Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
ANALISIS MODEL FASIES
Pengertian Fasies
Fasies merupakan suatu batuan yang memiliki kombinasi karakteristik yang khas dilihat dari
litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari batuan yang
yang ada di bawah, dan sekitarnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana fasies-fasies tersebut
berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas
asosiasi fasies bisa disebut atau dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan
pengendapan yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan
James, 1992).
Menurut Selly (1985)
Fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan
yang lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen
merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan
pengendapannya. Diagnosa lingkungan pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa faises
sedimen, yang merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya :
1. Geometri :
a. Regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi, reef dan chanel)
b. Intra-reservoir dari wireline log (ketebalan dan distribusi reservoir)
2. Litologi : dari cutting, dan core (glaukonit, carboneous detritus) dikombinasi dengan log sumur
(GR dan SP)
3. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side wall core
4. Struktur sedimen : dari core
Model Fasies (Facies Model)
Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model fasies adalah suatu model
umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus (Walker, 1992).
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram blok atau grafik
dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan sebagaio ukuran yang bertujuan untuk membandingkan
framework dan sebagai penunjuk observasi masa depan. Model fasies memberikan prediksi dari situasi
geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model
Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan, menyajikan, mengelompokkan, dan
menginterpretasikan data yang diperoleh secara acak.
Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :
a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga dimensi, dan bentuk lain
ilustrasi grafik dasar pengendapan framework
b) Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan deposisi oleh waktu.
c) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple, analisis trend
permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk mengetahui beberapa parameter
lingkungan pengendapan atau memprediksi respon dari suatu elemen dengan elemen lain dalam
sebuah proses-respon model.
Fasies Sekuen
Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara genetik
berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentukan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri
bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari
interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya
ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
1. membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
2. terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
3. mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
4. selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
5. batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.
Asosiasi Fasies
Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu lapisan atau kumpulan lapisan
yang memperlihatkan karakteristik litologi, geometri dan sedimentologi tertentu yang berbeda dengan
batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies
didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh batuan dalam
berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses
dimana fasies-fasies itu terbentuk.
Sekelompok asosiasi fasies endapan fasies digunakan untuk mendefinisikan lingkungan sedimen
tertentu. Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di sebuah fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan
bersama-sama untuk menentukan fasies fluvial asosiasi.
Pembentukan dibagi menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas. Litologi
sedimen ini menggambarkan lingkungan yang didominasi oleh braided stream berenergi tinggi.
a. Asosiasi fasies 1
Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintas-stratifikasi, tinggi energi braided stream
yang membentuk dataran outwash sebuah sistem aluvial. Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi
yang tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.
b. Asosiasi fasies 2
Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini kadang-kadang terganggu oleh lensa
dari FA1 sedimen. Bed berada di seluruh tipis, planar dan disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in)
bentuk tebal 2 meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang membentuk lithology dominan
fasies ini.
Sudut rendah (<20°), lintas-bentuk batu pasir berlapis unit hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-
kadang mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini adalah ke arah selatan timur -
hingga lereng - dan memperkuat interpretasi mereka sebagai Aeolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut
lapisan padat berisi fosil jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang mungkin
terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan hosting mungkin pencipta jejak fosil.
Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa, alih-alih acara musiman, kadang-kadang innundation
didasarkan pada peristiwa-peristiwa tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda tabel, dan mengubah
aliran kursus.
c. Asosiasi fasies 3
Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan clastic terwakili dalam rekor sedimen
tdk halus, diurutkan buruk, atas-fining (yaitu padi-padian terbesar di bagian bawah unit, menjadi semakin
halus ke arah atas), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal. Jejak fosil langka.
Sheet-seperti sungai dikepang disimpulkan sebagai kontrol dominan pada sedimentasi di fasies ini.
d. Asosiasi fasies 4
Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah lingkungan di pinggiran laut. Fining-
up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki) hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada
unit dasar arus overlain oleh riak. Baik shales batu pasir dan hijau juga ada. Unit atas sangat bioturbated,
dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya ditemukan di lingkungan laut.
Hubungan Antara Fasies, Proses Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pada semua tempat di darat atau di bawah laut dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia
yang berlaku dan organisme yang hidup di bawah kondisi itu pada waktu itu. Oleh karena itu suatu
lingkungan pengendapan dapat mencirikan proses-proses ini. Sebagai contoh, lingkungan fluvial (sungai)
termasuk saluran (channel) yang membawa dan mengendapkan material pasiran atau kerikilan di atas bar
di dalam channel.
Ketika sungai banjir, air menyebarkan sedimen yang relatif halus melewati daerah limpah banjir
(floodplain) dimana sedimen ini diendapkan dalam bentuk lapis-lapis tipis. Terbentuklah tanah dan vegetasi
tumbuh di daerah floodplain. Dalam satu rangkaian batuan sedimen channel dapat diwakili oleh lensa
batupasir atau konglomerat yang menunjukkan struktur internal yang terbentuk oleh pengendapan pada bar
channel. Setting floodplain akan diwakili oleh lapisan tipis batulumpur dan batupasir dengan akar-akar dan
bukti-bukti lain berupa pembentukan tanah.
Dalam deskripsi batuan sedimen ke dalam lingkungan pengendapan, istilah fasies sering
digunakan. Satu fasies batuan adalah tubuh batuan yang berciri khusus yang mencerminkan kondisi
terbentuknya (Reading & Levell 1996). Mendeskripsi fasies suatu sedimen melibatkan dokumentasi semua
karakteristik litologi, tekstur, struktur sedimen dan kandungan fosil yang dapat membantu dalam
menentukan proses pembentukan. Jika cukup tersedia informasi fasies, suatu interpretasi lingkungan
pengendapan dapat dibuat. Lensa batupasir mungkin menunjukkan channel sungai jika endapan floodplain
ditemukan berasosiasi dengannya. Namun bagaimanapun, channel yang terisi dengan pasir terdapat juga di
Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
dalam setting lain, termasuk delta, lingkungan tidal dan lantai laut dalam. Pengenalan channel yang
terbentuk bukanlah dasar yang cukup untuk menentukan lingkungan pengendapan.
Fasies pengendapan batuan sedimen dapat digunakan untuk menentukan kondisi lingkungan ketika
sedimen terakumulasi.
Lingkungan sedimen telah digambarkan dalam beberapa variasi yaitu :
1. Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang menunjukkan sifat khas dari setting
pengendapan [Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun [Krumbein dan Sloss, 1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika, kimia, dan biologi dari daerah
yang berdekatan [Selley, 1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan mempengaruhi pertumbuhan
sedimen secara konstan untuk membentuk pengendapan yang khas [Shepard dan Moore, 1955].
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan biologi dalam
fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat
komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan
unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan.
Fasies sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan.
Factor Pengontrol
Delta adalah tanah datar hasil pengendapan yang dihubungkan oleh sungai, muara sungai,dan sedimen
timbunan tersebut melaksanakan propagradasiyang tidak teratur pada garis pantai (Coleman, 1968; Scott &
Fischer, 1969).
Ketentuan persyaratan untuk terbentuknya suatu delta, antara lain:
a. Ada sungai yang menuju ke laut atau danau.
b. Lautnya dangkal.
c. Gelombang ata arus laut yang ada sangat Kecil.
d. Tidak ada gerakan tektonik dan ang menyebabkan dasar laut atau danau dimuara sungai tersebut.
e. Arus pasang surut tidak kuat.
f. Dari waktu ke waktu bahan batuan yang diendapkan di laut atau danau cukup yang besar.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN FLUVIO-DELTAIK
SISTEM FLUVIAL
Fluvial merupakan aktivitas aliran sungai, terdapat empat macam sungai yaitu straight,
anastomosing, meandering dan braided . Sungai anastomosing dipisahkan oleh pulau alluvial permanen,
yang ditutupi tumbuhan yang lebat yang distabilisasi oleh ban" sungai. Braiding (anyaman" juga naik
dengan cepat, fluktuasi cepat pada pemberhentian sungai, kecepatan tinggi dari pasokan sedimen kasar, dan
mudah tererosi.
SISTEM DELTA
Delta merupakan garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanyasedimentasi sungai
yang memasuki laut, danau atau laguna dan pasokan sedimenlebih besar daripada kemampuan
pendistribusian kembali oleh proses yang adapada cekungan pengendapan (Elliot, 1986 dalam Allen, 1997).
Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
Menurut Boggs (1987), delta diartikan sebagai suatu endapan yang terbentuk oleh proses sedimentasi
fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang. Dataran delta menunjukkan daerah di belakang garis pantai
dan dataran delta bagian atas didominasi oleh proses sungai dan dapat dibedakan dengan dataran delta
bagianbawah didominasi oleh pengaruh laut, terutama penggenangan tidal. Delta terbentuk karena adanya
suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. 6etika sungai-sungaipada sistem fluvial tersebut bertemu
dengan laut, perubahan arah arus yangmenyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan
yang cepatterhadap material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta. Bersamaan dengan
pembentukan delta tersebut, terbentuk pula morfologi delta yangkhas dan dapat dikenali pada setiap sistem
yang ada. morfologi delta secara umum terdiri dari tiga, yaitu: delta plain, delta front dan prodelta.
KLASIFIKASI DELTA
Menurut Galloway (1975) dan Serra (1990), berdasarkan proses yang berpengaruhi didalamnya, delta
dapat diklasifikasikan menjadi 3 , yaitu :
1. Fluvial Dominated Delta
2. Wave Dominated Delta
3. Tide-Influence Delta
Lingkungan ini menunjukkan kombinasi pengaruh dari sungai, gelombang danproses pasang-surut.
Lingkungan ini mempunyai bentuk geometri channel dan ridge dengan kenampakan kontinuitas batupasir
jelek sampai sedang dengan penyebarantegak garis pantai. Struktur sedimen yang umumnya berkembang
adalah laminasi dan ripple. masuknya pasang-surut pada delta front yang berprogradasi, seperti pada
mahakam juga memeperlihatkan beberapa pengasaran ke atas. Smith, et al (1990) dalam Allen (1997) telah
Muhammad Dandy Fachrindra
410017081
mendiskripsikan ritme pasang-surut dengan indikator pasang-surut dalam pasir delta front adalah
hearingbone cross bedding.
DATARAN PANG SURUT (TIDAL FLAT)
ESTUARIN