Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

FISIKA SEKOLAH II
MOMEN GAYA

DISUSUN OLEH:

1. FITRI ERDIANA (06111181621002)


2. SITI MAULIDINA RIZKY (0611118162103)
3. PUTRI WAHYUNI SIREGAR (06111181621010)
4. KIKI WULANDARI (06111181621012)
5. INDRI HAYATI (06111181621014)
6. DINDA NOPRIANSYAH (06111281621017)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


JURUSAN MIPA
PENDIDIKAN FISIKA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2019
Landasan Teori Momen Gaya

A. Momen Gaya
Momen gaya (torsi) adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya gaya yang bekerja
pada sebuah benda sehingga mengakibatkan benda tersebut berotasi. Besarnya momen gaya
(torsi) tergantung pada gaya yang dikeluarkan serta jarak antara sumbu putaran dan letak
gaya.
Satuan dari momen gaya atau torsi ini adalah N.m yang setara dengan joule.Momen gaya
yang menyebabkan putaran benda searah putaran jarum jam disebut momen gaya positif.
Sedangkan yang menyebabkan putaran benda berlawanan arah putaran jarum jam disebut
momen gaya negatif.

Titik 0 sebagai titik poros atau titik acuan.


Momen gaya oleh F1 adalah t1 = + F1 . d1
Momen gaya oleh F2 adalah t2 = – F2 . d2
Pada sistem keseimbangan rotasi benda berlaku resultan momen gaya selalu bernilai nol,
sehingga dirumuskan:
∑t=0
Pada permainan jungkat-jungkit dapat diterapkan resultan momen gaya = nol.
∑t=0
– F2 . d2 + F1 . d1 = 0
F1 . d1 = F2 . d2
Pada sistem keseimbangan translasi benda berlaku resultan gaya selalu bernilai nol, sehingga
dirumuskan:
∑F=0
Pada mekanika dinamika untuk translasi dan rotasi banyak kesamaan-kesamaan besaran yang
dapat dibandingkan simbol besarannya.

B.Momen Kopel
Benda tegar adalah benda yang apabila dipengaruhi gaya-gaya tidak mengalami
perubahan bentuk. Meskipun benda berotasi namun bentuknya tetap sehingga jarak antara
partikel-partikelnya tetap.
Kolel adalah pasangan dua buah gaya yang sejajar, sama besar, dan arahnya berlawanan.
Pengaruh kopel terhadap sebuah benda adalah memungkinkan benda berotasi. Besarnya
kopel dinyatakan dengan momen kopel yang merupakan hasil akhir antara gaya dengan jarak
antara kedua gaya tersebut.
Pada bidang datar xy terdapat beberapa gaya F!, F2, dan F3 saling sejajar dan bertitik
tangkap di (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3) seperti berikut
Resultan ketiga gaya tersebut adalah R yang bertitik tangkap di (x,y). Jika komponen
gaya yang searah sumbu x adalah F1x, F2x, dan F3x, sedangkan komponen gaya pada arah
sumbu y adalah F1y, F2y, dan F3y dengan jarak x1, x2, dan x3 terhadap sumbu y,
Dalam gerak rotasi, penyebab berputarnya benda merupakan momen gaya atau torsi.
Momen gaya atau torsi sama dengan gaya pada gerak tranlasi. Momen gaya (torsi) adalah
sebuah besaran yang menyatakan besarnya gaya yang bekerja pada sebuah benda sehingga
mengakibatkan benda tersebut berotasi. Besarnya momen gaya (torsi) tergantung pada gaya
yang dikeluarkan serta jarak antara sumbu putaran dan letak gaya. Apabila Anda ingin
membuat sebuah benda berotasi, Anda harus memberikan momen gaya pada benda tersebut.
Torsi disebut juga momen gaya dan merupakan besaran vektor. Untuk memahami momen
gaya anda dapat melakukan hal berikut ini. Ambillah satu penggaris. Kemudian, tumpukan
salah satu ujungnya pada tepi meja. Doronglah penggaris tersebut ke arah atas atau bawah
meja. Bagaimanakah gerak penggaris? Selanjutnya, tariklah penggaris tersebut sejajar dengan
arah panjang penggaris. Apakah yang terjadi?

Saat Anda memberikan gaya F yang arahnya tegak lurus terhadap penggaris,
penggaris itu cenderung untuk bergerak memutar. Namun, saat Anda memberikan gaya F
yang arahnya sejajar dengan panjang penggaris, penggaris tidak bergerak. Hal yang sama
berlaku saat Anda membuka pintu. Gaya yang Anda berikan pada pegangan pintu, tegak
lurus terhadap daun pintu sehingga pintu dapat bergerak membuka dengan cara berputar pada
engselnya. Gaya yang menyebabkan benda dapat berputar menurut sumbu putarnya inilah
yang dinamakan momen gaya. Torsi adalah hasil perkalian silang antara vektor posisi r
dengan gaya F, dapat dituliskan
Gambar 2. Sebuah batang dikenai gaya sebesar yang tegak lurus terhadap batang dan
berjarak sejauh r terhadap titik tumpu O. Batang tersebut memiliki momen gaya τ = r × F
Definisi momen gaya secara matematis dituliskan sebagai berikut.

τ=r×F

Persamaan (1) :
dengan:
r = lengan gaya = jarak sumbu rotasi ke titik tangkap gaya (m),
F = gaya yang bekerja pada benda (N), dan
τ = momen gaya (Nm).
Besarnya momen gaya atau torsi tergantung pada besar gaya dan lengan gaya.
Sedangkan arah momen gaya menuruti aturan putaran tangan kanan, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar berikut:

Jika arah putaran berlawanan dengan arah jarum jam maka arah momen gaya atau
torsi ke atas, dan arah bila arah putaran searah dengan arah putaran jarum jam maka arah
momen gaya ke bawah.
Gambar 4. Momen gaya yang ditimbulkan oleh gaya yang membentuk sudut θ terhadap
benda (lengan gaya = r).

Perhatikan Gambar 4. Apabila gaya F yang bekerja pada benda membentuk sudut
tertentu dengan lengan gayanya (r), Persamaan ( 1 ) akan berubah menjadi

τ = rFsinθ

Persamaan ( 2 )
Dari Persamaan ( 2 ) tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa gaya yang
menyebabkan timbulnya momen gaya pada benda harus membentuk sudut θ terhadap lengan
gayanya. Momen gaya terbesar diperoleh saat θ =90° (sinθ = 1), yaitu saat gaya dan lengan
gaya saling tegak lurus. Anda juga dapat menyatakan bahwa jika gaya searah dengan arah
lengan gaya, tidak ada momen gaya yang ditimbulkan (benda tidak akan berotasi).
Perhatikanlah Gambar 5 a dan 5 b.

Gambar 5 Semakin panjang lengan gaya, momen gaya yang dihasilkan oleh gaya akan
semakin besar.

Arah gaya terhadap lengan gaya menentukan besarnya momen gaya yang
ditimbulkan. Momen gaya yang dihasilkan oleh gaya sebesar F pada Gambar 5 b lebih besar
daripada momen gaya yang dihasilkan oleh besar gaya F yang sama pada Gambar 5 a. Hal
tersebut disebabkan sudut antara arah gaya terhadap lengan gayanya. Momen gaya yang
dihasilkan juga akan semakin besar jika lengan gaya semakin panjang, seperti terlihat pada
Gambar 5 c. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa besar gaya F yang sama akan
menghasilkan momen gaya yang lebih besar jika lengan gaya semakin besar. Prinsip ini
dimanfaatkan oleh tukang pipa untuk membuka sambungan antarpipa. Sebagai besaran
vektor, momen gaya τ memiliki besar dan arah. Perjanjian tanda untuk arah momen gaya
adalah sebagai berikut:

a. Momen gaya,τ , diberi tanda positif jika cenderung memutar benda searah putaran jarum
jam, atau arahnya mendekati pembaca.

b. Momen gaya,τ , diberi tanda negatif jika cenderung memutar benda berlawanan arah
putaran jarum jam, atau arahnya menjauhi pembaca.

Gambar 6 (a) Gaya yang menghasilkan momen gaya positif (mendekati pembaca) ditandai
dengan titik. (b) Gaya yang menghasilkan momen gaya negatif (menjauhi pembaca) ditandai
dengan tanda silang.

Perjanjian tanda untuk arah momen gaya ini dapat dijelaskan dengan aturan tangan
kanan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.a. Arah jarijari merupakan arah lengan
gaya, dan putaran jari merupakan arah gaya (searah putaran jarum jam atau berlawanan arah).
Arah yang ditunjukkan oleh ibu jari Anda merupakan arah momen gaya (mendekati atau
menjauhi pembaca). Perhatikan Gambar 6.b. Jika pada benda bekerja beberapa gaya,
momen gaya total benda tersebut adalah sebagai berikut. Besar τ yang ditimbulkan oleh F1
dan F2 terhadap titik O adalah τ1 dan τ2. τ1 bernilai negatif karena arah rotasi yang
ditimbulkannya berlawanan arah putaran jarum jam. Sedangkan, τ2 bernilai positif karena
arah rotasi yang ditimbulkannya searah putaran jarum jam. Resultan momen gaya benda itu
terhadap titik O dinyatakan sebagai jumlah vektor dari setiap momen gaya. Secara matematis
dituliskan

τtotal = Σ (r × F)
atau
τtotal = τ1 + τ2

Percobaan (1)

MOMEN GAYA PADA GAYA YANG SALING SEJAJAR

A. PENDAHULUAN
Anda telah mempelajari resultan gaya-gaya setangkap dan kesetimbangannya. Resultan
dan kesetimbangan tersebut didapatkan pada benda dalam keadaan kesetimbangan, dan
untuk kesetimbangan gaya setangkap memenuhi ∑Fi = 0 (penjumlahan vector).
Percobaan akan dimulai dengan contoh yang sederhana, dimana akan diamati gaya-gaya
yang bekerja saling sejajar. Pada percobaan berikutnya kita akan mengamati konsep yang
sama untuk gaya yang bekerja tidak saling sejajar.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan dapat:
1. Menghitung momen gaya terhadap gaya yang diberikan pada suatu titik kerjagaya.
2. Memverifikasi hubungan ∑Ʈi= 0 pada kesetimbangan rotasi benda.

C. ALAT PERCOBAAN
Papanpercobaan Tuas

Penumpu Beban bercelah dan penggantung beban

Mistar, 50 cm

D. PERSIAPAN PERCOBAAN
1. Gunakan bidang miring dan sifat tegaknya
(tali penunjuk ketegakan) untuk membantu
untuk membuat garis horizontal pada papan
percobaan. Garis tersebut menjadi garis
acuan tuas berada pada posisi horizontal.
2. Rangkai alat seperti pada Gambar 4.1, Tuas
dipasang pada penumpu. Periksa
kesetimbangan tuas. Jika tuas belum
setimbang, geser pengait yang ada pada
tuas kekanan atau kekiri sampai tuas
setimbang.
Karena berat pengait sangat ringan dibandingkan beban yang dgunakan, pada
percobaan, massa pengait diabaikan.
3. Pasang pengait pada masing-masing ujung tuas dan gantung beban pada masing-
masing pengait beban.

E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Setimbangkan tuas dengan cara menggeser salah satu pengait atau kedua pengait
(bersamaan dengan penggantung beban) ke kiri dan ke kanan jika diperlukan.
2. Pada keadaan setimbang, ukur jarak d1 dan d2 untuk tiap penggantung beban
(Gambar 4.1). Catat jarak tersebut pada tabel 4.1.
3. Catat Massa pada masing-masing penggantung beban. Setiap penggantung beban
pada percobaan awal memiliki massa sebesar 50 g. dari sini gaya yang bekerja pada
masing-masing sisi tuas dapat dihitung menggunakan persamaanF = mg seperti
sebelumnya; gunakan nilai g = 9.8 m/detik2
4. Tambahkan massa yang sama, katakan 50 g untuk setiap penggantung beban, dan
periksa lagi kesetimbangan pegas tuas. Masih dalam keadaan setimbangkah tuas?
Bila “ya”.
5. Catat massa pada masing-masing sisi tuas, dan jarak d1 dand2 dari titik penumpang,
yang dibiarkan tidak berubah.
6. Ubah salah satu posisi beban yang tergantung, dan ubah juga posisi beban yang lain
sedemikian rupa sehingga tuas setimbang kembali.
7. Ukur jarak d1 dan d2 untuk tiap penggantung beban dan catat hasil yang didapat
pada tabel 4.1. Catat juga massa pada masing-masing sisi tuas, yang tetap sama
besar dengan sebelumnya.
8. Ubah besar beban pada masing-masing sisi tuas sedemikian rupa sehingga
keduanya memiliki massa yang berbeda.
9. Aturposisi (jarak) penggantung beban sedemikian rupa sehingga tuas setimbang
kembali.
10. Ukur jarak (d1 dand2) untukmasing-masing beban m1 dan m2 yang digunakan.
11. Catat hasil yang didapatkan pada kolom yang tersedia pada Tabel 4.1.
12. Ubah jarak d1 dan d2 dan atur agar tuas tetap setimbang; massa beban masih sama.
13. Ukur jarak d1 dan d2 dan massa yang digunakan
14. Catat hasil tersebut pada sel yang sesuai padaTabel 4.1.

Tabel 4.1
m1(kg) F1(N) d1(m) Ʈ1 = (F1x d1)(Nm) m2(kg) F2(N) d2(m) Ʈ2 = (F2 x d2)(Nm)

0,05 0,49 0,132 0,06468 0,05 0,49 0,132 0,06468

0,1 0,98 0,132 0,12936 0,1 0,98 0,132 0,12936

0,1 0,98 0,123 0,12054 0,1 0,98 0,123 0,12054

0,1 0,98 0,103 0,10094 0,15 1,47 0,065 0,09555


F. PERHITUNGAN

Pada Tabel 4.1

Data 1: Ʈ1 = (F1x d1)(Nm) Ʈ2 = (F2 x d2)(Nm)

Ʈ1= (0,49 x 0,132) Ʈ2 = (0,49 x 0,132)

Ʈ1 = 0,06468 Nm. Ʈ2 = 0,06468 Nm

Kesalahan Relatif

KR= |Ʈ1 − Ʈ2|

KR= 0,0648-0,06468

KR= 0 %
Data 2: Ʈ1 = (F1x d1)(Nm) Ʈ2 = (F2 x d2)(Nm)

Ʈ1= (0,98 x 0,132) Ʈ2 = (0,98 x 0,132)

Ʈ1 = 0,12936 Nm. Ʈ2 = 0,12936 Nm

Kesalahan Relatif

KR= |Ʈ1 − Ʈ2|

KR= 0,12936 - 0,12936

KR= 0 %
Data 3: Ʈ1 = (F1x d1)(Nm) Ʈ2 = (F2 x d2)(Nm)

Ʈ1= (0,98 x 0,123) Ʈ2 = (0,98 x 0,123)

Ʈ1 = 0,12054 Nm. Ʈ2 = 0,12054 Nm

Kesalahan Relatif

KR= |Ʈ1 − Ʈ2|

KR= 0,12054 - 0,12054

KR= 0 %
Data 4: Ʈ1 = (F1x d1)(Nm) Ʈ2 = (F2 x d2)(Nm)

Ʈ1= (0,98 x 0,103) Ʈ2 = (0,47 x 0,1065)

Ʈ1 = 0,10094 Nm. Ʈ2 = 0,09555Nm


Kesalahan Relatif

KR= |Ʈ1 − Ʈ2|

KR= 0,10094 - 0,09555

KR= 0 %

G. PERTANYAAN
Jawab pertanyaan berikut dengan mendasarkan jawaban Anda pada percobaan di atas
dan data yang ada dalam Tabel 4.1. Perkenankan ada penyimpangan sampai 10%.
Hasil kali gaya dengan jaraknya kesuatu titik (Fxd) disebut torka (atau momen) gaya
tersebut terhadap titik yang dimaksud. Pada tabel di atas torka atau momen gaya diberi
lambing Ʈ ( Ʈ1 momen gaya F1 terhadap titik tumpu, Ʈ2 momen gaya F2 terhadap titik
tumpu). Jika titik tersebut adalah titik tumpu benda, dan gaya itu bekerja pada benda,
momen gaya cenderung memutar benda ke satu arah atau kearah yang lain, bergantung
pada arah dan posisi gaya terhadap titik tumpu (titik putar). Untuk membedakan arah
perputaran ini, momen gaya yang cenderung memutar benda dalam satu arah diberi nilai
positif dan yang cenderung memutar benda ke arah lainnya diberi nilai negatif.

Dalam setiap kasus di atas, tuas ada dalam keadaan setimbang. Dengan kata-kata
lain,tuas (benda) ada dalam keadaan setimbang.

1. Adakah gaya yang bekerja pada titik tumpu ? Berikan alas an untuk jawaban Anda!
Jawab:
Tidak ada gaya yang bekerja [ada titik tumpu karena di titik tumpu terjadi kesetimbangan
jika kesetimbangan nilainya memenuhi Fi = 0

2. Menurut pendapat Anda, dimanakah resultan gaya F1 dan F2 bekerja (Dimanakah


Letak titik tangkapnya)? Berikan alasan!
Jawab:
Karena resultan gaya F1 terletak di sebelah kanan dari titik tumpu, sedangkan resultan
gaya F2 terletak di sebelah kiri dari titik tumpu, sedangkan letak titik tangkapnya terletak
di antara resultan gaya F1 dan F2 dengan keadaan setimbang.

3. Apa yang dapat Anda katakan tentang nilai Ʈ1 dan hubungannya dengan nilai Ʈ2 ?
Apakah keduanya memiliki nilai yang sama, atau keduanya berbeda ?
Jawab:
Ʈ1 adalah momen gaya F1 terhadap titik tumpu. Apabila benda 1 memberikan gaya
kepada benda 2, maka benda 2 memberikan gaya kepada benda 1 yang besarnya sama
tapi berlawanan arah. Ʈ1 dan Ʈ2 memiliki nilai yang sama.
H. KESIMPULAN
Keadaan kesetimbangan pada tuas sama halnya dengan keadaan kesetimbangan pada
partikel. Suatu partikel dikatakan dalam keadaan setimbang apabila resultan gaya yang
bekerja pada partikel sama dengan nol yang dalam hal ini juga berlaku pada tuas dimana
nilai F1 dan F2 sama berdasarkan data hasil pengamatan tetapi berlawanan arah sehingga
resultan kedua gaya yang bekerja pada tuas sama dengan nol dan resultan momen gaya
pada tuas juga sama dengan nol.

Percobaan (2)

MOMEN GAYA PADA GAYA TIDAK SALING SEJAJAR (BAGIAN 1)

A. PENDAHULUAN

Dalam percobaan sebelumnya untuk gaya yang bekerja


saling sejajar, Anda telah mengamati bahwa benda
dalam keadaan setimbang rotasi jika memenuhi
hubungan ∑Ʈi = 0, dengan Ʈi adalah momen gaya tiap
gaya sejajar yang bekerja pada benda terhadap jarak
tertentu dari titik penumpu. Pada percobaan ini Anda
akan mencoba mengamati apakah hubungan diatas
berlaku juga untuk gaya-gaya tidak sejajar yang bekerja
pada benda (tuas).
Momen gaya sekitar titik P dapat didefinisikan sebagai
hasil perkalian antara besar gaya F dengan jarak d dari
titik P ke garis aksi l dari gaya tersebut (Gambar 5.1).
Atau, secara matematik dapat ditulis:

Ʈ =d . F …………………………………………………………. (5.1)

Jika kita gambar garis sembarang garis r dari titik P ke garis gaya F (Gambar 5.1), dan
garis r membentuk sudut θ dengan garis gaya F, mudah diketahui bahwa d = r sin θ.
Persamaan (5,1) dapat di tulis menjadi:

t = r.F sin θ ……………………………………………………… (5.2)

Dengan menggunakan persamaan ini kita dapat momen gaya terhadap pada titik
sembarang, asalkan diketahui garis r dan θ yang dibentuk garis r terhadap garis kerja
gaya. Kita akan menggunakan hubungan di atas pada percobaan ini.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini siswa diharapkan dapat:
1. Menghitung momen gaya yang diberikan (ditentukan) terhadap titik putar yang
ditemtukan.
2. Memverifikasi berlakunya hubungan ∑Ʈi = 0 pada gaya-gaya yang tidak saling
sejajar yang bekerja pada benda yang berada pada keadaan kesetimbangan rotasi.
C. ALAT PERCOBAAN

Papan percobaan Dinamometer

Penumpu Beban bercelah dan penggantung beban

Busur derajat Puli (2)

Tali nylon Mistar, 50

D. PERSIAPAN PERCOBAAN

Rangkai alat percobaan seperti terlihat pada Gambar 5.2. Beban bercelah dan
dinamometer berturut-turut digunakan untuk menghasilkan gayaF2dan F1 pada tuas.
Gaya F1bekerja pada lubang tuas di sebelah kanan titik penumpu. Arah gaya tersebut
boleh seperti terlihat pada Gambar 5.2, atau kea rah lain yang lebih Anda sukai, dengan
menjaga tuas tetap dalam keadaan horizontal.

Catatan :Anda perlu mengatur jarak d2, dan/atau arah gaya F1 untuk menjaga tuas
tetap setimbang! Lakukan hal ini seteliti-telitinya!

Meletakkan Busur Derajat


Atur letak busur derajat sedemikian rupa sehingga titik pusatnya berada pada titik
tempat tali menarik tuas, yaitu titik tangkap gayaF1, pada lubang sebelah kanan titik
penumpu pada tuas

E. LANGKAH PERCOBAAN

1. Berikan ketukan pada papan percobaan


atau tarik beban m2 dan kemudian
lepaskan untuk menghilangkan
pengaruh gesekan pada sistem yang
diamati. Jika posisi beberapa alat
percobaa berubah, atur ulang sistem
tersebut sedemikian rupa sehingga tuas
tetap dalam keadaan horizontal.
2. Baca besar gayaF1 pada dinamometer
dan catat hasil nya pada Tabel 5.1 di
bawah.
3. Ukur d1, sudut θ dan jarak d2 seteliti-
telitinya dan catat hasil pengukuran
pada Tabel 5.1.
4. Tentukan (atau baca) massam2dan
hasilnya pada Tabel 5.1.
5. Ulangi langkah percobaan 1 sampai 4
paling sedikit 4 kali percobaan untuk
sudut θ yang berbeda (tetapi nilai
F2sama); selanjutnya lakukan perhitungan yang sama untuk melengkapi kolom
yang tersisa pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1
m2 = 0,05 kg; F2 = 0,49 N; Ʈ2 =0,05047 Nm.

θ ( 0) F1 (N) Ʈ1 = ( F1.d1) sin θ Ʈ1 – Ʈ2

0,1 0,007 -0,04


500

0,8 0,648 0,01


550

1,3 0,1131 0,06


600

2,6 0,2288 0,17


620

3,4 0,3026 0,25


640

3,6 0,324 0,27


650

F. PERHITUNGAN

1. Hitung besar gayaF2menggunakan nilai m2di atas dan persamaan F2 = m2g,


gunakan nilai g = 9.8 m/detik2. Catat hasil hitungan yang di dapat.
F2 = m2 g =0,05kg. 9,8m = 0,49 N

2. Hitung momen gayaƮ1, momen gaya akibat gaya F1 terhadap titik penumpu, yaitu =
F1 d1 sin θ, dan catat hasil perhitungan dalam kolom yang sesuai pada Tabel 5.1.
1. Ʈ1= (0,1. 10) sin 500 = 0,007
2. Ʈ1= (0,8. 10) sin 550 = 0,048
3. Ʈ1= (1,3. 10) sin 600 = 0,1131
4. Ʈ1= (2,6. 10) sin 200 = 0,2288
5. Ʈ1= (3,4. 10) sin 640 = 0,3026
6. Ʈ1= (3,6. 10) sin 650 = 0,324

3. Hitung momen gayaƮ2, momen gaya akibat gaya F2 terhadap titik penumpu, yaitu =
F2 d2, dan catat hasil perhitungan dalam kolom yang sesuai pada Tabel 5.1.
Ʈ2 = F2 d2 = 0,49 N . 0,103 = 0,05047 Nm
4. Bandingkan nilai momen gaya Ʈ1 dan Ʈ2 dengan menghitung persentase perbedaan
kedua nilai tersebut menggunakan Ʈ1 - Ʈ2
1. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,007- 0,05047= -0,04
2. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,0648- 0,05047= 0,01
3. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,1131- 0,05047= 0,06
4. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,2288- 0,05047= 0,17
5. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,3026- 0,05047= 0,25
6. Ʈ1 - Ʈ2 = 0,324- 0,05047= 0,27
Dan catat hasilnya pada tabel yang tersedia.

G. PERTANYAAN

A. Jika kita beri toleransi kesalahan sebear 10% pada percobaan di atas, dapatkah
Anda mengatakan bahwa “Jumlah aljabar momen gaya pada kesetimbangan adalah
sama dengan nol”? Jika tidak, percobaan keberapakah yang memenuhi persyaratan
tersebut?
Jawab:
Suatu jumlah aljabar momen gaya pada suatu kesetimbangan adalah tidak sama
dikarenakan persentase kesalahannya melebihi 10% akibat huma error, misalny
kesalahan dalam mengukur sudut maupun gaya. Dari lima percobaan yang telah
dilakukan, tidak ada percobaan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan analisis
data (perhitungan) diatas. Hal ini perlu untuk dilakukan pengulangan percobaan
dengan lebih memperhatikan penentuan sudut.

B. Berapakah persentase kesalahan yang dapat diberikan agar dapat mengatakan


(menyimpulkan) bahwa”Jumlah aljabar momen gaya pada kesetimbangan akan
selalu sama dengan nol”?
Jawab:
Dalam persentase kesalahannya mungkin sudah cukup 10%, tetapi diperlukan
petunjuk lebih lanjut mengenai prosedur percobaan khususnya pada perhitungan
kesalahan relative dari percobaan yang telah dilakukan.

H. KESIMPULAN

Berdasarkan teori dalam Jumlah aljabar momen gaya pada kesetimbangan adalah
sama dengan nol, akan tetapi berdasarkan data yang ada jumlah aljabar momen gaya
pada kesetimbangan adalah tidak sama dengan nol, dikarenakan persentase kesalahannya
melebihi 10% akibat human eror, salah satu contohnya yaitu kesalahan dalam mengukur
sudut maupun gaya.
Percobaan (3)

MOMEN GAYA PADA GAYA-GAYA TIDAK SEJAJAR (BAGIAN 2)

A. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini sama dengan
percobaan sebelumnya, kecuali dalam
percobaan ini akan digunakan alat khusus
yang dinamakan “roda momen gaya”. Roda
momen gaya adalah sebuah roda yang
padanya dapat di terapkan dua gaya atau
lebih melalui potongan bilah yang
dilengkapi tanda garis aksi (garis kerja),
yang dengan singkat akan dinamakan
“bilahgarisaksi”. Bilah garis aksi tersebut
dapat diubah arahnya pada poros putar yang
ada di tengah-tengah bilah tersebut, tegak
lurus terhadap permukaan roda momen
gaya. Jika ada gaya yang bekerja pada roda
melalui sebuah bilah, gaya tersebut akan
diteruskan ke roda melalui poros pada bilah. “Garissumbu” pada bagian tengah bilah
tersebut akan dijadikan acuan garis aksi gaya. Jarak gaya (atau garis aksi gaya)
kesumbu roda momen dapat dibaca dari skala melingkar yang dicetak pada
permukaan roda momen seperti terlihat pada Gambar 6.1.

B. ALAT PERCOBAAN

Papan percobaan Roda momen gaya

Puli (3) Beban bercelah dan penggantung beban (3)

Tali nylon
C. PERSIAPAN PERCOBAAN

Rangkai alat percobaan seperti terlihat pada


Gambar 6.2 pada papan percobaan menggunakan
beban dengan massa-massa sebarang untuk
menerapkan momen-momen gaya pada roda
momen, tetapi jaga agar setiap bilah tidak saling
bersinggungan satu sama lain. Jika ada bilah yang
bersinggungan, ubah arah atau/dan besar gaya yang
bekerja pada roda momen.

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Hilangkan pengaruh gesekan pada sistem yang
diamati dengan mengetuk papan percobaan,
atau dengan menarik salah satu beban sesaat
dan melepaskan lagi.
2. Baca jarak masing-masing gaya terhadap titik pusat roda momen, dan catat hasil
pengukuran pada Tabel 6.1.
3. Hitung besar masing-masing gaya menggunakan persamaan umum (F = mg) dan
catat hasil perhitungan pada kolom yang sesuai pada tabel. Gunakan nilai g = 9.8
m/detik2.
4. Hitung besar momen gaya untuk tiap-tiap gaya, dan tandai dengan tanda positif (+)
atau negatif (-) sesuai arah masing-masing gaya. (Anda dapat memilih searah
putaran jarum jam adalah arah positif dan berlawan arah adalah arah negatif )
5. Hitung jumlah aljabar momen gaya dan catat hasil perhitungan pada tabel.

Tabel 6.1
No F1(N) d1(m) Ʈ1(Nm) F2(N) d2(m) Ʈ2(Nm) F3(N) d3(m) Ʈ3(Nm) ∑Ʈ(Nm)

1. 0,49 0,065 0,03 0,49 0 0 0,49 -0,07 0,03 0

2. 0,98 0,045 0,04 0,49 0,02 0,01 0,49 0,085 0,04 0,01

3. 1,47 0,035 0,05 0,49 0,03 0,01 0,49 0,09 0,05 0,01

4. 0,49 0,085 0,04 0,49 0,025 0,01 0,98 -0,015 -0,01 0,04

5. 0,49 0,09 0,04 0,49 0,035 0,01 1,47 -0,03 -0,04 0,01

6. 0,49 0,095 0,046 0,49 0,04 0,01 1,96 -0,025 -0,02 0,03
6. Ulangi percobaan diatas paling sedikit 4 kali percobaan lagi dengan kombinasi
gaya yang berbeda-beda. Anda dapat melakukannya dengan mengubah besar
beban atau/dan mengubah arah gaya pada roda momen.

E. KESIMPULAN
Jika ada gaya yang bekerja pada roda melalui sebuah bilah, gaya tersebut akan
diteruskan ke roda melalui poros pada bilah. “Garis sumbu” pada bagian tengah bilah tersebut
akan dijadikan acuan garis aksi gaya. Jarak gaya (atau garis aksi gaya) ke sumbu roda momen
dapat dibaca dari skala melingkar yang di cetak pada permukaan roda momen.