Anda di halaman 1dari 11

PENJELASAN

1. Sejarah Kebudayaan Persia Kuno

Persia adalah salah satu suku yang tergolong dalam Bangsa Iran,
menggunakan bahasa Persia dan juga mempunyai persamaan dalam kebudayaan
dengan bangsa Iran yang lainnya. Bangsa ini mayoritas di Iran dan minoritas di
beberapa negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat
Arab, Irak dan juga beberapa negara di Timur Tengah

Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap digunakan untuk
menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya, antara keduanya terdapat
sedikit perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya, yaitu bangsa Media,
mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa
lainnya, yaitu banga Persia, mendiami bagian selatan wilayah tersebut.
Baik bangsa Media maupun Persia, keduanya tunduk pada kekuasaan
bangsa Assyria. Namun, sejak 1000 SM, bangsa Persia berhasil
menaklukkan bangsa Media bahkan menaklukkan imperium Assyria.
Sejak saat itu, wilayah Iran dikenal dengan nama Persia.

Kekaisaran Arkhemeniyah (Persia): Imperium ini didirikan oleh


Cyrus atau Koresh yang Agung pada tahun 550 SM. Kerajaan ini
menjadi imperium pertama kala itu. Pada tahun 486 SM, Raja Darius I
naik tahta, dan pada tahun 521 SM menguasai Iran. Pada tahun 334 SM,
Alexander Agung, Kaisar Macedonia, Yunani, merentangkan
kekuasaannya hingga mampu menaklukkan dan menguasai Imperium
Persia. Alexander bahkan memerintahkan pasukannya untuk membunuh
ribuan tentara Persia, dan membakar ibu kotanya: Parsepolis. Tindakan
ini sengaja dia lakukan sebagai balasan atas pembakaran kota Athena
yang dulu dilakukan pasukan Persia. Alexander sendiri mengikrarkan
bahwa dia adalah pewaris tahta raja-raja Arkhemeniyah. Alexander pun
mengikuti cara hidup, tradisi, dan budaya Persia, bahkan berusaha
menciptakan kebudayaan baru yang memadukan kebudayaan Persia dan
Yunani (helenistik). Selain menaklukkan Persia dan menyemaikan
Helenistik, Alexander juga menyungguhkan model pemerintahan baru ala
Persia kepada Barat-Yunani, khususnya yang berkaitan dengan tata
negara dan undang-undang, yang pada gilirannya menjadi asas model tata
Imperium Romawi di kemudian hari.

Setelah sesaat kematian Alexander pada tahun 323 SM, terjadilah


perpecahan diantara para panglima militernya. Mereka pun mulai
membagi wilayah kekuasaan yang telah ditaklukkan Alexander. Wilayah
Persia sendiri pada akhirnya menjadi milik panglima Seleukus,
salahseorang Jenderal Alexander. Sejak masa tersebut, Persia memasuki
era pemerintahan Kekaisaran Seleukus yang berlangsung hingga tahun
141 SM. Dibawah kekaisaran Seleukus, Persia mengalami babak sejarah
yang cemerlang. Kekaisaran ini berhasil menggabungkan Asia Kecil,
Syam, Irak, dan Iran menjadi satu kesatuan wilayah. Ibukota baru pun
didirikan sebagai pusat pemerintahannya, yaitu Seleukia di tigris, Irak.
Dinasti ini juga mempunyai ibu kota kedua di wilayah bagian barat, yaitu
Antakya yang terletak di lembah Sungai al-Ashi.

Setelah itu, muncul kekaisaran Parthia yang menguasai Persia pada tahun
247 SM- 224 M. Dalam lembar sejarah Iran kuno, kekaisaran Parthia
disebut juga Dinasti Arsacia. Nama Arsacia dinisbahkan kepada raja
pertamanya, yaitu Arsacia I. Dinasti ini berasal dari klan Saka yang
mendiami wilayah timur laut Iran. Dinasti ini telah berhasil menaklukkan
kekaisaran Seleukus demi merentangkan pengaruh dan kekuasannya
hingga ke seluruh wilyah Persia. Nama Arsacia kemudian dipakai
sebagai gelar untuk seluruh kekaisaran Parthia, seperti gelar pada raja-
raja Romawi. Kekaisaran Parthia (Arsacia) banyak terlibat serangkaian
perang dengan pihak Imperium Romawi. Mereka bahkan pernah meraih
kemenangan gemilang atas Romawi pada tahun 54 SM. Kemenangan ini
menjadi Imperium Persia (masa kekaisaran Parthia) menjadi satu-satunya
kekuatan terbesar dunia saat itu. Sekalipun rentang masa pemerintahan
kekaisaran ini mencapai lima abad lebih, namun tidak meninggalkan
banyak jejak peradaban bagaimana Kekaisaran Persia lainnya.
Kekaisaran Parthia hanya meninggalkan jejak seni yang sederhana.

Kekaisaran Sasanid: didirikan oleh Ardhashir I yang berkuasa pada tahun


224 M. Dinasti ini dipercayai sebagai pembangun dan penghidup
kembali peradaban Persia dan Zoroaster, sekaligus berupaya membangun
kembali tradisi Persia peninggalan Dinasti Arkhemeniyah. Dinasti ini
justru membuka kontak dagang dengan pihak musuh utama mereka, yaitu
Romawi (Byzantium), juga dengan pihak Cina. Penggalian arkeologis di
Cina menemukan adanya koin-koin (mata uang) perak dan emas Sasanid
yang digunakan selama beberapa abad lainnya.

Ardhashir memiliki posisi yang tinggi dalam sejarah orang-orang Iran.


Dia dipandang sejarah orang-orang Iran. Dia dipandang sebagai sosok
yang berhasil menyatukan bangsa Iran, orang yang menghidupkan
kembali ajaran Zoroaster, sekaligus sebagai pendiri Imperium Pahlavi.
Ardhashir wafat pada tahun 240 M dan digantikan oleh putranya, Shapur
yang kembali memerangi Imperium byzantium, dan berhasil
menaklukkan kaisar Romawi, Valerian pada tahun 260 M. Beberapa
waktu kemudian, Shapur mendirikan akademi Gundishapur di
Gundeshapur. Dia pun kembali membangun tata kerajaan dan Imperium
Persia, seperti membangun banyak kota-kota utama, salah satunya adalah
Nishapur. Pada periode berikutnya, muncul Raja Anusherwan (531-579
M) yang dikenal sangat adil dan bijak dalam memerintah. Pada awal
pemerintahannya, dia telah mampu menghilangkan fitnah pengikut
Mazdak dan memulihkan stabilitas situasi di Iran. Kemudian, tahta
Kekaisaran Sasanid bergantian pada masa 629-632 M. Pada tahun 642
M, pasukan muslim berhasil mengalahkan bangsa Persia pada dua
pertempuran: Perang Qadisiyah dan Perang Nahawan pada masa
Khalifah Umar bin Khatab. Setelah itu, kaum muslim tersebar di negara
Persia hingga pemerintahan Dinasti Sasanid berakhir.

2. Peradaban Persia Kuno


Koresy memimpin pasukan penunggang kuda dan pemanah ulung.
Mengambil keuntungan dari kelemahan para tetangga, ia menaklukkan
sebuah kerajaan yang wilayahnya terentang dari Laut Mediterania hingga
ke Afganistan. Anaknya Cambyses, menyerang Mesir. Bangsa Persia
mendapat dukungan dari warga taklukan berkat pemerintahan yang adil.
Darius I memperluas wilayah hingga ke India dan Yunani. Ia mengatur
ulang kerajaan dan menunjuk para satrap (gubernur) di setiap provinsi. Ia
memungut pajak dari setiap provinsi berupa padi-padian, perak dan hasil
pertanian.

Darius membangun banyak jalan dan kota dagang untuk menjangkau


seluruh bagian dari kerajaan yang luas. Ia memajukan perdagangan
dengan memperkenalkan mata uang standar. Bangsa Persia menguasai
ujung barat Jalur Sutera dari Cina, dan seluruh lalu lintas perdagangan
dari India ke Laut Mediterania. Kerajaan kosmopolitan yang makmur ini
menjalin hubungan dengan sebagian besar peradaban kuno pada masa itu.
Namun, kerajaan ini sangat bergantung pada kemampuan pemimpinnya.
Akhirnya, bangsa Yunani meruntuhkan kerajaan Persia dan merebut
wilayah kekuasaan Persia.

3. Agama Persia Kuno


Di sisi akidah, pada zaman dahulu mereka menyembah Allah dan sujud
kepad-Nya. Kemudian mereka menjadikan permisalan matahari, bulan,
bintang dan galaksi-galaksi di langit sebagai sesembahan, seperti juga
selain mereka dari generasi-generasi awal.

Agama asli orang-orang persia adalah suatu kultus yang sederhana sekali,
yang berhubungan dengan kehidupan penggembalaan pertanian. Akan
tetapi kemudian seorang persia yang bernama Zarathustra
mengembangkan suatu agama baru yang disebut Zoroastrianisme.
Zoroastrianisme merupakan kepercayaan yang menyembah kepada
Ahura Mazda atau “Tuhan yang bijaksana”. Di dalam ajaran
Zoroastrianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa,
yaitu Ahura Mazda. Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala
puja dan sembah ditujukan hanya kepadanya. Pengakuan ini adalah
bentuk penegasan bahwa hanyaAhura Mazda yang harus disembah.
Zarathustra menunjukkan pemikirannya tentang perbaikan tujuan arah
negara yang beragama. Dia mengatakan, “Sesungguhnya cahaya Allah
menjelma dalam setiap sesuatu yang berkilau dan menyala di alam dunia.
Dia memerintahkan menghadap matahari dan api waktu beribadah,
karena cahaya merupakan perlambang Tuhan. Ia mengajarkan untuk
tidak mengotori empat unsur, yaitu: api, udara, debu dan air. Kemudian
setelah itu datanglah para pendeta yang mengajak pengikut Zarathustra
untuk mengikutui syariat yang bermacam-macam. Mereka
mengharamkan menggunakan sesuatu yang ada hubungannya dengan api,
mencukupkan diri dengan segala perbuatan mereka hanya dengan
pertanian dan perdagangan. Dari ritual penyembahan api ini, kemudian
dijadikanlah api sebagai kiblat ritual ibadah dari berbagai tingkat
golongan untuk menyembahnya. Selanjutnya, mereka menjadi para
penyembah api dengan makna sebenarnya. Mereka membangun biara
dan klenteng-klenteng, menentang setiap keyakinan dan agama selain
menyembah api.

Menurut penganut Zoroaster, dzat Ahura Mazda adalah esensi murni


yang suci dari segala bentuk materi, yang tidak dapat dilihat oleh
pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal
manusia. Banyak dari manusia yang tidak mampu mengimani dzat
dengan sifat seperti ini. Sehingga Zoroastrianisme membuat rumusan
tentang hakikat ketuhanan Ahura Mazda dengan rumus:

a) Rumus pertama bersifat transenden (samawi) yang disimbolkan


dengan matahari
b) Rumus kedua bersifat imanen (ardhi) yang disimbolkan dengan
api.
Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta,
suci, serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-hal yang buruk dan segala
bentuk kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semesta raya ini
bergantung. Sifat inilah yang paling mendekati untuk digambarkan oleh
akal manusia akan sifat Maha Pencipta.

Zoroastrianisme adalah suatu agama yang bersifat “keduaan”


atau dualistis. Disebutkan bersifat keduaan karena para penganutnya
percaya bahwa ada dua kekuatan yang saling berperang terus menerus,
yakni kekuatan yang baik dan kekuatan yang jahat.
Kekuatan yang baik diwakili oleh Ormadz, sang dewa tertinggi, bersama
dengan para pembantunya yang adalah para malaikat. Sedangkan
kekuatan yang jahat diwakili oleh Ahriman, si dewa kejahatan, bersama
dengan kumpulan setan-setan yang membantunya.
Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura
Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun
keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut
diakui keberadaanya ada lima yaitu:

1. Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa


atas api.
2. Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini
dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik.
3. Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam.
4. Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah.
5. Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa
atas air dan tumbuh-tumbuhan.

4. Kitab Suci
Kitab suci agama zoroaster dikenal dengan nama Avesta. Avesta berasal
dari akar kata avistak, bermakna Bacaan. Ada tiga bagian di dalam kitab
ini:

1. Gathas, Nyanyian” atau “ode” atau yang secara umum dan tepat
dinisbahkan pada Zoroaster sendiri

2. Yashts atau himne korban yang ditujukan kepada berbagai macam


dewa
3. Vendidat atau Videvdat, “aturan melawan syetan”, berupa sebuah
risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan
prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroaster dan diuraikan
sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.

5. Praktek Keagamaan
Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa menyalakan api
suci di tungku-tungku api yang terdapat di setiap kuil peribadatan. Api
tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku api itu
dijaga dan diurus oleh Magi, rohaniawan muda, juga oleh para pendeta
kuil. Setiap hari, mereka selalu memasukkan kayu cendana ke dalam
tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain yang mengeluarkan aroma
wewangian khas, juga menaburkan serbuk-serbuk dan cairan wewangian
sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum semerbak.
Mereka juga merapalkan doa dan melaksanakan ritual keagamaan
disekitar api tersebut.
Dalam tradisi Zoroastrianisme, ketika akan mendirikan sebuah kuil api
baru, mereka diharuskan menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan
buah lilin atau obor. Nyala api di obor pertama kemudian disalurkan
untuk nyala api obor kedua, dan seterusnya hingga pada obor yang ke
sembilan. Pengikut Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor
terakhir itulah yang telah sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api
kesembilan itu mereka menyalakan api pada tungku kuil baru tersebut.

6. Kondisi Sosiologi

a. Pandangan Etika Hidup

Dalam pandangannya mengenai etika hidup yang ideal, ada tiga hal
utama yang ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik,
perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme
memberikan kebebasan bagi setiap penganutnya untuk memilih hidup
yang baik atau jahat bagi dirinya sendiri. Menurut mereka dunia yang
akan datang akan mengalami pembaruan. Pembaruan dunia ini tidak
dapat dapat dikerjakan oleh satu orang saja tetapi membutuhkan
keterlibatan banyak orang. Oleh karena itu, Zoroastrianisme sangat
menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk
melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah
penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura
Mazda. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau
dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan
selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal.
Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa
dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan bertapa
karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan
berarti menolak Sang Pencipta.
b. Konsep Kematian
Agama Zoroaster meyakini bahwa tubuh manusia adalah tidak suci
sehingga menurut mereka jasad manusia tidak boleh mengotori bumi dan
api, atas dasar alasan tersebut jasad manusia tidak boleh di kubur atau di
kremasi. Oleh sebab itu orang yang telah meninggal jenazahnya akan di
bawa ke kuil Towers of Silence agar di makan oleh burung pemakan
bangkai, burung Nasar. Setelah daging dimakan habis oleh burung Nasar
dan tinggal tersisa tulang belulang, maka tulang-tulang tersebut akan di
buang ke tengah bangunan.

c. Konsep Kehidupan Setelah Mati (Eskatologi)


Para pengikut Zoroaster percaya bahwa ada suatu peperangan
sorgawi yang berlangsung diantara dua kekuatan itu dan akhirnya (yakni
pada akhir zaman) Ormadz-lah yang akan menang. Menurut mereka
Zorostrianisme mengajar manusia untuk melayani dewa kebaikan dan
mematuhi suatu hukum tertinggi mengenai tingkah laku yang
mengungkapkan suatu moralitas yang lemah lembut. Para pengikut ini
yakin bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan
akan ada suatu kehidupan baru bagi orang-orang yang benar ketika
Ormadz menang.

Manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Siapa yang memilih


kebaikan dan kebenaran, maka dia akan menuai hasilnya di kehidupan
akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan
kedustaan, dia pun akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.

.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Begitu menariknya sejarah tentang Persia. Semoga dapat dipetik
pelajaran bagi kita semua. Bahwasannya manusia di masa lalu
mempunyai pemikiran intelektual yang bebitu tinggi sehingga mampu
membangun peradaban yang begitu megah. Tapi semua itu semestinya
dibarengi dengan keimanan yang kokoh sehingga tidak terpedaya dengan
oleh kepintaran dan kecerdasan akal saja yang menyebabkan rusaknya
akidah yakni munculnya paham zoroaster. Begitu juga dengan kita,
kemajuan teknologi saat ini tidaklah lantas membuat kita lupa bahwa di
atas semua itu ada yang lebih berkuasa di atas segala – galanya yaitu
Alloh swt.
DAFTAR PUSTAKA

https://karinedogawa.wordpress.com/2015/12/03/sejarah-persia/

http://wwwa.britannica.com/eb/article-230041?tocId=230041

Bahman Firuzmandi "Mad, Hakhamanishi, Ashkani, Sasani" m/s. 20

Iran. The Columbia Encyclopedia, Edisi ke enam. 2001-05

Bahman Firuzmandi "Mad, Hakhamanishi, Ashkani, Sasani" m/s. 12-19

Abdolhossein Zarinkoob "Ruzgaran : tarikh-i Iran az aghz ta saqut saltnat Pahlvi"


m/s. 37

Bahman Firuzmandi "Mad, Hakhamanishi, Ashkani, Sasani" m/s. 155


Tentang

BANGSA PERSIA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6

1. Mutia Siregar (Ketua)


2. Nurhabibah Hasibuan
3. Indra Syahputra
4. Irfan

KELAS : X – IPS-2
Guru Pembimbing : Bpk Riza

SMA NEGERI 2 KOTAPINANG


TP. 2018/2019