Anda di halaman 1dari 3

2.

Layaknya produsen di negara berkembang seperti Bangladesh yang diuntungkan dari


persetujuan MFA, bagaimnaa seharusnya anda menanggapi berakhirnya perjanjian?
Pembahasan :
Menurut pandangan kelompok kami, jika organisasi MFA ini dibubarkan maka
kekhawatiran utama yang dipikirkan oleh negara berkembang adalah dengan masuknya pihak
Cina ke WTO. Mereka beranggapan bahwa dengan adanya Cina masuk ke WTO maka akan
menguasai pangsa pasar untuk eskpor tekstil. Negara berkembang yang memproduksi tesktil
takut dalam memnghadapi tingkat persaingan dengan Cina, hal ini dikarenakan mereka sudah
terbiasa dilindungi oleh pihak MFA dalam hal perlindungan produsen tekstil dengan penentuan
kuota setiap melakukan ekspor tektsil. Karena melihat data yang diatas pada kasus menyatakan
bahwa “negara-negara seoerti Bangladesh, Sri Lanka dan Kamboja mampu untuk mendapatkan
manfaat yang menguntungkan dari adanya alokasi kuota untuk membangun industri tekstil yang
signifikan yang menhasilkan ekspor subtansial. Dan pada tahun 2003, tekstil tercatata
menyumbang lebih dari 70% ekspor dari Bangladesh dan Kamboja serta 50 persen berasal dari
Sri Lanka”. Dari data yang ada maka dapat disimpulkan bahwasannya MFA sangat berperan
penting sebagai proteksi dari produsen tekstil..
Dengan dihapuskannya perjanjian mengenai pemeberhentian MFA maka akan sanagt
berpengaruh besar pada negara-negara berkembang penghasil tekstil, hal ini dikarenakan
semua negara di bawah naungan organisasi ini telah terbiasa dibatasi dengan jumlah kuota
setiap kali melakukan ekspor tekstil. Secara tidak langsung mereka akan takut untuk bersaing
dengan pesaing dari negara lain jika nantinya perjanjian ini benar-benar dihapuskan. Terlebih
dengan masuknya cina ke WTO, mereka beranggapan bahwasannya Ciina nantinya akan dapat
menguasai pangas pasar eskpor tekstil. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu Cina mulai
memberlakukan tarif akan ekpor tekstil ke lar negeri, dan hal ini secara tidak langsung
memeberikan peluang bagi negaralain untuk tetap melakukan ekspor tekstil.
3. Apakah anda berpikir bahwa Cina telah melakukan hal yang benar untuk menempatkan tarif
pada ekspor tekstil Cina? Mengapa? Apakah tindakan tersebut membantu atau membahayakan
ekonomi dunia?
Pembahasan :
Menurut pandangan kelompok kami, tindakan yang dilakukan oleh Cina dalam
menetapkan tarif pada ekspor tekstil merupakan suatu hal yang benar. Hal ini dikarenakan Cina
telah mengambil sebuah sikap dimana pihak Cina telah mengumumkan akan meberlakukan tarif
atas ekspor tekstil. Dengan menaikkan biaya tektil, Cina berharap agar nantinya tarif yang
ditetapkan akan dapat berpengaruhpada tingkat permintaan luar negeri. Sebelum
diberlakkannya tarif pada ekspor tekstil di Cina permintaan luar negeri cenderung tinggi, dan
dengan diberlakukannya tarif ekspor tekstil di Cina maka diharapkan dapat mengurangi jumlah
permintaan luar negeri akan eskpor tekstil itu sendiri. Meskipun tarif ekspor yang diberlakukan
bersifat moderat, tarif untuk ekspor tekstil cina berkisar mulai dari 2,4 sampai dengan 6 sen
untuk per itemnya. Hal ini merupakan bukti dari sikap pihak Cina sebagai bentuk bantuan
terhadap negara-negara lain yang memproduksi tekstil. Karena tidak sedikit dari negara-negara
penghasil tekstil lalinnya yang merasa dirugikan dengan adanya ekspor tekstil cina yang
dilakukan secara besar-besaran. Secara tidak langsung jika hal ini terjadi secara continue maka
akan berdamapak pada negara penghasil tekstil yang lainnya, pangsa pasar akan di kuasai oleh
Cina. Setidaknya dengan adanya tindakan pemberlakukan tarif akan membantu produsen dari
negara lain untuk tetap melakukan ekspor tekstil ke negara lain, dan anggapan kepada Cina
bahwa Cina akan membahayakan perekonomian dunia setidaknya akan berkurang.
4. Kepentingan siapakah yang diuntungkan oleh adanya kesepakatan pada November 2005
antara Amerika Serikat dan Cina untuk membatasi pertumbuhan Impor tekstil Cina ke Amerika
Serikat? Menurut anda apakah kesepakatan itu bagus untuk Amerika Serikat?
Pembashasan :
Menurut pandangan kelompok kami, yang diuntungkan oleh adanya kesepakatan pada
November 2005 antara Amerika Serikat dan Cina untuk membatasi pertumbuhan impor tekstil
dari Cina ke Amerika Serikat adalah kepentingan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan, sebelum
dilakukan kesepakatan tersebut produk China di pasar tekstil Amerika menguasai 50% pasar
domestik Amerika Serikat. Seiring meningkatnya impor produk tekstil Cina, maka menjadikan
neraca perdagangan pakaian dari Amerika Serikat mengalami defisit. Nilai impor pakaian
Amerika Serikat sejak tahun 2002 mengalami tingkat peningkatan dari USD 62 milyar menjadi
USD 80,1 milyar, tetapi pada tahun 2005 pakaian yang di produksi Amerika Serikat mengalami
defisit dengan nilai sebesar 75,1 milyar untuk perdagangan ekspor-impor pakaian jadi. Dengan
meningkatnya impor produk tekstil Cina juga berdampak pada hilangnya lapangan pekerjaan di
sektor pakaian jadi dan tekstil di Amerika Serikat. Diperikakan terjadi 149.600 jobs lost sejak
berakhirnya kuota tekstil ATC (Agreement on Textil and Clothing) atau 630.000 pengangguran
untuk kurun waktu 2004-2005. Dengan diadakannya kesepakatan pembatasan tersebut
setidaknya dampak-dampak yang terjadi sebelum dilakukannya pembatasan impor tekstil dari
China ke Amerika bisa dibenahi oleh Amerika Serikat.
5. Jenis hambatan perdangangan apa yang muncul akibat kesepakatan anatara Cina dan
Amerika Serikat pada November 2005?
Pembahasan :
Menurut pandangan kelompok kami, jenis hambatan perdagangan yang timbul dari
adanya kesepakatan antara Cina dan Amerika Serikat bulan November 2005 ada beberpa hal
diantaranya adalah : (1) yang pertama, hambatan tarif menaikkan biaya ekspor produk ke suatu
negara (atau ekspor produk separuh jadi antar negara). Secara tidak langsung hal ini akan
menempatkan perusahaan pada posisi dimana perusahaaan nantinya akan mengalami kerugian
kompetitif terhdap pesaing dari negara tersebut; (2) kedua, dengan adanya pembatasan kuota
maka akan membatasi perusahaan dalam proses pemenuhan kemampuan dalam hal melayani
negara dari lokasi di luar negara asal itu. Dan apabila perusahaan mendirikan fasilitas produksi
di negara tersebut, maka sangat memungkinkan bagi perusahaan untuk mengeluarkan tingkat
biaya produksi yang lebih tinggi; (#) hambtan yang ketiga, apabila perusahaan harus
menyesuaikan dengan aturan konten lokal maka memungkinkan bagi perusahaan agar nantinya
harus menempatkan lebih banyak kegiatan produksi pada pasar tertentu dari pada sebaliknya;
dan (4) hambatan yang terakhir adalah dengan adanya ancaman tindakan antidumping dalam
membatasi kemmapuan perusahaan untuk menggunakan harga yang agresif untuk meraih
pangsa pasar di suatu negara.