Pengukuran Konduktivitas Isolator Panas
Pengukuran Konduktivitas Isolator Panas
Disusun Oleh ;
Group / Kelompok :
2. ISMANTO 16 02 093
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
2
3
KATA PENGANTAR
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Kelompok 1
4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………..................
PANAS …………………………………………………………….........................
(FRICTION LOSS)..........................................................................
5
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
PENGUKURAN KONDUKTIVITAS
ISOLATOR PANAS
MEDAN
2018
6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
“PENGUKURAN KONDUKTIVITAS ISOLATOR PANAS
( MEASUREMENT OF CONDUCTIVITY OF HEAT INSULATION )”
B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui besarnya panas yang diserap oleh penyekat /
hambatan.
C. Latar Belakang
7
BAB II
LANDASAN TEORI
8
Radiasi adalah perpindahan panas dengan cara memancar atau tanpa melalui zat
perantara.
Contoh :
1. Cahaya/panas matahari sampai ke bumi
2. Panas api unggun sampai ke tubuh kita
2.Konduktor dan Isolator
Konduktor
adalah zat atau benda yang dapat menghantarkan panas dengan baik.
Contoh : logam (besi, baja, tembaga, aluminium, seng Kaca dan berlian dan lain
– lain),
Isolator
adalah zat atau benda yang tidak menghantarkan panas dengan baik.
Contoh : karet, kayu, arang, plastik, styrofoam, udara, air, ruang hampa udara,
serbuk gergaji
Tubuh kita saat demam. Biasanya pada saat kita demam kita akan dikompres.
Kompres menghantarkan panas dari tubuh kita ke alat kompres.
9
PERKEMBANGAN SERTA PENGGUNAANNYA DALAM DUNIA INDUSTRI
Pada dunia industri Isolator Panas dimanfaatkan sebagai:
1. Pada industri makanan digunakan Styrofoam dipakai oleh restoran untuk
membungkus panganan yang kita beli supaya tetap panas saat akan disantap di
rumah.
2. Pada peralatan penukar panas, digunakan isolator panas untuk memaksimalkan
panas yang dihasilkan.
3. Pada peralatan rumah tangga.
Contoh : kap lampu dari plastik, setrika, ketel.
4. Pada termos, terdapat ruang hampa udara yang mencegah perpindahan panas
secara konduksi dan konveksi.
5. Di daerah yang kering dan panas, rumah – rumah dibangun dari bata dan lumpur.
Karena lumpur dan bata merupakan isolator yang baik terhadap udara panas.
10
Konduktivitas listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus J terhadap kuat
medan listrik E:
.
Pada beberapa jenis bahan dimungkinkan terdapat konduktivitas listrik yang
anisotropik. Lawan dari konduktivitas litrik adalah resistivitas listrik atau biasa
disebut sebagai resistivitas saja, yaitu
Arus listrik hasil dari gerakan partikel bermuatan listrik dalam menanggapi
gaya yang bekerja pada mereka dari medan listrik diterapkan. Dalam bahan padat
yang muncul saat ini kebanyakan dari aliran elektron, yang disebut konduksi
elektronik. Dalam semua konduktor, semikonduktor, dan bahan banyak terisolasi
hanya konduksi elektronik ada, dan konduktivitas listrik sangat tergantung pada
jumlah elektron yang tersedia untuk berpartisipasi dalam proses konduksi.
Kebanyakan logam konduktor yang sangat baik listrik, karena sejumlah besar
elektron bebas yang dapat bersemangat dalam keadaan energi kosong dan tersedia
Sifat daya hantar listrik material dinyatakan dengan konduktivitas, yaitu
kebalikan dari resistivitas atau tahanan jenis penghantar.Arus listrik hasil dari
gerakan partikel bermuatan listrik dalam menanggapi gaya yang bekerja pada
mereka dari medan listrik diterapkan. Dalam bahan padat yang muncul saat ini
kebanyakan dari aliran elektron, yang disebut konduksi elektronik. Dalam semua
konduktor, semikonduktor, dan bahan banyak terisolasi hanya konduksi elektronik
ada, dan konduktivitas listrik sangat tergantung pada jumlah elektron yang tersedia
untuk berpartisipasi dalam proses konduksi. Kebanyakan logam konduktor yang
sangat baik listrik, karena sejumlah besar elektron bebas yang dapat bersemangat
dalam keadaan energi kosong dan tersedia.
Menyatakan kemudahan – kemudahan suatu material untuk meneruskan
arus listrik.Satuan konduktivitas adalah (ohm meter).Konduktivitas merupakan
sifat listrik yang diperlukan dalam berbagai pemakaian sebagai penghantar tenaga
listrik dan mempunyai rentang harga yang sangat luas. Logam atau material yang
11
merupakan penghantar listrik yang baik, memiliki konduktivitas listrik dengan orde
107 (ohm.meter) -1 dan sebaliknya material isolator memiliki konduktivitas yang
sangat rendah, yaitu antara 10-10 sampai dengan 10-20 (ohm.m)-1. Diantara kedua
sifat ekstrim tersebut, ada material semi konduktor yang konduktivitasnya berkisar
antara 10-6 sampai dengan 10-4 (ohm.m)-1.Berbeda pada kabel tegangan rendah,
pada kabel tegangan menengah untuk pemenuhan fungsi penghantar dan pengaman
terhadap penggunaan, ketiga jenis atau sifat konduktivitas tersebut diatas digunakan
semuanya. Perpindahan panas secara hantaran (Konduksi)
Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat padat dengan cara merambat.
Perpindahan panas ini tidak ada bagian zat yang pindah.
Contoh : panas dari api unggun dapat memanaskan besi, sehingga ujung besi yang
dipegang menjadi panas. Perpindahan panas secara aliran (Konveksi)
Konveksi adalah perpindahan panas dengan cara mengalir. Aliran panas ini dapat
melalui zat cair dan zat gas. Perpindahan panas ini ada bagian zat yang ikut pindah.
12
BAB III
A. MATERI
1. Alat
Seperangkat alat meansuremant of conductivity of heat insulator
2. Bahan
Rock wool
B. METODA
Prosedur kerja:
1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan .
2. Dihubungkan peralatan ke sumber arus.
3. Di “ON” kan power supply.
4. Diatur tegangan sebesar 25 V pada voltage adjuster .
5. Dipersiapkan stop watch untuk menghitung lamanya percobaan
6. Ditekan mulai pada stoop watch, ditunggu selama 7 menit
7. Setelah 7 menit matikan tombol stop watch lalu tekan tombol ∅1
− ∅5 pada thermometer secara bergantian.
8. Dicatat hasil pengamatan, dan di ulangi percobaan secara terus
menerus hingga data ke 10 pada menit 70.
9. Setelah ssemua data di dapat , dimatikan peralatan .
10. Diembalikan Voltage adjustment dan Ampermeter ke posisi nol, dan
tekan tombol off pada power supply.
11. Dicabut sumber arus.
13
C. GAMBAR RANGKAIAN
14
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN
A. DATA PENGAMATAN
NO Waktu Tegangan Arus TEMPERATURE ( ℃ )
(Menit) (V) (A) ∅𝟏 ∅𝟐 ∅𝟑 ∅𝟒 ∅𝟓
1 7 50 1,1 62,5 48,2 36,5 33,4 31,8
2 14 50 1,1 104,1 81,75 62 45 38
3 21 50 1,1 141 112,2 86 61 47,6
4 28 50 1,1 173 119,7 109 77 58
5 35 50 1,1 201 165,45 132,5 93,3 68,7
6 42 50 1,1 225 187,5 152,6 108,6 78,8
7 47 50 1,1 248,5 268,05 170,7 122 88,1
8 56 50 1,1 266,5 224,7 185,5 133,8 96,3
9 63 50 1,1 283,8 240,15 159,1 144,4 103,8
10 70 50 1,1 298 253,45 211,5 153,9 110,6
L = 0,25 m
r1 = 0,0136 m
r2 = 0,0236 m
r3 = 0,0336 m
r4 = 0,0436 m
r5 = 0,0536
15
B. PEMBAHASAN
1. Sumber panas
Q = 0,86 x V x A ( kkal / menit )
= 0,86 x 50 V x 1,1 A ( kkal / menit )
= 42,3 ( kkal / menit )
= 0,7883 ( kkal / menit )
2. Perbedaan temperature
Untuk data No. 7
∆𝑡12 = ∅1 − ∅2
= 248,5 – 208,05 ( 0C )
= 40, 45 0C
∆𝑡23 = ∅2 − ∅3
= 208,-5– 179,2 ( 0C )
= 37, 85 0C
∆𝑡34 = ∅3 − ∅4
= 170,2 – 122 ( 0C )
= 48,2 ℃
∆𝑡45 = ∅4 − ∅5
= 122 – 88,1( 0C )
= 33,9 0C
= 266,5 – 224,7 ( 0C )
= 41,8 0C
∆𝑡23 = ∅2 − ∅3
= 224,7– 185,5 ( 0C )
16
= 39,2 0C
∆𝑡34 = ∅3 − ∅4
= 185,5 – 133,8 ( 0C )
= 51,7 ℃
∆𝑡45 = ∅4 − ∅5
= 133,8 – 240,15( 0C )
= 37,5 0C
= 283,8 – 240,15 ( 0C )
= 43,65 0C
∆𝑡23 = ∅2 − ∅3
= 240,15– 199,1 ( 0C )
= 41,05 0C
∆𝑡34 = ∅3 − ∅4
= 199,1 – 144,4 ( 0C )
= 54,7 ℃
∆𝑡45 = ∅4 − ∅5
= 144,4 – 103,8 ( 0C )
= 40,6 0C
17
3. Panas konduksi / Thermal conductivity
Untuk data No. 7
𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L
18
λ45 = 0,003056 kkal/menit °C m
19
Untuk data No. 9
𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L
20
4. Temperature rata-rata
Untuk data No. 7
𝜃1 + 𝜃2
𝜃12 =
2
= 248,5 + 268,05 ( °C )
2
= 258,275 0C
𝜃2 + 𝜃3
𝜃23 =
2
= 268,05 + 170,7 ( °C )
2
= 219,375 0C
𝜃3 + 𝜃4
𝜃34 =
2
= 170,7 +122 ( °C )
2
= 146,35 0C
𝜃4 + 𝜃5
𝜃45 =
2
= 122 + 88,1 ( °C )
2
= 105,05 0C
21
= 245,6 0C
𝜃2 + 𝜃3
𝜃23 =
2
= 224,7 + 185,5 ( °C )
2
= 205,1 0C
𝜃3 + 𝜃4
𝜃34 =
2
= 185,5 +133,8 ( °C )
2
= 159,65 0C
𝜃4 + 𝜃5
𝜃45 =
2
= 133,8 + 96,3 ( °C )
2
= 115,05 0C
𝜃2 + 𝜃3
𝜃23 =
2
= 240,15 + 159,1 ( °C )
2
= 199,625 0C
22
𝜃3 + 𝜃4
𝜃34 =
2
= 159,1 +144,4 ( °C )
2
= 151,75 0C
𝜃4 + 𝜃5
𝜃45 =
2
= 144,4 + 103,8 ( °C )
2
= 124,1 0C
* Perbedaan Teperature
∆𝑡12 = ∅1 − ∅2
= 298,89 – 243,45 ( 0C )
= 44,55 0C
∆𝑡23 = ∅2 − ∅3
= 252,45– 211,5 ( 0C )
= 41,95 0C
∆𝑡34 = ∅3 − ∅4
= 211,5 – 153,9 ( 0C )
= 57,6 ℃
∆𝑡45 = ∅4 − ∅5
= 153,9 – 110,6 ( 0C )
= 43,3 0C
23
* Panas konduksi / Thermal conductivity
𝑄 𝑥 ln 𝑟2 /𝑟1
𝜆12 =
2 𝜋 ∆𝑡12 .L
24
* Temperature rata-rata
𝜃1 + 𝜃2
𝜃12 =
2
= 298, + 253,45 ( °C )
2
= 275,725 0C
𝜃2 + 𝜃3
𝜃23 =
2
= 253,45 + 211,5 ( °C )
2
= 232,475 0C
𝜃3 + 𝜃4
𝜃34 =
2
= 211,5 +153,9 ( °C )
2
= 182,7 0C
𝜃4 + 𝜃5
𝜃45 =
2
= 153,9 + 110,6 ( °C )
2
= 132,25 0C
5. λ = 𝑘1 . 𝜃 + 𝑘2
pers.1. λ 1 = k1 . 𝜃1
25
C. GRAFIK 𝝀 vs ∅
26
27
D TABULASI DATA
NO Waktu Tegangan Arus TEMPERATURE ( ℃ ) Perbedaan Temperature ( ℃ )
1 7 50 1,1 62,5 48,2 36,5 33,4 31,8 0,7883 0,0124 0,0152 0,0077 0,001
5 35 50 1,1 201 165,45 132,5 93,3 68,7 0,7883 0,007782 0,008396 0,003337 0,004214
6 42 50 1,1 225 187,5 152,6 108,6 78,8 0,7883 0,0007326 0,000501 0,0002971 0,00328
7 47 50 1,1 248,5 268,05 170,7 122 88,1 0,7883 0,00682 0,00468 0,002713 0,003056
8 56 50 1,1 266,5 224,7 185,5 133,8 96,3 0,7883 0,006619 0,004523 0,002524 0,002763
9 63 50 1,1 283,8 240,15 159,1 144,4 103,8 0,7883 0,006338 0,004314 0,00234 0,002552
10 70 50 1,1 298 253,45 211,5 153,9 110,6 0,7883 0,00621 0,004227 0,003078 0,002393
∅
∅12 ∅23 ∅34 ∅45
15,23 42,35 34,35 32,6
92,925 71,27 84,5 41,5
162,2 94,1 30,5 54,3
156,35 124,35 93 67,5
183,225 1488,475 112,9 80,98
206 170,05 130,16 93,7
258,275 219,375 146,35 105,05
245,6 205,1 159,65 151,05
262,15 194,625 151,75 124,1
275,715 232,475 182,7 132,25
BAB V
KESIMPULAN
MODUL PRAKTIKUM
KONVEKSI PAKSA
( FORED CONVECTION )
MEDAN
2018
BAB I
Pendahuluan
2. Maksud percobaan
Agar mahasiswa mengetahui cara mempelajari tranfer panas dalam
aliran Turbulent dengan mengalirkan udara dalam pipa sirkulasi dalam
kondisi konveksi paksa.
B. Latar Belakang
Peralatan ini didesain untuk mempelajari transfer panas dalam pipa
aliran turbulen dengan mengalirkan udara di dalam pipa sirkulasi dalam
kondisi konveksi paksaan.
Bila bilangan Reynold sudah naik, jumlah udara di dalam pipa akan
mencapai batasan aliran turbulen. Pemanasan langsung secara ohmic pada
dinding diterapka untuk memberikan transfer panas yang seragam terhadap
udara ( berdasarkan hukum Ohm ). Dinding luar dari pada pipa diisolasikan
sedemikian rupa sehingga panas yang hilang di sekeliling sama dengan Nol.
Bilangan Nussel local dapat ditentukan pada suatu daerah tertentu.
Hasil percobaan dapat dibandingkan terhadap rumus empiris seperti
persamaan Dittus dan Boelter dan menetapkan analisis.
BAB II
Landasan Teoritis
Konveksi dapat memenuhi syarat dalam hal yang alami, dipaksa, gravitasi,
butiran, atau thermomagnetic. Hal ini juga dapat dikatakan disebabkan oleh
pembakaran, aksi kapiler, atau efek Marangoni dan Weissenberg. Karena perannya
dalam perpindahan panas, konveksi alami memainkan peran dalam struktur
atmosfer bumi , samudra, dan mantelnya. Sel konvektif diskrit di atmosfer dapat
dilihat sebagai awan , dengan konveksi kuat mengakibatkan badai . Konveksi alami
juga memainkan peran dalam fisika bintang.
Terminologi
Istilah konveksi mungkin memiliki penggunaan yang sedikit berbeda tetapi terkait
dalam konteks ilmiah atau teknik yang berbeda atau aplikasi. Arti yang lebih luas
dalam mekanika fluida , di mana konveksi mengacu pada gerakan fluida apapun
penyebabnya. Namun dalam termodinamika "konveksi" sering merujuk secara
khusus untuk perpindahan panas secara konveksi.
Selain itu, konveksi termasuk gerakan fluida baik oleh gerak massal ( adveksi ) dan
oleh gerakan partikel individu ( difusi ). Namun dalam beberapa kasus, konveksi
diambil untuk berarti hanya fenomena advective. Misalnya, dalam persamaan
transportasi , yang menjelaskan sejumlah fenomena transportasi yang berbeda,
istilah ini dipisahkan menjadi "konvektif" dan "difusif" efek, dengan "konvektif"
yang berarti murni advective dalam konteks. Sebuah pembedaan serupa dibuat
dalam persamaan Navier-Stokes . In such cases the precise meaning of the term
may be clear only from context. Dalam kasus seperti makna yang tepat dari istilah
tersebut mungkin tidak jelas hanya dari konteks.
Konveksi terjadi pada skala besar di atmosfer , lautan , planet mantel , dan
menyediakan mekanisme transfer panas untuk sebagian besar interior terluar dari
kami matahari dan semua bintang. Cairan gerakan selama konveksi mungkin tak
terlihat lambat, atau mungkin jelas dan cepat, seperti dalam sebuah badai . Pada
skala astronomi, konveksi gas dan debu diperkirakan terjadi di disk akresi dari
lubang hitam , pada kecepatan yang erat mungkin pendekatan yang cahaya.
Panas ditransfer oleh konveksi pada banyak contoh yang terjadi secara alami aliran
fluida, seperti: angin, arus laut, dan gerakan di dalam mantel bumi. Konveksi juga
digunakan dalam praktek rekayasa untuk memberikan perubahan suhu yang
diinginkan, seperti dalam pemanasan rumah, proses industri, pendinginan
peralatan, dll
Sirkulasi atmosfer adalah gerakan besar-besaran dari udara, dan cara dengan mana
energi termal didistribusikan pada permukaan bumi, bersama-sama dengan sistem
(tertinggal) laut jauh lebih lambat sirkulasi. Struktur skala besar sirkulasi atmosfer
bervariasi dari tahun ke tahun, tetapi struktur klimatologi dasar tetap cukup konstan.
Sirkulasi lintang adalah konsekuensi dari kenyataan bahwa insiden radiasi matahari
per satuan luas tertinggi di khatulistiwa panas, dan menurun dengan meningkatnya
lintang, mencapai minimum di kutub. Ini terdiri dari dua sel konveksi primer, sel
Hadley dan pusaran kutub , dengan sel Hadley mengalami konveksi kuat sebagai
akibat dari pelepasan energi panas laten kondensasi pada ketinggian yang lebih
tinggi (di).
Sirkulasi longitudinal, di sisi lain, muncul karena air memiliki kapasitas panas lebih
tinggi spesifik dari tanah dan dengan demikian menyerap dan melepaskan panas
lebih banyak, tetapi perubahan suhu kurang dari tanah. Efek ini terlihat, itu adalah
apa yang membawa angin laut, udara didinginkan dengan air, darat pada siang hari,
dan mesmbawa angin darat, udara didinginkan oleh kontak dengan tanah, keluar ke
laut pada malam hari. Sirkulasi longitudinal terdiri dari dua sel, sirkulasi Walker
dan El Nino / Osilasi Selatan .
Fenomena yang lebih lokal dari gerakan atmosfer global juga karena konveksi,
termasuk angin dan beberapa siklus hidrologi . Misalnya, angin foehn adalah jenis-
lereng bawah angin yang terjadi di sisi arah angin dari pegunungan. Ini hasil dari
adiabatik pemanasan udara yang telah turun sebagian besar kelembaban pada lereng
angin. Sebagai konsekuensi dari tingkat yang berbeda adiabatic selang udara
lembab dan kering, udara di lereng bawah angin menjadi lebih hangat dari
ketinggian setara pada angin lereng.
Sebuah kolom termal (atau termal) adalah bagian vertikal dari udara naik di
ketinggian lebih rendah dari atmosfer bumi. Termal yang diciptakan oleh
pemanasan yang tidak merata permukaan Bumi dari radiasi matahari. Matahari
menghangatkan tanah, yang pada gilirannya menghangatkan udara langsung di
atasnya. Udara hangat mengembang, menjadi kurang padat daripada massa udara
sekitarnya, dan menciptakan termal rendah . Massa udara naik lebih ringan, dan
seperti halnya, mendingin karena ekspansi tersebut pada ketinggian yang lebih
rendah tekanan tinggi . Terkait dengan termal adalah aliran ke bawah sekitar kolom
termal. Eksterior bergerak ke bawah disebabkan oleh udara dingin menjadi
pengungsi di bagian atas termal. Efek cuaca konveksi lain-didorong adalah angin
laut .
Udara hangat memiliki kerapatan yang lebih rendah daripada udara dingin, udara
begitu hangat naik dalam pendingin udara, serupa dengan balon udara panas . Awan
bentuk sebagai udara yang relatif hangat membawa naik kelembaban di dalam
udara dingin. Sebagai naik udara lembab, mendingin menyebabkan beberapa dari
uap air dalam paket meningkatnya udara untuk menyingkat . Ketika mengembun
uap air, ia melepaskan energi yang dikenal sebagai panas laten fusi yang
memungkinkan paket naik udara untuk mendinginkan kurang dari udara sekitarnya,
melanjutkan kenaikan awan itu.
BAB III
Materi dan Metoda
A. Materi
1. Peralatan yang digunakan
- Pipa Stainless Steel
- Thermocouple
- Digital Thermocouple Indikator
- Tab Selector (Pengatur Sumber Arus)
-Compressor
-Air Regulator (Regulator Udara)
-Stop watch
B. Metoda
GAMBAR RANGKAIAN
A. Data Pengamatan
MEASUREMENTS
V ta P A V T0(i)
oC
ltr oC mmHg A V
mnt
Flow Press Am Volt Digital Thermometer
Meter Bar Meter Meter
t11 t1 T2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 T9 t10
30 28,5 0,35 21 2,1 43,4 45,0 415,9 46,2 48,8 44,9 59,2 66,3 73,4 81,7
40 28,8 0,45 21 2,1 43,6 44,3 44,8 44,7 46,5 51,8 56,3 63,9 71,8 79,8
B. Pembahasan
1. Menghitung Tekanan Statistik (Kg/m2)
P a= P + P
10 4 cm 2
= 1,033 + ( 0,45 Kg/cm2 x )
1 m2
= 4501,033 Kg/cm2
8,8 ( y 1,166) Kg / m 3
20 0,075Kg / m 3
0,66Kg / m 3 20 y 23,32Kg / m 3
y 1,133Kg / m 3 ɣ = 1,33 Kg / m3
4. Menghitung Laju Udara (Kg/Jam)
V 60 293 Pa
G'
1000 1,333.10 4 Ta
1318802,669
= 2,7192Kg / m3
4022994
= 1,5568Kg / Jam
48,848Kkal / Jam
=
1,3345.10 2 m 2
= 2841,9632 Kkal/jam.m3
= 5167734,024 Kkal/jam.m3
= 44,654 0C
= 46, 454 0C
= 71, 754 0C
28,8 y 0,241Kkal/Kg.oC
50 0,002Kkal/Kg.oC
0.0576Kkal/Kg.oC 50 y 12,05Kkal/Kg.oC
50 y 11,9952 oC
0,2230 o C
= 28,8 C
o
0,3767'
= 28,8 oC + 0,5919 oC
= 29,3919 oC
2841,9632Kkal / Jam.m 2 3,14 x5.10 3 m 5.10 3 m
b. Tb2. = 28,8o C .
2,242Kkal / Jam.1,5568Kkal / Jam
= 28,8 oC + 1,7764 oC
= 30,5764 oC
qw
qw = hi (Tw-Tb) → h1
Tw1 Tb1
x x1 y y1
x2 x1 y 2 y1
42,49 40 oC
y 0,00630 m 2 / jam
60 40 0,00781 0,00630 m 2 / jam
Y= 0,00648 m 2 / jam
x x1 y y1
x2 x1 y 2 y1
42,419 40 oC
y 0,0234 Kkal / Jam.m 2 .o C
60 40 0,0260 0,0234 Kkal / Jam.m 2 .o C
1,3740 m / jam
=
0,0000196
m
= 70102,04082 / jam
= 54091,08088 m / jam
42,419 40 oC
y 0,71
60 40 oC 0,70 0,71
2,419 y 0,71
20 0,01
0,02419 20 y 14,2
h0 .dw'
Nou
k
370,8125kkal / jam / m 2 .o C.x5.10 3 m
=
0,0232kkal / jam.m.o C
= 78,2304
GRAFIK
Tabulasi Data
Inside Surface Wall Temp of Tube
Pa Ta G' qw qv Tw
Kg o Kg Kg Kcal Kcal oC
m 2 K m 3
h h h 2
qv L2
10 4 10 3 10 4 Tw = To
2K
Tw1 Tw2 Tw3 Tw4 Tw5 Tw6 Tw7 Tw8 Tw9 Tw10
2841, 5167205,
13,830 301,5 1,135 0,0648 43,354 44,954 95,854 46,154 40,754 54,854 59,159 66,254 73,354 81,654
9632 968
2841, 5167734,
4501,O33 301,8 1,133 1,5568 43,554 44,254 44,754 44,654 46,454 51,754 56,254 63,854 71,754 79,754
9632 024
Bulk Temp of Air in Tube Local Heat Transfer Coeficient
Tb H
Kcal
oC
h.m 2 . o C
qw dw X h
qw
Tb ta Tw Tb
Cp G '
Tb1 Tb2 Tb3 Tb4 Tb5 Tb6 Tb7 Tb8 Tb9 Tb10 H1 h2 h3 h4 h5 h6 h7 h8 h9 H10
42,7 71,1 85,3 113,8 170, 312, 597, 1166, 123, 2303, 4486, 108, 41,4 23,3 10,2 5,28 2,58 1,21 1,27 1,27
206 618 024 236 706 912 324 148 922 796 878 439 74 03 20 07 38 03 89 89
- - -
29,3 30,5 31,1 32,35 34,7 40,6 52,4 76,17 99,8 123,5 200,6 207, 209, 231, 243, 255, 754, 64,8
230, 101,
919 764 68 2 21 43 86 2 59 45 738 782 183 016 219 779 236 98
716 119
Calculatations
N uo
Kcal 2 o
o
C m3 kkal / jam.m 2 .o C (-)
h.m . C h
86
Daftar Pustaka
Ign Suharto. 1998. Sanitasi, Keamanan, dan Kesehatan Pangan dan Alat
Industri. Bandung.
87
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
( HEAT EXCHANGER )
88
LABORATORIUM SATUAN OPERASI
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
ALAT PENUKAR PANAS (HEAT EXCHANGER)
2. Tujuan
Tujuan dari percobaan yaitu :
1. Untuk mempelajari dasar-dasar penukar panas.
2. Untuk menghitung neraca panas dari penukar panas.
3. Untuk menghitung koefisien pemindahan panas keseluruhan dari
penukar panas.
4. Untuk menghitung effisiensi penukar panas.
5. Untuk mempelajari hubungan antara bilangan Reynold dan
Karakteristik Penukar Panas.
89
B. LATAR BELAKANG
Teknik mesin adalah bidang study yang mencakup seluruh ilmu rumus
yang berlogika rumit. Entah itu, kalkulus,fisika,kimia,
28 bahkan digabungkan
menjadi ilmu teknik seperti thermodinamika,proses produksi, elemen mesin,
dinamika teknik,mekanika fluida,material teknik, ilmu bahan,aerodinamika,
dan ilmu rumus teknik lainya yang hanya akan menambah kerumitan bagi
mereka yang bukan 'orang teknik'.
Di zaman sekarang ini, energi listrik termasuk kebutuhan paling vital
dalam kehidupan. Semua lapisan penting dalam suatu negara seperti
masyarakat, perkantoran, industri tidak bisa terlepas dari pemanfaatan energi
ini. Di Negara kita, untuk memproduksi listrik dilakukan oleh bermacam-
macam jenis instalasi pembangkit listrik yang sangat rumit. Salah satunya
adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap).
PLTU adalah lembaga pembangkitan energi listrik yang dalam proses
kerjanya memanfaatkan tenaga uap untuk membangkitkan energi listrik. Jika
menerangkan tentang Siklus PLTU, hal pertama yang harus diketahui adalah
bahan baku dari PLTU itu sendiri yakni air, serta bahan bakar tentunya. Air ini
bukan sembarang air. Air yang digunakan dalam siklus PLTU ini disebut air
demin, yakni air yang mempunyai kadar conductivity (Kemampuan untuk
menghantarkan listrik) sebesar 0.2 us (mikro siemen). Sebagai perbandingan
air mineral yang kita minum sehari-hari mempunyai kadar conductivity Sekitar
100 – 200 us.
Untuk mendapatkan air demin ini, setiap unit PLTU biasanya dilengkapi
dengan Desalination Plant dan Demineralization Plant yang berfungsi untuk
memproduksi air demin ini. Jika kita melihat secara sederhana bagaimana
siklus PLTU itu, lihat saja proses memasak air. Air dimasak hingga menguap
dan uap ini lah yang digunakan untuk memutar turbin dan generator yang
nantinya akan menghasilkan energi listrik.
90
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
91
digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat
exchanger ).
c. Penukar panas cangkang dan buluh (shell and tube heat exchanger)
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel
(cangkang). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida
yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau
bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang
menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas,
biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle).
Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu
tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar
pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir
fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.
d. Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger )
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat – pelat tegak
lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus
dipasang penyekat lunak ( biasanya terbuat dari karet ). Pelat – pelat dan sekat
disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (
kebanyakan segi empat ) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari
lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan
fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena
ada sekat.
Heat exchanger adalah alat yang digunakan untuk mentransfer panas dari
suatu media ke media yang lain yang mempunyai perbedaan temperatur. Alat
ini selain sering dijumpai pada industri yang menggunakan Ketel Uap
(Boiler), kondenser, cooling tower, juga digunakan dalam peralatan rumah
tangga seperti Air Conditioner (AC), Lemari Es, serta pada radiator.
92
BAB III
MATERI DAN METODA
A. MATERI
1. Alat
a. Shell
b. Connections
c. Tubesheet
d. Head
e. Gaskets
f. Mounting
g. Baffles
h. Tube Bandle
2. Bahan
Bahan yang digunakan yaitu: air
93
B. METODA
Prosedur Kerja
Prosedur Menghidupkan
32 penuh.
1. Tangki persediaan air diisi sampai
2. Kabel dihubungkan ke sumber arus ,lalu saklar dinaikkan dan power
supply di onkan .
3. Pompa dihidupkan untuk mengisi tangki air panas .
4. Heater di onkan lalu temperature di atur 60 oC.
5. Setelah temperature tercapai aliran dibuat searah, kemudian laju alir
air panas dan dingin diatur sesuai instruksi .
6. Data T2,t1 dan t2 diambil setelah bunyi 3 kali .
7. Percobaan laju alir diulangi .
8. Percobaan laju alir berlawanan arah diulangi .
9. Tentukan arah aliran (parallel atau berlawanan arah).
Prosedur Mematikan
1. Laju alir di nolkan .
2. Temperature di nolkan .
3. Heater dinolkan .
4. Pompa dimatikan.
5. Power supply dimatikan .
6. Saklar dimatikan , kabel dicabut dari sumber arus .
7. Kran air ditutup .
94
Gambar rangkaian percobaan
95
BAB IV
DATA PENGAMATAN
Measurements
Symbols T1 T2 W t1 t2 w
A 60 53 90 30 36 90
B 60 52 120 30 34 120
Parallel Flow
C 60 51 150 30 33 150
D 60 51 180 30 32 180
E 60 51 180 30 31 180
F 60 52 150 30 33 150
Counter Flow
G 60 53 120 30 34 120
H 60 53 90 30 33 90
96
BAB V
HASIL KERJA PRAKTEK
A. PEMBAHASAN
Aliran Searah
1. Menghitung ∆t1, ∆t2, dan ∆tm
∆t1 = T1 – t1
= (60-30)°C
= 30°C
∆t2 = T2 – t2
= (51-33)°C
= 18°C
∆𝑡1 − ∆𝑡2
∆tm = 30°𝐶
ln
18°𝐶
12°𝐶
= 0,51
= 23,520C
2. Menghitung Nilai qw
Untuk Nilai qw
qw = w x Cp (t1 – t2)
𝑡1 + 𝑡2
t = 2
(30+33)°𝐶
= 2
= 31,5°C
Mencari density air pada suhu 31,5oC
𝑥− 𝑥1 𝑦− 𝑦1
=
𝑥2 − 𝑥1 𝑦2 − 𝑦1
97
𝑔𝑟
31,5°C−30°C 𝑦−0,99564⁄𝑚𝑙
= 2
32°C−30°C (099502−0,99564)𝑚 𝑔𝑟⁄𝑑𝑡𝑘
𝑔𝑟
1,5°C 𝑦−0,99564 ⁄𝑚𝑙
= 𝑔𝑟
5°C −0,00062 ⁄𝑚𝑙
=0 =y – 0.998 𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC
y = 0,998 𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC
𝑇1+𝑇2
T= 2
60°𝐶+51°𝐶
= 2
= 55,5 °C
98
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
2y = 1,970605 gr/ml
y = 0,98530 gr/ml
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
𝑘𝑘𝑎𝑙
(55,5−54)°𝐶 𝑦−0,999 °𝐶
𝑘𝑔
= (0,999−0,999)𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐
(56−54)°𝐶
y = 0,999kkal/kg °C
W = w x density air
= 147,795 kg/jam
QW = W x Cp X (T1 –T2)
99
= 147,795 kg/jam x 0,999 kkal/kgoC x (60-51)oC
= 1328,82 kkal/jam
𝑡1+𝑡2
T =
2
30°𝐶+33°𝐶
=
2
= 31,5 °C
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
149,275 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 7,584 x 10−6 x 0,00774 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑡1+𝑡2
T =
2
100
60°𝐶+51°𝐶
=
2
= 55,5 °C
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
147,795 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 2,080 x 10−5 x 0,0051410−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑇1−𝑇2
%h= x 100 %
𝑇1−𝑡1
60−51
= x 100 %
60−30
= 30 %
𝑄𝑤+𝑄𝑤
Q = 2
101
𝑘𝑘𝑎𝑙
1328,82 + 446,929 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
𝑗𝑎𝑚
=
2
= 887,874 kkal/jam
𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚
(𝑑1+𝑑𝑜)
A =π .𝑙
2
= 5,652 x10−2 m²
𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚
887,874 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
=
5,652 𝑥 10−2 𝑚2 𝑥 23,52 °𝐶
∆t1 = T1 – t2
= (60-34)°C
= 26°C
102
∆t2 = T2 – t2
= (53-30)°C
= 23°C
∆𝑡1 − ∆𝑡2
∆tm = 𝑡1°𝐶
ln
𝑡2°𝐶
(26−23)°𝐶
= 26°𝐶
ln
23°𝐶
3°𝐶
= 0,1226°𝐶
= 24,46oC
2. Menghitung Nilai qw
Untuk Nilai qw
qw = w x Cp (t1 – t2)
𝑡1 + 𝑡2
t =
2
(30+34)°𝐶
= 2
= 32°C
Mencari density air pada suhu 32oC = 0,99502 gr/ml
Mencari Nilai cp pada suhu 32oC = 0,998𝐾𝑘𝑎𝑙⁄𝑘𝑔oC
𝑇1+𝑇2
T= 2
103
60°𝐶+53°𝐶
= 2
= 56,5 °C
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
2y = -0,001895+1,97002 (gr/ml)
y = 1,968125/2 gr/ml
y = 0,9840625 gr/ml
= 0,9840625 kg/l
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
𝑘𝑘𝑎𝑙
(56,5−56)°𝐶 𝑦−0,999 °𝐶
𝑘𝑔
= (1,000−0,999)𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑘𝑔°𝑐
(58−56)°𝐶
2y = (1,998+0,0005)kkal/kg °C
Y = 1,9985/2 kkal/kg °C
104
= 0,99925 kkal/kg °C
W = w x density air
= 118,0875 kg/jam
QW = W x Cp X (T1 –T2)
= 825,9925 kkal/jam
𝑡1+𝑡2
T =
2
30°𝐶+34°𝐶
=
2
= 32 °C
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
105
119,4024 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 7,584 x 10−6 x 0,007672 10−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑇1+𝑇2
T =
2
60°𝐶+53°𝐶
=
2
= 56,5 °C
𝑥−𝑥1 𝑦−𝑦1
=
𝑥2−𝑥1 𝑦2−𝑦1
118,0875 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚
Rew = 2,080 x 10−5 x 0,00529410−4 𝑚²/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
106
𝑇1−𝑇2
%h= x 100 %
𝑇1−𝑡2
60−53
= x 100 %
60−34
= 26,92 %
𝑄𝑤+𝑄𝑤
Q = 2
𝑘𝑘𝑎𝑙
825,9925 + 476,6543 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
𝑗𝑎𝑚
=
2
= 651,3234 kkal/jam
𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚
(𝑑1+𝑑𝑜)
A =π .𝑙
2
= 5,652 x10−2 m²
𝑄
V =
𝐴.∆𝑡𝑚
651,3234 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑗𝑎𝑚
=
5,652 𝑥 10−2 𝑚2 𝑥 23,52 °𝐶
107
BAB VII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin tinggi aliran (l/jam) maka semakin rendah jumlah penukar panas
yang dikeluarkan.
2. Semakin tinggi nilai vl maka semakin rendah bilangan reynold nya.
3. Semakin tinggi aliran (l/jam) maka akan semakin rendah t2 tersebut.
108
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA
109
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
( FRICTION LOSS )
110
LABORATORIUM SATUAN OPERASI
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
“Kehilangan tekanan karena gesekan (firction loss)”
B. Tujuan Percobaan
Mempelajari dasar – dasar dinamika fluida
Mempelajari sifat fluida inkompresial dalam jaringan pipa,khususnya
kehilangan gesekan akibat gesekan fluida
Memberikan motif untuk penghematan energi dalam operasi pabrik
C. Latar Belakang
111
Head loss atau friction loss adalah suatu nilai untuk mengetahui seberapa
besarnya reduksi tekanan total (total head) yang diakibatkan oleh fluida saat
melewati sistem pengaliran. Total head, seperti kita ketahui merupakan kombinasi
dari elevation head (tekanan karena ketinggian suatu fluida), velocity head,(tekanan
karena kecepatan alir suatu fluida) dan pressure head (tekanan normal dari fluida itu
sendiri).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
112
dengan dinding, perubahan luas penampang, sambungan, katup-katup, belokan
pipa dan kerugian-kerugian khusus lainnya. Pada belokan pipa
ataulengkungan, kerugian energi aliran yang terjadi lebih besar dibandingkan
dengan pipa lurus.
Dengan mengetahui kehilangan atau kerugian energi dalam suatu sistem
atau instalasi perpipaan yang memanfaatkan fluida mengalir sebagai media,
efisiensi penggunaan energi dapat ditingkatkan sehingga diperoleh keuntungan
yang maksimal. Salah satu bagian dari instalasi perpipaan yang dapat
menyebabkan kerugian-kerugian adalah belokan pipa dengan sudut-sudut
tertentu misalnya sudut 450, sudut 900 dan sudut 1800.
Pada perubahan bentuk penampang baik itu perluasan ataupun penyempitan
jarang kita lihat pada suatu instalasi pipa pada suatu belokan dalam dunia
industri ataupun rumah tangga.Sistem jaringan pipa merupakan komponen
utama dari sistem distribusi air bersih atau air minum suatu perkotaan. Dalam
perkembanganya sistem instalasi pipa memerlukan pengawasan dan perawatan
yang kontinyu, hal ini untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat kondisi
instalasi yang salah satunya dipengaruhi umur pipa. Permasalahan-
permasalahan yang sering timbul akibat kurangnya perawatan dan umur pipa
antara lain : a) kebocoran, b) lebih sering terjadi kerusakan pipa atau komponen
lainnya, c) besarnya tinggi energi yang hilang dan d) penurunan tingkat layanan
penyediaan air bersih untuk konsumen (Kodoatie, 2002: 262). Permasalahan-
permasalahan di atas diperparah lagi dengan meningkatnya sambungan-
sambungan baru di daerah permukiman maupun industri dengan tanpa
memperhatikan kemampuan ketersediaan air dan kemampuan sistem
jaringan air minum tersebut.
Jaringan pipa air bersih atau instalasi air bersih adalah suatu jaringan pipa
yang digunakan untuk mengalirkan atau mendistribusikan air ke masyara
kat. Aliran terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekanan dikedua tempat,
tekanan
terjadi karena adanya perbedaan elevasi muka air atau karena digunakan
nya pompa yang lebih sering untuk mengalirkan air dari tempat yang rendah
113
ketempat yang lebih tinggi. Penggunaan pompa dapat pula bertujuan untuk
mengurangi adanya faktor gesekan antara aliran air dengan dinding basah pipa
yang timbul di sepanjang saluran pipa sebagai akibat adanya viskositas cairan.
Pada saat ini, masih banyak digunakan pipa besi (galvanis ) dan pipa jenis
polivinil chlorida (PVC) oleh masyarakat, pipa-pipa tersebut tersedia dipasaran
dengan berbagai merek baik yang diproduksi oleh industri dalam negeri
maupun dari produk impor. Penggunaan pipa oleh masyarakat tentunya dengan
berbagai pertimbangan sesuai dengan kebutuhan, misalnya : saluran pipa harus
lebih tahan terhadap korosi, tahan terhadap temperatur tinggi, tidak mudah
pecah atau bocor dan mudah dipasang secara flexible.
Salah satu gangguan atau hambatan yang sering terjadi dan tidak dapat
diabaikan pada aliran air yang menggunakan pipa adalah kehilangan energi
akibat gesekan dan perubahan penampang atau pada tikungan serta gangguan–
gangguan lain yang mengganggu aliran normal. Hal ini menyebabkan aliran air
semakin lemah dan mengecil.
Perencanaan sistem distribusi air didasarkan pada 2 (dua) faktor utama yaitu
kebutuhan air dan tekanan (Brebbia & Ferrante, 1983 dalam Triatmojo 1996 :
58). Kebutuhan air yang harus dipenuhi akan menentukan ukuran dan tipe
sistem distribusi yang di inginkan misalnya dipakai kebutuhan 125 liter / orang
untuk suatu jaringan, maka kita harus merencanakan debit dan tekanan yang
akan diberikan. Sedangkan tekanan menjadi penting karena tekanan rendah
akan mengakibatkan masalah dalam distribusi jaringan pipa, namun bila
tekanan besar akan memperbesar kehilangan energi. (Triatmojo 1996 : 58).
Kehilangan energi adalah besar tingkat kehilangan energi yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kecepatan aliran air dalam saluran. Secara umum
kehilangan energi dikelompokan menjadi 2 (dua) :
1. Kehilangan energi akibat gesekan.
Kehilangan energi akibat gesekan disebut juga kehilangan energi primer
(Triatmojo, 1996 : 58) atau major loss (Kodoatie 2002 : 245). Terjadi
pada pipa lurus berdiameter konstan.
2. Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya
114
Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya
disebut juga kehilangan energi skunder (Triatmojo 1996 : 58) atau
minor loss (Kodoatie 2002 : 245). Misalnya terjadi pada pembesaran
tampang (expansion), pengecilan penampang (contraction), belokan
atau tikungan.
Pemakaian jaringan pipa dalam bidang teknik sipil terdapat pada sistem
distribusi jaringan air minum. Sistem jaringan ini merupakan bagian yang
paling mahal dari suatu perusahaan air minum. Oleh karena itu harus dibuat
perencanaan yang teliti untuk mendapatkan sistem distribusi yang efisien.
Jumlah atau debit air yang disediakan tergantung pada jumlah penduduk dan
industri yang dilayani, serta perlu diperhitungkan pertumbuhannya dimasa
yang akan datang.
Dalam perencanaan jaringan pipa air bersih di tentukan oleh kebutuhan air
dan tekanan aliran yang diperlukan. Tekanan akan menimbulkan energi aliran,
tekanan kecil akan mengakibatkan masalah dalam distribusi, sedang bila tekanan
besar akan mempertinggi kehilangan energi.
Perlunya penelitian mengenai kehilangan energi pada pipa lurus maupun
adanya perubahan penampang terutama pada pipa jenis polivinil chlorida (PVC)
berdiameter ½ “dan ¾”, hal ini mengingat pipa jenis ini masih banyak dipergunakan
pada pemukiman penduduk maupun industri. Selain itu pipa jenis PVC sangatlah
berbeda dengan pipa jenis lainya sehingga sangat dibutuhkan informasi tentang
berapa besar kehilangan energi pada pipa jenis ini.
B. TEORI HIDROLIK
1. Sistem Hidrolik
Sistem hidrolik adalah suatu sistem pemindahan tenaga dengan
mempergunakan zat cair atau fluida sebagai perantara. Dalam system hidrolik
fluida cair berfungsi sebagai penerus gaya, minyak mineral adalah jenis fluida cair
yang umum dipakai. Pada prinsipnya bidang hidromekanik (mekanika fluida)
dibagi menjadi dua bagian seperti berikut :
115
1. Hidrostatik, yaitu mekanika fluida yang diam, disebut juga teori persamaan
kondisi-kondisi dalam fluida.
2. Hidrodinamik, yaitu mekanika fluida yang bergerak, disebut juga teori aliran
(fluida yang mengalir).
Prinsip dasar dari pada hidrolik adalah karena sifatnya yang sangat sederhana. Zat
cair tidak mempunyai bentuk yang tetap, zat cair hanya bisa membuat bentuk
menyesuaikan dengan yang ditempati. Zat cair pada prakteknya mempunyai sifat tidak
dapat terkompresi, beda dengan fluida gas yang sangat mudah sekali dikompresi. Hal ini
sangat didukung oleh sifatnya yang selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya dan
tidak dapat dikompresi. Untuk menjamin bahwa pesawat hidrolik harus aman dalam
operasinya, hal ini dipenuhi oleh sifat zat cair yang tidak dapat dikompresi. Gambar 2.2
menunjukkan, apabila tuas itu ditekan kuat-kuat ke arah botol yang tertutup rapat, maka
botol itu akan pecah dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan oleh sifat zat cair yang
meneruskan gaya ke segala arah.
Gambar 2.3 memperlihatkan dua buah silinder yang berukuran sama, kedua
silinder dihubungkan oleh pipa, kemudian silinder diisi dengan minyak oli hingga
mencapai batas sama. Dua buah torak ditaruh di atas kedua permukaan minyak oli,
kemudian salah satu silinder ditekan dengan gaya tekan yang ringan tetapi gaya tekan itu
akan diteruskan menjadi gaya dorong yang besar. Tekanan ini diteruskan keseluruh
system, dan dipakai ke torak yang lain hingga naiklah torak tersebut.
116
Gambar 2.3 Zat cair meneruskan tekanan kesegala arah
Motor bakar
117
Gambar 2.4 Diagram Aliran Sistem Hidrolik
Sebagai penggerak pompa hidrolik dapat digunakan motor listrik atau motor
bakar sebagai penggerak utamanya. Setelah minyak hidrolik dipompa pada tekanan
tertentu, kemudian disalurkan ke katup pengarah yang bertugas mengatur
BAB III
A. Materi
Alat
1. Pipa Orifice 6. Rotameter
2. Pipa Nozzle 7. Katup
3. Pipa Venturi 8. Vent Valve
4. Thermometer 9. Drain Valve
5. Manometer U Terbalik 10. Pompa
Bahan
1. Air
118
B. Metode
Prosedur Kerja
1. Bak [penyimpanan air dipastikan terisi penuh
2. Katup gate valve dan globe valve dibuka penuh
3. Control valve dibuka ½
4. Alat dihubungkan kesumber arus
5. Saklar dionkan
6. Power supply dionkan
7. Data diambil sesuai dengan laju arus yang ditentukan
Prosedur mematikan
1. Rotameter/ pengatur laju arus diturunkan sampai nol
2. Power supply dimatikan
3. Saklar dionkan
4. Cabut alat dari sumber arus
5. Peralatan dirapikan
C. GAMBAR RANGKAIN
119
120
BAB IV
121
1 0,4 30 19 17 32
2 0,6 60 23 20 32
3 0,8 26 16 19 32
4 1 23 12 4 32
2) TABEL 2 ( SAMBUNGAN )
PERBEDAAN TEKANAN
Laju Arus TEMPERATUR
PERCOBAAN Elbow Reducer Reducer Gate Glob
Q (m3/jam) ℃
1-2 3-4 5-6 7-8 9-10
1 0,4 32 63 61 100 72 50
2 0,6 32 64 62 50 53 71
3 0,8 32 55 42 34 48 58
4 1 32 32 24 36 22 24
3) TABEL 3 ( KATUB )
122
13 - 14
1 0,4 32 46 49 39
2 0,6 32 43 40 31
3 0,8 32 45 46 15
4 1.0 32 31 30 6
d1/2 = 0,0161 m
d3/4 = 0,0216 m
d1 = 0,0296 m
d11/2 = 0,0416 m
do = 0,0147 m
dv = 0,0119 m
dn = 0,0131 m
L = 2m
B.PEMBAHASAN (Data ke 3)
Jam 3600dtk
123
V1/2 = Q1
π/4(d1/2) 2
V3/4 = Q1
π/4(d3/4) 2
V1 = Q1
π/4(d1) 2
124
= 0,00022 m3/dtk = 0,00022m3/dtk = 0,3199 m/dtk
V11/2 = Q1
π/4(d11/2) 2
= 0,0476
125
¾ = 2.g.h½.d ½ = 2(9,8 m/dtk)( 0,2176 mH20).( 0,0216m)
( V ½ )2 .L ( 0,6007 m/dtk )2 .( 2m )
= 0,1276
= 0,7326
Red ½ = d1/2.v1/2
V
Interpolasi V
X – X1 = Y - Y1
X2 – X1 Y2-Y1
o
(32-30) C = Y – 0,00796.10-4m2/detik
o
(35-30) C (0,00724 – 0,00796). 10-4m2/detik
2 = Y - 0,00796.10-4m2/detik
5 - 0,00072.10-4m2/detik
Y = 0,04124. 10-4m2/detik/5
Y = 0,008248. 10-4m2/detik
126
Red ½ = d ½ . V ½
V
0,008248. 10-4m2/detik
Red ¾ = d¾ .V¾
V
0,008248. 10-4m2/detik
Red 1 = d1.V1
V
0,008248.10-4 m2/detik
1 mmhg
QO = π/4 x do2 2 x g x ho
127
= 3,14/4 x (0,0147m)2 x 2 x(9,8m/dtk) x 0,612mH2O
= 0,0005873 m3/dtk
1 mmhg
Qn = π/4 x dn2 2 x g x hv
= 0,00026935 m3/dtk
1 mmhg
Qv = π/4 x dv2 2 x g x hv
= 0,00038923 m3/dtk
9. Orifice = Co = Q1
128
Qo
0,0005873 m3/dtk
10. Venturi = Cv = Q1
Qv
0,00038923 m3/dtk
11. Nozzle = Cn = Q1
Qn
Elbow h 1-2
1 mmHg
= 143,3224
Reducer h 3-4
129
1 mmHg
= 449,4099
(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
= 125,084
(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
= 151,14
130
1mmHg
(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
(V1)22.g (0,3199m/dtk)2/2.9,8m/dtk2
131
C. Grafik
132
D. Tabulasi Data
133
TABEL 1 ( PIPA )
2 0,6 60 23 20
3 0,8 26 16 19
4 1 23 12 4
Lanjutan tabel 1
TABEL 2 ( SAMBUNGAN )
PERBEDAAN TEKANAN
Laju Arus TEMPERATUR
PERCOBAAN Elbow Reducer Reducer Gate Globe V co
Q (m3/jam) ℃
1-2 3-4 5-6 7-8 9-10 11-12
32 63 61 100 72 50 55
1 0,4
32 64 62 50 53 71 64
2 0,6
134
32 55 42 34 48 58 44
3 0,8
32 32 24 36 22 24 32
4 1
Lanjutan tabel 2
TABEL 3 ( KATUB )
32 43 40 31
2 0,6
32 45 46 15
3 0,8
32 31 30 6
4 1
135
BAB V
KESIMPULAN
1. Semakin tinggi laju arus Q(m3/jam) maka semakinbesar pada koefisien arus
pada orifice,venturi dan nozzle
2. Semakin tinggi laju arus Q (m3/jam) maka semakin besar kecepatan arus
dalam pila ½ inchi, ¾ inch, dan 1 inchi
3. Semakin tinggi laju arus Q (m3/jam) maka akan semakin besar bilangan
reynold ½, ¾ dan 1 inchi.
136
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA
137
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
METODE DESTILASI
138
LABORATORIUM SATUAN OPERASI
POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
B. Tujuan Percobaan
1. Mengenal dan memakai teknik pemisahan suatu senyawa dari senyawa lain
dengan metode DITILASI.
2. Menggunakan distilator untuk pemurnian ethanol.
C. Latar Belakang
Dalam industri kimia unit reaksi dan pemisahan merupakan 2 hal yang
penting. Kedua unit tersebut berperan dalam menentukan kapasitas pabrik sebagai
penghasil produk yang memenuhi spesifikasi produk. Persaingan yang ketat
menyebabkan industri mulai mencari cara untuk mendapatkan proses reaksi dan
pemisahan yang mampu member perolehan maksimal dengan kebutuhan energy
dan biaya yang sedikit mungkin.
Saat ini banyak sekali bermunculan industri-
industri penyulingan minyak atsiri yang menggunakan teknologi distilasi baik
139
yang untuk skala besar maupun skala kecil di Indonesia. Industri-
industri ini jumlahnya didominasi oleh industri-industri skala rakyat yang
menggunakan teknologi distilasi. Industri skala rakyat ini biasanya memerlukan
waktu distilasi yang cukup lama. Waktu yang lama ini mengakibatkan
konsumsi energi untuk distilasi menjadi sangat besar yang mengakibatkan
keuntungan penyuling menjadi berkurang.
140
BAB II
LANDASANTEORI
A. Defenisi
141
B. Metode
Metode destilasi yang umum digunakan dalam produksi minyak atsiri
adalah destilasi air dan destilasi uap-air. Karena metode tersebut merupakan
metode yang sederhana dan membutuhkan biaya yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan destilasi uap. Namun belum ada penelitian tentang
pengaruh kedua metode destilasi tersebut terhadap minyak atsiri yang
dihasilkan. Minyak atsiri dalam tanaman aromatik diselubungi oleh kelenjar
minyak, pembuluh–pembuluh, kantung minyak atau rambut granular. Sebelum
diproses, sebaiknya bahan tanaman dirajang (dikecilkan ukurannya) terlebih
dahulu. Namun dalam proses destilasi tradisional pada umumnya ukuran bahan
yang digunakan tidak seragam, karena proses pengecilan ukurannya hanya melalui
proses penghancuran sederhana.
Syarat utama pemisahan campuran cairan dengan cara destilasi adalah
semua komponen yang terdapat di dalam campuran haruslah bersifat volatil. Pada
suhu yang sama, tingkat penguapan pada masing-masing komponen akan berbeda-
beda. Hal ini berarti bahwa pada suhu tertentu, komponen yang lebih volatil dalam
campuran cairan akan lebih banyak membangkitkan uap. Sifat yang demikian ini
akan terjadi sebaliknya, yakni pada suhu tertentu fasa cairan akan lebih banyak
mengandung komponen yang kurang volatil. Jadi cairan yang setimbang dengan
uapnya pada suhu tertentu memiliki komposisi yang berbeda. Perbedaan komposisi
dalam kesetimbangan uap-cairan dapat dengan mudah dipelajari pada destilasi
pemisahan campuran alkohol dari air.
Proses destilasi pada suhu tertentu, cairan yang setimbang dengan uapnya
mempunyai komposisi yang berbeda. Uap selalu lebih banyak mengandung
komponen yang lebih volatil demikian juga terjadi sebaliknya. Pada suhu berbeda
komposisi uap cairannya akan berbeda. Dengan demikian maka komposisi uap
yang setimbang dengan cairannya akan berubah sejalan dengan perubahan suhu.
persentase senyawa yang terdapat dalam minyak hasil destilasi uap -air
mempunyai nilai yang lebih besar dari pada minyak hasil destilasi air. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pada minyak hasil destilasi uap-air memiliki
142
randemen yang lebih tinggi karena senyawa senyawa yang terekstrak lebih
banyak. Dibandingkan dengan destilasi air, destilasi dengan uap-air lebih unggul
karena proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester, polimerisasi,
resinifikasi, dan lain-lain). Pada destilasi air beberapa jenis ester misalnya
linalil asetat akan terhidrolisa sebagian, persenyawaan yang peka seperti
aldehid, mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih.
Kecepatan difusi destilasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
susunan bahan dalam ketel, suhu dan tekanan uap, berat jenis dan kadar air dari
bahan, serta berat molekul dari komponen kimia dalam sampel.
Tekanan uap merupakan hasil pergerakan molekular yang mengalami
peningkatan dengan meningkatnya temperatur. Jika tekanan uap sama atau lebih
besar dari tekanan luar, maka cairan akan mendidih tepat pada temperatur panas
penguapan. Pendidihan itu akan berlangsung terus hingga cairan menguap
sempurna atau hingga kesetimbangan antara cairan dan uap tercapai.
Usaha-usaha untuk memperbaiki unjuk kerja distilasi uap telah dilakukan.
Hakiki (2007) menggunakan boiler berpenghalang untuk memperpanjang waktu
kontak uap dengan daun cengkeh. Adanya waktu kontak yang lebih baik
terbukti mampu mengurangi waktu distilasi yang cukup signifikan.. Pemasangan
penghalang (baffle) dalam ketel akan menyebabkan kesulitan ketika
memasukkan dan mengeluarkan daun cengkeh. Penggunaan tekanan untuk
menaikkan titik didih air menyebabkan kenaikan biaya alat karena harus
menggunakan peralatan yang lebih tebal agar tahan terhadap tekanan.
Salah satu cara mempercepat waktu distilasi adalah dengan cara
mempercepat proses perpindahan massa minyak dari dalam daun ke separating
agent (steam). Kecepatan distilasi minyak atsiri pada umumnya dikontrol oleh
kecepatan difusi molekul minyak atsiri di dalam air di dalam jaringan sel daun
atau ranting suatu bahan. Salah satu cara untuk mempercepat kecepatan transfer
massa secara difusi adalah dengan meningkatkan suhu sistem (biasanya dengan
uap air). Suhu steam dapat dinaikkan dengan cara memanfaatkan hubungan
tekanan uap suatu larutan terhadap titik didihnya. Distilasi dengan menggunakan
steam dengan suhu yang tinggi pada tekanan atmosferis disebut Super Steam
143
Distillation. Pada penelitian ini, uap jenuh bersuhu tinggi diperoleh dengan
cara menguapkan campuran air-gliserol.
Kondensor merupakan peranti penukar kalor khusus yang digunakan untuk
mencairkan uap dengan mengambil kalor. Kalor laten itu diambil dengan
menyerapnya ke dalam zat cair yang lebih dingin yang disebut pendingin. Karena
suhu pendingin di dalam kondensor itu tentu meningkat karena itu, maka alat itu
dengan demikian juga bekerja sebagai pemanas. Kondensor dibagi atas 2 golongan
yaitu kondensor selonsong dan tabung, dan juga kondensor kontak. Arus pendingin
dan arus uapnya, yang keduanya adalah air, bercampur secara fisik, dan
meninggalkan kondensor sebagai satu arus tunggal.
Labu alas bulat merupakan peralatan gelas yang mempunyai alas bulat dan
leher panjang dengan mulut sempit. Labu alas bulat digunakan untuk memanaskan
atau mendidihkan larutan. Pada penggunaan untuk destilasi maka labu alas bulat ini
masih disambung dengan pendingin dan peralatan gelas yang lain.
Destilasi merupakan penguapan suatu cairan dengan cara memanaskannya
dan kemudian mengembunkan uapnya kembali menjadi cairan. Destilasi sebagai
proses pemisahan dikembangkan dari konsep-konsep dasar: tekanan uap,
kemenguapan, dan sebagainya. Destilasi digunakan untuk pemisahan cairan-cairan
dengan tekanan uap yang cukup tinggi. Dengan kolom yang dirancang secara baik,
dapat memisahkan cairan-cairan dengan perbedaan tekanan uap yang kecil (tapi
tidak campuran azeotrop). Destilasi merupakan metode isolasi/pemurnian.
144
BAB III
A. Materi
1. Alat
Seperangkat alat destilator
Gelas beker
Gelas ukur
2. Bahan
Ethanol 58 %
B. Metoda
Prosedur kerja:
1. Alat diperiksa apakah dalam keadaan baik .
2. Sediakan larutan campuran dengan konsentrasi 58 % metanol.
3. Ambil lartan sebanyak 300 ml di ukur dengan mengggunakan gelas ukur.
4. Masukkan larutan yang telah tercampur ke dalam labu destilasi.
5. Rangkailah alat labu destilasi denan menghubungkan ke kondensor di
hubugkan ke leher angsa.
6. Untuk mencegah tetesan yang hilang maka digunakan isolasi pada setiap
sambungan pada rangkaian.
7. Isi air ke dalam pemanas kemudian masukkan / celupkan labu destilasi yang
berisi larutan dan batu didih ke dalam pemanas.
8. Tutup labu dan pemanas dengan menggunakan aluminium foil nyalakan
stop watch.
9. Hubungkan pemanas dengan sumber arus , pada saat suhu telah mencapai
64℃ dan pada tetesan pertama maka dicatat temperature dan waktu pada
saat tetesan pertama .
10. Lakukan percobaan sampai tetesan terakhir
Prosedure Mengakhiri:
145
1. Cabut pemanas dari sumber arus.
2. Tunggu hingga temperature pada labu destilasi
Mencapai 34 ℃ .
3. Buka isolasi dari rangkaian kemudian buka rangkaian secara hati- hati.
4. Rapikan peralatan.
C. Gambar Rangkaian
146
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
NAMA JUMLAH
Volume awal 300 mL
Sampel methanol 58 %
Suhu pemanasan 84 0C
Waktu pemansan 1 5 : 21 detik
Volume distilat 249 mL
Volume sisa campuran 17 mL
Rendemen hasil percobaan -
Rendemen ( secara teori ) 58 %
147
B. PEMBAHASAN
1. Perhitungan larutan metanol - 𝐻2 O 58% dalam 300ml
Dik : V1 + V3 = 300 ml
nA = mol Metanol
nB = mol 𝐻2 O
𝜌1 = 𝜌 Metanol = 0,79 gr/ml
𝜌2 = 𝜌 Air = 1 gr/ml
BM1 = BM Metanol = 32 gr/ml
BM2 = BM 𝐻2 O = 18 gr/ml
𝑛𝐴
Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
58% = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .𝑉1
0,02468 .𝑉1
58% = 300 𝑚𝑙 − 𝑉1
0,02468 .𝑉1 +
18
0,02468 .𝑉1
0,58 = 300 𝑚𝑙−𝑉1
0,02468 .𝑉1 +
18
300 𝑚𝑙 − 𝑉1
0,58 (0,02468 . V1 + ) = 0,02468 . V1
18
174 𝑚𝑙 − 0,58 .𝑉1
0,01431 . V1 + = 0,02468 . V1
18
174 𝑚𝑙 − 0,58 .𝑉1
= 0,02468 . V1 – 0,01431 . V1
18
= 226,958 ml
148
𝑛𝐴
Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
58% = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(300 − 𝑉2)
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙
58% = 0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(300 − 𝑉2) 1 𝑔𝑟/𝑚𝑙 . 𝑉2
+
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙 18 𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑉2
0,58 (7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2 + ) = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18
0,58 .𝑉2
4,29432 ml – 0,01431 . V2+ = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18
0,58 .𝑉2
0,02468 . V2 – 0,01431 . V2 + = 7,444 𝑚𝑙 − 0,2468 . 𝑉2
18
0,024257 . V2 = 3,10968 ml
3,10968𝑚𝑙
V2 = 0,04257
= 73,0468 ml
Perhitungan pembuktian
Nilai Mf = X = 58 % atau 0,58
Maka :
𝑛𝐴
Mf = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵
𝜌1 .𝑣1
X = 𝜌1 .𝑣1𝐵𝑀1𝜌2 .𝑉2
+
𝐵𝑀1 𝐵𝑀2
0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(226,958 𝑚𝑙)
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙
X= 0,79 𝑔𝑟/𝑚𝑙 .(226,958) 1 𝑔𝑟/𝑚𝑙 (73,0486 𝑚𝑙)
+
32 𝑔𝑟/𝑚𝑙 18 𝑔𝑟/𝑚𝑙
5,60302 𝑚𝑙
X = 5,60302 𝑚𝑙 + 4,05825 𝑚𝑙
5,60302 𝑚𝑙
X = 9,6612 𝑚𝑙 = 0,579
149
2. % Rendemen metanol
V distilat
% Re M = x 100 %
V sampel
249 𝑚𝑙
= x 100 %
300𝑚𝑙
= 83 %
150
C. Tabulasi Data
NAMA JUMLAH
Volume awal 300 mL
Sampel methanol 64 %
Suhu pemanasan 64 °𝐶
Waktu pemanasan 15:21 detik
Volume destilat 249 mL
Volume sisa campuran 17 mL
Remdemen hasil praktek -
Rendemen teori 58 %
Volume methanol 162 mL
Volume air 88 mL
Titik didih air 100 0C
Titk didih methanol 63,5 0C
151
BAB V
KESIMPULAN
152
DAFTAR PUSTAKA
Crristie J. Geankoplis, (1997), “Transport Process and Unit Operation”, 3rd Ed.,
Prentice-Hall Of India.
https://id.wikipedia.org/wiki/Distilasi.
Warren L, Mc Cabe, Julian C. Smith, dan Peter harriot, (1999), ”Satuan Operasi”,
Jilid 1, Cetakan ke-4, PT. Erlangga.
153
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
MENARA PENDINGIN
( COOLING TOWER )
154
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
“Cooling Tower (Menara Pendingin)”
B. Tujuan Percobaan
Untuk tujuan pemakain kembali air pendingin pabrik – pabrik kimia berat (
besar ) atau sebagai hasil pengunaan pengendalian udara (air conditioning )
yang menyebar luas.
C. Latar Belakang
155
BAB II
LANDASAN TEORI
156
Gambar 2.1. Range dan approach temperatur pada menara pendingin
Range adalah perbedaan suhu antara tingkat suhu air masuk menara
pendingin dengan tingkat suhu air yang keluar menara pendingin atau selisih
antara suhu air panas dan suhu air dingin, sedangkan approach adalah perbedaan
antara temperatur air keluar menara pendingin dengan temperatur bola basah
udara yang masuk atau selisih antara suhu air dingin dan temperatur bola basah
(wet bulb) dari udara atmosfir.
157
3. Katup ekspansi, berfungsi untuk mencekik (throttling) refrijeran
bertekanan tinggi yang keluar dari konsensor dimana setelah
melewati katup ekspansi ini tekanan refrijeran turun sehingga fasa
refrijeran setelah keluar dari katup ekspansi ini adalah berupa fasa
cair + uap.
158
air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir.
Sehingga air yang tersisa didinginkan secara signifikan.
Prinsip kerja menara pendingin dapat dilihat pada gambar di atas. Air dari
bak/basin dipompa menuju heater untuk dipanaskan dan dialirkan ke menara
pendingin. Air panas yang keluar tersebut secara langsung melakukan kontak
dengan udara sekitar yang bergerak secara paksa karena pengaruh fan atau
blower yang terpasang pada bagian atas menara pendingin, lalu mengalir jatuh
ke bahan pengisi.
Sistem ini sangat efektif dalam proses pendinginan air karena suhu
kondensasinya sangat rendah mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah
mengalami penurunan suhu ditampung ke dalam bak/basin. Pada menara
pendingin juga dipasang katup make up water untuk menambah kapasitas air
pendingin jika terjadi kehilangan air ketika proses evaporative cooling tersebut
sedang berlangsung.
159
2.4. Klasifikasi Menara Pendingin
160
Menara pendingin kering (dry cooling tower) adalah menara pendingin
yang air sirkulasinya dialirkan di dalam tabung-tabung bersirip yang dialiri
udara. Semua kalor yang dikeluarkan dari air sirkulasi diubah. Menara pendingin
kering dirancang untuk dioperasikan dalam ruang tertutup.
Air sirkulasi yang keluar dari kondensor masuk melalui tabung bersirip dan
didinginkan oleh udara atmosfer di dalam menara. Menara ini boleh
menggunakan jujut jenis alami seperti pada gambar. Operasi kondensor pada
jenis ini harus dilakukan pada tekanan 0,17 sampai 0,27 kPa. Pada jenis ini,
digunakan kondensor terbuka atau kondensor jet. Kondensat jatuh ke dasar
kondensor dan dari situ dipompakan oleh pompa resirkulasi ke kumparan
bersirip di menara, yang kemudian didinginkan dan dikembalikan ke kondensor.
161
Gambar 2.14. Skematik instalasi menara pendingin kering tak langsung
dengan kondensor permukaan konvensional
BAB III
162
A. Materi
Komponen – komponen
2. Higrometer .
“ Dry Bulb and wet Bulb Thermometer inlet of duct and ambled
conditioning”
3. Flow meter.
Rotameter air ( maksimum 1.000 l/jam )
163
4. “ Dial Indicator and Pressure measuring top selector “
a. “ Pressure drop across orifice plate”
b. “ Pressure drop across mass and heat transfer unit”
c. “ Static pressure in air duct “
5. Saklat Tenaga.
a. Penyediaan sumber tenaga ( utama ).
b. Blower
c. Pompa dan Pemanas.
B. Metode
Prosedur kerja
1. Tangki persediaan air diisi sampai penuh dan biarkan terbuka untuk
sementara waktu
2. Alat dihubungkan ke sumber arus, lalu catu daya di onkan
3. Power supply dionkan pada alat cooling tower
4. Pompa aliran dihidupkan dan laju aliran diatur
5. Heater (pemanas) dihidupkan, lalu temperature diset pada suhu 40 oC,
kemudian kran air ditutup
6. Setelah suhu 40oC, blower dihidupkan bersamaan dengan stopwatch dan
proses pendinginin dilakukan sampai 7 menit
7. Setelah 7 menit stopwatch dimatikan, lalu data dicatat/ data diamati sesuai
pada tabel pengamatan
8. Setelah selesai,blower dimatikan, lalu percobaan diulangi untuk laju alkir
yang berbeda
164
165
166
BAB IV
Laju Head
Alir Tank
No Induct Udara Pendingin Air Panas
o o o o o o o o o o o o o o
L/jam C C mmH2O mmH2O C C C C mmH2O mmH2O C C C C C C C C
1 140 40 30,8 14 13 26,6 26,6 27,0 27,0 4 2 39,3 37,0 36,4 35,5 37,7 32,1 21,1 30,3
2 150 40 32,4 15 15 27,1 27,1 27,4 27,4 4 2 38,1 36,9 36,5 35,7 34,1 33,1 31,7 30,8
3 180 40 33,1 17 16 27,7 27,7 28,0 28,0 4 2 38,6 36,9 36,8 35,7 35,1 34,0 32,5 31,6
4 190 40 33,4 19 18 28,8 28,0 28,3 28,3 4 2 38,3 36,5 36,7 35,5 34,8 34,1 32,6 30,5
167
TANGKI
TH TR TL
o o o
C C C
- 34,1 38,1
- 34,2 38,0
- 33,2 37,7
- 32,9 37,6
168
B. Pembahasan (data ke-3)
L = 180 L/jam
𝐿 𝑘𝑔
𝐿 = 180 𝑗𝑎𝑚 𝑥0,99221 𝐿
𝑘𝑔
= 178,5978
𝑗𝑎𝑚
𝑃𝑎 = 760 𝑚𝑚𝐻𝑔
𝑃𝑛 = (𝑃𝑎𝑥13,6) + ℎ0
𝑚𝑚𝐻2 𝑂
= (760 𝑚𝑚𝐻𝑔𝑥13,6 ) + 17 𝑚𝑚𝐻2 𝑂
1 𝑚𝑚𝐻𝑔
= 10353 𝑚𝑚𝐻2 𝑂
1 𝑘𝑔/𝑚²
= 10353 𝑚𝑚𝐻2 𝑂𝑥
1 𝑚𝑚𝐻2 𝑂
= 10353 𝑘𝑔/𝑚2
𝑇𝑛 = 273 + 𝑇𝑜
= 273 + 33,1 𝐾
169
= 306,1 𝐾
𝑘𝑔
𝑃𝑛 10349 2 𝑘𝑔
𝜕𝑛 = = 𝑚 = 1,1480 3
29,46𝑥𝑇𝑛 29,46𝑥306,1 𝐾 𝑚
𝑘𝑔
1
ℎ𝑑𝑜 = 16 𝑚𝑚𝐻2 𝑂𝑥 𝑚2
1 𝑚𝑚𝐻2 𝑂
𝑘𝑔
= 16
𝑚2
𝜋
𝛼= x D2
4
3,14
𝛼= x (0,1053 m)2
4
𝛼 = 8,7041 x 10−3 m2
𝑠 𝑚 𝑘𝑔 𝑘𝑔
= 3600 𝑥1,00𝑥0.0087𝑚2 𝑥√(2𝑥9,8 2 ) 𝑥 (16 2 ) 𝑥(1,1480 3 )
𝑗𝑎𝑚 𝑠 𝑚 𝑚
𝑘𝑔
= 594,26568
𝑗𝑎𝑚
𝐺
𝑉 = 3600𝜕𝑛
𝜋 2
4 𝑥𝐷
170
𝑘𝑔
594,26568 𝑗𝑎𝑚
𝑠 𝑘𝑔
3600 𝑗𝑎𝑚 𝑥1,1480 3
𝑚
=
3,14 2
4 𝑥(0,0153𝑚)
𝑚
= 16,5275
𝑠
𝜌. 𝐷. 𝑉
𝑅𝑒𝑑 =
𝜇
1,1606 𝑥 0,1053 𝑥 16,5275
𝑅𝑒𝑑 = 1,871528 𝑥 10−5
𝑑𝑥𝑉
Reynold = 𝜇
𝜇 = 40oC = 0,00664.10-4m2/s
𝐿
L= 180 𝑗𝑎𝑚 x 1 dm3/1L x 1m3/1000dm3 x 1 jam/3600s
= 5. 10-5 m3/s
171
Δ = µ/4 . d3
= 3,14 (0,04755m)2
= 1,77 .10-3 m2
∇ = L/A
= 5.10-5m2/s
1,77.10-3m2
= 2,82.10-2m/s
0,00663.10-4m2/s
172
C. Grafik
a. Grafik Relative Humidity ( ∅1 )
173
b. Grafik Relative Humidity ∅1
174
175
D. Tabulasi Data
Laju Head
Alir Tank
No Induct Udara Pendingin Air Panas
o o o o o o o o o o o o o o
L/jam C C mmH2O mmH2O C C C C mmH2O mmH2O C C C C C C C C
1 140 40 30,8 14 13 26,6 26,6 27,0 27,0 4 2 39,3 37,0 36,4 35,5 37,7 32,1 21,1 30,3
2 150 40 32,4 15 15 27,1 27,1 27,4 27,4 4 2 38,1 36,9 36,5 35,7 34,1 33,1 31,7 30,8
3 180 40 33,1 17 16 27,7 27,7 28,0 28,0 4 2 38,6 36,9 36,8 35,7 35,1 34,0 32,5 31,6
4 190 40 33,4 19 18 28,8 28,0 28,3 28,3 4 2 38,3 36,5 36,7 35,5 34,8 34,1 32,6 30,5
176
Tangki L Q1 Q2 Pn Tn Jn G Vudara V Rey air Rey
air udara
TH(oC TR(oC TL(oC Kg/ja % % Kg/m2 O
K Kg/ja Kg/jam m/s m/s
) ) ) m m
- 34,1 38,1 138.56 10 10 10350 303, 1,1956 586,27 15,78 2,14 104754,3 1935,56
0 0 8 . 10- 5
2
- 34,2 38,0 148,47 10 10 10351 305, 1,1976 591,31 16,23 2,35 105697,2 1997,45
0 0 9 . 10- 7
2
- 33,2 31,6 178,59 10 10 10353 306, 1,1980 594.26 16,527 2,82 107924,9 2022,48
0 0 1 5 . 10- 2
2
- 32,9 30,5 188,51 94 96 10348,9 306, 1,1945 383,64 8,8929 2,98 108357,3 564,441
8 4 1 . 10- 6 5
2
177
BAB V
KESIMPULAN
1. Semakin besar tekanan pada ho maka semakin besar pula tekanan statis
udara (Pn)
2. Semakin besar laju alir nya (L/jam) maka semakin besar pula temperatur
statis udara (Tn)
3. Bilangan reynold udara lebih besar daripada bilangan reynold air
178
DAFTAR PUSTAKA
McCabe, W. L., and J. C., Smith. 1999.Operasi Teknik Kimia, edisi keempat, jilid
2, Erlangga, Jakarta
Warren L. Mc Cabe, Julian C. Smit dan Peter Harriok. Jilid 2. Edisi ke empat.
179
PRAKTIKUM SATUAN OPERASI
MODUL PRAKTIKUM
180
BAB I
PENDAHULUAN
B. Tujuan :
1. Mempelajari sistem dan proses pemecahan dengan
menggunakanHammer Mill.
2. Mempelajari sistem pengayakan atau proses pemisahan beberapa
butiran/powder menurut diameter partikel.
C. Latar Belakang :
Pemecahan zat padat meliputi semua cara yang digunakan, dimana
zat padat yang dipotong-potong, dan dipecahkan manjadi kepingan-
kepingan. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu hammer mill
dan vibrator. Bahan yang digunakan untuk melakukan percobaan ini berupa
batu-bata yang telah dihancurkan sebesar jempol tangan. Tujuan dilakukan
percobaan ini secara umum yaitu memisahkan partikel padat atau powder
berdasarkan diameter partikel. Bahan dari pembuatan ayakan ini yaitu dapat
terbuat dari kawat, atau plastik kadang logam biasa digunakan juga.
B A B II
181
T E O R I
A. Defenisi Percobaan
Grinding adalah istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancuran (size
reduction) meliputi semua metode yang digunakan untuk mengolah zat padat
menjadi ukuran yang lebih kecil. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil
dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan yang berbeda-beda. Bongkah-bongkah
biji mentah dihancurkan menjadi ukuran yang mudah ditangani, bahan kimia
sintesis digiling menjadi tepung, lembaran-lembaran plastik dipotong-potong
menjadi kubus atau ketupat-ketupat kecil. Produk-produk komersial biasanya harus
memenuhi spesifikasi yang sangat ketat dalam hal ukuran maupun bentuk partikel-
partikelnya yang menyebabkan reaktifitas zat padat itu meningkat. Pemecahan itu
juga memungkinkan pemisahan komponen yang tak dikehendaki dengan cara-cara
mekanik, system ini juga dapat digunakan memperkecil bahan-bahan berserat guna
memudahkan proses penanganannya.
Pengayakan terutaman ditujukan untuk pemisahan campuran padat-padat.
Sistem pemisahan ini berdasar atas perbedaan ukuran. Ukuran besar lubang ayak
(atau lubang kasa) dari medium ayak dipilih sedemikian rupa sehingga bagian yang
kasar tertinggal di atas ayakan dan bagian-bagian yang lebih halus jatuh melalui
lubang. Diusahakan untuk dapat melakukan pemisahan yang diinginkan secepat
mungkin. Untuk mencapai hal ini, bahan yang diayak digerakkan terhadap
permukaan ayakan. Pada umumnya, gerakan diperoleh dengan gerakan berputar,
bolak-balik, atau turun naik.
Material padat yang terdapat dalam ukuran yang terlalu besar untuk
dilakukan proses mekanik pada umumnya membutuhkan perlakuan fisik untuk
memperkecil ukurannya. Pengecilan ukuran itu biasanya dimaksudkan untuk
memudahkan pemisahan campuran material padat.
Umumnya crushing dan grinding sering dilakukan untuk mengubah ukuran
partikel padatan yang besar menjadi partikel yang lebih kecil.
182
Dalam industri proses makanan, sejumlah besar produk makanan melibatkan
proses pengecilan ukuran. Roller mill digunakan untuk menggerus gandum menjadi
tepung. Kacang kedelai digiling, dipress dan dihancurkan untuk mendapatkan
minyak dan tepungnya. Hammer mill sering digunakan untuk menghasilkan tepung
2
kentang, tapioca atau jenis-jenis tepung lainnya. Gula dihancurkan untuk
menghasilkan produk yang lebih lama.
Operasi grinding sangat luas penggunaannya pada proses bijih tambang dan
industri semen. Sebagai contoh bijih tembaga, nikel, kobal dan besi biasanya
dilakukan proses grinding sebelum mengalami proses kimia. Limestone, marble,
gypsum, dan dolomite dihancurkan untuk penggunaan sebagai pengisi kertas, cat
dan kertas. Bahan bakuuntuk industri semen seperti lime, alumina dan silika
digiling dalam skala besar atau dalam jumlah besar.
Material padat diperkecil ukurannya dengan sejumlah metode
perlakuan. compression atau crushing umumnya untuk memperkecil padatan.
Distribusi ukuran partikel sering pula dinyatakan dalam jumlah kumulatif persen
partikel yang lebih kecil dari ukuran yang ditetapkan terhadap ukuran partikel.
Istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancurkan (size reduction) zat
padat meliputi semua cara yang digunakan dimana partikel zat padat dipotong dan
dipecahkan menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Produk-produk komersial
biasanya harus memenuhi spesifikasi yang sangat dalam hal ukuran maupun
bentuk partikel-partikelnya menyebabkan reaktifitas zat padat itu meningkat.
Pemecahan itu juga memungkinkan pemisahan komponen yang tak dikehendaki
dengan cara-cara mekanik. Pemecahan itu dapat digunakan untuk memperkecil
bahan-bahan berserat guna memudahkan penanganannya.
Zat padat dapat diperkecil dengan berbagai cara, namun hanya ada empat
cara saja yang lazim digunakan dalam mesin pemesah panghalus. Cara itu ialah :
1. Kompresi (tekanan): Pada umumnya kompresi digunakan untuk pemecahan
kasar zat padat keras, dengan menghasilkan relatif sedikit halusan.
2. Impact (pukulan): Pukulan menghasilkan hasil yang berukuran kasar, sedang
dan halus.
183
3. Atsiri (gesekan): Atsiri menghasilkan hasil yang sangat halus dari bahan yang
lunak dan tak-abrasif.
4. Pemotongan: Pemotongan memberikan hasil yang ukurannya pasti, dan
kadang-kadang juga bentuknya dengan hanya sedikit dan tak ada halusan sama
sekali.
184
jenis ayakan statis dimana material yang akan diayak mengikuti aliran pada posisi
kemiringan tertentu. Beberapa jenis ayakan lainnya yang digolongkan dalam
ayakan dinamis sesuai dengan tipe gerakan yang digunakan untuk mengayak dan
memindahkan material pada ayakan antara lain:
Vibrating screen, permukaannya horizontal dan miring digerakkan pada
frekuensi tinggi (1000-7000 Hz). Satuan kapasitas tinggi, dengan efisiensi
pemisahan yang baik, yang digunakan untuk range yang luas dari ukuran
partikel.
Occillating xcreen, dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah dari
vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lama, lebih linier dan
tajam.
Reciprocating screen, dioperasikan dengan gerakan menggoyang, pukulan
yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan
ukuran.
Shifting screen, dioperasikan dengan gerakan memutar dlam bidang
permukaan ayakan. Gerakan aktual dapat berupa putaran, atau gerakan
memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.
Resolving screen, ayakan miring, berotasi pada kecepatan rendah 910-20 rpm).
Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material yang relatif kasar,
tetapi memiliki pemindahan yang kasar dengan vibrating screen.
185
partikel maksimum dan minimumnya diketahui. Pengayakan itu kadang-kadang
dilakukan dalam keadaan basah, tetapi lebih lazim lagi dalam keadaan kering.
186
rol licin (smooth roll crusher), dan mesin pemecayh rol-bergigi (toothed-roll
crusher),. Tiga jenis yang pertama bekerja dengan kompresi dan mampu
memecahkan bahan yang sangat keras, misalnya pada pemecahan primer dan
sekunder batuan bijih. Mesin pemecah rol bergigi merobek bahan disamping
mengompa; alat ini dapat menangani umpan-umpan yang lunak seperti batu bara,
tulang dan serpih lunak.
D. Mesin Giling
Impaktor adalah alat yang hamper menyerupai mesin tumbuk palu tugas berat
kecuali bahwa alat ini tidak diperlengkapi dengan kisi atau ayak. Partikel-partikel
dipecahkan dengan pukulan-pukulan saja, tanpa ada aksi gerusan seperti yang
menjadi ciri pada mesin palu. Impaktor biasanya merupakan mesin pemecah primer
untuk batuan atau bijih, dengan kemampuan mengolah sampai 600 ton/ja
B A B III
METODA PERCOBAAN
187
A. Alat :
1. Timbangan
2. Peralatan Hammer Mill
3. Peralatan Vibrator
B. Bahan :
Batu bata
C. Prosedur kerja :
1. Alat dan bahan baku disiapkan
2. Bhan baku di timbang dan catat sebagai bahan baku
3. Bahan baku(batu bata) dimasukan kedalam hammer millmdan di tumbuk
hingga halus
4. Bahan baku yang telah halus kemudian dimasukan kedalam ayakan yang
memiliki no mesh yang paling kecil lalu ditutup
5. Ayakan disusun berdasarkan no mesh 10,20,32,42,60,80,100 dan sisa no
mesh paling kecil (10) ditempatkan paling atas dan diurutkan ke baurannya
sesuai no mesh terkecil ke terbesar
6. Mesin pengayakan(vibrator) di periksa apakah dalam keadaan baik
7. Vibrator dichock kan ke sumber arus
8. Vibrator diatur 15 menit
9. Motor pengayakan dihidupkan dengan cara menekan tombol ON
10. Hasil yang terangkut pada setiap ayakan di timbang dan di catat hasil
penimbangan
GAMBAR RANGKAIAN
188
B A B IV
DATA PENGAMATAN
189
GAMBAR RANGKAIAN
BAB V
190
ANALISA DATA
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/25,4 cm
= 0,3968 cm
B. No mesh 20
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/50,8 cm
= 0,2806 cm
C. No mesh 32
= 32 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 81,28 cm
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/81,28
= 0,0221 cm
D. No mesh 42
= 42 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 109,22 cm
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/109,22
= 0,1913 cm
E. No mesh 60
= 60 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 152,4 cm
191
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/ 152,4 cm
= 0,6120 cm
F. No mesh 80
= 80 inch x 2,54 cm/ i inchi = 203,2 cm
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/203,2 cm
= 0,1402 cm
G. No mesh 100
= 100 inch x 2,54 cm/ 1 inchi = 254 cm
dp = 2 x √1/no mesh
= 2 x √1/254 cm
= 0,1254 cm
= 12,222 %
B. No mesh 20
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
120 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
=13,333 %
C. No mesh 32
jumlah produk yang dihasilkan
N% = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
x 100%
192
90 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
= 10 %
D. No mesh 42
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
80 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
= 8,8888 %
E. No mesh 60
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
100 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
= 11,111 %
F. No mesh 80
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
100 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
= 11,111 %
G. No mesh 100
jumlah produk yang dihasilkan
N% = x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
140 gr
= 900 𝑔𝑟 x 100%
= 15,555 %
193
A. No mesh 10
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
110 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%
= 12,914%
B. No mesh 20
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
120 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%
= 14,117 %
= 10,588 %
= 9,411 %
= 11,764 %
= 152,4 cm
194
F. No mesh 80
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
100 gr
= 850 𝑔𝑟 x 100%
= 11,764 %
G. No mesh 100
jumlah produk yang dihasilkan
M%= x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑑𝑖
140 gr
= 850𝑔𝑟 x 100%
= 16,470 %
GRAFIK
195
196
197
198
TABULASI DATA
No Data Perhitungan
No mesh Berat (gr) N% M% dp
1. 10 110 12,222 12,941 0,3968
2. 20 120 13,333 14,117 0,2806
3. 32 90 10 10,588 0,0221
4. 42 80 8,8888 9,411 0.1913
5. 60 100 11,111 11,764 0,6120
6. 80 100 11,111 11,764 0,1402
7. 100 140 15,555 16,470 0,1254
8. SISA 110 _____ _____ _____
199
B A B VI
KESIMPULAN
A. Kesimpulan :
Semakin tinggi no mesh maka semakin rendah nilai DP nya
dan sebaliknya semakin rendah no mesh semakin berat pula
nilai dp nya
Semakin banyak jumlah buat hasil pengayakan pada suatu
no mesh maka semakin tinggi pula N% dan M%
Nilai N% pada setiap no mesh tidak berbeda jauh dengan
nilai M%
Pada saat dilakukan pemecahan maka berat akan emakin
berkurang, akibat adanya bahan yang tertinggal di hammer
mill
B. Saran :
Sebelum melakukan praktikum diharapkan kepada praktikan
harus membersihkan semua peralatan yang akan digunakan,
agar hasil yang di inginkan dapat tercapai.
200
DAFTAR PUSTAKA
201