Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KIMIA FARMASI

INDEKS TERAPI

DOSEN PENGAMPU :

Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU.Apt.

DISUSUN OLEH :

Karya Muliana (16307141044)

Atri Listyanti (16307144025)

Hermawati Zahara (16307144001)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018
DAFTAR ISI

Contents
DAFTAR ISI........................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR................................................................................................................... 2
BAB I ....................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................. 3
A. LATAR BELAKANG ....................................................................................................................... 3
B. TUJUAN ....................................................................................................................................... 4
BAB II........................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ......................................................................................................................... 5
A. PENGERTIAN INDEKS TERAPI ..................................................................................................... 5
B. INDEKS TERAPI............................................................................................................................ 5
C. INDEKS TERAPI SEMPIT ............................................................................................................ 10
BAB III .................................................................................................................................... 12
PENUTUP ............................................................................................................................... 12
A. KESIMPULAN ............................................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 13

1|Page
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil ‘aalamiin, segala puji bagi Allah Swt. Tuhan semesta

alam atas segala karunia nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini

dengan sebaik-baiknya. Makalah yang berjudul “Indeks Terapi” ini disusun untuk

memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kimia Farmasi yang diampu oleh Prof. Dr.

Nurfina Aznam, SU.Apt.

Meski telah disusun secara maksimal oleh penulis, akan tetapi penulis sebagai

manusia biasa sangat menyadari bahwa makalah ini sangat banyak kekurangannya

dan masih jauh dari kata sempurna. Karenanya penulis sangat mengharapkan kritik

dan saran yang membangun dari para pembaca.

Besar harapan penulis semoga makalah ini membantu pembaca dalam

memahami tentang indeks terapi dalam obat.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga para pembaca dapat

mengambil manfaat dan pelajaran dari makalah ini.

Yogyakarta, 16 Oktober 2018

(Penulis)

2|Page
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penggunaan obat – obatan indeks terapi sempit pada populasi khusus seperti

gagal ginjal, gagal hati dan gagal jantung harus dilakukan pemantauan penggunaan

termasuk penyesuaian dosis karena penurunan fungsi organ vital akan berpengaruh

terhadap proses absorpsi, distribusi, eliminasi (ekresi dan metabolisme) obat di

dalam tubuh, jika hal ini dibiarkan maka beresiko membahayakan tubuh pasien

(Shargel et.al, 2004).

Ginjal adalah organ vital yang bekerja mengatur keseimbangan cairan,

elektrolit tubuh, serta pembuangan sisa metabolisme tubuh. Perubahan fungsi ginjal

berpengaruh pada efek farmakologi antibakteri dan farmakokinetika obat (Shargel

et.al, 2004; Gillbert et.al, 2011). Pada pasien gangguan fungsi ginjal obat yang

diekresi pada jumlah banyak di ginjal akan berpengaruh pada ikatan protein dan

volume distribusi, obat – obatan tersebut, sehingga pada pemberian berulang obat

akan menumpuk di tubuh, apabila dosis tidak disesuaikan akan mencapai level toksik

yang berdampak buruk bagi pasien (Shargel et.al, 2004). Pasien gagal ginjal di

Indonesia tiap tahunnya terus meningkat, berdasarkan survey yang dilakukan

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (2009) sebanyak 12,5% (25 juta) penduduk

mengalami penurunan fungsi ginjal, angka ini diperkirakan akan meningkat 10% tiap

tahunnya.

3|Page
B. TUJUAN

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu :

1. Memahami indeks terapi pada obat

2. Menentukan nilai indeks terapi obat

3. Mengetahui hubungan antara besarnya nilai indeks terapi dengan keamanan obat

4|Page
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN INDEKS TERAPI

Indeks terapi adalah perbandingan antara dosis yang menghasilkan efek

pada 50% hewan percobaan (ED 50) dengan dosis yang mematikan 50% hewan

percobaan (LD 50) Indeks terapi merupakan ukuran keamanan obat. Intensitas

efek obat pada makhluk hidup lazimnya meningkat jika dosis obat yang diberikan

kepadanya juga ditingkatkan.

B. INDEKS TERAPI

Hampir semua obat pada dosis yang cukup besar menimbulkan efek toksis

dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian (dosis toksis = TD dan dosis

letal = LD). Takaran pada mana obat menghasilkan efek yang diinginkan disebut

dosis terapeutik (Tan & Raharja, 1978).

Untuk menilai keamanan dan efek suatu obat, dalam laboratorium

farmakologi dapat dilakukan percobaan-percobaan binatang dan yang ditentukan

adalah khususnya DE50 dan DL50 yaitu dosis yang menghasilkan efek pada 50%

dari jumlah binatang dan dosis yang mematikan 50% dari jumlah binatang.

Perbandingan antara kedua dosis ini dinamakan indeks terapi yang merupakan

suatu ukuran untuk keamanan obat; semakin besar indeks terapi, semakin aman

penggunaan obat tersebut. Akan tetapi, hendaknya diperhatikan bahwa indeks

terapi ini tidak dengan begitu saja dapat dikorelasikan terhadap manusia, seperti

5|Page
halnya dengan semua hasil dari percobaan binatang berhubung perbedaan-

perbedaan metabolism (Ganiswarna, 1995).

Indeks Terapetik dan Batas Terapetik

Obat mempunyai respon farmasetik sepanjang masih adanya dosis obat

yang terkandung dalam obat dan berada dalam margin/ batas keamanan obat.

Beberapa obat mempunyai batas terapi yang luas. Ini menunjukkan bahwa pasien

dapat diberikan dengan range tingkat dosis yang lebar tanpa terjadi efek toksik.

Obat lainnya mempunyai batas terapi yang sempit dimana perubahan sejumlah

kecil dosis obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan atau

bahkan efek toksik.

Indeks Terapetik (IT) memberikan informasi batas keamanan dari obat dan

rasio antara dosis terapi pada 50% pasien/binatang coba dan lethal dose (dosis

yang menyebabkan kematian) pada 50 % binatang coba. Dosis terapetik

disimbolkan dengan ED50 dan lethal dose disimbolkan dengan LD50. Rasio

mendekati angka 1, dan lebih dari itu merupakan efek toksik.

IT = LD50/ED50

Obat yang mempunyai IT yang rendah dapat disimpulkan mempunyai batas

keamanan yang sempit (indeks terapi sempit). Obat-obatan ini memerlukan

pengawasan pada level obat dalam plasma dan penyesuaian dosis untuk mencegah

munculnya efek toksik. Jumlah obat dalam plasma harus berada di dalam batas

6|Page
terapi. Jika diilustrasikan pada gambar batas antara MEC (Minimum Effective

Concentration) dan MTC (Minimum ToxicConcentration). MEC dicapai pada

pemberian dosis awal, dimana pemberian dosis awal yang besar diharapkan agar

bisa tercapainya obat dalam plasma diatas MEC secara cepat.

Obat mempunyai respon farmasetik sepanjang masih adanya dosis obat

yang terkandung dalam obat dan berada dalam margin/ batas keamanan obat.

Beberapa obat mempunyai batas terapi yang luas. Ini menunjukkan bahwa pasien

dapat diberikan dengan range tingkat dosis yang lebar tanpa terjadi efek toksik.

Obat lainnya mempunyai batas terapi yang sempit dimana perubahan sejumlah

kecil dosis obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan atau

bahkan efek toksik ( Yesi, 2009 ).

Dosis yang memberikan efek terapi pada 50% individu disebut dosis terapi

median atau dosis efektif median ( ED 50 ). Dosis letal median ( LD 50 ) adalah

dosis yang menimbulkan kematian pada 50% individu, sedangkan TD 50 adalah

dosis toksik pada 50% individu . Indeks terapeutik suatu obat adalah rasio dari

dosis yang menghasilkan racun dengan dosis yang menghasilkan respon klinis

yang diinginkan atau efektif dalam populasi individu.

Dimana: TD50 adalah dosis obat yang menyebabkan respon beracun di 50%

dari populasi dan ED50 adalah dosis terapi obat yang efektif dalam 50% dari

populasi.

7|Page
Baik ED50 dan TD50 dihitung dari kurva dosis respon quantal, yang

merupakan frekuensi yang masing-masing dosis obat memunculkan efek respon

atau beracun yang diinginkan dalam populasi.

Ada beberapa karakteristik penting dari kurva dosis-respons quantal (lihat gambar

di atas) yang patut dicatat:

a. Dosis obat dalam plasma diplot dalam sumbu horisontal sedangkan

persentase individu (hewan atau manusia) yang menanggapi atau

menunjukkan efek toksik direpresentasikan dalam sumbu vertikal.

b. Beberapa contoh respon positif meliputi: bantuan, sakit kepala untuk obat

antimigraine, peningkatan denyut jantung minimal 20 bpm untuk stimulan

jantung, atau 10 jatuh mmHg pada tekanan darah diastolik untuk

antihipertensi.

c. Data diperoleh dari suatu populasi. Tidak seperti grafik dosis-respons

dinilai, data untuk kurva dosis-respons quantal diperoleh dari banyak

8|Page
individu.

Grafik di bawah menunjukkan bagaimana ED50 dihitung.

Dosis yang diperlukan untuk menimbulkan efek terapi (respon positif)

dalam 50% dari populasi adalah ED50 tersebut.

Dosis yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek toksik di 50% dari

populasi dikaji adalah TD50 tersebut. Untuk studi hewan, LD50 adalah dosis yang

dapat menyebabkan kematian 50% dari populasi ( Guzman, 2011 ).

9|Page
C. INDEKS TERAPI SEMPIT

Obat dengan indeksi terapi sempit merupakan obat-obat dengan batas

keamanan yang sempit. Pada obat dengan indeks terapi sempit, perubahan

sejumlah kecil dosis obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan

atau bahkan efek toksik. Oleh karena itu, obat-obat ini memerlukan pengawasan

pada level obat dalam plasma dan penyesuaian dosis untuk mencegah timbulnya

efek toksik (Kang dan Lee, 2009).

Adapun contoh dari obat indeks terapi sempit diantaranya adalah sebagai

berikut :

1. Asam valproat

Selain memiliki banyak efek samping juga termasuk dalam golongan obat-

obat dengan indeks terapi sempit dengan kisar terapi 50-100 mg/L (Winter,

1994).

2. Teofilin [(3,7-dihidro-1,3-di-metilpurin-2,6-(1H)-dion] atau 1,3-

dimetilxantin.

adalah bronkodilator yang digunakan untuk pasien asma dan penyakit paru

obstruktif yang kronik, namun tidak efektif untuk reaksi akut pada penyakit

paru obstruktif kronik.

Teeofilin merupakan salah satu obat yang memiliki indeks terapi sempit

yaitu 8-15 mg/L darah. Potensi toksisitasnya telah diketahui berhubungan

dengan kadar teofilin utuhdalam darah yaitu >20 mg/L. Penggunaan teofilin

10 | P a g e
dosis tinggi dapat menyebabkan takikardi, muntah, dan transplacental

toxicity.

3. Warfarin

Warfarin merupakan antikoagulan oral. Lebih dari 90% dari warfarin terikat

pada albumin plasma, yang mungkin menjadi penyebab kenapa volume

distribusinya kecil (ruang albumin), jika albumin plasma rendah maka obat

bebas dari warfarin ini akan meningkat, oleh karenanya ia disebut obat

dengan indeks terapi sempit (Katzung, 2004; Jaffer, Bragg, 2003)

11 | P a g e
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan dari pembahasan di atas mengenai indeks terapi maka dapat

disimpulkan bahwa:

1. Indeks terapi adalah perbandingan antara dosis yang menghasilkan efek

pada 50% hewan percobaan (ED 50) dengan dosis yang mematikan 50%

hewan percobaan (LD 50) Indeks terapi merupakan ukuran keamanan obat.

2. Indeks terapi dapat ditentukan menggunakan persamaan IT = LD50/ED50.

3. Hubungan indeks terapi dengan keamanan obat yaitu semakin luas indeks

terapi maka semakin aman obat dengan arti apabila terdapat perubahan

dosis maka tidak akan menimbulkan efek toksik di dalam tubuh.

12 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, 271-288 dan 800-
810, Bagian. Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.

Katzung, B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, Diterjemahkan oleh


Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, Buku III, sixth edition, 531,637, Penerbit Salemba Medika,
Jakarta.

Shargel, L., Andrew B.C. Yu, 2004, Biofarmasetikadan Farmakokinetika


Terapan, Edisi Kedua, Siti Sjamsiah, Penerjemah; Surabaya, Airlangga
University Press, Terjemahan dari: Applied Biopharmaceutics and
Pharmacokinetics.

Anonimus: http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/metabolisme_obat.htm

Gilbert S.F. 2011. Developmental Biology. 8th ed. USA: Sinauer Associates
Inc.

Guzman, Flavio. 2011. Terapi Indeks.


http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://p
harmacologycorner.com/therapeutic-index/ ( diakses pada tanggal 18
Maret 2011 )

Yesi. 2009. Indeks Terapetik dan Batas Terapetik.


http://yesimeiditama.blogspot.com/2009/02/indeks-terapetik-dan-batas-
terapetik.html ( diakses pada tanggal 18 Maret 2011 ).

Jung, M., Park, M., Lee, H.C., Kang, Y.H., Kang, E.S., & Kim,S.K., 2009
Antidiabetic Agent From Medical Plants, Current Medicinal
Chemistry,13, 1203-1218.

13 | P a g e
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja, 1978, Obat-Obat Penting
Khasiat,Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi Keenam, 262,
269-271, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta

Winter, M.E., 1994, Basic Clinical Pharmacokinetics,3rd ed., Applied


Therapeutics, Inc.,
Vancouver.

14 | P a g e