Anda di halaman 1dari 25

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

TOPIK

SINERGI PENEGAK HUKUM POLRI TERHADAP PEMBANGUNAN


NASIONAL

JUDUL

OPTIMALISASI SINERGISITAS PEMBERANTASAN MAFIA TANAH


OLEH POLRES PELABUHAN BELAWAN DENGAN BPN SUMUT GUNA
AKSELERASI PEMBUATAN JALAN TOL MEDAN-BELAWAN DALAM
RANGKA TERWUJUDNYA PEMBANGUNAN NASIONAL

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya
pembangunan yang berkesinambungan dan meliputi seluruh kehidupan
masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas
mewujudkan tujuan nasional. Pelaksanaan pembangunan mencakup
aspek kehidupan bangsa yaitu aspek politik, ekonomi, sosial budaya
dan pertahanan keamanan secara berencana, menyeluruh, terarah,
terpadu, bertahap dan berkelanjutan untuk memacu peningkatan
kemampuan nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang
sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang lebih maju. Untuk
mengejar ketertinggalan infrastruktur dengan negara lain dan
peningkatan ekonomi, Presiden RI Joko Widodo mencanangkan
berbagai prioritas program pembangunan, dan salah satunya adalah
pembuatan jalan tol atau jalan bebas hambatan.
Pembuatan jalan tol atau jalan bebas hambatan sangat vital
untuk meningkatkan volume perdagangan dan arus investasi barang
dan jasa, karena hambatan pada arus barang dan jasa di jalan dapat
2

menimbulkan kerugian bagi investor. Selain cost yang dikeluarkan akan


lebih besar, juga dapat melebihi batas waktu target kerja yang
direncanakan, dan akhirnya menimbulkan ketidakpercayan investor
terhadap kondisi stabilitas ekonomi di Indonesia. Kondisi stabilitas
ekonomi dan pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari
kondusifitas wilayah serta jaminan kepastian investasi, salah satu yang
menimbulkan ketidakpastian investasi dan kondusifitas wilayah yaitu
keberadaan mafia tanah pada proyek-proyek pembangunan nasional.
Sebagaimana terjadi di proyek pembuatan jalan tol Medan-Belawan
yang terhambat karena berlarut-larutnya proses pembebasan lahan.
Prosedur yang sudah dilengkapi pengembang terganjal karena adanya
penolakan dari sekelompok massa yang dikerahkan oleh mafia tanah.
Upaya Polres Pelabuhan Belawan untuk mengamankan proyek
sudah di laksanakan, bahkan berkoordinasi dengan melibatkan Brimob
Polda Sumut dan instansi TNI AD maupun TNI AL, namun seringkali
dihalang-halangi oleh masyarakat. Modus yang dilakukan oleh mafia
tanah adalah terlebih dahulu membeli tanah masyarakat dengan harga
murah dan memaksa agar tanah dibeli oleh pengembang dengan harga
tinggi atau dengan modus melakukan pemalsuan surat. Mediasi
segitiga dengan pihak pemerintah, pengembang dan masyarakat juga
sudah beberapa kali dilakukan namun masih menemui jalan buntu.
Sementara itu Presiden melalui kementerian Pekerjaan Umum sudah
memberi tenggat waktu penyelesaian proyek pembuatan tol tersebut
yang rencananya juga akan diresmikan oleh Presiden. Oleh sebab itu,
karena permasalahan ini sudah menjadi perhatian publik dan atensi
pimpinan, Polres Pelabuhan Belawan bersinergi dengan BPN Sumut
melakukan pemberantasan terhadap mafia tanah.
B. Pokok permasalahan
Dari latar belakang diatas maka dapat ditarik satu pokok
permasalahan yaitu “Bagaimana mengoptimalkan sinergisitas
pemberantasan mafia tanah oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan
BPN Sumut agar dapat mengakselerasi pembuatan jalan tol Medan-
Belawan sehingga terwujudnya pembangunan nasional ?”.
3

C. Pokok-pokok Persoalan
Berdasarkan pokok permasalahan diatas, maka pokok-pokok
persoalan yang akan di bahas dalam NKP ini merujuk pada teori
manajemen menurut G.R Terry yaitu;
1. Bagaimana perencanaan sinergisitas pemberantasan mafia tanah
oleh Polres Pelabuhan Belawan ?
2. Bagaimana pelaksanaan sinergisitas pemberantasan mafia tanah
oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan BPN Sumut ?
3. Bagaimana pengawasan sinergisitas pemberantasan mafia tanah
oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan BPN Sumut ?
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan NKP ini dibatasi pada upaya Polres Pelabuhan
Belawan untuk mengoptimalisasi sinergisitas pemberantasan mafia
tanah oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan BPN Sumut agar dapat
mengakselerasi pembuatan jalan tol Medan-Belawan di wilayah
Belawan tahun 2019.
E. Maksud, Tujuan, dan Manfaat
1. Maksud penulisan ini adalah untuk menganalisa dan mengkaji
optimalisasi sinergisitas pemberantasan mafia tanah oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan BPN Sumut agar dapat
mengakselerasi pembuatan jalan tol Medan-Belawan.
2. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah
strategis agar dapat mengoptimalkan pemberantasan mafia tanah
oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan BPN Sumut.
3. Manfaat;
a. Manfaat teoritis : Manfaat teoritis tulisan ini adalah untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dengan memahami
fenomena yang terjadi.
b. Manfaat praktis : Manfaat praktis tulisan ini untuk
mengoptimalkan pemberantasan mafia tanah di Belawan.
F. Metode dan pendekatan penulisan
Metode penulisan ini menggunakan metode deskriptif analisis
secara komprehensif dan integral. Penguraian masalah dengan
4

merumuskan OHA-ES dari satuan kewilayahan dan menganalisanya


menggunakan konsep SWOT. Untuk mencapai pada tahapan strategis
pisau analisis berupa teori-teori yang relevan di proses melalui AHP
(Analytical Hirarcy Proses) kemudian diintegrasikan ke tabel EFAS-
IFAS serta matriks TOWS untuk mendapatkan strategi yang tepat.
Pendekatan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan yang
berkaitan dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan
dokumentasi serta kaji kepustakaan.
G. Tata Urut (sistematika)
BAB I PENDAHULUAN
BAB II LANDASAN PEMIKIRAN DAN METODE PENELITIAN
BAB III KONDISI FAKTUAL
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BAB V KONDISI IDEAL
BAB VI PEMECAHAN MASALAH
BAB VII PENUTUP

H. Pengertian-pengertian
1. Optimalisasi menurut KBBI artinya terbaik, tertinggi, paling
menguntungkan.
2. Sinergisitas menurut KBBI adalah kesinergisan yaitu suatu bentuk
dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan suatu
keseimbangan yang harmonis
3. Pemberantasan menurut KBBI berarti proses, cara, perbuatan
membasmi.
4. Mafia tanah merujuk pada makna mafia menurut KBBI yang artinya
perkumpulan rahasia yang bergerak dibidang kejahatan, mafia
tanah mengatasnamakan pemilik tanah untuk mencari keuntungan
bagi pribadi atau kelompoknya.
5. Akselerasi menurut KBBI artinya proses mempercepat.
6. Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya
pembangunan yang berkesinambungan dan meliputi seluruh
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan
tugas mewujudkan tujuan nasional.
5

BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN

A. Teori/konsep identifikasi pokok masalah pembahasan


1. Teori Manajemen
Menurut James A.F stoner, manajemen adalah suatu proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian
upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber
daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Agar supaya mencapai tujuannya tersebut diperlukan sarana
manajemen, menurut G.R Terry sarana manajemen atau Tools of
Management terdiri atas; manusia, uang, bahan-bahan materials,
metode mesin dan pasar atau market. Teori ini digunakan sebagai
Grand Theory yang menjelaskan mengenai cara mengoptimalkan
sinergisitas pemberantasan mafia tanah.
2. Teori Kerjasama
Menurut Thomson dan Perry, kerjasama merupakan kegiatan
yang mempunyai tingkatan berbeda dimulai dari tahapan koordinasi
juga kooperasi sampai terjadinya kolaborasi dalam satu kegiatan
bersama. Implementasi kerjasama merupakan implementasi
hubungan sinergis yang mempunyai tingkatan berbeda dimulai dari
level komunikasi, koordinasi dan kolaborasi untuk mencapai tujuan
secara bersama. Teori ini digunakan sebagai Middle theory yang
menjelaskan teknis kerjasama antara Polres Pelabuhan Belawan
dengan BPN Sumut.
3. Konsep Koordinasi
Handoko (2003:195), berpendapat bahwa koordinasi adalah
proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada
satuan yang terpisah pada suatu organisasi untuk mencapai suatu
tujuan yang efektif dan efisien. Sedangkan Follet (1997:76)
menyebutkan terdapat empat prinsip koordinasi: (1) Early stage, (2)
Continuity, (3) Direct Contact, (4) Reciprocal Relation. Teori ini
digunakan sebagai Applied Theory untuk membahas unsur-unsur

5
6

terkait kerjasama yang dilaksanakan antara Polres Pelabuhan


Belawan dengan BPN Sumut.

B. Konsep pengumpulan data


1. Metodologi Penelitian
Metodologi Penelitian yang digunakan dalam penulisan NKP ini
menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu
penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan,
menggambarkan, dan menjelaskan fenomena yang terjadi.
2. Teknik Pengumpulan data
Untuk mengumpulkan data, menggunakan konsep observasi
serta studi kepustakaan baik melalui buku, majalah, artikel,
peraturan perundang-undangan ataupun tulisan para pakar yang
berhubungan dengan permasalahan di atas serta data empiris
melalui (OHA) organization Health Audit dan (ES) Environmental
Scanning.
C. Konsep analisis strategis dan manajemen Strategis
1. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan strategi organisasi. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman
(Threats) (Freddy rangkuti:1997).

2. Konsep AHP (analytical Hierarchy Procees)

Menurut Thomas L Saaty, Analytical hierarchy process (AHP)


merupakan suatu metode pengambil keputusan dalam mengelola
kompleksitas permasalahan yang melibatkan berbagai faktor,
khususnya dalam menetapkan prioritas serta membuat keputusan
terbaik dengan serangkaian perbandingan berpasangan.
7

BAB III
KONDISI FAKTUAL PENANGANAN ODOL OLEH POLRES
PELABUHAN BELAWAN DENGAN DISHUB

Polres Pelabuhan Belawan berada dalam satu wilayah administratif


dengan Kota Medan. Wilayah Belawan merupakan wilayah pesisir dan
memiliki pelabuhan utama. Pelabuhan utama yang ada di belawan menjadi
sarana transportasi bagi kapal angkut penumpang dan barang-barang
kebutuhan pokok untuk menyuplai wilayah sumatera utara bagian timur dan
tengah. Selain itu pelabuhan Belawan juga melayani ekspor dan impor,
sehingga arus lalu lintas barang dan jasa setiap harinya cukup padat di
Belawan. Di satu sisi hal ini berarti pertumbuhan ekonomi stabil, namun di
satu sisi berbagai permasalahan terkait distribusi barang dan jasa muncul,
mulai dari kondisi jalan yang rusak, sering terjadinya kecelakaan lalu lintas,
maupun kemacetas arus lalin. Penyebab terjadinya hal tersebut yang paling
dominan adalah akibat kendaraan angkut niaga yang Over Dimensi Over
Loading (ODOL). Sebagaimana data Laka Lantas berikut:
Tabel 3.1
Data kendaraan yang terlibat Laka Lantas Tahun 2019

Sumber Lapsat Polres Pelabuhan Belawan 2019


Dari data Laka Lantas tersebut dapat diketahui kendaraan apa yang dominan
terlibat dalam Laka Lantas, dan yang paling banyak menjadi korban laka
lantas. Hal tersebut cukup memprihatinkan mengingat banyak korban Laka
lantas masih dalam usia produktif.

7
8

Adapun untuk mengurangi terjadinya Laka Lantas yang dapat


menimbulkan korban jiwa, maka Polres Pelabuhan Belawan telah
melaksanakan penindakan atau tilang, sebagaimana data berikut;
Tabel 3.2
Data penindakan Tilang tahun 2019

Sumber: Lapsat Polres Pelabuhan Belawan tahun 2019


Kemampuan personil lalu lintas masih belum memadai, karena jumlah
personil yang pernah mengikuti pelatihan dan Dikjur masih belum sebanding
dengan jumlah DSP personil (Terlampir) dan beban tugas yang diemban;

Diagram 3.3
Data Pers yang pernah mengikuti Dik/Lat Lalu Lintas
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Lalu Lintas Sabhara Bag Ops Sumda

Jumlah Sudah Lat Belum Lat

Sumber: Lapsat Polres Pelabuhan Belawan tahun 2019

Dari Diagram tersebut terlihat jumlah personil yang pernah mendapatkan


pelatihan lalu lintas selain berada di fungsi lalu lintas juga tersebar pada
fungsi yang lain, bahkan ada yang bertugas di fungsi pembinaan.
9

Kerja sama yang dilaksanakan antara Polres Pelabuhan Belawan


dengan Dinas Perhubungan Kota medan masih pada giat rutin dalam
pengaturan lalu lintas di pagi dan sore hari, khususnya pada jam-jam padat,
selain itu Dishub terkadang juga meminta bantuan personil Polres Pelabuhan
Belawan baik dari fungsi Sabhara maupun Fungsi Lantas untuk
mendampingi Dishub melaksanakan Razia terhadap KIR kendaraan angkut
niaga. KIR=KEUR dalam Bahasa Belanda sebagai tanda bahwa kendaraan
tersebut layak di gunakan secara teknis di jalan raya, khususnya bagi
kendaraan yang membawa angkutan penumpang dan barang. Sedangkan
terhadap kendaraan yang diduga kelebihan muatan maupun dimensi belum
dilaksanakan penindakan secara terpadu.

Dengan demikian, berdasarkan data pemetaan OHA dan ES di Polres


Pelabuhan Belawan, maka didapatkan kondisi faktual penanganan ODOL
oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan Dishub, sebagai berikut:

A. Kondisi perencanaan penanganan ODOL oleh Polres Pelabuhan


Belawan;
1. Perencanaan penanganan ODOL menjadi bagian dari Renja
Satlantas Polres Pelabuhan Belawan dalam giat operasi rutin dan
operasi khusus
2. Penanganan ODOL telah didukung anggaran baik melalui DIPA
RKA-KL maupun anggaran kepolisian Khusus
3. Jumlah personil masih jauh di bawah DSP sehingga menjadi
kendala dalam pengorganisasian
4. Sarana prasarana Polres dalam melakukan penindakan terhadap
ODOL masih belum memadai karena belum dilengkapi dengan
alat penimbangan portable
5. Responsivitas personil dalam melakukan pengamatan terhadap
pelanggaran ODOL dinilai masih kurang cermat.
B. Kondisi pelaksanaan penanganan ODOL oleh Polres Pelabuhan
Belawan dengan Dishub;
1. Belum adanya MOU antara Polres dengan Dishub untuk
memperkuat kerjasama agar efektif dan akuntabel
10

2. HTCK Polres Pelabuhan Belawan antar satuan fungsi dan internal


Satuan lalu lintas cukup solid
3. Personil memahami ketentuan terkait ODOL sebagaimana diatur
dalam ketentuan perundangan
4. Komunikasi Polres dengan Dinas Perhubungan berjalan baik dan
seringkali melaksanakan giat rutin pengaturan lalu lintas bersama
saat pagi dan sore hari
5. Koordinasi Polres dengan Dinas Perhubungan masih lemah
khususnya dalam penindakan dan antisipasi terhadap ODOL
6. Kolaborasi antara Polres dengan stake holder terkait lainnya
seperti Jasa marga, Pemkot, Akademisi, termasuk Asosiasi
pengusaha dan industri untuk melakukan sosialisasi dan
penyelesaian masalah kendaraan angkut yang melebihi muatan
belum berjalan baik.
C. Kondisi pengawasan dan pengendalian penanganan ODOL oleh
Polres Pelabuhan Belawan dengan Dishub;
1. Kurangnya pengawasan terhadap penanganan ODOL oleh
personil dapat menimbulkan penyalahgunaan wewenang
2. Motivasi personil untuk melakukan penindakan terhadap ODOL
cukup tinggi karena adanya insentif yang diberikan oleh Negara
dari setiap surat tilang.
D. Implikasi dari ketidakoptimalannya penanganan ODOL oleh
Polres Pelabuhan Belawan dengan Dishub;
1. Dapat berimplikasi pada tidak termonitornya kendaraan angkut
niaga yang melebihi dimensi dan muatan di jalan sehingga
mengakibatkan ancaman terhadap keamanan dan keselamatan
lalu lintas.
2. Selain itu dengan tidak optimalnya penanganan ODOL oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan Dishub dapat menghambat
pembangunan daerah Belawan, karena rusaknya infrastruktur
jalan dan berkurangnya pemasukan daerah yang berasal dari
pajak angkut maupun perdagangan.
11

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANGANGAN ODOL
OLEH POLRES PELABUHAN BELAWAN DENGAN DISHUB

Setelah mengetahui kondisi faktual Penanganan ODOL oleh Polres


Pelabuhan Belawan dengan Dinas Perhubungan, selanjutnya faktor-faktor
yang mempengaruhi akan dianalisa dengan gunakan konsep SWOT;
A. Faktor Internal
1. Kekuatan (Strength):
a. Perencanaan penanganan ODOL menjadi bagian dari Renja
tahunan Sat Lantas Polres Belawan dalam giat operasi rutin dan
giat operasi khusus
b. HTCK Polres Pelabuhan Belawan antar satuan fungsi dan
internal Satuan lalu lintas cukup solid
c. Personil memahami ketentuan terkait ODOL sebagaimana diatur
dalam ketentuan perundangan
d. Penanganan ODOL telah didukung oleh anggaran baik melalui
DIPA RKA-KL maupun anggaran Operasi Kepolisian Khusus
e. Motivasi personil untuk melakukan penindakan terhadap ODOL
cukup tinggi karena adanya insntif yang diberikan oleh Negara
dari setiap surat tilang yang diberikan.

2. Kelemahan (Weakness):

a. Jumlah personil Sat Lantas masih jauh berada di bawah DSP


sehingga menjadi kendala dalam pengorganisasian
b. Polres Pelabuhan Belawan belum memiliki sarana alat
penimbangan portable bagi kendaraan angkut niaga yang di
duga melebihi muatan
c. Belum adanya MOU antara Polres Pelabuhan Belawan dengan
Dinas Perhubungan untuk memperkuat kerjasama agar lebih
efektif dan akuntabel

11
12

d. Responsivitas personil dalam melakukan pengamatan terhadap


pelanggaran ODOL dinilai masih kurang responsive dan belum
cermat
e. Kurangnya pengawasan terhadap penanganan ODOL oleh
personil dapat menimbulkan penyalahgunaan wewenang.
B. Faktor Eksternal
1. Peluang (Opportunity):
a. Komunikasi Polres dengan Dinas perhubungan berjalan baik dan
seringkali melaksanakan giat rutin pengaturan Lalu lintas
bersama saat pagi dan sore hari
b. Adanya UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas angkutan
jalan yang mengatur secara teknis
c. Masyarakat mendukung penanganan terhadap kendaraan yang
melibihi daya angkut dan melangggar kelas jalan
d. Polda Sumut mendukung upaya penanganan terhadap ODOL
secara terpadfu sebagai antisipasi terjadinya kecelakaan Lalu
lintas
e. Kemajuan IT dapat meningkatkan akurasi dalam penindakan
terhadap kendaraan yang di duga melebihi dimensi atau muatan
2. Ancaman (Threat) :
a. Banyak pergudangan dan pabrik di wilayah Belawan yang berada
dekat dnegan dengan lingkungan pemukiman sehingga
mengganggu aktivitas warga dan merusak jalan
b. Kolaborasi antara Polres dengan Stake holder terkait lainnya
seperti jasa marga, Pemkot, Akademisi, termasuk asosiasi
pengusaha dan industri belum berjalan baik
c. Koordinasi Polres dengan dinas Perhubungan masih lemah
khususnya dalam penindakan dan antisipasi terhadap ODOL
d. Karakter pelaku usaha di wilayah Belawan yang sulit diatur dan
seringkali menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi
regulasi maupun petugas di lapangan.
e. Perda Kota Medan terhadap ketentuan kelas jalan dan
pembagian area industri masih belum komprehensif.
13

BAB V
KONDISI IDEAL PENANGANAN ODOL OLEH POLRES PELABUHAN
BELAWAN DENGAN DISHUB

Pada Pasal 169 UU nomor 22 Tahun 2009 di jelaskan ketentuan


mengenai pengawasan muatan barang, dimana pengemudi dan/atau
perusahaan angkutan umum barang wajib mematuhi ketentuan mengenai
tata cara pemuatan, daya angkut, dimensi kendaraan dan kelas jalan,
adapun pengawasan muatan angkutan barang dilakukan dengan
menggunakan alat penimbangan, alat penimbangan terbagi atas 2 (dua); (1)
Alat penimbangan yang di pasang secara tetap, (2) Alat penimbangan yang
dapat dipindahkan atau portable. Untuk alat penimbangan tetap dipasang
secara tetap pada lokasi tertentu dan dioperasionalkan oleh unit pelaksana
penimbangan yang ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Dinas
Perhubungan, sedangkan alat penimbangan portable digunakan sebagai
pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan dan penyidikan tindak pidana
pelanggaran muatan, pengoperasian alat penimbangan portable dilakukan
bersama dengan petugas dari Polri.
Ancaman pidana terhadap terhadap setiap orang yang
mengemudikan kendaraan bermotor angkutan umum barang yang tidak
mematuhi ketentuan mengenai tata cara pemuatan, daya angkut dan dimensi
kendaraan diancam dengan pidana 2 (dua) bulan penjara atau denda paling
banyak Rp.500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah). Permasalahannya adalah
ancaman pidana tersebut hanya diberikan kepada pengemudi, sedangkan
pengusaha atau pemilik angkutan umum barang tidak dikenakan dengan
ancaman pidana, padahal bila menilik kasus tersebut, pengemudi hanyalah
pegawai yang disuruh dan tidak memiliki kekuasaan atas hal tersebut.
Sementara itu resiko dan kerugian yang ditimbulkan dapat berdampak
langsung bagi si pengemudi. Pengusaha berdalih hal tersebut dilakukan
untuk efisinsi anggaran dan peningkatan investasi daerah, padahal akibat
yang ditimbulkan lebih merugikan bagi daerah.
Oleh karenanya tidak lain hal ini harus menjadi perhatian bersama,
bukan hanya oleh penegak hukum di bidang lalu lintas yaitu Polri dan PPNS

13
14

Dishub namun juga oleh stake holder terkait, termasuk pemerintah sebagai
penyusun regulasi, akademisi dan pengamat dibidang lalu lintas untuk
memberikan sumbangsih pada penyelesaian permasalahan ODOL tersebut.
Agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia di jalanan, serta tetap
terjaganya infrastruktur jalan, namun tanpa mengabaikan arus investasi
disuatu daerah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian setelah menganalisa kondisi faktual dan faktor-
faktor yang mempengaruhi terhadap penanganan ODOL oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan Dishub, maka kondisi ideal yang diharapkan
adalah sebagai berikut:
A. Kondisi perencanaan penanganan ODOL oleh Polres Pelabuhan
Belawan;
1. Menyusun Renja tahunan Polres dengan menentukan pioritas
pada kegiatan yang beresiko membahayakan keamanan dan
keselamatan lalu lintas
2. Mengorganisir personil dan melibatkan back up dari fungsi lain
seperti Sabhara sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya
3. Menyusun rencana penggunaan anggaran dengan pelaksanaan
giat terpadu, mulai dari sosialisasi, pembinaan, hingga penindakan
di lapangan
4. Mengoptimalkan sarana prasarana yang ada dengan tambahan
peralatan dari instansi terkait guna efektivitas penindakan oleh
personil
5. Peningkatan kemampuan personil dalam penindakan dengan
melatih responsivitas personil dan Teknik serta metode
penanganan ODOL
B. Kondisi pelaksanaan penanganan ODOL oleh Polres Pelabuhan
Belawan dengan Dishub;
1. Perkuat HTCK personil dengan libatkan satfung lain dan personil
Dishub sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
2. Pembuatan MOU antara Polres Pelabuhan Belawan dengan
Dishub untuk mempermudah koordinasi dan akuntabilitas
penggunaan anggaran.
15

3. Komunikasi Polres dengan Dinas Perhubungan ditingkatkan


dengan melaksanakan giat rutin pengaturan lalu lintas bersama
dan penertiban terhadap pengguna jalan.
4. Peningkatan Koordinasi Polres dengan Dinas Perhubungan
khususnya dalam penindakan dan antisipasi terhadap ODOL
5. Kolaborasi antara Polres dengan stake holder terkait lainnya
seperti Jasa marga, Pemkot, Akademisi, termasuk Asosiasi
pengusaha dan industri untuk melakukan sosialisasi dan
penyelesaian masalah kendaraan angkut yang melebihi muatan
6. Analisa Evaluasi terhadap kegiatan penanganan ODOL yang
dilaksanakan oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan Dishub
C. Kondisi pengawasan dan pengendalian penanganan ODOL oleh
Polres Pelabuhan Belawan dengan Dishub;
1. Tingkatkan pengawasan terhadap penanganan ODOL oleh
personil secara structural dan fungsi pengawasan oleh Propam
agar mencegah penyalahgunaan wewenang.
2. Peningkatan Motivasi personil melalui pemberian Reward dari
Kapolres kepada personil yang berdidikasi dan jujur dalam
melaksnakan tugas
D. Kontribusi dari optimalnya penanganan ODOL oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan Dishub;
1. Dapat berkontribusi pada termonitornya kendaraan angkut niaga
yang melebihi dimensi dan muatan di jalan agar dapat ditertibkan
sehingga menjaga keamanan dan keselamatan lalu lintas.
2. Selain itu dengan optimalnya penanganan ODOL oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan Dishub dapat meningkatkan
pembangunan daerah Belawan, karena terjaganya infrastruktur
jalan dan menambah pemasukan daerah yang berasal dari pajak
angkut maupun perdagangan.
16

BAB VI
PEMECAHAN MASALAH

Upaya pemecahan masalah dilakukan melalui metode EFAS-IFAS


dan SFAS, dengan memperhatikan AHP (Analytical Hirarcy Procces):
1. Hasil analisa EFAS (Eksternal Factor Analysis Summary), diperoleh
nilai 4,85
Tabel 6.1 rekapitulasi perhitungan EFAS
NO. Opportunity WEIGHTED RATING SCORE
Komunikasi Polres dengan Dinas Perhubungan berjalan
1 baik dan seringkali melaksanakan giat rutin pengaturan
lalu lintas bersama saat pagi dan sore hari 0.1146 8 0.9169
Adanya UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
2
Angkutan Jalan yang mengatur secara teknis 0.0945 7 0.6618

3 Masyarakat mendukung penanganan terhadap kendaraan


yang melebihi daya angkut dan melanggar kelas jalan 0.0914 7 0.6396
Polda Sumut mendukung upaya penanganan terhadap
4 ODOL secara terpadu sebagai antisipasi terjadinya
kecelakaan lalu lintas 0.0951 6 0.5705
Kemajuan IT dapat meningkatkan akurasi dalam
5 penindakan terhadap kendaraan yang di duga melebihi
dimensi atau muatan 0.1044 6 0.6264
0.5000 3.4151

NO Threatpergudangan dan Pabrik di Belawan yang berada


Banyak
WEIGHTED RATING SCORE
dekat dengan lingkungan pemukiman sehingga
1
mengganggu aktivitas
Kolaborasi antara warga
Polres & merusak
dengan jalan. terkait
stake holder 0.0876 3 0.2629
lainnya seperti Jasa marga, Pemkot, Akademisi, termasuk
2
Asosiasi pengusaha dan industri belum berjalan baik. 0.1299 3 0.3897

Koordinasi Polres dengan Dinas Perhubungan masih


3
lemah khususnya dalam penindakan dan antisipasi
terhadap ODOL 0.0983 2 0.1966
Karakter pelaku usaha di Belawan yang sulit diatur dan
4 selalu menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi
regulasi maupun petugas di lapangan 0.1080 4 0.4322
Perda Kota Medan terhadap ketentuan Kelas jalan dan
5
pembagian area industri masih belum komprehensif 0.0761 2 0.1522
0.5000 1.4336

2. Hasil analisa IFAS (Internal Factor Analysis Summary ), diperoleh


nilai 5,48

16
17

Tabel 6.2 rekapitulasi perhitungan IFAS


NO Strenght WEIGHTED RATING SCORE
Perencanaan penanganan ODOL menjadi bagian dari Renja tahunan
1 Sat Lantas Polres P Belawan dalam giat operasi rutin dan giat operasi 0.0911 8 0.73
khusus
HTCK Polres Pelabuhan Belawan antar satuan fungsi dan internal
2 0.1088 8 0.87
Satuan lalu lintas cukup solid

Personil memahami ketentuan terkait ODOL sebagaimana diatur dalam


3 0.0944 7 0.66
ketentuan perundangan

Penanganan ODOL telah didukung oleh anggaran baik melalui DIPA


4 0.0946 8 0.76
RKA-KL maupun anggaran operasi kepolisian khusus

Motivasi personil untuk melakukan penindakan terhadap ODOL cukup


5 tinggi karena adanya insentif yang diberikan oleh Negara dari setiap 0.1111 6 0.67
surat tilang
0.5000 3.68

NO Weakness WEIGHTED RATING SCORE

Jumlah personil Sat lantas masih berada di bawah DSP sehingga


1 0.0808 2 0.16
menjadi kendala dalam pengorganisasian

Polres belum memiliki sarana alat penimbangan portable bagi


2 0.0976 5 0.49
kendaraan angkut niaga yang diduga melebihi muatan

Belum adanya MOU antara Polres dengan Dishub untuk memperkuat


3 0.0782 4 0.31
kerjasama agar efektif dan akuntabel

Responsivitas personil dalam melakukan pengamatan terhadap


4 0.1094 4 0.44
pelanggaran ODOL dinilai masih kurang cermat

Kurangnya pengawasan terhadap penanganan ODOL oleh personil


5 0.1340 3 0.40
dapat menimbulkan penyalahgunaan wewenang

0.5000 1.80
3. Dari hasil EFAS dan IFAS didapatkan posisi organisasi pada sel 5a.
Konsentrasi melalui Integrasi Horizontal. maka respon organisasi
yaitu dengan cara meningkatkan koordinasi.
18

A. Visi
Terwujudnya manajemen penanganan Over Dimensi Over
Loading (ODOL) oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan Dinas
Perhubungan
B. Misi
1. Mewujudkan perencanaan penanganan ODOL oleh Polres P
Belawan
2. Menyelenggarakan pelaksanaan penanganan ODOL oleh Polres
P Belawan
3. Menyelenggarakan pengawasan dan pengendalian penanganan
ODOL oleh Polres P Belawan dengan Dishub
C. Tujuan
1. Terwujudnya perencanaan penanganan ODOL oleh Polres P
Belawan
2. Terselenggaranya pelaksanaan penanganan ODOL oleh Polres P
Belawan dengan Dishub
3. Terselenggaranya pengawasan dan pengendalian penanganan
ODOL oleh Polres P Belawan dengan Dishub
D. Sasaran
1. Sasaran Jangka Pendek:
a. Kurangnya pengawasan terhadap penanganan ODOL oleh
personil dapat menimbulkan penyalahgunaan wewenang.
b. Kolaborasi antara Polres dengan stake holder terkait lainnya
seperti jasa marga, Pemkot, Akademisi termasuk Asosisasi
pengusaha angkutan dan industri belum berjalan baik
c. Responsivitas personil dalam melakukan pengamatan
terhadap pelanggaran ODOL dinilai masih kurang responsif
d. Karakter pelaku usaha di Belawan yang sulit diatur dan selalu
menggunkan kekuasaan untuk mempengaruhi regulasi
maupun petugas di lapangan
e. Koordinasi Polres dengan Dinas perhubungan masih lemah
khususnya dalam penindakan dan antisipasi terhadap ODOL.
19

2. Sasaran Jangka Sedang:


a. Motivasi personil untuk melakukan penindakan terhadap
ODOL cukup tinggi karena adanya insentif yang diberikan
dari setiap surat tilang.
b. Kemajuan IT dapat meningkatakan akurasi dalam
penindakan terhadap kendaraan yang di duga melanggar
batas dimensi dan muatan
c. Polres belum memliki sarana alat penimbangan portable
untuk melakukan pengecekan kendaraan angkut niaga yang
di duga melebihi muatan.
3. Sasaran Jangka Panjang:
a. Komunikasi Polres dengan dinas perhubungan berjalan baik
dan seringkali melaksnakan giat rutin pengaturan lalu lintas
bersama saat pagi dan sore hari.
b. HTCK Polres Pelabuhan Belawan antar satuan fungsi dan
internal Satlantas cukup solid untuk melakukan penanganan
secara terpadu terhadap ODOL beserta dampaknya.

Tabel 6.3 Matriks SFAS


No Rencana Strategis Bobot Rating Score Periode
Pendek Menengah Panjang
1 Kurang pengawasan tangani ODOL 0.0779 3 0.2336
2 Kolaborasi Polres & stake holder 0.0735 3 0.2204
3 Komunikasi Polres & Dishub rutin 0.1351 8 1.0810
4 Motivasi Personil cukup baik 0.1205 6 0.7232
5 Responsivitas personil kurang 0.0735 4 0.2938
6 HTCK Polres berjalan baik 0.1191 8 0.9525
7 Karakter pelaku usaha sulit diatur 0.0792 4 0.3168
8 Kemajuan IT peningkatan akurasi 0.1202 6 0.7211
9 Koordinasi Polres & Dishub lemah 0.0663 2 0.1325
10 Sarana penimbangan portable belum 0.1348 5 0.6742
20

E. Strategi
Selanjutnya dalam upaya mendapatkan strategi alternatif untuk
menjalankan program yang ada, dilakukan melalui matriks TOWS
STRENGHT
IFAS
1 Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk 1 Belum adanya Reward bagi personil yang dinilai berhasil untuk
2 Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen 2 Sarana persiapan penggalangan belum optimal, karena
3 Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres 3 Koordinator komando dan pengendalian terhadap
EFAS 4 Operasi intelijen untuk penggalangan telah 4 Pengetahuan personil terhadap penggalangan intelijen masih
5 Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik 5 Kurangnya Pengawasan secara berjenjang mulai dari sponsor,

OPPORTUNITIES STRATEGI SO STRATEGI WO

1 Koordinasi Kodim-Polres Pelabuhan Belawan dalam menghimbau masyarakat dan mewujudkan Kamtibmas berjalan dengan baik
Adanya Perkaba Intelkam Polri nomor 3 tahun 2013 tentang Penggalangan
2
Intelijen Polri untuk menjadi pedoman teknis
Aparatur kelurahan bersama Bhabinkamtibmas telah mendirikan pos-pos pantau
3
di titik rawan berkumpulnya massa STRATEGI SO
Adanya kemajuan IT untuk membantu monitoring lokasi tawuran melalui CCTV
4 (KUAT - KUAT)
online atau call center STRATEGI WO
Dukungan Toga, Tomas dan Todat untuk bersama-sama Polres melakukan
5 (LEMAH - KUAT)
penggalangani dan mencegah tawuran

STRATEGI ST STRATEGI WT
1 Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit dilepaskan dari minuman
keras/tuak
2 Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit untuk
STRATEGI ST STRATEGI WT
3 Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang turun
4 Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah jalan protokol yang banyak dilalui (KUAT - LEMAH) (LEMAH - LEMAH)
5 Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di batasi lebar sungai dan

STRENGHT
IFAS Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana
mengatasinya
Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran
EFAS Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi
terhadap perkembangan situasi
Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada
DIPA RKA-KL
Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan

STRATEGI ST
1 S1 - T1 : Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana mengatasinya --- Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit dilepaskan:dariKoordinasi minuman keras/tuak
THREAT 2 S1 - T2 : Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana mengatasinya --- Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit untuk disusupi oleh personil
: Pembinaan
3 S1 - T3 : Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana mengatasinya --- Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai: tradisi yang turun menurun bahkan ada kebanggaan apabila berhasil men
Penguatan
Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit dilepaskan dari minuman 4 S1 - T4 : Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana mengatasinya --- Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah jalan protokol yang banyak dilalui oleh kendaraan dan bisa menimbulkan korban salah
: Pencegahan
keras/tuak Ada analisa tugas bagi anggota intelijen untuk mengetahui akar penyebab munculnya tawuran dan bagaimana mengatasinya --- Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di: batasi lebar sungai dan rel kereta
5 S1 - T5 : Pemberdayaan
6 S2 - T1 : Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran --- Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit dilepaskan dari minuman: keras/tuak
Penguatan
Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit 7 S2 - T2 : Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran --- Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit untuk disusupi oleh personil
: Pembinaan
untuk disusupi oleh personil
8 S2 - T3 : Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran --- Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang: turun menurun bahkan ada kebanggaan apabila berhasil menimbulkan ker
Pengawasan
9 S2 - T4 : Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran --- Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah jalan protokol yang banyak dilalui oleh kendaraan dan bisa menimbulkan korban salah sasaran
: Penangkalan
Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang
turun menurun bahkan ada kebanggaan apabila berhasil menimbulkan
10 S2 - T5 : Sudah ada penentuan tugas kepada personil Intelijen dan Bhabinkamtibmas untuk mencegah terjadinya tawuran --- Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di batasi lebar: sungai dan rel kereta
Penggalangan
kerugian harta/korban jiwa pada pihak lawan 11 S3 - T1 : Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi terhadap perkembangan situasi --- Kultur maupun budaya masyarakat :yangAntisipasi
sulit dilepaskan dari minuman keras/tuak
12 S3 - T2 : Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi terhadap perkembangan situasi --- Warga memiliki ikatan yang kuat dan: kesamaan
Pembinaansikap sehingga sulit untuk disusupi oleh personil
Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah jalan protokol yang banyak 13 S3 - T3 : Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi terhadap perkembangan situasi --- Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang turun menurun bahkan ada kebanggaan a
: Pengawasan
dilalui oleh kendaraan dan bisa menimbulkan korban salah sasaran 14 S3 - T4 : Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi terhadap perkembangan situasi --- Situasi sasaran tempat lokasi tawuran: adalah jalan protokol yang banyak dilalui oleh kendaraan dan bisa menim
Penangkalan
15 S3 - T5 : Kolaborasi antara Satuan fungsi terkait di Polres bersama Bhabinkamtibmas dapat menyuplai kebutuhan informasi terhadap perkembangan situasi --- Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di batasi lebar sungai dan rel kereta
: Koordinasi
16 S4 - T1 : Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada DIPA RKA-KL --- Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit: dilepaskanAntisipasidari minuman keras/tuak
17 S4 - T2 : Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada DIPA RKA-KL --- Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit untuk disusupi oleh personil
: Peningkatan
18 S4 - T3 : Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada DIPA RKA-KL --- Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang turun menurun bahkan ada kebanggaan apabila be
: Pengawasan
19 S4 - T4 : Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada DIPA RKA-KL --- Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah: jalan protokol yang banyak dilalui oleh kendaraan dan bisa menimbulkan k
Pencegahan
20 S4 - T5 : Operasi intelijen untuk penggalangan telah terdukung melalui anggaran manajemen strategi kemanan dan ketertiban pada DIPA RKA-KL --- Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di batasi lebar sungai dan rel kereta
: Kerjasama
21 S5 - T1 : Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan --- Kultur maupun budaya masyarakat yang sulit dilepaskan dari minuman keras/tuak
: Antisipasi
22 S5 - T2 : Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan --- Warga memiliki ikatan yang kuat dan kesamaan sikap sehingga sulit untuk: disusupi
Pembinaanoleh personil
23 S5 - T3 : Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan --- Analisa sasaran bahwa Tawuran sudah dianggap sebagai tradisi yang turun: menurun
Antisipasibahkan ada kebanggaan apabila berhasil menimbulkan kerugia
24 S5 - T4 : Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan --- Situasi sasaran tempat lokasi tawuran adalah jalan protokol yang banyak :dilalui oleh kendaraan dan bisa menimbulkan korban salah sasaran
Pengawasan
25 S5 - T5 : Intensifikasi berupa variasi penggunaan teknik penggalangan secara tertutup dan terbuka telah dilaksanakan --- Jarak antar kampung yang bertikai sangat dekat hanya di batasi lebar sungai dan rel kereta
: Penggalangan
21

Hasil dari penghitungan SFAS yang dipadukan dengan strategi alternatif


matriks TOWS maka didapatkan strategi sebagai berikut;
1. Strategi Jangka Pendek (0-3 Bulan):
a. Peningkatan pengawasan secara struktural oleh Wakapolres,
Kasat Lantas dan Supervisor/Kanit terhadap penindakan
ODOL di jalan
b. Kerjasama antara Polres dengan Stake Holder lainnya seperti
Jasa marga, Pemkot, Akademisi, Asosiasi pengusaha
angkutan dan industri guna mencari Problem Solving
c. Penguatan responsivitas personil dalam melakukan
pengamatan terhadap kendaraan angkut niaga yang diduga
melebihi dimensi dan muatan
d. Antisipasi karakter pelaku usaha yang sulit diatur dengan
lakukan penindakan yang prosedural dan profesional.
e. Peningkatan koordinasi Polres dengan Dishub membuat
MOU untuk melakukan sosialisasi, antisipasi dan penindakan
ODOL
2. Strategi Jangka Sedang (0-6 Bulan):
a. Peningkatan motivasi personil untuk melakukan penindakan
terhadap ODOL dengan memberikan insentif kepada petugas
b. Pemberdayaan kemajuan IT untuk meningkatkan akurasi
dalam penindakan terhadap kendaraan yang melebihi
dimensi dan muatan.
c. Pengayaan sarana berupa alat penimbangan portable bagi
kendaraan angkut niaga untuk mendukung penanganan
terhadap kendaraan angkut yang di duga melebihi muatan.
3. Strategi Jangka Panjang (0-12 bulan):
a. Peningkatan komunikasi Polres dengan Dishub dalam
melaksanakan giat rutin pengaturan lalu lintas dan penertiban
kepada pengguna jalan.
b. Penguatan HTCK antar Satfung di Polres Pelabuhan
Belawan agar saling bersinergi untuk menangani
permasalahan ODOL dan dampaknya.
22

F. Kebijakan
Melaksanakan promoter Kapolri yaitu penegakkan hukum yang
lebih profesional dan berkeadilan melalui penanganan Over Dimensi
Over Loading oleh Polres Pelabuhan Belawan dengan Dinas
Perhubungan.
G. Action Plan
1. Strategi Jangka Pendek (0-3 bulan)
a. Peningkatan pengawasan secara struktural oleh Wakapolres,
Kasat Lantas dan Supervisor/Kanit terhadap penindakan ODOL
di jalan
1) Program : Pengawasan dan Pengendalian
2) Kegiatan:
 Wakapolres dengan Kasat Lantas lakukan
pengawasan secara berjenjang kepada personil
3) Indikator:
 Pengawasan dapat terlaksana
 Terwujudnya penanganan ODOL yang profesional
b. Kerjasama antara Polres dengan Stake Holder lainnya seperti
Jasa marga, Pemkot, Akademisi, Asosiasi pengusaha angkutan
dan industri guna mencari Problem Solving
1) Program: Kerjasama antar Stakeholder
2) Kegiatan:
 Kapolres bersama Waka dan Kasat Lantas melakukan
kerjasama agar penanganan ODOL lebih komprehensif
3) Indikator:
 Kerjasama berhasil dilaksanakan
 Polres bersama Stake Holder berikan problem solving
c. Penguatan responsivitas personil dalam melakukan pengamatan
terhadap kendaraan angkut niaga yang diduga melebihi muatan
1) Program: Responsivitas personil
2) Kegiatan:
 Kasat Lantas melatih personil agar cakap dalam
pengamatan terhadap kendaraan yang diduga
melanggar
23

3) Indikator:
 Kemampuan responsivitas personil meningkat
d. Antisipasi karakter pelaku usaha yang sulit diatur dengan
lakukan penindakan yang prosedural dan profesional.
1) Program: Antisipasi Pelaku usaha yang sulit diatur
2) Kegiatan:
 Kasat lantas arahkan personil untuk melakukan
penindakan secara prosedural dan profesional
3) Indikator:
 Protes pelaku usaha dapat diantisipasi
 Petugas lebih profesional dan dipercaya masyarakat
e. Peningkatan koordinasi Polres dengan Dishub membuat MOU
untuk melakukan sosialisasi, antisipasi dan penindakan ODOL.
1) Program: Peningkatan koordinasi melalui MOU
2) Kegiatan:
 Kabag Ops buat dan susun MOU Polres dengan Dishub
agar koordinasi dapat lebih efektif dan akuntabel
3) Indikator:
 MOU dapat terlaksana
2. Strategi Jangka sedang (0-6 bulan)
a. Peningkatan motivasi personil untuk melakukan penindakan
terhadap ODOL dengan memberikan insentif kepada petugas
1) Program: Peningkatan motivasi personil
2) Kegiatan:
 Kapolres melalui Kasat Lantas beri insentif terhadap
personil yang rajin melakukan penindakan
3) Indikator:
 Motivasi personil dapat ditingkatkan
b. Pemberdayaan kemajuan IT untuk meningkatkan akurasi dalam
penindakan terhadap kendaraan yang melebihi muatan
1) Program: Pemberdayaan IT untuk tingkatkan akurasi
2) Kegiatan:
 Wakapolres bersama Dishub buat rancangan teknologi
yang bisa di aplikasikan bagi akurasi penindakan ODOL
24

3) Indikator:
 Pemanfaatan IT untuk dukung penindakan lebih optimal
c. Pengayaan sarana berupa alat penimbangan portable bagi
kendaraan angkut niaga untuk mendukung penanganan
terhadap kendaraan angkut yang di duga melebihi muatan
1) Program: Pengayaan sarana penimbangan portable
2) Kegiatan:
 Kabag Ren buat usulan untuk pengadaan alat
penimbangan portable ke Biro Rena Polda
3) Indikator:
 Sarana prasarana Polres dapat ditingkatkan lebih baik
 Penindakan terhadap pelanggaran ODOL lebih efektif
3. Strategi Jangka Panjang (0-12 bulan)
a. Peningkatan komunikasi Polres dengan Dishub dalam
melaksanakan giat rutin pengaturan lalu lintas dan penertiban
kepada pengguna jalan.
1) Program: Peningkatan Komunikasi
2) Kegiatan:
 Kasat Lantas lakukan komunikasi rutin dengan Dishub
untuk pelaksanaan gatur pagi dan sore serta bantu
ketertiban pengguna jalan.
3) Indikator:
 Komunikasi antar instansi semakin baik dan solid
b. Penguatan HTCK antar Satfung di Polres Pelabuhan Belawan
agar saling bersinergi untuk menangani permasalahan ODOL
dan dampaknya.
1) Program: Penguatan HTCK antar fungsi
2) Kegiatan:
 Kapolres bersama Waka melakukan pembinaan kepada
personil agar semakin solid dalam melakukan
penanganan pelanggaraan ODOL secara terpadu
3) Indikator:
 Penguatan HTCK antar fungsi dapat dilaksanakan
 Koordinasi antar fungsi berjalan dengan baik dan solid
25

BAB VII
PENUTUP

A. Simpulan
Penanganan Over Dimensi Over Loading oleh Polres
Pelabuhan Belawan dengan Dishub dalam rangka meningkatkan
keselamatan lalu lintas. Simpulan dari penulisan NKP ini adalah;
1. Perencanaan penanganan Over Dimensi Over Loading oleh Polres
Pelabuhan Belawan sudah tertulis pada Renja dan sudah di dukung
anggaran dengan metode teknis diatur dalam UU No. 22 tahun 2009,
namun personil masih kurang responsive, dan tidak adanya alat
penimbangan portable. Untuk mengatasinya Kasat lantas melatih
responsivitas personil dan Kabag Ren mengajukan pengadaan alat
timbang portable untuk mendukung penindakan agar lebih efektif.
2. Pelaksanaan penanganan Over Dimensi Over Loading oleh Polres
bekerja sama dengan Dishub pada tahap komunikasi sudah
terlaksana giat rutin untuk pengaturan pagi dan sore hari, namun
Koordinasi dan kolaborasi dengan stake holder belum terlaksana,
sehingga Kabag Ops dapat berkoordinasi untuk membuat MOU
dengan Dishub, dan Kapolres bersama Stake Holder lainnya
melakukan koordinasi untuk mencari solusi dari masalah ODOL.
3. Pengawasan terhadap penanganan ODOL yang dilaksanakan
belum berjalan efektif sehingga rawan terjadinya penyimpangan,
dengan demikian Wakapolres melalui Kasi Propam dan Kasat
Lantas dapat meningkatkan pengawasan terhadap personil.
B. Rekomendasi
1. Merekomendasikan kepada Kapolda Sumut U.p Karo Ops untuk
melakukan Operasi Kepolisian khusus terpadu bersama Dishub
pada tingkat Polda untuk melakukan penindakan terhadap ODOL.
2. Merekomendasikan kepada Kapolda Sumut U.p Karo Rena dan Dir
Lantas untuk berkoordinasi dalam pengajuan sarana prasarana
pendukung bagi penindakan petugas di lapangan agar lebih efektif
dan efisien.

25