50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan175 halaman

Pengukuran Konduktivitas Isolator Panas

Laporan akhir semester ini berisi ringkasan dari 6 modul praktikum yang meliputi pengukuran konduktivitas isolator panas, konveksi paksa, alat penukar panas, kehilangan tekanan karena gesekan, pemisahan etanol dengan destilasi, dan menara pendingin. Laporan ini disusun oleh 4 mahasiswa Politeknik Teknologi Kimia Industri untuk memenuhi persyaratan praktikum satuan operasi pada tahun ajaran 2018/2019.

Diunggah oleh

Desy Dila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan175 halaman

Pengukuran Konduktivitas Isolator Panas

Laporan akhir semester ini berisi ringkasan dari 6 modul praktikum yang meliputi pengukuran konduktivitas isolator panas, konveksi paksa, alat penukar panas, kehilangan tekanan karena gesekan, pemisahan etanol dengan destilasi, dan menara pendingin. Laporan ini disusun oleh 4 mahasiswa Politeknik Teknologi Kimia Industri untuk memenuhi persyaratan praktikum satuan operasi pada tahun ajaran 2018/2019.

Diunggah oleh

Desy Dila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

LAPORAN AKHIR SEMESTER

No Dokumen No Revisi Tanggal Efektif : Halaman

FM-SO-01-05 00 5 JUNI 2018 01 dari 01

Laboratorium Satuan Operasi

Disusun Oleh ;

Group / Kelompok :

No Nama Nim Tanda Tangan

1. GENEROMAN SEMBIRING 16 02 085

2. ISMANTO 16 02 093

3. JULIUS PERNANDO 16 02 100

4. MAROLOP SANDY BAYU 16 02 107

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

Tahun Ajaran : 2018/2019

Paraf Asisten Nilai

2
3
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan


makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu pengetahuan,


yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di
susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri
penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan
terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang
cukup jelas bagi pembaca.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Medan, Mei 2018

Kelompok 1

4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………..................

DAFTAR ISI …………………………………………………………....................

MODUL I PENGUKURAN KONDUKTIVITAS ISOLATOR

PANAS …………………………………………………………….........................

MODUL II KONVESI PAKSA(FORCED CONVECTION............................

MODUL III ALAT PENUKAR PANAS………………………..........................

MODUL IV KEHILANGAN TEKANAN KARENA GESEKAN

(FRICTION LOSS)..........................................................................

MODUL V PEMISAHAN ETANOL DENGAN METODE DESTILASI......

MODUL VI MENARA PENDINGIN (WATER COOLING TOWER)..........

MODUL VII PEMECAHAN DAN PENGAYAKAN.........................................

5
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

PENGUKURAN KONDUKTIVITAS

ISOLATOR PANAS

LABORATORIUM SATUAN OPERASI

P0LITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

MEDAN

2018

6
BAB I
PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan
“PENGUKURAN KONDUKTIVITAS ISOLATOR PANAS
( MEASUREMENT OF CONDUCTIVITY OF HEAT INSULATION )”

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui besarnya panas yang diserap oleh penyekat /
hambatan.

C. Latar Belakang

Konduktivitas suatu zat didefinisikan sebagai 'kemampuan atau


kekuatan untuk melakukan atau mengirimkan panas, listrik, atau
suara'.Konduktivitas listrik adalah ukuran dari kemampuan suatu bahan
untuk menghantarkan arus listrik. Jika suatu beda potensial listrik
ditempatkan pada ujung-ujung sebuah konduktor, muatan-muatan
bergeraknya akan berpindah, menghasilkan arus listrik. Konduktivitas
listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus J terhadap kuat medan
listrik E. Dari jenis–jenis logam penghantar tembaga merupakan
penghantar yang paling lama digunakan dalam bidang
kelistrikanKonduktivitas logam penghantar sangat dipengaruhi oleh unsur
– unsur pemadu, impurity atau ketidaksempurnaan dalam kristal logam,
yang ketiganya banyak berperan dalam proses pembuatan pembuatan
penghantar itu sendiri.

7
BAB II
LANDASAN TEORI

Isolasi termal adalah metode atau proses yang digunakan untuk


mengurangi perpindahan panas (kalor). Bahan yang digunakan untuk mengurangi
laju perpindahan panas itu disebut isolator. Energi panas (kalor) dapat ditransfer
secara konduksi, konveksi, dan radiasi. Panas dapat lolos meskipun ada upaya
untuk menutupinya, tapi isolator mengurangi panas yang lolos tersebut.
Isolasi termal dapat menjaga wilayah tertutup seperti bangunan atau tubuh
agar terasa hangat lebih lama dari yang sewajarnya, tetapi itu tidak mencegah hasil
akhirnya, yaitu masuknya dingin dan keluarnya panas. Isolator juga dapat bekerja
sebaliknya, yaitu menjaga bagian dalam suatu wadah terasa dingin lebih lama dari
biasanya. Insulator digunakan untuk memperkecil perpindahan energi panas.
Aliran panas dapat dikurangi dengan menangani satu atau lebih dari tiga
mekanisme perpindahan kalor dan tergantung pada sifat fisik bahan yang
digunakan untuk melakukan hal ini.
1.Perpindahan Panas
Perpindahan panas secara hantaran (Konduksi)
Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat padat dengan cara merambat.
Perpindahan panas ini tidak ada bagian zat yang pindah.
Contoh : panas dari api unggun dapat memanaskan besi, sehingga ujung besi
yang dipegang menjadi panas

Perpindahan panas secara aliran (Konveksi)


Konveksi adalah perpindahan panas dengan cara mengalir. Aliran panas ini
dapat melalui zat cair dan zat gas. Perpindahan panas ini ada bagian zat yang
ikut pindah.
Contoh :1. Saat merebus air ; 2. Terjadinya angin 3. Pendingin dan pemanas
ruangan
Perpindahan panas secara pancaran (Radiasi)

8
Radiasi adalah perpindahan panas dengan cara memancar atau tanpa melalui zat
perantara.
Contoh :
1. Cahaya/panas matahari sampai ke bumi
2. Panas api unggun sampai ke tubuh kita
2.Konduktor dan Isolator
Konduktor
adalah zat atau benda yang dapat menghantarkan panas dengan baik.
Contoh : logam (besi, baja, tembaga, aluminium, seng Kaca dan berlian dan lain
– lain),

Isolator
adalah zat atau benda yang tidak menghantarkan panas dengan baik.
Contoh : karet, kayu, arang, plastik, styrofoam, udara, air, ruang hampa udara,
serbuk gergaji

3. Pemanfaatan Konduktor dan Isolator Panas


Pada peralatan rumah tangga.
Contoh : kap lampu dari plastik, setrika, ketel.
Pada termos, terdapat ruang hampa udara yang mencegah perpindahan panas
secara konduksi dan konveksi.
Di daerah yang kering dan panas, rumah – rumah dibangun dari bata dan
lumpur. Karena lumpur dan bata merupakan isolator yang baik terhadap udara
panas

Tubuh kita saat demam. Biasanya pada saat kita demam kita akan dikompres.
Kompres menghantarkan panas dari tubuh kita ke alat kompres.

9
PERKEMBANGAN SERTA PENGGUNAANNYA DALAM DUNIA INDUSTRI
Pada dunia industri Isolator Panas dimanfaatkan sebagai:
1. Pada industri makanan digunakan Styrofoam dipakai oleh restoran untuk
membungkus panganan yang kita beli supaya tetap panas saat akan disantap di
rumah.
2. Pada peralatan penukar panas, digunakan isolator panas untuk memaksimalkan
panas yang dihasilkan.
3. Pada peralatan rumah tangga.
Contoh : kap lampu dari plastik, setrika, ketel.
4. Pada termos, terdapat ruang hampa udara yang mencegah perpindahan panas
secara konduksi dan konveksi.
5. Di daerah yang kering dan panas, rumah – rumah dibangun dari bata dan lumpur.
Karena lumpur dan bata merupakan isolator yang baik terhadap udara panas.

Konduktivitas suatu zat didefinisikan sebagai 'kemampuan atau kekuatan


untuk melakukan atau mengirimkan panas, listrik, atau suara'.Satuannya adalah
Siemens per meter [S] m / di SI dan millimhos per mmho sentimeter [] cm / dalam
satuan US adat.simbol adalah k atau s.

Konduktivitas dapat merujuk pada:


- Konduktivitas listriK, ukuran kemampuan bahan untuk membuat arus listrik
- Konduktivitas hidrolik, properti kemampuan bahan untuk mengirim air
- Konduktivitas termal, properti intensif bahan yang menandakan kemampuannya
untuk membuat panas
- Konduktivitas Rayleigh, menjelaskan kelakuan apertur mengenai aliran cairan
atau gas
- Konduktivitas listrik
Konduktivitas listrik
Adalah ukuran dari kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan arus
listrik. Jika suatu beda potensial listrik ditempatkan pada ujung-ujung sebuah
konduktor, muatan-muatan bergeraknya akan berpindah, menghasilkan arus listrik.

10
Konduktivitas listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus J terhadap kuat
medan listrik E:
.
Pada beberapa jenis bahan dimungkinkan terdapat konduktivitas listrik yang
anisotropik. Lawan dari konduktivitas litrik adalah resistivitas listrik atau biasa
disebut sebagai resistivitas saja, yaitu

Arus listrik hasil dari gerakan partikel bermuatan listrik dalam menanggapi
gaya yang bekerja pada mereka dari medan listrik diterapkan. Dalam bahan padat
yang muncul saat ini kebanyakan dari aliran elektron, yang disebut konduksi
elektronik. Dalam semua konduktor, semikonduktor, dan bahan banyak terisolasi
hanya konduksi elektronik ada, dan konduktivitas listrik sangat tergantung pada
jumlah elektron yang tersedia untuk berpartisipasi dalam proses konduksi.
Kebanyakan logam konduktor yang sangat baik listrik, karena sejumlah besar
elektron bebas yang dapat bersemangat dalam keadaan energi kosong dan tersedia
Sifat daya hantar listrik material dinyatakan dengan konduktivitas, yaitu
kebalikan dari resistivitas atau tahanan jenis penghantar.Arus listrik hasil dari
gerakan partikel bermuatan listrik dalam menanggapi gaya yang bekerja pada
mereka dari medan listrik diterapkan. Dalam bahan padat yang muncul saat ini
kebanyakan dari aliran elektron, yang disebut konduksi elektronik. Dalam semua
konduktor, semikonduktor, dan bahan banyak terisolasi hanya konduksi elektronik
ada, dan konduktivitas listrik sangat tergantung pada jumlah elektron yang tersedia
untuk berpartisipasi dalam proses konduksi. Kebanyakan logam konduktor yang
sangat baik listrik, karena sejumlah besar elektron bebas yang dapat bersemangat
dalam keadaan energi kosong dan tersedia.
Menyatakan kemudahan – kemudahan suatu material untuk meneruskan
arus listrik.Satuan konduktivitas adalah (ohm meter).Konduktivitas merupakan
sifat listrik yang diperlukan dalam berbagai pemakaian sebagai penghantar tenaga
listrik dan mempunyai rentang harga yang sangat luas. Logam atau material yang

11
merupakan penghantar listrik yang baik, memiliki konduktivitas listrik dengan orde
107 (ohm.meter) -1 dan sebaliknya material isolator memiliki konduktivitas yang
sangat rendah, yaitu antara 10-10 sampai dengan 10-20 (ohm.m)-1. Diantara kedua
sifat ekstrim tersebut, ada material semi konduktor yang konduktivitasnya berkisar
antara 10-6 sampai dengan 10-4 (ohm.m)-1.Berbeda pada kabel tegangan rendah,
pada kabel tegangan menengah untuk pemenuhan fungsi penghantar dan pengaman
terhadap penggunaan, ketiga jenis atau sifat konduktivitas tersebut diatas digunakan
semuanya. Perpindahan panas secara hantaran (Konduksi)
Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat padat dengan cara merambat.
Perpindahan panas ini tidak ada bagian zat yang pindah.
Contoh : panas dari api unggun dapat memanaskan besi, sehingga ujung besi yang
dipegang menjadi panas. Perpindahan panas secara aliran (Konveksi)
Konveksi adalah perpindahan panas dengan cara mengalir. Aliran panas ini dapat
melalui zat cair dan zat gas. Perpindahan panas ini ada bagian zat yang ikut pindah.

12
BAB III

MATERI DAN METODA

A. MATERI

1. Alat
Seperangkat alat meansuremant of conductivity of heat insulator
2. Bahan
Rock wool

B. METODA
Prosedur kerja:
1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan .
2. Dihubungkan peralatan ke sumber arus.
3. Di “ON” kan power supply.
4. Diatur tegangan sebesar 25 V pada voltage adjuster .
5. Dipersiapkan stop watch untuk menghitung lamanya percobaan
6. Ditekan mulai pada stoop watch, ditunggu selama 7 menit
7. Setelah 7 menit matikan tombol stop watch lalu tekan tombol ∅1
− ∅5 pada thermometer secara bergantian.
8. Dicatat hasil pengamatan, dan di ulangi percobaan secara terus
menerus hingga data ke 10 pada menit 70.
9. Setelah ssemua data di dapat , dimatikan peralatan .
10. Diembalikan Voltage adjustment dan Ampermeter ke posisi nol, dan
tekan tombol off pada power supply.
11. Dicabut sumber arus.

13
C. GAMBAR RANGKAIAN

14
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. DATA PENGAMATAN
NO Waktu Tegangan Arus TEMPERATURE ( ℃ )
(Menit) (V) (A) ∅𝟏 ∅𝟐 ∅𝟑 ∅𝟒 ∅𝟓
1 7 50 1,1 62,5 48,2 36,5 33,4 31,8
2 14 50 1,1 104,1 81,75 62 45 38
3 21 50 1,1 141 112,2 86 61 47,6
4 28 50 1,1 173 119,7 109 77 58
5 35 50 1,1 201 165,45 132,5 93,3 68,7
6 42 50 1,1 225 187,5 152,6 108,6 78,8
7 47 50 1,1 248,5 268,05 170,7 122 88,1
8 56 50 1,1 266,5 224,7 185,5 133,8 96,3
9 63 50 1,1 283,8 240,15 159,1 144,4 103,8
10 70 50 1,1 298 253,45 211,5 153,9 110,6
L = 0,25 m
r1 = 0,0136 m
r2 = 0,0236 m
r3 = 0,0336 m
r4 = 0,0436 m
r5 = 0,0536

15
B. PEMBAHASAN
1. Sumber panas
 Q = 0,86 x V x A ( kkal / menit )
= 0,86 x 50 V x 1,1 A ( kkal / menit )
= 42,3 ( kkal / menit )
= 0,7883 ( kkal / menit )

2. Perbedaan temperature
Untuk data No. 7

 ∆𝑡12 = ∅1 − ∅2

= 248,5 – 208,05 ( 0C )
= 40, 45 0C
 ∆𝑡23 = ∅2 − ∅3

= 208,-5– 179,2 ( 0C )
= 37, 85 0C
 ∆𝑡34 = ∅3 − ∅4

= 170,2 – 122 ( 0C )
= 48,2 ℃
 ∆𝑡45 = ∅4 − ∅5

= 122 – 88,1( 0C )
= 33,9 0C

Untuk data No. 8


 ∆𝑡12 = ∅1 − ∅2

= 266,5 – 224,7 ( 0C )
= 41,8 0C
 ∆𝑡23 = ∅2 − ∅3

= 224,7– 185,5 ( 0C )

16
= 39,2 0C
 ∆𝑡34 = ∅3 − ∅4

= 185,5 – 133,8 ( 0C )
= 51,7 ℃
 ∆𝑡45 = ∅4 − ∅5

= 133,8 – 240,15( 0C )
= 37,5 0C

Untuk data No. 9


 ∆𝑡12 = ∅1 − ∅2

= 283,8 – 240,15 ( 0C )
= 43,65 0C
 ∆𝑡23 = ∅2 − ∅3

= 240,15– 199,1 ( 0C )
= 41,05 0C
 ∆𝑡34 = ∅3 − ∅4

= 199,1 – 144,4 ( 0C )
= 54,7 ℃
 ∆𝑡45 = ∅4 − ∅5

= 144,4 – 103,8 ( 0C )
= 40,6 0C

17
3. Panas konduksi / Thermal conductivity
Untuk data No. 7

𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
 𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0236 m/ 0,0136 m )


2 ( 3,14 ) x 40,45 °C x 0,25 m
= 0,4344 kkal/menit
63,5065 °C m

λ12 = 0,00684 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟3 /𝑟2
 𝜆23 =
2 𝜋 ∆𝑡23 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0336 m/ 0,0236 m )


2(3,14) x 37,85 °C x 0,25 m
= 0,27849 kkal/menit
59,4245 °C m

λ23 = 0,004686 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟4 /𝑟3
 𝜆34 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0436 m/ 0,0336 m )


2(3,14) x 48,2 °C x 0,25 m
= 0,2053kkal/menit
75,674 °C m

λ34 = 0,002712 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟5 /𝑟4
 𝜆45 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0536 m/ 0,0436 m )


2(3,14) x33,9 °C x 0,25 m
= 0,1627 kkal/menit
53,223 °C m

18
λ45 = 0,003056 kkal/menit °C m

Untuk data No. 8


𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
 𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0236 m/ 0,0136 m )


2 ( 3,14 ) x 41,8 °C x 0,25 m
= 0,4344 kkal/menit
65,625 °C m

λ12 = 0,006619 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟3 /𝑟2
 𝜆23 =
2 𝜋 ∆𝑡23 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0336 m/ 0,0236 m )


2(3,14) x 39,2 °C x 0,25 m
= 0,27849kkal/menit
61,544 °C m

λ23 = 0,004523 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟4 /𝑟3
 𝜆34 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0436 m/ 0,0336 m )


2(3,14) x 51,7 °C x 0,25 m
= 0,2053kkal/menit
811,169 °C m

λ34 = 0,002529 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟5 /𝑟4
 𝜆45 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0536 m/ 0,0436 m )


2(3,14) x37,5 °C x 0,25 m
= 0,1627 kkal/menit
58,87°C m

λ45 = 0,002763 kkal/menit °C m

19
Untuk data No. 9
𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
 𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0236 m/ 0,0136 m )


2 ( 3,14 ) x 43,65 °C x 0,25 m
= 0,4344 kkal/menit
68,5305 °C m

λ12 = 0,006338 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟3 /𝑟2
 𝜆23 =
2 𝜋 ∆𝑡23 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0336 m/ 0,0236 m )


2(3,14) x 41,05 °C x 0,25 m
= 0,2784 kkal/menit
64,4485 °C m

λ23 = 0,004319 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟4 /𝑟3
 𝜆34 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0436 m/ 0,0336 m )


2(3,14) x 54,7 °C x 0,25 m
= 0,2053kkal/menit
85,879 °C m

λ34 = 0,002552 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟5 /𝑟4
 𝜆45 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0536 m/ 0,0436 m )


2(3,14) x40,6 °C x 0,25 m
= 0,1627 kkal/menit
63,742 °C m

λ45 = 0,002552 kkal/menit °C m

20
4. Temperature rata-rata
Untuk data No. 7

𝜃1 + 𝜃2
 𝜃12 =
2
= 248,5 + 268,05 ( °C )
2
= 258,275 0C

𝜃2 + 𝜃3
 𝜃23 =
2
= 268,05 + 170,7 ( °C )
2
= 219,375 0C

𝜃3 + 𝜃4
 𝜃34 =
2
= 170,7 +122 ( °C )
2
= 146,35 0C

𝜃4 + 𝜃5
 𝜃45 =
2
= 122 + 88,1 ( °C )
2
= 105,05 0C

Untuk data No.8


𝜃1 + 𝜃2
 𝜃12 =
2
= 266,5 + 224,7 ( °C )
2

21
= 245,6 0C

𝜃2 + 𝜃3
 𝜃23 =
2
= 224,7 + 185,5 ( °C )
2
= 205,1 0C

𝜃3 + 𝜃4
 𝜃34 =
2
= 185,5 +133,8 ( °C )
2
= 159,65 0C

𝜃4 + 𝜃5
 𝜃45 =
2
= 133,8 + 96,3 ( °C )
2
= 115,05 0C

Untuk data No. 9


𝜃1 + 𝜃2
 𝜃12 =
2
= 283,8 + 185,5 ( °C )
2
= 205,1 0C

𝜃2 + 𝜃3
 𝜃23 =
2
= 240,15 + 159,1 ( °C )
2
= 199,625 0C

22
𝜃3 + 𝜃4
 𝜃34 =
2
= 159,1 +144,4 ( °C )
2
= 151,75 0C

𝜃4 + 𝜃5
 𝜃45 =
2
= 144,4 + 103,8 ( °C )
2
= 124,1 0C

PERHITUNGAN DATA KE- 10

* Perbedaan Teperature

 ∆𝑡12 = ∅1 − ∅2
= 298,89 – 243,45 ( 0C )
= 44,55 0C
 ∆𝑡23 = ∅2 − ∅3
= 252,45– 211,5 ( 0C )
= 41,95 0C
 ∆𝑡34 = ∅3 − ∅4
= 211,5 – 153,9 ( 0C )
= 57,6 ℃
 ∆𝑡45 = ∅4 − ∅5
= 153,9 – 110,6 ( 0C )
= 43,3 0C

23
* Panas konduksi / Thermal conductivity

𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
 𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0236 m/ 0,0136 m )


2 ( 3,14 ) x 44,55 °C x 0,25 m
= 0,4344 kkal/menit
69,9435 °C m

λ12 = 0,00621 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟3 /𝑟2
 𝜆23 =
2 𝜋 ∆𝑡23 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0336 m/ 0,0236 m )


2(3,14) x 41,95 °C x 0,25 m
= 0,2784 kkal/menit
65,8615 °C m

λ23 = 0,004227 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟4 /𝑟3
 𝜆34 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0436 m/ 0,0336 m )


2(3,14) x 57,6 °C x 0,25 m
= 0,2784 kkal/menit
90,432 °C m

λ34 = 0,003078 kkal/menit °C m


𝑄 𝑥 ln 𝑟5 /𝑟4
 𝜆45 =
2 𝜋 ∆𝑡34 .L

= 0,7883 kkal/menit x ( ln 0,0536 m/ 0,0436 m )


2(3,14) x43,3 °C x 0,25 m
= 0,1627 kkal/menit
67,981 °C m

λ45 = 0,002393 kkal/menit °C m

24
* Temperature rata-rata
𝜃1 + 𝜃2
 𝜃12 =
2
= 298, + 253,45 ( °C )
2
= 275,725 0C

𝜃2 + 𝜃3
 𝜃23 =
2
= 253,45 + 211,5 ( °C )
2
= 232,475 0C

𝜃3 + 𝜃4
 𝜃34 =
2
= 211,5 +153,9 ( °C )
2
= 182,7 0C

𝜃4 + 𝜃5
 𝜃45 =
2
= 153,9 + 110,6 ( °C )
2
= 132,25 0C

5. λ = 𝑘1 . 𝜃 + 𝑘2

pers.1. λ 1 = k1 . 𝜃1

25
C. GRAFIK 𝝀 vs ∅

26
27
D TABULASI DATA
NO Waktu Tegangan Arus TEMPERATURE ( ℃ ) Perbedaan Temperature ( ℃ )

(Menit) (V) (A) ∅1 ∅2 ∅3 ∅4 ∅5 ∅ Δt12 Δt23 Δt34 Δt45

1 7 50 1,1 62,5 48,2 36,5 33,4 31,8 0,7883 0,0124 0,0152 0,0077 0,001

2 14 50 1,1 104,1 81,75 62 45 38 0,7883 0,01446 0,8090 0,0077 0,00144

3 21 50 1,1 141 112,2 86 61 47,6 0,7883 0,0050 0,0068 0,00527 0,00280


4 28 50 1,1 173 119,7 109 77 58 0,7883 0,0083 0,005703 0,004087 0,005456

5 35 50 1,1 201 165,45 132,5 93,3 68,7 0,7883 0,007782 0,008396 0,003337 0,004214

6 42 50 1,1 225 187,5 152,6 108,6 78,8 0,7883 0,0007326 0,000501 0,0002971 0,00328
7 47 50 1,1 248,5 268,05 170,7 122 88,1 0,7883 0,00682 0,00468 0,002713 0,003056

8 56 50 1,1 266,5 224,7 185,5 133,8 96,3 0,7883 0,006619 0,004523 0,002524 0,002763

9 63 50 1,1 283,8 240,15 159,1 144,4 103,8 0,7883 0,006338 0,004314 0,00234 0,002552
10 70 50 1,1 298 253,45 211,5 153,9 110,6 0,7883 0,00621 0,004227 0,003078 0,002393

∅12 ∅23 ∅34 ∅45
15,23 42,35 34,35 32,6
92,925 71,27 84,5 41,5
162,2 94,1 30,5 54,3
156,35 124,35 93 67,5
183,225 1488,475 112,9 80,98
206 170,05 130,16 93,7
258,275 219,375 146,35 105,05
245,6 205,1 159,65 151,05
262,15 194,625 151,75 124,1
275,715 232,475 182,7 132,25
BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:


 Semakin lama waktu yang dicapai maka semakin tinggi kalornya.
 Pada pengukuran temperature ∅1 − ∅5 jika semakin tinggi ketebalannya
maka kalornya semakin kecil.
 Semakin besar perbedaan temperature maka semakin kecil panas
konduksi yang diperoleh.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Diktat Satuan operasi, Kementrian perindustrian RI ;Pendidikan Kimia


Industri:Medan 2010.Hal.62.

Dr. Ir. Sudarsono, MT. DKK .”PEMANFAATAN LIMBAH SERAT PATI


AREN SEBAGAI MATERIAL KOMPOSIT –POLIESTER”.
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA.

YUNITASARI WINDY,DKK.” PENERAPAN METODE POLIMERISASI


HIBRIDA MONOMER ANILIN DENGAN DOPING NIKEL OKSIDA
(NiO) UNTUK PENINGKAT KONDUKTIVITASNYA.”
UNIVERSITAS NEGERI MALANG.

SURYAWANBAYU.”PENGARUH VARIASI TEMPERATUR


PIROLISIS DAN PEMADATAN CHAR SERBUK KAYU
MAHONI TERHADAP THERMAL CONDUCTIVITY.”
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK MALANG.
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

KONVEKSI PAKSA

( FORED CONVECTION )

LABORATORIUM SATUAN OPERASI

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

MEDAN

2018
BAB I

Pendahuluan

A. Tujuan dan Maksud Perobaan.


1. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui harga koefisien transfer dari pada permukaan
pipa bagian dalam ke udara yang mengalir di dalamnya.

2. Maksud percobaan
Agar mahasiswa mengetahui cara mempelajari tranfer panas dalam
aliran Turbulent dengan mengalirkan udara dalam pipa sirkulasi dalam
kondisi konveksi paksa.

B. Latar Belakang
Peralatan ini didesain untuk mempelajari transfer panas dalam pipa
aliran turbulen dengan mengalirkan udara di dalam pipa sirkulasi dalam
kondisi konveksi paksaan.
Bila bilangan Reynold sudah naik, jumlah udara di dalam pipa akan
mencapai batasan aliran turbulen. Pemanasan langsung secara ohmic pada
dinding diterapka untuk memberikan transfer panas yang seragam terhadap
udara ( berdasarkan hukum Ohm ). Dinding luar dari pada pipa diisolasikan
sedemikian rupa sehingga panas yang hilang di sekeliling sama dengan Nol.
Bilangan Nussel local dapat ditentukan pada suatu daerah tertentu.
Hasil percobaan dapat dibandingkan terhadap rumus empiris seperti
persamaan Dittus dan Boelter dan menetapkan analisis.
BAB II
Landasan Teoritis

Forced convection adalah mekanisme, atau jenis transportasi di mana


gerakan fluida yang dihasilkan oleh sumber eksternal (seperti pompa, kipas angin,
alat penghisap, dll). Ini harus dipertimbangkan sebagai salah satu metode utama
perpindahan panas berguna sebagai sejumlah besar energi panas dapat diangkut
sangat efisien dan mekanisme ini ditemukan sangat umum dalam kehidupan sehari-
hari, termasuk pemanas sentral , AC , turbin uap dan mesin lainnya . Konveksi
paksa sering dihadapi oleh para insinyur merancang atau menganalisis penukar
panas , aliran pipa, dan aliran atas piring pada suhu yang berbeda dari aliran (kasus
sayap pesawat saat masuk kembali, misalnya). Namun, dalam setiap situasi
konveksi paksa, beberapa jumlah konveksi alami selalu hadir setiap kali ada g-
kekuatan ini (yaitu, kecuali sistem ini jatuh bebas). Ketika konveksi alami tidak
dapat diabaikan, aliran tersebut biasanya disebut sebagai konveksi campuran.

Ketika menganalisis campuran berpotensi konveksi, parameter yang disebut nomor


Archimedes (Ar) parametrizes kekuatan relatif dari konveksi bebas dan paksa. The
Archimedes number is the ratio of Grashof number and the square of Jumlah
Archimedes adalah rasio jumlah Grashof dan kuadrat bilangan Reynolds , yang
mewakili rasio kekuatan daya apung dan gaya inersia, dan yang berdiri di atas
kontribusi konveksi alami. Ketika Ar>> 1, konveksi alami mendominasi dan ketika
Ar <<1, konveksi paksa mendominasi.

. Konveksi adalah gerakan, bersama kolektif ansambel molekul dalam cairan


(misalnya cairan , gas ) dan rheids . Ini tidak dapat terjadi dalam padatan, karena
baik massal maupun arus difusi yang signifikan dapat terjadi dalam padatan.
Perpindahan panas konvektif adalah salah satu modus utama dari
perpindahan panas dan konveksi juga modus utama dari perpindahan massa . Panas
konvektif dan transfer massa terjadi melalui baik difusi - acak gerak Brown dari
partikel individu dalam cairan - dan dengan adveksi , di mana materi atau panas
diangkut oleh gerakan besar-besaran arus dalam cairan. Dalam konteks panas dan
transfer massa, "konveksi" digunakan untuk merujuk pada jumlah transfer
advective dan difusif. Perhatikan bahwa dalam penggunaan umum istilah konveksi
dapat merujuk longgar untuk mentransfer panas dengan konveksi, sebagai lawan
massa transfer oleh konveksi, atau proses konveksi pada umumnya. Kadang-kadang
"konveksi" bahkan digunakan untuk merujuk secara khusus untuk "panas konveksi
bebas" (konveksi panas alami), sebagai lawan dari panas konveksi paksa. Namun,
dalam mekanika penggunaan yang benar dari kata tersebut adalah pengertian
umum, dan berbagai jenis konveksi harus benar memenuhi syarat untuk kejelasan.

Konveksi dapat memenuhi syarat dalam hal yang alami, dipaksa, gravitasi,
butiran, atau thermomagnetic. Hal ini juga dapat dikatakan disebabkan oleh
pembakaran, aksi kapiler, atau efek Marangoni dan Weissenberg. Karena perannya
dalam perpindahan panas, konveksi alami memainkan peran dalam struktur
atmosfer bumi , samudra, dan mantelnya. Sel konvektif diskrit di atmosfer dapat
dilihat sebagai awan , dengan konveksi kuat mengakibatkan badai . Konveksi alami
juga memainkan peran dalam fisika bintang.

Terminologi

Istilah konveksi mungkin memiliki penggunaan yang sedikit berbeda tetapi terkait
dalam konteks ilmiah atau teknik yang berbeda atau aplikasi. Arti yang lebih luas
dalam mekanika fluida , di mana konveksi mengacu pada gerakan fluida apapun
penyebabnya. Namun dalam termodinamika "konveksi" sering merujuk secara
khusus untuk perpindahan panas secara konveksi.

Selain itu, konveksi termasuk gerakan fluida baik oleh gerak massal ( adveksi ) dan
oleh gerakan partikel individu ( difusi ). Namun dalam beberapa kasus, konveksi
diambil untuk berarti hanya fenomena advective. Misalnya, dalam persamaan
transportasi , yang menjelaskan sejumlah fenomena transportasi yang berbeda,
istilah ini dipisahkan menjadi "konvektif" dan "difusif" efek, dengan "konvektif"
yang berarti murni advective dalam konteks. Sebuah pembedaan serupa dibuat
dalam persamaan Navier-Stokes . In such cases the precise meaning of the term
may be clear only from context. Dalam kasus seperti makna yang tepat dari istilah
tersebut mungkin tidak jelas hanya dari konteks.

Konveksi terjadi pada skala besar di atmosfer , lautan , planet mantel , dan
menyediakan mekanisme transfer panas untuk sebagian besar interior terluar dari
kami matahari dan semua bintang. Cairan gerakan selama konveksi mungkin tak
terlihat lambat, atau mungkin jelas dan cepat, seperti dalam sebuah badai . Pada
skala astronomi, konveksi gas dan debu diperkirakan terjadi di disk akresi dari
lubang hitam , pada kecepatan yang erat mungkin pendekatan yang cahaya.

Perpindahan panas konvektif adalah mekanisme perpindahan panas yang terjadi


karena gerak massal (gerakan diamati) dari cairan. Panas adalah entitas kepentingan
yang advected (dilakukan), dan menyebar (tersebar). Hal ini dapat dibandingkan
dengan konduktif perpindahan panas, yang merupakan transfer energi oleh getaran
di tingkat molekul melalui padat atau cairan, dan perpindahan panas radiasi ,
transfer energi melalui gelombang elektromagnetik .

Panas ditransfer oleh konveksi pada banyak contoh yang terjadi secara alami aliran
fluida, seperti: angin, arus laut, dan gerakan di dalam mantel bumi. Konveksi juga
digunakan dalam praktek rekayasa untuk memberikan perubahan suhu yang
diinginkan, seperti dalam pemanasan rumah, proses industri, pendinginan
peralatan, dll

Tingkat perpindahan panas konvektif dapat ditingkatkan dengan penggunaan heat


sink , sering bersamaan dengan kipas angin. Sebagai contoh, sebuah komputer biasa
CPU akan memiliki tujuan-dibuat kipas untuk memastikan suhu operasi adalah
tetap dalam batas toleransi.
Sebuah sel konveksi, juga dikenal sebagai sel Bénard adalah aliran fluida pola
karakteristik dalam sistem konveksi banyak. Sebuah badan naik cairan biasanya
kehilangan panas karena bertemu dengan permukaan yang dingin, karena
pertukaran panas dengan cairan dingin melalui pertukaran langsung, atau dalam
contoh atmosfer Bumi, karena memancarkan panas. Karena itu kehilangan panas
cairan menjadi padat dari cairan di bawahnya, yang masih meningkat. Karena tidak
dapat turun melalui cairan meningkat, bergerak ke satu sisi. Pada jarak tertentu,
gaya ke bawah yang mengatasi kekuatan meningkat di bawahnya, dan cairan mulai
turun. Seperti turun, itu menghangat lagi dan siklus berulang.

Sirkulasi atmosfer adalah gerakan besar-besaran dari udara, dan cara dengan mana
energi termal didistribusikan pada permukaan bumi, bersama-sama dengan sistem
(tertinggal) laut jauh lebih lambat sirkulasi. Struktur skala besar sirkulasi atmosfer
bervariasi dari tahun ke tahun, tetapi struktur klimatologi dasar tetap cukup konstan.

Sirkulasi lintang adalah konsekuensi dari kenyataan bahwa insiden radiasi matahari
per satuan luas tertinggi di khatulistiwa panas, dan menurun dengan meningkatnya
lintang, mencapai minimum di kutub. Ini terdiri dari dua sel konveksi primer, sel
Hadley dan pusaran kutub , dengan sel Hadley mengalami konveksi kuat sebagai
akibat dari pelepasan energi panas laten kondensasi pada ketinggian yang lebih
tinggi (di).

Sirkulasi longitudinal, di sisi lain, muncul karena air memiliki kapasitas panas lebih
tinggi spesifik dari tanah dan dengan demikian menyerap dan melepaskan panas
lebih banyak, tetapi perubahan suhu kurang dari tanah. Efek ini terlihat, itu adalah
apa yang membawa angin laut, udara didinginkan dengan air, darat pada siang hari,
dan mesmbawa angin darat, udara didinginkan oleh kontak dengan tanah, keluar ke
laut pada malam hari. Sirkulasi longitudinal terdiri dari dua sel, sirkulasi Walker
dan El Nino / Osilasi Selatan .

Fenomena yang lebih lokal dari gerakan atmosfer global juga karena konveksi,
termasuk angin dan beberapa siklus hidrologi . Misalnya, angin foehn adalah jenis-
lereng bawah angin yang terjadi di sisi arah angin dari pegunungan. Ini hasil dari
adiabatik pemanasan udara yang telah turun sebagian besar kelembaban pada lereng
angin. Sebagai konsekuensi dari tingkat yang berbeda adiabatic selang udara
lembab dan kering, udara di lereng bawah angin menjadi lebih hangat dari
ketinggian setara pada angin lereng.

Sebuah kolom termal (atau termal) adalah bagian vertikal dari udara naik di
ketinggian lebih rendah dari atmosfer bumi. Termal yang diciptakan oleh
pemanasan yang tidak merata permukaan Bumi dari radiasi matahari. Matahari
menghangatkan tanah, yang pada gilirannya menghangatkan udara langsung di
atasnya. Udara hangat mengembang, menjadi kurang padat daripada massa udara
sekitarnya, dan menciptakan termal rendah . Massa udara naik lebih ringan, dan
seperti halnya, mendingin karena ekspansi tersebut pada ketinggian yang lebih
rendah tekanan tinggi . Terkait dengan termal adalah aliran ke bawah sekitar kolom
termal. Eksterior bergerak ke bawah disebabkan oleh udara dingin menjadi
pengungsi di bagian atas termal. Efek cuaca konveksi lain-didorong adalah angin
laut .

Udara hangat memiliki kerapatan yang lebih rendah daripada udara dingin, udara
begitu hangat naik dalam pendingin udara, serupa dengan balon udara panas . Awan
bentuk sebagai udara yang relatif hangat membawa naik kelembaban di dalam
udara dingin. Sebagai naik udara lembab, mendingin menyebabkan beberapa dari
uap air dalam paket meningkatnya udara untuk menyingkat . Ketika mengembun
uap air, ia melepaskan energi yang dikenal sebagai panas laten fusi yang
memungkinkan paket naik udara untuk mendinginkan kurang dari udara sekitarnya,
melanjutkan kenaikan awan itu.
BAB III
Materi dan Metoda
A. Materi
1. Peralatan yang digunakan
- Pipa Stainless Steel
- Thermocouple
- Digital Thermocouple Indikator
- Tab Selector (Pengatur Sumber Arus)
-Compressor
-Air Regulator (Regulator Udara)
-Stop watch

2. Bahan yang digunakan


- Udara Bertekanan.

B. Metoda

Adapun prosedur yang dilakukan untuk menapai tujuan dari percobaan


Forced Convection ini adalah sebagai berikut;

1. Kompresor si chokan ke sumber arus listrik


2. Dihidupkan power suplai pada posisi di ON kan
3. Tab selector di putar samapi ke angka 2
4. Lalu ditunggu selama 5 menit
5. Setelah itu, dinaikan tekanan udara sebesar 30
6. Dan ditunggu selama 8 menit
7. Lalu dibaca dan dicatat tegangan dan voltase sumber arus serta dicatat
temperatur dinding pipa mulai dari t1, t2, t3, t4, t5, t6, t7, t8, t9, t10, dan t11 sebagai
temperatur udara masuk.
8. Baru nol kan kembali dan tunggu selama 2 menit
9. Dinaikan kembali udara bertekanan sebesar 40
10. Dan ditunggu waktu selama 8 menit
Prosedur mematikan
1. Dinolkan udara bertekanan pada compresor
2. Dinolkan termocouple dan pressure gauge
3. Dicabut chock compresor dari sumber arus listrik
4. Diturunkan power suplai sampai menunjukan pada posisi OFF
5. Dirapikan peralatan yang telah di pakai

GAMBAR RANGKAIAN
A. Data Pengamatan

MEASUREMENTS

Flow Outside Surface Wall Temperatur of Tube


Temp Press Amp Volt
Rate

V ta P A V T0(i)

oC
ltr oC mmHg A V
mnt
Flow Press Am Volt Digital Thermometer
Meter Bar Meter Meter

t11 t1 T2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 T9 t10

30 28,5 0,35 21 2,1 43,4 45,0 415,9 46,2 48,8 44,9 59,2 66,3 73,4 81,7

40 28,8 0,45 21 2,1 43,6 44,3 44,8 44,7 46,5 51,8 56,3 63,9 71,8 79,8
B. Pembahasan
1. Menghitung Tekanan Statistik (Kg/m2)
P a= P +  P
10 4 cm 2
= 1,033 + ( 0,45 Kg/cm2 x )
1 m2
= 4501,033 Kg/cm2

2. Menghitung Temperatur Absolute (Ta)


Ta = ta + 273 K
= 28,8 oC + 273 K
= 301,8 K

3. Menghitung Berat Spesifik Fluida (Kg/Cm3) berdasarkan ta : 27,4 oC


x  x1 y  y1
Interpolasi  
x 2  x1 y 2  y1

(28,8  20) o C ( y  1,166) Kg / m 3



(40  20) o C (1,092  1,166) Kg / m 3

8,8 ( y  1,166) Kg / m 3

20  0,075Kg / m 3

 0,66Kg / m 3  20 y  23,32Kg / m 3

y  1,133Kg / m 3 ɣ = 1,33 Kg / m3
4. Menghitung Laju Udara (Kg/Jam)
  V  60 293  Pa
G'  
1000 1,333.10 4  Ta

1,133Kg / m 3  40k / mnt  60mnt / jam 293K  1501,033Kg / m 2


G'  
1000Kg / m 3 1,333.10 4  301,8K

1318802,669
= 2,7192Kg / m3
4022994
= 1,5568Kg / Jam

5. Menghitung Panas Reflux pada Dinding dalam Pipa (Kkal/Jam)


0,86  A  V
qw =
K  dw  X
(0,86  21A  2,1V )
=
3,14  5.10 3 m  (8,5 X 10-¹m)

48,848Kkal / Jam
=
1,3345.10  2 m 2
= 2841,9632 Kkal/jam.m3

6. Menghitung panas flux pada keliling pipa/ panas bahan pipa


(Kkal/Jam. m 2 )
0,86  A  V
qv =

4
Dw 2

 dw 2 X
0,86  21A  2,1v
= 3,14
4
(6.x10 3 2

)  (5x10 3 ) 2 m.0,85 x10-¹m)

37,926 Kkal / Jam


= 3
0,000007339 m

= 5167734,024 Kkal/jam.m3

7. Menghitung Temperatur dalam Pipa (oC)


qv  L2
Tw1  To1 
2K
qv  L2
a. Tw1  To1 
2K
5167734,024 Kkal / Jam  (5.10 4 m) 2
= 43,6 o C
2 x14 Kkal / Jam
= 43,6 o C  0,046 o C
= 43,554 oC
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
b. Tw2  44,3 C 
o

2 x14 Kkal / Jam


= 44,3 0C – 0,046 0C
= 44,254 0C
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
c. Tw3  44,8 o C 
2 x14 Kkal / Jam
= 44,8 0C – 0,046 0C
= 44,754 0C
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
d. Tw4  44,7 o C 
2 x14 Kkal / Jam
= 44,7 0C – 0,046 0C

= 44,654 0C

5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2


e. Tw5  46,5 C 
o

2 x14 Kkal / Jam


= 46,5 0C – 0,046 0C

= 46, 454 0C

5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2


f. Tw6  51,8 o C 
2 x14 Kkal / Jam
= 51,8 0C – 0,046 0C
= 51,754 0C
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
g. Tw7  56,3o C 
2 x14 Kkal / Jam
= 56,3 0C – 0,046 0C
= 56,254 0C
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
h. Tw8  63,9 C 
o

2 x14 Kkal / Jam


= 63,9 0C – 0,046 0C
= 63, 854 0C
5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2
i. Tw9  71,8 o C 
2 x14 Kkal / Jam
= 71,8 0C – 0,046 0C

= 71, 754 0C

5167734,024 Kkal / Jam.m 3 .(5 x10 4 m) 2


j. Tw10  79,8 C  o

2 x14 Kkal / Jam


= 79,8 0C – 0,046 0C
= 79, 754 0C

8. Menghitung Temperatur Udara dari Dalam Pipa (oC)


ta  qw...dw
Tbi = .xi
cp.g

Interpolasi cp udara berdasarkan suhu T11 = 28,8 oC


x  x1 y  y1
 
x2  x1 y 2  y1
 28,8  0 oC

 y  0,241 Kkal/Kg.oC
 50  0   0,243  0,241 Kkal/Kg.oC

28,8 y  0,241Kkal/Kg.oC

50 0,002Kkal/Kg.oC
0.0576Kkal/Kg.oC  50 y  12,05Kkal/Kg.oC

50 y  11,9952 oC

y  0,242 Kkal/Kg.oC  cp udara

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 5.10 3 m


a. Tb 1= 28,8o C .
2 x14Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam

0,2230 o C
= 28,8 C 
o

0,3767'
= 28,8 oC + 0,5919 oC
= 29,3919 oC
2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 5.10 3 m
b. Tb2. = 28,8o C .
2,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 28,8 oC + 1,7764 oC
= 30,5764 oC

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 20 x10 3 m


c.Tb3 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 31,168 oC

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 30 x10 3 m


d.Tb4 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 32,352 oC

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 50 x10 3 m


e.Tb5 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 34,721 oC

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 100 x10 3 m


f.Tb6 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 40,643 oC

2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 200 x10 3 m


g.Tb7 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 52,486 oC

o 2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 400 x10 3 m


h.Tb8 = 28,8 C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 76,172 oC

o 2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 600 x10 3 m


i.Tb9 = 28,8 C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 99,859 oC
2841,9632Kkal / Jam.m 2  3,14 x5.10 3 m 800 x10 3 m
c.Tb10 = 28,8o C .
0,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 123, 545oC

9. Menghitung koefisien transfer panas lokal (hi) ( Kkal / Jam.m 2 oC)

qw
qw = hi (Tw-Tb) → h1 
Tw1  Tb1

2841,9632 Kkal / Jam.m 2


a).H1 =
(43,554  29,3919) o C

= 200,6738 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
b.)H2 =
(44,254  30,5764) o C

= 207,782 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
c.)H3 =
(44,754  31,168) o C

= 209,183 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
d.)H4 =
(44,654  32,352) o C

= 231,016 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
e.)H5 =
(46,454  34,721) o C

= 242,219 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
f.)H6 =
(51,754  40,643) o C

= 255,779 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
g.)H7 =
(56,254  52,486) o C

= 754,236 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
h.)H8 =
(63,854  76,172) o C

= -230,716 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
i.)H9 =
(71,754  99,859) o C

= -101,119 Kkal / Jam.m 2 .o C


2841,9632 Kkal / Jam.m 2
j.)H10 =
(79,754  123,545) o C

= -64,898 Kkal / Jam.m 2 .o C

10. Menghitung Nilai ho(Kkal.m2.oC)


7
h4  h5  h6  h7
ho  
x4 4

(231,016  242,219  255,779  754,236) Kkal / Jam.m 2 .o C


=
4
= 370,8125 Kkal / Jam.m 2 .o C

11. Menghitung Koefisien Kinetik Viskositas Udara dalam Pipa (m2/Jam)


Tb4  Tb7
Tbo =
2
32,352 o C  52,486 o C
=
2
= 42,419 o C

12. Menghitung kekentalan kinematik dari udara pada Tbo ( m 2 / jam)

x  x1 y  y1
 
x2  x1 y 2  y1

 42,49  40 oC

 y  0,00630 m 2 / jam
 60  40   0,00781  0,00630 m 2 / jam

2,419 y  0,00630m 2 / jam



20 0,00151m 2 / jam

0.00365269m 2 / jam)  20 y  0,126m 2 / jam

Y= 0,00648 m 2 / jam

Kekentalan kinematik (ѵ) = 0,00648 m 2 / jam


13. Menghitung konduktivitas panas dari udara pada Tbo ‘k’ (
Kkal / Jam.m 2 .o C )

x  x1 y  y1
 
x2  x1 y 2  y1

 42,419  40 oC

 y  0,0234 Kkal / Jam.m 2 .o C
 60  40   0,0260  0,0234 Kkal / Jam.m 2 .o C

2,419 y  0,0234 Kkal / Jam.m 2 .o C



20 0,0026 Kkal / Jam.m 2 .o C
0.0062894Kkal / Jam.m 2 .o C  20 y  0,468

Y= 0,0237 Kkal / Jam.m 2 .o C → K

14.Menghitung bilangan reynold (Re) . (-)


dw.u ' (6 / 8)'
Re  U
  / 4(dw)

1,5568kg / jam / 1,33Kg / m 3


U=
3,14 / 4  (5.10 3 m) 2

1,3740 m / jam
=
0,0000196
m
= 70102,04082 / jam

5.10 3 m.70102,04082 m / jam


Re= 2
0,00648 m / jam

= 54091,08088 m / jam

15.Mngenghitung bilangan plandth (pr) (-) berdasarkan suhu Tbo

 42,419  40 oC

 y  0,71 
 60  40 oC  0,70  0,71 

2,419 y  0,71

20  0,01
 0,02419  20 y  14,2

Y= 0,708 → bilangan plandth (pr)


16. Menghitung bilangan nusselt (Nuo) (-)

h0 .dw'
Nou 
k
370,8125kkal / jam / m 2 .o C.x5.10 3 m
=
0,0232kkal / jam.m.o C
= 78,2304
GRAFIK
Tabulasi Data
Inside Surface Wall Temp of Tube

Pa Ta  G' qw qv Tw

Kg o Kg Kg Kcal Kcal oC
m 2 K m 3
h h h 2

qv  L2
 10 4  10 3  10 4 Tw = To 
2K

Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw5 Tw6 Tw7 Tw8 Tw9 Tw10

2841, 5167205,
13,830 301,5 1,135 0,0648 43,354 44,954 95,854 46,154 40,754 54,854 59,159 66,254 73,354 81,654
9632 968
2841, 5167734,
4501,O33 301,8 1,133 1,5568 43,554 44,254 44,754 44,654 46,454 51,754 56,254 63,854 71,754 79,754
9632 024
Bulk Temp of Air in Tube Local Heat Transfer Coeficient

Tb H

Kcal
oC
h.m 2 . o C

qw  dw  X h
qw
Tb  ta  Tw  Tb
Cp  G '

Tb1 Tb2 Tb3 Tb4 Tb5 Tb6 Tb7 Tb8 Tb9 Tb10 H1 h2 h3 h4 h5 h6 h7 h8 h9 H10

42,7 71,1 85,3 113,8 170, 312, 597, 1166, 123, 2303, 4486, 108, 41,4 23,3 10,2 5,28 2,58 1,21 1,27 1,27

206 618 024 236 706 912 324 148 922 796 878 439 74 03 20 07 38 03 89 89

- - -
29,3 30,5 31,1 32,35 34,7 40,6 52,4 76,17 99,8 123,5 200,6 207, 209, 231, 243, 255, 754, 64,8
230, 101,
919 764 68 2 21 43 86 2 59 45 738 782 183 016 219 779 236 98
716 119
Calculatations

ho Tbo  K Re pr Bilangan Nusselt

N uo

Kcal 2 o
o
C m3 kkal / jam.m 2 .o C (-)
h.m . C h

20,20 355,5738 201,168 00,28 72307,10 0,70 3,602

370,8125 42,419 0,00648 00,37 70102,04082 0,708 78,2304


BAB V
Kesimpulan

Dari percobaan yang tlah dilakukan, maka dapat disimpilkan :


1. Harga koefisien transfer panas lokal adalah :
H1 = 200,6738 Kkal / Jam.m 2 .o C
H2 = 207,782 Kkal / Jam.m 2 .o C
H3 = 209,183 Kkal / Jam.m 2 .o C
H4 = 231,016 Kkal / Jam.m 2 .o C
H5 = 242,219 Kkal / Jam.m 2 .o C
H6 = 255,779 Kkal / Jam.m 2 .o C
H7 = 754,236 Kkal / Jam.m 2 .o C
H8 = -230,716 Kkal / Jam.m 2 .o C
H9 = - 101,119 Kkal / Jam.m 2 .o C
H10= -64,898 Kkal / Jam.m 2 .o C
2.Harga koefisien transfer panas (Ho) adalah 370,8125 Kkal / Jam.m 2 .o C
3.Semakin kecil laju udara, maka semakin tinggi temperatur yang
diproleh dari (t1 – t10)

86
Daftar Pustaka

Brennan, J. G. dkk. 1968. Food Engineering Operations. Applied Science


Publisher Limited. London.

Desrosier, W. Fellow. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Universitas


Indinesia. Jakarta.

Fellow, P.J.1988. Food Processing Technology. Principle and Practice. Ellis


Horwood. New York.

Ign Suharto. 1998. Sanitasi, Keamanan, dan Kesehatan Pangan dan Alat
Industri. Bandung.

Wirakartakusumah, Aman. dkk. 1992. Peralatan Dan Unit Proses Industri


Pangan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

87
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

ALAT PENUKAR PANAS

( HEAT EXCHANGER )

88
LABORATORIUM SATUAN OPERASI

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

MEDAN

2018

BAB I
PENDAHULUAN
ALAT PENUKAR PANAS (HEAT EXCHANGER)

A. MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN


1. Maksud
Maksud dari percobaan yaitu:
 Agar mahasiswa mampu untuk mengetahui prinsip kerja Alat
Penukar Panas (Heat Exchanger) dan kegunaannya dalam
operasi pabrik
 Agar mahasiswa mengetahui dasar dari penukar panas dan
hubungan antara bilangan Reynold dan Karakteristik Penukar
Panas.
 Agar mahasiswa mengerti cara menghitung koefisien
pemindahan panas keseluruhan dari penukar panas.

2. Tujuan
Tujuan dari percobaan yaitu :
1. Untuk mempelajari dasar-dasar penukar panas.
2. Untuk menghitung neraca panas dari penukar panas.
3. Untuk menghitung koefisien pemindahan panas keseluruhan dari
penukar panas.
4. Untuk menghitung effisiensi penukar panas.
5. Untuk mempelajari hubungan antara bilangan Reynold dan
Karakteristik Penukar Panas.

89
B. LATAR BELAKANG
Teknik mesin adalah bidang study yang mencakup seluruh ilmu rumus
yang berlogika rumit. Entah itu, kalkulus,fisika,kimia,
28 bahkan digabungkan
menjadi ilmu teknik seperti thermodinamika,proses produksi, elemen mesin,
dinamika teknik,mekanika fluida,material teknik, ilmu bahan,aerodinamika,
dan ilmu rumus teknik lainya yang hanya akan menambah kerumitan bagi
mereka yang bukan 'orang teknik'.
Di zaman sekarang ini, energi listrik termasuk kebutuhan paling vital
dalam kehidupan. Semua lapisan penting dalam suatu negara seperti
masyarakat, perkantoran, industri tidak bisa terlepas dari pemanfaatan energi
ini. Di Negara kita, untuk memproduksi listrik dilakukan oleh bermacam-
macam jenis instalasi pembangkit listrik yang sangat rumit. Salah satunya
adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap).
PLTU adalah lembaga pembangkitan energi listrik yang dalam proses
kerjanya memanfaatkan tenaga uap untuk membangkitkan energi listrik. Jika
menerangkan tentang Siklus PLTU, hal pertama yang harus diketahui adalah
bahan baku dari PLTU itu sendiri yakni air, serta bahan bakar tentunya. Air ini
bukan sembarang air. Air yang digunakan dalam siklus PLTU ini disebut air
demin, yakni air yang mempunyai kadar conductivity (Kemampuan untuk
menghantarkan listrik) sebesar 0.2 us (mikro siemen). Sebagai perbandingan
air mineral yang kita minum sehari-hari mempunyai kadar conductivity Sekitar
100 – 200 us.
Untuk mendapatkan air demin ini, setiap unit PLTU biasanya dilengkapi
dengan Desalination Plant dan Demineralization Plant yang berfungsi untuk
memproduksi air demin ini. Jika kita melihat secara sederhana bagaimana
siklus PLTU itu, lihat saja proses memasak air. Air dimasak hingga menguap
dan uap ini lah yang digunakan untuk memutar turbin dan generator yang
nantinya akan menghasilkan energi listrik.

90
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFENISI ALAT PENUKAR PANAS


Apabila dua benda yang berbeda temperatur dikontakkan, maka panas akan
mengalir dari benda bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur lebih
rendah. Mekanisme perpindahan panas yang terjadi dapat berupa konduksi,
konveksi, atau radiasi. Dalam aplikasinya, ketiga mekanisme ini dapat saja
berlangsung secara simultan.

a. Alat Penukar Panas


Alat penukar panas konvensional seperti penukar panas pipa rangkap
(double pipe heat exchanger ) dan penukar panas cangkang buluh ( shell and
tube heat exchanger ) selama beberapa decade mendominasi fungsi sebagai
penukar panas di industri. Perkembangan kemudian, karena tuntutan effisiensi
energi, biaya, serta tuntutan terhadap beban perpindahan panas yang lebih
tinggi dengan ukuran penukar panas yang kompak menjadi penting.
Menanggapi hal itu, maka dibuat suatu penukar panas kompak. Salah satu jenis
penukar panas kompak tersebuat adalah penukar panas Plate and frame Heat
Exchanger.
b. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger)
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang
dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak
penyekat. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua
mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat
penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan
tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar

91
digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat
exchanger ).
c. Penukar panas cangkang dan buluh (shell and tube heat exchanger)
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel
(cangkang). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida
yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau
bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang
menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas,
biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle).
Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu
tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar
pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir
fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.
d. Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger )
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat – pelat tegak
lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus
dipasang penyekat lunak ( biasanya terbuat dari karet ). Pelat – pelat dan sekat
disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (
kebanyakan segi empat ) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari
lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan
fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena
ada sekat.
Heat exchanger adalah alat yang digunakan untuk mentransfer panas dari
suatu media ke media yang lain yang mempunyai perbedaan temperatur. Alat
ini selain sering dijumpai pada industri yang menggunakan Ketel Uap
(Boiler), kondenser, cooling tower, juga digunakan dalam peralatan rumah
tangga seperti Air Conditioner (AC), Lemari Es, serta pada radiator.

92
BAB III
MATERI DAN METODA

A. MATERI
1. Alat
a. Shell
b. Connections
c. Tubesheet
d. Head
e. Gaskets
f. Mounting
g. Baffles
h. Tube Bandle

2. Bahan
Bahan yang digunakan yaitu: air

93
B. METODA
Prosedur Kerja
Prosedur Menghidupkan
32 penuh.
1. Tangki persediaan air diisi sampai
2. Kabel dihubungkan ke sumber arus ,lalu saklar dinaikkan dan power
supply di onkan .
3. Pompa dihidupkan untuk mengisi tangki air panas .
4. Heater di onkan lalu temperature di atur 60 oC.
5. Setelah temperature tercapai aliran dibuat searah, kemudian laju alir
air panas dan dingin diatur sesuai instruksi .
6. Data T2,t1 dan t2 diambil setelah bunyi 3 kali .
7. Percobaan laju alir diulangi .
8. Percobaan laju alir berlawanan arah diulangi .
9. Tentukan arah aliran (parallel atau berlawanan arah).

Prosedur Mematikan
1. Laju alir di nolkan .
2. Temperature di nolkan .
3. Heater dinolkan .
4. Pompa dimatikan.
5. Power supply dimatikan .
6. Saklar dimatikan , kabel dicabut dari sumber arus .
7. Kran air ditutup .

94
Gambar rangkaian percobaan

95
BAB IV
DATA PENGAMATAN

Measurements

High Temp. Fluid ( Hot Low Temp. Fluid ( Cold


Water) Water)

Instru.( Temperature Flow Temperature Flow


Equation) Rate Rate

Inlet Outlet Inlet Outlet

Symbols T1 T2 W t1 t2 w

Dimensions oC oC Kg/hour oC oC Kg/hour

A 60 53 90 30 36 90

B 60 52 120 30 34 120
Parallel Flow

C 60 51 150 30 33 150

D 60 51 180 30 32 180

E 60 51 180 30 31 180

F 60 52 150 30 33 150
Counter Flow

G 60 53 120 30 34 120

H 60 53 90 30 33 90

96
BAB V
HASIL KERJA PRAKTEK

A. PEMBAHASAN
Aliran Searah
1. Menghitung ∆t1, ∆t2, dan ∆tm

∆t1 = T1 – t1
= (60-30)°C
= 30°C
∆t2 = T2 – t2
= (51-33)°C
= 18°C

∆𝑡1 − ∆𝑡2
∆tm = 30°𝐶
ln
18°𝐶

12°𝐶
= 0,51

= 23,520C

2. Menghitung Nilai qw
 Untuk Nilai qw
qw = w x Cp (t1 – t2)
𝑡1 + 𝑡2
t = 2
(30+33)°𝐶
= 2

= 31,5°C
 Mencari density air pada suhu 31,5oC
𝑥− 𝑥1 𝑦− 𝑦1
=
𝑥2 − 𝑥1 𝑦2 − 𝑦1

97
𝑔𝑟
31,5°C−30°C 𝑦−0,99564⁄𝑚𝑙
= 2
32°C−30°C (099502−0,99564)𝑚 𝑔𝑟⁄𝑑𝑡𝑘
𝑔𝑟
1,5°C 𝑦−0,99564 ⁄𝑚𝑙
= 𝑔𝑟
5°C −0,00062 ⁄𝑚𝑙

=-0.00093𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 =2y –1,99128 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙


1,99035 𝑔𝑟⁄𝑚𝑙 = 2y
y = 0,99517 𝑘𝑔⁄𝑙
 Mencari Nilai cp pada suhu 31,5oC
𝑥− 𝑥1 𝑦− 𝑦1
=
𝑥2 − 𝑥1 𝑦2 − 𝑦1

31,5°C−30°C 𝑦−0,998 𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC


=
32°C−30°C (0,998−0,998)𝑘𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC

1,5°C 𝑦−0,998 𝑘𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC


=
2°C 0,𝑘𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC

=0 =y – 0.998 𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC

y = 0,998 𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC

w = 150 𝑙⁄𝑗𝑎𝑚 x 0,99517 𝑘𝑔⁄𝑙


= 149,275 kg/jam
qw = w x cp (t1-t2)
= 149,275 kg/jam x 0,998 kkal/kgoC x (30-32)oC
= - 446,92 kkal/jam
3. Menghitung QW = W x cp x ( T1-T2)
Mencari T

𝑇1+𝑇2
T= 2

60°𝐶+51°𝐶
= 2

= 55,5 °C

Mencari density air pada suhu 55,5oC

98
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(55,5−54) 𝑥 𝑦−0,98618 𝑔𝑟/𝑚𝑙


= (0,98501−0,98618)𝑔𝑟/𝑚𝑙
(56−54𝑥

1,5 𝑦−0,98618 𝑔𝑟/𝑚𝑙


=
2 − 0,00117𝑔𝑟/𝑚𝑙

– 0,001755 gr/ml = 2y- 1,97236 gr/ml

2y = 1,970605 gr/ml

y = 0,98530 gr/ml

Mencari nilai CP pada suhu 55,5oC

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

𝑘𝑘𝑎𝑙
(55,5−54)°𝐶 𝑦−0,999 °𝐶
𝑘𝑔
= (0,999−0,999)𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐
(56−54)°𝐶

1,5 𝑦−0,999 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐


=
2 0 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝐶

0 = 2y- 1,998 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝐶

y = 0,999kkal/kg °C

W = w x density air

= 150 l/jam x 0,98530 kg/l

= 147,795 kg/jam

QW = W x Cp X (T1 –T2)

99
= 147,795 kg/jam x 0,999 kkal/kgoC x (60-51)oC

= 1328,82 kkal/jam

4. Mengambil Bilangan Reynold Air dingin

𝑡1+𝑡2
T =
2

30°𝐶+33°𝐶
=
2

= 31,5 °C

Mencari nilai √h pada suhu 31,5

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(31,5−30) 𝑥 𝑦−0,00796𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


c = (0,00724−0,00796)
(35−30)𝑥 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

1,5 𝑦−0,00796 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


=
5 − 0,00072 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

-0,00108 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = 5y – 0,0398 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

5y =0,03872 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘.

y = 0,00774 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

149,275 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 7,584 x 10−6 x 0,00774 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 1462 (Aliran Laminer) range 1462<2100

5. Menghitung Bilangan Reynold Air panas

𝑡1+𝑡2
T =
2

100
60°𝐶+51°𝐶
=
2

= 55,5 °C

Mencari nilai √h pada suhu 31,5

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(55,5−55) 𝑥 𝑦−0,00518𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


= (0,00480−0,00518)
(60−55)𝑥 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

0,5 𝑦−0,00518 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


=
5 − 0,00038𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

-0,00019 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = 5y – 0,0259 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

5y = 0,02571 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

y = 0,00514 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

147,795 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 2,080 x 10−5 x 0,0051410−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 5980,8 (Aliran Turbulen) range 4784>4000

6). Menghitung nilai efisien

𝑇1−𝑇2
%h= x 100 %
𝑇1−𝑡1

60−51
= x 100 %
60−30

= 30 %

7).Menghitung nilai koefisien

𝑄𝑤+𝑄𝑤
Q = 2

101
𝑘𝑘𝑎𝑙
1328,82 + 446,929 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
𝑗𝑎𝑚
=
2

= 887,874 kkal/jam

𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚

(𝑑1+𝑑𝑜)
A =π .𝑙
2

(1,7 𝑥 10−2 + 1,9 𝑥 10−2 )


= 3,14 m.1m
2

= 5,652 x10−2 m²

𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚

887,874 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
=
5,652 𝑥 10−2 𝑚2 𝑥 23,52 °𝐶

=667,900 kkal/m² jam °C

Aliran Berlawanan Arah


1. Menghitung ∆t1, ∆t2, dan ∆tm

∆t1 = T1 – t2
= (60-34)°C
= 26°C

102
∆t2 = T2 – t2
= (53-30)°C
= 23°C

∆𝑡1 − ∆𝑡2
∆tm = 𝑡1°𝐶
ln
𝑡2°𝐶

(26−23)°𝐶
= 26°𝐶
ln
23°𝐶

3°𝐶
= 0,1226°𝐶

= 24,46oC

2. Menghitung Nilai qw
 Untuk Nilai qw
qw = w x Cp (t1 – t2)
𝑡1 + 𝑡2
t =
2
(30+34)°𝐶
= 2

= 32°C
 Mencari density air pada suhu 32oC = 0,99502 gr/ml
 Mencari Nilai cp pada suhu 32oC = 0,998𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC

w = 120 𝑙⁄𝑗𝑎𝑚 x 0,99502 𝑘𝑔⁄𝑙


= 119,4024 kg/jam
qw = w x cp (t1-t2)
= 119,4024 kg/jam x 0,998 kkal/kgoC x (30-34)oC
= - 476,6543 kkal/jam
3. Menghitung QW = W x cp x ( T1-T2)
Mencari T

𝑇1+𝑇2
T= 2

103
60°𝐶+53°𝐶
= 2

= 56,5 °C

Mencari density air pada suhu 55,5oC

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(56,5−56) 𝑥 𝑦−0,98501 𝑔𝑟/𝑚𝑙


= (0,98122−0,98501)𝑔𝑟/𝑚𝑙
(58−56𝑥

0,5 𝑦−0,98501 𝑔𝑟/𝑚𝑙


=
2 − 0,00379𝑔𝑟/𝑚𝑙

– 0,001895 gr/ml = 2y- 1,97002 gr/ml

2y = -0,001895+1,97002 (gr/ml)

y = 1,968125/2 gr/ml

y = 0,9840625 gr/ml

= 0,9840625 kg/l

Mencari nilai CP pada suhu 56,5oC

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

𝑘𝑘𝑎𝑙
(56,5−56)°𝐶 𝑦−0,999 °𝐶
𝑘𝑔
= (1,000−0,999)𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐
(58−56)°𝐶

0,5 𝑦−0,999 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐


=
2 0,001 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝐶

0,0005 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝐶 = 2y- 1,998 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝐶

2y = (1,998+0,0005)kkal/kg °C

Y = 1,9985/2 kkal/kg °C

104
= 0,99925 kkal/kg °C

W = w x density air

= 120 l/jam x 0,9840625 kg/l

= 118,0875 kg/jam

QW = W x Cp X (T1 –T2)

= 118,0875 kg/jam x 0,99925 kkal/kgoC x (60-53)oC

= 825,9925 kkal/jam

4. Mengambil Bilangan Reynold Air dingin

𝑡1+𝑡2
T =
2

30°𝐶+34°𝐶
=
2

= 32 °C

Mencari nilai √h pada suhu 32oC

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(32−30) 𝑥 𝑦−0,00796𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


c = (0,00724−0,00796)
(35−30)𝑥 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

2 𝑦−0,00796 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


=
5 − 0,00072 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

-0,00114 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = 5y – 0,0398 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

5y =0,03836 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘.

y = 0,007672 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

105
119,4024 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 7,584 x 10−6 x 0,007672 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 1180,3282 (Aliran Laminer) range


1180,3282<2100

5. Menghitung Bilangan Reynold Air panas

𝑇1+𝑇2
T =
2

60°𝐶+53°𝐶
=
2

= 56,5 °C

Mencari nilai √h pada suhu 56,5

𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1

(56,5−55) 𝑥 𝑦−0,00518𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


= (0,00480−0,00518)
(60−55)𝑥 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

1,5 𝑦−0,00518 𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘


=
5 − 0,00038𝑥 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

-0,00057 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = 5y – 0,0259 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

5y = (0,0259+0,00057) x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

y = 0,02647/5 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

y = 0,005294 x 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

118,0875 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 2,080 x 10−5 x 0,00529410−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 4639,62 (Aliran Turbulen) range 4639,62>4000

6). Menghitung nilai efisien

106
𝑇1−𝑇2
%h= x 100 %
𝑇1−𝑡2

60−53
= x 100 %
60−34

= 26,92 %

7).Menghitung nilai koefisien

𝑄𝑤+𝑄𝑤
Q = 2

𝑘𝑘𝑎𝑙
825,9925 + 476,6543 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
𝑗𝑎𝑚
=
2

= 651,3234 kkal/jam

𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚

(𝑑1+𝑑𝑜)
A =π .𝑙
2

(1,7 𝑥 10−2 + 1,9 𝑥 10−2 )


= 3,14 m.1m
2

= 5,652 x10−2 m²

𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚

651,3234 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
=
5,652 𝑥 10−2 𝑚2 𝑥 23,52 °𝐶

=489,956 kkal/m² jam °C

107
BAB VII
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin tinggi aliran (l/jam) maka semakin rendah jumlah penukar panas
yang dikeluarkan.
2. Semakin tinggi nilai vl maka semakin rendah bilangan reynold nya.
3. Semakin tinggi aliran (l/jam) maka akan semakin rendah t2 tersebut.

108
BAB VIII

DAFTAR PUSTAKA

1. Warren L. Mc. Cabe,Dkk.1985.Operasi Teknik Kimia. Jakarta:Erlangga


2. Yenni Sitanggang, ST. MT. 2008. Alat Industri Kimia. Medan: PTKI
3. Zemansky , Lars. 1982. Fisika Untuk Universitas I, Mekanika Panas,Bunyi.
Bandung:Bina Cipta.

109
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

KEHILAGAN TEKANAN KARENA GESEKAN

( FRICTION LOSS )

110
LABORATORIUM SATUAN OPERASI

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

MEDAN

2018

BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan
“Kehilangan tekanan karena gesekan (firction loss)”

B. Tujuan Percobaan
 Mempelajari dasar – dasar dinamika fluida
 Mempelajari sifat fluida inkompresial dalam jaringan pipa,khususnya
kehilangan gesekan akibat gesekan fluida
 Memberikan motif untuk penghematan energi dalam operasi pabrik

C. Latar Belakang

Perubahan tekanan dalam aliran fluida terjadi karena adanya perubahan


ketinggian, perubahan kecepatan, perubahan penampang dan gesekan fluida. Pada
aliran tanpa gesekan perubahan tekanan dapat dianalisa dengan persamaan
Bernoulli yang memperhitungkan perubahan tekanan ke dalam perubahan
ketinggian dan perubahan kecepatan. Sehingga perhatian utama dalam menganalisa
kondisi aliran nyata adalah pengaruh dari gesekan. Gesekan akan menimbulkan
penurunan tekanan atau kehilangan tekanan dibandingkan dengan aliran tanpa
gesekan. Berdasarkan lokasi timbulnya kehilangan, secara umum kehilangan tekanan
ini digolongkan menjadi 2 yaitu : kerugian mayor dan kerugian minor.

111
Head loss atau friction loss adalah suatu nilai untuk mengetahui seberapa
besarnya reduksi tekanan total (total head) yang diakibatkan oleh fluida saat
melewati sistem pengaliran. Total head, seperti kita ketahui merupakan kombinasi
dari elevation head (tekanan karena ketinggian suatu fluida), velocity head,(tekanan
karena kecepatan alir suatu fluida) dan pressure head (tekanan normal dari fluida itu
sendiri).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN KEHILANGAN TEKANAN


Ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang apabila dibarengi dengan
mengadakan penelitian, pengujian dan analisa pada berbagai disiplin ilmu
pengetahuan. Mekanika fluida sebagai bagian dari ilmu pengetahuan
merupakan salah satu contoh yang perlu mendapat perhatian karena
penerapannya luas.
Setiap hari kita semua selalu berhubungan dengan fluida hampir tanpa
sadar. Banyak gejala alam yang indah dan menakjubkan, seperti bukit-bukit dan
ngarai-ngarai yang dalam, terjadi akibat gaya-gaya yang ditimbulkan oleh aliran
fluida. Semua fluida mempunyai atau menunjukkan sifat-sifat atau karateristik
yang penting dalam dunia rekayasa.
Penerapan pinsip-prinsip mekanika fluida dapat dijumpai pada bidang
industry, transportasi maupun bidang keteknikan lainnya. Namun dalam
penggunaannya selalu terjadi kerugian energi. Dengan mengetahui kerugian
energi pada suatu sistem yang memanfaatkan fluida mengalir sebagai media,
akan menentukan tingkat efesiensi penggunaan energi.
Bentuk-bentuk kerugian energi pada aliran fluida antara lain dijumpai pada
aliran dalam pipa. Kerugian-kerugian tersebut diakibatkan oleh adanya gesekan

112
dengan dinding, perubahan luas penampang, sambungan, katup-katup, belokan
pipa dan kerugian-kerugian khusus lainnya. Pada belokan pipa
ataulengkungan, kerugian energi aliran yang terjadi lebih besar dibandingkan
dengan pipa lurus.
Dengan mengetahui kehilangan atau kerugian energi dalam suatu sistem
atau instalasi perpipaan yang memanfaatkan fluida mengalir sebagai media,
efisiensi penggunaan energi dapat ditingkatkan sehingga diperoleh keuntungan
yang maksimal. Salah satu bagian dari instalasi perpipaan yang dapat
menyebabkan kerugian-kerugian adalah belokan pipa dengan sudut-sudut
tertentu misalnya sudut 450, sudut 900 dan sudut 1800.
Pada perubahan bentuk penampang baik itu perluasan ataupun penyempitan
jarang kita lihat pada suatu instalasi pipa pada suatu belokan dalam dunia
industri ataupun rumah tangga.Sistem jaringan pipa merupakan komponen
utama dari sistem distribusi air bersih atau air minum suatu perkotaan. Dalam
perkembanganya sistem instalasi pipa memerlukan pengawasan dan perawatan
yang kontinyu, hal ini untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat kondisi
instalasi yang salah satunya dipengaruhi umur pipa. Permasalahan-
permasalahan yang sering timbul akibat kurangnya perawatan dan umur pipa
antara lain : a) kebocoran, b) lebih sering terjadi kerusakan pipa atau komponen
lainnya, c) besarnya tinggi energi yang hilang dan d) penurunan tingkat layanan
penyediaan air bersih untuk konsumen (Kodoatie, 2002: 262). Permasalahan-
permasalahan di atas diperparah lagi dengan meningkatnya sambungan-
sambungan baru di daerah permukiman maupun industri dengan tanpa
memperhatikan kemampuan ketersediaan air dan kemampuan sistem
jaringan air minum tersebut.
Jaringan pipa air bersih atau instalasi air bersih adalah suatu jaringan pipa
yang digunakan untuk mengalirkan atau mendistribusikan air ke masyara
kat. Aliran terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekanan dikedua tempat,
tekanan
terjadi karena adanya perbedaan elevasi muka air atau karena digunakan
nya pompa yang lebih sering untuk mengalirkan air dari tempat yang rendah

113
ketempat yang lebih tinggi. Penggunaan pompa dapat pula bertujuan untuk
mengurangi adanya faktor gesekan antara aliran air dengan dinding basah pipa
yang timbul di sepanjang saluran pipa sebagai akibat adanya viskositas cairan.
Pada saat ini, masih banyak digunakan pipa besi (galvanis ) dan pipa jenis
polivinil chlorida (PVC) oleh masyarakat, pipa-pipa tersebut tersedia dipasaran
dengan berbagai merek baik yang diproduksi oleh industri dalam negeri
maupun dari produk impor. Penggunaan pipa oleh masyarakat tentunya dengan
berbagai pertimbangan sesuai dengan kebutuhan, misalnya : saluran pipa harus
lebih tahan terhadap korosi, tahan terhadap temperatur tinggi, tidak mudah
pecah atau bocor dan mudah dipasang secara flexible.
Salah satu gangguan atau hambatan yang sering terjadi dan tidak dapat
diabaikan pada aliran air yang menggunakan pipa adalah kehilangan energi
akibat gesekan dan perubahan penampang atau pada tikungan serta gangguan–
gangguan lain yang mengganggu aliran normal. Hal ini menyebabkan aliran air
semakin lemah dan mengecil.
Perencanaan sistem distribusi air didasarkan pada 2 (dua) faktor utama yaitu
kebutuhan air dan tekanan (Brebbia & Ferrante, 1983 dalam Triatmojo 1996 :
58). Kebutuhan air yang harus dipenuhi akan menentukan ukuran dan tipe
sistem distribusi yang di inginkan misalnya dipakai kebutuhan 125 liter / orang
untuk suatu jaringan, maka kita harus merencanakan debit dan tekanan yang
akan diberikan. Sedangkan tekanan menjadi penting karena tekanan rendah
akan mengakibatkan masalah dalam distribusi jaringan pipa, namun bila
tekanan besar akan memperbesar kehilangan energi. (Triatmojo 1996 : 58).
Kehilangan energi adalah besar tingkat kehilangan energi yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kecepatan aliran air dalam saluran. Secara umum
kehilangan energi dikelompokan menjadi 2 (dua) :
1. Kehilangan energi akibat gesekan.
Kehilangan energi akibat gesekan disebut juga kehilangan energi primer
(Triatmojo, 1996 : 58) atau major loss (Kodoatie 2002 : 245). Terjadi
pada pipa lurus berdiameter konstan.
2. Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya

114
Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya
disebut juga kehilangan energi skunder (Triatmojo 1996 : 58) atau
minor loss (Kodoatie 2002 : 245). Misalnya terjadi pada pembesaran
tampang (expansion), pengecilan penampang (contraction), belokan
atau tikungan.
Pemakaian jaringan pipa dalam bidang teknik sipil terdapat pada sistem
distribusi jaringan air minum. Sistem jaringan ini merupakan bagian yang
paling mahal dari suatu perusahaan air minum. Oleh karena itu harus dibuat
perencanaan yang teliti untuk mendapatkan sistem distribusi yang efisien.
Jumlah atau debit air yang disediakan tergantung pada jumlah penduduk dan
industri yang dilayani, serta perlu diperhitungkan pertumbuhannya dimasa
yang akan datang.
Dalam perencanaan jaringan pipa air bersih di tentukan oleh kebutuhan air
dan tekanan aliran yang diperlukan. Tekanan akan menimbulkan energi aliran,
tekanan kecil akan mengakibatkan masalah dalam distribusi, sedang bila tekanan
besar akan mempertinggi kehilangan energi.
Perlunya penelitian mengenai kehilangan energi pada pipa lurus maupun
adanya perubahan penampang terutama pada pipa jenis polivinil chlorida (PVC)
berdiameter ½ “dan ¾”, hal ini mengingat pipa jenis ini masih banyak dipergunakan
pada pemukiman penduduk maupun industri. Selain itu pipa jenis PVC sangatlah
berbeda dengan pipa jenis lainya sehingga sangat dibutuhkan informasi tentang
berapa besar kehilangan energi pada pipa jenis ini.

B. TEORI HIDROLIK
1. Sistem Hidrolik
Sistem hidrolik adalah suatu sistem pemindahan tenaga dengan
mempergunakan zat cair atau fluida sebagai perantara. Dalam system hidrolik
fluida cair berfungsi sebagai penerus gaya, minyak mineral adalah jenis fluida cair
yang umum dipakai. Pada prinsipnya bidang hidromekanik (mekanika fluida)
dibagi menjadi dua bagian seperti berikut :

115
1. Hidrostatik, yaitu mekanika fluida yang diam, disebut juga teori persamaan
kondisi-kondisi dalam fluida.
2. Hidrodinamik, yaitu mekanika fluida yang bergerak, disebut juga teori aliran
(fluida yang mengalir).
Prinsip dasar dari pada hidrolik adalah karena sifatnya yang sangat sederhana. Zat
cair tidak mempunyai bentuk yang tetap, zat cair hanya bisa membuat bentuk
menyesuaikan dengan yang ditempati. Zat cair pada prakteknya mempunyai sifat tidak
dapat terkompresi, beda dengan fluida gas yang sangat mudah sekali dikompresi. Hal ini
sangat didukung oleh sifatnya yang selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya dan
tidak dapat dikompresi. Untuk menjamin bahwa pesawat hidrolik harus aman dalam
operasinya, hal ini dipenuhi oleh sifat zat cair yang tidak dapat dikompresi. Gambar 2.2
menunjukkan, apabila tuas itu ditekan kuat-kuat ke arah botol yang tertutup rapat, maka
botol itu akan pecah dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan oleh sifat zat cair yang
meneruskan gaya ke segala arah.

Gambar 2.2. Zat cair tidak kompresibel

Gambar 2.3 memperlihatkan dua buah silinder yang berukuran sama, kedua
silinder dihubungkan oleh pipa, kemudian silinder diisi dengan minyak oli hingga
mencapai batas sama. Dua buah torak ditaruh di atas kedua permukaan minyak oli,
kemudian salah satu silinder ditekan dengan gaya tekan yang ringan tetapi gaya tekan itu
akan diteruskan menjadi gaya dorong yang besar. Tekanan ini diteruskan keseluruh
system, dan dipakai ke torak yang lain hingga naiklah torak tersebut.

116
Gambar 2.3 Zat cair meneruskan tekanan kesegala arah

Prinsip ini dipakai pada alat-alat pengangkat. Dengan membuat perbandingan


diameter yang berbeda akan mempengaruhi gaya angkat dan gaya penekannya. Diameter
silinder penekan dibuat lebih kecil dari pada silinder penerima beban (Gambar 2.3)
memberikan gaya tekan yang ringan tetapi gaya tekan itu akan diteruskan menjadi gaya
dorong yang besar. Secara diagram, gerak perpindahan hidrolik adalah seperti terlihat
pada gambar 2.4 yang mengubah dari energi listrik atau panas menjadi energi hidrolik
hingga mekanik. Hidrolik dapat dinyatakan sebagai alat yang memindahkan tenaga
dengan mendorong sejumlah cairan tertentu. Komponen pembangkit minyak bertekanan
disebut pompa, dan sebaliknya, komponen pengubah tekanan hidrolik (minyak
bertekanan) menjadi gerak mekanik disebut elemen kerja. Pada prinsipnya elemen kerja
ini dapat menghasilkan dua macam gerakan utama, gerakan linier (lurus) dihasilkan dari
elemen kerja silinder, dan gerakan putar dihasilkan dari elemen kerja motor hidrolik.

PEMBANGKIT Energi listrik

Motor listrik atau

atau energi panas

Motor bakar

117
Gambar 2.4 Diagram Aliran Sistem Hidrolik

Sebagai penggerak pompa hidrolik dapat digunakan motor listrik atau motor
bakar sebagai penggerak utamanya. Setelah minyak hidrolik dipompa pada tekanan
tertentu, kemudian disalurkan ke katup pengarah yang bertugas mengatur

BAB III

MATERI DAN METODE

A. Materi
 Alat
1. Pipa Orifice 6. Rotameter
2. Pipa Nozzle 7. Katup
3. Pipa Venturi 8. Vent Valve
4. Thermometer 9. Drain Valve
5. Manometer U Terbalik 10. Pompa
 Bahan
1. Air

118
B. Metode
 Prosedur Kerja
1. Bak [penyimpanan air dipastikan terisi penuh
2. Katup gate valve dan globe valve dibuka penuh
3. Control valve dibuka ½
4. Alat dihubungkan kesumber arus
5. Saklar dionkan
6. Power supply dionkan
7. Data diambil sesuai dengan laju arus yang ditentukan

 Prosedur mematikan
1. Rotameter/ pengatur laju arus diturunkan sampai nol
2. Power supply dimatikan
3. Saklar dionkan
4. Cabut alat dari sumber arus
5. Peralatan dirapikan

C. GAMBAR RANGKAIN

119
120
BAB IV

HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja Praktek


1) TABEL 1 ( PIPA )
PERBEDAAN
LAJU TEKANAN
ARUS Pipa Pipa ¾ Pipa TEMPERATUR
PERCOBAAN ℃
Q ½” “ 1”
(m3/jam) (25 – (23 – (21 –
26) 24) 22)

121
1 0,4 30 19 17 32

2 0,6 60 23 20 32

3 0,8 26 16 19 32

4 1 23 12 4 32

2) TABEL 2 ( SAMBUNGAN )
PERBEDAAN TEKANAN
Laju Arus TEMPERATUR
PERCOBAAN Elbow Reducer Reducer Gate Glob
Q (m3/jam) ℃
1-2 3-4 5-6 7-8 9-10

1 0,4 32 63 61 100 72 50

2 0,6 32 64 62 50 53 71

3 0,8 32 55 42 34 48 58

4 1 32 32 24 36 22 24

3) TABEL 3 ( KATUB )

LAJU PERBEDAAN TEKANAN

ARUS TEMPERATUR (mmHg)


PERCOBAAN
Q ℃ Orifice Venturi
3
(m /jam) Nozzle
17 - 18 15 - 16

122
13 - 14

1 0,4 32 46 49 39

2 0,6 32 43 40 31

3 0,8 32 45 46 15

4 1.0 32 31 30 6

d1/2 = 0,0161 m
d3/4 = 0,0216 m
d1 = 0,0296 m
d11/2 = 0,0416 m
do = 0,0147 m
dv = 0,0119 m
dn = 0,0131 m
L = 2m

B.PEMBAHASAN (Data ke 3)

1.Mengubah laju arus aktual Q (m3 /dtk)

Q1 = 0,8 m3 x 1 Jam = 0,00022 m3/dtk

Jam 3600dtk

2. Mencari kecepatan air ( m/ detik )

123
V1/2 = Q1

π/4(d1/2) 2

= 0,00022 m3/dtk = 0,00022m3/dtk = 1,0816 m/dtk

3,14/4 (0,0161m) 2 2,03 x 10-4 m2

V3/4 = Q1

π/4(d3/4) 2

= 0,00022 m3/dtk = 0,00022 m3/dtk = 0,6007 m/dtk

3,14/4 (0,02616m) 2 3,6 x 10-4 m2

V1 = Q1

π/4(d1) 2

124
= 0,00022 m3/dtk = 0,00022m3/dtk = 0,3199 m/dtk

3,14/4 (0,0296m) 2 6,8 x 10-4 m2

V11/2 = Q1

π/4(d11/2) 2

= 0,00022 m3/dtk = 0,00022m3/dtk = 0,16 m/dtk

3,14/4 (0,0416m) 2 3,5 x 10-4 m2

3. Mencari factor Gesekan

 h ½ = 26 mmHg x 0,0136 mmH2O = 0,3536 mH20


1 mmHg

 h ¾ = 16 mmHg x 0,0136 mmH2O = 0,2176 mH2O


1 mmHg

 h 1 = 19 mmHg x 0,0136 mmH2O = 0,2584 mH20


1 mmHg

 ½ = 2.g.h½.d ½ = 2(9,8 m/dtk)( 0,3536 mH20).( 0,0161m)


( V ½ )2 .L ( 1,0816 m/dtk )2 .( 2m )

= 0,0476

125
 ¾ = 2.g.h½.d ½ = 2(9,8 m/dtk)( 0,2176 mH20).( 0,0216m)
( V ½ )2 .L ( 0,6007 m/dtk )2 .( 2m )

= 0,1276

 1 = 2.g.h½.d ½ = 2(9,8 m/dtk)( 0,2584 mH20).( 0,0296m)


( V ½ )2 .L ( 0,3199 m/dtk )2 .( 2m )

= 0,7326

4. Mencari Bilangan Reynold.

Red ½ = d1/2.v1/2
V

Interpolasi V

 X – X1 = Y - Y1
X2 – X1 Y2-Y1
o
(32-30) C = Y – 0,00796.10-4m2/detik
o
(35-30) C (0,00724 – 0,00796). 10-4m2/detik

2 = Y - 0,00796.10-4m2/detik
5 - 0,00072.10-4m2/detik

5Y = 0,00144. 10-4m2/detik+0,0398. 10-4m2/detik

Y = 0,04124. 10-4m2/detik/5

Y = 0,008248. 10-4m2/detik

Maka V 32 oC = 0,008248. 10-4m2/detik

126
 Red ½ = d ½ . V ½
V

= 0,0161m . 1,0816 m/dtk = 21112,7061

0,008248. 10-4m2/detik

 Red ¾ = d¾ .V¾
V

= 0,0216m . 0,6007 m/dtk = 15731,2318

0,008248. 10-4m2/detik

 Red 1 = d1.V1
V

= 0,0296 m . 0,3199 m/dtk = 480,4073

0,008248.10-4 m2/detik

Menghitung laju arus teoritis untuk orifice, nozzle, dan venturi

6. Orifice (ho) = 45mmhg x 0,0136 mH2O = 0,612 mH2O

1 mmhg

QO = π/4 x do2 2 x g x ho

127
= 3,14/4 x (0,0147m)2 x 2 x(9,8m/dtk) x 0,612mH2O

= 0,0005873 m3/dtk

7. nozzle (hn) = 15mmhg x 0,0136 mH2O = 0,204 mH2O

1 mmhg

Qn = π/4 x dn2 2 x g x hv

= 3,14/4 x (0,0131m)2 x 2 x(9,8m/dtk) x 0,204mH2O

= 0,00026935 m3/dtk

8. venturi (hv) = 46 mmhg x 0,0136 mH2O = 0,6256 mH2O

1 mmhg

Qv = π/4 x dv2 2 x g x hv

= 3,14/4 x (0,0119m)2 x 2 x(9,8m/dtk) x 0,6256 mH2O

= 0,00038923 m3/dtk

Menghitung koefisien arus dari orifice, nozzle dan venturi

9. Orifice = Co = Q1

128
Qo

= 0,00022 m3/dtk = 0,3745

0,0005873 m3/dtk

10. Venturi = Cv = Q1
Qv

= 0,00022 m3/dtk = 0,5745

0,00038923 m3/dtk

11. Nozzle = Cn = Q1
Qn

= 0,00022 m3/dtk = 0,8167


0,00026935 m3/dtk

Menghitung koefisien of head loss across

 Elbow h 1-2

h1-2 = 55mmHg x 0,0136mmH2O = 0,748 mH2O

1 mmHg

E1-2 = h1-2 = 0,748 mH2O


(V1)22.g (0,3199 m/dtk)2.2.(9,8 m/dtk2)

= 143,3224

 Reducer h 3-4

h3-4 = 42 mmHg x 0,0136mmH2O = 0,5712mH2O

129
1 mmHg

E3-4 = h3-4 = 0,5712mH2O

(V1.V½ )22.g (0,162 – 0,3199(m/dtk) )2.2.(9,8 m/dtk)

= 449,4099

 H5-6 = 34 mmhg x 0,0136mH2O = 0,4624 mH2O


1 mmHg
E5-6 = h5 - 6 = 0,4624 mH20
(V’1’) 22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
= 88,5993

 Gate h7-8 = 44 mmHg x 0,0136mH2O = 0,6528 mH20


1 mmHg

E7-8 = h7-8 = 0,5984 mH20

(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2

= 125,084

 Globe h9-10 = 58 mmHg x 0,0136mH2O = 0,7888 mH20


1mmHg

E 9-10 = h 9-10 = 0,7888 mH20

(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2

= 151,14

 Vcock h11-12 = 44 mmHg x 0,0136 mH20 = 0,5984 mH20

130
1mmHg

E11-12 = h11-12 = 0,5984 mH20


= 114,6579

(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2

 Elbow h27-28 = 34 mmHg x 0,0136 mH20 = 0,4624 mH20


1mmHg

E27-28 = h27-28 = 0,4624 mH20 =


88,5993

(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2

 Tiba-tiba h29-30 = 38 mmHg x 0,0136 mH20 = 0,612 mH20


1mmHg

E29-30 = h29-30 = 0,612 mH20 =


117,2638

(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2

 Tiba-tiba h31-32 = 50 mmHg x 0,0136 mH20 = 0,68 mH20


1mmHg

E31-32 = h31-32 = 0,68 mH20


= 130,2931
2 2 2
(V1) 2.g (0,3199m/dtk) /2.9,8m/dtk

131
C. Grafik

132
D. Tabulasi Data

133
TABEL 1 ( PIPA )

LAJU PERBEDAAN TEKANAN


ARUS
PERCOBAAN Pipa ½” Pipa ¾ “ Pipa 1”
Q
(m3/jam) (25 – 26) (23 – 24) (21 – 22)
1 0,4 30 19 17

2 0,6 60 23 20

3 0,8 26 16 19

4 1 23 12 4

Lanjutan tabel 1

KECEPATAN AIR DALAM PIPA BILAN


FAKTOR GESEKAN
(m/dtk)
Red
Pipa ½ Pipa ¾ Pipa 1 λ½ λ¾ λ1
½ (104)
0,5408 0,3603 0,1255 0,1844 1,21299 4,252 12392,0

0,8130 0,4519 0,2422 0,1918 0,3139 1,2789 16080

1,0816 0,6007 0,3199 0,0476 0,2176 0,7326 21112,7

1.3274 0,7373 0,3926 0,0280 0,0635 0,1023 29308,5

TABEL 2 ( SAMBUNGAN )

PERBEDAAN TEKANAN
Laju Arus TEMPERATUR
PERCOBAAN Elbow Reducer Reducer Gate Globe V co
Q (m3/jam) ℃
1-2 3-4 5-6 7-8 9-10 11-12

32 63 61 100 72 50 55
1 0,4

32 64 62 50 53 71 64
2 0,6

134
32 55 42 34 48 58 44
3 0,8

32 32 24 36 22 24 32
4 1

Lanjutan tabel 2

COEFFICIENT OF HEAD LOSS

Elbow Reducer Gate Globe V cock V Elbow

1060,33 8364,58 3069,5 729,6 802,86 890,22

300,1379 1156,65 2300,554 332,966 323,58 211,09

143,3224 449,4091 125,0814 151,14 114,65 88,599

55,34 166,36 62,35 38,04 41,50 55,34

TABEL 3 ( KATUB )

PERBEDAAN TEKANAN (mmHg)


LAJU ARUS TEMPERATUR
PERCOBAAN Orifice Venturi Nozzle
Q (m3/jam) ℃
17 - 18 15 - 16 13 - 14
32 46 49 39
1 0,4

32 43 40 31
2 0,6

32 45 46 15
3 0,8

32 31 30 6
4 1

135
BAB V

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan yaitu :

1. Semakin tinggi laju arus Q(m3/jam) maka semakinbesar pada koefisien arus
pada orifice,venturi dan nozzle
2. Semakin tinggi laju arus Q (m3/jam) maka semakin besar kecepatan arus
dalam pila ½ inchi, ¾ inch, dan 1 inchi
3. Semakin tinggi laju arus Q (m3/jam) maka akan semakin besar bilangan
reynold ½, ¾ dan 1 inchi.

136
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA

 Brennan, J. G. dkk. 1968. Food Engineering Operations. Applied Science


Publisher Limited. London.
 Desrosier, W. Fellow. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Universitas
Indinesia. Jakarta.
 Fellow, P.J.1988. Food Processing Technology. Principle and Practice. Ellis
Horwood. New York.
 Ign Suharto. 1998. Sanitasi, Keamanan, dan Kesehatan Pangan dan Alat
Industri. Bandung.
 Wirakartakusumah, Aman. dkk. 1992. Peralatan Dan Unit Proses
Industri Pangan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

137
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

PEMISAHAN ETANOL DENGAN

METODE DESTILASI

138
LABORATORIUM SATUAN OPERASI
POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
MEDAN
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan

“PEMISAHAN ETANOL DENGAN METODA DISTILASI”

B. Tujuan Percobaan

1. Mengenal dan memakai teknik pemisahan suatu senyawa dari senyawa lain
dengan metode DITILASI.
2. Menggunakan distilator untuk pemurnian ethanol.

C. Latar Belakang

Dalam industri kimia unit reaksi dan pemisahan merupakan 2 hal yang
penting. Kedua unit tersebut berperan dalam menentukan kapasitas pabrik sebagai
penghasil produk yang memenuhi spesifikasi produk. Persaingan yang ketat
menyebabkan industri mulai mencari cara untuk mendapatkan proses reaksi dan
pemisahan yang mampu member perolehan maksimal dengan kebutuhan energy
dan biaya yang sedikit mungkin.
Saat ini banyak sekali bermunculan industri-
industri penyulingan minyak atsiri yang menggunakan teknologi distilasi baik

139
yang untuk skala besar maupun skala kecil di Indonesia. Industri-
industri ini jumlahnya didominasi oleh industri-industri skala rakyat yang
menggunakan teknologi distilasi. Industri skala rakyat ini biasanya memerlukan
waktu distilasi yang cukup lama. Waktu yang lama ini mengakibatkan
konsumsi energi untuk distilasi menjadi sangat besar yang mengakibatkan
keuntungan penyuling menjadi berkurang.

140
BAB II

LANDASANTEORI

A. Defenisi

Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya


berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran
dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan titik didih cukup
tinggi. Proses destilasi terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama terdiri dari uap
yang terembunkan disebut destilat, dan bagian kedua adalah cairan yang tertinggal
disebut residu, yang susunannya lebih banyak komponen yang sukar menguap.
Distilasi merupakan pemisahan komponen-komponen dalam satu larutan
berdasarkan distribusi substansi-substansi pada fase gas dan fase cair dengan
menggunakan perbedaan volatilitas dari komponen-komponennya yang cukup
besar. Transfer massa minyak dari dalam butiran padatan ke solvent meliputi
dua proses seri, yakni difusi dari dalam padatan ke permukaan butiran dan transfer
massa dari permukaan padatan ke solven. Jika salah satu proses
berlangsung lebih cepat, maka kecepatan perpindahan massa dikontrol oleh
proses yang lebih lambat.
Dasar pemisahan pada destilasi adalah perbedaan titik didih komponen
cairan yang dipisahkan pada tekanan tertentu. Penguapan diferensial dari suatu
campuran cairan merupakan bagian terpenting dalam proses pemisahan dengan
destilasi, diikuti dengan penampungan material uap dengan cara pendinginan dan
pengembunan dalam kondensor pendingin-air.
Prinsip dasar dalam proses destilasi yaitu berdasarkan perbedaan titik didih,
senyawa dengan titik didih yang paling rendah akan terpisahkan terlebih dahulu.
Air pendingin dimasukkan dari ujung yang paling dekat dengan adaptor, dan air
keluar melalui ujung pendingin yang lain. Termometer dipasangsedemikian rupa
sehingga dapat menunjukkan titik didih senyawa yang sedang dipisahkan. Ujung
termometer diletakkan tepat pada posisi ujung pendingin.

141
B. Metode
Metode destilasi yang umum digunakan dalam produksi minyak atsiri
adalah destilasi air dan destilasi uap-air. Karena metode tersebut merupakan
metode yang sederhana dan membutuhkan biaya yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan destilasi uap. Namun belum ada penelitian tentang
pengaruh kedua metode destilasi tersebut terhadap minyak atsiri yang
dihasilkan. Minyak atsiri dalam tanaman aromatik diselubungi oleh kelenjar
minyak, pembuluh–pembuluh, kantung minyak atau rambut granular. Sebelum
diproses, sebaiknya bahan tanaman dirajang (dikecilkan ukurannya) terlebih
dahulu. Namun dalam proses destilasi tradisional pada umumnya ukuran bahan
yang digunakan tidak seragam, karena proses pengecilan ukurannya hanya melalui
proses penghancuran sederhana.
Syarat utama pemisahan campuran cairan dengan cara destilasi adalah
semua komponen yang terdapat di dalam campuran haruslah bersifat volatil. Pada
suhu yang sama, tingkat penguapan pada masing-masing komponen akan berbeda-
beda. Hal ini berarti bahwa pada suhu tertentu, komponen yang lebih volatil dalam
campuran cairan akan lebih banyak membangkitkan uap. Sifat yang demikian ini
akan terjadi sebaliknya, yakni pada suhu tertentu fasa cairan akan lebih banyak
mengandung komponen yang kurang volatil. Jadi cairan yang setimbang dengan
uapnya pada suhu tertentu memiliki komposisi yang berbeda. Perbedaan komposisi
dalam kesetimbangan uap-cairan dapat dengan mudah dipelajari pada destilasi
pemisahan campuran alkohol dari air.
Proses destilasi pada suhu tertentu, cairan yang setimbang dengan uapnya
mempunyai komposisi yang berbeda. Uap selalu lebih banyak mengandung
komponen yang lebih volatil demikian juga terjadi sebaliknya. Pada suhu berbeda
komposisi uap cairannya akan berbeda. Dengan demikian maka komposisi uap
yang setimbang dengan cairannya akan berubah sejalan dengan perubahan suhu.
persentase senyawa yang terdapat dalam minyak hasil destilasi uap -air
mempunyai nilai yang lebih besar dari pada minyak hasil destilasi air. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pada minyak hasil destilasi uap-air memiliki

142
randemen yang lebih tinggi karena senyawa senyawa yang terekstrak lebih
banyak. Dibandingkan dengan destilasi air, destilasi dengan uap-air lebih unggul
karena proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester, polimerisasi,
resinifikasi, dan lain-lain). Pada destilasi air beberapa jenis ester misalnya
linalil asetat akan terhidrolisa sebagian, persenyawaan yang peka seperti
aldehid, mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih.
Kecepatan difusi destilasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
susunan bahan dalam ketel, suhu dan tekanan uap, berat jenis dan kadar air dari
bahan, serta berat molekul dari komponen kimia dalam sampel.
Tekanan uap merupakan hasil pergerakan molekular yang mengalami
peningkatan dengan meningkatnya temperatur. Jika tekanan uap sama atau lebih
besar dari tekanan luar, maka cairan akan mendidih tepat pada temperatur panas
penguapan. Pendidihan itu akan berlangsung terus hingga cairan menguap
sempurna atau hingga kesetimbangan antara cairan dan uap tercapai.
Usaha-usaha untuk memperbaiki unjuk kerja distilasi uap telah dilakukan.
Hakiki (2007) menggunakan boiler berpenghalang untuk memperpanjang waktu
kontak uap dengan daun cengkeh. Adanya waktu kontak yang lebih baik
terbukti mampu mengurangi waktu distilasi yang cukup signifikan.. Pemasangan
penghalang (baffle) dalam ketel akan menyebabkan kesulitan ketika
memasukkan dan mengeluarkan daun cengkeh. Penggunaan tekanan untuk
menaikkan titik didih air menyebabkan kenaikan biaya alat karena harus
menggunakan peralatan yang lebih tebal agar tahan terhadap tekanan.
Salah satu cara mempercepat waktu distilasi adalah dengan cara
mempercepat proses perpindahan massa minyak dari dalam daun ke separating
agent (steam). Kecepatan distilasi minyak atsiri pada umumnya dikontrol oleh
kecepatan difusi molekul minyak atsiri di dalam air di dalam jaringan sel daun
atau ranting suatu bahan. Salah satu cara untuk mempercepat kecepatan transfer
massa secara difusi adalah dengan meningkatkan suhu sistem (biasanya dengan
uap air). Suhu steam dapat dinaikkan dengan cara memanfaatkan hubungan
tekanan uap suatu larutan terhadap titik didihnya. Distilasi dengan menggunakan
steam dengan suhu yang tinggi pada tekanan atmosferis disebut Super Steam

143
Distillation. Pada penelitian ini, uap jenuh bersuhu tinggi diperoleh dengan
cara menguapkan campuran air-gliserol.
Kondensor merupakan peranti penukar kalor khusus yang digunakan untuk
mencairkan uap dengan mengambil kalor. Kalor laten itu diambil dengan
menyerapnya ke dalam zat cair yang lebih dingin yang disebut pendingin. Karena
suhu pendingin di dalam kondensor itu tentu meningkat karena itu, maka alat itu
dengan demikian juga bekerja sebagai pemanas. Kondensor dibagi atas 2 golongan
yaitu kondensor selonsong dan tabung, dan juga kondensor kontak. Arus pendingin
dan arus uapnya, yang keduanya adalah air, bercampur secara fisik, dan
meninggalkan kondensor sebagai satu arus tunggal.
Labu alas bulat merupakan peralatan gelas yang mempunyai alas bulat dan
leher panjang dengan mulut sempit. Labu alas bulat digunakan untuk memanaskan
atau mendidihkan larutan. Pada penggunaan untuk destilasi maka labu alas bulat ini
masih disambung dengan pendingin dan peralatan gelas yang lain.
Destilasi merupakan penguapan suatu cairan dengan cara memanaskannya
dan kemudian mengembunkan uapnya kembali menjadi cairan. Destilasi sebagai
proses pemisahan dikembangkan dari konsep-konsep dasar: tekanan uap,
kemenguapan, dan sebagainya. Destilasi digunakan untuk pemisahan cairan-cairan
dengan tekanan uap yang cukup tinggi. Dengan kolom yang dirancang secara baik,
dapat memisahkan cairan-cairan dengan perbedaan tekanan uap yang kecil (tapi
tidak campuran azeotrop). Destilasi merupakan metode isolasi/pemurnian.

144
BAB III

MATERI DAN METODA

A. Materi
1. Alat
 Seperangkat alat destilator
 Gelas beker
Gelas ukur
2. Bahan
Ethanol 58 %
B. Metoda
Prosedur kerja:
1. Alat diperiksa apakah dalam keadaan baik .
2. Sediakan larutan campuran dengan konsentrasi 58 % metanol.
3. Ambil lartan sebanyak 300 ml di ukur dengan mengggunakan gelas ukur.
4. Masukkan larutan yang telah tercampur ke dalam labu destilasi.
5. Rangkailah alat labu destilasi denan menghubungkan ke kondensor di
hubugkan ke leher angsa.
6. Untuk mencegah tetesan yang hilang maka digunakan isolasi pada setiap
sambungan pada rangkaian.
7. Isi air ke dalam pemanas kemudian masukkan / celupkan labu destilasi yang
berisi larutan dan batu didih ke dalam pemanas.
8. Tutup labu dan pemanas dengan menggunakan aluminium foil nyalakan
stop watch.
9. Hubungkan pemanas dengan sumber arus , pada saat suhu telah mencapai
64℃ dan pada tetesan pertama maka dicatat temperature dan waktu pada
saat tetesan pertama .
10. Lakukan percobaan sampai tetesan terakhir

Prosedure Mengakhiri:

145
1. Cabut pemanas dari sumber arus.
2. Tunggu hingga temperature pada labu destilasi
Mencapai 34 ℃ .
3. Buka isolasi dari rangkaian kemudian buka rangkaian secara hati- hati.
4. Rapikan peralatan.

C. Gambar Rangkaian

146
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan
NAMA JUMLAH
Volume awal 300 mL
Sampel methanol 58 %
Suhu pemanasan 84 0C
Waktu pemansan 1 5 : 21 detik
Volume distilat 249 mL
Volume sisa campuran 17 mL
Rendemen hasil percobaan -
Rendemen ( secara teori ) 58 %

147
B. PEMBAHASAN
1. Perhitungan larutan metanol - 𝐻2 O 58% dalam 300ml
Dik : V1 + V3 = 300 ml
nA = mol Metanol
nB = mol 𝐻2 O
𝜌1 = 𝜌 Metanol = 0,79 gr/ml
𝜌2 = 𝜌 Air = 1 gr/ml
BM1 = BM Metanol = 32 gr/ml
BM2 = BM 𝐻2 O = 18 gr/ml

𝑛𝐴
 Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
58% = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .𝑉1

58% = 0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .𝑉132 𝑔𝑟/𝑚𝑙


1 𝑔𝑟/𝑚𝑙 (300 𝑚𝑙−𝑉1
+
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙 18 𝑔𝑟/𝑚𝑙

0,02468 .𝑉1
58% = 300 𝑚𝑙 − 𝑉1
0,02468 .𝑉1 +
18

0,02468 .𝑉1
0,58 = 300 𝑚𝑙−𝑉1
0,02468 .𝑉1 +
18

300 𝑚𝑙 − 𝑉1
0,58 (0,02468 . V1 + ) = 0,02468 . V1
18
174 𝑚𝑙 − 0,58 .𝑉1
0,01431 . V1 + = 0,02468 . V1
18
174 𝑚𝑙 − 0,58 .𝑉1
= 0,02468 . V1 – 0,01431 . V1
18

174 ml – 0,58 . V1 = 18 (0,02468 . V1 – 0,01431 . V1)


174 ml = 0,18666 . V1 + 0,58 . V1
174 ml = 0,76666 . V1
174 𝑚𝑙
V1 = 0,76666

= 226,958 ml

148
𝑛𝐴
 Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
58% = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(300 − 𝑉2)
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙
58% = 0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(300 − 𝑉2) 1 𝑔𝑟/𝑚𝑙 . 𝑉2
+
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙 18 𝑔𝑟/𝑚𝑙

0,02468 .(300 − 𝑉2)


58% = 𝑉2
0,02468 .(300 − 𝑉2) +
18

7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 .𝑉2


0,58 = 𝑉2
7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 .𝑉2 +
18

𝑉2
0,58 (7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2 + ) = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18
0,58 .𝑉2
4,29432 ml – 0,01431 . V2+ = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18
0,58 .𝑉2
0,02468 . V2 – 0,01431 . V2 + = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18

0,024257 . V2 = 3,10968 ml
3,10968𝑚𝑙
V2 = 0,04257

= 73,0468 ml

 Perhitungan pembuktian
Nilai Mf = X = 58 % atau 0,58

Maka :
𝑛𝐴
Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
X = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(226,958 𝑚𝑙)
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙
X= 0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(226,958) 1 𝑔𝑟/𝑚𝑙 (73,0486 𝑚𝑙)
+
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙 18 𝑔𝑟/𝑚𝑙

5,60302 𝑚𝑙
X = 5,60302 𝑚𝑙 + 4,05825 𝑚𝑙
5,60302 𝑚𝑙
X = 9,6612 𝑚𝑙 = 0,579

Maka telah terbukti bahwa X = 0.579

149
2. % Rendemen metanol
V distilat
% Re M = x 100 %
V sampel
249 𝑚𝑙
= x 100 %
300𝑚𝑙
= 83 %

150
C. Tabulasi Data

NAMA JUMLAH
Volume awal 300 mL
Sampel methanol 64 %
Suhu pemanasan 64 °𝐶
Waktu pemanasan 15:21 detik
Volume destilat 249 mL
Volume sisa campuran 17 mL
Remdemen hasil praktek -
Rendemen teori 58 %
Volume methanol 162 mL
Volume air 88 mL
Titik didih air 100 0C
Titk didih methanol 63,5 0C

151
BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Teknik pemisahan suatu senyawa dengan metode destilasi adalah suatu
pemisahan senyawa berdasarkan titik didih dan kecepatan menguap
(volatilitas).
2. Menggunakan disitilator untuk pemurnian metanol berdasarkan titik
didih dan metanol yang di hasilkan adalah 226,958 ml.
3. Prinsip kerja dari destilasi adalah memisahkan senyawa dengan metode
perbedaan titik didih.
4. Volume ( larutan hasil destilasi adalah sebagai berikut:
V1 = 256,958 ml
V2 = 73,0468 ml .

152
DAFTAR PUSTAKA

Crristie J. Geankoplis, (1997), “Transport Process and Unit Operation”, 3rd Ed.,
Prentice-Hall Of India.

Diktat Satuan operasi, Kementrian perindustrian RI ;Pendidikan Kimia


Industri:Medan 2017.

https://id.wikipedia.org/wiki/Distilasi.

Stanley M. Walas, (1988), “ Chemical Process Equipment “, 10th Butterworth


Publisher USA.

Warren L, Mc Cabe, Julian C. Smith, dan Peter harriot, (1999), ”Satuan Operasi”,
Jilid 1, Cetakan ke-4, PT. Erlangga.

153
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

MODUL PRAKTIKUM

MENARA PENDINGIN

( COOLING TOWER )

LABORATORIUM SATUAN OPERASI


POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
MEDAN
2018

154
BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan
“Cooling Tower (Menara Pendingin)”

B. Tujuan Percobaan
Untuk tujuan pemakain kembali air pendingin pabrik – pabrik kimia berat (
besar ) atau sebagai hasil pengunaan pengendalian udara (air conditioning )
yang menyebar luas.

C. Latar Belakang

Menara pendingin (cooling tower) adalah alat penghilang panas


yang digunakan untuk memindahkan kalor buangan ke atmosfer. Mendara
pendingin dapat menggunakan penguapan air atau hanya menggunakan udara
saja untuk mendinginkannya. Menara pendingin umumnya digunakan untuk
mendinginkan air yang dialirkan, pada kilang minyak, pabrik kimia, pusat
pembangkit listrik, dan pendinginan gedung. Menara yang digunakan bervariasi
dalam ukurannya.

Operasi-operasi di mana kedua perpindahan panas dan perpindahan massa


mempengaruhi tingkat, humidifikasi dan dehumidification melibatkan dua
komponen dan dua fase. Fase cair, paling sering air, adalah komponen tunggal,
dan fase gas.

155
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Menara Pendingin

Menurut El. Wakil, menara pendingin didefinisikan sebagai alat penukar


kalor yang fluida kerjanya adalah air dan udara yang berfungsi mendinginkan air
dengan kontak langsung dengan udara yang mengakibatkan sebagian kecil air
menguap. Dalam kebanyakan menara pendingin yang bekerja pada sistem
pendinginan udara menggunakan pompa sentrifugal untuk menggerakkan air
vertikal ke atas melintasi menara. Prestasi menara pendingin biasanya
dinyatakan dalam range dan approach seperti yang terlihat pada gambar berikut.

156
Gambar 2.1. Range dan approach temperatur pada menara pendingin

Range adalah perbedaan suhu antara tingkat suhu air masuk menara
pendingin dengan tingkat suhu air yang keluar menara pendingin atau selisih
antara suhu air panas dan suhu air dingin, sedangkan approach adalah perbedaan
antara temperatur air keluar menara pendingin dengan temperatur bola basah
udara yang masuk atau selisih antara suhu air dingin dan temperatur bola basah
(wet bulb) dari udara atmosfir.

Temperatur udara sebagaimana umumnya diukur dengan menggunakan


termometer biasa yang sering dikenal sebagai temperatur bola kering (dry bulb
temperature), sedangkan temperatur bola basah (wet bulb temperature) adalah
temperatur yang bolanya diberi kasa basah, sehingga jika air menguap dari kasa
dan bacaan suhu pada termometer menjadi lebih rendah daripada temperatur bola
kering.

Pada kelembaban tinggi, penguapan akan berlangsung lamban dan


temperatur bola basah (Twb) identik dengan temperatur bola kering (Tdb). Namun
pada kelembaban rendah sebagian air akan menguap, jadi temperatur bola basah
akan semakin jauh perbedaannya dengan temperatur bola kering.

Adapun sistem mesin pendingin yang paling banyak digunakan adalah


sistem kompresi uap. Secara garis besar komponen sistem pendingin siklus
kompresi uap terdiri dari:

1. Kompresor, berfungsi untuk mengkompresi refrijeran dari fasa uap


tekanan rendah evaporator hingga ke tekanan tinggi kondensor.
2. Kondensor, berfungsi untuk mengkondensasi uap refrijeran kalor
lanjut yang keluar dari kompresor.

157
3. Katup ekspansi, berfungsi untuk mencekik (throttling) refrijeran
bertekanan tinggi yang keluar dari konsensor dimana setelah
melewati katup ekspansi ini tekanan refrijeran turun sehingga fasa
refrijeran setelah keluar dari katup ekspansi ini adalah berupa fasa
cair + uap.

4. Evaporator, berfungsi untuk menguapkan refrijeran dari fasa cair +


uap menjadi fasa uap

2.2. Fungsi Menara Pendingin


Semua mesin pendingin yang bekerja akan melepaskan kalor melalui
kondensor, refrijeran akan melepas kalornya kepada air pendingin sehingga air
menjadi panas. Selanjutnya air panas ini akan dipompakan ke menara pendingin.
Menara pendingin secara garis besar berfungsi untuk menyerap kalor dari air
tersebut dan menyediakan sejumlah air yang relatif sejuk (dingin) untuk
dipergunakan kembali di suatu instalasi pendingin atau dengan kata lain menara
pendingin berfungsi untuk menurunkan suhu aliran air dengan cara
mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfer.

Menara pendingin mampu menurunkan suhu air lebih rendah


dibandingkan dengan peralatan-peralatan yang hanya menggunakan udara untuk
membuang panas, seperti radiator dalam mobil, dan oleh karena itu biayanya
lebih efektif dan efisien energinya.

2.3. Prinsip Kerja Menara Pendingin


Prinsip kerja menara pendingin berdasarkan pada pelepasan kalor dan
perpindahan kalor. Dalam menara pendingin, perpindahan kalor berlangsung
dari air ke udara. Menara pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian

158
air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir.
Sehingga air yang tersisa didinginkan secara signifikan.

Gambar 2.2. Skema menara pendingin

Prinsip kerja menara pendingin dapat dilihat pada gambar di atas. Air dari
bak/basin dipompa menuju heater untuk dipanaskan dan dialirkan ke menara
pendingin. Air panas yang keluar tersebut secara langsung melakukan kontak
dengan udara sekitar yang bergerak secara paksa karena pengaruh fan atau
blower yang terpasang pada bagian atas menara pendingin, lalu mengalir jatuh
ke bahan pengisi.

Sistem ini sangat efektif dalam proses pendinginan air karena suhu
kondensasinya sangat rendah mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah
mengalami penurunan suhu ditampung ke dalam bak/basin. Pada menara
pendingin juga dipasang katup make up water untuk menambah kapasitas air
pendingin jika terjadi kehilangan air ketika proses evaporative cooling tersebut
sedang berlangsung.

159
2.4. Klasifikasi Menara Pendingin

Ada banyak jenis klasifikasi menara pendingin,namun pada umumnya


pengklasifikasian dilakukan berdasarkan sirkulasi air yang terdapat di dalamnya.
Menurut J.R. Singham menara pendingin dapat diklasifikasikan atas tiga bagian,
yaitu:

1. Menara pendingin basah (wet cooling tower)

2. Menara pendingin kering (dry cooling tower)

3. Menara pendingin basah-kering (wet-dry cooling tower)

Setiap jenis menara pendingin ini mempunyai kelebihan dan kekurangan


masing-masing.

2.4.1. Menara Pendingin Basah (Wet Cooling Tower)

Menara pendingin basah mempunyai sistem distribusi air panas yang


disemprotkan secara merata ke kisi-kisi, lubang-lubang atau batang-batang
horizontal pada sisi menara yang disebut isian. Udara masuk dari luar menara
melalui kisi-kisi yang berbentuk celah-celah horizontal yang terpancang pada
sisi menara. Celah ini biasanya mengarah miring ke bawah supaya air tidak
keluar.Oleh karena ada percampuran antara air dan udara terjadi perpindahan
kalor sehingga air menjadi dingin. Air yang telah dingin itu berkumpul di kolam
atau bak di dasar menara dan dari situ diteruskan ke dalam kondensor atau
dibuang keluar, sehingga udara sekarang kalor dan lembab keluar dari atas
menara.

2.4.2. Menara Pendingin Kering (Dry Cooling Tower)

160
Menara pendingin kering (dry cooling tower) adalah menara pendingin
yang air sirkulasinya dialirkan di dalam tabung-tabung bersirip yang dialiri
udara. Semua kalor yang dikeluarkan dari air sirkulasi diubah. Menara pendingin
kering dirancang untuk dioperasikan dalam ruang tertutup.

Menara pendingin jenis ini banyak mendapat perhatian akhir-akhir ini


karena keunggulannya yaitu:

1. Tidak memerlukan pembersihan berkala sesering menara pendingin


basah.

2. Tidak memerlukan zat kimia aditif yang banyak

3. Memenuhi syarat peraturan pengelolaan lingkungan mengenai


pencemaran termal dan pencemaran udara pada lingkungan.

Meskipun begitu, menara pendingin kering mempunyai beberapa


kelemahan, yaitu efisiensinya lebih rendah, sehingga mempengaruhi efisiensi
siklus keseluruhan.

2.4.3 Menara pendingin kering tak langsung (indirect dry-cooling tower)


Menara pendingin jenis tak langsung dapat dibagi menjadi dua jenis lagi,yaitu:
a. Menara pendingin kering tak langsung dengan menggunakan kondensor
permukaan kovensional.

Air sirkulasi yang keluar dari kondensor masuk melalui tabung bersirip dan
didinginkan oleh udara atmosfer di dalam menara. Menara ini boleh
menggunakan jujut jenis alami seperti pada gambar. Operasi kondensor pada
jenis ini harus dilakukan pada tekanan 0,17 sampai 0,27 kPa. Pada jenis ini,
digunakan kondensor terbuka atau kondensor jet. Kondensat jatuh ke dasar
kondensor dan dari situ dipompakan oleh pompa resirkulasi ke kumparan
bersirip di menara, yang kemudian didinginkan dan dikembalikan ke kondensor.

161
Gambar 2.14. Skematik instalasi menara pendingin kering tak langsung
dengan kondensor permukaan konvensional

BAB III

MATERI DAN METODA

162
A. Materi

Komponen – komponen

a. Perlengkapan penyediaan air panas.


1. Tangki air panas.
2. Panaskan listrik tercelup ( 3 KW x2 ).
3. Unit Otomatis pengontrolan suhu.
4. Distribusi air panas.
5. Penampungan Air panas.
b. Perlengkapan Udara Dingin.
1. Blower dan motor penggerak ( 0,75 KW ).
2. Unit pemanasan Udara ( 3 KW ).
3. Unit Otomotis Pengontrol suhu,
4. Penapis dan proyektor radiasi.
5. “ Drift water eliminator “
c. Unit Transfer massa dan Transfer panas
1. Kayu bahan isian.
2. Jendela transfarans.
3. Perlengkapan bahan isihan yang dapat ditukar dengan cepat.
d. Panel dan Instrument.
1. Thermometer and meansuring position selector.
a. Suhu air didalam tangki air panas.
b. Suhu air dingin didalam tangki penyimpanan.
c. Suhu udara pendinginan didalam pipa saluran ( duct ).

2. Higrometer .
“ Dry Bulb and wet Bulb Thermometer inlet of duct and ambled
conditioning”
3. Flow meter.
Rotameter air ( maksimum 1.000 l/jam )

163
4. “ Dial Indicator and Pressure measuring top selector “
a. “ Pressure drop across orifice plate”
b. “ Pressure drop across mass and heat transfer unit”
c. “ Static pressure in air duct “
5. Saklat Tenaga.
a. Penyediaan sumber tenaga ( utama ).
b. Blower
c. Pompa dan Pemanas.

B. Metode

Prosedur kerja

1. Tangki persediaan air diisi sampai penuh dan biarkan terbuka untuk
sementara waktu
2. Alat dihubungkan ke sumber arus, lalu catu daya di onkan
3. Power supply dionkan pada alat cooling tower
4. Pompa aliran dihidupkan dan laju aliran diatur
5. Heater (pemanas) dihidupkan, lalu temperature diset pada suhu 40 oC,
kemudian kran air ditutup
6. Setelah suhu 40oC, blower dihidupkan bersamaan dengan stopwatch dan
proses pendinginin dilakukan sampai 7 menit
7. Setelah 7 menit stopwatch dimatikan, lalu data dicatat/ data diamati sesuai
pada tabel pengamatan
8. Setelah selesai,blower dimatikan, lalu percobaan diulangi untuk laju alkir
yang berbeda

C.Gambar Rangkaian Percobaan

164
165
166
BAB IV

HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja Praktek

Laju Head
Alir Tank
No Induct Udara Pendingin Air Panas

To Ho Hdo T2 Tw2 T1 Tw1 P1 P2 T1 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T2

o o o o o o o o o o o o o o
L/jam C C mmH2O mmH2O C C C C mmH2O mmH2O C C C C C C C C

1 140 40 30,8 14 13 26,6 26,6 27,0 27,0 4 2 39,3 37,0 36,4 35,5 37,7 32,1 21,1 30,3

2 150 40 32,4 15 15 27,1 27,1 27,4 27,4 4 2 38,1 36,9 36,5 35,7 34,1 33,1 31,7 30,8

3 180 40 33,1 17 16 27,7 27,7 28,0 28,0 4 2 38,6 36,9 36,8 35,7 35,1 34,0 32,5 31,6

4 190 40 33,4 19 18 28,8 28,0 28,3 28,3 4 2 38,3 36,5 36,7 35,5 34,8 34,1 32,6 30,5

167
TANGKI

TH TR TL

o o o
C C C

- 34,1 38,1

- 34,2 38,0

- 33,2 37,7

- 32,9 37,6

168
B. Pembahasan (data ke-3)

1. Menghitung laju alir air (kg/jam)

L = 180 L/jam

𝜌 air pada suhu 40OC = 0,99221 gr/ml

0,99221 gr/ml x 1kg/1000gr x 1000ml/L

𝜌 air = 0,99221 kg/ L

𝐿 𝑘𝑔
𝐿 = 180 𝑗𝑎𝑚 𝑥0,99221 𝐿

𝑘𝑔
= 178,5978
𝑗𝑎𝑚

2. Mencari kelembapan udara dari grafik phsicometric chart

3. Menghitung tekanan statis udara (kg/m2)

𝑃𝑎 = 760 𝑚𝑚𝐻𝑔

𝑃𝑛 = (𝑃𝑎𝑥13,6) + ℎ0

𝑚𝑚𝐻2 𝑂
= (760 𝑚𝑚𝐻𝑔𝑥13,6 ) + 17 𝑚𝑚𝐻2 𝑂
1 𝑚𝑚𝐻𝑔

= 10353 𝑚𝑚𝐻2 𝑂

1 𝑘𝑔/𝑚²
= 10353 𝑚𝑚𝐻2 𝑂𝑥
1 𝑚𝑚𝐻2 𝑂

= 10353 𝑘𝑔/𝑚2

4. Menghitung temperature statis udara (K)

𝑇𝑛 = 273 + 𝑇𝑜

= 273 + 33,1 𝐾

169
= 306,1 𝐾

5. Menghitung densitas udara yang mengalir (kg/m3)

𝑘𝑔
𝑃𝑛 10349 2 𝑘𝑔
𝜕𝑛 = = 𝑚 = 1,1480 3
29,46𝑥𝑇𝑛 29,46𝑥306,1 𝐾 𝑚

6. Menghitung laju massa aliran udara (kg/jam)

𝑘𝑔
1
ℎ𝑑𝑜 = 16 𝑚𝑚𝐻2 𝑂𝑥 𝑚2
1 𝑚𝑚𝐻2 𝑂

𝑘𝑔
= 16
𝑚2

𝜋
𝛼= x D2
4

3,14
𝛼= x (0,1053 m)2
4

𝛼 = 8,7041 x 10−3 m2

𝐺 = 3600𝑥Ɛ𝑥 ∝ 𝑥√2𝑔𝑥ℎ𝑑𝑜 𝑥𝜕𝑛

𝑠 𝑚 𝑘𝑔 𝑘𝑔
= 3600 𝑥1,00𝑥0.0087𝑚2 𝑥√(2𝑥9,8 2 ) 𝑥 (16 2 ) 𝑥(1,1480 3 )
𝑗𝑎𝑚 𝑠 𝑚 𝑚

𝑘𝑔
= 594,26568
𝑗𝑎𝑚

7. Menghitung kecepatan aliran udara (m/s)

𝐺
𝑉 = 3600𝜕𝑛
𝜋 2
4 𝑥𝐷

170
𝑘𝑔
594,26568 𝑗𝑎𝑚
𝑠 𝑘𝑔
3600 𝑗𝑎𝑚 𝑥1,1480 3
𝑚
=
3,14 2
4 𝑥(0,0153𝑚)

𝑚
= 16,5275
𝑠

8. Menghitung bilangan reynold


𝜌. 𝐷. 𝑉
𝑅𝑒𝑑 =
𝜇
Menghitung 𝜌 pada suhu To = 33,1oC
x-x1 = y- y1 = 33,1 oC-0 oC = y - 1,297kg/m3
x2-x1 y2-y1 50 oC-0oC (1,093-1,293)kg/m3
y = 1,1606 kg/m3

Menghitung 𝜇 pada suhu 33,1oC


x-x1 = y- y1 =33,1 oC-0 oC = y – 17,10.10-6kg/ms
x2-x1 y2-y1 50 oC-0oC (19,54-17,10) 10-6kg/ms
y = 18,71528. 10-6kg/ms

𝜌. 𝐷. 𝑉
𝑅𝑒𝑑 =
𝜇
1,1606 𝑥 0,1053 𝑥 16,5275
𝑅𝑒𝑑 = 1,871528 𝑥 10−5

= 107924,9297 = aliran turbulen > 4000

𝑑𝑥𝑉
Reynold = 𝜇

𝜇 = 40oC = 0,00664.10-4m2/s

𝐿
L= 180 𝑗𝑎𝑚 x 1 dm3/1L x 1m3/1000dm3 x 1 jam/3600s

= 5. 10-5 m3/s

171
Δ = µ/4 . d3

= 3,14 (0,04755m)2

= 1,77 .10-3 m2

∇ = L/A

= 5.10-5m2/s

1,77.10-3m2

= 2,82.10-2m/s

Red air = 0,04755m . 2,82.10-2m/s

0,00663.10-4m2/s

= 2022,4886 ( aliran laminer ≤ 2100)

172
C. Grafik
a. Grafik Relative Humidity ( ∅1 )

173
b. Grafik Relative Humidity ∅1

174
175
D. Tabulasi Data

Laju Head
Alir Tank
No Induct Udara Pendingin Air Panas

To Ho Hdo T2 Tw2 T1 Tw1 P1 P2 T1 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T2

o o o o o o o o o o o o o o
L/jam C C mmH2O mmH2O C C C C mmH2O mmH2O C C C C C C C C

1 140 40 30,8 14 13 26,6 26,6 27,0 27,0 4 2 39,3 37,0 36,4 35,5 37,7 32,1 21,1 30,3

2 150 40 32,4 15 15 27,1 27,1 27,4 27,4 4 2 38,1 36,9 36,5 35,7 34,1 33,1 31,7 30,8

3 180 40 33,1 17 16 27,7 27,7 28,0 28,0 4 2 38,6 36,9 36,8 35,7 35,1 34,0 32,5 31,6

4 190 40 33,4 19 18 28,8 28,0 28,3 28,3 4 2 38,3 36,5 36,7 35,5 34,8 34,1 32,6 30,5

176
Tangki L Q1 Q2 Pn Tn Jn G Vudara V Rey air Rey
air udara
TH(oC TR(oC TL(oC Kg/ja % % Kg/m2 O
K Kg/ja Kg/jam m/s m/s
) ) ) m m
- 34,1 38,1 138.56 10 10 10350 303, 1,1956 586,27 15,78 2,14 104754,3 1935,56
0 0 8 . 10- 5
2

- 34,2 38,0 148,47 10 10 10351 305, 1,1976 591,31 16,23 2,35 105697,2 1997,45
0 0 9 . 10- 7
2

- 33,2 31,6 178,59 10 10 10353 306, 1,1980 594.26 16,527 2,82 107924,9 2022,48
0 0 1 5 . 10- 2
2

- 32,9 30,5 188,51 94 96 10348,9 306, 1,1945 383,64 8,8929 2,98 108357,3 564,441
8 4 1 . 10- 6 5
2

177
BAB V
KESIMPULAN

1. Semakin besar tekanan pada ho maka semakin besar pula tekanan statis
udara (Pn)
2. Semakin besar laju alir nya (L/jam) maka semakin besar pula temperatur
statis udara (Tn)
3. Bilangan reynold udara lebih besar daripada bilangan reynold air

178
DAFTAR PUSTAKA

Mulyono. 2010. Analisa Beban Kalor Menara Pendingin Basah Induced-Draft


Aliran Lawan Arah. Semarang: Politeknik Negeri Semarang.

McCabe, W. L., and J. C., Smith. 1999.Operasi Teknik Kimia, edisi keempat, jilid
2, Erlangga, Jakarta

Tata. 1992. Menara pendingin air. Standar Nasional Indonesia.

Warren L. Mc Cabe, Julian C. Smit dan Peter Harriok. Jilid 2. Edisi ke empat.

179
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM

PEMECAHAN DAN PENGAYAKAN

LABORATORIUM SATUAN OPERASI


POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
MEDAN
2018

180
BAB I
PENDAHULUAN

A. Judul : PEMECAHAN DAN PENGAYAKAN

B. Tujuan :
1. Mempelajari sistem dan proses pemecahan dengan
menggunakanHammer Mill.
2. Mempelajari sistem pengayakan atau proses pemisahan beberapa
butiran/powder menurut diameter partikel.

C. Latar Belakang :
Pemecahan zat padat meliputi semua cara yang digunakan, dimana
zat padat yang dipotong-potong, dan dipecahkan manjadi kepingan-
kepingan. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu hammer mill
dan vibrator. Bahan yang digunakan untuk melakukan percobaan ini berupa
batu-bata yang telah dihancurkan sebesar jempol tangan. Tujuan dilakukan
percobaan ini secara umum yaitu memisahkan partikel padat atau powder
berdasarkan diameter partikel. Bahan dari pembuatan ayakan ini yaitu dapat
terbuat dari kawat, atau plastik kadang logam biasa digunakan juga.

B A B II

181
T E O R I

A. Defenisi Percobaan
Grinding adalah istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancuran (size
reduction) meliputi semua metode yang digunakan untuk mengolah zat padat
menjadi ukuran yang lebih kecil. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil
dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan yang berbeda-beda. Bongkah-bongkah
biji mentah dihancurkan menjadi ukuran yang mudah ditangani, bahan kimia
sintesis digiling menjadi tepung, lembaran-lembaran plastik dipotong-potong
menjadi kubus atau ketupat-ketupat kecil. Produk-produk komersial biasanya harus
memenuhi spesifikasi yang sangat ketat dalam hal ukuran maupun bentuk partikel-
partikelnya yang menyebabkan reaktifitas zat padat itu meningkat. Pemecahan itu
juga memungkinkan pemisahan komponen yang tak dikehendaki dengan cara-cara
mekanik, system ini juga dapat digunakan memperkecil bahan-bahan berserat guna
memudahkan proses penanganannya.
Pengayakan terutaman ditujukan untuk pemisahan campuran padat-padat.
Sistem pemisahan ini berdasar atas perbedaan ukuran. Ukuran besar lubang ayak
(atau lubang kasa) dari medium ayak dipilih sedemikian rupa sehingga bagian yang
kasar tertinggal di atas ayakan dan bagian-bagian yang lebih halus jatuh melalui
lubang. Diusahakan untuk dapat melakukan pemisahan yang diinginkan secepat
mungkin. Untuk mencapai hal ini, bahan yang diayak digerakkan terhadap
permukaan ayakan. Pada umumnya, gerakan diperoleh dengan gerakan berputar,
bolak-balik, atau turun naik.

Material padat yang terdapat dalam ukuran yang terlalu besar untuk
dilakukan proses mekanik pada umumnya membutuhkan perlakuan fisik untuk
memperkecil ukurannya. Pengecilan ukuran itu biasanya dimaksudkan untuk
memudahkan pemisahan campuran material padat.
Umumnya crushing dan grinding sering dilakukan untuk mengubah ukuran
partikel padatan yang besar menjadi partikel yang lebih kecil.

182
Dalam industri proses makanan, sejumlah besar produk makanan melibatkan
proses pengecilan ukuran. Roller mill digunakan untuk menggerus gandum menjadi
tepung. Kacang kedelai digiling, dipress dan dihancurkan untuk mendapatkan
minyak dan tepungnya. Hammer mill sering digunakan untuk menghasilkan tepung
2
kentang, tapioca atau jenis-jenis tepung lainnya. Gula dihancurkan untuk
menghasilkan produk yang lebih lama.
Operasi grinding sangat luas penggunaannya pada proses bijih tambang dan
industri semen. Sebagai contoh bijih tembaga, nikel, kobal dan besi biasanya
dilakukan proses grinding sebelum mengalami proses kimia. Limestone, marble,
gypsum, dan dolomite dihancurkan untuk penggunaan sebagai pengisi kertas, cat
dan kertas. Bahan bakuuntuk industri semen seperti lime, alumina dan silika
digiling dalam skala besar atau dalam jumlah besar.
Material padat diperkecil ukurannya dengan sejumlah metode
perlakuan. compression atau crushing umumnya untuk memperkecil padatan.
Distribusi ukuran partikel sering pula dinyatakan dalam jumlah kumulatif persen
partikel yang lebih kecil dari ukuran yang ditetapkan terhadap ukuran partikel.
Istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancurkan (size reduction) zat
padat meliputi semua cara yang digunakan dimana partikel zat padat dipotong dan
dipecahkan menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Produk-produk komersial
biasanya harus memenuhi spesifikasi yang sangat dalam hal ukuran maupun
bentuk partikel-partikelnya menyebabkan reaktifitas zat padat itu meningkat.
Pemecahan itu juga memungkinkan pemisahan komponen yang tak dikehendaki
dengan cara-cara mekanik. Pemecahan itu dapat digunakan untuk memperkecil
bahan-bahan berserat guna memudahkan penanganannya.
Zat padat dapat diperkecil dengan berbagai cara, namun hanya ada empat
cara saja yang lazim digunakan dalam mesin pemesah panghalus. Cara itu ialah :
1. Kompresi (tekanan): Pada umumnya kompresi digunakan untuk pemecahan
kasar zat padat keras, dengan menghasilkan relatif sedikit halusan.
2. Impact (pukulan): Pukulan menghasilkan hasil yang berukuran kasar, sedang
dan halus.

183
3. Atsiri (gesekan): Atsiri menghasilkan hasil yang sangat halus dari bahan yang
lunak dan tak-abrasif.
4. Pemotongan: Pemotongan memberikan hasil yang ukurannya pasti, dan
kadang-kadang juga bentuknya dengan hanya sedikit dan tak ada halusan sama
sekali.

B. Sifat-sifat massa butiran

Sifat-sifat massa partikel zat padat mempunyai banyak kesamaan dengan


zat cair, lebih-lebih bila partikel dan tidak lengket. Massa partikel memberikan
tekanan ke sisi dan dinding bejana. Massa zat padat mempunyai sifat-sifat khusus
sebagai berikut :
1. Tekanannya tidak sama ke segala arah
2. Tegangan geser yang diperlakukan pada permukaan
suatu massa ditransmisikan di seluruh massapartikel itu kecuali jika telah
terjadi kegagalan.
3. Densitas massa bila bermacam-macam, tergantung pada tingkat pemampatan
butir-butir yang bersangkutan.
Pengayakan merupakan salah satu metode pemisahan partikel sesuai dengan
ukuran yang diperlukan. Metode ini dimaksudkan untuk pemisahan fraksi-fraksi
tertentu sesuai dengan keperluan dari suatu material yang baru mengalami grinding.
Ukuran partikel yang lolos melalui saringan biasanya disebut undersize dan partikel
yang tertahan disebut oversize.
Ukuran ayakan dinyatakan dalam dua cara dengan angka ukuran mesh untuk
ukuran kecil dandengan ukuran actual dari bukan ayakan untuk ukuran partikel
yang besar. Ada beberapa perbedaan yang standar dalam penggunaan untuk ukuran
mesh dan yang terpenting adalah untuk memperoleh standar tertentu yang
digunakan apabila penentuan range ukuran partikel dinyatakan dengan ukuran
mesh. Beberapa jenis ayakan yang sering digunakan antar lain: Grizzly, merupakan

184
jenis ayakan statis dimana material yang akan diayak mengikuti aliran pada posisi
kemiringan tertentu. Beberapa jenis ayakan lainnya yang digolongkan dalam
ayakan dinamis sesuai dengan tipe gerakan yang digunakan untuk mengayak dan
memindahkan material pada ayakan antara lain:
 Vibrating screen, permukaannya horizontal dan miring digerakkan pada
frekuensi tinggi (1000-7000 Hz). Satuan kapasitas tinggi, dengan efisiensi
pemisahan yang baik, yang digunakan untuk range yang luas dari ukuran
partikel.
 Occillating xcreen, dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah dari
vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lama, lebih linier dan
tajam.
 Reciprocating screen, dioperasikan dengan gerakan menggoyang, pukulan
yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan
ukuran.
 Shifting screen, dioperasikan dengan gerakan memutar dlam bidang
permukaan ayakan. Gerakan aktual dapat berupa putaran, atau gerakan
memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.
 Resolving screen, ayakan miring, berotasi pada kecepatan rendah 910-20 rpm).
Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material yang relatif kasar,
tetapi memiliki pemindahan yang kasar dengan vibrating screen.

Pengayakan (screening) adalah suatu metode untuk memisahkan partikel


menurut ukuran semata-mata. Partikel yang dibawah ukuran atau yang kecil
(undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang diatas
ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus. Satu ayak tunggal
hanya dapat memisahkan menjadi dua fraksi saja setiap kali pemisahan. Kedua
fraksi disebut fraksi yang belum berukuran (unsized fraction), karena baik ukuran
terbesar maupun yang terkecil daripada yang terkandung tidak diketahui. Bahan
yang lulus melalui sederet ayak dengan bermacam-macam ukuran akan terpisah
menjadi beberapa fraksi berukuran (sized fraction), yaitu fraksi-fraksi yang ukuran

185
partikel maksimum dan minimumnya diketahui. Pengayakan itu kadang-kadang
dilakukan dalam keadaan basah, tetapi lebih lazim lagi dalam keadaan kering.

C. Perkembangan Serta Penggunaan dalam Dunia Industri


Ayak yang digunakan di industri biasanya terbuat dari anyaman kawat, sutra
atau plastik, batangan-batangan logam atau plat logam yang berlubang-lubang atau
bercelah-celah atau kawat-kawat yang penampangnya berbentuk baji. Logam yang
digunakan pun bermacam-macam, tetapi yang paling lazim ialah baja atau baja
tahan karat. Ayak-ayak standar mempunyai ukuran mesh yang berkisar antara 4 in
sampai 400 mesh, sedang ayak yang terbuat dari ogam yang digunakan secara
komersial ada yang mempunyai lubang sehalus 1 mm. Ayak yang lebih halus dari
150 mesh jarang dipakai, karena untuk partikel yang sangat halus cara pemisahan
lain mungkin lebih ekonomis. Pemisahan partikel yang ukurannya antara 4 mesh
dan 48 mesh disebut”pengayakan halus” (fine screening), sedang untuk yang lebih
halus lagi dinamakan “ultra halus” (ultra fine).
Ada berbagai macam ayak yang digunakan untuk berbagai tujuan tertentu.
Pada kebanyakan ayak, partikel jatuh melalui bukaan-bukaan
dengan gaya gravitasi; dalam beberapa rancang tertentu partikel itu didorong
melalui ayak itu dengan sikat atau dengan gaya sentrifugal. Partikel-partikel kasar
jatuh dengan mudah melalui bukaan besar di dalam permukaan stasioner, tetapi
partikel-partikel halus dikocok dengan sesuatu cara, dengan menggoncang, girasi
(ayun-lingkar), atau vibrasi (getaran) secara mekanik atau dengan listrik.
Ada berbagai macam jenis-jenis alat pemecah dan pengayak dalam industri.
Masing-masing mesin ini bekerja dengan cara yang berbeda. Pada mesin pemecah,
cirri kerjanya adalah kompresi (tekanan). Mesin giling menggunakan impak
(pukulan) dan atsiri (kikisan), kadang-kadang dalam gabungan dengan kompresi;
mesin giling ultrahalus bekerja terutama dengan atsiri. Pada mesin potong, mesin
cencang, dan mesin iris, cirinya tentulah aksi potong.
Mesin pemecah atau penghancur adalah mesin berkecepatan lambat yang
digunakan untuk membuat pecahan kasar zat padat dalam jumlah besar. Jenis-jenis
yang utama adalah mesin pemecah rahang, mesin pemecah giratori, mesin pemecah

186
rol licin (smooth roll crusher), dan mesin pemecayh rol-bergigi (toothed-roll
crusher),. Tiga jenis yang pertama bekerja dengan kompresi dan mampu
memecahkan bahan yang sangat keras, misalnya pada pemecahan primer dan
sekunder batuan bijih. Mesin pemecah rol bergigi merobek bahan disamping
mengompa; alat ini dapat menangani umpan-umpan yang lunak seperti batu bara,
tulang dan serpih lunak.

D. Mesin Giling

Istilah penggiling atau mesin giling memberikan berbagai jenis mesin


pemecah penghalus dengan tugas menengah. Hasil dari mesin pemecah biasanya
dimasukkan kedalam mesin penggiling , dimana umpan itu digiling sampai menjadi
serbuk. Jenis utama mesin giling komersial adalah mesin tumbuk palu dan
impaktor, mesin kompresirol, mesin giling atsiri, dan mesin giling guling.

Impaktor adalah alat yang hamper menyerupai mesin tumbuk palu tugas berat
kecuali bahwa alat ini tidak diperlengkapi dengan kisi atau ayak. Partikel-partikel
dipecahkan dengan pukulan-pukulan saja, tanpa ada aksi gerusan seperti yang
menjadi ciri pada mesin palu. Impaktor biasanya merupakan mesin pemecah primer
untuk batuan atau bijih, dengan kemampuan mengolah sampai 600 ton/ja

B A B III
METODA PERCOBAAN

187
A. Alat :
1. Timbangan
2. Peralatan Hammer Mill
3. Peralatan Vibrator

B. Bahan :
Batu bata

C. Prosedur kerja :
1. Alat dan bahan baku disiapkan
2. Bhan baku di timbang dan catat sebagai bahan baku
3. Bahan baku(batu bata) dimasukan kedalam hammer millmdan di tumbuk
hingga halus
4. Bahan baku yang telah halus kemudian dimasukan kedalam ayakan yang
memiliki no mesh yang paling kecil lalu ditutup
5. Ayakan disusun berdasarkan no mesh 10,20,32,42,60,80,100 dan sisa no
mesh paling kecil (10) ditempatkan paling atas dan diurutkan ke baurannya
sesuai no mesh terkecil ke terbesar
6. Mesin pengayakan(vibrator) di periksa apakah dalam keadaan baik
7. Vibrator dichock kan ke sumber arus
8. Vibrator diatur 15 menit
9. Motor pengayakan dihidupkan dengan cara menekan tombol ON
10. Hasil yang terangkut pada setiap ayakan di timbang dan di catat hasil
penimbangan

GAMBAR RANGKAIAN

188
B A B IV
DATA PENGAMATAN

No. No. Mesh Berat (gr)


1. 10 110
2. 20 120
3. 32 90
4. 42 80
5. 60 100
6. 80 100
7. 100 140
8. Sisa 110

 Berat bahan baku : 900 gr


 Berat bahan jadi : 850 gr

189
GAMBAR RANGKAIAN

BAB V

190
ANALISA DATA

1. Menghitung diameter partikel (dp)


A. No mesh 10

= 10 inch x 2,54 cm/ i inchi = 2,54 cm

dp = 2 x √1/no mesh

= 2 x √1/25,4 cm

= 0,3968 cm

B. No mesh 20

= 20 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 50,8 cm

dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/50,8 cm
= 0,2806 cm
C. No mesh 32
= 32 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 81,28 cm

dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/81,28
= 0,0221 cm
D. No mesh 42
= 42 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 109,22 cm
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/109,22
= 0,1913 cm

E. No mesh 60
= 60 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 152,4 cm

191
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/ 152,4 cm
= 0,6120 cm
F. No mesh 80
= 80 inch x 2,54 cm/ i inchi = 203,2 cm

dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/203,2 cm
= 0,1402 cm

G. No mesh 100
= 100 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 254 cm

dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/254 cm
= 0,1254 cm

2. Menghitung persentase bersamaan bahan baku (N)


A. No mesh 10
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
110 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 12,222 %
B. No mesh 20
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
120 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

=13,333 %
C. No mesh 32
jumlah produk yang dihasilkan
N% = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
x 100%

192
90 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 10 %

D. No mesh 42
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
80 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 8,8888 %

E. No mesh 60
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
100 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 11,111 %
F. No mesh 80
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
100 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 11,111 %
G. No mesh 100
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
140 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%

= 15,555 %

3. Menghitung penetran produk berdasaerkan bahan jadi (M)

193
A. No mesh 10
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
110 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%

= 12,914%

B. No mesh 20
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
120 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%

= 14,117 %

C. No mesh 32, berat


jumlah produk yang dihasilkan
.M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
90gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%

= 10,588 %

D. No mesh 42, berat


jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
80 gr
= 850𝑔𝑟 x 100%

= 9,411 %

E. No mesh 60, berat


jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
100 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%

= 11,764 %
= 152,4 cm

194
F. No mesh 80
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
100 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%

= 11,764 %

G. No mesh 100
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
140 gr
= 850𝑔𝑟 x 100%

= 16,470 %

GRAFIK

195
196
197
198
TABULASI DATA

No Data Perhitungan
No mesh Berat (gr) N% M% dp
1. 10 110 12,222 12,941 0,3968
2. 20 120 13,333 14,117 0,2806
3. 32 90 10 10,588 0,0221
4. 42 80 8,8888 9,411 0.1913
5. 60 100 11,111 11,764 0,6120
6. 80 100 11,111 11,764 0,1402
7. 100 140 15,555 16,470 0,1254
8. SISA 110 _____ _____ _____

199
B A B VI
KESIMPULAN
A. Kesimpulan :
 Semakin tinggi no mesh maka semakin rendah nilai DP nya
dan sebaliknya semakin rendah no mesh semakin berat pula
nilai dp nya
 Semakin banyak jumlah buat hasil pengayakan pada suatu
no mesh maka semakin tinggi pula N% dan M%
 Nilai N% pada setiap no mesh tidak berbeda jauh dengan
nilai M%
 Pada saat dilakukan pemecahan maka berat akan emakin
berkurang, akibat adanya bahan yang tertinggal di hammer
mill

B. Saran :
Sebelum melakukan praktikum diharapkan kepada praktikan
harus membersihkan semua peralatan yang akan digunakan,
agar hasil yang di inginkan dapat tercapai.

200
DAFTAR PUSTAKA

1. Jp. Holman. Lienda Handoyo (1998) Teknologi Kimia 2, Surabaya :


Prada Paramita. Hal. 60-65.
2. Operasi Teknik Kimia – 1. Pendidikan Teknologi Kimia Industri. Hal.
53-54.
3. Warren L. Mc Cabe, Julian C. Smit dan Peter Harriok. Jilid 2. Edisi ke
empat. Hal. 306-319 dan Hal. 386-393.
4. www.wikipedia.com Pemecahan dan Penghalusan.

201

Anda mungkin juga menyukai