Anda di halaman 1dari 90

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A DAN VITAMIN C

TERHADAP PERUBAHAN PEROKSIDASI LIPID PARU


PADA TIKUS YANG TERPAPAR ASAP ROKOK AKUT

THE EFFECT OF GIVING VITAMIN A AND VITAMIN C


ON LUNG LIPID PEROXIDASE ON ACUTE
CIGARETTE SMOKE EXPOSED RATS

RAFLY SUWANDHI WAHID

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A DAN VITAMIN C
TERHADAP PERUBAHAN PEROKSIDASI LIPID PARU
PADA TIKUS YANG TERPAPAR ASAP ROKOK AKUT

Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi
Biomedik Farmakologi

Disusun dan diajukan oleh

RAFLY SUWANDHI WAHID

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

ii
iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Rafly Suwandhi Wahid

NIM : P1503216007

` Program Studi : Biomedik Farmakologi

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-benar

merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan

atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat

dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya

bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Mei 2018

Yang Menyatakan

Rafly Suwandhi Wahid

iv
PRAKATA

Alhamdulillahi robbil alamin, puji dan syukur penulis panjatkan

kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat, Hidayah dan Ridho Mya

maka penulis dapat menyusun tesis ini sebagai salah satu syarat dalam

penyelesaian studi pada Program Studi Biomedik Farmakologi

Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Ide berupa gagasan yang diperoleh untuk melatar belakangi

permasalahan ini timbul dari hasil pengamatan penulis terhadap

pentingnya vitamin A dan vitamin C terhadap perubahan peroksidasi

lipid paru akibat paparan asap rokok melihat meningkatnya orang

meninggal akibat paparan asap rokok. Penulis bermaksud pemberian

vitamin A dan vitamin C yang merupakan antioksidan yang dapat

meredam stress oksidatif akibat paparan asap rokok sehingga

komplikasi yang akan kemungkinan akan timbul dapat ditimbulkan

oleh asap rokok dapat dicegah dengan menurunkan peroksidasi lipid

paru.

Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dalam rangka

penyusunan tesis ini, yang hanya berkat bantuan berbagai pihak, maka

tesis ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

v
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih

kepada:

1. Prof. Dr. Muhammad Ali, S.E., M.S sebagai Dekan Sekolah

Pascasarjana Universitas Hasanuddin

2. Dr. dr. Andi Mardiah Tahir, Sp.OG (K) sebagai Ketua Program

Studi Biomedik

3. Prof. dr. Peter Kabo, Ph.D., Sp.FK., Sp.JP (K) Sebagai Ketua

Komisi Penasehat

4. Yulia Yusrini Djabir, S.Si., MBMSC., M.Si., Ph.D., Apt sebagai

Sekertaris Komisi Penasehat

5. Dr. dr. Burhanuddin Bahar, MS. sebagai Anggota Komisi

Penasehat

6. Prof. Dr. Rosdiana Natsir, Ph.D sebagai Anggota Komisi

Penasehat

Atas bantuan, arahan dan bimbingan yang telah diberikan mulai dari

tahap pengembangan minat sampai ditemukannya permasalahan ini,

sampai dengan terselesaikannya penulisan tesis ini. Tak lupa pula

penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada ayahanda Dr. Ir.

Abdul Wahid, M.Si., Ibunda Susilawati, kakak saya Rheza Suwahyo

Wahid, S.Hut, adik saya Ririn Suwahyuni Wahid SKM, Reyhan

vi
Hendrawan wahid yang masih mengejar serjana hukumnya saya

ucapkan banyak terima kasih atas bantuan, dukungan dan doanya,

serta istri saya dr. Dian Pratiwi, S.Ked., atas segala dukungan

motivasinya, perhatian dan doanya serta kesabaran dalam membantu

segala hal untuk terselesaikan tesis ini dan anak saya tercinta

Muhammad Abizar Faizan Rafly yang saya sayangi dan cintai, selalu

dirindukan saat jauh dari rumah. Kepada rekan-rekan mahasiswa

Biomedik Farmakologi angkatan 2016 Nevi Sulvita Karsa, Hudayah,

Amelia Usmiah Musa, Dahlia Amil, Utami Murti Pratiwi, Nini

Sahrianti, Mirnawati Salampe, serta senior saya yang paling banyak

membantu Laswan Siallagan saya ucapkan banyak terima kasih. Dan

juga kepada semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu.

Dengan keterbatasan pengalaman, ilmu maupun pustaka yang

ditinjau penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan.

Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran agar tesis ini

bisa lebih baik untuk penelitin dan penulisan karya ilmiah di masa

yang akan datang.

vii
Akhir kata, penulis berharap tesis ini memberi manfaat bagi kita

semua terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang ramah

lingkungan.

Makassar, Mei 2018

Rafly Suwandhi Wahid

viii
ABSTRAK

RAFLY SUWANDHI WAHID. Pengaruh Pemberian Vitamin A dan Vitamin C


Terhadap Peroksidasi Lipid Paru pada Tikus yang Terpapar Asap Rokok Akut
(dibimbing oleh Peter Kabo dan Yulia Yusrini Djabir).

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar peroksidasi lipid paru akibat
paparan asap rokok dan yang tidak terpapar asap rokok, dan untuk mengetahui
pengaruh vitamin A, vitamin C serta kombinasi vitamin A dan vitamin C terhadap
kadar peroksidasi lipid paru akibat paparan asap rokok.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biofarmasi, Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin, pada bulan April – Mei 2018. Jenis penelitian ini berupa
penelitian eksperimental dengan desain post test kelompok. Subjek penelitian
adalah tikus wistar jantan putih yang memenuhi criteria inklusi sebanyak 30 ekor
sampel. Peroksidasi lipid paru dinilai dari kadar MDA paru dengan menggunakan
Spektofotometri dilanjutkan dengan perhitungan kadar MDA paru. Data diolah
dengan menggunakan Uji One-way Anova Post Hoc Tukey.
Pada kelompok 1 tikus sebagai kelompok kontrol sehat tanpa paparan asap
rokok dan tanpa perlakuan hanya diberikan aqua via sonde. Kelompok 2 sebagai
kelompok kontrol negatif tikus hanya diberikan aqua via sonde lalu diberikan
paparan asap rokok 5 batang/ hari selama 45 menit dalam 14 hari. Kelompok 3
tikus hanya diberikan vitamin A 50 IU/kgBB x 6,2 lalu diberikan paparan asap
rokok. Kelompok 4 tikus hanya diberikan vitamin C 100 mg/kgBB lalu diberikan
paparan asap rokok. Kelompok 5 diberikan kombinasi vitamin A dan vitamin C
lalu diberikan paparan asap rokok. Hasil penelitian menunjukkan kelompok 2
yang diberikan paparan asap rokok mengalami peningkatan MDA paru enam kali
lipat dari kelompok 1 kontrol sehat (p<0.05). Pada uji kelompok 3dengan
pemberian vitamin A menunjukkan penurunan kadar MDA paru sebesar 71 % dan
secara statistik dinyatakan signifikan terhadap kelompok kontrol negatif (p<0.05),
begitu pula pada kelompok 4 dengan pemberian vitamin C. Pada kelompok 5
kombinasi pemberian vitamin A dan vitamin C menunjukkan penurunan kadar
MDA paru sebesar 75 % namun secara statistik tidak berbeda signifikan terhadap
kelompok 3 dan 4.

Kata kunci : Asap rokok, Peroksidasi lipid, Malondialdehid, Vitamin A, Vitamin C

ABSTRACT

ix
RAFLY SUWANDHI WAHID. Effect of Vitamin A and Vitamin C on Lung Lipid
Peroxidation in Mice Exposed to Acute Cigarette Smoke (guided by Peter Kabo
and Yulia Yusrini Djabir).

The research aimed investigating the lung lipid peroxidase content due to
the exposure of cigarette smoke and no-exposure of cigarette smoke, and finding
out the influence of vitamin A, vitamin C and the combination vitamin A and
vitamin C on lung lipid peroxidase content due to cigarette smoke exposure.
This research was conducted in the Biopharmacy Laboratory, Faculty of
Pharmacy, Hasanuddin University from April to May 2018. This was the
experimental research with the post-test group design. The research subjects were
the white male wistar rats which fulfilled inclusive criterion with the samples as
many as 30 rats. The lung lipid peroxidase was assessed from the lung MDA
content using the Spectrophotometry and was continued with MDA content
calculation. The data were processed using One-Way ANOVA Post Hoc Tukey
Test.
The first Group, healthy rats as the control group without the cigarette
smoke exposure with treatment are just given aqua with sonde.The second group
as the negative control group, the rats are just given aqua with sonde they are
then exposed with the smoke from 5 cigaretts /day for 45 minutes in 14 days.The
third group, the rats are just given vitamin A 50 IU / kgBW X 6.2, they are then
given exposed to the cigarette smoke. The fourth group, the rats are just given
vitamin C 100 mg / kgBW, then are than exposed to the cigaratte smoke. The fifth
group, the rats are given combination vitamin A and vitamin C then exposed to
the cigarette smoke. The research results indicates the second group exposed to
cigarette smoke undergoes the lung MDA increase six times then the first goup,
the healthy control group (p <0.05). The test of the third group with the giving of
vitamin A indicates the lung MDA content decrease of 71% and is statistically
stated significant on the negative control (p <0.05), similary with the fourth group
bygiving vitamin C. The fifth group of the combination of vitamin A and vitamin C
indicated lung MDA content decrease of 75%, However, statistically it is not
significantly different to the third and fourth groups.

Keywords: Cigarette Smoke, Lipid Peroxidation, Malondialdehyde, Vitamin A,


Vitamin C

DAFTAR ISI

x
Halaman

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS iii

DAFTAR ISI xi

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan Masalah 6

C. Tujuan Penelitian 7

D. Hipotesis Penelitian 8

E. Manfaat Penelitian 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Rokok 9

B. Bahan-Bahan yang Terkandung Dalam Rokok 11

C. Paparan Asap Rokok 14

D. Peroksidasi Lipid 16

E. Malondialdehida (MDA) 18

F. Vitamin A 19

G. Vitamin C 25

BAB III. KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Teori 32

xi
B. Kerangka Konsep 32

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian 33

B. Tempat dan Waktu Penelitian 33

C. Populasi Penelitian 33

D. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel 33

E. Perkiraan Besar Sampel 33

F. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 33

G. Izin Penelitian dan Kelaikan Etik 34

H. Cara Kerja 34

I. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel 37

J. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 38

K. Alur Penelitian 39

L. Pengolahan dan Analisis Data 40

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 41

A. Hasil Penitian 41

B. Pembahasan 44

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 49

A. Kesimpulan 49

B. Saran 50

DAFTAR PUSTAKA 51

LAMPIRAN 59

xii
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Absorbansi dan konsentrasi larutan standard TMP (1,1,3,3

xiii
tetrametoksipropana) yang diukur dengan spektofotometri sinar

tampak pada panjang gelombang 532 nm............................ 41

2. Rata – rata kadar MDA paru....................................................... 42

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

Gambar 1. Pengaruh asap rokok terhadap pembentukan radikal 10

xiv
bebas........................................................................................

Gambar 2. Reaksi berantai peroksidasi lipid................................................ 16

Gambar 3. Proses peroksidasi lipid hingga terbentuk molandialdehida...... 17

Gambar 4. Kurva baku yang diperoleh dari pengukuran absorbansi 41

standar TMP (1,1,3,3 tetrametoksipropana) yang diukur

dengan spektofotometri sinar tampak pada panjang gelombang

532 nm........................................................................................

Gambar 5. Grafik MDA paru pada tiap tikus dalam setiap kelompok......... 43

Gambar 6. Grafik rata – rata MDA paru...................................................... 43

LAMPIRAN

Nomor

Halaman

Lampiran 1. Skema kerja prosedur pemaparan asap rokok dan 60

xv
pemberian vitamin.................................................................

Lampiran 2. Skema kerja preparasi dan evaluasi sampel organ paru 61

dengan metode Thiobarbituric Acid Reactive Substance

(TBARS).................................................................................

Lampiran 3. Kurva baku standar 1,1,3,3 Tetrametoksipropana (TMP)..... 62

Lampiran 4. Data absorbansi organ paru yang diukur dengan 63

spektofotometri......................................................................

Lampiran 5. Perhitungan dosis dan kadar MDA........................................ 65

Lampiran 6. Data analisis statistik dengan SPSS 20.0............................... 70

Lampiran 7. Gambar penelitian.................................................................. 73

Lampiran 8. Rekomendasi persetujuan kode etik...................................... 75

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, kerusakan sel/jaringan pada manusia sangat sering terjadi

akibat keberadaan radikal bebas. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, banyak

studi dilakukan untuk mengetahui peran radikal bebas dalam menimbulkan

kerusakan sel dan terjadinya bermacam kelainan tubuh. Radikal bebas, terutama

radikal bebas oksigen (Reactive Oxygen Species, ROS) dan derivatnya, mampu

mengoksidasi membran sel yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda

(Polyunsaturated Fatty Acid, PUFA). Proses oksidasi ini dikenal dengan

peroksidasi lipid (Hasanah SNR, 2008).

Peroksidasi lipid dalam jumlah yang tidak terkendali berefek langsung

terhadap kerusakan membran sel dan mengawali berbagai penyakit, seperti

jantung koroner, stroke, diabetes melitus, penuaan, dan lain-lain (Emami et al,.

2007). Selain itu, produk akhir peroksidasi lipid, malondialdehida, juga

dilaporkan sangat toksik terhadap membrane sel karena dianggap sebagai

inisiator suatu reaksi, karsinogen, dan mutagen (Indrayana R, 2008).

Saat ini manusia sangat mudah terpapar radikal bebas, sehingga berpotensi

meningkatkan peroksidasi lipid di dalam tubuh. Radikal bebas dapat timbul

akibat berbagai proses kimia kompleks dalam tubuh atau ketika tubuh terpapar

polusi lingkungan, seperti asap kendaraan bermotor, radiasi matahari, bahan

pencemar, dan asap rokok (Indrayana R, 2008).

1
Rokok sendiri merupakan salah satu polutan berupa gas dalam bentuk asap

yang mengandung berbagai bahan kimia yang memiliki dampak negatif seperti

karsinogenesis, iritan dan beracun (Lal. J, 2013). Kandungannya kurang lebih

4000 elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi

kesehatan (Lal. J, 2013, Cancer Researck UK, 2016). Dalam satu kali hisap,

perokok memasukkan kurang lebih 1016 molekul radikal bebas dan berbagai

bahan kimia tar, asbestos, H202 , dan lain-lain ke dalam tubuhnya (Cancer

Researck UK, 2016).

Asap rokok ini dapat mempengaruhi metabolisme makrofag dengan

mengaktifkan makrofag untuk melepaskan leukotrien B4, IL-8 dan TNF-α

menyebabkan meningkatnya produksi superoksida (O2-) dan H2O2, juga

menyebabkan kerusakan oksidatif makromolekul seperti lipid, protein, dan

DNA, dapat menghilangkan antioksidan, serta membentuk radikal bebas seperti

nitrit oksida (NO), nitrit peroksida (NO2) dalam fase gas serta quinone (Q),

semiquinone (HQ) dan hydroquinone (HQ2) dalam fase tar (Weldimira V dkk,

2013). Kadar radikal bebas dapat menyebabkan terjadinya kondisi stres oksidatif

serta memicu terjadinya peroksidasi lipid pada membran sel (Permatasari FR

dkk, 2013 ).

Bila terdapat radikal bebas dalam tubuh secara berlebih maka akan terjadi

perampasan elektron atom komponen struktural maupun fungsional sel

kemudian terjadi reaksi berantai dan berdampak negative (Fatimah I, 2014).

Sebenarnya, tubuh mempunyai sejumlah enzim dan zat yang dapat menetralkan

radikal bebas yang disebut antioksidan (Lal J, 2013). Namun tingginya kadar

2
radikal bebas dapat menyebabkan mekanisme pertahanan di dalam tubuh

melemah, sehingga antioksidan tidak mampu menetralisir efek radikal bebas.

Oleh karena itu, dibutuhkan suplemen antioksidan tambahan yang berasal dari

obat, makanan atau minuman (Sinaga FA, 2012. Darwadi dkk, 2013)..

Paparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko untuk timbulnya

berbagai macam penyakit, baik paparan akut maupun kronik. Paparan akut

seperti infeksi saluran napas dan paparan kronik seperti keganasan, penyakit

jantung koroner, stroke dan chronic obstructive pulmonary disease (COPD)

(Agustia and Faner, 2012). World Health Organization (WHO) menyebutkan

bahwa di dunia saat ini ada 6 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat rokok,

lebih dari 600.000 orang meninggal akibat paparan asap rokok lingkungan, dan

170.000 diantaranya adalah anak-anak (WHO, 2014). Lebih dari 97 juta

penduduk Indonesia yang bukan perokok terkena paparan asap rokok

lingkungan, 70% diantaranya adalah anak-anak usia < 15 tahun (Barber S, dkk.

2008). Anak-anak memiliki faktor risiko yang tinggi terkena infeksi saluran

napas akibat paparan asap rokok akut karena anak-anak masih dalam tahap

tumbuh kembang dan sistem imun yang belum sempurna (AAP, 2011).

Indonesia menempati peringkat ke 5 negara yang mengonsumsi rokok

terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 57 juta perokok. Lebih dari 200.000

penduduk Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang disebabkan

paparan asap rokok (Riskesdes, 2013). Perilaku merokok penduduk 15 tahun

keatas masih belum terjadi penurunan dari 2007 ke 2013, cenderung meningkat

dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3 persen tahun 2013. 64,9 persen laki-

3
laki dan 2,1 persen perempuan masih menghisap rokok tahun 2013. Ditemukan

1,4 persen perokok umur 10-14 tahun, 9,9 persen perokok pada kelompok tidak

bekerja, dan 32,3 persen pada kelompok kuintil indeks kepemilikan terendah.

Sedangkan rerata jumlah batang rokok yang dihisap adalah sekitar 12,3 batang,

bervariasi dari yang terendah 10 batang di DI Yogyakarta dan tertinggi di

Bangka Belitung (18,3 batang) (Riskesdes, 2013). Sekitar 19,8% perokok

pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun, dan 88,6% usia 13 tahun

(GYTS Indonesia, 2014). Diperkirakan radikal bebas pada asap rokok yang

masuk kedalam tubuh dalam satu kali hisap sebanyak 1014 molekul. Hal ini

akan menyebabkan stres oksidatif yaitu kondisi dimana beban oksidan berlebih

pada tubuh, ketidakseimbangan antara produksi ROS dan mekanisme pertahanan

antioksidan tubuh (Liu CM. et al., 2012). Stres oksidatif menyebabkan

terjadinya peroksidasi lipid dan kerusakan sel endotel. Kerusakan ini memicu

terjadinya reaksi inflamasi dan berakibat pada terjadinya pelepasan chemokine,

sejenis protein yang mengatur perjalanan leukosit dan membantu penarikan

leukosit ke tempat terjadinya inflamasi (Huzen J, dkk. 2014).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok akut

berpengaruh baik pada hewan maupun manusia. Paparan asap rokok

meningkatkan sekresi mediator inflamasi dari berbagai jenis sel yang berbeda

diantaranya sel epitel, makrofag dan neutrofil (Metcalfe HJ, dkk 2014).

Penelitian Ahmed (2016) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah

leukosit pada perokok, dimana peningkatan yang signifikan terjadi pada perokok

akut. Penelitian Lymperaki et al (2015) juga menunjukkan bahwa terjadi

4
peningkatan neutrofil yang signifikan pada paparan rokok akut sementara pada

paparan rokok kronik tidak signifikan (lymperaki E, et al., 2015). Paparan asap

rokok akut pada mencit sebanyak 2 batang 2 kali sehari selama 3 hari terbukti

menyebabkan inflamasi akut yang ditandai dengan peningkatan neutrofil (Doz E.

et al., 2008).

Hal ini menunjukkan bahwa rokok termasuk salah satu kebiasaan yang

beresiko yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan radikal bebas. Diduga

kandungan Nitrogen Oksida dari asap rokok, merupakan oksidator yang kuat,

yang menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid dan menghasilkan MDA. Kadar

MDA dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh terjadinya kerusakan jaringan akibat

dari peroksidasi lipid. Dimana MDA adalah merupakan hasil utama peroksidasi

lipid akibat suatu stress oksidatif (Werdhasari A, 2014).

Stres oksidatif akibat paparan asap rokok sangat berpotensi dicegah oleh

zat antioksidan. Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibagi menjadi antioksidan

endogen, yaitu enzim-enzim yang bersifat antioksidan, seperti Superoksida

Dismutase (SOD), Catalase(Cat), Glutathione Peroksidase (Gpx), serta

antioksidan eksogen, yaitu yang didapat dari luar tubuh, seperti vitamin E, C, pro

vitamin A, organosulfur, flavonoid, thymoquinone dan lain-lain. Paparan asap

rokok menyebabkan menurunnya antioksidan endogen, sehingga diperlukan

tambahan antioksidan dari luar tubuh untuk mencegah terjadinya stres oksidatif

(Werdhasari A, 2014).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti memutuskan untuk meneliti

pengaruh pemberian vitamin A dan vitamin C terhadap perubahan kadar

5
peroksidasi lipid paru pada tikus yang terpapar asap rokok karena Vitamin C dan

vitamin A merupakan antioksidan yang banyak di temukan pada buah dan

sayuran. Vitamin A terutama terdapat pada bahan dasar dari hewan seperti

mentega, telur, hati dan daging serta buah-buahan seperti tomat, wortel, pepaya.

Sedangkan vitamin C banyak terdapat pada sayur-sayuran dan buah-buahan

terutama jeruk.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat

dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Apakah paparan asap rokok dapat meningkatkan kadar peroksidasi lipid

paru pada tikus yang terpapar asap rokok?


2. Adakah pengaruh pemberian vitamin A dan Vitamin C terhadap perubahan

peroksidasi lipid paru pada tikus yang terpapar asap rokok.?


3. Apakah kombinasi vitamin A dan Vitamin C lebih efektif terhadap

perubahan peroksidasi lipid paru pada tikus yang terpapar asap rokok?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin A dan vitamin C terhadap

perubahan peroksidasi lipid paru pada tikus yang terpapar asap rokok.

2. Tujuan Khusus

6
a. Untuk mengetahui kadar peroksidasi lipid paru pada kelompok tikus

yang terpapar asap rokok dan yang tidak terpapar asap rokok
b. Untuk mengetahui kadar peroksidasi lipid paru pada kelompok tikus

yang terpapar asap rokok yang diberikan vitamin A dan kelompok tikus

yang terpapar asap rokok yang diberikan vitamin C


c. Untuk mengetahui kadar peroksidasi lipid paru pada kelompok tikus

yang terpapar asap rokok yang diberikan kombinasi Vitamin A dan

Vitamin C

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Kadar peroksidasi lipid paru lebih tinggi pada kelompok tikus yang

terpapar asap rokok dibandingkan kelompok kontrol.


2. Kadar peroksidasi lipid paru pada kelompok tikus yang terpapar asap

rokok dan diberi vitamin A lebih tinggi dibanding kelompok tikus yang

terpapar asap rokok dan diberi vitamin C


3. Kadar peroksidasi lipid paru lebih rendah pada kelompok tikus yang

terpapar asap rokok yang diberikan kombinasi vitamin A dan Vitamin C

dibanding kelompok tikus yang terpapar asap rokok yang diberikan

Vitamin A saja atau Vitamin C.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh

pemberian vitamin A dan vitamin C, sebagai dasar penelitian lebih lanjut.


2. Manfaat Bagi Masyarakat

7
- Penelitian ini dapat memberi informasi ilmiah dan meningkatkan

pemahaman masyarakat mengenai pengaruh pemberian vitamin A dan

vitamin C dalam tubuh terhadap paparan asap rokok.


- Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar acuan promosi kesehatan

masyarakat
3. Manfaat Bagi Sistem Layanan Kesehatan dan Institusi

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam evaluasi dan pelayanan

bagi kelompok perokok aktif maupun perokok pasif. Bila hipotesis penelitian

terbukti maka dapat diteliti lebih lanjut untuk diaplikasikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rokok

Rokok adalah salah satu zat adiktif berasal dari hasil olahan tembakau

terbungkus silinder dari kertas termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang

dihasilkan dari tanaman nicotina tabacum, nicotina rustica dan spesies lainnya

8
atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan

tambahan. Merokok dapat mengganggu kesehatan lewat asap arus utama yaitu

asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok tersebut maupun asap

sampingan, yang disebarkan ke udara bebas dan dihirup oleh orang lain

(Latumahina GJ, dkk. 2011).

Asap rokok mengandung radikal bebas dalam jumlah yang sangat tinggi

karena satu kali hisapan rokok saja diperkirakan terdapat 1.014 molekul radikal

bebas yang masuk ke dalam tubuh. Racun utama pada tembakau yang merupakan

bahan baku rokok seperti tar, nikotin, dan karbon monoksida dapat memicu

terbentuknya radikal bebas. Tar diakui sebagai komponen paling destruktif dari

kebiasaan merokok yang akan terakumulasi di paru perokok sepanjang waktu dan

merusak paru-paru melalui bermacam-macam proses biokimia dan mekanik

(Dikaningrum Y, 2013).

Asap rokok dapat dikelompokkan menjadi fase tar (ukuran partikel >0.1μm)

termasuk nikotin dan gas. Asap rokok fase tar memiliki kandungan >10 17radikal

bebas dan >1015radikal bebas/kali isapan. Radikal bebas dari asap fase tar

memiliki waktu paruh lebih lama (beberapa jam sampai bulan), sedangkan radikal

dari asap fase gas hanya memiliki waktu paruh beberapa detik (Komala PSR,

2011).

Besar pajanan asap rokok bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh jumlah

rokok yang diisap dan pola pengisapan rokok tersebut. Faktor lain yang turut

mempengaruhi akibat asap rokok antara lain usia mulai merokok, lama merokok,

dalamnya isapan, dan lain-lain. Berdasarkan lamanya, merokok dapat

9
dikelompokkan sebagai berikut: merokok selama kurang dari 10 tahun, antara 10-

20 tahun, dan lebih dari 20 tahun. Jumlah rokok yang dikonsumsi per hari dapat

diklasifikasikan sebagai berikut: ringan (1-10 batang per hari), sedang (11-20

batang per hari), dan berat (lebih dari 20 batang per hari) (Wahyono, 2010)

Gambar 1. Pengaruh asap rokok terhadap pembentukan radikal bebas.

Dikutip dari Ambrose JA,et al. Jam Coll Cardiol, 2004.

B. Bahan – Bahan Yang Terkandung Dalam Rokok

1. Tar

Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang merupakan

bagian partikel rokok setelah kandungan nikotin dan uap air dikeluarkan

(Gondodiputro S, 2007., Fowles J. 2000). Pada saat rokok dihisap tar masuk ke

rongga mulut sebagai uap padat asap rokok, setelah dingin akan membentuk

10
endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernapasan dan paru-paru.

Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar tar

dalam rokok berkisar 24-45 mg (Fowles J. 2000).

Tar dalam asap rokok mengandung bahan karsinogenik yang dapat

melumpuhkan silia di paru-paru sehingga berkontribusi terhadap terjadinya

emfisema, bronkitis kronis dan kanker paru-paru, selain itu juga meningkatkan

risiko karsinoma sel skuamosa pada laring, serta mengganggu fungsi organ mulut,

pita suara, tenggorok, ginjal, kandung kemih, uterus dan ovarium (Repine J. et al.,

1997. Manach P. et al., 2012).

2. Karbon Monoksida

Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak

berasa, dan beracun. Gas ini merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari

bahan – bahan yang mengandung karbon atau pembakaran dibawah tekanan dan

temperature tinggi (Limoa R, 2018). Karbon monoksida yang terkandung dalam

rokok dapat mengikat pada hemoglobin darah dengan akibat oksigen akan

tersingkir dan tidak dapat digunakan oleh tubuh (Limoa R, 2018). Efek lain dari

karbon monoksida adalah jaringan pembuluh darah akan menyempit dan

mengeras sehingga terjadi penyumbatan pembuluh darah (Sirait AM. 2002).

Satu batang rokok yang dibakar mengandung 3-6% karbon monoksida dan

yang dihisap oleh perokok sejumlah 400 ppm sudah dapat meningkatkan kadar

karboksihemoglobin dalam darah sejumlah 2-16% (Mangku S. 1997).

11
3. Nikotin

Nikotin adalah zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat dalam

Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lain yang sintesisnya bersifat

adiktif. Nikotin menguap saat rokok dinyalakan dan setiap batang rokok

mengandung 1 mg nikotin yang diabsorpsi melalui epitel paru (Henningfield.

1993).

Nikotin yang mempunyai konsentrasi rendah bersifat stimulant yaitu dapat

meningkatkan tekanan darah, aktivitas, memori, menyempitkan pembuluh perifer

dan menyebabkan ketergantungan pada pemakainya. Sedangkan pada konsentrasi

tinggi dapat berperan sebagai depresan (Malik A. 2011). Pengikatan nikotin dan

asetilkolin terhadap reseptor nikotin menyebabkan perubahan konformasi yang

dapat membuka atau menutup reseptor ion chanel sehingga mempengaruhi

aktivitas neuron, komunikasi sinaps dan perilaku. Proses adiksi berawal dari

interaksi antara nikotin dengan reseptor nikotin di otak pada daerah mesolimbik

dopamin sistem di Ventral Tegmental Area neuron. Interaksi ini mengawali

akitivasi Central Nervous System (CNS) termasuk sistem Mesoaccumbens

Dopamine (Malik A. 2011).

C. Paparan Asap Rokok

Asap rokok merupakan campuran kompleks antar 4700 bahan kimia sebagai

salah satu sumber radikal bebas yang dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara

oksidan dan antioksidan. Beban oksidan dalam paru akan bertambah akibat

pelepasan Reactive Oxygen Spesies (ROS) dari makrofag dan neutrofil sehingga

akan terjadi peningkatan sekuestrasi neutrofil pada sirkulasi mikro paru akibat

12
paparan asap rokok dapat meningkatkan oksidan. Asap rokok juga mengurangi

kapasitas antioksidan di plasma berkaitan dengan penurunan protein sulfyhidril

atau glutathione (GSH). Penurunan GSH ini menyebabkan peningkatan lipid

peroksidase dan transkripsi gen sitokin proinflamasi yang berperan pada obstruksi

paru. Beberapa sel tubuh yang telah terbukti mengalami kerusakan akibat radikal

bebas adalah paru, sel endotel pembuluh darah, jantung (Sumarno dkk. 2007, Agil

P. 2012).

Asap rokok dapat dikelompokkan menjadi fase tar, dan fase gas. Pada fase

tar yaitu bahan yang terserap dari penyaringan asap rokok menggunakan filter

catridge dengan ukuran partikel >0,1 μm termasuk nikotin dan gas. Fase ini

memiliki kandungan >1017 radikal bebas per gram, dan >1015 radikal bebas tiap

kali isapan. Radikal bebas dari asap fase tar memiliki waktu paruh lebih lama,

yaitu dalam beberapa jam sampai bulan, sedangkan radikal dari asap fase gas

hanya memiliki waktu paruh beberapa detik (Haris A. dkk, 2012).

Bahan yang terdapat dalam asap rokok banyak mengandung senyawa radikal

bebas dan berbahaya bagi tubuh. Gabungan antara senyawa radikal bebas pada

asap rokok dengan senyawa radikal bebas secara fisiologis, akan menghasilkan

produk metabolisme sel-sel tubuh yang tidak dapat diatasi hanya dengan

antioksidan dalam tubuh saja, terutama organ paru yang terkena langsung dampak

dari paparan asap rokok. Asap rokok berpotensi menghilangkan antioksidan

intraseluler dalam sel paru melalui pengaktifan makrofag alveolus untuk

melepaskan leuketrin B-4, IL-8, dan TNA α (Fitriani F, Anggraini H. dkk 2012).

13
Paparan asap rokok dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap, pola

penghisapan, usia mulai merokok, lama merokok dan dalamnya hisapan. Udara

yang dihisap melalui rokok berkisar 25-50 ml tiap hisapan dan sebanyak 1014

molekul radikal bebas akan masuk ke dalam tubuh (Sumarno dkk. 2007. Haris A.

dkk. 2012),

Perokok aktif memperoleh paparan asap melewati sebatang rokok yang

dihisap ke dalam paru. Perokok pasif terpapar asap rokok dari ujung rokok yang

terbakar (Ambrose JA. Et al.,, 2004). Menurut International Non Government

Coalition Against Tobacco (INGCAT) bahwa paparan dari asap rokok lingkungan

dapat menyebabkan kanker paru dan kerusakan kardiovaskuler pada orang dewasa

yang tidak merokok, serta dapat merusak kesehatan paru dan pernapasan pada

anak (Reynolds LA. Et al., 2012).

D. Peroksidasi Lipid

Peroksidasi lipid merupakan proses kompleks yang terbentuk dari hasil

reaksi antara radikal bebas dengan asam lemak tidak jenuh (PUFA) yang

merupakan unsur utama dari membran sel. Secara biokimia, peroksidasi lipid

terdiri dari tiga tahap utama yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi (Setiawan B.

dkk. 2007).

Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak yaitu suatu

senyawa turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat

dari hilangnya satu atom hidrogen atau adisi pada karbon rangkap. Lemak tak

jenuh mudah diserang radikal karena memiliki sistem 1,4-pentadien yang

14
memungkinkan pengambilan atom hidrogen dari salah satu gugus metilen -CH2-

membentuk radikal karbon. Keberadaan ikatan rangkap karbon melemahkan

ikatan karbon hidrogen dan memfasilitasi pengambilan atom hydrogen

(Siswantono S. 2008).

Ditahap propagasi, penghilangan atom hidrogen melibatkan penyusunan

ulang ikatan sebagai stabilisasi dengan pembentukan konjugasi diena, yang

mudah diserang oleh oksigen membentuk radikal peroksil ROO-. Radikal peroksil

lebih lanjut akan menyerang asam lemak lain menghasilkan hidroperoksida

(ROOH) dan radikal asam lemak baru melalui reaksi berantai hingga

menghasilkan lebih banyak lagi hidroperoksida (Siswantono S. 2008).

Tahap terminasi, sesama radikal dapat bergabung menjadi molekul yang

tidak reaktif atau bereaksi dengan senyawa antioksidan setelah senyawa tersebut

terbentuk (Munita FF. 2015).

Hati dan ginjal merupakan tempat terbanyak dalam proses pembentukan

oksigen radikal dan peroksida lipid. Sifat Peroksida lipid antara lain yaitu bersifat

adesif terhadap molekul lain, memiliki potensial aksi yang sedang, lama aksi yang

panjang dalam sel, tetapi juga tidak dapat dikeluarkan melalui ginjal dan tetap

tinggal di dalam tubuh (setiawan B. dkk. 2007).

15
Gambar 2. Reaksi Berantai Peroksidasi Lipid

E. Malondialdehida (MDA)
Produk akhir lipid hidroperoksida yang bersifat sitotoksik dan juga merupakan

metabolit komponen sel yang dihasilkan oleh radikal bebas disebut MDA. Karena

itu, konsentrasi MDA yang tinggi menunjukkan adanya proses oksidasi dalam

membran sel. Proses peroksidasi lipid hingga terbentuknya Malondialdehida dapat

terlihat seperti pada gambar 3 (Adiswastika AP. 2013).

Gambar 3. Proses peroksidasi lipid hingga terbentuk Malondialdehida.

16
MDA sangat cocok sebagai biomarker untuk stres oksidatif karena

beberapa alasan, yaitu: (1) pembentukan MDA meningkat sesuai dengan stres

oksidatif, (2) kadarnya dapat diukur secara akurat dengan berbagai metode yang

telah tersedia, (3) bersifat lebih stabil dalam sampel cairan tubuh yang diisolasi,

(4) pengukurannya tidak dipengaruhi oleh variasi diurnal dan tidak dipengaruhi

oleh kandungan lemak dalam diet, (5) merupakan produk spesifik dari peroksidasi

lemak, (6) terdapat dalam jumlah yang dapat dideteksi pada semua jaringan tubuh

dan cairan biologis, sehingga memungkinkan untuk menentukan referensi interval

(7) metodenya murah dengan bahan yang lebih mudah didapat (Fatimah I. 2014).
Kadar MDA diukur dengan menggunakan metode TBARS (Thiobarbituric

Acid Reactive Substance), yang menggunakan dasar reaksi MDA terhadap asam

tiobarbiturat dan selanjutnya dinilai menggunakan spektrofotometer atau

fluorometrik. Karena MDA tidak stabil maka cara penyimpanan sampel harus

terlindung dari cahaya, dan bila tidak segera diperiksa harus disimpan pada suhu

-700C. Penyimpanan -200C tidak memadai. Dalam uji TBARS supernatan

direaksikan dengan asam tiobarbiturat menghasilkan kromofor berwarna merah

muda yang dibaca pada panjang gelombang 545 nm (Munita FF. 2015).

F. Vitamin A

Vitamin A adalah pemadam alami yang paling efektif oksigen singlet dan

molekul yang sangat berenergi. Vitamin A adalah pemulung radikal dan

antioksidan yang efektif untuk pemecahan masalah. Tidak seperti antioksidan

yang mencegah Inisiasi peroksidasi lipid (LPO), vitamin A adalah sebuah

menghentikan reaksi berantai dengan menjebak radikal bebas (Jackie KSL, dan

Dika PD, 2017)

17
Vitamin A didapat dalam 2 bentuk yaitu preformed vitamin A (vitamin A,

retinoid, retinol dan derivatnya) dan provitamin A (karotenoid/karoten dan

senyawa sejenisnya) yang merupakan prekursor vitamin A (Syarif A., dan Hedi

RD., dkk. 2008).


Vitamin A terutama terdapat pada bahan dasar dari hewan seperti mentega,

telur, hati dan daging. Retino didapatkan dalam bentuk cis-trans isomer. Minyak

hati ikan mengandung campuran isomer, retinol sintetik mengandung all-trans

isomer. Perubahan timbal balik antar isomer berlangsung dengan mudah didalam

tubuh. Asam retinoat (tretinoin, isotretinoin) merupakan hasil oksidasi grup

alkohol dari retinol dan hanya memiliki sebagian kerja retinol. All-trans asam

retinoat (tretinoin) nampaknya merupakan bentuk aktif vitamin A pada semua

jaringan kecuali retina. Isomerisasi all-trans asam retinoat menghasilkan 13-cis-

asam retinoat (isotretionin) yang potensinya hamper sama pada jaringan epitel

tetapi kurang toksik disbanding all-trans-asam retinoat. Etretinat merupakan salah

satu analog sintetik asam retinoat (Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).
Sebagian besar vitamin A dalam makanan berasal dari karotenoid, terutama

dalam bentuk α, β, dan γ-karoten. Karoten banyak terdapat pada sayuran berwarna

hijau atau kuning dan pada buah-buahan seperti wortel, papaya, tomat. Di antara

karotenoid yang memiliki aktivitas vitamin A yang paling besar dan yang paling

banyak didapatkan pada makanan adalah β-karoten, namun didalam tubuh

aktivitas biologiknya hanya 1/6 dari vitamin A. Hal ini antara lain karena absorpsi

karoten yang kurang baik melalui saluran cerna (Syarif A., dan Hedi RD., dkk.

2008).
Karotenoid lain seperti likopen, yang merupakan senyawa berwarna merah

yang antara lain didapatkan pada tomat, hanya sedikit atau tidak memiliki

18
aktivitas vitamin A akan tetapi memiliki peran lain yang lebih penting (Syarif A.,

dan Hedi RD., dkk. 2008).

1. Farmakodinamik Vitamin A
Vitamin A dalam dosis kecil tidak menunjukkan efek farmakodinamik

yang berarti. Sebaliknya pemberian dosis besar vitamin A menimbulkan

keracunan (Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).


Vitamin A diperlukan untuk regenerasi pigmen retina mata dalam proses

adaptasi gelap. Pigmen retina yang fotosensitif yaitu rhodopsin dan iodopsin, bila

terkena cahaya, akan memutih, terurai dan menimbulkan impuls. Pada penguraian

ini akan terjadi kehilangan sebagian vitamin A. sebaliknya pada tempat gelap akan

terjadi regenerasi pigmen yang memerlukan vitamin A. pada defisiensi vitamin A,

regenerasi pigmen terutama rodopsin yang penting untuk melihat dalam keadaan

gelap akan terhalang atau berlangsung lebih lambat, sehingga kemampuan untuk

adaptasi gelap akan berkurang dan timbul keadaan yang disebut buta senja atau

niktalopia. Defisiensi vitamin A yang sangat berat dapat menyebabkan kebutaan

(Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).


Retinol (Vitamin A1) memegang peranan penting pada kesempurnaan

fungsi dan struktur sel epitel, karena retinol berperan dalam diferensiasi sel dan

proliferasi epitel. Dengan adanya retinol sel epitel basalis distimulasi untuk

memproduksi mukus. Kelebihan retinol akan menyebabkan pembentukan mucus

yang berlebihan dan menghambat keratinisasi. Bila tidak ada retinol, sel goblet

mukosa hilang dan terjadi atropi epitel yang diikuti oleh proliferasi sel basal yang

berlebihan. Sel-sel baru yang terbentuk ini merupakan epitel berkeratin dan

menggantikan epitel yang mensekresi mucus. Penekanan sekresi mucus

menyebabkan mudah terjadi iritasi dan infeksi. Selain fungsi-fungsi tersebut di

19
atas vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi dan

perkembangan embrio. Hambatan reproduksi pada defisiensi vitamin A mungkin

disebabkan oleh peran vitamin A pada interkonversi steroid. Asam retinoat

mempercepat pertumbuhan, diferensiasi serta mempertahankan epitel jaringan.

Akan tetapi asam retinoat tidak memperbaiki fungsi penglihatan, pendengaran

atau reproduksi. Pada hewan coba yang kekurangan vitamin A, sintesis RNA inti

berkurang dan dapat distimulasi oleh retinol dan asam retinoat. Retinol dapat

mengatur sintesis protein termasuk keratin (Triana, 2006).


Dewasa ini banyak penelitian ditujukan untuk mengetahui apakah retinol

mempengaruhi karsinigenesis. Bjelke (1975) berpendapat bahwa defisiensi

vitamin A agaknya dapat meningkatkan kepekaan terhadap karsinogenesis

termasuk pada manusia; didapatkan hyperplasia yang jelas dan peningkatan

sintesis DNA oleh sel basal berbagai epitel dan pengurangan diferensiasi sel.

Penggunaan retino atau retinoid lain pada binatang dapat mengatasi perubahan-

perubahan ini. Menurut Hill dan Grubbs (1982) pada hewan coba perubahan sel

premaligna menjadi sel maligna diperlambat, dihentikan atau bahkan dilawan.

Efek anti tumor terlihat pada keganasan yang disebabkan antara lain oleh zat

kimia, virus dan radiasi. Mekanisme antikarsinogenik belum diketahui jelas. Akan

tetapi, berbagai kemungkinan dikemukakan antara lain karena induksi diferensiasi

sel maligna menjadi sel normal, penekanan terhadap fenotip maligna yang

sebelumnya ditimbulkan oleh suatu karsinogen dan perbaikan mekanisme

petahanan tubuh (Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).


Meskipun penelitian epidemiologis menunjukkan adanya hubungan antara

asupan vitamin A yang rendah dengan terjadinya kanker, hubungannya dengan

20
asupan retinol yang rendah tidak konsisten. Oleh karena itu saat ini perhatian

ditujukan pada efek biologic beta karoten dan karotenoid lain. Salah satu dugaan

ialah karena beta karoten bekerja sebagai anti oksidan, sehingga dengan demikian

dapat mempengaruhi efek mutagenic karsinogen tertentu atau akibat radiasi dan

juga meningkatkan efek sitotoksik leukosit PMN yang aktif (Syarif A., Hedi RD.,

dkk. 2008).

1. Farmakokinetik vitamin A

Vitamin A diabsorpsi sempurna melaui usus halus dan kadarnya dalam

plasma mencapai puncak setelah 4 jam, tetapi absorpsi dosis besar vitamin A

kurang efisien. Gangguan absorpsi lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi

vitamin A, maka pada keadaan ini dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut

dalam air. Absorpsi vitamin A berkurang bila diet kurang mengandung protein,

atau pada penyakit infeksi tertentu, dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis

hati atau obstruksi biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada penyakit hati

berbanding lurus dengan derajat insufisiensi hati. Sebelum diabsorpsi, sebagian

retinol akan mengalami hidrolisis dan reesterifikasi terutama menjadi palmitat,

sedangkan sebagian lain akan langsung diabpsorpsi (Syarif A., dan Hedi RD., dkk.

2008).

Dalam darah retinol terutama diikat oleh α1-globulin yang disebut Retinol

Binding Protein (RBP). RBP dalam sirkulasi membentuk kompleks dengan

protein prealbumin, sehingga filtrasi vitamin A melalui ginjal dapat dicegah dan

jumlah vitamin A berlebihan yang mencapai organ terbatas. Vitamin A terutama

21
disimpan di dalam hati sebagai palmitat, dalam jumlah kecil ditemukan juga di

ginjal, adrenal, paru, lemak intraperitoneal dan retina. Vitamin A sukar melalui

sawar uri dan jumlahnya dalam ASI sangat bergantung pada jumlah diet si ibu.

Metabolit vitamin A diekskresi melalui urin dan tinja (Syarif A., dan Hedi RD.,

dkk. 2008).

Kadar normal vitamin A dalam plasma ialah 100-230 unit/100 ml. selama

cadangan vitamin A di hati cukup, kadar normal akan dipertahankan. Bila terjadi

penurunan kadar vitamin A berarti persediaan vitamin A dalam hati sudah

berkurang. Gejala defisiensi vitamin A timbul bila kadar plasma dibawah 10-20

µg/100 ml. (0,3 µg = 1 unit) (Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).

Absorpsi karoten tidak sebaik dan semudah absorpsi vitamin A. proses ini

juga tergantung dari adanya empedu dan lemak yang diabsorpsi. Di dinding usus

halus karoten di ubah menjadi 2 molekul retinal, sedangkan satu molekul alfa dan

β-karoten masing-masing hanya diubah menjadi satu molekul retinal. Sebagian

besar retinal direduksi menjadi retinol untuk selanjutnya mengalami esterifikasi,

sedangkan sebagian kecil retinal dioksidasi menjadi asam retinoat (Reboul, 2013).

Asupan karoten yang terlalu banyak dapat menyebabkan hiperkarotenemia

yang mengakibatkan kulit berwarna kuning. Berbeda dari icterus, warna kuning

pada kulit ini tidak disertai warna kuning pada sclera (Triana, 2006).

G. Vitamin C

Salah satu contoh antioksidan alami yaitu vitamin C. Menurut deMan

(1999), vitamin C (Ascorbic Acid) terdapat dalam seluruh jaringan hidup dan

22
dapat mempengaruhi reaksi oksidasi-reduksi dalam jaringan tersebut. Sumber

utama vitamin C terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Manusia dan kelinci

untuk percobaan merupakan satu-satunya jenis primata yang tidak dapat

mensintesis vitamin C. Kebutuhan manusia akan vitamin C belum dapat

ditentukan secara pasti. Namun, telah diketahui rata-rata kebutuhan vitamin C

pada manusia per hari antara 45 sampai 75 mg. Keadaan stres yang berkelanjutan

dan terapi obat-obatan bisa meningkatkan kebutuhan akan vitamin C (Sayuti dan

Yenrina, 2015).

Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan antioksidan yang larut dalam

air (aqueous antioxidanti). Senyawa ini, menurut Zakaria et al. (1996), merupakan

bagian dari sistem pertahanan tubuh terhadap senyawa oksigen reaktif dalam

plasma dan sel. Dalam keadaan murni, vitamin C berbentuk kristal putih dengan

berat molekul 176, 13 dan rumus molekul C6H6O6. Vitamin C memiliki struktur

yang mirip dengan struktur monosakarida, tetapi mengandung gugus enadiol.

Secara alami bentuk vitamin C adalah isomer-L. Isomer ini memiliki aktivitas

lebih besar dibandingkan dengan bentuk isomer D. Aktivitas vitamin C, bentuk

isomer D hanya 10% dari aktivitas isomer L (Sayuti dan Yenrina, 2015).

Asam askorbat merupakan antioksidan alamiah yang terdapat dalam

berbagai jenis buah-buahan dan sayuran, yang selama pemasakan dapat

mengalami kerusakan sampai sedikitnya setengahnya. Asam askorbat merupakan

antioksidan larut air. Asam askorbat menangkap secara efektif sekaligus O2-

(anion superoksida) dan 1O2 (Singlet oksigen). Asam askorbat dapat memutus

reaksi radikal yang dihasilkan melalui lipid peroksidasi. Pada konsentrasi rendah,

23
asam ini bereaksi secara langsung pada fase cair dengan radikal peroksil LOO -

lalu berubah menjadi askorbil sedikit reaktif. Pada konsentrasi tinggi, asam ini

tidak bereaksi. Asam askorbat mempunyai peranan penting dalam perlindungan

DNA pada sperma (May and Harrison, 2013)

Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam

L-dehidroaskorbat yang secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan

lebih lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan sebagai

vitamin C lagi (May and Harrison, 2013).

Vitamin C (asam askorbat) merupakan antioksidan alami yang mudah dan

murah bila dikonsumsi dari alam. Vitamin C sebagai antioksidan berfungsi untuk

mengikat O2 sehingga tidak mendukung reaksi oksidasi (oxygen scavanger)

(Kumalaningsih, 2006). Menurut Sudarmadji (1989), vitamin C mempunyai berat

molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6, dalam bentuk kristal tidak

berwarna,memiliki titik cair 190-192 °C, bersifat larut dalam air, sedikit larut

dalam aseton/alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar

larut dalam kloroform, eter dan benzene. Vitamin C merupakan senyawa yang

mudah larut dalam air, sangat sensitif terhadap kerusakan yang datang dari luar,

seperti suhu, gula, garam, pH, oksigen dan katalisator logam (Syarif A., dan Hedi

RD., dkk. 2008).

Vitamin C pada buah bisa hilang secara terus menerus selama pengolahan,

misalnya selama blansing dan pencucian, pemotongan dan penggilingan. Paparan

udara pada jaringan-jaringan akan menyebabkan hilangnya vitamin C akibat

oksidasi. Umumnya kehilangan vitamin C terjadi apabila jaringan dirusak dan

24
kontak dengan udara. Selama penyimpanan dalam keadaan beku pun terjadi

kehilangan vitamin C. Makin tinggi suhu penyimpanan makin besar terjadinya

kerusakan zat gizi. Dalam bahan pangan beku kehilangan yang lebih besar

dijumpai terutama pada vitamin C daripada vitamin yang lain (Rohanah, 2002).

Asam askorbat dapat pula bersifat sebagai prooksidan. Asam ini menaikan

penyerapan zat besi di usus dan dapat mereduksi secara in vitro. Fe3+ menjadi

Fe2+ yang nantinya berfungsi dalam reaksi Fenton. Suplementasi vitamin C

sering dilakukan. Tindakan ini berguna dalam proses, penanganan dan pencegahan

infeksi, keracunan rokok, alkohol dan lain-lain. Vitamin C juga disarankan dalam

penanganan kanker walaupun saat ini belum ada bukti yang jelas (Kumalaningsih,

2006).

Menurut Fennema (1996) untuk hasil maksimal, antioksidan-antioksidan

primer biasanya dikombinasikan dengan antioksidan phenolic atau dengan

berbagai agen pengkelat logam lainnya. Suatu kesinergisan terjadi ketika

antioksidan-antioksidan bergabung sehingga menghasilkan aktivitas yang lebih

besar dibandingkan aktivitas antioksidan yang diuji sendiri-sendiri. Dua jenis

antioksidan sangat dianjurkan. Antioksidan yang satu untuk menangkap atau

meredam radilkal bebas; antioksidan yang lain mengkombinasikan aktivitas

sebagai peredam radikal bebas dan sebagai agen pengkelat (Sayuti dan Yenrina,

2015).

Vitamin C merupakan salah satu antioksidan sekunder dan memiliki cara

kerja yang sama dengan vitamin E, yaitu menangkap radikal bebas dan mencegah

terjadinya reaksi berantai. Dalam beberapa penelitian vitamin C digunakan

25
sebagai kontrol positif dalam menentukan aktivitas antioksidan (Dalimartha dan

Soedibyo, 1998 dalam Pratiwi et al. 2006). Vitamin C membantu

mempertahankan kondisi tubuh terhadap flu dan flue (meningkatkan sistem

kekebalan tubuh), mengurangi tingkat stress dan membantu proses penyembuhan.

Vitamin ini juga berperan penting dalam memelihara kesehatan sel-sel kulit

sehingga tetap tampak bersih, berseri, dan sehat (Gerald et al. 2017).

Vitamin C dikenal sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam

berbagai proses penting, mulai dari pembuatan kolagen (protein berserat yang

membentuk jaringan tulang), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari

berbagai reaksi enzimatik, pemacu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol,

serta pemacu imunitas. Selain itu Vitamin C sangat diperlukan tubuh untuk

penyembuhan luka dan meningkatkan fungsi otak agar dapat bekerja maksimal

(Agus S. 2010).

Vitamin C dapat disintesis secara alami dalam tanaman dan hewan dan

bisa dibuat secara sintetis dari gula. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah

rusak oleh oksidasi, panas dan alkali. Sumber vitamin C terutama berasal dari

buah-buahan segar akan tetapi sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-

buahan. Misalnya pada buah jeruk, baik yang dibekukan maupun yang

dikalengkan merupakan sumber vitamin C yang tinggi. Begitu juga halnya dengan

berries, nenas dan jambu. Sayur-sayuran seperti bayam, brokoli, cabe hijau dan

kubis juga merupakan sumber vitamin C yang baik, bahkan setelah dimasak.

Sedangkan beberapa jenis bahan pangan hewani seperti susu, telur, daging, ikan

dan unggas sedikit sekali kandungan vitamin C-nya (Sayuti dan Yenrina, 2015).

26
1. Farmakodinamik Vitamin C
Vitamin C berperan sebagai suatu kofaktor dalam sejumlah reaksi

hidroksilasi dan amidasi dengan memindahkan electron ke enzim yang ion

metalnya harus berada dalam keadaan tereduksi; dan dalam kondisi tertentu

bersifat sebagai antioksidan. Dengan demikian vitamin C dibutuhkan untuk

mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi

hidroksiprolin dan hidroksilisin dan sintesis kolagen. Selain itu juga diperlukan

untuk perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh

mikrosom dan hidroksilasi dopamine menjadi norepinefrin. Asam askorbat

meningkatkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan

hormone oksitosin, hormone antidiuretic. Dengan mereduksi ion feri menjadi fero

dalam lambung, vitamin C meningkatkan absorpsi besi. Selain itu vitamin C juga

berperan dalam pembentukan steroid adrenal (May and Harrison, 2013).


Pada jaringan fungsi uatama vitamin C ialah dalam sintesis kolagen,

proteoglikan dan lain zat organic matriks antar sel misalnya pada tulang, gigi,

endotel kapiler. Dalam sintesis kolagen selain berperan dalam hidroksilasi prolin

vitamin C juga nampaknya berperan untuk menstimulasi langsung sintesis peptide

kolagen. Pada penderita skorbut gangguan sintesis kolagen terlihat sebagai

kesulitan penyembuhan luka, gangguan pembentukan gigi dan pecahnya kapiler

yang dapat menyebabkan perdarahan seperti petekie dan ekimosis. Perdarahan

tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang

kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada jaringan ikat perikapiler

sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan (May and Harrison, 2013).

27
Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek

farmakodinamik yang jelas. Tetapi pada keadaan defisiensi, pemberian vitamin C

akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat (Syarif A., dan Hedi RD., dkk.

2008).

2. Farmakokinetik Vitamin C
Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna. Pada keadaan normal

tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam

leukosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit.

Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan

terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh

dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang

rangsang ginjal 1,4 mg% (Syarif A., dan Hedi RD., dkk. 2008).

28
BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Teori

Paparan asap rokok

Vitamin A
Radikal bebas
Vitamin C

Aktivasi makrofag paru, reaksi


inflamasi, paparan oksidan
langsung (semiquinon, H2O2, Antioksidan
NO dan NO2

Stress Oksidatif

Ketidakseimbangan Oksidan
dan Antioksidan

Peroksidasi lipid paru

MDA ↑

29
B. Kerangka Konsep

Stress, lingkungan

Vitamin A dan Vitamin C kadar peroksidasi lipid


paru

Asap rokok

Variabe bebas : Vitamin A dan Vitamin C

Variabel terkendali : Asap rokok

Variabel tergantung : Kadar peroksidasi lipid paru

Variabel perancu : stress dan lingkungan

30
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain post test

only control group design pada tikus wistar.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

untuk pengandangan hewan coba pemberian paparan asap rokok dan pemberian

vitamin A dan vitamin C di laboratorium Biofarmasi sedangkan untuk

pengambilan kadar peroksidasi lipid paru di laboratorium Farmasi Klinik pada

bulan April - Mei 2018.

C. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah tikus jantan yang memenuhi kriteria inklusi

dan eksklusi.

D. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 30 ekor tikus wistar

jantan yang dikandangkan dalam kandang yang terbuat dari bahan polypropylene

dengan siklus pencahayaan 12 jam, mendapat makan dan minum ad libitum dan

31
suhu kandang 28-320 C. Tikus wistar jantan dipilih karena memiliki karakteristik

mirip manusia dari data dasar fisiologis dan metabolisme. Sampel penelitian yang

digunakan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

E. Perkiraan Besar Sampel

Besar sampel ditentukan berdasarkan kriteria World Health Organization

dalam Research Guideline for Evaluating The Safety and Efficacy of Herbal

Medicines, yaitu jumlah minimal 5 ekor tiap kelompok. Penelitian ini

menggunakan 6 ekor tikus untuk setiap kelompok. Pada penelitian ini terdapat dua

kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan, sehingga berdasarkan ketentuan

tersebut, didapatkan jumlah total sampel sebesar 30 ekor.

F. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria Inklusi

1. Tikus wistar jantan

2. Berat badan tikus normal (150-220 gram)

3. Usia 8 - 12 minggu

4. Kondisi sehat (aktif dan tidak ada kelainan anatomis)

Kriteria Eksklusi :

1. Tikus yang mati sebelum penelitian

2. Tikus yang sakit selama penelitian

32
G. Ijin Penelitian dan Ethical Clearance (Kelaikan Etik)

Penelitian ini dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan etik oleh Komisi

Etik Penelitian Biomedik pada hewan, Fakultas Kedokteran Universitas

Hasanuddin

H. Cara Kerja

1. Alokasi Subjek

Pada penelitian ini subjek penelitian adalah tikus jantan yang termasuk dalam

kriteria inklusi

Cara Pengumpulan Data

a. Alat : Kandang tikus, Alkohol, Nitrogen cair, lumpang dan alu, pisau

bedah, Smoking pump, Smoking chaber, Spectrofotometer UV-Vis, Stop

watch/timer, Sentrifugasi, tabung sentrifuse.

b. Bahan: Tricloroacetat acid, TMP (1,1,3,3-tetramethoxypropane),

phosphate buffered saline pH 7,4 Rokok kretek (14 mg Tar, 1 mg

Nikotin), Vitamin A, Vitamin C.

2. Pemeriksaan / Pengambilan Data Sampel

a. Pemilihan dan Penyiapan hewan coba

Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan (Rattus

norvegicus) yang sudah dewasa, sehat dan aktivitas normal dengan

bobot badan antara 150-220 gram. Hewan coba tikus putih disiapkan

sebanyak 30 ekor dengan umur sekitar 3 bulan yang ditempatkan

33
dalam kandang dengan akses makanan dan air yang cukup setiap

hari.

b. Pemberian paparan asap rokok

Tikus dipapari asap rokok kretek dengan menggunakan smoking

pump sebagai alat penghisap rokok dan smoking chamber sebagai

tempat pemaparan asap rokok. Rokok yang digunakan adalah rokok

kretek dengan kadar 14 mg tar dan 1 mg nikotin diberikan 5 batang

sehari selama 45 menit dalam 2 minggu

c. Pemberian dosis Vitamin A

Dosis Vitamin A untuk manusia dewasa 3000 IU setiap hari atau

sama dengan 50 IU/kgBB. Konversi dosis dilakukan berdasarkan

luas permukaan tubuh tikus dimana dosis manusia dilakukan faktor

konversi 6,2 menjadi 310 IU/kgBB (Anroop BN., 2016)

d. Pemberian dosis Vitamin C

Dosis Vitamin C untuk tikus 100 mg/kgBB setiap hari. (Tarasub N.

et al., 2012)

e. Perlakuan terhadap hewan coba

Hewan uji secara acak dibagi menjadi 5 kelompok kemudian setiap

kelompok ditimbang bobot badannya (n=30). Kelompok 1

(kelompok kontrol) (n=6) sebagai kontrol sehat yang tidak diberi

perlakuan. Kelompok 2 (kelompok negatif) (n=6) sebagai kelompok

yang diberikan paparan asap rokok 5 batang/hari (1 batang selama 5

menit). Kelompok 3 (n=6) sebagai kelompok Vitamin A (dosis 50

34
IU/KgBB x 6,2) 4 jam kemudian diberi paparan asap rokok 5

batang/hari (1 batang selama 5 menit). Kelompok 4 (n=6) sebagai

kelompok Vitamin C (dosis 100 mg/kgBB) 4 jam kemudian diberi

paparan asap rokok 5 batang/hari (1 batang selama 5 menit).

Kelompok 5 (n=6) sebagai kelompok Vitamin A (dosis 50 IU/KgBB

x 6,2) dan Vitamin C (dosis 100 mg/kgBB) 4 jam kemudian diberi

paparan asap rokok 5 batang/hari (1 batang selama 5 menit) lalu

semua tikus dieutanasia untuk diambil organ parunya lalu dilakukan

pengukuran kadar MDA.

f. Pengambilan organ paru tikus putih

Tikus putih dieutanasia dengan metode dislokasi servikal, kemudian

tikus dibedah dan diambil organ paru-parunya. Setelah itu organ paru

dimasukkan kedalam nitrogen cair hingga hingga beku kemudian

disimpan dalam lemari pendingin pada suhu -200C untuk digunakan

pada saat analisa

g. Pengukuran kurfa baku

Larutan baku yang digunakan untuk mengukur kadar lipid

peroksidasi adalah baku diagnostik MDA yaitu 1,1,3,3-

tetrametoksipropana (TMP). Larutan baku dibuat dengan

menggunakan larutan stock 1 ml TMP yang dilarutkan dalam 10 ml

PBS. Kemudian dibuat 7 variasi pengenceran yaitu 0.1; 0,15; 0.2;

0,25; 0,3; 0,35; dan 0,4 ppm.

35
h. Preparasi dan evaluasi sampel paru tikus putih

Aktivitas lipid peroksida dapat diketahui dengan mengukur kadar

malondyaldehid (MDA) dengan menggunakan metode

Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS). Organ paru yang

telah digerus ditimbang 400 mg dan ditambahkan PBS pH 7,4

sebanyak 2 mg ke dalam lumpang dan dicampurkan hingga

homogen. Setelah itu dimasukkan kedalam tabung sentrifus dan

disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 20 menit.

Supernatan dipipet sebanyak 0,5 ml kemudian ditambahkan 1 ml

TBA 1% dan 1 ml TCA 10% ke dalam tabung. Setelah itu,

dipanaskan pada penangas air dengan suhu 1000C selama 40 menit

dan didinginkan pada suhu kamar. Disentrifugasi kembali dengan

kecepatan 3000 rpm selama 10 menit kemudian di

pipetsupernatannya kemudian diukur dengan alat spektrofometer

UV-Vis pada panjang gelombang 532 nm

I. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel

a. Variabe bebas : Vitamin A dan Vitamin C


b. Variabel terkendali : Asap rokok
c. Variabel tergantung : Kadar peroksidasi lipid paru
d. Variabel perancu : stress dan lingkungan

J. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif

36
1. Paparan asap rokok adalah pemberian asap rokok kretek ( 14 mg Tar, 1 mg

Nikotin) dengan menggunakan smoking pump dimana tikus di simpan

didalam smoking chamber agar mengirup asap rokok tersebut.

2. Peroksidasi lipid paru adalah aktivitas peningkatan kadar Malondialdehid

(MDA) paru sebagai biomarker untuk menilai stress oksidatif

K. Alur Penelitian

37
Tikus dilakukan
Tikus
seleksi
diadaptasikan
kriteria inklusi-eksklusi
n = 30

Kelompok Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4


kontrol
n=6 n=6 n=6 n=6
n=6

Aqua via Aqua via Vitamin A Vitamin C Vitamin A 310


sonde sonde 310 100 IU/kgBB Dan
IU/kgBB mg/kgBB Vitamin C 100
Selama 14 Diberikan mg/kgBB
hari paparan asap 4 jam 4 jam
rokok kemudian kemudian 4 jam kemudian

5 batang/ Diberikan Diberikan Diberikan


hari selama paparan asap paparan asap paparan asap
14 hari rokok rokok rokok

5 batang/ 5 batang/ 5 batang/ hari


hari Selama hariSelama Selama 14 hari
14 hari 14 hari

Pengukuran
kadar MDA
Paru

Analisa Data

Kesimpulan

L. Pengolahan Data dan Analisis Data

38
Data yang terkumpul diolah dengan bantuan program Stastistical Product

of Social Science (SPSS) 20.0 dengan melihat distribusi normalnya menggunakan

Kolmogorov-Smimov. Kemudian data yang terdistribusi normal dilanjutkan

dengan metode One Way ANOVA dengan uji Post Hoc menggunakan Tukey.

Hasil dinyatakan signifikan apabila p<0.05.

BAB V

39
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh pemberian vitamin A,

Vitamin C serta kombinasi Vitamin A dan Vitamin C terhadap peroksidasi lipid

paru akibat paparan asap rokok akut berdasarkan pengukuran kadar MDA dengan

metode Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS) melalui pengukuran

kurva baku dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Absorbansi dan konsentrasi larutan standar TMP (1,1,3,3


tetrametoksipropana) yang diukur dengan spektrofotometri sinar tampak pada
panjang gelombang 532 nm.
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
0.1 0.268
0.15 0.322
0.2 0.480
0.25 0.532
0.3 0.605
0.35 0.697
0.4 0.826

Gambar 4. Kurva baku yang diperoleh dari pengukuran absorbansi standar TMP
(1,1,3,3 tetrametoksipropana) yang diukur dengan spektofometri sinar tampak
pada panjang gelombang 532 nm.

40
Persamaan kurva baku ini digunakan untuk menentukan kadar MDA pada

uji-uji perlakuan selanjutnya.

Dari hasil penelitian pengaruh pemberian Vitamin A dan Vitamin C pada

tikus yang terpapar asap rokok akut di laboratorium Biofarmasi dan Farmasi

Klinik pada bulan April – Mei 2018 disajikan dalam bentuk tabel 2 sebagai

berikut:

Tabel 2. Rata-rata Kadar MDA Paru


Konsentrasi Rata – rata ±
Perlakuan Absorbansi
MDA (ppm) SD (ppm)
Kelompok 1 0.105 0.015
(kontrol) 0.118 0.022
0.133 0.030 0.036 ± 0.017
0.166 0.048
0.184 0.058
0.156 0.043
Kelompok 2 0.596 0.285
(kontrol 0.354 0.152
negatif) 0.505 0.235 0.214 ± 0.046
0.498 0.231
0.421 0.189
0.430 0.193
Kelompok 3 0.261 0.101
(vitamin A) 0.161 0.045
0.250 0.095 0.062 ± 0.028
0.141 0.035
0.176 0.054
0.160 0.045
Kelompok 4 0.173 0.052
(vitamin C) 0.168 0.050
0.212 0.074 0.062 ± 0.020
0.237 0.088
0.138 0.033
0.218 0.077
Kelompok 5 0.145 0.037
(vitamin A + 0.200 0.067
vitamin C) 0.250 0.095 0.054 ± 0.024
0.142 0.035
0.143 0.036
0.180 0.056

41
Gambar 5. Grafik MDA paru pada tiap tikus dalam setiap kelompok

Gambar 6. Grafik rata – rata MDA paru

Data di atas dikelola menggunakan Stastistical Product of Social Science

(SPSS) dimana hasil uji normalitas data one-sample kolmogrov-smirnov test

terdistribusi normal kemudian dilanjutkan dengan metode One Way ANOVA

dengan uji Post Hoc menggunakan Tukey dengan hasil antara kelompok 2 dan

42
kelompok 1,3,4 serta kelompok 5 yaitu sebesar 0.000 < 0.05, artinya ada

perbedaan kadar MDA paru yang signifikan akibat paparan asap rokok (radikal

bebas). Hal ini menunjukkan bahwa asap rokok beresiko dapat menyebabkan

terjadinya peningkatan radikal bebas. Dimana MDA merupakan hasil utama

peroksidasi lipid akibat suatu stress oksidatif (Werdhasari A, 2014).

Hasil rata – rata MDA paru antara kelompok 1 atau kelompok kontrol

sehat menunjukan nilai 0,036 ppm yang merupakan nilai terendah MDA paru dari

semua kelompok. Pada kelompok 2 atau kelompok kontrol negatif terjadi

peningkatan kadar MDA paru yang menunjukkan nilai 0.214 ppm yang

merupakan nilai tertinggi dan dinyatakan signifikan secara statistik dari semua

kelompok (p<0.05) hal ini menunjukkan bahwa asap rokok memicu terjadinya

peningkatan produksi ROS yang berakibat peningkatan aktifitas peroksidasi lipid.

Pada kelompok perlakuan yakni kelompok 3, 4 dan 5, pada kelompok 3 yang

diberikan vitamin A menunjukan nilai 0.062 ppm hal ini jika dibandingkan dengan

kelompok 2 secara statistik didapatkan hasil yang signifikan (p<0.05), jika

dibandingkan dengan kelompok 1 dinyatakan tidak signifikan secara statisti

(p>0.05) atau hamper setara artinya vitamin C memiliki peran sebagai antioksidan

dalam menurunkan kadar MDA paru akibat paparan asap rokok. untuk kelompok

4 yang diberikan vitamin C menunjukan nilai 0.062 ppm hal ini menunjukan

bahwa jika dibandingkan kelompok 4 dan kelompok 2 secara statistik didapatkan

hasil yang signifikan (p<0.05), jika dibandingkan kelompok 4 dan kelompok 1

dinyatakan tidak signifikan secara statistik (p>0.05) atau hampir artinya vitamin A

memiliki peran sebagai antioksidan dalam menurunkan kadar MDA paru akibat

43
paparan asap rokok. Namun jika dibandingkan antara kelompok 4 dan kelompok 3

dinyatakan tidak signifikan secara statistik (p>0.05) artinya pengaruh antioksidan

vitamin A dan vitamin C hampir sama meskipun perbedaan hasil rata-ratanya

hanya sedikit 0,001 ppm; vitamin C sedikit lebih baik dari vitamin A, hal ini

sesuai dengan referensi yang dikatakan bahwa vitamin C memiliki efek

antioksidan yang lebih baik jika dibandingkan Vitamin A (Agus S. 2010).

Sedangkan untuk kelompok 5 yang diberikan kombinasi vitamin A dan vitamin C

menunjukan nilai 0.054 ppm hal ini menyatakan bahwa jika dibandingkan

kelompok 5 dan kelompok 2 secara statistik didapatkan hasil yang signifikan

(p<0.05), jika dibandingkan kelompok 5 dan kelompok 1 dinyatakan tidak

signifikan secara statistik (p>0.05) artinya kombinasi vitamin A dan vitamin C

memiliki peran sebagai antioksidan dalam menurunkan kadar MDA paru akibat

paparan asap rokok. Namun jika dibandingkan antara kelompok 5 dan kelompok 3

serta kelompok 4 dinyatakan tidak signifikan secara statistik (p>0.05) artinya

pengaruh kombinasi antioksidan vitamin A dan vitamin C hampir setara jika

dibandingkan kelompok 3 (vitamin A) dan kelompok 4 (vitamin C) saja,

meskipun terdapat perbedaan selisih hasil rata-ratanya 0,008 ppm; kombinasi

vitamin A dan vitamin C sedikit lebih baik jika dibandingkan vitamin A dan

vitamin C saja. Hal ini sesuai yang dikatakan bahwa vitamin A dan vitamin C

yang merupakan antioksidan eksogen yang mampu mencegah terjadinya stres

oksidatif yang disebabkan asap rokok (Werdhasari A, 2014).

Hal ini dikarenakan vitamin C memiliki efek antioksidan yang tinggi

sedangkan vitamin A memiliki peran dalam mengurangi konsentrasi radikal

44
peroksida, mampu menstabilkan radikal yang berinti karbon, serta efektif pada

konsentrasi rendah oksigen sehingga dapat melengkapi sifat antioksidan vitamin E

yang efektif pada konsentrasi tinggi oksigen (Agus S. 2010). Tidak hanya itu, hal

ini juga sesuai yang dikatakan Fennema (1996) untuk hasil maksimal, antioksidan

– antioksidan primer biasanya dikombinasi dengan antioksidan phenolic atau

dengan berbagai agen pengkelat logam lainnya. Suatu kesinergisan terjadi ketika

antioksidan – antioksidan bergabung sehingga menghasilkan aktivitas yang lebih

besar dibandingkan aktivitas antioksidan yang di uji sendiri – sendiri (Sayuti dan

Yenrina, 2015) yang sesuai pada penelitian ini, yakni kombinasi Vitamin A dan

Vitamin C lebih baik dibandingkan Vitamin C atau Vitamin A saja.

45
B. PEMBAHASAN

Rokok merupakan salah satu polutan berupa gas dalam bentuk asap yang

mengandung berbagai bahan kimia yang memiliki dampak negatif seperti

karsinogenesis, iritan dan beracun (Lal. J, 2013). Kandungannya kurang lebih

4000 elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi

kesehatan (Lal. J, 2013, Cancer Researck UK, 2016). Dalam satu kali hisap,

perokok memasukkan kurang lebih 1016 molekul radikal bebas dan berbagai

bahan kimia tar, asbestos, H2O2 , dan lain-lain ke dalam tubuhnya (Cancer

Researck UK, 2016).

Asap rokok ini dapat mempengaruhi metabolisme makrofag dengan

mengaktifkan makrofag untuk melepaskan leukotrien B4, IL-8 dan TNF-α

menyebabkan meningkatnya produksi superoksida (O2-) dan H2O2, juga

menyebabkan kerusakan oksidatif makromolekul seperti lipid, protein, dan DNA,

dapat menghilangkan antioksidan, serta membentuk radikal bebas seperti nitrit

oksida (NO), nitrit peroksida (NO2) dalam fase gas serta quinone (Q),

semiquinone (HQ) dan hydroquinone (HQ2) dalam fase tar (Weldimira V dkk,

2013). Kadar radikal bebas dapat menyebabkan terjadinya kondisi stres oksidatif

serta memicu terjadinya peroksidasi lipid pada membran sel (Permatasari FR dkk,

2013 ).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok akut

berpengaruh baik pada hewan maupun manusia. Paparan asap rokok

meningkatkan sekresi mediator inflamasi dari berbagai jenis sel yang berbeda

46
diantaranya sel epitel, makrofag dan neutrofil (Metcalfe HJ, dkk 2014). Penelitian

Ahmed (2016) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah leukosit pada

perokok, dimana peningkatan yang signifikan terjadi pada perokok akut.

Penelitian Lymperaki et al (2015) juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan

neutrofil yang signifikan pada paparan rokok akut sementara pada paparan rokok

kronik tidak signifikan (lymperaki E, et al., 2015). Paparan asap rokok akut pada

mencit sebanyak 2 batang 2 kali sehari selama 3 hari terbukti menyebabkan

inflamasi akut yang ditandai dengan peningkatan neutrofil (Doz E. et al., 2008).

Hal ini menunjukkan bahwa rokok termasuk salah satu kebiasaan yang

beresiko yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan radikal bebas. Diduga

kandungan Nitrogen Oksida dari asap rokok, merupakan oksidator yang kuat,

yang menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid dan menghasilkan MDA. Kadar

MDA dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh terjadinya kerusakan jaringan akibat

dari peroksidasi lipid. Dimana MDA adalah merupakan hasil utama peroksidasi

lipid akibat suatu stress oksidatif (Werdhasari A, 2014).

Stres oksidatif akibat paparan asap rokok sangat berpotensi dicegah oleh

zat antioksidan. Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibagi menjadi antioksidan

endogen, yaitu enzim-enzim yang bersifat antioksidan, seperti Superoksida

Dismutase (SOD), Catalase(Cat), Glutathione Peroksidase (Gpx), serta

antioksidan eksogen, yaitu yang didapat dari luar tubuh, seperti vitamin E, C, pro

vitamin A, organosulfur, flavonoid, thymoquinone dan lain-lain. Paparan asap

rokok menyebabkan menurunnya antioksidan endogen, sehingga diperlukan

47
tambahan antioksidan dari luar tubuh untuk mencegah terjadinya stres oksidatif

(Werdhasari A, 2014).

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa kadar

MDA paru meningkat setelah tikus diberikan paparan asap rokok selama 14 hari

yang memicu peningkatan radikal bebas akibat stress oksdidatif. Vitamin A dan

vitamin C yang merupakan antioksidan eksogen ternyata memberikan pengaruh

perubahan kadar MDA paru lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok

kontrol yang hanya diberikan asap rokok.

Dari hasil analisa data sesudah perlakuan jika dibandingkan dari semua

kelompok 1-5, bahwa kelompok 1 (kelompok kontrol) memiliki kadar MDA paru

yang paling rendah dari kelompok 2-5. sedangkan kelompok 2 memiliki kadar

MDA paru paling tinggi dibandingkan kelompok 1, 3, 4 dan 5. Untuk kelompok 5

(vitamin A + vitamin C) yang memiliki pengaruh lebih baik dalam menurunkan

kadar MDA paru jika dibandingkan dari kelompok 3 dan 4 yang hanya diberikan

Vitamin A saja dan vitamin C saja, namun jika dibandingkan kelompok 4

(vitamin C) dan kelompok 3 (vitamin A) bahwa kelompok 4 (Vitamin C)

memiliki pengaruh lebih baik dalam menurunkan kadar MDA paru.

48
BAB VI

KESIMPULAN DAN DARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil simpulan sebagai berikut:

1. Kadar MDA paru pada kelompok tikus yang terpapar asap rokok

(Kontrol negatif) lebih tinggi dibanding kelompok tikus yang tidak

terpapar asap rokok (kontrol).

2. Kadar MDA paru pada kelompok tikus yang terpapar asap rokok

(Kontrol negatif) lebih tinggi dibanding kelompok tikus yang

terpapar asap rokok dan diberikan Vitamin A, Vitamin C maupun

yang kombinasi Vitamin A dan Vitamin C.

3. Kadar MDA paru pada kelompok tikus yang terpapar asap rokok

yang diberikan Vitamin A lebih tinggi dibanding kelompok tikus

terpapar asap rokok yang diberikan Vitamin C.

4. Kadar MDA paru pada kelompok tikus terpapar asap rokok yang

diberikan kombinasi Vitamin A dan Vitamin C lebih rendah

dibanding kelompok tikus terpapar asap rokok dan diberikan

Vitamin C maupun yang diberikan vitamin A.

49
B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan

hewan coba yang tingkat spesiesnya lebih tinggi dari tikus putih,

seperti kelinci atau kera

2. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan waktu yang lebih lama

(>14 hari), jumlah dan jenis rokok yang digunakan, cara serta

lama pemaparan asap rokok untuk menilai peran Vitamin A dan

Vitamin C sebagai antioksidan pada stress oksidatif akibat asap

rokok.

3. Pemaparan asap rokok dilakukan secara individual sehingga

mengurangi stress kontak antar tikus yang dapat mempengaruhi

hasil penelitian.

50
DAFTAR PUSTAKA

Adiswastika, AP. 2013. Kadar Malondialdehyde (MDA) Pada Abortus Inkomplit

Lebih Tinggi Dibandingkan Dengan Kehamilan Normal. Denpasar:

Magister Ilmu Biomedik Universitas Udayana Bali.

Agil P. 2012. Hubungan Antara Paparan Asap Rokok Dan Frekuensi Terjadinya

Eksaserbasi Asma Pada Pasien Asma Yang Berobat ke RSU DR Soedarso.

Pontianak: Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.

Agus S. 2010. 9 Buah dan Sayur Sakti Tangkal Penyakit. Liberplus. Yogyakarta

Agusti A., Faner R., 2012. Systemic inflammation and comorbidities in chronic

obstructive pulmonary disease. Proc Am Thorac Soc, 9 (2): 43–6.

Ambrose JA, Barua RS. 2004. The pathophysiologi of cigarette smoking and

cardiovascular disease. J Am Coll Cardiol. 43: 1731-7

American Academy of Pediatrics. 2011. Pediatric Environmental Health. Edisi ke

Anggraini H, Susilaningsih N, Pudjadi. 2012. Pengaruh Pemberian Jus Mengkudu

Terhadap Reactive Oxygen Intermediate (ROI) Makrofag Bronchoalveolar

Tikus Yang Terpajan Asap Rokok. Semarang: Fakultas

Kedokteran/Magister Ilmu Biomedik Universitas Diponegoro.

Anroop BN., and Shery J., 2016. A Simple Practice Guide for Dose Conversion

Between Animals and Human. Journal of Basic and Clinical Pharmacy.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset kesehatan dasar

(Riskesdas 2013). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

51
Barber S, Adioetomo SM, Ahsan A, Setyonaluri D. 2008. Tobacco economics in

Indonesia. Paris: International Union Against Tuberculosis and Lung

Disease.

Cancer Research UK. 2016. How smoking causes cancer. From:

http://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/causes-of cancer/smoking-

and-cancer/how-smoking-causes-cancer.

Darwadi RP, Aulanni'am, Mahdi C. 2013. Pengaruh Terapi Kurkumin Terhadap

Kadar Mda Hasil Isolasi Parotis Dan Profil Protein Tikus Putih Yang

Terpapar Lipopolisakarida (LPS). Malang : Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Jurusan Kimia Universitas Brawijaya. Kimia Student

Journal Brawijaya University. 1(1):133-9.

Doz E., Noulin N., Boichot E., Guénon I., et al. 2008. Cigarette smoke-induced

pulmonary inflammation is TLR4/MyD88 and IL-1 R1/MyD88 signaling

dependent. J Immunol, 180: 1169-1178.

Dikaningrum Y. 2013. Pengaruh Pemberian Sari Tomat Terhadap Perubahan

Kadar MDA Pada Hewan Uji Yang Di Induksi Asap Rokok. Yogyakarta:

Univ Muhammadiyah Yogyakarta. 1-8.

Fatimah, I. 2014. Gambaran Kadar Malondialdehid (MDA) Serum Studi Kasus Di

Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang. ([Skripsi]). Semarang:

Undip. Eprints Undip. 1-11

Fennema OR. 1996. Food Chemistry, 3rd edition. New York : Marcel Dekker

Fidrianny I. 2003. Analisis Nikotin dalam Asap dan Filter Rokok. Departemen

Farmasi, FMIPA, ITB. Bandung.

52
Fitriani Feni. Penyakit Paru Obstruktif Kronik Sebagai Penyakit Sistemik. Jakarta:

Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia

Fowles J. 2000. The Chemical Constituents in Cigarettes and Cigarette Smoke.

New Zealand.

Gerald F. Combs Jr., James P. McClung. 2017. The Vitamins, Fifth Edition:

Fundamental aspects in Nutrition and Health. Academic Press.

Gondodiputro S. 2007. Bahaya Tembakau dan Bentuk – bentuk Sediaan

Tembakau. Bandung: Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas

Kedokteran Universitas Padjajaran; 1-2, 9-112.

Haris A, Ikhsan M, Rogayah R. 2012. Asap Rokok sebagai Bahan Pencemar

Dalam Ruangan. Jakarta: Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran

Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. CDK-189/Vol

39(1).

Hasanah SNR., 2008. Aktivitas ekstrak etil asetat daun dewandaru (Eugenia

uniflora L) sebagai agen pengkelat logam Fe dan penangkap malonaldehid

(MDA). Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah

Surakarta.

Huzen J, Wong LS, Veldhuisen DJ, Samani NJ,, et al. 2014. Telomere length loss

due to smoking and metabolic traits. J Intern Med., 275: 155–163.

Henningfield. 1993. Drug Alcohol Depend. Vol. 33: 23-29.

Indrayana R. 2008. Efek antioksidan ekstrak etanol 70% daun salam (Syzygium

polyanthum) pada serum darah tikus putih jantan galur wistar yang

53
diinduksi CCl4. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah

Surakarta.

Indonesia Global Youth Tobacco Survey. 2014. World Health Organization.

Jackie KSL., Dika PD. 2017. Uji Aktifitas Antioksidan Vitamin A, C, E dengan

metode DPPH. Review Artikel. Departemen Farmakologi dan Farmasi

Klinik. Fakultas Farmasi. Universitas Padjadjaran.

Komala PSR. 2011 Efek Fluvastatin Terhadap Selisih Jumlah Leukosit, Neutrofil,

Dan Alkali Fosfatase Serum Pada Tikus Wistar Sebelum Dan Sesudah

Paparan Asap Rokok. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro. 7-17.

Kumalaningsih S. 2006. Antioksidan alami: penangkal radikal bebas. Trubus

Agrisana, Surabaya.

Lal, J., 2013. Indoor Air Pollution by Tobacco Smoke and Study on Tobacco Use

among School and College Students in India. Universal Journal of Public

Health.(1): 172 - 176.

Latumahina GJ, Kakisina P, Moniharapon M. 2011. Peran Madu Sebagai

Antioksidan Dalam Mencegah Kerusakan Pankreas Mencit (Mus

Musculus) Terpapar Asap Rokok Kretek. Jurnal Kedokteran Dan

Kesehatan Molluca Medica. Ambon : FMIPA Jurusan Biologi Universitas

Pattimura.

Limoa R. Kandungan Rokok dan Bahayanya. Artikel Kesehatan dan Jurnal

Kedokteran [cited 2018 Januari 31]. Available from:

www.fakultaskedokteran.com

54
Liu CM, Sun YZ, Sun JM, Ma JQ, Cheng C. 2012. Protective role of quercetin

against lead-induced inflammatory response in rat kidney through the

ROS-mediated MAPKs and NF-κB pathway. Biochimica et Biophysica

Acta, 182 : 1693–1703.

Lymperaki E, Makedou K, Iliadis S, Vagdatli E. 2015. Effects of acute cigarette

smoking on total blood count and markers of oxidative stress in active and

passive smokers. Hippokratia, 19 (4): 293-297.

Malik A. 2011. Adiksi Nikotin. Yogyakarta: Program Pascasarjana Ilmu Farmasi

Fakultas Farmasi Universita Gajah Mada.

May, JM., Harrison, FE. 2013. Role of Vitamin C in the Function of the Vascular

Endothelium. Antioxid Redox Signal. 19(17): 2068–83

Menach P., Oburra H., Patel A., 2012. Cigarette Smoking and Alcohol Ingestion

as Risk Factors for Laryngeal Squamous Cell Carcinoma at Kenyatta

National Hospital, Kenya. Clinical Medicine Insights ear Nose Throat. Vol

5: 17-24.

Metcalfe HJ, Lea S, Hughes D, Khalaf R., et al. 2014. Effects of cigarette smoke

on Toll-like receptor (TLR) activation of chronic obstructive pulmonary

disease (COPD) macrophages. Clinical and Experimental Immunology,

176: 461–472.

Munita FF. 2015. Pengaruh Ekstrak Tape Ubi Ungu (Ipomoea Batatas L.)

Terhadap Kadar Mda Plasma Tikus Setelah Aktivitas Fisik Maksimal.

Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

55
Permatasari FR, Pramana A, Marhendra W, Aulanni'am. 2013. Studi Terapi

Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) Terhadap

Penurunan Kadar Malondialdehyde (Mda) Pada Organ Testis Dan Jumlah

Spermatozoa Tikus (Rattus Norvegicus) Hasil Induksi Paparan Asap

Rokok. Malang : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. 1-

10.

Pratiwi, Dewi P, Harapini M. 2006. Nilai peroksida dan aktivitas anti radikal

bebas diphenyl picril hydrazil hydrate (DPPH) ekstrak methanol Knema

laurina. Majalah Farmasi Indonesia. 17(1): 32-36.

Reboul, E. 2013. Absorption of Vitamin A and Carotenoids by the Enterocyte:

Focus on Transport Proteins. Nutrients, 5: 3563-81

Repine J, Bast A, Lankhorst I. Oxidative Stress in Chronic Obstructive Pulmonary

Disease. American Journal of Respire Critical Care Medicine. 1997; Vol.

156, No.2, pp. 341-357.

Reynolds LA, Tansey EM. WHO Framework Convention on Tobacco Control.

Wellcome Witnesses to Twentieth Century Medicine. London: Queen

Mary, University of London. 2012; Vol 43.

Rohanah A. 2002. Titik Beku Bahan Pangan. USU Digital Library, Medan.

Sayuti K., Yenrina R. Antioksidan Alami dan Sintetik. Andalan University Press.

Cetakan I. 2015.

Setiawan B, Suhartono E. Peroksidasi Lipid Dan Penyakit Terkait Stres Oksidatif

Pada Bayi Prematur. Jurnal Majelis Kedokteran Indonesia. Banjarbaru:

Universitas Lambung Mangkurat. 2007;57:10-14.

56
Sinaga, FA., 2012. Pengaruh Pemberian Virgin Coconut Oil Vco Terhadap Kadar

Malondialdehida Tikus Pada Aktifitas Fisik Maksimal. Medan : Fakultas

Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Medan.

Sirait AM, Pradono Y, Toruan IL. Perilaku Merokok di Indonesia. Bul. Penel.

Kesehatan. 2002; Vol. 30, No. 3, pp. 139-152.

Siswonoto, S. Hubungan Kadar Malondialdehida Plasma Dengan Keluaran Klinis

Stroke Iskemik Akut. Semarang : Magister Ilmu Biomedik Dan Program

Pendidikan Dokter Spesialis 1 Ilmu Penyakit Saraf Universitas

Diponegoro. 2008:100-116.

Soekamto TH, Perdanakusuma D. Intoksikasi Karbon Monoksida. Surabaya :

Departemen / SMF Ilmu Bedah Plastik Fakultas Kedokteran Universitas

Airlangga, RSUD Dr. Soetomo.

Sumarno, Puspita T, Wahyuningsih R. Peran Antioksidan Pada Ekstrak Tepung

Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Kadar MDA (Hepar) Pada Tikus

Rattus novergicus strain wistar Yang Dipapari Asap Rokok Akut. Malang:

Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan Malang

Syarif A., Hedi RD., dkk. 2008. Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Jakarta; Balai

Penerbit FKUI. hal. 777-83

Tarasub N., Junseecha T., Tarasub C., et al. 2012. Protective Effects of Curcumin,

Vitamin C, or Their Combination on Cadmiu-Induced Hepatotoxocoty.

Journal of Basic and Clinical Pharmacy. Thailand

Triana, V. 2006. Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya Dalam Tubuh Manusia.

Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1): 40-47

57
Wahyono. 2010. Bahaya Rokok Bagi Kesehatan. Malang: Universitas

Muhammadiyah Malang. 1-18.

Weldimira V, Susantiningsih T, Aprilliana E, Sutiyarso., 2013. The Influence Of

Giving Ethanolic Extract Of Red Ginger (Zingiber Officinale Roxb Var

Rubrum) To The White Rat (Rattus norvegicus) Sprague Dawley

Spermatogenic Cell Count Exposed To Cigarette Smoke. Lampung :

Medical Faculty Lampung University. 173-180.

Werdhasari A. 2014. Peran antioksidan bagi kesehatan. Biotek Medisiana

Indonesia. 3 (2): 59-68.

World Health Organization. 2014. Global status report on noncommunicable

diseases. Geneva, Switzerland: World Health Organization.

58
LAMPIRAN I

Skema Kerja Prosedur Pemaparan asap rokok dan pemberian vitamin.

Dibagi menjadi 5
30 ekor Tikus kelompok; masing-
masing 6 ekor tikus

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5


kontrol kontrol perlakuan perlakuan perlakuan
sehat negatif

Sonde Aqua Sonde Aqua Pemberian Pemberian Pemberian


Vitamin A Vitamin C Vitamin A
via sonde via sonde dan vitamin
C via sonde

Diadaptasi 4 jam

Pemaparan asap rokok 5


batang/hari; 1 batang/5 menit

Diadaptasi 20 menit

Sedasi dengan eter

Dieutanasia dengan
metode dislokasi servikal

Dibedah dan di ambil


organ parunya

Diukur kadar MDA

59
LAMPIRAN II

Skema Kerja Preparasi dan Evaluasi Sampel Organ Paru dengan Metode

Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS)

Organ paru

(400 mg)

PBS pH 7.4 (2 ml)

Sentrifugasi 3000 rpm,


selama 20 menit

Supernatan

Dipipet 0,5 ml. Panaskan


100ºC, selama 40 menit

1 ml TBA 1%

1 ml TCA 10%
Sentrifugasi 3000 rpm,
selama 10 menit

Supernatan

Pipet supernatan

PBS pH 7.4 (2 ml)

60
Lampiran III

Kurva Baku Standar 1, 1, 3, 3 Tetrametoksipropana (TMP)

61
Lampiran IV

Data Absorbansi Organ Paru yang Diukur dengan Spektofotometri

62
63
Lampiran V

Perhitungan Dosis dan kadar MDA

A. Perhitungan dosis

1. Dosis Vitamin C

Dosis yang digunakan adalah 100 mg/KgBB Setiap hari (Tarasub N. et al.,

2012). Sedian Vitanin C dilarutkan dengan NaCMC

2. Dosis Vitamin A

Dosis yang digunakan adalah 50 IU/kgBB. Konversi dosis dilakukan

berdasarkan luas permukaan tubuh tikus dimana dosis manusia dilakukan

faktor konversi 6,2 menjadi 310 IU/kgBB (Anroop BN., 2016). Sedian

vitamin A dilarutkan dengan minyak sayur

Dari dosis diatas sehingga ditentukan dosis dari seluruh kelompok tikus

pada tabel 3, sebagai berikut:

Kelompok Tikus Berat badan (gram) Vitamin A (IU) Vitamin C


HARI 0 HARI 14 (mg)
1.1 180 190
1.1 190 190
1.1 180 180
1.1 200 200
1.1 160 160
1.1 180 180
2.1 180 190
2.2 220 210
2.3 220 210
2.4 200 200
2.5 200 200
2.6 180 190
3.1 200 200 62
3.2 200 220 62
3.3 180 180 55.8
3.4 180 180 55.8
3.5 200 210 62

64
3.6 200 200 62
4.1 200 220 20
4.2 170 180 17
4.3 200 200 20
4.4 170 180 17
4.5 170 180 17
4.6 150 160 15
5.1 160 180 49.6 16
5.2 180 180 55.8 18
5.3 160 180 49.6 16
5.4 170 180 52.7 17
5.5 200 200 62 20
5.6 190 200 58.9 19
Tabel 3. Dosis pemberian Vitamin A dan Vitamin C

B. Perhitungan kadar MDA

Berdasarkan tabel 1 absorbansi dan konsentrasi larutan standar TMP

(1,1,3,3 tetrametoksipropana) yang diukur dengan spektofometri sinar tampak

pada panjang gelombang 532 nm diperoleh persamaan garis kurva baku : Y =

0,078 + 1,821x

1. Kelompok 1 (kontrol)

1.1 0,105 = 0,078 + 1,821X


X = 0,105 - 0,078
1,821
= 0,015

1.2 0,118 = 0,078 + 1,821X


X = 0,118 - 0,078
1,821
= 0,022

1.3 0,133 = 0,078 + 1,821X


X = 0,133 - 0,078
1,821
= 0,030

1.4 0,166 = 0,078 + 1,821X


X = 0,166 - 0,078
1,821
= 0,048

65
1.5 0,184 = 0,078 + 1,821X
X = 0,184 - 0,078
1,821
= 0,058

1.6 0,156 = 0,078 + 1,821X


X = 0,156 - 0,078
1,821
= 0,043

2. Kelompok 2 (kontrol Negatif)

2.1 0,596 = 0,078 + 1,821X


X = 0,596 - 0,078
1,821
= 0,285

2.2 0,354 = 0,078 + 1,821X


X = 0,354 - 0,078
1,821
= 0,152

2.3 0,505 = 0,078 + 1,821X


X = 0,505 - 0,078
1,821
= 0,235

2.4 0,498 = 0,078 + 1,821X


X = 0,498 - 0,078
1,821
= 0,231

2.5 0,421 = 0,078 + 1,821X


X = 0,421 - 0,078
1,821
= 0,189

2.6 0,430 = 0,078 + 1,821X


X = 0,430 - 0,078
1,821
= 0,193

66
3. Kelompok 3 (Vitamin A)

3.1 0,261 = 0,078 + 1,821X


X = 0,261 - 0,078
1,821
= 0,101

3.2 0,161 = 0,078 + 1,821X


X = 0,161 - 0,078
1,821
= 0,045

3.3 0,250 = 0,078 + 1,821X


X = 0,250 - 0,078
1,821
= 0,095

3.4 0,141 = 0,078 + 1,821X


X = 0,141 - 0,078
1,821
= 0,035

3.5 0,176 = 0,078 + 1,821X


X = 0,176 - 0,078
1,821
= 0,054

3.6 0,160 = 0,078 + 1,821X


X = 0,160 - 0,078
1,821
= 0,045

4. Kelompok 4 (Vitamin C)

4.1 0,173 = 0,078 + 1,821X


X = 0,173 - 0,078
1,821
= 0,052

4.2 0,168 = 0,078 + 1,821X


X = 0,168 - 0,078
1,821
= 0,050

67
4.3 0,212 = 0,078 + 1,821X
X = 0,212 - 0,078
1,821
= 0,074
4.4 0,237 = 0,078 + 1,821X
X = 0,237 - 0,078
1,821
= 0,088

4.5 0,138 = 0,078 + 1,821X


X = 0,138 - 0,078
1,821
= 0,033

4.6 0,218 = 0,078 + 1,821X


X = 0,218 - 0,078
1,821
= 0,077

5. Kelompok 5 (vitamin A + Vitamin C)

5.1 0,145 = 0,078 + 1,821X


X = 0,145 - 0,078
1,821
= 0,037

5.2 0,200 = 0,078 + 1,821X


X = 0,200 - 0,078
1,821
= 0,067

5.3 0,250 = 0,078 + 1,821X


X = 0,250 - 0,078
1,821
= 0,095

5.4 0,142 = 0,078 + 1,821X


X = 0,142 - 0,078
1,821
= 0,035

5.5 0,143 = 0,078 + 1,821X


X = 0,143 - 0,078
1,821
= 0,036

68
5.6 0,180 = 1,821x + 0,078
X = 0,180 - 0,078
1,821
= 0,056

69
Lampiran VI

Data analisis statistik dengan SPSS 20.0

Table 1. uji nomalitas data


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
MDAparu
N 30
Mean .08576385573
Normal Parametersa,b
Std. Deviation .071155851833
Absolute .218
Most Extreme
Positive .218
Differences
Negative -.159
Kolmogorov-Smirnov Z 1.193
Asymp. Sig. (2-tailed) .116
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

Tabel 2. Uji One-Way Anova


ANOVA
MDA Paru
Sum ofDf Mean Square F Sig.
Square
s
Between Groups .126 4 .031 37.743 .000
Within Groups .021 25 .001
Total .147 29
Hasil signifikansi sebesar 0.000 < 0.05, artinya ada perbedaan nilai akhir yang
signifikan dari kelompok sampel.

Tabel 3. Perbandingan antar kelompok perubahan kadar MDA paru


Multiple Comparisons
Dependent Variable: MDAparu
Tukey HSD
(I) (J) Mean Std. Error Sig. 95% Confidence Interval
Kelompok Kel Differe Lower Bound Upper Bound
om nce (I-
po J)
k
2.00 -.177922640* .016677411433 .000 -.22690205226 -.12894322774
3.00 -.0263838647 .016677411433 .522 -.07536327692 .02259554759
1.00
4.00 -.0262474595 .016677411433 .527 -.07522687176 .02273195276
5.00 -.0182288520 .016677411433 .808 -.06720826426 .03075056026
2.00 1.00 .1779226400* .016677411433 .000 .12894322774 .22690205226

70
3.00 .1515387753* .016677411433 .000 .10255936308 .20051818759
4.00 .1516751805* .016677411433 .000 .10269576824 .20065459276
5.00 .1596937880* .016677411433 .000 .11071437574 .20867320026
1.00 .0263838647 .016677411433 .522 -.02259554759 .07536327692
2.00 -.151538775* .016677411433 .000 -.20051818759 -.10255936308
3.00
4.00 .0001364052 .016677411433 1.000 -.04884300709 .04911581742
5.00 .0081550127 .016677411433 .988 -.04082439959 .05713442492
1.00 .0262474595 .016677411433 .527 -.02273195276 .07522687176
2.00 -.151675181* .016677411433 .000 -.20065459276 -.10269576824
4.00
3.00 -.0001364052 .016677411433 1.000 -.04911581742 .04884300709
5.00 .0080186075 .016677411433 .988 -.04096080476 .05699801976
1.00 .0182288520 .016677411433 .808 -.03075056026 .06720826426
2.00 -.159693788* .016677411433 .000 -.20867320026 -.11071437574
5.00
3.00 -.0081550127 .016677411433 .988 -.05713442492 .04082439959
4.00 -.0080186075 .016677411433 .988 -.05699801976 .04096080476
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Tabel 4. Peringkat perubahan kadar MDA


MDAparu
Tukey HSD
Kelompok N Subset for alpha = 0.05
1 2
1.00 6 .03600729
5.00 6 .05423614
4.00 6 .06225475
3.00 6 .06239116
2.00 6 .21392993
Sig. .522 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.

Lampiran VII

71
Gambar Penelitian

Gambar 1. Kandang Tikus Gambar 2. Pemaparan Asap Rokok

Gambar 3. Sedasi tikus dengan eter Gambar 4. Penimbangan Organ Paru

72
Gambar 5. Pembedahan Gambar 6. Spektofotometri UV-VIS

Lampiran VIII

73
Rekomendasi Persetujuan Kode Etik

74