Anda di halaman 1dari 45

BAB V

GEOTEKNIK, HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI

5.1. Geoteknik
Kajian geoteknik bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik batuan
penyusun material penutup (overburden), interburden, batuan dasar dan
lapisan batubara. Pengkajian data geoteknik akan menghasilkan data sifat
material yang akan digunakan untuk perancangan tambang, terutama dalam
penentuan dimensi lereng (sudut dan tinggi jenjang) yang aman untuk lereng
penggalian batubara dan lereng timbunan tanah penutup. Kelongsoran suatu
lereng umumnya bergerak pada suatu bidang tertentu yang disebut bidang
gelincir (slip surface). Berdasarkan sifat kesetimbangan batas, kemantapan
lereng tergantung pada gaya penggerak dan penahan yang ada pada bidang
gelincir tersebut. Gaya penggerak adalah yang menyebabkan kelongsoran,
sedang gaya penahan adalah gaya yang melawan longsoran. Perbandingan
antara total gaya penahan dengan total gaya penggerak disebut faktor
keamanan (FK).
Menurut Hoek & Bray (1981), kemantapan lereng dapat dianalisis sesuai
dengan jenis kelongsoran yang dipresentasikan dalam bentuk bidang gelincir.
Beberapa bentuk bidang gelincir yang dapat terjadi adalah bentuk busur,
bidang, baji dan guling. Tujuan dilakukan analisis kemantapan lereng tambang
untuk menentukan geometri lereng yang benar dalam bentuk tinggi dan sudut
lereng. Data masukan yang diperlukan untuk analsis ini adalah keadaan
topografi, struktur geologi berupa perlapisan batuan, serta sifat fisik dan
mekanik material pembentuk lereng. Material pembentuk lereng pada lokasi
penambangan PT Mutiara Merdeka Jaya termasuk dalam klasifikasi tanah.
Tanah dan dapat dianggap sebagai batuan yang mempunyai bidang lemah
berupa rekahan-rekahan yang arahnya tidak menentu tetapi merata pada
seluruh permukaan, oleh karena itu pengaruh struktur bidang lemah tersebut
tidak akan tampak pada tanah. Karena lapisan penutup endapan batubara
berupa material lunak dan bersifat seperti tanah maka masalah struktur tidak

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 1
berpengaruh dalam analisis kemantapan lereng. Melihat kenyataan ini maka
kemungkinan longsoran yang dapat terjadi pada lapisan penutup tersebut
mempunyai bentuk bidang gelincir berupa busur lingkaran (longsoran busur).
Parameter-parameter geoteknik yang diperlukan adalah sifat fisik dan mekanik
batuan yang menyusun material penutup overburden, interburden maupun
batuan dasar, yang hasilnya diperlukan untuk menentukan tinggi dan sudut
lereng yang mantap untuk penambangan maupun penimbunan. Kegunaan
parameter yang diperoleh dari pengujian, khususnya dalam rancangan
tambang terbuka, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 5.1. Kegunaan Parameter Pengujian
No Jenis Pengujian Kegunaan
1 Sifat fisik Analisis kemantapan lereng
2 Kuat tekan uniaksial Analisis kemantapan lereng
3 Geser langsung Analisis kemantapan lereng
4 Ultrasonik Analisis kemampugaruan
5 Point Load Analisis kemampugaruan

5.1.1. Akuisisi data


5.1.1.1. Jenis
Kegiatan penyelidikan geoteknik terdiri dari pemboran geoteknik dan uji
parameter geoteknik. Pemboran geoteknik dilaksanakan menggunakan mesin
bor Jacro 200, dengan methode full coring, di mana conto batuan diambil pada
setiap interval kedalaman lubang bor dari kedalaman awal sampai kedalaman
terakhir.

5.1.1.2. Jumlah
Untuk mengambil sampel material penutup dan batu bara yang berada di
wilayah IUP OP PT. Mutiara Merdeka Jaya. Sampel yang diambil berupa inti
core dari pemboran geoteknik full coring. Setiap lapisan litologi diambil
sampelnya sebagai representasi litologi di lapangan.
Pengambilan sample batuan dilakukan pada 2 lubang bor dengan koordinat
dapat dilihat pada Tabel 5.2.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 2
5.1.1.3. Sebaran data
PT. Mutiara Merdeka Jaya melakukan 2 pengeboran geotech, dengan target
sudah bisa menggambarkan parameter geotech pada area tersebut. Lokasi
pemboran geoteknik berada di lokasi Pit bagian Barat daya dan Timur laut
Pada lokasi pit tersebut, target area pemboran adalah di sepanjang highwall
pit, dengan target utama adalah untuk menambah keakurasian lokasi interval
material disposal dan material asli (insitu). Keakurasian posisi interval disposal
tersebut mempunyai dampak geoteknik yang cukup penting, mengingat
material disposal bersifat lepas dan mempunyai nilai kekuatan batuan yang
rendah, yang cukup besar berpotensi terjadinya longsoran.

Tabel 5.2. Koordinat Lubang Bor Geoteknik

Koordinat
Total Depth
No ID Hole
N E Elevasi (m)

1 GT-01 9914757 489413 68.196 60


2 GT-02 9915840 491167 58.28 60

5.1.2. Analisis Geoteknik


Parameter yang digunakan dalam kriteria ini adalah fracture index dan point
load index. Fracture index digunakan sebagai ukuran karakteristik dikontinuitas
dan didefinisikan sebagai jarak rata-rata bidang diskontinuitas sepanjang bor
inti atau dalam massa batuan. Fracture index dapat diperoleh dari nilai nilai
RQD menurut persamaan Priest & Hudson (1976). Sedangkan Point load index
(PLI) diperoleh dari data pengujian.
Dengan nilai point load index antara 0.01 s/d 0.56 MPa dan fracture index
antara 0.1 s/d 1, berdasarkan kriteria indeks kekuatan batu franklin, material di
daerah penyelidikan pada pembongkarannya dapat dilakukan secara
penggalian bebas sampai dengan penggaruan. Hal ini diperoleh dengan cara
mengeplot nilai pont load index (PLI) dengan fracture index tersebut pada
grafik penentuan kriteria indeks kekuatan batuan.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 3
Gambar 5.1. Kriteria Indeks Kekuatan Batuan (Franklin dkk, 1971)

5.1.2.1. Kemampugalian dan kemampugaruan


Dalam merencanakan penambangan suatu bahan galian, salah satu
aspek yang harus diperhatikan adalah pemilihan metode penggalian yang
akan digunakan dalam membongkar bahan galian tersebut, dapat dibedakan
dua cara yaitu menggunakan peralatan mekanis dan peledakan.
Pengujian Kuat Tekan Batuan Utuh (unconfined compressive strength) dan
Point Load Test merupakan salah satu faktor dalam penentuan metode
penggalian yang akan digunakan. Berdasarkan International Society of Rock
Mechanic, 1979 batuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Tabel 5.3. Klasifikasi Kekuatan Masa Batuan


Kuat Tekan Uniaksial Kondisi Massa Batuan
> 250 Sangat kuat
100 – Kuat
50 – 100 Menengah
25 – 50 Sedan

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 4
Kuat Tekan Uniaksial Kondisi Massa Batuan
5 - 25 Lemah
0-5 Sangat lemah

5.1.2.2. Kestabilan Lereng


Analisis kemantapan lereng bertujuan untuk menentukan geometri (tinggi dan
sudut kemiringan) lereng yang benar. Data yang digunakan untuk diantaranya
adalah keadaan topografi, perlapisan batuan, serta sifat fisik dan mekanik dari
batuan pembentuk lereng. Longsoran yang akan terjadi diperkirakan
berbentuk busur dan perhitungan analisis dilakukan dengan metode
kesetimbangan batas (Metode Bishop). Perhitungan dilakukan untuk lereng
tunggal (individual slope), lereng keseluruhan (overall slope) dan lereng
penimbunan tanah penutup. Mengingat luasnya daerah kajian, maka analisis
dilakukan dengan memaksimalkan data-data pengamatan lithologi penyusun
batuan yang akan dibentuk lereng.
Rangkaian pemboran geoteknik, uji geoteknik dan evaluasi data hasil uji
geoteknik menghasilkan kriteria lereng tambang dan lereng untuk material
timbunan. Geometri lereng tambang tersebut dibuat dengan standar faktor
keamanan FK ≥1,2,. Hal ini dimaksudkan jika nilai ≥1.2, pada saat proses
tambang berlangsung, lereng tambang diperkirakan dalam kondisi aman/tidak
akan terjadi longsoran. Rekomendasi lereng yang diberikan adalah apabila
didapatkan nilai FK stabil dalam kondisi lereng jenuh.
Berdasarkan kelompok jumlah jenjangnya, lereng tambang dan lereng
timbunan dibagi menjadi lereng tunggal dan lereng keseluruhan. Di samping
itu, jenis lereng juga bisa diterapkan berdasarkan jenis materialnya, di
antaranya lereng untuk material lepas (lapisan tanah, soft material, serta
disposal material), lereng untuk material normal (claystone, sandstone, serta
siltstone) serta lereng untuk material hard (sandstone dan silstone).
Berikut diuraikan mengenai jenis lereng berdasarkan jenis materialnya :
1) Lereng untuk material soft
Material soft adalah material bersifat lepas, tidak kompak, serta memiliki
kekuatan batuan yang sangat rendah. Berdasarkan lingkungan geologi,
material ini berasal dan berada di area rawa-rawa. Nilai kohesi rata-rata

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 5
dari type material ini berkisar antara 1-6 K N/M2, sedangkan sudut geser
dalam berkisar antara 1-10°. Ketebalan rata-rata dari material ini berkisar
antara 5 M sampai dengan 20M.
Berdasarkan kajian kestabilan lereng, maka sudut lereng untuk material
soft adalah sebesar 8° yang merupakan nilai angle of repose dari material
itu sendiri.
Skema desain lereng untuk material kategori soft adalah seperti gambar di
bawah ini.

Gambar 5.2. Geometry lereng Soft

2) Lereng untuk material disposal


Jenis material ini juga mempunyai sifat lepas, dikarenakan sebagai hasil
dari kegiatan penimbunan (back filling) saat penambangan. Berdasarkan
kajian geoteknik, maka besar sudut lereng untuk material ini adalah 30°,
tinggi jenjang 5 meter, serta lebar lantai jenjang 10 meter.

Gambar 5.3. Geometry lereng Disposal material

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 6
3) Lereng untuk material normal
Material normal adalah jenis material yang mempunyai kekuatan serta
kekerasan dengan nilai sedang sampai sangat keras. Material yang
tergolong dalam kelompok ini antara lain batupasir, batulempung,
batulanau. Secara proporsional, material jenis ini merupakan material
yang paling banyak jumlahnya dalam suatu area pit. Berdasarkan hasil
kajian geoteknik, maka besar sudut lereng untuk material ini adalah 55°,
tinggi lereng adalah 10 meter, serta lebar lantai jenjang-berm adalah
sebesar 5 meter

Gambar 5.4. Geometry lereng Normal & Hard

5.1.3. Rekomendasi Geoteknik


5.1.3.1. Rekomendasi Kemampugaruan dan kemampugalian
Walaupun dari hasil uji kemampugalian dan kemampugaruan menunjukkan
bahwa material overburden secara umum masih dapat digaru, pada
pelaksanaan kegiatan pemberaian untuk material overburden sebagian besar
dari bagian atas sampai dengan pit limit digunakan ripping terlebih dahulu.

Tabel 5.4. Resume Hasil Pengujian UCS

Blok ID Sample Material UCS (MPa)


GT-01(USCS-01) Siltstone 2.21
GT-01 GT-01(USCS-02) Sandstone 1 4.06
GT-01(USCS-03) Sandstone 2 10.41

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 7
Blok ID Sample Material UCS (MPa)
GT-01(USCS-04) Claystone 2.88
GT-02(USCS-01) Sandstone 1.79
GT-02(USCS-02) Claystone 1 3.57
GT-02 GT-02(USCS-03) Claystone 2 3.15
GT-02(USCS-04) Siltstone 0.68

Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai kuat tekan berada pada rentang
kedalaman 60 m yaitu sesuai pada kedalaman pengambilan sampel
didapatkan nilai 0,68 – 10.410 MPa, dengan demikian satuan batuan pada
daerah IUP PT. Mutiara Merdeka Jaya termasuk dalam klasifikasi batuan soft
rock sampai hard rock.

Tabel 5.5
Karakteristik Penggalian Berdasarkan Hubungannya dengan
Kekuatan Batuan, University of Arizona Mining and Geological
Engineering

Untuk mengupas lapisan tanah penutup pada penambangan batubara, akan


terbentuk lereng highwall yang terdiri dari lereng tunggal (individual slope)
dan lereng keseluruhan (overall slope). Properties material pembentuk
lereng berdasarkan data log bor pada setiap titik bor di daerah
penambangan PT. Mutiara Merdeka Jaya adalah sebagai berikut :

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 8
Tabel 5.6
Properties Material Analisis Kemantapan Lereng

Unit
Cohesion
Blok Lithology Sample Code weight Phi(°)
(kPa)
(kN/m3

Siltstone GT01 (USCS-01) 13.660 208.000 21.850


Sandstone 1 GT01 (USCS-02) 20.670 140.700 23.030
GT-01
Sandstone 2 GT01 (USCS-03) 18.690 200.000 22.070
Claystone GT01 (USCS-04) 20.470 104.900 21.500
Claystone 1 GT02 (USCS-01) 16.080 78.750 20.300
Sandstone GT02 (USCS-02) 22.980 148.500 35.180
GT-02
Claystone 2 GT02 (USCS-03) 22.150 183.100 25.670
Siltstone GT02 (USCS-04) 53.730 100.400 20.540

5.1.3.2. Rekomendasi Geometri dan dimensi Lereng


Rekomendasi masing – masing lereng diambil dari semua hasil running
permodelan dan kalkulasi faktor keamanan yang dihasilkan dalam kondisi
aman.
1. Lereng Tunggal (Single Slope)
A. Pendekatan Analisis
Pendekatan analisis dalam perhitungan lereng tunggal adalah :
a. Dalam analisis lereng tunggal ini material dalam satu perlapisan
dianggap homogen dan mempunyai kekuatan geser (ρ).
b. Simulasi dengan asumsi lereng dalam kondisi kering, setengah
jenuh dan jenuh.
c. Nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (ρ) yang digunakan dalam
analisis kemantapan lereng diambil berdasarkan analisis statistik, yaitu
dipilih nilai masing-masing material. Begitu juga dengan nilai berat jenis
jenuh (ɣ nat).
d. Untuk kondisi tertentu (hanya terdapat satu sampel atau tidak ada
sampel sama sekali) maka nilai-nilai sifat batuan didekati dengan
pendekatan tertentu. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan yaitu
sebagai berikut, untuk blok yang dianalisa :
Claystone : nilai ρ, c dan ɣ merupakan nilai masing-masing

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 9
pengujian yang diperoleh dari laporan uji laboratorium material sesuai
kedalamannya.
Siltstone : nilai ρ, c dan ɣ merupakan nilai masing-masing pengujian
yang diperoleh dari laporan uji laboratorium material sesuai
kedalamannya.
Sandstone : nilai ρ, c dan ɣ merupakan nilai masing-masing pengujian
yang diperoleh dari laporan uji laboratorium material sesuai
kedalamannya.
e. Material pada Weathering Zone dianggap sebagai material satuan batuan
dibawahnya.
f. Tinggi muka air tanah pada kondisi jenuh adalah menyesuaikan
bentuk lereng, kondisi setengah jenuh tinggi muka air tanah dianggap
setengah dari tubuh lereng, dan kondisi kering muka air tanah dianggap
tidak ada.
g. Rekomendasi teknis adalah hasil dari analisis simulasi lereng jenuh.
h. Dalam melakukan perhitungan simulasi, tipe longsoran adalah
longsoran busur.

B. Perhitungan Kemantapan Lereng


Perhitungan kemantapan lereng dilakukan untuk tiap jenis
material pembentuk lereng, yaitu untuk material timbunan, batupasir,
dan batulempung dengan studi parametric menggunakan dua parameter:

a) Tinggi lereng tunggal (h)


Penggaruan material diasumsikan menggunakan excavator Komatsu PC-
300 dengan maximum cutting height sebesar 9,960 meter (pembulatan
nilai menjadi 10 meter). Maka tinggi dimensi lereng tunggal adalah 10
meter.

b) Sudut lereng tunggal (α)


Perhitungan simulasi kemantapan lereng tunggal dilakukan dengan
asumsi dimensi sudut lereng sebesar 60°,65° dan 70°

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 10
Hasil perhitungan dan simulasi lereng dengan menggunakan dua
parameter diatas dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.7.
Hasil Analisis FK High Wall 1 pada GT-01 Pada
Tinggi Lereng 10 meter

Single slope tinggi 10 (GT-01)


FK
Slope FK
Material Jenuh
(°) Kering
Air
60 8.890 8.072
Siltstone 65 8.409 7.682
70 7.941 7.273
60 4.321 3.787
Sandstone 1 65 4.057 3.553
70 3.817 3.322
60 6.419 5.824
Sandstone 2 65 6.053 5.504
70 5.722 5.200
60 3.358 2.874
Claystone 65 3.150 2.683
70 2.959 2.497

Tabel 5.8
Hasil Analisis FK High Wall 1 pada GT-02 Pada Tinggi Lereng 10 meter

Single slope tinggi 10 (GT-02)


FK
Slope FK
Material Jenuh
(°) Kering
Air
60 2.904 2.392
Claystone
65 2.724 2.228
1
70 2.557 2.067
60 4.535 3.812
Sandstone 65 4.226 3.523
70 3.986 3.257
60 5.195 4.630
Claystone 65 4.881 4.349
2
70 4.595 4.074
60 1.546 1.397
Siltstone
65 1.427 1.276

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 11
Single slope tinggi 10 (GT-02)
FK
Slope FK
Material Jenuh
(°) Kering
Air
70 1.339 1.189

C. Analisis Hasil
Hasil perhitungan kemantapan lereng tunggal untuk penggalian
lapisan batuan penutup blok PIT High Wall 1 adalah sebagai berikut :
Tabel 5.9.
Hasil Analisis Lereng Tunggal (Single Slope) Desain Lereng High Wall 1

Tinggi Faktor Keamanan


Material Sudut
Lereng Jenuh Air

Siltstone 70° 10 m 7.273


Sandstone 1 70° 10 m 3.322
Sandstone 2 70° 10 m 5.200
Claystone 70° 10 m 2.497
1. Pada material Siltstone pada GT-01 direkomendasikan menggunakan
geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 7.273.

Gambar 5.5
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Siltstone GT-01

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 12
2. Pada material Sandstone 1 pada GT-01 direkomendasikan menggunakan
geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 3.322.

Gambar 5.6
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Sandstone 1 GT-01

3. Pada material Sandstone 2 pada GT-01 direkomendasikan menggunakan


geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 5.200

Gambar 5.7
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Sandstone 2 GT-01

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 13
4. Pada material Claystone pada GT-01 direkomendasikan menggunakan
geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 2.497.

Gambar 5.8
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Claystone GT-01

Pada perhitungan kemantapan lereng tunggal untuk lapisan batuan


penutup blok PIT High Wall 2 menggunakan statistik dari sampel yang diambil
pada titik bor GT-02 adalah sebagai berikut :
Tabel 5.10.
Hasil Analisis Lereng Tunggal (Single Slope) Desain Lereng High Wall 2

Tinggi Faktor Keamanan


Material Sudut
Lereng Jenuh Air

Claystone 1 70° 10 m 2.067


Sandstone 70° 10 m 3.257
Claystone 2 70° 10 m 4.074
Siltstone 60° 10 m 1.397

1. Pada material Claystone 1 pada GT-02 direkomendasikan menggunakan

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 14
geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 2.067.

Gambar 5.9
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Claystone 1 GT-02

2. Pada material Sandstone pada GT-02 direkomendasikan menggunakan


geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 3.257.

Gambar 5.10
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Sandstone GT-02

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 15
3. Pada material Claystone 2 pada GT-02 direkomendasikan menggunakan
geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 70°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 4.074.

Gambar 5.11
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Claystone 2 GT-02

4. Pada material Slitstone pada GT-02 direkomendasikan menggunakan


geometri lereng dengan tinggi (h) = 10 meter dan sudut lereng (α) = 60°
dengan hasil faktor keamanan (FK) = 1.397.

Gambar 5.12
Rekomendasi Dimensi Lereng Tunggal Pada Material Siltstone GT-02

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 16
2. Lereng Keseluruhan (Overall Slope)
A. Pendekatan Analisis
Pendekatan analisis dalam perhitungan lereng keseluruhan adalah :
a. Analisis dilakukan untuk mendapatkan dimensi lereng yang aman pada
Blok Pit High Wall 1 & Pit High Wall 2
b. Dalam analisis lereng keseluruhan, tubuh lereng terdiri dari beberapa
material penyusun dan mempunyai sudut kelerengan stabil yang
direkomendasikan berdasarkan hasil analisis dan simulasi lereng
tunggal.
c. Nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (ρ) yang digunakan dalam
analisis kemantapan lereng diambil berdasarkan analisis statistik,
yaitu dipilih nilai rata-rata / mediannya. Begitu juga dengan nilai berat
jenis jenuh (ɣ sat).
d. Untuk kondisi tertentu (hanya terdapat satu sampel atau tidak ada
sampel sama sekali) maka nilai-nilai sifat batuan didekati dengan
pendekatan tertentu. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan yaitu
sebagai berikut,
Untuk blok yang dianalisa :
Lereng HighWall 1 = Menggunakan nilai ρ, c dan ɣ sat merupakan
nilai masing–masing pengujian yang diperoleh dari laporan uji
laboratorium material Siltstone, Sandstone 1, Sandstone 2 dan
Claystone pada GT-01(USCS-01), GT-01(USCS-02), GT-01(USCS-
03), GT-01(USCS-04).
Lereng High Wall 2 = Menggunakan nilai ρ, c dan ɣ sat merupakan
nilai masing–masing pengujian yang diperoleh dari laporan uji
laboratorium material Claystone 1, Sandstone, Claystone 2, dan
Siltstone pada GT-01(USCS-01), GT-01(USCS-02), GT-01(USCS-
03), GT-01(USCS-04.
e. Material pada Weathering Zone dianggap sebagai material satuan
batuan dibawahnya.
f. Tinggi muka air tanah pada kondisi jenuh adalah menyesuaikan

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 17
bentuk lereng, kondisi setengah jenuh tinggi muka air tanah dianggap
setengah dari tubuh lereng, dan kondisi kering muka air tanah
dianggap tidak ada.
g. Rekomendasi teknis adalah hasil dari analisis simulasi lereng jenuh.
h. Dalam melakukan perhitungan simulasi, tipe longsoran untuk lereng
High Wall 1, dan lereng High Wall 2 adalah longsoran busur.

B. Perhitungan Kemantapan Lereng


Beberapa faktor yang diperhatikan dalam perhitungan kemantapan
lereng keseluruhan adalah sebagai berikut :
a. Diasumsikan pada akhir penambangan akan terbentuk lereng
keseluruhan dengan ketinggian hingga ≥ 50 m.
b. Berdasarkan data sampel dan kedalaman maksimal lubang bor
geoteknik, maka sudut lereng keseluruhan dalam analisis ditentukan
sudut 60°, 65° dan 70° untuk High Wall 1 dan High Wall 2.
c. Lereng tunggal yang akan membentuk lereng keseluruhan mempunyai
geometri seperti yang direkomendasikan, yaitu tinggi 10 m dan sudut
70° pada lereng High Wall.
d. Analisis kemantapan lereng keseluruhan dihitung sampai
diperoleh lereng dengan FK ≥ 1.300.

C. Hasil Analisis
Hasil analisis lereng keseluruhan pada daerah High Wall 1 dan High Wall 2
adalah sebagai berikut :
a. High Wall 1

Tabel 5.11
Hasil Simulasi Lereng Keseluruhan High Wall 1 Pada Tinggi 10 meter

Tinggi
Overall FK
Tinggi Slope Lereng FK
Material Slope Jenuh
Lereng (°) Keseluruhan Kering
(°) Air
(m)
Siltstone 46 40 1.888 1.690
Sandstone 10 60
46 50 1.772 1.556
1

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 18
Tinggi
Overall FK
Tinggi Slope Lereng FK
Material Slope Jenuh
Lereng (°) Keseluruhan Kering
(°) Air
(m)
Sandstone
45 60 1.674 1.352
2
Claystone 50 40 1.819 1.664
Coal 65 49 50 1.878 1.651
49 60 1.700 1.453
54 40 1.819 1.450
70 53 50 1.530 1.362
52 60 1.481 1.234

Lereng keseluruhan yang direkomendasikan dibentuk dengan sudut lereng


individu 70°, lebar bench 5 m, tinggi 10 m, dan jumlah lereng individu
sebanyak 5 lereng, akan menghasilkan lereng keseluruhan dengan dimensi
sudut lereng 53°, tinggi 70 m, dan memiliki nilai FK 1.362. Dengan
demikian, lereng termasuk ke dalam kategori stabil.

Gambar 5.13
Rekomendasi Dimensi Lereng Keseluruhan Pada High Wall 1( GT-01)

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 19
b. High Wall 2
Tabel 5.12
Hasil Simulasi Lereng Keseluruhan High Wall 2 Pada Tinggi 10 meter

Tinggi
Overall FK
Tinggi Slope Lereng FK
Material Slope Jenuh
Lereng (°) Keseluruhan Kering
(°) Air
(m)
Claystone
46 40 1.767 1.595
1
Sandstone 60 46 50 1.574 1.414
Claystone
45 60 1.494 1.339
2
Siltstone 10 50 40 1.700 1.520
Coal 65 49 50 1.471 1.301
49 60 1.411 1.201
54 40 1.165 1.065
70 53 50 1.148 1.013
52 60 1.321 1.133
Lereng keseluruhan yang direkomendasikan dibentuk dengan sudut lereng
individu 65°, lebar bench 5 m, tinggi 10 m, dan jumlah lereng individu
sebanyak 5 lereng, akan menghasilkan lereng keseluruhan dengan dimensi
sudut lereng 49°, tinggi 50 m, dan memiliki nilai FK 1.301. Dengan
demikian, lereng termasuk ke dalam kategori stabil.

Gambar 5.14
Rekomendasi Dimensi Lereng Keseluruhan Pada High Wall 2 ( GT-02)

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 20
3. Analisis Lereng Timbunan
A. Pendekatan Analisis
Pendekatan analisis yang digunakan dalam perhitungan lereng
timbunan adalah :
1. Properties material yang digunakan untuk analisis kemantapan
lereng timbunan adalah 50% dari nilai kohesi residual rata-rata (c r) dan
sudut geser dalam residual rata-rata (ρr) serta 50% dari nilai saturated
density rata-rata (ɣ sat
).
2. Lereng diasumsikan dalam kondisi jenuh. Muka air tanah mengisi tubuh
lereng keseluruhan.
3. Dengan menganggap bahwa materialnya berasal dari hasil
penambangan, maka pendekatan yang dilakukan adalah :
Membuat analisis dan simulasi lereng tunggal dan keseluruhan.
Membuat kurva FK vs tinggi lereng (h) dari setiap material
campuran. Mengambil selubung terluar (yang paling tidak aman)
dari kurva
FK vs tinggi lereng (h), material yang dijumpai untuk penentuan
dimensi lereng timbunan dan kurva material campuran untuk
penentuan dimensi lereng keseluruhan timbunan.

B. Parameter Material Pembentuk Lereng Timbunan


Perhitungan tinggi dan sudut lereng dari material timbunan dilakukan
seperti melakukan perhitungan lereng penambangan, menggunakan
asumsi 50% nilai statistik hasil uji laboratorium dari semua material
dengan. Parameter material yang digunakan tercantum pada tabel 5.13
dibawah ini.
Tabel 5.13
Properties Material yang Digunakan Untuk Analisis Kemantapan Lereng
Timbunan.

Unit
Cohesion
Material weight Phi(°)
(kPa)
(kN/m3

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 21
Mixed Material 23.554 145.544 23.768

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 22
C. Hasil Analisis
Dalam melakukan penimbunan harus dilakukan dari level terendah
kemudian berangsur ke level yang lebih tinggi sesuai dengan batas yang
aman. Disamping itu juga harus dilakukan pemadatan dalam penimbunan
lapisan penutup.
Analisis lereng keselurahan pada area waste dump dibatasi dengan faktor
simulasi sebagai berikut :
- Tinggi lereng keseluruhan yang disimulasikan menggunakan tinggi
lereng 10 meter.
- Perhitungan simulasi kemantapan lereng keseluruhan dilakukan
dengan asumsi dimensi sudut lereng sebesar 25° sampai 35°.

Tabel 5.14
Hasil Analisis Lereng Keseluruhan (Overall slope) Pada Waste Dump
Overal
Tinggi Slope l FK
Material FK Kering
Lereng (°) Slope Jenuh Air
(°)
10 25 25 5.848 4.985
10 30 30 5.499 4.767
Mixed Material 10 35 35 5.254 4.558
20 25 23 3.959 3.162
20 30 27 3.676 2.965
20 35 31 3.478 2.814

Dari hasil analisis, dalam kondisi lereng jenuh diketahui bahwa lereng
dalam kondisi yang cukup stabil walau dengan tinggi yang relatif tinggi,
yaitu 20 meter dengan sudut lereng 35° dan lereng keseluruhan Waste
Dump 31°. Ini diakibatkan oleh sifat fisik material berupa material
Claystone, Sandstone dan material Siltstone yang cukup kompak.
Tetapi demi keamanan area timbunan dan menghindari ancaman longsor,
direkomendasikan pembuangan tanah penutup menggunakan lahan yang
berkontur cekungan di sekitar area tambang.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 23
5.2. Hidrologi – Hidrogeologi
Kajian hidrogeologi pada lokasi rencana penambangan PT. Mutiara Merdeka
Jaya sangat penting untuk dilakukan. Kajian ini mempunyai tujuan sebagai
berikut :
 Menganalisis karakteristik curah hujan di lokasi rencana penambangan.
 Mengidentifikasi lapisan akuifer di lokasi rencana penambangan serta
karakteristiknya.
 Memberikan rekomendasi dan masukan berupa parameter rancangan
untuk pekerjaan perancangan sistem penyaliran/penirisan tambang.
Kajian hidrologi mempunyai tujuan untuk memberikan pemahaman kualitatif
dan kuantitatif dari proses hidrologi fisis yang terjadi di daerah penelitian.

5.2.1. Akuisisi Data


5.2.1.1. Jenis
Kajian ini menggunakan metode kuantitatif yang terkait dengan pengumpulan,
penggunaan data yang benar, dan interpretasi data klimatologi dan hidrologi.
Ruang lingkup dalam penyelidikan ini mencakup identifikasi lapisan akuifer,
instalasi sumur piezometer, pengukuran muka air tanah, curah hujan, serta
kualitas air tanah.

5.2.1.2. Jumlah
Kegiatan pemboran bertujuan untuk mengetahui susunan litologi di dalam
lubang bor. Dari jenis lithology tersebut, nantinya dapat ditentukan jenis-jenis
akuifer yang ada.
Kegiatan pemboran dilakukan dengan menggunakan mesin Jacro 175 dan
Jacro 200. Methode pemboran adalah open hole, touch coring maupun full
coring, tergantung kepada kondisi dan keperluan data. Hasil dari kegiatan
pemboran adalah didapatkannya core/sampel batuan. Dari sample tersebut
kemudian ditetukan jenis batuan, ketebalan batuan dan perkiraan lapisan
aquifer.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 24
Analisis curah hujan bertujuan untuk menegetahui besarn curah hujan dan
intensitas curah hujan yang terdapat di wilayah penelitian serta menentukan
debit air limpasan yang akan terjadi.

5.2.2. Analisis Hidrologi-Hidrogeologi


5.2.2.1. Hidrologi
A. Kondisi Hidrologi
Dengan asumsi bahwa karakteristik hujan di wilayah penambangan
batubara PT. Mutiara Merdeka Jaya mirip dengan karakteristik hujan yang
ditunjukkan di Stasiun BMKG Bandara Termindung Samarinda maka
pengaruh hujan terhadap kegiatan penambangan adalah sebagai berikut :
a. Pengaruh pada kinerja operasi penambangan
Tingginya curah hujan serta hari hujan pada lokasi penambangan akan
mempengaruhi secara langsung kinerja operasi penambangan.
Apabila curah hujan tinggi, maka akan menghasilkan debit air limpasan
pada bukaan tambang dalam jumlah besar. Air limpasan ini akan
menggenangi lantai kerja, sehingga unit alat berat tidak dapat bekerja,
dan kegiatan penambangan harus dihentikan. Hal ini mengakibatkan
banyak waktu kerja yang hilang, sehingga akan menurunkan
produktivitas. Maka yang perlu diperhatikan adalah penentuan
rencana produksi bulanan yang disesuaikan dengan karakteristik hujan
bulanan yang bersangkutan. Hal ini bersangkutan dengan target
produksi tahunan yang akan dicapai.
b. Pengaruh pada rancangan sarana penyaliran tambang
Metode penambangan yang menggunakan metode open pit, akan
menghasilkan lubang bukaan tambang. Apabila curah hujan pada daerah
tersebut tinggi, maka akan menghasilkan debit air limpasan dalam jumlah
besar, yang kemudian masuk ke dalam pit. Oleh karena itu perlu
dirancang sebuah sistem penyaliran tambang yang efektif, yang bertujuan
untuk mengatasi masalah air pada pit, sehingga tidak mengganggu
kegiatan penambangan. Sistem penyaliran tambang tersebut meliputi
sump (sumuran pada dasar pit), saluran terbuka/paritan, dan kolam

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 25
pengendapan (settling pond).
Tabel 5.15
Data Curah Hujan Kab.Kutai Kartanegara 2001 – 2010
Parameter Pemantauan
Tahun Curah Hujan Average Hari Hujan
(mm/thn) (mm/day) (HH/thn)
2001 1913,3 5,24 226.00
2002 1676.9 11.16 187.00
2003 2345.3 12.02 220.00
2004 2591.5 12.06 218.00
2005 2550.4 13.15 233.00
2006 1946.7 12.45 193.00
2007 2454.1 12.73 246.00
2008 2757.5 10.57 261.00
2009 2163.2 10.40 208.00
2010 2437.2 9.37 260.00
Total 22836.1 113.89 2252.00
Rata-rata 2283.6 11.39 225.20
Sumber : Stasiun BMKG Bandara Termindung Samarinda

Pada rancangan penyaliran nilai batas curah hujan diambil 10.14


mm/hari. Nilai ambang batas ini diperoleh dari curah hujan tahunan
maksimum berdasarkan data curah hujan dari tahun 2001 - 2010 dibagi
dengan jumlah hari hujan rata-rata setahun. Diketahui curah hujan
tahunan maksimum = 2283.6 mm dan hari hujan rata- rata tahunan =
225.2 hari, maka nilai ambang batas = 10.14 mm/hari.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI

V- 26
Gambar 5.15
Grafik Curah Hujan Kab. Kutai Kartanegara Tahun 2001-2010

Lokasi rencana penambangan memiliki hujan tropis yang ditandai adanya


pergantian dua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau. Berdasarkan
data curah hujan (2001-2010) musim penghujan dengan intensitas tinggi
terjadi pada bulan Desember - Mei. Intensitas hujan yang bervariasi
dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) sampai
panjang (lama). Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun
(2001-2010), curah hujan di daerah penyelidikan berkisar antara 2.1 – 501
mm/tahun.

B. Air limpasan
Air limpasan (surface run off) adalah bagian dari curah hujan yang
mengalir di atas permukaan tanah menuju ke sungai, danau maupun
laut. Aliran tersebut terjadi karena air hujan yang mencapai permukaan
tanah tidak terinfiltrasi akibat intensitas hujan melampaui kapasitas infiltrasi
atau faktor lain, seperti kemiringan lereng, bentuk dan kekompakan

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V- 26
permukaan tanah serta vegetasi. Disamping itu, air hujan yang telah
masuk ke dalam tanah kemudian keluar lagi ke permukaan tanah dan
mengalir ke bagian yang lebih rendah. Dalam memperhitungkan
debit air limpasan memerlukan beberapa asumsi untuk mempermudah
perhitungan, sehingga hasil perhitungan bukan merupakan angka mutlak.
Metode yang dianggap baik untuk menghitung debit air limpasan
puncak (peak run off = Qp) adalah Metode Rasional (US Soil
Conservation Service, 1973) sebagai berikut :
Qp = 0,278 C I A
Keterangan :
Qp : Debit puncak (m3/detik)
C : Koefisien air limpasan
I : Intensitas hujan (mm/jam)
A : Luas daerah tangkapan hujan (km2)

Koefisien air limpasan (run off) adalah bilangan yang menunjukkan


perbandingan antara air limpasan dengan jumlah air hujan. Sedangkan
koefisien Regim Sungai (KRS) merupakan koefisien perbandingan antara
debit harian rata-rata maksimum dengan debit harian rata-rata minimum.
Makin kecil harga koefisien ini, semakin baik kondisi hidrologi dari suatu
wilayah DAS. Secara makro evaluasi terhadap DAS dapat juga dilakukan
dengan menghitung nisbah (ratio) debit maksimum-minimum dari tahun ke
tahun.
Kandungan padatan (Cs) air sungai umumnya dinyatakan dalam mg/lt air.
Parameter ini secara konvensional dapat dipakai untuk mengevaluasi
secara cepat kondisi suatu DAS, yaitu dengan cara melihat
kecenderungan (trend) nilai kandungan padatan dalam air sungai tersebut
(Winarno, 1993). Dari aspek hidrologi kandungan padatan umumnya
dikaitkan dengan debit air sungai, yaitu membuat kurva hubungan antara
kandungan padatan (Cs) dengan debit sungai (Q).
Penentuan koefisien limpasan yang dipergunakan dalam rancangan
penyaliran air tambang umumnya menggunakan the catchment average

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V- 27
volumetric run off coefficient. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain
kondisi permukaan tanah, luas daerah tangkapan hujan, kondisi tanaman
penutup, dan beberapa faktor. Oleh karena itu, setiap daerah biasanya
mempunyai koefisien limpasan yang berbeda-beda.

5.2.2.2. Hidrogeologi
Kajian hidrogeologi merupakan kegiatan awal yang bertujuan untuk
memperoleh gambaran mengenai potensi airtanah secara semi-kuantitatif
yang meliputi kajian dimensi, geometri, parameter, dan karakteristik akuifer
maupun non- akuifer serta mengkuantifikasi jumlah dan mutu airtanah yang
terkandung di dalamnya. Metode penyelidikan secara umum meliputi
kegiatan pengumpulan data sekunder dan data primer (pengukuran dan
pengujian lapangan) yang berkaitan dengan sistem air tanah, pengujian
laboratorium, evaluasi, dan analisis data.
Hasil dari penyelidikan ini adalah tersedianya data dan informasi awal
tentang potensi ketersediaan airtanah dan kondisi hidrolika pada
sistem akuifer utama. Data ini dapat digunakan sebagai acuan untuk
pekerjaan perencanaan selanjutnya, baik dalam rangka upaya
pemanfaatan airtanah sebagai sumberdaya, maupun airtanah sebagai
kendala bagi kegiatan penambangan batubara.

A. Kajian Akuifer
Kajian akuifer dilakukan untuk mengetahui sistem akuifer di daerah
penyelidikan. Kajian ini sangat diperlukan untuk mengetahui karakteristik
akuifer dan potensi air tanah di daerah penyelidikan. Karakteristik akuifer
dapat diketahui dari jumlah lapisan dan sebaran akuifer, jenis akuifer dan
beberapa parameter akuifer maupun kualitas air tanahnya.
Berdasarkan data pemboran, kondisi akuifer dan potensi airtanah dari
daerah sekitar lokasi penyelidikan untuk masing-masing formasi adalah
sebagai berikut :
a. Endapan alluvium

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V- 28
Pada formasi ini terdapat lapisan yang dapat bertindak sebagai
akuifer bebas, yaitu lapisan material timbunan, yang merupakan
campuran dari claystone, sandstone, siltstone, dan sebagainya.
b. Lapisan batupasir di daerah penyelidikan dapat bertindak sebagai
akuifer karena mempunyai porositas dan permeabilitas yang baik.
Di daerah penyelidikan secara umum terdapat dua jenis akuifer, yaitu
akuifer bebas dan akuifer tertekan. Akuifer bebas umumnya terdiri dari
pasir, kerikil dan kerakal bercampur lempung.

B. Slug Test
Konduktivitas hidrolik atau koefisien permeabilitas adalah sebagai
kemampuan suatu medium untuk mengalirkan sejumlah volume air tanah
persatuan waktu pada luas penampang yang diukur tegak lurus arah
aliran, dibawah suatu kelandaian hidrolik. Analisa pengukuran slug test
yang dilakukan pada lubang bor diolah menggunakan metode Bauwer &
Rice, 1976.

Gambar 5.16
Model parameter perhitungan koefisien permeabilitas (Bauwer & Rice, 1976)

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V- 29
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

Untuk mengetahui konduktivitas hidrolik atau koefisien permeabilitas


suatu akuifer dapat dihitung menggunakan rumus di bawah ini :

A H2
K= ln
F (t2- t1) H1

Keterangan :
K : Konduktivitas hidrolik
A : Luas penampang lubang bor
F : 2.75 d (di mana d = diameter lubang bor)
t2 : Waktu yang di tempuh dalam pengukuran H2
t1 : Waktu yang di tempuh dalam pengukuran H1
H1 : Ketinggian muka air tanah pada waktu pengukuran awal
H2 : Ketinggian muka air tanah pada waktu pengukuran
akhir

Hasil analisa pengukuran slug test yang dilakukan pada lubang bor
menggunakan metode Bower & Rice, 1976, dapat dilihat pada tabel dibawah
ini:

Tabel 5.16
Hasil Pengukuran Slug Test

Bor ID Depth GWL (cm) K (m/ s)


GT-01 0 - 60 935 1,58 x 10-5
GT-02 0 - 60 1125 2,98 x 10-5

Berdasarkan analisa pengukuran slug test diatas, maka nilai koefisien


permeability (konduktivitas hidraulis) yang dianggap mewakili dan berlaku
untuk keseluruhan lokasi rencana tambang yaitu 1,58 x 10-5 m/s.

C. Masalah Air Tanah di Dalam Kegiatan Penambangan


Operasi penambangan dapat dipengaruhi oleh kondisi air tanah dari
akuifer dan akuitard yang ada direncana lokasi penambangan. Dari
hasil slug test diperoleh nilai konduktivitas yang cukup besar.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 30
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

Berdasarkan hal ini dapat diperkirakan kuantitas air tanah berpengaruh

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 31
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

pada kegiatan penambangan .


Permasalahan yang ditimbulkan oleh air tanah di loka si penyelidikan ini
juga berkaitan dengan kemantapan lereng. Untuk mengevaluasi kondisi
air tanah dan untuk menentukan cara penanggulangannya diperlukan
pemantauan rembesan air tanah secara continue serta menyediakan
pompa dewatering dengan kemampuan yang lebih besar daripada nilai
konduktivitas tersebut.

D. Rencana Penyaliran Tambang


Untuk dapat melakukan pengendalian air tambang dengan baik perlu
diketahui sumber dan perilaku air. Sumber air yang masuk ke lokasi
penambangan, dapat berasal dari air hujan yang langsung masuk kedalam
lubang bukaan tambang, air permukaan tanah dan air bawah tanah. Jumlah
air hujan yang langsung masuk ke lokasi penambangan tergantung dari luas
pit yang dibuka dan intensitas hujan yang jatuh pada bukaan tambang
tersebut. Air permukaan tanah merupakan air yang terdapat dan mengalir di
permukaan tanah. Jenis air ini meliputi, air limpasan permukaan, air sungai,
rawa atau danau yang terdapat di daerah tersebut dan mata air. Sedangkan
air bawah tanah merupakan air yang terdapat dan mengalir di bawah
permukaan tanah. Jenis air ini meliputi airtanah dan air rembesan.
Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
a. Mine Drainage
Merupakan upaya untuk mencegah masuknya atau mengalirnya air ke
daerah penambangan. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan
airtanah dan air yang berasal dari sumber air permukaan. Adapun metode
mine drainage yang digunakan untuk mencegah agar air tersebut tidak masuk
ke lokasi penambangan adalah dengan membuat paritan/saluran di sekeliling
pit atau dilereng pit untuk mengalirkan air tersebut ke daerah lain yang lebih
rendah.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 32
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

b. Mine Dewatering
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke daerah
penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang berasal dari air
hujan. Adapun metode mine dewatering yang digunakan untuk mengatasi
masalah air pada pit adalah metode open sump. Open sump (kolam terbuka)
adalah suatu metode penyaliran dengan cara membuat sumuran (sump) di
elevasi terendah daerah penambangan (lantai tambang). Sistem ini
diterapkan untuk membuang air tambang dari lokasi kerja tambang. Air
tambang dikumpulkan pada sumuran (sump), kemudian dipompa keluar
pit.
Elevasi sump dibuat lebih rendah dari elevasi daerah penggalian agar daerah
penggalian tidak tergenang air, sehingga semua air mengalir ke dalam
sump. Untuk menjaga agar tidak terjadi genangan air pada lereng (yang
dapat menyebabkan
terganggunya kemantapan lereng), maka lantai jenjang dibuat miring dan pada
sisi jenjang dibuat paritan. Paritan ini akan mengalirkan air langsung ke luar
daerah tambang. Air yang tidak mungkin dialirkan langsung ke luar daerah
tambang akan dialirkan ke sumuran yang terdapat pada lantai tambang.
Selanjutnya air akan dipompa ke luar pit kemudian diendapkan dalam
kolam pengendapan yang ditempatkan pada lokasi-lokasi tertentu,
sebelum dialirkan ke sungai sungai di sekitar daerah tambang.

E. Debit Air Tambang


Jumlah keseluruhan air tambang yang masuk ke pit terdiri dari debit air
hujan, debit air limpasan, dan debit air tanah yang masuk ke pit. Total
debit air ini dapat diketahui melalui perhitungan dibawah ini :
1. Debit Air Hujan Yang Masuk Ke Pit
Adapun air yang masuk kedalam tambang ini berasal dari air hujan
yang langsung masuk ke area penambangan, yang dapat dihitung
dengan menggunakan rumus :

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 33
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

Q p = A . CH max

Keterangan :
Qp = debit air yang langsung masuk ke area tambang
(m3/detik) CH max = curah hujan harian maksimum (m/detik)
A = luas area penambangan (m2)

Debit air hujan yang langsung masuk ke pit pada daerah penelitian dapat
diketahui dengan perhitungan di bawah ini, yaitu :
Diketahui :
Hari Hujan rata-rata : 225,2 hari
CH rencana maksimum : 2283,6 mm/th = 2,2836 m/th = 0,0062 m/hari
Luas Pit (Blok Pit) : 10,74 Ha = 107.400 m²
Maka, debit air hujan yang masuk ke dalam pit adalah sebagai berikut
: Qh = Curah hujan max x Luas pit (Blok Pit)
Qh = 0,0062 m/hari x 107.400 m2
Qh = 665,88 m³/hari
Qh = 0,0077 m3/detik

2. Debit Air Limpasan Masuk ke PIT


Air limpasan yang masuk ke pit tersebut terjadi karena air hujan yang
mencapai permukaan tanah tidak terinfiltrasi ke dalam tanah, atau air
hujan yang telah masuk ke dalam tanah kemudian keluar lagi ke
permukaaan tanah, sehingga akan mengalir ke daerah yang lebih rendah,
dalam hal ini yaitu lubang bukaan tambang (pit). Debit air limpasan (run off)
ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Qp = 0,278 C I A (m3/detik)
Keterangan :
Qp : debit puncak (m3/detik)
C : koefisien air limpasan
I : intensitas hujan
(mm/jam) A : luas daerah
DTH (km2)
BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI
V - 34
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

Debit air limpasan (run off) yang masuk ke dalam pit pada daerah
penelitian dapat diketahui melalui perhitungan di bawah ini :
Diketahui :
C : 0,75 (merupakan koefisien limpasan untuk dasar pit dan jenjang)
I : 37,33 mm/jam = (1.58 x 10-5 m/detik)
A : 10,74 Ha = 107.400 m2
Maka, banyaknya air limpasan yang masuk ke pit adalah :
Qp = 0.278.C.I.A
Qp = 0,278 x 0,75 x (1.58 x 10-5) x 107.400
Qp = 0,354 m³/detik

3. Debit Air Tanah Masuk ke Pit


Setelah melakukan kajian hidrogeologi, dapat diketahui tentang potensi
ketersediaan air tanah pada daerah penelitian, termasuk di dalamnya yaitu
karakteristik akuifer, tinggi muka air tanah, dan sebagainya. Air tanah yang
masuk ke dalam pit dapat terjadi karena adanya perbedaan tinggi muka air
tanah akibat pembukaan lahan untuk dijadikan pit, sehingga air tanah akan
mengalir ke daerah yang lebih rendah dan akan merembes ke permukaan.
Debit air tanah yang masuk ke pit ini dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :
Qakf = A.k
Keterangan :
Qakf : Debit air tanah yang masuk ke pit
(m3/detik) k: Koefisien permeabilitas batuan
(m/detik)
A : Luas akuifer terbuka (m2)
Debit air tanah yang masuk ke dalam pit pada daerah penelitian dapat
diketahui melalui perhitungan di bawah ini :
Diketahui :
h : 60 m (tebal akuifer)
Lpit : 980 m
k : 1,58 x 10-5 m/detik
BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI
V - 35
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

A : Lpit . h

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 36
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

: 980 m x 67 m
: 65.660 m2
Maka, debit air tanah yang masuk ke pit adalah :
Qakf : A x k
: 65.660 m2 x (1,58 x 10-5 m/detik)
: 1, 037/detik

4. Total Debit Air Masuk ke Pit


Total debit air yang masuk ke dalam pit adalah jumlah keseluruhan air yang
masuk ke pit, yaitu terdiri dari debit air hujan, debit air limpasan, dan debit air
tanah yang masuk ke pit. Total debit air ini dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Q total = Q h + Q p + Q akf
Keterangan :
Qh : Debit air hujan yang masuk ke pit (m3/detik)

Qp : Debit air limpasan yang masuk ke pit


(m3/detik) Qakf : Debit air tanah yang masuk ke pit
(m3/detik)

Maka, jumlah total debit air yang masuk ke pit pada daerah penelitian
adalah:
Qtotal : Qh + Qp + Qakf
: (0.017+ 0,354 + 1,037) m3/detik
: 1,408 m3/detik (perhitungan pada Blok Pit Tahun/Triwulan ke-1)

5.2.3. Rekomendasi Hidrologi-Hidrogeologi


5.2.3.1.Rencana Penyaliran Tambang (dimensi sump, dimensiditch,
horizontal/vertical drain, dimensi settling pond)
Penanganan terhadap air yang masuk ke dalam tambang dilakukan dengan
membuat beberapa saluran penyaliran di dalam areal tambang ataupun di luar
areal tambang.
Pengendalian air tambang di luar Pit umumnya dilakukan dengan membuat
saluran pengalihan limpasan air permukaan yang kemudian dialirkan secara

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 37
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

gravitasi menuju ke sungai terdekat. Sedangkan penanggulangan air di dalam

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 38
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

bukaan tambang (Pit area) dilakukan dengan cara membuat saluran-saluran


atau sistem penyaliran air permukaan lereng tambang (dalam bentuk benching
system), yang akan dialirkan menuju sumuran (pit sump) pada lantai tambang.
Kemudian, air di dalam sump ini dipompa ke luar Pit area menuju ke Settling
pond sebelum dialirkan ke sungai. Adapun teknis penanggulangan air tambang
keseluruhan secara detail diuraikan sebagai berikut di bawah ini.

A. Penanggulangan air limpasan di luar pit


Air limpasan adalah air permukaan (run off) yang berasal dari tangkapan air
hujan pada catchment area. Air limpasan di luar pit area (bukaan tambang)
ada yang potensial mengalir menuju ke dalam Pit area dan ini yang harus
ditanggulangi. Namun ada juga yang menjauhi bukaan tambang dan akan
mengalir secara alami menunju lembah terus ke sungai. Berdasarkan analisis
daerah tangkapan (catchment area) pada peta topografi daerah penyelidikan
berskala 1 : 10.000, dapat dilihat bahwa luas catchment area yang berpotensi
mengalirkan air limpasan menuju rencana Pit dapat dilihat dalam tabel 5.13
Cara penanggulangan air limpasan di luar Pit dapat dilakukan dengan
membuat saluran air di sekeliling pit limit sebagai saluran pengalihan air
menunju ke sungai. Dalam merancang saluran pengalihan air agar berfungsi
efektif, tidak terjadi pengendapan (sedimentasi) dan tidak juga terjadi erosi,
serta mudah dalam pengerjaannya, harus mempertimbangkan perkiraan debit
aliran air maksimum, dimensi dan bentuk saluran serta kecepatan aliran.
Bentuk saluran yang umum digunakan pada kegiatan penambangan adalah
bentuk penampang trapesium, karena dianggap paling cocok untuk mengatasi
aliran air dalam jumlah (debit) yang relatif besar.
Perkiraan debit air yang akan mengalir ke dalam saluran pengalihan dalam
kasus studi ini, hanya air dari luar Pit yang bersumber dari hujan dan air
rembesan dari lapisan batuan perbukitan. Nilai debit air tambang di luar pit
area dapat dilihat dalam tabel 5.13
Untuk air limpasan diluar Pit masih bisa ditanggulangi dengan membuat
saluran pelimpasan di belakang Pit limit menuju ke daerah yang lebih rendah

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 39
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

dan dapat mengalir secara gravitasi karena konturnya memungkinkan.


Sedangkan air limpasan yang kurang memungkinkan dialirkan langsung ke
sungai maka dapat dialirkan ke tempat yang lebih rendah terlebih dahulu
melalui saluran pelimpasan di belakang pit limit dan mencari keadaan topografi
yang membentuk lembah. Cara penanggulangan untuk kasus ini, adalah
dengan membuat sumuran air (water sump) dan dengan sistem pemompaan.
Pada tempat yang paling rendah di belakang Pit limit, dibuat water sump
dengan cara membuat galian sedalam 1 m, lebar 20 m, panjang 50 m ke arah
panjang lembah dan tanggul (dam) setinggi 3 m pada sisi Pit limit. Rumah
pompa di pasang di tengah-tengah lebar sump dan saluran pipa pengantar
diupayakan sependek mungkin dipasang menuju titik outlet. Saluran yang
direkomendasikan adalah bentuk trapesium untuk memudahkan dalam
pembuatannya.

Gambar 5.17.
Saluran Trapesium Penyaliran Tambang

B. Penanggulangan air di dalam pit


Air di dalam bukaan tambang (pit) diperhitungkan berasal dari air hujan yang
jatuh di dalam area bukaan tambang dan air rembesan dari bawah
permukaan. Air bawah permukaan (groundwater) berkaitan dengan
keberadaan beberapa lapisan batuan yang dapat merembeskan air tanah,

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 40
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

baik melalui pori-pori maupun rekahan massa batuan, yang dalam studi ini
adalah lapisan batupasir dan batubara.
 Sistem penanggulangan air pada jenjang tambang
Air yang jatuh di dalam bukaan tambang (di dalam Pit area) yang
berjenjang, ditanggulangi dengan cara membuat beberapa saluran
penyaliran pada setiap jenjang, sebagai nampak ilustratif pada gambar di
bawah ini.
Air yang jatuh kedalam Pit akan ditangani dengan menggunakan sistem
penyaliran open sump. Sistem penyaliran open sump ini dilakukan dengan
cara membuat paritan di dekat kaki jenjang (toe) untuk mengalirkan air
menuju ke sumuran serta mencegah genangan air di daerah jenjang (seperti
pada Gambar 5.18). Paritan-paritan ini merupakan paritan yang bersifat
sementara yang akan berubah kedudukannya sesuai dengan kemajuan
penambangan.
Saluran di sekeliling tambang

10 m Saluran di atas jenjang


0
55

10 m

550

Saluran di lantai tambang


10 m

550

Gambar 5.18. Skema sistem penyaliran air pada jenjang

Sistem penyaliran air pada jenjang ini bertujuan untuk mengatur aliran air
pada permukaan jenjang agar dapat mengalir menuju sumuran pada lantai
tambang, sehingga tidak terjadi genangan air di atas jenjang. Pada setiap
level jenjang, dibuat saluran arah vertikal sebagai penghubung antar level

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 41
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

jenjang dengan jarak horizontal setiap 60 m. Pada lantai tambang di level


terendah dibuat sumuran (Pit sump) yang berfungsi sebagai tempat
penampungan akhir dari air yang masuk ke dalam Pit area, sebelum dialirkan
ke luar dengan sistem pemompaan.
Air di dalam pit sump akan dipompakan menuju ke settling pond. yang
disarankan dibuat di bagian atas dan berada di luar pit. Air pada settling pond
ini akan dialirkan lagi menuju ke kolam pengontrol (monitoring pond) yang
berfungsi untuk memantau kualitas air sebelum dialirkan menuju ke sungai.
 Saluran Penyaliran di Lantai Tambang
Saluran penyaliran yang dibuat di lantai tambang ini berfungsi untuk
mengalirkan air yang masuk ke lantai tambang, baik berasal dari rembesan
air tanah, dari air hujan maupun yang berasal dari jenjang penambangan.
Dengan pembuatan saluran penyaliran ini akan dapat menghindari terjadinya
genangan air di lantai tambang, sehingga tidak menganggu operasi peralatan
penambangan. Selain pembuatan saluran-saluran penyaliran tersebut, di
lantai tambang harus dibuat sumuran (sump) untuk menampung air yang
masuk ke dalam tambang, untuk kemudian dipompa ke luar dari tambang.
Hal yang menjadi pertimbangan dalam pembuatan saluran penyaliran air
tersebut adalah sebagai berikut :
- Debit air yang direncanakan dapat dialirkan dari tambang
- Kecepatan aliran air pada saluran penyaliran cukup, agar tidak terjadi
pendangkalan
- Kemudahan pembuatan saluran tersebut menggunakan peralatan tambang
yang ada.
Sistem penyaliran tambang diupayakan tidak menimbulkan polusi terhadap
lingkungan hidup di sekitar kawasan tambang, yaitu dengan cara melengkapi
sistem penyaliran tambang tersebut dengan kolam pengendap untuk
mengendapkan partikel-partikel halus/lumpur.
Kolam pengendap yang akan dibuat diharapkan dapat berfungsi efektif,
sehingga akan dibuat memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti:

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 42
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

- Bentuk kolam pengendap dibuat berkelok-kelok / zig-zag, agar kecepatan


aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap.
- Geometri kolam pengendap disesuaikan dengan ukuran Back hoe yang
biasanya digunakan untuk melakukan perawatan kolam pengendap, seperti
mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul, dan sebagainya.
Rancangan kolam pengendap yang memenuhi persyaratan teknis, dapat dilihat
pada Gambar 5.19, di bawah ini.

Gambar 5.19.
Rancangan Kolam Pengendap (Settling Pond) Yang Memenuhi Persyaratan Teknis

5.2.3.2. Kebutuhan Pompa


Salah satu komponen penting dalam membuat rancangan penyaliran air
tambang adalah memilih dan menentukan jumlah pompa. Karena,
keberhasilan mengatasi air tambang selain tergantung pada ketepatan
perhitungan jumlah air tambang, dimensi dan letak rancangan saluran
penyaliran, juga kapasitas dan jumlah pompa yang dipakai.
Kapasitas dan jumlah pompa yang akan digunakan pada umumnya
ditentukan berdasarkan debit pompa, kemampuan mengatasi head (total
head), daya dan harga. Maka, pompa yang digunakan pada daerah
penelitian mempunyai spesifikasi sebagai berikut :
Merk pompa : Multiflo
Model : MFVC240
Jenis pompa : Centrifugal Pumps

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 43
PT. Mutiara Merdeka Jaya
Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur

RPM : 500 RPM


Kapasitas Maksimum : 500 m³/jam
Kemampuan mengatasi head (total head) : 70 meter
Efisiensi kerja : 65 %

Dalam penentuan jumlah pompa yang akan digunakan untuk penyaliran


tambang, jumlah pompa ditentukan berdasarkan rekomendasi dengan
perbandingan 2:1 dengan jumlah debit total air yang masuk ke tambang.

BAB V. GEOTEKNIK, HODROLOGI DAN GEOHIDROLOGI


V - 44