Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN KARAKTER BAGI GENERASI Z

Pipit Fitriyani
Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Ahmad Dahlan
Yogjakarta, Indonesia
fitriyanipipit12@gmail.com

ABSTRAK - Undang-undang (UU) No.20, metode pembelajaran sebagai solusi terbaik untuk
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan memperbaiki kualitas pendidikan melalui sekolah.
Nasional pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan Terlepas dari berbagai kekurangan dalam
kemampuan dan membentuk watak serta praktik pendidikan, apabila dilihat dari standar
peradaban bangsa yang bermartabat dalam nasional pendidikan yang menjadi acuan
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pengembangan kurikulum, dan implementasi
bertujuan untuk berkembangnya potensi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan
peserta didik agar menjadi manusia manusia
pendidikan sebenarnya dapat dicapai dengan baik.
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi yang harus diajarkan dan dikuasai serta
warga Negara yang demokratis serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan
bertanggung jawab. Berbagai persoalan moral, sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter
budi pekerti, watak atau karakter, masih di sekolah selama ini baru menyentuh pada
menjadi persoalan signifikan yang menghambat tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan
pembangunan dan cita-cita luhur bangsa kita, belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan
seperti: meningkatnya dekandensi moral, nyata dalam kehidupan sehari-hari.
etika.sopan santun para pelajar, meningkatnya
ketidakjujuran pelajar, seperti mencontek, suka Sekolah merupakan kesatuan dari adanya
bolos, suka mengambil barang milik orang lain, proses pembelajaran itu sendiri, sehingga perlu
serta berbagai persoalan lainnya yang sekali adanya suatu terobosan yang jitu untuk
mengarah meningkatkan kualitas dari sekolah tersebut,
mulai dari berbagai pelatihan untuk meningkatkan
Kata kunci: Pendidikan Karakter, Generasi Z
kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara
periodik, perbaikan sarana dan prasarana
pendidikan, sampai dengan meningkatkan
I. PENDAHULUAN
manajemen berbasis sekolah. School
Perkembangan teknologi pada saat ini Improvement yang dipandang sebagai solusi
semakin canggih sehingga mampu mempengaruhi terbaik untuk memperbaiki kualitas pendidikan
proses belajar mengajar, baik pada media, alat melalui sekolah. Selanjutnya peran dari leadership
peraga, sumber belajar ataupun lainnya. Hal ini dalam school improvement juga sangat besar,
sangat mempengaruhi peran dari kepala sekolah karena walau bagaimanapun, arah suatu perbaikan
dan guru yang profesional dalam menyiapkan sekolah dipengaruhi oleh pola dari leadership.
siswa generasi Z, mulai dari peran kepala sekolah
Sebagai upaya untuk meningkatkan
sebagai pendidik, pengajar, administrasi,
kesesuaian dan pendidikan karakter yang
supervisor dan juga kemampuan mengembangkan
berwawasan mutu terpadu, Kementerian
guru, kemampuan mengikuti perkembangan di
Pendidikan Nasional mengembangkan grand
bidang pendidikan, dan guru dalam penguasaan
design pendidikan karakter untuk setiap jalur,
materi,keterampilan dalam menggunakan multi
jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7 307


Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

menjadi rujukan konseptual dan operasional sehingga orang bebas membandingkan kehidupan
pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada dengan negara lain.
setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi
Menurut Tilaar, bukan saja bagi para
karakter dalam konteks totalitas proses psikologis
profesional, juga bagi masyarakat luas pun
dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam:
terdapat suatu gerakan yang menginginkan
Olah Hati (Spiritual and emotional development),
adanya perubahan sekarang juga dalam hal usaha
Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga
peningkatan mutu atau mutu pendidikan. Oleh
dan Kinestetik (Physical and kinestetic
karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan
development), dan Olah Rasa dan Karsa
sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah
(Affective and Creativity development).
bersaing dengan sumber daya manusia di negara-
Pengembangan dan implementasi pendidikan
negara lain.
karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada
grand design tersebut. Pendidikan karakter adalah pendidikan
yang menyeimbangkan ilmu pengetahuan (iptek)
dengan ilmu agama (imtak), sehingga Individu
II. PEMBAHASAN TEORI memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik
atau unggul, dan mampu bertindak sesuai potensi
Hakikat pendidikan karakter bagi bangsa
dan kesadarannya tersebut. Karakter ini sangat
Indonesia
dihargai dan tentu berguna serta tidak akan sia-
Dalam Pembukaan Undang-undang Dasar sia. Undang-Undang Republik Indonesia nomor
1945 memuat cita-cita pendidikan bangsa 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan
Dengan itu, harkat dan martabat seluruh warga tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan
negara akan dapat terwujud. Salah satunya dalam mengembangkan upaya pendidikan di
dengan adanya sekolah dan sistem sekolah Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,
sebagai suatu lembaga sosial dan pendidikan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
dipilih dan ditempatkan diantara sistem dan membentuk watak serta peradaban bangsa
kelembagaan yang telah ada. yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk
Menurut Suyata (1998), fungsi utama
berkembangnya potensi peserta didik agar
sekolah awalnya adalah pengajaran namun dalam
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
perkebangannya sekolah berfungsi majemuk
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
dengan pendidikan sebagai intinya, persoalan
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
jumlah dan siapa yang perlu memperoleh
menjadi warga negara yang demokratis serta
pendidikan kiranya cukup jelas, yaitu semua
bertanggung jawab”.
rakyat pembentuk bangsa kita. Sedangkan yang
perlu dipikirkan dan diusahakan adalah kualitas Karakter bangsa haruslah berdasarkan
pendidikan atau mutu kecerdasannya, serta cara nilai-nilai Pancasila. Kalau sudah dipahami, maka
mencapainya merupakan implikasi pesan utama nilai-nilai pancasila mudah dikembangkan. Perlu
cita-cita yang diletakkan oleh pendiri Republik kita sadari bahwa pendidikan dalam membangun
Indonesia dan pengisisan pesan tersebut perlu umat, menempati posisi yang sangat strategis.
dicari, dikaji dan dikembangkan. Dan perlu kita hayati bersama bahwa pendidikan
merupakan kunci masa depan bangsa kita.
Memasuki abad ke 21 gelombang
globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajuan Pendidikan berkarakter harus berjalan
teknologi dan perubahan yang terjadi secara baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun
memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia psikomotorik dalam mempersiapkan generasi
tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di muda bagi keberlangsungan kehidupan
tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7


308 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

depan. Persiapan dengan mewariskan budaya dan Karakter bangsa yang kini menjadi sorotan
karakter bangsa yang telah menjadi ciri khas pada berbagai aspek kehidupan adalah kejujuran.
bangsa Indonesia. Dengan kata lain, peserta didik Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai
akan selalu bertindak, bersikap yang mencirikan barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya
budaya dan karakter bangsa. Hal ini sesuai nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya
dengan fungsi utama pendidikan yang menyontek, berbohong kepada guru akan
diamanatkan dalam UU Sisdiknas, berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil
“mengembangkan kemampuan dan membentuk yang akan diperoleh. Nilai kejujuran dapat
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dikembangkan melalui kantin kejujuran, sehingga
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. materi atau pokok bahasan dalam mata pelajaran
Pendidikan berkarakter merupakan inti dari suatu dapat langsung dipraktekkan. Kantin kejujuran
proses pendidikan. Dalam mengembangkan merupakan salah satu strategi yang tepat agar
pendidikan karakter, kesadaran akan siapa dirinya siswa belajar dan berlatih mengimplementasikan
dan kepedulian terhadap kemajuan bangsa akan nilai-nilai antikorupsi dan sebagai wadah bagi
terasa teramat penting. pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang
berwatak antikorupsi.
Nilai-nilai dalam pendidikan karakter dan
dampaknya bagi pelajar Indonesia Toleransi
Karakter bangsa Indonesia adalah karakter Toleransi adalah sikap dan tindakan yang
yang dimiliki warga negara Indonesia berupa menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu pendapat, perilaku orang lain yang berbeda dari
kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di dirinya. Berbagai kerusuhan (tawuran) dan
Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan karakter kekerasan (perusakan sarana umum)
bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan diminimalisasikan dengan saling bertoleransi. Rasa
nilai-nilai yang mendasari suatu kebajikan toleransi harus selalu tertanam dan dipahami agar
sehingga menjadi sebuah solusi untuk generasi muda terlepas dari permasalahan. Tidak
meningkatkan mutu pendidikan Pendidikan mungkin ada toleransi jika kelakuan moral tidak
karakter yang berhasil diterapkan akan diperkenalkan secara baik melalui pendidikan
menghasilkan nilai-nilai sebagai berikut: karakter. Permasalahan timbul karena adanya
perbedaan, karena itulah kita membutuhkan
Religius
toleransi dalam proses pendidikan supaya
Kehidupan individu, masyarakat, dan tercipta suasana yang kondusif dan damai. Seperti
bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan menghargai guru, menghargai pendapat teman,
kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, saling membantu menuju kesuksesan.
maka nilai religius merupakan pendidikan
Disiplin
karakter bangsa yang utama. Melihat nilai relijius
yang semakin memudar dalam perkembanggan Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa
zaman, maka harus diterapkan sejak dini dalam menggunakan waktu dengan sebaiknya, dalam arti
proses pendidikan baik formal ataupun tidak. tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang
Berdo‟a sebelum dan sesudah belajar, berbuat tidak bermanfaat atau sia-sia. Dalam lingkup nilai
baik kepada sesama, mengormati dan patuh disiplin, Indonesia masih jauh tertinggal dari
kepada kedua orang tua dan sebagainya bangsa lain yang sukses menerapkan nilai
merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah kedisiplinan. Kenyataan dilapangan, kebiasaan
menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan seperti terlambat masuk kelas/ menghadiri rapat,
melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sering tidak hadir, (baik pengajar atau peserta
sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan. didik), mengakhiri pelajaran sebelum waktunya
masih sangat mudah ditemukan. Apabila dunia
Jujur
pendidikan gagal menanamkan sikap disiplin

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7 309


Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

terhadap peserta didik, berarti para guru dan yang demokratis akan menghasilkan lulusan yang
dosen siap mengantarkan bangsa di negeri ini mampu berpartisipasi dalam kehidupan
kelapisan bawah dari bangsa-bangsa dunia yang masyarakat dan mampu mempengaruhi
telah maju peradabannya. pengambilan keputusan kebijakan publik[9].
Demokrasi dapat berupa saling bertukar
Kerja Keras
pendapat dalam forum diskusi, mengajukan
Keberhasilan diperoleh melalui usaha. pemikiran dalam musyawarah, memilih pemimpin
Kerja keras yang dilakukan meliputi rajin belajar, kelas/ sekolah dan sebagainya.
membuat tugas dengan sungguh-sungguh, dan
Rasa Ingin Tahu
bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya
penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak Minat dalam proses belajar adalah rasa
dan kewajiban, akan melahirkan peserta didik ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika
yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu
Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam dibiasakan, maka menerima materi akan mudah
mencapai tujuan akhir pendidikannya. dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu
menggali ilmu, mencari informasi, melakukan
Kreatif
suatu hal yang baru.
Alternatif lain yang digunakan untuk
Semangat Kebangsaan
mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran
yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, Patriotisme menjadi modal awal dalam
karena mampu menghasilkan karya-karya yang keinginan memajukan bangsa negara Indonesia.
baru seperti karya sastra, karya seni, tidak Dengan semangat kebangsaan, rasa saling
terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari berhubungan akan tetap terasa dalam mengisi
jiwa imitasi. Kreatifitas dapat menyeimbangkan hari kemerdekaan. Siswa yang patriotisme akan
otok kiri dengan otak kanan. Sehingga hasil karya hikmat mengikuti upacara dan aktif dalam
anak bangsa seperti penciptaan robot sebagai berbagai kegiatan kebangsaan seperti PMI.
tekhnologi dapat mengangkat pendidikan
Cinta Tanah Air
Indonesia dimata dunia.
Dari nilai cinta tanah air, kepedulian
Mandiri
terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang
Siswa mandiri akan terlepas dari sangat menonjol dalam kepribadian. Dalam segi
ketergantungan terhadap bantuan yang diberikan aplikatif cinta tanah air dapat diwujudkan dengan
oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan kesetiaan, kepedulian terhadap bahasa dan
dalam proses pembelajaran, seperti mengerjakan lingkungan, membeli produk anak bangsa dan
tugas sendiri, dan melengkapi bahan dalam berbagai aspeknya.
pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk
Menghargai Prestasi
terbiasa menggunakan kemampuan yang
dimilikinya. Jadi, generasi muda harus mandiri Prestasi yang diperoleh harus dihargai
dalam mengerjakan kewajiban yang telah sebagai buah perjuangan yang telah dipetik.
diberikan. Dengan berbagai sarana yaitu berbagi ilmu
terhadap sesama, dan selalu menggali potensi
Demokrasi
diri.
Dalam undang-undang sistem pendidikan
Bersahabat dan Komunikasi
nasional nomor 20 tahun 2003 bab III pasal 4
ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan Dalam aspek pendidikan keberhasilan
diselenggarakan secara demokratis dan sesalu diraih dengan saling bekerja sama karena
berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan perasaan senang telah tercipta dan komunikasi
menjunjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7


310 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

yang berjalan dengan baik (membentuk dilakukannya, baik terhadap diri sendiri,
kelompok diskusi) akan meningkatkan proses lingkungan masyarakat dan kepada Tuhan Yang
belajar menjadi lebih efisien. Maha Esa.
Cinta Damai Karakteristik Generasi Z
Kemampuan menciptakan suasana yang Menurut Tapscottdalam Islami (2016),
bersahabat dan bernuansa damai, sehingga generasi Z adalah golongan yang dilahirkan tahun
keadaan yang kondusif dalam proses 1998 hingga 2009. Generasi Z adalah generasi
pembelajaran dapat diwujudkan. Permasalan teknologi. Mereka telah mulai mengenal internet
diselesaikan dengan cara damai dan adil. Sikap dan web seiring dengan usia mereka sejak
menerima kekukurangan dan menghargai mereka masih kecil. Generasi Z telah dikenalkan
kelebihan dengan terbuka dan saling pengertian. dengan dunia laman sosial sejak kecil. Generasi Z
adalah orang yang lahir ketika teknologi telah
Gemar Membaca
menguasai dunia, oleh karena itu generasi ini
Dengan gemar membaca, pelajar dapat dikenal sebagai thesilentgeneration, generasi
membuka cakrawala yang luas. Pepatah senyap dan generasi internet. Generasi Z,
mengatakan “Membaca Buku Berarti Membuka disebut juga iGeneration atau generasi internet
Jendela Dunia”. Informasi yang diperoleh (Putra, 2016).
menjadikan peserta didik memiliki potensi awal
Generasi Z memiliki kesamaan dengan
yang sangat baik, sehingga dapat mengaitkan
generasi Y, tapi generasi Z mampu
berbagai ilmu yang dikuasai.
mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu
Peduli Lingkungan waktu (multi tasking) seperti: menjalankan sosial
media menggunakan ponsel, browsing
Upaya yang dilakukan sebagai bentuk
menggunakan PC, dan mendengarkan musik
pencegahan terhadap kerusakan lingkungan.
menggunakan headset. Apapun yang dilakukan
Implementasinya disekolah seperti membuang
kebanyakan berhubungan dengan dunia maya.
sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan,
Sejak kecil generasi ini sudah mengenal teknologi
kenyamanan lingkungan sekolah. Keadaan
dan akrab dengan gadget canggih yang secara
lingkungan sangat mempengaruhi proses
tidak langsung berpengaruh terhadap
pembelajaran, seperti lingkungan belajar yang
kepribadian.Bahkan, kemampuan teknologi
bersih akan menciptakan suasana senang sehingga
mereka seakan bawaan dari lahir.Ketika platform
pikiran lebih terbuka untuk menerima materi.
seperti Facebook dan Twitter pertama kali
Peduli Sosial keluar, millennial dan generasi yang lebih tua
menggunakannya tanpa memikirkan dampak.
Sikap dan tindakan yang berjiwa sosial Seiring waktu, mereka menyadari bahwa
dengan saling membantu untuk mewujudkan mengumbar hidup di mata publik dapat dengan
kerukunan dan lingkungan yang damai serta mudah menghantui mereka. Generasi Z telah
sejahtera dalam dunia pendidikan. Apabila ada belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut dan
kemalangan dari warga sekolah diwujudkan memilih platform yang lebih bersifat privasi dan
dengan rasa empati, mengumpulkan dana tidak permanen.
bantuan.
Generasi Z dikenal lebih mandiri daripada
Bertanggung Jawab generasi sebelumnya. Mereka tidak menunggu
Bertanggung jawab berarti berani orangtua untuk mengajari hal-hal atau memberi
mengambil resiko terhadap tindakan yang telah tahu mereka bagaimana membuat keputusan.
diperbuat. Peserta didik sangat dituntut untuk Apabila diterjemahkan ke tempat kerja, generasi
bertanggung jawab terhadap apa yang telah ini berkembang untuk memilih bekerja dan
belajar sendiri. Tanpa diragukan lagi, generasi Z

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7 311


Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

akan menjadi generasi yang paling beragam yang Lembaga pendidikan atau sekolah saat ini
memasuki lapangan kerja dalam sejarah Amerika sedang dipenuhi generasi Z, kesadaran pengelola
Serikat. Mereka terdiri dari berbagai bagian dari sekolah (kepala sekolah, guru dan karyawan)
kelompok ras atau etnis minoritas. Mereka juga untuk menghadapi generasi Z menjadi sangat
dibesarkan untuk lebih menerima dan penting. Karena sekolah merupakan salah satu
menghormati lingkungan dibanding generasi institusi yang dipercaya untuk menyiapkan
orang-orang sebelumnya.Generasi Z generasi dimasa yang akan datang. Jika sekolah
menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar tetap menerapkan model pembelajaran persis 10
prioritas. Tentu saja, mereka ingin membuat tahun lalu dengan tidak memperhatikan
perbedaan, tetapi hidup dan berkembang adalah perkembangan zaman, bisa diyakini generasi Z ini
lebih penting. tidak akan terdidik dengan baik. Lalu apa yang
harus dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam
Dill (2015) mengemukakan bahwa Forbes
mendidik generasi Z agar selain pandai dalam
Magazine membuat survei tentang generasi Z di
teknologi juga memiliki karakter yang baik.
Amerika Utara dan Selatan, di Afrika, di Eropa, di
Pertama memanfaatkan teknologi informasi. Salah
Asia dan di Timur Tengah. 49 ribu anak-anak
satu karakteristik Generasi Z akan produktif jika
ditanya. Atas dasar hasil itu dapat dikatakan
tetap terhubung internet dan media sosial.
bahwa generasi Z adalah generasi global pertama
Karenanya sekolah harus memasukan nilai-nilai
yang nyata.. Smartphone dan media sosial tidak
karakter yang baik dalam memanfaatkan
dilihat sebagai perangkat dan platform, tapi lebih
teknologi ini sebagai media pembelajaran agar
pada cara hidup. Kedengarannya gila, tapi
peserta didik produktif dalam teknologi namun
beberapa penelitian mendukung klaim ini. Sebuah
tetap menjaga nilai karakter yang dimiliki setiap
studi oleh Goldman Sachs menemukan bahwa
peserta didik.
hampir setengah dari Gen Zers terhubung secara
online selama 10 jam sehari atau lebih. Studi lain Pengawasan terhadap penggunaan
menemukan bahwa seperlima dari Z Gen smartphone dalam pembelajaran adalah salah
mengalami gejala negatif ketika dijauhkan dari satu contoh penjagaan dan memanfaatkan
perangkat smartphone mereka. Cepat merasa teknologi agar siswa tetap produktif namun tetap
puas diri bukanlah sebuah kata yang menjaga karakter yang dimiliki. Pembelajaran
mencerminkan generasi Z. Sebanyak 75% dari melalui sosial media tetap harus dikembangkan
Gen Z bahkan tertarik untuk memegang sekolah namun dengan pengawasan. Karena pada
beberapa posisi sekaligus dalam sebuah anak generasi Z cenderung aktif disosial media
perusahaan, jika itu bisa mempercepat karier maka kita harus lebih bijak memanfaatkan sosial
mereka. media sebagai tempat belajar dan menjaga agar
tidak melenceng dari norma yang ada, contohnya
Bagi generasi Z informasi dan teknologi
saja membuat grup belajar dari Facebook,
adalah hal yang sudah menjadi bagian dari
WhatsApp, dan sebagainya tetapi dari guru ada
kehidupan merek, karena mereka lahir dimana
yang masuk dalam grup tersebut dan penilaian
akses terhadap informasi, khususnya internet
tidak hanya sekedar dari hasil siswa tapi juga
sudah menjadi budaya global, sehingga hal
memasukan unsur karakter baik kejujuran, kata
tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai,
yang sopan atau kerja sama dalam indicator
pandangan dan tujuan hidup mereka. Bangkitnya
penilaian, sehingg adengan sosial media tersebuat
generasi Z juga akan menimbulkan tantangan
dapat belajar dimana saja dan kapan saja, guru
baru bagi praktek manajemen dalam organisasi,
juga dapat mengawasi siswa dimana saja dan
khususnya bagi praktek manajemen sumber daya
kapan saja. Kedua metode pembelajaran.
manusia.
Generasi Z adalah generasi yang nyaman bekerja
Menyiapkan Generasi Z yang berkarakter dalam dunia global.

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7


312 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

Dalam alam pikiran mereka sudah banyak baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun
informasi yang mereka dapatkan. Dalam otaknya psikomotorik dalam mempersiapkan generasi
terlalu banyak variable-variable yang harus muda bagi keberlangsungan kehidupan
mereka hubungkan. Tugas sekolah adalah masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa
memberikan mereka bekal untuk depan.
menghubungkan antar variable tersebut bahkan
Pendidikan karakter bangsa diarahkan
memfilter variable-variable yang tidak bermanfaat
pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang
bagi kehidupannya, juga tetap mengingatkan akan
mendasari suatu kebajikan sehingga menjadi
karakter yang akan selalu dipakai peserta didik
sebuah solusi untuk meningkatkan mutu
seumur hidupnya.
pendidikan Pendidikan karakter yang berhasil
Metode pembelajaran yang menempatkan diterapkan akan menghasilkan nilai-nilai, yakni:
peserta didik sebagai objek sudah tidak mampu religius, jujur, toleransi, displin, kerja keras,
lagi untuk mendidik generasi Z.Guru harus kratif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu,
mempunyai kemampuan untuk mengembangkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
model pembelajaran Higher Order Thingking prestasi, bersahabat dan komunikasi, cinta damai,
Skill (HOTS) yang dalam Bahasa Indonesia gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial
dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat serta bertanggung jawab.
tinggi. Dimana siswa diajarkan untuk berpikir
Sesuai uraian tersebut, maka keluaran
kritis, logis, reflektif, metakognitif, berpikir kreatif
institusi pendidikan atau lembaga sekolah
dan diberi soal yang memberikan peluang peserta
seharusnya mampu menghasilkan orang-orang
didik untuk menghubungkan berbagai variable
yang pandai dan baik dalam arti yang luas, dimana
yang ada didalam soal dan menganalisa solusinya.
pendidikan untuk membuat anak pandai dan juga
Model pembelajaran Lower Order Thingking
mampu menciptakan nilai-nilai luhur sesuai
Skill (LOTS) yang mengandalkan hafalan atau soal
dengan karakter bangsa dan bisa mengikuti
yang langsung menerapkan rumus tanpa perlu
perkembangan zaman yang ada. Sehingga penting
berpikir lebih lanjut harus mulai dikurangi di
kiranya menanamkan nilai-nilai luhur atau
sekolah.
karakter dimulai sejak usia sekolah dasar/dini
agar peserta didik sudah memiliki paying dalam
III. KESIMPULAN menantang perubahan zaman baik dari teknologi
ataupun kemajuan zaman yang semakin.
Pendidikan karakter adalah pendidikan
yang menyeimbangkan ilmu pengetahuan (iptek)
dengan ilmu agama (imtak), sehingga Individu
memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik DAFTAR PUSTAKA
atau unggul, dan mampu bertindak sesuai potensi Chatib, Munif. 2013. Gurunya Manusia. Bandung: Kaifa
dan kesadarannya tersebut. Karakter bangsa
haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Kalau Danim, Sudarwan (2002). Inovasi Pendidikan dala Upaya
Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.
sudah dipahami, maka nilai-nilai pancasila mudah Bandung: Pustaka Setia
dikembangkan. Dan itu berlaku bagi generasi z
Dasim Budimansyah, (2010). Penguatan Pendidikan Karakter
yang mahir dalam teknologi, peserta didik yang Kewarganegaraan untuk
hebat adalah yang mampu menguasai dunia
dengan kemampuan dan akhlaknya. Perlu kita Dill, K. (2015). 7 ThingsEmployershouldknowaboutthe gen Z
workforce. Forbes Magazine,
sadari bahwa pendidikan dalam membangun 11(6),https://www.forbes.com/forbes/www.forbes.co
umat, menempati posisi yang sangat strategis. m/sites/kathryndill/2015/11/06/7-things-employers-
Dan perlu kita hayati bersama bahwa pendidikan should-know-about-the-gen-z-workforce/
merupakan kunci masa depan bangsa kita. Fitrah, M. (2017). Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan
Pendidikan berkarakter harus berjalan secara Mutu Pendidikan. Jurnal PenjaminanMutu, 3(1), 31-42.

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7 313


Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)
ISBN 978-602-50710-5-8 Jakarta, 23 – 25 Maret 2018 KNAPPPTMA KE-7

Furqon Hidayatullah, (2010). Pendidikan Karakter: Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Dosen
Pustaka.
Undang-Undang Guru dan Dosen UU RI No. 14 Tahun 2005
Helmi, Jhon. 2015. Kompetensi Profesionalisme Guru. Vol 7 & Undang-Undang Sisdiknas UU RI No. 20 Tahun
No 2. Halaman 318. 2003. Jakarta. Asa Mandiri. 2006. p. 5-6
Jamaludin, Noor Popoy. (1978). Ilmu Pendidikan, Bagian Ungin, Maria. (2013). “Studi tentang Kualitas Tenaga Pengajar
Proyek Peningkatan Mutu. PGAN DEPAG. Hal 1 (Guru) pada SMPN 17 Sendawar Kabupaten Kutai
Barat.” Dalam Jurnal Administrasi Negara. 1 (1). Hlm.
Jhen Fe Jau. 2003. Albert Einstein. Jakarta : PT Alex Media 97-108.99. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.
Kompuindo.
Uno, H.B. (2009). Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan
Marwiyah, S. (2012). Peranan Guru Dalam Meningkatkan Mutu Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi
Pendidikan. Ulul Albab, 14(1). Aksara.
Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press. Usman, H. dkk. 2011. Buku Kerja Kepala Sekolah.Jakarta:
Mulyasa, E. (2007). Manajemen dan kepemimpinan kepala Kemendiknas.
sekolah.Jakarta; Bumi Aksara UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional.Bandung:PT. Nasional
Remaja Rosda Karya Wahjosumidjo.(2002). Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta:
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, Pasal PT Raja Grafindo Persada,
52 Yunus, M. (2016). Profesionalisme Guru dalam Peningkatan
Permendiknas No. 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Mutu Pendidikan. Lentera Pendidikan,19(1),112-128.
Jabatan Fungsional Guru dan AngkaKreditnya
Putra, Y. S. (2016). TheoriticalReview: Teori Perbedaan
Generasi. AmongMakarti, 9(18), 123-134.
[1] G. Eason, B. Noble, and I. N. Sneddon, “On certain
Rahman, et.al. 2006. Peran Strategis Kepala Sekolah dalam integrals of Lipschitz-Hankel type involving products
Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jatinangor:Alqaprint. of Bessel functions,” Phil. Trans. Roy. Soc. London,
Saelan, Mauli. 2000. Pendidikan Harus Mendapatkan Perhatian vol. A247, pp. 529–551, April 1955. (references)
Serius. AMANAH. Hal 76. (Edisi No.54 Th XIII 7 [2] J. Clerk Maxwell, A Treatise on Electricity and
Mei- 7 Juni 2000). Magnetism, 3rd ed., vol. 2. Oxford: Clarendon,
Sergiovani, Thomas J, et.al. (1987). Educational Govermance 1892, pp.68–73.
And Administration. New Jersey: PrenticeHallInc [3] I. S. Jacobs and C. P. Bean, “Fine particles, thin films and
Sugiyono, 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: exchange anisotropy,” in Magnetism, vol. III, G. T.
Alfabeta Rado and H. Suhl, Eds. New York: Academic, 1963,
pp. 271–350.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D. Cetakan ke 20. Bandung: Alfabeta. [4] Medeley dowload pada URL ini:
https://www.mendeley.com/
Sumantri, E. (2010). Pendidikan Karakter Harapan Handal Bagi
Masa Depan Pendidikan [5] Endnote download pada URL ini: http://endnote.com/

Taspcott, Don (2008). GrownUp Digital: How the Net [6] K. Elissa, “Title of paper if known,” unpublished.
GenerationisChangingYour World. McGraw-Hill. [7] R. Nicole, “Title of paper with only first word
Triatna, C. 2017. Evaluasi Kinerja Guru Dan Upaya capitalized,” J. Name Stand. Abbrev., in press.
Penjaminan Mutu Sekolah. Jurnal [8] Y. Yorozu, M. Hirano, K. Oka, and Y. Tagawa,
AdministrasiPendidikan, 5(1). “Electron spectroscopy studies on magneto-optical
Triatna, C. 2017. Membangun Komunitas Belajar Profesional media and plastic substrate interface,” IEEE Transl. J.
Untuk Meningkatkan Mutu PendidikanDi Sekolah. Magn. Japan, vol. 2, pp. 740–741, August 1987
Jurnal AdministrasiPendidikan, 22(1). [Digests 9th Annual Conf. Magnetics Japan, p. 301,
1982].
Umaedi, Hadiyanto dan Siswantari. 2009. Manajemen Berbasis
Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka.

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 7


314 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah „Aisyiyah (APPPTMA)