Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH BINTANG DAN GALAKSI

Disusun oleh:
Kelompok 1
Anggota Kelompok:
1. Suharli AJ (06111181621001)
2. Fitri Erdiana (06111181621002)
3. Siti Maulidina Rizky (06111181621003)
4. Kiki Wulandari (06111181621012)
5. Dwi Nastiti Lukita Ningsih (06111181611064)

Dosen Pembimbing : Syuhendri, S.Pd., M.Pd., Ph.D.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

Makalah Bintang dan Galaksi. 1


KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
karena atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas Geografi. Makalah ini dapat
digunakan sebagai wahan untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar,
dan sebagai referensi tambahan dalam belajar jagat raya dan Tata Surya. Makalah
ini dibuat sedemikian rupa agar pembaca dapat dengan mudah mempelajari dan
memahami jagat raya dan Tata Surya secara lebih lanjut.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada kawan kawan semua yang
membantu dalam dan bekerja sama mempersiapkan, melaksanakan, dan
menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk
menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini
masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnaan makalah
selanjutnya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah


pengetahuan dan wawasan tentang Jagat raya dan Tata Surya. Jangan segan
bertanya jika pembaca menemui kesulitan. Semoga keberhasilan selalu berpihak
pada kita semua.

Makalah Bintang dan Galaksi. 2


DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR…………………………………………..2
DAFTAR ISI…………………………………………………....3
BAB I PENDAHULUAN
i. Latar Belakang…………………………………………………………….4
ii. Rumusan Masalah…………………………………………………………5
iii. Tujuan …………………………………………………………………….5

BAB II PEMBAHASAN
i. Pengertian Bintang………………………………………………………..6
ii. Tata Nama Bintang……………………………………………………….7
iii. Peta Bintang………………………………………………………………7
iv. Cahaya Bintang…………………………………………………………..8
v. Terang dan Warna Bintang………………………………………………9
vi. Spektrum bintang………………………………………………………...11
vii. Evaluasi Bintang…………………………………………………………12
viii. Rasi Bintang……………………………………………………………...13
ix. Sejarah Pengamatan……………………………………………………...14
x. Terbentuknya Bintang……………………………………………………15
xi. Suhu………………………………………………………………………21
xii. Umur……...……………………………………………………………...22
xiii. Distribusi…………………………………………………………………22
xiv. Pengertian Galaksi……………………………………………………….24
xv. Bentuk-bentuk Galaksi…………………………………………………...25
xvi. Proses Terbentuknya Galaksi…………………………………………….27

BAB III PENUTUP


i. Kesimpulan………………………………………………………………29

DAFTAR PUSTAKA………………………………………….30

Makalah Bintang dan Galaksi. 3


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum menyelam lebih dalam untuk mengetahui struktur
bintang, orang harus dapat mendefinisikan terlebih dahulu apakah bintang
itu sebenarnya berdasarkan penampakannya dari luar.

Sejak jaman dulu, orang mencoba menerka-nerka apa sebenarnya


bintang itu, si bintik-bintik cahaya kecil di langit. Bahwa bintang
sebenarnya adalah matahari-matahari lain yang letaknya sangat jauh,
sudah dipostulatkan oleh filsuf-filsuf Yunani Kuno, Demokritus dan
Epikurus, dan dipertegas pada 1584 oleh Giordano Bruno, seorang filsuf
Italia, hingga akhirnya mencapai konsensus di kalangan astronom seabad
kemudian.

Satu-satunya penghubung antara Matahari/bintang dan pengamat


hanyalah cahayanya. Untuk dapat menjawab apakah sebenarnya bintang
itu, cahaya inilah yang ’diubek-ubek’, dikumpulkan, disebarkan lagi,
dipilah-pilah, ’diputar-putar’, dan sebagainya. Joseph vonFraunhofer pada
1814, melewatkan cahaya Matahari pada sebuah prisma. Dia mencatat dan
memetakan sejumlah garis-garis gelap dalam spektrum Matahari, yang
kemudian disebut sebagai garis-garis Fraunhofer. Gustav Robert Kirchhoff
dan Robert Bunsen kemudian menemukan bahwa garis-garis tersebut
berasal dari gas bertekanan rendah dan berhubungan dengan suatu elemen
kimia yang berada di lapisan atas matahari. Fraunhofer juga kemudian
menemukan bahwa bintang-bintang lain juga memiliki spektrum seperti
Matahari, tetapi dengan pola garis-garis gelap yang berbeda. Jadi dari sini
kemudian astronom berkesimpulan bahwa bintang sebenarnya adalah
sebuah bola gas.

Makalah Bintang dan Galaksi. 4


Keterkaitan manusia terhadap benda benda langit , maka tak salah jika
penulis mengangkat tema tentang “ GALAKSI “ karena ini merupakan salah satu
ilmu yang sangat sulit dipahami oleh banyak manusia .

Sebetulnya dikalangan mahasiswa sudah banyak tahu mengenai apa itu


galaksi? akan tetapi banyak juga yang kurang tahu tentang bentuk-bentuk galaksi
dan proses terjadinya galaksi. Maka melalui makalah ini InsyaAllah akan kami
jelaskan .

1.2 Rumusan Masalah

 Apa Penertian bintang?


 Bagaimana tata cara memberikan nama-nama bintang?
 Apa saja warna-warna bintang?
 Bagaiman klasifikasi spektrum bintang?
 Struktur bintang?
 Apa pengertian galaksi ?
 Apa saja bentuk-bentuk galaksi ?
 Bagaimana proses terjadinya galaksi ?

1.3 Tujuan

 Untuk mengetahui apa yang pengertian bintang.


 Untuk Mengetahui tata cara pemberian nama-nama bintang.
 Untuk Mengetahui warna-warna bintang.
 Untuk mengetahui klasifikasi spectrum bintang.
 Untuk mengetahui apa yang dimaksud galaksi.
 Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk galaksi.
 Unuk mengetahui bagaimana proses terjadinya

Makalah Bintang dan Galaksi. 5


BAB II
PEMBAHASAN
A. BINTANG
1. Pengertian Bintang
Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya.Di
mana bintang sendiri terbagi menjadi bintang semu dan bintang nyata.
Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri,
tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata
adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan
bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri
(bintang nyata). Bintang merupakan benda langit yang jaraknya sangat
jauh dari bumi. Penemuan jarak bintang baru dapat dilihat pada abad ke-
19, cara yang digunakan adalah cara paralaks trigonometri. Kita tahu
bahwa bumi bergerak mengitari matahari dalam waktu sekali keliling
dalam waktu satu tahun. Akibat gerak edar bumi, bintang yang dekat akan
terlihat seolah-olah menempuh lintasan berbentuk elips yang sebenarnya
merupakan mencerminan gerak bumi.Dan matahari adalah sebuah bintang
dilihat dengan teropong bintang hanya terlihat sebagai titik cahaya saja
yang tidak ada bedanya dengan kalau kita melihat dengan mata telanjng
(tanpa alat). Penggunaan teropong atau teleskop dapat membantu
pengamatan bintang lebih teliti diantaranya:
a. Bintang yang lemah cahayanya dapat dilihat dan dimati dengan
teleskop bergaris dengan 60 cm kita dapat melihat bintang yang
100.000 kali lebih lemah dari pada bintang terlemah yang dilihat
oleh mata telanjang (tanpa alat).
b. Bintang yang jarak sudutnya sangat kecil dapat dilihat secara
terpisah.

Makalah Bintang dan Galaksi. 6


2. Tata Nama Bintang
Ada beberapa macam cara yang digunakan oleh beberapa macam cara ahli
astronom dalam memberikan nama bintang, dintaranya adalah:
a. Pemberian nama berdasarkan nama yang telah diberikan atau
digunakan orang sejak zaman kuno. Misal: Bintang Antares,
Bintang Sirius, Bintang Betelgeuse, dan Bintang Aideboran.
b. Pemberian nama berdasarkan/menurut rasi konstelasi tempat
bintang itu berada.Misal: α Centauri adalah bintang terterang
dirasi centaurus, sedangkan bintang β Centauri adalah bintang
kedua dirasi centaurus, demikian seterusnya. Untuk mengatakan
urutan terangnya bintang pada suatu rasi digunakan abjad yunani α
β Y dan seterusnya. Bintang antares juga disebut bintang scorpii
artinya bintang terang dirasi scorpio.
c. Dalam astronomi modern, nama bintang dinyatakan menurut
nomornya dalam catalog. Missal bintang HD 226868 adalah
bintang yang tercantum dalam katalog.Henry Draper dengan
nomor 226868, N31 adalah bintang yang terdapat dalam katalog
Nissier dengan nomor 31, dan bintang NGC 6205 adlah bintang
yang tercantum dalam New General Catalogue dengan nomor
6205. Bintang terdekat dengan dengan bumi setelah matahari
adalah centauri, jaraknya terhadap bumi sekitar 4,5 tahun cahaya.

3. Peta Bintang
Bila kita menengadah kelangit tampak seolah olah bumi kita
dinaungi “atap” setengah bola yang disebut “bola langit”. Bintang bintang
dan benda langit lainnya seolah olah menempel pada bola langit itu. Orang
yunani kuno membagi bola langit dalam daerah daerah yang disebut rasi
atau “konstelasi” nama nama rasi dihubungkan dengan nama nama tokoh
dan makhluk dalam mitologi.Misal:rasi Centaurus diambil dari nama
makhluk hidup setengah kuda setengah manusia, Orion atu si pemburu,

Makalah Bintang dan Galaksi. 7


Scorpio atu kalajengking, Gemini atau sinak kembar, Hercules atau si
orang kuat, dalam dongeng yunani kuno (putra zeus atau alemene).
Andromeda yaitu putri Cepheus raja ethopia dalam dongeng
yunani.international Astronomical Union pada tahun 1928 meresmikan 88
buah rasi dan menentukan batas setiap rasi. Dengan mempelajari peta
bintang, dan nama rasi rasi bintang , kita dapat mencari letak bintang itu di
bola langit dan mempelajarinya sifat sifat atau ciri - ciri dan perubahan
bintang tadi. Seperti telah diuraikan bahwa bintang adalah anggota dari
suatu galaksi, seperti matahari adalah anggota bintang di galaksi bima
sakti.

4. Cahaya Bintang
Ada bintang yang tak tampak terang ada pula yang tidak terlihat
kurang terang. Energi bintang tiba di bumipada permukaan seluas 1 cm²
dalam selang waktu 1 detik disebut “fluks energi” bintang itu. Sebuah
bintang tampak terang bila fluks energinya besar. Namun kuat cahaya
bintang bila fluks energinya besar, namun kuat cahaya bintang yang
tampak oleh kita tidak merupakan ukuran terang sebenarnya bintang itu.
Bisa saja suatu bintang sebenarnya memancarkan enegi yang relatiftidak
banyak, tetapi tampak terang berhubung letaknya yang dekat atau
sebaliknya sebuah bintang menghamburkan energi secara dahsyat. Namun
dari bumi tampak lemah berhubung letaknya jauh. Energi yang
dipancarkan bintang per detik disebut “ luminositas bintang”. Bila fluks
merupakan pengukur kuat cahaya yang tampak dari bumi, maka
luminositas merupakan pengukur kuat cahaya sebenarnya bintang itu.
Matahari adalah bintang merupakan salah satu penghubung antara
manusia dan bintang bintang. Cahaya yang kasat mata ( tampak oleh mata)
sebenarnya hanya merupakan sebagian kecil gelombang elektromagnetik.
Ada beberapa yang dapat kita pelajari dengan mengamati radiasi
elektromagnetik ini yaitu:

Makalah Bintang dan Galaksi. 8


a. Arah radiasi dari pengamatannya ini kita dapat mengamati letak dan
gerak benda yang dipancarkan.
b. Kuantitas radiasi yang kita ukur dalam hal ini adalah kuat kuat atau
kecerahan radiasi kita.
c. Kualitas radiasi dalam hal ini kita mempelajari warna, spectrum,
maupun sifat polarisasi.
Jadi bintang dan benda langit lainnya memencarkan seluruh
kekuatan gelombang elektromagnetiknya. Tetapi tak semuanya dapat kita
tangkap dibumi karena atmosfer bumi hanya meneruskan sebagian
gelombang itu, sedangkan sebagian lainnya diserap oleh atmosfer.
5. Terang dan Warna Bintang
Kita tak akan pernah dapat terbang secara langsung menuju bintang
– bintang walau Astronot sekalipun, demikian juga jika di lihat dari
teropong yang paling besar sekalipun, bintang – bintang hanya akan
terlihat sebagai titik saja , Untuk itu Astronom memiliki tugas yang berat
dalam menerangkan bintang – bintang yang penuh dengan liku–
liku.Magnitudo
a. Bintang
Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan
magnitudo. Kecerahan bintang yang kita amati, baik menggunakan
mata bugil maupun teleskop, dinyatakan oleh magnitudo tampak (m)
atau magnitudo semu. Secara tradisi magnitudo semu bintang yang
dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6, di mana satu ialah
bintang paling cerah, dan 6 sebagai bintang paling redup, dengan
demikian maka “makin terang suatu bintang , makin kecil
magnitudonya “sehingga beberapa bintang yang di ketahui tidak
berubah-ubah cahayanya di ukur magnitudonya dengan cermat dapat
di gunakan sebagai standar magnitudo.Untuk lebih jelasnya kita lihat
di bawah ini merupakan magnitudo beberapa benda langit, di mana
untuk planet Venus dan Jupiter di berikan pada saat terangnya
maksimum.

Makalah Bintang dan Galaksi. 9


Dalam magnitudo juga terdapat kecerahan yang diukur secara
mutlak, yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. Kecerahan
ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M), dan terentang antara +26.0
sampai -26.5. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks
pancaran, yang terhubungkan melalui persamaan, dimana m adalah
magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran.
b. Warna Bintang
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan
Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem
pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang
seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal
sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam
kelas-kelas berikut :
 Maha maha raksasa
 Maharaksasa
 Raksasa-raksasa terang
 Raksasa
 Sub-raksasa
 deret utama (katai)
 sub-katai
 katai putih
Kita melihat warna bintang brbda – beda , matahari berwarna putih
kekuning-kuningan. Sirius berwarna biru, Betelgense berwarna merah .
Perbedaan warna ini menunjukan suhu bintang . energi radiasi sebagai
fungsi panjang gelombang berbeda-beda bergantung suhu benda. Pada
suhu yang rendah, energi paling besar di pancarkan pada panjang
gelombang yang panjang Sedangkan suhu yang tinggi ,sebagian besar
energi di pancarkan pada daerah panjang gelombang pendek hingga
warna benda terlihat lebih biru.

Makalah Bintang dan Galaksi. 10


6. Spektrum Bintang
a. Spektrum atau uraian cahaya
1) Pada tahun 1989 Kirchoff mengemukakan 3 hukum yang
merupakan dasar spektoroskopi (ilmu yang menelaah spectrum
cahaya) yakni:
Bila sutau gasa yang mampat di pijarkan maka gas itu
memancarkan spectrum kontinu, artinya radiasi pada semua
panjang gelombang di pancarkan.
2) Bila suatu gas yang renggang di pijarkan maka hanya warna-warna
tertentu atau panjang gelombnag tertentu saja yang di pancarkan.
3. Bila berkas cahaya putih dengan spectrum kontinudi lewatkan
melalui gas yang dingin dan renggang , gas tersebut akan menyerap
cahaya tadi pada warna-warna atau panjang gelombang tertentu.
b. Klasifikasi Spektrum Bintang
Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama
yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga
menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi
ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie
Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem
klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini
biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". Dengan
kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke
dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga
9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut
bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di
akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih
awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan
Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem
pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang
seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal

Makalah Bintang dan Galaksi. 11


sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang kedalam kelas-
kelas berikut:
 Maha maha raksasa
 Maharaksasa
 Raksasa-raksasa terang
 Raksasa
 Sub-raksasa
 deret utama (katai)
 sub-katai
 katai putih
Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem
pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah
bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan
berukuran sedang.

7. Evaluasi Bintang
Kelahiran suatu bintang terjadi di bagian dalam suatu awan gas dan
debu yang menebar luas di antariksa . Awan gas dan debu semacam itu
banyak sekali terdapat di langit dan para astronom menyebutnya dengan
sebutan Nebula. Pembentukan sebuah benda di mulai ketika sebagian debu
dan gas di bagian – bagian dalam nebula mulai berkumpul dan bergabung .
kemudian secara perlaha-lahan gabungan gas dan debu itu mengerut dan
memadat, serta di bagian dalamnya menjadi panas . Maka jadilah sebuah
benda yang brsinar dan akan terus bersinar sampai hidrogennya habis
terbakar. Demikian yang terjadi dengan matahari , bila nanti di bagian luas
justru mengembang dan nmendingin karena mendingin itulah warnanya
akan berubah menjadi merah dan di sebut dengan raksasa merah yang akan
mengkrut lagi sampai menjadi kecil dan berwarna merah cebol putih.
Selanjutnya akan menjadi sebuah bold yang gelap dan dingin sehingga kita
tidak dapat mlihatnya lagi. Begitulah kira-kira akhir hidup sebagian
bintang – bintang termasuk dengan matahari.

Makalah Bintang dan Galaksi. 12


8. Rasi Bintang

8.1 Pengertian Rasi Bintang


Banyak pengertian dari rasi bintang. Akan tetapi dari beberapa
tersebut dapat diketahui bahwa pengertian rasi bintang adalah sebagai
berikut.
“Suatu rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang
tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus. Dalam
ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang kita amati tidak
memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti
berkelompok pada bola langit malam” (Ikka.2009).
8.2 Macam-Macam Rasi Bintang
Di jagad raya ini sebenarnya terdapat banyak sekali rasi bintang.
(Ikka,2009) menyatakan bahwa, “Himpunan Astronomi Internasional
telah membagi langit menjadi 88 rasi bintang resmi dengan batas-
batas yang jelas, 56 buah di antaranya terdapat di belahan langit
selatan dan 32 rasi bintang terdapat di belahan langit utara.
8.3 Manfaat Rasi Bintang
Allah SWT memberi kelebihan kepada manusia berupa akal dan
pikiran. Kalau manusia mau dan bisa menggunakan pikiran tersebut,
betapa mereka menyadari bahwa banyak sekali anugerah-Nya yang
memudahkan dalam kehidupan. Seperti bintang di langit yang biasa
disebut rasi bintang. Wulan (2009) beberapa manfaatnya antara
lain:Manusia dapat menentukan waktu dengan berpatokan pada
matahari atau bulan, membantu manusia untuk menentukan arah mata
angin. petunjuk fenomena alam (kejadian-kejadian alam) di bumi,
untuk memprediksikan cuaca, penerbangan dan pelayaran. Misalnya,
harus dilaksanakan dalam cuaca yang mendukung. Selain itu, sebagai
penentu masa panen, dan untuk pelayaran sebagai petujuk arah,
manusia jadi mengetahui pergerakan, penyebaran, dan karakteristik
benda-benda langit, para pelaut hingga kini juga masih menggunakan

Makalah Bintang dan Galaksi. 13


bintang sebagai pemandu arah dan juga untuk menentukan posisi
kapalnya.
8.4 Penyalahgunaan Rasi Bintang
Kalangan awam umumnya dan kalangan remaja khususnya,
cenderung menggunakan rasi bintang untuk mengetahui ramalan
hidupnya. Mereka begitu percaya dengan para peramal yang belum
tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Padahal mereka punya Tuhan,
yaitu Alloh SWT. Dialah yang menentukan garis hidup manusia,
bukan peramal. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka tidak
menyadarinya. Sungguh, betapa rendahnya pikiran mereka.

9. Sejarah Pengamatan

Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan.


Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam
navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir
di semua bagian dunia, adalah kalender matahari, mendasarkan diri pada
posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari.
Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali
‘bintang-bintang baru’ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan
bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan
bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah matahari-matahari lain, dan
mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya, ide
yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti
Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah
matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk
menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan
gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang
terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari
teolog Richard Bentley.

Makalah Bintang dan Galaksi. 14


Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan
luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan
pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat,
memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang
dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang
61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik
paralaks.
William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba
menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan
pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian
menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah
langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi
pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan
hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa
beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan
berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara
fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.

10. Terbentuknya Bintang

Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah


medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun
masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang
ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–
28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam
awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada
saat awal alam semesta.
Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses
pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan
gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali
matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari

Makalah Bintang dan Galaksi. 15


supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah
mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya
instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya
sendiri.
Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk
sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu
keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi
konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak
bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.
Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari
debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini
dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat
bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi
energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini
mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di
intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan
protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu
hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti
protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar'
menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti
bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat
sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan
baru sebagai bintang deret utama.

Menjelang kematiannya, sebuah bintang bisa meledak. Ledakan


bintang ini disebut nova. Istilah ini berarti “baru” karena seolah-olah telah
lahir sebuah bintang baru. Kalau bintang yang meledak berukuran besar,
maka ledakannya juga sangat besar, sampai-sampai menghancurkan bintang-
bintang lain. Ledakan bintang besar ini disebut sebagai supernova.
Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan
memadat dengan kepadatan yang luar biasa dan gravitasinya begitu kuat

Makalah Bintang dan Galaksi. 16


sampai-sampai cahaya pun tak bisa lepas. Materi bekas bintang inilah yang
disebut black hole (lubang hitam).
Jadi bintang adalah bola gas yang berpijar dengan hidrogen adalah
unsur paling berlimpah. Untuk mengetahui strukturnya, astronom
melakukan pendekatan baik dari luar maupun dari dalam. Pendekatan dari
luar dilakukan sesederhana pengamatan dari luar. Pendekatan dari dalam
memunculkan satu pertanyaan penting: apa yang terjadi di pusat bintang?
Bintang bisa bersinar haruslah ada energi yang dibangkitkan di bagian
dalamnya.
Di lain pihak, daur karbon-nitrogen-oksigen berlangsung pada
temperatur dan tekanan yang tinggi yaitu saat energi kinetik mampu
mengatasi penghalang gaya Coulomb. Daur karbon-nitrogen-oksigen
berlangsung dengan laju cepat, sehingga sekali bintang memiliki cukup
tekanan dan temperatur, daur ini akan lebih dominan ketimbang rantai
proton-proton. Dengan daur CNO, terjadi semacam siklus melingkar,
semakin tinggi temperatur, semakin cepat reaksi berlangsung, dan semakin
cepat reaksi berlangsung, semakin tinggi temperatur. Daur ini yang
dominan terjadi pada bintang-bintang yang lebih masif daripada matahari.

Makalah Bintang dan Galaksi. 17


Reaksi daur CNO. Sumber : Wikipedia

Perbedaan mekanisme fusi nuklir di dalam bintang ini akan


membuat perbedaan struktur bintang antara yang bermassa lebih kecil dari
matahari dan yang lebih besar.

Penghantaran energy

Mengetahui cara energi diangkut keluar dari pusat bintang adalah


penting ketika kita ingin mengetahui struktur bintang. Kita mengenal
berbagai cara perpindahan energi: konduksi, konveksi, dan radiasi. Di
dalam bintang, energi utamanya diangkut dengan dua cara, yaitu konveksi
dan radiasi. Perbedaan mekanisme pembangkitan energi yang telah
diuraikan di atas membuat struktur bintang sekelas matahari dan yang
lebih kecil berbeda dengan struktur bintang yang lebih masif.

Struktur bintang sekelas matahari atau yang lebih kecil

Makalah Bintang dan Galaksi. 18


Konveksi terjadi ketika terdapat perbedaan temperatur yang cukup
besar antara dua lapisan fluida. Gas dan plasma, dua wujud zat di dalam
bintang, berlaku sebagai fluida. Dalam konveksi, energi dibawa oleh
materi yang bergerak dari lapisan yang bertemperatur tinggi ke rendah.
Seperti yang telah dibicarakan di atas, pembangkitan energi pada bintang-
bintang sekelas matahari atau yang lebih kecil, terutama ditempuh melalui
mekanisme rantai proton-proton yang tidak terlalu peka terhadap suhu. Hal
ini menyebabkan temperatur pada lapisan-lapisan di bagian inti tidak
terlalu jauh berbeda sehingga konveksi tidak terjadi. Energi di bagian inti
diangkut keluar dengan cara radiasi.

Sebaliknya di bagian luar bintang, temperatur cukup rendah


sehingga mengijinkan atom hidrogen berada dalam keadaan netral. Pada
satu titik di dalam bintang antara inti dan permukaan, foton-foton
berenergi tinggi dalam panjang gelombang ultra violet yang diradiasikan
dari inti kemudian diserap oleh hidrogen-hidrogen netral untuk
mengionisasi diri, sehingga seolah-olah lapisan ini menjadi tidak tembus
cahaya ultra violet. Dari titik ini penghantaran dengan cara radiasi berhenti
dan energi kemudian diangkut secara konveksi.

Struktur Matahari. Sumber : WIkipedia

Makalah Bintang dan Galaksi. 19


Jadi untuk bintang-bintang sekelas matahari atau yang lebih kecil, lapisan
radiasi dominan di bagian inti sementara lapisan konveksi dominan di bagian
luar.

Reaksi rantai proton-proton. Sumber: Wikipedia

Di pertengahan abad ke-19, Lord Kelvin dan


HermannvonHelmholtz, dengan menggunakan teori konservasi energi
mempostulatkan bahwa energi yang dihasilkan Matahari berasal dari
pengerutan gravitasi. Proses pengerutan mengubah energi gravitasi
menjadi energi panas dan meningkatkan suhu di inti Matahari. Dengan
harga massa dan radius Matahari sekarang, dan kemudian membaginya
dengan jumlah energi yang dipancarkannya, akan didapatkan usia
Matahari berdasarkan mekanisme Kelvin-Helmholtz pada kisaran 18 juta
tahun saja. Tentu saja hal ini bertentangan dengan bukti-bukti geologi dan
biologi yang mendukung bahwa kehidupan sudah berlangsung selama
miliaran tahun dan seharusnya Matahari sudah ada sejak saat itu. Walau

Makalah Bintang dan Galaksi. 20


begitu mekanisme Kelvin-Helmholtz penting pada masa-masa awal
pembentukan Matahari.

Perkembangan fisika kuantum, menelurkan teori baru akan


pembangkitan energi di dalam bintang. Adalah Sir Arthur Eddington pada
1920 yang mengemukakannya untuk pertama kali, melibatkan dua proton
yang bergabung untuk membentuk satu inti helium dikuti dengan
pelepasan energi. Pada 1939, Hans Bethe mengemukakan mekanisme daur
proton-proton untuk pembangkitan energi di dalam bintang sekelas
matahari, melengkapi teori mekanisme daur karbon-nitrogen-oksigen yang
dikemukakan sebelumnya pada 1938 oleh CarlFriedrichvonWeizsäcker.

Ketika Eddington mengungkapkan usulannya untuk pertama kali,


didapati bahwa tekanan dan temperatur Matahari tidak cukup tinggi untuk
melangsungkan pembakaran fusi hidrogen. Bethe melihat bahwa efek
terowong dalam fisika kuantum dapat mengatasi masalah ini, sehingga
reaksi fusi dapat terjadi dalam lingkungan dengan temperatur dan tekanan
yang tidak terlalu tinggi. Daur proton-proton yang diusulkan oleh Hans
Bethe adalah reaksi fusi yang tidak terlalu peka terhadap suhu dan
berlangsung dengan lambat. Daur ini juga yang membuat bintang-bintang
sekelas matahari dan yang lebih kecil dapat berumur jauh lebih panjang.

11. Suhu

Suhu permukaan bintang deret utama ditentukan oleh laju


penghasilan energi di intinya yang umumnya diperkirakan dari indeks
warna bintang. Biasanya suhu ini dinyatakan dengan suhu efektif, yang
merupakan suhu jika sebuah bintang dianggap sebagai benda hitam ideal
yang memancarkan energi dengan luminositas yang sama di seluruh
permukaannya. Jadi suhu efektif hanyalah sebuah gambaran, karena suhu
pada sebuah bintang semakin tinggi jika semakin dekat dengan intinya.

Makalah Bintang dan Galaksi. 21


Suhu di daerah inti sebuah bintang mencapai hingga beberapa juta derajat
celsius.

Suhu sebuah bintang menentukan laju ionisasi berbagai unsur di


dalamnya, juga menentukan sifat garis serapan spektrumnya. Suhu
permukaan, magnitudo absolut dan sifat serapan spektrografi bintang
digunakan sebagai dasar untuk pengklasifikasian.

Bintang masif dalam deret utama dapat bersuhu hingga 50.000 °C.
Sedang bintang yang lebih kecil, seperti matahari, memiliki suhu
permukaan beberapa ribu derajat celcius. Raksasa merah memiliki suhu
permukaan yang relatif rendah sekitar 3.300 °C, namun bintang ini
memiliki luminositas yang tinggi karena permukaan luarnya yang luas.

12. Umur

Sebagian besar bintang berumur antara 1–10 miliar tahun.


Beberapa bintang mungkin bahkan berumur mendekati 13,8 miliar tahun–
umur teramati alam semesta. Bintang tertua yang ditemukan hingga saat
ini, HE 1523-0901, diperkirakan berumur 13,2 miliar tahun.

Semakin tinggi massa sebuah bintang maka semakin pendek pula


umurnya. Hal ini terutama disebabkan karena bintang dengan massa yang
tinggi akan memiliki tekanan yang tinggi pula pada intinya yang
menyebabkannya membakar hidrogen dengan lebih cepat. Bintang-bintang
paling masif bertahan rata-rata hanya beberapa juta tahun, sementara
bintang dengan massa minimum (katai merah) membakar bahan bakarnya
dengan perlahan dan bertahan hingga puluhan sampai ratusan miliar tahun.

13. Distribusi

Selain berdiri sendiri, bintang bisa juga berada dalam sistem


multibintang. Sistem multibintang dapat terdiri dari dua atau lebih bintang

Makalah Bintang dan Galaksi. 22


yang terikat secara gravitasi dan saling mengorbit satu sama lain. Jenis
sistem multibintang yang paling sederhana dan sering ditemui adalah
bintang biner. Selain itu telah ditemukan juga sistem multibintang yang
memiliki tiga atau lebih bintang. Sistem multibintang yang demikian
seringkali secara hierarkis tersusun dari beberapa bintang biner untuk
mempertahankan stabilitas orbit bintang-bintangnya. Terdapat juga
kelompok yang lebih besar yang disebut gugus bintang. Gugus bintang
berkisar dari himpunan bintang yang tidak begitu padat dengan hanya
beberapa bintang, hingga gugus bola yang luar biasa besar dengan ratusan
ribu bintang.

Telah lama dianggap bahwa sebagian besar bintang berada dalam


sistem multibintang yang terikat secara gravitasi. Hal ini khususnya benar
untuk bintang-bintang masif kelas O dan B, yang dipercaya 80%
populasinya berada dalam sistem multibintang. Namun semakin kecil
bintang maka semakin banyak pula populasi jenisnya yang berada dalam
sistem bintang tunggal. Hanya 25% katai merah yang diketahui berada
dalam sistem multibintang dan karena 85% dari keseluruhan bintang
adalah katai merah, maka mungkin sekali sebagian besar bintang dalam
Bima Sakti adalah tunggal sejak terbentuk.

Bintang-bintang tidak menyebar secara merata di alam semesta,


tapi biasanya berkelompok membentuk galaksi bersamaan dengan debu
dan gas antarbintang. Sebuah galaksi biasa mengandung ratusan miliar
bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar (1011) galaksi dalam alam
semesta teramati. Berdasarkan sebuah cacah bintang pada tahun 2010
diperkirakan terdapat 300 triyar (3 × 1023) bintang dalam alam semesta
teramati. Walau sering dipercaya bahwa bintang hanya terdapat dalam
galaksi, telah ditemukan bintang-bintang yang berada di luar galaksi
(bintang antargalaksi).

Makalah Bintang dan Galaksi. 23


Bintang terdekat dengan bumi selain matahari adalah Proxima
Centauri yang berjarak sekitar 4,2 tahun cahaya atau kira-kira 39,9 triliun
kilometer. Jika jarak ini ditempuh dengan kecepatan orbit pesawat ulang-
alik (8 km/s–hampir 30.000 km/jam), maka akan dibutuhkan waktu kira-
kira 150.000 tahun untuk sampai. Jarak seperti ini adalah jarak antar
bintang yang umum dalam piringan galaksi, termasuk di lingkungan
sekitar tata surya. Bintang-bintang dapat sangat berdekatan di pusat
galaksi dan dalam gugus bola atau terpisah sangat jauh dalam halo galaksi.
Karena jarak antar bintang yang relatif sangat jauh dalam galaksi selain
pada daerah pusat galaksi, tabrakan antar bintang diperkirakan jarang
terjadi. Pada daerah yang lebih padat seperti inti gugus bola atau pusat
galaksi, tabrakan antar bintang dapat sering terjadi. Tabrakan seperti ini
dapat menghasilkan apa yang dikenal dengan bintang pengelana biru (blue
straggler). Bintang-bintang abnormal ini memiliki suhu permukaan yang
lebih tinggi dari bintang-bintang deret utama lainnya dalam sebuah gugus
bintang dengan luminositas yang sama. Istilah pengelana merujuk pada
lokasinya yang berada di luar garis evolusi normal bintang lain pada
diagram Hertzsprung-Russel gugus bintangya.

B. GALAKSI
1. Pengertian Galaksi
Kata galaksi menurut etimologi berasal dari istilah bahasa Yunani untuk
menyebut galaksi kita, galaxiasatau kyklosgalaktikos. Masing-masing berarti
“sesuatu yang menyerupai susu” dan lingkaran susu”, sesuai dengan
penampakannya di angkasa berupa pita putih samar.

Galaksi adalah sebuah system yang sangat besar, terdiri dari bintang-
bintang dan materi antar bintang. Biasanya berisi triliun bintang, dengan massa
antara beberapa juta bintang hingga beberapa kali dari matahari kita. Dengan
luas beberapa ribu hingga 100.000 tahun cahaya. Galaksi memilki beberapa
macam bentuk, yakni bentuk spiral, elips, dan juga tak beraturan.

Makalah Bintang dan Galaksi. 24


2. Bentuk-bentuk Galaksi
Secara garis besar, menurut morfologinya, galaksi dibagi menjadi 3 tipe,
yaitu tipe galaksi spiral, galaksi elips, dan galaksi tak beraturan. Pembagian tipe
ini berdasarkan bentuk/ penampakan galaksi-galaksi tersebut. Galaksi-galaksi
yang diamati dan dipelajari oleh para astronom sejauh ini terdiri dari sekitar
75% galaksi spiral, 20% galaksi elips, dan 5% galaksi tak beraturan.

a. Galaksi Berbentuk Spiral

Galaksi spiral merupakan tipe yang paling umum dikenal orang. Mungkin
karena bentuk spiralnya yang indah itu. Galaksi kita termasuk galaksi spiral.
Bagian-bagian utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi (termasuk
lengan spiral), dan bulge (bagian pusat galaksi yang menonjol). Galaksi spiral
berotasi dengan kecepatan yang jauh lebih besar dari galaksi elips. Kecepatan
rotasinya yang besar itulah yang menyebabkan galaksi ini memipih dan
membentuk bidang galaksi. Besar kecilnya kecepatan rotasi pada galaksi spiral
ini bergantung pada masssa galaksi tersebut.kecepatan rotasi tiap bagian galaksi
spiral sendiri tidaklah sama. Semakin ke arah pusat galaksi, kecepatan rotasinya
semakin besar. Contoh lain galaksi spiral selain Bima Sakti adalah galaksi
Andromeda. Ukuran galaksi Andromeda ini sedikit lebih besar dari Bima Sakti.
Galaksi Andromeda bersama-sama dengan Bima Sakti termasuk galaksi spiral
raksasa.

b. Galaksi Berbentuk Elips

Sesuai dengan namanya, penampakan galaksi ini seperti elips. Tapi bentuk
yang sebenranya tidak diketahui dengan pasti, karena kita tahu apakah arah
pendang kita dari depan, samping, atau atas dari galaksi tersebut. Yang
termasuk tipe galaksi ini adalah mulai dari galaksi yang berbentuk bundar
sampai galaksi yang berbentuk bola pepat. Struktur galaksi tipe ini tidak terlihat
dengan jelas. Galaksi elips sangat sedikit mengandung materi antar bintang, dan

Makalah Bintang dan Galaksi. 25


anggotanya adalah bintang-bintang tua. Contoh galaksi tipe ini adlah galaksi
M87, yaitu galaksi elips raksasa yang terdapat di Rasi Virgo.

c. Galaksi berbentuk Tak Beraturan

Galaksi tak beraturan adalah tipe galaksi yang tidak simetri dan tidak
memiliki bentuk khusus, tidak seperti dua tipe galaksi yang lainnya. Anggota
dari galaksi tipe ini terdiri dari bintang-bintang tua dan muda. Contoh dari
galaksi tipe ini adalah Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil, dua
buah galaksi tetangga terdekat Bima Sakti, yang hanya berjarak sekitar
180.000 tahun cahaya dari Bima Sakti. Galaksi tak beraturan ini banyak
mengandung materi antar bintang yang terdiri dari gas dan debu-debu.

Dalam ilmu astronomi galaksi diartikan sebagai suatu sistem yang terdiri
dari bintang-bintang, gas dan debu yang amat luas, dimana anggotanya
mempunyai gaya tarik menarik (gravitasi). Matahari bersama-sama 8 buah
planet yang mengitarinya merupakan anggota dari sebuah galaksi yang diberi
nama Galaksi Bima Sakti.

Galaksi Bima Sakti

Induk dari matahari adalah galaksi Bima Sakti atau Milky Way. Bima
Sakti berbentuk seperti spiral. Tetangga terdekat dari Bima Sakti adalah
galaksi Andromeda yang juga berbentuk spiral dan jauhnya 780.000 tahun
cahaya (cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik. Jadi, 1 tahun
cahaya berjarak : 300.000 x 365 x 24 x 60 x 60 km = km). Bima Sakti
berbentuk bulat pipih seperti kue cucur. Letak matahari dan bumi kira-kira
sejauh dari pusat galaksi sampai batas tepian luarnya. Bulatan-bulatan yang
terletak di bawah dan di atas pusat galaksi adalalah kumpulan bintang
(globular0. Dalam satu galaksi ada yang mencapai 1000 kumpulan bintang
seperti itu. Galaksi mengadakan rotasi dengan arah yang berlawanan dengan
jarum jam. Bima Sakti memiliki tidak kurang dari 100 ribu juta bintang.

Makalah Bintang dan Galaksi. 26


Selain itu, masih terdapat gumpalan kabut gas maupun semacam galaksi kecil
yang banyak jumlahnya.

3. Proses Terbentuknya Galaksi

Pada zaman Yunani orang percaya bahwa bumi merupakan pusat dari
alam semesta ini (geosentrisme). Sejak abad pertengahan pandangan itu
berubah yang dipelopori oleh Copernicus menjadi heliosentrik, yaitu matahari
yang menjadi pusat beredarnya bumi bersama planet-planet lain. Pengamatan
selanjutnya mengungkapkan bahwa matahari merupakan salah satu dari
beribu-ribu bintang yang beredar mengikuti pusatnya. Pusat bintang-bintang
itu berupa kabut gas pijar yang sangat besar, dikelilingi oleh kelompok
bintang lainnya yang dekat (cluster) dan juga dikelilingi oleh gumpalan kabut
gas pijar yang lebih kecil dari pusatnya (nebule) dan tebaran ribuan bintang.
Semua itu termasuk matahari disebut dengan galaksi. Beberapa teori
mengungkapkan sebagai berikut :

 Teori Ledakan

Teori ini bertolak dari asumsi adanya suatu massa yang sangat besar dan
mempunyai masa jenis yang besar, meledak dengan hebat karena adanya reaksi
inti. Massa itu kemudian berserakkan dan mengembang dengan sangat cepat
menjauhi pusat ledakan. Setelah beberapa tahun, massa itu berbentuk kelompok
dengan berat jenis yang relative lebih kecil, yang disebut galaksi.

 Teori Ekspansi dan Kontraksi

Teori ini berdasarkan pemikiran dari suatu siklus dari alam semesta yaitu
masa ekspansi dan masa kontraksi. Siklus ini berlangsung dalam waktu 30.000
juta tahun. Masa ekspansi terbentuklah galasi serta bintang-bintangnya. Ekspansi
didukung adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hidrogen yang
membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Masa kontraksi, galksi dan

Makalah Bintang dan Galaksi. 27


bintang-bintang yang terbentuk meredup dan unsur-unsur yang terbentuk
menyusut mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi.

Dua belas juta tahun yang lalu, galaksi tidaklah seperti yang sekarang ini.
Bentuknya berupa kabut gas hydrogen yang sangat besar dan berada di luar
angkasa. Galaksi bergerak perlahan mengadakan rotasi sehingga keseluruhan
berbentuk bulat. Karena gaya beratnya ia mengadakan kontraksi. Masa bagian
luar banyak yang tertinggal. Pada bagian yang berkisar lambat dan mempunyai
berat jenis yang besar terbentuklah bintang-bintang. Gumpalan kabut yang telah
menjadi bintang pun secara perlahan-lahan mengadakan kontraksi. Energy
potensialnya mereka keluarkan dalam bentuk sinar dan panas radiasi dan bintang-
bintang pun semakin turun temperaturnya setelah berpuluh-puluh ribu tahun, ia
mempunyai bentuk yang bisa dikatakan tetap, seperti halnya matahari hipotesis itu
diyakini oleh suatu observasi yang ditujukan pada pusat galaksi tempat
dilahirkannya bintang baru, baik secara perlahan maupun secara eksplosif.

Makalah Bintang dan Galaksi. 28


BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari uraian mengenai bintang diatas, kami dapat memberi


kesimpulan bahwa Bintang merupakan benda langit yang memancarkan
cahaya.Di mana bintang sendiri terbagi menjadi bintang semu dan bintang
nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya
sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain.
Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara
umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan
cahaya sendiri (bintang nyata) sedangkan galaksi adalah suatu sistem yang
terdiri dari bintang bintang , gas dan debu yang amat luas , dimana
anggotanya mempunyai daya tarik menarik (gravitasi) . macam macam
atau bentuk galaksi ada yang berbentuk spiral , elips dan tak beraturan .dan
proses terjadinya galaksi diatas bermula dari kumpulan kumpulan serpihan
ledakan yang kemudian menjadi galaksi , galaksi disini adalah calon
bintang atau kelompok bintang yang jumlahnya ribuan atau jutaan dan
terdapat di alam semesta , artinya galaksi itu bukan cum bintang , akan
tetapi matahari , bulan dan semua planet itu dapat disebut galaksi , teori
yang membahas terbentuknya galaksi adalah hipotesis fowler (1957) yang
menurutnya 12000 juta tahun yang lalu galaksi kita tidaklah seperti
sekarang ini , bentuknya berupa kabut gas hidrogen yang sangat besar
yang berada diluar angkasa .

Makalah Bintang dan Galaksi. 29


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Saripudin, Astronomi dan Jagat Raya, (Bandung, Dea Art Pustaka, 2009).

Charles Rianthoby, “Artikel-Galaksi” , ewissok, diakses dari

http://ewissok.blogspot.co.id/2012/10/artikel-galaksi.html. [Diakses pada tanggal


10 Mei 2018 pukul 13:41]

Mawardi. Nur Hidayati. 2009. Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu
Budaya Dasar. Bandung : Pustaka Setia.

Muhammad Pratama. 2010. Makalah Bintang.


www.academia.edu/8964245/Makalah_Bintang. [Diakses pada tanggal 10 mei 2018
pukul 10:19]

Rianthoby, Charles. 2012. Artikel Bintang dan Galaksi.

http://ewissok.blogspot.co.id/2012/10/artikel-galaksi.html. [Diakses pada tanggal


10 Mei 2018 pukul 14:00]

Saripudin, Ahmad. 2009. Astronomi dan Jagat Raya. Bandung: Dea Art Pustaka.

Makalah Bintang dan Galaksi. 30