Anda di halaman 1dari 34

STATUS PEMERIKSAAN

DAN PERAWATAN ORTHODONTI

NOMOR MODEL :
01

NAMA PASIEN : SENO INDARTO


OPERATOR : DILLA NOVIA AMRILANI
NO.MHS : 04074881517014
PEMBIMBING : DRG. ARYA PRASETYA B , Sp.Ort

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


STATUS PEMERIKSAAN
DAN PERAWATAN ORTHODONTI

Operator : Dilla Novia Amrilani


No.Mhs : 04074881517014
Pembimbing : drg. Arya Prasetya Beumaputra, Sp.Ort
No. Kartu :
No. Model : 01

I. IDENTITAS
Nama pasien : Seno Indarto
Umur : 12 tahun
Suku : Melayu
Jenis kelamin : Laki-laki
Status Kawin : Belum menikah
Alamat : Jl. Urip Sumoharjo Rt. 08 Rw. 02 Sekojo, Palembang
Telepon : 085838289842
Pekerjaan : Siswa
Rujukan dari :-
Nama Ayah : Sujatmiko Bambang Wibisono
Suku : Melayu
Umur : 38 tahun
Pekerjaan orang tua : Buruh
Nama Ibu : Sundari
Suku : Melayu
Umur : 35 tahun
Pekerjaan orang tua : Ibu rumah tangga
Alamat orang tua : Jl. Urip Sumoharjo Rt. 08 Rw. 02

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


II. WAKTU PERAWATAN
Pendaftaran : Tgl. 13 April 2016
Pencetakan : Tgl. 20 September 2016
Pemasangan alat : Tgl. -
Retainer : Tgl. -

III. PEMERIKSAAN KLINIS


A. Pemeriksaan Subjektif ( Anamnesis )
Keluhan Utama :
Pasien datang dengan keluhan giginya terlihat agak maju pada gigi bagian
rahang atasnya, sedangkan pada rahang bawahnya terlihat renggang.
Pasien merasa tidak nyaman karena merasa mengganggu penampilannya
sehingga pasien ingin giginya di rapikan.
Riwayat Kesehatan :
 Kelahiran : Normal
 Urutan kelahiran : Anak Ke 1 dari 2 anak
 Nutrisi : ASI 18 bulan
 Penyakit berat yang pernah diderita : Tidak ada
 Kelainan Kongenital : Tidak ada
 Lain-lain : Tidak ada
 Keterangan :
Dari riwayat kesehatan pasien, pasien tidak memiliki riwayat penyakit
yang mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan dentofasial
maupun penyakit yang dapat mengganggu proses perawatan ortodontik
yang dilakukan. Pasien juga tidak dalam perawatan dokter.

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan gigi geligi :
 Gigi Decidui :
Terdapat banyak karies
Gigi sulung yang goyang dicabut sendiri oleh orang tua tanpa
bantuan dari dokter gigi.
 Gigi Bercampur :
Adanya riwayat gigi karies
 Gigi Permanen :
Belum pernah dilakukan perawatan dokter gigi
Terdapat malposisi pada beberapa gigi posterior rahang bawah
Terdapat diastema pada gigi rahang atas dan rahang bawah
Gigi M2 desidui rahang atas sebelah kiri belum tanggal
Gigi M2 atas belum erupsi, sedangkan M2 bawah kiri sudah
erupsi.
Kebiasaan Buruk (berkaitan dengan keluhan pasien): Tidak ada

Riwayat Keluarga (berkaitan dengan keluhan pasien):


o Ayah : Memiliki lengkung rahang besar dan gigi sedikit berjejal,
hubungan rahang orthognati.
o Ibu : Terdapat diastema pada beberapa gigi atas dan bawah,
hubungan rahang orthognati.
o Saudara : Belum tumbuh gigi

B. Pemeriksaan Objektif
Umum :
 Jasmani : √ Baik Sedang Jelek

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Ket: Pasien datang dalam keadaan sehat, tidak ada deformitas dan
kelainan, sehingga perawatan orthodonti dapat dilakukan dengan
baik.
 Mental : √ Baik Sedang Jelek
Ket: Pasien dapat memahami instruksi dengan baik ketika dilakukan
pemeriksaan dan wawancara, dengan sikap yang kooperatif maka
perawatan orthodonti dapat dilakukan dengan baik.
 Status gizi :
Tinggi badan (TB): 135 cm
Berat badan (BB): 36 kg
Indeks masa tubuh (IMT) = BB( kg ) = 36 = 19,75
TB² ( m ) (1,35 )²

Over > 25
Normal 18,5-25
Under < 18,5

Kategori status gizi : Kurang √ Normal Lebih

Lokal :
a. Ekstra Oral :
 Wajah Depan
Bentuk kepala : Brakisefali √ Mesosefali Dolikosefali
Indeks kepala : Lebar kepala___ X 100 = 14,5 X 100 = 78,37
Panjang kepala 18,5
Brachycephalic > 81
Mesocephalic 76-80,9
Dolicocephalic < 75,9
Bentuk muka : Hipereuriprosop Euriprosop √ Mesoprosop
Leptoprosop Hiperleptoprosop
Indeks muka : Jarak N – GN __ X 100 = 11,6 X 100 = 87,2
Lbr Bizigomatic 13,3

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Eury prosope 79-83,9
Mesoprosope 84-87,9
Leptoprosope 88-92,9

Simetri : Simetris
Proporsi : Tidak Normal
Tonus otot mastikasi : Normal
Tonus otot bibir : Normal
Posisi bibir waktu istirahat : Tertutup
 Wajah Samping
Profil muka : Lurus Cekung √ Cembung

b. Intra Oral
 Jaringan Lunak
Gingiva : Normal
Mukosa : Normal
Lidah : Normal
Tonsil : Normal
Palatum : Tinggi
Frenulum : Fren. Labii Superior : Tinggi / Normal / Rendah
Fren. Labii Inferior : Tinggi / Normal / Rendah
Fren. Labii Lingualis : Tinggi / Normal / Rendah

Hygiene mulut : OHI-S : 0,6 √ Baik Sedang Jelek

 Pemeriksaan Gigi :
Gigi 11 labioversi Gigi 34 linguoversi
Gigi 21 labioversi Gigi 35 bukoversi
Gigi 12 labioversi Gigi 44 mesiolinguotorsiversi

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Gigi 22 labioversi Gigi 45 mesiolinguotorsiversi
Gigi 13 labioversi
Gigi 23 labioversi

V VI III II I I II III IV V
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

PE
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
V VI III II I I II III IV V

Keterangan :
K : Karies R : Radiks T : Tambalan
I : Inlay X : Telah dicabut PE : Parsial erupsi
Im : Impaksi J : Jaket O : Belum Erupsi
Ag : Agenesis B : Bridge En : Prwtn endodontik

 Analisa Fungsi
Penelanan : Normal / Tidak normal
Bicara : Lidah normal / Lidah terletak di antara gigi
Penutupan mulut : Normal / Tidak normal
Pernapasan : Mulut tertutup / Mulut terbuka
Senyum : Gusi terlihat / Normal
Kelainan TMJ : Tidak ada kelainan

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


IV. ANALISA FOTOGRAFI
A. Analisa Foto Wajah

Tricion

Glabela

Subnasal

Menton

Tampak Depan

Tampak samping
Analisa fotografi menurut Graber (1972):
 Simetris
Simetri wajah dapat dianaalisis dengan membagi wajah menjadi dua dengan
menggunakan garis tengah simetris wajah melalui titik glabela, puncak
hidung, titik tengah bibir dan titik tengah dagu.
 Proporsi ; tidak normal
Wajah dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: bagian atas (dari batas garis
rambut ke titik glabela ), bagian tengah (dari titik glabela ke tittik

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


subnasal), dan bagian bawah (dari titik subnasal ke titik menton). Proporsi
dikatakan normal apabila didapat perbandingannyaa 1/3 bagian atas, 1/3
bagian tengah, dan 1/3 bagian bawah.
 Garis orbita kanan kiri terhadap garis mulut: sejajar
 Profil muka : cembung
Untuk menentukan profil muka digunakan 4 titik anatomis yaitu glabela
( ditengah- tengah antara alis kanan dan kiri), lip contour atas (titik terdepan
dari bibir atas), lip contour bawah (titik terdepan dari bibir bawah), pogonion
(titik terdepan dari dagu pada simphisis mandibula).
Pada pasien ini profil muka cembung karena pertemuan lip contour atas dan
lip contour bawah berada didepan garis glabela – pogonion.

Kesimpulan: dari analisis fotografi didapat bahwa pasien memiliki wajah yang tidak
simetris, proporsi wajah tidak normal, garis orbita kanan dan kiri sejajar, dan
memiliki profil muka cembung.

B. Analisa Model Studi

Rahang Atas
 Arah Sagital
Inklinasi gigi insisivus : Normal / Tidak normal
Pergeseran gigi posterior : -
 Arah Transversal
Midline : Segaris / Tidak segaris
 Arah Vertikal
Infra versi : ada
Supra versi : ada

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Rahang Bawah
 Arah Sagital
Inklinasi gigi insisivus : Overbite 5,6 mm
Pergeseran gigi posterior : Gigi 34 linguoversi
Gigi 35 bukoversi
Gigi 44 mesiolinguotorsiversi
Gigi 45 mesiolinguotorsiversi
Kurva spee : Normal / Tidak normal
 Arah Transversal
 Midline : Segaris / Tidak segaris
 Arah Vertikal
Infra versi : ada
Supra versi : ada

Lebar Mesiodistal Gigi – Gigi ( mm )

RAHANG ATAS RAHANG BAWAH


Gigi Kanan Kiri Normal Ket Kanan Kiri Normal Ket
1 8,45 8,10 7,40-9,75 N 5,80 5,90 4,97-6,60 N
2 7,10 7,10 6,05-8,10 N 6,40 6,35 5,45-6,85 N
3 7,20 7,30 7,05-9,32 N 7,3 7,5 6,15-8,15 N
4 7,50 7,25 6,75-9,00 N 7,85 7,5 6,35-8,75 N
5 7,10 7,05 6,00-8,10 N 7,50 7,25 6,80-9,55 N
6 11,00 11,10 9,95-12,10 N 11,00 11,25 10,62-13,05 N
7 9,55 9,35 8,75-10,87 N PE 10,50 8,90-11,37 N
Kesimpulan : Ukuran lebar mesio distal semua gigi-gigi di rahang atas dan rahang
bawah berada dalam ukuran normal.

Model Dalam Keadaan Oklusi


 Arah Sagital
Overjet : 11 : 5,75 mm 21 : 6,25 mm

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


41 31

Relasi Kaninus : Kanan klas II Kiri klas II


Relasi M1 permanen : Kanan klas II Kiri klas I
Cross bite anterior : Tidak ada
 Arah Transversal
Garis Median : Segaris
Cross bite posterior : Buccal crossbite gigi 24
34
 Arah Vertikal
Overbite : 11 : 5,5 mm 21 : 5,00 mm
41 31
Open bite : pada gigi 14,13,23
Deep bite : pada gigi 43,42,41,31,32,33

C. Skema Gigi-Gigi Dari Oklusal

Rahang Atas

Malposisi :
- Gigi 11 labioversi
- Gigi 21 labioversi
- Gigi 12 labioversi
- Gigi 22 labioversi
- Gigi 13 labioversi
- Gigi 23 labioversi
Diastema gigi 13,14,15
Diastema gigi 23,24,25

Malposisi :
- Gigi 34 linguoversi
- Gigi 35 bukoversi
- Gigi 44,45
Rahang Bawah mesiolinguotorsiversi
Multiple diastema gigi
anterior.

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


D. Skema Gigi-Gigi Dalam Keadaan Oklusi
Arah Anterior

Midline :
RA midline segaris: midline
gigi rahang atas segaris dengan
midline wajah.

RBmidline tidak segaris:


midline gigi rahang bawah tidak
segaris dengan midline wajah.

 Relasi Kaninus : klas II


 Relasi Molar : klas II
 Overjet 11 : 5,75 mm
Arah Kanan 41
 Overbite 11 : 5,5 mm
41
Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti  Relasi Molar Kanan ( 16 )
46
klas II
Arah Kiri

 Relasi Kaninus : klas II


 Relasi Molar : klas I
 Overjet 21 : 6,25 mm
31
 Overbite 21 : 5 mm
31
 Buccal cross bite 24
34
 Relasi Molar Kiri ( 26 )
36
klas I

Perhitungan
1. Metode PONT
Pont memikirkan sebuah metode untuk menentukan lebar
lengkung ideal yang didasarkan pada lebar mesiodistal mahkota
keempat insisif rahang atas. Pont menyarankan bahwa rasio gabungan
insisif terhadap lebar lengkung gigi melintang yang diukur dari pusat
permukaan oklusal gigi, idealnya adalah 0,8 pada fossa sentral
premolar pertama dan 0,64 pada fosa sentral molar pertama.

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Gambar titik patokan yang digunakan untuk sentral fossa P1 dan M1 permanen

Jarak mesio – distal 21 12 : 30,75 mm


Jarak P1 – P1 pengukuran : 40,00 mm
Jarak P1 – P1 perhitungan : ƩI X 100 = 38,44mm
80
Diskrepansi : 1,56 mm Normal/Kontraksi/Distraksi
Jarak M1 – M1 pengukuran : 50,30 mm
Jarak M1 – M1 perhitungan : ƩI X 100 = 48,05 mm
64
Diskrepansi : 2,25 mm Normal/Kontraksi/Distraksi

Keterangan :
 Pertumbuhan lengkung gigi pada regio inter P (Metode Pont)
mengalami distraksi (kelebihan ruang) sebesar 1,56 mm dan
termasuk ke dalam kategori derajat tingan (mild degree).
 Pertumbuhan lengkung gigi pada regio M (Metode Pont)
mengalami distraksi (kelebihan ruang) sebesar 2,25 mm dan
termasuk ke dalam kategori derajat ringan (mild degree).

2. Metode Korkhaus

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Dasar pemikirannya adalah kelanjutan dari metode Pont, yaitu
terdapat hubungan antara jarak pertemuan incisivus sentral RA dan
garis sagital inter P1-P1 Rahang atas dengan jumlah keempat insisivus
permanen RA.

Gambar titik patokan yang digunakan untuk pengukuran metode Korkhaus


Tabel Korkhaus
Jumlah Lebar ke-empat Jarak antara I-P1 (Korkhaus)
Insisivus Rahang Atas
27 16
27,5 16,3
28 16,5
28,5 16,8
29 17
29,5 17,3
30 17,5
30,5 17,8
31 18
31,5 18,3
32 18,5
32,5 18,8
33 19
33,5 19,3
34 19,5
34,5 19,8
35 20
35,5 20,5
36 21

Jumlah Mesiodistal 12-11-21-22 : 30,75 mm


Jarak ideal tabel Korkhaus : 17,8 mm

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Jarak inter I dengan garis sagital P1-P1 : 18,2 mm
Diskrepansi : 0,4 mm
Keterangan : Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa
pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi kearah anteroposterior
mengalami sedikit protaksi

3. METODE HOWES
 Jarak inter tonjol P1-P1 : 45,6 mm
 Jarak mesio-distal : 96,25 mm
 Inter P1 : Jarak inter tonjol P1-P1 X 100%
∑ Md M1-M1
= 45,6 x 100 % = 47,37 %
96,25
Ket : Karena jarak inter P sebesar 47,37 % yang menyatakan inter P1
lebih besar dari 43 % maka lengkung gigi dapat menampung gigi
dalam lengkungnya secara teratur

 Jarak inter fossa canina : 48,0 mm


 Jarak mesio-distal : 96,25 mm
 Inter Fossa canina : Jarak interfossa canina X 100%
∑ Md M1-M1
= 45,3 x 100 % = 49,87 %
89
Ket : Karena jarak inter fossa canina sebesar 49,87 %yang menyatakan
inter fossa canina lebih besar dari 44 % maka lengkung gigi dapat
menampung gigi dalam lengkungnya secara teratur.
4. Tooth Size-Arch Length Discrepancy

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


 Space available (SA) = Daerah basal yang tersedia pada lengkung
gigi (pada kasus ini penentuannya menggunakan bass wire).
 Space required (SR) = Jumlah dari mesio-distal gigi premolar 2
kanan dan kiri pada maksila dan mandibula.

TSALD = SA – SR

A. Pada Maksila
SA = 85,9 mm
SR = 74,15 mm
TSALD = SA –SR
= 85,9 – 74,15
= 11,75 mm
Ket : hasil menyatakan positif yang menandakan bahwa terdapat
kelebihan ruang yaitu sebesar 11,75 mm

B. Pada Mandibula
SA = 71,5 mm
SR = 69,35 mm
TSALD = SA –SR
= 71,5 – 69,35
= 2,15 mm
Ket : hasil menyatakan positif yang menandakan bahwa terdapat
kelebihan ruang yaitu sebesar 2,15 mm

E. Analisa Foto Rontgen

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


 Jenis Foto : Panoramik / Periapikal / Bite Wing

Gambaran foto panoramik pasien


Keterangan :
 Pasien masih dalam periode gigi bercampur
 Gigi 18, 17,15, 25, 27, 28, 38, 47, dan 48 belum erupsi
 Pre erupsi gigi 14, 13, 23, 24, 33, 34, 35, 37, 43, 44, 45
 Tulang kortikal pada mandibula terlihat radiopak, tidak ada gambaran
radiolusen yang patologis
 Semua gigi terlihat vital

V. DIAGNOSA ORTHODONTI
Maloklusi Angle Klas II divisi 1 tipe dental disertai dengan malrelasi
antara lain:
 Overjet 11 : 5,75 mm, Overjet 21 : 6,25 mm
41 31
Overbite 11 : 5,5 mm, Overbite 21 : 5 mm
41 31

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Cross bite 24
34
Relasi molar kanan 16 = klas II, molar kiri 26 = klas I
46 36

dan malposisi gigi individual :


o Gigi 11 labioversi
o Gigi 21 labioversi
o Gigi 12 labioversi
o Gigi 22 labioversi
o Gigi 13 labioversi
o Gigi 23 labioversi
o Gigi 34 linguoversi
o Gigi 35 bukoversi
o Gigi 44 mesiolinguotorsiversi
o Gigi 45 mesiolinguotorsiversi
 Diastema pada gigi C-P2 rahang atas kanan kiri
 Multiple diatema gigi anterior rahang bawah
 Midline rahang atas segaris
 Midline rahang bawah tidak segaris

VII. DETERMINASI LENGKUNG


 Hasil penapakan :

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Rahang atas Kanan Kiri
Panjang lengkung ideal : 51 mm 51,5 mm
Jumlah lebar mesio distal: 48,75 mm 48,35 mm
Diskrepansi 2,25 mm 3.15 mm

Rahang bawah Kanan Kiri


Panjang lengkung ideal : 49 mm 49 mm
Jumlah lebar mesio distal : 45,85 mm 45,75 mm
 Diskrepansi 3,15 mm 3,25 mm

 Overjet awal 11/41 : 6,25 mm Overjet akhir 11/41 : 3 mm


 Overbite awal: 11/41 5,5 mm Overbite akhir 11/41: 3 mm

VIII. PROBLEM LIST


1. Overbite
2. Crossbite posterior disebelah kiri
3. Overjet
4. Multiple diastema

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


IX. RENCANA PERAWATAN
1. Langkah pertama dilakukan koreksi pada overbite yang terjadi pada region
anterior dengan menggunakan maxillary flat anterior bite plane dan labial
bow untuk mempertahankan lengkung gigi, seiring dengan itu juga dilakukan
koreksi crossbite pada gigi posterior dengan cara mendorong gigi premolar 2
bawah yang mengalami malposisi kearah lingual pada sebelah kiri dan kanan.
Kemudian untuk menempatkan posisi gigi posterior rahang atas pada posisi
ideal dilakukan distalisasi gigi premolar pertama atas kiri dan kanan.
2. Pada tahap 2, jika overbite sudah terkoreksi maka maxillary flat anterior bite
plane dihilangkan dan dilanjutkan dengan mengkoreksi overjet pada gigi
rahang atas yang protrusive dengan cara menarik gigi anterior ke arah palatal.
Jika gigi premolar atas sudah berada pada posisi yang diinginkan dilanjutkan
dengan distalisasi gigi caninus kanan dan kiri agar retraksi gigi anterior dapat
disesuaikan dengan tepat. Dari kelanjutan perawatan ini diharapkan multiple
diastema yang terjadi juga sudah bisa terkoreksi pada rahang atas.
Untuk rahang bawah seiring kelanjutan perawataan pada tahap 2 dilakukan
koreksi multiple diastema dengan menggerakkan gigi 41,42,43 dan 44 ke arah
mesial untuk mendapatkan posisi ideal yang diharapkan. Kemudian jika posisi
premolar sudah berada diposisi ideal maka labial bow yang digunakan untuk
memperthankan lengkung diganti dengan long labial bow agar memberikan
ruang untuk pengaktifan auxillary spring seiring dengan mempertahankan
lengkung gigi.

X. JALANNYA PERAWATAN
A. Tahap 1 (Koreksi overbite dan crossbite posterior).

PENATALAKSANAANNYA

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Rahang atas
Menggunakan maxillary flat anterior bite plane dengan melakukan
penebalan basis akrilik kurang lebih 2 mm pada palatal gigi 13-23, sehingga
memungkinkan gigi-gigi posterior untuk erupsi dan intrusi dari gigi anterior
sehingga deep overbite terkoreksi.

Maxillary flat anterior bite plane dilengkapi dengan:


- Labial bow dibuat dari kawat diameter 0,7 mm dengan U loop dari gigi
13-23 untuk mempertahankan lengkung gigi.
- Buccal retractor spring dibuat dari kawat 0,7 mm dengan koil pada
gigi 14 dan 24 untuk menggerakkan gigi tersebut ke distal.
- Adam’s klamer dibuat dari kawat diameter 0,7 mm pada gigi 16 dan 26
sebagai retensi dan stabil.

Rahang bawah
- Labial bow dibuat dari kawat diameter 0,7 mm dengan U loop dari 33-
43 sebagai retainer untuk mempertahankan lengkung gigi ideal.
- T spring dengan menggunakan kawat berdiameter 0,6 pada gigi 34 dan
45 untuk medorong gigi tersebut ke arah bukal.
- Adam’s klamer dibuat dari kawat 0,7 mm pada gigi 36 dan 46 sebagai
retensi dan stabilisasi.

B. Tahap 2 (koreksi overjet dan multiple diastema)

Rahang atas
- Labial bow dibuat dari kawat diameter 0,7 mm dengan U loop dari gigi
15-25 untuk meretraksi gigi anterior.

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


- Buccal retractor spring dibuat dari kawat 0,7 mm dengan koil pada
gigi 13 dan 23 untuk menggerakkan gigi tersebut ke distal.
- Adam’s klamer dibuat dari kawat diameter 0,7 mm pada gigi 16 dan 26
sebagai retensi dan stabil.

Rahang bawah
- Labial bow dibuat dari kawat diameter 0,7 mm dengan U loop dari 35-
45 sebagai retainer untuk mempertahankan lengkung gigi ideal.
- Finger spring dengan menggunakan kawat berdiameter 0,6 mm untuk
menggerakkan gigi 41,42, dan 43 ke arah mesial.
- Buccal retractor spring dibuat dari kawat 0,7 mm dengan koil pada
gigi 44 untuk menggerakkan gigi tersebut ke mesial.
- Adam’s klamer dibuat dari kawat 0,7 mm pada gigi 36 dan 46 sebagai
retensi dan stabilisasi.

C. Tahap 4 (Penyesuaian oklusi)


Pengaturan malposisi gigi akan mengubah keseimbangan oklusi
sehingga dapat menyebabkan traumatik oklusi. Oleh karena itu, diperlukan
penyesuaian oklusi. Penyesuaian oklusi dilakukan setelah pengaturan gigi-
gigi individual dan lengkung gigi.
Pasien diinstruksikan untuk menggigit articulating paper berwarna
biru dalam posisi sentrik, kemudian pasien diinstruksikan untuk melakukan
gerakan mastikasi. Sesudah itu, dilakukan pemeriksaan tonjol-tonjol oklusal
dan sisi mesial gigi, apabila berwarna biru menandakan adanya traumatik
oklusi sehingga perlu dilakukan grinding pada gigi tersebut sampai warna
biru seimbang pada semua sisi insisal dan semua tonjol. Untuk mencegah
terjadinya karies pada gigi yang di grinding, dilakukan penghalusan dan
aplikasi topikal fluor.

D. Tahap 5 (Pemakaian Retainer)

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Pemakaian retainer bertujuan untuk mempertahankan lengkung gigi
yang telah terkoreksi sampai terjadi kestabilan dalam lengkung gigi yang
baru serta mencegah agar gigi-gigi tidak relaps. Alat terdiri dari plat dasar
akrilik, busur labial kawat stainless steel diameter 0,7 mm dan klamer
adams diameter 0,8 mm pada gigi molar pertama.
Instruksi yang diberikan pada pemakaian retainer antara lain :
 Retainer dipakai siang dan malam (waktu tidur dipakai, hanya dilepas
pada saat sikat gigi) selama tiga bulan pertama. Kontrol tiap bulan
sekali untuk mengetahui derajat mobilitas atau kegoyahan gigi yang
telah dikoreksi.
 Jika selama tiga bulan pertama masih terdapat kegoyahan gigi, maka
pemakaian dengan cara yang sama diperpanjang tiga bulan lagi.
 Jika setelah tiga bulan kedua alat masih terasa sesak jika dipakai
kembali, maka pemakaian diteruskan selama tiga bulan ketiga dengan
kontrol tiap bulan sekali.
 Jika bulan ketiga alat sudah tidak sesak pada saat digunakan, maka
retainer dihentikan, kontrol tiga bulan berikutnya untuk pemeriksaan
terakhir. Jika masih dicurigai ada kemungkinan relaps, sebaiknya
retainer tetap dipakai pada malam hari selama tiga bulan dengan
kontrol tiap bulan sekali.

VIII. SKETSA PESAWAT ORTHODONTI

Tahap 1
Alat-alat yang digunakan :
Maxillary flat anterior bite plane
A. Rahang Atas Keterangan
dilengkapi dengan:
 Labial bow Ө 0.7 mm
dari gigi 13 hingga 23
 Buccal retractor Ө 0.7
mm pada gigi 14 dan 24
 Adam’s klamer Ө 0.7
Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti mm pada gigi 16 dan 26
B. Rahang Bawah Keterangan

Alat-alat yang digunakan :


 Labial bow Ө 0.7 mm
dari gigi 33 hingga 43
 T spring Ө 0.6 mm pada
gigi 34 dan 45
 Adam’s klamer Ө 0.7
mm pada gigi 36 dan 46

Tahap 2

A. Rahang Atas Keterangan


Alat-alat yang digunakan :
Maxillary flat anterior bite plane
dilengkapi dengan:
 Labial bow Ө 0.7 mm
dari gigi 15 hingga 25
 Buccal retractor Ө 0.7
mm pada gigi 13 dan 23
 Adam’s klamer Ө 0.7
Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti mm pada gigi 16 dan 26
B. Rahang Bawah Keterangan

Alat-alat yang digunakan :


 Labial bow Ө 0.7 mm
dari gigi 35 hingga 45
 Finger spring Ө 0.6 mm
pada gigi 41,42 dan 43.
 Buccal retractor Ө 0.7
mm pada gigi 44
 Adam’s klamer Ө 0.7
mm pada gigi 36 dan 46

IX. PROGNOSIS
A. Baik / Buruk / Meragukan
B. Keterangan :
Prognosis pasien baik, karena :
1. Usia pasien masih muda (13 Tahun)
2. Kelainan berupa dental
3. Keadaan fisik dan mental pasien baik
4. Motivasi pasien yang besar untuk merapikan giginya

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


5. Sikap pasien yang kooperatif dan komunikatif

Palembang, 20

Menyetujui,
Pembimbing Operator

drg. Arya Prasetya Beumaputra, Sp. Ort. Dilla Novia Amrilani, S.KG

NIP : 197406022005011001 NIM : 04074881517014

LEMBAR PERSETUJUAN PERAWATAN ORTHODONTI


PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Nama Pasien : Seno Indarto


Umur : 12 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


Alamat : Jl. Urip Sumoharjo rt. 08 rw10
Operator : Dilla Novia Amrilani
Pembimbing : drg. Arya Prasetya Beumaputra, Sp. Ort.

No Kegiatan Tanggal Paraf Dokter


1 Persetujuan pasien

2 Anamnesia dan pemeriksaan klinis

3 Mencetak dan mengisi gips

4 Membuat work model dan


studi model

5 Diskusi I

6 Diskusi II

7 Persetujuan rencana perawatan dan


desain alat

Pembuatan alat
8
Insersi alat
9

HALAMAN KONTROL PASIEN

NO TANGGAL JENIS KEGIATAN PARAF PASIEN PARAF DOKTER

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


HALAMAN KONTROL PASIEN

NO TANGGAL JENIS KEGIATAN PARAF PASIEN PARAF DOKTER

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


HALAMAN KONTROL PASIEN

NO TANGGAL JENIS KEGIATAN PARAF PASIEN PARAF DOKTER

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


RENCANA PERAWATAN
KLINIK ORTHODONTI PSKG FK UNSRI

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


BOBOT/ NILAI
MATERI PEKERJAAN MAKSIMAL DIDAPAT
NILAI
I. PERSIAPAN 5

A. Alat Diagnostik Standar 2


 Kaca mulut
 Pinset
 Sonde
 Excavator
 Sendok cetak
 Bowl dan spatula
 Cheek retractor
2
B. Kerapian
1
C. Pengenalan Diri

II. PROSES ANAMNESIS 10

A. Keluhan Utama 2.5


Riwayat /Motivasi Keluhan Utama
B. Riwayat Kesehatan Umum 2.5
C. Riwayat Pribadi 3
 Pertumbuhan dan perkembangan gigi
geligi
 Periode gigi desidui
 Periode gigi bercampur
 Periode gigi permanen
 Kebiasaan buruk 2
D. Riwayat Keluarga

III. PEMERIKSAAN FISIK/ OBYEKTIF 10

A. Umum 2
 Jasmani
 Mental
 Status gizi
B. Lokal
a. Ekstra Oral 4
 Kepala
 Muka
 Profil Muka
 Bidang Oklusi
 Sendi Temporomandibula
 Tonus Otot Mastikasi
 Tonus Otot Bibir

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


 Posisi Bibir Istirahat
 Free Way Space 4
b. Intra Oral
 Lingual
 Palatum
 Gingiva
 Mukosa
 Frenulum
 Tonsil
 Pemeriksaan gigi geligi
 Pengisian rumus

IV. PENCETAKAN RAHANG 5

A. Pencetakan 3
B. Pengisian 2
 Studi Model
 Work Model

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG 5

A. Fotografi 2
 Tampak depan
 Tampak samping
B. Rotgen Panoramik dan Sefalometri 3

VI. ANALISIS 15

A. Foto 2
B. Studi Model 4
C. Skema 2
D. Perhitugan 5
E. Rotgen foto 2

VII. DIAGNOSIS 10

VIII. ETIOLOGI 5

IX. PROGNOSIS 5

X. RENCANA PERAWATAN 10

Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti


XI. GAMBAR ALAT 5

XII. PERAWATAN 15

A. Informed consent 1
B. Pemasangan : 3.5
 Pembuatan alat
 Insersi
C. Monitoring 15X aktivasi per pasien 7.5
(1X aktivasi : 0,5)
D. Proses report per triwulan 3

*Untuk mengetahui kemajuan dari perawatan pasien


pada tahap ini dapat dilakukan pencetakan atau dalam
bentuk evaluasi tertulis

TOTAL NILAI 100

Syarat mahasiswa boleh mengikuti ujian :


1. Minimal telah mengerjakan 2 pasien sampai dengan tahap insersi
2. Minimal salah satu pasien telah mencapai 6 x aktivasi atau
minimal telah ada progress report salah satu pasien

Nama pasien : Seno Indarto Nama pasien : Seno Indarto


Umur : 12 tahun Umur : 12 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Jenis Kelamin : Laki-laki
Nama Operator : Dilla Novia Amrilani Nama Operator : Dilla Novia Amrilani
Tgl Pencetakan : 20 September 2016 Tgl Pencetakan : 20 September 2016
No model : 01 No model : 01
Status Pemeriksaan dan Perawatan Orthodonti