Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KIMIA ORGANIK II

“APLIKASI STEREOKIMIA DI INDUSTRI”

Oleh :
KELOMPOK VI
KELAS AK 2C

RAMAWATI (1720072)
RESSA YULIZA EFENDI (1720078)
DWI OLGA OKTARI (1720090)
ADE LIDYA KHAYRINI (1720094)

Dosen : DWIMARYAM SUCIATI

PROGRAM STUDI ANALISIS KIMIA


POLITEKNIK NEGERI ATI PADANG
PADANG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Efedrin adalah alkaloid yang ditemukan pada tanaman Ma Huang yang
berasal dari Cina dan telah digunakan selama 5000 tahun, telah tercatat pada
Pentsao Kang Mu yang ditulis oleh Shih-Cheng li pada tahun 1596 M telah
digunakan sebagai stimulan sirkulasi, diaforetik, antipiretik, sedatif untuk
pengobatan batuk.
Tanaman efedra yang ditemukan di Rusia telah digunakan sejak awal abad
19, yaitu E.vulgaris. Infus tanaman ini dicampurkan dengan susu butter untuk
pengobatan rematik (dilaporkan oleh Bectin tahun 1891), syphilis dan penyakit
saluran napas.
Di Amerika beberapa tanaman efedra telah digunakan oleh suku Indian
untuk beberapa tujuan. E.anisyphitica, E.caufornica, dan E.nevadensis digunakan
untuk pengobatan syphilis dan gonorrhoea.
Pada tahun 1885 pertama kali tanaman ma huang diisolasi oleh
G.Yamanashi dan menemukan bahan-bahan berupa kristal yang murni,
selanjutnya diisolasi oleh Nagai dan Y.Hori dan telah menemukan alkaloid yang
murni pada tahun 1887, alkaloid tersebut kemudian diberi nama efedrin oleh
Nagai.
Pada tahun 1917 peneliti asal Jepang, Amatsu dan Kubota menemukan
efek simpatomimetik dari efedrin yang digunakan untuk pengobatan asma. Hasil
ini didikung oleh Hirose dan To yang memberikan kesimpulan sama. Publikasi ini
menarik perhatian Eropa dan Amerika untuk menggunakan efedrin sebagai anti
asma. Kemudian pada tahun 1923 telah digunakan dalam bentuk tablet oleh
negara-negara barat.
Istilah anestesi artinya hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang disertai
hilangnya kesadaran (Gunawan, S.G. 2007). Anestesi spinal dilakukan dengan
cara memberikan injeksi/ suntik ananestetika local kedalam cairan serebrospinal
(CSS) dalam ruangan tarlumbal (Goodman et al, 2008). Injeksi dilakukan pada
ruang intervertebralis L2-3, L3-4, L4-5, dan L5-S1 (Latief, S.A dkk, 2009).
Anestesi spinal adalah teknik yang efektif, khususnya untuk operasi anggota gerak
bawah. Selain itu juga untuk abdomen bawah, dan perineum (Good
manetal,2006). Anestesi spinal bertujuan utama memblok saraf sensoris untuk
menghilangkan sensasi nyeri. Namun anestesi spinal juga memblok saraf motorik
sehingga mengakibatkan paresis/ paralisis di miotom yang selevel dengan
dermatom yang diblok. Disamping itu juga memblok saraf otonom dan yang lebih
dominan memblok saraf simpatis, sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan
tekanan darah (Dobson M.B, 1994). Hipotensi adalah efek samping yang paling
sering terjadi pada anestesi spinal, dengan insidensi 38% dengan penyebab utama
adalah blockade saraf simpatis (Covino, B.G et al, 1994). Hipotensi diartikan
dengan tekanan darah yang rendah secara abnormal (Dorland, 1998). Hipotensi
merupakan akibat penurunan volume darah, curah jantung dan tahanan perifer
(Benzon, H.T et al, 2005). Penanganan hipotensi biasanya diperlukan jika tekanan
darah menurun lebih dari 20%-30% nilai awal. Terapi ditujukan untuk
mempertahankan perfusi dan oksigenasi organ vital khususnya otak dan jantung
.Penanganan dilakukan dengan cairan perinfus untuk meningkatkan volume darah
sirkulasi dan curah jantung dalam usaha mengkompensasi. Selain itu pemberian
oksigen, mengatur posisi pasien dengan mengangkat tungkai serta dengan
pemberian obat vasoaktif yang berefek vasokonstriksi dan kronotropik (kecepatan
denyut jantung) positif karena penyebab umum nya menurun nya aliran balik vena
(Buggy, D.J, et al, 1998; Goodman et al, 2008). Kombinasi agonis α dan β
adrenergic lebih baik dari pada hanya agonis-α untuk mengatasi hipotensi, dan
sekarang ini efedrin menjadi obat pilihan (Hadzic, 2007).

Efedrin merupakan agonis α dan β adrenergik. Obat ini meningkatkan


pelepasan norepinefrin dari neuron simpatik (Goodman et al, 2008). Efedrin
merupakan golongan simpatomimetik yang dapat meningkatkan tekanan darah
akibat blockade saraf simpatis (Stoelting, R.K , 1991). Pemberian efedrinin
travena yang biasanya untuk pengobatan hipotensi pada anestesi spinal adalah
dengan bolus 5-10 mg atau melalui infus 50 mg dalam 250-1000 ml Kristaloid
(Benzon H.T et al, 2005). Secara klinis, efedrin memiliki efek kerja yang panjang,
terutama setelah pemberian secara oral (Katzung, B.G. 2001). Penelitian tentang
efedrin oral yang digunakan untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal telah
dilakukan oleh Kafle (1994) melakukan penelitian yaitu membandingkan efek
efedrin 30 mg per oral dan placebo yang diberikan 30 menit sebelum dilakukan
SAB, pasien diberikan cairan prabeban kristaloid 10 ml/kgBB. Hasilnya pada
kelompok placebo 83% pasien memerlukan suplemen efedrin. Sedangkan pada
kelompok efedrin 30 mg per oral, 55% pasien juga masih perlu diterapi dengan
efedrin. Pratomo (2002), mengadakan penelitian menggunakan dosis 50 mg
secara oral untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal. Hasilnya pada
kelompok efedrin 50 mg per oral tidak terjadi hipotensi pada semua pasien, tetapi
dapat menimbulkan hipertensi pada 48% pasien sehingga harus hati-hati dalam
pemakaiannya karena tingginya insidensi hipertensi. Mengingat hal tersebut,
dalam penggunaan efedrin oral sebaiknya dicari dosis yang aman untuk
mengurangi insidensi terjadinya hipotensi akibat anestesi spinal dan
meminimalkan terjadinya efek samping hipertensi. Berdasar latar belakang
tersebut, maka peneliti ingin meneliti efektivitas pemakaian efedrin per oral dalam
formulasi dosis yang tepat untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal, yaitu
dengan menggunakan efedrin oral dosis 30 mg dan 40 mg.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah aplikasi dari Stereokimia dapat berperan dalam bidang industri?
2. Mengapa Efedrin termasuk ke dalam Stereokimia?

C. TUJUAN
1. Mengetahuiaplikasi dari Stereokimia
2. Mengetahui mekanisme reaksi dari pembuatan Efedrin

D. MANFAAT
1. Dapat mengetahui aplikasi stereokimia di dunia industri
2. Dapat mengetahui apa itu C kiral
3. Dapat mengetahui mekanisme untuk memperoleh Efedrin
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 stereokimia

Stereokimia: studi mengenai molekul-molekul dalam ruang tiga dimensi,


yakni bagaimana atom-atom dalam sebuah molekul ditata dalam ruangan satu
relatif terhadap yang lain.
Stereoisomer: senyawa berlainan yang mempunyai struktur sama, berbeda
hanya dalam hal penataan atom-atom dalam ruangan

Obyek apa saja yang tak dapat diimpitkan pada bayangan cerminnya
dikatakan kiral, sebaliknya obyek yang dapat diimpitkan pada bayangan
cerminnya disebut akiral.
Sebuah molekul akiral dan molekul bayangan cerminnya yang dapat
diimpitkan adalah yang sama, tetapi sebuah molekul kiral tidak dapat diimpitkan
pada bayangannya cerminnya, merupakan dua senyawa berlainan yang disebut
enantiomer.
Atom karbon kiral atau atom karbon asimetrik : atom karbon yang
mengikat empat gugus yang berlainan.
2.2 Latar belakang industri (efedhrin)

Konimex adalah salah satu perusahaan farmasi Nasional yang didirikan


oleh Djoenaedi Joesoef pada 8 Juni 1967 sebagai perusahaan perdagangan jual
beli obat-obatan, bahan kimia, alat laboratorium dan alat kedokteran. Pada tahun
1971, PT Konimex mulai memproduksi sendiri obat-obatan dengan dukungan
fasilitas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Perusahaan ini kini
memproduksi berbagai macam produk: obat-obatan, permen dan makanan. PT
Konimex berlokasi di desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo,
Jawa Tengah yang dibangun pada tahun 1979. Konimex memproduksi berbagai
macam produk yaitu: Produk obat bebas (over the counter), produk herbal, Produk
Vitamin dan Food Suplemen. Salah satunya yaitu NEO NAPACIN

Neo Napacin merupakan obat yang berkhasiat membantu meringankan


sesak napas serta meringankan dan mengatasi asma bronkial. Neo Napacin
mengandung kombinasi dua bronkodilator yaitu Theophyllin dan Ephedrin HCL.
Theophyllin merupakan turunan metilxanti yang mempunyai efek antara lain
merangsang susunan saraf pusat dan melemaskan otot polos, terutama bronkus.
Ephedrin HCL bekerja mempengaruhi sistem saraf adrenergik secara langsung
dan tidak langsung. Ephedrin HCL dan Theophyllin keduanya merupakan
bronkodilator, yang bekerja meringankan sesak napas.
Tiap tablet mengandung :

- Ephedrine HCl 12,5 mg

- Theophylline 130 mg
2.2 efedrin

Rumus Struktur efedrin

Tata nama IUPAC (1R,2S)-2-(methylamino)-1-phenylpropanol

Efedrin adalah suatu alkaloid yang diisolasi dari tumbuhan alami yang berasal dari batang
muda kering Ephedra sinica ( family Ephedraceae ). Efedrin merupakan dekongestan dan
bronkodilator. Ia bekerja dengan mengurangi pembengkakan dan konstriksi pembuluh darah
di bagian hidung dan pelebaran jalan napas.

Bahan aktif dari ekstrak efedrin ini pertama kali diisolasi pada tahun 1855, kemudian diteliti
lebih lanjut oleh Chem dan Schimdt pada tahun 1930 yang meneliti efek efedrin memiliki
persamaan dengan ephinephrine terhadap gangguan kardiovaskuler.
Dalam obat – obatan tradisional Cina, ramuan Huang ma berisi efedrin dan pseudoefedrin
sebagai aktif utama konstituennya. Hal yang sama berlaku untuk produk herbal lain yang
mengandung ekstrak dari spesies ephedra. Bahan baku untuk produksi efedrin dan obat
tradisional Cina diproduksi di Cina pada skala besar. Dalam pengobatan Cina tradisional,
efedrin telah digunakan dalam perawatan asma dan bronkitis selama berabad-abad. Efedrin,
yang dikenal dengan nama kimia seperti alkohol 1-metilamino-etil-benzil atau 2-metilamino-
l-fenil-l-propanol, mengandung dua atom karbon asimetrik, sehingga ada empat bentuk optik
aktif (Gbr. 1), di mana (L-) isomer adalah digunakan secara klinis. Keempat isomer terjadi
secara alami pada tanaman Ephedra, dan dapat diekstraksi dengan alkohol dan benzena.
Dimurnikan efedrin diperoleh sebagai tidak berbau, kristal tak berwarna atau sebagai bubuk
kristal putih dengan rasa pahit.

Efedrin sangat stabil. Suatu larutan efedrin hidroklorida disegel selama enam tahun
menunjukkan tidak oksidasi atau hilangnya aktivitas. Kegunaan utamanya adalah sebagai
farmakologi senyawa dekongestan atau anti-asma, walaupun laporan baru-baru ini telah
Melting Point : 34 °C

Boiling Point : 255 °C

2.4 METODE SINTESA


Tiga metode produksi telah digunakan untuk L-efedrin:
1. ekstraksi tradisional dari spesies tanaman Ephedra,

2. proses kimia sintetik melibatkan resolusi campuran rasemat,


3. dan proses yang melibatkan biotransformasi benzaldehida untuk L-PAC oleh
berbagai jenis khamir).

Proses biotransformasi yang melibatkan kondensasi dari 'benzaldehida aktif' (dari


asam piruvat) dan benzaldehida ditunjukkan pada Gambar. 2. Produksi L-PAC
dikatalisis oleh enzim piruvat dekarboksilase (PDC), dan dapat dikaitkan dengan
alkohol benzil oleh formasi-produk, karena aktivitas dehydrogenase alkohol (s)
(ADH) dan / atau non-spesifik oxidoreductases. Beberapa jejak asam benzoat
sebagai produk-oleh juga telah dilaporkan. Studi sebelumnya telah melaporkan
konsentrasi jika 10-12 g L-1 L-PAC dalam batch budaya dengan sel bebas (20, 21)
dan dengan ragi amobil (, 22 23). Penambahan siklodekstrin (khususnya β-
siklodekstrin) telah ditunjukkan untuk meningkatkan

produksi L-PAC dengan Saccharomyces cerevisiae amobil (24) meskipun lagi


konsentrasi maksimal 12 g L-1 L-PAC dilaporkan. Evaluasi sejumlah besar strain
ragi oleh Netrval dan Vojtisek (19) strain diidentifikasi dari Saccharomyces,
Candida dan Hansenula sp. yang mampu produksi L-PAC yang signifikan dalam
budaya kocok-berjemur (hingga maksimum 6,3 g L-1). studi perbaikan Strain
untuk mengembangkan asetaldehida dan mutan resisten L-efedrin telah dilaporkan
oleh Seely et al. (25) dengan mutan mampu tingkat L-PAC meningkat
dibandingkan strain tipe liar. Namun, maksimal L-PAC tingkat tidak melebihi 10
g L-1

2.5 PROSEDUR SINTESA


Ekstraksi
1. 1 kg bubuk ma huang diekstraksi dengan benzene dingin ditambah larutan
Na2CO3 encer

2. Ekstraksi di kocok kemudian masukkan HCl encer yang bertujuan untuk


menghapus bahan dasar.

3. Larutan di buat solid dengan K2CO3 untuk pembebasan dasar kemudian di


ekstraksi dengan kloroform

4. Larutan kloroform menghasilkan anhidrat dan Na2SO4 kemudian dikeringkan


dan di suling di hasilkan 2,6gr basis mentah

Kristalisasi
1. Hasil yang didapat di tambahkan alcohol dengan volume dua kali, di netralkan
denga HCl pekat dan diencerkan dengan alcohol dengan volume dua kali.
2. Di dapat ephedrine HCl yang hamper mengekristal kemudian disaring dan
dicuci dengan campuran alcohol dan eter , kemudian dengan eter murni dan di
keringkan

3. Garam ephedrine di dapat dengan bentuk jarum prismatic.

4. Garam di kristalisasi fraksional hingga menunjukkan perubahan titik lebur .

Pemisahan Oksalat dengan perbedaan kelarutan


1. Basis kasar yang diperoleh di tambahkan asam oksalat yang kemudian akan
membentuk pemisahan yang jelas dari dua garam alkaloid

2. Ephedrin oksalat mempunyai sifat sedikit larut dalan air dingin dan
pseudoefedrine yang sangat larut

Pemurnian Ephedrine
1. 5 gr Ephedrine HCl murni dilaritkan dengan air secukupnya, alkali di bentuk
dengan penambahan K2CO3 padat sampai dua lapisan terbentuk dan di ekstraksi
dua kali dengan kloroform.

2. Larutan kloroform di tambah Na2SO4 anhidrat keringkan dan di suling.

3. Dalam pendinginan residu mengkristal dengan bentuk seperti belah ketupat.

4. Kemudian di rekristalisasi dengan alcohol sedikit mungkin dan di tambahkan


sejumlah petroleum eter secukupnya.

5. Di dapat Kristal ephedrine

2.6 Manfat Efedrin :


Pemakaian HCL Efedrin dalam perawatan, kontrol, pencegahan, dan
perbaikan penyakit, dimana kondisi dan gejalanya adalah :
 Kesulitan bernapas
 Asma
 Pembengkakan hidung
 Dingin atau alergi