Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

Judul Acara Praktikum Pengantar Proyeksi Peta


Nama Nasrudin Dwi Jatmiko Nilai Total Laporan :
NIM 19/438814/GE/08949
Kelompok Praktikum Senin, Pukul 09.00-11.00
Asisten 1. Widiya Setyaningrum
2. Eska Hanifah
Komponen Penilaian Laporan dikumpulkan pada
A : Pretest A: Tanggal : Jam :

B : Kegiatan Praktikum B: Praktikan Asisten


C : Laporan Praktikum C:
D : Tugas D:
( )

TUJUAN
1. Membuat jaring-jaring paralel dan meridian pada proyeksi azimuthal, kerucut, dan
silinder.
2. Melakukan transformasi kenampakan bumi dari bidang bulat (globe) ke dalam bidang
datar.
3. Menghitung besarnya distorsi dari proyeksi yang telah dilakukan.
Nilai

MEDIA PEMBELAJARAN
1. Globe
2. Atlas
3. Kalkulator
4. Busur derajat
5. Jangka
6. Alat tulis (pensil, drawing pen, penggaris, pensil warna, spidol)
7. Kertas milimeter
Nilai

LANGKAH KERJA

1. Membuat jaring-jaring paralel dan meridian Jaring-jaring proyeksi


paralel dan meridian (5
proyeksi)
Perhitungan jari-jari Menggambar jaring-jaring
proyeksi paralel dan
lingkaran (skala globe dibagi
meridian pada kertas
skala acuan) milimeter Tabel perbandingan antar
proyeksi
PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

2. Transformasi kenampakan bumi dari bidang bulat ke bidang datar

Menambahkan kenampakan Peta proyeksi


daratan dan lautan dilengkapi dengan
Jaring-jaring proyeksi
kenampakan
paralel dan meridian berdasarkan globe dan
daratan dan lautan

3. Menghitung distorsi

Menghitung jarak dua


titik di globe dan
Globe dan atlas dibandingkan dengan Besaran distorsi
perhitungan jarak dua proyeksi
titik yang sama di atlas

Keterangan :
: Input

: Proses

: Output

Nilai

HASIL DAN PEMBAHASAN


Aristoteles meyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Ia memiliki beberapa penjelasan mengenai
hal tersebut. Pertama, ia mengamati bahwa konstelasi bintang berubah seiring perjalanannya dari
utara ke selatan maupun sebaliknya. Kedua, ia mengamati sebuah kapal yang berlayar dari
pelabuhan, dimana semakin menjauh, lambung kapal yang akan menghilang dari pandangan untuk
pertama kali. Ketiga, ia mengamati bahwa bayangan bumi yang menutupi bulan ketika gerhana,
berbentuk lingkaran, sehingga ia meyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Keyakinan Aristoteles
dikuatkan oleh perhitungan yang dilakukan oleh Erastothenes, dimana ia menghitung keliling bumi,
dengan selisih hanya sebesar 14-19% dari keliling bumi yang disepakati dewasa ini. Sedangkan, Sir
Isaac Newton setelah menemukan teori gravitasi, berpendapat bahwa bumi memiliki bentuk
ellipsoidal, dimana ia meyakini bahwa rotasi bumi menimbulkan gaya sentrifugal, yang melawan gaya
gravitasi bumi, sehingga bentuk bumi tidaklah bulat sempurna, melainkan ellipsoidal.
Untuk merepresentasikan bumi, maka diciptakanlah globe, yang dibuat dengan melakukan
pengecilan ukuran jari-jari bumi.Fitur geometris dasar seperti jarak, arah, bentuk, dan luasan akan
terjaga karena globe memiliki skala yang sama dimanapun. Namun, globe memiliki kelemahan,
diantaranya adalah ukurannya yang besar, tidak mudah dibawa, mahal, tidak praktis dalam hal
PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

digunakan untuk perhitungan, dan memakan banyak tempat penyimpanan. Maka dari itu, muncul
gagasan untuk memindahkan bentuk geometris bumi yang lengkung (spherical atau ellipsoidal)
kepada bidang datar. Namun, risiko dari pemindahan tersebut, akan timbul distorsi yang
mempengaruhi unsur geometris dasar dari representasi bumi (Kimerling et al., 2016). Distorsi
merupakan penyimpangan unsur geometris bumi yang terjadi akibat pemindahan representasi dari
bidang lengkung menuju bidang datar.
Proses pemindahan dari bidang lengkung menuju bidang datar itulah yang biasa disebut
sebagai proyeksi peta (Kraak & Ormeling, 2010). Definisi formal dari proyeksi peta adalah
representasi sistematis dan tertata dari grid bumi menuju permukaan datar (Tyner, 2010). Proyeksi
peta dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok. Beberapa klasifikasi proyeksi peta, yaitu :
1. Berdasarkan bentuk bidang proyeksi (Kraak & Ormeling, 2010)
a. Azimuthal projections, dimana bidang proyeksi berbentuk bidang datar, dalam keadaan
normal bidang proyeksi menempel pada daerah kutub
b. Cylindrical projections, dimana bidang proyeksi berbentuk silinder, dan dalam keadaan
normal bidang proyeksi menempel pada garis ekuator. Sehingga semakin mendekati
kutub, distorsi akan semakin tinggi.
c. Conical projections, dimana bidang proyeksi berbentuk kerucut, dan dalam keadaan
normal bidang proyeksi menempel pada garis lintang sedang.
2. Berdasarkan distorsi geometris (Kimerling et al., 2016)
a. Equidistant projections, dimana proyeksi yang dilakukan dengan mempertahankan
jarak.
b. Conformal projections, dimana proyeksi yang dilakukan dengan mempertahankan
bentuk.
c. True-direction projections, dimana proyeksi yang dilakukan dengan mempertahankan
kesesuaian arah.
d. Equivalent projections, dimana proyeksi yang dilakukan dengan mempertahankan
luasan area.
3. Berdasarkan kontak bidang proyeksi terhadap model bumi (Kimerling et al., 2016)
a. Tangent case (tangential), dimana permukaan bidang proyeksi menyinggung model
bumi.
b. Secant case (secantial), dimana permukaan bidang proyeksi memotong model bumi
4. Berdasarkan titik sumber penyinaran (Kimerling et al., 2016)
a. Gnomonis, dimana sumber cahaya berasal dari pusat bola bumi.
b. Stereografis, dimana sumber cahaya berasal dari titik antipodal bola bumi (titik yang
berlawanan dengan titik singgung proyeksi)
c. Orthografis, dimana sumber cahaya berasal dari titik tak hingga (menggambarkan bumi
apabila dilihat dari planet lain yang jaraknya jauh).
Berdasarkan praktikum yang telah dijalankan, dapat diketahui bahwa didalam melakukan
proyeksi peta, klasifikasi-klasifikasi diatas dapat digabung atau dikombinasikan, agar mendapatkan
hasil yang baik. Proyeksi yang dibuat adalah proyeksi Azimuthal Gnomonis, Azimuthal Stereografis,
Azimuthal Orthografis, Kerucut Normal Orthografis, dan Silinder Normal Orthografis. Proyeksi
Azimuthal Gnomonis dapat digunakan untuk memetakan daerah kutub, dan memiliki kelemahan
berupa ketidakmampuan untuk memproyeksikan satu belahan bumi secara utuh. Semakin jauh dari
titik singgung proyeksi, semakin tinggi distorsi yang ada terhadap bentuk dan area. Proyeksi
Azimuthal Stereografis dapat digunakan untuk memetakan dari daerah kutub, dan memiliki
kelemahan berupa keterbatasan didalam memproyeksikan satu belahan bumi. Apabila tidak dibatasi,
maka distorsi pada tepian proyeksi akan meningkat, yang menyebabkan fitur geografi tidak dapat
PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

dikenali. Proyeksi Azimuthal Orthografis dapat digunakan untuk memetakan satu belahan bumi
secara utuh. Proyeksi Kerucut Normal Orthografis dapat digunakan untuk memetakan kawasan
lintang sedang. Proyeksi Silinder Normal Orthografis dapat digunakan untuk memetakan kawasan
khatulistiwa. Kelebihan dan kekurangan masing-masing proyeksi lebih lanjut dijelaskan pada tabel
terlampir.
Setelah melakukan perhitungan jarak dua titik, baik berdasarkan globe maupun atlas, maka
distorsi dapat diketahui. Distorsi yang ada ketika melakukan pengukuran jarak Kota Guatemala ke
Kota Quito di Ekuador, adalah sebesar 80,4 km. Distorsi yang ada ketika melakukan pengukuran jarak
Kota New Delhi di India ke Kota Bangkok di Thailand, adalah sebesar 518,2 km. Distorsi yang ada
ketika melakukan pengukuran jarak Kota Kairo di Mesir ke Kota Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, adalah
sebesar 430,1 km. Ketidaksesuaian angka dapat disebabkan karena atlas yang digunakan terpotong
menjadi dua halaman, sehingga akurasi penentuan jarak di atlas menjadi tidak sempurna.
Nilai

KESIMPULAN
1. Proyeksi peta nerupakan pemindahan representasi kenampakan bumi yang secara sistematis dan
tertata dilakukan dari bidang lengkung bumi menuju permukaan datar.
2. Dua pendapat utama tentang bentuk bumi, yaitu bulat (spherical) dan bulat pepat (ellipsoidal).
3. Proyeksi diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yakni berdasarkan bentuk bidang proyeksi,
berdasarkan distorsi geometris, berdasarkan kontak bidang proyeksi terhadap model bumi, dan
berdasarkan titik sumber penyinaran.
4. Klasifikasi-klasifikasi tersebut dapat digabung atau dikombinasikan, agar mendapatkan hasil yang
baik.
5. Distorsi adalah penyimpangan unsur geometris bumi yang terjadi akibat pemindahan
representasi dari bidang lengkung menuju bidang datar.
Nilai

DAFTAR PUSTAKA
Kimerling, A. J., et al. (2016). Map use : Reading, analysis, interpretation (8th ed.). California: ESRI Press.
Kraak, M. -J. & Ormeling, F. (2010). Cartography : Visualization of spatial data (3rd ed.). Essex: Pearson
Education Ltd.
National Geographic Partners, LLC. (2017). Compact atlas of the world (2nd ed.). Hong Kong: National
Geographic.
Sukandar, S. (2016). Atlas pelajar superlengkap indonesia dan dunia. Jakarta: Bmedia.
Tyner, J. A. (2010). Principles of map design. New York: The Guilford Press.
Nilai
PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

Lampiran
Tabel Perbandingan Jenis Proyeksi
No Jenis
Kelebihan Kekurangan Kesesuaian Lahan
. Proyeksi
Semakin jauh dari
pusat proyeksi, distorsi
Berguna untuk peta navigasi. semakin meningkat
Azimuthal Kawasan sekitar
1. Digunakan untuk memetakan secara ekstrem, tidak
Gnomonis Lingkar Kutub
konstelasi bintang. mampu memetakan
belahan bumi secara
utuh
Terbatas pada satu
belahan bumi. Semakin
Azimuthal Digunakan untuk memetakan Kawasan lintang
2. jauh dari pusat
Stereografis benua yang besar (Antarktik) tinggi
proyeksi, distorsi
semakin meningkat
Menjaga arah, mampu
Kawasan salah satu
memetakan satu belahan bumi
belahan bumi
Azimuthal secara utuh, dapat digunakan Mendistorsi bentuk
3. (belahan bumi
Orthografis untuk memetakan tutupan lahan dan area
utara/belahan bumi
dan data topografi yang diperoleh
selatan)
dari wahana penginderaan jauh.
Cocok untuk merepresentasikan
Kerucut benua-benua (karena kebanyakan Tidak cocok untuk
Kawasan lintang
4. Normal benua terletak pada daerah memetakan kawasan
sedang
Orthografis subtropis hingga lintang sedang- yang terlalu luas
tinggi)
Tidak cocok untuk
Silinder Cocok untuk memetakan seluruh memetakan kawasan
5. Normal permukaan bumi dalam satu kutub (semakin jauh Kawasan ekuator
Orthografis waktu dari khatulistiwa,
semakin terdistorsi)
Referensi : Kimerling et al., 2016
PRAKTIKUM KARTOGRAFI [GKP 0101]

REVIEW JURNAL

Judul Secant Cases of Azimuthal Projections: Myth and Reality


Jurnal Yearbook of the Association of Pacific Coast Geographers
Penulis dan Penerbit Robert T. Richardson, University of Hawai'i Press
Volume (Tahun) dan
Vol. 49 (1987), pp. 65-78
Halaman
Reviewer Nasrudin Dwi Jatmiko
Tanggal 13 Oktober 2019
Pemahaman yang berkembang melalui buku-buku kartografi dan atlas, menerangkan
bahwa proyeksi azimuthal dapat dibuat menggunakan metode tangensial maupun sekansial.
Secara khusus, metode sekansial ditunjukkan tidak mengalami distorsi pada garis lingkaran
permukaan proyeksi sekansial, dan distorsi akan meningkat diluar garis tersebut. Menurut
penulis, tiga dari lima proyeksi yang umum dibahas (azimuthal gnomonis, azimuthal
stereografis, dan azimuthal orthografis), dapat secara harfiah “diproyeksikan”, sehingga
pergeseran bidang proyeksi menjadi sekansial tidak memiliki pengaruh terhadap susunan
graticule proyeksi. Perubahan yang terjadi ketika bidang proyeksi digeser menjadi sekansial
pada proyeksi azimuthal gnomonis dan azimuthal stereografis hanya ukuran area. Sementara
pada proyeksi azimuthal orthografis sama sekali tidak berubah.
Pada proyeksi Lambert’s equal area azimuthal, dapat dibuat menggunakan metode
sekansial, namun hal tersebut memiliki konsekuensi berupa hilangnya beberapa area didekat
pusat proyeksi, yang oleh penulis disebut sebagai “black hole”. Demikian halnya pula dengan
proyeksi polar aspect of a secant equal area azimuthal, dimana graticule-nya terlihat
normal, namun pada kenyataannya garis bujur tidak “bertemu” di kutub. Akibatnya, pada
gambar contoh, kutub, pulau Ellesmere (Kanada), pulau Spitsbergen (Svalbard, Norwegia),
dan sebagian pulau Greenland tidak terlihat. Selain itu, kawasan yang berada di dekat pusat
proyeksi akan terdistorsi dan meregang sepanjang bujur. Pada proyeksi equdistant
azimuthal, dapat dibuat menggunakan metode sekansial, namun dengan keanehan yang
sama, yang ditemukan pada secant equal area cases, yaitu munculnya “black hole” pada
lingkaran kecil proyeksi sekansial, meskipun pada area tersebut tidak mengalami distorsi.
Penulis membuat beberapa perhitungan dan perbandingan antara proyeksi yang
menggunakan metode tangensial dengan metode sekansial untuk membuktikan temuannya.
Metode sekansial pada proyeksi equal area azimuthal tidak menjadikan distorsi berkurang,
namun hanya mendistribusikan ulang distorsi yang ada. Hal yang sama juga berlaku pada
proyeksi equidistant azimuthal, dimana metode sekansial tidak menawarkan keuntungan
dibandingkan metode tangensial. Kesimpulannya, metode sekansial hanya dapat digunakan
pada proyeksi equal area azimuthal dan equidistant azimuthal. Kedua proyeksi tersebut
sukar digunakan, karena munculnya “black hole” di pusat proyeksi dan distorsi yang sangat
ekstrem timbul pada pusat proyeksi. Keduanya tidak menawarkan peningkatan terhadap
adanya distorsi, namun redistribusi distorsi dapat menjadi keuntungan dalam penerapan-
penerapan khusus.