Anda di halaman 1dari 12

Andalas Dental Journal Page |

ARTIKEL PENELITIAN

PERBEDAAN KEKERASAN RESIN KOMPOSIT HYBRID YANG


MENGGUNAKAN TEKNIK INCREMENTAL DENGAN TEKNIK
BULK YANG DIAKTIVASI DENGAN SINAR
LIGHT EMITTING DIODE (LED)

THE HARDNESS DIFFERENCE OF HYBRID COMPOSITE RESIN THAT USING


INCREMENTAL FILLING SYSTEM WITH BULK FILLING SYSTEM WHICH
ACTIVATED BY LIGHT EMITTING DIODE (LED)

Deli Mona1, Rizanda Machmud 2, Vania Amanda3


Abstrak
Kekerasan resin komposit adalah salah satu sifat bahan restorasi gigi yang penting, karena kekerasan
permukaan menunjukkan tingkat pengurangan struktur dan resistensinya terhadap goresan. Salah satu faktor
yang mempengaruhi kekerasan adalah teknik pengisian bahan restorasi karena mempengaruhi c-factor dan
polymerization shrinkage, dimana semakin tinggi c-factor dan polymerization shrinkage maka semakin
rendah kekerasan bahan resin komposit, dan begitu sebaliknya. Teknik pengisian bahan restorasi yang
digunakan di praktek kedokteran gigi adalah teknik incremental dan teknik bulk. Penelitian ini dilakukan
pada 20 sampel resin komposit yang terdiri dua kelompok. Kelompok pertama adalah 10 sampel dengan
teknik incremental dan kelompok kedua adalah 10 sampel dengan teknik bulk. Resin komposit yang
digunakan adalah resin komposit tipe hybrid karena memiliki sifat kekerasan yang baik. Sampel dibentuk
dengan mold berbentuk cakram yang berukuran 2x6 mm, kemudian sampel direndam dalam saliva buatan
dan dimasukkan ke dalam inkubator selama 24 jam. Setelah itu dilakukan pengujian dan penghitungan rata-
rata kekerasan sampel dengan alat vickers hardness test. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis
grup independen T-test. Hasil penelitian menunjukkan kelompok dengan teknik incremental memiliki
kekerasan yang lebih tinggi (108,67 VHN), sementara kelompok dengan teknik bulk memiliki rerata
kekerasan yang lebih rendah (89,2 VHN). Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat perbedaan bermakna
(p<0,05) antara kekerasan pada kelompok sampel dengan teknik incremental dan teknik bulk.
Kata kunci : kekerasan, resin komposit, c-factor, polymerization shrinkage, teknik pengisian incremental,
teknik pengisian bulk, vickers harness test

Abstract
Hardness of composite resin is one of the important characteristic in dental material, because of surface
hardness indicates the degree of structure reduction and refer to the resistance of indentation. One of the
factors which influence the hardness is filling system of restoration material that posses c-factor and
polymerization shrinkage, which is the c-factor and polymerization shrinkage more higher then the hardness
becoming lower, and also on the contrary. Filling system of restoration material that used in dentistry
practitioner is incremental and bulk filling system. Method of this research is twenty samples that consist of
two groups. The first group included ten samples with incremental filling system and the second are ten
samples with bulk filling system. Composite resin that used is composite resin type hybrid because it has
good hardness characteristic. The samples are made on the mold with 2x6 mm sized. Then the samples
soaked to artificial saliva and entranced to the incubator during 24 hours. Thereupon, the hardness of
samples are tested and measured tby vickers hardness test. The design of this research is analitic independen
group T-test. The result of this research shows that incremental filling group have higher average of
hardness (108,67 VHN), meanwhile bulk filling group have lower one (89,2 VHN). In conclution, there is a
significant differences (p<0,05) between hardness of incremental filling and bulk filling system.
Key words : composite resin, c-factor, polymerization shrinkage, incremental filling system, bulk filling
system, vickers harness test

1
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas
2
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
3
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas

1
Andalas Dental Journal Page |

PENDAHULUAN
Salah satu bahan yang banyak terbagi atas komposit tradisional,
digunakan pada praktek kedokteran gigi komposit berbahan pengisi mikro, dan
adalah bahan restorasi resin komposit.1 komposit hybrid.2,5 Skripsi ini membahas
Resin komposit telah dikenal di bidang tentang komposit hybrid, karena resin
kedokteran gigi pada akhir tahun 1950-an komposit hybrid mempunyai beberapa
dan awal tahun 1960, saat Bowen kelebihan dibandingkan resin komposit
melakukan percobaan untuk memperkuat jenis lainnya. Kelebihannya antara lain
resin epoxy dengan partikel bahan adalah kehalusan permukaan dan
pengisi. Saat itu resin epoxy memiliki memiliki kekuatan yang cukup baik,
beberapa kelemahan, seperti lamanya sehingga banyak digunakan pada
pengerasan dan kecenderungan berubah restorasi gigi anterior dan gigi posterior.
warna. Hal inilah yang mendorong Kehalusan permukaan dan kekuatan yang
Bowen untuk mengkombinasikan epoxy ada pada resin komposit hybrid,
dan acrylate sehingga menghasilkan resin disebabkan resin tersebut terdiri atas
komposit.2, 3 silica colloidal dan partikel kaca yang
Resin komposit merupakan bahan dihaluskan, serta logam berat sebesar 75-
restorasi adhesif yang dapat berikatan 80%.dalam bahan pengisinya.2,6
dengan jaringan keras gigi melalui dua Kehalusan permukaan dan kekuatan
sistem bonding (ikatan) yaitu ikatan pada resin komposit hybrid akan
email dan ikatan dentin. Kekuatan ikatan mempengaruhi kekerasan bahan restorasi
resin komposit terhadap email dengan tersebut. Kekerasan merupakan salah
sistem etsa asam seperti yang satu sifat penting bahan restorasi karena
diperkenalkan oleh Buonocore sejak kekerasan adalah ketahanan bahan
tahun 1955 terbukti dapat bertahan untuk restorasi dalam menahan identasi atau
jangka waktu yang lama. Etsa asam pada goresan. Kekerasan digunakan sebagai
email akan membentuk mikroporositas parameter untuk mengetahui kemampuan
pada permukaan email yang dapat diisi suatu bahan dalam menahan daya abrasif.
dengan bonding agent, sehingga Sifat ini penting karena akan berpengaruh
terbentuk ikatan mikromekanis antara terhadap tindakan pemolesan dan goresan
resin komposit dengan email.4 pada saat mengunyah dan menggosok
Berdasarkan ukuran rata-rata partikel gigi sehingga semakin baik kekerasan
bahan pengisi utama, resin komposit suatu bahan restorasi, semakin lama
Andalas Dental Journal Page |

ketahanan bahan restorasi dalam mulut. digunakan dan diposisikan ke mulut


5,7
pasien.8,9
Kekerasan bahan restorasi dapat Menurut Garcia dkk dan Usumez,
diukur dengan menggunakan alat-alat di polimerisasi menggunakan LED
laboratorium, seperti vickers hardness menghasilkan derajat konversi dan
test, knoop hardness test, barcol hardness stabilitas struktur tiga dimensi lebih
test, dan rockwel hardness test.7,8 tinggi dibandingkan dengan penggunaan
Vickers hardness test merupakan alat unit halogen (QTH) dan PAC. Unit LED
pengukur kekerasan benda berdasarkan juga menghasilkan kedalaman
penekanan oleh gaya tekan tertentu oleh polimerisasi yang lebih besar
sebuah indentor berupa pyramid dibandingkan unit halogen (QTH) dengan
diamond terbalik yang memiliki sudut menggunakan intensitas cahaya yang
puncak 136° ke permukaan material yang sama. Sementara itu, unit halogen yang
diuji kekerasannya, dimana permukaan mempunyai panjang gelombang 400-515
material yang diuji harus rata dan bersih. nm menyebabkan lampu halogen
Alat vickers hardness test tersebut khusus menghasilkan panas yang tinggi (1%
digunakan untuk mengukur kekerasan cahaya dan 99% panas). Hal ini dapat
benda yang sangat padat dan berukuran mempengaruhi efektivitas sumber cahaya
kecil. 8 yang akan menghasilkan sifat fisik dan
Kekerasan resin komposit mekanik yang rendah dan meningkatnya
dipengaruhi oleh proses polimerisasi kegagalan bahan restorasi resin komposit.
termasuk jarak penyinaran, tebal bahan, Bahan restorasi resin komposit dinilai
dan lama penyinaran.8,9 Penyinaran yang berhasil secara klinis tergantung pada
dapat dilakukan pada restorasi gigi adalah polimerisasi yang sempurna yang
dengan Light Emitting Diodes (LED), menghasilkan kekerasan yang baik.10
Plasma Arc Curing (PAC), Quartz Selain proses polimerisasi dengan
Tungsten Halogen (QTH), dan Argon sinar, teknik pengisian bahan restorasi
Laser Lamps. Di antara alat-alat tersebut, juga dapat mempengaruhi kekerasan resin
alat LED mempunyai banyak komposit karena teknik pengisian bahan
keuntungan, di antaranya menggunakan restorasi mempengaruhi c-factor yang
energi yang paling efisien, baterai LED berhubungan dengan polymerization
yang rechargeable, ringan, serta mudah shrinkage. C-factor merupakan
perbandingan antara permukaan yang
Andalas Dental Journal Page |

berikatan dengan permukaan yang bebas. integritas marginal. Semakin besar


Teknik incremental diketahui dapat volume resin komposit dipolimerisasi,
mengurangi polymerization shrinkage semakin besar kemungkinan
karena memiliki c-factor yang polymerization shrinkage.14,15 Namun
rendah.5,8,11 teknik ini juga memilik kelebihan, di
antaranya pengaplikasian yang mudah
dan cepat dilakukan sehingga
menghabiskan sedikit waktu,
meningkatkan kemampuan mengalir
(flowability) sehingga membuat adaptasi
bahan restorasi yang konsisten terhadap
kavitas.15
Guilherme Lopes dkk (2004) yang
mengevaluasi cara perlekatan resin
komposit pada gigi posterior dengan
pengisian secara incremental dan secara
Gambar 1.Pengisian Resin Komposit
dengan Teknik Bulk (a) dan Incremental bulk, menyatakan bahwa hasil perlekatan
(b) 12
resin komposit dengan teknik
Teknik incremental adalah salah satu incremental lebih tahan dibandingkan
teknik pengisian bahan restorasi ke dalam perlekatan dengan teknik bulk, karena
kavitas dengan cara memasukkan bahan terdapat microleakage sebanyak 18,7%
beberapa lapis dan melakukan pada perlekatan dengan pengisian dengan
polimerisasi dengan sinar pada tiap teknik bulk, sementara dengan teknik
lapisnya. Teknik ini dilakukan incremental hanya terdapat microleakage
berdasarkan polimerisasi bahan resin sebesar 6,1% .16
komposit dengan lapisan kurang dari 2 Sementara itu, Loguercio dkk (2004),
13
mm. menyimpulkan bahwa teknik incremental
Teknik bulk adalah teknik pengisian tidak dapat meminimalkan
bahan restorasi yang dilakukan dengan polymerization shrinkage, walaupun
mengisi bahan hanya satu lapis dan satu dapat mengurangi tekanan residu akibat
kali penyinaran. Penggunaan teknik ini penyinaran alat curing, tetap diperlukan
dapat menyebabkan internal stresses ketepatan dalam pengurangan lebar
yang tinggi dan terjadi kehilangan shrinkage dan kekuatan ikatan yang baik
Andalas Dental Journal Page |

dengan struktur gigi.17 Salles Duarte dkk Sedangkan alat yang digunakan adalah
(2007) melakukan percobaan dengan mold ( diameter 6 mm dan tebal 2 mm)
mengaplikasikan bahan restorasi pada terbuat dari stainless steel, LED merek
kavitas klas V yang dianggap memiliki Woodpecker, instrumen plastis, alat press
resiko c-factor yang lebih tinggi.18 yang didesain sesuai ukuran mold,
Dengan melakukan beberapa variasi inkubator ( suhu 370C ), alat uji
teknik pengisian, di antaranya oblique kekerasan Vickers Hardness Test, kertas
incremental, horizontal incremental, dan penyerap air, sarung tangan dan
bulk, menghasilkan kesimpulan bahwa masker,cellophan strips, cawan petri
tidak ada satu pun teknik pengisian bahan tempat spesimen, dan spido.
restorasi yang dapat mengeliminasi Sampel yang digunakan dicetak
18
microleakage. Menurut Lazarchik dkk menggunakan master model (mold).
(2007), dia menyatakan bahwa tidak ada Langkah pertama adalah membuka
perbedaan signifikan kekerasan bahan master model (mold), kemudian
restorasi resin komposit yang meletakkan cellophan strips pada bagian
diaplikasikan dengan teknik bulk maupun dasarnya tepat di bagian bawah mold, lalu
teknik incremental.19 mold dirapatkan kembali dan bahan resin
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di komposit hybrid diambil menggunakan
atas peneliti ingin meneliti perbedaan instrumen plastis dan dimasukkan ke
kekerasan resin komposit hybrid yang dalam mold. Setelah itu cellophan strips
menggunakan teknik pengisian secara yang lain diletakkan di atas mold yang
incremental dan bulk yang diaktivasi telah terisi, kemudian resin komposit
dengan sinar light emitting diode (LED). dipadatkan dan diberi tekanan konstan.
Resin komposit di dalam mold kemudian
BAHAN DAN METODE disinari menggunakan LED dengan jarak
Jenis penelitian adalah experimental penyinaran 0 mm selama 20 detik sesuai
laboratories dengan rancangan post test petunjuk pabrik.
control group design. Pengambilan sampel Kelompok sampel yang menggunakan
dilakukan dengan metode simple random teknik bulk dapat disinar sekali setelah
sampling. bahan dipadatkan dan diberi tekanan
Bahan yang digunakan resin konstan. Sementara kelompok sampel
komposit hybrid warna A3 (Z-100 3M yang menggunakan teknik incremental
ESPE ) dan saliva buatan dengan pH 6,8. diberi sinar pada tiap lapisnya, setelah
Andalas Dental Journal Page |

kavitas penuh sampel dipadatkan dan memberikan tekanan sebesar 100 gf


diberikan tekanan yang konstan. selama 15 detik. Indenter pada Vickers
Setelah sampel mengeras, mold dibuka Hardness Test akan melakukan pencarian
dan sampel diambil. Bagian bawah permukaan spesimen. Lalu Vickers
sampel yang tidak disinari ditandai Hardness Test akan menghitung secara
dengan spidol/perekat berwarna. Sampel digital pengukuran d1 dan d2 (rata-rata
resin komposit sinar yang telah dibuat panjang diagonal sampel), serta
dan ditandai dimasukkan ke dalam cawan perolehan nilai kekerasan permukaan
petri. Seluruh sampel resin komposit resin komposit.
hybrid (20 buah) tersebut lemudian Kekerasan permukaan hasil identasi
direndam dalam dua cawan petri untuk uji Vicker dapat dihitung menggunakan
dua kelompok (10 sampel resin komposit rumus : 20
hybrid dengan teknik incremental dan 10
sampel resin komposit hybrid dengan
teknik bulk) dalam dengan saliva buatan
dan dimasukkan ke dalam inkubator
dengan suhu 370C selama 24 jam
dengan bagian yang disinari menghadap
keatas. Setelah 24 jam angkat sampel dan
keringkan dengan menggunakan kertas Keterangan rumus:
penyerap air. Perendaman ini bertujuan F = Beban (kgf)
untuk menyamakan sampel dengan d = Rata-rata panjang diagonal dari
kondisi mulut terlebih dahulu sebelum d1 dan d2 (mm)
diberi perlakuan. HV = Vickers Hardness
Setelah sampel kering, dibuat 3 titik
pengukuran pada sampel. Titik ANALISA DATA
pengukuran terletak segaris pada garis 1. Analisa Univariat
diameter sampel yaitu pada titik sentral Analisis univariat dilakukan untuk
sampel dan pada 1 mm dari masing- mengetahui distribusi frekuensi dari
masing tepi sampel pada permukaan variabel yang diamati yaitu variabel
sampel yang disinari. Kemudian dependen (kekerasan permukaan resin
dilakukan pengukuran dengan alat uji komposit hybrid) dan variabel
kekerasan Vickers Hardness Test dengan independen (teknik pengisisan
Andalas Dental Journal Page |

incremental dan bulk) sehingga dapat Tabel 1.Hasil pengukuran nilai kekerasan
yang menggunakan teknik incremental
diketahui perbedaan nilai dari variabel
dan teknik bulk dalam satuan VHN
yang diteliti. (gF/mm2)
Grup
2. Analisa Bivariat Sampel
A
Analisis bivariat yang digunakan Nomor
(Incremental) B (Bulk)
untuk penelitian adalah independent 1 107.00 91.50
group T-Test karena terdapat dua grup 2 112.67 88.33

sampel. Tujuannya adalah untuk 3 111.67 89.33


4 108.00 90.77
membandingkan dan mengetahui kedua
5 109.67 90.10
grup tersebut mempunyai nilai rata-rata
6 105.33 90.63
yang sama atau tidak sama secara 7 108.33 89.50
signifikan. Analisis data T-test akan 8 108.67 87.27
bermakna bila nilai P < 0,05. 9 107.00 87.87
10 108.33 86.70
Rerata
HASIL PENELITIAN
kekerasan 108.67 89.20
Hasil pengujian kekerasan
permukaan pada sampel resin komposit
Dari tabel tersebut terlihat bahwa
hybrid yang mengukur 2 kelompok
terdapat perbedaan rerata kekerasan yang
sampel, yaitu kelompok A yang
menggunakan teknik incremental dan
menggunakan teknik pengisian
teknik bulk. Nilai rerata kekerasan pada
incremental dan kelompok B dengan
kelompok yang menggunakan teknik
teknik pengisian bulk. Hasil pengukuran
incremental lebih tinggi, yaitu 108,67
yang didapat sesuai dengan rumus
VHN, sementara kelompok dengan
penghitungan nilai kekerasan permukaan
teknik bulk memiliki rerata kekerasan
resin komposit yang dilakukan secara
yang lebih rendah, yaitu 89,2 VHN.
digital oleh alat vickers hardness test.
Sebelum dilakukan uji analisis
Hasil pengukuran sampel dapat dilihat
perbandingan antar kelompok penelitian,
pada tabel 1.
terlebih dahulu dilakukan uji normalitas
pada masing-masing kelompok dengan
menggunakan uji Kolmogrov Smirnov.
Hasilnya seluruh kelompok penelitian
mempunyai p lebih besar dari 0,05
Andalas Dental Journal Page |

(p>0,05) yaitu p=1,197 yang berarti data Tabel 2. Hasil uji statistik nilai
kekerasan sampel
pada seluruh kelompok penelitian
Rerata Standar P-
tersebut berdistribusi normal. Kelompok N
( ) deviasi value
Gambaran distribusi nilai kekerasan
A
pada dua kelompok sampel dapat 10 108,67 2,194
(Incremental)
dijelaskan pada grafik 1. 0,000*
B
10 89,20 1,607
(Bulk)
Grafik 1.Grafik box plot hasil pengukuran
kekerasan pada setiap kelompok
* : signifikan p<0,05

Berdasarkan uji statistik tersebut


diketahui bahwa kedua kelompok
penelitian mempunyai p lebih kecil dari
0,05 (p<0,05) yaitu p=0,000 yang berarti
data pada kedua kelompok penelitian
tersebut memiliki perbedaan nilai
Berdasarkan grafik 1 dapat kekerasan permukaan yang signifikan
disimpulkan bahwa kelompok sampel atau bermakna.
yang menggunakan teknik incremental
dengan rata-rata kekerasan 108,67 VHN PEMBAHASAN
memiliki nilai maksimal 111,67 VHN Penelitian ini dilakukan untuk
dan nilai minimal 105,33 VHN. menemukan perbedaan kekerasan
Sementara kelompok sampel yang permukaan bahan restorasi resin
menggunakan teknik bulk dengan rata- komposit hybrid yang diaplikasikan
rata kekerasan 89,2 VHN memiliki nilai dengan teknik incremental dan teknik
maksimal 91,5 VHN dan nilai minimal bulk. Pada beberapa literatur dijelaskan
86,7 VHN. bahwa teknik incremental lebih baik
Untuk mengetahui apakah dibandingkan teknik bulk karena
perbedaan nilai kekerasan dua kelompok memiliki c-factor yang rendah sehingga
tersebut signifikan, maka dilakukan uji dapat mengurangi polymerization
statistik independent group t-test dengan shrinkage dan meningkatkan kekerasan
nilai p<0,05. Hasil uji statistik tersebut resin komposit.5,8,11 Teknik incremental
dapat dilihat pada tabel 2. juga dapat mengurangi microleakage
Andalas Dental Journal Page |

pada restorasi, karena teknik incremental merupakan perbandingan antara


dapat meningkatkan perlekatan bahan permukaan yang berikatan dengan
restorasi dengan permukaan kavitas permukaan yang bebas. Semakin tinggi c-
sehingga mengurangi terjadinya factor maka semakin tinggi potensi
microleakage dan meningkatkan terjadinya stress pengerutan
kekerasan resin komposit.16 polimerisasi.21 Proses polimerisasi terjadi
Teknik incremental dikembangkan secara biokimia yang dimulai dari
akibat keterbatasan kemampuan penetrasi monomer yang membentuk ikatan
sinar selama curing resin komposit pada kovalen sehingga satu atau lebih dari
teknik bulk yang dapat menyebabkan sepasang elektron dan monomer saling
resin komposit mengalami polimerisasi berikatan membentuk hubungan rantai.
yang tidak sempurna. Teknik incremental Namun transformasi biokimia ini
dapat menghasilkan polimerisasi dengan menyebabkan volume monomer
sinar secara optimal sehingga semua berkurang dan terjadi penyusutan
bagian restorasi dapat berikatan dengan (polymerization shrinkage). Oleh karena
struktur gigi.14 Selain itu, teknik itu, hubungan antara c-factor dan
incremental juga berhubungan dengan polymerization shrinkage dengan
volume polimerisasi bahan restorasi, kekerasan adalah semakin tinggi c-factor
dimana semakin sedikit volume bahan dan polymerization shrinkage maka
polimerisasi maka semakin sedikit semakin rendah kekerasan bahan resin
volume polymerization shrinkage. Oleh komposit dan begitu sebaliknya.22
karena itu, teknik incremental dapat Berdasarkan hasil penelitian ini
mengatasi pengurangan volume resin diketahui bahwa penggunaan teknik
komposit akibat shrinkage setelah incremental menghasilkan kekerasan
polimerisasi, yaitu dengan yang lebih baik dibandingkan teknik
mengkompensasikan pengurangan bulk. Hal ini dapat disimpulkan karena
volume oleh shrinkage yang terjadi yang mempengaruhi polymerization
setelah polimerisasi pada lapisan shrinkage tidak hanya matriks organik
sebelumnya dengan cara memberi lapisan saja namun juga partikel filler, dimana
di atasnya.13 semakin kecil partikel filler maka
Sifat kekerasan resin komposit semakin meningkat polymerization
berhubungan dengan c-factor dan shrinkage yang terjadi.23
polymerization shrinkage. C-factor
Andalas Dental Journal Page |

Selain itu, aplikasi teknik diaktivasi dengan sinar LED, dapat


incremental dapat dikontrol dengan disimpulkan bahwa :
pemberian sinar dengan light curing 1. Rerata kekerasan pada kelompok yang
LED. Pada saat penelitian dilakukan, menggunakan teknik incremental lebih
sampel disinar dengan light curing LED tinggi, yaitu 108,67 VHN,
dengan jarak 0 mm sehingga sinar yang dibandingkan kelompok dengan teknik
diberikan pada setiap sampel bersifat bulk yang memiliki rerata kekerasan
konsisten. Kemudian dilihat dari efisiensi lebih rendah, yaitu 89,2 VHN.
energi light curing, yaitu relasi antara 2. Terdapat perbedaan bermakna
input daya (panas) dan sinar yang (p<0,05) antara kelompok yang
dihasilkan, diketahui bahwa LED menggunakan teknik incremental
mempunyai efisiensi energi sebesar 13%. dengan kelompok yang menggunakan
Efisiensi energi tersebut lebih baik teknik bulk.
dibandingkan light curing yang lain
seperti QTH yang memiliki efisiensi SARAN
energy 0.7%, PAC sebanyak 0.2%, dan 1. Hasil dari penelitian ini agar dapat
Argon Laser Lamps sebanyak 0.02%.3 diaplikasikan oleh dokter gigi pada
Jadi, pengontrolan sinar dengan light prakteknya sehari-hari.
curing LED dapat mengurangi 2. Penelitian dilanjutkan dengan
polymerization shrinkage akibat membandingkan kekerasan resin
kurangnya ketelitian saat melakukan komposit pada klasifikasi kavitas GV
teknik incremental. Black secara in vitro.
3. Selain meneliti sifat kekerasan, untuk
KESIMPULAN selanjutnya diharapkan dilakukan
Dari hasil penelitian tentang penelitian tentang sifat kekuatan bahan
perbedaan kekerasan resin komposit restorasi resin komposit yang
hybrid yang menggunakan teknik diaplikasikan dengan teknik
incremental dengan teknik bulk yang incremental dan teknik bulk.
Andalas Dental Journal Page |

KEPUSTAKAAN 11. Lynch, Christopher D. 2008. Succesful


Posterior Composites. Quint Essentials.
1. Mukka Pratap Kumar, Reddy Amarender.
2011. A Stereo Microscopic Evaluation of 12. Kwon, Youngchul. 2012. Effect of layering
MicroLeakage – Laser versus Visible Light methods, composite type, and flowable liner
Cured Class V Composite Resin on the polymerization shrinkage stress of
Restorations – An Invitro Study. Maghna light cured composites. Elsevier Jurnal
Institute of Dental Science, India. Dental Materials, Volume 28, Issue 7, July
2012, Pages 801–809.
2. Anusavice,Kenneth Philips. 2004. Ilmu
Bahan Kedokteran Gigi. Edisi X. Jakarta: 13. Moezyzadeh,M. 2009. Effect of Different
ECG. Placement Technique on Microleakage of
Class V Composite Restorations. Diakses
3. Lindberg, Anders. 2005. Resin Composites, dari http://journals.turns.ac.ir pada tanggal
Sandwich Restoration and Curing 20 Oktober 2012. Jurnal 2009 ; Vol.6, No.3.
Techniques. Departemen of Dental
Hygienist Education, Faculty Medicine, 14. Jakfar, Subhaini. 2009. Kekuatan Ikatan
Ume University. Sweeden : Silfjadern Antar Lapisan Restorasi Komposit dengan
Offset AB. Teknik Tumpat Incremental. Dentika Dental
Jurnal,Vol.14, No. 1, 2009 : 74-77.

4. Tarigan, Iiyani H. 2011. Pengaruh Lama 15. Sesemann,Michael R. 2012. Placing a Bulk
Perendaman dalam Minuman Ringan Fill Composite to Achieve Preictable and
Berkarbonat terhadap Kekerasan Resin Esthetic Posterior Restoration. Nebraska
Komposit Sinar. Diajukan untuk memenuhi Institute of Comprehensive Dentistry,
tugas dan melengkapi syarat guna Omaha
memperoleh gelar Sarjana Kedokeran Gigi,
Universitas Sumatera Utara. 16. Lopes, Guilherme Carpena et all. 2004.
Effect of Posterior Resin Composite
5. O’Brien,William J. 2002. Dental Materials Placement Technique on the Resin-Dentin
and Their Selection 3rd Ed. School of Interface Formed In Vivo. Quintessence
Dentistry, University of Michigan. USA : International Journal ; Vol. 35, No.2.
Quintessence Publishing Co, Inc.
17. Loguercio AD, Reis A, Ballester RY. 2004.
6. Apsari Anindita, Munadziroh Eli, Polymerization Shrinkage Effects of
Yogiartono Muhammad. 2009. Perbedaan Constraint and Filling Technique in
Kebocoran Tepi Tumpatan Resin Komposit Composite Restoration. J Dent Mat ; 20:
Hybrid yang Menggunakan Sistem Bonding 236-43.
Total Etch dan Self Etch. Jurnal PDGI;
Vol.58;No. 3; hal 75-81 18. Duarte,Sillas. 2007. Influence of Resin
Composite Insertion Technique in
7. Susanto AA. 2005. Pengaruh ketebalan dan Preparation with a High C-Factor.
lamanya penyinaran terhadap kekerasan Quintessence International Journal ; Vol. 38,
permukaan resin komposit sinar. Dental J. No.10.
2005;38(1):32-5.
19. Lazarchik, DA, BD Hammond, CL Sikes.
8. Powers JM, Sakaguchi RL. 2003. Craigs’s 2007. Hardness comparison of bulk-
Restorative Dental Materials 12th ed. USA : filled/transtooth and incremental-
Mosby. filled/occlusally irradiated composite resins.
The Journal of Prosthetic Dentistry,Volume
9. Anusavice,Kenneth Philips.2006. Science of 98, Issue 2; (129–140).
Dental Material. 11th edition. USA.
20. Gordon England Company. Vickers
10. Florida.Fitriyani,Sri, Ellyza Herda. 2008. Hardness Test.
Perkembangan Sumber Cahaya di Bidang <http://www.gordonengland.co.uk /hardness
Kedokteran Gigi. Dentika Dental Jurnal, /vicker.htm> (diunduh 6 Desember 2012 :
Vol.13 No.1; (98-101). 23.21WIB)
Andalas Dental Journal Page |

21. Verawaty. 2006. Efek polimerisasi terhadap


kualitas restorasi resin komposit. Dentika
Dent J; 11(suppl) : 251-5.

22. Norman, Sarah. 2011. No Evidence To


Compare Polymerization Shrinkage And
Sensitivity With Incremental-Fill vs. Bulk-
Fill Composites. San Antonio : UT Health
Science Center, Dental School.

23. Sutrisno, Gatot. 2010. Composite Resin.


Jakarta : Ilmu Konservasi Gigi FKG UI,
Universitas Indonesia.