Anda di halaman 1dari 10

c  


  c c   

    
 

Industri penyempurnaan tekstil menggunakan banyak air dalam proses produksinya.


Air terutama dipakai sebagai media pelarut dan transfer zat-zat kimia yang akan
diaplikasikan pada bahan tekstil dan juga digunakan dalam jumlah besar di akhir proses
untuk menghilangkan sisa-sisa zat kimia maupun zat warna yang tertinggal pada bahan.
Proses penyempurnaan tekstil menghabiskan sekitar 50 - 240 liter air per kg bahan
tergantung jenis serat, jenis proses yang dikerjakan, dan mesin yang digunakan berikut
tingkat efisiensinya 1. Ini kurang lebih setara dengan 6-7% biaya total produksi, meliputi
biaya penyediaan air proses dan pengolahan limbah (termasuk pemakaian kembali dan
daur-ulang), dan diperkirakan akan terus meningkat dengan semakin berkurangnya
ketersediaan air dan ketatnya peraturan-peraturan lingkungan.

Pengembangan mesin-mesin pencelupan baru yang memungkinkan konsumsi air


hingga minimum masih belum memberikan solusi efektif karena bagaimanapun masih
memerlukan air dalam jumlah besar di tahap akhir proses, yaitu untuk pembilasan dan
pencucian(washing-off).

Pada sekitar tahun 1970 Ȃ 1980-an solvent dyeing sempat menarik perhatian besar dari
kalangan industri maupun akademia di bidang pencelupan.2-4 Solvent dyeing adalah
metoda pencelupan serat-serat sintetik, terutama poliester, dengan menggunakan
pelarut organik. Dua di antaranya yang banyak diteliti untuk menggantikan air sebagai
media pelarut dan transfer adalah piridin2 dan perkloroetilena3 (sering digunakan oleh
industri pencucian sebagai pelarut untuk dry -cleaning). Keduanya diketahui secara
umum merupakan zat kimia beracun dan berbahaya bagi kesehatan pekerja maupun
lingkungan. Oleh karena itu, meskipun terbukti mampu memberikan hasil pencelupan
sangat baik untuk serat-serat sintetik, proses ini tidak pernah mencapai sukses
komersial dan pengembangannya pun telah sejak lama berhenti. Dengan demikian
sepertinya air memang merupakan kebutuhan mutlak dan tak tergantikan bagi proses
kimiatekstil.

Betulkahdemikian?
èasil penelitian di Jerman pada awal dekade lalu5-7 menawarkan terobosan baru
dengan pendekatan yang juga sama sekali baru, yaitu pencelupan poliester dengan
menggunakan karbondioksida superkritik Ȃ tanpa air ataupun pelarut cair lainnya.
Sejak itu banyak penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan dan
mengkomersialkan teknologi ini yang meliputi: (1) perluasan aplikasinya untuk bahan
tekstil dari serat selain selain poliester8-11, (2) kimia-fisika pencelupan dalam
hubungannya dengan sifat-sifat kimia-fisika zat warna12-14, (3) pengaruh kondisi
superkritik terhadap struktur serat 15-18, dan (4) keteknikan prosesnya 19-21, yaitu segala
sesuatu yang berhubungan dengan pengembangan mesin pencelupan superkritik.

Apakah yang dimaksud dengan superkritik? Bagaimana sifat-sifatnya dan apa


keistimewaannya? Mengapa karbon dioksida? Jawaban atas sederet pertanyaan
tersebut akan menjadi pembuka pembahasan kita mengenai pencelupan dengan karbon
dioksida superkritik Ȃ teknologi pencelupan tanpa air.


 


Kita pada umumnya mengenal dengan baik tiga wujud klasik materi, yaitu padat, cair
dan gas. Materi dapat mengalami perubahan keadaan dari satu wujud ke wujud lainnya
tergantung suhu dan tekanan yang dialaminya, dan ini biasanya digambarkan dengan
suatu diagram yang biasa dikenal sebagai diagram fase22. Pada diagram tersebut ada
dua titik yang penting untuk diperhatikan, yaitu titik tripel ( triple point) dan titik kritik
(critical point). Titik tripel adalah suhu dan tekanan di mana fase padat, cair dan gas
hadir bersamaan dalam suatu kesetimbangan yang dinamik. Sedangkan titik kritik
adalah suhu dan tekanan tertinggi di mana suatu zat masih dapat mempertahankan
kesetimbangan antara fase gas dan cairnya. Di atas titik ini materi berubah wujud
menjadi sesuatu yang bukan gas dan bukan pula zat cair. Secara termodinamika materi
tersebut sebetulnya dapat didefinisikan sebagai gas, atau lebih tepatnya gas yang
dimampatkan, karena terdiri hanya atas satu fase dan memenuhi seluruh bagian ruang
penyimpannya. Akan tetapi, sifat-sifatnya yang berbeda dari gas biasa memerlukan
penyebutan yang berbeda dan spesifik, sehingga digunakan istilah fluida superkritik
(supercritical fluids Ȃ SCF) yang dipandang lebih sesuai. Gambar berikut di bawah ini
memperlihatkan tahap perubahan fase karbon dioksida dari cair dan gas menjadi fluida
superkritik seiring dengan kenaikan suhu. 23

Tabel berikut di bawah ini memperlihatkan perbandingan sifat-sifat fisika zat cair, gas
dan fluida superkritik.7,24 Bisa diamati bahwa fluida superkritik mempunyai gabungan
sifat-sifat zat cair dan gas. Berat jenisnya sepadan dengan berat jenis zat cair, sementara
viskositasnya setara dengan gas, dan tingkat difusinya berada di antara gas dan zat cair.
Dengan sifat-sifat tersebut ia dapat menembus materi padatan lebih cepat daripada
pelarut dari zat cair dan mampu dengan cepat pula membawa zat terlarut dari dan ke
dalam padatan. Keistimewaan fluida superkritik terutama ada pada sifat dan daya
pelarutannya yang dapat diubah dan diatur menurut suhu dan tekanannya. Ini
merupakan kunci bagi aplikasinya sebagai media pelarut dan media transpor di banyak
prosesindustri.

Teknologi fluida superkritik sudah sejak lama dimanfaatkan untuk membantu proses
industri seperti ekstraksi pada industri makanan dan pemurnian pada industri farmasi,
dan juga sebagai teknik analisa, yaitu kromatografi fluida superkritik 24. Karbon dioksida
(CO2) menjadi pilihan bagi banyak proses dengan teknologi fluida superkritik karena
(1) tidak mudah terbakar, (2) tidak beracun, (3) murah, dan (4) titik kritiknya relatif
rendah, yaitu 31,3°C dan 72,9 atm (lihat Tabel 1). Air memiliki suhu dan tekanan kritik
jauh lebih tinggi, yaitu 374,2°C dan 217,6 atm, sedangkan propana (Tc = 96,8°C dan Pc =
42 atm) dan etana (Tc = 32,4°C dan Pc = 48,2 atm) jelas mempunyai tekanan kritik lebih
rendah tapi mudah terbakar. Keuntungannya yang lain adalah ketersediaannya yang
melimpah dari alam dan dari hasil produk-samping berbagai proses industri serta
mudah pula didaur-ulang. Ini semua boleh dibilang memenuhi kriteria kimia hijau
(green chemistry) yang mensyaratkan "carrying out chemical activities Ȃ including
chemical design, manufacture, use, and disposal Ȃ such that hazardous substances will not
be used and generated"25, yaitu agar segala kegiatan yang melibatkan zat-zat kimia Ȃ
termasuk perancangan, pembuatan, pemakaian, maupun pembuangannya Ȃdikerjakan
sedemikian rupa hingga tidak memerlukan pemakaian ataupun menghasilkan zat-zat
berbahaya.

   
  


"·ater is for living, not for dyeing ", demikian slogan yang dipampang di halaman depan
situs web salah satu perusahaan pembuat mesin penyempurnaan tekstil terkenal di
Jerman26. Meski perusahaan tersebut tidak memproduksi mesin pencelupan karbon
dioksida superkritik (selanjutnya cukup disebut SCO2), namun slogannya menyuarakan
dengan sangat jelas pentingnya pengembangan teknologi yang menjamin
keberlangsungan hidup (sustainable technology). Ini sepertinya telah menjadi semacam
sikap dan pedoman dalam inovasi dan pengembangan teknologi di negara -negara maju.

SCO2 merupakan salah satu


pelarut paling ramah lingkungan yang digunakan saat ini19. Efek positifnya terhadap
pelestarian lingkungan dapat dirasakan mulai dari pengurangan komsumsi air secara
drastik hingga penghilangan limbah industri berbahaya. Ini sekaligus membawa
keuntungan ekonomi yang signifikan karena biaya air dan pengolahan air limbah dapat
dihilangkan, termasuk pula biaya yang berkaitan dengan konsumsi energi untuk
pengeringan.

Secara prinsip, pencelupan dengan SCO2 dalam banyak hal menyerupai "rapid dyeing"
atau "beam dyeing"21 (lihat Gambar 2 dan Gambar 3) Benang atau kain digulung pada
cone atau beam, lalu media pembawa zat warna (air atau SCO2) disirkulasikan bolak-
balik melewati bahan untuk mendapatkan hasil celupan yang rata. Perbedaannya yang
paling pokok di antara keduanya adalah tekanan ( working pressure). Pencelupan
dengan karbon dioksida superkritik membutuhkan kondisi proses dengan tekanan
sangat tinggi, yaitu sekitar 200-300 bar, jauh di atas tekanan kritiknya pada 73,8 bar.
Bandingkan dengan mesin-mesin pencelupan bertekanan tinggi yang pada umumnya
bekerja pada tekanan 4-5 bar saja (ini setara dengan tekanan di bawah permukaan air
pada kedalaman sekitar 30-40 meter). Mesin skala laboratorium yang digunakan oleh
Saus dkk 7 dirancang untuk bekerja pada tekanan dan suhu maksimum masing-masing
sebesar 500 bar dan 350°C. Tekanan sebesar itu jelas membutuhkan mesin dengan
bahan dan konstruksi khusus, dan ini men jadi bagian persoalan tersendiri dalam upaya
mengembangkan teknologi ini hingga taraf komersial. Beberapa isu keteknikan penting
yang berkaitan dengan ketebalan dinding mesin, desain pompa sirkulasi, dan
pengintegrasian sistem telah dibahas oleh èendrix21.

Perlu digarisbawahi di sini bahwa tekanan tinggi


yang dimaksud adalah tekanan ruang dan bukan tekanan yang diberikan oleh pompa
sirkulasi untuk mendorong media melewati bahan. Dengan viskositas lebih rendah
daripada air, SCO2 tidak memerlukan dorongan tekanan tinggi untuk menerobos
struktur konstruksi benang maupun kain. Ini juga menjelaskan mengapa pencelupan
dengan SCO2 dapat diselesaikan dalam waktu jauh lebih cepat daripada pencelupan
konvensional.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah pen garuh suhu dan tekanan terhadap
laju pencelupan dan tingkat pewarnaan. Kenaikan suhu menyebabkan turunnya berat
jenis SCO2 dan mengakibatkan berkurangnya suplai zat warna karena kelarutannya di
dalam fluida juga ikut berkurang. Namun sebaliknya, laju difus i justru meningkat. Di sisi
lain, kenaikan tekanan akan menaikkan berat jenis SCO2 dan kelarutan zat warna,
sehingga suplai zat warna untuk serat pun bertambah besar tapi laju difusinya
berkurang. Bisa diamati di sini ada persaingan efek antara kedua parameter tersebut,
sehingga pengaturan keduanya untuk mendapatkan hasil yang optimal membutuhkan
pemahaman memadai tentang perilaku kelarutan zat warna dispersi di dalam SCO2 dan
distribusinya di dalam sistem 12-14,27.

Perbedaannya yang lain adalah hilangnya proses pengeringan. CO2 cair mempunyai
entalpi penguapan rendah, sementara entalpi penguapan superkritiknya nol, sehingga
hanya dengan ekspansi (mengurangi tekanan ruang) SCO2 sudah dapat dipisahkan dan
dihilangkan secara tuntas dari substrat maupun zat warna25.

Dengan demikian, proses daur-ulang pun menjadi lebih mudah dan cepat. Berikut ini
adalah tipikal proses pencelupan dengan SCO2:

Berbeda dengan pencelupan konvensional, pencelupan poliester dengan SCO2 tidak


membutuhkan pendispersi karena pada prinsipnya zat warna dispersi terlarut
sempurna secara monomolekuler di dalam SCO2. Dengan demikian, pencucian reduksi
pun dapat dihilangkan dari rangkaian proses pencelupan karena tidak ada agregat zat
warna yang menempel pada permukaan serat. Ini menjadi salah satu keuntungan dan
satu lagi perbedaan antara pencelupan SCO2 dan konvensional.
   
  
 

"Aike dissolves like". Maksudnya adalah suatu zat akan terlarut sempurna di dalam
pelarutnya jika keduanya memiliki kepolaran yang sama. Meski terdengar menjadi agak
terlalu disederhanakan, karena mengabaikan bentuk interaksi pelarut-terlarut lainnya,
pernyataan tersebut cukup bisa dijadikan sebagai pegangan untuk memprediksi
kelarutan. Secara umum, daya pelarutan CO2 bisa dikatakan mendekati hidrokarbon
atau halokarbon 25, dan tidak ada perbedaan kepolaran yang signifikan antara CO2 cair
dan superkritik19. Oleh sebab itu, pada umumnya, hampir semua molekul non-polar
dapat larut dengan baik di dalam SCO2, sedangkan hampir semua senyawa dan polimer
bersifat polar tidak dapat larut. Air dan senyawa ionik kuat hanya sedikit larut dalam
SCO2.

Zat warna yang paling memenuhi syarat untuk pencelupan dengan SCO2 adalah zat
warna dispersi karena zat warna ini pada umumnya hanya sedikit polar (dan sedikit
larut-air) dan tidak mengandung muatan (nonionik), sehingga ia mudah larut di dalam
SCO2. Dengan demikian jelas mengapa pencelupan poliester merupakan sistem yang
mula-mula dan paling banyak dipelajari (Gambar 5), di samping tentu saja karena nilai
ekonominya. Zat warna bejana sebetulnya juga tidak larut-air dan bersifat nonionik
(dalam bentuk oksidasinya), akan tetapi sejauh ini belum ada laporan mengenai
pencelupan SCO2 dengan zat warna bejana, meski pemakaiannya untuk pencelupan
poliester belakangan cukup banyak menarik perhatian para peneliti (lihat misalnya
Kunttou 28 dan Son29 ). Zat warna lain seperti reaktif, direk, asam dan kationik tidak
dapat digunakan karena bersifat ionik dan polar sehingga tidak larut dalam SCO2.

Kelarutan zat warna dispersi di dalam SCO2 merupakan salah satu parameter paling
penting dalam memilih zat warna dan untuk mengoptimalkan suhu dan tekanan proses.
Untuk mendapatkan hasil terbaik pada pencelupan dengan SCO2 dibutuhkan zat warna
dispersi yang dapat larut dengan baik di dalam SCO2. Pada prinsipnya, semakin besar
kepolaran zat warna semakin berkurang kelarutannya di dalam SCO2. Zat warna
dispersi komersial pada umumnya mengandung berbagai macam zat pembantu dari
jenis surfaktan untuk mencegah aglomerasi dalam proses pembuatannya maupun
penyimpanan. Zat-zat tersebut dapat memberi kepolaran pada zat warna dispersi,
meskipun tidak sebesar kepolaran yang dimiliki zat warna ionik, dan mempengaruhi
tingkat kelarutannya di dalam SCO2. Di samping itu, gugus yang mengandung atom-
atom bersifat elektronegatif, apalagi jika atom tersebut membawa hidrogen (misalnya
N-Nè-, -Nè2-, -CONè, -Oè, -Sè), dapat berinteraksi kuat dengan air membentuk ikatan
hidrogen dan menyumbang kelarutan dengan tingkat yang berbeda -beda pada zat
warna30. Untuk pembahasan lebih detil mengenai hubungan antara struktur molekul
dan sifat kelarutan zat warna dispersi pembaca dapat merujuk makalah yang ditulis
Draper dkk31. Tabel 1 menyajikan beberapa contoh zat warna yang dibahas di sana.

     
          

Mekanisme pencelupan poliester dengan zat warna dispersi menggunakan SCO2 tidak
berbeda dengan pencelupan sistem cair13. Di samping berfungsi sebagai media pelarut
dan pembawa zat warna, SCO2 bekerja seperti halnya zat pengemban (carrier), yaitu
menggembungkan dan membuat serat menjadi plastis. Pada penyerapan, molekul CO2
akan menerobos dan mendorong rantai-rantai molekul poliester hingga saling menjauh
satu sama lain dan membuka jalan lebih lebar untuk akses zat warna ke dalam bagian
amorf serat. Ini ditandai dengan turunnya suhu transisi gelas serat poliester hingga
sebesar 30°-40°C. Pada pencelupan sistem cair, zat warna meninggalkan larutan dan
masuk ke dalam serat dengan mekanisme yang sering disebut sebagai "solid solution"
karena adsorpsi preferensial zat warna terhadap serat ketimbang air. Pada pencelupan
dengan SCO2, tidak ada preferensi semacam itu karena poliester dan SCO2 sama-sama
memiliki sifat hidrokarbon sehingga zat warna dispersi akan terdistribusi di antara
SCO2 dan serat tergantung suhu dan tekanan proses. Menaikkan tekanan proses
mendorong zat warna untuk teradsorpsi lebih banyak pada serat daripada berada di
dalam SCO2. Namun demikian, kecenderungan ini akan melemah dengan kenaikan suhu
proses14.

Sukses yang dicapai dengan serat poliester menggunakan zat warna dispersi segera
dilanjutkan dengan banyak studi berikutnya mengenai peluang aplikasi teknologi
tersebut untuk pencelupan serat-serat lainnya, sintetik maupun alam. Nilon dan
polipropilena merupakan dua jenis serat sintetik yang paling banyak mendapat
perhatian setelah poliester, jelas karena nilai ekonominya dalam banyak aplikasi
industri. Polipropilena selama ini dikenal sangat sulit untuk dicelup menggunakan
metoda pencelupan konvensional, sehingga pencelupan dengan SCO2 diharapkan
memberi alternatif jalan keluar yang lebih layak secara teknis maupun ekonomis dan
ramah.

Serat selulosa (termasuk kapas) masih merupakan serat alam yang paling disukai
hingga saat ini meski pertumbuhannya cenderung menurun bila dibandingkan dengan
serat sintetik yang kini menguasai 94% produksi serat dunia (21% di dalamnya adalah
poliester)32. Dibandingkan dengan poliester, pencelupan kapas banyak menghasilkan
limbah cair yang mengandung banyak sisa-sisa zat-zat kimia pembantu tekstil dan zat
warna yang tidak terfiksasi pada serat. Kebaikan dan kelebihan yang ditawarkan
pencelupan SCO2 tentu akan memberi dampak yang lebih signifikan pada pencelupan
semacam.

Pencelupan dengan SCO2 pada dasarnya dikembangkan untuk pencelupan poliester


dengan zat warna dispersi. Dalam hal ini, interaksi ketiga komponen dalam sistem, yaitu
serat, zat warna dan SCO2, secara alami telah memenuhi adagium "like dissolves like",
sehingga tidak diperlukan modifikasi apapun pada ketiganya. Sementar a itu, zat warna
yang biasa digunakan untuk mencelup kapas, misalnya, pada umumnya mempunyai
kepolaran sehingga tidak dapat larut dalam SCO2. Di sisi lain, kapas hampir tidak
mempunyai afinitas terhadap zat warna dispersi, padahal sejauh ini hanya zat warna
dispersi yang dapat larut dalam SCO2. Kapas juga bersifat polar. Tambahan pula,
molekul CO2 tidak cukup besar untuk mampu membuka struktur dalam serat kapas
karena ikatan hidrogen antar rantai molekulnya yang begitu rapat dan ekstensif. Ada
tiga pendekatan yang pernah dilakukan untuk mengatasi kesulitan pencelupan kapas
(dan serat alam lainnya) dengan SCO2, yaitu (1) menggunakan zat pembantu yang
berfungsi menggembungkan serat dan/atau menaikkan kelarutan serta transportasi zat
warna di dalam SCO28,11,33-35, (2) memodifikasi serat kapas dengan gugus hidrofobik
supaya bisa dicelup dengan zat warna dispersi12, dan (3) memodifikasi struktur molekul
zat warna36. èingga sejauh ini masih belum ada hasil yang betul-betul memuaskan.
Namun demikian, kemajuan yang telah dicapai sepertinya menjanjikan harapan di masa
depan. Tabel 3 di bawah ini memperlihatkan hasil uji ketahanan luntur pencelupan
poliester dengan zat warna dispersi dalam media air dan SCO220.
Pencelupan dengan media karbon dioksida superkritik merupakan alternatif proses
ramah lingkungan yang menjanjikan, terutama dalam kaitannya dengan ketersediaan
sumber air yang semakin terbatas dan pentingnya pengembangan teknologi yang
berkelanjutan di masa depan. Aplikasinya secara komersial, terutama untuk serat-serat
alam, masih membutuhkan studi lebih mendalam. Tulisan ini merupakan bagian
pertama dari dua rangkaian tulisan, dan masih akan disambung dengan pembahasan
mengenai pengaruh kondisi superkritik terhadap sifat-sifat kimia dan fisik serat.

áumber: Textile Research Jurnal

Alih Dokumentasi Penelitian Ini

didukung oleh: