Anda di halaman 1dari 18

i

ABSTRAK

STANDAR BAIK DAN BURUK BERDASARKAN AJARAN AKHLAK, MORAL DAN ETIKA

Oleh:
Arif Kusman (201955020400791), Abdus Shomad (201955020400783)
Zaimatus Sa’diyah (201955020400801)

INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI


BOJONEGORO

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada materi kelompok 3 tentang
standar baik dan buruk berdasarkan ajaran akhlak, moral dan etika. Adapun yang
menjadi latar belakang makalah ini adalah untuk mengetahui standar baik dan buruk
berdasarkan ajaran menurut akhlak, moral dan etika. Perbuatan manusia selalu terkait
dengan nilai atau norma. Perbuatan itu dapat dinilai baik atau buruk. Namun demikian,
baik buruknya perbuatan itu bukan tergantung dari perbuatan itu sendiri, melainkan suatu
penilaian yang disematkan oleh manusia kepada sebuah perbuatan itu. Karena itu,
predikat baik buruknya perbuatan sifatnya relatif, tidak mutlak. Hal itu disebabkan adanya
perbedaan tolok ukur atau indikator yang digunakan untuk penilaian tersebut.
Perbedaan tolok ukur disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang konteks
pemikiran yang bersumber dari perbedaan-perbedaan kepercayaan, agama, ideologis,
tradisi, budaya, lingkungan, dan lainnya. Dalam Islam, baik buruk tidak ditentukan oleh
akal atau pertimbangan lain, tetapi berdasarkan apa yang ditetapkan Allah sebagaimana
yang tercantum dalam alQur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Umat Islam wajib terikat
kepada kedua sumber tersebut dalam memberi penialaian suatu perbuatan dikatan baik
atau buruk

Kata Kunci: Akhlak, Baik dan Buruk.

ii
DAFTAR ISI

Cover …………………………………………………………………………....……….. i

Abstrak ………...………………………………………………………….........………… ii

Daftar Isi ……………………………………………………………………….........…..... iii

Kata Pengantar ………………………………………………………….........………….. iv

Bab I Pendahuluan ……………………………………………..…..........…..………….. 1

I Latar Belakang …………………………………………………........………………... 1

2 Rumusan Masalah ……………………………………………........………………… 2

3 Tujuan Pembahasan ………………………….……………......…………………..… 2

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………..........……… 3

1. Pengertian Baik dan Buruk …………..……………….…………….....…….. 3


1.1 Pengertian baik …………………………………………………….…….. 3
1.2 Pengertian Buruk ……….…………...………………………………….. 4
1.3 Pengertian Akhlak, Moral dan Etika ……………………………………. 4
2. Standar Baik dan Buruk..…………………….…………….....…………..…… 6

BAB III PENUTUP……………………………………………………..........…………. 13

Kesimpulan ……………………………………………………...…….......…….……… 13

Saran ………………………………………………………………………..........……… 13

Daftar Pustaka ………………………………………………………........………..…… 14

iii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil‘alamin, Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan


sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta
kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah dari mata kuliah Akhlaq tasawuf dengan judul
“Standar Baik dan Buruk Berdasarkan Ajaran Akhlak, Moral dan Etika”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak
kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada
Dosen Pembimbing kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bojonegoro, 25 September 2019

Penulis

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Secara umum kata baik dalam makna lugas berarti sesuatu yang patut dan
berguna. Beberapa pengertian baik yang dijelaskan dari berbagai sumber antara
lain:
1. Baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan (Louis Ma’luf,198).
2. Baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan,
kesenangan, persesuaian, dan seterusnya (Webster’s New Twentieth
Century Dictionary, 789).
3. Baik adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang
diharapkan, yang memberikan kepuasan (The Advanced Learner’s
Dictionary of Current English, 401).
4. Baik adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan (Webster’s World
University Dictionary).
5. Sesuatu hal dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat, memberikan
perasaan senang atau bahagia. Jadi sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai
secara positif (Ensiklopedi Indonesia, 362).1

Sedangkan buruk dalam arti letterlijk, berarti rusak, busuk, atau jahat. Dalam
hubungannnya akhlak, berbagai sumber menjelaskan pengertian buruk sebagai
berikut:

1. Tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempuna, kualitasnya di


bawah standar, kurang dalam nilai.
2. Keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak
dapat diterima. (The Advanced Learner’s Dictionary of Current English).
3. Segala perbuatan yang tercela yang bertentangan dengan normanorma
masyarakat yang berlaku (Ensiklopedi Indonesia).

Dari beberapa definisi tersebut, dapatlah dipahami bahwa sesuatu yang disebut
baik atau buruk itu sangat relatif. Bergantung kepada pandangan, persepsi atau
penilaian masing-masing orang yang memformulasikannya. Oleh karena itu, nilai
baik atau buruk bersifat subyektif, tergantung tolok ukur apa yang digunakan.2

1
Al-Munzir Vol. 8, No. 1, Mei 2015
2
Asfahani, al-Raghib, Mu’jam Mufradat Alfadz Al-Qur’an, Dar Al Fikr, Beirut, t.t.
1
Akan tetapi secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini
berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuanya mempunyai tujuan yang
sama, sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang
pun mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semua itu sama, yaitu bahwa
semuanya ingin baik.3 Dengan kata lain semuanya ingin bahagia. Tak ada seorang
pun dan sesuatu pun yang tidak ingin bahagia. Tujuan dari masing-masing sesuatu,
walaupun berbeda-beda, semuanya akan bermuara kepada satu tujuan yang
dinamakan baik, semuanya mengharapkan mendapatkan yang baik dan bahagia,
tujuan yang akhir yang sama ini dalam ilmu Ethik ”Kebaikan Tertinggi”, yang dengan
istilah Latinnya disebut ”Summum Bonum” atau bahasa Arabnya Al-Khair al-Kully.
Kebaikan tertinggi ini bisa juga disebut kabahagiaan yang universal atau Universal
Happiness.4

4. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Baik dan Buruk?
2. Apa Pengertian Akhlak, Moral, dan Etika?
3. Bagaimana hubungan baik dan buruk menurut akhlak, moral dan etika?

5. Tujuan
1. Untuk mengetahui secara baik pengertian baik dan buruk.
2. Untuk mengetahui secara baik pengertian akhlak, moral dan etika.
3. Untuk mengetahui hubungan baik dan buruk menurut akhlak, moral dan etika

3
Al-Munzir Vol. 8, No. 1, Mei 2015
4
Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, Rajawali Pers, Jakarta, 1992
2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Baik dan Buruk


1.1 Pengertian Baik
Dari segi bahasa adalah terjemahan dari kata khoir dalam bahasa arab
atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma’ruf dalam kitabnya Munjid
mengatakan bahwa yang di sebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai
kesempurnaan.5
Baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
yang luhur, bermanfaat, menyenangkan dan di sukai manusia. Definisi kebaikan
tersebut terkesan anthroposentris yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang
menguntungkan dan membahagiakan manusia, baik berarti sesuatu yang pantas
dikerjakan dan diusahakan dan dikehendaki. Sesuatu yang baik adalah yang
memenuhi hasrat dasar manusia.6
Beberapa pengertian baik yang dijelaskan dari berbagai sumber antara
lain:
a. Ali bi Abi Tahlib. (w.40 H). kebaikan adalah menjauhkan diri dari
larangan, mencari sesuatu yang halal, dan memberikan kelonggaran
kepada keluarga.7
b. Ibnu Maskawaih. Kebaikan adalah yang dihasilkan oleh manusia melalui
kehendaknya yang tinggi.
c. Muhammad Abduh; kebaikan adalah apa yang lebih kekal faedahnya
sekalipun menimbulkan rasa sakit dalam melakukannya. 8
d. Baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan (Louis
Ma’luf,198).
e. Baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam
kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya (Webster’s New
Twentieth Century Dictionary, 789).
f. Baik adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang
diharapkan, yang memberikan kepuasan (The Advanced Learner’s
Dictionary of Current English, 401).

5
Abdullah,M.Yatimin.2007. Study Akhlak dalam PerspektifAl-qur’an.Jakarta : Amzah.
6
Anwar, Rosihun. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
7
M.Syatori, ilmu akhlak, Bandung: lisan, 1987, hlm. 38-39
8
Ibid, hal 38-39
3
g. Baik adalah sesuatu yang sesuai dengan keinginan (Webster’s World
University Dictionary).
h. Sesuatu hal dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat, memberikan
perasaan senang atau bahagia. Jadi sesuatu dikatakan baik bila ia
dihargai secara positif (Ensiklopedi Indonesia, 362).

1.2 Pengertian Buruk


Dalam bahasa arab yang buruk itu di kenal dengan istilah syarr dan di
artikan sebagai sesuatu yang tidak baik, yang tidak seperti yang seharusnya,
tidak sempurna dalam kualitas, di bawah standar kurang dalam nilai.
Dalam beberapa kamus ensiklopedia di himpun pengertian buruk
sebagai berikut:
1. Ibnu Maswkawaih. Keburukan adalah sesuatu yang diperlambat demi
mencapai kebaikan.9
2. Lois Ma’luf: buruk lawan baik, kata yang menunjukkan sesuatu yang
tercela dan dosa.10
3. Rusak /tidak baik, jahat, tidak menyenangkan, tidak elok, jelek.
Perbuatan yang tidak sopan, kurang ajar, jahat, tidak menyenangkan.
Segala yang tercela, lawan baik, lawan pantas, lawan bagus perbuatan
yang bertentangan dengan norma-norma agama, adat istiadat di
masyarakat yang berlaku.
4. Tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempuna, kualitasnya di
bawah standar, kurang dalam nilai.
5. Keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui,
tidak dapat diterima. (The Advanced Learner’s Dictionary of Current
English).
6. Segala perbuatan yang tercela yang bertentangan dengan norma-norma
masyarakat yang berlaku (Ensiklopedi Indonesia).11

1.3 Pengertian Akhlak, Moral dan Etika


Jika dikaji lebih mendalam dan dihubungkan dengan konteks kalimat,
kata moral, etika dan akhlak memiliki pengertian yang berbeda. Moral artinya
ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
kewajiban, budi pekerti. Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan
batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang

9
Ibid, Hal 38
10
Ibid, Hal 379
11
Nata, Abudin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
4
layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Yang dimaksud penilaian benar atau
salah dalam moral, adalah masyarakat secara umum.
Sedangkan akhlak, tingkah laku baik, buruk, salah, dan benar adalah
penilaian dipandang dari sudut hukum yang ada dalam ajaran agama. Sesuai
dengan makna aslinya moral berasal dari bahasa latin yaitu mores kata jama’
dari mos, artinya adalah adat kebiasaan yang menjadi dasar untuk mengukur
apakah perbuatan seseorang baik atau buruk. Oleh karena itu, untuk mengukur
tingkah laku manusia, baik atau buruk dapat dilihat apakah perbuatan itu sesuai
dengan adat istiadat yang umum diterima kesatuan sosial atau lingkungan
tertentu. Karena itu dapat dikatakan baik buruk suatu perbuatan secara moral,
bersifat lokal.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan sebagai ilmu
pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Jadi, etika yaitu ilmu tentang apa
yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Kata “akhlak”
dapat diartikan sebagai perangai. Kata tersebut memiliki arti yang lebih
mendalam karena telah menjadi sifat dan watak yang dimiliki seseorang. Sifat
dan watak yang telah melekat pada diri pribadi akan menjadi kepribadian. Dapat
juga dikatakan bahwa perangai adalah sifat dan watak yang merupakan bawaan
seseorang. Pembentukan perangai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh
faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu lingkungannya. Keluarga
merupakan lingkungan pertama dan terdekat bagi seseorang. Melalui keluarga
dapat terbentuk kepribadian. Perangai dalam penerapannya mungkin
menimbulkan penilaian positif atau negatif tergantung pada perilaku orang yang
melakukan.
Secara lughat (bahasa) akhlak adalah bentuk jamak dari khilqun atau
khuluqun yang artinya budi pekerti, tingkah laku, perangai atau tabi’at. Istilah
akhlak mempunyai sinonim dengan etika dan moral; etika dan moral berasal dari
bahasa Latin yang berasal dari kata etos maknanya kebiasaan, dan mores
artinya kebiasaannya. Kata akhlak berasal dari kata kerja khalaqa yang artinya
menciptakan. Khaliq maknanya pencipta atau Tuhan dan makhluk artinya yang
diciptakan, sedangkan khalaqa maknanya penciptaan. Kata khalaqa yang
mempunyai kata yang seakar diatas mengandung maksud bahwa akhlak
merupakan jalinan yang mengikat atas kehendak Tuhan dan manusia. Pada
makna lain kata akhlak dapat diartikan tata perilaku seseorang terhadap orang
lain. Jika perilaku ataupun tindakan tersebut didasarkan atas kehendak Khaliq
(Tuhan) maka hal itu disebut sebagai akhlak hakiki. Oleh karena itu, akhlak dapat
dimaknai tata aturan atau norma kepribadian dan prilaku yang mengatur

5
hubungan antara sesama manusia (hablumminannas), manusia dengan Tuhan
(hablumminallah), serta manusia dengan alam semesta (lingkungannya).
Adapun pengertian akhlak secara terminologi dapat dipahami dari apa
yang dijelaskan oleh beberapa ahli berikut ini:
1. Ahmad Amin memberikan penjelasan bahwa akhlak adalah menangnya
keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan langsung dan
berturut.
2. Ibn Miskawaih. Menjelaskan bahwa ”Akhlak adalah: Sifat yang tertanam
dalam jiwa yang memotivasinya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
3. Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak dengan: Sifat yang tertanam
dalam jiwa yang dengannya lahirlah berbagai macam dengan gampang
dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

‫عا َدة ُ ا َ ْل ُخلُ ُق‬


َ ِ‫اْ ِإل َر َدة‬
“ Khuluq (akhlak) ialah membiasakan kehendak.”
Ada beberapa persamaan dan perbedaan antara akhlak, etika dan moral
yaitu sebagai berikut:
a. Persamaan
1. Akhlak, Etika dan moral mengacu pada ajaran atau gambaran
tentang perbuatan, tingkah laku, sifat, dan perangai yang baik
2. Akhlak, etika dan moral merupakan prinsip atau aturab hidup
manusia untuk mengukur martabat dan harkat kemanusiaannya.
3. Akhlak, etika dan moral seseorang atau sekelompok orang tidak
semata-mata merupakan factor keturunan yang bersifat tetap, statis,
dan konstan, tetapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap
orang12.
b. Perbedaan
1. Akhlak merupakan istilah yang bersumber dari Alqur’an dan As
Sunnah.
2. Etika merupakan filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, dan
kesusilaan tentang baik dan buruk. Tolok ukuranya pikiran dan akal
3. Moral tolok ukurnya adalah norma yang hidup dalam masyarakat.13

2. Standar Baik dan Buruk


2.1 Adanya Kebaikan

12
Anwar, rosihan, prof.dr.M.Ag.2010.Akhlak tasawuf.Bandung:pustaka setia
13
Mulyati, loc.cit
6
Banyak orang yang mengira bahwa orang yang mebgetahui tentang baik
itu otomatis menjadi baik; orang yang mengetahui ilmu akhlak menjadi orang
yang berakhlak mulia; seperti halnya orang yang mengetahui ilmu agama, pandai
dalam ilmu agama menjadi orang yang beragama dengan baik. Belum tentu
orang pandai tentu dalam ilmu agama itu menjalankan agama secara baik,
seperti halnya orang yang tahu akan ilmu akhlak belum tentu menjadi orang yang
berakhlak mulia.
Letaknya kebaikan itu pada dua hal:
Pertama : pada adanya kemauan, will, iradah atau niat; dan
Kedua : pada praktek, action atau amaliah.
Kemauan menjadi modal utama untuk berakhlak. Seseorang yang tahu
akan baik, mengetahui baiknya sesuatu, mengetahui betapa baiknya jujur, adil,
dermawan, ramah, sopan, rendah hati, dll. Tapi apabila dia tidak mau melakukan
berbuat jujur, tidak mau berbuat adil, tidak mau dernawan, tidak mau ramah,
tidak mau berbuat sopan, dan sebagainya, maka dia tidak menjadi orang yang
baik tersebut.14
Kalau kita ingin akan menjadi baik, kita harus menjalankan kebaikan itu.
Kalau kita ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan ketentuan-
ketentuan agama. Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila perbuatan
baik itu dibiasakannya. Tidak cukup untuk disebut berakhlak baik apabila
melakukan kebaikan itu tidak menjadi kebiasaannnya. Umpamanya sholat hanya
sesekali atau puasanya sering ditinggalkan dan zakatnya tidak diberikan dan lain
sebagainya.
2.2 Macam Perbuatan Baik Menurut Ethika
Yang baik pada garis besarnya ada dua macam : yaitu baik dan terbaik. Diluar
daripada itu adalah tidak baik, ahli yunani kuno, menurut plato. Ujung tengah
antara ujung yang baik itu adalah yang benar ditengah sebelum ujung awal
adalah kurang dan sesudah ujung akhir, awal dan ujung akhir adalah terlalu.
Seperti ahli filsafat didalam akhlak islamiyah sama dengan pendapat ahli : sabda
Rasulullah SAW.

‫ط َها اْأل ُ ُم ْو ِر َخي ُْر‬


ُ ‫س‬
َ ‫ا َ ْو‬
“ sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya “
Yang penting didalam hal pertengahan itu adalah yang muwadamah, kontinyu
dan istiqomah.
2.3 Gambaran Akhlak Rasulullah SAW.

14
Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
7
Rasulullah Saw adalah orang yang banyak berdoa dan selalu merendahkan diri.
Beliau selalu memohon kepada Allah Swt supaya dihiasi dengan etika yang baik
dan akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau selalu membaca :
‫َو ُخلُقِي خ َْلقِي َح ِس ِّْن هللا‬
“ Ya Allah, perindahlah rupa dan akhlakku.”
Sa’id bin Hisyam bercerita : aku masuk menemui Aisyah ra, dan bertanya
kepadanya tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah menjawab dengan
pertanyaan, ”Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Akupun menjawab, ”Ya.”
Aisyah berkata, ” Akhlak Rasulullah Saw adalah al-Qur’an.”
Rasulullah Saw bersabda , ”Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.”15
2.4 Standar Baik dan Buruk Berdasarkan Sifat yang ada pada Jiwa Manusia
Ada beberapa sifat manusia yang mendorong manusia pada perbuatan
dosa, diantaranya yaitu:
1. Sifat Ketuhanan (Rububiyah)
Diantara sifat ketuhanan yang ada pada diri manusia yaiut sifat takabbur,
yang menganggap dirinya merasa lebih besar dan yang lain di anggap kecil
dan bahkan menganggap lebih rendah lagi, merasa dirinya hebat karena
merasa dirinya lebih bisa dan yang lain dianggap bodoh. Terkadang didalam
diri manusia terdapat sifat ingin dipuji, semua gerak dan pekerjaannya ingin
dilihat orang lain dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dari orang lain.
Disamping itu juga ada sifat ketuhanan yang boleh ditiru manusia seperti
sifat Allah SWT. Yang maha pengasih dan Penyayang serta penuh
pengampunan dan lain sebagainya.16
2. Sifat Syetan (Syaithoniyah)
Apabila sifat-sifat syetan berpindah pada manusia, maka manusia itu
akan melakukan perbuatan dosa selamanya, diantara sifat yang disenangi
syetan yaitu hasud, berbuat curang, dan menipu. Orang yang dipenuhi sifat
seperti akan selalu berbuat dosa dan mengajak pada kemungkaran, hatinya
tidak ingin melakukan suatu kebaikan.
3. Sifat Hewan (Bahimiyah)
Penyebab selanjutnya yang membuat manusia berani melakukan
perbuatan dosa, karena terdapat sifat hewan didalam dirinya seperti toma17
atau rakus, nafsu syahwat yang tidak bisa dikendalikan, mengambil hak

15
Fudhoilurrahman dan Aida Humaira, Ringkasan Ihya ’Ulumuddin, Terjemahan, Jakarta, Sahara
publishers, 2009
16
Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
17
Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islami (akhlak mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas, 1992
8
orang lain tidak menghiraukan halal dan haramnya, yang penting
kebutuhannya terpenuhi.
4. Sifat Hewan Buas (Sabu’iyah)
Lebih berbahaya lagi bila manusia mempunyai sifat hewan buas, sebab sifat
seperti ini berani membunuh segalanya, perkerjaannya hanya marah dan
keinginannya mencelakakan orang lain.18
Dari keempat sifat diatas menjelaskan bahwa bentuk perbuatan dosa
yang dilakukan manusia, ada yang menjadi dosa besar ada juga yang menjadi
dosa kecil. Tapi kalu dilihat secara garis besar macam-macam dosa di bagi
menjadi 2 bagian yaitu dosa antara manusia dan tuhannya dan ada dosa antara
manusia dengan manusia. Adapun yang termasuk dosa antara manusia dan
tuhannya diantaranya yaitu meninggalkan shalat, meninggalkan puasa, dan tidak
melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk diri sendiri. Sedangkan dosa yang
berhubungan antara manusia dengan manusia lagi diantaranya tidak
mengeluarkan zakat, membunuh, merampas harta orang lain, merusak
kehormatan nama orang lain,dan semua pelanggaran yang termasuk hak-hak
umum atau yang menyangkut harta,jiwa,agama dan lain sebagainya.
Kalau dilihat dari besar dan kecilnya dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa
besar yang diistilahkan dengan kabaair, dan dosa kecil yang disebut sayyiaat.
Mengikuti keterangan Imam Al-Gazali dosa besar itu jumlahnya ada 17 macam
sedangkan dosa kecil sangat banyak sekali. Dari ke 17 dosa besar itu di bagi
menurut tempat atau bagian tubuh kita yang melakukannya.
1. Empat (4) macam dosa yang ada di dalam hati manusia yaitu: musyrik,
melakukan ma’siat selamanya, putus asa dari jalan untuk mendapat rahmat
Allah SWT, dan merasa aman dari ancaman dan siksa gusti Allah SWT.
2. Empat (4) macam dosa ada pada lisan yaitu: menjadi saksi palsu atau
berbohong, memfitnah, menjadi tukang sihir dan sumpah palsu.
3. Tiga (3) macam dosa ada pada perut yaitu: meminum minuman keras yang
bisa merusak akal manusia, memakan uang haram, dan memakan harta
anak yatim.
4. Dua (2) macam dosa ada pada kemaluan (farji) yaitu : melakukan zina, dan
liwath (homoseksual atau lesbian)
5. Dua (2) macam dosa ada pada tangan seperti : membunuh dan mencuri
6. Satu macam dosa ada pada kaki, yaitu : lari atau kabur dari peperangan
7. Satu macam dosa ada pada seluruh anggota badan, yaitu: durhaka kepada
kedua orang tua.
2.5 Standar baik dan buruk berdasarkan ajaran akhlak, moral,dan etika

18
Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
9
Ada ada beberapa aliran untuk menentukan standar baik dan buruknya
sesuatu itu, diantarnya:
1. Aliran Idealisme
Aliran ini memandang bahwa kebenaran yang hakiki tidak dapat dilihat
melalui panca indera semata, karena semua sesuatu yang tampak melalui
panca indra hanya merupakan kepalsuan belaka dan bukan sesuatu yang
sebenarnya. Jadi kesimpulan dari aliran ini adalah bahwa untuk mengetahui
sesuatu itu baik atau buruk maka dapat diukur dengan cita.19
2. Aliran Naturalisme
Aliran ini memandang bahwa untuk menilai sesuatu yang baik dan buruk
itu dapat dipengaruhi oleh pembawaan manusia sejak lahir kedunia. Dengan
kata lain manusia sejak anak-anak dapat menilai sesutau itu baik ataupun
buruk, akan tetapi dia belum bisa menganalisis mengapa sesuatu itu baik
ataupun buruk. Untuk bisa menganalisis sesuatu itu baik dan buruk
diperlukan pengalaman hidup yang lama, karena semakin lama pengalaman
hidupnya maka semakin matang pemahamannya terhadap sesuatu yang
baik dan buruk. Dengan ini dapat ditegaskan bahwa menilai sesuatu itu
ditentukan oleh kebutuhan dan kondisi wilayah yang ditempati oleh
manusia20.
3. Aliran Hedonisme.
Hedonisme merupakan aliran filsafat tua yang berakar dai pemikiran
filsafat Yunani. Menurut aliran ini sesuatu yang dikategorikan baik itu adalah
sesuatu yang bisa mendatangkan kenikmatan nafsu biologis. Sedangkan
sesuatu yang buruk itu adalah sesuatu yang tidak memberikan kenikmatan
nafsu biologis. Sehingga aliran ini menitik beratkan bahwa kebahagian itu
terletak pada kepuasan biologis dan hal itu merupakan tujuan hidup bagi
mereka yang beraliran hedonisme.
4. Eudaemonisme
Tujuan hidup dan kegiatan manusia adalah tercapainya kebahagiaan
dan kesejahteraan yang sifatnya hanya sementara. Kesenangan dan
kebahagiaan jasmaniah adalah satu-satunya hal yang baik dalam dirinya,
sedangkan kejahatan dianggap sebagai penyebab utama segala bentuj rasa
sakit dan kesedihan.21
5. Pragmatisme

19
Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
20
Fudhoilurrahman dan Aida Humaira, Ringkasan Ihya ’Ulumuddin, Terjemahan, Jakarta, Sahara
publishers, 2009
21
E.Sumaryono, op.cit.,hlm. 53
10
Aliran ini menitik beratkan pada hal-hal yang berguna dari diri sendiri,
baik bersifat moril maupun materiil. Titik beratnya adalah pengalaman.
Kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris. 22
6. Eksistensialisme
Etika menitik beratkan pada individu. Individu sangat menentukan
terhadap sesuatu yang baik, terutama bagi kepnetingan dirinya. Andaikan
individu tidak mengambil suatu keputusan pastilah tidak akan terjadi. 23
7. Utilitarisme
Baik buruknya suatu perbuatan atas dasar besar kecilnya manfaat yang
ditimbulkan bagi manusia. Summon bonum adalah manfaat dengan tujuan
kebahagiaan.24
8. Deontologi
Suatu tindakan dianggap baik bukan berdasarkan tujuan ataupun
perbuatan itu, tertapi berdasarkan tindakan itu sendiri. 25
9. Aliran Teologi Islam
Dalam teologi islam baik dan buruk perbuatan adalah ajaran Tuhan.
Kemudian banyak beberapa aliran yang berkembang diantaranya:26
a. Aliran Jabariyah
Aliran ini disebut Jabariyah dikarenakan sifatnya memaksa,
sehingga kaum ini berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak
memiliki kebebasan dan kekuasaan dalam menentukan keinginannya,
kecuali bila Allah yang menghendakinya. Dengan kata lain manusia
hanya dikendalikan oleh Allah dan Allahlah yang telah menciptakan sifat
manusia. Dan untuk menilai sesuatu itu baik ataupun buruk, aliran ini
mengatakan bahwa hanya agamalah yang bisa menentukan baik dan
buruknya.
b. Aliran Qadariyah
Aliran ini merupakan pertentangan dari aliran Jabariyah yang
mana menurut aliran ini manusia memiliki kebebasan dan kekuasaaan
dalam menentukan keinginaannya. Meskipun pada dasarnya Allah atas
manusia manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya
sendiri. Dan aliran ini juga mengatakan bahwa penilain terhadap baik

22
M. Solihin, op.cit., hlm. 309
23
M. Solihin, op.cit, hlm. 252
24
Franz magnis-suseno, Etika Dasar, Yogyakarta:Kanisius, 1987, hlm. 122.
25
Miftachul Huda, Pekerjaan social dan kesejahteraan social; sebuah pengantar Yogyakarta;
pustaka pelajar, 2009, hlm 145-146
26
Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islami (akhlak mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas, 1992
11
dan buruknya sesuatu itu bukan hanya ditentukan oleh agama melainkan
ditentukan juga oleh manusia itu sendiri.27
c. Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah mengatakan bahwa akal manusia tidak dilarang
untuk berfikir sebebas-bebasnya termasuk memikirkan tentang
persoalan agama. Karena itu dalam menentukan setiap nash (dalil),
aliaran Mu’tazilah selalu menentukan nash (dalil) yang akan dijadikan
dasar pemikirannya. Dan untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu,
aliran Mu’tazilah selalu berorientasi pada akalnya dan kemudian mencari
nash (dalil) yang mendukungnya. Sehingga aliran ini sering juga disebut
sebagai aliran Rasionalisme.28
d. Aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah
Adanya aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah merupakan reaksi
dari aliran Mu’tazilah yang menganggap bahwa dalam memecahkan
persoalan hanya dengan filosofisnya saja dan tidak dibandingkan
dengan teologi sebelumnya (sunnah Nabi). Maka lain halnya dengan
aliran Mu’tazilah, aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah banyak
menggunakan sunnah Nabi dalam menentukan sesuatu itu baik atupun
salah dan lebih mendahulukan nash (dalil) baru kemudian akal yang
menjelaskannya. Dan aliran Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah juga
menambahkan bahwa untuk menentukan sesuatu itu benar dan buruk itu
sudah ditentukan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadist.29
2.6 Aliran Tasawuf
Menurut aliran Tasawuf nilai baik dan buruk sesuatu itu bisa dilihat dari
perasaan bahagia. Bahagia disini bisa dikategorikan sebagai perasaan yang
spirititual. Maka tidak heran dalam aliran Tasawuf sangat popular istilah zuhud,
yaitu suatu sikap yang meninggalkan kesenangan dunia yang bersifat materil.

27
Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000
28
Fudhoilurrahman dan Aida Humaira, Ringkasan Ihya ’Ulumuddin, Terjemahan, Jakarta, Sahara
publishers, 2009
29
Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islami (akhlak mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas, 1992
12
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
1) Baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan.
2) Baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan,
kesenangan, persesuaian, dan seterusnya.
3) Baik adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang
diharapkan, yang memberikan kepuasan
4) Sesuatu yang disebut baik atau buruk itu sangat relatif. Bergantung kepada
pandangan, persepsi atau penilaian masing-masing orang yang
memformulasikannya. Oleh karena itu, nilai baik atau buruk bersifat subyektif,
tergantung tolok ukur apa yang digunakan.
5) Standar baik dan buruk berdasarkan ajaran akhlak, moral,dan etika ini dapat
dinilai dari beberapa aliran, diantaranya adalah: Aliran Idealisme, Naturalisme,
Hedonisme, teologi Islam (Jabariyah,Qadariyah, Mu’tazilah, Ahlus sunnah wal
jama’ah), Tasawuf.

2. Saran

secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini berbeda-beda,
sesungguhnya pada akhirnya semuanya mempunyai tujuan yang sama, sebagai
tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang pun mempunyai
tujuan. Dan tujuan akhir dari semua itu sama, yaitu bahwa semuanya ingin baik.
Dengan kata lain semuanya ingin bahagia. Tak ada seorang pun dan sesuatu pun
yang tidak ingin bahagia. Tujuan dari masing-masing sesuatu, walaupun berbeda-
beda, semuanya akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik,
semuanya mengharapkan mendapatkan yang baik dan bahagia, tujuan yang akhir
yang sama ini dalam ilmu Ethik ”Kebaikan Tertinggi”, yang dengan istilah Latinnya
disebut ”Summum Bonum” atau bahasa Arabnya Al-Khair al-Kully. Kebaikan
tertinggi ini bisa juga disebut kabahagiaan yang universal atau Universal Happiness

13
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Solihin, Khutbah Jum’at Petingan Jilid I, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2000

Fudhoilurrahman dan Aida Humaira, Ringkasan Ihya ’Ulumuddin, Terjemahan, Jakarta,


Sahara publishers, 2009.

Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islami (akhlak mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas, 1992.

Abdullah,M.Yatimin.2007. Study Akhlak dalam PerspektifAl-qur’an.Jakarta : Amzah..

Anwar, Rosihun. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia..

Nata, Abudin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Farid Ma’ruf, Etika”ilmu Akhlak”,cet VI, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm. 96.

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, hlm. 113.

Asfahani, al-Raghib, Mu’jam Mufradat Alfadz Al-Qur’an, Dar Al Fikr, Beirut, t.t.

Homby, AS, EU Gaterby, H Wakefield, The Advanced Learner’s Dictionary of Current


English, Oxford University Press, London, 1973

Ma’luf, Luis, Al-Mundjid, al makhtabah al katulikiyah, Beirut, t.t.

Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah Laku, Jakarta, Bina Aksara, 1982

Purbakawatja, Suganda, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, 1976

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, 1990

14