KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
ACARA IV : FILUM BRACHIOPODA DAN MOLLUSCA
LAPORAN
OLEH
MUHAMMAD ISHAR YASRI
D0611181017
GOWA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Brachiopoda adalah Bivalvia yang berevolusi pada zaman awal periode
Cambrian yang masih hidup hingga sekarang yang merupakan komponen penting
organisme benthos pada zaman Paleozoikum. Brachiopoda berasal dari bahasa latin
brachium yang berarti lengan (arm), poda yang berarti kaki (foot). Brachiopoda
artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan sebagai kaki
dan lengan atau dengan kata lain binatang yang tangannya berfungsi sebagai kaki.
Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari bentik invertebrates. Hingga
saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu bertahan dan
sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai. Mereka sering kali disebut dengan “lampu
cangkang” atau lamp shell. Brachiopoda adalah hewan laut yang hidup dalam
setangkup cangkang yang terbuat dari zat kapur atau zat tanduk. Mereka biasanya
hidup menempel pada substrat dengan semen langsung atau atau dengan tangkai
yang memanjang dari ujung cangkang. Mereka sering dikira kerang karena
mempunyai setangkup cangkang . tetapi cangkang hewan ini menghadap dorso-
ventral (atas-bawah), sedangkang cangkang kerang lateral (kiri-kanan).
Brachiopoda memiliki kemiripan yang berbeda dengan mollusca jenis bivalvia
dimana pada bagian tubuhnya terlindungi secara eksternal oleh sepasang convex
yang dikelompokkan kedalam cangkang yangdilapisi dengan permukaan yang tipis
dari priostracum organic, yang berkisar hingga 100 tahun yang lalu (invertebrate
palacontologi). Secara umum brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang
sangat melimpah keberadaannya pada sedimen yang berasal dari zaman
paleozoikum. Salah satu kelasnya, yaitu Inartikulata bahkan menjadi penciri
penting (fosil index) zaman Cambrian awal
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini antara lain :
1. Praktikan dapat mengetahui jenis-jenis Filum Brachiopoda dan Mollusca
2. Praktikan dapat mengetahui bentuk-bentuk fosil
3. Praktikan dapat mengetahui manfaat fosil.
1.2.2 Manfaat
Manfaat dari dilaksanakannya praktikum ini agar praktikan mampu
mengenali dan memahami fosil serta mampu mendeskripsi fosil dari segi
taksonomi, proses pemfosilannya, lingkungan pengendapannya serta umur
geologinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi dan Anatomi Filum Brachiopoda
Lophoporates Coelomate, Enterocoelic.
Tubuh tertutup oleh 2 cangkang, satu kea rah Dorsal dan yang lainnya ke
arah Ventral (Bilvalve).
Biasanya melekat pada substrat dengan Pedicile.
Cangkang dilapisi oleh mantel yang dibentuk oleh pertumbuhan dinding
tubuh dan membentuk rongga mantel.
Lophorpe membentuk kumparan dengan atau tanpa didukung oleh Skeletel
Internal.
Usus berbentuk U.
Mempunyai satu atau sepasang Metanefridia.
System peredaran darah terbuka.
Sebagian besar Diocious, larve disebut Lobate.
Ganate berkembang dari jaringan Gonad pada Peritonium.
Hidup soliter sebagai oganisme bentik di laut (Djauhari. 2009).
Gambar 2.1 Eksternal dan Internal Anatomi Filum Brachiopoda
2.2 Cara Hidup Filum Brachiopoda
Secara umum, cara hidup Brachiopoda meliputi tempat atau lingkungan dia
tinggal, cara dia beradaptasi atau hidup dengan lingkungannya, cara makannya, dan
cara reproduksinya. Berbagai macam poin yang mencirikan cara hidup dari
Brachiopoda adalah sebagai berikut :
Hidup di air laut: Bentos sesil.
Brachiopoda hidup tertambat (benthos secyl) di dasar laut, lewat suatu
juluran otot yang disebut pedicle.
Ada yang hidup diair tawar, namun sangat jarang.
Untuk memenuhi kebutuhan makanan dan oksigen, Brachiopoda
mempunyai Lophophore yang berfungsi menggerakkan air di sekitarnya,
sehingga sirkulasi oksigen ke dalam dan ke luar tubuh dapat berlangsung.
Begitu pula dengan makanan.
Mampu hidup pada kedalaman hingga 5.600 meter secara benthos sessil.
Genus Lingula hanya hidup pada daerah tropis/hangat dengan kedalaman
maksimal 40 meter.
Hingga saat ini diketahui memiliki sekitar 300 spesies dari Brachiopoda.
Brachiopoda modern memiliki ukuran cangkang rata-rata dari 5mm hingga
8 cm.
Kehadiran rekaman kehidupannya sangat terkait dengan proses Bioconose
dan Thanathoconose.
Cara reproduksi Brachiopoda adalah terpisah antara jantan dan betina.
Fertilisasi secara ekternal.
Sebagian ada yang “mengandung” dan melahirkan larva lobate (Djauhari.
2009).
Gambar 2.2 Cara Hidup Secyl (Tertambat) Gambar 2.3 Lophophore
Gambar 2.4 Cara Makan Brachiopoda
Gambar 2.5 Valve Brachiopoda
Gambar 2.6 Perkembangan Valve
2.3 Klasifikasi Filum Brachiopoda
Klasifikasi Fillum Brachiopoda dibagi menjadi 2 kelas yaitu klas
Artikulata/Phygocaulina dan klas Inartikulata/Gastrocaulina
2.3.1 Klas Artikulata/Phygocaulina
Klas Articulata / Pygocaulina mempunyai ciri cangkang atas dan bawah
(valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput dan gigi. Memiliki masa
hidup dari zaman Cambrian hingga ada beberapa spesies yang dapat bertahan hidup
sampai sekarang seperti anggota dari ordo Rhynchonellida dan ordo Terebratulida.
Berikut adalah ciri-ciri dari Klas Articulata :
a. Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot.
b. Cangkang umunya tersusun oleh material karbonatan.
c. Tidak memiliki lubang anus.
d. Memiliki keanekaragaman jenis yang besar.
e. Banyak berfungsi sebagai fosil index.
f. Mulai muncul sejak Zaman Kapur hingga saat ini (Djauhari. 2009).
Gambar 2.7 Morfologi Internal Brachiopoda
Gambar 2.8 Morfologi eksternal Brachiopoda
a. Ordo Ortida (Kambrium- Permian)
Engsel panjang lebih kecil dari lebar cangkang umumnya setengah
lingkaran.Pembukaan rahang bunga biasanya segitiga. Catup cangkang dapat
tertutup dengan sempurna.Terbentuk pada zaman cambrian. memiliki sepasang
cangkang sangat biconvex dan “straight hinge line”. Impunctate shell = tidak
terdapat indikasi perforasi sama sekali.
Terdapat 2 subordor:
Orthacea (impunctate): Orthis dan Platystrophia (Ordovisium).
Dalmanellacea (punctate): Dalmanella (Ordovisium ~ Devonian)
b. Ordo Strophomenidina (Ordovicium-Jura)
Cangkang berukuran besar.Bagian katupnya planoconvex atau concaconvex
umunya cembung ganda.Stuktur cangkang berupa batang tegak lurus, kalsit kecil
pada permukaan cangkang.Dibagi dalam tiga Sub Ordo yaitu:
SubOrdo Strophomenidina
Cangkang berbentuk setengah lingkaran dan katup atau cangkang
tipis.Hinge line lurus, hiasan bersifat radial berupa costellae
halus.Cangkangnya pseudopunctate (cangkangnya tidak perforate/pori
tetapi terdapat bentuk-bentuk kanal yang disebut taleolae),Umumnya salah
satu cangkangnya cekung (brachial valve) dan cangkang lainnya cembung
dengan radial ribs. Genus:Sowerbyella dan Rafinesquina.
SubOrdo Chonetidina
Bentuk setengah lingkaran.Memiliki duri di bagian belakang pedickel.
Sub Ordo Productidina
Memiliki bentuk concavo cembung dengan duri dibelakang
pedickel.Biasanya terdapat di dasar perairan berlumpur (Djauhari. 2012)
c. Ordo: Pentamerida
Ordo Pentamerida ini juga merupakan turunan langsung dari Ordo Orthida
dimana cangkangnya juga bersifat impunctate. Umumnya berukuran besar dan
sangat biconvex, memiliki hinge-line yang pendek dan delthyrium yang terbuka.
Kisaran umurnya adalah Ordovisium ~ Perm (Djauhari. 2012).
d. Ordo: Rhynchonellida
Genus ini memiliki cangkang impunctate (tidak memiliki perforasi) dan fibrous,
spherical dan hinge line yang pendek. Umumnya dilengkapi dengan sulcus (lubang
pembuangan) dan lipatan yang berbentuk paruh yang menonjol pada pedicle valve
(rostrate). Diperkirakan merupakan turunan dari Pentamerida sebagai nenek
moyangnya (ancestor).Pertamakali muncul pada Ordovisium Tengah dan mencapai
puncak penyebarannya pada Mesozoikum (Djauhari. 2012).
e. Ordo: Spiriferida
Ordo Spiriferida ini adalah kelompok fosil Brachiopoda yang terbesar dan
penting, dimana sebagian besar cangkangnya bersifat impunctate dan sebagian
kecil bersifat punctuate. Memiliki radial ribbed atau cangkang yang terlipat (folded
shell) dan bersifat “strongly biconvex”. Biasanya terdapat “interarea” yang mudah
teramati (well developed interarea) pada pedicle valve, tetapi tidak terdapat pada
brachial valve. Penyebaran vertical ordo ini adalah Ordovisium Tengah ~ Permian
Atas, ada beberapa yang berhasil survive sampai Lias (Djauhari. 2012).
f. Ordo: Terebratulida
Secara umum cangkangnya bersifat punctate (terdapat kanal-kanal kecil yang
menerus sampai permukaan cangkang), permukaan cangkang relatif licin (smooth),
hinge line relatif pendek, foramen (lubang) berbentuk bundar pada bagian paruh.
Diasumsikan merupakan turunan dari Kelompok Dalmanellacea (Ordo Orthida).
Pemunculan pertama-nya diketahui sejak Silur Atas dan mencapai puncak
perkembangannya pada Zaman Kapur (Djauhari. 2012).
2.3.2 Klas Inartikulata/Gastrocaulina
Dicirikan dengan cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan
dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput
pengikat.
Berikut ini adalah ciri-ciri dari klas Inarticulata :
a. Tidak memiliki gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line).
b. Pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati
cangkang akan terpisah.
c. Cangkang umunya berbentuk membeulat atau seperti lidah, tersusun oleh
senyawa fosfat atau khitinan.
d. Mulai muncul sejak Jaman Cambrian awal hingga sekarang (Asisten-asisten
Paleontologi. 2013).
Gambar 2.9 Morfologi Inartikulata (Lingula)
Gambar 2.11 Fosil Inartikulata
Gambar 2.12 Morfologi Internal Lingula
Pembagian Ordo dalam Kelas Inarticulata :
a. Ordo Lingulida
katu kecil memanjang.Genus Lingula terdapat hampir di seluruh dunia dan
mulai ada sejak Ordovisium.
b. Ordo Acrotretida (Inarticulata)
Pedicle valve umumnya “conicle”, “circular” relief tinggi sampai datar,
brachial valve datar (flat). Contoh : Orbiculoida : Ordovisium – Kapur
(Asisten-asisten Paleontologi. 2013).
2.4 Rekaman Filum Brachiopoda dalam Sekala Waktu Geologi
Filum Brachiopoda (Cambrian-Recent) :
Kelas Inarticulata (Cambrian-Recent), skala waktu geologi pada klas
Inarticulata, antara lain :
Ordo Lingulida (Ordovisium)
Ordo Acrotretida (Ordovisium-Kapur)
Kelas Articulata (Cambrian-Recent), skala waktu geologi pada klas
Articulata,antara lain :
Order Orthida (Cambrian-Permian)
Order Strophomenida (Ordocivian-Jurassic)
Order Pentamerida (Cambrian-Devonian)
Order Rhynchonellida (Ordovician-Recent)
Order Spiriferida (Ordovician-Jurassic)
Order Terebratulida (Devonian-Recent)
Pada akhir Zaman Permian, terjadi kepunahan masal yang melibatkan hampir
semua golongan Brachiopoda. Hanya sedikit takson yang selama, seperti golongan
Trebratulid dan Lingula, dan masih terdapat hingga masa kini (Holosen).
Brachiopoda masa kini selalu ditemukan dalam keadaan tertambat dengan
menggunakan pedikelnya, baik pada batuan keras maupun cangkang binatang yang
telah mati (Asisten-asisten Paleontologi. 2013).
2.5 Fosil Brachiopoda dan Kegunaannya dalam Geologi
Kegunaan fosil Brachiopoda ini yaitu sangat baik untuk fosil index (index
fossil) untuk strata pada suatu wilayah yang luas. Brachiopoda dari kelas
Inarticulata; genus Lingula merupakan penciri dari jenis brachiopoda yang paling
tua, yaitu Kambrium Bawah. Jenis ini ditemukan pada batuan Kambrium Bawah
dengan kisaran umur 550 juta tahun yang lalu. Secara garis besar, jenis filum
Brachiopoda ini merupakan hewan-hewan yang hidup pada Masa Paleozoikum,
sehingga kehadirannya sangat penting untuk penentuan umur batuan sebagai index
fossil.
2.6 Mollusca
Mollusca dari bahasa Latin yaitu molluscus yang berarti lunak, Jadi Molusca
merupakan hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak.Kedalamnya
termasuk semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang.
Filum mollusca telah ribuan yang telah menjadi fosil, mollusca memiliki
spektrum penyebaran biogeografi yang amat luas,mulai dari lingkungan akuatis
(laut,payau,tawar) sampai dengan lingkungan terrestris (darat) merupakan jenis
Kingdom animalia yang paling sintas sepanjang waktu geologi,sehingga banyak
digunakan sebagai fosil indeks. Ciri-ciri Mollusca :
1. Merupakan kelas terbesar dalam Filum Mollusca.
2. Hidupnya di air laut (Marine),dan air payau (Brackish).
3. Rumahnya terdiri dari satu cangkang yang terputar memanjang melalui satu
sumbu.
4. Tubuhnya terdiri dari kepala,kaki,dan alat pencernaan.
5. Kepala dilengkapi dengan alat pengunyah yang disebut rongga mantel
(berfungsi sebagai insang pada air laut dan berfungsi sebagai paru-paru pada
lingkungan terestris).
6. Cangkang (test) terdiri dari zat gampingandan terpilin secara spiral
mengikuti satu garis lurus (Putaran Involut,dan Evolut).
7. Arah putaran cangkang terdiri dari Dekstral (searah jarum jam),yang
menunjukkan hidup di Iklim Panas dan Sinistral (berlawanan arah jarum
jam),yang menunjukkan hidup di Iklim Dingin.
Gambar 2.1 Fosil dari filum mollusca
2.6 Klasifikasi Fillum Mollusca
2.6.1 Kelas Pelecypoda
Berasal dari bahasa Yunani yaitu Pelekys yang berarti kapak kecil
dan Pous yang berarti kaki, Jadi Mollusca adalah binatang yang mempunyai kaki
yang mirip kapak kecil disebut juga Lamellibranchia yang berarti lempeng kecil.
Binatang dari Phylum ini memilki insang, test dari kulit kerang (bivalve)
dimana dua valve ini dihubungkan dengan sistem engsel yang terdiri dari gigi &
socket. Bagian dalam test ini dilapisi oleh membrant yang tipis dimana kearah
posteior kulit mantel dapat membentuk saluran-saluran
Pada umumnya, Pelecypoda yang hidup di lumpur mempunyai siphon yang
lebih besar dibandingkan yang hidup di laut. Klasifikasi Pelecypoda didasarkan
pada bagian tubuh tertentu, yaitu insang, susunan gigi dan otot penutup kelopaknya.
Bentuk gigi yang sederhana telah dijumpai pada zaman Ordovisium & terjadi
evolusi. Kerang, tiram, simping termasuk dalam kelas ini. Hewan ini mempunyai
dua buah cangkang yang melindungi tubuh (cangkang setangkup). Pelecypoda
simetri billateral, tapi tidak dapat bergerak dengan cepat. Hewan ini bergerak
dengan menjulur kan kaki otot yang besar melelui celah antara dua cangkang.
Semua anggota kelas ini memperoleh makanan dengan menyaring makanan dari air
yang masuk kedalam rongga mantel. Adapun pembagian ordo dalam kelas ini
adalah sebagai berikut :
1. Ordo Taksodonta yaitu yang mempunyai kisaran umur Ordovisium-Resen,
mempunyai gigi yang hampir sama besar dan berjumlah 35 buah
2. Ordo Anisomyariazyaitu yang mempunyai kisaran umur Ordovisium-Resen.
Mempunyai dua muscle scar, dimana muscle scar bagian belakang (posterior)
lebih besar dari anterior, serta mempunyai gigi dan socket dua buah
3. Ordo Eulamellibranchiata yaitu yang mempunyai anterior muscle scar yang
lebih kecil dari posterior muscle scar, tetapi umumnya sama besar dimana gigi
dan susunan giginya tidak sama besar.
Gambar 2.2 Fosil Pelecypoda
2.6.2 Kelas Gastropoda
Gastropoda berasal dari kata Gaster yang berarti perut dan podos yang berarti
kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut
yang dalam hal ini disebut kaki. Gastropoda adalah hewan hemafrodit, tetapi tidak
mampu melakukan autofertilisasi. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot
(Achatina fulica), siput air tawar (Lemnaea javanica), siput laut (Fissurella sp), dan
siput perantara fasciolosis (Lemnaea trunculata).
Gambar 2.3 Fosil Gastropoda
Gastropoda merupakan kelas yang terbesar dari moluska. Siput dan siput tak
bercanggkang termasuk dalam kelas ini. Siput bercanggkang tunggal dan spiral.
Siput dewasa tidak menunjukan simetri bilateral tetapi larvanya simetri bilateral.
Gastropoda mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Hidup di air laut & air payau
b. Rumahnya terdiri dari satu test yang terputar (terpilin) memanjang melalui satu
sumbu
c. Tubuhnya terdiri dari kepala, kaki dan alat pencernaan
d. Kepala dilengkapi dengan alat pengunyah yang disebut rongga mantel
(berfungsi sebagai insang pada air laut & berfungsi sebagai paru-paru pada
lingkungan darat
e. Test terdiri dari zat gampingan dan terputar secara spiral melalui satu garis lurus
(putaran involut & evolut)
f. Arah putaran test gastropoda terdiri dari Dextral (searah jarum jam) & Sinistral
(berlawanan putaran jarum jam).
Gastropoda mempunyai lidah yang panjang dan sempit yang ditutupi deretan
gigi kecil. Lidahnya disebut radula. Hewan ini mempunyai kepala dan dua pasang
tentakel. Pada ujung tentakel terdapat mata. Sebagian besar spesies gastropoda
hidup di laut tetapi beberapa hidup di air tawar bahkan ada yang hidup di darat.
Yang hidup di darat bernafas dengan paru-paru. Siput tak bercangkang dapat
ditemukan di laut dan di darat. Warna siput darat sederhana namun siput tak
bercangkang yang hidup di laut kebanyakan berwarna menyolok dan indah.
Beberapa jenis gastropoda dapat dimakan. Kebanyakan siput laut memakan
pelecypoda. Bekecot termasuk gastropoda yang merugikan pertanian. Berberapa
siput merupakan inang perantara bagi cacing.
Klasifikas Gastropoda :
1. Subclass Protogastropoda ;
a. Ordo Cynostraca
b. Ordo Cochliostracea
2. Subclass Prosobranchia ;
a. Ordo Archaeogastropoda
b. Ordo Mesogastropoda
c. Ordo Neogastropoda
3. Subclass Opisthobranchia ;
a. Ordo Pleurocoela
b. Ordo Pteropoda
4. Subclass Pulmonata ;
a. Ordo Basommatopora
b. Ordo Stylommatophora
2.6.2.1 Kepentingan Gastropoda Dalam Geologi Khususnya Stratigrafi
Gastropoda berkembang cukup baik di daerah tropis. Beberapa spesies akan
mencirikan lapisan tertentu.Gastropoda penting untuk digunakan sebagai fosil
indeks dalam kajian biostratigrafi.Gastropoda berkembang cukup baik di daerah
tropis.Beberapa spesies mencirikan lapisantertentu.didasarkan atas fosil indeks
gastropoda.
2.6.3 kelas Cepalophoda
Cephalopoda, berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari katacephale yang
berarti kepala dan podos yang berarti kaki. Jadi Cephalopoda adalah Mollusca yang
berkaki di kepala. Contoh dari Klas ini yaitu Cumi-cumi dan sotong yang memiliki
10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek, yang
termasuk kelas ini misalnya gurita, cumi-cumi, dan nautilus. Hewan ini mempunyai
kepala yang besar dan bermata sangat tajam. Pada kepala terdapat tangan-tangan
(delapan pada gurita dan sepuluh pada cumi-cumi) yang berguna untuk pergerakan
dan mencari mangsa. Mata cephalophoda dapat melihat dan berfungsi seperti
vertebrata. Hanya Nautilus lah yang bercangkang. Cangkang cumi-cumi kecil
berupa lempengan yang melekat pada mantel sedangkan gurita tidak bercangkang.
Gambar 2.4 fosil cephalopoda
2.6.4 Kelas Scapolopoda
Scaphopoda merupakan kelas terkecil dari moluska. Hewan ini mempunyai
kebiasaan membenamkan diri di pasir pantai. Dentalium vulgare adalah salah satu
contoh kelas Scaphopoda. Jika Anda berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan
cangkang jenis Scaphopoda ini. Karena biasanya hewan ini tumbuh di batu atau
benda laut lainnya yang berbaris menyerupai taring. Dentalium vulgare hidup di
laut dalam pasir atau lumpur. Hewan ini juga memiliki cangkok yang berbentuk
silinder yang kedua ujungnya terbuka. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 sampai dengan
5 cm. Dekat mulut terdapat tentakel kontraktif bersilia, yaitu alat peraba. Fungsinya
untuk menangkap mikroflora dan mikrofauna. Sirkulasi air untuk pernafasan
digerakkan oleh gerakan kaki dan silia, sementara itu pertukaran gas terjadi di
mantel.
2.2.5 Kelas Amphineura
Hewan Mollusca kelas Amphineura ini hidup di laut dekat pantai atau di pantai.
Tubuhnya bilateral simetri, dengan kaki di bagian perut (ventral) memanjang.
Ruang mantel dengan permukaan dorsal, tertutup oleh 8 papan berkapur, sedangkan
permukaan lateral mengandung banyak insang Hewan ini bersifat hermafrodit
(berkelamin dua), fertilisasi eksternal (pertemuan sel teur dan sperma terjadi di luar
tubuh). Contohnya Cryptochiton sp atau kiton. Hewan ini juga mempunyai fase
larva trokoper.
Neopilina disebut fosil hidup karena sebelum ditemukan pada tahun 1957
hewan ini dianggap sudah punah sejak jutaan tahun yang lalu. Moluska ini sangat
menarik perhatian karena di samping memiliki sifat-sifat moluska bagian dalamnya
beruas-ruas. Karena susunan yang beruas-ruas seperti Annelida dianggap bahwa
annelida-annelida dan moluska mempunyai kerabat yang dekat.
Gambar 2.5 Amphineura
2.7 Kegunaan Fosil Mollusca
Fosil dalam filum Mollusca berperan penting dalam bidang Geologi, salah satu
fosil yang sering digunakan dalam penelitian adalah fosil dari kelas
Gasteopoda.Kelas Gastropoda dapat dijadikan sebagai fosil indeks dikarenakan
lebih dari 14.000 spesiesnya telah punah dan sebagian terawetkan menjadi fosil.
Fosil berguna sebagai indikator umur geologi suatu batuan. Walaupun lebih sering
digunakan fosil mikro untuk penentuan korelasi biostratigrafi, namun keterdapatan
fosil makro juga berperan dalam penentuan umur geologi sedimen. Untuk dapat
digunakan sebagai acuan korelasi biostratigrafi, fosil yang digunakan harus tersebar
luas secara geografis, sehingga dapat berada pada bebagai horizon berbeda. Mereka
juga harus berumur pendek sebagai spesies, sehingga periode waktu dimana mereka
dapat tergabung dalam sedimen relatif sempit, semakin lama waktu hidup spesies,
semakin tidak akurat korelasinya, sehingga fosil dapat berevolusi dengan cepat.
banyak spesies kelas gastropoda yang berumur pendek dan telah punah sehingga
terkualifikasi untuk dijadikan sebagai acuan biostratigrafi. Organisme ini biasanya
terawetkan dengan cara fragmen, yaitu organisme kelas gastropoda yang mati
kemudian bagian lunaknya terurai sehingga hanya akan menyisakan fragmen
bagian keras organisme berupa cangkang, organisme ini juga dapat mengalami
pengawetan dengan cara moldapabila bagian cangkangnya tercetak pada suatu
lapisan sedimen atuapun cast jika cetakan tersebut terisi oleh material lain.
Fosil gastropoda juga dapat digunakan sebagai penentu lingkungan
pengendapan suatu sedimen. Lingkungan pengendapan adalah suatu daerah di
permukaan litosfer, baik diatas maupun dibawah permukaan laut, yang dicirikan
oleh serangkain ciri kimia, fisika dan biologi yang khusus. Penentuan lingkungan
pengendapan sedimen didasarkan dari kebiasaan hidup organisme kelas gastropoda
yang dapat berdomisili di laut dalam, laut dangkal, darat, maupun perairan tawar.
Apabila dijumpai fosil gastropoda dengan kelimpahan tinggi maka dapat di
interpretasiakn lingkungan pengendapan sedimen tersebut adalah zona laut dangkal
yang hangat, terang, terkena cahaya matahari serta energy arus yang tidak terlalu
kuat. Organisme gastropoda yang memiliki cangkang dengan ukuran relatif besar,
dinding cangkang tebal serta hiasan cangkang yang kompleks biasanya hidup pada
lingkungan laut dangkal sehingga apabila ditemukan sedimen dengan kandungan
fosil gastropoda yang memiliki ciri-ciri cangkang tersebut maka dapat
diindikasikan lingkungan pengendapannya termasuk zona laut dangkal yang jenuh
akan senyawa karbonat.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Metodologi
Metode yang akan digunakan dalam praktikum pengenalan fosil ini yaitu
metode pendeskripsian sampel fosil secara langsung didalam laboraturium
paleontologi.
3.2 Tahapan Praktikum
Adapun tahapan-tahapan praktikum yang akan dilaksanakan sebagai berikut:
1.2.1 Tahapan Pendahuluan
Pada tahapan ini kami mengikuti atau melaksanakan asistensi acara yang
pada saat itu telah diberikan beberapa materi singkat mengenai acara yang akan
dipraktikumkan serta cara pendeskripsian fosil. Selain itu, kami juga diberi tugas
pendahuluan yang berupa subbab-subbab untuk laporan berdasarkan studi pustaka
atau literatur.
1.2.2 Tahapan Praktikum
Pada tahap kali ini kami akan melaksanakn responsi sebelum memulai
praktikum, responsi digunakan untuk mengetes seberapa jauh pemahaman
praktikan tentang praktikum yang akan di praktikkan, setelah melaksanakan
responsi dimulailah praktikum dimana akan diberikan suatu sampel fosil lalu
dideskripsikan dan dituliskan pada lembar kerja praktikum.
1.2.3 Analisis Data
Pada tahapan ini kami akan melakukan analisis data yang telah
dideskripsikan pada saat praktikumkemudian setelah itu kami mengasistensikan
kepada asisten.
1.2.4 Pembuatan Laporan
Pada tahapan ini kami membuat laporan berdasarkan dari analisis data yang
telah kami asistensikan sehingga menghasilkan laporan praktikum.
TAHAPAN PENDAHULUAN
TAHAPAN PRAKTIKUM
ANALISIS DATA
PEMBUATAN LAPORAN
Gambar 3.1Flow Chart Tahapan Praktikum
3.3 Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat praktikum ini yaitu adalah:
1) Buku penuntun
2) Literature
3) Lap kasar
4) Lap halus
5) Hcl
6) Alat Tulis Menulis (ATM)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Minatothyris concentrica var.tumida KAYSER
Gambar 4.1 Minatothyris concentrica var.tumida KAYSER
Fosil dengan nomor peraga 471 berasal dari filum Mollusca, kelas
Pelecypoda, ordo Rhynchonellida, family Minatothyrisidae, genus Minatothyris
dan memiliki nama spesies yaitu, Minatothyris concentrica var.tumida KAYSER
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah Permineralisasi.
Artinya, sebagian bagian tubuh organisme tersebut tergantikan oleh mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah biconveks yang merupakan salah satu bentuk
fosil yang berbentuk kerang atau dua bagian cangkang. Adapun bagian tubuhnya
terdiri dari Test, Commissure, Pedical Valve, Hinge Line, Umbo, dan Brachial
Valve
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Zaman Devon Tengah ( 370-360
juta tahun yang lalu)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya adalah, penentu umur relatif batuan,
sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau, ataupun sebagai penunjuk
rekonstruksi paleogeografi.
4.2 Pseudasteroceras stellaeformis GUMB
Gambar 4.2 Pseudasteroceras stellaeformis GUMB
Fosil dengan nomor peraga 1590 ini berasal dari Mollusca, kelas
Chepalopoda, ordo Nautilida, family Pseudasterocerasidae, genus
Pseudasteroceras, dan memiliki nama spesies yaitu, Pseudasteroceras stellaeformis
GUMB
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah Replacement.
Artinya, seluruh bagian tubuh organisme tersebut tergantikan oleh mineral fosfat
dan sulfida.
Bentuk tubuh fosil ini ialah Radial yang merupakan salah satu bentuk fosil
yang bentuknya seperti melingkar. Adapun bagian tubunya terdiri dari Septa,
Suture, Aperture, dan Umblicus.
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Jura Tengah (± 176-160 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya adalah, penentu umur relatif batuan,
sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau, ataupun sebagai penunjuk
rekonstruksi paleogeografi.
4.3 Glycymeris philippi
Gambar 4.3 Glycymeris philippi
Fosil dengan nomor peraga 1942 ini berasal dari filum Mollusca, kelas
Pelecypoda, ordo Arcoida, family Glycymerisidae, genus Glycymeris, dan
memiliki nama spesies yaitu, Glycymeris philippi
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut terjadi pergantian sebagian dari seluruh tubuhnya oleh
mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah conveks yang merupakan salah satu bentuk fosil
yang menyerupai kerang atau satu cangkang. Adapun bentuk tubuhnya yaitu, Hinge
Line, Pedival Valve, Test, Growth Line, dan Commissure
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Oligosen Bawah (± 33-22.5 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya adalah, penentu umur relatif batuan,
sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau, ataupun sebagai penunjuk
rekonstruksi paleogeografi.
4.4 Lycophoria nucella DALLMAN
Gambar 4.4 Lycophoria nucella DALLMAN
Fosil dengan nomor peraga 89 ini berasal dari filum Brachiopoda, kelas
Artikulata, ordo Orthida, family Lycophorianidae, genus Lycophoria, dan memiliki
nama spesies yaitu, Lycophoria nucella DALLMAN
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah Permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut mengalami pergatian sebagian anggota tubuh oleh mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah biconveks yang merupakan salah satu bentuk
fosil yang berbentuk kerang atau dua bagian cangkang. Adapun bagian tubuhnya
terdiri dari Test, Commissure, Pedical Valve, Pedical Opening, Beak, dan Brachial
Valve
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam zaman Ordovisum (± 500-450 Ma)
` Kegunaan dari fosil ini diantaranya adalah, penentu umur relatif batuan,
sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau, ataupun sebagai penunjuk
rekonstruksi paleogeografi.
4.5 Acrospirifer speciosus BRONN
Gambar 4.5 Acrospirifer speciosus BRONN.
Fosil dengan nomor peraga 256 ini berasal dari filum Brachiopoda, kelas
Artikulata, ordo Spiriferida, family Acrospiriferidae, genus Acrospirifer, dan
memiliki nama spesies yaitu, Acrospirifer speciosus BRONN.
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah Permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut mengalami pergatian sebagian anggota tubuh oleh mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah biconveks yang merupakan salah satu bentuk
fosil yang berbentuk kerang atau dua bagian cangkang. Adapun bagian tubuhnya
terdiri dari Test, Sulcus, Commissure, Pedical Valve, Pedical Opening, Beak, dan
Brachial Valve
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Devon Tengah (± 370-360 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya adalah, penentu umur relatif batuan,
sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau, ataupun sebagai penunjuk
rekonstruksi paleogeografi.
4.6 Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Gambar 4.6 Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Fosil dengan nomor peraga 819 ini berasal dari filum Mollusca, kelas
Schapopoda, ordo Belemnitida, family Belemnitellanidae, genus Belemnitella, dan
memiliki nama spesies yaitu, Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut mengalami pergatian sebagian anggota tubuh oleh mineral
lain.
Bentuk tubuh fosil ini ialah konikal yang merupakan salah satu bentuk fosil
yang seperti berbentuk kerucut. Adapun bagian tubuhnya yaitu, Endoderm,
Esksoderm, dan Test
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam zaman Kapur Atas (± 100-66 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya untuk menentukan umur relatif dan
membuktikan adanya kehidupan di masa lampau.
4.6 Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Gambar 4.6 Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Fosil dengan nomor peraga 819 ini berasal dari filum Mollusca, kelas
Schapopoda, ordo Belemnitida, family Belemnitellanidae, genus Belemnitella, dan
memiliki nama spesies yaitu, Belemnitella mucronata (SCHLOTH)
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut mengalami pergatian sebagian anggota tubuh oleh mineral
lain.
Bentuk tubuh fosil ini ialah konikal yang merupakan salah satu bentuk fosil
yang seperti berbentuk kerucut. Adapun bagian tubuhnya yaitu, Endoderm,
Esksoderm, dan Test
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam zaman Kapur Atas (± 100-66 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya untuk menentukan umur relatif dan
membuktikan adanya kehidupan di masa lampau.
4.7 Tympanotonos margaritaceus (BROCCHI)
Gambar 4.7 Tympanotonos margaritaceus (BROCCHI)
Fosil dengan nomor peraga 1959 ini berasal dari filum Mollusca, kelas
Gastrophoda, ordo Sorbeoconcha, family Tympanotonosidae, genus
Tympanotonos, dan memiliki nama spesies yaitu Tympanotonos margaritaceus
(BROCCHI)
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut terbentuk dari organisme yang tergantikan sebagian anggota
tubuhnya oleh mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah konikal yang merupakan salah satu bentuk fosil
yang seperti berbentuk kerucut. Adapun bagian tubuhnya yaitu, Suture, One whorl,
Columella, Callus, Inner lip, Outer lip, Aperture, Siphonal Canal, Spire, Last
Whorl, dan Body Whorl
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi (gelembung-
gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia dari fosil ini
adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui bahwa
lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan berdasarkan
skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Miosen Bawah (± 22,5-15 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya, membantu dalam penentuan
lingkungan pengendapan, dan membantu dalam penentuan umur batuan.
4.8 Punctospirifer scrabicosta NORTH
Gambar 4.8 Punctospirifer scrabicosta NORTH
Fosil dengan nomor peraga 904 ini berasal dari filum Brachiopoda, kelas
Artikulata, ordo Spiriferida, family Punctospiriferidae, genus Punctospirifer, dan
memiliki nama spesies yaitu Punctospirifer scrabicosta NORTH
Untuk menjadi fosil, setiap organisme harus mengalami kematian terlebih
dahulu. Setelah melewati tahap kematian setiap organisme mengalami pembusukan
oleh bakteri pembusuk dimana bagian yang terlebih dahulu mengalami
pembusukan dan pelarutan ialah jaringan lunak (daging, dan otot). Untuk menjadi
fosil, bagian yang terfosilkan ialah bagian tubuh yang awet seperti jaringan keras
(tulang dan gigi). Jaringan keras pada organisme kemudian terkubur, baik secara
cepat maupun secara lambat (tidak langsung terkubur). Fosil yang mengalami rapid
burial sering kali dapat terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan
paska-mati, sedangkan organisme yag tidak langsung terkubur akan mengalami
proses-proses alamiah sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat organisme
tersebut mati. Proses pemfosilan yang terjadi pada fosil ini adalah Permineralisasi.
Artinya, fosil tersebut terbentuk dari organisme yang tergantikan sebagian anggota
tubuhnya oleh mineral.
Bentuk tubuh fosil ini ialah biconveks yang merupakan salah satu bentuk
fosil yang berbentuk kerang atau dua bagian cangkang. Adapun bagian tubuhnya
terdiri dari Test, Costae, Commissure, Pedical Valve, Pedical Opening, Beak,
Sulcus, dan Brachial Valve
Ketika ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M fosil ini bereaksi
(gelembung-gelembung buih berasap) yang menunjukkan bahwa komposisi kimia
dari fosil ini adalah karbonatan (CaCO3). Dari reaksi kimianya dapat diketahui
bahwa lingkungan pengendapan fosil ini adalah di laut dangkal. Sedangkan
berdasarkan skala waktu geologi, fosil ini masuk ke dalam Carbon Bawah (± 345-
318 Ma)
Kegunaan dari fosil ini diantaranya, membantu dalam penentuan
lingkungan pengendapan, dan membantu dalam penentuan umur batuan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Jenis-jenis Filum Brachiopoda dapat diketahui sebagai berikut yaitu kelas
artikulata dan inartikulata
2. Bentuk-bentuk fosil sebagai berikut yaitu Sperical, Tabular, Discoidal,
Branching, Filmate, Conical, Convex, Biconvex, Plate, dan Globular.
3. Manfaat fosil adalah sebagai berikut :
a) Sebagai bukti adanya kehidupan dan memberi serta petunjuk adanya
evolusi kehidupan
b) Sebagai penentu umur relatif
c) Sebagai penentu dalam top dan bottom suatu lapisan sedimen
d) Sebagai penentu lingkungan pengendapan
e) Sebagai penentu iklim purba
f) Untuk menentukan arah aliran material sedimentasi
5.2 Saran
1. Sebaiknya disediakan alat pembersih dan selalu dijaga kebersihan lab.
2. Sebaiknya asisten mendampingi praktikan saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Asisten-asisten Paleontologi. 2013. Penuntun Praktikum Paleontologi. Makassar:
Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin
Noor, Djauhari. 2009. Pengantar geologi.Bogor: Graha Ilmu
Noor, Djauhari. 2012.Pengantar geologi. Bogor: Graha Ilmu