Anda di halaman 1dari 3

B.

Teori Belajar yang mendukung

Adapun teori belajar yang melandasi pembelajaran inkuiri sebagai berikut :

1. Teori Konstruktivisme
Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan terori pembelajaran kognitif yang menyatakan
bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks kemudian
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu
tidak sesuai lagi. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan
mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah. Menemukan sesuatu untuk dirinya, dan
berusaha dengan susah .

Hal 46

Basa dengan model pembelajaran problem solving selesai diajarkan.


9. Teknik Analisis data
a. analisis validasi perangkat pembelajaran
data hasil penilaian validator yang terdiri dari dua dosen kimia terhadap perangkat
pembelajaran meliputi RPP dan LKS. Kemudian dianalisis secara deskriptif . kriteria untuk
penilaian validasi perangkat pembelajaran yaitu :
Tabel 3 Kriteria penilaian validasi perangkat pembelajaran

Skor Kriteria
4 Sangat Baik
3 Baik
2 Cukup
1 Tidak Baik

Untuk menghitung persentase digunakan rumus:


jumlah hasil perhitungan
% validasi = x 100 %
skor kriteria
Skor kriteria = skor tertinggi x jumlah keseluruhan x jumlah validator.
Kemudian skor yang diperoleh dapat dikonversikan dengan presentase kriteria sebagai
berikut:
Tabel 4 Presentase Kriteria Validasi Perangkat Pembelajaran

Presentase Kriteria
1-20 % Sangat Kurang
21-40 % Kurang
41-60 % Cukup
19
Payah atas ide-ide mereka ( Slavin dalam Trianto, 2010). Teori konstruktivisme ini menyatakan
bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks untuk
membangun pemahaman mereka tentang suatu pengetahuan (Nur, 2008).
Satu prinsip paling penting adalah guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan
kepada siswa tetapi siswa harus membangun sendiri di benaknya. Guru dapat memberikan
kemudahan untuk proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menemkukan dan
menerapkan ide-ide mereka sendiri. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa peran siswa
harus lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuan
didalam benaknya. Dalam hal ini, guru hanya sebagai fasilitator bagi siswa dalam menemukan
dan menerapkan ide-ide mereka sendiri (Slavin dalam Trianto, 2010).
Menurut Suparno (dalam Trianto, 2010) belajar menurut pandangan konstruktivis
adalah hasil dari kontruksi kognitif melalui kegiatan seseorang pandangan ini memberi
penekanan bahwa pengetahuan kita dibangun oleh kita sendiri. Prinsip-prinsip yang sering
diambil dari konstruktivisme antara lain; (a) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri; (b)
tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa dan tekanan dalam proses belajar lebih pada
proses bukan pada hasil akhir; (c) kurikulum menekankan partisipasi aktif siswa; (d) guru sebagai
fasilitator.
2. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

51

Selanjutnya skor-skor tersebut dikonversi dalam bentuk nilai dengan rumus :

rata−rata skor yang diperoleh


Nilai = x 100
skor maksimum

Setelah dikonvesikan, kemudian dihitung rata-rata nilai setiap aktivitas keterampilan


metakognitif dengan rumus sebagai berikut:
Jumlah nilai siswa
Rata- rata nilai =
Jumlah siswa

e. Analisi Data Aktivitas Siswa

Data yang didapatkan merupakan data yang diperoleh dari aktivitas siswa yang dilakukan selama
model pembelajaran problem solving berlangsung.

% Aktivitas siswa

∑ frekuensi aktivitas siswa yang muncul


= x 100 %
∑ frekuensi aktivitas keseluruhan
Presentase dari aktivitas siswa dikonversikanj dengan kriteria pada tabel berikut:

No. Persentase Kategori


1 1 % - 20 % Sangat Kurang
2 21 % - 40 % Kurang
3 41 % - 60 % Cukup
4 61 % - 80 % Baik
5 81 % - 100 % Sangat Baik
(Riduwan, 2015)

f. Analisi Data Angket Respon Siswa

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap hasil angket respon siswa setelah diterapkan model

18

Sempurna. Aktivitas pengawasan ini mencakup pengecekan tingkat pemahaman, memprediksi hasil
mengevaluasi keefektifan usaha, merencanakan kegiatan, memutuskan bagaimana mengatur waktu dan
merevisi atau mengganti dengan kegiatan lain untuk mengatasi kesulitan (Schunk, 2012).

Komponen dari metakognisi adalah pemantauan kognisi seseorang, banyak para ahli
berpendapat komponen-komponen tersebut meliputi planning monitoring or regulating, and
evaluating. (Cross & Paris, 1988; Paris & Winograd, 1990; Schraw & Moshman, 1995; Schraw et al.,
2006; Whitebread et al., 2009) planning melibatkan identifikasi dan pemilihan strategi dan alokasi
sumber daya yang tepat, serta dapat mencakup penetapan tujuan, mengaktifkan latar belakang
pengetahuan, dan perencanaan waktu. monitoring or regulating menyadari pemahaman dari tugas yang
diberikan serta dapat mencakup pengujian terhadap diri sendiri. Selanjutnya, evaluating didefinisikan
sebagai ”menilai hasil dan proses regulasi belajar sesorang,” dan termasuk meninjau kembali dan
menata ulang tujuan sesorang (Schraw et al., 2006)

Pulomones (2007) memberikan beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan


metakognitif dan akan dijelaskan perwujudan dimensi metakognitif peserta didik pada tahap planning,
monitoring, evaluating pada tabel dibawah ini: