Anda di halaman 1dari 13

6.

1 Konsep Produksi Jangka Pendek (Short-Run Production Concept)

Dalam ekonomi manajerial terutama berkaitan dengan konsep efisiensi produksi, di kenal
istilah: efisiensi teknik (technical efficiency) dan efisiens ekonomis (economic efficiency). Pada
dasarnya efisiensi teknik mengacu pada tingkat output maksimum yang secara teknik produksi
dapat dicapai dari penggunaan kombinasi input tertentu dalam proses produksi itu. Sedangkan
efisiensi ekonomis mengacu pada kombinasi penggunaan input yang secara ekonomis mampu
menghasilkan output tertentu dengan biaya yang seminimum mungkin pada tingkat harga input
yang berlaku itu. Dalam situasi persaingan di pasar global yang amat sangat kompetitif
sekarang ini, efisiensi ekonomis menjadi sangat penting, karena yang menjadi tujuan utama
dalam strategi produksi modern adalah menghasilkan output pada tingkat tertentu sesuai
dengan permintaan pasar (konsumen), dengan biaya yang seminimum mungkin, agar harga
jual yang ditetapkan dapat kompetitif di pasar global itu. Perusahaan-perusahaan Jepang telah
menunjukkan efektivitas penetapan efisiensi ekonomis dalam strategi produksi JIT, sehingga
membuat industri Jepang unggul di pasar global.

Secara konseptual, produksi diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yaitu: produksi jangka
pendek (short run production) dan produksi jangka panjang (long run production). Konsep
produksi jangka pendek mengacu kepada periode waktu produksi di mana terdapat satu atau
lebih input yang bersifat tetap selama periode waktu itu. Periode waktu di sini tidak berkaitan
dengan lama waktu tertentu, seperti: satu bulan, satu tahun, dua tahun, lima tahun, dll. Sebagai
contoh dalam industri yang menggunakan input-input: material (bahan baku), energi (listrik,
air, dll), tenaga keria, modal dalam bentuk mesin yang diukur berdasarkan kapasitas mesin,
dll. Dalam jangka pendek diasumsikan bahwa kapasitas mesin dan penggunaan energi
diklasifikasikan sebagai input tetap (fixed inputs), sedangkan penggunaan material dan jam
tenaga kerja diklasifikasikan sebagai input variabel (variable inputs). Sepanjang kapasitas
mesin dan penggunaan energi yang semula diklasifikasikan sebagai input tetap itu belum
berubah (meskipun telah lima tahun beroperasi), maka periode waktu produksi yang
berlangsung masih dianggap sebagai produksi jangka pendek. Sebaliknya apabila kapasitas
mesin dan penggunaan energi telah berubah sebagai akibat penambahan mesin (meskipun baru
satu tahun beroperasi), telah terjadi perubahan penggunaan input mesin dan energi, di mana
dalam situasi ini input modal (mesin) dan energi telah menjadi input variabel (variable inputs)
dalam sistem produksi itu. Dalam situasi semacam ini, periode waktu produksi dikatakan
sebagai jangka panjang, di mana semua input yang digunakan dalam proses produksi jangka
panjang dianggap sebagai input variabel. Dengan demikian konsep produksi jangka panjang
mengacu pada periode waktu (atau horizon perencanaan) di mana semua input yang digunakan
dalam produksi adalah variabel (variable inputs), tidak ada input tetap.

Berdasarkan keterangan di atas, kita mengetahui bahwa konsep produksi jangka pendek
maupun produksi jangka panjang tidak berkaitan dengan lama waktu tertentu (satu bulan, satu
tahun, dua tahun, lima tahun, dll.), tetapi berkaitan dengan periode waktu produksi apakah
terdapat satu atau lebih input tetap dalam sistem produksi itu (produksi jangka pendek) atau
semua input yang ada merupakan input variabel (produksi jangka panjang).

Untuk memudahkan analisis dan pembahasan tentang produksi jangka pendek, kita mulai
dengan hanya mempertimbangkan dua input dalam produksi, yaitu: input modal yang diukur
dalam kapasitas mesin dan diklasifikasikan sebagai input tetap (fixed input), serta input tenaga
kerja yang diukur dalam jam tenaga kerja dan diklasifikasikan sebagai input variabel (variable
input). Misalkan bahwa kapasitas mesin aktual PT. ABC, yang memproduksi produk
manufaktur tertentu, pada saat sekarang adalah 3000 jam mesin per bulan dan dianggap tetap
untuk periode waktu tertentu. Selanjutnya berdasarkan data aktual yang dikumpulkan,
diketahui bahwa variasi output yang dihasilkan disebabkan oleh variasi penggunaan jam kerja
pada tingkat kapasitas mesin per bulan itu. Misalkan bahwa PT. ABC telah melakukan
pengumpulan data selama sembilan bulan, yang menunjukkan terdapat hubungan antaranya
penggunaan tenaga kerja per bulan, dinotasikan dengan huruf L (Labor), dan Output total per
bulan dinotasikan dengan huruf Q (Quantity). Semua output yang diproduksi oleh PT. ABC
adalah sesuai dengan permintaan pasar (konsumen). Tujuan yang ingin dicapai oleh PT. ABC
adalah meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja secara terusmenerus. Data
pengamatan ditunjukkan dalam Tabel V.5.
Tabel V.5. Data Hipotesis Output Total (Q) dan Penggunaan Tenaga Kerja (L) dari PT. ABC selama Periode
April-Desember 1996

Output Total (Q) Tenaga Kerja (L)


No. Pengamatan Bulan
(Ton) (Jam Tenaga Kerja)
1. April 10.000 3.025
2. Mei 8.500 2.725
3. Juni 9.000 2.850
4. Juli 10.500 3.150
5. Agustus 9.500 2.950
6. September 11.000 3.325
7. Oktober 12.500 4.175
8. November 11.500 3.550
9. Desember 12.000 3.900

Berdasarkan data hipotesis yang ada dalam Tabel V.5., kita dapat melakukan analisis produk
rata-rata (average product), dinotasikan sebagai AP, dan analisis produk marjinal (marginal
product), dinotasikan sebagai MP. Dalam kasus di atas kita dapat menghitung produk rata-rata
dari tenaga kerja, dinotasikan sebagai APL dan produk marjinal dari tenaga kerja, dinotasikan
sebagai MPL. Produk rata-rata dari tenaga kerja sering disebut juga sebagai produktivitas rata-
rata dari tenaga kerja sedangkan produk marjinal dari tenaga kerja disebut juga sebagai
produktivitas marjinal dari tenaga kerja. Produk rata-rata dari tenaga kerja didefinisikan
sebagai produk total (output) dibagi banyaknya penggunaan tenaga kerja, dinotasikan dalam
formula sebagai: APL = Q/L. Sedangkan produk marjinal dari tenaga kerja didefinisikan
sebagai penambahan unit output yang disumbangkan oleh penambahan satu unit penggunaan
tenaga kerja pada tingkat penggunaan input lain diasumsikan konstan (ceteris paribus),
dinotasikan dalam formula sebagai: MPL = ∆Q/∆𝐿. Untuk memudahkan analisis produk rata-
rata dan produk marjinal dari tenaga kerja berdasarkan data aktual yang dikumpulkan, biasanya
data output yang ada diurutkan dalam nilai dari terkecil sampai terbesar. Analisis produk rata-
rata dan produk marjinal dari tenaga kerja berdasarkan data dalam Tabel V.5, ditunjukkan
dalam Tabel V.6.
Tabel V.5. Data Hipotesis Output Total (Q) dan Penggunaan Tenaga Kerja (L) dari PT. ABC selama Periode
April-Desember 1996

Hasil Hasil
No. Q L ∆Q ∆𝐿 AP1 MPL
(meningkat/ (meningkat/
Urut (ton) (jam) (ton) (jam) (ton/jam) (ton/jam)
menurun) menurun)
1. 8.500 2.275 - - 3.12 - - -
2. 9.000 2.850 500 125 3.16 Meningkat 4.00 Meningkat
3. 9.500 2.950 500 100 3.22 Meningkat 5.00 Meningkat
4. 10.000 3.025 500 75 3.31 Meningkat 6.67 Meningkat
5. 10.500 3.150 500 125 3.33 Meningkat 4.00 Menurun
6. 11.000 3.325 500 175 3.30 Menurun 2.86 Menurun
7. 11.500 3.550 500 225 3.23 Menurun 2.22 Menurun
8. 12.000 3.825 500 275 3.14 Menurun 1.82 Menurun
9. 12.500 4.175 500 350 2.99 Menurun 1.43 Menurun

Dari hasil analisis dalam Tabel V.6., dapat ditarik beberapa kesimpulan penting sebagai
bahan informasi dalam pengambilan kebijaksanaan sistem produksi PT. ABC, antara lain:

1. Produksi total (Q) tertinggi selama periode waktu sembilan bulan (April-Desember 1996)
tercapai pada bulan Oktober 1996 sebesar 12.500 ton produk manu. faktur, sedangkan
produksi total (Q) terrendah tercapai pada bulan Mei 1996 sebesar 8.500 ton produk
manufaktur.
2. Penggunaan tenaga kerja (L) tertinggi pada bulan Oktober 1996 yaitu sebesar 4.175 jam
kerja, sedangkan terrendah pada bulan Mei 1996 yaitu sebesar 2.725 jam kerja.
3. Produktivitas rata-rata dari tenaga kerja (APL) tertinggi tercapai pada tingkat 3.33 ton/jam
kerja, yang dicapai pada bulan Juli 1996 ketika tingkat produksi total (Q) sebesar 10.500
ton dan penggunaan tenaga kerja (L) sebesar 3.150 jam kerja. Sedangkan produktivitas
rata-rata dari tenaga kerja (APL) rerrenclah tercapai pada tingkat 2.99 ton/iam kerja, yang
terjadi pada bulan Oktober 1996 ketika tingkat produksi total (Q) tertinggi sebesar 12.500
ton dan penggunaan tenaga kerja (1) terbanyak sebesar 4.175 jam kerja.
4. Produktivitas marjinal dari tenaga kerja (MPL) mencapai tingkat tertinggi sebesar 6.67
ton/jam kerja pada bulan April 1996, ketika tingkat produksi coral (Q) sebesar 10.000 ton
dan penggunaan tenaga kerja (L) sebesar 3.025 jam kerja. Sebaliknya Produktivitas
marjinal dari tenaga kerja (MPL) mencapai tingkat terrendah sebesar 1.43 ton/jam kerja
pada bulan Oktober 1996, ketika tingkat produksi total (Q) sebesar 12.500 ton dan
penggunaan tenaga kerja (L) sebesar 4.175 jam kerja.

Dari analisis terhadap sistem produksi PT. ABC, kita mengetahui bahwa telah rerjadi
infisiensi penggunaan tenaga kerja pada bulan Oktober 1996, ketika produksi total mencapai
tingkat tertinggi selama periode April Desember 1996. Apabila tujuan utama dari strategi
produksi PT. ABC adalah meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, maka perlu dicari
apa penyebab utama penurunan produktivitas ratarata dan produktivitas marjinal dari tenaga
kerja pada bulan Oktober 1996 itu? Jika telah ditemukan akar penyebab penurunan
produktivitas rata-rata dan produktivitas marjinal dari tenaga kerja pada bulan Oktober 1996
itu, berbagai keputusan yang relevan dapat diambil, sehingga pengendalian terhadap efisiensi
penggunaan tenaga kerja dapat dilakukan secara terus-menerus pada waktu mendatang.
Demikian juga perlu dipelajari faktor-faktor apa yang menyumbang produktivitas rata-rata dari
tenaga kerja tertinggi pada bulan Juli 1996, agar dapat dijadikan standar dalam pengendalian
produktivitas rata-rata dari tenaga kerja. Selanjutnya pada tahun 1997 perlu dikumpulkan lagi
data produksi dan penggunaan tenaga kerja untuk dianalisis kembali performansi proses
produksi dan diperbandingkan dengan performansi produksi pada tahun 1996. Apabila hal ini
dilakukan secara terus-menerus, pengendalian efisiensi penggunaan tenaga kerja akan menjadi
efektif. Demikian pula pengendalian terhadap input-input variabel yang lain, dapat dilakukan
dengan cara yang sama.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa dalam sistem produksi modern membutuhkan
dokumentasi proses produksi yang baik dan manajer yang mampu menganalisis permasalahan
yang terjadi dalam proses produksi serta dapat membuat keputusan korektif yang tepat. Dalam
sisrem industri modern yang penuh persaingan ketat sekarang ini, para manajer yang
dibutuhkan adalah manajer yang mampu berpikir melalui masalah (think through the problem)
dan dapat berbicara berdasarkan data atau fakta (speak with data).
Analisis dalam Tabel V.5. menunjukkan bahwa produktivitas marjinal dari tenaga kerja
(MPL) terus menurun apabila penggunaan tenaga kerja bertambah. Fenomena ini dalam
ekonomi manajerial disebut sebagai: hukum kenaikan produk marjinal yang berkurang (law of
diminishing marginal product). Dengan demikian hukum kenaikan produk marjinal yang
berkurang menyatakan bahwa apabila banyaknya unit dari input variabel meningkat,
sedangkan input yang lain dianggap konstan (ceteris paribus), maka akan tercapai suatu titik
jenuh, di mana setelah titik itu produk marjinal dari input variabel akan berkurang.
Gambar V.4. kurva hubungan antara produk Total (Q),
produk marjinal (MP), dan produk rata-rata (AP)

Secara konseptual hubungan antara produk total (Q), produk rata-rata dari tenaga kerja
(APL), dan produk marjinal dari tenaga kerja (MPL), dapat ditunjukkan dalam Gambar V4.
Hubungan ini juga berlaku untuk input variabel yang lain.

Dari Gambar V.4., dapat dibuat beberapa kesimpulan penting berkaitan dengan produksi
jangka pendek, antara lain:
1. Jika input tenaga kerja (juga input variabel lain) nol, tidak ada output yang dapat
diproduksi.
2. Output pertama kali meningkat dengan laju kenaikan yang bertambah sampai tingkat
penggunaan tenaga kerja sebesar L0, yang memproduksi output sebesar Q0. Sepanjang
range penggunaan tenaga kerja ini (0 sampai L0), produk marjinal akan meningkat,
yang berarti pula produktivitas marjinal dari tenaga kerja akan meningkat. Titik (L0,
Q0) sering disebut sebagai titik belok (inflection point).
3. Melewati tingkat penggunaan tenaga kerja, L0, produk total masih meningkat tetapi
meningkat dengan laju yang berkurang sampai pada tingkat penggunaan tenaga kerja
L2. Dengan demikian, sepanjang range penggunaan tenaga kerja ini (L0 sampai L2),
produk marjinal akan menurun, yang berarti pula produktivitas marjinal dari tenaga
kerja akan menurun.
4. Produk rata-rata dari tenaga kerja (APL) yang juga merupakan produktivitas ratarata
dari tenaga kerja mencapai maksimum pada tingkat penggunaan tenaga kerja sebesar
L1, ketika nilai APL = MPL. Dengan demikian produktivitas rata-rata dari tenaga kerja
tercapai pada tingkat penggunaan input tenaga kerja yang lebih sedikit apabila
dibandingkan dengan tingkat penggunaan tenaga kerja yang memaksimumkan produk
total (L1 < L2). Hubungan antara produk marjinal (MP) dan produk rata-rata (AP) dalam
kurva menunjukkan bahwa: jika produk marjinal lebih besar daripada produk rata-rata
(MP > AP), produk rata-rata (AP) akan meningkat. Sedangkan jika produk marjinal
lebih kecil daripada produk rata-rata (MP < AP), produk rata-rata (AP) akan menurun.
Jika produk marjinal sama dengan produk rata-rata (MP : AP), produk rata-rata (AP)
menjadi maksimum.
5. Melewati tingkat penggunaan tenaga kerja, L2, produk total akan menurun yang
menyebabkan produk marjinal menjadi negatif. Dengan demikian, setelah tingkat
Penggunaan tenaga kerja L2, produk marjinal akan negatif, yang berarti pula
produktivitas marjinal dari tenaga kerja akan negatif.
6.2 Nilai Produksi Total, Rata-rata, dan Marginal dalam Konsep Produksi Jangka Pendek

Produktivitas faktor produksi atau tingkat penerimaan faktor produksi berperanan penting
dalam proses penentuan kombinasi-kombinasi input yang optimal dalam suatu sistem
produksi. Oleh karena proses optimisasi memerlukan analisis hubungan antara nilai total
dengan marginal dari suatu fungsi, maka akan sangat berguna bagi kita jika diperkenalkan
lebih dulu konsep produk total, rata-rata dan marginal dari sumberdaya-sumberdaya yang kita
gunakan dalam suatu sistem produksi.
Istilah produk total digunakan untuk menunjukkan output total dari suatu sistem produksi.
Berarti sama dengan Q dalam persamaan 7.1. Produk total merupakan jumlah output total atau
produk total yang dihasilkan dari penggunaan sejumlah tertentu sumberdaya dalam suatu
sistem produksi. Konsep produk total ini digunakan untuk menggambarkan hubungan antara
output dengan hanya ada satu input yang berubah-ubah yang digunakan dalam sebuah fungsi
produksi. Misalkan tabel 7.2 merupakan sistem produksi dimana Y adalah sumberdaya modal
dan X merupakan input tenaga kerja. Jika perusahaan berproduksi dengan menggunakan
sejumlah modal tertentu (misalkan Y=2), maka fungsi produksinya dalam jangka pendek
ditunjukkan oleh baris dalam tabel 7.1 yang sesuai dengan tingkat modal tersebut. Dengan
menggunakan 2 unit modal, maka output total dari sistem produksi tersebut tergantung pada
jumlah tenaga kerja (X) yang digunakan. Produk total dari X ini bisa di baca dari baris Y = 2
dalam tabel 7.1. Juga ditunjukkan dalam kolom 2 dari tabel 7.2 dan digambarkan dilukiskan
secara grafis dalam Gambar 7.4 (a).

Secara lebih umum, produk total dari suatu faktor produksi bisa ditunjukkan sebagai
sebuah fungsi yang menghubungkan output dengan jumlah sumberdaya yang digunakan.
Melanjutkan contoh di muka, produk total dan X ditunjukkan oleh fungsi produksi:

Q = f(X | Y = 2)
Persamaan ini menghubungkan jumlah output Q ( produk total dari X ) dengan jumlah
input X yang digunakan, dengan menetapkan jumlah Y yang digunakan adalah 2 unit.
Tentunya kita akan dapat memperoleh fungsi produksi produk total yang lain jika input Y
diubah-ubah.
Gambar 7.5 melukiskan konsep yang lebih umum mengenai produk total dari sebuah
input sebagai skedul output yang di peroleh sesuai dengan kenaikan input itu, dengan
menganggap jumlah penggunaan input - input lain tidak berubah. Dalam gambar 7.5 tersebut
sekali lagi kita menganggap bahwa fungsi produksi adalah kontinyu yang berarti bahwa input
bisa divariasikan dengan cara yang kontinyu. Sekarang misalkan jumlah input Y adalah tetap
sebesar Y1. Kurva produk total dari input X, dengan menganggap input Y tetap sebesar Y1,
berawal dari Y1 dan kemudian meningkat sepanjang permukaan produksi jika penggunaan
input tersebut ditambah.

Kurva produk total lainnya yang ditunjukkan dalam gambar tersebut adalah untuk X
dengan menganggap Y tetap pada Y2. Dan tiga untuk input Y dengan menganggap X tetap
pada X1, X2, dan X3.
Kurva - kurva produk total pada gambar 7.5 tersebut bisa juga digambarkan secara dua
dimensi. Kurva produk total untuk input X dengan menganggap Y tetap pada Y1, ditunjukkan
oleh gambar 7.6(a). Kurva ini dibuat secara labgsubg dari Gambar 7.5, dan suatu seri dari
Kurva seperti itu bisa digambarkan untuk berbagai tingkat Y. Sama juga halnya, kurva - kurva
produk total bisa digambarkan untuk input Y dengan menganggap X tetap pada berbagai
tingkat.
Dengan adanya fungsi produk total untuk sebuah input, maka produk marginal (MP) dan
produk rata - rata (AP) nya secara gampang bisa diperoleh. Pertama, ingat bahwa produk
marginal (MP) dari faktor produksi X (MPX) adalah perubahan output yang disebabkan oleh
perubahan 1 unit faktor produksi X, dengan menganggap input -input lainnya tetap. Oleh
karena itu, untuk sebuah fungsi produk total ( seperti ditunjukkan dalam tabel 7.2 dan gambar
7.4). MP-nya ditunjukkan oleh hubungan:

di mana Q adalah pembahan output yang terjadi karena perubahan input variabel X sebesar X
unit. dengan anggapan bahwa jumlah input lainnya (Y) tetap.
Jika suatu input bisa diubah-ubah secara kontinyu (bukan swam inkremental), maka MP-
nya bisa diperoleh dengan cara mencari tumnan parsial dari fungsi produksi pada input variabel
tersebut. Oleh karena itu, produk marginal dari input X dari tungsi produksi yang ditunjukkan
oleh persamaan 7.1 adalah:

Produk rata-rata dari suatu faktor produksi adalah produk total itu dibagi dengan jumlah
unit input yang digunakan atau:

Produk rata-rata untuk X. jika Y = 2 unit, dalam oontoh produksi yang diskrit ditunjukkan
pada kolom 4 Tabel 7.2.

Untuk fungsi produk total yang kontinyu. seperti dilukiskan dalam Gambar7.6(a), produk
marginal (MP)-nya adalah sama dengan slope kurva produk total tersebut. Sedangkan produk
ra\a-rata (AP)-nya adalah same dengan slope dari sebuah garis yang dilukiskan dari titik origin
menuju suatu tilik pada kurva produk total. Produk rata-rata dan marginal untuk input X bisa
ditentukan dengan cara ini. dan titik tersebut bisa digambarkan untuk memperoleh kurva
produk rata-rata dan marginal seperti dalam Gambar 7 .6(b).
Tiga titik yang diperiukan: A. B dan C, dituniukkan pada kurva produk total dalam Gambar
7.6(a). dan masing-masing titik mempunyai tempat pada kurva AP dan MP. Titik A merupakan
titik belok dari kurva produk total (TP). Produk marginal (MP) dari X (slope kurva TP tersebut)
meningkat terus sampai titik belok tersebut tercapai, setelah itu MP mulai menurun. Fenomena
ini bisa dilihat pada Gambar 7.6(b), di mana MPx mencapai titik maksimum pada A.

Titik B pada kurva TP tersebut menunjukkan tingkat output pada saat AP sama dengan
MP. Slope sebuah garis dari origin menuju setiap titik pada kurva TP tersebut merupakan APX
pada titik yang bersangkutan. sedangkan MP adalah sama dengan slope dari kurva TP. Pada
titik B tersebut, di mana input X yang digunakan sebesar X2, sebuah garis dari origin
bersinggungan dengan kurva TP, maka MPX = APX. Perhatikan juga bahwa slope dari garis
yang berturut-turut digambarkan dari origin menuju kurva TP meningkat sampai titik B,
setelah itu slope-slope tersebut menurun. Oleh karena itu, kurva AP menaik sampai kurva
tersebut mencapai B, kemudian menurun. Ciri-ciri tersebut juga ditunjukkan oleh titik B pada
Gambar 7.6(b). Pada titik tersebut tampak bahwa MPX = APX dan APX berada pada keadaan
maksimum.

Titik ketiga, yakni titik C, menunjukkan posisi di mana slope kurva TP sama dengan nol
dan kurva tersebut mencapai titik maksimumnya. Setelah melampaui titik C, MP X menjadi
negatif. Artinya jika ada kenaikan penggunaan input X justru akan menyebabkan penurunan
produk total (TP). Titik yang sesuaidalam Gambar 7.6(b) adalah titik C yaitu suatu titik di
mana kurva MP berpotongan dengan sumbu X.

6.3 The Law of Diminishing Returns dalam Konsep Produksi Jangka Pendek

Kurva TP dan MP pada Gambar 7.6 menunjukkan sifat yang kita kenal dengan istilah
hukum kenaikan hasil yang berkurang (the law of diminishing returns). Hukum ini menyatakan
bahwa jika jumlah penggunaan satu input variabel meningkat sementara jumlah penggunaan
faktor-faktor produksi lainnya tidak berubah maka pada mulanya kenaikan penggunaan input
tersebut akan menyebabkan kenaikan output, tetapi kemudian mulai menurun (berkurang).
Atau dengan kata lain, hukum ini menyatakan bahwa MP dari faktor produksi variabel
akhirnya akan menurun, jika input tersebut dikombinasikan dengan satu input lainnya atau
lebih yang jumlahnya tetap.

Hukum kenaikan hasil yang berkurang ini bukanlah hukum yang msa diturunkan secara
deduktif. Hukum ini merupakan generalisasi dari suatu hubungan empiris yang teIah diamati
dengan seksama dalam setiap sistem produksi. Dasar dari hubungan ini secara gampang
ditunjukkan oleh input tenaga kerja dalam suatu proses produksi di mana jumlah modal yang
digunakan adalah tetap.

Sekarang kita perhatikan sebuah pabrik yang merakit bagian-bagian mesin untuk
memproduksi mobil. Jika seorang pekerja ditugaskan untuk merakit sebuah mobil, maka
pekerja itu harus melakukan semua kegiatan yang diperlukan untuk membuat mobil tersebut.
Output dan kombinasi penggunaan tenaga kerja dan modal seperti itu tampaknya akan sangat
kecil. Namun demikian, jika ada tambahan pekerja ke dalam kegiatan perakitan tersebut,
dengan menganggap input modal tetap, maka output bisa ditingkatkan dengan cepat. Intensitas
penggunaan sumberdaya modal meningkat dengan adanya tambahan input tenaga kerja
tersebut dan kombinasi input menjadi lebih efisien. Perbaikan penggunaan modal yang
disebabkan oleh pengerjaan tenaga kerja yang semakin banyak tersebut bisa meningkatkan MP
(meningkatkan output) setiap pekerja sampai pada kisaran tertentu dari tambahan tenaga kerja
tersebut. Kenaikan produktivitas marginal ini terjadi karena setiap tenaga kerja semakin
mampu mengelola sejumlah barang modal yang digunakannya daripada jika jumlah tenaga
kerja tersebut lebih sedikit. Spesialisasi kegiatan yang bisa menyertai kenaikan pengerjaan
tenaga kerja tersebut merupakan faktor lain yang bisa juga meningkatkan MP tenaga kerja jika
ada tambahan tenaga kerja yang digunakan.

Sebuah gambaran tentang keadaan produksi di mana MP dari suatu input meningkat pada
suatu kisaran tertentu ditunjukkan pada Tabel 7.2. Di situ unit pertama tenaga kerja (input X)
menghasi|kan 15 unit produksi. Jika 2 unit tenaga kerja, maka 31 unit output yang dihasilkan,
dan MP untuk tenaga kerja yang kedua ini adalah 16 (Iebih besar dari unit yang pertama yaitu
15). Demikian juga, tambahan satu unit tenaga kerja lainnya bisa mengakibatkan kenaikan
output menjadi 48 unit, yang berarti bahwa MP dari unit tenaga kerja yang ketiga adalah 17
unit.

Akhirnya, setelah mencapai suatu kisaran tertentu, pertambahan tenaga kerja selanjutnya
tidak akan menghasilkan manfaat yang sama besarnya dengan manfaat yang diterima
sebelumnya. Jika hal ini terjadi, maka tingkat kenaikan output untuk setiap unit tambahan
tenaga kerja (MP tenaga kerja) akan menurun. Walaupun output total terus meningkat jika ada
unit tambahan tenaga kerja yang digunakan (MP tenaga kerja positif), tetapi tingkat kenaikan
output tersebut akan menurun (MP akan turun). Penurunan produktivitas marginal ini
ditunjukkan oleh unit keempat, kelima, keenam dan ketujuh dari input X pada Tabel 7.2
tersebut.
Akhirnya, suatu titik di mana jumlah input variabel sangat banyak sehingga output total
mulai menurun dengan adanya penambahan penggunaan input tersebut akan dicapai. Dalam
contoh perakitan mobil itu, hal ini akan terjadi jika tenaga kerja sangat banyak sehingga para
pekerja terganggu dalam melakukan proses produksi. Pada Tabel 7.2 ditunjukkan bahwa hal
ini terjadi ketika Iebih dari 7 unit input X dikombinasikan dengan 2 unit input Y. Unit X yang
kedelapan menyebabkan penurunan1 unitoutput (berarti MP = 1), sedangkan unit ke-9 dan ke-
10 menyebabkan output turun masing-masing sebesar 2 dan 3.

Dalam Gambar 7.6(b), kisaran di mana input variabel X menunjukkan penerimaan hasil
yang meningkat, menurun dan negatif telah ditunjukkan. Walaupun informasi yang diberikan
oleh hubungan tingkat penerimaan hasil atau produktivitas ini tidak memungkinkan seseorang
untuk menentukan jumlah penggunaan input yang optimal yang akan digunakan dalam suatu
kegiatan produksi, tetapi hubungan ini bisa membantu seseorang untuk menghindari
kombinasi penggunaan input yang tidak rasional menurut kaidah-kaidah ekonomis yang
realistis.

Konsep tahapan produksi yang tidak rasional ini, bisa diamati Iebih mendalam dengan
menggunakan analisis isokuan yang secara eksplisit menyadari potensi variabilitas kedua
faktor produksi (modal dan tenaga kerja) tersebut dalam suatu sistem produksi 2 input-1output.
Teknik ini dibahas pada bagian berikut di mana teknik ini digunakan untuk menelaah peranan
dari substitubilitas input dalam penentuan kombinasi input yang optimal.

6.4 Elastisitas Faktor Produksi Jangka Pendek


Konsep Elastisitas yang telah dipelajari sebelumnya juga diterapkan dalam produksi.
Elastisitas produksi (ɳ) menunjukkan rasio perubahan output yang dihasilkan terhadap
perubahan relatif jumlah input yang digunakan. Misalkan input yang berubah adalah
pemakaian tenaga kerja (L) maka elastisitas produksi dapat diformulasikan sebagai berikut :

Atas dasar formula tersebut diketahui bahwa :


· Pada saat MP > AP diperoleh Elastisitas Produksi > 1
· Pada saat MP = AP diperoleh elastisitas produksi = 1
· Pada saat MP = 0 diperoleh Elastisitas Produksi = 0
· Pada saat MP negatif diperoleh Elastisitas Produksi negatif
Kaitan antara rasionalitas daerah produksi dengan elastisitas produksi adalah sebagai berikut :
a. Daerah dengan Elastisitas Produksi > 1 sampai Elastisitas Produksi = 1
adalah irrational region
b. Daerah dengan Elastisitas Produksi = 1 sampai Elatisitas Produksi = 1 adalah
daerah rational region
c. Daerah dengan Elastitas Produksi = 0 sampai Elastisitas Produksi < 0 adalah
daerah irrational region
Perumusan diatas digunakan untuk menentukan daerah rasional maupun irrational dalam
berproduksi terutama bila kita melihat data dalam bentuk tabel. Tanpa membuat kurva,
sebetulnya kita sudah dapat menentukan mana daerah rasional maupun irrational dalam
berproduksi dengan menggunakan rumusan diatas.

6.5 Hubungan Marginal Produk dan Elastisitas Faktor Produksi dengan Pengambilan Keputusan

Bagi kebanyakan manajer perusahaan, persoalan produksi yang dihadapi adalah bagaimana
memproduksi suatu produk dengan komposisi yang palin menguntungkan Baik komposisi
input yang dipergunakan maupun komposisi jenis produk yang akan dihasilkan. Untuk
memkasimumkan profit, para manajer perusahaan harus berorientasi pada usaha memproduksi
secara efisien dengan beban biaya minimal.

Hal ini diartikan sebagai upaya untuk secara terus menerus mencari dan menemukan
metode rekayasa memproduksi serta membandingkan metode yang dipakai dengan metode
yang sudah pernah digunakan oleh perusahaan sebelumnya. Dari perbandingan tersebut dipilih
suatu metode yang merupakan terbaik, dengan menghasilkan keuntungan tertinggi bagi
perusahaan.

Elastisitas merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beragam permasalahan
di bidang ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai dasar analisis ekonomi, seperti
dalam menganalisis permintaan, penawaran, penerimaan pajak, maupun distribusi
kemakmuran.

Dalam bidang perekonomian daerah, konsep elastisitas dapat digunakan untuk memahami
dampak dari suatu kebijakan. Sebagai contoh, Pemerintah Daerah dapat mengetahui dampak
kenaikan pajak atau susidi terhadap pendapatan daerah, tingkat pelayanan masyarakat,
kesejahteraan penduduk, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan investasi, dan indikator
ekonomi lainnya dengan menggunakan pendekatan elastisitas. Selain itu, konsep elastisitas
dapat digunakan untuk menganalisis dampak kenaikan pendapatan daerah terhadap
pengeluaran daerah atau jenis pengeluaran daerah tertentu. Dengan kegunaannya tersebut, alat
analisis ini dapat membantu pengambil kebijakan dalam memutuskan prioritas dan alternatif
kebijakan yang memberikan manfaat terbesar bagi kemajuan daerah.

Penyelesaian Soal Produksi Margiral

Diketahui :

1. September 2014 tenaga kerja 178.865 orang, total produksi 85.681.478 unit.
2. Agustus 2014 tenaga kerja 173.955 orang, total produksi 86.605.054 unit
Ditanya :
Prodaksi marjinal bulan Agustus?
Penyelesaian:
MPX = ∆Q

∆X

= Q2 – Q1
X2 – X1
= 86.605.054 - 85.681.478
178.865 - 173.955
= 923.576
1130
= 817 unit