Anda di halaman 1dari 26

SISTEM PENGHANTARAN OBAT INTRANASAL

Dosen : Prof. Dr. Teti Indrawati, MS.Apt

NAMA KELOMPOK :

1. Gita Yuliana Dewi (15330064)


2. Maulidya Nur Rahma (15330067)

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL


JAKARTA SELATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SISTEM
PENGHANTARAN OBAT INTRANASSAL” sebagaimana mestinya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Penghantar Obat Baru.
Dalam penyusunan makalah ini, banyak kendala yang penulis temukan. Namun, berkat bantuan
dari berbagai pihak, makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar yang telah memberi
masukan dalam mengerjakan makalah ini dan pihak terkait yang telah membantu penulis dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 24 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Rumus Masalah 1
C. Tujuan 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Drug Delivery Sistem Intranassal 3

B. Anatomi hidung 3

C. Kelebihan Intranasal Drug Delivery Sistem 6

D. Kekurangan Intranasal Drug Delivery Sistem 7

E. Jenis Sediaan Intranasal 7

BAB I11 PEMBAHASAN

A. Pelapasan obat secara intranasal 9

B. Konsep Penghantaran Obat 10

C. Perjalanan Obat Dalam Tubuh 11

D. Mekanisme Absorbsi Intranassal 11

E. Perbedaan Intranasal DDS dengan konvensional 16

F. Kelebihan Intranasal DDS dengan Konvensional 17

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan 19

DAFTAR PUSTAKA 20

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sistem penghantaran obat atau drug delivery system adalah istilah yang
menggambarkan bagaimana suatu obat dapat sampai ke tempat target aksinya istilah ini
juga sering dipertukarkan dengan drug product dan dosage form.
Bermacam sistem mucosal dalam tubuh manusia yaitu nasal,pulmonal, rectal dan
vaginal dapat dimmanfaatkan untuk titik masuk sistem penghantaran obat. Mukosa
hidung memiliki sifat absorbsi yang baik, sehingga cocok untuk pemakaian obatmukosa
secara topikal. Dalam tahun-tahun terakhir banyak obat telah terbukti untuk mencapai
sistemik yang lebih baik. Salah satunya sistem penghantar obat intranasal (melalui
hidung) yang telah berlangsung sejak lama. Penggunaan jalur intranasal untuk
pengiriman obat telah menyita perhatian masyarakat sejak zaman kuno. Tetapi nasal,
berasal dari kata “NASAYA KARMA”, merupakan pengobatan dalam sistem Ayurvedic
pengobatan india dengan cara penghisapan (snuff) obat untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.
Selama bertahun-tahun obat ini telah diberikan secara intranasal untuk
memberikan efek lokal pada mukosa misalnya, antihistamin, dekongestan,
vasokonstriktor dan antibiotika. Dalam tahun-tahun terakhir banyak obat telah terbukti
dapat mencapai sistem bioavailabilitas intranasal lebih baik dari pada pemberian oral.
Bebrapa dari obat tersebut telah terbukti untuk menduplikasi profil plasma administrasi
iv. Pemberian obat secara intranasal merupakan alternatif ideal untuk menggantikan
sistem penghantaran obat sistemik parenteral.
Sistem penghantaran obat baru (NDDS) adalah suatu system penghantaran obat
yang pelepasan obat yang dimodifikasi (terkendali/terkontrol)
System penghantaran obat konvensional adalah suatu system penghantaran obat
yang pelepasan obatnya segera setelah obat dikonumsi (oleh karenanya sering disebut
sebagai sediaan Immediate Release, IR), baik itu dikonsumsi secara per oral maupun
melalui jalur administrasi yang lain

1
DDS Nasal adalah metode pengiriman obat yang aktif dalam dosis rendah dan
tidak menunjukan bioavailabilitas oral yang minimal. Pemberian obat secara intranasal
merupakan alternative ideal untuk menggantikan sistem penghantaran obat sistemik
parenteral. Drug Delivery System Intranasal (DDS Intranasal) merupakan sistem
penghantaran obat melalui hidung. Mukosa hidung telah dianggap sebagai rute
pemberian obat untuk mencapai absorpsi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena dapat
mengurangi aktivitas dari saluran pencernaan, mengurangi aktivitas pankreas dan
aktivitas enzimatik lambung, pH netral pada mukus hidung akan mengurangi aktivitas
gastrointestinal.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dituliskan sebelumnya, maka terbentuklah beberapa
rumusan masalah dari makalah yang kami susun ini, antara lain:

a. Bagaimana mekanisme pelepasan obat melalui pemberian intranasal ?


b. Bagaimana perjalanan obat (ADME) didalam tubuh melalui pemberian intranasal?

B. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, maka dapat ditentukan tujuan dari penyusunan makalah ini,
antara lain:

a. Untuk mengetahui dan memahami mekanisme pelepasan obat melalui pemberian


intranasal.
b. Untuk mengetahui dan memahami pelepas obat (ADME) didalam tubuh melalui
pemberian intranasal.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Drug Delivery Sistem Intranassal


Drug Delivery System Intranasal (DDS Intranasal) merupakan sistem
pengahantaran obat melalui hidung. Mukosa hidung telah dianggap sebagai rute
pemberian obat untuk mencapai absorpsi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena dapat
mengurangi aktivitas dari saluran pencernaan, mengurangi aktivitas pankreas dan
aktivitas enzimatik lambung, pH netral pada mukus hidung akan mengurangi aktivitas
gastrointestinal (Krishnamoorthy R et al, 1998;.. Kisan R et al, 2007). Dalam beberapa
tahun terakhir banyak obat telah terbukti mencapai bioavailabilitas yang lebih baik ke
sistemik melalui rute pemberian hidung dibandingkan dengan rute pemberian
oral. Pengobatan melalui hidung, telah diakui dalam sistem Ayurvedic obat India, yang
disebut dengan "NASAYA KARMA" (Chien YW et al., 1989).
Konsep Dasar Penghantaran Obat adalah ketika obat digunakan oleh pasien, obat
akan menghasilkan efek tertentu yang disebut efek biologis. Efek biologis ini merupakan
hasil interaksi obat dengan reseptor tertentu dari obat, dimana obat yang dihantarkan ke
tempat kerja diatas pada kecepatan dan konsentrasi tertentu diharapkan dapat
memberikan efek terapeutik yang maksimal dan dengan efek samping yang seminimal
mungkin.

B. Anatomi hidung
Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung, perlu diingat kembali tentang
anatomi hidung. Anatomi dan fisiologis normal harus diketahui dan diingat kembali
sebelum terjadi perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat berlanjut menjadi suatu
penyakit atau kelainan. (Soetjipto D & Wardani RS,2007).
Embriologi hidung
Perkembangan rongga hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan
anatomis intranasal dapat dibagi menjadi dua proses. Pertama, embrional bagian kepala
berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda; kedua adalah bagian
dinding lateral hidung yang kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang

3
dikenal dengan konka (turbinate), dan membentuk ronga-rongga yang disebut sebagai
sinus. (Walsh WE, 2002)

Anatomi hidung luar


Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar
menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar dibedakan
atas tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya
terdapat kubah kartilago yangsedikit dapat digerakkan; dan yang paling bawah adalah
lobulus hidung yang mudah digerakkan.Bentuk hidung luar seperti piramid dengan
bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
1) pangkal hidung (bridge),
2) batang hidung (dorsum nasi),
3) puncak hidung

Anatomi hidung dalam


Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari naso
faring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka
media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan
meatus inferior, berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media

4
dan sebelah atas konka media disebut meatus superior. (Ballenger JJ,1994 ; Dhingra PL,
2007; Hilger PA,199

Fungsi Dari Hidung


Fungsi dari hidung adalah untuk menghangatkan, membersihkan, dan
melembabkan udara yang anda napas serta membantu anda untuk membaui dan
mencicipi. Seorang yang normal akan menghasilkan kira-kira dua quarts (1 quart = 0,9
liter) cairan setiap hari (lendir), yang membantu dalam mempertahankan saluran
pernapasan bersih dan lembab. Rambut-rambut mikroskopik yang kecil (cilia) melapisi
permukaan-permukaan dari rongga hidung, membantu menghapus partikel-partikel.
Akhirnya lapisan lendir digerakan ke belakang tenggorokan dimana ia secara tidak sadar
ditelan. Seluruh proses ini diatur secara ketat oleh beberapa sistem-sistem tubuh.
Rongga hidung ditutupi dengan selaput lendir yang dapat dibagi menjadi dua
wilayah, nonolfactory dan penciuman epitel, di daerah ini non penciuman mencakup
ruang depan hidung yang ditutupi dengan kulit seperti stratifikasi sel epitel skuamosa, di
mana sebagai daerah pernapasan, yang memiliki saluran udara epitel khas ditutupi
dengan banyak mikrovili, sehingga luas permukaan besar yang tersedia untuk penyerapan
obat dan transportasi (Sarkar MA, 1992). Dengan cara ini lapisan lendir dalam arah
didorong dari anterior ke bangsal bagian posterior rongga hidung. Sel-sel goblet yang
hadir dalam selaput lendir yang meliputi konka hidung dan atrium, melainkan
mengeluarkan mucus sebagai butiran lendir yang bengkak pada cairan hidung untuk
berkontribusi pada lapisan lendir.

5
Sekresi lendir terdiri dari sekitar 95% air, Mucin 2%, 1% garam, 1% protein lain
seperti albumin, imunoglobulin, lisozim dan laktoferin, dan 1% lipid (Kaliner M et al.,
1984). Sekresi lendir memberikan perlindungan kekebalan terhadap inhalasi
bakteriofagria dan viruses juga melakukan sejumlah fungsi fisiologis.
1) Ini mencakup mukosa, melindungi fisik dan enzimatis tersebut.
2) lendir ini memiliki kapasitas menahan air.
3) Ini menunjukkan permukaan kegiatan listrik.
4) Ini memungkinkan perpindahan panas yang efisien.
5) Bertindak sebagai perekat dan partikel transportasi menuju nasofaring (Bernstein JM
et al., 1997).

E. Kelebihan Intranasal Drug Delivery Sistem


 Dosis yang diperlukan untuk efek farmakologinya dapat dikurangi
 Konsentrasi rendah dalam sirkulasi sistemik dapat mengurangi efek samping
sistemik
 Area permukaan untuk absorpsi luas ( 160 cm3 )
 Onset of action yang cepat
 Aktivitas metabolisme yang rendah dibandingkan peroral, menghindari reaksi
saluran cerna metabolisme hati
 Bentuk sediaan alternative, jika tidak dapat digunakan obat saluran cerna
6
 Mudah diakses untuk penghantaran obat

F. Kekurangan Intranasal Drug Delivery Sistem


 Difusi obat terhalang oleh mucus dan ikatan mucus
 Mukosa nasal dan sekresinya dapat mendegradasi obat
 Iritasi lokal dan sensitivisasi obat harus diperhatikan
 Mucociliary clearance mengurangi waktu retensi obat dalam rongga hidung
 Kurang reproduksibilitas pada penyakit yang berhubungan dengan rongga hidung
 Hanya untuk obat yang poten (dosis kecil) dengan ukuran partikel 5 – 10 µm

G. Jenis Sediaan Intranasal

Pemilihan bentuk sediaan tergantung pada obat yang digunakan, indikasi, pasien dan
pemeriksaan terakhir.Empat formulasi dasar yang harus dipertimbangkan, yaitu larutan,
emulsi dan bubuk kering.

 Semprot hidung
Ketersediaan pompa dosis terukur dan , nasal spray dapat memberikan dosis yang tepat
25-200 um. Ukuran partikel dan morfologi dari obat dan viskositas formulasi menentukan
pilihan pompa dan perakitan.
 Tetes hidung
Tetes hidung adalah salah satu yang paling sederhana dan nyaman dikembangkan untuk
penghantaran. Kerugian utama dari ini adalah kurangnya presisi dosis tetes hidung
mungkin tidak cocok untuk produk resep.
 Nasal Gel
Keuntungan dari nasala gel yaitu pengurangan dampak rasa karena mengurangi menelan,
pengurangan kebocoran anterior formulasi,pengurangan iritasi dengan
menggunakan eksipien menenangkan / emolien dan sasaran pengiriman ke mukosa untuk
penyerapan yang lebih baik.
 Nasal Bubuk
Ini bentuk sediaan dapat dikembangkan jika solusi dan onionic bentuk sediaan tidak
dapat dikembangkan misalnya, karena kurangnya obat stabilitas. Keuntungan untuk

7
bentuk sediaan serbuk hidung adalah tidak adanya bahan pengawet dan stabilitas
superior formulasi. Namun, kesesuaian bubuk formulasi tergantung pada kelarutan,
ukuran partikel, sifat aerodinamis dan iritasi hidung obat aktif dan / atau bahan pembantu
tetapi iritasi mukosa hidung dan pengiriman dosis terukur adalah beberapa tantangan
formulasi. Umumnya, penyerapan bertindak melalui salah satu dari mekanisme berikut:
− Menghambat aktivitas enzim;
− Mengurangi kekentalan lendir atau elastisitas;
− Penurunan pembersihan mukosiliar;
− melarutkan atau menstabilkan obat.

8
BAB III

PEMBAHASAN

G. Pelapasan obat secara intranasal


Proses penggunaan DDS Intranasal dapat melalui penghantaran dua arah dengan laju
nafas, sebagai berikut :
 Ketika nafas dikeluarkan ke dalam alat, langit-langit lunak secara otomatis menutup
rapat rongga hidung
 Nafas memasuki satu lubang hidung lewat mulut pipa yang menyegel
 Dan memicu pengeluaran partikel ke dalam aliran, memajukan partikel melewati klep
hidung untuk menuju tempat sasaran.
 Aliran udara melewati communication posterior ke sekat hidung dan keluar melalui
bagian hidung yang lain di jurusan berlawanan.
Sehingga proses tersebut akan menghasilkan :
> 90 % dosis obat didepositkan melalui katup nasal
> 70 % dosis didepositkan di bawah posterior 2/3 rongga nasal
 Reproducibility tinggi dari pendepositan melalui katup nasal
 Tidak ada endapan pada paru - paru.

Hal-hal yang mempengaruhi masuknya obat kedalam sirkulasi sistemik :


 Besarnya luas permukaan; contoh villi dan microcilli pada usus kecil memperluas
permukaan sehingga memudahkan absorpsi obat.
 Aktivitas metabolik yang rendah, enzim dapat mendealtifas obat yang akan
diabsorpsi, bioavaibilitas rendah dapat disebabkan oleh aktivitas enzim yang tinggi.
 Waktu kontak; waktu kontak dengan jaringan pengabsorpsi akan mempengaruhi
jumlah obat yang melalui mukosa.
 Suplai darah, darah yang cukup akan memindahkan obat dari tempat kerja ke tempat
absorpsinya.
 Aksebilitas, variasi rute penghantaran obat menunjukan berbagai daerah tertentu yang
membutuhkan bahan tambahan atau kondisi tertentu untuk membantu obat
mencapaitempat kerja.

9
 Variabilitas yang rendah
 Permeabilitas, semakin permiabel suatu epitel maka daya absorpsinyapun semakin
tinggi.

H. Konsep Dasar Penghantaran Obat


Ketika obat digunakan oleh pasien akan menghasilkan efek tertentu yang disebut efek
biologis. Efek biologis ini merupakan hasil interaksi obat dengan reseptor tertentu dari
obat. Meskipun demikian obat yang dihantarkan ke tempat kerja diatas pada kecepatan
dan konsentrasi tertentu dimana efek samping minimal dan efek terapeutik maksimal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat :
a. kelarutan obat
agar dapat diabsorpsi obat harus dalam bentuk larutan. Obat yang diberikan dalam bentuk
larutan akan mudah diabsorpsi dibandingkan obat yang harus larut dahulu dalam cairan
badan sebelum diabsorpsi.
b. kemampuan obat difusi melintasi membrane sel
obat yang berdifusi melintasi pori-pori membrane lipid kebanyakan obat diabsorpsi
dengan pasif
c. kadar obat
semakin tinggi kadar obat dalam larutan semakin cepat obat diabsorpsi
d. sirkulasi darah pada tempat absorpsi
semakin cepat sirkulasi darah maka obat yang diabsorpsi akan semakin besar.
e. luas permukaan kontak obat
untuk mempercepat absorpsi dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel obat.
f. bentuk sediaan obat
untuk memperlambat absorpsi obat dapat dilakukan dengan penggunaan obat bentuk
kerja panjang
g. rute penggunaan obat
rute pemakaian obat dapat mempengaruhi kecepatan absorpsi obat.

10
I. Perjalanan Obat Didalam tubuh
Adapun perjalanan sistem penghantaran obat ( DDS ) intranasal dalam tubuh, adalah
sebagai berikut :
1. Bentuk sediaan obat nasal dengan zat aktif
sediaan nasal diformulasikan atau dirancang dengan sedemikian rupa untuk
penggunaan efek lokal.
2. Fase biofarmasetik  obat dihisap melalui rongga hidung masuk ke dalam sirkulasi
sistemik. fase ini meliputi waktu mulai penggunaan sediaan obat melalui hidung
hingga pelepasan zat aktifnya ke dalam cairan tubuh..
3. Ketersediaan farmasi  obat siap untuk diabsorbi. obat dalam bentuk zat aktif terlarut
siap untuk diabsorpsi yang selanjutnya zat aktif akan didistribusikan keseluruh tubuh
(sistemik).
4. Fase farmakokinetik  fase ini meliputi waktu selama obat diangkut ke organ yang
ditentukan setelah obat dilepas dari bentuk sediaan.
5. Ketersediaan hayati  obat untuk memberi efek. pada tahap ini obat mulai
memberikan efek pada pasien dengan cara berikatan dengan reseptor-reseptor yang
ada pada tubuh.
6. Fase farmakodimanik interaksi dengan reseptor ditempat kerja bila obat telah
berinteraksi dengan sisi reseptor biasanya protein membrane akan menimbulkan
renspon biologik. Tujuan utama pada fase ini adalah optimisasi dari efek biologik.
7. Efek terapi →obat pada akhirnya memberikan efek terapi atau pengobatan pada
pasien. Yang diharapkan dapat memberikan kesembuhan pada pasien.

J. Mekanisme Absorbsi Intranassal


Untuk mencapai sistem vaskular, obat untuk absorbsi sistemik haruslah melewati
lapis mucus diikuti oleh apithelium. Mukus tidak akan bermasalah untuk partikel halus
tidak bernuatan. Sebaliknya partikel lebih besar atau molekul bermuatan dapat
bermasalah jika melewati lapisan ini. Salah satu faktor pembatas kecepatan selama difusi
obat melalui mukus adalah pengikatan (potensial) solute pada musin. Tipe interaksi
adalah molekul asingdan mukus elektrostatik, hidrofobik, dan gaya van der waals.
Struktur mukus sangat peka terhadap lingkungannya, berarti gangguan pH,suhu, tekanan

11
osmotic, dan sebagainya dapat menginduksi perubahan struktur lapisan ini. Sifat dinamik
mukus dapat menyebabkan variasi transfer molekul dan lokasi penghantaran menuju
epitel. Begitu melewati mukus, obat dapat melewati mukosa nasal menurut mekanisme
yang berbeda
 Mekanisme Pertama
Rute Ini melibatkan gerakan melalui ruangan antar sel dan pertemuan sel yang ketat(
rapat) dikenal sebagai rute paracellular rute ini berjalan lambat dan terutama untuk
molekul hidrofilik kecil. Ukuran antar ruang sel tersebut kurang dari 10 A0. Rute
paracellular akan kurang efisien untuk molekul besar dan tergantung pada berat molekul
obat dengan ukuran molekul umum 1000 Dalton.
 Mekanisme Kedua
Rute Ini melibatkan transportasi melalui rute lipoidal dan juga dikenal sebagai proses
transelular transeluler atau cara sederhana dan difusi membran melalui pori atau
pembawa. jalur ini bertanggung jawab untuk pengangkutan obat lipofilik oleh
konsentrasi tergantung proses difusi pasif yang efisien, oleh reseptor atau pembawa dan
dengan mekanisme transportasi vesikular. Jalur ini sangat cocok untuk molekul lipofilik
kecil atau molekul besar.

Setelah melewati mukosa nasal obat akan ditransfer dari jaringan mnuju hidung menuju
sitem syarat pusat(SSP). Tiga mekanisme potensial untuk penghantsr obat dari hidung
langsung menuju otak yaitu:
 Obat mencapai sirkulasi sitemik selanjutnya dapat melewati jaringan darah menuju
otak.
 Obat dapat melewati epithelium olfakotri melalui difusi sederhana dimediasi
resepotor, atau transfer paraseluler, selanjutnya zat dapat menuju saraf, sistem saraf
pusat, atau memasuki otak melalui lamina propria.
 Obat dapat diambil melaui sel neuronal saraf olfaktori, mengalami transport aksonal
intraseluler dan memasuki otak melalui bulus olfaktori. Kemungkian penetrasi
langsung menuju SSP diperlukan untuk beberapa macam obat.

12
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan obat dihidung :
Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat hidung dijelaskan sebagai berikut.
1. Sifat fisiko kimia obat
 Keseimbangan Lipofilik-hidrofilik
Sifat HLB dari obat mempengaruhi proses penyerapan. Dengan meningkatkan
lipofilisitas, permeasi senyawa biasanya meningkat melalui mukosa hidung.Meskipun
mukosa hidung ditemukan memiliki beberapa karakter hidrofilik, tampak bahwa
mukosa ini terutama lipofilik di alam dan domain lipid memainkan peran penting dalam
fungsi penghalang membran ini.Obat lipofilik seperti nalokson, buprenorfin, testosteron
dan etinilestradiol hampir sepenuhnya diserap bila diberikan rute intranasal.
 Degradasi enzimatik dalam rongga hidung
Obat seperti peptida dan protein memiliki bioavailabilitas yang rendah di rongga
hidung, sehingga obat ini mungkin memiliki kemungkinan untuk mengalami degradasi
enzimatik dari molekul obat dalam lumen rongga hidung atau sewaktu melewati
penghalang epitel.Pada ke dua bagian initerjadi exo-peptidases dan endo-peptidases,
exo-peptidases adalah mono-aminopeptidases dan di-aminopeptidases. Ini memiliki
kemampuan untuk membelah peptida pada mereka N dan C termini dan endo-
peptidases seperti serin dan sistein, yang dapat menyerang ikatan peptida internal.
 Ukuran molekul
Penyerapan obat melalui rute hidung dipengaruhi oleh ukuran molekul. Obat lipofilik
memiliki hubungan langsung antara MW dan permeasi obat sedangkan senyawa yang
larut dalam air menggambarkan hubungan terbalik. Tingkat permeasi sangat sensitif
terhadap ukuran molekul untuk senyawa dengan MW ≥ 300 Dalton.
2. Karakteristik sediaan Obat Intranasal
 Formulasi (Osmolaritas, pH, Konsentrasi)
a. Osmolaritas bentuk sediaan mempengaruhi penyerapan obatdi hidung.
Sebagai contoh ialahnatrium klorida yang mempengaruhi penyerapan hidung.
Penyerapan maksimum dicapai dengan konsentrasi natrium klorida 0.462 M,
konsentrasi yang lebih tinggi tidak hanya menyebabkan bioavailabilitas
meningkat tetapi juga mengarah pada toksisitas pada epitel hidung.

13
b. pHsediaan obat dan permukaan hidung dapat mempengaruhi permeasi obat
ini. Untuk menghindari iritasi hidung, pH sediaan obat harus disesuaikan
dengan pH 4,5 - 6,5 karena lisozim ditemukan di sekret hidung, yang
bertanggung jawab untuk menghancurkan bakteri tertentu pada pH asam.
Dalam kondisi basa, lisozim tidak aktif dan jaringan yang rentan terhadap
infeksi mikroba. Selain menghindari iritasi, itu menghasilkan memperoleh
permeasi obat efisien dan mencegah pertumbuhan bakteri.
c. Gradien konsentrasi memainkan peran yang sangat penting dalam proses
penyerapan/permeasi obat melalui membran hidung karena kerusakan mukosa
hidung. Contoh untuk ini adalah penyerapan L-Tirosin, dimana konsentrasi
obat dalam percobaan perfusi hidung. Sedangkanpada absorpsi asam salisilat
konsentrasi obatnyamenurun. Penurunan ini kemungkinan karena kerusakan
mukosa hidung yang permanen.
 Distribusi Obat dan deposisi
Distribusi obat dalam rongga hidung merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi efisiensi penyerapan hidung. Modus pemberian obat dapat
mempengaruhi distribusi obat di rongga hidung yang pada gilirannya akan
menentukan efisiensi penyerapan obat. Penyerapan dan bioavailabilitas bentuk
sediaan hidung terutama tergantung pada lokasi disposisi. Bagian anterior hidung
menyediakan waktu perumahan berkepanjangan hidung untuk disposisi dari
formulasi, hal ini akan meningkatkan penyerapan obat. Dan ruang posterior dari
rongga hidung akan digunakan untuk pengendapan bentuk sediaan, melainkan
dihilangkan oleh proses pembersihan mukosiliar dan karenanya menunjukkan
bioavailabilitas rendah. Situs disposisi dan distribusi bentuk sediaan terutama
tergantung pada pengiriman perangkat, cara pemberian, sifat fisikokimia molekul
obat.
 Viskositas
Viskositas yang lebih tinggi dari formulasi meningkatkan waktu kontak antara
obat dan mukosa hidung sehingga meningkatkan waktu untuk permeasi. namun,
formulasi sangat kental akan mengganggu fungsi normal seperti pergerakan silia
atau clearance mukosiliar dan dengan demikian mengubah permeabilitas obat.

14
3. Sifat anatomi dan fisiologis dari rongga hidung
 Mukosiliar
Partikel terperangkap dalam lapisan lendir yang yang akan terbersihkan dari
rongga hidung. Aksi gabungan lapisan lendir dan silia disebut kliren
mukosiliar.Ini adalahmekanisme pertahanan fisiologis saluran pernapasan untuk
melindungi tubuh terhadap bahan berbahaya yang telah dihirup.Waktu transit
yang normal mukosiliar pada manusia telah dilaporkan 12 sampai 15 menit.
Faktor-faktor yang mempengaruhi izin mucocilliary meliputi faktor fisiologis
(umur, jenis kelamin, postur, tidur, olahraga, polusi lingkungan umum (sulfur
dioksida dan asam sulfat, nitrogen dioksida, ozon, hairspray, dan asap tembakau,
penyakit (silia sindrom immotile, primary ciliary dyskinesia-Kartagener.s
syndrome, asma, bronkiektasis, bronkitis kronis, cystic fibrosis, infeksi saluran
pernapasan akut dan obat-obatan.
 Rhinitis
Rhinitis adalah penyakit umum yang paling sering dikaitkan pada pengobatan
intranasal, penyakit ini akan mempengaruhi bioavailabilitas obat. Hal ini terutama
diklasifikasikan ke dalam rhinitis alergi dan umum, gejalanya adalah hipersekresi,
gatal dan bersin terutama disebabkan oleh virus, bakteri atau iritan.Alergi rhinitis
adalah penyakit alergi saluran napas, yang mempengaruhi 10% dari populasi.Hal
ini disebabkan oleh peradangan kronis atau akut selaput lendir hidung.Kondisi ini
mempengaruhi penyerapan obat melalui selaput lendir akibat peradangan.
 Permeabilitas membran
Permeabilitas membran hidung adalah faktor yang paling penting, yang
mempengaruhi penyerapan obat melalui rute hidung.Obat yang larut air dengan
berat molekul yang besar seperti peptida dan protein memiliki permeabilitas
membran yang rendah. Jadi senyawa seperti peptida dan protein yang utama
diserap melalui proses transportasi endocytotic dalam jumlah rendah. Obat yang
larut dalam air dengan berat molekul yang besar melintasi mukosa hidung secara
difusi pasif melalui pori-pori berair.
 pH Lingkungan

Biofarmasi – Drug Delivery Sistem Intranasal


15
pH lingkungan memainkan peran penting dalam efisiensi penyerapan obat
intranasal.Senyawayang larut dalam air seperti asam benzoat, asam salisilat, dan
alkaloid menunjukkan bahwa penyerapan obat bergantungkepada nilai-nilai pH
dimana senyawa ini dalam bentuk tidak terionisasi. Namun, pada nilai pH dimana
senyawa ini sebagian terionisasi, penyerapan substansial ditemukan.Ini berarti
bahwa bentuk lipofilik tidak terionisasi melintasi penghalang epitel hidung
melalui rute transelular, dimana bentuk terionisasi yang lebih lipofilik melewati
rute paracellular berair.

K. Perbedaan Intranasal DDS dengan Konvensional


Pemberian obat secara nasal sekarang ini adalah cara yang popular untuk
menangani penyakit pernafasan dan juga mengatur pemberian obat-obatan bebas(OTC)
pada kondisi sinus, seperti hidung mampet atau alergi. Semprotan nasal, botol tekan, atau
obat tetes hidung adalah sebagian dari metode pemberian obat langsung yang umum dan
biasanya dipilih oleh konsumen pada swamedikasi ataupun pada obat resep untuk pilek
atau alergi. Untuk pasien yang tidak menyukai cara spray/semprotkedalam hidung atau
bagi pasien yang tidak memungkinkan adanya terapi nebulisasi,dapat digunakan cara
oles/swab. Beberapa pabrik obat sedang mengembangkan cara penggunaan aplikator
dosis tunggal, yang dapat melapisi lubang hidung dengan cairan atau gel. Pada pilek,
selain untuk mengobati, swab juga dapat terserap oleh saluran hidung.
Pada intinya, pemberian obat langsung ke hidung/daerah nasal adalah dosis yang
digunakan adalah seminimal mungkin, karena tidak sperti oral, yang harus
memperhatikan metabolisme lintas pertama di hati. Alat penyemprot/sprayer juga
memiliki peranan penting. Penggunaan sprayer tradisional akan memiliki perbedaan jika
digunakan oleh remaja dan orangtua, karena kekuatan penyemprotan yang berbeda.
Untuk itu, banyak perusahaan farmasi yang mengembangkan alat yang dapat mengukur
jumlah obat yang dikeluarkan secara simultan. NDA (New Drug Application)
menentukan bahwa pemberian obar nasal untuk gejala ataupun penyakin radangselaput
lendir, hanya untuk pasien 12 tahun ke atas.

16
Pada pemberian obat nasal menggunakan spray yang biasa, cairan berfungsi
sebagai pembawa, obat/zat aktif hanya sebagian kecil dari total keseluruhan cairan
tersebut. Tantangan formulasinya adalah mencari formula yang tidak akan merugikan
pasien dan dapat diabsorpsi dengan baik oleh hidung, tetapi secara efektif dapatdipompa
oleh pompa mekanik regular.
Tantangan selanjutnya adalah membuat sediaan nasal yang juga dapat melewati
sawar darah otak. Umumnya, tradisional spray nasal, hanya mencapai sepertiga mukosa
nasal, untuk itu banyak perusahaan farmasi yang mengembangkan sistem dispersi yang
dapat memungkinkan obat dapat mencapai seluruh permukaan mukosanasal hingga
paranasal. Teknologi seperti ini juga dapat digunakan untuk obat topikalagar dapat
berpenetrasi lebih dalam dan obat oral agar dapat diasorpsi lebih baik lagi.Saat ini banyak
dikembangkan obat nasal tanpa pengawet, yang dapat mengiritasihidung dan mukosa.
Selain itu, dikembangkan juga alat yang dapat mengirimkan obat menggunakan aktuator
samping (side actuator), bukan melaui bagian atas alat tersebut. Drug delivery system
intranasal atau sistem penghantaran obat intranasal adalah suatu teknologi penyampaian
obat yang khas, diciptakan agar obat dapat mencapai tempat kerja di intranasal lebih
optimal. Perbedaan DDS intranasal dengan sediaan oral untuk penyakit nasal adalah
tanpa proses ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme,eksresi), sehingga efek obat akan
cepat tercapai, karena pemberiannya yang langsung mencapai tempat kerjanya.

L. Kelebihan DDS intranasal disbanding dengan sediaan konvensional


1. Dapat digunakan untuk berbagai macam terapi pengobatan, seperti:
Kulit Pengobatan : Obat :
Rhinitis Steroid
Rhinosinusitis Antihistamin
Polip hidung Immune modulators
Sinusitis akut Decongestan
Flu vaksin
Vaksin
sistemik Pengobatan : Neuroaktif protein dan
Migraine dan sakit kepala polipepetida

17
Insomnia dan penenang Obat polar yang diabsorpsi
Obesitas sedikit pada GI
Diabetes 1 dan 2
otak Migraine dan sakit kepala Neuroaktif protein dan
Insomnia dan penenang polipepetida
Obesitas Obat polar yang diabsorpsi
Diabetes 1 dan 2 sedikit pada GI
Alzeimer dan Parkinson

2. Target pemberian obat pada penanganan penyakit melalui daerah sekitar saluran nasal
3. Pada bentuk obat konvensional, kerja tidak langsung pada tempatnya
4. Jatuhnya obat langsung pada tempat kerja
 Alat DDS nasal modern(jatuhnya obat ditengah meatus)
 Alat DDS nasal konvensional (obat harus di hirup terlebih dahulu, jadi obat tidak
menuju tempat kerja langsung)
5. Dosis obat dapat diabsorbsi pada saluran nasal dengan maksimum (> 90%)

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Pelepasan obat intranassal berupa serbuk atomizasi masuk ke hidung melewati lapis tipis
mucus diikuti oleh apithelium. Begitu melewati mukus obat dapat melewati mukosa nasal
menurut mekanisme yang berbeda yaitu : Mekanisme pertama yaitu melibatkan rute
berair transportasi yang dikenal dengan proses paraselular, mekanisme kedua yaitu
melibatkan transportasi melalui rute lipodial yang dikenal sebagai proses transelular.
Setelah melewati mukosa nasal obat akan ditransfer dari jaringan menuju hidung menuju
sitem syarat pusat(SSP).
2. Perjalanan sistem penghantaran obat ( DDS ) intranasal dalam tubuh meliputi bentuk
sediaan obat nasal dengan zat aktif dihirup melalui rongga hidung masuk ke sirkulasi
sistemik, terjadi pelepasan zat aktifnya ke dalam cairan tubuh dan obat dalam zat aktif
yang terlarut siap diabsorbisi dan distribusikan keseluruh tubuh, selanjutnya masuk ke
fase farmakokinetik dimana obat diangkut ke organ yang ditentukan dan memberikan
efek, lalu obat akan berinteraksi dengan reseptor di tempat kerja, dan obat pada akhirnya
memberikan efek terapi atau pengobatan pada pasien.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi DDS intranasal:
a. Sifat Fisiko kimia Obat : Keseimbangan lipofilik-hidrofilik, Degradasi enzimatik
dalam rongga hidung, Ukuran molekul.
b. Karakteristik sediaan Obat Intranasal : Formulasi (Konsentrasi, pH, osmolaritas),
Obat distribusi dan deposisi, Viskositas
c. Sifat anatomi dan fisiologis dari rongga hidung : Mukosiliar, Dingin, rhinitis,
Permeabilitas membran, pH lingkungan
Video 1 : Nose to brain
Video 2 : Nasal allergy
Video 3 : Cara penggunaan Nasal spray

19
DAFTAR ISI

M.Alagusundaram, et.al. 2010. Nasal Drug Delivery System. Department of Pharmaceutics,


Annamacharya College of Pharmacy, India.

Akhtar Ali, et al. 2012. intranasal drug delivery system. Institute of Pharmacy, Bundelkhand
University, Jhansi (U.P), India

Shargel., leon, Yu., Andrew, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, AIrlangga


University Press, Surabaya.

ANSEL H.C. :Introduction to Pharmaceutical Dosage Form.Lea Febiger. Philadelphia.1969. p.


54 - 70.

20
Jawaban Pertanyaan Presentasi

1. Sebutkan kekurangan dan kelebihan dari sediaan intranassal


Pertanyaan dari Nurhilyah Ailah 16330747
Jawab :

Kekurangan dari Intranasal Drug Delivery Sistem :


 Difusi obat terhalang oleh mucus dan ikatan mucus
 Mukosa nasal dan sekresinya dapat mendegradasi obat
 Iritasi lokal dan sensitivisasi obat harus diperhatikan
 Mucociliary clearance mengurangi waktu retensi obat dalam rongga hidung
 Kurang reproduksibilitas pada penyakit yang berhubungan dengan rongga hidung
 Hanya untuk obat yang poten (dosis kecil) dengan ukuran partikel 5 – 10 µm

Keuntungan dari Intranasal Drug Delivery Sistem :

 Pencegahan eliminasi lintas pertama hepatic, metabolisme dinding salur cerna atau
destruksi obat di salur cerna, kecepatan dan jumah absorpsi
 Profil konsentrasi obat versus waktu relative sebanding dengan pengobatan secara
intravena
 Keberadaan vaskulator yang besar dan struktur yang sangat permeabel mukosa
nasal ideal untuk absorpsi sistematik
 Pemberian serta kenyamanan obat secaraintra nasal untuk pasien
 Dosis yang diperlukan untuk efek farmakologinya dapat dikurangi
 Konsentrasi rendah dalam sirkulasi sistemik dapat mengurangi efek samping
sistemik
 Bentuk sediaan alternative, jika tidak dapat digunakan obat saluran cerna

2. Perbedaan intranassal konfensional dengan obat baru


Pertanyaan dari Ika Pusma Desi 16330755
Jawab :
1. Sediaan intanassal dapat digunakan untuk berbagai macam terapi pengobatan,
seperti:
Kulit Pengobatan : Obat :
Rhinitis Steroid
Rhinosinusitis Antihistamin

21
Polip hidung Immune modulators
Sinusitis akut Decongestan
Flu vaksin
Vaksin
sistemik Pengobatan : Neuroaktif protein dan
Migraine dan sakit kepala polipepetida
Insomnia dan penenang Obat polar yang diabsorpsi
Obesitas sedikit pada GI
Diabetes 1 dan 2
otak Migraine dan sakit kepala Neuroaktif protein dan
Insomnia dan penenang polipepetida
Obesitas Obat polar yang diabsorpsi
Diabetes 1 dan 2 sedikit pada GI
Alzeimer dan Parkinson

2. Target pemberian obat pada penanganan penyakit melalui daerah sekitar saluran nasal
3. Pada bentuk obat konvensional, kerja tidak langsung pada tempatnya
4. Pada bentuk obat baru jatuhnya obat langsung pada tempat kerja
 Alat DDS nasal modern (jatuhnya obat ditengah meatus)
 Alat DDS nasal konvensional (obat harus di hirup terlebih dahulu, jadi obat tidak
menuju tempat kerja langsung)
5. Dosis obat dapat diabsorbsi pada saluran nasal dengan maksimum (> 90%)

22
i