Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH TINJAUAN AGAMA DALAM KEPERAWATAN

PALIATIF
“Ditunjukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Paliatif”

Disusun Oleh :

Dede Tia S /4002170165


Muhamad Agung G /4002170056
Nia Kaniasih /4002170129
Norni /4002170160
Utami Fajar Ayu L /4002170118

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH


TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
BANDUNG

1
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makala
ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini dibuat dengan
berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu
menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh
karena itu, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran
serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Bandung, 21 Juni 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i


Daftar Isi ................................................................................................................ ii
BAB I Pendahuluan .................................................................................................
A. Latar Belakang .........................................................................................
B. Rumusan Masalah ....................................................................................
C. Tujuan ......................................................................................................
D. Manfaat ....................................................................................................
BAB II Tinjauan Pustaka ........................................................................................
BAB III Penutup ......................................................................................................
Daftar Pustaka ..........................................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam
menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan
penderita dari rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang sempurna,
dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial
atau spiritual (World Health Organization (WHO), 2016). Menurut WHO
(2016) penyakit-penyakit yang termasuk dalam perawatan paliatif seperti
penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi 38.5%, kanker 34%, penyakit
pernapasan kronis 10.3%, HIV/AIDS 5.7%, diabetes 4.6% dan memerlukan
perawatan paliatif sekitas 40-60%.Pada tahun 2011 terdapat 29 juta orang
meninggal di karenakan penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif.
Kebanyakan orang yang membutuhkan perawatan paliatif berada pada
kelompok dewasa 60% dengan usia lebih dari 60 tahun, dewasa (usia 15-59
tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu 6% (Baxter, et al., 2014).
Prevalensi penyakit paliatif di dunia berdasarkan kasus tertinggi yaitu
Benua Pasifik Barat 29%, diikuti Eropa dan Asia Tenggara masing-masing
22% (WHO,2014). Benua Asia terdiri dari Asia Barat, Asia Selatan, Asia
Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara.Indonesia merupakan salah satu
negara yang termasuk dalam benua Asia Tenggara dengan kata lain bahwa
Indonesia termasuk dalam Negara yang membutuhkan perawatan paliatif.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi
tumor/kanker di Indonesia adalah 1.4 per 1000 penduduk, atau sekitar
330.000 orang, diabete melitus 2.1%, jantung koroner (PJK) dengan
bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65 -74 tahun yaitu
3.6%.Kementrian kesehatan (KEMENKES, 2016) mengatakan kasus HIV
sekitar 30.935, kasus TB sekitar330.910. Kasus stroke sekitar 1.236.825 dan

4
883.447 kasus penyakit jantung dan penyakit diabetes sekitar 1,5%
(KEMENKES, 2014).
Pelayanan perawatan paliatif memerlukan keterampilan dalam mengelola
komplikasi penyakit dan pengobatan, mengelola rasa sakit dan gejala lain,
memberikan perawatan psikososial bagi pasien dan keluarga, dan merawat
saat sekarat dan berduka (Matzo & Sherman, 2015). Penyakit dengan
perawatan paliatif merupakan penyakit yang sulit atau sudah tidak dapat
disembuhkan, perawatan paliatif ini bersifat meningkatkan kualitas hidup
(WHO,2016). Perawatan paliatif meliputi manajemen nyeri dan gejala;
dukungan psikososial, emosional, dukungan spiritual; dan kondisi hidup
nyaman dengan perawatan yang tepat, baik dirumah, rumah sakit atau tempat
lain sesuai pilihan pasien. Perawatan paliatif dilakukan sejak awal perjalanan
penyakit, bersamaan dengan terapi lain dan menggunakan pendekatan tim
multidisiplin untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarga mereka
(Canadian Cancer Society, 2016). Selain itu Matzo & Sherman (2015) juga
menyatakan bahwa kebutuhan pasien paliatif tidak hanya pemenuhan atau
pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap
kebutuhan psikologi, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan
yang dikenal sebagai perawatan paliatif. Ramdani (2015) menyatakan bahwa
kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan beribadah, rasa nyaman, motivasi
dan kasihsayang tehadap sesama maupun sang penciptanya. Spiritual
bertujuan untuk memberikan pertanyaan mengenai tujuan akhir tentang
keyakinan dan kepercayaan pasien (Margaret & Sanchia, 2016). Spiritual
merupakan bagian penting dalam perawatan, ruang lingkup dari pemberian
dukungan spiritual adalah meliputi kejiwaan, kerohanian dan juga
keagamaan. Pada perawatan paliatif ini, kematian tidak dianggap sebagai
sesuatu yang harus di hindari tetapi kematian merupakan suatu hal yang harus
dihadapi sebagai bagian dari siklus kehidupan normal setiap yang bernyawa
(Nurwijaya dkk, 2010).
B. Rumusan Masalah

5
Bagaimana peran spiritual Agama dalam keperawatan paliatif pada pasien
paliatif?

C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah adalah agar pembaca mengetahui
tentang peran dukungan Spiritual terhadap pemenuhan kebutuhan spiriual
pasien paliatif.

D. Manfaat Penulisan
Diharapkan dalam penulisan makalah ini akan memberikan gambaran tentang
peran dukungan spiritual tehadap pemenuhan kebutuhan spiritual pasien
paliatif.

6
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI PERAWATAN PALIATIF


Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas
hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan
dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan
peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan
nyeri dan masalah-masalah lainseperti fisik, psikososial dan spiritual
(KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 kualitas hidup pasien
adalah keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai
konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup,
harapan, dan niatnya. Dimensi dari kualitas hidup. Dimensi dari kualitas
hidup yaitu Gejala fisik, Kemampuan fungsional (aktivitas), Kesejahteraan
keluarga, Spiritual, Fungsi sosial, Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk
masalah keuangan), Orientasi masa depan, Kehidupan seksual, termasuk
gambaran terhadap diri sendiri, Fungsi dalam bekerja.
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 Palliative home care
adalah pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh
tenaga paliatif dan atau keluarga atas bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.
Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang
tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus
dilakukan di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah
sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan untuk mengendalikan gejala-gejala
yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 Sarana (fasilitas)
kesehatan adalah tempat yang menyediakan layanan kesehatan secara medis
bagi masyarakat. Kompeten adalah keadaan kesehatan mental pasien
sedemikian rupa sehingga mampu menerima dan memahami informasi yang

7
diperlukan dan mampu membuat keputusan secara rasional berdasarkan
informasi tersebut (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Lebih lanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan lagi bahwa
pelayanan paliatif berpijak pada pola dasar berikut ini :
1. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses
yang normal.
2. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
3. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
4. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.
5. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya.
6. Berusaha membantu mengatasi suasana dukacita pada keluarga.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Palliative Care
adalahpendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan
keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara
meringankan penderitaan rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang
sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik,
psikologis, sosial atau spiritual.Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang
terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual,
serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya.

B. SPIRITUALITAS
1. Definisi Spiritualitas
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha
Kuasa dan Maha Pencipta, sebagai contoh seseorang yang percaya kepada
Allah sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa. Spiritualitas
mengandung pengertian hubungan manusia dengan Tuhan dengan
melakukan sholat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya.
Spiritualitas merupakan aspek kepribadian manusia yang memberikan
kekuatan dan mempengaruhi individu dalam menjalani hidupnya.
Spiritualitas mencakup aspek non fisik dari keberadaan seorang manusia4.

8
Spiritualitas sebagai suatu multidimensi yang terdiri dari dimensi
eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan
dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih berfokus lebih
berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan (Mickley).
Spiritualitas merupakan suatu konsep dua dimensi yaitu dimensi
vertical dan dimensi horizontal. Dimensi vertical merupakan hubungan
individu dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menuntun kehidupan
seseorang, sedangkan dimensi horizontal merupakan hubungan seseorang
dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (McSherry W).
Spiritualitas merupakan suatu dimensi yang berhubungan dengan
menemukan arti kehidupan dan tujuan hidup, menyadari kemampuan
untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, mempunyai
perasaan yang berkaitan dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan (Burkhardt MA). Spiritual merupakan kekuatan yang
menyatukan, memberi makna pada kehidupan dan nilai-nilai individu,
persepsi, kepercayaan dan keterikatan di antara individu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa spiritualitas adalah
kebutuhan dasar manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri,
orang lain, dan lingkungan untuk menemukan arti kehidupan dan tujuan
hidup agar mendapatkan kekuatan, kedamaian, dan rasa optimis dalam
menjalankan kehidupan. Pada era Order Baru, Agama yang diakui oleh
Pemerintah Indonesia hanya 5 yakni Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu
dan Buddha. Tetapi setelah era reformasi, berdasarkan Keputusan Presiden
(Keppres) No. 6/2000, pemerintah mencabut larangan atas agama,
kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa. Keppres No.6/2000 yang
dikeluarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid ini kemudian diperkuat
dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Republik Indonesia Nomor
MA/12/2006 yang menyatakan bahwa pemerintah mengakui keberadaan
agama Kong Hu Cu di Indonesia.

9
2. Fungsi Spiritualitas
Spiritualitas mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan hidup para
individu. Spiritualitas berperan sebagai sumber dukungan dan kekuatan
bagi individu. Pada saat stress individu akan mencari dukungan dari
keyakinan agamanya. Dukungan ini sangat diperlukan untuk menerima
keadaan sakit yang dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan
proses penyembuhan yang lama dan hasilnya belum pasti. Melaksanakan
ibadah, berdoa, membaca kitab suci dan praktek keagamaan lainnya sering
membantu memenuhi kebutuhan spiritualitas dan merupakan suatu
perlindungan bagi individu.
Penelitian tentang spiritualitas pada tahun 2001menyebutkan bahwa 90
% pasien di beberapa area Amerikamenyandarkan pada agama sebagai
bagian dari aspek spiritual untuk mendapatkan kenyamanan dan kekuatan
ketika merasa mengalami sakit yang serius. Pendekatan spiritual dapat
meningkatkan kekuatan pada pasien secara emosional. Menurut America
Psychological Association21, spiritualitas dapat meningkatkan
kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan jika seseorang sedang
sakit dan mempercepat penyembuhan selain terapi medis yang diberikan.
Hal ini juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Abernethy,
menyebutkan bahwa spiritualitas dapat meningkatkan imunitas yaitu kadar
interleukin-6 (IL-6) seseorang terhadap penyakit sehingga dapat
mempercepat penyembuhan bersamaan dengan terapi medis yang
diberikan (Koenig HG)
Penelitian tentang tingkat kecemasan pasien pre operasi pada tahun
2006 menyebutkan bahwa kecemasan seseorang sangat dipengaruhi oleh
aspek spiritualnya, sehingga bagi pasien yang dirawat di rumah sakit
sangat memerlukan kondisi spiritual yang baik agar tidak cemas terhadap
operasi yang akan dijalani. Hal ini juga menjadi salah satu tugas perawat
untuk memenuhi kebutuhan spiritual tersebut (Tauhid dan Raharjo).
Pada individu yang menderita suatu penyakit, spiritualitas merupakan
sumber koping bagi individu. Spiritualitas membuat individu memiliki

10
keyakinan dan harapan terhadap kesembuhan penyakitnya, mampu
menerima kondisinya, sumber kekuatan, dan dapat membuat
hidupindividu menjadi lebih berarti. Pemenuhan kebutuhan spiritual yang
dilakukan perawat dapat membuat pasien menerima kondisinya atau
penyakit yang sedang dialami serta pasien memiliki pandangan hidup yang
positif. Pemenuhan kebutuhan spiritualitas dapat memberikan semangat
pada individu dalam menjalani kehidupan dan menjalani hubungan dengan
Tuhan, orang lain, dan lingkungan. Jika spiritualitas terpenuhi, maka
individu menemukan tujuan, makna, kekuatan, dan bimbingan dalam
perjalanan hidup (4. Young C, Koopsen C).
Pemenuhan kebutuhan spiritualitas pada seseorang dapat meningkatkan
kepercayaan, kekuatan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang.
Spiritualitas dapat mengurangi kecemasan pasien, membuat pasien
menerima kondisinya, dan meningkatkan rasa optimis pada pasien.
Adanya rasa optimis, dukungan, dan motivasi dapat meningkatkan proses
penyembuhan yang dialami pasien.
3. Karakteristik Spiritualitas
Pemenuhan spiritual harus berdasarkan 4 karakteristik spiritual itu
sendiri. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki spiritual, adapaun
karakteristik itu antara lain :
a. Hubungan dengan diri sendiri
Merupakan kekuatan dari dalam diri seseorang yang meliputi
pengetahuan diri yaitu siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya dan
juga sikap yang menyangkut kepercayaan pada diri sendiri, percaya
pada kehidupan atau masa depan, ketenangan pikiran, serta keselarasan
dengan diri sendiri (Young dan Koopsen, 2007). Kekuatan yang timbul
dari diri seseorang membantunya menyadari makna dan tujuan
hidupnya, diantaranya memandang pengalaman hidupnya sebagai
pengalaman yang positif, kepuasan hidup, optimis terhadap masa
depan, dan tujuan hidup yang semakin jelas (Kozier, Erb, Blais &
Wilkinson, 1995).

11
Kepercayaan (Faith). Menurut Fowler dan keen (1985) kepercayaan
bersifat universal, dimana merupakan penerimaan individu terhadap
kebenaran yang tidak dapat dibuktikan dengan pikiran yang
logis.Kepercayaan dapat memberikan arti hidup dan kekuatan bagi
individu ketika mengalami kesulitan atau stress.Mempunyai
kepercayaan berarti mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau
seseorang sehingga dapat memahami kehidupan manusia dengan
wawasan yang lebih luas.
Harapan (Hope). Harapan berhubungan dengan ketidakpastian
dalam hidup dan merupakan suatu proses interpersonal yang terbina
melalui hubungan saling percaya dengan orang lain, termasuk dengan
Tuhan. Harapan sangat penting bagi individu untuk mempertahankan
hidup, tanpa harapan banyak orang menjadi depresi dan lebih
cenderung terkena penyakit.
Makna atau arti dalam hidup (Meaning of live). Perasaan
mengetahui makna hidup, yang kadang diidentikkan dengan perasaan
dekat dengan Tuhan, merasakan hidup sebagai suatu pengalaman yang
positif seperti membicarakan tentang situasi yang nyata, membuat
hidup lebih terarah, penuh harapan tentang masa depan, merasa
mencintai dan dicintai oleh orang lain (Puchalski, 2004).
b. Hubungan Dengan Orang Lain Atau Sesama
Hubungan seseorang dengan sesama sama pentingnya dengan diri
sendiri. Kebutuhan untuk menjadi anggota masyarakat dan saling
keterhubungan telah lama diakui sebagai bagian pokok dalam
pengalaman manusiawi, adanya hubungan antara manusia satu dengan
lainnya yang pada taraf kesadaran spiritual kita tahu bahwa kita
terhubung dengan setiap manusia. Hubungan ini terbagi atas harmonis
dan tidak harmonisnya hubungan dengan orang lain. Keadaan
harmonis meliputi pembagian waktu, ramah dan bersosialisasi,
mengasuh anak, mengasuh orang tua dan orang yang sakit, serta
meyakini kehidupan dan kematian. Sedangkan kondisi yang tidak

12
harmonis mencakup konflik dengan orang lain dan resolusi yang
menimbulkan ketidakharmonisan, serta keterbatasan hubungan (Young
dan Koopsen, 2007).
c. Hubungan Dengan Alam
Pemenuhan kebutuhan spiritualitas meliputi hubungan individu
dengan lingkungan. Pemenuhan spiritualitas tersebut melalui
kedamaian dan lingkungan atau suasana yang tenang. Kedamaian
merupakan keadilan, empati, dan kesatuan. Kedamaian membuat
individu menjadi tenang dan dapat meningkatkan status kesehatan
(Kozier, et al, 1995).
Harmoni merupakan gambaran hubungan seseorang dengan alam
yang meliputi pengetahuan tentang tanaman, pohon, margasatwa, iklim
dan berkomunikasi dengan alam serta melindungi alam tersebut
(Kozier dkk 1995).
Kedamaian (peace), kedamaian merupakan keadilan, rasa kasihan
dan kesatuan. Dengan kedamaian seseorang akan merasa lebih tenang
dan dapat meningkatkan status kesehatan (Puchalski, 2004).
d. Hubungan Dengan Tuhan
Pemahaman tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan
secara tradisional dipahami dalam kerangka hidup keagamaan.Akan
tetapi, dewasa ini telah dikembangkan secara lebih luas dan tidak
terbatas. Tuhan dipahami sebagai daya yang menyatukan, prinsip
hidup atau hakikat hidup. Kodrat tuhan mungkin mngambil berbagai
macam bentuk dan mempunyai makna yang berbeda bagi satu orang
dengan orang lain (Young dan Koopsen, 2009). Secara umum
melibatkan keyakinan dalam hubungan dengan sesuatu yang lebih
tinggi, berkuasa, memiliki kekuatan mencipta, dan bersifat ketuhanan,
atau memiliki energi yang tidak terbatas.
4. Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi spiritualitas seseorang terdiri dari
tahap perkembangan, keluarga, latar belakang, etnik dan budaya,

13
pengalaman hidup sebelumnya, krisis dan perubahan, terpisah dari ikatan
spiritual, isu moral terkait dengan terapi, dan asuhan keperawatan yang
kurang tepat. Faktor-faktor tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Tahap Perkembangan
Setiap orang memiliki bentuk pemenuhan kebutuhan spiritualitas
yang berbeda-beda bedasarkan usia, jenis kelamin, agama, dan
kepribadian individu. Spiritualitas merupakan bagian dari kehidupan
manusia dan berhubungan dengan proses perubahan dan
perkembangan pada manusia. Semakin bertambah usia, seseorang akan
membutuhkan kekuatan, menambah keyakinannya, dan membenarkan
keyakinan spiritualitasnya. Perkembangan spiritualitas berdasarkan
usia terdiri dari :
1. Pada masa anak-anak, spiritualitas pada masa ini belum bermakna
pada dirinya. Spitualitas didasarkan pada perilaku yang didapat
yaitu melalui interaksi dengan orang lain sepert keluarga. Pada
masa ini, anak-anak belum mempunyai pemahaman salah atau
benar. Kepercayaan atau keyakinan mengikuti ritual atau meniru
orang lain.
2. Pada masa remaja, spiritualitas pada masa ini sudah mulai pada
keinginan akan pencapaian kebutuhan spiritualitas seperti
keinginan melalui berdoa kepada Tuhan, yang berarti sudah mulai
membutuhkan pertolongan melalui keyakinan atau kepercayaan.
Bila pemenuhan kebutuhan spiritualitas tidak terpenuhi, akan
menimbulkan kekecewaan.
3. Pada masa dewasa awal, spiritualitas pada masa ini adanya
pencarian kepercayaan diri, diawali dengan proses pernyataan
akan keyakinan atau kepercayaan yang dikaitkan secara kognitif
sebagai bentuk yang tepat untuk mempercayainya. Pada masa ini,
pemikiran sudah bersifat rasional. Segala pertanyaan tentang
kepercayaan harus dapat dijawab dan timbul perasaan akan
penghargaan terhadap kepercayaan.

14
4. Pada masa dewasa pertengahan dan lansia, spiritualitas pada masa
ini yaitu semakin kuatnya kepercayaan diri yang dimiliki
dipertahankan walaupun menghadapi perbedaan keyakinan yang
lain dan lebih mengerti akan kepercayaan dirinya. Perkembangan
spiritualitas pada tahap ini lebih matang sehingga membuat
individu mampu untuk mengatasi masalah dan menghadapi
kenyataan.
b. Keluarga
Keluarga sangat berperan dalam perkembangan spiritualitas
seseorang. Keluarga merupakan tempat pertama kali seseorang
memperoleh pengalaman, pelajaran hidup, dan pandangan hidup. Dari
keluarga, seseorang belajar tentang Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri.
Keluarga memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan
spiritualitas karena keluarga memiliki ikatan emosional yang kuat dan
selalu berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dengan individu.
c. Budaya
Pemenuhan spiritualitas budaya berbeda-beda pada setiap budaya.
Budaya dan spiritualitas menjadi dasar seseorang dalam melakukan
sesuatu dan menjalani cobaan atau masalah cobaan atau masalah dalam
hidup dengan seimbang.Pada umumnya seseorang akan mengikuti
budaya dan spiritualitas yang dianut oleh keluarga. Seseorang akan
belajar tentang nilai moral serta spiritualitas dari hubungan keluarga.
Apapun tradisi dan sistem kepercayaan yang dianut individu
pengalaman spiritualitas merupakan hal yang unik bagi setiap individu.
d. Agama
Agama sangat mempengaruhi spiritualitas individu. Agama
merupakan suatu sistem keyakinan dan ibadah yang dipraktikkan
individu dalam pemenuhan spiritualitas individu. Agama merupakan
cara dalam pemeliharaan hidup terhadap segala aspek kehidupan.
Agama berperan sebagai sumber kekuatan dan kesejahteraan pada
individu. Konsep spiritualitas dalam agama Islam berhubungan

15
langsung dengan Al Quran dan Sunnah Nabi.59 Al Quran maupun
sunnah Nabi mengajarkan beragam cara untuk meraih kehidupan
spiritual. Pengalaman ibadah sebagai bentuk keintiman antara hamba
dan Tuhannya. Menurut Rasulullah SAW, setiap muslim hendaklah
selalu menjalin hubungan yang intim dengan Tuhannya setiap saat.
Sebab, bagi muslim, setiap gerak anggota badan, panca indera dan
bahkan hati, adalah rangkaian pemenuhan kewajiban ibadah
kepadaNya 60 Manusia diajarkan untuk terus sadar bahwa ada
kehidupan lain setelah kematian. Manusia seharusnya terus
meningkatkan spiritualitas selama hidup di dunia.
e. Pengalaman Hidup
Pengalaman hidup baik yang positif maupun negatif mempengaruhi
spiritualitas seseorang. Pengalaman hidup dapat mempengaruhi
seseorang dalam mengartikan secara spiritual terhadap kejadian yang
dialaminya. Pengalaman hidup yang menyenangkan dapat
menyebabkan seseorang bersyukur atau tidak bersyukur. Sebagian
besar individu bersyukur terhadap pengalaman hidup yang
menyenangkan.
f. Krisis dan Perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan spiritualitas pada
seseorang. Krisis sering dialami seseorang ketika menghadapi
penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan kematian.
Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dialami seseorang
merupakan pengalaman spiritualitas yang bersifat fisik dan emosional.
Jika seseorang mengalami penyakit kritis, spiritualitas seseorang akan
meningkat. Seseorang akan membutuhkan kekuatan untuk menghadapi
penyakitnya tersebut.
g. Terpisah dari Ikatan Spiritual
Pasien yang mengalami penyakit kritis biasanya ditempatkan di
ruang intensif untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal.
Pasien yang ditempatkan di ruang intensif biasanya merasa terisolasi

16
dan jarang bertemu dengan kelurganya. Kebiasaan pasien menjadi
berubah, seperti tidak dapat mengikuti acara keluarga, kegiatan
keagamaan, dan berkumpul dengan keluarga dan teman dekatnya.
Kebiasaan yang berubah tersebut dapat menganggu emosional pasien
dan dapat merubah fungsi spiritualnya.
h. Isu Moral Terkait dengan Terapi
Beberapa agama menyebutkan bahwa proses penyembuhan
dianggap sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya
walaupun ada agama yang menolak intervensi pengobatan. Pengobatan
medik seringkali dapat dipengaruhi oleh pengajaran agama, misalnya
sirkumsisi, transplantasi organ, pencegahan kehamilan, sterilisasi.
Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami
oleh pasien dan tenaga kesehatan.
i. Asuhan Keperawatan yang Kurang Sesuai
Ketika memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat
diharapkan untuk peka terhadap kebutuhan spiritualitas pasien, tetapi
dengan berbagai alas an ada kemungkinan perawat menghindar untuk
memberikan asuhan keperawatan spiritualitas. Hal tersebut terjadi
karena perawat merasa kurang nyaman dengan kehidupan spiritualnya,
kurang menganggap penting kebutuhan spiritualitas, tidak
mendapatkan pendidikan tentang aspek spiritualitas dalam
keperawatan atau merasa bahwa pemenuhan kebutuhan spiritualitas
pasien bukan merupakan tugasnya tetapi tanggungjawab pemuka
agama.Asuhan keperawatan untuk kebutuhan spiritualitas mengalir
dari sumber spiritualitas perawat. Perawat tidak dapat memenuhi
kebutuhan spiritualitas tanpa terlebih dahulu memenuhi kebutuhan
spiritualitas mereka sendiri. Perawat yang bekerja digaris terdepan
harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga
kebutuhan spiritualitas pasien. Berbagai cara perawat untuk memenuhi
kebutuhan pasien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritualitas

17
sampai dengan memfasilitasi untuk mengekspresikan agama dan
keyakinannya.

C. SPIRITUAL CARE
1. Definisi Spiritual Care
Spiritual care adalah praktek dan prosedur yang dilakukan oleh perawat
terhadap pasien untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien (Cavendish R,
Konecny L).
Spiritual care adalah kegiatan dalam keperawatan untuk membantu
pasien yang dilakukan melalui sikap dan tindakan praktek keperawatan
berdasarkan nilai-nilai keperawatan spiritual yaitu mengakui martabat
manusia, kebaikan, belas kasih, ketenangan dan kelemahlembutan
(Meehan T). Spiritual care merupakan aspek perawatan yang integral dan
fundamental dimana perawat menunjukkan kepedulian kepada pasien
(Meehan T). Spiritual care berfokus pada menghormati pasien, iteraksi
yang ramah dan simpatik, mendengarkan dengan penuh perhatian dan
memberikan kekuatan pada pasien dalam menghadapi penyakitnya (Chan
MF).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa spiritual care adalah
praktek dan prosedur keperawatan yang dilakukan perawat untuk
memenuhi kebutuhan spiritual pasien berdasarkan nilai-nilai keperawatan
spiritual yang berfokus pada menghormati pasien, interaksi yang ramah
dan simpatik, mendengar dengan penuh perhatian, memberi kesempatan
pada pasien untuk mengekspresikan kebutuhan pasien, memberikan
kekuatan pada pasien dan memberdayakan mereka terkait dengan
penyakitnya, dan tidak mempromosikan agama atau praktek untuk
meyakinkan pasien tentang agamanya.
2. Peran Perawat Dalam Spiritual Care
Perawat merupakan orang yang selalu hadir ketika seseorang sakit,
kelahiran, dan kematian. Pada peristiwa kehidupan tersebut kebutuhan
spiritual sering menonjol, dalam hal ini perawat berperan untuk

18
memberikan spiritual care. Perawat berperan dalam proses keperawatan
yaitu melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan,
menyusun rencana dan implementasi keperawatan serta melakukan
evaluasi kebutuhan spiritual pasien, perawat juga berperan dalam
komunikasi dengan pasien, tim kesehatan lainnya dan organisasi
klinis/pendidikan, serta menjaga masalah etik dalam keperawatan.
Peran perawat dalam proses keperawatan terkait dengan spiritual care
dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengkajian kebutuhan spiritual pasien
Menurut Kozier et al, pengkajian kebutuhan spiritual terdiri dari
pengkajian riwayat keperawatan dan pengkajian klinik. Pada
pengkajian riwayat keperawatan semua pasien diberikan satu atau dua
pertanyaan misalnya ‟apakah keyakinan dan praktek spiritual penting
untuk anda sekarang?”, bagaimana perawat dapat memberikan
dukungan spiritual pada anda?”. Pasien yang memperlihatkan beberapa
kebutuhan spiritual yang tidak sehat yang beresiko mengalami distres
spiritualharus dilakukan pengkajian spiritual lebih lanjut.
Kozier menyarankan pengkajian spiritual sebaiknya dilakukan pada
akhir proses pengkajian dengan alasan pada saat tersebut sudah
terbangun hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Untuk
itu diharapkan perawat meningkatkan sensitivitasnya, dapat
menciptakan suasana yang menyenangkan dan saling percaya, hal ini
akan meningkatkan keberhasilan pengkajian spiritual pasien.
Pertanyaan yang diajukan pada pasien saat wawancara untuk mengkaji
spiritual pasien antara lain : adakah praktik keagamaan yang penting
bagi anda?, dapatkah anda menceritakannya pada saya?, bagaimana
situasi yang dapat mengganggu praktik keagamaan anda?, bagaimana
keyakinan anda bermanfaat bagi anda?, apakah cara-cara itu penting
untuk kebaikan anda sekarang?, dengan cara bagaimana saya dapat
memberi dukungan pada spiritual anda?, apakah anda menginginkan
dikunjungi oleh pemuka agama di rumah sakit?, apa harapan-harapan

19
anda dan sumber-sumber kekuatan anda sekarang?, apa yang membuat
anda merasa nyaman selama masa-masa sulit ini?. Pada pengkajian
klinik menurut meliputi :
1) Lingkungan
Apakah pasien memiliki kitab suci atau dilingkungannya terdapat
kitab suci atau buku doa lainnya, literatur-literatur keagamaan,
penghargaan keagamaan, simbol keagamaan misalnya tasbih, salib
dan sebagainya diruangan? Apakah gereja atau mesjid
mengirimkan bunga atau buletin?
2) Perilaku
Apakah pasien berdoa sebelum makan atau pada waktu lainnya
atau membaca literatur keagamaan? Apakah pasien mengalami
mimpi buruk dan gangguan tidur atau mengekspresikan
kemarahan pada Tuhan?
3) Verbalisasi
Apakah pasien menyebutkan tentang Tuhan atau kekuatan yang
Maha Tinggi, tentang doa-doa, keyakinan, mesjid, gereja, kuil,
pemimpin spiritual, atau topik-topik keagamaan? Apakah pasien
menanyakan tentang kunjungan pemuka agama? Apakah pasien
mengekspresikan ketakutannya akan kematian?
4) Afek dan sikap
Apakah pasien menunjukkan tanda-tanda kesepian, depresi, marah,
cemas, apatis atau tampak tekun berdoa?
5) Hubungan interpersonal
Siapa yang berkunjung? Apakah pasien berespon terhadap
pengunjung? Apakah ada pemuka agama yang datang? Apakah
pasien bersosialisasi dengan pasien lainnya atau staf perawat?
Pengkajian data objektif dilakukan perawat melalui observasi.
Hal-hal yang perlu diobservasi adalah apakah pasien tampak
kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi, atau apatis? Apakah
pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci, atau

20
buku keagamaan? Apakah pasien sering mengeluh, tidak dapat
tidur, mimpi buruk dan berbagai bentuk gangguan tidur lainnya,
atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama? Apakah
pasien menyebut nama Tuhan, doa, rumah ibadah, atau topik
keagamaan lainnya? Apakah pasien pernah meminta dikunjungi
oleh pemuka agama? Apakah pasien mengekspresikan
ketakutannya terhadap kematian, konflik batin tentang keyakinan
agama, kepedulian tentang hubungan dengan Tuhan, pertanyaan
tentang arti keberadaannnya didunia, arti penderitaan? Siapa
pengunjung pasien? Bagaimana pasien berespon terhadap
pengunjung? Apakah pemuka agama datang menjenguk pasien?
Bagaimana pasien berhubungan dengan pasien yang lain dan
dengan tenaga keperawatan? Apakah pasien membawa kitab suci
atau perlengkapan sembahyang lainnya? Apakah pasien menerima
kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan?. Pengkajian spiritual
pasien dimulai dari pasien atau keluarga pasien dengan cara
mendengarkan dan melalui pengamatan termasuk interaksi pasien
dengan perawat, keluarga dan pengunjung lainnya, pola tidur,
gangguan fisik, dan tekanan emosional.
Namun dalam beberapa situasi perawat bertanya lebih
mendalam misalnya tentang pandangan spiritual pasien atau
bagaimana pasien mengatasi suatu kondisi yang sedang dihadapi.
Pada pasien tertentu perawat mengakui bahwa pengkajian spiritual
dengan wawancara tidak perlu dilakukan, hanya melalui observasi
saja, perawat berfikir pasien yang sekarat tidak etis untuk
dilakukan wawancara. Perawat dapat mengkaji dan memperoleh
kebutuhan spiritual pasien jika komunikasi yang baik sudah terjalin
antara perawat dan pasien, sehingga perawat dapat mendorong
pasien untuk mengungkapkan hal-hal yang terkait kebutuhan
spiritual.

21
b. Merumuskan Diagnosa Keperawatan
Peran perawat dalam merumuskan diagnosa keperawatan terkait
dengan spiritual pasien mengacu pada distress spiritual. Menurut
Carpenito (2006) salah satu masalah yang sering muncul pada pasien
paliatif adalah distress spiritual. Distres spiritual dapat terjadi karena
diagnose penyakit kronis, nyeri, gejala fisik, isolasi dalam menjalani
pengobatan serta ketidakmampuan pasien dalam melakukan ritual
keagamaan yang mana biasanya dapat dilakukan secara mandiri.
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami
dan mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri,
orang lain, seni, musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr
dari dirinya (Hamid, 2008).
Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan
dalam prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang dan
diintegrasikan biologis dan psikososial (Keliat dkk, 2011).
Berdasarkan definisi diatas distress spiritual memiliki ciri-ciri
diantaranyaspiritual pain, pengasingan diri (spiritual alienation),
kecemasan (spiritual anxiety), rasa bersalah (spiritual guilt), marah
(spiritual anger), kehilangan (spiritual loss), putus asa (spiritual
despair). Distres spiritual selanjutnya dijabarkan dengan lebih spesifik
sebagai berikut :
1. Spiritual Pain Spiritual pain merupakan ekspresi atau ungkapan
dari ketidaknyamanan pasien akan hubungannya dengan Tuhan.
Pasien dengan penyakit terminal atau penyakit kronis mengalami
gangguan spiritual dengan mengatakan bahwa pasien merasa
hampa karena selama hidupnya tidak sesuai dengan yang Tuhan
inginkan, ungkapan ini lebih menonjol ketika pasien menjelang
ajal.
2. Pengasingan Diri (spiritual alienation)
Pengasingan diri diekspresikan pasien melalui ungkapan bahwa
pasien merasa kesepian atau merasa Tuhan menjauhi dirinya.

22
Pasien dengan penyakit kronis merasa frustasi sehingga bertanya :
dimana Tuhan ketika saya butuh Dia hadir?
3. Kecemasan (spiritual anxiety)
Dibuktikan dengan ekspresi takut akan siksaan dan hukuman
Tuhan, takut Tuhan tidak peduli, takut Tuhan tidak menyukai
tingkahlakunya. Beberapa budaya meyakini bahwa penyakit
merupakan suatu hukuman dari Tuhan karena kesalahankesalahan
yang dilakukan semasa hidupnya.
4. Rasa Bersalah (spiritual guilt)
Pasien mengatakan bahwa dia telah gagal melakukan hal-hal yang
seharusnya dia lakukan dalam hidupnya atau mengakui telah
melakukan hal-hal yang tidak disukai Tuhan.
5. Marah (spiritual anger)
Pasien mengekspresikan frustasi, kesedihan yang mendalam,
Tuhan kejam. Keluarga pasien juga marah dengan mengatakan
mengapa Tuhan mengijinkan orang yang mereka cintai menderita.
6. Kehilangan (spiritual loss)
Pasien mengungkapkan bahwa dirinya kehilangan cinta dari
Tuhan, takut bahwa hubungannya dengan Tuhan terancam,
perasaan yang kosong. Kehilangan sering diartikan dengan
depresi, merasa tidak berguna dan tidak berdaya.
7. Putus Asa (spiritual despair)
Pasien mengungkapkan bahwa tidak ada harapan untuk memiliki
suatu hubungan dengan Tuhan, Tuhan tidak merawat dia. Secara
umum orang-orang yang beriman sangat jarang mengalami
keputusasaan.
c. Menyusun Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan membantu untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan dalam diagnosa keperawatan. Rencana keperawatan
merupakan kunci untuk memberikan kebutuhan spiritual pasien dengan
menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara pasien dengan

23
anggota tim kesehatan lainnya, dengan keluarga pasien, atau orang-
orang terdekat pasien. Memperhatikan kebutuhan spiritual pasien
memerlukan waktu yang banyak bagi perawat dan menjadi sebuah
tantangan bagi perawat disela-sela kegiatan rutin di ruang rawat inap,
sehingga malam hari merupakan waktu yang disarankan untuk
berkomunikasi dengan pasien.
Pada fase rencana keperawatan, perawat membantu pasien untuk
mencapai tujuan yaitu memelihara atau memulihkan kesejahteraan
spiritual sehingga kepuasan spiritual dapat terwujud. Rencanaan
keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan berdasarkan
NANDA meliputi :
1) Mengkaji adanya indikasi ketaatan pasien dalam beragama,
mengkaji sumber-sumber harapan dan kekuatan pasien,
mendengarkan pendapat pasien tentang hubungan spiritual dan
kesehatan, memberikan privasi, waktu dan tempat bagi pasien
untuk melakukan praktek spiritual, menjelaskan pentingnya
hubungan dengan Tuhan, empati terhadap perasaan pasien,
kolaborasi dengan pemuka agama, meyakinkan pasien bahwa
perawat selalu mendukung pasien.
2) Menggunakan pendekatan yang menenangkan pasien,
menjelaskan semua prosedur dan apa yang akan dirasakan pasien
selama prosedur, mendampingi pasien untuk memberikan rasa
aman dan mengurangi rasa takut, memberikan informasi tentang
penyakit pasien, melibatkan keluarga untuk mendampingi pasien,
mengajarkan dan menganjurkan pasien untuk menggunakan tehnik
relaksasi, mendengarkan pasien dengan aktif, membantu pasien
mengenali situasi yang menimbulkan kecemasan, mendorong
pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, dan persepsi.
3) Membantu pasien untuk beradaptasi terhadap perubahan atau
ancaman dalam kehidupan, meningkatkan hubungan interpersonal
pasien, memberikan rasa aman.

24
d. Implementasi Keperawatan
Membantu berdoa atau mendoakan pasien juga merupakan salah
satu tindakan keperawatan terkait spiritual Islam pasien. Berdoa
melibatkan rasa cinta dan keterhubungan. Pasien dapat memilih untuk
berpartisipasi secara pribadi atau secara kelompok dengan keluarga,
teman atau pemuka agama Islam. Pada situasi ini peran perawat adalah
memastikan ketenangan lingkungan dan privasi pasien terjaga.
Keadaan sakit dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk
berdoa. Pada beberapa rumah sakit pasien dapat meminta perawat
untuk berdoa dengan mereka dan ada yang berdoa dengan pasien
hanya bila ada kesepakatan antara pasien dengan perawat. Karena
berdoa melibatkan perasaan yang dalam, perawat perlu menyediakan
waktu bersama pasien setelah selesai berdoa, untuk memberikan
kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaannya.
Menurut Kozier et al, perawat perlu juga merujuk pasien kepada
pemuka agama. Rujukan mungkin diperlukan ketika perawat membuat
diagnosa distres spiritual, perawat dan pemuka agama dapat
bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
Implementasi perawat harus peduli, penuh kasih, gembira, ramah
dalam berinteraksi, dan menghargai privasi.
e. Evaluasi
Untuk melengkapi siklus proses keperawatan spiritual pasien,
perawat harus melakukan evaluasi yaitu dengan menentukan apakah
tujuan telah tercapai. Hal ini sulit dilakukan karena dimensi spiritual
yang bersifat subjektif dan lebih kompleks. Membahas hasil dengan
pasien dari implementasi yang telah dilakukan tampaknya menjadi cara
yang baik untuk mengevaluasi spiritual care pasien.
Respon spiritual pada tahun 2004 pada tahap evaluasi perawat
menilai bagaimana efek pada pasien dan keluarga pasien dimana
diharapkan ada efek yang positif terhadap pasien dan keluarganya,
misalnya pasien dan keluarganya mengungkapkan bahwa kebutuhan

25
spiritual mereka terpenuhi, mengucapkan terimakasih karena sudah
menyediakan pemuka agama.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawat dalam Pemberian
Kebutuhan Spiritual
Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi perawat dalam
memberikan kebutuhan spiritual kepada pasien, yaitu :
a. Ketidakmampuan perawat untuk berkomunikasi
Komunikasi yang tidak efektif dapat mengakibatkan pasien tidak
mampu mengungkapkan kebutuhan spiritualnya.
b. Ambigu
Ambigu terjadi ketika adanya perbedaan keyakinan antara perawat
dengan pasien. Perawat akan merasa kebingungan, takut salah, dan
menganggap spiritual terlalu sensitive dan merupakan hak pribadi
pasien.
c. Kurangnya pengetahuan tentang spiritual care
Pengetahuan perawat tentang spiritual care juga mempengaruhi
perawat dalam memberikan kebutuhan spiritual pasien. Jika perawat
percaya bahwa pemberian spiritual care adalah ibadah maka persepsi
ini akan secara langsung akan memberikan kebutuhan spirual kepada
pasien. Spiritual perawat itu sendiri mempengaruhi bagaimana
mereka berperilaku, bagaimana menangani pasien, dan bagaimana
berkomunikasi dengan pasien pada saat perawat memberikan spiritual
care.
d. Hal yang bersifat pribadi
Perawat berpendapat bahwa spiritual merupakan hal yang bersifat
pribadi, sehingga sulit untuk ditangani perawat.
e. Takut melakukan kesalahan
Adanya perasaan takut jika apa yang dilakukan adalah hal yang salah,
dalam situasi yang sulit hal ini dapat mengakibatkan penolakan dari
pasien.

26
f. Organisasi dan manajemen
Jika profesi perawat memberikan perawatan spiritual yang efektif
maka manajemen harus bertanggungjawab dan mendukung
pemberian spiritual care.
g. Hambatan ekonomi berupa kekurangan perawat, kurangnya waktu,
masalah pendidikan
Perawat mengungkapkan bahwa mereka kurang percaya diri dalam
memberikan spiritual care karena kurangnya wawasan dan
pengetahuan.
h. Gender
Perawat wanita lebih berempati terhadap perasaan orang lain,
penyayang, cepat merasa iba, dan menghibur orang lain.
i. Pengalaman kerja
Perawat yang berpengalaman lebih dari 3 tahun memiliki
kepercayaan yang tinggi tentang spiritual care daripada perawat yang
memiliki pengalaman kurang dari 3 tahun.

27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Palliative Care (Perawatan palliative) bertujuan meningkatkan kualitas
hidup pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi masalah/penyakit yang
mengancam jiwa, melalui pencegahan, penilaian sempurna dan pengobatan
rasa sakit masalah, fisik, psikososial dan spiritual (Kemenkes RI Nomor 812,
2007).
Keperawatan Paliatif tidak hanya berfokuskan kepada keperawatan
pengelolaan keluhan nyeri, pengelolaan keluhan fisik lain, maupun pemberian
intervensi pada asuhan keperawatan, dukungan psikologis, dukungan social
saja tetapi kita tahu fungsi perawat sebelumya yaitu salah satunya adalah
holistic care pada keperawatan palliative yaitu kultural dan spiritual, serta
dukungan persiapan dan selama masa duka cita (bereavement).

B. Saran
Kami menyarankan bahwa kegiatan terapi menggunakan metode holistic
keagamaan atau mendekatkan kepada Tuhan sangatlah berdampak positif bagi
kualitas hidup pada pasien terminal, karena dengan rasa bersyukur, pasrah,
menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah semua abadi pastilah semua mahluk
hidup akan wafat pada akhirnya. Akan lebih meringankan beban bagi pasien
terminal baik secara psikologis dan fisiknya siap menerima keadaanya sampai
dengan akhir hayatnya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Baxter, S., Beckwith, S. K., Clark, D., Cleary, J., Falzon, D., Glaziou, P., et al.
(2014). Global Atlas of Palliative Care at the End of Life. (S. R. Connor, &
M. C. Bermedo, Penyunt)) Worldwide Palliative Care Aliance.

KEMENKES. (2014). Situasi Kesehatan Jantung. Jakarta: Kementrian Kesehatan


Republik Indonesia.

KEMNKES. (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta:


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Margaret, O., & Sanchia, A. (2016). Palliative Care Nursing: Aguide to Practice
Second Edition. New York: CRC Press.

Nurwijaya, H., dkk. (2010). Cegah dan Deteksi Kanker. Jakarta: Gramedia.

Ramdani. (2015). Kontribusi Kecerdasan Spiritual dan Dukungan Keluarga


Terhadap Kepuasan Hidup Lansia Serta Implikasi Dalam Pelayanan
Bimbingan dan Konseling. Jurnal Kopasta.

Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar : Riskesdas 2013. Jakarta: Kemenkes


RI.

WHO. (2016). WHO. Dipetik Juni 20, 2019. dari WHO: http://www.who.int/en/

E. Hamzah, “Palliative Care in the Community,” (Kertas Kerja, The International


Conference on Health Sciences, Sunway Pyramid Convention Centre,
Subang Jaya, 2005).

C. Puchalski, B. Ferrell & R. Virani, “Improving the Quality of Spiritual Care as


a Dimension of Palliative Care: The Report of the Consensus Conference,”
Journal of Palliative Medicine, 12(10) (2009), 885.

C. Faull, Y. Carter, & R. Woof, Handbook of Palliative Care (United Kingdom:


Blackwell Science, 1998), 3.

M. M. Groot, M. J. Vernooij-Dassen, B. J. Crul, & R. P. Grol, “General


Practitioners (Gps) and Palliative Care: Perceived Tasks and Barriers in
Daily Practice,” Palliative Medicine 19(2) (2005), 113.

Peter J Franks, C. Salisbury., Nick Bosanquet et al. “The Level of Need for
Palliative Care: A Systemtic Review of the Literature,” Palliative Medicine,
14, (2000), 97.

29
W. Breitbart, “The Goals of Palliative Care: Beyond Symptom Control,”
Palliative & Supportive Care, 4(01) (2006), 1-2.
doi:10.1017/S1478951506060019, 1

C. Virdun, T. Luckett, & P. M. Davidson, “Dying in the Hospital Setting: A


Systematic Review of Quantitative Studies Identifying the Elements of End-
Of-Life Care That Patients and Their Families Rank As Being Most
Important,” Palliative Medicine, 29(9) (2015), 774 –KEPMENKES RI
NOMOR: 812, 2007

Hawari D. Kebutuhan spiritual. Jakarta: UI Press. 2008

Hamid DN, Yani A. Buku ajar aspek spiritual dalam keperawatan. Jakarta:
Widya Medika. 2000

Young C, Koopsen C. Spiritual, kesehatan, dan penyembuhan. Medan: Bina


Perintis. 2007

Kozier B, Berman A, Snyder SJ. Fundamental of nursing: Concept, process, and


practice. New Jersey: Pearson Prentice Hall. 2004

Judith M, Wilkinson NR. Buku saku diagnosis keperawatan: Diagnosis NANDA,


intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC. 2012

Burkhardt MA, Nagai-Jacobson MG. Spirituality: living our connectedness.


Cengage Learning; 2002 [cited 2015 Apr 9]. 380 p. Cavendish R, Konecny
L, Mitzeliotis C,

Donna R, Luise BK, Lanza M. Spiritual care activities of nurses using Nursing
Interventions Classification (NIC) labels. International Journal of Nursing
Terminologies and Classification,14, 113-122. 2003

Meehan T. Spirituality and spiritual care from a careful nursing


perspective.Journal of Clinical Management, 4, 1-11. 2012

Chan MF. Factors affecting nursing staff in practicing spititual care. Journal of
Clinical Nursing, 19, 2128-2136. 2008

Koenig HG. Religion, spirituality, and medicine: application to clinical practice.


Journal American Medicine Association, 284, 1789- 1709. 2001.

30