Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH FARMASI KOMUNITAS

STUDI KASUS SWAMEDIKASI

Disusun Oleh Kelompok 9 :

Ayunita Utami 19340032

Dina Prahastiwi 19340033

Devi Maielsa 19340034

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
Rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah ini
yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “STUDI KASUS SWAMEDIKASI”
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang studi kasus.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan
senantiasa melindungi segala usaha kita. Amin.

Jakarta, 23 September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3 Tujuan................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Swamedikasi ........................................................................................ 3
A. Kriteria Obat Yang Digunakan....................................................... 3
B. Jenis Obat Yang Digunakan ........................................................... 4
C. Faktor Yang Mempengaruhi Meningkatnya Swamedikasi ............ 5
D. Dampak Positif dan Negatif ........................................................... 6
E. Aturan Pemakaian Perlu Diperhatikan ........................................... 6
F. Manfaat Swamedikasi .................................................................... 6
G. Pelayanan Swamedikasi ................................................................. 6
H. Pengunaan Obat Swamedikasi ....................................................... 7
2.2 GERD ................................................................................................... 8
2.3 Demam ................................................................................................. 15
2.4 Batuk .................................................................................................... 21
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Contoh Study Kasus ............................................................................. 24
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan........................................................................................... 26
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latara Belakang


Kesehatan merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan. Seseorang yang
merasa sakit akan melakukan upaya demi memperoleh kesehatannya kembali. Pilihan
utama mengupayakan kesembuhan dari suatu penyakit, antara lain adalah dengan berobat
ke dokter atau mengobati diri sendiri (Atmoko et al., 2009 di dalam Hermawati, 2011).
Pengobatan sendiri atau yang disebut dengan swamedikasi merupakan upaya yang
paling banyak dilakukan masyarakat mengatasi gejala penyakit sebelum mencari
pertolongan dari tenaga kesehatan (Depkes RI, 2008). Swamedikasi adalah mengobati
segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang sederhana yang dibeli bebas di
apotik atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa saran dari dokter (Rahardja, 2010). Suatu
survei pada tahun 2002 memperkirakan ada lebih dari 92% orang di dunia pernah
menggunakan paling tidak satu jenis obat bebas di tahun sebelumnya dan 55% orang
pernah menggunakan lebih dari satu jenis obat bebas (World Self-Medication Industry,
2009). Hasil sensus pada tahun 2009 juga mencatat bahwa 66% orang sakit di Indonesia
melakukan swamedikasi untuk mengatasi penyakitnya (Kartajaya, et al., 2011).
Swamedikasi dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yang banyak
dialami masyarakat, seperti demam, batuk, flu, nyeri, diare, dan gastritis (Supardi et al.,
2006: Abay et al., 2010). Pelaksanaan swamedikasi didasari oleh pemikiran bahwa
pengobatan sendiri cukup untuk mengobati masalah kesehatan yang dialami tanpa
melibatkan tenaga kesehatan (Flecenstain et al., 2011). Alasan lainnya adalah karena
semakin mahalnya biaya pengobatan ke dokter, tidak cukupnya waktu yang dimiliki
untuk berobat, atau kurangnya akses ke fasilitas- fasilitas kesehatan (Atmoko at al., 2009;
Gupta, et al., 2011).
Setiap orang tentu menginginkan dirinya selalu dalam keadaan sehat, menurut
undang-undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan, kesehatan mempunyai arti yang
sangat luas yaitu keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Depkes, 2009).
Berkembangnya penyakit mendorong masyarakat untuk mencari alternatif pengobatan
yang efektif secara terapi tetapi juga efisien dalam hal biaya. Berkenaan dengan hal
tersebut, pengobatan sendiri menjadi alternatif yang diambil oleh masyarakat (Sujudi,
2006).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan Swamedikasi ?
2. Jenis obat apa saja yang digunakan ?
3. Faktor apa yang menyebabkan meningkatnya Swamedikasi ?
4. Apa dampak positif dan negatif dari swamedikasi ?
5. Apa manfaat swamedikasi ?
6. Bagaimana penyelesaian study kasus swamedikasi ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Swamedikasi.
2 Untuk mengetahui Jenis obat apa saja yang digunakan.
3 Untuk mengetahui Faktor yang menyebabkan meningkatnya Swamedikasi.
4 Untuk mengetahui dampak positif dan negatif dari swamedikasi.
5 Untuk mengetahui manfaat swamedikasi.
6 Untuk mengetahui cara penyelesaian study kasus swamedikasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Swamedikasi
Swamedikasi adalah pengobatan diri sendiri yaitu penggunaan obat-obatan atau
menenangkan diri bentuk perilaku untuk mengobati penyakit yang dirasakan atau nyata.
Pengobatan diri sendiri sering disebut dalam konteks orang mengobati diri sendiri, untuk
meringankan penderita mereka sendiri atau sakit. Dasar hukumnya permekes
No.919/MENKES/PER/X/1993, secara swamedikasi adalah upaya seseorang dalam
mengobati gejala sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Namun bukan bearti asal mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang
sesuai dengan penyakitnya dan apoteklah yang bisa berperan di sini. Swamedikasi
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena perkembangan teknologi informasi,
kemudahan akses tentang obat dan penyakit, sehingga masyarakat dapat melakukan
pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya berdasarkan informasi yang didapatkan
(Supardi & Notosiswoyo, 2005).
Meskipun demikian Apoteker memiliki peran yang sangat penting untuk
memberikan informasi obat yang objektif dan rasional. Swamedikasi boleh dilakukan
untuk kondisis penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Seditaknya ada lima
komponen inforamsi yang diperlukan untuk swamedikasi yang tepat menggunakan obat
modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat (isinya apa?), indikasi (untuk
mengobati apa?), dosage (seberapa banyak? Seberapa sering?, efek samping dan
kontraindikasi (siapa/kondisi apa yang tidak boleh minum obat itu?).
Tujuan swamedikasi adalah untuk peningkatan kesehatan, pengobatan sakit ringan,
dan pengobatan rutin penyakit kronis setelah perawatan dokter. Sementara itu, peran
pengobatan sendiri adalah untuk menanggulangi secara cepat dan efektif keluhan yang
tidak memerlukan konsultasi medis, mengurangi beban pelayanan kesehatan pada
keterbatasan sumber daya dan tenaga, serta meningkatkan keterjangkauan masyarakat
yang jauh dari pelayanan kesehatan (WHO, 1998 dalam Supardi, 2005).

A. Kriteria Obat Yang Digunakan


Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat di
serahkan tanpa resep :
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah
usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun

3
2. Pengobatan sendiri dengan dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit
3. Penggunaanya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggung
jawabkan untuk pengonbatan sendiri

B. Jenis Obat Yang Digunakan


1. Tanpa resep dokter
a. Obat bebas tanda lingkaran hitam, dasar hijau
Obat bebas adalah obat yang dijual secara bebas diwarung kelontong,
toko obat dan apotek. Pemakaian obat bebas ditujukan untuk mengatasi
penyakit ringan sehingga tidak memerlukan pengawasan dari tenaga medis
selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan, hal ini
dikarenakan jenis zat aktif pada obat bebas relatif aman. Efek samping yang
ditimbulkan pun minimum dan tidak berbahaya. Karena semua informasi
penting untuk swamedikasi dengan obat bebas tertera pada kemasan atau
brosur informasi di dalamnya, pembelian obat sangat disarankan dengan
kemasannya. Logo khas obat bebas adalah tanda berupa lingkaran hijau
dengan garis tepi berwarna hitam. Yang termasuk obat golongan ini
contohnya adalah analgetik antipiretik (parasetamol), vitamin dan mineral
(BPOM, 2004).
b. Obat bebas terbatas: tanda lingkaran hitam, dasar biru
Golongan obat ini disebut juga obat W (atau Waarschuwing) yang
artinya waspada. Diberi nama obat bebas terbatas karena ada batasan jumlah
dan kadar dari zat aktifnya. Seperti Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas mudah
didapatkan karena dijual bebas dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Terdapat
pula tanda peringatan ”P” dalam labelnya. Kenapa disebut ”terbatas” karena
ada batasan jumlah dan kadar isinya. Label ”P” ada beberapa macam yaitu:
1. P.No. 1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan pemakaiannya.
2. P.No. 2: Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur jangan ditelan
3. P.No. 3: Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar badan.

4
4. P.No. 4: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar
5. P.No. 5: Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan
6. P.No. 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan
Meskipun begitu idealnya obat ini hanya dijual di apotek atau toko obat
berizin yang dikelola oleh minimal asisten apoteker dan harus dijual dengan
bungkus/kemasan aslinya. Hal itu disebabkan obat ini sebenarnya masih termasuk
dalam obat keras, artinya obat bebas terbatas aman hanya jika digunakan sesuai
dengan petunjuk. Oleh karenanya, obat bebas terbatas dijual dengan disertai
beberapa peringatan dan informasi memadai bagi masyarakat luas. Obat ini dapat
dikenali lewat lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam yang mengelilingi.
Contoh obat bebas terbatas: obat batuk, obat flu, obat pereda rasa nyeri, obat yang
mengandung antihistamin (Depkes, 2006).
2. Obat Wajib Apotek (OWA) Merupakan obat keras tanpa resep dokter, tanpa :
lingkaran hitam, dasar merah
Obat Wajib Apotek adalah golongan obat yang wajib tersedia di apotek.
Merupakan obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Obat ini aman
dikonsumsi bila sudah melalui konsultasi dengan apoteker. Tujuan
digolongkannya obat ini adalah untuk melibatkan apoteker dalam praktik
swamedikasi. Tidak ada logo khusus pada golongan obat wajib apotek, sebab
secara umum semua obat OWA merupakan obat keras. Sebagai gantinya, sesuai
dengan ketetapan Menteri Kesehatan No 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang
DOWA 1; No 924/MenKes/PER/X/1993 tentang DOWA 2: No
1176/MenKes/SK/X/1999 tentang DOWA 3 diberikan Daftar Obat Wajib Apotek
untuk mengetahui obat mana saja yang dapat digunakan untuk swamedikasi. Obat
wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat
mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi sistem
neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topikal (BPOM, 2004).
3. Suplemen makanan

C. Faktor Yang Menyebabkan Meningkatnya Swamedikasi (Hermawati,2011).


1. Perkembangan teknologi farmasi yang inovatif
2. Jenis atau merek obat yang berbeda telah diketahui atau dikenal oleh
masyarakat luas
3. Berubahnya peraturan tentang obat atau farmasi

5
4. Kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat
5. Pengaruh informasi atau iklan
6. Kemudahan mendapatkan obat
7. Mahalnya biaya kesehatan

D. Dampak Positif dan Negatif (Herawati, 2011).


1. Dampak positif
- Pencegahan mampu pengobatan yang lebih dini
- Biaya yang lebih terjangkau dan cepat
2. Dampak negatif
- Pengobatan yang kurang rasional

E. Aturan Pemakaian Perlu Diperhatikan (Hermawati, 2011).


1. Bagaimana cara memakainya
2. Berapa jumlah yang digunakan sekali pakai
3. Berapa kali sekali
4. Berapa lama pemakaiannya
5. Waktu pemakaian

F. Manfaat Swamedikasi
Swamedikasi bermanfaat dalam pengobatan penyakit atau nyeri ringan, hanya
jika dilakukan dengan benar dan rasional, berdasarkan pengetahuan yang cukup
tentang obat yang digunakan dan kemampuan megenali penyakit atau gejala yang
timbul. Swamedikasi secara serampangan bukan hanya suatu pemborosan, namun
juga berbahaya (Depkes, 2006)

G. Pelayanan Swamedikasi
Untuk melakukan pengobatan sendiri secara benar, masyarakat harus mampu
menentukan jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya. Hal ini dapat
disimpulkan dari beberapa hal (Depkes, 2006) :
a. Gejala atau keluhan penyakitnya.
b. Kondis khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus
dan lain-lain.
c. Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diingankan terhadap obat tertentu.

6
d. Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan
e. Interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.
f. Pilih obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat
dengan
g. obat yang sedang diminum.
h. Berkonsultasi dengan apoteker.

H. Penggunaan Obat Swamedikasi


Pada pasien swamedikasi terdapat cara penggunaan obat yang harus
disampaikan oleh apoteker kepada pasien, antara lain sebagai berikut (Depkes RI,
2006):
1. Penggunaan obat tidak untuk pemakaian secara terus menerus
2. Gunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur
3. Bila obat yang digunakan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, hentikan
penggunaan dan tanyakan kepada Apoteker dan Dokter
4. Hindarkan menggunakan obat orang lain walaupun gejala penyakit sama
(Menkes RI, 2006)
Apotek sebagai sarana kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk
mendapatkan obat. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) 51 Tahun 2009, apotek
merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian
oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
(Menkes RI, 2014).
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dari pasien. Penggunaan pelayanan kefarmasian tidak hanya digunakan untuk
pelayanan resep tapi juga untuk pengobatan sendiri (swamedikasi). Sebagai salah
satu penyedia layanan kesehatan, apoteker memiliki peran dan tanggungjawab yang
besar pada swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang

7
memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan Obat bebas
atau bebas terbatas yang sesuai (Menkes RI, 2014).

2.2 GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)


Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD)
didefinisikan sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung
ke dalam esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu (troublesome)
di esofagus maupun ekstra esofagus dan atau komplikasi (Susanto, 2002).
Pada orang normal, refluks ini terjadi pada posisi tegak sewaktu habis makan.
Karena sikap posisi tegak tadi dibantu oleh adanya kontraksi peristaltik primer, isi
lambung yang mengalir masuk ke esofagus segera dikembalikan ke lambung. Refluks
sejenak ini tidak merusak mukosa esofagus dan tidak menimbulkan keluhan atau gejala.
Oleh karena itu, dinamakan refluks fisiologis. Keadaan ini baru dikatakan patologis, bila
refluks terjadi berulang-ulang yang menyebabkan esofagus distal terkena pengaruh isi
lambung untuk waktu yang lama. Istilah esofagitis refluks berarti kerusakan esofagus
akibat refluks cairan lambung, seperti erosi dan ulserasi epitel skuamosa esofagus
(Susanto, 2002).

A Tanda dan Gejala GERD


1) Dewasa
Gejala yang paling umum adalah mual, regurgitasi, kesulitan menelan
(disfagia), nyeri saat menelan (odynophagia), peningkatan air liur (rasa ingin
meludah) dan nyeri dada. GERD kadang menyebabkan luka pada kerongkongan
dan cedera pada:

8
a. Refluks esofagitis-nekrosis epitel esofagus menyebabkan luka di dekat
persimpangan lambung dan kerongkongan.
b. Terserang striktur-penyempitan terus-menerus dari esophagus yang
disebabkan oleh refluks akibat peradangan.
c. Barrett esophagus-usus metaplasia (perubahan sel epitel skuamosa dari
epitel kolumnar ke usus) dari esofagus distal.
d. Terserang adenokarsinoma-bentuk yang jarang dari kanker
Beberapa gejala atipikal lainnya yang berhubungan dengan GERD yaitu
cedera kerongkongan meliputi gejala batuk kronis, laringitis (suara serak,
tenggorokan kliring), asma, sinusitis dan rusak gigi.
2) Anak-anak
GERD mungkin sulit untuk mendeteksi pada bayi dan anak-anak, karena
mereka tidak bisa menggambarkan apa yang mereka rasakan dan indikator harus
diperhatikan. Gejala dapat bervariasi dari gejala khas orang dewasa. GERD pada
anak-anak dapat menyebabkan berulang muntah, mudah meludah atas, batuk dan
masalah pernapasan lainnya seperti tersengal-sengal, menangis saat dihibur,
menolak makan, menangis saat diberi makanan dan kemudian menarik botol.
Terjadinya aliran balik atau refluks pada penyakit GERD diakibatkan oleh
gangguan motilitas atau pergerakan esofagus bagian ujung bawah. Pada bagian
ujung ini terdapat otot pengatur (sfingter) disebut LES, yang fungsi mengatur arah
aliran pergerakan isi saluran cerna dalam satu arah dari atas ke bawah menuju usus
besar. Pada GERD akan terjadi relaksasi spontan otot atau penurunan kekuatan otot,
sehingga dapat terjadi arus balik atau asam lambung, dari bawah ke atas ataupun
sebaliknya (Hadi, 2002).
Patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor
defensif dari esophagus dan faktor efensif dari bahan reflukstat. Faktor defensif
esophagus adalah pemisah antirefluks, bersihan asam dari lumen esophagus, dan
ketahanan ephitelial esophagus. Sedangkan yang termasuk faktor ofensif adalah
sekresi gastrik dan daya pilorik.

B Penyebab GERD
Asam lambung naik ke kerongkongan (refluks asam lambung) terjadi ketika
otot kerongkongan bagian bawah (otot LES) melemah. Otot LES ini seharusnya
berkontraksi dan menutup saluran ke kerongkongan setelah makanan turun ke

9
lambung. Bila otot ini lemah, kerongkongan akan tetap terbuka dan asam lambung
akan naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini berisiko terjadi pada orang lanjut
usia (lansia), orang dengan obesitas dan wanita hamil.
 Faktor-faktor penyebabnya:
1) Makanan
 Kopi: menyebabkan sfingter menjadi rileks
 Cokelat: mengandung methylxantine yang mirip seperti kafein dan
dapat membuat sfingter rileks sehingga tidak cukup erat menutup dan
terjadi refluks
 Makanan berlemak: menyebabkan sfingter menjadi rileks dan
memperpanjang waktu pengosongan isi perut sehingga makanan atau
asam lambung dapat kembali ke esofagus
 Buah atau jus yang asam: jeruk, anggur, nanas memiliki kandungan
asam yang tinggi
 Minuman berkarbonasi atau bersoda: menyebabkan perut kembung
yang dapat meningkatkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah
yang menyebabkan refluks asam
 Rokok: mengandung nikotin yang dapat memicu produksi asam
lambung
 Alkohol
2) Obat-obatan Golongan Tertentu
Antikolinergik, beta adrenergik, nitrat dan calcium-channel blocker.
3) Hormon
Peningkatan hormon progesteron selama kehamilan atau pemberian terapi
pengganti hormon estrogen pada wanita menopause.
4) Struktural
Adanya kondisi hiatus hernia (kondisi di mana ada bagian lambung yang
menonjol masuk ke esofagus), selain itu kondisi sfingter esofagus bagian
bawah yang pendek (panjangnya kurang dari 3 cm).

 Faktor risiko penyakit GERD, antara lain:


1. Obesitas atau kegemukan
2. Kehamilan

10
3. Penyakit paru seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
4. Penggunaan terapi pengganti estrogen

C Terapi GERD
1. Terapi GERD
Terapi GERD ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala
pasien, mengurangi frekuensi atau kekambuhan dan durasi refluks esofageal,
mempercepat penyembuhan mukosa yang terluka, dan mencegah
berkembangnya komplikasi. Terapi diarahkan pada peningkatan mekanisme
pertahanan yang mencegah refluks dan atau mengurangi faktor-faktor yang
memperburuk agresifitas refluks atau kerusakan mukosa.
a. Modifikasi Gaya Hidup
b. Tidak merokok
c. Tempat tidur bagian kepala ditinggikan
d. Tidak minum alkohol
e. Diet rendah lemak
f. Hindari mengangkat barang berat
g. Penurunan berat badan pada pasien gemuk
h. Jangan makan terlalu kenyangHindari pakaian yang ketat, terutama di
daerah pinggang
2. Terapi Endoskopik.
Terapi ini masih terus dikembangkan. Contohnya adalah radiofrekuensi,
endoscopic suturing, dan endoscopic emplatation. Radiofrekuensi adalah
dengan memanaskan gastroesophageal junction. Tujuan dari jenis terapi ini
adalah untuk mengurangi penggunaan obat, meningkatkan kualitas hidup, dan
mengurangi reflux.
3. Terapi medika mentosa.
Sampai pada saat ini dasar yang digunakan untuk terapi ini adalah supresi
pengeluaran asam lambung. Ada dua pendekatan yang biasa dilakukan pada
terapi medika mentosa:
a. Step up: Awal pengobatan pasien diberikan obat-obat yang kurang kuat
menekan sekresi asam seperti antacid, antagonis reseptor H2 ( simetidin,
ranitidine, famotidin, nizatidin) atau golongan prokinetik

11
(metoklorpamid,domperidon,cisaprid) bila gagal berikan obat-obat supresi
asam yang lebih kuat dengan masa terapi lebih lama (PPI).
b. Step down: Pada terapi ini pasien langsung diberikan PPI dan setelah
berhasil lanjutkan dengan supresi asam yang lebih lemah untuk
pemeliharaan.
4. Terapi terhadap Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan dan striktur. Bila terjadi
rangsangan asam lambung yang kronik dapat terjadi perubahan mukosa
esophagus dari squamous menjadi kolumnar yang metaplastik sebagai
esophagus barret’s (premaligna) dan dapat menjadi karsinoma barret’s
esophagus
a. Striktur esophagus: Bila pasien mengeluh disfagia dan diameter strikturnya
kurang dari 13 mm, maka dapat dilakukan dilatasi busi, bila gagal juga
lakukanlah operasi.
b. Barret’s esophagus: Bila pasien telah mengalami hal ini maka terapi yang
dilakukan adalah terapi bedah (fundoskopi). Selain terapi bedah dapat juga
dilakukan terapi endoskopi (baik menggunakan energy radiofrekuensi,
plikasi gastric luminal atau dengan implantasi endoskopi) walapun cara ini
masih dalam penelitian. (Djajapranata, 2001).

D. Obat yang Berfungsi Untuk Menurunkan Asam Lambung Tinggi


a. Terapi Farmakologi
1) Antagonis Reseptor H2
Jenis obat ini diresepkan dengan maksud untuk menghambat kerja
reseptor histamin pada sel pariental, sehingga sel parenteral tidak dapat
dirangsang untuk mengeluarkan asam lambung. Histamin sebagai satu
senyawa di dalam tubuh yang berfungsi untuk mengeluarkan asam
lambung. Jenis obat golongan H2: Cimetidine, Ranitidine, Famotidine
2) Obat Penghambat Pompa Proton (PPI)
Asam lambung dikenal juga dengan rumusan HCl, konsentrasi ion
(H+) di tubuh dalam jumlah tinggi berbanding lurus dengan meningkatnya
asam lambung dalam tubuh. Oleh karenanya dokter akan meresepkan obat
dari jenis penghambat pompa proton untuk menghambat tingginya ion
tersebut. PPI dapat menghambat asam lambung dengan menghambat enzim

12
(K+H+ATPase) yang akan memecah K+H+ATP menghasilkan energi yang
digunakan untuk mengeluarkan asam HCl dari kanalikuli sel parietal ke
dalam lumen lambung.
PPI merupakan penghambat sekresi asam lambung yang lebih kuat
dibanding dengan AH2. PPI mencegah pengeluaran asam lambung dari sel
kanalikuli, sehingga menyebabkan pengurangan rasa sakit pada pasien
tukak, mengurangi aktivitas faktor pepsin dengan pH >4 serta
meningkatkan efek radiasi H. Jenis obat golongan PPI: Omeprazole,
Lansoprazole, Rabeprazole, Pantoprazole dan Esomeprazole.
3) Antasida
Untuk jenis obat-obatan ini adalah jenis yang paling banyak digunakan
juga sering dipakai untuk menangani penyakit asam lambung dalam
stadium rendah. Bentuknya seperti tablet kunyah yang berfungsi untuk
menetralkan kadar asam di dalam lambung. Mekanisme antasida yaitu
menetralkan asam lambung sehingga dapat mengurangi iritasi mukosa
lambung akibat asam lambung yang berlebihan. Jenis obat golongan
antasida: Garam Aluminium, Garam Magesium, dan Natrium Bikarbonat
4) Anti Kembung
Untuk mengatasi perut kembung yang disebabkan oleh produksi gas
berlebih di dalam perut. Obat ini bekerja dengan mengurangi tekanan gas
sehingga lebih mudah dikeluarkan dari dalam saluran pencernaan. Jenis
obat Anti Kembung: Simethicone
b. Terapi Non Farmakologi
Selain dengan pengobatan medis dapat juga menggunakan pengobatan
herbal dapat memberikan efek terapeutik yang sangat baik untuk kesembuhan
pasien. Jenis tanaman obat untuk meredakan asam lambung yaitu
1) Buah Pisang
Sudah sejak lama, buah pisang raja dipergunakan nenek moyang
masyarakat Indonesia sebagai MP ASI (Makanan Pendamping ASI). Tetapi
dibalik hal tersebut terdapat pula khasiat untuk mengatasi asam lambung
karena mengandung anti luka pada lambung. Untuk menjadikan buah
pisang raja sebagai herbal guna mengobati penyakit GERD yaitu pertama
buah pisang dipilih yang sudah tua tetapi cenderung belum terlalu matang.
Pisang dipotong tipis-tipis seperti dalam pembuatan keripik. Selanjutnya,

13
jemur dan anginkan hingga kering. Pisang yang sudah kering lantas
diblender sampai seperti bubuk, dan bisa dikonsumsi dengan mencampur 2
sendok bubuk pisang dengan madu asli. Waktu yang paling tepat untuk
meminumnya adalah pada pagi dan malam hari.
2) Kacang Hijau
Jenis polong-polongan yaitu kacang hijau juga dipercaya bisa jadi
alternatif herbal untuk atasi penyakit asam lambung. Selain bisa
menebalkan lapisan lambung cara mengolahnya pun gampang. Cukup buat
menjadi bubur kacang hijau sebagaimana biasanya, dengan cara memasak
tidak terlalu lama. Untuk mendapatkan efek maksimal, waktu yang paling
tepat adalah pagi dan sore hari untuk mengonsuminya.
3) Mentimun
Sayuran yang satu ini mudah dijumpai dan bisa dikonsumsi secara
langsung. Untuk menjadikan sebagai obat herbal untuk asam lambung pilih
mentimun segar yang bebas dari bintik kuning apalagi kehitaman. Cukup
dengan mengkonsumsi irisan mentimun setebal 1 cm dan dikonsumsi tiap 2
jam sekali.
Selain itu ada juga cara lain. Mentimun mentah dikupas dan dibuang bagian
biji serta kulitnya. Ini untuk menjaga kesegaran dan kandung nutrisi dari
mentimun tersebut. Selanjutnya bisa dicampurkan dengan bahan herbal lain
yang juga dipercaya baik dan bisa memberikan efek positif untuk
meredakan asam lambung seperti; yogurt, wortel, mint ataupun bawang
putih mentah kemudian dapat dikonsumsi langsung. Hal untuk mencegah
keasaman lambung terus terjadi.
4) Kunyit
Studi pada tahun 1953 telah menunjukkan bahwa salah satu herbal
yaitu kunyit juga memiliki efek yang maksimal untuk mengobati asam
lambung. Caranya memarut kunyit berukuran sebesar 2 jari tangan yang
telah dibersihkan, kemudian diperas dengan menggunakan saringan. Sari
kunyit yang sudah di dapat di minum sebanyak 2 kali sehari pada pagi
sebelum makan dan malam menjelang tidur untuk menyembuhkan asam
lambung.

14
2.3 Demam
A. Definisi Demam
Demam adalah kenaikan suhu tubuh di atas normal. Bila diukur pada rektal
>38°C diukur pada oral >37,8° C, dan bila diukur melalui aksila >37,2°C. (Schmitt,
1984). Sedangkan menurut NAPN (National Association of Pediatrics Nurse)
disebut demam bila bayi berumur kurang dari 3 bulan suhu rektal melebihi 38° C.
Pada anak umur lebih dari 3 bulan suhu aksila dan oral lebih dari 38,3°C. Demam
mengacu pada peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan tingkat
sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang, misalnya
terhadap toksin bakteri, peradangan, dan ransangan pirogenik lain. Bila produksi
sitokin pirogen secara sistemik masih dalam batas yang dapat ditoleransi maka
efeknya akan menguntungkan tubuh secara keseluruhan, tetapi bila telah melampaui
batas kritis tertentu maka sitokin ini membahayakan tubuh. Batas kritis sitokin
pirogen sistemik tersebut sejauh ini belum diketahui. (Sherwood, 2001).

B. Etiologi Demam
Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi ataupun faktor non infeksi.
Demam akibat infeksi bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, ataupun
parasit. Infeksi bakteri yang pada umumnya menimbulkan demam pada anak-anak
antara lain pneumonia, bronkitis, osteomyelitis, appendisitis, tuberculosis,
bakteremia, sepsis, bakterial gastroenteritis, meningitis, ensefalitis, selulitis, otitis
media, infeksi saluran kemih, dan lain-lain (Graneto, 2010). Infeksi virus yang pada
umumnya menimbulkan demam antara lain viral pneumonia, influenza, demam
berdarah dengue, demam chikungunya, dan virus-virus umum seperti H1N1 (Davis,
2011). Infeksi jamur yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain
coccidioides imitis, criptococcosis, dan lain-lain (Davis, 2011). Infeksi parasit yang
pada umumnya menimbulkan demam antara lain malaria, toksoplasmosis, dan
helmintiasis (Jenson et al., 2007).
Demam akibat faktor non infeksi dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain
faktor lingkungan (suhu lingkungan yang eksternal yang terlalu tinggi, keadaan
tumbuh gigi, dll), penyakit autoimun (arthritis, systemic lupus erythematosus,
vaskulitis, dll), keganasan (Penyakit Hodgkin, Limfoma non-hodgkin, leukemia,
dll), dan pemakaian obat-obatan (antibiotik, difenilhidantoin, dan antihistamin)
(Kaneshiro et al., 2010). Selain itu anak-anak juga dapat mengalami demam sebagai

15
akibat efek samping dari pemberian imunisasi selama ±1-10 hari (Graneto, 2010).
Hal lain yang juga berperan sebagai faktor non infeksi penyebab demam adalah
gangguan sistem saraf pusat seperti perdarahan otak, status epileptikus, koma,
cedera hipotalamus, atau gangguan lainnya (Nelwan, 2009).

C. Mekanisme Demam
Sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik, maka monosit, makrofag, dan
sel-sel Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen
IL-1 (interleukin 1), TNFα (Tumor Necrosis Factor α), IL-6 (interleukin 6), dan INF
(interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan
patokan termostat. Hipotalamus mempertahankan suhu di titik patokan yang baru
dan bukan di suhu normal. Sebagai contoh, pirogen endogen meningkatkan titik
patokan menjadi 38,9° C, hipotalamus merasa bahwa suhu normal prademam
sebesar 37° C terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanisme-mekanisme respon
dingin untuk meningkatkan suhu tubuh (Ganong, 2002).
Berbagai laporan penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan suhu tubuh
berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk
mengatasi berbagai rangsang. Ransangan endogen seperti eksotoksin dan endotoksin
menginduksi leukosit untuk mengeluarkan pirogen endogen, dan yang poten
diantaranya adalah IL-1 dan TNFα, selain IL-6 dan IFN. Pirogen endogen ini akan
bekerja pada sistem saraf pusat tingkat OVLT (Organum Vasculosum Laminae
Terminalis) yang dikelilingi oleh bagian medial dan lateral nukleus preoptik,
hipotalamus anterior, dan septum palusolum. Sebagai respon terhadap sitokin
tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis prostaglandin, terutama prostaglandin E2
melalui metabolisme asam arakidonat jalur COX-2 (cyclooxygenase 2), dan
menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama demam (Nelwan dalam Sudoyo,
2006). Mekanisme demam dapat juga terjadi melalui jalur non prostaglandin
melalui sinyal aferen nervus vagus yang dimediasi oleh produk lokal MIP-1
(machrophage inflammatory protein-1) ini tidak dapat dihambat oleh antipiretik
(Nelwan et al., 2006).
Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas,
sementara vasokonstriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi
pengeluaran panas. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Dengan
demikian, pembentukan demam sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik

16
adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme
termoregulasi (Sherwood, 2001).

D. Tipe Demam

No Jenis Demam Penjelasa


1 Demam Septik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke
tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan
turun kembali ke tingkat di atas normal pada
pagi hari
2 Demam Hektik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik ke
tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan
turun kembali ke tingkat yang normal pada pagi
hari
3 Demam Remiten Pada demam ini, suhu badan dapat turun setiap
hari tetapi tidak pernah mencapai suhu normal

4 Demam Intermiten Pada demam ini, suhu badan turun ke tingkat


yang normal selama beberapa jam dalam satu
hari

5 Demam Kontinyu Pada demam ini, terdapat variasi suhu sepanjang


hari yang tidak berbeda lebih dari satu derajat.

6 Demam Siklik Pada demam ini, kenaikan suhu badan selama


beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas
demam untuk beberapa hari yang kemudian
diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.
(Sumber: Nelwan, Demam: Tipe dan Pendekatan, 2009)

E. Penyebab Demam
Demam merupakan gejala bukan suatu penyakit. Demam adalah respon normal
tubuh terhadap adanya infeksi. Infeksi adalah keadaan masuknya mikroorganisme
kedalam tubuh. Mikroorganisme tersebut dapat berupa virus, bakteri, parasit, maupun

17
jamur. Kebanyakan demam disebabkan oleh infeksi virus. Demam bisa juga
disebabkan oleh paparan panas yang berlebihan (overhating), dehidrasi atau
kekurangan cairan, alergi maupun dikarenakan gangguan sistem imun (Lubis, 2009).

F. Patofisiologi Demam
Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan nama pirogen.
Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi dua yaitu
pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh pasien. Contoh dari
pirogen eksogen adalah produk mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme
seutuhnya. Salah satu pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakarida yang
dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Jenis lain dari pirogen adalah pirogen endogen
yang merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh pasien. Contoh dari pirogen
endogen antara lain IL-1, IL-6, TNF-α, dan IFN. Sumber dari pirogen endogen ini
pada umumnya adalah monosit, neutrofil, dan limfosit walaupun sel lain juga dapat
mengeluarkan pirogen endogen jika terstimulasi (Dinarello & Gelfand, 2005).
Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah putih (monosit,
limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin, mediator inflamasi,
atau reaksi imun. Sel-sel darah putih tersebut akan mengeluarkan zat kimia yang
dikenal dengan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-α, dan IFN). Pirogen eksogen dan
pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk membentuk
prostaglandin (Dinarello & Gelfand, 2005). Prostaglandin yang terbentuk kemudian
akan meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus.
Hipotalamus akan menganggap suhu sekarang lebih rendah dari suhu patokan yang
baru sehingga ini memicu mekanisme-mekanisme untuk meningkatkan panas antara
lain menggigil, vasokonstriksi kulit dan mekanisme volunter seperti memakai selimut.
Sehingga akan terjadi peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas
yang pada akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang baru
tersebut (Sherwood, 2001).
Demam memiliki tiga fase yaitu: fase kedinginan, fase demam, dan fase
kemerahan. Fase pertama yaitu fase kedinginan merupakan fase peningkatan suhu
tubuh yang ditandai dengan vasokonstriksi pembuluh darah dan peningkatan aktivitas
otot yang berusaha untuk memproduksi panas sehingga tubuh akan merasa kedinginan
dan menggigil. Fase kedua yaitu fase demam merupakan fase keseimbangan antara
produksi panas dan kehilangan panas di titik patokan suhu yang sudah meningkat.

18
Fase ketiga yaitu fase kemerahan merupakan fase penurunan suhu yang ditandai
dengan vasodilatasi pembuluh darah dan berkeringat yang berusaha untuk
menghilangkan panas sehingga tubuh akan berwarna kemerahan (Dalal et al., 2006).

G. Penatalaksanaan Demam
Demam merupakan mekanisme pertahanan diri atau reaksi fisiologis terhadap
perubahan titik patokan di hipotalamus. Penatalaksanaan demam bertujuan untuk
merendahkan suhu tubuh yang terlalu tinggi bukan untuk menghilangkan demam.
Penatalaksanaan demam dapat dibagi menjadi dua garis besar yaitu: non-farmakologi
dan farmakologi. Akan tetapi, diperlukan penanganan demam secara langsung oleh
dokter apabila penderita dengan umur <3 bulan dengan suhu rektal >38°C, penderita
dengan umur 3-12 bulan dengan suhu >39°C, penderita dengan suhu >40,5°C, dan
demam dengan suhu yang tidak turun dalam 48-72 jam (Kaneshiro et al., 2010).

H. Terapi Farmakologi
1. Analgesik atau Antipiretik
Analgetik adalah adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang menurunkan
suhutubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi
rasanyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Umumnya cara
kerjaanalgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter
tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Contoh obat-obatan
algesik antipiretik yang beredar di Indonesia (Inarno 2013)
a. Paracetamol
Paracetamol merupakan analgesik-antipiretik dan anti-inflamasinon-
steroid (AINS) yang memiliki efek analgetik (menghilangkan rasa nyeri),
antipiretik (menurunkan demam), dan anti-inflamasi
(mengurangi proses peradangan). Paracetamol paling aman jika diberikan sel
ama kehamilan. Parasetamol dalam dosis tinggi dan jangka waktu pemberian
yang lama bisa menyebabkan toksisitas atau keracunan pada ginjal, sehingga
dikategorikan sebagai analgetik-antipiretik. Golongan analgetik-antipiretik
adalah golongan analgetik ringan. Parasetamol merupakan contoh obat dalam
golongan analgesik-antipiretik. Beberapa macam merk dagang, contohnya
Parasetamol (obat penurun panas atau penghilang nyeri) bisa diperdagangkan

19
dengan merk Fasidol, Tempra, Hufagesik, Dumin, Samol, Alphamol,
Bodrex, Panadol, Paramex. (Inarno 2013)
b. Antalgin
Antalgin adalah salah satu obat penghilang rasa sakit (analgetik)
turunan NSAID, atau Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs. Antalgin
lebih banyak bersifat analgetik. Pemakaiannya dihindari saat hamil TM I dan
6 minggu terakhir. (Inarno 2013)
2. NSAID
Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID) menghambat enzim
siklooksigenase dalam tubuh kita, enzim tersebut berfungsi memperoduksi
prostaglandin. Prostaglandin menyebabkan munculnya rasa nyeri karenamengirita
si ujung saraf perasa. Prostaglandin juga bagian dari pengatur suhu tubuh.
Golongan NSAID dapat mengurangi nyeri dengan turunnya
kadar prostaglandin. Efek lain akibat turunnya prostaglandin adalah berkurangnya
peradangan, pembengkakan, dan turunnya demam serta mencegah pembekuan
darah. Contoh golongan NSAID (Kresnawati 2011).
a. Ibuprofen
Ibuprofen adalah salah satu jenis anti-inflamasi non-steroid (AINS)
yang diindikasikan untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang, nyeri
setelah operasi, nyeri pada penyakit sendi (seperti pengapuran sendi
ataurematik), nyeri otot, nyeri haid, serta menurunkan demam. Ibuprofen
juga memiliki efek anti-radang dan anti-pembekuan darah yang lemah.
Contoh golongan ibuprofen Proris, Fasidol (Yolanda2013).
b. Aspirin
Aspirin adalah obat menghambat produksi prostaglandin (sebuah zat
spesifik yang menyebabkan rasa sakit dan demam) untuk mengurangi respon
tubuh terhadap serangkaian proses kimia yang akhirnya menuju terbentuknya
rasa sakit. Obat ini di indikasikan untuk meringankan rasa sakit, nyeri otot
dan sendi, demam, nyeri karena haid, migren, sakit kepala dan sakit gigi
tingkat ringan hingga agak berat. Golongan Aspirin contohnya Aspilet
(Bayer 2005).

20
I. Terapi Non Farmakologi
Adapun yang termasuk dalam terapi non-farmakologi dari penatalaksanaan
demam:

1. Pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk mencegah dehidrasi dan


beristirahat yang cukup.

2. Tidak memberikan penderita pakaian panas yang berlebihan pada saat menggigil.
Kita lepaskan pakaian dan selimut yang terlalu berlebihan. Memakai satu lapis
pakaian dan satu lapis selimut sudah dapat memberikan rasa nyaman kepada
penderita.

3. Memberikan kompres hangat pada penderita. Pemberian kompres hangat efektif


terutama setelah pemberian obat. Jangan berikan kompres dingin karena akan
menyebabkan keadaan menggigil dan meningkatkan kembali suhu inti (Kaneshiro
et al., 2010).

2.4 Batuk
A. Definisi Batuk
Batuk adalah mekanisme yang berguna untuk membersihkan jalan napas dari
iritan atau benda asing dan lendir yang berlebih. Batuk merupakan mekanisme yang
sangat penting untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dengan cara menyingkirkan
iritan yang masuk dan hasil sekresi lendir yang menumpukberupa dorongan udara
yang kuat dari dalam paru untuk mengeluarkan iritan atau lendir tersebut (Bowman
and Rand,2010;Djojodibroto, 2009; Djunarko danHendrawati, 2011).
Batuk dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu batuk kering (batuk
nonproduktif) dan batuk berdahak (batuk produktif), batuk produktif mengeluarkan
sekresi dari saluran napas bawah. Batuk produktif dapat menjadi efektif (sekresi
mudah dikeluarkan) atau tidak efektif (adasekresi tapi sulit untukdikeluarkan).
Sekresi bisa saja jelas (contohnya bronkitis), bernanah (contohnya infeksi bakteri),
berubah warna (contohnya kekuningan dengan peradangan), atau berbau tak sedap
(contohnya infeksi bakteri anaerob). Batuk nonproduktif disebabkan infeksi saluran
pernapasan oleh virus, penyakit jantung ,alergi terhadap benda-benda tertentu,
makanan, udara, dan obat-obatan (Tietze, 2006;Djunarko dan Hendrawati, 2011).

21
Batuk dapat dikelompokan sebagai akut (kurang dari 3 minggu), subakut (3
sampai 8 minggu), atau kronis (lebih dari 8 minggu). Batuk akut biasa disebabkan
oleh infeksi virus pada saluran napas atas. Batuk sub akut umumnya disebabkan oleh
infeksi, sinusitis yang disebabkan bakteri, dan asma. Penyebab paling umum batuk
kronis pada orang dewasa bukan perokok adalah sindrom postnasal drip, asma, dan
penyakit gastroesophageal reflux (Tietze, 2006).
Menurut Djunarko dan Hendrawati (2011) batuk dapat disebabkan oleh
beberapa hal berikut ini.
a. Iritan yang terhirup (asap atau debu)
b. Semua gangguan yang menyebabkan radang, penyempitan dan penekanan
saluran pernapasan
c. Alergi (udara dingin, debu dan bulu hewan)
d. penyakit-penyakit seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),TBC,
Kanker paru dan gagal jantunge.
e. Penggunaan obat-obat tertentu seperti obat tekanan darah tinggi golongan
penghambatan giotensin converting enzym (captopril dan enalapril)

Gejala-gejala batuk yang dapat diamati adalah tenggorokan sakit dan gatal,
pengeluaran udara secara kuat dari saluran pernapasan (yang mungkin disertai
pengeluaran dahak), sakit otot perut bila batuk terus-menerus (Sutanto,2011).

B. Penatalaksanaan Batuk
a. Penatalaksanaan Non Farmakologi
1. Minum banyak cairan (air putih atau sari buah), jangan minum soda atau
kopi2)
2. Berhenti merokok atau hindari asap rokok
3. Menghirup uap air panas untuk melegakan jalan napas)
4. Hindari makanan yang merangsang batuk (berminyak atau dingin)
5. Hindari penyebab-penyebab alergi (udara dingin, minuman dingin dan debu)
6. Tutup dengan tisu atau sapu tangan apabila batuk atau bersin
7. Istrahat yang cukup (Djunarko dan Hendrawati, 2011; Tietze,2004;Tietze,
2006).

22
b. Penatalaksanaan Farmakologis
Pemilihan obat batuk didasarkan pada jenis batuk yang dialami,apakah
berdahak atau tidak berdahak (kering). Berikut adalah obat-obat yang dapat
digunakan untuk pengobatan batuk.
1. Bromhexin
Bromhexin termasuk golongan mukolitik yang bekerja mengencerkan
dahak sehingga dahak mudah dikeluarkan.
2. Gliseril Guaiakolat Gliseril
Guaiakolat atau Guaifenesin termasuk golongan ekspektoran yang
bekerja dengan merangsang batuk sehingga dahak dapat dikeluarkan dari
saluran pernapasan. Sering kaliobat ini dikombinasikan dengan obat-obat
pengencer dahak sehingga lebih membantu mengeluarkan dahak.
3. Dekstrometorphan HBr
Dekstrometorphan HBr merupakan obat antitusif yang bekerja dengan
menekan pusat batuk di otak. Obat ini dapat membantu meringankan batuk
kering (Djunarko dan Hendrawati, 2011).
No Golongan Zat aktif Contoh
Asecrin®, Bisolvon®, Bromifar®,
Bronex®, Bronkris®, Celovon®,
Dexolut®, Erphahexin®, Ethisolvan®,
Farmavon®, Hexolyt®, Hexon®,Hustab
P®, Lexavon®, Miravon®, Mosavon®,
Mucobron®, Mucohexin®,
1 Mukolitik Bromhexin
Mucosulvan®, Novaheksin®, Opalex®,
Phytovon®, Poncosolvon®,
Siladexmucolytic &Expectorant®,
Solvax®, Solvinex®, Thepidron®,
Solvax®, Poncosolvon®, Solvinex®,
Wibrom® dan Wood’s Expectorant®
Guaiacolat Berlico®, Graxine®,
Gliseril
2 Ekspektoran Guaiapim®, Probat®, Wood’s dan
Guaiakolat
Peppermint Child®
Aditusin®, Benilin®, Citosiv®,
Dexitab®, Dextromeorphane®,
Dextronova®, Dextrop®, Dextropin®,
Dekstrometor
3 Antitusif Erpha Methor®, Metorfan®, Milaro®,
phanHBr
Scanidi®, Tusilan®, Vicks formula44®,
Wood’s antitsif®, Yukadex®, Zenidex®
dan Code®
(Djunarko dan Hendrawati, 2011)

23
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Contoh Study Kasus


1. Ibu yeni datang ke apotek membeli obat ibuprofen 500mg untuk anaknya umur 5
tahun karena demam diminum 3-4x sehari.
Jawab: Apoteker memberi saran untuk menurunkan dosis ibuprofen 250mg diminum
3-4x sehari
 tidak tepat obat
menurut (IDAI, 2014), obat paracetamol merupakan pilihan lini pertama
untuk menurunkan demam dan menghilangkan nyeri anak.
 tidak tepat dosis
menurut (Depkes, 2006) untuk anak dengan BB >7kg dengan umur 3-7 tahun
dosis ibuprofen 250 mg diminum 3-4x sehari.
2. Seorang laki-laki berumur 25 tahun datang ke apotek ingin membeli obat
omeprazole, yang sering dikonsumsi saat sakit maag, namun diketahui omeprazole
masuk dalam obat kategori DOWA dan memiliki batasan pemberian, berapakah
batasan pemberian omeprzole
Jawab : 7 tablet
 Menurut Permenkes No. 924/MENKES/PER/X/1993 tentang obat wajib
Apotek No 2, Omeprazole termasuk dalam daftar DOWA, dimana jumlah
obat per pasienna ditetapkan sebanyak 7 tablet
3. Seorang ibu A datang ke Apotek ingin membeli obat batuk untuk anaknya yang
berusia 3 tahun. Ibu A menyampaikan informasi bahwa anaknya batuk berdahak
disertai demam, dirasakan selama 2 hari. Ibu menyampaikan bahwa anaknya sudah
diberikan Paracetamol, tetapi belum sembuh. Sebagai Apoteker untuk pemilihan
obat dan informasi yang tepat buat anak ibu A yaitu?
Jawab :
- Istirahat yang cukup
- Banyak minum air putih hangat
- Banyak makan sayur dan buah
- Konsumsi suplemen
- Tetap minum Paracetamol (bila lebih 3 hari tidak sembuh hubungi dokter)

24
- Memberi obat ekspektoran sebagai pengencer dahak (Wood’s dan
Peppermint Child) 3x sehari 1 sendok teh
 Menurut (IDAI, 2014), obat paracetamol merupakan pilihan lini pertama untuk
menurunkan demam dan menghilangkan nyeri anak.
 Wood’s dan Peppermint Child adalah obat yang membantu meringankan batuk
dengan dosis 3x sehari 1 sendok teh. Wood’s dan Peppermint Child mengandung
Guaiphenesin 50mg, Sodium Benzoate 0,12% b/v tanpa alkohol dengan dosis
anak-anak 2-6 tahun 5ml (1sendok teh), anak-anak umur 6-12 tahun 10ml (2
sendok teh) (Djunarko dan Hendrawati, 2011).

25
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Swamedikasi merupakan pengobatan segala keluhan pada diri sendiri dengan
obat-obat yang sederhana yang dibeli bebas di apotik atau toko obat atas inisiatif sendiri
tanpa saran dari dokter. Jenis obat yang digunakan yaitu obat bebas dan obat bebas
terbatas, obat wajib apotek dan suplemen makanan. Adapun faktor-faktor yang
menyebabkan meningkatnya swamedikasi terjadinya perkembangan teknologi farmasi
yang inovatif, jenis atau merek obat yang berbeda telah diketahui atau dikenal oleh
masyarakat luas, berubahnya peraturan tentang obat, kesadaran masyarakat akan
pentingnya arti sehat, pengaruh informasi atau iklan, kemudahan mendapatkan obat dan
mahalnya biaya kesehatan. Untuk dampak positifnya pencegahan mampu pengobatan
lebih dini, biaya yang lebih terjangkau dan cepat, sedangkan dampak negatifnya
pengobatan yang kurang rasional. Manfaat dalam pengobatan swamedikasi untuk
penyakit atau nyeri ringan, hanya dilakukan dengan benar dan rasional, berdasarkan
pengetahuan yang cukup tentang obat yang digunakan dan kemampuan megenali
penyakit atau gejala yang timbul. Swamedikasi secara serampangan bukan hanya suatu
pemborosan, namun juga berbahaya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Atmoko, W. & Kurniawati, I. 2009. Swamedikasi: Sebuah Respon Realistik Perilaku


Konsumen di Masa Krisis. Volum 2, 3, 233-247.dalam jurnal penelitian Dian
Hermawati : Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas
Penggunaan Obat Swamedikasi Pengunjung di dua Apotek Kecamatan Cimanggis,
Depok (diakses tanggal 16 Maret 2016).
World Self-Medication Industry. (2009). Switch: Prescription to nonprescription medicines
Switch (pp. 2-3). France: WSMI.
Kartajaya, H. et al. (2011). Self-Medication, who benefits and who is at loss (p.3). Indonesia:
Mark Plus insight.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta.
Guyton A.C. dan Hall, J.E. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11, ECG, Jakarta .
Ikwati, Z., 2011. P enyakit Sistem Pernafasan dan Tatalaksana Terapinya, Bursa Ilmu,
Yogyakarta.
Depkes, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.
Aru, Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Jilid I Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia.
Asroel, Harry. 2002. Penyakit Refluks Gastroesofagus. Universitas Sumatera Utara : Fakultas
Kedoketeran Bagian Tenggorokan Hidung dan Telinga.
Bestari, Muhammad Begawan. 2011. Penatalaksanaan Gastroesofageal Reflux Disease
(GERD). Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran / RS Dr. Hasan Sadikin
Bandung CDK 188 / vol. 38 no. 7 / November 2011.
Djajapranata, Indrawan. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta :
FKUI.
Sujono, Hadi. 2002. Gastroenterologi Edisi VII. Bandung: Penerbit PT Alumni.
Susanto, Agus dkk. 2002. Gambaran Klinis dan Endoskopi Penyakit Refluks Gastroesofagus.
Jakarta : FKUI.
Yusuf, Ismail. 2009. Diagnosis Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Secara
Klinis.PPDS Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Vol. 22, No.3, Edition September -
November 2009.

27
Bayer. 2005. Aspirin. Bayer HealthCare
Inarno. 2012.Obat Golongan Anagesik dan Antipiretik. STIKES Banyuwangi
Jevuska. 2012. Definisi Demam. Artikel Kedokteran, Interna
Kresnawati. 2011.Obat Golongan NSAID. Artikel Pencegahan
Sumarno dkk 2002. Patofisiologi demam. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 27-
38. MakalahReferat Kedokteran
Wardayati. 2013.Gejala Demam. Majalah Intisari. Kompas Gramedia
Yolanda. 2013.Ibuprofen. kerjanya.nethttp://www.kerjanya.net/faq/4817-ibuprofen.html

28