 3 3

𝑦1− 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,103 −0.103


𝑦1 = = = 0
skala y 0,0686
𝑦2 − 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,206 − 0,103 0,103
𝑦2 = = = = 1,5
skala y 0,0686 0,0686
𝑦3− 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,309 − 0,103 0,206
𝑦3 = = = 0,0686 = 3
skala y 0,0686

Tabel 5.5.3 Grafik hubungan x dan y


No X Y
1 0 0
2 1,5 1,5
3 3 3

4
3
Y 2
1
0
0 1 2 3 4
X

Grafik 5.5.1 hubungan antara X dengan Y

𝑚𝑎𝑥 𝑦
𝑚𝑖𝑛 −𝑦 0,309 − 0,103 0,206
Tan ∝ =𝑋𝑚𝑎𝑥−𝑋𝑚𝑖𝑛 = = = 1,03
0,3−0,1 0,2

a. Untuk bola II
L₁ = 0,1 L₂ = 0,2 L₃ = 0,3
𝑡1+𝑡2+𝑡3 𝑡1+𝑡2+𝑡3 𝑡1+𝑡2+𝑡3
t₁ = t₁ = t₃ =
𝑛 𝑛 𝑛
0,2+0,18+0,2 0,31+0,3+0,32 0,62+0,62+0,61
= = =
3 3 3
0,58 0,93 1,85
= 3
= 3
= 3

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

= 0,1933 = 0,31 = 0,6166


Table 4.5.4 Hubungan t terhadap L
NO X Y x.y x2
1. 0,1 0,1933 0,01933 0,01
2. 0,2 0,31 0,062 0,04
3. 0,3 0,6166 0,18498 0,09
Σ 0,6 1,1199 0,26631 0,14

𝑛 (Ʃ 𝑥 𝑦 )− ( Ʃ𝑥)(Ʃ𝑦)
a= 𝑛 ( Ʃ𝑥 2 )− (Ʃ𝑥)²

3 ( 0,26631)− (0,6)(1,11999) 1,79893−1,67194 0,12699


= = = = 2,1165
3 (0,14)− (0,6)² 0,42−0,36 0,06

yn = a.xn

y₁ = a.x₁ y₂ = a . x₂ y₃ = a . x₃

= 2,1165. 0,1 = 2,1165 . 0,2 = 2,1165 . 0,3

= 0,21165 = 0,4233 = 0,63495

Tabel 5.5.5 Hubungan x dan y


No X Y
1 0,1 0,21165
2 0,2 0,4233
3 0,3 1,63495

𝑋max −𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1


Skala x = = = 0,067
𝑛 3

𝑋1 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,1−0,1
𝑋1 = = =0
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,067
𝑋2− 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,2−0,1 0,1
𝑋2 = = = = 1,5
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,067 0,067
𝑋3 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1 0,2
𝑋3 = = = =3
skala x 0,067 0,067

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA
𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 1,63495−0,21165
Skala y = = = 0,1411
n 3

𝑦1− 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,2116−0,2116


𝑦1 = = = 0
skala y 0,1411
𝑦2 − 𝑦𝑚𝑖𝑛 0,4233−0,21165
𝑦2 = = = 1,5
skala y 0,1411
𝑦3− 𝑦𝑚𝑖𝑛 1,63495−0,2116
𝑦3 = = =3
skala y 0,1411

Tabel 5.5.6 Hubungan x dan y


No X Y
1 0 0
2 1,5 1,5
3 3 3

Y 2

0
0 1 2 3 4
X

Grafik 5.5.2 hubungan antara X dengan Y

𝑚𝑎𝑥𝑦 𝑚𝑖𝑛 −𝑦 0,63495−0,21165 0,4233


Tan ∝ =𝑋𝑚𝑎𝑥−𝑋𝑚𝑖𝑛 = = = 2,1165
0,3−0,1 0,2

5.2 Menghitung hubungan tr2 terhadap L

𝐷
r =2

a. Untuk bola I
0,251
r1 = = 0,1255
2

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

0,02525
r2 = = 0,12625
2
0,2516
r3= = 0,1258
2
r1+ r2+ r3 0,1255+0,12625+0,1258 0,37755
𝑟̅ = = = = 0,12585
𝑛 3 3

tr2 = tn.r2
L1 = t1r2 = 0,1633 × (0,12585)2
= 0,1633 (0,01583)
= 2,58 × 10-3
L2 = t2r2 = 0,27 (0,12585)2
= 4,27 × 10-3
L3 = t3r3 = 0,3966 (0,12585)2
= 6,27 × 10-3
Table 5.5.7 Hubungan antara tr2 terhadap L
NO L (x) tr2 (y) Xy x2
1. 0,1 2,58 × 10-3 2,58 × 10-4 0,01
2. 0,2 4,27 × 10-3 8,54 × 10-4 0,04
3. 0,3 6,27 × 10-3 18,81 × 10-4 0,09
Σ 0,6 13,12 × 10-3 29,93 × 10-4 0,14

𝑛 (Ʃ 𝑥 𝑦 )− ( Ʃ𝑥)(Ʃ𝑦)
a= 𝑛 ( Ʃ𝑥 2 )− (Ʃ𝑥)²

3 ( 29,93 × 10−4 )− (0,6)(13,12 × 10−3 ) (89,79× 10−4 )−(7,92 × 10−3 )


= =
3 (0,14)− (0,6)² 0,42−0,36

1,059× 10−3
= = 0,01765
0,06

𝑦𝑛 = 𝛼. 𝑥𝑛

𝑦1 = 𝛼 . 𝑥1 = 0,01765 × 0,1 = 17,16 × 10-3

𝑦2 = 𝛼 . 𝑥2 = 0,01765 × 0,2 = 3,53 × 10-3

𝑦3 = 𝛼 . 𝑥3 = 0,01765 × 0,3 = 5,295 × 10-3

Tabel 5.5.8 Hubungan x dan y


YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN
09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

No X Y
1 0,1 17,16 × 10-3
2 0,2 3,53 × 10-3
3 0,3 5,295 × 10-3
𝑋max −𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1
Skala x = = = 0,066
𝑛 3

𝑋1 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,1−0,1
𝑋1 = = =0
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,066
𝑋2− 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,2−0,1 0,1
𝑋2 = = = = 1,5
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,066 0,067
𝑋3 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1 0,2
𝑋3 = = = =3
skala x 0,066 0,067

𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 5,295×10−3 −1,765 × 10−3 3,53 ×10−3


Skala y = = = = 1,176 × 10-3
n 3 3

𝑦1− 𝑦𝑚𝑖𝑛 1,765×10−3 − 1,765×10−3


𝑦1 = = = 0
skala y 1,765×10−3
𝑦2 − 𝑦𝑚𝑖𝑛 3,53 ×10−3 − 1,765×10−3
𝑦2 = = = 1,5
skala y 1,765×10−3
𝑦3− 𝑦𝑚𝑖𝑛 3,295 ×10−5 −1,765×10−3
𝑦3 = = =3
skala y 1,765×10−3

Tabel 5.5.9 Hubungan x dan y


No X Y
1 0 0
2 1,5 1,5
3 3 3

Y 2

0
0 1 2 3 4
X

Grafik 5.5.3 hubungan antara X dengan Y

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

𝑦 −𝑦 5,295×10−3 −1,765 × 10−3 3,53× 10−3


𝑚𝑎𝑥 𝑚𝑖𝑛
Tan ∝ =𝑋𝑚𝑎𝑥−𝑋𝑚𝑖𝑛 = = = 17,65 × 10−3
0,3−0,1 0,2

b. Untuk bola II
0,1522
r1 = = 0,0761
2
0,153
r2 = = 0,0765
2
0,1533
r3 = = 0,07665
2
r1+ r2+ r3 0,0761+0,765+0,07665 0,22925
𝑟̅ = = = = 0,076416
𝑛 3 3

tr2 = tn.r2
L1 = 0,1
L1 = t1r2 = 0,1933 (0,076416)2
= 0,1933 (0,00583)
= 1,12 × 10-3
L2 = 0,2
L2 = t2r2 = 0,31 (0,076416)2
= 1,80 × 10-3
L3 = 0,3
L3 = t3r3 = 0,6166(0,076416)2
= 3,59 × 10-3

Table 5.5.10 Hubungan antara tr2 terhadap L


NO L (x) tr2 (y) Xy x2
1. 0,1 1,12 × 10-3 1,12 × 10-4 0,01
2. 0,2 1,80 × 10-3 3,60 × 10-4 0,04
3. 0,3 3,59 × 10-3 10,11 × 10-4 0,09

Σ 0,6 6,51 × 10-3 15,49 × 10-5 0,14

𝑛 (Ʃ 𝑥 𝑦 )− ( Ʃ𝑥)(Ʃ𝑦)
a= 𝑛 ( Ʃ𝑥 2 )− (Ʃ𝑥)²

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

3 ( 15,49 × 10−4 )− (0,6)(6,51 × 10−3 ) (4,647 × 10−3 )−(3,906 × 10−3 )


= =
3 (0,14)− (0,6)² 0,06

0,741 × 10−3
= = 0,01235
0,06

𝑦𝑛 = 𝛼. 𝑥𝑛

𝑦1 = 𝛼 . 𝑥1 = 0,01235× 0,1 = 1,235 × 10-3

𝑦2 = 𝛼 . 𝑥2 = 0,01235 × 0,2 = 2,47 × 10-3

𝑦3 = 𝛼 . 𝑥3 = 0,01235× 0,3 = 3,705 × 10-3

Tabel 4.5.11 Hubungan x dan y


No X Y
1 0,1 1,235 × 10-3
2 0,2 2,47 × 10-3
3 0,3 3,705 × 10-3

𝑋max −𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1


Skala x = = = 0,066
𝑛 3

𝑋1 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,1−0,1
𝑋1 = = =0
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,066
𝑋2− 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,2−0,1
𝑋2 = = = 1,5
𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑥 0,066
𝑋3 − 𝑋𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1
𝑋3 = = =3
skala x 0,066

𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 3,705 ×10−3 −1,235 × 10−3


Skala y = = = 0,823 × 10−3
n 3

𝑦1− 𝑦𝑚𝑖𝑛 1,235 × 10−3 −1,235 × 10−3


𝑦1 = = = 0
skala y 0,823 ×10−3
𝑦2 − 𝑦𝑚𝑖𝑛 2,47 ×10−3 −1,235 × 10−3
𝑦2 = = = 1,5
skala y 0,823 ×10−3
𝑦3− 𝑦𝑚𝑖𝑛 3,705 ×10−3 −1,235 × 10−3
𝑦3 = skala y
= 0,823 ×10−3
=3

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

Tabel 5.5.12 Hubungan x dan y


No X Y
1 0 0
2 1,5 1,5
3 3 3

4
3
Y 2
1
0
0 1 2 3 4
X

Grafik 5.5.4 hubungan antara X dengan Y


𝑚𝑎𝑥 𝑦𝑚𝑖𝑛 −𝑦 3,59 × 10−3 −1,12 × 10−3 2,47 × 10−3
Tan ∝ =𝑋𝑚𝑎𝑥−𝑋𝑚𝑖𝑛 = = = 12,35
0,3−0,1 0,2

5.3 Menghitung massa jenis bola dan massa jenis fluida


a. untuk benda I (bola besar)
𝑚 𝑚
ρb = =4
𝑣 ⁄3𝜋𝑟 3

0,021 0,021
=4 = 8,3 ×10−6
⁄3(3,14) (0,12585)3

= 2530
b. untuk bola II (bola kecil)
𝑚 𝑚
ρb = =4
𝑣 ⁄3𝜋𝑟 3

0,005
=4
⁄3(3,14) (0,12585)3

0,005
= 8,3 × 10−6

=2700
Menentukan massa jenis fluida
𝑚
ρf = 𝑣
(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑠𝑖𝑙)−( 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
= 𝑉

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

0,161−0,124
= 5×10−5
0,0158
= 5×10−5

= 740
5.4 menentukan nilai viskositas( ƞ ) dan grafik hubungan t terhadap L
a. untuk bola I (bola besar)
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ = tan α
9
2(9,81)(0,12585)2 (2530−740) 492,9
= (1,03) =
9 9

= 54,7
b. untuk bola II (bola kecil)
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ = tan α
9
2 .(9,81)(0,076)2 (2700−740) 438,5
= (2,11) =
9 9

= 48,7
5.5 menentukan nilai viskositas ( ƞ ) dan grafik hubungan pada tr2 terhadap
L
a. untuk bola I (bola besar)
2𝑔 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ = tan∝
9
2(9,81)(2530−740) 558,7
= (0,017) =
9 9

= 62
b. untuk bola II (bola kecil)
2𝑔 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ = tan∝
9
2(9,81)(2700−740) 431,8
= (0,012) =
9 9

= 47,9
5.6 menentukan nilai viskositas (ɳ) dari data yang diperoleh.
a. untuk bola I (bola besar)
L1 = 0,1

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ1= 9𝐿
2(9,81)(2,58 ×10−3 ) (2530−740)
= 9.(0,1)

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

(19,62)(2,58 ×10−3 ) (1790)


= 0,9
84,79
= 0,9

= 84,2
L2 = 0,2

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ2= 9𝐿
2(9,81)(4,27 ×10−3 ) (2530−740)
= 9.(0,2)

(19,62)(4,27 ×10−3 ) (1790)


= 1,8
140,3
= 1,8

= 77,9
L3 = 0,3

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ3= 9𝐿
2(9,81)(6,27 ×10−3 ) (2530−740)
= 9.(0,3)

(19,62)(6,27 ×10−3 ) (1790)


= 2,7
206,05
= 2,7

= 76,3
𝑛1+ 𝑛2+ 𝑛3
ɳ̅ = 3
84,2+77,9+76,3
= 3

= 79,46

b. untuk bola II (bola kecil)


L1 = 0,1

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ1=
9𝐿
2(9,81)(1,12 ×10−3 ) (2700−740)
= 9.(0,1)
40,3
= 0,9

= 44,7
L2 = 0,2

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ2= 9𝐿
2(9,81)(1,8 ×10−3 ) (2700−740)
= 9.(0,2)
64,7
= 1,8

= 35,9
L3 = 0,3

2𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓 )
ɳ3= 9𝐿
2(9,81)(3,59 ×10−3 ) (2700−740)
= 9.(0,3)
129,18
= 2,7

= 47,8

𝑛1+ 𝑛2+ 𝑛3
ɳ̅ = 3
44,7+35,9+47,8
= 3

= 42,8
5.7 Teori ketidakpastian

2gtr2(𝜌𝑏−𝜌𝑓)
η= 𝑔𝐿

∆η =
2 2 2 2 2
√(𝛿𝑛) (∆𝑡)2 + (𝛿𝑛) (∆𝑟)2 + ( 𝛿𝑛 ) (∆𝜌𝑏)2 + ( 𝛿𝑛 ) (∆𝜌𝑓)2𝑧 + (𝛿𝑛) (∆𝐿)2
𝛿𝑡 𝛿𝑟 𝛿𝜌𝑏 𝛿𝜌𝑓 𝛿𝐿

sη 2 𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓)
1. =
𝑠𝑡 9𝑙

sη 𝑢′ 𝑣−𝑣 ′ 𝑢
=
𝑠𝑡 𝑣2

Dimana :

u = 2 𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏 − 𝜌𝑓) 𝑢′ = 2 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏 − 𝜌𝑓

v=gl 𝑣′ = 0

2 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓) . 0 . 2 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓)


= (9 𝑙)2

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

2 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓)
= 9𝑙

2 .9,81 (0,12585)2 (2530−740)


= 9 (0,1)

520,5
= = 578,3
0,9

(𝑡1 −𝑡̅)2 +(𝑡2 −𝑡̅)2 +(𝑡3 − 𝑡̅)2


2. ∆𝑡 = √ 𝑛(𝑛−1)

(0,16−0,1633)2 +(0,17−0,1633)2 +(0,16−0,01633)2


=√ 3(3−1)

0,0000644
=√ 3(2)

= √71 𝑥 10−6

= 3,31 x 10-3

sη 2 𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓)
3. =
𝑠𝑡 9𝑙

sη 𝑢′ 𝑣−𝑣 ′ 𝑢
=
𝑠𝑡 𝑣2

Dimana :

u = 2 𝑔 𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏 − 𝜌𝑓) 𝑢′ = 4 𝑔 𝑡𝑟 (𝜌𝑏 − 𝜌𝑓

v=gl 𝑣′ = 0

4 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓) (9 𝑙) 2 𝑔 𝑟 2 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓) .0


= (9 𝑙)2

4 𝑔 𝑡𝑟 (𝜌𝑏− 𝜌𝑓)
= 9𝑙

4 (9,81)(0,1633)(0,12585)(2530−740)
= 9 (0,1)

1350,8
= 0,9

= 1500,9
YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN
09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

(𝑟1 −𝑟̅ )2 +(𝑟2 −𝑟̅ )2 +(𝑟3 − 𝑟̅ )2


4. ∆𝑟 = √ 𝑛(𝑛−1)

(0,1255−0,12585)2 + (0,12625−0,12585)2 +(0,1258−0,12585)2


=√ 3(3−1)

5,425 𝑥 10−7
=√ 6

= √9 𝑥 10−8 = 3 x 10-4

𝛿𝑛 2𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌𝑓)
5. 𝛿𝜌𝑏 = 9𝐿

𝛿𝑛 u’v – v’u
=
𝛿𝜌 𝑣2

Dimana :

u = 2gtr2 (𝜌𝑏 − 𝜌𝑓) u’ = 2gtr2

V = 9L v’ = 0

(𝑔𝑡𝑟 2 .9𝐿)−2𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌𝑓).0


= (9𝐿)2

2𝑔t𝑟 2
= 9𝐿

𝛿𝑛 2𝑔t𝑟 2
Jadi 𝛿𝑟 = 9𝐿

2(9,81)0,1633(0,12585)2
= 9(0,1)

0,05
= 0,9

= 5,5x10-2
𝑚
6. 𝜌𝑏 = 𝑣

𝛿𝜌𝑏 𝛿𝜌𝑏
∆𝜌𝑏 = √( 𝛿𝑚 )2 (∆𝑚)2 + ( 𝛿𝑣 )2 (∆𝑣)2

𝛿𝜌𝑏 𝑚
=
𝛿𝑚 𝑣

Dimana :

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

U=m u’ = 1

V=v V’ = 0
𝑢’𝑣−𝑣’𝑢
= 𝑣2

1.𝑣−0.𝑚
= 𝑣2

1
=4
3,14(0,12585)2
3

1
= 8,3𝑥10−6

= 120481,93
1
∆𝑚 = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

1
= 2 𝑥10−3

= 0,5x10-5

= 5x10-4

𝛿𝑣
∆𝑟 = √(𝛿𝑟 )2 (∆𝑟)2

𝛿𝜌𝑏 𝑚
=
𝛿𝑣 𝑣

Dimana :

u=𝑚 u’ = 0

V=v v’ = 1
𝑢’𝑣−𝑣’𝑢
= 𝑣2

0.𝑣−1.𝑚
= 𝑣2

−𝑚
= 𝑣2

−0,021
= (4
⁄3(3,14)(0,12585)3 )2

−0,021
= (8,3.10−6 )2

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

−0,021
= 8,3.10−12= 3. 108

4
V = 3 𝜋𝑟 3

𝛿𝑣 2
∆v= √(𝛿𝑓) (∆𝑟)2

𝛿𝑣 4
= 3 𝜋𝑟 3
𝛿𝑟

Dimana :

u = 4⁄3 𝜋 u’ = 0

v = r3 v’ = 3r2

= 𝑢’𝑣 + 𝑣’𝑢
4
= 0.r3+3r23 𝜋

4
= 3r33 𝜋

4
= 3(0,12585)2 3(3,14)

= 0,19

(𝑟1 −𝑟̅ )2 +(𝑟2 −𝑟̅ )2 +(𝑟3 − 𝑟̅ )2


∆𝑟 = √ 𝑛(𝑛−1)

(0,1255−0,12585)2 + (0,12625−0,12585)2 +(0,1258−0,12585)2


=√ 3(3−1)

5,425 𝑥 10−7
=√ 6

= √9 𝑥 10−8 = 3 x 10-4

𝛿𝑣
∆𝑣 = √(𝛿𝑟 )2 (∆𝑟)2

= √(0,19)2 (3 x 10−4 )2

= √(3,6𝑥10−2 )(9𝑥10−8 )

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

= √(10,8𝑥10−10

= 3,28 x 10-5

𝛿𝜌𝑏 𝛿𝜌𝑏
∆𝜌𝑏 = √( 𝛿𝑚 )2 (∆𝑚)2 + ( 𝛿𝑣 )2 (∆𝑣)2

(120481,93)2 (5𝑥10−4 )2 +
=√
(3𝑥 108 )2 (3,28𝑥10−5 )2

= √3500 + 96760000

= √96763500

= 9836,8
𝛿𝑛 2𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌𝑓)
7. 𝛿𝜌𝑓 = 9𝐿

Dimana :

u = 2gtr2(𝜌𝑏 − 𝜌𝑓) u’ = 2gtr2

v = gL v’ = o
𝑢’𝑣+𝑣’𝑢
=
𝑣2

2𝑔𝑡𝑟 2
= 9𝐿

2(9,81)15(0,12585)2
= 9(0,1)

= 5,2x10-2

𝛿𝜌𝑓 𝛿𝜌𝑓
8. ∆𝜌f = √( 𝛿𝑚 )2 (∆𝑚)2 + ( 𝛿𝑣 )2 (∆𝑣)2

𝛿𝜌f 𝑚
=
𝛿𝑚 𝑣

Dimana :

u=𝑚 u’ = 1

V=v v’ = 0
𝑢’𝑣−𝑣’𝑢
= 𝑣2

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

1.𝑣−0.𝑚
= 𝑣2

1
=v

1
=4
⁄3𝜋𝑟 2

1
=4
⁄3(3,14)(0,12585)3

1
= 8,3𝑥10−6 = 120481,93

1
∆𝑚 = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

1
= 2 𝑥10−3

= 0,5x10-5

= 5x10-4
𝛿𝜌𝑏 𝑚
=
𝛿𝑣 𝑣

Dimana :

u=𝑚 u’ = 0

V=v v’ = 1
𝑢’𝑣−𝑣’𝑢
= 𝑣2

0.𝑣−1.𝑚
= 𝑣2

−𝑚
= 𝑣2

−0,021
= (4
⁄3(3,14)(0,12585)3 )2

−0,021
= (8,3.10−6 )2

−0,021
= 8,3.10−12

= 3. 108
1
∆𝑣 = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

1
= 2 𝑥10−3

= 0,5x10-5

= 5x10-4

𝛿𝜌𝑓 𝛿𝜌𝑓
∆𝜌f = √( 𝛿𝑚 )2 (∆𝑚)2 + ( 𝛿𝑣 )2 (∆𝑣)2

= √(120481,93)2 (5𝑥10−4 )2 + (3. 108 )2 (5𝑥10−4 )2

= √(14515895456,5)(2,5𝑥10−7 ) + (9𝑥1016 )(2,5𝑥10−7 )

=√(3628,97) + (22500000000)

= √22500003629

= 150000

= 1,5 x 104
𝛿𝑛 2𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌f)
9. =
𝛿𝑙 9𝐿

Dimana :

U = 2gtr2(𝜌𝑏 − 𝜌f) u’ = 0

V = 9L v’ = 9
u’v−v’u
= 𝑣2

0,9𝐿−9.2𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌f)
= (9𝐿)2

18𝑔𝑡𝑟 2 (𝜌𝑏−𝜌f)
= (9𝐿)2

18(9,81)(0,1633)(0,12585)2 (2530−740)
= (9𝑥0,1)2

817,49
= = 1009,2
0,81

1
10. ∆𝐿 = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

1
= 2 𝑥10−3

= 0,5x10-5
YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN
09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

= 5x10-4

𝛿𝑛 2 𝛿𝑛 2 𝛿𝑛 2
( 𝛿𝑡 ) (∆𝑡)2 + (𝛿𝑟 ) (∆𝑟)2 + (𝛿𝜌𝑏) (∆𝜌𝑏)2 +
∆η = √
𝛿𝑛 2 𝛿𝑛 2
(𝛿𝜌𝑓) (∆𝜌𝑓)2𝑧 + ( 𝛿𝐿 ) (∆𝐿)2

(578,3)2 (3,31𝑥 10−3 )2 + (1500,9)2 (3𝑥10−4 )2 + (5,5𝑥10−2 )2


=√
(9836,8)2 + (5,2𝑥10−4 )2 (1,5 × 10−4 )2 + (1009,2)2 + (5𝑥10−4 )2

0,36) + (0,2) + (290287,9) +


=√
(6,08𝑥104 ) + (0,25)

= √351088,71

= 592,5
𝛿𝑛
KR = 2(∆𝑛+𝑛) 𝑥 100%

86,56
= 2(592,5+79,46) 𝑥 100%

86,56
= 1337,92 x 100%

= 0,064 x 100%

= 6,4%

KB = 100 % - 6,4%

= 93,6%

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB VI
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

6.1 tabel hasil pengolahan data


ρf
Bol Massa ρb ƞ(kg/ms
r (m) ( kg/m3) t(s) L(m)
a bola (kg) (kg/m3) )
0,1633 0,1
79,46
I 0,021 0,12585 25,3 7,4 0,27 0,2
0,3966 0,3
0,1933 0,1
42,8
II 0,002 0,076 27 7,4 0,31 0,2
0,6166 0,3

6.2 pembahasan
Dari tabel di atas menyatakan bahwa bola mengalami percepatan pada
jarak I dan II sedangkan pada jarak III diperoleh waktu yang lebih tinggi dari
jarak I dan II, terbukti dengan interval waktu antara jarak I dan II pada bola I
0, 1633 sedangkan pada jarak III 0,3966. Hal ini disebabkan saat bola
dimasukkan ke dalam fluida terjadi konsep keseimbangan 3 gaya yakni gaya
stokes (Fs), gaya apung (Fa) dan gaya berat (W), bola yang awalnya
mengalami kecepatan awal pada jarak I dan II kemudian mengalami gesekan
dalam fluida, semakin besar kecepatannya semakin besar pula gesekan antara
bola dengan fluida, kemudian dipengaruhi oleh gaya berat dan gaya apung
sehingga terjadi kecepatan terminal atau tidak ada resultan gaya (F=0).
Begitupun dengan bola II.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa viskositas merupakan
suatu tendensi untuk melawan aliran cairan karena resistensi suatu bahan
yang mengalami perubahan bentuk bila bahan tersebut dikenai gaya. Bola
yang masuk ke dalam fluida dipengaruhi oleh 3 gaya yaitu gaya apung, gaya
stokes dan gaya berat, semakin besar kecepatan bola maka semakin besar
gesekan yang terjadi antara bola dengan fluida yang menyebabkan kecepatan
terminal terjadi. Dari hasil percobaan diperoleh nilai viskositas pada bola I=
79,46 dan bola II= 42,8 . Perbedaan nilai koefisien viskositas dengan
menggunakan metode bola jatuh disebabkan adanya factor koreksi yaitu
perbedaan jari-jari bola, massa jenis bola serta suhu II lebih tinggi daripada
suhu I.

7.2 Saran
7.2.1 Saran untuk laboratorium
Menurut saya ruangan ini panas dan gerah. Panas dalam
melakukan pratikum dalam hal pratikum tidak terlalu membuat
nyaman. Saran saya sebaiknya pihak dari lab menyusulkan ke pihak
kampus agar kipas atau ac dipasangkan di lab agar mahasiswa merasa
nyaman dan tidak kepanasan.

7.2.2 Saran Untuk Asisiten


Sebaiknya asisten tidak memberi arahan baru atau menanyakan
sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam pengarahan atau pada saat
asistensi. Selain itu, sebaiknya asisten juga konsisten terhadap apa yang
dikoreksi pada saat asistensi.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

Ayat yang Berhubungan

AL-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 50, yang artinya “Di dalam kedua
sungai itu ada dua buah mata air yang memancar .”

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

VISKOSITAS FLUIDA

DAFTAR PUSTAKA

Ginting, Diner. 1991. Hidrolika. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.


Malik. 2014. Laporan Fluida Statis.
Mochtar.1990.MekanikaFluida.Jakarta:Erlangga.
Symon, Keith. 1971. Mechanics (edisi ke-Third). Addison-Wesley.
Munasir. 2004. Modul Fluida Statis. Kode Fis.13. Bagian Proyek Pengembangan
Kurikulum, Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional.
Prijono,Arko.1985. Mekanika Fluida II. Jakarta: Erlangga.
Soemito, Herman Widodo (penterjemah). 1990. Mekanika fluida dan hidrolika.
Jakarta. Erlangga.
Sutrisno. 1997. Fisika Dasar. Bandung: ITB.
Yas, Ali. 2013. Fisika 2 untuk SMA Kelas XI. Edisi kedua. Quadra.
Daniel, Parenden. 2012. JURNAL PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP
VISKOSITAS MINYAK PELUMAS. Papua: Universitas Musamus.

Kunsumaningrum, Widya. Nurul, mu’nisa A. Ummu, Kalsum A. Amelia,


Rahmawati. 2014. JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II. Jakarta:
Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah.

YEVI IKRAM KARIM MUH.ARJUN AMADHAN


09320160175