Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS

( PROSES MENSTRUASI DAN KESUBURAN, FERTILISASI DAN


PERKEMBANGAN FETUS )

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas Yang Diampu

Oleh Bapak Ns. Wagiyo, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat.

DISUSUN OLEH :

Kelompok 2 (2.A2)

1. Faisal Sachrudin ( P1337420118002 )


2. Sheyla Nur Alifah Y ( P1337420118016 )
3. Sri Purwati ( P1337420118045 )
4. Novita Ambar A ( P1337420118076 )
5. Nur Laela R ( P1337420118081 )
6. Armadhea M ( P1337420118083 )
7. Erliyana Dwi A (P1337420118085 )
8. Alya Azkiya U ( P1337420118087 )
9. Violita K ( P1337420118089 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-
Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah tugas kelompok Keperawatan
Maternitas tentang “Proses menstruasi dan kesuburan, fertilisasi dan perkembangan
fetus”
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang telah berperan
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehamilan terjadi ketika hubungan seksual dilakukan pada saat wanita dalam
masa ovulasi atau masa subur ( keadaan dimana rahim melepaskan sel telur), dan
sperma (air mani) dari pria membuahi sel telur dari wanita tersebut. Telur yang telah
dibuahi akan menempel pada dinding rahim, yang akan bertumbuh dan berkembang
selama kira-kira 40 minggu (280 hari). Dalam sekali hubungan badan, seorang suami
rata-rata mengeluarkan air mani sebanyak 3 cc, dan setiap 1 cc air mani yang normal
akan mengandung sekitar 100 juta hingga 120 juta buah sel sperma.
Setelah air mani ini terpancar (ejakulasi) ke dalam pangkal saluran kelamin istri,
jutaan sel sperma ini akan berlarian melintasi rongga rahim, saling berebut untuk
mencapai sel telur matang yang ada pada saluran tuba di seberang rahim.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………… i

Daftar Isi ………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang ……………………………………………………………… 1.1


2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………. 1.2
3. Tujuan ………………………………………………………………………… 1.3

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian menstruasi..................................................................................... 2.1


2. Proses menstruasi......................................................................................... 2.2
3. Kapan masa subur wanita terjadi.................................................................... 2.3
4. Infeksi selama menstruasi............................................................................... 2.4
5. Cara menghitung masa subur wanita............................................................... 2.5
6. Proses Fertilisasi (pembuahan)........................................................................ 2.6
7. Perkembangan fetus......................................................................................... 2.7

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan …………………………………………………………………. 3.1


2. Saran ……………………………………………………………………….. 3.2

DAFTAR PUSTAKA
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Menstruasi
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel
tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat
pubertas dan menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun
mungkin faktor-faktor kesehatan lain dapat membatasi kapasitas ini. Menstruasi
biasanya dimulai antara umur 10 dan 16 tahun, tergantung pada berbagai faktor,
termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh.

Menstruasi berlangsung kira-kira sekali sebulan sampai wanita mencapai usia 45 -


50 tahun, sekali lagi tergantung pada kesehatan dan pengaruh-pengaruh lainnya. Akhir
dari kemampuan wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan menandai akhir
dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang rata-rata daur menstruasi adalah 28
hari, namun berkisar antara 21 hingga 40 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu
wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan
tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita
tersebut.

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita
setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang
dikendalikan oleh interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar
dibawah otak depan, dan indung telur. Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai
berkembang dan menebal. Lapisan ini berperan sebagai penyokong bagi janin yang
sedang tumbuh bila wanita tersebut hamil. Hormon memberi sinyal pada telur di dalam
indung telur untuk mulai berkembang. Tak lama kemudian, sebuah telur dilepaskan dari
indung telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba Falopii terus ke rahim. Bila telur
tidak dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan intim (atau saat inseminasi buatan),
lapisan rahim akan berpisah dari dinding uterus dan mulai luruh serta akan dikeluarkan
melalui vagina. Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi (atau
mens, atau haid), berlangsung selama tiga hingga tujuh hari.
2.2 Proses Menstruasi
Siklus menstruasi berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukkan
endometrium. Lamanya siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid klasik
adalah 28 hari ditambah atau dikurangi dua sampai tiga hari. Siklus ini dapat berbeda
pada wanita yang sehat dan normal. Siklus haid mulai teratur jika wanita sudah berusia
25 tahun. Siklus ini dikendalikan oleh hormone-hormon reproduksi yang dihasilkan
oleh hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.

Fase dalam siklus haid, yaitu:


a. Fase Folikel
Pada akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormone gonadotropin.
Hormone ini akan merangsang hipofisis untuk melepaskan FSH (Follicle Stimulating
Hormone) atau hormone pemicu pertumbuhan folikel. Pada awal siklus berikutnya pada
hari pertama sampai ke-14,folikel akan melanjutkan perkembangannya karena
pengaruh FSH dalam ovarium. Setelah itu terbentuk folikel yang sudah masak (folikel
de Graaf) dan menghasilkan hormone estrogen yang berfungsi menumbuhkan
endometrium dinding rahim dan memicu sekresi lendir.

b. Fase Estrus
Kenaikan estrogen digunakan untuk mempertahankan pertumbuhan dan merangsang
terjadinya pembelahan sel-sel endometrium uterus. Selain itu juga berperan dalam
menghambat pembentukan FSH oleh hipofisis untuk menghasilkan LH (Luteinizing
Hormone) yang berperan dalam merangsang folikel de graaf yang telah masak untuk
melakukan ovulasi dari ovarium.
Ovulasi umumnya berlangsung pada hari ke-14 dari siklus haid. Biasanya pada setiap
ovulasi dihasilkan 1 oosit sekunder.

c. Fase Luteal
LH merangsang folikel yang telah kosong untuk membentuk korpus atau uteum
(badan kuning). Selanjutnya korpus ini menghasilkan progestron yang mengakibatkan
endometrium berkembang tebal dan lembut serta banyak pembuluh darah. Selama 10
hari setelah ovulasi,progesterone berfungsi mempersiapkan uterus untuk kemungkinan
hamil. Uterus pada tahap ini siap menerima dan member sel telur yang telah dibuahi
(zigot).
Jika tidak terjadi fertilisasi corpus luteum berubah menjadi corpus albicans dan berhenti
menghasilkan progesteron.

d. Fase Menstruasi / Perdarahan


Apabila fertilisasi tidak terjadi,produksi progesterone mulai menurun pada hari ke-
26. Corpus luteum (badan kuning) berdegenerasi dan lapisan uterus bersama dinding
dalam rahim luruh (mengelupas) pada hari ke-28 sehingga terjadi pendarahan.
Biasanya haid berlangsung selama 7 hari. Setelah itu dinding uterus pulih kembali.
Selanjutnya karena tidak ada lagi progesterone yang dibentuk,maka FSH dibentuk lagi
kemudian terjadilah proses oogenesis,dan siklus haid dimulai kembali. Siklus haid akan
berhenti jika terjadi kehamilan.

2.3 Infeksi Selama Menstruasi


Setiap wanita akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama proses pembuangan
dari dalam rahim yang lebih kerap di kenai dengan proses menstruasi. Menstruasi
merupakan proses yang dialami tubuh dalam mempersiapkan diri untuk kegiatan
produktifitas selanjutnya.
Proses menstruasi yang teratur merupakan tanda utama kesehatan dan kesuburan
produktifitas pada tubuh setiap wanita - Suatu proses alamiah yang telah berlangsung
sejak zaman dahulu.
Oleh karena itu, proses menstruasi pada wanita kerap dianggap sebagai sesuatu
yang dianggap suci dan patut di hormati.

Gejala umum infeksi bakteria yang sering dijumpai selama menstruasi:


a. Demam
b. Radang pada permukaan vagina
c. Gatal-gatal pada kulit
d. Radang vagina
e. Radang Servik (Rongga Mulut Rahim)
f. Radang Selaput Rahim
g. Leucorrhea / Keputihan
h. Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut
i. Demam, pusing dan mual, sering buang air kecil, rasa sa kit saat buang air kecil,
nyeri/sakit pada bagian pinggang dan kelelahan.
2.4 Kapan masa subur wanita terjadi?

Secara umum, masa subur wanita adalah sekitar masa ovulasi (ketika ovarium
melepaskan sel telur). Kapan ovulasi terjadi? Ovulasi terjadi sekitar 12 sampai 14 hari
sebelum periode menstruasi dimulai. Rata-rata masa subur wanita mulai terjadi pada
hari ke 10 sampai ke 17 setelah hari pertama menstruasi, jika siklus menstruasi Anda
berlangsung selama 28 hari. Lima hari sebelum ovulasi dan satu hari di mana ovulasi
terjadi, merupakan masa paling subur wanita. Ingat, sperma hanya bisa bertahan hidup
selama 5 hari dan sel telur bisa bertahan hidup hanya satu hari. Kemungkinan Anda
untuk hamil meningkat tajam jika Anda berhubungan seksual 2 atau 3 hari sebelum sel
telur dilepaskan, dan kemudian 12 sampai 24 jam setelah itu. Berhubungan seksual
pada saat ini merupakan peluang besar bagi Anda untuk cepat hamil.

2.5 Cara menghitung masa subur wanita

Satu hal yang Anda perlukan untuk menghitung masa subur wanita adalah kalender.
Anda perlu menandai setiap tanggal di mana Anda mengalami menstruasi untuk bisa
menghitung masa subur. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan
untuk menghitung masa subur :

1. Ketahui panjang siklus menstruasi Anda

Untuk menghitung masa subur, Anda harus menandai siklus menstruasi tiap
bulan dan menghitung berapa lama hal tersebut berlangsung. Panjang siklus
menstruasi dihitung dari hari 1, yaitu hari pertama Anda menstruasi, sampai hari
terakhir, yaitu hari sebelum periode menstruasi selanjutnya dimulai.

Karena panjang siklus Anda dapat sedikit berbeda dari bulan ke bulan,
sebaiknya Anda mencatatnya selama beberapa bulan untuk mengetahui rata-ratanya,
setidaknya 8 bulan jika mungkin.

2. Hitung perkiraan masa subur

Tahap selanjutnya dalam menghitung masa subur, yaitu cari siklus terpanjang
dan siklus terpendek dari siklus menstruasi Anda setiap bulannya. Setelah itu:

 Kurangi 18 hari dari siklus terpendek Anda. Ini adalah hari pertama Anda memasuki
masa subur. Misal, siklus terpendek Anda adalah 25 hari, maka hari pertama masa
subur Anda adalah hari ke 7 setelah hari pertama menstruasi.
 Kurangi 11 hari dari siklus terpanjang Anda. Ini adalah hari terakhir masa subur
Anda. Misal, siklus terpanjang Anda adalah 29 hari, maka hari terakhir masa subur
Anda adalah hari ke 18 setelah hari pertama menstruasi.

Berhubungan seks di antara waktu tersebut (antara hari ke 7-18 setelah menstruasi)
merupakan kesempatan terbaik Anda untuk cepat hamil.

Berikut adalah tanda-tanda seseorang sedang mengalami ovulasi :

 Kram atau nyeri ringan pada salah satu sisi panggul


 Nyeri pada payudara atau payudara terasa lebih lembut
 Perut terasa kembung
 Keputihan semakin banyak dikeluarkan
 Gairah seks meningkat
 Merasa lebih seksi
 Aroma tubuh lebih baik
2.6 Proses Pembuahan (Fertilisasi) Pada Manusia

1. Ovulasi

Sebelum proses pembuahan berlangsung, harus terjadi ovulasi terlebih dahulu.


Ovulasi yaitu keluarnya sel telur dari ovarium (indung telur) yang normalnya terjadi
setiap bulan. Seperti dijelaskan disini: proses terjadinya menstruasi.

Di dalam ovarium wanita, ada banyak sel telur, namun dalam setiap bulannya ada
satu sel telur yang berada dalam sebuah kantung (folikel) yang dipersiapkan untuk
menjadi matang. Proses pematangan ini terutama dipengaruhi oleh hormon FSH (folikel
stimulating hormone).

Setelah matang, sel telur keluar dari folikel sehingga terjadilah ovulasi yang
dicetuskan oleh hormon LH (Leutenizing hormone). Proses ovulasi umumnya terjadi
sekitar 2 minggu sebelum haid berikutnya.

Pada kondisi tertentu, sel telur yang matang dan berovulasi tidak hanya satu, dan hal
inilah yang menjadi alasan terjadinya hamil kembar.

2. Sel telur berpindah ke saluran tuba falopi

Setelah keluar dari indung telur, sel telur berada di tuba falopi dan perlahan menuju
rahim. Umur sel telur di dalam tuba falopi hanya 24 jam saja, sehingga apabila tidak
ada sperma yang membuahinya, maka ia akan mati dan kehamilan tidak terjadi.

3. Meningkatnya hormon

Setelah sel telur meninggalkan folikel, folikel dalam ovarium kemudian berkembang
menjadi korpus luteum. Korpus luteum ini menghasilkan hormon progesteron yang
bertugas menebalkan lapisan dinding rahim dengan nutrisi dan aliran darah sehingga
siap sebagai ‘rumah' bagi sel telur yang sudah dibuahi.

4. Jika sel telur tidak dibuahi

Bila tak ada sperma yang membuahi sel telur, maka sel telur akan berpindah ke rahim
dan hancur. Pada saat ini, korpus luteum mengecil dan kadar hormon dalam tubuh
kembali normal seperti biasanya. Lapisan dinding rahim yang menebal tadi mulai
mengalami proses peluruhan sehingga keluarlah yang namanya darah haid.

5. Jika ada proses fertilisasi (konsepsi)

Kalau ada satu saja sperma yang berhasil sampai di saluran tuba falopi dan
menerobos masuk dalam sel telur, maka terjadilah proses pembuahan. Sel telur akan
mengalami perubahan sehingga tak ada sperma lain yang dapat masuk.

Pada saat ini jugalah gen dan jenis kelamin bayi ditentukan. Jika spermanya
mengandung kromosom Y, maka bayinya laki-laki. Sebaliknya, jika spermanya
berkromosomkan X, maka yang lahir nanti adalah bayi perempuan.

6. Implantasi: perpindahan sel telur yang sudah dibuahi ke rahim

Tahapan dalam proses fertilisasi selanjutnya adalah implantasi. Namun sebelumnya,


sel telur yang telah dibuahi biasanya masih menetap di saluran tuba falopi selama 3-4
hari.

Gambar proses pembuahan hingga implantasi dalam rahim

Dalam waktu 24 jam setelah dibuahi, sel telur tersebut akan membelah diri dengan
cepat sehingga menjadi banyak sel. Proses pembelahan ini terus terjadi seiring
berpindahnya sel telur dari saluran tuba falopi ke rahim. Setelah itu, barulah sel telur
mulai berimplantasi atau menanamkan diri ke dinding rahim.
Implantasi umumnya menimbulkan gejala, namun tak semua wanita mengalaminya.
Beberapa mendapati munculnya bercak darah di celana dalam selama 1-2 hari. Pada
saat ini, lapisan dinding rahim terus menebal dan serviks ditutupi oleh lendir tebal.
Penutup ini akan tetap melindungi serviks hingga proses persalinan nanti.

Dalam waktu 3 minggu, sel yang menempel di dinding rahim tadi mulai berkembang
menjadi gumpalan, dan sel saraf pertama bayi sudah mulai terbentuk.

7. Munculnya hormon kehamilan

Setelah implantasi terjadi, tubuh mulai menghasilkan hormon kehamilan (hCG).


Keberadaan hormon inilah yang dideteksi oleh alat tes kehamilan. Umumnya, butuh
waktu 3-4 minggu dari hari pertama haid terakhir agar kadar hCG cukup tinggi untuk
terbaca oleh test pack.

2.7 Perkembangan Fetus

Perkembangan janin sejak fertilisasi sampai aterm melalui beberapa tahap. Zigot >>
blastomer >> morula >> blastula >> grastula >> embrioblast >> fetus.

Setelah fertilisasi dan terbentuk zigot, zigot masih berada di dalam ampula karena ada
kontriksi antara ampula dan kanal oviduk sisanya. Hal tersebut terjadi dalam tiga
hingga emapt hari pertama. Selama berada dalam ampula, zigot terus melakukan
pembelahan sel secara mitosis mebnetuk morula. Sementara itu peningkatan
progesteron yang dihasilkan korpus luteum menstimulasi pelepasan glikogen dari
endometrium ke lumen saluran reproduksi sebagrai sumber energi awal embrio.
Nutrisi yang terkandung dalam sitoplasma ovum hanya cukupuntuk sehari.
Konsentrasi nutrisi yang disekresikan lebih banyak di ampula daripada di lumen
uterina.
Setelah empat hari kadar progesteron telah cukup untuk merelaksasikan oviduk
sehingga morula bisa menuju uteri melalui gerakan peristaltik dan aktivitas silia.
Keterlambatan zigot untuk sampai pada uteri ini sangat penting agar lumen uteri
sudah mengakumulasikan nutrisi yang cukup untuk mendukung implantasi embrio.
Jika tiba terlalu awal, morula bisa mati.

Implantasi baru terjadi pada hari ke tujuh. Sebelum itu, zigot masih bebas dalam
rongga uteri selama tiga hingga empat hari sambil melanjutkan pembelahan. Apabila
endometrium sudah cocok untuk implantasi, morula telah turun ke uterus dan terus
berproliferasi serta berdiferensiasi menjadi blastokis yang dapat berimplantasi.
Blastokis merupakan bola berongga berlapis tunggal yang dikelilingi oleh 50 sel. Di
dalamnya terdapat massa padat sel bersama dalam satu sisi. Massa padat tersebut
merupakan inner cell mass yang aan berkembang menjadi fetus. Bagian lain berperan
dalam menyokong kehidupan embrio yang sedang berkembang di dalam uterus.

Lapisan terluar blastokis, tropoblas melakukan implantasi yang mana nanti akan
berkembang menjadi plasenta bagian fetus. Setelah siap berimplantasi permukaan
blastokis menjadi lengket. Sementara endometrium telah siap dan menjadi lebih
adesif dengan peningkatan cell adhesion molecules (CAMs).

Saat berkontak dengan endometrium, sel tropoblas melepaskan enzim pencerna


protein yang memungkinkan sel sel tropoblas melakukan penetrasi ke dalam
endometrium. Selain membuat lubang yang penting untuk implantasi, pemecahan
dinding endometrium yang kaya nutrisi juga penting untuk sumber bahan bakaar dan
bahan baku metabolisme. Selanjutnya, membran plasma tropoblas berdegenerasi
membentuk sinsitium yang multinukleat yang nantinya menjadi plasenta bagian fetal.

Jaringan endometrium yang mengalami modifikasi pada tempat implantasi disebut


desidua. Melalui respon terhadap cairan kimia yang dilepaskan oleh blastokis, sel
endometrium mensekresikan prostaglandin secara lokal menyebabkan peningkatan
vaskularisasi, edema dan peningkatan penyimpanan nutrisi. Saat implantasi selesai,
seluruh blastokis terbeanm ke dalam endometrium san del tropoblas terus mencerna
sel desidua disekitarnya untuk menyediakan energi bagi embrio sampai plasenta
terbentuk.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

https://www.honestdocs.id/proses-pembuahan-fertilisasi-manusia-tahap-demi-tahap

https://bungamasamba.blogspot.com/2011/04/makalah-siklus-menstruasi.html

https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/menghitung-masa-subur-wanita/