Anda di halaman 1dari 21

PENGUKURAN CACAH RADIASI NUKLIR

Nanda Mas’ula1), M. Imam Muslim2), Refianti Qoma R.2), Trio Erik S.3), Dwi
Haryoto4)
1)Ketua Kelompok
2)Anggota

3)Proofreader

4)Dosen Pembimbing

Abstrak: Telah dilakukan Percobaan Cacah Radiasi Nuklir yang bertujuan


untuk menentukan counting rate (cacah radiadi) dari bahan radioaktif dan
menentukan penyerapan radioaktif dari bahan pelindung. Sehingga dari
percobaan ini dapat diketahui nilai cacah radiasi nuklir pada tiap-tiap bahan
radioaktif yang digunakan adalah pada Barium sebesar
N1  (4.40  0.25)10 1 Bq dengan ralat 5.69%, Amersium
N 2  (2.20  0.05) Bq dengan ralat 2.11% dan kaos lampu
N 3  (3.17  0.12)10 Bq dengan ralat 3.72%. Selain itu, diketahui pula
1

semakin tebal lapisan pelindung yang digunakan, maka akan semakin kecil
pula radiasi yang diteruskan menuju detektor Geiger-Muller karena radiasi
banyak diserap oleh bahan pelindung.
Kata Kunci: cacah radiasi, bahan radioaktif, detektor Geiger-Muller.

A. Pendahuluan
1. Motivasi
Radiasi merupakan suatu peristiwa perambatan energi dari sumber energi
ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu.
Proses dari radiasi itu sendiri dipancarkan secara acak (random) sehingga
pengukuran radiasi berulang meskipun dilakukan dengan kondisi yang sama akan
memperoleh hasil pengukuran yang berbeda-beda.
Seperti yang telah diketahui bahwa untuk menangkap atau melihat ada
tidaknya cacah radiasi nuklir tidak dapat digunakan panca indera manusia, karena
manusia tidak memiliki panca indera khusus yang dapat berfungsi sebagai sensor
cacah radiasi nuklir. Oleh karena itu, dengan bantuan peralatan instrumentasi
nuklir maka manusia akan dapat mendeteksi dan mengukur cacah radiasi nuklir
tersebut.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai cacah radiasi nuklir maka
percobaan ini memiliki tujuan yaitu (1) menentukan counting rate (cacah radiasi)
dari bahan radioaktif dan (2) menentukan penyerapan radioaktif dari bahan
pelindung.
2. Ringkasan Percobaan
Pada percobaan Pengukuran Cacah Radiasi Nuklir terdapat dua kali
pengambilan data. Pada percobaan pertama, pengambilan data digunakan untuk
menentukan cacah radiasi dari bahan radioaktif. Yang mana pada percobaan ini
terdapat tiga bahan radioaktif yaitu Barium, Amersium dan kaos lampu.
Sedangkan pada percobaan kedua, pengambilan data digunakan untuk
menentukan penyerapan radioaktif dari bahan pelindung. Yang mana pada
percobaan kali ini bahan pelindung yang digunakan adalah aluminium foil.

3. Implementasi dalam Teknologi


Implementasi dari cacah radiasi nuklir dalam teknologi saat ini semakin
berkembang. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan untuk pemetaan struktur internal
obyek yang semakin meningkat sejalan dengan adanya dukungan dalam
peningkatan kemampuan teknologi nuklir serta semakin meluasnya aplikasi dari
teknologi nuklir dalam berbagai bidang. Dimana aplikasi teknologi nuklir yang
dapat diketahui saat ini misalnya ditemukannya perangkat aktivasi nuklir yang
diikuti dengan spektroskopi gamma seperti renograf, thyroid uptake dan tomografi
komputer.
Sistem spektroskopi nuklir dan pencacah radiasi itu sendiri berfungsi
untuk menyelidiki dan menganalisis suatu radiosotop atau sumber radiasi. Dengan
cara mengukur distribusi energi dan berbagai informasi lainnya yang berkaitan
dengan sumber radiasi.

B. Latar Belakang Teoritis


Radiasi merupakan suatu peristiwa perambatan energi dari sumber energi ke
lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu
dengan cara memancarkan secara acak (random) energi dari sumber energi.
Radiasi nuklir memiliki dua sifat khas yaitu tidak dapat dirasakan secara langsung
dan dapat menembus berbagai jenis bahan. Seperti yang telah diketahui bahwa
untuk menangkap atau melihat ada tidaknya cacah radiasi nuklir tidak dapat
digunakan panca indera manusia, karena manusia tidak memiliki panca indera
khusus yang dapat berfungsi sebagai sensor cacah radiasi nuklir. Oleh karena itu,
dengan bantuan peralatan instrumentasi nuklir maka manusia akan dapat
mendeteksi dan mengukur cacah radiasi nuklir tersebut.
Radiasi itu sendiri digolongkan menjadi dua macam yaitu radiasi pengion dan
radiasi non-pengion. Radiasi pengion merupakan jenis radiasi yang dapat
menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila
berinteraksi dengan suatu jenis bahan. Contoh dari radiasi pengion adalah partikel
alpha, partikel beta, partikel gamma, sinar-X dan neutron. Sedangkan radiasi
non-pengion merupakan jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi
apabila berinteraksi dengan suatu jenis bahan. Contohnya adalah gelombang radio,
gelombang mikro, sinar inframerah, cahaya tampak dan sinal ultraviolet.
Salah satu jenis dari radiasi pengion ayang telah disebutkan di atas adalah
sinar-X. dimana sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik yang
berfrekuensi tinggi. Berdasarkan gejala yang ditimbulkannya, sinar-X dibagi
menjadi dua yaitu sinar-X karakteristik dan sinar-X bremstrahlung. Sinar-X
karakteristik dapat diperoleh bila elektron mengeksistasi elektron bebas, sehingga
berpindah menuju ke tingkat energi yang lebih rendah. Sedangkan sinar-X
bremsstalung diperoleh bila sinar katoda yang menumbuk logam anoda yang
mengakibatkan energinya mengecil dan sebagian berubah menjadi sinar-X yang
seolah-olah dipancarkan dari logam anoda.
Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi, sehingga apabila
dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan yang mengikuti mekanisme dari
radiasi tersebut. Perlu diketahui bahwa suatu bahan yang sensitif terhadap suatu
bahan radiasi belum tentu sensitif dengan bahan radiasi lainnya. Sebagai contoh
yaitu detektor radiasi gamma belum tentu dapat mendeteksi radiasi neutron.
Detektor radiasi ini bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan
oleh penyerapan energi oleh medium penyerap.
Radiasi dari zat radioaktif dapat dideteksi dengan detektor, salah satunya
adalah detektor Geoger-Muller. Dalam sejarah perkembangannya, besaran yang
digunakan untuk mengukur jumlah radiasi yang di pancarkan selalu didasarkan
pada jumlah ion yang terbentuk dalam keadaan tertentu atau pada jumlah energi
radiasi yang diserahkan kepada sejumlah massa bahan.
1. Prinsip Kerja Detektor Geiger Muller
Salah satu jenis detektor yang digunakan untuk mengukur cacah radiasi
nuklir adalah detektor Geiger Muller. Detektor ini berbentuk tabung logam atau
gelas yang pada bagian dalamnya dilapisi logam yang diisi dengan gas mulia dan
gas poliatom atau gas halogen. Dalam tabung terdapat kawat logam yang berlaku
sebagai anoda, sedangkan dinding tabung berlaku sebagai katoda. Kemudian
antara anoda dan katoda dipasang tegangan tinggi.

Apabila radiasi pengion masuk ke dalam tabung, maka atom gas yang
ada di dalam tabung akan mengalami proses eksitasi ataupun ionisasi primer
membentuk sejumlah pasangan ion positif dan elektron. Jika tegangan V yang
terpasang antara anoda dan katoda rendah, maka pasangan ion tersebut akan
membentuk atom semula. Namun, jika tegangan V cukup tinggi akan
menyebabkan ion positif bergerak ke arah katoda dan elektron bergerak ke arah
anoda dengan kecepatan yang lebih besar daripada kecepatan ion positif tersebut
sehingga akan menimbulkan pulsa. Tinggi pulsa ditentukan oleh jumlah elektron
yang dapat mencapai anoda.
Avalanche terjadi jika tenaga gerak elektron cukup besar dan akan
mampu untuk mengionisasi gas sehingga menimbulkan pasangan ion sekunder.
Selanjutnya ion sekunder menghasilkan pasangan ion generasi berikutnya sampai
mencapai keadaan jenuh. Detektor Geiger Muller bekerja pada kondisi keadaan
jenuh sudah tercapai, setiap radiasi yang masuk ke dalam tabung, berapapun
energi radiasi itu, atau apapun jenisnya, sehingga akan menghasilkan pasangan
ion yang sama. Hal yang perlu dicatat dari sifat detektor ini adalah bahwa pulsa
keluarnya cukup besar akibat pulsa-pulsa avalanche yang mencapai jenuh
meskipun berakibat tidak dapat membedakan tenaga radiasi yang masuk.
Level deteksi merupakan pulsa yang dihasilkan detektor Geiger Muller
yang sudah cukup tinggi untuk dicacah langsung pada alat pencacah dengan batas
minimum tinggi pulsa yang dapat dicacah. Sehingga pulsa yang tingginya diatas
level deteksi saja yang dicacah, sedangkan pulsa yang tingginya dibawah level
deteksi tidak dicacah. Tegangan operasi terendah dimana alat pencacah mulai
mencacah radiasi disebut tegangan awal.Salah satu detektor yang digunakan untuk
mengukur cacah radiasi nuklir adalah detektor Geiger Muller. Detektor ini
berbentuk tabung yang bagian dalamnya dilampisi logam. Logam ini berfungsi
sebagai anoda. Antara anoda dan katoda dipasang tegangan tinggi. Tabung ini
berisi gas mulia (Argon) dan gas quenching (Halogen).

2. Dead Time (Waktu Mati)


Dead Time (waktu mati) adalah keadaan dimana detektor tidak dapat lagi
mendeteksi radiasi yang masuk. Hal ini disebabkan oleh lapisan ion positif yang
terbentuk akibat masih berada dalam ruang antara anoda dan katoda yang akan
menyebabkan berkurangnya kuat medan listrik antara anoda dan katoda, sehingga
akan menghalangi terkumpulnya elektron yang ditimbulkan oleh radiasi yang
datang berikutnya. Akibatnya pulsa yang terbentuk akan sangat kecil dan tidak
tercatat. Selang waktu dimana detektor tidak dapat membentuk pulsa inilah
disebut waktu mati (τ).
Namun, ketika ion positif sudah terkumpul pada katoda, kuat medan
listrik akan pulih kembali seperti semula dan tinggi pulsa juga akan pulih seperti
pada pulsa yang terdahulu. Selang waktu antara akhir waktu mati sampai dengan
pulihnya kembali tinggi pulsa disebut waktu pemulihan (τp).
Deteksi dari radiasii dengan intensitas yang tinggi akan memerlukan
koreksi. Dengan adanya dead time counter τ, maka apabila counting rate yang
diberikan oleh counter adalah N, maka selama waktu Nτ counter tersebut akan
mengalami keadaan mati. Andaikan counting rate yang sebenarnya adalah n,
maka kehilangan count selama selang waktu Nτ tersebut adalah N.τ.n. Sehingga,
N  n  N  n1  N  atau n 
N
1  N
Untuk N yang tinggi, maka koreksi adanya dead time (sebesar faktor
1/(1-Nτ)) penting untuk diperhitungkan. Koreksi ini hanya bisa dilaksanakan bila
dari counter diketahui.
Dead time τ dapat ditentukan paling mudah dengan metode dua sumber.
Di dalam metode ini bila masing-masing sumber memberikan counting rate
teramati sebesar N1 dan N2 dan bila dua sumber radiasi tersebut memberikan N12,
maka n1 dan n2 masing-masing adalah counting rate yang sebenarnya dari kedua
sumber tersebut, sehingga persamaan untuk masing-masing n1 dan n2 serta n1 + n2
adalah sebagai berikut:
N1 N2 N12
n1  ; n2  dan n1  n2 
1  N1 1  N 2 1  N12
dengan pendekatan diperoleh hasil:
N1  N 2  N12

N123  N1  N 2
2 2 2

C. Desain dan Deskripsi Percobaan


1. Deskripsi Alat
Pada percobaan pengukuran cacah radiasi nuklir ini peralatan yang
digunakan antara lain adalah satu set Geiger Muller counter beserta
counternya, sumber radioaktif yang terdiri dari tiga macam yaitu Barium,
Amersium dan kaos lampu, kabel penghubung, aluminium foil, statis dan
stopwatch.
2. Deskripsi Prosedur Percobaan
Pada percobaan pengukuran cacah radiasi nuklir ini terdapat dua kali
pengambilan data. Pada percobaan pertama, pengambilan data digunakan
untuk menentukan counting rate (cacah radiasi) pada beberapa macam bahan
radioaktif. Pada percobaan ini terdapat tiga bahan radioaktif yang digunakan
yaitu Barium, Amersium dan kaos lampu. Pada masing-masing bahan
radiokatif dilakukan lima kali pengulangan dalam pengambilan data. Cara
pengambilan datanya yaitu dengan meletakkan bahan radioaktif tanpa
pelindung didekat detektor seperti pada Gambar 2. Selanjutnya
mengoperasikan alat pencacah radiasi secara bersamaan dengan pencatat
waktu (stopwatch) selama kurang lebih satu menit. Kemudian, mencatat
cacah radiasi selama selang waktu satu menit tersebut. Prosedur ini dilakukan
sebanyak lima kali perulangan pada tiap-tiap bahan radioaktif.

Keterangan:
1 Detektor Geiger-Muller
2 Sumber radiasi
3 Counter
4 Statif
Gambar 2. Set-up Percobaan I Menentukan Daerah Plateau

Selanjutnya, pada percobaan kedua, pengambilan data digunakan untuk


menentukan penyerapan radioaktif dari bahan pelindung. Pada percobaan ini
bahan radioaktif yang digunakan hanya dua macam, yaitu Barium dan
Amersium. Sedangkan untuk lapisan pelindung yang digunakan pada
percobaan ini yaitu aluminium foil. Pada masing-masing bahan radioaktif ini
juga dilakukan lima kali pengambilan data dengan cara memberikan lapisan
pelindung di atas bahan radioaktif ini. Cara pengambilan datanya yaitu
dengan meletakkan bahan radioaktif yang diberikan lapisan pelindung
sebanyak satu lapis aluminium foil di atas bahan radioaktif tersebut.
Selanjutnya mengoperasikan alat pencacah radiasi secara bersamaan dengan
pencatat waktu (stopwatch) selama kurang lebih satu menit. Kemudian,
mencatat cacah radiasi selama selang waktu satu menit tersebut. Kemudian
mengulangi prosedur tersebut hingga lapisan pelindung mencapai lima
lapisan aluminium foil pada tiap-tiap bahan radioaktif.

D. Analisis
1. Metode Analisis
Pada percobaan Pengukuran Cacah Radiasi Nuklir ini diperoleh data
kuantitatif. Untuk metode analisisnya sendiri pada percobaan pertama
digunakan metode ralat rata-rata untuk mencari nilai rata-rata cacah radiasi
pada tiap-tiap bahan radioaktif. Sedangkan pada percobaan kedua digunakan
grafik untuk menentukan hubungan ketebalan bahan pelindung dengan nilai
cacah radiasi pada tiap-tiap bahan radioaktif.
2. Sajian Hasil
PERCOBAAN I: Data Pengamatan Menentukan Cacah Radiasi dari
Bahan Radioaktif
Cacah Radiasi/Menit
No Amersiu Kaos
Barium
m Lampu
1 28 134 19

2 31 133 17

3 26 134 18

4 25 137 20

5 22 121 21
a) Penentuan Cacah Radiasi Rata-Rata pada Tiap Bahan Radioaktif
( N1 , N 2 , dan N 3 )

Bahan Radioaktif : Barium

No N1 N1 - N (N1  N) 2

1 28 1,6 2,56

2 31 4,6 21,16

3 26 -0,4 0,16

4 25 -1,4 1,96

5 22 -4,4 19,36

Σ 132 45,2

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:

N1 
N 1
 26.4 radiasi
n menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:

N1
N1   0.44 Bq
60

Simpangan Baku:

N 1
 (N 1  N1 ) 2
 1.503329638 radiasi
n(n  1) menit
N 1 0.025055494 Bq

Ralat Relatif:
N1
Rf   100%  5.69% (3AP)
N1

Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif Barium adalah


N1  (4.40  0.25)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar 5.69%.

Bahan Radioaktif : Amersium


No N2 N 2 - N (N 2  N) 2

1 134 2,2 4,84

2 133 1,2 1,44

3 134 2,2 4,84

4 137 5,2 27,04

5 121 -10,8 116,64

Σ 659 154,8

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:

N2 
N 2
 131.8 radiasi
n menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:

N2
N2   2.196666667 Bq
60

Simpangan Baku:

N 2 
 (N 2  N2 )2
 2.782085549 radiasi
n(n  1) menit
N 2  0.046368092 Bq

Ralat Relatif:

N 2
Rf   100%  2.11% (3AP)
N2

Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif Amersium adalah


N 2  (2.20  0.05) Bq dengan ralat relatif sebesar 2.11%.

Bahan Radioaktif : Kaos Lampu

No N3 N 3 - N (N 3  N) 2

1 19 0 0
2 17 -2 4

3 18 -1 1

4 20 1 1

5 21 2 4

Σ 95 10

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:

N3 
N 3
 19 radiasi
n menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:


N3
N3   0.316666667 Bq
60

Simpangan Baku:

N 3
 (N 3  N3 )2
 0.707106781 radiasi
n(n  1) menit
N 3 0.011785113 Bq

Ralat Relatif:
N 3
Rf   100%  3.72% (3AP)
N3

Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif kaos lampu adalah


N 3  (3.17  0.12)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar 3.72%.

b) Waktu Mati atau Dead Time (τ)


N1  N 2  N 3
N 123   59.06666667 radiasi
n menit
N 123  0.984444444 Bq
N 1  N 2  N 3
N 123   1.664173989 radiasi
n menit
N 123  0.027736233 Bq

N1  N 2  N 3  N123
  0.00790701 menit
N123  N1  N 2  N 3
2 2 2 2

  0.474420614 sekon
2 2 2 2
   
  N1  N 2  N 3  N123
N1 N 2 N 3 N123
  0.000225995 menit
  0.013559697 sekon

Ralat Relatif:

Rf   100%  2.86% (3AP)

Jadi, besar waktu mati (dead time) adalah
  (4.74  0.14)10 sekon dengan ralat relatif sebesar 2.86%.
1

c) Cacah Radiasi yang Sebenarnya (n)


 Bahan Radioaktif : Barium
N1
n1   33.365 radiasi
1  N1 menit
n1  0.5561 Bq

 Bahan Radioaktif : Amersium


N2
n2   -3127 radiasi
1  N 2 menit
n2  -52.123 Bq

 Bahan Radioaktif : kaos lampu


N3
n3   22.4 radiasi
1  N 3 menit
n3  0.3727 Bq
PERCOBAAN II: Data Pengamatan Menentukan Penyerapan
Radioaktif dari Bahan Pelindung
Cacah
No Sumber Radioaktif Bahan Pelindung
Radiasi/Menit
1 lapis Aluminum Foil 26
2 lapis Aluminum Foil 20
1 Barium 3 lapis Aluminum Foil 18
4 lapis Aluminum Foil 18
5 lapis Aluminum Foil 17
1 lapis Aluminum Foil 153
2 lapis Aluminum Foil 140
2 Amersium 3 lapis Aluminum Foil 124
4 lapis Aluminum Foil 108
5 lapis Aluminum Foil 103

Bahan Radioaktif : Barium


Hubungan antara Tebal Bahan Pelindung
dengan Cacah Radiasi Per Menit
30
Cacah Radiasi Per Menit
25

20

15

10

0
0 5 10 15 20 25 30
Tebal Bahan Pelindung

Bahan Radioaktif : Amersium

Hubungan antara Tebal Bahan Pelindung


dengan Cacah Radiasi Per Menit
180
160
Cacah Radiasi Per Menit

140
120
100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6
Tebal Bahan Pelindung

Berdasarkan gambar grafik yang diperoleh, dapat diketahui cacah radiasi pada
Barium dan Amersium semakin mengecil dengan semakin bertambahnya lapisan
dari aluminium foil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tebal lapisan
pelindung yang digunakan, maka akan semakin banyak radiasi yang diserap oleh
aluminium foil, sehingga menyebabkan semakin kecil pula radiasi yang
diteruskan menuju detektor Geiger-Muller.

3. Pembahasan Hasil
Radiasi merupakan suatu peristiwa perambatan energi dari sumber energi
ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu
dengan cara memancarkan secara acak (random) energi dari sumber energi. Salah
satu bentuk energi yang dipancarkan secara radiasi adalah radiasi nuklir. Radiasi
nuklir memiliki dua sifat khas yaitu tidak dapat dirasakan secara langsung dan
dapat menembus berbagai jenis bahan.
Pada percobaan pencacahan radiasi nuklir ini dilakukan dengan
menggunakan salah satu jenis detektor yaitu detektor Geiger-Muller. Detektor
Geiger-Muller merupakan salah satu bantuan peralatan instrumen nuklir yang
bekerja berdasarkan prinsip ionisasi, dimana partikel radiasi yang masuk akan
mengionisasi gas dalam detektor. Dan kemudian detektor radiasi ini akan bekerja
dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan oleh perubahan yang
disebabkan oleh penyerapan energi radiasi.
Percobaan pertama dilakukan dengan tujuan untuk menentukan cacah
radiasi (counting rate) dari bahan radioaktif. Pada percobaan ini bahan radioaktif
yang digunakan ada tiga macam, yaitu Barium, Amersium, dan kaos lampu.
Untuk mengetahui cacah radiasinya, bahan radioaktif ditempatkan dibawah
detektor Geiger-Muller, yang akan terbaca hasilnya sebagai jumlah cacah radiasi.
Untuk memperoleh data yang akurat, percobaan ini dilakukan sebanyak 5 kali.
Sehingga diperoleh nilai cacah radiasi sebagai berikut.

 Barium : N1  (4.40  0.25)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar


5.69%.
 Amersium : N 2  (2.20  0.05) Bq dengan ralat relatif sebesar
2.11%.
 Kaos Lampu : N 3  (3.17  0.12)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar
3.72%.
Selain itu, dalam percobaan ini diperoleh waktu mati (dead time) sebesar
  (4.74  0.14)10 1 sekon dengan ralat relatif sebesar 2.86%. Sedangkan untuk
cacah radiasi yang sebenarnya pada masing-masing bahan diperoleh:
 Barium : n1  0.5561 Bq
 Amersium : n2  -52.123 Bq
 Kaos lampu : n3  0.3727 Bq
Kemudian pada percobaan kedua dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan penyerapan radioaktif dari bahan pelindung. Pada percobaan ini
bahan pelindung yang digunakan adalah aluminium foil, diamana pada umumnya
aluminium foil merupakan bahan yang dapat menangkal radiasi. Sedangkan untuk
bahan radioaktif yang digunakan ada dua macam, yaitu Barium dan Amersiu
bahan-bahan ini nantinya akan dilapisi dengan lapisan pelindung dengan
ketebalan lapisan yang divariasi, yaitu dari 1 lapis hingga 5 lapis bahan pelindung.
Sehingga nantinya dengan menggunakan detektor Geiger-Muller akan diketahui
apakah terdapat radiasi yang diserap oleh bahan pelidung aluminium foil tersebut
beserta hubungan cacah radiasi yang dihasilkan dengan ketebalan bahan
pelindung. Berdasarkan gambar grafik yang diperoleh, dapat diketahui cacah
radiasi pada Barium dan Amersium semakin mengecil dengan semakin
bertambahnya lapisan dari aluminium foil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semakin tebal lapisan pelindung yang digunakan, maka akan semakin banyak
radiasi yang diserap oleh aluminium foil, sehingga menyebabkan semakin kecil
pula radiasi yang diteruskan menuju detektor Geiger-Muller.
Pada percobaan pertama dapat diketahui bahwa masih didapatkan nilai
ralat yang cukup besar yaitu berkisar antara 2%-5%. Hal ini tentunya dapat
menunjukka bahwa masih terdapat kesalahan-kesalahn dalam melakukan
percobaan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada saat melakukan
praktikum yaitu kurang teliti dalam membaca counter pada detektor
Geiger-Muller, kurang tepat saat menentukan cacah radiasi dalam satu menit, dan
terdapat radiasi lain diluar radiasi nuklir bahan radioaktif.

4. Saran Perbaikan
Saran perbaikan untuk pengamat dalam melakukan percobaan ini yaitu
lebih teliti lagi dalam membaca skala alat ukur yang digunakan. Karena kesalahan
dalam membaca skala alat ukur juga akan berdampak pada data pengamatan yang
diperoleh serta dapat menimbulkan nilai ralat yang besar. Selain itu, adanya
radiasi lain di luar radiasi nuklir juga dapat dihindari, karena terdapat banyak
benda di sekeliling kita yang memungkin memancarkan radiasi juga saat
melakukan percobaan. Sehingga sebisa mungkin untuk meminimalisir adanya
radiasi luar yang ikut mengganggu, maka sebaiknya benda-benda yang berpotensi
memancarkan radiasi yang ada di sekitar pengamat sehingga nilai ralat yang
dihasilkan tidak begitu besar.

E. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan pertama, dapat diketahui besar cacah radiasi
(counting rate) dari beberapa bahan radioaktif yang digunakan dalam praktikum
yaitu:
 Barium : N1  (4.40  0.25)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar
5.69%.
 Amersium : N 2  (2.20  0.05) Bq dengan ralat relatif sebesar
2.11%.
 Kaos Lampu : N 3  (3.17  0.12)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar
3.72%.
Selain itu, berdasarkan percobaan kedua juga dapat disimpulkan bahwa
semakin tebal lapisan pelindung yang digunakan, maka akan semakin banyak
radiasi yang diserap oleh lapisan pelindung tersebut, sehingga mengakibatkan
semakin kecil pula radiasi yang diteruskan menuju detektor Geiger-Muller.

F. Daftar Pustaka
Anonim. 2015. Cacah Radiasi Nuklir. (Online),
(https://dokumen.tips/documents/cacah-radiasi-nuklir.html), diakses
pada tanggal 23 Maret 2019.
Indriana, Desta. Tanpa tahun. Percobaan Geiger Muller. (Online),
(https://www.academia.edu/9565588/PERCOBAAN_GEIGER-MUL
LER), diakses pada tanggal 26 maret 2019.
Serway, R.A & Jewett, Jr. 2009. FISIKA untuk Sains dan Teknik Edisi 9.
Jakarta: Salemba Teknika.
Tim Praktikum Fisika Modern. 2019. Modul Praktikum Fisika Modern.
Malang: Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.

G. Lampiran
PERCOBAAN I: Data Pengamatan Menentukan Cacah Radiasi dari Bahan
Radioaktif
Cacah Radiasi/Menit
No Amersiu Kaos
Barium
m Lampu

1 28 134 19

2 31 133 17

3 26 134 18

4 25 137 20

5 22 121 21

1. Penentuan Cacah Radiasi Rata-Rata pada Tiap Bahan Radioaktif


( N1 , N 2 , dan N 3 )

Bahan Radioaktif : Barium

No N1 N1 - N (N1  N) 2

1 28 1,6 2,56

2 31 4,6 21,16

3 26 -0,4 0,16

4 25 -1,4 1,96

5 22 -4,4 19,36

Σ 132 45,2

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:


N1 
N 1
n
28  31  26  25  21
N1 
5
N1  26.4 radiasi
menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:


N1 26.4
N1    0.44 Bq
60 5

Simpangan Baku:

N 1
 (N 1  N1 ) 2
n(n  1)
(28  26.4) 2  (31  26.4) 2  (26  26.4) 2  (25  26.4) 2  (22  26.4) 2
N 1
5(5  1)
N 1 1.503329638 radiasi
menit
N 1 0.025055494 Bq

Ralat Relatif:
N1
Rf  100%
N1
0.025055494
Rf  100%  5.694430446%
0.44
Rf  5.69% (3AP)

Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif Barium adalah


N1  (4.40  0.25)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar 5.69%.

Bahan Radioaktif : Amersium

No N2 N 2 - N (N 2  N) 2

1 134 2,2 4,84

2 133 1,2 1,44


3 134 2,2 4,84

4 137 5,2 27,04

5 121 -10,8 116,64

Σ 659 154,8

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:

N2 
N 2
n
134  133  134  137  121
N2 
5
N 2  131.8 radiasi
menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:


N 2 131.8
N2    2.196666667 Bq
60 5

Simpangan Baku:

N 2
 (N 2  N 2 )2
n(n  1)
(134  131.8) 2  (133  131.8) 2  (134  131.8) 2  (137  131.8) 2  (121  131.8) 2
N 2
5(5  1)
N 2 2.782085549 radiasi
menit
N 2 0.046368092 Bq

Ralat Relatif:
N 2
Rf  100%
N2
0.046368092
Rf  100%  2.110838808%
2.196666667
Rf  2.11% (3AP)

Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif Amersium adalah


N 2  (2.20  0.05) Bq dengan ralat relatif sebesar 2.11%.

Bahan Radioaktif : Kaos Lampu

No N3 N 3 - N (N 3  N) 2

1 19 0 0

2 17 -2 4

3 18 -1 1

4 20 1 1

5 21 2 4

Σ 95 10

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Menit:

N3 
N 3
n
19  17  18  20  21
N3 
5
N 3  19 radiasi
menit

Cacah Radiasi Rata-Rata Per Detik:


N3 19
N3    0.316666667 Bq
60 5

Simpangan Baku:
N 3
 (N 3  N3 )2
n(n  1)
(19  19) 2  (17  19) 2  (18  19) 2  (20  19) 2  (21  19) 2
N 3
5(5  1)
N 3 0.707106781 radiasi
menit
N 3 0.011785113 Bq

Ralat Relatif:

N 3
Rf  100%
N3
0.011785113
Rf  100%  3.721614638%
0.316666667
Rf  3.72% (3AP)
Jadi, nilai cacah radiasi bahan radioaktif kaos lampu adalah
N 3  (3.17  0.12)10 1 Bq dengan ralat relatif sebesar 3.72%.

2. Waktu Mati atau Dead Time (τ)

N1  N 2  N 3
N123 
n
26.4  131.8  19
N123 
3
N123  59.06666667 radiasi
menit
N123  0.984444444 Bq

N1  N 2  N 3
N123 
n
1.503329638  2.782085549  0.707106781
N123 
3
N123  1.664173989 radiasi
menit
N123  0.027736233 Bq
N1  N 2  N 3  N 123

N123  N1  N 2  N 3
2 2 2 2

1.503329638  2.782085549  0.707106781  1.664173989



(1.664173989) 2  (1.503329638) 2  (2.782085549) 2  (0.707106781) 2
  0.00790701 menit
  0.474420614 sekon

 N  N 2  N 3  N 123  2 N1 N 2  2 N 1 N 3  2 N 1 N123
2 2 2 2

 1

N1 N123  N 1  N 2  N 3
2 2 2
 2 2


 3.43554  10 -9
N1

  N 1  N 2  N 3  N 123  2 N 1 N 2  2 N 2 N 3  2 N 2 N 123
2 2 2 2



N 2 
N 123  N 1  N 2  N 3
2 2 2 2 2


 4.07671  10 -8
N 2

  N 1  N 2  N 3  N 123  2 N1 N 3  2 N 2 N 3  2 N 3 N 123
2 2 2 2



N 3 
N 123  N 1  N 2  N 3
2 2 2 2 2


 3.43554  10 9
N 3

 N  N 2  N 3  N 123  2 N 1 N 123  2 N 2 N 123  2 N 3 N 123


2 2 2 2

 1

N 123 N
2
N N N
2 2
2 2
123 1 2 3 

 3.43554  10 -9
N 123

2 2 2 2
   
  N 1  N 2  N 3  N 123
N 1 N 2 N 3 N 123
2 2
3.43554  10 9  1.503329638  4.07671  10 -8  2.782085549
  2 2
 3.43554  10 -8  0.707106781  3.43554  10 -8  1.664173989
  0.000225995 menit
  0.013559697 sekon
Ralat Relatif:

Rf   100%

0.000225995
Rf   100%  2.8581593%
0.00790701
Rf  2.86% (3AP)

Jadi, besar waktu mati (dead time) adalah   (4.74  0.14)10 1 sekon
dengan ralat relatif sebesar 2.86%.

3. Cacah Radiasi yang Sebenarnya (n)


 Bahan Radioaktif : Barium
N1
n1 
1  N1
26.4
n1   33.365 radiasi
1  26.4  0.00790701 menit
n1  0.5561 Bq
 Bahan Radioaktif : Amersium
N2
n2 
1  N 2
131.8
n2   -3127 radiasi
1  131.8  0.00790701 menit
n2  -52.123 Bq

 Bahan Radioaktif : kaos lampu


N3
n3 
1  N 3
19
n3   22.4 radiasi
1  19  0.00790701 menit
n3  0.3727 Bq