Lapsus Colles Fraktur
Lapsus Colles Fraktur
Fraktur Colles
Disusun Oleh :
Eva Oktavianti
112017011
Pembimbing :
1
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebun Jeruk – Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus: Kamis, 19 Desember 2018
SMF ILMU PENYAKIT BEDAH
RUMAH SAKIT: RS IMANUEL WAY HALIM – BANDAR LAMPUNG
....................
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat, tanggal lahir : 7/12/1973 (45 tahun) Suku Bangsa : Jawa
Status Perkawinan : Menikah Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan : SMA
Alamat : desa Sukabumi, kecamatan Tanggal masuk RS : 7-12-2018 , Jam 07.50
Sukabumi, Bandar Lampung WIB
A. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal : 7 Desember 2018 Jam : 19.00 WIB
2
Keluhan utama :
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada dan tangan beberapa menit sebelum masuk Rumah
Sakit.
Riwayat keluarga:
Pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit serupa pada keluarga. Riwayat hipertensi (-), DM
(-), penyakit jantung (-), riwayat asma (-). Riwayat keganasan (-), Riwayat batu empedu (-).
STATUS UMUM
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis ( GCS 15 = E4 V5 M 6 )
Keadaan gizi :
TTV
Tekanan darah : 110/80 mmHg
3
Frekuensi napas : 20 kali/menit
Frekuensi nadi : 95 kali/menit
Suhu : 36,5 ºC
Kulit
Warna sawo matang, hiperpigmentasi (-), kulit normotermi, kelembapan lembab, tekstur halus,
sianosis (-), ikterik (-)
Kepala
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak langsung (+/+)
Telinga : selaput pendengaran tidak hiperemis, refleks cahaya +/+
Hidung : tidak ada kelainan
Tenggorokan : tidak hiperemis, tidak ada kelainan lain
Leher : KGB dan tiroid tidak tampak membesar
Thoraks
Paru-paru
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, bentuk dada pectus pectinatum, tidak
ada lesi kulit,dan bekas luka operasi, tidak ada retraksi sela iga
Palpasi : nyeri tekan (-), benjolan (-),tidak ada retraksi sela iga, simetris saat
statis dan dinamis
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Perkusi : Batas atas: ICS II linea parasternal sinistra
Batas kanan: ICS V, linea parasternal dekstra
Batas kiri: ICS V 1 jari medial dari linea midclavicular sinistra
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV midclavicular kiri, kuat angkat
4
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Katup Aorta : BJ 2 > BJ 1
Katup Pulmonalis : BJ 2 > BJ 1
Katup Mitral : BJ 1 > BJ 2
Katup Trikuspid : BJ 1 > BJ 2
Abdomen
Inspeksi : warna kulit sawo matang, tidak ada lesi, datar, perut buncit
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi :
Hati : tidak teraba membesar
Limpa : tidak teraba membesar
Ginjal kiri : nyeri (-), ballotement (-), bimanual (-), CVA (-)
Ginjal kanan : nyeri (-), ballotement (-), bimanual (-), CVA (-)
Murphy sign : negatif
Mcburney : negatif
Lain-lain : nyeri tekan pada epigastrium (-)
Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas (lengan & tungkai)
Tonus: normotonus
Massa: normal
Sendi: normal
Kekuatan : 0 5+ Sensori : + +
5+ 5+ + +
Edema : + _ Sianosis _ _
_ _ _ _
5
Refleks
Refleks Tendon Kanan Kiri
Bisep Tidak bisa dilakukan +
Trisep Tidak bisa dilakukan +
Patela + +
Achiles + +
Refleks kulit + +
Refleks patologis _ _
2. STATUS LOKALIS
Kepala dan Leher : vulnus laceratum frontal sinistra 2x7 cm
Ekstremitas : Regio Carpal Dextra fraktur +
Inspeksi : datar (-), cembung (-), cekung (-), luka bekas operasi (-), massa (-)
Palpasi : Nyeri tekan (+) pergelangan tangan kanan, hangat +, oedem +
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
CBC (tanggal : 7 Desember 2018)
Nama Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
Hematologi Lengkap
Ht 44 35-47 %
6
Eosinofil 1 1-6%
Batang ↓ *0 3-5%
Limfosit ↓ *7 30-45%
Monosit 6 2-10%
Index eritrosit
MCV 85.8 80-100 fL
MCH 27.2 26-34 pg
Hemostasis
Masa Perdarahan / BT 2 1-3 menit
Masa Pembekuan / CT 10 9-15 menit
Karbohidrat
Glukosa Rapid Sewaktu 131 <150 mg/dL
b. Radiologi
7
Gambar 1 : X foto Thoraks posisi PA
8
Cor tampak membesar, apex tertanam pada diafragma (CTR 61,1%)
Sinus dan diafragma normal.
Pulmo : Tampak gambaran infiltrat di lapang atas lateral kiri. Tidak
tampak gambaran kranialisasi.
Foto Thorakolumbal : Curve dan alignment tampak masih dalam batas normal
Besar, bentuk dan struktur trabekula vertebra thoracolumbal yang
masih dalam batas normal.
Discus & foramen intervebtebralis tidak menyempit. Paedicle
dalam batas normal.
Tidak tampak gambaran garis fraktur. Tampak gambaran osteofit
pada corpus vertebra lumbalis.
Foto Wrist Join Dextra : Tampak gambaran fraktur os radius 1/3 distal dextra dengan
displacement segment distal ke dorsal.
Sela sendi & permukaan sendi tampak masih dalam batas normal.
Tidak tampak lesi litik/sklerotik.
Kesan :
9
c. EKG (tanggal 7 Desember 2018)
Resume
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada dan tangan kanan sejak ± beberapa menit
SMRS. Awalnya pasien sedang ngecat rumah dan pasien terjatuh dari lantai dua ketinggian 5
meter, tampak fraktur pada bagian pergelangan tangan kanan dan luka robek pada dahi ± 5 cm,
pasien mengaku sulit bernafas dan dada sesak.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan Nyeri tekan pada pergelangan tangan kanan, hangat, udem (+),
dan Pemeriksaan darah lengkap hemoglobin 14,0 g/dL, menjadi 13,4 g/dL, terakhir 12,6 g/dL
Leukosit 21.790/mm3, sedangkan foto thoraks, foto thoracolumbal dan wrist join dextra terkesan
gambaran contusio pulmonum sinistra, kardiomegali DD ec. posisi tanpa bendungan paru,
gambaran fraktur os radius 1/3 distal dextra (Colles fracture)
10
Diagnosis Kerja
Diagnosis Banding
Contusio paru
Internal bleeding minimal
Penatalaksanaan
Medikamentosa
IVFD RL 1500cc/24 jam
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
Non- Medikamentosa
Konsultasi spesialis bedah
Puasa
Jika USG tidak ada pendarahan cek CBC serial, Jika Hb turun rencana operasi
Prognosis
Follow Up
7 Des 2018 S: pasien masih mengeluhkan nyeri dada dan tangan kanan
15.00 O: TD : 110/70 mmHg
HR : 80 kali/menit
RR : 20 kali/menit
Suhu : 36 ºC
Rontgen Thorax : (terlampir)
11
EKG (terlampir)
CBC (terlampir)
Hb 13.4
A : Fraktur colles dextra, contusio paru, internal bleeding
P : pasien dipuasakan
Terapi tambahan:
Asam tranexamat 1000mg drip dalam RL
Laporkan hasil CBC serial kembali
7 Des 2018 S : nyeri ulu hati, nyeri pada tangan kanan hilang timbul, sesak sudah mulai
17.00 berkurang
O : TD : 130/90 mmHg
HR : 80 kali/menit
RR : 20 kali/menit
Suhu : 36,4 ºC
Hb: 12,6
A : Fraktur colles dextra, contusio paru, internal bleeding
P : Tetap puasa
Rencana besok operasi cito reposisi
12
BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur radius distal ataupun Fraktur Colles adalah salah satu dari macam fraktur yang
biasa terjadi pada pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan tangan
menumpu dan biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila seseorang jatuh dengan
tangan yang menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku, dan kemudian menyebabkan tangan
memutar dan menekan lengan bawah. Jenis luka yang terjadi akibat keadaan ini tergantung usia
penderita. Pada anak-anak dan lanjut usia, akan menyebabkan fraktur tulang radius.
Fraktur radius distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa.
Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis pada
tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. Ini adalah fraktur yang paling
sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan
osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh
pada tangan yang terentang.
Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan
persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal,
radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus
styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial
menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal. Momok cedera tungkai atas adalah kekakuan,
terutama bahu tetapi kadang-kadang siku atau tangan. Dua hal yang harus terus menerus diingat :
(1) pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi berkonsentrasi pada
pengembalian gerakan;
(2) apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus mendapatkan latihan
sejak awal.1,2
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.1 Cedera yang digambarkan oleh Abraham Colles
pada tahun 1814 adalah fraktur melintang pada radius tepat di atas pergelangan tangan, dengan
pergeseran dorsal fragmen distal.2
EPIDEMIOLOGI
Fraktur distal radius terutama ‘fraktur Colles’ lebih sering ditemukan pada wanita, dan jarang
ditemui sebelum umur 50 tahun. Secara umum insidennya kira-kira 8 – 15% dari seluruh fraktur
dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari suatu survey epidemiologi yang dilakukan di Swedia,
didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada lengan bawah merupakan fraktur distal radius.
Umur di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria
dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur Colles lebih kurang 60% dari seluruh fraktur
radius. Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia
terbanyak dikenai adalah antara umur 50 – 59 tahun.2
usia lanjut
postmenopause
osteoporosis
kurang gizi
14
aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding
kekerasan
ACR (albumin-creatinin ratio) yang tinggi efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan
sekresi 1,25-dihidroksivitamin D, yang menyebabkan malabsoprsi kalsium.1,2,3
ANATOMI
Tulang radius ke arah distal membentuk permukaan yang lebar sampai persendian dengan tulang
carpalia. Dan peralihan antara dense cortex dan cancellous bone pada bagian distal merupakan
bagian yang sangat lemah dan mudah terjadi fraktur. Penting sekali diketahuii kedudukan
anatomis yang normal dari pergelangan tangan, terutama posisi dari ujung distal radius.
1. Radial height :
Yaitu jarak proccesus styloideus radii terhadap ulna. Diukur dari jarak antara garis
horizontal yang ditarik melalui ujung procesus styloideus radii dan melalui ujung distal
ulna. Ukuran normalnya kira-kira 1 cm.
2. Derajat “ulna tilt” atau “ulna deviation” dari permukaan sendi ujung distal radius
pada posisi anterior posterior.
Normal, permukaan sendi ini letaknya miring menghadap ke ulnar. Derajat miringnya
diukur dari besarnya sudut antara garis horizontall yang tegak lurus pada sumbu radius dan
garis yang sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 15 – 30 derajat, rata-rata 23 derajat.
3. Derajat “volar tilt” (volar deviation) dari permukaan sendi radius pada posisi lateral.
Normal : permukaan sendi ini miring menghadap kebawah dan kedepan. Besarnya diukur
dengan sudut antara garis horizontal tegak lurus sumbu radius dan garis yang sesuai dengan
permukaan sendi. Normal : 1 – 23 derajat, rata-rata 11 derajat.2,3
15
Alat-alat gerak yang meliputi ini ialah :
1. Posterior :
Berbentuk cembung dan terdapat sekumpulan tendon/otot extensor yang mempunyai fungsi
ekstensi.
2. Anterior :
Berbentuk cekung dan terdapat sekumpulan tendon/otot fleksor yang mempunyai fungsi
fleksi lengan bawah dan tangan. Dan pada bagian dalam ada: m. pronator quadratus yang
berjalan menyilang dan berfungsi terutama untuk pronasi.
3. Lateral :
Tampak m. supinator longus yang mempunyai insersi pada procesus. styloideus radii yang
mempunyai fungsi utama sebagai supinasi.2,3
Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang lunatum dan navikulare
ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian distal ke arah medial. Bagian distal sendi
radiokarpal diperkuat dengan simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament radiokarpal
kolateral ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan simpai yang
memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus artikularis, yang melekat dengan semacam
meniskus yang berbentuk segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen kolateral
ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis bersama ligament radioulnar
dorsal dan volar, yang kesemuanya menghubungkan radius dan ulna, disebut kompleks rawan
fibroid triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage complex).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensinya pergelangan tangan serta
gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan ekstensi dapat mencapai 90 derajat oleh
karena adanya dua sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-kapitatum
dan sendi lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar distal adalah gerak rotasi.1
16
Gambar 1a. Sudut normal sendi radiokarpal di bagian ventral (tampak lateral)
Gambar 1b. Sudut normal yang dibentuk oleh ulna terhadap sendi radiokarpal
Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada bagian palmar (ventral)
seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur yang melibatkan angulasi ventral umumnya
berhasil baik dalam fungsi, tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal sendi
radiokarpal yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak sempurna. Gambar
1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15
- 30 derajat. Evaluasi terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah bagian
distal, karena kegagalan atau reduksi inkomplit yang tidak memperhitungkan angulasi akan
menyebabkan hambatan pada gerakan tangan oleh ulna.1
17
Anatomi dan Biomekanik Antebrakhii Distal
Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-kira 1,5 –
2 inchi distal radius. Pada tempat ini ditemui bagian tulang distal radius yang relatif lemah
karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang spongiosa dekat sendi. Dorsal
radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya tendon
ekstensor.
Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius
distal memanjang ke bawah membentuk prosesus styloideus radius dengan posisi yang lebih
rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan tempat insersi otot brakhioradialis.2
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi
radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas permukaan sendi.
Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :
4. Ligamentum Collateral.
18
Anterior
a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum flexorum dari medial ke
lateral
2) N. Ulnaris
3) A. Ulnaris
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum flexorum dari medial ke lateral
2) N. Medianus
Posterior
a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum extensorum dari medial
ke lateral
2) Vena basilica
3) Vena cepalica
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum extensorum dari medial ke lateral
19
1) Tendo musculus extensorum carpi ulnaris
20
Persarafan
1. Lateral cord
b. Musculocutaneous nerve
2. Medial cord
d. Ulnar nerve
3. Posterior cord
b. Thoracodorsal nerve
c. Axillary nerve
d. Radial nerve
a. Articulatio : antara ujung distal radius dan discus articulaticularis di sebelah tas
dengan os lunatum, os triquetrum, dan os scapoideum
1) Flexio, dilakukan oleh M. Flexor carpi radialis, M. Flexor carpu ulnaris, M. Palmaris
longus, dan dibantu otot lain
21
2) Extentio, dilakuakn oleh M. Carpi radialis longus, M. Extensor capi radialis brevis, M.
Extensor carpi ulnaris
Berdasarkan anatomi dan hubungan dengan posisi tangan pada saat jatuh, bagian yang
mungkin mengalami kerusakan adalah radius distal, ulna distal, ossa carpal serta jaringan yang
ada disekitar tulang yang mengalami fraktur.
22
Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. . Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke
daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana
garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.
Sehingga tulang yang kemungkinan mengalami fratur pada posisi tersebut adalah radius distal
dan os scaphoideum.
Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti gambar di atas, maka gaya yang kuat akan
berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya
23
bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah distal radius sebab dilihat dari struktur
jaringannya saja tulang daerah tersebut memang rawan patah.1,2,3
Sendi radioulnar distal adalah sendi antara ‘cavum sigmoid radius’ (yang terletak pada
bahagian dalam radius) dengan ulna. Pada permukaan sendi ini terdapat ‘fibrocartilago
triangular’ dengan basis melekat pada permukaaan inferior radius dan puncaknya pada prosesus
styloideus ulna. Sendi ini membantu gerakan pronasi dan supinasi lengan bawah, di mana dalam
keadaan normal gerakan ini membutuhkan kedudukan sumbu sendi radioulnar proksimal dan
distal dalam keadaan ‘coaxial’.
Adapun nilai maksimal rata-rata lingkup sendi dari pronasi dan supinasi sebagai berikut :
1. pronasi = 80 - 900
2. supinasi = 80 – 900
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini, siku
harus dalam posisi fleksi 900 sehingga mencegah gerakan rotasi pada humerus (Kaner, 1980;
Kapanji, 1983).
Sendi Radio Carpalia merupakan suatu persendian yang kompleks, dibentuk oleh radius
distal dan tulang carpalia ( os navikulare dan lunatum ) yang terdiri dari ‘inner dan outer facet’.
Dengan adanya sendi ini tangan dapat digerakkan ke arah volar, dorsal, radial dan ulnar secara
sirkumdiksi. Sedangkan gerakan rotasi tidak mungkin karena bentuk permukaan sendi ellips.
24
Menurut American Acadeny of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini
dilakukan dengan memakai goniometer, dalam posisi pronasi secara normal sendi radio carpalia
ini mempunyai sudut 1 – 230 ke arah palmar polar, jadi fraktur yang mengarah pada volar akan
mempunyai prognosa baik.2
KLASIFIKASI
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur ekstensi dari radius distal.
Namun yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan
sistem ini maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut :
25
Gambar sistem klasifikasi oleh Frykman
PATOGENESIS
Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles dapat timbul setelah penderita
terjatuh dengan tangan posisi meyangga badan.2,3
Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian
tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada
daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.
Khusus pada fraktur Colles’ biasanya fragmen distal bergeser ke dorsal, tertarik ke
proksimal dengan angulasi ke arah radial serta supinasi. Adanya fraktur prosesus styloid ulna
mungkin akibat adanya tarikan triangular fibrokartilago atau ligamen ulnar collateral
26
Berdasarkan percobaan cadaver didapatkan bahwa fraktur distal radius dapat terjadi, jika
pergelangan tangan berada dalam posisi dorsofleksi 40 – 900 dengan beban gaya tarikan sebesar
195 kg pada wanita dan 282 kg pada pria.
Pada bagian dorsal radius frakturnya sering komunited, dengan periosteum masih utuh,
sehingga jarang disertai trauma tendon ekstensor. Sebaliknya pada bahagian volar umumnya
fraktur tidak komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai dengan trauma
tendon fleksor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris. Fraktur pada radius
distal ini dapat disertai dengan kerusakan sendi radio carpalia dan radio ulna distal berupa luksasi
atau subluksasi. Pada sendi radio ulna distal umumnya disertai dengan robekan dari triangular
fibrokartilago.3,4,5
Biasanya disebabkan karena trauma langsung, atau sebagai akibat jatuh dimana sisi dorsal
lengan bawah menyangga berat badan.
Secara ilmu gaya dapat diterangkan sebagai berikut :Trauma langsung dimana lengan bawah
dalam posisi supinasi penuh yang terkunci dan berat badan waktu jatuh memutar pronasi
pada bagian proximal dengan tangan relatif terfixir pada tanah. Putaran tersebut merupakan
kombinasi tekanan yang kuat dan berat, akan memberikan mekanisme yang ideal dari
penyebab fraktur Smith.
Trauma lain diduga disebabkan karena tekanan yang mendadak pada dorsum manus, dimana
posisi tangan sedang mengepal. Ini biasanya didapatkan pada penderita yang mengendarai
sepeda yang mengalamii trauma langsung pada dorsum manus.1,2,3
MANIFESTASI KLINIS
Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi
diciptakan) dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan penonjolan punggung
pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya
terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.1
27
Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah
yang terkena.
Pada saat terjadi fraktur, terjadi kerusakan korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan
lunak. Akibat dari hal tersebut yaitu terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitar.
Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium
dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Lalu terjadilah respon inflammasi akibat sirkulasi
jaringan nekrotik dengan ditandai vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Tentunya hal tersebut
merupakan salah satu upaya tubuh untuk melakukan proses penyembuhan dalam memperbaiki
cidera, dimana tahap tersebut menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom
menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, lalu menstimulasi
histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke
interstitial. Hal tersebut menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan
ujung syaraf nyeri, sehingga terjadilah nyeri tekan. 1,2,3,4,5,6
DIAGNOSIS
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara klinis
dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi
fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang.1,2
28
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur
kominutif dan mengetahui letak persis patahannya. Pada gambaran radiologis dapat
diklasifikasikan stabil dan instabil.1,2
Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh..
Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus
ulnar sering putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan miring
ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami peremukan dan
kominutif yang hebat.2
Gambar 4. (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak masuk dalam sendi
pergelangan tangan, (c) Pergeseran ke belakang dan ke radial
Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk memperlihatkan fragmen fraktur. Dalam
evaluasi fraktur, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus styloideus ulna atau pada
collum ulna ?
29
Proyeksi lateral perlu dievaluasi untuk konfirmasi adanya subluksasi radioulnar distal.
Selain itu, evaluasi sudut radiokarpal dan sudut radioulnar juga diperlukan untuk memastikan
perbaikan fungsi telah lengkap.1,2,3,5
Pada x-ray menunjukkan fraktur angulasi dorsal dari metaphysis distal radius (2-3 cm proksimal
ke pergelangan tangan).
Fraktur yang mencapai ke persendian, disebut fraktur intra-artikular sedangkan fraktur yang
tidak mencapai persendian disebut fraktur eksta-artikular.
Dinner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada fraktur colles.
Dislokasi dan angulasi dorsal dari fragmen distal radius mengakibatkan suatu bentuk garis pada
proyeksi lateral yang menyerupai kurva garpu makan malam.1,2,3,5,7
30
Gambar . Perbandingan radiologi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
31
f. Scan tulang, tomogram, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi jaringan lunak
PENATALAKSANAAN
Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips
yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat
dalam posisinya.
Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan
traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan
tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan
menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi,
deviasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi
memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher
metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada
32
posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari;
cukup 20 derajat saja pada tiap arah.2,3,5
Gambar 5. Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke depan, (c) deviasi
ulnar. Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang basah, (f) slab
yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari
segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis atau
nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.
Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang
sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, sekalipun manipulasi
berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.
Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara
radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep
sementara.1,4,5,6
33
Gambar 6. (a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien
secara teratur
Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk
keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi
radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga.2,3
Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan
komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles tipe IA atau IB dan tipe IIA
yang boleh ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan
diserahkan pada ahli orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu
diketahui, sebagai berikut :
Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan dorsal sehingga
mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen
Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23 derajat di sebelah
palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak
Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini dapat dengan
mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang lama sampai terjadi proses
penyembuhan kecuali difiksasi.
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka
beberapa hal berikut dapat dilakukan :
34
1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional
2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese finger traps dan
siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban seberat 8-10 pon
digantungkan pada siku selama 5-10 menit atau sampai fragmen disimpaksi.
3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan menggunakan ibu
jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal menggunakan jari-jari lainnya. Bila
posisi yang benar telah didapatkan, maka beban dapat diturunkan.
4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi terhadap
pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi ulna.
5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan pemasangan
anteroposterior long arms splint
6. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah tercapai
posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya
7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam untuk
mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya dilakukan sedini
mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma.
Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan untuk fraktur
yang bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.1,2
35
Gambar 7. Reduksi pada fraktur Colles
4R:
36
Pertolongan Pertama
1. Rest.
Daerah yang mengalami fraktur harus diposisikan dalam keadaan istirahat. Beri bantalan dan
letakan pada palmar lalu balutkan secara sirkumferensial dan biarkan ujung jari terbuka,
tambahkan papan penahan di bawah pergelangan untuk mencegah pergerakan.
2. Elevate , tinggikan bagian yang patah,terutama pada 72 jam pertama untuk mereduksi
pembengkakan
Reposisi
Dilakukan apabila terjadi pergeseran yang bermakna. Dilakukan reposisi manipulatif setelah
dilakukan anestesi umum. Dilakukan dengan menekan fragmen bawah yang bergeser dengan ibu
jari operator, pada saat yang sama dilakukan rotasi pada karpus ke posisi. Lalu dipasang gips
selama 6 minggu, lakukan x- ray setelah 2 minggu untuk memeriksa formasi tulang.
Rehabilitasi
Mencegah komplikasi
Cara rehabilitasi :
1. Latihan dini seperti dengan melakukan kontraksi dan disertai gerakan pada daerah yang
terkena fraktur
37
Menggunakan anggota yang fraktur untuk aktivitas senormal mungkin, segera setelah nyeri
hilang.
KOMPLIKASI
Penting karena komplikasi ini akan mempengaruhi hasil akhir fungsi yang tidak memuaskan.
Umumnya akan selalu ada komplikasi. Menurut Cooney, hanya ada 2,9% kasus yang tidak
mengalami disabiliti dan gangguan fungsi.
A. DINI
2. Kerusakan tendon
4. Redislokasi
B. LANJUT
38
8. Kompressif Neuropathy
9. Ruptur Tendon
10. Redislokasi
11. Stiff Hands
12. Gangguan gerakan dan fungsi
13. Kontraktur Dupuytrens
BAB III
KESIMPULAN
39
DAFTAR PUSTAKA
40