Anda di halaman 1dari 8

Benarkah Al Qur’an dapat digunakan untuk memusnahkan penyakit?

Dalam surat Yunus, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Ibnu Katsir mengatakan, “Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit
syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu
Katsir, 4/274).

Kemudian bila menengok Al Qur’an surat Fushilat, Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Al
Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang
yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan.’” (QS. Fushilat: 44)

Makna kedua ayat tersebut bersifat saling melengkapi. Keterangan global ada dalam surat
Fushilat, dan didetailkan dengan keterangan yang ada di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud
Al Qur’an sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.

Al Qur’an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa syahwat yang
menghalangi manusia untuk taat kepada syariat atau syubhat yang mengotori iman.
Karena, dalam Al Qur’an terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang
akan memicu seseorang pada sikap harap (raja’) dan takut (khauf).

Ketika hati seseorang sehat, tidak banyak berisi syahwat dan syubhat, anggota badan pun
akan mengikutinya. Karena, anggota badan akan jadi baik jika hatinya baik. Ia juga
menjadi rusak, jika hatinya rusak. Sederhananya, ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi
penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena
anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan
rusaknya hati. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 366).

AL-QUR’AN OBAT SEGALA PENYAKIT


You are here: Beranda » AL-QUR’AN OBAT SEGALA PENYAKIT

“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang,
namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya.
Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-
ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan
kepadanya dengan ayat-ayat itu.

‫ارا‬
ً ‫س‬ َّ ‫آن َما ه َُو ِّشفَا ٌء َو َرحْ َمةٌ ِّل ْل ُمؤْ ِّمنِّيْنَ َوالَ يَ ِّز ْيدُ ال‬
َ ‫ظا ِّل ِّميْنَ إِّالَّ َخ‬ ِّ ‫َونُن َِّز ُل ِّمنَ ْالقُ ْر‬
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim
selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

‫ِّشفَا ٌء‬

“Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik
rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.

Penjelasan Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kitab-Nya
yang diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur`an, yang tidak
terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang
Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh
dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan,
kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an-
lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya
membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini
tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya.
Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.

Adapun orang kafir yang mendzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Qur`an
tidaklah bertambah baginya melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada
orang kafir itu, bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٍ ‫قُ ْل ه َُو ِّللَّ ِّذيْنَ آ َمنُوا ُهدًى َو ِّشفَا ٌء َوالَّ ِّذيْنَ الَ يُؤْ ِّمنُ ْونَ فِّي آذَانِّ ِّه ْم َو ْق ٌر َوه َُو َعلَ ْي ِّه ْم َع ًمى أُولَئِّكَ يُنَادَ ْونَ ِّم ْن َمك‬
‫َان بَ ِّع ْي ٍد‬

“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.
Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu
suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari
tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44)

Penyembuhan yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan


hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan
yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Al-Qur`an) mengandung ilmu
yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi
nasehat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi
perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu, Al-Qur`an juga menyembuhkan
jasmani dari berbagai penyakit.

Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk
meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan
meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.”
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 465)
Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani

Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai
penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit
jasmani?

Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati;
Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan
semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan
Asy- Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk
membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253)

Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya
Zadul Ma’ad:

“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian
pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk
menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan
meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna,
keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan
mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu
menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka
ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka
tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an
ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah
radhiallahu ‘anha.Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terkena sihir1, sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal
tidak mendatanginya.

Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk
di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang
satunya: ‘Kenapa beliau?’

Dijawab: ‘Terkena sihir.’

Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’

Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’
(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’

Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’

(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’

Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”

‘Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau
mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan
airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu
dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma
jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku
dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus
Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama Al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab Al-Adab, bab Innallaha
Ya`muru Bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063). Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana
yang terdapat dalam Musnad Asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), Al-Asfahani dalam Dala`ilun
Nubuwwah (170/210), dan Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272).
Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala):

َ‫ش ِّر َما َخلَق‬ ِّ َ‫ب ْالفَل‬


َ ‫ ِّم ْن‬.‫ق‬ ِّ ‫قُ ْل أَع ُْوذُ بِّ َر‬

Hingga selesai bacaan surah tersebut.”

Demikian pula yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, dari
hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh.
Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu,
namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.

Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking).
Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun
sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian
mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang
memiliki sesuatu.’

Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami
tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil.
Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya.
Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian
namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian
memberikan upah kepada kami.’
Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing3. Maka dia (salah seorang
shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil
‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia
berjalan tanpa ada gangguan lagi.

Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata:
‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi.
Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’

Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal


tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang
ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian
bersama kalian’, sambil beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.”

Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُ‫اء ْالقُ ْرآن‬


ِّ ‫َخي ُْر الد ََّو‬

“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.”

Dan hadits:

‫ْالقُ ْرآنُ ه َُو الد ََّوا ُء‬

“Al-Qur`an adalah obat.”

Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani
rahimahullahu dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.

Membuka Klinik Ruqyah

Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti
halnya dokter atau bidan yang membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yang
menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh
Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:

“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk
penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri
secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun
memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di
antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan
tabi’in.

(Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf
dan bimbingan As-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada
saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri
dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada
perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada
zaman generasi pertama.

Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan
diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan
dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab
dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan.
Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana
dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang
semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu
(penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah
yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. (Ar-
Ruqa Wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh, hal. 20-21)

MENGAPA SAAT BACA AL QUR'AN DISARANKAN UNTUK BERSUARA?

Mau Sehat ? Baca terus Al Quran, Sel Kanker pun Bunuh Diri
Pengaruh Tilawah terhadap kesehatan tubuh*

Masya Allah,

Bukti-bukti ilmiah Al Qur'an sudah nampak di akhir zaman ini, kemukzijatan Al Qur'an sudah di ketahui
dunia saat ini, dan membuat mereka para saintific terpesona atas keilmiahan dan kemukjizatan Al
Qur'an tersebut.

Prof. Dr. dr Suzane moore PhD telah merilis dalam journalnya, ia berkata : ini sebuah kitab yg
menakjubkan karena terbukti kemukjizatannya, ia telah memperlihatkan bagaimana Al Qur'an
merupakan sebuah obat penyakit manusia.

Suara yang keluar dari tilawah seseorang akan melayang ke udara dan kemudian masuk melewati
telinga dan seterusnya di serap oleh tubuh, kemudian ia masuk ke sel-sel yang ada dalam tubuh kita.
Suara yg terdengar dgn irama dan frekuensi tertntu mengandung informasi spesifik sehingga dapat
memberi rangsangan kepada sel-sel dalam tubuh kita.

Al Qur'an yg tersusun secara sistematik dengan irama yang indah karena bacaan yang tartil dan
pengulangan kata-katanya sungguh menakjubkan karena ia membuat sel-sel dalam tubuh kita bisa
melawan penyakit-penyakit yg berbahaya, dengan bahasa yang menyentuh, ternyata mengandung
informasi spesifik pada setiap ayat-ayatnya. Dengan informasi yang spesifik ini bisa membuat sel-sel
yang sakit menjadi sembuh.

Hasil penelitian terkini seperti yang diungkapkan Prof. Dr. dr. Abraham nicole PhD, bahwa sel-sel darah
merah yang telah dibacakan ayat-ayat Al Qur'an dengan bacaan tartil artinya bacaan yg indah dengan
memakai kaidah Tahsin Tajwid, ia memperlihatkan respon tertentu. Sehingga sel-sel kanker pun bunuh
diri. Bahkan virus auto imunpun lenyap. Terbukti dari hasil penelitian Prof. Dr. dr Victor Iron PhD USA.
Penelitian lainnya membuktikan bahwa sel-sel kanker ganas menjadi normal kembali dengan bacaan
ayat-ayat Al Qur'an.

Di samping itu penelitian memperlihatkan bahwa media yang paling baik untuk informasi Al Qur'an
adalah Air putih, Madu, minyak zaitun, air zam-zam dan makanan alami yang sangat banyak ragamnya di
dunia ini, ia bisa menjadi media informasi gelombang energi dari sebuah bacaan Al Qur'an.

Inilah Manfaat Membaca Al-Qur'an bagi Kesehatan

Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh dr. Al-Qodhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat,
berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat suci Al-Qur'an, baik mereka yg mengerti
bahasa Arab atau tidak, ternyata memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar. Termasuk salah
satunya dapat menangkal berbagai macam penyakit.

Hal tsb dikuatkan lagi oleh Penemuan Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

Mengapa di dalam Islam, ketika kita mengaji disarankan untuk bersuara? Minimal untuk diri sendiri alias
terdengar oleh telinga kita.

Berikut penjelasanya :

Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil
apapun dalam getaran ini akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh...

Nah... Sel-sel yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya.

Hal tersebut artinya harus dengan suara. Maka munculah TERAPI SUARA yang ditemukan oleh dr. Alfred
Tomatis, seorang dokter di Perancis.

Sementara dr. Al-Qodhi menemukan, bahwa


MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN BERSUARA, Memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap sel-sel otak
untuk mengembalikan keseimbangannya.

Penelitian berikutnya membuktikan Sel Kanker dapat hancur dengan menggunakan FREKUENSI SUARA
saja.

Dan kembali terbukti bahwa, Membaca Al-Qur'an memiliki dampak hebat dalam proses penyembuhan
penyakit sekaliber kanker.

Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan ayat suci Al-Qur'an, dan di saat yang sama , sel-sel
sehat menjadi aktif.

Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.


Silakan dilihat QS. Al-Isro' ayat 82

Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini semakin rajin dan giat membaca Al-Qur'an adalah karena
menurut survey :
SUARA YANG PALING MEMILIKI PENGARUH KUAT TERHADAP SEL-SEL TUBUH, ADALAH SUARA SI
PEMILIK TUBUH ITU SENDIRI.
Lihat QS. 7 ayat 55 dan QS. 17 ayat 10.

Mengapa Sholat berjama'ah lebih di anjurkan?.


Karena ada do'a yg dilantunkan dengan keras, sehingga terdengar oleh telinga, dan ini bisa
mengembalikan sistem yang seharian rusak.

Mengapa dalam Islam mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan?


Karena survey membuktikan, bahwa getaran suara hingar bingar MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG.

Maka kesimpulannya adalah :

1. Bacalah Al-Qur'an di pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk mengembalikan sistem tubuh
kembali normal.

2. Kurangi mendengarkan musik hingar bingar, ganti saja dengan murotal yang jelas-jelas memberikan
efek menyembuhkan.
Siapa tahu kita punya potensi terkena kanker, tapi karena rajin mendengarkan murotal, penyakit
tersebut bisa hancur sebelum terdeteksi.

3. Perbaiki baca Al-Qur'an (baca dengan tartil, penuhi Hukum Tajwid), karena efek suara kita sendirilah
yang paling dasyat dalam penyembuhan.

Dengan hanya tilawah yg baik dan Tartil Tajwid Tahsin maka kesehatanmu akan terjaga. In Syaa Allah