Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang pasti menginginkan kucingnya sehat, lincah dan memiliki berat

badan ideal. Kucing yang sehat cenderung terlihat aktif, mempunyai bulu yang cerah,

serta sikap berdiri dan kondisi fisik yang baik. Setiap kucing memiliki karakteristik

yang berbeda, tetapi untuk sifat alamiahnya pasti sama. Dengan bertambahnya umur

kucing, biasanya kucing akan semakin malas. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan

dari kucing. Kucing yang malas akan rentan mengalami obesitas. Kucing yang

mengalami obesitas dan hanya diam saja (malas bergerak) memiliki faktor disposisi

terinfeksi penyakit saluran kemih. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika urinaria

(kandung kemih) dan uretra (saluran kencing) kucing. Penyakit ini disebut dengan

FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease). FLUTD merupakan suatu kondisi

dimana terdapat bentukan kristal yang menyumbat saluran urinasi bagian bawah

seperti vesica urinary dan uretra.

Kondisi ini dapat terjadi pada kucing jantan ataupun betina, namun lebih

sering terjadi pada kucing jantan. Hal tersebut dikarenakan anatomi uretra kucing

jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian yang menyempit sehingga

sering menimbulkan penyumbatan urin pada saluran kencing kucing.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. bagaimana pengobatan terhadap penyakit FLUTD (Feline Lower Urinary

Tract Disease)?

2. bagaimana perawatan terhadap penyakit FLUTD (Feline Lower Urinary

Tract Disease)?

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui perawatan dan pengobatan terhadap

penyakit FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease).

1.4 Manfaat

Hasil dari ini diharapkan bisa menjadi pengetahuan untuk pembaca tentang

bagaimana cara perawatan dan pengobatan terhadap penyakit FLUTD (Feline

Lower Urinary Tract Disease). khusus nya pada anjing.


BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) yang dikenal juga dengan feline

urologic syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada

kucing terutama kucing jantan. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika urinaria

(VU) dan uretra kucing. Gangguan pada uretra terjadi disebabkan oleh struktur uretra

kucing jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian yang menyempit

sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke luar tubuh. Feline lower

urinary tract disease (FLUTD) meliputi beberapa kondisi yang terjadi pada saluran

urinaria kucing (Nash 1997). Sindrom yang terjadi pada kucing ini ditandai dengan

pembentukan kristal (paling sering struvite) di dalam VU. Kristal tersebut kemudian

akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada urin, kesulitan buang air kecil, serta

beberapa kasus dapat menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar dari VU yang

dapat menyebabkan kematian (Pinney 2009).

2.2 Faktor Penyebab

Manifestasi penyakit yang disebabkan oleh akumulasi kristal mineral pada

saluran urinaria antara lain, adalah:

a. peradangan kandung kemih cystitis akibat iritasi dari kristal pada dinding VU,

b. urolithiasis yaitu pembentukan batu VU,

c. pembentukan sumbat pada uretra berupa pasir kristal mineral (blokade uretra),
d. uremia yaitu akumulasi zat kimia yang beracun pada aliran darah ketika blokade

pada uretra (Duval 2002).

Pada beberapa keadaan urin yang tertahan dalam VU dapat berbalik mengalir

ke ginjal yang menyebabkan kematian oleh gagal ginjal akut atau cystitis parah.

Kematian terjadi karena toksin menyebar melalui aliran darah menyebabkan sepsis

(Pinney 2009).

Kucing jantan dan betina sama-sama beresiko menderita FLUTD, namun

kucing jantan beresiko lebih besar terhadap obstruksi yang mematikan karena uretra

jantan lebih kecil dibandingkan betina dan memiliki bagian yang mengecil sehingga

penyumbatan lebih gampang terjadi (Pinney 2009).

Beberapa kausa dari terbentuknya kristal mineral yang dapat mengiritasi

mukosa VU dan menyebabkan blokade urehra adalah :

a. Faktor asupan makanan (diet). Pakan yang kaya magnesium menyebabkan pH

urine menjadi basa (alkalis). Kenaikan pH mempermudah pembentukan kristal

mineral.

b. Penurunan frekuensi urinasi. Hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya supan

air, pakan yang kering, air yang terlalu hangat, terlalu dingin, menurunnya

aktivitas fisik, hal ini dapat disebabkan karena kucing mengalami obesitas bahkan

kandang yang kotor dapat menyebabkan kucing segan untuk urinasi (Duval 2002;

Oaks Vet 2002)

2.3 Gejala Klinis


Gejala klinis awal merupakan hasil dari iritasi yang disebabkan oleh kristal

dalam VU. Gejala klinis tersebut antara lain kesulitan urinasi (kucing sering buang air

kecil tidak pada tempatnya), sering menjilat daerah genital, merejan saat buang air

kecil (kadang disertai suara tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan

FLUTD biasanya tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan

yang mengalami obstruksi uretra komplet akan menunjukkan gejala muntah,

kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).

2.4 Diagnosa

Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan

urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi pembesaran dan rasa sakit

VU. Jika diduga terjadi infeksi pada VU maka kultur urin dapat dilakukan. Kucing

yang mengalami obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat enzim ginjal yang tinggi

(blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin) dalam darah (Pinney 2009)

Terapi yang diberikan kepada pasien FUS adalah kateterisasi urin sehingga

terjadi pengeluaran urin dan kristal dari VU. Penyuntikan cairan fisiologis intravena

atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi)

dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh. Pemberian

antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan

parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan relaksasi uretra

diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak bedah diperlukan untuk menghilangkan

sumbatan atau mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral (Duval

2002).
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
Jln. Ahmad Yani No.202 Gayungan, Surabaya.

LEMBAR KONSULTATIF/AMBULATOIR
Tanggal : 3 Januari 2019 Jenis Hewan : Kucing
Nama pemilik : Jasmin Nama hewan : Bolli
Dokter Hewan : Drh. Dewi Ayu Intan K Signalemen : Jantan, 2 tahun

Anamnesa : Tidak urinasi 1 hari, tidak mau makan dan minum, tidak muntah, tidak
diare, belum vaksin, belum obat cacing
STATUS PRAESENS :
Keadaan umum : KT = Lemas EM = Murung
Frekuensi Nafas : 40/menit
Kulit dan Rambut : Turgor kulit > 2 detik,
Selaput Lendir : CRT < 2 detik, gingitiva dan conjungtiva berwarna pink
Kelenjar limfe : Ada sediit kebengkakan pada limfoglandula
Peredaran Darah : Frek pulsus 80/menit
Pencernaan : Normal
Kelamin & Perkencingan : Kesulitan Urinsi
Syaraf : Reflek palpabrae, pupil, kaki depan dan belakang normal
Anggota Gerak : Normal
Lain- lain : -Berat Badan : 3,34 kg, - T: 35,3o C
Diagnosa : FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease).
Prognosa : Fausta
Terapi / pengobatan : Kateterisasi / infus RL 500 ml (Betamox, Biodin,
As.Trenaksamat @0,34 ml 2 x /hari) (Rowatinex 1 tab 1
x /hari), (Urotractin caps ¼ tab 1 x /hari)

Terapi yang diberikan kepada pasien FLUTD adalah kateterisasi urin sehingga

terjadi pengeluaran urin dan kristal dari VU. Penyuntikan cairan fisiologis intravena

atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi)

dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh. Pemberian

antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan

parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan relaksasi uretra

diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak bedah diperlukan untuk menghilangkan

sumbatan atau mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral (Duval

2002). Setelah dipasang kateter urin kucing Bolli dirawat inap, selama rawat inap

diberikan terapi antibiotik berupa injeksi Betamox dam pemberian oral berupa

Urotractin caps. Juga diberikan Rowatinex serta infus Ringer Lactate.


BAB IV

KESIMPULAN

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) adalah penyakit pada saluran

kemih bagian bawah kucing yang dikenal dengan istilah Feline Urologic Syndrome

(FUS) dan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi yang

dapat mempengaruhi kandung kemih dan / atau uretra kucing.

Terapi yang diberikan kepada pasien FLUTD adalah kateterisasi urin

sehingga terjadi pengeluaran urin dan kristal dari VU. Penyuntikan cairan fisiologis

intravena atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah,

dehidrasi) dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh.

Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan

obat-obatan parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan

relaksasi uretra diperlukan.


DAFTAR PUSTAKA

Blue Cross USA Veterinarians. 2002. Feline Urologic Syndrome. www.sarnia.com-


blue
Duval D. 2002. Feline Urologic Syndrome, Internet Vet. Column.
www.mailer.fsu.edu
Hill’s Pet. 2009. c/d® Multicare Feline. http://www.hillspet.com/hillspet/products.
productDetail.hjsp
Nash H. 1997. Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD, FUS). http://www.pet.
education/article.cfm.htm
Oaks Veterinarians. 2002. Feline Urologic Syndrome. http://www.
oaksveterinarians.aol.com
Pinney CC. 2009. Feline Lower Urinary Tract Disease. http://maxshouse.com/
feline_urological_syndrome_fus.htm