Anda di halaman 1dari 88

PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOC DALAM

BUDIDAYA UDANG VANAME


DI INDONESIA

Oleh :

Ir. SUPRAPTO

BIDANG PENGEMBANGAN
TEKNOLOGI / INOVASI BUDIDAYA DAN SDM
SHRIMP CLUB INDONESIA

ii
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum wr wb

Segala puji syukur penulis penjatkan ke hadirat Alloh SWT. Berkat rahmat dan
petuntukNya buku yang berisi tentang teknologi biofloc sebagai teknologi alternatif
budidaya udang vaname di Indonesia dapat penulis selesaikan.

Buku ini merupakan uraian tentang teknologi biofloc yang merupakan teknologi
pilihan atau sebagai teknologi alternatif dalam budidaya udang. Isi yang ada di dalam buku
ini merupakan rangkuman atau kumpulan dari berbagai pendapat para ahli yang melakukan
penelitian serta uji coba teknologi biofloc baik skala laboratorium maupun skala komersial
di tambak. Disamping itu, juga diambil dari pengalaman beberapa praktisi dalam negeri
yang sudah berhasil menerapkan teknologi biofloc selama beberapa periode melalui
“workshop second generation – 2” dengan tema ‘bedah biofloc” yang menampilkan
beberapa pembicara (praktisi) yang telah sukses dalam budidaya udang dengan
menerapkan sistem biofloc.

Beberapa isi buku ini telah mengalami revisi dari aslinya namun tanpa mengubah
arti dari isi buku sebelumnya (tahun 2009) dan hanya sedikit tambahan saja.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Coco Cocarkin, MSc.
Ph.D. dan Bapak Prof. Ir. Sukoso, Ph.D. selaku pengarah dalam workshop di Surabaya atas
segala saran-sarannya. Mudah-mudahan isi buku ini bermanfaat bagi para pembaca
khususnya pecinta dunia perikanan baik para praktisi, petambak, ilmuwan, mahasiswa dan
masyarakat pada umumnya. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih belum sempurna
(ada kekurangan). Oleh karena itu, kritik dan masukkan sangat penulis harapkan demi
kelengkapan isi buku ini.

Wassalamu’alaikum wr wb

Pacitan, Desember 2012

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................... iii


Daftar isi .................................................................................................................... iv

1. Pendahuluan ................................................................................................... 1
1.1. Perkembangan budidaya udang di indonesia ........................................... 1
1.2. Kegagalan budidaya akibat penurunan kualitas lingkungan dan serangan
penyakit .................................................................................................... 2
1.3. Pilihan teknologi budidaya ....................................................................... 4
1.4. Kiat sukses budidaya udang vaname ........................................................ 4
1.5. Pelatihan, sarasehan, seminar untuk peningkatan SDM........................... 6

2. Pemahaman teknologi biofloc ....................................................................... 8


2.1. Definisi ..................................................................................................... 8
2.2. Konsep dan keunggulan teknologi biofloc serta persyaratannya ............. 9
2.3. Biofloc dan fungsinya di dalam tambak ................................................... 10
- Organisme yang terdapat dalam biofloc ............................................... 12
- Bakteri penghasil floc ........................................................................... 12
- Warna biofloc ........................................................................................ 13
- Ukuran biofloc ...................................................................................... 14
- Kepekatan biofloc dalam tambak .......................................................... 16
- Dinamika biofloc dalam tambak ........................................................... 17
- Kondisi yang mendukung pembentukan biofloc .................................. 21
- Biofloc sebagai makanan tambahan bagi udang ................................... 23
2.4. Akumulasi kotoran (bahan organik) dan amonia dalam tambak .............. 26
2.5. Nilai perbandingan karbon dan nitrogen atau C/N ratio .......................... 31

3. Penerapan teknologi biofloc .......................................................................... 39


3.1. Persiapan tambak dan peralatan ............................................................... 41
3.2. Memilih jenis bakteri probiotik ................................................................ 42
3.3. Pembuatan starter / booster biofloc .......................................................... 43
3.4. Pembentukan dan pemeliharaan floc dalam tambak ................................ 45
3.5. Aplikasi biofloc di tambak ....................................................................... 46
3.6. Penggunaan pupuk amonium, fosfat dan silikat ....................................... 47
3.7. Pengapuran ............................................................................................... 48
3.8. Pemberian karbon organik melalui pakan ................................................ 49
3.9. Permasalahan floc dan penanggulangannya ............................................. 50

4. BUDIDAYA UDANG VANAME SECARA INTENSIF DENGAN


MENERAPKAN TEKNOLOGI BIOFLOC : Panduan pembuatan SPO 52
4.1. Persiapan tambak ...................................................................................... 52
4.2. Persiapan air .............................................................................................. 53
4.3. Pemilihan benur ........................................................................................ 55
4.4. Penebaran .................................................................................................. 56

iv
4.5. Pengelolaan pakan ................................................................................... 57
4.6. Pengelolaan air dengan sistem floc ........................................................... 65
4.7. Pemantauan kondisi kesehatan udang dan lingkungan serta pencegahan
dan pengendalian penyakit ........................................................................ 70
4.8. Panen udang .............................................................................................. 74

Daftar acuan ............................................................................................................... 77


Lampiran (Berbagai gambar biofloc) ....................................................................... 80

v
1. PENDAHULUAN

1.1. Perkembangan budidaya udang di indonesia

Budidaya udang di Indonesia berkembang sejak ditemukannya teknik


ablasi mata pada tahun 1978 oleh DR. Made L. Nurjana. Sejak saat itu
perkembangan budidaya udang sangat pesat. Dalam kurun waktu 10 tahun,
pembangunan tambak sudah menyebar di hampir seluruh kawasan nusantara.
Meliputi Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat), Sumatra Utara, Sulawesi
Selatan, Lampung, Bangka, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Bali, Lombok, Maluku dan lain-lain. Hingga tahun 2000,
perkembangan tambak masih terus meluas. Apalagi setelah dikembangkannya
pembenihan skala rumah tangga, sehingga sangat membantu dalam penyediaan
benih yang tepat waktu dan mencukupi jumlahnya.

Seiring dengan semakin intensifnya usaha budidaya, tanpa diimbangi


dengan penataan ruang yang memadai, kurangnya daerah penyangga karena
hampir semua lahan yang tersedia digunakan untuk berbudidaya, akibatnya
berkembang penyakit yang menyebabkan kegagalan dalam berbudidaya.

Pada awalnya budidaya udang windu dilakukan dengan kepadatan 30 ekor


per meter persegi dengan hasil yang cukup memuaskan 5 – 7 ton per ha. Untuk
meningkatkan hasil produksinya maka petambak berusaha terus meningkatkan
penebaran hingga 35 ekor /m2, 50 ekor/m2, 70 ekor/m2 bahkan ada yang menebar
dengan 100 ekor/m2.

Begitu pula yang dialami pada tambak tradisional, yang awalnya


melakukan penebaran yang sangat rendah yaitu 0,5 ekor/m2. Karena harga benur
semakin murah maka penebaran ditingkatkan menjadi 1 ekor/m2, 2 ekor/m2
bahkan 5 ekor/m2 dan diberi pakan tambahan berupa pelet atau pakan buatan
sendiri tanpa diimbangi dengan penambahan peralatan seperti aerator dan lain-

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 1


lain.

Budidaya udang secara intensif menurut Yanuar pada hakekatnya adalah


suatu kondisi yang kompleks, dimana didalamnya mencakup aspek mengolah
bahan organik yang dihasilkan selama proses budidaya (limbah organik).

Peningkatan bahan organik di perairan pun terus terjadi. Sehingga


kandungan amonia, fosfat, Total Organik (TOM), BOD, COD, terus meningkat.
Seiring dengan itu, berbagai jasad renik seperti bakteri, plankton juga berkembang
pesat. Maka terjadi proses eutrofikasi dalam perairan yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah plankton maupun bakteri serta berbagai kandungan mineral
(kalsium, amonia, fosfat, nitrit, nitrat) dan bahan organik.

Beberapa jenis plankton yang kurang menguntungkan seperti Blue Green


Algae (Oscillatoria, Microcystis, Anabaena, Phormidium), Euglenophyta
(Euglena) dan Dinoflagellata (Gonyaulax, Alexandrium, Prorocentrum,
Gymnodinium, Gyrodinium, Peridinium, amphidinium) juga meningkat
populasinya. Demikian juga beberapa jenis bakteri patogen terutama Vibrio
seperti V. parahemolyticus, V. Harveyi, V. alginolyticus, Pseudomonas dan lain-
lain.

Menurut Ninuk dalam paparannya, menurunnnya daya dukung kolam


ditandai dengan makin rendahnya produktifitas kolam, perlambatan pertumbuhan
dan ketidakstabilan warna air. Berkembangnya penyakit udang akibat pengaruh
gabungan dari penurunan mutu induk, benur serta mutu perairan dan daya dukung
kolam. Penyakit Myo dan WSSV merupakan ancaman serius untuk saat ini di
sentra produksi udang.

1.2. Kegagalan budidaya akibat penurunan kualitas lingkungan dan


serangan penyakit

Dengan semakin banyaknya kasus serangan penyakit baik yang


disebabkan oleh bakteri maupun virus, maka akibatnya banyak petambak yang
menanggung kerugian cukup besar. Sehingga pada akhirnya, tambaknya tidak

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 2


dioperasikan karena kehabisan dana. Tidak sedikit pengusaha tambak yang
meninggalkan hutang, tidak bisa membayar pakan maupun obat-obatan.

Kualitas air laut yang cenderung menurun akibat limbah industri (buangan
pabrik), aktivitas pertanian, perkebunan, serta limbah rumah tangga dan
perkotaan. Disamping itu, limbah tambak juga turut memperparah penurunan
kualitas air laut. Akibatnya terjadi penyuburan di air laut (organik tinggi, N dan P
tinggi) sehingga memacu perkembangan plankton dan bakteri baik yang bersifat
merugikan. Antara lain semakin meningkatnya populasi blue green algae dan
dinoflagellata. Perkembangan populasi bakteri vibrio yang terus meningkat. Hal
ini akan berakibat menimbulkan stress pada udang, kekebalan udang menurun dan
mudah terserang penyakit.

Adanya penurunan kualitas air laut dan berkembangnya bakteri pathogen


menimbulkan resiko masuknya bibit penyakit bila mengambil air laut secara
langsung tanpa melalui tandon dan sterilisasi. Serangan penyakit yang banyak
menyebabkan hancurnya pertambakan udang antara lain :

- serangan penyakit vibriosis, kunang-kunang yang disebabkan oleh vibrio


harveyi pada tahun 1990 – 1995,
- serangan MBV (Monodon Baculovirus) tahun 1989 – 1995
- serangan YHV (Yellow Head Virus) tahun 1993 di beberapa daerah
- serangan WSSV (Whitespot Syndrome Virus) mulai tahun 1995
- serangan TSV (Taura Syndrome Virus) mulai tahun 2003
- serangan IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) mulai tahun 2006 yang
dilaporkan oleh Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo.

Untuk itu, perlu dilakukan upaya mengurangi air masuk dari luar secara langsung,
air baru yang diambil dari laut atau lingkungan luar harus disterilkan dan
ditampung dalam reservoir, menerapkan sistem sedikit / tanpa ganti air dengan
menggunakan sistem semi / ter-tutup maupun resirkulasi serta menerapkan
biosecurity semaksimal mungkin.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 3


1.3. Pilihan teknologi budidaya

Penerapan sistem sedikit atau tanpa ganti air memiliki resiko /


konsekuensi antara lain terjadi penumpukan bahan organik di dasar tambak,
terjadi penumpukan amonia di dalam lingkungan tambak, perkembangan populasi
plankton yang cepat pekat (over-bloom) dan terjadi kematian masal plankton,
aktivitas perombakan bahan organik tinggi sehingga kebutuhan oksigen menjadi
sangat tinggi, berkembangnya populasi bakteri baik yang pathogen maupun non
pathogen serta semakin besarnya kemungkinan udang menjadi stress dan
bermasalah.

Antisipasi terhadap penurunan kualitas lingkungan antara lain dapat


dilakukan dengan menggunakan pakan yang berkualitas (keseimbangan as amino
lebih penting daripada kadar protein), pengelolaan pakan yang tepat (hindari
kelebihan pakan), tambahan aerasi yang cukup, menggunakan probiotik untuk
mengurai bahan organik, menetralkan (menurunkan amonia), dominasi bakteri
menguntungkan dan menekan bakteri yang merugikan. Serta bahan lain yang
dapat meningkatkan kualitas air dan dasar tambak. Sedangkan antisipasi terhadap
kondisi kesehatan udang dapat dilakukan dengan memberikan vitamin (terutama
vit C dan E) untuk anti stress dan meningkatkan kekebalan, menggunakan
immunostimulant untuk meningkatkan kekebalan udang terhadap serangan
penyakit, selalu memantau kondisi kesehatan dan pertumbuhan udang, dan
berusaha menghindari terjadinya stress akibat penanganan yang salah (sampling,
kontrol anco, panen parsial).

1.4. Kiat sukses budidaya udang vaname

Agar dalam usaha budidaya udang bisa sukses maka ada “ KIAT
SUKSES” yang harus dijalankan. Kiat sukses usaha budidaya udang vaname ada
7 jurus menurut DR. Made L. Nurjana yaitu :

1. Carrying capacity
Carrying capacity merupakan patokan utama dalam menentukan target
produksi. Yang menentukan carrying capacity suatu tambak antara lain :

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 4


kualitas lingkungan (lahan dan sumber air), konstruksi tambak, fasilitas,
dan SDM. Oleh karena itu, tidak dibenarkan penebaran yang terlalu padat
diluar kemampuan carrying capacity tersebut.

2. Konstruksi tambak yang benar


Konstruksi tambak harus benar dan baik. Kedalaman tambak cukup dalam
untuk menjaga kestabilan suhu dan dengan peralatan aerator yang
memadai untuk mencegah terjadinya pelapisan air. Dasar tambak harus
dibuat miring ke saluran buang untuk memudahkan pembuangan kotoran
dan pintu panen untuk memudahkan saat pelaksanaan panen. Saluran
pemasukan dan pengeluaran air harus terpisah dan diupayakan air yang
dibuang tidak tersedot kembali. Tambak harus dilengkapi dengan tandon
secukupnya.

3. Self purifying capacity


Self purifying capacity merupakan kemampuan suatu perairan untuk
memperbaiki badan air itu sendiri dari pengaruh limbah dan bahan
pencemar. Untuk meningkatkan kemampuan tersebut dapat dilakukan
dengan penambahan probiotik serta aplikasi teknologi yang sesuai.

4. Hati-hati dengan obat


Terlkait dengan tuntutan konsumen terhadap food safety maka ada
beberapa obat yang dilarang peredarannya. Seperti antibiotik, malachite
green, dan bahan kimia berbahaya lainnya. Dalam budidaya udang, obat-
obat tersebut harus dihindari. Sebaiknya obat yang digunakan adalah obat
yang sudah terregister oleh KKP.

5. Benur dan pakan yang berkualitas


Benur yang berkualitas, tidak saja dinyatakan bebas dari beberapa virus
seperti IMNV, IHHNV, WSSV dan TSV tetapi juga bebas dari penyakit
kunang-kunang yang disebabkan oleh vibrio harveyi. Benur ini biasa
disebut benur SPF. Disamping itu benur SPF memiliki pertumbuhan yang
sangat bagus.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 5


Selain benur, pakan yang diguanakan harus berkualitas bagus, baik water
stability, attractant, palatibility, dan pertumbuhan udang harus bagus.

6. Jaga lingkungan tambak dan perairan


Untuk menjaga agar produksi dapat berkesinambungan maka kondisi
tambak dan lingkungannya harus terjaga dengan baik. Teknologi
penggunaan air yang efisien dan sedikit membuang limbah perlu dikuasai
oleh para pembudidaya. Teknologi biofloc, semi floc, semi close dan lain-
lain perlu diperdalam. Disamping itu, penerapan biosecurity untuk
memperkecil penularan penyakit perlu dilakukan di setiap tambak.

7. Manajemen pesawat terbang


Manajemen pesawat terbang memiliki arti tidak boleh beroperasi sebelum
segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik. Hal ini bertujuan agar bisa
mencapai tujuan atau seperti yang diinginkan. Panen tepat waktunya,
pertumbuhan udang baik dan tidak banyak terjadi permasalahan selama
budidaya.

1.5. Pelatihan, sarasehan, seminar untuk peningkatan SDM

Perlu disadari bahwa ada kelemahan di dalam manajemen SDM di


tambak, yaitu tambak umumnya memiliki lokasi / tempat terpencil, sistem kerja
24 jam per hari dan 7 hari per minggu (tidak ada libur), kendali lemah, beda
dengan konstruksi rumah. Untuk itu, harus pandai-pandai memotivasi karyawan.
Karyawan adalah manusia bukan robot. Oleh karena itu, perlu diimbangi dengan
fasilitas gaji yang memadai serta dilakukan pendekatan secara manusiawi.

Adanya pelatihan, sarasehan dan seminar untuk peningkatan kemampuan


para praktisi lapangan adalah sangat penting. Dengan semakin banyaknya
permasalahan dalam budidaya udang di tambak maka dibutuhkan keuletan dan
ketrampilan para praktisi lapangan untuk menyelesaikan / memecahkan
permasalahan dalam budidaya udang di tambak. Adanya alternatif teknologi
seiring dengan perkembangan teknologi dan berkaitan dengan masalah yang ada

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 6


serta hasil rekayasa para ahli, maka para praktisi dituntut untuk semakin maju dan
selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

Untuk menunjang keberhasilan budidaya maka sarana laboratorium dan


tenaga laborat yang dapat memonitor kualitas air, kondisi kesehatan udang harus
tersedia. Data yang diperoleh tersaji dalam bentuk tabel ataupun grafik sehingga
memudahkan para teknisi untuk mengambil keputusan dan langkah-langkah yang
harus dilaksanakan. Dengan adanya data harian, bulanan bahkan tahunan maka
akan sangat membantu dalam mengatur penebaran, serta teknik budidaya yang
harus diterapkan. Disamping itu, data monitoring sangat penting untuk
pelaksanaan sertifikasi serta keperluan traceability.

Teknisi harus memiliki kemampuan yang lengkap baik teori dasar tentang
budidaya maupun pengetahuan teknis di lapangan serta memiliki kemampuan
dalam mengatur / mengkoordinasi kegiatan di lapangan. Seorang teknisi perlu
dibantu oleh seorang tenaga laborat yang terlatih, sehingga dalam mengambil
keputusan didasarkan atas data yang ada dan bukan asal bertindak atau bertindak
asal-asalan.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 7


2. PEMAHAMAN TEKNOLOGI BIOFLOC

2.1. Definisi

Bio-Floc berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan floc, flock
yang berarti gumpalan. Menurut Rod McNeil dalam Boyd (2002) floc dalam
tambak, adalah bahan organik hidup yang menyatu menjadi gumpalan. Sedangkan
menurut Conguest and Tacon, (2006) Bio-Floc adalah partikel yang teraduk oleh
aerasi dan sirkulasi, yang terdiri dari kumpulan organisme autotrof dan heterotrof
(bakteri, fitoplankton, fungi, ciliate, nematoda dan detritus) dan bahan tak hidup.

Sementara Tacon et al. (2002) mendefinisikan Floc adalah kumpulan


berbagai microorganisme termasuk bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa,
rotifera, nematoda dan gastrotricha. Rosenbery (2006), Floc adalah gampalan
yang merupakan kumpulan dari bakteri.

Serfling (2006) microbial floc adalah kumpulan yang terdiri dari


bermacam-macam bakteri, fungi, microalgae, dan organisme lain yang tersuspensi
dengan detritus dalam air media budidaya.

Menurut Aiyushirota, Flock = Floc = Bioflock = Bioflocs merupakan


istilah bahasa slang dari istilah bahasa baku “Activated Sludge” (“Lumpur Aktif”)
yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater
treatment ). Bioflocs terdiri atas partikel serat organik yang kaya akan selulosa,
partikel anorganik berupa kristal garam kalsium karbonat hidrat, biopolymer
(PHA), bakteri, protozoa, detritus (dead body cell), ragi, jamur dan zooplankton.

Istilah BioFloc merupakan penyempurnaan dari istilah / sistem budidaya


sebelumnya yang memiliki beberapa istilah menurut ahlinya masing-masing.
Istilah-istilah tersebut yang akhirnya melebur menjadi Bio-Floc antara lain :
− Heterotrophic system oleh McIntosh (2000)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 8


− Activated Suspended Pond (ASP) system oleh Avnimeleh (2006)
− Intense Microbial Re-used (IMR) system oleh Chamberlain et. al. (2000)
− Aerated Microbial Re-used (AMR) system oleh Chamberlain et. al. (2001)
− Activated Suspension Technique (AST) oleh Azim (2006)
− Microbial Control System (MCS) Moriarty oleh (1999)
− Suspended Microbial Floc atau Organic Detrital Algae Soup (ODAS) oleh
Serfling dalam Rosenberry (2006)
− Bio-Floc Technology (BFT) oleh para flocker sejak 2006.

2.2. Konsep dan keunggulan teknologi biofloc serta persyaratannya

Konsep penerapan biofloc adalah mengubah senyawa nitrogen anorganik


yang bersifat racun (amonia) menjadi bacterial protein, sehingga bisa dimakan
hewan pemakan detritus seperti udang vaname. Prosesnya, bahan organik dalam
tambak diaduk dan diaerasi agar terlarut dalam kolom air untuk merangsang
bakteri heterotrof aerobik menempel pada partikel organik, selanjutnya menyerap
mineral seperti amonia, fosfat dan nutrient lain dalam air. Hasilnya, kualitas air
menjadi lebih baik dan bahan organik didaur ulang menjadi detritus yang
diperkaya.

Budidaya udang dengan sistem BioFloc pada prinsipnya adalah


mengembangkan komunitas bakteri di dalam tambak. Menumbuhkan dan
menjaga dominasi bakteri di dalam tambak adalah lebih stabil daripada dominasi
algae (plankton) karena tidak tergantung sinar matahari. Kualitas air lebih stabil
sehingga penggunaan air sedikit (hanya nambah) karena ada pembuangan lumpur.
Microba penyebab penyakit tertekan. Bakteri terkumpul dalam suatu gumpalan
yang disebut Floc. Semakin banyak floc yang terbentuk akan semakin besar pula
perannya dalam merombak limbah nitrogen 10 – 100x lebih efisien daripada
algae. Dapat bekerja siang maupun malam. Sedikit dipengaruhi cuaca. Merubahan
limbah nitrogen menjadi makanan berprotein tinggi bagi udang. Budidaya udang
dengan Bio-Floc dapat dilakukan dimana saja. Baik di daerah tropis, sub tropis, di

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 9


kota, dalam bangunan maupun green house (Chamberlain,, 2000).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan budidaya


udang dengan sistem Bio-Floc, antara lain :
− Pemasangan Filter pada air masuk
− Reservoir dan tambak pengendapan
− Benur bebas penyakit dengan padat tebar yang cukup tinggi.
− Tanpa/sedikit pergantian air
− Biosecurity
− Aerasi dan pengadukan cukup memadai
− Tambak plastik (HDPE) atau semen
− Pembuangan lumpur dari sentral (central drain)
− Karbon (gula, molase, tepung terigu) untuk merangsang perkembangan
bakteri
− Suhu dijaga di atas 30 oC (?? Di dalam ruangan)
− Laboratorium untuk analisa mutu air dan penyakit

2.3. Biofloc dan fungsinya di dalam tambak

Sebagaimana telah disebutkan bahwa biofloc tersusun atas


microorganisme terutama bakteri yang membentuk floc, microalgae, fungi,
protozoa, rotifera, cacing, organik detritus dan serat (selulosa).

Biofloc yang terbentuk dari berbagai macam mikroorganisme yang ada di


dalam tambak diharapkan memiliki fungsi antara lain :

1. Mengurai bahan organik dan menghilangkan senyawa beracun,

Bakteri pembentuk floc, akan mengurai bahan organik (protein,


karbohidrat, lemak, dll.) yang berasalah dari sisa pakan, kotoran udang
dan bangkai dari jasad yang mati di dalam tambak. Dengan kondisi yang
cukup oksigen (aerob) bahan organik akan diurai menjadi mineral
anorganik yang sangat diperlukan oleh fitoplankton. Amonia akan

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 10


disintesis menjadi protein sel oleh beberapa jenis bakteri, dan sebagian
lagi dioksidasi oleh bakteri nitrifikasi menjadi nitrit oleh bakteri
Nitrosomonas dan selanjutnya dari nitrit menjadi nitrat oleh bakteri
Nitrobacter.

2. Menstabilkan dan memperbaiki mutu air,

Sebagai ciri dari floc yang sudah terbentuk di dalam tambak adalah
kondisi pH yang cenderung lebih rendah dan sangat stabil (pada umumnya
kurang dari 8,2) dan goncangan pH sangat rendah (0,1 – 0,3). Dengan pH
yang lebih rendah maka pengaruh dari amonia menjadi lebih kecil. Karena
terjadi saling ketergantungan antara organisme pembentuk floc di dalam
tambak (bakteri, plankton, bahan organik dan mineral) maka kondisi air
menjadi stabil. Disamping itu, dengan perannya menurunkan bahan yang
bersifat racun maka dapat memperbaiki mutu air air tambak menjadi lebih
baik sehingga dapat mengurangi stres pada udang.

3. Mengubah amoniak menjadi protein sel dengan menambahkan


karbohidrat,

Diantara jenis bakteri yang ada, ada sebagian bakteri heterotrof aerrobic
yang dapat memanfaatkan secara langsung N anorganik (amonia) menjadi
protein. Salah satu contoh jenis bakteri tersebut adalah Bacillus
megaterium. Jenis bakteri tersebut harus diupayakan ada dalam sistem
floc. Upaya untuk mendapatkan jenis-jenis bakteri yang diharapkan
muncul secara alami atau sengaja diberikan inokulan dari probiotik yang
dijual di pasaran.

4. Menekan organisme pathogen.

Biofloc yang merupakan kumpulan dari berbagai microorganisme


(bakteri) diharapkan dapat menekan bakteri pathogen atau bakteri yang
merugikan. Beberapa bakteri diketahui dapat menekan populasi vibrio di

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 11


dalam air tambak. Bakteri tersebut mengeluarkan bahan antibiotik atau
senyawa asam organik.

5. Berfungsi sebagai makanan tambahan bagi udang.

Kandungan nutrisi yang terdapat pada biofloc diharapkan cukup baik dan
cocok untuk nutrisi udang dan sebagai makanan tambahan sehingga dapat
mengurangi kebutuhan pakan dan menghasilkan konversi pakan yang
baik.

− Organisme yang terdapat dalam biofloc

Berdasarkan organisme yang menyusun biofloc, maka ada floc yang


bersifat baik sebagaimana yang diharapkan dan ada floc yang bersifat jelek serta
merusak. Floc yang baik jenis microalgae yang menyusunnya terdiri dari green
algae dan atau diatom, serta bakteri yang mendominasi adalah bakteri non
pathogen. Sebaliknya, floc yang kurang baik (jelek) adalah yang tersusun oleh
microalgae yang merugikan seperti blue-green algae dan dinoflagellata yang
menghasilkan racun serta bakteri yang bersifat pathogen dan atau menghasilkan
racun (Vibrio spp, Pseudomonas, dll.). Untuk itu, dalam aplikasi teknologi biofloc
ini harus diupayakan terbentuknya floc yang baik.

− Bakteri penghasil floc

Bakteri yang mampu membentuk bioflocs diantaranya: Zooglea ramigera,


Escherichia intermedia, Paracolobacterium aerogenoids, Bacillus subtilis,
Bacillus cereus, Flavobacterium, Pseudomonas alcaligenes, Sphaerotillus
natans, Tetrad dan Tricoda (Aiyushirota).

Menurut Gao, et.al (2006), microorganisme yang menghasilkan biofloc


antara lain bakteri, fungi dan actinomycetes. Microorganisme tersebut
menghasilkan polimer ekstraselular seperti polysaccharida, protein fungsional dan
glycoprotein yang berfungsi sebagai biofloculasi. Floc yang dihasilkan oleh
Bacillus sp. I-471, Alcaligenes cupidus KT201 and Bacillus subtilis IFO3335

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 12


adalah polysaccharida. Nocardia amarae YK-1, Bacillus licheniformis dan
Rhodococcus erythropolis memproduksi floc protein sedangkan Arcuadendron
sp. TS-4 dan Arathrobacter sp. memproduksi biofloc glycoprotein. Alcaligenes
eutrophus, Azotobacter vinelandii dan Pseudomonas oleovarians dan lain-lain
dapat mensintesis PHA (poly hidroksi alkanoat) (Salehizadeh and
Loosdrecht,2004 dalam Sinha et. al, 2008). Sedangkan Vagococcus sp W31 yang
dia teliti menghasilkan bioflucculant yang diberi nama MBFW31.

Salah satu ciri khas bakteri pembentuk bioflocs adalah kemampuannya


untuk mensintesa senyawa Poli hidroksi alkanoat ( PHA ), terutama yang spesifik
seperti poli β-hidroksi butirat. Senyawa ini diperlukan sebagai bahan polimer
untuk pembentukan ikatan polimer antara substansi substansi pembentuk bioflocs
(Aiyushirota).

− Warna Biofloc

Adanya penyusun biofloc yang berbeda ternyata juga memberikan indikasi


warna floc yang berbeda pula. Menurut McIntosh (2001) ditemukan ada 3 macam
warna floc yang terjadi di dalam tambak yang menerapkan teknologi BioFloc,
yaitu :

(1) Kecoklatan. Floc macam ini memiliki pengaruh pertumbuhan udang lebih
cepat, didominasi bakteri heterotrof aerobik. Jenis bakteri yang terkandung
biasanya Bacillus dan Lactobacillus

(2) Kehijauan. Floc yang berwarna kehijauan memiliki pengaruh terhadap


pertumbuhan udang normal, jenis bakteri yang mendominasi adalah
kelompok bakteri fotosintetik (cyanobacter).

(3) Kehitaman. Floc yang berwarna kehitaman memiliki pengaruh kurang baik
terhadap pertumbuhan, disamping itu, dapat menyebabkan udang terdapat
warna kehitaman pada bagian insang maupun permukaan tubuhnya, jenis
bakteri yang terkandung dapat mengakumulasi zat besi. Floc yang semacam

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 13


ini harus ditekan / dihindari sedapat mungkin dengan cara
menginokulasikan jenis bakteri yang baik sejak awal (persiapan air).

Warna floc sangat penting karena dapat menunjukkan umur floc.


Berdasarkan analisa Environmental Leverage Inc. ada tiga warna microbial floc
yaitu bening, kuning kecoklatan dan kehitaman. Floc yang bening menunjukkan
bahwa floc masih muda (awal), floc yang berwarna coklat kekuningan
menunjukkan floc yang cukup usia (matang) sedangkan floc yang berwarna
kehitaman, menunjukkan bahwa kondisinya kurang oksigen atau anaerobik
sehingga harus dibuang.

− Ukuran Biofloc

Ukuran biofloc sangat tergantung pada usia budidaya dan lama (umur)
biofloc sejak terbentuk. Pada awalnya ukuran biofloc cukup halus dengan warna
yang transparan dan semakin hari semakin besar dan warnanya berubah menjadi
kuning kecoklatan. Berikut ini adalah ukuran biofloc dengan diameter yang
berbeda, 150 mikron, 250 mikron dan 300 mikron.

Menurut McIntosh (2000) ukuran floc pada awalnya kecil tetapi


menjelang panen ukuran floc bisa mencapai 2 mm. Dengan demikian menambah
luas permukaan pada kolam sehingga meningkatkan kemampuan untuk mengurai
bahan organik dan menghasilkan mineral anorganik. Namun yang harus disadari
bahwa semakin besar ukuran floc semakin mudah mengendap, sehingga aerasi
dan pengadukan harus cukup kuat dan merata untuk mencegah terjadinya
pengendapan. Lebih diutamakan floc yang lebih halus, sehingga tidak cepat
mengendap (selalu melayang dalam kolom air).

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 14


Gambar – 1. Biofloc yang tersusun atas detritus dan mikroorganisme
(Sumber : Burford, 2002)

Gambar – 2. Bacillus subtilis dan Bacillus cereus dalam floc (Aiyushirota)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 15


(Sumber : Nyan Taw, 2006)
Gambar – 3. Floc yang berwarna kehijauan (kiri) dan kecoklatan (kanan)

( Sumber : Nyan Taw, 2006)


Gambar – 4. Floc dengan beberapa ukuran (150 µ , 250 µ, 300 µ)

− Kepekatan Biofloc dalam tambak

Untuk mengetahui kepekatan biofloc dapat dilakukan dengan pengukuran


kecerahan air maupun dengan pengukuran volume floc dengan menggunakan
“Imhoff con”. Pada umumnya bila floc sudah stabil kecerahannya berkisar 10 –
20 cm.

Pengukuran volume biofloc dapat dilakukan dengan menggunakan alat

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 16


yang dinamakan “Imhoff con”. Caranya, ambil air tambak 1 liter yang berasal
dari 2 tempat yang berbeda pada kedalam 15 cm pada waktu jam 10.00 – 12.00.
Endapkan dalam Imhoff con selama 15 – 20 menit. Volume dapat dibaca pada
skala Imhoff con.

Menurut Ninuk, praktisi dari PT. STP volume floc perlu dijaga sekitar 15
cc/liter. Namun volume hingga 90 cc ternyata udang masih cukup aman asalkan
aerasi cukup untuk mencegah agar floc tetap teraduk dalam kolom air dan tidak
sampai mengendap. Namun demi amannya, sebaiknya floc dikelola dengan
kisaran 4 – 6 ml/L dan maksimal 8 ml/L. Kepekatan floc berpengaruh terhadap
konsumsi oksigen. Semakin tebal floc semakin tinggi kebutuhan oksigennya.

Dalam perkembangannya dilapangan, para teknisi berupaya untuk


membentuk floc yang halus dan stabil tersuspensi dalam air. endapan floc dalam
15 menit diupayakan kurang dari 6 cc/liter air. hal ini disebabkan semakin tebal
flocnya (semakin banyak endapan floc) semakin tinggi kebutuhan oksigennya.

− Dinamika Biofloc dalam tambak

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa biofloc itu tersusun oleh mikroba


dan detritus organik, maka komposisinya juga selalu berubah dari waktu ke
waktu. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh masukan bahan organik seperti
pakan, molase maupun plankton atau organisme yang mati. Disamping itu,
dinamika plankton dan bakteri juga selalu berubah setiap saat. Adanya perubahan
komposisi penyusun biofloc, secara otomatis juga mempengaruhi perubahan nilai
gizi maupun pertumbuhan udang. Adanya komponen penyusun biofloc yang
kurang menguntungkan, seperti algae yang merugikan (dinoflagellata dan
beberapa jenis blue green), bakteri yang merugikan (vibrio dan bakteri merugikan
lainnya), zooplankton (protozoa dan rotifera) yang memakan bakteri penyusun
floc, akan mempengaruhi pertumbuhan udang.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 17


(Sumber : Nyan Taw, 2006)

Gambar – 5. Cara pengukuran volume biofloc dengan Imhoff con.

Gambar – 6. Dinamika floc selama masa budidaya (Sumber : Nyan Taw (2006))

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 18


Gambar – 7. Dinamika komposisi floc (Sumber : Leffler et. al, 2007)

Gambar – 8.Pengaruh komposisi floc terhadap pertumbuhan (Sumber : Leffler et.


al, 2007)

Oleh karena itu, dinamika biofloc akan memberikan pengaruh yang


berbeda pada pertumbuhan udang. Bila biofloc yang terbentuk adalah baik maka
akan memberikan pertumbuhan yang lebih cepat dan udangnya sehat, dan bila

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 19


biofloc yang terbentuk kurang baik atau jelek maka pertumbuhan udang akan
lambat, atau bahkan menyebabkan penyakit atau kematian pada udang.
Berdasarkan kualitas penyusunnya (Leffler et al., 2007), biofloc dapat digolongan
menjadi 3 macam yaitu : biofloc yang baik (good floc) yaitu algae tersusun dari
kelompok diatom dan green algae, bakteri dari jenis yang menguntungkan, biofloc
yang kurang baik (bad floc) yaitu algae terdiri dari blue-green algae (cyanophyta)
dan biofloc yang jahat (ugly floc) yaitu algae tersusun dari jenis dinoflagellata.

Yang perlu disadari bahwa peningkatan volume floc belum tentu diikuti
dengan peningkatan komunitas mikroba (bakteri). Biopolymer yang terbentuk
(seperti poly hydroxy alkanoat, glycogen) adalah akibat adanya rangsangan
penambahan sumber karbon organik. Dalam kondisi ammonium (TAN) rendah
atau minim, bakteri akan memproduksi senyawa tersebut untuk membentuk floc.

Gambar – 9. Hubungan antara kepadatan floc dan kandungan bakteri (Burford,


2002)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 20


− Kondisi yang mendukung pembentukan floc

o Bahan organik yang cukup

Syarat utama proses pembentukan floc adalah adanya kandungan bahan


organik yang cukup. Berdasarkan penelitian biofloc terbentuk dengan baik
bila Total Organik Karbon (TOC) telah mencapai 100 ppm. Pada awal
budidaya, pemberian pakan masih relatif sedikit sehingga perlu adanya
penambahan bahan organik secara terus menerus untuk mendukung
perkembangan bakteri pembentuk floc. pada umumnya, budidaya diawali
dengan sistem plankton dan setelah 6 – 8 minggu floc mulai terbentuk seiring
dengan kandungan bahan organik yang cukup tinggi.

o C/N ratio

Sebagaimana dijelaskan didepan bahwa perkembangan bakteri


heterotrof pembentuk floc sangat dipengaruhi oleh nilai C/N ratio. C/N ratio
harus diusahakan minimal 12, idealnya 15 – 20. Untuk mendapat nilai C/N
ratio yang sesuai, dapat diatur dengan menambahan molase atau karbohidrat
yang dicampur pakan atau diberikan melalui air. Menurut VanWyk (1999),
bila C/N ratio rendah (di bawah 10), bakteri akan memanfaatkan N organik
dan bila C/N ratio tinggi (20 atau lebih), bakteri akan memanfaatkan N-
anorganik. Sedangkan bila antara 10 sampai 20 maka bakteri akan
memanfaatkan dua-duanya.

o Aerasi dan pengadukan

Oksigen sangat diperlukan oleh bakteri untuk mengurai bahan organik


(protein, lemak dan karbohidrat), mengoksidasi amonia menjadi nitrit
kemudian menjadi nitrat. Pengadukan sangat penting untuk mencegah bahan
organik dan floc mengendap, sehingga bahan organik selalu berada dalam
keadaan aerobik di dalam kolom air. Pergerakan air (arus) harus dibuat
sedemikian sehingga daerah mati diusahakan seminim mungkin. Karena bila

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 21


arus tidak cukup kuat, bahan organik dan floc akan mengendap sehingga
kondisinya menjadi anaerobik. Bakteri akan menggunakan sulfat untuk
mengoksidasi bahan organik sehingga menghasilkan H2S yang sangat
membahayakan bagi kehidupan udang.

o Karbon dioksida

Beberapa jenis bakteri memerlukan karbon dioksida seperti bakteri


nitrifikasi (Nitrosomonas dan Nitrobakter), bakteri fotosintetik
(Rhodopseudomonas, Rhodobacter), bakteri pengoksida sulfide menjadi sulfat
(Thiobacillus) dan bakteri pengoksida besi dan mangan (Thiotrix). Bakteri-
bakteri tersebut tidak bisa menggunakan sumber karbon organik seperti
protein, lemak maupun karbohidrat. Aerasi dapat membantu menyediakan
karbon dioksida. Sumber karbon anorganik yang lain yang dapat
dimanfaatkan oleh bakteri chemoautotrof tersebut adalah karbonat dan
bikarbonat. Namun ketika floc sudah jadi maka CO2 hasil perombakan bahan
organik cukup tinggi dan perlu dilepas ke udara dengan bantuan kincir.

o N/P ratio

N/P ratio erat kaitannya dengan kehidupan plankton. Bila N/P ratio
rendah < 10 (artinya N berada dalam jumlah yang sedikit) maka blue green
algae yang dapat memfiksasi nitrogen (seperti Anabaena, Anabaenopsis,
Oscillatoria) dan dinoflagellata akan berkembang. Sementara green algae dan
diatom akan tertekan perkembangannya karena kekurangan N.

Sebaliknya, bila N/P ratio tinggi, yang berarti fosfat akan menjadi
faktor pembatas sehingga plankton blue green algae, green algae, diatom
maupun dinoflagellata perkembangannya terbatas. Sedangkan bakteri
terutama dari kelompok Bacillus yang dapat melarutkan fosfat dari bentuk
tidak tersedia bisa berkembang dengan baik.

Untuk meningkatkan nilai N/P ratio sebaiknya menggunakan pupuk

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 22


Amonium Sulfat dan tidak menggunakan urea. Dengan alasan agar BGA tidak
tumbuh. Karena BGA dapat memanfaat urea secara langsung. Bila
menggunakan Amonium sulfat, maka ion amonium dalam air akan
menghambat kerja enzym hidrogenase sehingga tidak bisa mengambil N2 dari
udara. Disamping itu ion amonia dapat menyebabkan lysis pada BGA bila
diberikan dalam dosis tinggi (5 ppm) selama 5 hari (Aiyushirota).

Nilai N/P ratio dalam air media budidaya akanmempengaruhi


dominasi plankton yang muncul.

- Bila N/P ratio rendah (di bawah 10) maka BGA akan berkembang.
- Bila N/P ratio 10 – 20 hampir semua jenis plankton dapat berkembang.
- Bila N/P ratio 20 – 30 maka green algae akan berkembang

− Biofloc sebagai makanan tambahan bagi udang

Biofloc dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan untuk udang


vaname. Protein yang terkandung dalam flocs berkisar 45% dan kadar mineral
berkisar 30% terlarut dalam partikel organik. Menurut Conguest dan Tacon
(2006), komposisi floc terdiri dari: Crude protein 35 – 50% (arginine, lysine dan
methionine rendah), lemak 0,6 – 12% dan mineral 21 – 32%. Hasil analisis
terhadap kandungan biofloc oleh beberapa ahli disajikan pada tabel berikut ini.

Dapat dipahami bahwa biofloc tersusun atas mikroorganisme terutama


bakteri yang memiliki kandungan protein cukup tinggi. Sementara pemanfaatan N
dari pakan oleh udang hanya sekitar 30% maka N yang didaur ulang menjadi
protein cukup tinggi. Dalam hal ini. N akan termanfaatkan 2 kali (Avnimeleh,
2009), yaitu pertama N dalam bentuk protein pakan dan kedua N sebagai protein
sel mikroba (SCP = single cell protein). Dengan demikian maka penerapan
teknologi biofloc akan menghemat biaya pakan (NyanTaw, 2006). Hal ini
disebabkan pakan yang digunakan proteinnya lebih rendah dan nilai FCR juga
lebih baik.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 23


Tabel -1. Komposisi biofloc (Chamberlain et al., 2001)

Protein Pakan (%) 31,5 22,5 Rata-rata


Bahan Organik (%) 78 66 72
Abu (%) 21 32 26
Protein (%) 51 35 43
Lemak (%) 10 15 12,5
Arginine (%) 2,3 1,61 1,95
Methionine (%) 0,61 0,35 0,48
Lysine (%) 2,5 1,7 2,1

Tabel – 2. Komposisi biofloc (Tacon et al, 2002)

Nutrient Kisaran Rata-rata

Suspended microbial floc (mg/l) 87,3 – 200,8 157


Moisture (%) 5,9 – 7,3 6,6
Crude protein (Nx6,25)(%) 29,2 – 34,3 31,2
Crude lipid (%) 2,5 – 2,6 2,6
Cholesterol (mg/kg) 470 – 490 480
Ash (%) 25,5 – 31,8 28,2
Gross energy (MJ/kg) 10,3 - 12,8 12

Tabel – 3. Kandungan mineral dalam biofloc (Tacon et al. 2002)

Mineral Kisaran Rata-rata


Sodium (%) 0,41 - 4,31 2,75
Calcium (%) 0,56 - 2,86 1,70
Phosphorus (%) 0,36 - 2,12 1,35
Potassium (%) 0,13 - 0,89 0,64
Magnesium (%) 0,12 - 0,45 0,26
Zinc (mg/kg) 78,3 - 577,9 338
Iron (mg/kg) 170,8 - 521,0 320
Manganese (mg/kg) 8,9 - 46,8 28,5
Boron (mg/kg) 8,8 - 45,7 27,3
Copper (mg/kg) 3,8 - 88,6 22,8

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 24


Tabel – 4. Kandungan asam amino dalam biofloc (Tacon et al, 2002)

Asam amino Kisaran Rata-rata


Methionine + Cystine (%) 0,86 – 0,93 0,89
Phenylalanine + Tyrosine (%) 2,41 – 2,54 2,48
Isoleucine (%) 1,21 – 1,26 1,24
Leucine (%) 1,78 – 1,97 1,87
Histidine (%) 0,43 – 0,45 0,44
Threonine (%) 1,44 – 1,50 1,47
Lysine (%) 0,90 – 0,96 0,93
Valine (%) 1,66 – 1,80 1,73
Arginine (%) 1,46 – 1,63 1,54
Tryptophan (%) 0,18 – 0,22 0,20
Total essential amino acids 24,5 – 26,3 25,4

Gambar – 10. Hanya sebagian kecil saja floc dimakan oleh udang

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 25


Gambar – 11. Total Bakteri Heterotrof memiliki korelasi dengan produksi

2.4. Akumulasi Kotoran (bahan organik) dan Amonia dalam tambak

Dalam sistem budidaya konvensional hanya 20 – 30% C, N dan P yang


termanfaatkan, sebagian besar terbuang karena tidak termakan dan menjadi
kotoran. N yang terbuang sebagian besar berbentuk Amonia.

Selama masa budidaya bahan organik (sisa pakan, kotoran udang dan
organisme yang mati termasuk plankton) akan terkumpul dan mengendap di dasar
tambak dan sebagian bahan organik terlarut di dalam air. Hal ini memicu
berkembangnya bakteri (baik yang menguntungkan maupun yang merugian).
Kebutuhan oksigen menjadi semakin besar. Bahan organik yang mengendap di
dasar akan menyebabkan kondisi menjadi kekurangan oksigen (anaerob) sehingga
sebagian bakteri akan merombak bahan organik dengan memanfaatkan sulfat dan
nitrat. Hasil dari perombakan secara anaerobik akan menghasilkan sejumlah
senyawa beracun seperti asam sulfida, amonia, nitrit dan metana.

Untuk mencegah menculnya beberapa racun tersebut dapat dilakukan


dengan cara menjaga agar selalu cukup oksigen dan bahan organik selalu dalam
kondisi teraduk serta mencegah terjadinya daerah mati sebagai tempat endapan

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 26


kotoran (lumpur). Namun bila ada sebagian kotoran yang mengendap dapat
dilakukan pembuangan kotoran dengan cara membuka pipa pengeluaran (central
drain) atau dengan melakukan penyedotan lumpur (sifon).

Konsekuensi penerapan teknologi biofloc yang melakukan sedikit atau


tanpa ganti air adalah adanya penumpukan kotoran (bahan organik), amonia dan
fosfat di dalam tambak. Keberhasilan budidaya dengan sistem biofloc adalah
tergantung pada kemampuan mengendalikan amonia agar udang tidak keracunan
amonia. Dalam hal ini, amonia didaur ulang / disintesis menjadi protein sel yang
dapat dimanfaatkan kembali oleh udang maupun hewan pemakan detritus.

Amonia yang terbentuk akibat penguraian perotein sisa pakan, kotoran dan
jasad yang mati dalam tambak dapat dihilangkan atau dikurangi dengan 4 cara,
yaitu :

− Melalui pengenceran (pergantian air),

Pergantian air untuk mengencerkan amonia, bahan organik serta senyawa


beracun lainnya umumnya dilakukan pada sistem budidaya konvensional atau
open sistem. Sedangkan pada budidaya yang menerapkan sistem tertutup maupun
sedikit ganti air, maka pengendalian amonia dan bahan organik lebih ditekankan
pada pemanfaatkan microorganisme.

− Secara photoautotrof oleh phytoplankton,

Phytoplankton dapat memanfaatkan nitrogen anorganik seperti amonia


dan nitrat untuk disintesis menjadi protein sel melalui proses fotosintesis. Cara
pengendalian amonia seperti ini dikenal dengan istilah “green water system”.
Reaksi yang terjadi menurut Ebeling et.al. (2006) adalah sebagai berikut :

16 NH4+ + 92 CO2 + 92 H2O + 14 HCO3- + HPO42- C106H263O110N16P + 106 O2

16 NO3- + 124 CO2 + 140 H2O + HPO42- C106H263O110N16P + 138 O2 + 18 HCO3-

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 27


Bila phyoplankton mengambil senyawa amonia dalam proses fotosintesisnya
maka akan terjadi penurunan alkalinitas, sedangkan bila nitrat yang diambil maka
alkalinitas akan meningkat.

Berdasarkan perhitungan, untuk mengubah 1 gr NH4+ diperlukan 18,07 gr


CO2 dan 3,13 gr Alkalinitas, diproduksi 15,85 gr biomass algae dan 15,14 gr
oksigen.

− Secara chemoautotrof oleh bakteri nitrifikasi

Senyawa amonia dapat dirombak atau dioksidasi oleh bakteri nitrifikasi


menjadi senyawa nitrat yang tidak berbahaya bagi udang. Ada 2 tahap selama
proses nitrifikasi berlangsung. Yang pertama amonia dioksidasi oleh bakteri
Nitrosomonas menjadi nitrit

55 NH4+ + 76 O2 +109 HCO3- C5H7O2N + 54 NO2- + 57 H2O + 104 H2CO3

Yang kedua senyawa nitrit dioksidasi oleh bakteri Nitrobacter menjadi nitrat

400 NO2- + NH4+ + O2 + 4 H2CO3 + HCO3- + 195 O2 C5H7O2N + 400 NO3- + 3 H2O

(EPA,1975 dalam VanWyk, 1999)

Reaksi nitrifikasi secara ringkas yang umum dipakai :

2 NH4+ + 3 O2 4 H+ + 2 NO2- + 2 H2O

2 NO2- + O2 2 NO3-

Reaksi nitrifikasi secara ringkas menurut Ebeling et.al.(2006)

NH4+ + 1.83 O2 + 1.97 HCO3- 0.024 C5H7O2N + 0.976 NO3- + 2.9 H2O + 1.86 CO2

Berdasarkan perhitungan, untuk 1 gr NH4+ diperlukan 4,18 gr O2 dan 7,05 gr


Alkalinitas, diproduksi 0,2 gr biomass mikroba, 0,976 gr Nitrat dan 5,85 gr CO2.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 28


Agar proses nitrifikasi berjalan baik maka beberapa syarat harus dipenuhi
antara lain :
- pH air sekitar 7 – 8,5
- kandungan oksigen cukup tinggi (usahakan minimal 4)
- ada substrat untuk penempelan bakteri
- tersedia Ca yang cukup
- semakin rendah bahan organik, semakin cepat laju nitrifikasi.

− Secara heterotrof disintesis menjadi protein sel oleh bakteri heterotrof.

Beberapa jenis bakteri heterotrof dapat memanfaatkan amonia untuk


disintesis menjadi protein dengan adanya penambahan karbon organik
(karbohidrat). Reaksi proses yang terjadi menurut Ebeling (2006) adalah sebagai
berikut :

NH4+ + 1,18 C6H12O6 + HCO3- + 2,06 O2 C5H7O2N + 6,06 H2O + 3,07 CO2

Berdasarkan perhitungan, untuk 1 gr NH4+ diperlukan 15,17 gr gula sederhana


(atau 6,07 gr C-organik), 4,71 gr O2 dan 3,57 gr Alkalinitas, diproduksi 8,07 gr
biomass mikroba, dan 9,65 gr CO2.

Proses perombakan amonia yang terjadi sangat dipengaruhi oleh nilai C/N
ratio. Bila nilai C/N ratio rendah (C organik tidak ada), maka proses perombakan
amonia berlangsung secara autotrof. Bila nilai C/N ratio sedang (8 – 10), proses
perombakan amonia berlangsung secara autotrof dan heterotrof. Sedangkan bila
nilai C/N ratio 12 atau lebih proses perombakan berlangsung secara heterotrof
(Ebeling, 2006).

Dalam budidaya yang menerapkan teknologi biofloc, maka pengendalian


amonia lebih ditekankan pada proses chemoautotrof dan heterotrof.

Hasil pemantauan senyawa Nitrogen anorganik selama masa budidaya (Burford,


2002)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 29


Gambar – 12. Kandungan NH4+ selama budidaya

Gambar – 13. Kandungan NH4+ dan NO2- selama budidaya

Gambar – 14. Kandungan NH4+, NO2- dan NO3- selama budidaya

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 30


2.5. Nilai perbandingan karbon dan nitrogen atau C/N ratio

Nilai C/N ratio memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap


perkembangan floc bakteri serta kemampuan dalam menetralkan amonia. Bakteri
heterotrof dapat mensintesis protein dari karbohidrat dan amonia. C/N rasio harus
sesuai untuk keperluan bakteri. Seimbang antara sumber C dan N. Nilai C/N ratio
dalam media budidaya akan selalu berubah-ubah tergantung dari masukkan bahan
yang digunakan dalam budidaya. Pakan yang diberikan pada udang mengandung
protein yang cukup tinggi dengan nilai C/N ratio di bawah 9. Penumpukan
amonia hasil metabolisme udang dan perombakan bahan organik oleh mikroba
akan memperkecil nilai C/N ratio sehingga pada suatu saat perlu adanya
penambahan C organik untuk meningkatkan nilai C/N ratio sekaligus untuk
menekan kandungan N anorganik (amonia) yang bersifat racun.

Pada nilai C/N ratio yang rendah mikroba yang berkembang cenderung
menggunakan senyawa N organik (asam amino, protein, amina) sebagai sumber N
dalam mensintesis protein, sedangkan pada nilai C/N ratio yang tinggi mikroba
yang berkembang menggunakan N anorganik (amonia dan nitrat) sebagai suber N
dalam menyusun protein dalam selnya. Namun apabila nilai C/N ratio terlalu
tinggi akan berakibat terhambatnya proses penguraian bahan organik karena
kekurangan unsur N (Van Wyk, 2006). Dalam penerapan teknologi biofloc, nilai
C/N ratio harus cukup tinggi, yaitu lebih dari 12 atau idealnya 15-20. Nilai C/N
ratio dapat dihitung dengan cara mengukur kandungan Total Organik Carbon
(TOC) dan Total Kjeldahl Nitrogen (TKN).

(C/N) ratio = TOC : TKN

Menurut Van Wyk (2006) cara ini tidak praktis untuk lapang karena
peralatannya mahal dan tidak mungkin dimiliki oleh petambak. Maka cara yang
paling praktis adalah dengan menghitung C/N ratio pada pakan karena proteinnya
sudah diketahui.

Pakan udang mengandung protein tinggi yaitu lebih dari 35% untuk

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 31


vaname dan lebih dari 38% untuk udang windu. Pakan dengan kandungan protein
35% nilai C/N rationya dapat dihitung sebagai berikut.

− C dalam pakan (berbagai formula) ≈ 50%


− Crude protein 35% jadi N = 35% : 6,25 = 5,6 %
− C/N ratio = 50% : 5,6% = 8,93 ≈ 9

Oleh karena nilai C/N ratio rendah maka C merupakan faktor pembatas.
Agar floc bakteri dapat berkembang baik maka harus ditambahkan C organik dari
luar dan dipilih harga yang murah seperti molase, tepung terigu, tepung ketela,
dedak, tepung tapioka dan sebagainya.

Gambar – 15. Pengaruh C : N ratio terhadap perkembangan mikroba


(Sumber : Burford, 2002)

Gambar – 16. Hubungan antara C : N ratio (terukur DOC : DN ratio) terhadap


umur udang (Sumber : Burford, 2002; 2003)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 32


− Perombakan bahan organik oleh microorganisme

Dasar pemikiran
Proses perombakan karbohidrat oleh bakteri.

∆ CH + O2 Cmic + CO2 + energi

Efisiensi (ξ) = Cmic /∆C = 0,4 – 0,6


∆ C = ∆ CH x % C
(C/N)mic = Cmic / Nmic = 4 - 6

− Kebutuhan karbohidrat untuk menetralkan amonia

− Sel bakteri memiliki nilai C/N ratio, (C/N) mic = 4 – 6. Misal diambil
nilai terendah 4
− Efisiensi (ξ) dalam merombak bahan organik berkisar 0,4 – 0,6. misal
diambil nilai terendah 0,4
Sehingga,
− ∆C = CO2 + Cmic (ξ) = Cmic /∆C ∆C x (ξ) = Cmic
− ∆C x (ξ) /N = Cmic/Nmic
− ∆C = (C/N) mic x N / (ξ)
− ∆C = 4 x N / 0,4 = N x 10 ∆C = ∆CH x 50%
− ∆CH x 50% = N x 10

∆CH = 20 N

∆CH : Karbohidrat
N : Nitrogen Anorganik (amonia)

– N diperoleh dari hasil pengukuran amonia


– Jadi untuk mengikat 1 gr N (NH4+) diperlukan 20 gr karbohidrat.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 33


Berkut ini hádala hasil penelitian tentang pengaruh C/N ratio terhadap mutu air
dalam sistem tanpa ganti air. (Panjaitan dan Avnimeleh, 2006)

C/N ratio 6,5 - 12,5


1,4

1,2

1
amonia (mg/l)

0,8
C/N = 6,5
C/N = 7,5
0,6
C/N = 10
C/N = 12,5
0,4

0,2

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8

waktu (minggu)

Gambar – 17. Pengaruh C/N ratio (6,5 – 12,5) terhadap kandungan ammonia
dalam media budidaya

C/N ratio 6,5 - 22,5

1,6
C/N = 6,5
1,4 C/N = 15
C/N = 17,5
1,2
C/N = 20
amonia (mg/l)

C/N = 22,5
1

0,8

0,6

0,4

0,2

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
waktu (minggu)

Gambar – 18. Pengaruh C/N ratio (6,5 – 22,5) terhadap kandungan ammonia
dalam media budidaya

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 34


Molase dgn C/N 6,5 - 12,5

90

80
Organik Carbon (mg/l)

70

60
C/N = 6,5
50
C/N = 7,5
40 C/N = 10
C/N = 12,5
30

0 1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu (minggu)

Gambar – 19. Pengaruh pemberian molase dengan C/N ratio 6,5 – 12,5 terhadap
kandungan Karbon organik

Molase dgn C/N = 6,5 - 22,5

160

140
Organic Carbon (mg/l)

120

100

80
C/N = 6,5
60
C/N = 15
C/N = 17,5
40
C/N = 20
C/N = 22,5
20

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu (minggu)

Gambar – 20. Pengaruh pemberian molase dengan C/N ratio 6,5 – 22,5 terhadap
kandungan Karbon organik

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 35


450

400

350

300

250
TSS

200
C/N = 6,5
150 C/N = 15
C/N = 17,5
100 C/N = 20
C/N 22,5
50

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu (minggu)

Gambar – 21. Pengaruh C/N ratio yang berbeda (6,5 – 22,5) terhadap total
padatan tersuspensi (TSS)

Gambar – 22. Pengaruh C/N ratio yang berbeda (6,5 – 22,5) terhadap total
bakteri.

Menurut Avnimelech et al. (1999), karbohidrat yang ditambahkan untuk


mencegah timbulnya amonia akibat sebagian N dari pakan yang terbuang (berupa

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 36


metabolit udang, sisa pakan dan kotoran) ke dalam lingkungan tambak, dihitung
dengan asumsi sbb.:

– Kandungan N pada pakan dengan kadar protein 30% adalah 4.8%


– Ammonia N yang terbuang : 50%
– C/N ratio pada jaringan microba : 4
– Kandungan Carbon pada carbohydrate: 50%
– Efficiency sintesis protein pada microba : 40%
– Carbohydrate yang harus ditambahkan pada pakan
– = 4.8% * 50% * 4/(50% * 40%) = 48%

∆CH = (CP / 6,25). W . (C/N)mic / %C . (ξ)

∆CH = kebutuhan karbohidrat


CP = crude protein
6,25 = konstanta
W = prosentase N yang terbuang
(C/N)mic = C/N ratio mikroba
%C = kandungan (prosentase) karbon
(ξ) = efisiensi sintesa protein

Gambar – 23. Pellet (pakan udang) dan grain pellet (Chamberlain, 2001)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 37


Gambar – 24. Prosentase penambahan karbon untuk kadar protein pakan yang
berbeda

Gambar – 25. Konsumsi pakan harian dengan tambahan grain pellet (GP) dan
pertumbuhan udang (Sumber : Nyan Taw, 2006)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 38


3. PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOC

3.1 Persiapan tambak dan peralatan

Sebelum teknologi biofloc diterapkan di tambak maka terlebih dahulu


segala kebutuhan untuk menunjang keberhasilan teknologi tersebut harus
dipersiapkan dengan baik. Persiapan meliputi sarana tambaknya beserta
perlengkapan peralatan yang diperlukan, kebutuhan energi serta kesiapan
sumberdaya manusianya. Untuk itu, perlu adanya pelatihan khusus kepada tenaga
yang akan menangani tambak tersebut.

Tambak yang akan digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan


antara lain, tambak harus bisa menampung air, tidak bocor atau merembes,
tambak dilapisi plastik HDPE atau semen. Untuk tambak tanah, tipe tanah harus
keras, berpasir dan bukan tipe lumpur yang mudah terkikis bila terkena arus
kincir. Dasar dan pematang tanah yang mudah terkikis arus akan menyebabkan air
cepat keruh karena suspensi tanah sehingga floc tidak bisa berkembang dengan
baik. Disamping itu, kita akan mudah terkecoh. Yang tampak seperti floc yang
sudah terbentuk tetapi sesungguhnya adalah partikel tanah yang melayang dalam
kolom air. Jadi, teknologi biofloc kurang tepat diterapkan pada tambak yang
kondisinya demikian.

Agar produksitivitasnya lebih baik dan kualitas air lebih stabil, sebaiknya
tambak diusahakan lebih dalam agar dapat ditebar lebih banyak. Kedalaman
tambak minimal 120 cm dan boleh lebih dalam lagi hingga 2,5 atau 3 meter yang
penting teknik aerasi dan pengadukannya bisa menjangkau hingga kedalaman
tersebut. Disamping itu, tambak harus dilengkapi dengan pembuangan tengah
(sentral drain) untuk mengeluarkan endapan kotoran sewaktu-waktu.

Untuk menunjuang agar pembuangan tengah bisa efektif maka


penempatan kincir harus sedemikian rupa sehingga membentuk arus memutar dan

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 39


bisa menggerakkan kotoran ke tengah. Untuk itu jumlah kincir / aerator harus
mencukupi untuk menjaga agar oksigen selalu tinggi di semua tempat dan air
harus dalam kondisi selalu bergerak agar bahan organik tidak cepat mengendap.
Daerah mati harus diusahakan sedemikian rupa agar seminim mungkin. Bila perlu
daerah mati ditiadakan dengan penempatan aerator yang tersebar di seluruh
bagian tambak tetapi tetap memperhatikan arah arus harus tetap memutar. Jumlah
aerator yang dipasang harus sesuai dengan kebutuhan. Harus dikombinasikan
antara kincir (paddle whell), long arm, aspirator (turbo jet). Akan lebih baik lagi
bila dipasang blower atau super charge yang dapat diatur lokasi pengeluaran
udaranya dari dasar tambak dan menyebar di semua area. Kubutuhan semua
aerator untuk 1 hektar tambak berkisar antara 30 sampai 60 hp, tergantung umur
dan kepadatan udang di dalam tambak. Oksigen terlarut harus dijaga agar tetap di
atas 4 ppm di semua tempat (termasuk daerah yang paling lemah arusnya).

Dengan adanya kebutuhan aerator yang banyak untuk menunjang


teknologi biofloc maka kebutuhan energi juga harus disesuaikan. Baik energi
yang berasal dari PLN maupun diesel atau genzet. Kapasitas genzet sebaiknya
sesuai dengan kebutuhan. Jadi perlu ada 2 atau lebih genzet yang memiliki
kapasitas yang berbeda. Bila dibutuhkan energinya lebih sedikit maka bisa
menggunakan genzet yang berkapasitas lebih kecil dan juga sebaliknya. Agar
penggunaan energi / bahan bakan bisa lebih efisien.

Mengingat tidak adanya jaminan bahwa tidak ada daerah mati atau bahan
organik / kotoran yang mengendap, maka harus dipersiapkan alat untuk
membersihkan dasar tambak yaitu alat sifon. Kototan yang mengendap di dasar
dibersihkan dengan alat sifon. Biasanya pengerjaan sifon dilakukan pada umur
udang mencapai 2 bulan. Alternatif lain untuk mencegah munculnya gas beracun
adalah dengan menggunakan probiotik yang sesuai.

3.2. Memilih Jenis Bakteri Probiotik

Bakteri probiotik merupakan bahan yang sangat dibutuhkan dalam


penerapan sistem budidaya dengan sedikit / tanpa ganti air. Bakteri probiotik

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 40


komersial banyak dijual di pasaran sehingga petambak tidak perlu menyiapkan
sendiri inokulan yang diperlukan karena biayanya cukup mahal. Namun untuk
tambak yang memiliki perlengkapan laboratorium dan tenaga ahli (mikrobiologi),
tidak ada salahnya bila membuat isolat sendiri karena isolat lokal biasanya lebih
adaptif daripada isolat dari luar (pasaran bebas).

Jenis bakteri yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan. Salah satu jenis
bakteri yang dapat membentuk floc karena dapat menghasilkan polimer PHA dan
pengurai protein yang handal adalah Bacillus subtilis. Jenis bakteri ini banyak
dijual di pasaran. Dan hampir semua produk probiotik yang dijual mengandung
Bacillus subtilis. Bila menghendaki bakteri pembentuk floc yang lain bisa dipilih
jenis Bacillus cereus. Disamping mampu membentuk floc bakteri ini dapat
mengendalikan blue green algae.

Selain bakteri pembentuk floc, masih diperlukan isolat bakteri lain antara
lain bakteri denitrifikasi, yang mengubah nitrat menjadi gas nitrogen (Bacillus
licheniformis), bakteri pengoksidasi H2S (bakteri fotosintesis seperti
Rhodopseudomonas, Rhodobacter) yang juga dapat menurunkan amonia dan
nitrat. Bakteri yang dapat menekan perkembangan bakteri pathogen (vibrio) selain
Bacillus subtilis (misalnya, Bacillus polymyxa, B. megaterium, Alteromonas,
Lactobacillus). Bakteri nitrifikasi yang dapat mengoksidasi amonia menjadi nitrit
(Nitrosomonas dan Nitrobacter). Dan masih banyak lagi pilihan isolat bakteri
yang bisa diperoleh sesuai dengan kebutuhannya.

3.3. Pembuatan starter / booster biofloc

Langkah awal yang menentukan kesuksesan penerapan teknologi biofloc


adalah pembuatan starter atau booster biofloc. Pembuatan starter biofloc pada
prinsipnya adalah sama dengan teknik kultur masal bakteri atau yang sering
disebut fermentasi oleh para petambak. Ada sedikit perbedaan antara pembuatan
starter biofloc dengan teknik pembuatan fermentasi yang biasa dilakukan di
tambak. Pada teknik kultur masal yang biasa dilakukan di tambak lebih
dititikberatkan pada jumlah bakteri yang dihasilkan dari proses pembelahan

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 41


selama kultur. Sedangkan pada pembuatan starter biofloc lebih banyak
penekanannya. Disamping jumlah bakteri, juga enzym dan poly hidroksi alkanoat
atau PHA (lebih specifiek lagi poly β-hydroksi butirat atau PHB) yang dihasilkan
harus terjaga agar tidak rusak karena penurunan pH maupun kontaminasi mikroba
perusak PHA. Untuk itu pH harus terjaga di atas 6 dengan menambahkan buffer
pada media kulturnya.

Dalam pembuatan starter biofloc yang harus diperhatikan adalah peralatan,


tempat, media dan cara kultur.

− Peralatan kultur starter biofloc

Semua peralatan yang dipakai harus disterilkan terlebih dahulu. Bersihkan


peralatan dengan menggunakan detergen. Tahap berikutnya peralatan harus
disterilkan sesuai dengan bahannya. Untuk alat-alat yang memungkinkan, seperti
erlenmeyer, petri dish, dll. disterilkan dengan autoclaf. Untuk alat –alat seperti
bak fiber, ember plastik dan lain-lain dapat disterilkan dengan menggunakan
kaporite 500 ppm.

− Tempat atau ruangan untuk pembuatan starter biofloc

Tempat atau ruangan yang digunakan untuk pembuatan starter biofloc harus
bersih, terlindung dari angin (untuk menghindari kontaminasi), tidak boleh ada
orang keluar masuk, beraktivitas disekitarnya, dalam keadaan tertutup.

− Media dan Cara kultur

Media untuk pengembangan / pembuatan starter biofloc (bakteri heterotrof)


yang dibutuhkan antara lain :
∼ Sumber karbon antara lain : dedak halus, tepung beras, tepung terigu, molase,
dll.
∼ Sumber nitrogen antara lain: tepung ikan, tepung kedelai, kaldu, urea, dll
∼ Mineral : garam non iodium

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 42


∼ Vitamin B komplek.

Contoh, formula media yang umum digunakan di tambak dan cara pembuatannya.

Bahan : dedak halus 3 kg, tepung ikan 1 kg, molase 2 liter, garam non iodium ½
kg, inokulan yang mengandung Bacillus subtilis 2 liter, vitamin B kompleks 10
butir dan air 100 liter.

Cara pembuatan media dan cara kultur :

Sterilkan air secukupnya (150 liter). Dengan menggunakan kaporite 50 ppm


tunggu 1 malam. Tambahkan sodium thiosulfat 25 ppm, aduk sampai rata (aerasi
kuat) untuk menetralkan kaporit, tunggu 1 malam baru boleh dipakai. Lebih baik
dicek dulu kandungan residu chlorine apakah sudah netral atau masih ada
sebelum air digunakan.

Rebus air 15 liter dalam wadah berkapasitas 25 – 30 liter. Setelah mendidih


masukkan dedak halus dan tepung ikan. Aduk-aduk selama 30 menit. Masukkan
molase aduk sebentar, masukkan garam non iodium kemudian angkat dari
pemanas. Masukkan adonan tersebut ke dalam wadah kultur (tangki plastik atau
fiber berkapasitas 120 liter) yang telah diisi air steril 85 liter. Cek suhunya. Bila
o
suhunya di bawah 40 C, masukkan inokulan bakteri probiotik yang
mengandung Bacillus dan tambahkan vitamin B komplek. Putar air dengan
menggunakan pompa submersible kecil (pompa untuk akuarium) atau gunakan
aerasi yang kuat. Tutup wadah dengan menggunakan penutup atau kain hitam.
Tunggu hingga 2 – 3 hari (kepadatan bakteri min 1 x 109 sel/ml). Pantau
penurunan pH. Bila pH turun di bawah 6,5 lakukan penambahan larutan kapur
secukupnya untuk menahan pH. Jaga pH di atas 6 hingga selesai pembuatan
starter.

3.4. Pembentukan dan pemeliharaan floc di dalam tambak

Mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa


kabon (C), hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N) dengan sedikit available

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 43


posfor (P) menjadi massa sludge berupa bioflocs dengan menggunakan bakteri
pembentuk flocs (flocs forming bacteria) yang mensintesis biopolimer
polihidroksi alkanoat sebagai ikatan bioflocs.

Bakteri pembentuk flocs dipilih dari genera bakteri yang non pathogen,
memiliki kemampuan mensintesis PHA, memproduksi enzim ekstraselular,
memproduksi bakteriosin terhadap bakteri pathogen, mengeluarkan metabolit
sekunder yang menekan pertumbuhan dan menetralkan toksin dari plankton
merugikan dan mudah dibiakkan di lapangan.

Bioflocs yang terbentuk lebih jauh berfungsi bagi purifikasi air di tambak,
dengan fungsi sebagai pengoksidasi bahan organik lebih lanjut, melangsungkan
nitrifikasi, dan pembatas pertumbuhan plankton. Bahan organik yang digunakan
berupa pakan udang dengan proporsi C:N:P = 100:10:1. Sumber karbon tambahan
dari kalsium karbonat (kaptan). Sumber Nitrogen tambahan dari pupuk ZA
(Ammonium sulfat) (Aiyushirota).

3.5. Aplikasi biofloc di tambak

Sebelum tambak diisi air, tambak harus dibersihkan dan disterilkan


dengan cara disemprot chlorine (kaporite) untuk menghilangkan sisa-sisa bakteri
yang merugikan.

Setelah siap, tambak diisi air hingga penuh (sesuai ketinggian yang
dikehendaki) dan dilakukan sterilisasi air dengan menggunakan kaporite 30 ppm.
Kincir dioperasikan untuk meratakan atau mengaduk kaporite supaya merata
kurang lebih 3 – 5 jam. Setelah itu matikan kincir hingga 24 jam. Operasikan
kembali semua kincir untuk menguapkan atau menetralkan senyawa chlor yang
masih ada. Bila ada ikan atau organisme lain yang mati segera ambil dan kubur.

Lakukan pemupukan awal dengan menggunakan pupuk NPK (15:15:15) 5


ppm atau ZA dan SP-36 dengan perbandingan 2 : 1 dosis 5 ppm untuk
menumbuhkan plankton. Jangan gunakan urea, karena akan merangsang

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 44


perkembangan blue green algae. Lanjutkan dengan pemberian dolomite dengan
dosis 10 ppm tiap 3 hari sampai warna air terbentuk.

Tebarkan starter biofloc dengan dosis 5 ppm setiap hari. Setelah warna air
(plankton) terbentuk, maka bakteri probiotik akan berkembang di lapisan air
bagian bawah (dasar tambak). Sehingga pada suatu saat akan terjadi persaingan
ruang antara bakteri dengan plankton (algae).

Pemberian karbon organik (molase) dengan dosis 50 liter per ha 2 kali


seminggu untuk memacu perkembangan bakteri heterotrof dan pembentukan floc
di dalam tambak. Floc akan terbentuk dan plankton akan tergeser setelah
kandungan karbon organik (TOC) cukup tinggi atau mencapai 100 ppm.
Pergeseran dari dominasi plankton ke dominasi bakteri (floc) ditandai dengan
banyaknya busa halus berwarna putih menutupi permukaan air tambak.

Seiring dengan bertambahnya umur dan meningkatnya konsumsi pakan


oleh udang, maka akan terjadi penumpukan senyawa N anorganik (amonia, nitrit
dan nitrat). Untuk itu, pemberian karbon organik harus ditingkatkan untuk
menaikkan nilai C/N ratio. Ada beberapa alternatif sumber karbon organik selain
molase yaitu tepung terigu, tepung tapioka, tepung gaplek, gula pasir dan dedak
halus. Dengan perkiraan jumlah kandungan karbon sekitar 50% untuk yang
berbentuk tepung dan sekitar 24% untuk molase.

3.6. Penggunaan pupuk amonium, fosfat, silikat

Pupuk anorganik umumnya digunakan di awal budidaya saat persiapan air


untuk menumbuhkan plankton. Dengan perbandingan N/P yang sesuai diharapkan
plankton yang tumbuh adalah dari kelompok green algae (Chlorella,
Nannochloropsis, Tetrasemis) dan Diatom (Skeletonema, Chaetoceros, Navicula,
Cyclotella, Amphora) yang memberikan pengaruh pertumbuhan yang baik bagi
udang. Pemberian pupuk silikat sangat diperlukan untuk menjaga agar diatom
tetap ada di dalam air tambak. Disamping itu, Si juga diperlukan oleh udang
untuk membantu mempercepat pengerasan kulit selain Ca. Namun setelah

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 45


plankton cukup kepekatannya dan komunitas akan bergeser ke arah biofloc, maka
fosfat tidak diperlukan lagi. Karena kebutuhan bakteri akan fosfat sangat kecil.
Bahkan setelah kuminitas mikroba dominan, orthofosfat dalam air cenderung
meningkat terus. Bila kondisi air didominasi oleh plankton, maka kandungan
orthofosfat bersikar 20% dari total fosat yang ada. Sebaliknya bila kondisi air
didominasi oleh floc maka kandungan orthofosfat dapat mencapai 80% dari total
fosfat dalam air. Oleh karena itu pengikatan kelebihan fosfat sangat perlu untuk
mencegah dominasi BGA. Fosfat dapat dikurangi dengan cara diikat
menggunakan bahan tertentu seperti tawas, kaolin, bentonit, zeolite, kapur dan
tanah liat.

Pupuk amonium atau yang lebih dikenal dengan pupuk ZA, (NH4)2SO4 saat-
saat tertentu masih diperlukan. Pupuk ZA tidak saja bisa digunakan untuk
menumbuhkan plankton tetapi juga dapat digunakan untuk mengendalikan jenis-
jenis palnkton tertentu. Banyak jenis-jenis plankton yang merugikan yang dapat
dikendalikan dengan menggunakan pupuk ZA. Alexandrium (dinoflagellata yang
menghasilkan racun saxitoxin) mati dengan pupuk ZA 3 ppm (setara 1 ppm
NH4+), Primnesium, Euglena, dan beberapa jenis plankton blue green algae juga
dapat dikendalikan dengan amonium sulfat (pupuk ZA).

3.7. Pengapuran

Proses perombakan bahan organik baik secara aerob maupun anaerob


menghasil gas CO2 dan beberapa menghasilkan senyawa asam organik. Akibatnya
akan terjadi penurunan alkalinitas maupun pH. Untuk mencegah penurunan
alkalinitas dan pH dapat dilakukan pengapuran.

Pengapuran, disamping berguna untuk meningkatkan dan


mempertahankan alkalinitas dan pH juga dapat mengikat kelebihan fosfat
sementara dalam air. Pengikatan fosfat sementara dalam air berguna untuk
mengendalikan / mencegah munculnya BGA secara berlebihan.

Ada beberapa macam kapur yang bisa digunakan antara lain kapur aktif

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 46


(gamping) atau CaO, kapur tohor Ca(OH)2, kapur pertanian CaCO3 atau dolomite
CaMg(CO3)2. Untuk pengapuran digunakan kapur tohor Ca(OH)2 atau lebih
dikenal sebagai kapur bangunan.

CO2 + H2O + Ca(OH)2 CaHCO3

2 H+ + Ca(OH)2 Ca2+ + 2 H2O

Pemberian kapur pada saat awal budidaya (sampai 1 bulan) belum perlu
dilakukan, setelah 1 bulan diberikan dengan dosis 5 – 10 ppm 1 minggu 1 kali.
Setelah 2 bulan ditingkatkan dosis dan frekuensinya seiring dengan bertambahnya
umur dan konsumsi pakan. Namun pertimbangan utama yang harus dilakukan
dalam pemberian kapur baik dosis maupun frekuensinya adalah pH air dan
kandungan alkalinitasnya. Karena bila tidak terkendali alkalinitas bisa turun
hingga 40 ppm dan pH bisa mencapai 6,7.

3.7. Pemberian Karbon Organik Melalui Pakan

Pemberian karbon organik melalui pakan untuk meningkatkan nilai C/N ratio
pakan masih belum banyak dilakukan oleh petambak. Namun akhir-akhir ini baru
mulai ada beberapa petambak yang mencampurkan pakan dengan molase dan
dedak halus dan sebagian lagi menggunakan tepung tapioka. Penambahan karbon
organik melalui pakan bertujuan untuk meningkatkan C/N ratio sehingga amonia
yang dihasilkan atau dibuang ke dalam lingkuan tambak bisa terkendali. Besarnya
karbon organik yang diperlukan untuk meningkatkan C/N ratio pada pakan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus (Avnimeleh, 1996) :

∆CH = (CP / 6,25). W . (C/N)mic / %C . (ξ)

∆CH = kebutuhan karbohidrat


CP = crude protein
6,25 = konstanta
W = prosentase N yang terbuang (50 – 70%)
(C/N)mic = C/N ratio mikroba (4 – 6)
%C = kandungan (prosentase) karbon (24 - 50%)
(ξ) = efisiensi sintesa protein (0,4 – 0,6)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 47


Berdasarkan rumus di atas maka kebutuhan karbohidrat untuk berbagai formula
pakan dengan kadar protein berbeda dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 3-1 . Kebutuhan karbohidrat untuk berbagai formula pakan dengan kadar
protein berbeda

Protein Kebutuhan Protein Kebutuhan Protein Kebutuhan


pakan Karbohidrat pakan Karbohidrat pakan Karbohidrat
(CP) (∆CH) (CP) (∆CH) (CP) (∆CH)
25% 40% 35% 56% 44% 70%
28% 45% 36% 58% 45% 72%
30% 48% 38% 61% 50% 80%
32% 51% 40% 64% 55% 88%

3.9. Permasalahan floc dan penanggulangannya

− Floc susah jadi

Ada beberapa penyebab sehingga floc susah jadi atau tidak terbentuk diantaranya
ada kemungkinan tidak terdapat bakteri pembentuk floc (yang menghasilkan
polimer PHA), kekurangan bahan organik terutama C, nilai C/N ratio tidak sesuai,
tambak sudah terlebih dahulu ditumbuhi lumut sutera (Chaetomorpha sp). Perlu
ditinjau ulang inokulan bakteri apa yang digunakan sebagai starter, jumlah
pasokan C organik ke dalam tambak dan penyesuaian nilai C/N ratio. Bila
disebabkan oleh lumut sutera, maka perlu diberi perlakuan dengan bakteri
fotosintetik, memberikan starter dengan dosis yang lebih tinggi hingga lumut
sutera kehabisan nutrisi karena persaingan. Saat persiapan, sisa – sisa lumut sutera
harus dibersihkan dan diberi perlakuan larutan asam (HCl 1%) untuk membasmi
spora-sporanya.

− Bioflocs ketebalannya berkurang ( normal 10-20 cm sechi disk ) dan


warna air mengarah ke hijau :

Hentikan pengenceran, tahan air selama 5-6 hari, aplikasikan pupuk ZA 1 ppm
setiap harinya untuk menekan pertumbuhan chrollera atau aplikasikan pupuk ZA

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 48


5 ppm setiap harinya untuk menekan pertumbuhan blue green algae. Pada hari ke
7 sirkulasi / pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali. (Aiyushirota)

− Bioflocs ketebalannya berkurang ( normal 10-20 cm sechi disk ) dan


warna air mengarah ke coklat merah :

Hentikan pengenceran, tahan air selama 5-6 hari, aplikasikan CaCO3 / kaptan 20
ppm setiap harinya dan 1-2 x treatment dengan Kalsium peroksida. Pada hari ke 7
sirkulasi/pengenceran secara over flow dapat dilakukan kembali.(Aiyushirota)

− Warna hijau biru (BGA) atau merah (Dinoflagellata) tetap ada setelah 5-
6 hari treatment:

Berlakukan pola sistem “minimal exchange water” terhadap tambak tersebut,


hindari pengenceran/sirkulasi. Penambahan air hanya dilakukan untuk mengganti
air yang hilang/susut akibat penguapan, perembesan dan susut air akibat
pembuangan lumpur rutin harian saja. (Aiyushirota)

− Floc terlalu pekat

Kurangi pakan hingga 30% dari konsumsi normal agar udang makan sebagian
floc. Lakukan beberapa hari sampai ketebalan floc berkurang. Cara ini seperti
yang dilakukan oleh McIntosh (2000).

− Floc diikuti kematian udang

Ada beberapa kemungkinan penyebab, antara lain : adanya serangan penyakit


IMNV, LvNV, vibriosis. Kemungkinan faktor mutu air seperti kekurangan DO
(BOD sangat tinggi), floc terlalu kental dan sebagian mengendap sehingga
muncul gas H2S yang meracuni udang, floc didominasi algae beracun atau bakteri
pathogen (vibrio). Untuk itu, penerapan teknologi Biofloc harus dilengkapi
dengan fasilitas laboratorium seperlunya.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 49


4. BUDIDAYA UDANG VANAME SECARA INTENSIF
DENGAN MENERAPKAN TEKNOLOGI BIOFLOC

PANDUAN PEMBUATAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO):

4.1. PERSIAPAN TAMBAK

4.1.1. Pembersihan Tambak

Setelah selesai panen, tambak segera dibersihkan dari sampah-sampah,


bangkai udang dan lain-lain. Kuburkan atau bakar bangkai udang, bila ada.
Peralatan : kincir dan aerator lainnya, anco, skala meteran dan atribut tambak
diangkat dari tambak dan dibersihkan. Bila pelu setelah dibersihkan disterilkan
dengan kaporite 100 ppm.

Bersihkan lumpur yang ada dan buang di tempat penampungan limbah


padat (lumpur).

4.1.2. Perbaikan tambak

Perbaiki bagian tambak yang ada kerusakan. Bagian dasar, pematang /


tanggul, dan saluran (baik in let maupun out let) serta pintu pemasukan maupun
pintu panen dan pembuangan tengah.

4.1.3. Pencucian dan Sterilisasi

Tambak dicuci dengan menggunakan air laut atau air bersih yang ada
dengan cara disemprot menggunakan pompa 2 in sampai dasar dan pematang
benar-benar bersih.

Setelah tambak benar-benar bersih, dilanjutkan sterilisasi tambak


menggunakan kaporite 100 ppm atau HCl 1% untuk membersihkan bakteri dan
spora yang menempel pada plastik atau semen, dengan cara disemprot saat
menjelang matahari terbenam (sore hari) agar tidak cepat menguap karena panas

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 50


matahari. Setelah itu tambak diistirahatkan selama 2 hari.

Waktu yang diperlukan : pembersihan tambak 1 hari, pembersihan lumpur 3 hari,


perbaikan tambak 2 hari, pencucian dan sterilisasi 3 hari. Total 9 hari.

*) Pengeringan dan pengapuran tidak ada karena bukan tambak tanah tetapi
tambak plastik atau semen.

4.1.4. Pemasangan peralatan

Setelah tambak dalam keadaan bersih dan steril, tambak siap dioperasikan
kembali. Peralatan dan perlengkapan tambak seperti aerator (kincir, turbo,
supercharge dan perlengkapannya), atribut tambak, skala meteran, screen
(waring) dipasang kembali seperti semula.

4.2. PERSIAPAN AIR

4.2.1. Pengisian air

Masukkan air laut atau air sumur bor ke dalam tambak dengan melalui
filter rangkap. Isi tambak hingga 1,2 meter.

4.2.2. Sterilisasi

Sterilisasi air tambak dengan kaporite 30 ppm dan operasikan kincir


selama 3 – 5 jam untuk meratakan kaporite dalam air tambak. Bila ada ikan atau
organisme lainnya yang mati segera ambil dan kuburkan atau musnahkan.
Setelah itu biarkan 1 minggu.

4.2.3. Pemupukan

Pada hari ke-7 dilakukan pemupukan untuk mempercepat /memacu


pertumbuhan phytoplankton. Phytoplankton yang diharapkan adalah dari green
algae dan diatom. Lebih baik bila diberi inokulan plankton hasil kultur (misalnya
Chlorella dengan Chaetoceros atau Chlorella dengan Skeletonema). Dipilih 2

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 51


kelompok phytoplankton tersebut, karena green algae memiliki kualitas air yang
stabil dalam jangka waktu yang lama sedangkan diatom memberi pengaruh
terhadap pertumbuhan yang lebih cepat. Untuk harus dilakukan pemupukan
dengan komposisi yang sesuai.

Jenis pupuk yang diberikan adalah NPK, Amonium Sulfat atau ZA, SP-36
dan Silikat. Komposisi pupuk diusahakan memiliki nilai perbandingan N/P ratio
20–30 : 1. Tidak disarankan menggunakan pupuk urea. Bila menggunakan pupuk
ZA dan SP-36 maka komposisinya adalah ZA 57,5 kg dan SP-36 3,25 kg per
hektar dengan nilai N/P ratio 23 : 1. Karena SP-36 yang dapat digunakan 24%
maka jumlahnya ditambah menjadi 2,2 kg per hektar. Sedang Silikat (Na2SiO3)
yang diberikan sekitar 0,5 ppm atau 6 liter per hektar.

4.2.4. Pemberian starter biofloc (Probiotik)

Untuk mempercepat tumbuhnya biofloc di dalam tambak maka perlu


diberi starter. Starter floc dapat dibuat dengan cara mengkultur bakteri pembentuk
floc. Salah satu jenis bakteri pembentuk floc adalah Bacillus subtilis. Banyak
pilihan probiotik yang kandungan jenis bakterinya adalah Bacillus subtilis yang
beredar di pasaran bebas. Probiotik yang mengandung Bacillus substilis (salah
satu jenis bakteri yang terkandung dalam produk) dikembangkan dengan media
tertentu yang dapat mengembangbiakkan bakteri heterotrof.

Salah satu contoh komposisi media yang digunakan untuk


mengembangkan Bacillus (oleh Fajril Kirom, praktisi tambak dari Sumbawa)
adalah tepung beras/tepung terigu 2 kg, tepung ikan 2 kg, molase 3 liter, bibit
(Bacillus subtilis) untuk starter 4 liter, Fermepan (yeast) 100 gr, air steril 180 liter.
Bahan-bahan seperti tepung beras/ tepung terigu, tepung ikan, molase direbus
terlebih dahulu sebelum digunakan untuk pengembangan bakteri. Selanjutnya
bahan yang sudah direbus dengan air steril sebanyak 180 liter didalam wadah
fermentasi kemudian diaerasi. Bila suhunya ≤ 45 oC yeast dan starter bakteri
(probiotik komersial) dimasukkan dan diaerasi selama 2 hari. Pemberian

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 52


fermentasi (bakteri kultur) diberikan sebayak 5 ppm setiap hari.

Pembibitan bioflocs skala kecil dilakukan secara in door, dalam wadah


fermentasi tertentu baik dalam drum atau bak fiber. Ke dalam air bersih (tawar
atau asin) ditambahkan pakan udang dengan konsentrasi 1% , berikut 1% nutrien
bakteri yang berupa campuran buffer pH, osmoregulator berupa garam isotonik,
vitamin B1, B6, B12 , hormon pembelahan sel dan precursor aktif yang
merangsang bakteri untuk mengeluarkan secara intensif enzim, metabolit
sekunder dan bakteriosin selama fermentasi berlangsung (nutrient Bacillus spp.)
serta bibit bakteri baik dari isolat lokal atau bakteri produk komersil berbasis
Bacillus spp. yang pasti diketahui mengandung paling tidak Bacillus subtilis,
sebagai salah satu bakteri pembentuk bioflocs. Campuran diaerasi dan diaduk
selama 24-48 jam, diusahakan pH bertahan antara 6,0 -7,2 sehingga bacillus tetap
dalam fasa vegetatifnya, bukan dalam bentuk spora dan PHA tidak terhidolisis
oleh asam, sehingga ukuran partikel bioflocs yang dihasilkan berukuran besar,
paling tidak berukuran sekitar 100 µm. (Aiyushirota).

4.2.5. Pemberian molase

Untuk mempercepat perkembangan floc dalam tambak maka perlu


tambahan karbon organik karena pemberian pakan saat awal budidaya masih
sangat sedikit. Sumber karbon yang dapat digunakan adalah molase, tepung terigu
atau tepung tapioka.

Pemberian molase sebagai sumber karbon untuk bakteri pembentuk floc


diberikan dengan dosis 50 liter per ha (setara 5 ppm) tiap minggu 2 kali
pemberian.

4.3. PEMILIHAN BENUR

Benur yang baik sangat menentukan keberhasilan dalam budidaya. Oleh


karena itu, pemilihan benur yang bermutu harus dilakukan oleh petambak. Untuk
mendapatkan benur yang baik dapat dilakukan dengan penilaian terhadap benur.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 53


Penilaian meliputi penilaian (pengamatan) secara visual, stress test, mikroskopis,
mikrobiologi dan PCR.

Sebagai syarat utama benur yang diambil secara visual harus rata,
aktif/melawan arus, usus penuh, hepatopanceras berisi makanan, penampakan
tubuh bersih, bentuk tubuh lurus (tidak ada bengkok), antenna tidak membuka.
Bebas vibrio harveyi (luminescence) dan bakteri berbahaya, bebas parasite serta
penyakit lainnya. Dan yang paling penting harus bebas virus WSSV, TSV, IMNV
dan IHHNV yang disertai dengan sertifikat bebas virus tersebut.

Disamping bebas penyakit sebagaimana disyaratkan di atas, benur juga


harus tahan terhadap goncangan lingkungan yang dapat diketahui dari hasil stress
test terhadap bahan kimia tertentu (formaline) atau salinitas.

4.4. PENEBARAN BENUR

Dalam pengangkutan benur, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.


Pertama, jarak tempuh dan lamanya dalam transportasi. Kedua, sarana
transportasi yang digunakan (melalui udara atau darat). Ketiga, ukuran PL.
Keempat, waktu pengangkutan.

Keempat hal tersebut harus dipertimbangkan dengan matang untuk


menentukan jumlah benur yang bisa tertampung dalam kemasan kantong plastik,
serta perlu tidaknya penurunan suhu dalam kemasan. Dalam hal ini, petambak
harus ikut berperan aktif menentukan cara pengangkutan yang baik agar kondisi
benur tetap prima ketika diterima di tambak dan harapannya SR nya bisa tinggi.
Untuk itu, waktu yang baik untuk pengangkutan adalah saat suhu udara rendah
(saat terbenam matahari hingga pagi hari).

Bila jarak tempuhnya dekat (waktu pengangkutan sebentar) dan waktu


pengangkutan malam hari maka tidak perlu penurunan suhu. Bila jarak
tempuhnya jauh atau waktu perjalannya lama maka penurunan suhu dan
pengurangan kepadatan benur dalam kemasan harus dipertimbangkan. Terlebih

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 54


lagi bila menggunakan angkutan udara yang biayanya cukup tinggi maka
kepadatan dan penurunan suhu serta ukuran PL yang lebih kecil mutlak
dilakukan.

Penebaran benih dilakukan saat intensitas sinar matahari rendah (saat


matahari terbenam hingga pagi hari) dan cuaca terang (tidak hujan). Benih dalam
kantong plastik yang masih tertutup diapung-apungkan dalam air tambak selama
kurang lebih 15 menit. Kantung plastik diusahakan terkumpul di salah satu sisi
atau pojok petakan tambak dengan cara memberikan pembatas berupa tali, kayu
atau bambu. Selanjutnya kantung plastik dibuka, diukur suhu, salinitas dan pH
airnya dan dibandingkan dengan suhu, salinitas dan pH air tambak. Perbedaan
suhu tidak lebih dari 2 oC, pH tidak lebih dari 0,5 dan salinitas tidak lebih dari 5
promil. Selanjutnya air tambak dimasukkan sedikit demi sedikit hingga parameter
mutu air (suhu, salinitas dan pH) dalam kantung hampir sama dengan mutu air
tambak. Setelah itu, baru benur dikeluarkan dari kantung plastik (ditebar) atau
biar benur keluar dengan sendirinya.

4.5. PENGELOLAAN PAKAN

4.5.1. Prekiraan kebutuhan pakan dan cara penyimpanan

Setelah tambak ditebar benur, maka kebutuhan pakan harus dihitung untuk
mempermudah pemesanan pakan dan pengaturan stok di gudang. Jumlah pakan
yang harus dipesan harus didasarkan pada jumlah tebar benur, perkiraan size
udang ketika dipanen, perkiraan survival rate dan konversi pakan atau FCR.

Misalnya benur 1.000.000 ekor, size saat panen yang dikehendaki 60 ekor
per kg, survival rate 80% dan konversi pakan 1,4. Maka kebutuhan pakan secara
keseluruhan adalah :

= 1.000.000 x 80% x 1,4 : 60 = 18.667 kg

Selanjutnya dirinci berdasarkan kebutuhan pakan per nomor. Setidaknya ada 5


sampai 6 nomor pakan dengan bentuk, ukuran diameter maupun panjang pelet

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 55


yang digunakan selama masa budidaya udang. Tiap pakan memiliki ukuran yang
berbeda-beda sehingga bisa tidak sama kebutuhan tiap nomornya untuk merk
pakan yang berbeda. Untuk itu, harus menggunakan acuan dari merk pakan
masing-masing yang dibuat oleh pabrik yang memproduksinya.

Pakan harus sudah tersedia beberapa hari sebelum digunakan. Oleh karena
itu, pemesanan pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pakan juga tidak
boleh distok terlalu lama. Penyimpanan pakan paling lama hanya 1 bulan, tidak
boleh menyimpan pakan lebih dari jangka waktu tersebut karena akan
menurunkan mutu pakan. Demikian pula penempatan pakan dalam gudang. Pakan
yang baru datang tidak boleh dicampur dengan pakan yang lama. Pakan yang
lama harus dipakai atau dihabiskan terlebih dahulu.

4.5.2. Pemberian pakan berdasarkan tabel

Pada saat awal baru tebar, benur masih sangat tergantung pakan alami
yang ada di tambak. Oleh karena itu, penumbuhan phytoplankton terutama diatom
sangat dibutuhkan untuk pakan alami udang. Akan lebih baik lagi bila dapat
ditumbuhkan zooplankton atau yang biasa disebut kutu air (seperti rotifera,
cladocera dan copepoda).

Pakan dalam bentuk tepung diberikan menurut kebutuhan berdasarkan


perhitungan matematik dan disajikan dalam tabel. Pemberian pakan berdasarkan
perhitungan dilakukan hingga pakan di anco dapat dikontrol. Patokan yang
digunakan biasanya hingga 1 bulan. Karena pemberian pakan berdasarkan tabel
yang sudah ada maka disebut juga “blind feeding”.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 56


Tabel – 5. Pemberian pakan hingga 1 bulan untuk benur 100.000 ekor

Umur Umur
Pakan/hari Keterangan Pakan/hari Keterangan
(hari) (hari)
1 3 Tepung 16 8 _,,_
2 3 _,,_ 17 8 _,,_
3 3 _,,_ 18 9 _,,_
4 3 _,,_ 19 9 _,,_
5 4 _,,_ 20 10 _,,_
6 4 _,,_ 21 10 Crumble kasar
7 4 _,,_ 22 11 _,,_
8 5 _,,_ 23 11 _,,_
9 5 _,,_ 24 12 _,,_
10 5 _,,_ 25 12 _,,_
11 6 Crumble halus 26 13 _,,_
12 6 _,,_ 27 13 _,,_
13 6 _,,_ 28 14 _,,_
14 7 _,,_ 29 14 _,,_
15 7 _,,_ 30 15 _,,_

Tabel - 6. Feeding rate Litopenaeus vannamei untuk berbagai ukuran berat.

Berat udang Feeding rate Berat udang Feeding rate


(gram) (FR) (gram) (FR)
< 0,1 35 – 25 % 11.0 – 11.9 3.5 – 3.25 %
0.1 – 0.24 25 – 20 % 12.0 – 12.9 3.25 – 3.0 %
0.25 – 0.49 20 -15 % 13.0 – 13.9 3.0 – 2.75 %
0.5 – 0.9 15 – 11 % 14.0 – 14.9 2.75 – 2.5 %
1 – 1.9 11 – 8 % 15.0 – 15.9 2.5 – 2.3 %
2.0 – 2.9 8–7% 16.0 – 16.9 2.3 – 2.1 %
3.0 – 3.9 7 -6 % 17.0 – 17.9 2.1 – 2 %
4.0 – 4.9 6 – 5.5 % 18.0 – 18.9 2.0 – 1.9 %
5.0 – 5.9 5.5 – 5.0 % 19.0 – 19.9 1.9 – 1.8 %
6.0 - 6.9 5.0 – 4.5 % 20.0 – 20.9 1.8 – 1.7 %
7.0 – 7.9 4.5 – 4.25 % 21.0 – 23.0 1.7 – 1.6%
8.0 – 8.9 4.25 – 4.0 % 23.1 – 26.0 1.6 – 1.5%
9.0 - 9.9 4.0 – 3.75 % 26.1 – 30.0 1.5%
10.0 – 10.9 3.75 – 3.5 % > 30 > 1.5%

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 57


4.5.3. Kontrol anco

Setelah udang mau naik di anco dan mau menghabiskan pakan di anco,
maka pemberian pakan harus didasarkan atas habisnya pakan yang diberikan di
anco. Anco yang dipakai umumnya berbentuk persegi dengan ukuran 100 x 100
cm2 atau 80 x 80 cm2. namun ada juga yang menggunakan anco berbentuk
lingkaran dengan diameter 80 cm.

Jumlah pakan yang diberikan dalam anco serta jumlah anco dalam petakan
tambak didasarkan atas pengalaman dan uji coba dari para praktisi. Tambak
dengan luasan 3000 – 5000 m2 biasanya menggunakan anco sebanyak 4 buah
yang dipasang pada tiap sisi pematang. Untuk tambak yang luasnya lebih dari
5000 – 8000 m2 jumlah anco yang digunakan 6 – 8 anco.

Pemberian pakan dianco ditentukan berdasarkan prosentase dan diberikan


setelah pemberian pakan dengan penebaran dilakukan. Tujuannya agar udang
menyebar dan mendatangi pakan yang ditebar, setelah itu baru mengambil pakan
di anco. Oleh karena itu, pakan yang diberikan di anco harus dipisahkan pada saat
penimbangan.

Bila udang telah mencapai ukuran 2 gram atau lebih, maka kebutuhan
pakan per hari dapat dihitung berdasarkan perkiraan biomass udang, berat udang
(MBW) serta perkiraan SR. Semakin besar ukuran udang maka kebutuhan pakan
per berat tubuh udang semakin menurun. Kebutuhan pakan berdasarkan berat
tubuh dinyatakan sebagai feeding rate.

Tabel – 7. Prosentase pakan di anco dan waktu pengecekan


Berat (gr) Anco (%) Waktu (jam)
2–3 2,4 2,5
3–5 2,4 2,5
5–8 2,8 2,0
8 – 12 3,0 2,0 – 1,5
12 – 15 3,2 1,5
15 – 20 4,0 1,0
20 – 25 4,4 1,0
25 - 30 4,8 1,0

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 58


4.5.4. Pemberian pakan berdasarkan hasil cek anco dan pengamatan warna
usus udang.

Bila udang sudah dapat menghabisakan pakan di anco, maka pemberian


pakan lebih didasarkan atas habis / tidaknya pakan di anco. Bila pakan di anco
cepat habis maka jumlah pakan yang diberikan berarti kurang dan harus ditambah.
Bila pakan habis tetapi udang di anco sangat banyak berarti pakan baru saja habis
dan belum perlu ditambah. Bila pakan masih ada maka pakan harus
dikurangi/diturunkan.

Kadang-kadang ada kecenderungan pakan selalu habis ketika dikontrol


meskipun peosentasenya ditambah. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi
antara lain, posisi anco tidak tepat, arus terlalu kuat sehingga banyak yang kena
arus, cara pemberian pakan di anco yang tidak benar (faktor SDM). Sebaliknya
pakan dianco tidak pernah habis meski prosentasi diturunkan padahal yang lain
habis. Ada beberapa penyebab antara lain, kondisi dasar kotor banyak endapan
lumpur, daerah mati tidak ada arus sehingga oksigen rendah, anco yang berbeda
(anco baru), peletakan anco atau pemberian pakan di anco yang tidak tepat.

Kelemahan penggunaan anco sebagai acuan dalam pemberian pakan


antara lain :

- Ketika suhu lingkungan (air) mencapai 30 oC atau lebih, pakan di anco


cenderung cepat habis. Meskipun diikuti dengan menambahkan pakan secara
berlebih. Sehingga FCR bisa tinggi bila tidak dikendalikan dengan baik. Hal
ini disebabkan terjadi over feeding yang susah dikontrol.
- Demikian juga pada saat suhu rendah atau udang terinfeksi penyakit. Pakan di
anco cenderung tidak mau habis. Bila diikuti maka pertumbuhan udang akan
lambat. Hal ini bisa terjadi karena pemberian pakan kurang (underfeeding).

Pengamatan warna usus

Sebagai pembending dapat dilakukan dengan memonitor terhadap usus

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 59


udang. Udang yang makan pellet warna ususnya coklat/coklat muda, sedangkan
bila makan pakan alami (kelekap, detritus) warna ususnya kehitaman. Bila warna
usus berbeda artinya udang makan kedua-duanya. Dalam suatu kasus, terdapat
udang yang sebagian atau seluruh usus kosong, ada kemungkinan udang tersebut
terinfeksi penyakit. Upaya meningkatkan efisiensi pakan merupakan hal yang
sangat penting, karena dapat menekan biaya. Hampir 50% total biaya adalah
untuk pakan.

Pengamatan warna usus bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian


pakan berlebih (overfeeding) atau terlalu ketat (underfeeding). Pengamatan warna
usus sebagai pembanding pada manajemen pakan untuk udang vaname, telah
dilakukan di China dengan menerapkan tabel yang dibuat oleh Universitas
Katsersat. Caranya udang dijala dan diambil 100 ekor dari beberapa tempat,
kamudian diamati warna isi ususnya sesuai dengan penjelasan di atas untuk waktu
1, 1 ½ , 2, 2 ½ jam setelah pemberian pakan dan 1 jam sebelum pakan berikutnya
(Ching, 2011). Hasilnya, ternyata bisa meningkatkan efisiensi pakan. Sedangkan
standar untuk menentukan apakah pakan yang diberikan sudah sesuai, berlebih
atau kurang dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Perbandingan cek warna usus selama interval pemberian pakan (Ching,
2011)

Usus isi pakan buatan


Waktu setelah pakan Usus isi pakan alami
(pellet)
1 jam Lebih dari 60% Kurang dari 40%
1,5 jam 50% 50%
2 jam 30% 70%
2,5 jam 20% 80%
1 jam sebelum pakan Kurang dari 10% Lebih dari 90%

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 60


4.5.5. Pergantian ukuran pakan

Pemberian pakan harus disesuaikan dengan ukuran udang. Butiran pakan


harus sesuai dengan ukuran capit dan mulut udang. Bila butiran pakan terlalu
besar, maka udang tidak bisa mengambail pakan. Sebaliknya bila ukuran pakan
terlalu kecil maka waktu makan udang menjadi lebih lama. Oleh karena itu, saat
tertentu harus dilakukan oplos pakan saat akan mengganti ukuran pakan ke nomor
(ukuran) yang lebih besar.

4.5.6. Pemberian feed additif / supplement

Untuk menjaga kondisi kesehatan udang agar selalu sehat dan tidak mudah
terserang penyakit maka saat tertentu perlu ditambahkan feed supplement /
additif. Supplement yang sering ditambahkan melalui pakan antara lain : vitamin,
immunostimulant dan probiotik.

4.5.7. Vitamin

Jenis vitamin yang ditambahkan pada pakan udang antara lain vitamin C,
E vitamin B kompleks, multivitamin lengkap. Dosis pemberiannya bervariasi
tergantung kandungannya dan keperluannya. Caranya, vitamin dilarutan dengan
air bersih baru kemudian dicampurkan pada pakan. Tunggu sebentar biar
meresap. Vitamin C memiliki fungsi specific sebagai anti stress, sedangkan
vitamin E dapat meningkatkan kesuburan dan daya tahan.

4.5.8. Immunostimulant

Pemberian immunostimulant bertujuan untuk merangsang kekebalan


udang terhadap penyakit. Immunostimulant yang umum dipakai adalah derivat
dari dinding sel bakteri dan ragi (lipopolysaccharida, peptidoglycan, beta glucan,
mannan). Masih sedikit yang memanfaatkan derivat dinding sel algae (fucoidan).
Dosisnya berbeda-beda tergantung jenisnya. Setiap perusahaan yang
memproduksi immunostimulant memiliki aturan pemakaian yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, harus ada acuan yang jelas, termasuk hasil uji cobanya. Ada yang

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 61


dosisnya 1 gr/kg pakan dan ada yang 1 – 2 ml/kg pakan. Sedangkan waktu
pemberian dilakukan dari awal hingga menjelang panen, ada yang 1 minggu
diberi 1 minggu tidak, ada yang tiap hari diberi, ada yang selang 2 hari, dan lain-
lain. Oleh karena itu, harus diperhatikan petunjuk yang ada pada kemasan atau
brosur obat.

Sebagian lagi dengan memanfaatkan ekstrak herbal seperti ekstrak


meniran, kunyit, bawang putih, temulawak, kencur, mengkudu dan lain-lain.

4.5.9. Lain – lain

Bahan lain yang dicampurkan melalui pakan antara lain minyak cumi,
minyak ikan sebagai daya tarik (attractan), sekaligus sumber asam lemak tidak
jenuh dan perekat.

4.5.10. Penambahan karbon organik melalui pakan

Penggunaan karbon organik (tepung kanji, tetes) atau grain pellet untuk
menambah sumber karbon dengan tujuan meningkatkan nilai C/N ratio pakan.

Pada umumnya pakan yang digunakan untuk budidaya yang menerapkan


teknologi biofloc kandungan proteinnya berkisar 32 – 38 %. Hal ini sangat
berpotensi menghasilkan amonia yang dilepas ke dalam air. Karbohidrat
ditambahkan ke dalam pakan dengan tujuan untuk mencegah / menetralkan
amonia. Jumlah karbohidrat (dengan kandungan C 50%) untuk kandungan protein
32 – 38% disajikan pada tabel 9.

Tabel 9. Prosentase penambahan karbohidrat pada pakan

Jumlah karbohidrat kg pakan


Kadar protein pakan
100% heterotrof 50% heterotrof
32% 51% 25%
34% 54% 27%
36% 58% 29%
38% 61% 31%

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 62


4.5.11. Floc sebagai makanan tambahan

Floc memiliki nilai gizi yang cukup baik tetapi masih kurang lengkap.
Oleh karena itu floc boleh dimanfaatkan sebagai makanan tambahan. Untuk
memanfaatkan floc sebagai makanan dapat dilakukan dengan memotong jumlah
pakan yang diberikan pada udang pada saat-saat floc dalam tambak cukup pekat.
Dengan cara demikian maka penggunaan pakan lebih efisien.

4.6. PENGELOLAAN AIR DENGAN SISTEM FLOC

Sistem pengelolaan air dalam budidaya udang ada beberapa macam salah
satunya adalah dengan sistem floc. Sistem ini merupakan
pengembangan/penerapan dari teknik pengolahan limbah yang biasa disebut
“lumpur aktif”. Sistem ini memiliki banyak keuntungan antara lain, tidak perlu
banyak ganti air (sedikit ganti air), tidak tergantung kondisi air di luar (biosecurity
lebih ketat), tidak tergantung oleh cuaca (sinar matahari), dan teknologi ini ramah
lingkungan (limbah didaur ulang menjadi makanan tambahan berupa floc).
Beberapa perlakuan yang harus dilakukan untuk membentuk floc dan cara
pemeliharaannya agar mutu airnya stabil.

4.6.1. Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menambah mineral (zat hara) tertentu untuk


kebutuhan pengembangan plankton yang menguntungkan. Disamping itu,
pemupukan juga diharapkan mengendalikan plankton merugian (blue green algae,
dinoflagellata) dan merangsang pengembangan bakteri pembentuk biofloc. Floc
bakteri lebih menghendaki C/N ratio 12 (ideal 15 – 20). Sementara N/P rasio
lebih dari 20. Green algae dan diatom menghendaki nilai N/P ratio 20 – 30 : 1.
Bila N/P ratio kurang dari 10 maka blue green algae dan dinoflagellata akan
mudah berkembang biak. Beberapa jenis plankton tersebut bila P tinggi dan N
rendah berarti N sebagai faktor pembatas, maka plankton tersebut akan
menggunakan N dari udara. Jenis pupuk N yang digunakan sebaiknya dalam
bentuk amonium misalnya ZA, NPK. Dosis dan caranya sudah diuraikan. Jangan

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 63


gunakan urea untuk mencegah dominasi blue green algae. Sekali lagi, penggunaan
urea untuk menambah unsur N tidak disarankan. Blue green algae (BGA)
merupakan plankton yang menghasilkan enzyme urease sehingga dapat
menggunakan urea secara langsung. Penggunaan pupuk urea dikhawatirkan akan
merangsang perkembangan BGA di dalam air tambak

4.6.2. Pemberian starter biofloc

Starter biofloc diberikan sejak persiapan air setiap pagi hari dengan dosis
5 ppm. Pembuatan starter biofloc yang berasal dari produk probiotik komersial
yang dapat menghasilkan biofloc juga telah diuraikan di atas. Untuk menunjang
perkembangan biofloc maka aerasi dan pengadukan harus cukup agar bahan
organik teraduk dalam kolom air dan diurai oleh bakteri heterotrof aerob dan
membentuk biofloc. Namun pembentukan biofloc perlu waktu yang cukup karena
pada awal budidaya pakan yang digunakan masih sedikit.

Pemberian starter biofloc dapat dikurangi dosis atau frekuensinya bila


biofloc sudah cukup pekat. Bila biofloc sudah terbentuk maka pH air cenderung
menurun atau lebih rendah daripada pH air laut dan gocangan pH pagi-sore sangat
rendah atau kurang dari 0,3. Kepekatan biofloc bila diukur dengan secchi dish
kecerahannya berkisar 10 – 20 cm saja.

4.6.3. Pemberian Karbon organik

Pemberian karbon organik (molase, tepung terigu, tepung tapioka)


berfungsi untuk menigkatkan total karbon organik yang dapat memacu
perkembangan biofloc. Kabon organik molase dapat diberikan dengan dosis 5
ppm tiap 3 hari sekali untuk meningkatkan nilai C/N ratio dan memacu
perkembangan mikroba termasuk bakteri pembentuk floc. Pemberian karbon
organik molase disesuaikan dengan pH air, total organik karbon serta kandungan
nitrogen anorganik (amonia, nitrit, nitrat). Pemberian karbon akan mempertcepat
perkembangbiakan bakteri. Sehingga CO2 dalam air meningkat dan pH, pH dan
alkalinitas menurun. Pemantauan pH dan alkalinitas harus dilakukan secara rutin.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 64


pH dan alkalinitas yang rendah akan menyebabkan pembentukan kulit terhambat
(lama).

4.6.4. Perlakuan kapur

Efek perkembangan biofloc adalah penurunan alkalinitas secara terus


menerus serta penurunan pH. Perlakuan pengapuran harus dilakukan secara rutin
tergantung dari alkalinitas dan pH. Dosis pengapuran berkisar 10 – 20 ppm dan
dilakukan tiap 7 hari sekali saat awal dan semakin sering (hingga 3 hari sekali)
setelah udang mencapai 2 bulan atau lebih. Jenis kapur yang digunakan adalah
kapur tohor Ca(OH)2 yang terlebih dahulu dilarutkan dalam air, kemudian ditebar
secara merata. Perlakuan dengan kapur tohor bila tujuannya untuk meningkatkan
pH berkisar 10 ppm. Sedangkan jenis kapur yang digunakan untuk meningkatkan
alkalinitas adalah kaptan (kapur pertanian) atau dolomite dengan dosis 10 – 15
ppm. pH air harus dijaga paling rendah 6,8 dan sore 7 dan alkalinitas diusahakan
lebih dari 60 ppm terutama setelah kolom air didominasi biofloc.

4.6.5. Buang air dan sifon kotoran

Dalam aplikasi teknologi biofloc, tidak ada pembuangan air di awal


budidaya (kurang dari 2 bulan). Karena penumpukan bahan organik diharapkan
dapat mempercepat perkembangan biofloc. Biofloc menggunakan bahan organik
karbon dari detritus (bahan organik) yang teraduk dan menyerap mineral berupa
nitrogen anorganik (amonia) dan fosfat serta mineral lain dalam air. Bila ada
pembuangan air tentu akan mengurangi peningkatan kandungan bahan organik
dalam air yang tentu saja akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan
biofloc.

Buang air dilakukan bila kondisi air sudah terbentuk biofloc yang cukup
pekat yang dicirikan oleh kecerahan mencapai 20 cm. Buang air dilakukan setiap
hari atau setiap 3 hari tergantung dari banyaknya endapan yang terkumpul di
pembuangan sentral. Endapan harus dibuang karena kondisinya yang anaerob

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 65


yang dapat memicu munculnya senyawa nitrit, H2S dan metana.

Untuk mencegah terjadinya pengendapan lumpur yang berlebihan di dasar


tambak, maka dapat pula dilakukan sifon lumpur bila pembuangan tengah tidak
bisa menjangkau endapan lumpur. Pompa 2 atau 3 inch dapat digunakan untuk
keperluan sifon dengan ujung selang diberi saringan untuk mencegah agar udang
tidak ikut tersedot. Yang sangat penting untuk diperhatikan adalah air dari sifon
tidak boleh dibuang keluar secara langsung karena sangat berbahaya (dapat
mencemari lingkungan). Jadi lumpur harus diendapkan dulu di tempan
pengendapan lumpur yang disediakan secara khusus.

Alternatif lain untuk mencegah timbulnya H2S dan nitrit adalah dengan
menebarkan bakteri anaerob fakultatif seperti bakteri fotosintetik (PSB) dan
bakteri denitrifikasi pengguna nitrat penghasil nitrogen jenis Bacillus
licheniformis di daerah yang arusnya lemah. Bakteri tersebut harus dicampur
substrat (zeolite granular) sebelum ditebar ke tambak, agar dapat langsung
tenggelam ke dasar.

4.6.6. Pemasukan air

Pada awal budidaya, pemasukan air dilakukan hanya untuk


mempertahankan ketinggian air akibat kehilangan air karena penguapan.
Selanjutnya pemasukan air hanya untuk menambah ketinggian. Setelah 2 bulan
ada pembuangan lumpur (kotoran) dari sentral atau kegiatan sifon lumpur.
Dengan demikian, pemasukan air digunakan untuk mengganti air yang hilang
akibat pembuangan kotoran atau kegiatan sifon. Lumpur/kotoran yang
mengendap harus dibuang. Baik melalui pipa pembuangan di tengah maupun
dengan cara sifon. Pembuangan kotoran / lumpur bertujuan untuk mencegah
menculnya H2S yang bersifat sangat beracun bagi udang.

Suatu saat pemasukan air secara insidental diperlukan karena beberapa


sebab yaitu bila kandungan oksigen terlalu rendah, amonia atau nitrit terlalu
tinggi, floc terlalu padat (air terlalu kental) dan lain-lain yang susah untuk

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 66


dikendalikan.

4.6.7. Aerasi dan pengadukan

Aerasi dan pengadukan air tambak yang cukup kuat sangat diperlukan
untuk mendukung perkembangan floc dan mencegah terjadinya pengendapan
bahan organik, serta membuat bahan organik selalu teraduk dan terurai secara
aerob. Kebutuhan aerasi sangat bervariasi antar tempat. Kebutuhan aerasi untuk
menunjang sistem biofloc minimal 30 HP per ha, yang idealnya menurut
McIntosh (1999) berkisar antara 45 – 60 HP per hektar. Penempatan aerator
dilakukan sedemikian sehingga tidak ada daerah mati (berarus lemah) untuk
mencegah terjadinya endapan. Idealnya, dipadukan aerasi yang membentuk arus
putar dengan aerator yang membentuk arus dari bawah ketas. Dalam hal ini, perlu
ada perpaduan aerasi dari permukaan (kincir, turbo) dan aerasi dari dasar dengan
menggunakan blower sehingga percampuran (pengadukan) air dan penyebaran
oksigen lebih merata.

4.6.8. Penggunaan bahan kimia

Penggunaan bahan kimia seperti desinfektan atau sejenisnya yang bersifat


antibacterial dengan alasan untuk pencegahan penyakit dan lain-lain tidak
diperbolehkan karena dapat merusak sistem floc yang sudah berjalan. Oleh karena
itu, harus dipertimbangkan betul sebelum memberikan perlakuan bahan kimia.
Bila berdasarkan analisis laboratorium diketahui bahwa ada organisme penyusun
floc yang membahayakan (dapat meracuni atau mematikan) udang, maka
penggunaan bahan kimia boleh dilakukan jika hanya dengan obat tersebut udang
dapat terselamatkan. Sebagai contoh penyusun floc yang merugikan adalah
plankton beracun dinoflagellata atau bakteri pathogen (vibrio harveyi) yang cukup
tinggi. Setelah perlakuan harus dilakukan pemberntukan / penormalan kembali
terhadap biofloc yang rusak. Namun bila ada cara lain yang tidak merusak sistem
floc, maka pemberian bahan kimia yang dapat merusak floc harus dihindarkan.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 67


4.7. PEMANTAUAN KONDISI KESEHATAN UDANG DAN
LINGKUNGAN SERTA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
PENYAKIT

Kejelian dalam memantau kondisi kesehatan udang oleh para teknisi atau
pembudidaya sangat diperlukan. Hal ini sangat penting kaitannya dengan adanya
serangan penyakit dan cara penanggulangannya. Bila terlambat mengetahui
bahwa udang sudah terserang penyakit maka bisa berakibat fatal atau gagal
produksi.

4.7.1. Pemantauan kesehatan udang

Pemantauan kesehatan udang dapat dilakukan sacara langsung dilapangan


maupun melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan kondisi kesehatan
udang secara langsung di lapangan meliputi :

− Pemantauan terhadap nafsu makan

Udang yang sehat memiliki nafsu makan yang kuat. Sebaliknya bila stres
atau sakit maka nafsu makannya menurun. Bila nafsu makannya menurun harus
diperiksa parameter mutu air (oksigen, amonia, pH, plankton, suhu, bakteri vibrio,
dll.), serta ambil sample udang untuk diperiksa di laboratorium. Kejadian
moulting masal juga bisa menyebabkan nafsu makan menurun. Demikian juga
perlakuan tertentu yang menyebabkan goncangan mutu air.

− Pengamatan terhadap hepatopancreas maupun usus udang

Pengamatan kondisi hepatopancreas maupun udang biasanya dilakukan


saat kontrol anco. Udang yang sehat hepatopancreasnya penuh dan ususnya berisi
penuh sampai ke belakang. Pengamatan yang lebih baik adalah dengan menjala
udang di tambak kira-kira 2 – 3 jam setelah pemberian pakan. Udang yang
tertangkap diamati hepatopancreas dan ususnya. Selanjutnya udang yang

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 68


pencernaannya kosong atau berisi tapi sedikit dihitung prosentasenya.

− Pengamatan terhadap kotoran udang

Udang yang sehat kotorannya tebal dan panjang. Berwarna coklat atau
kehitaman tergantung dari yang dimakan. Sedangkan udang yang sakit atau ada
gejala sakit kotorannya pendek, mudah hancur, atau keputih-putihan. Bila udang
makan pelet, warna hepatopancreasnya kecoklatan. Sedangkan bila makan
detritus di dasar warna akan kehitaman. Bila makan lumut atau blue green
(Spirulina) maka warnanya hijau dan bila makan cacing warnanya kemerahan.
Kadang-kadang ditemukan kotoran udang yang berwarna putih mengambang di
permukaan air. Ini biasanya kotoran udang yang sakit dan tidak mau makan.

− Pengamatan terhadap kondisi tubuh udang

Pengamatan kondisi tubuh udang meliputi bagian permukaan tubuh udang.


Udang yang sehat permukaan tubuhnya bersih, mengkilat dan licin. Sedang udang
yang kurang sehat, tampak kusam, ada penempelan dan tidak bersih. Penampakan
warna yang tidak normal seperti ada bercak hitam, bercak putih, warnanya
kemerahan menunjukkan bahwa udang ada masalah (kemungkinan terserang
penyakit).

− Serta tingkah laku udang di tambak

Sebagai hewan nocturnal maka udang aktif di dasar atau keluar pada
malam hari. Adanya udang yang berenang di permukaan pada siang hari, atau
menempel di tepi pematang menunjukkan bahwa udang tidak sehat. Demikian
juga bila udang konvoi (berenang dalam jumlah banyak) berarti udang dalam
masalah. Sedangkan pemeriksaan kesehatan di laboratorium meliputi pemeriksaan
parasit (ektocomensal), bakteri yang menempel di permukaan tubuh, kondisi
insang udang (adanya protozoa), hepatopancreas udang (adanya Vibrio terutama
Vibrio harveyi). Dan pemeriksaan PCR bila diperlukan.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 69


4.7.2. Sampling

Sampling adalah kegiatan rutin yang dilakukan dalam budidaya dengan


cara menangkap udang sebagian untuk ditimbang dan diperiksa sehingga bisa
mendapatkan gambaran kondisi udang di dalam tambak yang meliputi
pertumbuhan udang serta kondisi kesehatan udang.

4.7.3. Pemantauan pertumbuhan

Untuk mengetahui pertumbuhan udang, maka udang ditangkap dengan


jala kemudian dilakukan penimbangan, selanjutnya jumlah udang dihitung dan
berat rata-rata udang dapat diketahui. Berat rata-rata udang dibandingkan dengan
barat rata-rata pada sampling sebelumnya sehingga bisa diketahui pertumbuhan
rata-rata per hari atau ADG (avarage daily growth). Bila nilai ADG antara 0,17 –
0,2 gr per hari berarti pertumbuhannya sedang (standar). Biala lebih dari 0,2 gr
per hari berarti cepat dan bila antara 0,13 – 0,15 berarti lambat dan bila kurang
dari 0,12 berarti pertumbuhannya jelek.

Udang yang sehat memiliki pertumbuhan yang baik yaitu 0,17 atau lebih.
Tetapi udang yang kurang sehat atau kondisi lingkungannya yang kurang baik
maka pertumbuhannya akan lambat. Pertumbuhan yang lambat juga erat
hubungannya dengan mutu pakan.

4.7.4. Pemantauan kesehatan secara visual

Udang yang tertangkap saat sampling, harus diamati kondisi tubuhnya,


sebagaimana juga dilakukan saat pemantauan harian. Pengamatan terhadap
kelincahan udang, dan perubahan warna akibat perlakuan sampling. Biasanya
udang yang kurang sehat warnanya cepat menjadi pucat dan terjadi kram pada
beberapa ekor udang. Bila kekurangan oksigen atau dasar kotor kaki udang akan
berwarna kemerahan dan warna daging udang akan cepat pucat (putih opaque).
Bila bagian kulit udang (chitin) ada bercak atau garis-garis hitam yang biasa
dinamakan scrath biasanya kandungan vibrio dalam air cukup tinggi.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 70


4.7.5. Pemantauan kesehatan secara laboratorium

Disamping dilakukan pengamatan visual di lapangan maka beberapa ekor


udang yang diduga ada masalah perlu dilakukan pengamatan secara laboratorium.
Laboratorium mini sangat diperlukan dalam tambak udang. Terlebih lagi bila
menerapkan teknologi biofloc. Pemeriksaan kesehatan udang yang dapat
dilakukan dalam laboratorium mini antara lain :

- Pengamatan bagian insang udang


- Isi usus udang
- Bagian hepatopancreas
- Serta bagian kaki renang dan uropod (ekor udang).

Dari pengamatan terhadap insang, kaki dan ekor udang dapat diperoleh
hasil seperti adanya perubahan warna (pigmentasi) menjadi kehitaman
(melanisasi) atau kemerahan, organisme penempel / epicommensal (protozoa,
jamur, algae dan bakteri filament). Isi usus dan hepatopancreas bisa diperoleh
adanya kandungan vibrio (degan media TCBS) atau baculovirus dengan
pewarnaan MG dan diamati di bawah mikroskop.

4.7.6. Perlakuan

Perlakuan diberikan bila terdapat suatu masalah baik udang maupun


lingkungannya. Perlakuan terhadap lingkungan (air dan dasar) dapat berupa
perlakuan fisik (penambahan kincir, ganti air, sifon), perlakuan kimiawi
(pengapuran, pemupukan, molase maupun desinfektan) serta perlakuan biologi
dengan memberikan probiotik dan transfer plankton yang menguntungkan. Semua
perlakuan tersebut bertujuan untuk memperbaiki kondisi mutu air agar udang
tetap sehat dan pertumbuhannya optimal. Sedangkan perlakuan terhadap udang
meliputi pemberian immunostimulant, vitamin, minyak cumi, probiotik, herbal
(jamu) diberikan dengan tujuan untuk menjaga agar kondisi udang tetap sehat dan
tidak mudah terserang penyakit.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 71


Penggunaan segala jenis antibiotik telah dilarang karena akan berdampak
pada mutu udang yang dihasilkan. Pemeriksaan antibiotik oleh pihak pembeli di
luar negeri sangat ketat, yaitu dengan menggunakan alat yang disebut LC MS/MS
yang dapat membaca kandungan antibiotik maupun residunya hingga 1 ppb (atau
1 mg obat per ton udang). Oleh karena itu, menjaga kesehatan udang jauh lebih
penting daripada mengobati.

4.8. PANEN UDANG

Pada umumnya budidaya udang dilakukan hingga 4 bulan atau 120 hari.
Namun demikian ada juga yang melakukan panen lebih dari 4 bulan dan ada pula
yang kurang dari 4 bulan dengan alasan-alasan tertentu.

4.8.1. Penentuan panen

Panen udang dilakukan dengan pertimbangan umur (umurnya sudah


mencapai 120 hari), harga (kondisi harganya sesuai atau harga udang mau turun),
size udang (size tertentu memiliki harga bagus), atau panen karena faktor penyakit
(panen belum waktunya). Sebelum pelaksanaan panen, petambak harus mencari
pembeli udang untuk negosiasi harga. Bila sudah ada kesepakatan baru panen
dilaksanakan. Waktunya ditentukan oleh pembeli.

4.8.2. Persiapan panen

Yang perlu disiapkan berkaitan dengan pelaksanaan panen udang antara


lain :

− Persiapan tenaga.

Jumlah tenaga harus mencukupi, seimbang dengan jumlah tonase udang.


Jumlah tenaga panen harus sesuai dengan jumlah tenaga bagian sortir. Bila tenaga
panen terlalu sedikit maka proses panen akan berjalan lambat dan mutu udang
akan menurun. Sebaliknya bila tenaga panen mencukupi tetapi tenaga sortirnya
kurang maka akan terjadi penumpukan udang yang sudah diangkat dari kolam,

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 72


sehingga ada kemungkinan udang menjadi rusak karena keterlambatan
penanganan.

− Persiapan alat panen

Alat panen harus disiapkan, pastikan bahwa alat panen harus selalu dalam
keadaan bersih sebelum digunakan. Peralatan yang digunakan untuk panen antara
lain : alat tangkap (jala kurung/jaring kondom, jaring listrik atau mini trawl, jala
lempar, sudu/sotok, dll.), alat pengangkut (wadah drum plastik, keranjang, dan
lain-lain), timbangan untuk menimbang udang dan tempat penampungan air
bersih dan es. Sedang meja sortir, keranjang untuk sortir dan penimbangan, meja
stainless steel, es serta kebutuhan untuk pengemasan dan pengangkutan biasanya
dipenuhi oleh pihak pembeli.

− Persiapan tempat penyortiran

Tempat sortir harus dibersihkan sebelum digunakan untuk kegiatan sortir /


panen. Tempat sortir harus disemprot air sampai bersih kemudian disiram
chlorine agar steril. Dibiarkan kering dan menjelang digunakan dibilas lagi
dengan air bersih.

− Persiapan air bersih

Untuk pencucian udang hasil panen, perlu dilakukan dengan


menggunakan air bersih yang layak sebagai bahan baku air minum. Tidak
mengandung logam berat (Cd, Hg, Pb, As), bahan pencemar (detergent,
pestisida/insectisida), dll. Demikian juga dengan mutu esnya. Bahan baku es
harus layak sebagai bahan baku air minum.

− Persiapan Es, Transportasi, Tenaga sortir dan packing

Pihak pembeli biasanya menyiapkan es untuk pengemasan udang berikut


mobil truk untuk transportasi serta tenaga sortir dan packing.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 73


4.8.3. Pelaksanaan panen

Pelaksanaan panen harus dilakukan saat cuaca tidak panas. Jadi sebaiknya
mulai pada sore hari menjelang matahari tenggelam hingga pagi hari. Panen
sebaiknya tidak dilakukan saat matahari terik, karena udang akan cepat rusak.
Mula-mula air dikurangi secukupnya (tinggal 80 cm). Jaring kondom atau jala
kurung dipasang dipintu panen. Selanjutnya pintu panen dibuka dan udang yang
keluar masuk ke dalam jaring. Udang yang tertangkap dimasukkan ke dalam
wadah kantong atau keranjang yang diberi tutup dan selanjutnya diangkut dan
dibawa ke tempat sortir. Bila konstruksi tambaknya bagus maka udang akan habis
bersamaan dengan habisnya air. Tetapi bila konstruksinya tidak bagus, setelah
udang tidak lagi keluar dari pintu panen, air kolam dikeluarkan dengan
menggunakan dipompa. Bersamaan dengan itu, udang ditangkap dengan
menggunakan alat tangkap sudu, jala listrik, trawl atau jala lempar hingga udang
habis dan tambaknya kering.

4.8.4. Penanganan udang

Udang yang diangkut dari tambak, setibanya di tempat sortir dilakukan


pencucian dengan menggunakan air bersih. Udang dibersihkan dan dipisahkan
dari kotoran selanjutnya dipisahkan antara udang yang baik, moulting dan
undersize dan ditaruh dalam keranjang. Selanjutnya dilakukan penimbangan (dan
pencelupan obat) dan udang langsung dimasukkan dalam bak fiber serta diberi es
secukupnya. Dengan menggunakan mobil truk khusus, udang dibawa ke
prossesing untuk diproses dan diekspor ke luar negeri oleh pihak eksportir atau
pemilik pabrik pengolahan.

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 74


Sumber Acuan

Aiyushirota. Konsep Budidaya Sistem Bakteri Heterotrof dengan Biofloc.


www.aiyushirota.com

Avnimeleh, Y. 2006. Microbial Controlled Ponds – Principles, Implementation


and New Development. Presentation in Vegas 2006.
http://floc.aesweb.org/

Avnimeleh, Y. 2009. Biofloc Technology. A Practical guide book. World


aquaculture society. Baton Rouge, Lousiana, United state.181p

Azim, Ekram. David C.Little and James E. Bron. 2006. Production of microbial
protein using activated suspension technique (AST) in indoor tanks.
AQUA 2006. Florenze. Italy. 9 – 13 May 2006. http://floc.aesweb.org/

Boyd, C.E. and J.W. Clay, 2002. Evaluation of Belize Aquaculture, Ltd: A
Superintensive Shrimp aquaculture System. Report prepared under the
World Bank, NACA, WWF, and FAO Consortium Program on Shrimp
Farming and the Environment. Work in progress for Public Discussion.
Published by the Consortium.

Bulford, Peter J. Thompson, Robins P. McIntosh, Robert H. Bauman, Doug C.


Pearson. 2002. Nutrient and microbial dynamics in high-intensity, zero-
exchange shrimp ponds in Belize.Elsevier. www.elsevier.com

Bulford, Peter J. Thompson, Hank Bauman, Doug C. Pearson. 2003. Microbial


Communities Affect Water Quality, Shrimp Performance at Belize
Aquaculture. Global Aquaculture Advocate.August 2003.

Chamberlain, G. , Yoram Avnimelech, Robin P. McIntosh, Mario Velasco, 2000.


Nutritional and Water Quality Advantages of Intense Microbial Reuse
Systems with Balanced C:N. Presented at the Fifth International
Symposium on Aquaculture Nutrition in Merida, Mexico on November
19-22, 2000.

Chamberlain, G. , Yoram Avnimelech, Robin P. McIntosh, Mario Velasco, 2001.


Advantages of Aerated Microbial Reuse Systems with Balanced C:N. The
Advocate. April 2001

Chamberlain, G. , Yoram Avnimelech, Robin P. McIntosh, Mario Velasco, 2001.


Advantages of Aerated Microbial Reuse Systems with Balanced C:N. The
Advocate. Juni 2001

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 75


Chamberlain, G. , Yoram Avnimelech, Robin P. McIntosh, Mario Velasco, 2001.
Advantages of Aerated Microbial Reuse Systems with Balanced C:N. The
Advocate. October 2001.

Ching, C.A., 2011. Intestine Color Check Complements Feed Management In


White Shrimp. The Global Advocate Alliance, September/Oktober 2011.

Conquest, L. and Albert Tacon, 2006. Utilization of Microbial Floc in


Aquaculture System : A Review. Presentation in Vegas 2006.
http://floc.aesweb.org/

Ebeling, J.M. Michael B. Timmons and James J. Bisogni, 2006. Engineering


review of photoautotrophic, autotrophic, heterotrophic bacterial control of
ammonia in zero-exchange production systems. Presentation in Vegas
2006. http://floc.aesweb.org/

Gao et.al, 2006. Characterization of a bioflocculant from a newly isolated


Vagococcus sp. W31. Journal of Zhejiang University SCIENCE B ISSN
1673-1581 (Print); ISSN 1862-1783 (Online). www.zju.edu.cn/jzus ;
www.springerlink.com

McIntosh, R. P. 2000. Changing paradigms in shrimp farming: V. Establishment


of heterotrophic bacterial communities. The Global Advocate Alliance.
December 2000. p : 52 – 54.

McIntosh, R. P. 2001. Changing paradigms in shrimp farming: V. Establishment


of heterotrophic bacterial communities. The Global Advocate Alliance.
February 2001, p : 53 – 58.

Moriarty, D.J.W. 1999. Disease Control in Shrimp Aquaculture with Probiotic


Bacteria. Microbial Interactions in Aquaculture Proceedings of the 8th
International Symposium on Microbial Ecology Bell CR, Brylinsky M,
Johnson-Green P (eds) Atlantic Canada Society for Microbial Ecology,
Halifax, Canada.

Nyan Taw, 2006. Shrimp Production in ASP System, CP Indonesia :


Development of the Technology from R & D to Commercial Production.
Presentation in : Aquaculture America 2006. Las Vegas, USA.

Panjaitan, P. and Yoram Avnimeleh, 2006. Effect of C/N ratio on Water Quality
in Zero Water Exchange Microcosms. Presentation in Firenze 2006.
http://floc.aesweb.org/

Rosenberry, 2006. Meet the Flockers. Shrimp News International, October 1,


2006. http://www.shrimpnews.com/

Rosenberry. 2007. Probiotics and Shrimp Farming : A Discussion from the

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 76


Shrimp List. Shrimp News International, 2007.
http://www.shrimpnews.com/

Samocha, TM. et al. 2006. Use Of Molasses As Carbon Source In Limited


Discharge Grow-out Systems For Litopenaeus vannamei. Presentation in
Vegas 2006. http://floc.aesweb.org/

Serfling, Steven A. 2006. Microbial flocs – Natural Treatment Method Support


Freshwater, Marine Species in Recirculating Systems. Global Aquaculture
Advocate Magazine. June 2006. vol. 9, Issue 3. p : 34 – 36.

Sinha, et. al. 2008. Horizon scanning : The potential use of biofloc as an anti-
infective strategy in aquaculture – an overview. Aquaculture Health
International. Issue 13 Juni 2008.

Tacon, A.G.J. 2002. Thematic Review of Feeds and Feed Management Practices
in Shrimp Aquaculture. Report prepared under the World Bank, NACA,
WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the
Environment. Work in Progress for Public Discussion. Published by the
Consortium. 69 pages.

Verdegem, Schrama J., Hari B. and Kurup M. 2006. Alternative view on shrimp
pond nutrition. Presentation in Firenze, Italia 2006. http://floc.aesweb.org/

Verstraete, W.; P. De Schryver; T. Defoirdt; R. Crab. 2007. Added value of


microbial life in flocs. Presentation in San Antonio 2007.
http://floc.aesweb.org/

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 77


Lampiran

KUMPULAN GAMBAR

MACAM-MACAM BIOFLOC

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 78


Pemantauan floc dengan “imhoff conical”

floc dalam “imhoff conical” (sebelum dan sesudah mengendap)

Tambak yang menerapkan system Biofloc

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 79


floc (organik, algae, protozoa, bakteri) floc (dominasi algae)

floc (dominasi bakteri) floc (dominasi bakteri)

floc (organic, bakteri dan protozoa)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 80


Berbagai bentuk biofloc dari hasil pengamatan dengan mikroskop (dari beberapa
ahli)

Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 81


Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 82
Penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang vaname di Indonesia 83