Anda di halaman 1dari 24

BAB 12

Neraca Pembayaran, Kurs


Valuta Asing dan Kegiatan
Perekonomian Terbuka
HAL-HAL YANG DITERANGKAN
 Neraca pembayaran:
1. Bentuk dasar neraca pembayaran.
2. Defisit dan surplus dalam neraca pembayaran.
 Kurs valuta asing: system kurs tetap dan berubah bebas.
 Masalah ekonomi dan kebijakan pemerintah dalam ekonomi terbuka:
1. Bentuk masalah ekonomi dalam perekonomian terbuka.
2. Kebijakan pemerintah dalam perekonomian terbuka.

Beberapa hal yang erat hubungannya dengan efek kegiatan ekonomi dalam perekonomian terbuka
dibicarakan di dalam bab ini. Pertama sekali, bab ini akan menerangkan mengenai neraca
pembayaran, yaitu suatu neraca keuangan yang mengemukakan data mengenai perdagangan
ekspor dan impor dan aliran keluar dan aliran masuk dana modal ke suatu Negara. Seterusnya, bab
ini akan menjelaskan pula mengenai penentuan kurs pertukaran diantara sesuatu mata uang
dengan mata uang Negara-negara lain. Aspek ketiga yang akan dibicarakan dalam bab ini adalah
mengenai (i) masalah-masalah yang dihadapi dalam perekonomian terbuka, dan (ii) beberapa
langkah pemerintah yang dapat dijalankan apabila perdagangan luar negri dan lalu lintas dana
menimbulkan efek buruk ke atas kegiatan ekonomi Negara.

NERACA PEMBAYARAN
Neraca pembayaran adalah suatu catatan aliran keuangan yang menunjukkan nilai transaksi
perdagangan, dan aliran dana yang dilakukan antara suatu Negara dengan Negara lain dalam
suatu tahun tertentu. Suatu neraca pembayaran dapat di bedakan kepada dua bagian yang utama,
yaitu neraca berjalan dan neraca modal.
NERACA PEMBAYARAN DAN KURS VALUTA ASING

NERACA BERJALAN
Neraca berjalan mencatat transaksi-transaksi berikut:

i. ekspor dan impor barang tampak.


ii. ekspor dan impor jasa (atau barang tak tampak).
iii. pembayaran pindahan neto ke luar negri. .

Nilai Ekspor Dan Impor Barang Tampak


Transaksi ini meliputi hasil-hasil sektor pertanian, barang-barang produksi industry, dan nbarang-
barang yang di produksikan oleh sektor pertambangan dan berbagai jenis ekspor dan impor barang
tampak lainnya. Neraca (yaitu perbedaan di antara ekspor dan impor) dari perdagangan tampak
yaitu perdagangan dalam barang-barang tampak, dinamakan neraca perdagangan. Apabila nilai
neraca itu positif, ia berarti bahwa ekspor barabg-barang tampak adalah melebihi impornya.
Sebaliknya apabila ia negative, bahwa ia berarti impor melebihi ekspor.

Nilai Ekspor dan Impor Barang-Barang Tak Tampak


Transaksi ini meliputi pembayaran biaya pengangkutan asuransi dan barang-barang tampak yang
diekspor atau diimpor, perbelanjaan para pelancong, dan pendapatan investasi (yang meliputi
keuntungan, bunga keatas modal yang diinvestasikan, dan dividen). Neraca perdagangan tak tampak
yaitu nilai bersih ekspor dan impor jasa-jasa, di namakan neraca jasa. Nilai neraca jasa sesuatu
Negara, yang positif berarti Negara tersebut lebih banyak menjual jasa-jasanya ke luar negri dari
membelinya dari Negara-negara lain. Dan apabila nilainya negatif (masalah ini juga dihadapi
dengan neraca pembayaran indonesia), ia berarti bahwa negara itu lebib banyak membeli jasa
pihak-pihak luar dari menjual jasanya ke luar negri.

Pembayaran Pindahan
Ini meliputi pembayaran pindahan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta.
Transaksi ini meliputi pembayaran dimana penerimanya tidak perlu “membayar” dalam bentuk
uang atau jasa. Contoh-contoh dari pembayaran pindahan adalah bantuan uang suatu Negara Arab
ke Afghanistan, atau bantuan bahan makanan Amerika Serikat ke penderita kelaparan di Afrika.
Mengirimkan uang untuk membiayai perbelanjaan anak-anak bersekolah diluar negri adalah contoh
lain.

NERACA MODAL
Neaca modal meliputi dua golongan transaksi yaitu, aliran modal jangka panjang dan aliran modal
keuangan swasta.

Aliran Modal Jangka Panjang


Ia meliputi dua jenis aliran modal aliran modal resmi dan investasi langsung oleh pihak swasta ke
Negara-negara lain, aliran modal resmi adalah pinjaman dan pembayaran di antara badan-badan
pemerintah di sesuatu Negara dengan Negara-negara lain. Sedangkan investasi langsung
BAB DUABELAS

Swasta adalah penanaman modal langsung, yaitu investasi berupa mendirikan perusahaan-
perusahaan terutama perindustrian. Modal yang di belanjakan di peroleh dari Negara asal
perusahaan tersebut. Perbedaan di antara modal jangka panjang yang di terima dari luar negri
dengan modal jangka panjang yang di bayarkan ke luar negri dinamakan neraca modal
jangkapanjang. Apabila nilainya positing, keadaan ini berarti lebih banyak modal jangka panjang
yang di terima dari luar negri dari yang dibayarkan ke luar negri. Aliran seperti itu membantu
memperkukuh neraca pembayaran. Di samping itu aliran modal jangka panjang dapat
meningkatkan perbelanjaan pembangunan pemerintah dan investasi sector swasta.

Modal Swasta dan Kesilapan-Ketinggalan


Dua akaun penting lain dalam neraca pembayaran meliputi akaun “modal swasta” dan “kesilapan
dan ketinggalan”. Yang dimaksudkan dengan “modal swasta” adalah aliran-aliran modal dalam
bentuk tabungan dalam investasi keuangan yang dapat dengan cepat ditukarkan kembali kepada
valuta yang asal atau valuta yang lainnya .aliran keuangan ininjuga dinamakan sebagai “hot
money”. Dinamakan demikian karrena dana tersebut dapat mengalir dari suatu Negara ke Negara
lain dengan mudah dan dalam waktu yang cepat. Uang tersebut biasanya meliputi uang yang
diinvestasikan di pasaran uang dan pasaran modal untuk memperoleh keuntungan dari investasi
tersebut. Pembelian saham-saham domestik oleh suatu perusahaan “mutual fund” di New York
merupakan salah satu contoh dari aliran masuk modal swasta.
Akaun kesilapan dan ketinggalan merupakan akauan yangb menaksir besarnya aliran uang
yang tidak dapat di catat. Dalam setiap neraca pembayaran perlu ada akaun yang menaksir
basarnya aliran uang yang tidak dapat di catat. Dalam setiap neraca pembayaran perlu ada akaun
kesilapan dan ketinggalan untuk memastikan agar penghitungan aliran ke luar dan aliran masuk
adalah seimbang. Anda membawa uang Rp 100 ribu. Ketika anda menghitung sisa uang setelah
dibelanjakan, sisanya adalah Rp 40 ribu. Akan tetapi dalam ingatan anda yang dibelanjakan
hanyalah Rp 50 ribu. Berarti anda tidak bias mengetahui bagaimana uang sebanyak Rp 10 ribu lagi
digunakan. Dalam neraca pembayaran nerca ini di catat dalam akaun “kesilapan dan ketinggalan”.

CADANGAN VALUTA ASING


Aliran pembayaran dan invesatasi yang masuk ke dalam suatu Negara dalam suatu waktu tertentu
biasanya berbeda dengan aliran ke luar untuk pembayaran dan investasi ke luar negri. Perbedaan
di antara keduanya dinamakan “neraca keseluruhan”. Apabila neraca keseluruhan bernilai positif,
artinya adalah: aliran pembayaran dan investasi ke sesuatu Negara melebihi aliran yang sama ke
Negara-negara lain. Dengan demikian; sebaliknya, nilai negative menggambarkan bahwa aliran ke
luar melebihi aliran yang masuk.
Dalam keadaan dimana sesuatu Negara lebih banyak membuat pembayaran ke luar negri
kalau dibandingkan dengan penerimaannya, maka bank sentral harus mengurangi cadangan
valuta asingnya untuk melakukan pembayaran tesebut. Sebaliknya, apabila yang diterima dari
Negara-negara lain adalah lebih banyak dari yang harus dibayar, maka cadangan valuta asing akan
bertambah. Dalam informasi mengenai “perubahan dalam cadangan bank sentral”, yang di
tunjukkan adalah (i) jumlah perubahan cadangan tersebut dalam satu tahun tertentu, dan (ii)
banyaknya jumlah perubahan dari tiap-tiap jenis harta bank sentral.
NERACA PEMBAYARAN DAN KURS VALUTA ASING
NERACA PEMBAYARAN SELALU SEIMBANG
Apabila di perhatikan uraian di atas dengan cermat, maka akan dapat di simpulkan bahwa suatu
neraca pembayaran akan selalu seimbang, yaitu aliran uang dan modal ke luar negri adalah sama
dengan aliran uang dan modal yang masuk ke negara tersebut. Ini tidak berarti bahwa neraca
berjalan selalu dalam keadaan seimbang, dan begitu pada neraca modal dalam selalu keadaan
seimbangan. Yang menyebabkan neraca pembayaran yang selalu seimbang adalah:
ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh
perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh bank sentral.
Untuk menjelaskan maksud rumusan di atas, perhatikan contoh berikut (nilai-nilai dlam
triliun rupiah):
i. Neraca berjalan + 40
ii. Neraca modal jangka panjang + 20
iii. Modal keuangan swasta _ 30

NERACA KESELURUHAN
iv. Perubahan cadangan mata
uang asing bank sentral _ 30

Contoh di atas menggambarkan bahwa dalam neraca berjalan terdapat surplus sebanyak
Rp 40 triliun dan aliran modal jangka panjang memperoleh surplus sebanyak Rp 20 triliun.
Dalam aliran modal swasta terdapat deficit sebanyak Rp 30 triliun, dan ni menyebabkan
neraca keseluruhan hanya memperoleh surplus sebanyak Rp 30 triliun. Surplus dalam
neraca keseluruhan ini berarti: Negara itu menerima Rp 30 triliun dari Negara-negara lain.
Ini menyebabkan cadangan valuta asing bank sentral bertambah dengan jumlah yang
sama. Akibat dari pertambahan cadangan ini maka neraca pembayaran akan menjadi
seimbang, yaitu aliran uang dan modal yang masuk dan yang keluar adalah telah sama
banyaknya. (Catatan: dalam neraca pembayaran tanda (-) dalam perubahan cadangan
valuta asing menggambarkan partambahan cadangan, dan tanda positif (+) berarti
pengurangan cadangan valuta asing bank sentral).

NERACA PERDAGANGAN DAN PEMBAYARAN INDONESIA


Setiap Negara, walaupun menggunkan prinsip yang sama seperti yang telah diterangkan dalam
bagian sebelum ini dalam menyusun data neraca pembayarannya, membuat klasifikasi yang agak
berbeda dalam mengemukakannya. Di Indonesia neraca pembayaran di susun seperti yang
ditunjukkan oleh Tabel 12.1
Data yang di kemukakan adalah untuk tahun 1996/67, yaitu tahun sebelum krisis moneter
melanda Indonesia, dan tahun 2000/01. Data tersebut dapat memberi gambaran kasar tentang
bagaimana bentuk hubungan ekonomi indonesai dengan Negara-negara lain sebelum dan
sesudah krisis moneter. Susunan neraca pembayaran ini dapat dibedakan kepada tiga golongan
mutasi keuangan, yaitu (i) transaksi berjalan, (ii) transaksi modal, dan (iii) selisih perhitungan.
BAB DUABELAS

TABEL 12.1
Nerca Pembayaran Indonesia, 1997 dan 2001 (juta dollar US)

Jenis Mutasi Keuangan 1996/97 2000/01


A. Transaksi Berjalan
1. Ekspor- impor barang
a. Ekspor 52.038 65.408
i. Non migas (39.267) (50.341)
ii. Migas (12.771) (15.067)
- Minyak (7.513) (7.954)
- Gas (5.258) (7.113)
b. Impor 45.819 40.367
i. Non migas (41.126) (34.376)
ii. Migas (4.963) (5.989)

- minyak (4.423) (5.653)

- LNG (270) (336)

Neraca perdagangan 6.219 25.041

2. Ekspor-imor jasa-jasa (neto) -14.288 -17.050


a. Non migas (-10.747) (-12.500)
b. Migas (-3.541) (-4.550)

Neraca transaksi berjalan -8.069 7.991

B. Transaksi Modal
1. Modal pemerintah (neto) -820 3.218
a. Penerimaan 5.298 7.490
i. CGI (4.857) (4.420)
ii. Di luar CGI (441) (5.070)
b. Pelunasan -6.118 -4.274
2. Modal swasta (neto) 13.488 -9.990
a. Penanaman modal langsung (6.546) (-4551)
b. Lainnya (6.592) (-5.439)
3. Jumlah (1) + (2)

C. Selisih perhitungan 701 3.824

Neraca keseluruhan 3.898 5.043

Sumber: Badan Pusat Statistik, Indikator Ekonomi.


NERACA PEMBAYARAN DAN KURS VALUTA ASING

Transaksi Berjalan
Data ini dibedakan kepada dua golongan: ekspor dan impor barang, dan ekspor-impor neto jasa-
jasa. Seterusnya setiap golongan data ini dibedakan pula kepada ekspor dan impor Non-Migas dan
Migas. Pada tahun 1996/97 ekspor Indonesia berjumlah US$52,04 milyar dan meningkat menjadi
US$65,4 milyar pada tahun 2000/01. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh perkembangan
ekspor Non-Migas yaitu dari US$39,3 milyar pada tahun 1996/97 menjadi US$50,3 milyar pada
tahun 2000/01. Ekspor Migas hanya mengalami kenaikan sebanyak kurang lebih US$2,3 milyar
dan pertambahan tersebut terutama disebabkan oleh kenaiikan ekspor gas alam.
Dalam periode yang sama impor merosot dari US$ 45,8 milyar menjadi US$40,4 milyar dan
penurunan ini disebabkan oleh pengurangan impor Non-Migas, yaitu ari US$41,1 milyar kepada
US$34,4 milyar. Sedangkan impor migas mengalami kenaikan (dari US$4,7 milyar menjadi hampir
US$ 6 milyar).
Perkembangan ekspor dan impor seperti yang di terangkan di atas menyebabkan dalam
periode di atas neraca perdagangan mengalami perbaikan yang sangat signifikan, yaitu surplusnya
meningkat dari US$6,2 milyar menjadi US&25,0 milyar. Perbaikan dalam neraca perdagangan ini
menimbulkan efek yang positif terhaap neraca transaksi berjalan yang mengalami deficit dalam
tahun 1996/7 (sebanyak lebih dari US$8 milion) tetapi mengalami surplus pada tahun 2000/01
(sebanyak hamper US$8 milyar). Deficit ekspor dan impor jasa neto meningkat dari US$14,3 milyar
menjadi US$17,1 milyar.

Transaksi Modal dan Selisih Perhitungan


Transaksi berjalan memberikan gambaran tentang nilai transaksi yang diakibatkan oleh kegiatan
perdagangan barang an jasa. Dengan data yang ditunjukkan menggambarkan nilai barang (seperti
karet, minyak, hasil industry manufaktur) dan jasa (seperti pelancongan, keuntungan dari investasi
di luar negri dan biaya pengangkutan) yang diperdagangkan. Sedangkan transaksi modal
menggambarkan aliran ke luar masuk modal diantara Indonesia dengan Negara-negara lain.

Transaksi modal Data transaksi modal dibedakan kepada dua kelompok: nilai neto aliran
modal kepada pemerintah, dan nilai neto aliran swasta. Berbeda dengan perkembangan dalam
neraca perdagangan, yang menunjukkan pembaikan yang cukup menggalakkan, transaksi modal
menunjukkan arah aliran (trend) yang cukup memperihatinkan. Data yang ditunjukkan
memberikan gambaran yang berikut:

i. Pinjaman pemerintah semakin meningkat dan pembayaran utang semakin merosot.


Pada tahun 1996/97 penerimaan pinjaman pemerintah berjumlah hamper US$5,3 milyar
Dan meningkat menjadi US$7,5 milyar pada tahun 2000/01. Sedangkan pelunasan hutang
Merosot dari US$6,1 milyar menjadi US$4,3 milyar.
ii. Aliran modal swasta menunjukkan gambaran yang lebih suram. Pada tahun 1996/97 aliran
Masuk neto modal swasta mencapai US$13,5 milyar dan terdiri dari lebihUS$6,5 lainnya.
BAB DUABELAS
Arah alirannya (trend-nya) menjadi terbalik pada tahun 2000/01, yaitu aliran modal neto
Mengalami defisit sebesar US$10 milyar yang terbagi kepada deficit hamper sebesar
US$5,4 milyar dalam defisit aliran modal lainnya.
iii. Perkembangan aliran modal yang diterangkan dalam (i) dan (ii) menggambarkan
pembalikan total terhadap trend aliran modal ke Indonesia. Pada tahun 1996/97, aliran
masuk neto (yang merupakan gabungan aliran neto modal pemerintah dan modal swasta)
berjumlah US$12,7 milyar. Pada tahun 2000/01 aliran neto modal telah mengalami defisit
sebesar hamper US$6,8 milyar.

Selisih perhitungan Nilai selisih penghitungan meningkat dari US$701 juta menjadi lebih dari
US$3,8 milyar. Pertambahan ini menggambarkan aliran modal yang tidak dicatat semakin
meningkat. Nilainya yang positif berarti pada tahun 2000/01 aliran modal masuk ke Indonesia yang
tidak dicatat semakin meningkat dan jumlahnya cukup besar.

Neraca Kesesluruhan
Neraca keseluruhan menggambarkan jumlah aliran neto yang dicatat di ketiga kelompok transaksi,
yaitu transaksi berjalan, transaksi modal, dan selisih perhitungan. Walaupun aliran moal dan
ekspor dan impor jasa menggambarkan keadaan yang kurang menggalakkan dan
memperihatinkan, neraca keseluruhan masih menunjukkan gambaran yang semakin membaik
surplus neraca keseluruhan meningkat dari hamper US$ 4 milyar menjadi lebih dari US$5 milyar.
Faktor utama yang menyebabkan arah aliran yang menggagalkan tersebut adalah
pembaikan dalam neraca perdagangan, yang telah mengalami peningkatan yang sangat besar.
Surplus neraca perdagang yang besar tersebut mampu menutupi deficit dalam neraca
perdagangan jasa dan deficit dalam aliran modal. Surplus yang yang bresar dalam perdagangan
menyebabkan pula perubahan neraca transaksi berjalan dari deficit menjadi surplus.
Data neraca pembayaran tahun 2000/01 menunjukan: walaupun neraca keseluruhan
dalam kedaaan surplus, akan tetapi kedudukannya kurang kukuh. Apabila perekonomian
Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat kembali, impor akan mengalami kenaikan yang
pesat. Begitu juga ekspor-impor jasa neto defisitnya akan semakin meningkat. Seterusnya
pengaliran modal pemerintah (yaitu kecondongan pemerintah untuk meminjam dari Negara lain)
belum tentu dapat di kurangi. Apabila hal-hal yang dinyatakan ini berlaku, kedudukan neraca
pembayaran yang kukuh hanya mungkin berlaku apabila neraca perdagangan dan aliran modal
swasta semakin bertambah kukuh. Menciptakan hal tersebut merupakan tanggung jawab kita
bersama: sebagai contoh, aliran modal bukan saja memerlukan kestabilan ekonomi dan prospek
keteguhan sektor moneter, tetapi juga bergantung kepada kestabilan politik dan social
masyarakat. Seterusnya neraca perdagangan yang bertambha baik memerlukan perkembangan
ekspor yang pesat. Di samping para pengusaha perlu berusaha ke arah itu, dorongan sangat di
perlukan.

NERACA PEMBAYARAN DAN KURS VALUTA ASING

Pertumbuhan Ekonomi
Efek yang akan diakibatkan oleh sesuatu kemajuan ekonomi kepada nilai mata uangnya
tergantung kepada corak pertumbuhan ekonomi yang berlaku. Apabila kemajuan itu
terutama diakibatkan oleh perkembangan ekspor, makan permintaan ke atas mata uang
negara itu bertambah lebuh cepat dari penawarannya dan oleh karenanya nilai mata uang
negara itu naik. Akan tetapi, apabila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang
lebih cepat dari ekspor, penawaran mata uang negara itu lebih cepat bertambah dari
permintaannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara tersebut akan merosot.

KURS PERTUKARAN DAN NERACA PEMBAYARAN

Sistem penentuan valuta asing menimbulkan efek yang sangat berbeda ke atas neraca
pembayaran. Sistem kurs pertukaran yang ditentukan oleh mekanisme pasar
berkecenderungan akan menyebabkan ketidakseimbangan yang terus-menerus dalam
neraca pembayaran, sedangkan kurs pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah
berkecenderungan menimbulkan neraca pembayaran yang tidak seimbang. Uraian di bawah
ini menerangkan sebabnya kecenderungan seperti itu wujud.

NERACA PEMBAYARAN DALAM SISTEM KURS


TUKARAN BERUBAH BEBAS
Bagaimana sistem kurs berubah bebas berkecenderungan untuk menyeimbangkan neraca
pembayaran, dapat diterangkan dengan bantuan Gambar 12.4. kurva DD menggambarkan
permintaan penduduk Indonesia ke atas mata uang baht Thailand, dan kurs SS
menggambarkan keinginan penduduk Thailand menawarkan baht mereka kepada penduduk
Indonesia. Berdasarkan kepada persilangan di antara kurva DD dan SS maka dapat
disimpulkan bahwa kurs pertukaran adalah: 1 baht = 200 rupiah. Pada kurs pertukaran ini
(yang akan digunakan mengimpor barang dari Thai), adalah sama denga penawaran baht
(yang akan digunakan oleh penduduk Thailand untuk mengimpor barang dari Indonesia),
yaitu sebanyak Q1 baht. Maka neraca pembayaran adalah seimbang. Perubahan dalam
citarasa penduduk Thailand menyebabkan mereka ingin mengimpor lebih banyak barang
dari Indonesia. Perubahan ini menyebabkan penawaran baht bertambah dari SS menjadi
S1S1. Akan tetapi permintaan Indonesia terhadap baht tetap seperti ditunjukkan oleh kurva
DD. Maka harga baht merosot. Kurs pertukaran yang sekarang adalah; satu baht adalah
sama dengan 100 rupiah.
Bagaimanakah efek perubahan di atas kepada neraca pembayaran? Gambar 12.4
menunjukkan bahwa perubahan citarasa penduduk Thailand dan perubahan kurs pertukaran
menyebabkan impor Thailand dari Indonesia bertambah dari Q1 menjadi Q2. Pada waktu
yang sama, nilai baht yang merosot menyebabkan barang Thailand menjadi relative lebih
murah. Maka penduduk Indonesia menaikkan impornya. Sebagai akibatnya impor Thailand
dari Indonesia yang semakin bertambah akan diimbangi oleh pertambahan impor Indonesia
dari Thailand. Pada akhirnya, neraca pembayaran masih tetap seimbang.

GAMBAR 12.4
Kurs Berubah Bebas dan Neraca Pembayaran
Kuantitas mata uang baht

NERACA PEMBAYARAN DALAM SISTEM KURS


PERTUKARAN TETAP
Gambar 12.5 menunjukkan permintaan dan penawaran ke atas dolar US di antara Amerika
Serikat dan Indonesia. Kurva SS mengambarkan jumlah valuta dolar yang ditawarkan oleh
penduduk Amerika Serikat kepada penduduk Indonesia. Sedangkan kurva DD
mengambarkan permintaan penduduk Indonesia ke atas dolar US. Maka apabila kurs
pertukaran ditentukan oleh pasar bebas, setiap unit dolar US adalah sama dengan Rp
10.000. pada kurs pertukaran ini sebanyak Q0 dolar akan diperjualkan antara penduduk
Indonesia dan Amerika Serikat. Seperti yang telah diterangkan neraca pembayaran akan
seimbang karena permintaan ke atas dolar US adalah sama dengan penawarannya.
Andaikan di Indonesia kurs pertukaran tidak ditetapkan oleh pasar bebas, tetapi
diterapkan oleh pemerintah. Berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, selanjutnya
misalkan pemerintah Indonesia menentukan bahwa kurs pertukaran di antara dolar US dan
rupiah adalah: satu dolar US sama dengan Rp 12.500. Ditinjau dari segi pandangan
Indonesia nilai tukaran yang ditetapkan oleh pemerintah ini adalah lebih rendah dari yang
ditentukan oleh pasar bebas, karena dalam pasar bebas setiap dolar US dapat dibeli dengan
harga: Rp 10.000. Dalam keadaan seperti ini rupiah Indonesia dinamakan mata uang yang
dinilai terlalu rendah atau undervalued. Sebaliknya apabila kurs pertukaran diantara dolar
US dan rupiah adalah lebih baik (dari sudut pandangan penduduk Indonesia) dari yang
ditetapkan dari pasar bebas, misalkan kurs pertukaran yang ditetapkan adalah: satu dolar
US sama dengan Rp 7.500, maka kurs pertukaran ini menyebabkan nilai rupiah dinamakan
sebagai mata uang yang dinilai terlalu tinggi (overvalued).
Gambar 12.5 menunjukkan bahwa apabila kurs pertukaran yang ditetapkan adalah
US$1 = Rp 12.500, maka akan wujud ketidakseimbangan dalam permintaan dan penawaran
mata uang
Gambar 12.5
Kurs Pertukaran Tetap dan efeknya ke atas Neraca Pembayaran

Kuantitas dolar US

dolar. Pada kurs pertukaran tersebut QB dolar US ditawarkan oleh penduduk Amerika
sedangkan hanya sebanyak QA dolar US diminta oleh penduduk Indonesia. Keadaan seperti
ini berari bahwa Indonesia mengalami surplus dalam neraca pembayaran, karena
penduduk Amerika menawarkan lebih banyak dolar US kalau dibandingan dengan jumlah
dolar US yang diminta Indonesia. Secara umum dapat dibuat rumusan yang berikut: oleh
karena kurs pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah selalu berbeda dengan kurs yang
ditetapkan oleh pasar bebas, maka dalam sistem kurs pertukatan tetap, neraca
pembayaran akan cenderung dalam keadaan tidak seimbang. Dapatkah anda menerangkan
keadaan yang akan wujud andaikata pemerintah Indonesia menetapkan kurs yang berikut:
US$ 1.00 = 7.500?

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

Dalam perekonomian terbuka, masalah yang dihadapi suatu negara menjadi lebih rumit,
dan kebijakan yang perlu dirumuskan dan dilaksanakan pemerintah perlu difikirkan dengan
lebih baik. Dalam tertutup hanya dua masalah yang perlu difikirkan pemerintah dalam
merumuskan kebijakan ekonomi: masalah pengangguran dan masalah inflasi. Dalam
perekonomian terbuka, di samping memperhatikan masalah tersebut harus pula
diperhatikan efek dari kebijakan pemerintahyang dirumuskan terhadap neraca pembayaran
dan kestabilan kurs pertukaran. Difisit dalam neraca pembayaran akan menimbulkan efek
buruk terhadap kestabilan kurs pertukaran. Pada akhirnya kedua masalah itu akan
menimbulkan efek buruk kepada masalah pengangguran dan kestabilah harga-harga.
Pada dasarnya masalah yang dihadapi oleh sesuatu perekonomian terbuka akan
berbentuk salah satu dari empat masalah berikut:
i. Perekonomian menghadapi masalah pengangguran, tetapi terdapat surplus da;am
neraca pembayaran.
ii. Perekonomian menghadapi masalah inflasi tetapi terdapat surplus dalam neraca
pembayaran.
iii. Perekonomian menghadapi masalah pengangguran dan di samping itu menghadapi
masalah defisit dalam neraca pembayaran.
iv. Perekonomian menghadapi masalah inflasi dan di samping itu menghadapi masalah
defisit dalam neraca pembayaran.

Dalam kasus(i) dan (ii) neraca pembayaran adalah dalam keadaan menguntungan
(mempunyai surplus) maka yang perlu difikirkan hanyalah mengatasi masalah
pengangguran (kasus i) atau inflasi (kasus ii). Masalah yang harus dihadapi menjadi lebih
rumit apabila bentuk masalah yang dihadapi adalah seperti dalam (iii) dan (iv).
Pengangguran atau inflasi yang diikuti pula oleh masalah defisit dalam neraca pembayaran
memerlukan langkah-langkah yang secara serentak akan:

i. Mengatasi masalah pengangguran dan defisit dalam neraca pembayaran, apabila


perekonomian itu menghadapi masalah seperti yang dinyatakan dalam (iii).
Kebijakan pemertintah untuk mengatasi masalah seperti ini biasanya berbentuk
kebijakan memindahkan perbelanjaan.
ii. Mengatasi inflasi dan defisit dalam neraca pembayaran, apabila ekonomi itu
menghadapi masalah seperti yang dinyatakan dalam (iv). Kebijakan pemerintah
yang dijalankan akan meliputi langkah-langkah yang digolongan kepada kebijakan
mengurangkan perbelanjaan.

KEBIJAKAN MEMINDAHKAN PERBELANJAAN


Yang dimaksudkan dengan “kebijakan memindahkan perbelanjaan” adalah langkah-
langkah pemerintah untuk mengatasi masalah defisit dalam neraca pembayaran yang akan
mengakibatkan pertambahan ekpor dan pengurangan impor. Kebijakan memindahkan
perbelanjaan dijalankan apabila: defisit neraca pembayaran wujud ketika perekonomian
juga menghadapi masalah pengangguran. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dapat
dijalankan untuk mengatasi kedua masalah di atas. Langkah-langkah yang akan
mengurangi impor dan mendorong konsumsi barang dalam negeri adalah seperti yang
dinyatakan di bawah ini:

a. Melakukan pembatasan impor, ini dapat dilakukan dengan menaikkan


pajak impor (tarif). Di samping itu dapat pula dijalankan dengan
menggunakan kuota dan melakukan kampanye untuk membeli barang dalam
negeri.
b. Menekan (mengurangi penggunaan valuta asing) pemerintah (melalu
bank sentral) mencatu penggunaan mata uang asing. Masyarakat dan para
pengusaha haruslah menerangkan tujuan mereka membeli valuta asing.
Pemerintah lebih mengutamakan pengguna valuta asing untuk mengimpor
barang keperluan pokok dan bahan mentah sektor industry dan tidak
mendorong usaha mengimpor barang-barang mewah.
c. Menurunkan nilai mata uang (devaluasi). Langkah ini menyebabkan
barang impor menjadi lebih mahal, dan akan mengurang impor. Sebalikny
barang ekspor menjadi murah di pasaran luar negeri dan akan menambah
ekspor.

Langkah-langkah yang akan menambah ekspor sehingga menambah penerimaan valuta


asing adalah:
a. Memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan
dalam produksi barang ekspor. Insentif-insentif ini antara lain adalah
membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak (free trade zone),
memberikan kemudahan pinjaman, atau member subsidi ekspor.
b. Mewujudkan kestabilan upah dan harga. Pertambahan ekspor sangat
tergantung kepada kemapuan ekspor negara untuk bersaing di luar negeri.
Salah satu faktor yang menetukan kapasitas bersaing adalah biaya produksi
yang rendah. Untuk memastikan agar biaya prodiksi tetap rendah, upah dan
harga-harga barang dalam negeri perlu distabilkan.
c. Menurunkan nilai valuta. Seperti telah diterangkan di atas menurunkan
nilai valuta bukan saja akan dapat mengurangkan impor tetapi juga akan
menambahkan ekpor.

KEBIJAKAN PENGURANGAN PERBELANJAAN


Yang dimaksudkan dengan “kebijakan pengurangan perbelanjaan” adalah langkah-langkah
pemerintah untuk mengatasi masalah kurangan dalam neraca pembayaran dengan
mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara. Kebijakan
pemerintah untuk mengatasi masalah dalam neraca pembayaran dengan cara
“mengurangkan perbelanjaan” akan dilakukan apabila:

i. Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan di samping itu


juga inflasi telah wujud.
ii. Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalamneraca
pembayaran.

Kebijakan “mengurangkan perbelanjaan” akan menurunkan impor, akan tetapi ekspor tidak
akan dipengaruhi oleh kebijakan seperti itu. Keadaan ini akan mewujudkan neraca
pembayaran yang menguntungkan atau seimbang. Kebijakan mengurangi perbelanjaan
dapat dilaksanakan dengan mengambil langkah-langkah berikut:
a. Menaikkan pajak pendapatan. Pajak ini akan mengurangi pendapatan
disposebel dan pengurangan ini akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
b. Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang. Tujuan ini
dapat dicapai dengan menjalankan kebijakan moneter, misalnya dengan
menaikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bank (suku
diskonto). Penguranggan penawaran uang dan suku bunga yang tinggi akan
mempengaruhi invstasi. Keadaan ini selanjutnya akan mengurangi
pengeluaran agregat.
c. Mengurangi pengeluaran pemerintah. Oleh karena pengeluaran
pemerintah adalah sebagian dari pengeluaran agregat, maka pengurangan
pengeluaran pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat. Langkah ini
dan langkah yang dinyatakan dalam (a) dpgolongan sebagai kebijakan fiscal.

DEVALUASI (PENURUNAN NILAI VALUTA)


Devaluasi biasanya dilakukan oleh negara-negara yang menjalankan sistem kurs pertukaran
tetap. Devaluasi adalah tindakan pemerintah yang menurunkan nilai mata uangnya
terhadap valuta asing. Sebagai contoh misalkan pada mulanya 1 dolar US sama dengan
Rp 7.500. Apabila kurs itu diubah pemerintah menjadi US$1 = Rp 10.000 maka dikatakan
bahwa Indonesia telah mendevaluasi mata uangnya. Dengan kurs pertukaran yang baru,
dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk memperoleh satu dolar Amerika Serikat. Efek-efek
yang mungkin ditimbulkan olehg devaluasi adalah:

a. Ekspor akan bertambah, karena di pasaran luar negeri ekspor negara menjadi
lebih murah.
b. Impor berkurang, karena barang luar negeri menjadi lebih mahal.
c. Kenaikkan ekspor dan pengurangan impor akan memperbaiki neraca
pembayaran.
d. Pendapatan nasional akan bertambah oleh karena (a) ekspor naik, (b)
penguranggan impor menaikkan permintaan produksi domestic, dan (c)
kenaikkan yang diakibatkan oleh (a) dan (b) akan mendorong investasi.
e. Mungkin inflasi berlaku, yaitu apabila kenaikkan harga barang-barang impor
akan mendorong kepada wujudnya kenaikkan harga barang-barang produksi
dalam negeri. Inflasi juga dapat berlaku apabila dievaluasi dilakukan ketika
perekonomian mengalami kemakmuran yang tinggi. Ini disebabkan karena
kenaikkan ekspor dan perkembangan kegiatan ekonomi yang lain yang
diakibatkan oleh devaluasi akan menaikkan upah buruh dan harga-harga
(oleh karena permintaan yang berlebihan).
f. Di luar negeri mungkin negara-negara lain melakukan langkah balasan
dengan menggunakan halangan perdagangan impor (yang dikenakan ke atas
ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya) atau dengan melakukan
devaluasi.

Syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menyesuaikan devaluasi adalah:


a. Ekspor negara itu elastis. Hanya dalam keadaan ini hasil penjualan ekspor
bertambah. Apabila permintaan luar negeri ke atas barang ekspor negara
yang mendevaluasikan valutanya tidak elastis, devaluasi akan mengurangi
hasil penjualan ekspor.
b. Permintaan impor negara itu adalah elastis. Apabial permintaan impor
elastic, devaluasi mengurangi jumlah impor dengan tingkat yang lebih tinggi
dari penurunan nilai mata uang. Maka pengeluaran ke atas barang impor
akan menjadi lebih kecil dari sebelum devaluasi.
c. Di dalam negeri tidak berlaku inflasi. Apabila devaluasi mengakibatkan
inslasi di dalam negeri, barang ekspor dan barang buatan dalam negeri akan
mengalami kenaikan harga. Apabila tingkat kenaikan harga lebih besar dari
tingkat devaluasi, pada akhirnya harga ekspor menjadi lebih mahal dan
barang impor lebih murah dari sebelum devaluasi. Pada akhirnya negara itu
tidak memperoleh sembang keuntungan dari evaluasi.
d. Negara lain tidak melakukan reaksi balasan dan melakukan devaluasi
pula. Apabila negara-negara lain melakukan tindakan yang sama, devaluasi
tidak akan memberikan sebarang efek kepada neraca pembayaran dan
perekonomian negara. Langkah seperti itu akan dijalankan apabila negara
lain tersebut merupakan partner dagang yang sangat penting.
RINGKASIN DAN KONSEP PENTING

RINGKASAN
1. Masalah yang dihadapi dalam perekonomian terbuka adalah lebih rumit daripada
masalah yang dihadapi dalam perekonomian tertutup. Dalam jangka pendek
perekonomian tertutup hanya perlu menghadapi masalah pengangguran dan inflasi.
Dalam perekonomian terbuka di samping masalah pengangguran dan inflasi, harus
pula dihadapi kemungkinan berlakunya ketidakseimbangan dalam neraca
pembayaran dan ketidakstabilan. Apabila neraca pembayaran dalam keadaan defisit
dan valuta asing meningkat nilainya, masalah sektor luar negeri ini akan dapat
memperburuk masalah inflasi dan pengangguran.
2. Neraca pembayaran mencatat berbagai jenis aliran masuk dan aliran ke luar
keuangan yang berlaku dari suatu negara ke negara laindalam suatu tahun tertentu.
Bentuk umum neraca pembayaran adalah seperti yang ditunjukkan di bawah ini:
3.

A. Neraca perdagangan : (X-M)


Ekspor : X
Impor : M
B. Neraca jasa (neto)
Pengangkutan dan asuransi :
Pelancongan dan perjalanan :
Pendapatan investasi :
C. Transfer (neto)
D. Neraca modal jangka panjang :
Modal pemerintah
Investasi langsung pemerintah:
E. Modal swasta :
F. Ralat dan ketinggalan :

NERACA KESELURUHAN : A+B+C+D+E+F

4. Neraca keseluruhan akan menunjukan apakah neraca pembayaran dalam keadaan


surplus atau defisit. Defisit dalam neraca pembayaran akan mengurangi cadangan,
dan surplus dalam neraca pembayaran akan menambah cadangan valuta asing.
Apabila neraca pembayaran terus menerus mengalami surplus dengan sendirinya
cadangan valuta asing semakin bertambah. Arah aliran ini akan menstabilkan dan
mengukuhkan nilai mata uang dalam negeri. Kecenderungan yang sebaliknya, yaitu
defisit neraca pembayaran yang berkepanjangan cenderung akan mengurangi
cadangan valuta asing dan menyebabkan kemerosotan nilai mata uang negara.
Masalah seperti ini dapat menyebabkan keadaan pengangguran menjadi semakin
buruk dan tingkat inflasi semakin cepat. Oleh sebab itu masalah defisit neraca
pembayaran yang berkepanjangan perlu dihindari.
5. Transaksi ekspor, impor, dan jasa aliran dana modal dari suatu neraga ke negara lain
memerlukan pasaran valuta asing, yaitu pasaran yang melakukan pertukaran (atau
jual beli) di antara sesuatu mata uang dengan berbagai mata uang lainnya. Untuk
melakukan pertukaran atau jual beli tersebut dibutukan kurs valuta asing. Dua
sisitem dapat digunakan untuk menentukan kurs valuta asing: sistem kurs
pertukaran tetap dan sistem kurs pertukaran beruabh bebas. Dalam sistem kurs
pertukaran tetap pemerintah akan menentukan nilai pertukaran di antara mata uang
domestik dengan mata uang asing. Dalam kurs pertukaran berubah bebas
permintaan dan penawaran mata uang asing di pasaran akan menetukan kurs
pertukaran.
6. Dalam kurs pertukaran tetap pemerintah akan menentuka nilai berbagai mata uang
atau valuta asing dalam nilai mata uang domestic (yaitu Rupiah). Apabila
pemerintah menetapkan, misalnya US$ 1.00 adalah sama nilainya dengan Rp 9.000
maka dalam setiap transaksi apakah ekspor atau impor atau pengiriman uang lain ke
luar negeri harus menggunakan kurs yang ditetapkan tersebut pada setiap waktu,
walapun dolar US mengalami perubahan nilai di pasaran luar negeri.
7. Dalam setiap kurs pertukaran berubah bebas, perubahan-perubahan kurs pertukaran
terutama disebabkan oleh faktor berikut: perubahan dalam cita rasa masyarakat,
perubahan harga barang yang diekspor dan harga barang yang diimpor dalam
pasaran luar negeri, keadaan inflasi di dalam negeri, suku bunga dan tingkat
pengembalian modal di dalam dan di luar negeri dan pertumbuhan ekonomi di
dalam negeri dan di negara-negara lain.
8. Sistem kurs pertukaran mata uang asing dapat mempengaruhi kedudukan neraca
pembayaran. Dalam sistem kurs pertukaran berubah bebas neraca pembayaran
cenderung untuk menjadi lebih seimbang, sedangkan dalam sistem kurs pertukaran
tetap neraca pembayaran cenderung menjadi lebih tidak seimbang. Maka, untuk
menjamin kestabilan kurs valuta asing perlulah negara yang menggunakan sistem
tersebut menyimpan cadangan mata uang asing yang mencukupi. Ketika berlaku
kelebihan permintaan, bank sentral perlu menjual valuta asing untuk menjamin
kestabilan nilai mata uang dalam negeri, dan ketika kelebihan penawaran mata uang
berlaku bank sentral perlu membeli valuta asing.
9. Dalam perekonomian terbuka masalah ekonomi yang dihadapi adalah berbentuk
seperti salah satu dari yang berikut:
i. Perekonomian menghadapi pengangguran, tetapi neraca pembayaran
mengalami surplus.
ii. Perekonomian menghadapi inflasi, tetapi neraca pembayaran mengalami
surplus.
iii. Perekonomian menghadapi masalah pengangguran dan masalah defisit
dalam neraca pembayaran.
iv. Perekonomian menghadapi inflasi dan defisit dalam neraca pembayaran.
Keadaan yang ideal ialah: mencapai kesempatan kerja penuh dalam keadaan neraca
pembayaran yang kukuh (dalam keadaan surplus). Apabila salah satu masalah di
atas dihadapi kebijakan pemerintah (kebijakan fiskal dan kebiajakn moneter) perlu
dijalankan.
10. Untuk mengatasi masalah yang dinyatakan dalam (i) pemerintah perlu menambah
perbelanjaan agregat seperti yang digunakan dalam perekonomian tertutup
(menambah C, I dan G) dan menambah ekspor tetapi mengurangi impor. Masalah
yang dinyatakan dalam (ii) diatasi dengan melakukan langkah yang sebaliknya dari
yang baru saja dinyatakan. Masalah dalam (iii) diatasi dengan menjalankan
kebijakan memindahkan perbelanjaan-yaitu mendorong kenaikan ekspor dan
mengurangi impor. Manakala masalah dalam (iv) perlu diatasi dengan menjalankan
kebijakan mengurangkan perbelanjaan (pengeluaran).
11. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dapat dilaksanakan dengan melakukan
langkah-langkah berikut: (i) mengurangi impor (misalnya dengan menaikkan tariff
impor), (ii) membatasi penggunaan mata uang asing, (iii) menurunkan nilai mata
uang (mendevaluasikannya), (iv) menambah insentif untuk mengekspor, (iv)
mewujudkan kestabilan upah dan harga. Kebijakan pengurangan perbelanjaan
dilakukan dengan (i) menaikkan pajak pendapatan, (ii) menaikkan suku bunga dam
mengurangi investasi, dan (iii) mengurangi pengeluaran pemerintah. Walau
bagaimanapun dalam mengatasi masalah (iv) pemerintah masih perlu tetap
menjalankan kebijakan mengembangan ekspor. Apabila langkah mengatasi defisit
neraca pembayaran dan pengangguran dijalankan dengan mendevaluasikan mata
uang, keberhasilannya tergantung kepada empat faktor berikut: (i) permintaan
barang ekspor elastic, (ii) permintaan barang yang diimpor elastic, (iii) harga-harga
di dalam negeri stabil, dan (iv) negara lain tidak turut melakukan devaluasi.
KONSEP PENTING
Cadangan mata uang asing: Simpanan mata uang asing yang dimiliki bank sentral, yang
diperoleh dari kelebihan dalam neraca keseluruhan. Cadangan ini merupakan jumlah
kelebihan yang terkumpul hingga ke suatu masa tertentu.

Depresiasi nilai mata uang: Pengurangan nilai mata uang sesuatu negara di pasaran luar
negeri yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran mata uang dalam
pasaran valuta asing. Perubahan tersebut berlaku secara otomatis tanpa dilakukan oleh
pemerintah. Dalam bahasa inggris istilahnya adalah: currency depreciation. Keadaan ini
berlaku dalam sistem kurs pertukaran berubah bebas. Apabila nilai mata uang domestic
meningkat, maka ia dinamakan: apresiasi nilai atau appreciation of currency.

Devaluasi (menurunkan nilai mata uang): Langkah pemerintah untuk mengurang nilai
mata uang domestik berbanding dengan nilai mata uang asing. Langkah seperti ini
dilakukan untuk memperbaiki neraca pembayaran.

Investasi (penanaman modal) langsung: Investasi dari luar negara untuk mendirikan
industry pengolahan atau kegiatan ekonomi lain dalam suatu negara.

Investasi portofolio: Investasi dalam bentuk membeli harta keuangan seperti bond, saham
perusahaaan dari obligasi pemerintah. Dalam neraca pembayaran investasi portofolio
meliputi investasi asing dalam harta keuangan.

Kebijakan memindahkan perbelanjaan: Langkah-langkah pemerintah melalui kebijakan


fiskal, kebiajak moneter dan kebijakan segi penawaran yang bertujuan mendorong
perkembangan ekspor dan mengurangi perbelanjaan impor.

Kebijakan pengurangan perbelanjaan: Langkah-langkah pemerintah melalui kebijakan


fiskal dan kebijakan moneter yang bertujuan mengurangi perbelanjaan agregat, melalui
pengurangan C, I dan G. Pengurangan ini dengan sendirinya akan mengurangi impor.

Kurs pertukaran mata uang asing: Nilai mata uang negara-negara lain dinyatakan dalam
unit mata uang domestik.

Kurs pertukaran berubah bebas (kurs pertukaran mengapung): Kurs pertukaran yang selalu
mengalami perubahan dan nilainya ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasaran
mata uang asing dan perubahannya dari waktu ke waktu.

Kurs pertukaran tetap: Kurs pertukaran yang nilainya ditetapkan oleh pemerintah. Nilainya
selalu berbeda dengan kurs yang akan berlaku apabila ditentukan oleh pasaran bebas.
Apabila nilai mata uang asing lebih tinggi dari di pasaran bebas-yaitu apabila lebih banyak
mata uang domestik yang dibutuhkan untuk memperoleh mata uang asing, mata uang
domestik dinamakan dinilai terlalu rendah (undervalued). Dalam keadaan sebaliknya mata
uang domestik dinamakan dinilai terlalu tinggi (overvalued).

Mata uang asing lebih tinggi dari di pasaran bebas yaitu apabila lebih banyak mata uang
domestik yang dibutuhkan untuk memperoleh mata uang asing, mata uang domestik
dinamakan dinilai terlalu rendah (undervalued). Dalam keadaan sebaliknya, mata uang
domestik dinamakan dinilai terlalu tinggi (overvalued).

Mata uang dinilai terlalu rendah (undervalued): Berlaku dalam sistem kurs pertukaran tetap,
yaitu apabila harga mata uang asing yang ditetapkan pemerintah adalah lebih tinggi dari
yang ditentukan di pasar bebas. Misalnya di pasaran bebas keseimbangan permintaan dan
penawaran dicapai pada harga Rp 8.400 per dolar US. Tetapi Indonesia menetapkan kurs
pertukaran berikut: US$1 = Rp 10.000. Dalam kasus ini Rupiah dinamakan dinilai trlalu
rendah.

Mata uang dinilai terlalu tinggi (overvalued): Kebalikan dari mata uang yang dinilai terlalu
rendah, yaitu mata uang domestik dinilai terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan nilai
yang berlaku di pasaran bebas.

Modal swasta: Modal jangka pendek yang mengalir dari suatu negara ke negara lain untuk
ditabung dalam akun tabungan atau deposito berjangka tetapi terutama untuk diinvestasikan
dalam pasaran uang dan pasaran modal-termasuk pasaran saham.

Neraca modal: Salah satu akun dalam neraca pembayaran yang meliputi aliran modal
jangka panjang dan modal aliran swasta.

Neraca barang dan jasa (neraca transaksi berjalan): Salah satu akun dalam neraca
pembayaran yang meliputi transaksi atau akun berikut (i) akun barangan, (ii) akun jasa
termasuk akun pendapatan investasi, dan (iii) akun transfer.

Neraca modal jangka panjang: Salah satu akun dalam neraca pembayaran, yang
menunjukan aliran modal ke sektor pemerintah dan aliran modal untuk investasi korporat
yaitu investasi perusahaan asing.

Neraca akun berjalan: Perbedaan nilai aliran masuk dengan aliran keluar yang meliputi tiga
akun berikut: akun barangan, akun jasa (termasuk pendapatan investasi) dan akun
pembayaran pindahan.
Neraca akun modal: Perbedaan nilai aliran masuk dengan aliran keluar yang meliputi tiga
butir neraca modal berikut: aliran modal jangka pajang, modal swasta, dan kesilapan dan
ketinggalan.

Neraca keseluruhan: Defisit atau surplus diantara aliran keuangan yang masuk ke sebuah
negara dengan aliran keuangan yang keluar dari negara tersebut. Neraca keseluruhan
merupakan gabungan diantara neraca berjalan dan neraca modal.

Neraca pembayaran: Suatu catatan atau data yang menunjukkan berbagai aliran masuk dan
aliran keluar keuangan yang disebabkan oleh transaksi dalam neraca berjalan dan neraca

Modal, yang berlaku dalam suatu tahun tertentu. Pada umumnya data yang diterbitkan
meliputi aliran bersih, yaitu aliran masuk keuangan di kurangi aliran keluar keuangan.

Neraca perdagangan: Perbedaan diantara nilai ekspor dengan nilai impor dalam suatu tahun
tertentu.

Neraca jasa: Perbedaan di antara nilai ekspor jasa dengan impor jasa dalam satu tahun
tertentu. Dalam neraca jasa diliputi nilai transaksi berikiut: (i) pengangkutan dan asuransi,
(ii) pelancongan, (iii) transaksi pemerintah, dan (iv) jasa lain.

Pendapatan investasi: Hasil yang diperoleh investasi asing yang datang disesuatu negara.
Pendapatan investasi ini terutama dalam bentuk keuntungan yang dikirim ke pusat
perusahaan yang berbedadi negara lain.

Penurunan nilai (menurunkan nilai) mata uang: (Lihat devaluasi) Kasus ini berlaku dalam
sistem kurs pertukaran tetap. Pada pkoknya ini merupakan langkah pemerintah/bank sentral
untuk menurunkan nilai mata uang domestik (dan berarti menaikkan nilai mata uang asing).
Apabila nilai mata uang domestik dinaikkan (dalam nilai mata uang uang asing), langkah
ini dinamakan revaluasi.

Pindahan semasa (pindahan bersih): Aliran ke luar dan masuk uang dari dan ke sesuatu
negara yang bukan bersifat melakukan investasi atau melakukan jal beli barang dan jasa.
Aliran keuangan tersebut terutama berbentuk pemberian.

PERTAYAAN DAN LATIHAN


PILIHAN GANDA
1. Apabila suatu negara mengalami defisit dalam neraca pembayaran, penawaran uang
dalam negeri berkemungkinan akan
A. Turun, oleh karena lebih banyak uang digunakan untuk membeli valuta asing.
B. Turun, oleh karena impor mengurangi pendapatan nasional
C. Bertambah, oleh karena lebih banyak pengeluaran yang di gunakan untuk
membeli barang impor
D. Bertambah, oleh karena lebih banyak barang diperjualbelikan dalam
perekonomian.

2. Dalam sistem kurs pertukaran berubah bebas, defisit dalam neraca pembayaran akan
menyebabkan
A. Ekspor barang berkurang
B. Fungsi impor bergeser k atas
C. Harga valuta asing meningkat
D. Harga valuta asing merosot
3. Langkah pemerintah mendevaluasikan mata uang akan lebih sukses apabila
A. Permintaan ke atas ekspor negara tidak elastis
B. Ekspor negara terutama terdiri dari komoditas utama
C. Ekspor negara terdiri dari barang-barang industri
D. Barang yang diimpor negara itu permintaanya tidak elastis

4. Pendapatan nasional pada keseimbangan apabila perekonomian itu terdiri dari tiga
sektor adalah lebih rendah dari pendapatan nasional apabila ekonomi tersebut
merupakan perekonomian terbuka. Dalam ekonomi ini, pernyataan manakan yang
BENAR?
A. Ekspor negara itu melebihi impornya.
B. Ekspor negra itu kurang dari impornya.
C. Neraca perdagangan negara itu seimbang.
D. Neraca perdagangan negara itu mengalami defisit.

5. Dalam perekonomian tertutup, fungsi pengeluaran agregat adalah AE =500=0,6Y,


dan sekiranya perekonomian tersebut menjadi perekonomian terbuka fungsi
pengeluaran agregat adalah AE=800+0,5Y. Berapakah ekspor bersih (X-M) ketika
perekonomian terbuka tersebut mencapai keseimbangan apabila fungsi impor adalah
M = 0,10Y?
A. 300
B. 160
C. -160
D. 140
6. Kurs pertukaran dolar US dengan baht pada tahun 1997 adalah US$1 = 25 baht.
Pada tahun 1998 kurs pertukarannya telah menjadi US$1 = 40 baht. Berapakah
besarnya devaluasi mata uang bath?
A. 62,5 persen
B. 60 perratus
C. 37,5 peratus
D. 16.0 peratus

7. Yang dimaksudkan dengan investasi portfolio adalah :


A. Investasi asing di sektor industri
B. Investasi asing dalam bentuk pembelian harta keuangan
C. Pinjaman negara asing kepada pemerintah
D. Pinjamna bank dunia kepada pemerintah

8. Pengeluaran agregat dalam perekonomian terbuka adalah: AE = 800 + 0,5Y.


Apabila ekspornya adalah 200 dan fungsi impor adalah M = 0,1Y, neraca dagangan
negara tersebut

A. Mengalami defisit sebanyak 40


B. Memperoleh surplus sebanyak 40
C. Memperoleh surplus sebanyak 80
D. Mengalami defisit sebanyak 80

ESEI

1. a. Terangkan perbedaan antara depresiasi mata uang dan devaluasi mata uang.
Nyatakan dua syarat yang harus dipenuhi untuk mensukseskan devaluasi.
b. Terangkan efek depresiasi atau devaluasi kepada tingkat kegiatan ekonomi.

2. a. Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi, sistem kurs pertukaran yang manakah


yang
sesuai untuk digunakan sesuatu negara?
b. Terangkan peranan cadangan valuta asing dalam sistem kurs pertukaran tetap.

3. Secara grafik terangkan hubungan diantara keseimbangan pendapatan nasional


dalam perekonomian terbuka dengan kedudukan neraca perdagangan.

4. Terangkan konsep berikut :


a. Investasi portfolio
b. Investasi langsung luar negeri
c. Neraca jasa
d. Neraca keseluruhan
e. Neraca berjalan

5. Terangkan perbedaan arti mata uang yang dinilai terlalu tinggi dan terlalu rendah.
Tunjukkan perbedaan itu dalam grafik. Apakah implikasi dari keadaan tersebut
kepada kegiatan ekonomi di dalam negeri?
6. a. Misalkan suatu negara menghadapi masalah pengangguran dan defisit dalam
neraca perdagangan. Terangkan langkah-langkah yang perlu dilakukan
pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
b. Dengan menggunakan grafik suntikan-bocoran terangkan bagaimana
keseimbangan pendapatan nasional yang asal akan dipengaruhi oleh kebijakan
pemerintah tersebut.

KUANTITATIF

1. Tabel berikut menunjukkan permintaan dan penawaran mata uang dolar US di


Thailand pada suatu tertentu.

Harga dolar
US Penawaran Permintaan
(dalam baht) (Ribu dolar US)
36 2.500 4.100
38 3.000 3.800
40 3.500 3.500
42 4.000 3.200
44 4.500 2.900

a. Apakah kurs pertukaran berubah bebas (fleksibel)? Dalam sistem ini berapakah
kurs pertukaran diantara kedua mata uang?
b. Misalkan Thailand menggunakan sistem petukaran tetap dengan kurs US$1=38
baht.
i. Definisikan kurs pertukaran tetap.
ii. Pada pertukaran di atas adakah baht dinilai terlalu tinggi atau terlalu
rendah?
iii.Pada kurs pertukaran diatas apakah yang berlaku dalam pasaran dolar?
Apakah yang perlu dilakukan pemerintah?
c. Apakah efek pertukaran tetap tersebut kepada ekspor dan impor?

2. Permintaan sesuatu mata uang asing (Dwa dan penawaran mata uang asing tersebut
(Swa) di Jepang adalah sebagai berikut:
Dwa = 140 – 2Pwa
Swa = 20 + 4Pwa
Dimana Pwa adalah harga mata uang asing (yang dinyatakan dalam mata uang
Jepang, yaitu yen)
a. Tentukan harga mata uang asing dan jumlah mata uang asing yang
diperjualbelikan.
b. Apakah yang akan berlaku dipasaran mata uang asing apabila harga mata uang
asing adalah 30 yen.
c. Apakah yang akan berlaku di pasaran mata uang asing apabila harga mata uang
asing adalah 15 yen
d. Lukiskan keadaan keseimbangan dalam pasaran mata uang asing diatas, dan
tunjukkan keadaan yang ditanyakkan dalam (b) dan (c).

3. Dalam suatu perekonomian terbuka dimisalkan fungsi konsumsi adalah C = 50 +


0,75 Yd. Pajak pemerintah adalah T = 0,20Y dan investasi, perbelanjaan pemerintah
dan ekspor masing-masing adalah 40,100 dan 60. Impor adalah: M = 0,1Y.
a. Tentukan pendapatan nasional pada keseimbangan. Dengan menggunakan
pendekatan suntikan bocoran, tunjukkan keadaan keseimbangan tersebut.
b. Misalkan pendapatan nasional pada kesempatan kerja penuh adalah 550.
Tentukan kenaikan ekspor yang perlu dilakukan untuk mencapai kesempatan
kerja penuh.
c. Berdasarkan kepada soalan (b), pada kesempatan kerja penuh bagaimanakah
keadaan neraca perdagangan dan anggaran belanja pemerintah?
d. Apabila kesempatan kerja penuh dilakukan dengan menambah perbelanjaan
pemerintah, bagaimanakah keadaan neraca perdagangan dan anggaran belanja
pemerintah?