Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2015

Struktur dan Fungsi Biomolekul Waktu : 08.00-11.00 WIB


PJP : Inda Setyawati, STP, MSi
Asisten : Annisa Dhiya A.K.
M. Fakhri Ramadhan
Kartika A.
Rosliana P.D.

PROTEIN I

Kelompok
Muhamad Irfani G84130030
Chintya Ayu Puspita G84130003
Fitriana Rahma Puspita G84130029
Wida Nurul Alfisyahrin G84130061

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
2

PENDAHULUAN

Protein adalah makromolekul yang tersusun dari bahan dasar asam amino. Asam
amino yang menyusun protein ada 20 macam. Protein terdapat dalam sistem hidup
semua organisme baik yang berada pada tingkat rendah maupun organisme tingkat
tinggi. Protein mempunyai fungsi utama yang kompleks di dalam semua proses biologi.
Protein berfungsi sebagai katalisator, sebagai pengangkut dan penyimpan molekul lain
seperti oksigen, mendukung secara mekanis sistem kekebalan (imunitas) tubuh,
menghasilkan pergerakan tubuh, sebagai transmitor gerakan syaraf dan mengendalikan
pertumbuhan dan perkembangan. Analisa lementer protein menghasilkan unsur-unsur C,
H, N dan 0 dan sering juga S. Disamping itu beberapa protein juga mengandung unsur-
unsur lain, terutama P, Fe, Zi dan Cu (Katili 2009).
Albumim merupakan protein globular yang terdiri atas A: 7.9%, R: 4.3%, N:
2.3%, D: 6.6%, C: 5.8%, Q: 3.8%, E: 9.7%, G: 2.8%, H: 2.8, I: 2.5%, L: 10.7%, K:
9.9%, M: 0.8%, F: 4.9%, P: 4.6%, S: 5.3%, T: 5.6%, W: 0.5%, Y: 3.5%, dan V: 6.3%.
Kasein merupakan fosfoprotein yang terdiri atas A: 4.0%, R: 1.8%, N: 2.2%, D: 1.8%,
C: 0.4%, Q: 8.9%, E: 8.5%, G: 2.2%, H: 2.7, I: 4.9%, L: 12.1%, K: 5.4%, M: 3.1%, F:
4.0%, P: 15.2%, S: 7.1%, T: 4.0%, W: 0.4%, Y: 1.8%, V: dan 9.4%. Gelatin terdri atas
A: 4.8%, R: 19%, E: 19%, G: 33%, P: 14.3 %, dan W: 4.8% (NCBI, Expassy 2015).
Tirosin adalah salah satu dari 20 asam amino yang digunakan oleh sel-sel hidup
untuk mensintesis protein. Tirosin, (OHC6H4CH2CH (NH2) COOH), biasanya bukan
asam amino esensial pada manusia karena dapat disintesis dari fenilalanin. Sistein
merupakanasam amino non esensialyang mengandung gugus sulfhidril (-SH). Dengan
oksidasidua molekul sistein akan berikatan dan membentuk molekulsistin. Nama lain
dari sistein adalah asam 2-amino-3-merkapto propanoat dengan rumus
HSCH2CH(NH2)COOH. Sistein biasa disingkat dengan Cys. Triptofan merupakan satu
dari 20 asam amino penyusun protein yang bersifat esensial bagi manusia. Bentuk yang
umum pada mamalia adalah, seperti asam amino lainnya, L-triptofan. Gugus fungsional
yang dimiliki triptofan, indol, tidak dimiliki asam-asam amino dasar lainnya. Akibatnya,
triptofan menjadi prekursor banyak senyawa biologis penting yang tersusun dalam
kerangka indol (Weisberger dan Suhrland 1956; Edelhoch 1967). Praktikum ini
beertujuan menganalisis protein sampel.

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Pendidikan Biokimia, Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB. Waktu praktikum ini yaitu hari Jumat, 9
Oktober 2015, pukul .08.00-11.00 WIB.

Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan adalah glukosa 1%, fruktosa, sukrosa 1%, laktosa 1%,
maltosa 1%, pati 1%, pereaksi molisch, asam sulfat pekat, pereaksi benedict, pereaksi
3

barfoed, fosfomolibdat, dan ragi. Alat yang digunakan adalah alat gelas (pipet mohr,
tabung reaksi, dan tabung fermentasi), pinggan porselin, dan penangas air.

Prosedur Penelitian

Uji Millon

Sebanyak 5 buah masing-masing dimasukan 1.5 mL fenol 2%, pepton 2%, kasein
2%, gelatin 2%, dan albumin 2%. Semua tabung diberi label sesuai dengan jenis
sampelnya. Selanjutnya ke dalam masing-masing tabung ditambahkan 3 tetes pereaksi
millon. Kemudian masing-masing tabung diamati perubahannya.

Uji Hopkins-Cole

Sebanyak 4 buah masing-masing dimasukan 1 mL fenol 2%, pepton 2%, kasein


2%, gelatin 2%, dan albumin 2%. Kemudian ke dalam masing-masing tabung
ditambahkan pereaksi Hopkins-Cole sebanyak 1 mL. Selanjutnya ke dalam masing-
masing tabung ditambahkan asam pekat secara perlahan sebanyak 1 mL dengan posisi
tabung miring. Masing-masing tabung diamati perubahannya.

Uji Ninhidrin
Sebanyak 4 buah masing-masing dimasukan 3 mL fenol 2%, pepton 2%, kasein
2%, gelatin 2%, dan albumin 2%. Selanjutnya ke dalam masing-masing tabung
ditambahkan pereaksi ninhidrin sebanyak 0.5 mL. Selanjutnya sampel dipanaskan dengan
suhu 100 °C selama 10 menit. Setelah dipanaskan sampel diamati perubahannya.

Uji Belerang
Sebanyak 1 mL sampel dimasukan ke dalam tabung. Sampel yang digunakan
adalah pepton 2%, kasein 2%, gelatin 2%, dan albumin 2% yang dimasukan ke dalam
tabung yang berbeda. Selanjutnya 2.5 mL NaOH 10% ditambahkan ke dalam tabung
kemudian tabung dipanaskan dengan suhu 100 °C selama 10 menit. Setelah dipanaskan,
ke dalam tabung ditambahkan Pb-asetat sebanyak 2 tetes dan dipanaskan lagi dengan
suhu 100 °C selama 10 menit. Setelah dipanaskan sampel diamati perubahannya.

Uji Xantoproteat

Sebanyak 1 mL sampel dimasukan ke dalam tabung. Sampel yang digunakan


adalah fenol 2%, pepton 2%, kasein 2%, gelatin 2%, dan albumin 2% yang dimasukan ke
dalam tabung yang berbeda. Selanjutnya 0.5 mL HNO 3 pekat ditambahkan ke dalam
tabung kemudian tabung dipanaskan dengan suhu 100 °C selama 10 menit. Setelah
dipanaskan ke dalam tabung ditamabahkan NaOH.

Uji Biuret

Sebanyak 1.5 mL sampel dimasukan ke dalam tabung. Sampel yang digunakan


adalah pepton 2%, kasein 2%, gelatin 2%, dan albumin 2% yang dimasukan ke dalam
4

tabung yang berbeda. Selanjutnya 0.5 mL NaOH 10% ditambahkan ke dalam tabung.
Setelah ditambahkan NaOH, ke dalam tabung ditambahkan CuSO4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji millon berfungsi mendeteksi keberadaan turunan monohidroksi benzena.


Contoh dari turunan monohidroksi benzena adalah fenol dan asam amino tirosin. Hasil
positif dari uji ini adalah menimbulkan warna merah. Uji ini tidak spesifik untuk protein
karena dapat mendeteksi keberadaan fenol. Uji ini akan menghasilkan yang kurang
memuaskan untuk sampel yang mengandung Cl- dan NH4+(Bintang 2010). Reaksi millon
ini sangat sensitif, mengahasilkan kromofor yang kuat dalam ultraviolet dengan koefisien
ekstensi lebih besar dari reaksi fenol folin (Rasch dan Swift 1960)
Tabel 1 Hasil uji Millon
Larutan uji Hasil uji Warna akhir Gambar
Albumin 2% - Putih kekuningan

Gelatin 2% + Merah seulas

Kasein 2% + Endapan jingga

Pepton 2% + Merah seulas

Fenol 2% - Putih keruh

Keterangan: (+) membentuk warna merah, (-) tidak membentuk warna merah
Uji millon dilakukan terhadap sampel albumin, gelatin, kasein, pepton, dan fenol.
Sampel fenol dijadikan pembanding untuk hasil yang postif. Hasil uji millon terhadap
sampel albumin dan fenol menunjukan reaksi yang negatif sedangkan sampel yang lain
positif (Tabel 1). Jika dianalisis urutan asam aminonya albumin memiliki asam amino
5

tirosin sedangkan gelatin yang tidak memiliki tirosin bereaksi positf. Hasil uji millon
harusnya positif untuk sampel yang mengandung fenol dan asam amino tirosin. Hal ini
dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya sampel atau reaktan
telah tercemar oleh bahan yang mengganggu reaksi tersebut. Selain itu, sampel yang
digunakan kemungkinan telah rusak.
Uji Hopkins-Cole berfungsi untuk mendeteksi keberadaan asam amino triptofan
dalam molekul protein. Triptofan akan berkondensasi dengan macam-macam aldehid
dalam larutan asam pekat. Reaksi yang terbentuk akan membentuk kompleks warna
berupa cincin violet atau ungu (Bintang 2010).
Semua sampel yang diuji dengan pereaksi Hopkins-Cole menunjukan hasil yang
negatif (Tabel 2). Uji Hopkins-Cole berfungsi untuk mendeteksi keberadaan asam amino
triptofan. Semua sampel telah diketahui mengandung asam amino triptofan dalam
molekul proteinnya. Faktor-faktor kesalahan atau faktor lainnya mempengaruhi hasil
yang diperoleh. Faktor yang paling mungkin mempengaruhi adalah sampel dan pereaksi
yang tercemar atau rusak. Kerusakan atau rusaknya sampel dan pereaksi dapat
berpengaruuh terhadap reaksi yang terjadi.
Uji ninhidrin merupakan uji yang umumuntuk mendeteksi asam amino yang
terdapat dalam molekul protein. Asam amino akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk
aldehid dan membebaskan CO2, NH3, dan menghasilkan warna ungu atau kuning untuk
prolin dan hidroksiprolin (Bintang 2010).

Tabel 2 Hasil uji Hopkins-Cole


Larutan uji Hasil uji Warna akhir Gambar
Albumin 2% - Putih

Gelatin 2% - Tidak berwarna

Kasein 2% - Putih

Pepton 2% - Merah

Keterangan: (+) membentuk cincin ungu, (-) tidak membentuk cincin ungu

Tabel 3 Hasil uji ninhidrin


Larutan Uji Hasil Uji Warna Akhir Foto
6

Albumin ++ Ungu

Pepton +++ Ungu


kehitaman

Gelatin + Kuning seulas

Kasein + kuning

Keterangan: (+) mengandung gugus amino bebas, (-) tidak mengandung gugus amino
bebas

Uji ninhidrin merupakan uji umum untuk protein. Semua sampel protein terbukti
positif terhadap uji ninhidrin (Tabel 3). Pepton menimbulkan warna biru yang sangat
pekat dibandingkan dengan albumin. Hal ini disebabkan kandungan protein pepton lebih
tinggi dibandingkan albumin. Gelatin dan kasein menimbulkan warna yang berbeda
dengan pepton dan albumin. Hal tersebut dikarenakan gelatin dan kasein lebih dominan
mengandung prolin dan hodroksi prolin.
Uji belerang berfungsi untuk mendeteksi unsur belerang yang terdapat dalam asam
amino. Asam amino yang mengandung belerang adalah sistein dan metionin. Reaksi yang
terjadi dalam uji ini adalah pembentukan endapan PbS yang berwarna. Unsur belerang
yang terdapat dalam asam amino dari protein yang terdenaturasi oleh basa bereaksi
dengan ion Pb2+. Endapan terbentuk karena kelarutan PbS dalam air sangat kecil sehingga
mudah mengendap (Hart et al. 2003).
7

Tabel 4 Hasil uji belerang


Larutan Uji Hasil Uji Warna Akhir Foto
Albumin +++ Abu-abu

Pepton - Putih kekuningan

Gelatin - Putih

Kasein - Putih kekuningan

Keterangan: (+) membentuk endapan hitam (-) tidak membentuk endapan hitam

Uji belerang diketahui dapat mendeteksi asam amino yang mengandung belerang
yaitu sistein dan metionin. Hanya albumin yang positif terhadap uji belerang. Telah
diketahui bahwa albumin memiliki memiliki kandungan sistein dan metionin yang lebih
tinggi dibandingakan dengan yang lain bahkan glatin tidak memiliki sisein dan metionin.
Kandungan sistein dan metionin yang rendah mungkin tidak dapat terdeteksi dengan uji
ini. Selain itu, faktor dari bahan dan pereaksi sendiri dapat mempengeruhi hasil yang
diperoleh.
Uji xantoproteat berfungsi untuk mendeteksi adanya cincin benzena dalam
molekul protein. Uji positif untuk tirosin, fenilalanin, dan triptofan. Cincin aromatic ayng
terdapat dalam molekul protein bereaksi dengan asam nitrat pekat bila dipanaskan
membentuk warna kuning hingga jingga (Bintang 2010).
Hasil uji xantoproteat positif untuk semua sampel (Tabel 5). Dapat dipastikan
semua protein yang diuji memiliki salah satu atau semua asam amino tiroin, fenilalanin,
dan triptofan. Hasil uji ini telah sesuai karena semua sampel menunjukan perubahan
warna jingga. Warna jingga adalah indikator hasilpositif untuk uji ini.
8

Tabel 5 Hasil uji xantoproteat


Larutan Uji Hasil Uji Warna Akhir Foto
Albumin + Jingga

Pepton + Jingga

Gelatin + Jingga

Kasein + Jingga

Fenol + Jingga

Keterangan: (+) membentuk warna jingga , (-) tidak membentuk warna jingga

Uji biuret umum untuk menguji protein karena dapat mendeteksi adanya ikatan
peptida. Uji biuret didasarkan pada reaksi anatara ion Cu + dan ikatan peptida dalam
keadaan basa. Ion Cu+ dari pereaksi biuret akan bereaksi dengan ikatan peptida
membentuk kompleks berwarna ungu. Intensitas dari warna yang dihasilkan merupakan
ukuran jumlah ikatan peptida yang tedapat dalam protein (Bintang 2010).
Semua sampel menunjukan hasil yang positif untuk uji biuret kecuali sampel
pepton (Tabel 6). Uji biuret berfungsi mendeteksi adanya ikatan peptida dalam sampel.
Pepton yang merupakan protein tidak menunjukan hasil yang positif karena disebabkan
beberapa faktor. Faktor yang paling mungkin adalah denaturasi protein menjadi asam
amino sehingga ikatan peptida tidak terdeteksi oleh pereaksi biuret.
9

Tabel 6 Hasil uji biuret


Larutan Uji Hasil Uji Warna Akhir Foto
Albumin ++ Ungu

Pepton - Kuning

Gelatin ++ Ungu

Kasein + Ungu muda

Keterangan: (+) membentuk warna violet, (-) tidak membentuk warna violet

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Semua sampel yang digunakan merupakan protein. Ketika diuji dengan berbagai uji
protein terjadi ketidaksesuaian. Albumin yang seharusnya positif untuk semua uji tetapi
negatif ketika diuji belerang. Demikian halnya dengan sampel protein lain. Kesalahan
tersebut terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang paling mungkin mempengaruhi
adalah preparasi sampel dan pereaksi sehingga terjadi kerusakan dan kontaminasi.
Saran

Menambah alat-alat laboratorium.


10

DAFTAR PUSTAKA

Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta(ID): Erlangga.


Edelhoch H. 1967. Spectroscopic determination of tryptophan and tyrosine in proteins*.
Biochemistry. 6(7):1948-1954.
Hart H, Craine LE, Hart DJ. 2003. Kimia Organik : Suatu Kuliah Singkat. Achmad SS,
penerjemah; Safitri A, editor. Jakarta(ID): Erlangga. Terjemahan dari: Organic
Chemistry: A Short Course Eleventh Edition.
Katili AS. 2009. Struktur dan fungsi protein kolagen. Jurnal Pelangi Ilmu. 2(5):19-29.
Rasch E, SWIFT H. 1960. Microphotometric analysis of the cytochemical Millon
reaction. Journal of Histochemistry & Cytochemistry. 8(1): 4-17.
Sekuen alpha S1 casein [Bos taurus]telah didepositkan di GenBank dengan nomer akses
ACG63494.1.
Sekuen gelatin type peptide, partial [synthetic construct] telah didepositkan di GenBank
dengan nomer akses CAA02102.1.
Sekuen serum albumin precursor [Bos taurus] telah didepositkan di GenBank dengan
nomer akses NP_851335.1.
Weisberger AS, Suhrland LG. 1956. Studies on analogues of l-cysteine and l-cystine.
Blood. 11(1):19-30.
11

Lampiran 1

Asam
amino Struktur Tryptophan
esensial

Histidine Valine

Isoleucine Asam amino non


Struktur
esensial

Alanine
Leucine

Arginine*

Lysine
Asparagine

Aspartic acid
Methionine

Cysteine*
Phenylalan
ine

Glutamic acid

Threonine

Glutamine*
12

Glycine

Proline*

Serine*

Tyrosine*