Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam kehidupan sehari hari kita sering mendengar kata filsafat.Namun,
apakah kita mengerti mengenai filsafat itu sendiri?Banyak orang yang belum men
getahui makna sesungguhnya filsafat, padahal filsafat merupakan ilmu yang
sangat penting karena merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu
banyak pula yang belum mengetahui mengenai ruang lingkup atau objek filsafat
yang sangat berkaitan erat terhadap pengertian filsafat itu sendiri. Sesungguhnya
mengenai objek, metode kajian, sifat dasar dan cabang-cabang filsafat semuanya
memiliki hubungan yang erat, sehingga perlu adanya pengkajian mengenai hal itu.
Filsafat sesungguhnya mencakup seluruh ilmu pengetahuan, kemudian
berkembang sedemikian rupa menjadi semakin rasional dan sistematis. Filsafat
merupakan upaya pemikiran dan penyelidikan secara mendalam atau radikal
(sampai keakar persoalan), sehingga banyak masalah pokok yang perlu dibahas
dan dipecahkan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Filsafat ?
2. Apa Saja Ciri-Ciri Filsafat ?
3. Apa Pengertian Filsafat Ilmu ?
4. Apa Saja Objek Filsafat Ilmu ?
5. Apa Saja Problem Dalam Filsafat Ilmu ?
6. Apa Manfaat Belajar Filsafat Ilmu ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Filsafat
2. Untuk Mengetahui Ciri-Ciri Filsafat
3. Untuk Mengetahui Apa itu Filsafat Ilmu
4. Untuk Mengetahui Apa Saja Objek Filsafat Ilmu
5. Untuk Mengetahui Apa Saja Problem Dalam Filsafat Ilmu
6. Untuk mengetahui Apa Manfaat Belajar Filsafat Ilmu

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat


Pengertian Filsafat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah
1) Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang
ada, sebab, asal, dan hukumnya
2) Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan atau juga berarti ilmu
yang berintikan logika, estetika, metafisika dan epistemologi.
Plato (427 - 347 SM) mendefinisikan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
berminat mencapai kebenaran yang asli, Kemudian Aristoteles (382 - 322 SM)
mengartikan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, dan
berisikan di dalamnya ilmu; metafisika, logika,
retorika,etika,ekonomi,politik,dan estetika.
Pengertian Filsafat secara umum adalah Ilmu pengetahuan yang ingin
mencapai hakikat kebenaran yang asli dengan ciri-ciri pemikirannya yang 1)
rasional, metodis, sistematis, koheren, integral, 2) tentang makro dan mikro
kosmos 3) baik yang bersifat inderawi maupun non inderawi. Hakikat kebenaran
yang dicari dari berfilsafat adalah kebenaran akan hakikat hidup
dan kehidupan,bukan hanya dalam teori tetapi juga praktek.
Filsafat Hukum menurut Gustaff Radbruch adalah cabang filsafat yang
mempelajari hukum yang benar. Dan menurut Langmeyer: Filsafat Hukum adalah
pembahasan secara filosofis tentang hukum, Anthoni D’Amato mengistilahkan
dengan Jurisprudence atau filsafat hukum yang acapkali dikonotasikan sebagai
penelitian mendasar dan pengertian hukum secara abstrak, Kemudian Bruce D.
Fischer mendefinisikan Jurisprudence adalah suatu studi tentang filsafat hukum.
Kata ini berasal dari bahasa Latin yang berarti kebijaksanaan (prudence)
berkenaan dengan hukum (juris) sehingga secara tata bahasa berarti studi tentang
filsafat hukum.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Filsafat hukum merupakan cabang
filsafat, yakni filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum.

2
Dengan perkataan lain filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum
secara filosofis, jadi objek filsafat hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji
secara mendalam sampai pada inti atau dasarnya, yang disebut dengan hakikat.
Filsafat hukum mempelajari hukum secara spekulatif dan kritis artinya
filsafat hukum berusaha untuk memeriksa nilai dari pernyataan-pernyataan yang
dapat dikatagorikan sebagai hukum;
1. Secara spekulatif, filsafat hukum terjadi dengan pengajuan pertanyaan-
pertanyaan mengenai hakekat hukum.
2. Secara kritis, filsafat hukum berusaha untuk memeriksa gagasan-gagasan
tentang hukum yang sudah ada,melihat koherensi,korespondensi dan fungsinya.

Prof. Dr. H. Muchsin, SH. dalam bukunya Ikhtisar Filsafat Hukum


menjelaskan dengan cara membagi definisi filsafat dengan hukum secara
tersendiri, filsafat diartikan sebagai upaya berpikir secara sungguh-sungguh untuk
memahami segala sesuatu dan makna terdalam dari sesuatu itu kemudian hukum
disimpulkan sebagai aturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur
tingkah laku manusia dalam masyarakat, berupa perintah dan larangan yang
keberadaanya ditegakkan dengan sanksi yang tegas dan nyata dari pihak yang
berwenang di sebuah negara.
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani
“philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya
ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang
semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun,
cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia
tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama,
pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian
pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The
Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang
telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo,
1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya

3
adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-
kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti:
logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Menurut Surajiyo (2010:1) secara etimologi kata filsafat, yangg dalam bhs
Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam Bahasa Inggris di kenal dengan
istilah philoshophy adalah dari Bahasa Yunani philoshophia terdiri atas kata
philein yang berarti cinta (love) dan shopia yang berarti kebijaksanaan (wisdom),
sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of
wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf
adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.
Secara terminologi, menurut Surajiyo (2010: 4) filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan
menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan
gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari sesuatu
fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan “sesuatu” adalah
“sesuatu” itu adanya. Filsafat mengkaji sesuatu yang ada dan yang mungkin ada
secara mendalam dan menyeluruh. Jadi filsafat merupakan induk segala ilmu.
Susanto (2011: 6) menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan
berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri
secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya,
mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional-logis, mendalam
dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan
masalah-masalah dalam kehidupan manusia.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama
memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.),
yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam
geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya
“philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah
dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis
sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia

4
merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau
kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah
suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-
unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang
ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang
mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan
pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus
menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran
(Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada
tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam.
Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks,
maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban
yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi
yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan
itu harus persoalan filsafat.

2.2.Ciri-Ciri Filsafat
Berfilsafat berarti berfikir radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal. Karena
berfikir secara radikal, ia tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud
realitas tertentu. Keradikalan berfikirnya itu akan senantiasa mengobarkan
hasratnya untuk menemukan realitas seluruh kenyataan, berarti dirinya sendiri
sebagai suatu realitas telah termasuk ke dalamnya sehingga ia pun berupaya untuk
mencapai akar pengetahuan tentang dirinya sendiri. Telah jelas bahwa artinya
berfikir radikal bisa diartikan berfikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-
tanggung, sampai kepada konsekuensinya yang terakhir. Berfikir itu tidak
setengah-setengah, tidak berhenti di jalan tetap terus sampai ke ujungnya.
Berfikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang atau
menjungkirbalikkkan segala sesuatu, melainkan dalam arti sebenarnya, yaitu

5
berfikir secara mendalam. Untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan.
Berfikir radikal justru hendak memperjelas realitas.
1. Integral
Integral yang berarti mempunyai kecenderungan untuk memperoleh pengetahuan
yang utuh sebagai suatu keseluruha atau filsafat memandang objeknya secara
integral.
2. Sistematis
Sistematis disini artinya susunan dan urutan (hierarki), juga kaitan suatu masalah
dengan materi atau masalah lain yang terdapat pada filsafat. Lantas, apa yang
dimaksud dengan materi atau permasalahn filsafat dan bagai mana susunan dan
hubungan satu masalah dengan masalah yang terjadi? Menurut Langeveld (1959)
mengajukan tiga masalah pokok dalam filsafat yang melahirkan jenis jenis
filsafat, disebut dengan problematika filsafat. Ketiga masalah tersebut antara lain:
a. Masalah mengenal dan mengetahui atau cognition
b. Masalah segala sesuatu atau metafisika
c. Masalah penilaian dan aksiologi
Menurut Clarence I. Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu
sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Sedangkan sisi yang
terkandung dalam proses refleksi adalah berbagai kegiatan
atau problema kehidupan manusia. Kegiatan atau problem tersebut terdapat
beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat yaitu:
1. Sangat umum dan universal
Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum dan tingkat
keumumannya sangat tinggi. Karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan
obyek-obyek khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang
sifatnya umum. Misalnya tentang manusi, tentang keadilan , tentang kebebasan
dan lainnya.
2. Tidak faktual
Pengertian tidak factual kata lainnya adalah spekulatif, yang artinya
filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak

6
berdasarkan ada bukti. Hal ini sebagai sesuatu hal yang melampaui batas dari
fakta-fakta pengetahuan ilmiah.

3. Bersangkutan dengan nilai


C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari
pengetahuan, berupa fakta-fakta yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam
penilaian adalah tentang yang baik dan yang buruk, yang susila dan asusila dan
akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai.

4.Berkaitan dengan arti


Di atas telah dikemukakan bahwa nilai selalu dipertahankan dan dicari.
Sesuatu yang bernilai tentu di dalamnya penuh dengan arti. Agar upaya para
filosof dalam mengungkapkan ide-idenya agar syarat dengan arti, maka para
filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa yang
tepat(ilmiah), kesemuanya itu berguna untuk menghindari adanya kesalahan.

5.Implikatif
Pemikira filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandun implikasi
(akibat logis), dan dari implikasi tersebut diharapkan akan mampu melahirkan
pemikiran baru, sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis: dari tesis
ke anti tesis kemudian sintesis, dan seterusnya
sehingga tiada habishabisnya.Pola pemikiran yang implikatif (dialektis) akan dapa
t menyuburkan intelektual.

2.3. Filsafat Ilmu


Pengantar filsafat ilmu tidak terlepas dari kata filsafat dan ilmu filsafat
adalah berfikir secara mendalam tentang sesuatu tanpa melihat dogma dan agama
dalam mencari kebenaran sedang ilmu adalah pengetahuan tentang suatu
bidang(pengetahuan) yang disusun secara bersistem menurut metode-metode
tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu

7
dibidang itu. Sebagaimana yang di rumuskan para ahli Sebagaimana yang dikutip
A. Susanto dalam Filsafat Ilmu sebagai berikut :

1. Menurut Berry Filsafat Ilmu adalah penelaahan tentang logika intern


dan teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan
teori, yakni tentang metode ilmiah. Bagi Berry, filsafat ilmu adalah
ilmu yang di pakai untuk menelaah tentang logika, teori-teori ilmiah
serta upaya pelaksanaannya untuk menghasilkan suatu metode atau teori
ilmiah.
2. May Brodbeck, Filsafat ilmu adalah suatu analis netral yang secara
etis dan falasafi, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan
ilmu menurut Brodbck, ilmu itu harus bisa menganalisis, menggali,
mengkaji bahkan melukiskannya sesuatu secara netral , etis dan filosofis
sehingga ilmu itu bisa di manfaatkan secara benar dan relevan.
3. Lewis White Filsafat ilmu atau philosophy of science adalah ilmu
yang mengkaji dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah
serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu
keseluruhan.Lebih jauh Lewis menjelaskan Filsafat ilmu adalah ilmu
yang mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah
serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai
suatu keseluruhan. Melalui filsafat ilmu ini kita akan mampu
memahami dan menetapkan akan arti pentingnya usaha ilmiah, sebagai
suatu keseluruhan
4. A. Cornelius Benyamin, mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah
studi sistematis mengenai sifat dan hakikat ilmu, khususnya yang
berkenaan dengan metodenya, konsepnya, kedudukannya di dalam
skema umum disiplin intelektual. Benyamin lebih melihat sifat dan
hakikat ilmu ditinjau dari aspek metode, konsep, dan kedudukannya
dalam disiplin keilmuan.
5. Robert Ackermann filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis
tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan

8
terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam
rangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat
demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang
ilmu yang bebas dari praktik ilmiah senyatanya.
6. Peter Caw filsafat ilmu adalah suatu bagian filsafat yang mencoba
berbuat bagi ilmu apa yang filsafat umumnya melakukan pada seluruh
pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal di satu pihak,
ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan
menyajikannya landasan bagi keyakinan dan tindakan di pihak lain,
filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan
sebagai suatu landasan bagi tindakan termasuk teori-teori nya sendiri
dengan harapan dan penghapusan tidak ajegan dan kesalahan. Caw
yakin bahwa melalui filsat ilmu seseoang membangun dua hal,
menyajikan teori sebagai landasan bagi keyakinan tindakan dan
memeriksa secara kritis segala sesuatu sebagai landasan bagi sebuah
keyakinan atau tindakan.
7. Alfred Cyril Ewing Filsafat ilmu menurutnya adalah salah satu bagian
filsafat yang membahas tentang logika, di mana di dalamnya
membahas tentang cara yang di khususkan metode-metode dari ilmu-
ilmu yang berlainan . Lebih lanjut menjelaskan tanfa penguasaan filsafat
ilmu, maka akan sulitlah seseorang dalam usahanya untuk memahami
tentang ilmu secara baik dan profesional.
8. The Liang Gie Merumuskan Filsafat ilmu merupakan segenap
pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal
yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan sega
la segi kehidupan manusia. Bagi Gie, filsafat ilmu bukan hanya
di pahami sebagai ilmu untuk mengetahui metode dan analisis ilmu-
ilmu lain, tetapi filsafat ilmu sebagai usaha seseorang dalam mengkaji
persoalan-persoalan yang muncul melalui perenungan yang mendalam
agar dapat diketahui duduk persoalannya secara mendasar sehingga
dapat di manfaatkan dalam kehidupan manusia

9
9. Menurut Beerling, filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri
mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh
pengetahuan tersebut. Filsafat ilmu erat kaitannya dengan filsafat
pengetahuan atau epistemologi yang secara umum menyelidiki syarat-
syarat serta bentuk bentuk pengalamn manusia juga mengenai logika
dan metodologi.
10. Jujun S, Suriasumantri menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan
suatu pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelaskan rahasia
alam agar gejala alamiah tak lagi merupakan misteri, secara garis
besar, Jujun menggolongkan pengetahuan menjadi tiga kategori umum,
yakni
1) pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk yang disebut
juga dengan etika
2) pengetahuan tentang indah dan jelek, yang disebut dengan
estetika atau seni
3) pengetahuan tentang yang benar dan salah, yang disebut
dengan logika.

2.4. Objek Filsafat Ilmu

Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang berwujud, yaitu segala
sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materi konkret, fisik, maupun yang
material abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional,
spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafat tak terbatas, yakni segala
sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Objek material filsafat adalah segala
yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak
tampak. Objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. Ada yang
tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam
metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian,
yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran dan yang ada dalam
kemungkinan.

10
Objek Material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu
pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu,
sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum. Dalam
gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Objek
material filsafat (segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat) setidaknya ada 3
persoalan pokok :
1) Hakikat Tuhan
2) Hakikat Alam
3) Hakikat Manusia.
Maka ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam
(kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan dalam
konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan).
Antropologi, kosmologi dan teologi sekalipun kelihatan terpisah akan tetapi saling
berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat
dilepaskan dari yang lain. Ada beberapa pengertian objek material filsafat, yaitu:
1. Segala bentuk pemikiran manusia tentang sesuatu yang ada dan mungkin
ada;
2. Segala persoalan pokok yang dihadapi manusia saat dia berpikir tentang
dirinya dan tempatnya di dunia;
3. Segala pengetahuan manusia serta apa yang ingin diketahui manusia.
Dalam hal ini permasalahan yang dikaji oleh filsafat meliputi:
1. Logika ( benar dan salah )
2. Etika ( baik dan buruk )
3. Estetika ( indah dan jelek )
4. Metafisika (zat dan pikiran )
5. Politik ( organisasi pemerintahan yang ideal).
Objek Formal Filsafat
Sedangkan objek formal filsafat ilmu adalah sudut pandang dari mana
sang subjek menelaah objek materialnya. Misalnya objeknya “manusia” yang
dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, di antaranya psikologi, antropologi,
sosiologi, dan sebagainya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu

11
pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem
mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana
cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia.
Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu
pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Objek
formal filsafat ilmu merupakan sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material
itu di sorot.

2.5. Problem Filsafat Ilmu


Dalam perjalanan mempelajari suatu ilmu, termasuk filsafat ilmu akan ada
masalah-masalah tertentu yang nantinya akan dibahas . Masalah-masalah yang
muncul dalam filsafat ilmu telah dibahas oleh beberapa tokoh.Dengan demikian
pembahasan mengenai problem–problem dalam filsafat ilmu ini akan membantu
kita dalam memahami problem dalam filsafat ilmu yang akan kita pelajari. Serta
akan menunjukan wawasan tentang problem-problem filsafat ilmu itu sendiri.

1.Problem Menurut Michael Berry


a. Bagaimanakah kuantitas dan rumusan dalam teori-teori ilmiah (misalnya
suatu’ciri’ dalam genetika atau momentum dalam mekanika Newton) bertalian
dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia alamiah di uar pikiran kita?
Menurut kami kuantitas dan rumusan teori ilmiah dapat berkaitan dengan
peristiwa alamiah di luar pikiran kita, sebab filsafat memberikan kepuasan kepada
keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan
kebenarannya. Dan pegetahuan itu awalnya ditemukan di luar akal dan pikiran
kita, lalu dengan seiring berjalannya waktu, rancangan itu dapat kita buktikan
dengan akal pikiran kita sesuai dengan fakta fakta yang ada. Tinggal kita yang
menafsirkan ke dalam hal positif atau negatifnya.
b. Bagaimanakah dapat dikatakan bahwa teori atau dalil ilmiah adalah ‘benar’
berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas?
Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, itulah tujuan
tertinggi dan satu-satunya, bagi manusia, berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya

12
seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni
tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam
ataupun kebenaran. Kita dapat mengamati juga dengan akal pikiran kita bahwa
analisa atau rancangan teori tersebut masuk akal atau tidak. Jika dalam teori bisa
di terima dengan akal, maka teori tersebut dapat kita nyatakan benar dengan
pengetahuan.

2.Problem menurut B. Van Fraassen dan H. Margenau


Menurut kedua ahli ini problem-problem utama dalam filsafat ilmu setelah
tahun-tahun 60-an ialah:
a. Metodologi
Hal-hal menonjol yang banyak diperbincangkan ialah mengenai sifat dasar
dari penjelasan ilmiah (scientific explanation), logika penemuan (logic of
discovery), teori probabilitas (probability theory), dan teori pengukuran (theory of
measurement).
b. Landasan ilmu-ilmu
Ilmu-ilmu empiris hendaknya melakukan penelitian-penelitian mengenai
landasannya dan mencapai sukses seperti halnya landasan matematik
c. Ontologi
Persoalan utama yang diperbincangkan ialah menyangkut konsep-konsep
substansi, proses, waktu, ruang, kausalitas, berhubungan budi dan materi, serta
status dari etitas-etitas teoritis.
Menurut filsuf ini tiga hal mendasar yang menjadi problem utama dalam
filsafat ilmu adalah metodologi, landasan ilmu, dan ontologi. Metodologi sendiri
akan menjelaskan tentang berbagai teori yang difungsikan untuk memberi arahan
pada proses penelitian. Untuk landasan ilmu sendiri lebih mendasarkan pada
pentingnya pengujian landasan ilmu yang akan dipakai sebagai acuan dalam
berbagai penelitian. Untuk bagian ontology, beliau mementingkan
membahas mengenai konsep, substansi, proses, waktu, ruang, kausalitas, budi
dan materi, serta status dari etitas teoritis.

13
3.Problem menurut David Hull
Filsuf biologi ini mengemukakan persoalan yang berikut:
“The overriding question that pervades these latter volumes (The
Foundations of Philosophy Series) is whether the traditional divisions of the
empirical sciences into separate disciplines like geology, astronomy, and
sociology reflect only differences in subject matter or result from basic differences
in methodology. In short, is there a single philosophy of science, that is equally
applicable to all areas of natural science, or are there several philosophies of
science, each appropriate in its own domain?” (Persoalan menyampingkan yang
meliputi jilid-jilid belakangan ini (seri Foundation of Philosophy) ialah apakah
pembagian tradisional dari ilmu-ilmu empiris dalam cabang-cabang pengetahuan
yang terpisah seperti geologi, astronomi, dan sosiologi mencerminkan semata-
mata perbedaan dalam pokok soal ataukah hasil dari yang berlaku merata pada
semua perbedaan pokok dalam metodologi. Secara singkat, adakah suatu filsafat
ilmu tunggal yang berlaku merata pada semua bidang ilmu kealaman, atau adakah
beberapa filsafat ilmu yang masing-masing cocok dalam ruang lingkupnya
sendiri?.

4.Problem Menurut Victor Lenzen


Filsuf ini mengajukan dua problem:
a. Struktur ilmu, yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
b. Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
Menurut Victor Lezen dua problem yang penting dibahas dalam filsafat ilmu
adalah struktur ilmu dan kegunaan ilmu dalam praktek dan pengetahuan.
Mengetahui struktur suatu ilmu akan mempermudah kita dalam memahaminya,
selain itu jika kita mengetahui strukturnya kita akan tahu kemana arah
perkembangan ilmu ini. Selanjutnya adalah ilmu dalam praktek dan pengetahuan.
Dalam melaksanakan praktek segala sesuatunya harus didasarkan pada ilmu,
tanpa ilmu hal yang kita praktekan kemungkinan tidak akan berhasil karena tidak
sesuai dengan prosedur yang ada.

14
2.6. Manfaat Belajar Filsafat Ilmu
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali manfaat belajar filsafat yang
bisa dipetik, beberapa diantaranya adalah:

1. Filsafat akan mengajarkan untuk melihat segala sesuatu secara multi dimensi
Ilmu ini akan membantu kita untuk menilai dan memahami segala sesuatu
tidak hanya dari permukaannya saja, dan tidak hanya dari sesuatu yang
terlihat oleh mata saja, tapi jauh lebih dalam dan lebih luas. Dengan kata
lain,

2. Filsafat mengajarkan kepada kita untuk mengerti tentang diri sendiri dan
dunia – Manfaat belajar filsafat akan membantu memahami diri dan sekeliling
dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.

3. Filsafat mengasah hati dan pikiran untuk lebih kritis terhadap fenomena
yang berkembang – Hal ini akan membuat kita tidak begitu saja menerima
segala sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui maksud dari pemberian yang kita
terima.

4. Filsafat dapat mengasah kemampuan kita dalam melakukan penalaran –


Penalaran ini akan membedakan argumen, menyampaikan pendapat baik lisan
maupun tertulis, melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas dan
berbeda.

5. Belajar dari para filsuf lewat karya-karya besar mereka – Kita akan
semakin tahu betapa besarnya filsafat dalam mempengaruhi perkembangan ilmu
pengetahuan, pendidikan, agama, karya seni, pemerintahan, serta bidang-bidang
yang lain.

6. Filsafat akan membuka cakrawala berpikir yang baru – Ide-ide yang lebih
kreatif dalam memecahkan setiap persoalan, lewat penalaran secara logis,
tindakan dan pemikiran yang koheren, juga penilaian argumen dan asumsi secara
kritis.

15
7. Filsafat membantu kita untuk dapat berpikir dengan lebih rasional –
Membangun cara berpikir yang luas dan mendalam, dengan integral dan koheren,
serta dengan sistematis, metodis, kritis, analitis, dan logis.

8. Filsafat akan mengkondisikan akal untuk berpikir secara radikal –


Membuat kita berpikir hingga mendasar, sehingga kita akan lebih sadar terhadap
keberadaan diri kita.

9. Filsafat membawa keterlibatan dalam memecahkan berbagai macam


persoalan – Persoalan baik yang terjadi pada diri sendiri maupun orang lain, akan
membuat kehidupan kita tidak dangkal, namun kaya akan warna.

10. Memiliki pandangan yang luas – Manfaat belajar filsafat dalam hal ini, akan
mengurangi kecenderungan sifat egoisme dan egosentrisme.

11. filsafat membantu menjadi diri sendiri – Lewat cara berpikir yang
sistematis, holistik dan radikal yang diajarkan tanpa terpengaruh oleh pendapat
dan pandangan umum.

12. Filsafat akan membangun landasan berpikir – Komponen utama baik bagi
kehidupan pribadi terutama dalam hal etika, maupun bagi berbagai macam ilmu
pengetahuan yang kita pelajari.

13. Filsafat dengan sifatnya sebagai pembebas – Manfaat belajar filsafat akan
mendobrak pola pikir yang terbelenggu tradisi, mistis, dan dogma yang menjadi
penjara bagi pikiran manusia.

14. Filsafat akan membuat kita dapat membedakan persoalan – Terutama


berbagai persoalan ilmiah dengan persoalan yang tidak ilmiah.

15. Filsafat dapat menjadi landasan historis-filosofis – Dalam hal ini, berasal
dari berbagai macam kajian disiplin ilmu yang kita tekuni.

16
BAB III
PENUTUP

3.1. SIMPULAN
Keberadaan manusia di dunia sesuunguhnya sebagai mahluk yang diciptakan
Allah SWT yang diberi kemampuan untuk berpikir (akal), sedangkan tujuan akhir
hidup manusia menurut Islam adalah mendapatkan kebahagiaan hakiki. Sebagai
mahluk yang berpikir (memiliki akal)
itulah yang menyebabkan manusia berfilsafat.
Filsafat dapat dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji
tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik
yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan
hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta
berpikir secara rasional-logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan
untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.
Sedangkan ilmu dapat dimaknai sebagai suatu metode berpikir secara obyektif
dalam menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia fuktual dan berprinsip
untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang membahas tentang ilmu. Tujuan
filsafat ilmu adalah mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara
bagaimana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan
tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian
filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri.
Tujuan mempelajari filsafat ilmu pada dasarnya adalah untuk memahami
persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian
ilmiah dengan cermat dan kritis.

3.2. SARAN
Dengan terselesainya makalah ini, diharapkan manusia mulai berfilsafat,
maksudnya berpikir dengan teliti dan teratur untuk memecahkan problem-problem
dan memandang permasalahannya dari sudut yang hakiki. Maka dari itu pada
hakekatnya, filsafat mengemukakan pandangan-pandangan yang bersifat akar dari

17
ilmu yang lain. Namun disamping itu antara ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lain
terdapat kesamaan-kesamaan sifat, yaitu bahwa semuanya tertarik pada
pengetahuan dan masing-masing adalah lapangan yang mengadakan pemeriksaan
dan penemuan, mempunyai objek, metode penelitian dan sistem. Sehingga filsafat
merupakan induk dari pengetahuan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum; Jakarta: Rajawali Prees,2010.

Putra, Suhartono Taat. Filsafat Ilmu; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Http://chan22.blogspot.com/2013/10/Pengertian-filsafat-serta-objek-
ruang.html (Selasa, 27 Oktober 2014).

Http://objekfilsafat.blogspot.com/2013/06/objek-filsafat.html (Selasa, 27 Oktober


2014).

Http://www.slideshare.net/omabeeb/makalah-filsafat-umum, (Selasa, 27 Oktober


2014).

Http://adelaistanto.blogspot.com/2013/01/filsafat-objek-filsafat-ilmu.html, (Selasa,
27 Oktober 2014).

Http://ayinosa31.wordpres.com/2010/03/29/ciri-ciri-sifat-dasar-filsafat.html
(Minggu, 02 November 2014).

Http;//kajed-alhikmahkajen.blogspot.com/2010/07/filsafat.html (Minggu, 02
November 2014).

Http://atumaryamiraqiyah.wordpress.com/makalah.html (Minggu, 02 November


2014)

19